22. Al-Hajj (Haji) – الحجّ

Surat Al-Hajj dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Hajj ( الحجّ ) merupakan surah ke-22 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 78 ayat yang sebagian diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Hajj tergolong Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Secara kronologi, Al-Suyuthi menempatkan kebanyakan ayat dalam surah ini pada pertengahan periode Madinah, dengan mengecualikan ayat 39-40—yang (menurut Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari) diwahyukan ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah—serta beberapa ayat lain yang dikatakan diwahyukan ketika terjadi Perang Badar (tahun ke-2 H). Sebaliknya, kebanyakan mufasir klasik Al-Qur’an (seperti, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi) menyatakan dengan tegas bahwa surah ini diturunkan di Makkah, kecuali kemungkinan enam ayat (yakni ayat 19-24) yang, menurut beberapa ulama, mungkin diturunkan pada periode Madinah. Secara umum, yang paling mungkin adalah bahwa kebanyakan ayat dalam surah ini termasuk ke dalam periode Makkah, sementara sisanya diwahyukan segera setelah Nabi tiba di Madinah.

Nama surah ini berasal dari keterangan tentang ibadah haji ke Makkah (al-hajj) dan beberapa ritual yang berkaitan dengan itu, yang tercantum dalam ayat 25 dan seterusnya.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Hajj Ayat 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

yā ayyuhan-nāsuttaqụ rabbakum, inna zalzalatas-sā’ati syai`un ‘aẓīm

1. WAHAI, MANUSIA! Sadarlah akan Pemelihara kalian: sebab, sungguh; keguncangan pada Saat Terakhir itu adalah sesuatu yang dahsyat!


Surah Al-Hajj Ayat 2

يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

yauma taraunahā taż-halu kullu murḍi’atin ‘ammā arḍa’at wa taḍa’u kullu żāti ḥamlin ḥamlahā wa taran-nāsa sukārā wa mā hum bisukārā wa lākinna ‘ażāballāhi syadīd

2. Pada Hari ketika kalian menyaksikannya, setiap wanita yang menyusui anaknya akan melupakan anak yang disusuinya, dan setiap wanita yang mengandung akan melahirkan [sebelum waktunya]; dan akan tampak bagimu bahwa seluruh manusia dalam keadaan mabuk,1 padahal sebenarnya mereka tidak mabuk—tetapi [ketakutan mereka akan] hukuman Allah amat dahsyat.2


1 Lit., “engkau akan melihat [atau ‘menyaksikan’] manusia mabuk”, yakni mereka bersikap seolah-olah telah mabuk. “Penglihatan” khayali yang murni bersifat subjektif ini—yang ditunjukkan secara tersirat dalam bentuk tunggal tara (“engkau akan melihat”) yang digunakan setelah bentuk jamak tarau (“kalian”) yang terdapat pada klausa pertama ayat ini—membenarkan terjemahan “akan tampak bagimu bahwa …”, dan seterusnya.

2 Kata-kata “ketakutan mereka akan” yang saya sisipkan dalam ayat ini didasarkan pada pernyataan dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 103 bahwa, sejauh berkenaan dengan orang-orang saleh, “Kemahadahsyatan [Hari Kebangkitan] tidak akan menyebabkan mereka bersedih”, meskipun ketakutan pada hari itu akan meliputi setiap manusia.


Surah Al-Hajj Ayat 3

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ

wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattabi’u kulla syaiṭānim marīd

3. Dan, sungguhpun begitu, di antara manusia ada banyak yang berdebat tentang Allah tanpa memiliki pengetahuan apa pun [tentang-Nya], dan mengikuti setiap kekuatan setani yang durhaka,3


3 Lihat paruh pertama catatan no. 16 pada Surah Al-Hijr [15]: 17.


Surah Al-Hajj Ayat 4

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

kutiba ‘alaihi annahụ man tawallāhu fa annahụ yuḍilluhụ wa yahdīhi ilā ‘ażābis-sa’īr

4. padahal telah ditetapkan bahwa siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada kekuatan itu, ia akan menyesatkannya dan menggiringnya menuju derita neraka yang berkobar!


Surah Al-Hajj Ayat 5

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

yā ayyuhan-nāsu ing kuntum fī raibim minal-ba’ṡi fa innā khalaqnākum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma min ‘alaqatin ṡumma mim muḍgatim mukhallaqatiw wa gairi mukhallaqatil linubayyina lakum, wa nuqirru fil-ar-ḥāmi mā nasyā`u ilā ajalim musamman ṡumma nukhrijukum ṭiflan ṡumma litablugū asyuddakum, wa mingkum may yutawaffā wa mingkum may yuraddu ilā arżalil-‘umuri likai lā ya’lama mim ba’di ‘ilmin syai`ā, wa taral-arḍa hāmidatan fa iżā anzalnā ‘alaihal-mā`ahtazzat wa rabat wa ambatat ming kulli zaujim bahīj

5. WAHAI, MANUSIA! Jika kalian dalam keraguan tentang [benarnya] kebangkitan, [ingatlah bahwa,] sungguh, Kami telah menciptakan [setiap orang dari antara] kalian dari tanah, lalu dari setetes mani, lalu dari sebuah sel benih, lalu dari segumpal janin yang sempurna [dalam dirinya sendiri] dan yang tidak sempurna4 agar Kami dapat menjadikan [asal-usul kalian] jelas bagi kalian.

Dan, apa pun yang Kami kehendaki [untuk dilahirkan], Kami jadikan menetap dalam rahim [ibu] hingga waktu yang sudah ditentukan [oleh Kami], dan kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi dan [membiarkan kalian hidup] agar [beberapa dari antara] kalian dapat mencapai usia dewasa: sebab, di antara kalian ada yang diwafatkan [ketika masa kecil], sebagaimana banyak di antara kalian yang menjadi amat tak berdaya dalam usia tua sehingga tidak lagi mengetahui apa pun yang pernah dia ketahui dengan amat baik.5

Dan, [wahai manusia, jika kalian masih dalam keraguan tentang kebangkitan, pertimbangkanlah ini:] kalian dapat melihat tanah itu kering dan tak berkehidupan—dan [tiba-tiba,] ketika Kami turunkan air ke atasnya, tanah itu bergerak dan mengembang serta menumbuhkan segala jenis tumbuhan-tumbuhan yang elok!


4 Penerjemahan ini sesuai dengan tafsiran frasa mukhallaqah wa ghairu mukhallaqah oleh Ibn ‘Abbas dan Qatadah (penafsiran yang disebutkan terakhir dikutip oleh Al-Thabari, sedangkan yang disebutkan pertama dikutip oleh Al-Baghawi), yang mengingatkan secara tidak langsung pada berbagai tahap perkembangan janin. Tambahan pula, Al-Thabari menjelaskan bahwa ungkapan ghairu mukhallaqah menunjukkan fase ketika gumpalan janin (mudhgah) belum menjadi makhluk bernyawa—atau, dalam kata-kata beliau, “ketika ruh belum ditiupkan ke dalamnya” (la yunfakh fiha al-ruh).

Adapun mengenai ungkapan “diciptakan dari tanah” maksudnya adalah untuk menunjukkan rendahnya asal-usul biologis manusia dan kesamaannya dengan substansi “duniawi” lainnya; sehubungan dengan ini, lihat paruh kedua catatan no. 47 pada Surah Al-‘Imran [3]: 59, dan catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12.

5 Lihat catatan no. 79 pada Surah An-Nahl [16]: 70.


Surah Al-Hajj Ayat 6

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa annahụ yuḥyil-mautā wa annahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

6. Semua ini [terjadi] karena hanya Allah-lah Kebenaran Tertinggi6 dan karena hanya Dia-lah yang menghidupkan yang mati, dan karena Dia berkuasa menetapkan segala sesuatu.


6 Lihat Surah TaHa [20], catatan no. 99.


Surah Al-Hajj Ayat 7

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

wa annas-sā’ata ātiyatul lā raiba fīhā wa annallāha yab’aṡu man fil-qubụr

7. Dan, [ketahuilah, wahai manusia,] bahwa Saat Terakhir itu pasti datang, tiada keraguan tentangnya; dan bahwasanya Allah [benar-benar] akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur-kubur mereka.


Surah Al-Hajj Ayat 8

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa lā hudaw wa lā kitābim munīr

8. Dan, sungguhpun begitu, di antara manusia ada banyak yang berdebat tentang Allah tanpa memiliki pengetahuan apa pun [tentang Dia], tanpa petunjuk apa pun, dan tanpa wahyu yang menerangi—


Surah Al-Hajj Ayat 9

ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۖ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ

ṡāniya ‘iṭfihī liyuḍilla ‘an sabīlillāh, lahụ fid-dun-yā khizyuw wa nużīquhụ yaumal-qiyāmati ‘ażābal-ḥarīq

9. dengan penuh cemooh, berpaling [dari kebenaran] sehingga menggiring [orang lain] tersesat dari jalan Allah.

Kehinaan [ruhani] akan menimpanya di dunia ini7 dan, pada Hari Kebangkitan, Kami akan menjadikannya merasakan derita neraka;


7 Karena banyak orang yang tidak saleh tarnpaknya “makmur” di dunia ini, jelaslah bahwa kehinaan yang disebutkan dalam ayat ini bersifat moral—yaitu, mengerasnya segala persepsi moral secara berangsur-angsur dan, karena itu, menurunnya kualitas ruhani.


Surah Al-Hajj Ayat 10

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

żālika bimā qaddamat yadāka wa annallāha laisa biẓallāmil lil-‘abīd

10. [dan akan dikatakan kepadanya:] “Ini adalah hasil dari apa yang dilakukan oleh kedua tanganmu sendiri—sebab, Allah tidak pemah sedikit pun berbuat zalim terhadap makhluk-makhluk-Nya!”


Surah Al-Hajj Ayat 11

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

wa minan-nāsi may ya’budullāha ‘alā ḥarf, fa in aṣābahụ khairuniṭma`anna bih, wa in aṣābat-hu fitnatuningqalaba ‘alā waj-hih, khasirad-dun-yā wal-ākhirah, żālika huwal-khusrānul-mubīn

11. Dan, di antara manusia, ada banyak pula yang menyembah Allah pada garis batas [keimanan]:8 jadi, jika kebaikan menimpanya, dia merasa puas dengan-Nya; tetapi, jika cobaan menyerangnya, dia benar-benar berpaling,9 [dengan demikian,] dia kehilangan kehidupan dunia dan [sekaligus] akhirat: [dan,] sungguh, yang demikian itu adalah suatu kerugian yang tiada tara.10


8 Yakni, terombang-ambing antara percaya dan tidak percaya, dan tidak sungguh-sungguh memiliki komitmen terhadap salah satu dari keduanya.

9 Lit., “dia memalingkan wajahnya”—kata “wajah” pada manusia secara metonimia rnenunjukkan seluruh keberadaannya.

10 Lit., “kerugian [yang paling] nyata”.


Surah Al-Hajj Ayat 12

يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

yad’ụ min dụnillāhi mā lā yaḍurruhụ wa mā lā yanfa’uh, żālika huwaḍ-ḍalālul-ba’īd

12. [Dengan bersikap demikian,] alih-alih (menyeru) Allah, dia menyeru sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat kepadanya:11 [dan] yang demikian itu benar-benar kesesatan yang teramat jauh.12


11 Karena gagal mempersembahkan komitmen tanpa syarat terhadap kepercayaan yang dia anut, manusia sering kali cenderung menganggap bahwa segala bentuk kekuatan eksternal, apakah yang bersifat nyata ataupun khayalan, memiliki suatu “pengaruh” yang menentukan atas takdirnya sendiri, dan kemudian menyifati mereka, katakanlah, dengan sifat-sifat ketuhanan.

12 Lit., “demikian itu, [dhalika huwa] itulah kesesatan yang amat jauh”. Untuk penjelasan tentang parafrasa yang saya gunakan ini, lihat catatan no. 25 pada kalimat terakhir Surah Ibrahim [14]: 18.


Surah Al-Hajj Ayat 13

يَدْعُو لَمَنْ ضَرُّهُ أَقْرَبُ مِنْ نَفْعِهِ ۚ لَبِئْسَ الْمَوْلَىٰ وَلَبِئْسَ الْعَشِيرُ

yad’ụ laman ḍarruhū aqrabu min naf’ih, labi`sal-maulā wa labi`sal-‘asyīr

13. [Dan terkadang] dia menyeru [manusia lain—] sesuatu yang jauh lebih berpeluang memberi mudarat daripada manfaat: sungguh buruk pelindung semacam itu, dan sungguh buruk pengikutnya!13


13 Kata “manusia lain” dalam klausa pembuka ayat ini harus disisipkan karena adanya kata ganti penghubung man (“orang yang” atau “siapa pun”), yang hampir selalu mengacu pada persona yang bernyawa—dalam hal ini, ia mengacu pada seorang manusia yang menyebabkan bahaya ruhani yang tidak terhingga terhadap dirinya dan pengikut-pengikutnya karena membiarkan dirinya diberhalakan oleh mereka “yang menyembah Allah pada garis batas keimanan”.


Surah Al-Hajj Ayat 14

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

innallāha yudkhilullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, innallāha yaf’alu mā yurīd

14. SUNGGUH, Allah akan memasukkan orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai: sebab, perhatikanlah, Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki.


Surah Al-Hajj Ayat 15

مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ

mang kāna yaẓunnu al lay yanṣurahullāhu fid-dun-yā wal-ākhirati falyamdud bisababin ilas-samā`i ṡummalyaqṭa’ falyanẓur hal yuż-hibanna kaiduhụ mā yagīẓ

15. Siapa pun yang menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya14 di dunia ini dan di akhirat, biarlah dia menjangkau langit dengan sarana [lain] apa pun, dan [lalu mencoba untuk] bergerak maju:15 dan kemudian biarlah dia melihat apakah rencananya itu benar-benar dapat melenyapkan sebab penderitaannya.16


14 Yakni, bahwa Allah tidak cukup untuk melindunginya: jelaslah bahwa hal ini mengingatkan, secara tidak langsung, pada jenis manusia “yang menyembah Allah pada garis batas keimanan” (ayat 11 di atas) dan, karenanya, meragukan kekuasaan-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menurut pendapat saya, asumsi sebagian besar mufasir yang berpendapat bahwa kata ganti “dia” (hu) mengacu pada Nabi Muhammad tidak meyakinkan dan tidak didukung oleh konteks kalimatnya.

15 Penerjemahan kata la yaqtha’ menjadi “biarlah dia [mencoba untuk] bergerak maju” didasarkan pada penggunaan figuratif verba qatha’a (lit., “dia memotong”) yang diterima secara umum dalam pengertian “melewati sebuah jarak”: dan ini adalah penafsiran verba yaqtha’ yang diajukan oleh Abu Muslim (seperti dikutip Al-Razi). Ungkapan “dengan sarana [lain) apa pun” (bi-sabab) berkaitan dengan apa yang telah dinyatakan dalam ayat 12-13.

16 Lit., “yang menyebabkan kemarahan” atau “kegusaran”, yakni penderitaan karena mendapati dirinya tidak berdaya dan diabaikan.


Surah Al-Hajj Ayat 16

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَأَنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يُرِيدُ

wa każālika anzalnāhu āyātim bayyinātiw wa annallāha yahdī may yurīd

16. Dan demikianlah, Kami turunkan [kitab Ilahi] ini dalam wujud pesan-pesan yang jelas: sebab, [demikianlah,] Allah memberi petunjuk siapa saja yang ingin [diberi petunjuk].17


17 Atau: “Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”. Untuk penjelasan mengenai penerjemahan yang saya gunakan ini, lihat catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-Hajj Ayat 17

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَىٰ وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

innallażīna āmanụ wallażīna hādụ waṣ-ṣābi`īna wan-naṣārā wal-majụsa wallażīna asyrakū innallāha yafṣilu bainahum yaumal-qiyāmah, innallāha ‘alā kulli syai`in syahīd

17. Sungguh, adapun orang-orang yang telah meraih iman [pada kitab Ilahi ini], dan orang-orang yang mengikuti ajaran Yahudi, Sabian,18 Nasrani, dan Majusi,19 [pada satu sisi,] dan orang-orang yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, [pada sisi lain,]20—sungguh, Allah akan memberi keputusan antara mereka pada Hari Kebangkitan: sebab, perhatikanlah, Allah menyaksikan segala sesuatu.


18 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 49.

19 Al-majus adalah pengikut-pengikut Zoroaster atau Zarathustra (Zardusht), nabi bangsa Iran yang hidup sekitar pertengahan milenium terakhir Sebelum Masehi, dan yang ajaran-ajarannya terdapat dalam Kitab Zend-Avesta. Saat ini, pengikutnya adalah kaum Gabr di Iran, dan terutama orang-orang Parsi India dan Pakistan. Agama mereka, meskipun dalam kategori filsafat bersifat dualistik, berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai Pencipta alam semesta.

20 Orang-orang Kristen dan Majusi (pengikut Zoroaster) dimasukkan ke dalam kategori pertama karena, walaupun mereka memang menganggap bahwa sifat-sifat ketuhanan terdapat pada makhluk-makhluk lain di samping Allah, mereka menganggap makhluk-makhluk itu pada dasarnya tidak lebih dari manifestasi pengejawantahan (atau inkarnasi) Allah yang Esa; jadi, mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka benar-benar menyembah Allah saja. Sedangkan “mereka yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada makhluk-makhluk selain Allah” (alladzina asyraka) jelas-jelas menolak prinsip keesaan dan keunikan-Nya.


Surah Al-Hajj Ayat 18

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

a lam tara annallāha yasjudu lahụ man fis-samāwāti wa man fil-arḍi wasy-syamsu wal-qamaru wan-nujụmu wal-jibālu wasy-syajaru wad-dawābbu wa kaṡīrum minan-nās, wa kaṡīrun ḥaqqa ‘alaihil-‘ażāb, wa may yuhinillāhu fa mā lahụ mim mukrim, innallāha yaf’alu mā yasyā`

18. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan bahwa di hadapan Allah-lah bersujud semua [benda dan makhluk] yang ada di lelangit dan semua yang ada di bumi21—matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, dan binatang-binatang melata?

Dan, banyak manusia [tunduk kepada Allah secara sadar),22 sementara banyak [lainnya, karena menentang-Nya,] pasti akan merasakan penderitaan [pada kehidupan akhirat];23 dan siapa pun yang dihinakan Allah [pada Hari Kebangkitan] tidak akan memiliki siapa-siapa yang dapat memuliakannya: sebab, sungguh, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.


21 Untuk memahami makna “sujud” ini, lihat Surah Ar-Ra’d [13]: 15 dan Surah An-Nahl [16]: 48-49, dan catatan-catatannya yang terkait. Penerjemahan saya terhadap kata ganti hubung relatif man dalam konteks ini menjadi “semua (benda dan makhluk] yang …” dijelaskan dalam catatan no. 33 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 15.

22 Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, frasa yang disisipkan ini—dengan penekanannya pada “secara sadar”—adalah sebuah predikat (khabar) yang tersirat secara eliptis, yang terkait dengan subjek nominal (mubtada’) sebelumnya: artinya, meskipun segala ciptaan “mensujudkan dirinya” di hadapan Allah, secara sukarela ataupun terpaksa (bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 15), tidak semua manusia melakukannya dengan sadar.

23 Lit., “sementara terhadap banyak orang, penderitaan [dalam kehidupan akhirat) telah menjadi keharusan yang tidak terhindarkan (haqqa ‘alaihi)”, yakni sebagai suatu konsekuensi logis dan akibat yang wajar karena sikap mereka di dunia ini, dan bukan sebagai sebuah “hukuman” yang sewenang-wenang dalam pengertian konvensional istilah ini.


Surah Al-Hajj Ayat 19

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ

hāżāni khaṣmānikhtaṣamụ fī rabbihim fallażīna kafarụ quṭṭi’at lahum ṡiyābum min nār, yuṣabbu min fauqi ru`ụsihimul-ḥamīm

19. Dua jenis manusia yang bertolak belakang ini24 telah larut dalam pertikaian tentang Pemelihara mereka!

Akan tetapi, [demikianlah:] adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran25—pakaian-pakaian dari api akan dibuatkan bagi mereka [di kehidupan akhirat]; keputusasaan yang membara26 akan dituangkan ke atas kepala mereka,


24 Lit., “dua golongan yang bermusuhan” atau ” bertentangan”, yakni orang-orang yang percaya pada keesaan dan keunikan Allah, dan orang-orang yang menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada makhluk-makhluk selain Allah, atau bahkan mengingkari keberadaan-Nya sama sekali.

25 Yakni, untuk membedakan mereka dari orang-orang yang berbuat salah karena ketidaktahuan atau kelalaian.

26 Untuk terjemahan hamim ini, lihat catatan no. 62 yang memberi keterangan terhadap kalimat penutup Surah Al-An’am [6]: 70, dan catatan no. 65 pada Surah Ibrahirn [14]: 50, serta catatan no. 7 pada Surah Al-Muzzammil [73]: 12-13, yang menyebutkan penafsiran Al-Razi terhadap gambaran alegoris yang serupa tentang penderitaan yang akan menimpa orang-orang berdosa pada Hari Akhirat.


Surah Al-Hajj Ayat 20

يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ

yuṣ-haru bihī mā fī buṭụnihim wal-julụd

20. yang menyebabkan segala yang ada dalam tubuh dan kulit mereka meleleh.27


27 Yakni, menyebabkan sisi batiniah kepribadiannya sama sekali terpisah dari sisi lahiriah.


Surah Al-Hajj Ayat 21

وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

wa lahum maqāmi’u min ḥadīd

21. Dan, mereka akan [berada dalam keadaan ini seakan-akan] dikekang dengan genggaman besi;28


28 Lit., “bagi mereka genggaman (maqami’) dari besi”. Nomina miqma’ah (jamak: maqami’) adalah bentuk jamak dari verba qama’a yang berarti “dia mengekang” atau “menahan” atau “mendominasi” (Lisan Al-‘Arab). Karena itu, “genggaman besi” yang disebutkan dalam ayat di atas menunjukkan ketidakmampuan “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” melepaskan diri dari penderitaan pada Hari Akhirat sebagai hukuman atas diri mereka sendiri.


Surah Al-Hajj Ayat 22

كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

kullamā arādū ay yakhrujụ min-hā min gammin u’īdụ fīhā wa żụqụ ‘ażābal-ḥarīq

22. dan setiap kali mereka berusaha keluar darinya karena kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya dan [dikatakan kepada mereka]: “Rasakanlah derita api neraka [sepenuhnya]!”


Surah Al-Hajj Ayat 23

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

innallāha yudkhilullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa lu`lu`ā, wa libāsuhum fīhā ḥarīr

23. [Sebaliknya,] perhatikanlah, Allah akan memasukkan orang-orang yang meraih iman dan berbuat kebajikan ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, yang di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra:29


29 Lihat Surah Al-Kahfi [18]: 31 dan catatannya, no. 41.


Surah Al-Hajj Ayat 24

وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

wa hudū ilaṭ-ṭayyibi minal-qaụl, wa hudū ilā ṣirāṭil-ḥamīd

24. karena mereka [ingin] diberi petunjuk kepada ajaran terbaik,30 dan demikianlah, mereka diberi petunjuk ke jalan yang menuju kepada Yang Esa. Yang Maha Terpuji.


30 Yakni, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. (Kita harus ingat bahwa istilah qaul selain berarti “perkataan” juga berarti “pendapat” atau “ajaran” yang dirumuskan secara intelektual.) {Bdk. fiqih Imam Syafi’i: Qaul Qadim dan Qaul Jadid (pendapat lama dan pendapat baru).—peny.}


Surah Al-Hajj Ayat 25

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

innallażīna kafarụ wa yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wal-masjidil-ḥarāmillażī ja’alnāhu lin-nāsi sawā`anil-‘ākifu fīhi wal-bād, wa may yurid fīhi bi`il-ḥādim biẓulmin nużiq-hu min ‘ażābin alīm

25. PERHATIKANLAH, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan menghalangi manusia [lain] dari jalan Allah31 dan dari Masjid Al-Haram yang telah Kami jadikan bagi semua manusia secara merata—[baik] yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar negeri—dan semua yang berusaha mencemarinya32 dengan melakukan kezaliman [secara sengaja]: [semua] orang semacam itu akan Kami jadikan merasakan penderitaan yang pedih [di kehidupan akhirat].33


31 Ini berkaitan dengan sebutan, dalam ayat terdahulu, tentang “jalan yang menuju kepada Yang Esa, Yang Maha Terpuji”.

32 Lit., “yang di dalamnya bermaksud melakukan penyimpangan dari jalan yang benar (ilhad)”—sebuah istilah yang menunjukkan setiap penyelewengan ajaran-ajaran agama.

33 Menurut Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Ibn Hisyam, ayat ini diwahyukan pada akhir tahun keenam Hijriah ketika orang-orang Quraisy penyembah berhala menolak memberikan izin kepada Rasul dan pengikutnya yang datang dari Madinah untuk menunaikan ibadah haji untuk memasuki Makkah dan tempat suci Ka’bah (Masjid Al-Haram). Namun, terlepas dari benar tidaknya keterangan ini—dan kita tidak mempunyai bukti sejarah yang jelas untuk mendukung atau menolaknya—maksud ayat di atas tidak terbatas pada suatu situasi historis semata, tetapi juga mengacu pada setiap usaha yang dilakukan untuk mencegah orang-orang beriman, baik melalui bujukan fisik maupun intelektual, agar tidak pergi haji menuju pusat simbolis iman mereka ini. Atau, ayat di atas mengacu pada setiap usaha untuk merusak kesuciannya di depan mata mereka sendiri.


Surah Al-Hajj Ayat 26

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

wa iż bawwa`nā li`ibrāhīma makānal-baiti al lā tusyrik bī syai`aw wa ṭahhir baitiya liṭ-ṭā`ifīna wal-qā`imīna war-rukka’is-sujụd

26. Sebab, ketika Kami berikan tempat kepada Ibrahim di bangunan suci ini,34 [Kami berfirman kepadanya:] “Janganlah menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Aku!”35—dan: “Sucikanlah Rumah-Ku ini bagi orang-orang yang akan tawaf mengelilinginya,36 dan orang-orang yang akan berdiri di hadapannya [dalam perenungan], dan orang-orang yang akan rukuk dan sujud [dalam shalat].”


34 Yakni, Ka’bah: lihat catatan no. 102, Surah Al-Baqarah [2]: 125.

35 Mengingat pernyataan Al-Quran, yang sering diulang-ulang, bahwa Nabi Ibrahim telah berhasil melampaui semua godaan untuk menisbahkan ketuhanan kepada apa pun seiain Allah, menurut saya, perintah di atas mempunyai makna khusus, yaitu “Jangan biarkan Bait ini menjadi objek sembahan, tetapi buatlah menjadi jelas bahwa Bait itu suci hanyalah karena ia merupakan rumah ibadah pertama yang dibangun untuk diabdikan bagi Allah Yang Maha Esa” (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 96). Terlepas dari itu, perintah tersebut merujuk pada “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” yang telah dibicarakan pada permulaan ayat sebelumnya.

36 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 104.


Surah Al-Hajj Ayat 27

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

wa ażżin fin-nāsi bil-ḥajji ya`tụka rijālaw wa ‘alā kulli ḍāmiriy ya`tīna ming kulli fajjin ‘amīq

27. Maka, [wahai Muhammad,] umumkanlah kepada seluruh manusia [kewajiban untuk melakukan] ibadah haji:37 niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan dengan segala [jenis] kendaraan yang cepat,38 yang datang dari segenap penjuru [bumi] yang jauh,


37 Lit., “umumkanlah ibadah haji kepada manusia”, yaitu kepada orang-orang beriman (Al-Thabari). Kebanyakan mufasir mengasumsikan bahwa pasase ini adalah lanjutan dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim; tetapi sebagian dari mereka—khususnya Hasan Al-Bashri—menganggap bahwa pasase ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. (Berkenaan dengan ibadah haji tahunan ke Makkah, sebagaimana yang telah dilembagakan oleh Islam, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 196-203 dan catatan-catatannya.)

38 Lit., “tunggangan yang kurus”—sebuah ungkapan yang mendorong beberapa mufasir untuk menganggap bahwa istilah tersebut bermakna “seekor unta yang menjadi kurus karena telah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan”. Bagaimanapun, verba dhammarahu atau adhmarahu dalam bahasa Arab klasik mengacu tidak hanya pada unta, tetapi juga pada kuda. Istilah ini juga mempunyai arti “dia menjadikannya (yakni tunggangan itu) kurus dan cocok [untuk pacuan atau perang]”; jadi, nomina midhmari berarti “sebuah lapangan tempat latihan kuda-kuda yang dipersiapkan untuk pacuan atau perang”, dan juga berarti “lintasan untuk pacuan” (Al-Jauhari, Asas, dan lain-lain; bandingkan juga dengan Lane V, hh. 1803 dan seterusnya). Karena itu, kata sifat dhamir—khususnya ketika dipertentangkan dengan ungkapan rijalan (berjalan kaki), seperti dalam ayat di atas—berkonotasi “ketangkasan”, atau lebih tepatnya “kebugaran untuk bergerak cepat”, dan secara deduktif dapat diterapkan pada setiap macam “kendaraan yang cepat”.


Surah Al-Hajj Ayat 28

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

liyasy-hadụ manāfi’a lahum wa yażkurusmallāhi fī ayyāmim ma’lụmātin ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa kulụ min-hā wa aṭ’imul-bā`isal-faqīr

28. supaya mereka dapat mengalami banyak hal yang bermanfaat bagi mereka,39 dan supaya mereka mengagungkan nama Allah pada hari-hari yang ditentukan [untuk berkurban] atas kepala ternak apa pun yang telah Dia anugerahkan kepada mereka40 [untuk tujuan ini]: maka, makanlah sebagian darinya dan berilah makanan kepada orang-orang miskin yang sengsara.41


39 Lit., “supaya mereka dapat menyaksikan manfaat [yang bertambah] bagi mereka”—yakni, bertambahnya kesadaran akan Allah karena menyaksikan rumah ibadah pertama yang diabdikan untuk-Nya, serta tumbuhnya kesadaran karena menjadi bagian dari ikatan persaudaraan yang mencakup semua orang beriman. Terlepas dari keuntungan-keuntungan ruhani ini, ibadah haji tahunan memberikan kesempatan bagi orang-orang beriman yang berasal dari seluruh penjuru dunia untuk mengenali begitu banyaknya permasalahan sosial dan politik yang menghadang berbagai unsur masyarakat yang terpisah secara geografis.

40 Penekanan Al-Quran yang disampaikan berulang-ulang agar seseorang menyebut nama Allah ketika menyembelih hewan, dimaksudkan untuk membuat orang-orang beriman “menyadari betapa dahsyatnya tindakan mencabut nyawa, dan betapa khidmatnya amanat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia dengan mengizinkan mereka memakan daging binatang”  (Marmaduke Pickthall, The Meaning of the Glorious Koran, London, 1930, h. 342. catatan kaki no. 2). Adapun mengenai “hari-hari yang ditentukan” (ayyam ma’lumat) yang dibicarakan di atas, tampaknya hari-hari itu menunjukkan Hari Raya Kurban {‘Id AI-Adha—peny.} yang jatuh pada 10 Dzulhijjah, serta menunjukkan dua hari berikutnya, yang menandai berakhirnya ibadah haji (Ibn ‘Abbas sebagaimana dikutip oleh Al-Razi).

41 Sementara jamaah haji hanya dibolehkan memakan sebagian daging binatang yang mereka korbankan, memberi makan orang-orang miskin merupakan kewajiban (Al-Thabari dan Al-Zamakhsyari) dan, dengan demikian, merupakan tujuan utama dari pengorbanan itu. Terlepas dari hal ini, kewajiban tersebut dimaksudkan untuk memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anak pertamanya setelah dia bermimpi bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk melakukan pengorbanan yang tertinggi ini (lihat Surah As-Saffat [37]: 102-107 dan catatan-catatannya); lebih lanjut, ritual ini dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa Allah adalah Sang Pemberi Rezeki, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, serta bahwa segalanya akan kembali kepada-Nya; dan, terakhir (sebagaimana ditekankan oleh Al-Razi), ritual tersebut hendaknya menjadi perlambang terhadap kesediaan setiap orang yang beriman untuk mengorbankan dirinya sendiri di jalan kebenaran.


Surah Al-Hajj Ayat 29

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

ṡummalyaqḍụ tafaṡahum walyụfụ nużụrahum walyaṭṭawwafụ bil-baitil-‘atīq

29. Kemudian, hendaklah mereka mengakhiri keadaan pengekangan-nafsu mereka,42 dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar yang [mungkin] telah mereka buat, dan hendaklah mereka [sekali lagi] berjalan mengelilingi Bangunan Ibadah Tertua itu.43


42 Dalam pandangan Al-Thabari, frasa tsumma al-yaqdhu tafatsahum berarti “kemudian biarkanlah mereka menyempurnakan tindakan ibadah (manasik) yang diwajibkan atas mereka berdasarkan ibadah haji mereka”. Namun, mufasir lainnya memahami ungkapan tafats (yang amat jarang digunakan ini) sebagai larangan menikmati kesenangan badani tertentu selama melaksanakan ibadah haji, seperti memotong atau mencukur rambut (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 196), memakai pakaian selain pakaian ihram sederhana yang tidak berjahit, melakukan hubungan seksual (Surah Al-Baqarah [2]: 197), dan lain-lain. Jadi mereka memahami frasa di atas sebagai benkut: “hendaklah mereka mengakhiri [keadaan pengekangan-nafsu yang digambarkan sebagai] tafats, yang diwajibkan bagi mereka selama melaksanakan ibadah haji”.

43 Yakni, mengelilingi Ka’bah (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 102 dan 104), dengan demikian, menyempurnakan haji.


Surah Al-Hajj Ayat 30

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

żālika wa may yu’aẓẓim ḥurumātillāhi fa huwa khairul lahụ ‘inda rabbih, wa uḥillat lakumul-an’āmu illā mā yutlā ‘alaikum fajtanibur-rijsa minal-auṡāni wajtanibụ qaulaz-zụr

30. Semua ini [diperintahkan Allah]; dan jika seseorang mengagungkan perintah-perintah suci Allah, hasilnya adalah untuk kebaikannya sendiri dalam pandangan Pemeliharanya.

Dan, semua [jenis] hewan ternak dihalalkan bagi kalian [untuk dikurbankan dan dimakan], kecuali yang telah diterangkan kepada kalian [keharamannya].44

Maka, jauhilah [semua yang diharamkan Allah dan, terutama] kepercayaan dan praktik kemusyrikan yang merupakan keburukan yang menjijikkan,45 dan jauhilah setiap perkataan dusta,


44 Lihat paragraf pertama Surah Al-Ma’idah [5]: 3. Sekali lagi, AI-Quran menekankan prinsip bahwa segala sesuatu yang tidak dilarang secara terang-terangan dengan sendirinya adalah halal.

45 Istilah autsan, (lit., berhala-berhala), menunjukkan tidak saja gambar atau patung yang menggambarkan tuhan-tuhan batil, tetapi dalam pengertiannya yang terluas, juga mrenunjukkan segala sesuatu yang dihubungkan dengan berbagai kepercayaan dan praktik batil, atau dengan kecenderungan untuk “menyembah” nilai-nilai batil: karena itu, perintah berikutnya adalah untuk menjauhi “setiap perkataan dusta”.


Surah Al-Hajj Ayat 31

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

hunafā`a lillāhi gaira musyrikīna bih, wa may yusyrik billāhi fa ka`annamā kharra minas-samā`i fa takhṭafuhuṭ-ṭairu au tahwī bihir-rīḥu fī makānin saḥīq

31. [dengan condong] kepada Allah, [dan] berpaling dari segala yang batil46 tanpa menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada apa pun selain Dia: sebab, siapa saja yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah adalah seperti orang yang meluncur dengan cepat dari angkasa—lalu burung menyambarnya, atau angin menerbangkannya ke tempat yang jauh.


46 Untuk penjelasan mengenai istilah hunafa’ (bentuk tunggalnya: hanif), lihat catatan no. 110 pada Surah Baqarah [2]: 135.


Surah Al-Hajj Ayat 32

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

żālika wa may yu’aẓẓim sya’ā`irallāhi fa innahā min taqwal-qulụb

32. Demikianlah [yang harus diingat]. Dan, siapa pun yang mengagungkan perlambang-perlambang yang ditetapkan oleh Allah,47 [hendaknya mengetahui bahwa,] sungguh, [nilai perlambang-perlambang] ini [berasal] dari kesadaran-akan-Allah yang ada dalam hati [orang-orang beriman].


47 Lit., “perlambang-perlambang Allah (sya’a’ir)”—suatu ungkapan yang dalam konteks ini merujuk pada pelaksanaan ritual ibadah haji (lihat paruh kedua catatan no. 4 pada Surah Al-Ma’idah [5]: 2). Penekanan pada sifat simbolis dari semua ritual yang berkaitan dengan ibadah haji ini dimaksudkan untuk menarik perhatian orang-orang beriman terhadap makna-ruhani ritual itu dan, dengan demikian, memperingatkan mereka agar tidak gegabah dalam memberhalakan ritus-ritus tersebut dengan membabi buta.

Anggapan sejumlah mufasir bahwa “perlambang-perlambang” yang disebutkan di sini secara khusus mengacu pada hewan-hewan kurban, yakni pengorbanan hewan itu sendiri, tidak didukung oleh teks. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Thabari dalam penafsirannya terhadap ayat ini dan ayat berikutnya, istilah sya’a’ir mencakup semua ritual, tindakan, dan tempat yang berhubungan dengan ibadah haji (yang semuanya memiliki makna simbolik); jadi, tidak dapat dibatasi hanya pada salah satu dari sekian banyak perlambang itu.


Surah Al-Hajj Ayat 33

لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

lakum fīhā manāfi’u ilā ajalim musamman ṡumma mahilluhā ilal-baitil-‘atīq

33. Dalam (kesadaran-akan-Allah] itu, kalian akan menemukan manfaat-manfaat hingga masa yang ditentukan [oleh-Nya terpenuhi],48 dan [kalian akan mengetahui bahwa] tujuan dan akhirnya adalah Rumah Ibadah Tertua itu.49


48 Yakni, “hingga akhir hayat kalian” (Al-Baidhawt).

49 Nomina mahill berasal dari verba halla (lit., “dia membuka ikatan”, atau “melepas” [misalnya, sebuah simpul}, atau “dia melonggarkan [beban], atau “dia berseri-seri”, terutama menunjukkan suatu “tujuan”, serta “tempat atau waktu jatuh temponya suatu kewajiban” [misalnya, utang]) (Taj Al-‘Arus). Dalam konteks di atas, yang di dalamnya istilah tersebut jelas mengacu pada “kesadaran akan Allah” (taqwa) yang secara tegas disebutkan dalam ayat sebelumnya, istilah ini mempunyai makna figuratif “tujuan dan akhir”, yang menyiratkan bahwa kesadaran akan keesaan dan keunikan Allah—yang disimbolkan dengan Ka’bah (Rumah Ibadah Tertua)—adalah tujuan dan akhir dari seluruh kesadaran yang sejati akan Tuhan.


Surah Al-Hajj Ayat 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

wa likulli ummatin ja’alnā mansakal liyażkurusmallāhi ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa ilāhukum ilāhuw wāḥidun fa lahū aslimụ, wa basysyiril-mukhbitīn

34. Dan [demikianlah:] bagj tiap-tiap umat [yang beriman pada Kami] telah Kami tetapkan [berkurban sebagai] suatu ibadah supaya mereka dapat mengagungkan nama Allah atas kepala ternak apa pun yang telah Dia anugerahkan kepada mereka [untuk tujuan ini].50 Dan, [ingatlah selalu:] Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa: karena itu, berserah dirilah kalian kepada-Nya.

Dan, berilah kabar gembira [yakni penerimaan Allah] kepada semua orang yang rendah hati—


50 Yakni, sebagai suatu persembahan yang diberikan secara sadar dan ikhlas atas nama-Nya, yang berupa sesuatu yang dibutuhkan dan bernilai bagi seseorang, dan bukan sebagai usaha untuk “mengambil hati”-Nya karena Dia jauh melampaui apa pun yang menyerupai perasaan manusia. (Lihat juga, ayat 36 berikutnya.)


Surah Al-Hajj Ayat 35

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

allażīna iżā żukirallāhu wajilat qulụbuhum waṣ-ṣābirīna ‘alā mā aṣābahum wal-muqīmiṣ-ṣalāti wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

35. semua orang yang hatinya bergetar karena rasa gentar-terpukau manakala nama Allah disebut, dan semua orang yang sabar memikul derita apa pun yang menimpa mereka, dan semua orang yang teguh mendirikan shalat dan menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka.51


51 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 4.


Surah Al-Hajj Ayat 36

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wal-budna ja’alnāhā lakum min sya’ā`irillāhi lakum fīhā khairun fażkurusmallāhi ‘alaihā ṣawāff, fa iżā wajabat junụbuhā fa kulụ min-hā wa aṭ’imul-qāni’a wal-mu’tarr, każālika sakhkharnāhā lakum la’allakum tasykurụn

36. Dan, mengenai pengurbanan hewan ternak, Kami telah menjadikannya bagi kalian sebagai salah satu perlambang yang ditetapkan oleh Allah,52 yang di dalamnya terdapat [banyak] kebaikan bagi kalian. Karena itu, agungkanlah nama Allah terhadap hewan-hewan itu ketika mereka telah berjajar [untuk dikurbankan]; dan setelah mereka roboh di atas tanah tanpa nyawa, makanlah dagingnya,53 dan beri makanlah orang miskin yang merasa puas dengan bagiannya [dan tidak meminta-minta] serta orang yang terpaksa meminta-minta. Untuk tujuan inilah54 Kami jadikan mereka55 tunduk pada kebutuhan-kebutuhan kalian agar kalian memiliki alasan untuk bersyukur.


52 Lihat catatan no. 47.

53 Lit., “makanlah dari mereka”.

54 Lit., “demikianlah”.

55 Yakni, hewan-hewan kurban.


Surah Al-Hajj Ayat 37

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

lay yanālallāha luḥụmuhā wa lā dimā`uhā wa lākiy yanāluhut-taqwā mingkum, każālika sakhkharahā lakum litukabbirullāha ‘alā mā hadākum, wa basysyiril-muḥsinīn

37. [Akan tetapi, ingatlah:] tiada pernah daging itu mencapai Allah dan tidak pula darahnya: hanya kesadaran kalian akan Allah-lah yang mencapai-Nya. Untuk tujuan inilah Kami jadikan mereka tunduk pada kebutuhan-kebutuhan kalian, agar kalian dapat mengagungkan Allah karena segala petunjuk yang dengannya telah Dia muliakan kalian.

Dan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik:


Surah Al-Hajj Ayat 38

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

innallāha yudāfi’u ‘anillażīna āmanū, innallāha lā yuḥibbu kulla khawwāning kafụr

38. Sungguh, Allah akan menangkal [segala kejahatan] dari orang-orang yang telah meraih iman; [dan,] sungguh, Allah tidak menyukai siapa pun yang mengkhianati amanatnya dan yang tidak bersyukur.56


56 Lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 134.


Surah Al-Hajj Ayat 39

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

użina lillażīna yuqātalụna bi`annahum ẓulimụ, wa innallāha ‘alā naṣrihim laqadīr

39. IZIN [untuk berperang] telah diberikan kepada orang-orang yang telah diperangi secara zalim57—dan, sungguh, Allah benar-benar memiliki kekuasaan untuk menolong mereka—:


57 Lit., ” karena mereka telah dizalimi”. Berkaitan dengan janji dalam ayat sebelumnya bahwa “Allah akan menangkal [segala kejahatan] dari orang-orang yang telah meraih iman”, ayat ini mengumumkan kebolehan untuk berperang secara fisik dalam rangka mempertahankan diri. Semua hadis yang relevan (yang khususnya dikutip oleh Al-Thabari dan Ibn Katstr) menunjukkan bahwa ini adalah keterangan Al-Quran yang paling awal tentang permasalahan perang itu sendiri. Menurut ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, ayat ini diwahyukan segera setelah Nabi meninggalkan Makkah menuju Madinah pada awal 1 H. Prinsip perang untuk mempertahankan diri—dan hanya untuk mempertahankan diri—telah diperinci lebih lanjut dalam Surah Al-baqarah [2] yang diwahyukan sekitar setahun kemudian (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 190-193 dan catatan-catatannya).


Surah Al-Hajj Ayat 40

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

allażīna ukhrijụ min diyārihim bigairi ḥaqqin illā ay yaqụlụ rabbunallāh, walau lā daf’ullāhin-nāsa ba’ḍahum biba’ḍil lahuddimat ṣawāmi’u wa biya’uw wa ṣalawātuw wa masājidu yużkaru fīhasmullāhi kaṡīrā, wa layanṣurannallāhu may yanṣuruh, innallāha laqawiyyun ‘azīz

40. (yakni) mereka yang telah diusir dari kampung halaman mereka dengan melanggar segala (nilai) kebenaran, tanpa alasan apa pun selain kata-kata mereka, “Pemelihara kami adalah Allah!”

Karena, sekiranya Allah tidak memberikan kemampuan kepada manusia untuk mempertahankan diri mereka terhadap satu sama lainnya,58 [seluruh] biara, gereja, sinagoge, dan masjid—yang di dalam [semua bangunan itu] nama Allah banyak diagungkan—pasti telah dihancurkan [sebelum ini].59

Dan, Allah pasti menolong orang-orang yang menolong di jalan-Nya: sebab, sungguh, Allah Mahadigdaya, Mahaperkasa,


58 Lit., “andaikan Allah tidak mencegah sebagian orang melalui sebagian yang lain” (bdk. frasa serupa dalam paragraf kedua Surah Al-Baqarah [2]: 251).

59 Pengertian tersiratnya adalah bahwa alasan utama yang membolehkan—dan bahkan, mengharuskan—mengangkat senjata adalah untuk mempertahankan kebebasan beragama (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 193 dan catatan no. 170). Kalau ini tidak dilakukan, “kerusakan pasti akan meliputi bumi”, sebagaimana ditekankan dalam klausa penutup dari Surah Al-Baqarah [2]: 251.


Surah Al-Hajj Ayat 41

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

allażīna im makkannāhum fil-arḍi aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta wa amarụ bil-ma’rụfi wa nahau ‘anil-mungkar, wa lillāhi ‘āqibatul-umụr

41. [Maha Mengetahui] orang-orang yang, [sekalipun] jika Kami teguhkan (kedudukan) mereka di muka bumi, tetap teguh mendirikan shalat, memberikan derma, menyuruh berbuat benar dan melarang berbuat salah; namun, pada Allah-lah hasil akhir dari segala peristiwa.


Surah Al-Hajj Ayat 42

وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَثَمُودُ

wa iy yukażżibụka fa qad każżabat qablahum qaumu nụḥiw wa ‘āduw wa ṡamụd

42. DAN, JIKA MEREKA [yang berkukuh mengingkari kebenaran] mendustakanmu, [wahai Muhammad, ingatlah bahwa jauh] sebelum masa mereka, kaum Nuh, [suku-suku] ‘Ad dan Tsamud telah mendustakan [nabi-nabi mereka],


Surah Al-Hajj Ayat 43

وَقَوْمُ إِبْرَاهِيمَ وَقَوْمُ لُوطٍ

wa qaumu ibrāhīma wa qaumu lụṭh

43. seperti yang dilakukan kaum Ibrahim dan kaum Luth,


Surah Al-Hajj Ayat 44

وَأَصْحَابُ مَدْيَنَ ۖ وَكُذِّبَ مُوسَىٰ فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

wa aṣ-ḥābu madyan, wa kużżiba mụsā fa amlaitu lil-kāfirīna ṡumma akhażtuhum, fa kaifa kāna nakīr

44. dan penduduk Madyan; dan [begitu pula,] Musa telah didustakan [oleh Fir’aun].60

Dan, [pada setiap kali,] Aku beri tangguh, untuk sementara waktu, kepada para pengingkar kebenaran itu: tetapi kemudian Aku hukum mereka—dan betapa dahsyatnya penolakan-Ku [terhadap mereka].


60 Yakni, bukan oleh kaumnya sendiri. Karena, meskipun kaum Nabi Musa berdosa, mereka tetap menerirnanya sebagai Rasul Allah (Al-Thabari). Keterangan tentang kaum ‘Ad, Tsamud, dan penduduk Madyan tercantum dalam Surah Al-A’raf [7], catatan no. 48, 56, dan 67.


Surah Al-Hajj Ayat 45

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ

fa ka`ayyim ming qaryatin ahlaknāhā wa hiya ẓālimatun fa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urụsyihā wa bi`rim mu’aṭṭalatiw wa qaṣrim masyīd

45. Dan, betapa banyaknya kota yang telah Kami hancurkan karena kota-kota itu telah tenggelam dalam kezaliman—dan kini [semua] kota itu telantar, dengan atap-atapnya yang runtuh! Dan, betapa banyaknya sumur yang telah ditinggalkan, dan betapa banyaknya istana yang [dahulunya] tinggi menjulang.


Surah Al-Hajj Ayat 46

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa takụna lahum qulụbuy ya’qilụna bihā au āżānuy yasma’ụna bihā, fa innahā lā ta’mal-abṣāru wa lākin ta’mal-qulụbullatī fiṣ-ṣudụr

46. Maka, tidak pernahkah mereka melakukan perjalanan di muka bumi agar hati mereka mendapatkan hikmah dan telinga mereka dapat mendengar?61 Namun, sungguh, bukan mata mereka yang buta—melainkan yang buta itu adalah hati yang ada dalam dada mereka!


61 Lit., “kemudian mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar”.


Surah Al-Hajj Ayat 47

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

wa yasta’jilụnaka bil-‘ażābi wa lay yukhlifallāhu wa’dah, wa inna yauman ‘inda rabbika ka`alfi sanatim mimmā ta’uddụn

47. [Dan demikianlah, wahai Muhammad,] mereka menantangmu agar menyegerakan hukuman [Allah] terhadap mereka:62 tetapi, Allah tidak pernah lalai memenuhi janji-Nya—dan, perhatikanlah, satu hari di sisi Pemeliharamu adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian.63


62 Untuk penjelasannya, lihat Surah Al-An’am [6]: 57, Al-Anfal [8]: 32, dan Ar-Ra’d [13]: 6 serta catatan-catatannya.

63 Yakni, apa yang dipahami manusia sebagai “waktu” tidak memiliki arti apa-apa dalam kaitannya dengan Allah karena Dia tidak terikat waktu, tanpa awal dan tanpa akhir. Oleh karena itu, “dalam hubungan dengan-Nya, satu hari dan seribu tahun adalah sama” (Al-Razi). Bdk. Surah Al-Ma’arij [70]: 4 yang menyatakan dengan nada serupa bahwa “satu hari” sama dengan “lima puluh ribu tahun”, atau dengan hadis sahih Nabi yang menyatakan bahwa “Allah berfirman, Akulah Waktu Mutlak itu (Al-Dahr)”.


Surah Al-Hajj Ayat 48

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ

wa ka`ayyim ming qaryatin amlaitu lahā wa hiya ẓālimatun ṡumma akhażtuhā, wa ilayyal-maṣīr

48. Dan, betapa banyaknya masyarakat yang tenggelam dalam kezaliman yang telah Kuberi tangguh untuk sementara waktu! Akan tetapi, kemudian Aku hukum mereka: sebab, pada-Ku-lah akhir seluruh perjalanan!


Surah Al-Hajj Ayat 49

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ

qul yā ayyuhan-nāsu innamā ana lakum nażīrum mubīn

49. KATAKANLAH [wahai Muhammad]: “Wahai, manusia! Aku hanyalah seorang pemberi peringatan [yang diutus Allah] kepada kalian.”


Surah Al-Hajj Ayat 50

فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

fallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa rizqung karīm

50. Maka, [ketahuilah bahwa] orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan akan dikaruniai ampunan dan rezeki yang paling mulia;64


64 Lihat Surah Al-Anfal [8]: 4 dan catatannya, no. 5.


Surah Al-Hajj Ayat 51

وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna sa’au fī āyātinā mu’ājizīna ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

51. sedangkan orang-orang yang berusaha keras menentang pesan-pesan Kami untuk mencoba menggagalkan maksudnya—mereka itu ditetapkan di neraka yang berkobar.


Surah Al-Hajj Ayat 52

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa mā arsalnā ming qablika mir rasụliw wa lā nabiyyin illā iżā tamannā alqasy-syaiṭānu fī umniyyatih, fa yansakhullāhu mā yulqisy-syaiṭānu ṡumma yuḥkimullāhu āyātih, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

52. Padahal, setiap kali Kami utus rasul atau nabi sebelum kamu, dan dia berharap65 [bahwa peringatannya akan diperhatikan], setan akan menebarkan fitnah mengenai tujuan-tujuannya yang terdalam:66 tetapi, Allah menjadikan segala fitnah yang ditebarkan oleh setan itu sia-sia dan tidak berarti, dan Allah menjadikan pesan-pesan-Nya jelas pada dan oleh dirinya sendiri67—sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


65 Lit., “Kami tidak pernah mengutus rasul atau nabi sebelum kamu, kecuali bahwa jika dia berharap (tamanna) …”, dst. Menurut kebanyakan mufasir, kata “rasul” (rasul) digunakan untuk menunju·k pada para pembawa wahyu Ilahi yang membawa suatu sistem atau ajaran baru; di sisi lain, “nabi” (nabi) dikatakan sebagai orang yang dipercaya oleh Allah untuk: menyampaikan prinsip-prinsip etika berdasarkan ajaran-ajaran yang telah ada atau berdasarkan prinsip-prinsip umum yang berlaku pada seluruh ajaran Ilahi. Oleh karena itu, setiap rasul adalah nabi, tetapi tidak setiap nabi adaJah rasul.

66 Yakni, secara tidak langsung menyindir bahwa tujuan terdalam (umniyah, lit., “kerinduan” atau “harapan”) para utusan Allah (rasul) yang dibicarakan itu bukanlah untuk mewujudkan perbaikan ruhani kaumnya, alih-alih untuk meraih kekuasaan dan pengaruh pribadi: bdk. Surah Al-An’am [6]: 112—”bagi setiap nabi, Kami jadikan musuh, yaitu kekuatan-kekuatan jahat dari kalangan manusia dan dari kalangan makhluk-makhluk gaib”—suatu pernyataan yang dijelaskan dalam Surah Al-An’am [6], catatan 98.

67 Lit., “dan Allah menjadikan pesan-pesan-Nya jelas pada dan oleh dirinya sendiri”. Inilah arti frasa yuhkimu ayatahu (bdk. ungkapan uhkimat ayatuhu dalam Surah Hud [11]: 1): yakni, Allah menjadikan pesan-pesan-Nya berbicara sendiri sehingga sindiran apa pun tentang adanya “motif-motif tersembunyi” pada diri rasul tertolak dengan sendirinya. Kata sambung tsumma pada permulaan klausa ini tidak menunjukkan suatu rangkaian waktu, tetapi menunjukkan suatu pengaturan kegiatan dan, karena itu, paling tepat diterjemahkan dengan menggunakan kata sambung yang sederhana, yakni “dan”.


Surah Al-Hajj Ayat 53

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

liyaj’ala mā yulqisy-syaiṭānu fitnatal lillażīna fī qulụbihim maraḍuw wal-qāsiyati qulụbuhum, wa innaẓ-ẓālimīna lafī syiqāqim ba’īd

53. [Dan, Dia membiarkan keraguan timbul] agar Dia menjadikan segala fitnah yang ditebarkan setan [terhadap para nabi-Nya] sebagai ujian bagi semua orang yang dalam hatinya ada penyakit68 dan semua orang yang hatinya mengeras: sebab, sungguh, semua orang yang zalim [terhadap diri mereka sendiri]69 benar-benar berada dalam kesalahan yang besar.


68 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 10 dan catatannya.

69 Lit., “semua orang zalim [semacam itu]”.


Surah Al-Hajj Ayat 54

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa liya’lamallażīna ụtul-‘ilma annahul-ḥaqqu mir rabbika fa yu`minụ bihī fa tukhbita lahụ qulụbuhum, wa innallāha lahādillażīna āmanū ilā ṣirāṭim mustaqīm

54. Dan, [Allah menjadikan fitnah setan sia-sia dan tidak berarti] agar orang-orang yang telah dianugerahi pengetahuan [bawaan] dapat mengetahui bahwa [kitab Ilahi] ini adalah kebenaran dari Pemeliharamu, dan agar mereka beriman padanya, dan agar hati mereka tunduk kepada-Nya.

Sebab, perhatikanlah, Allah pasti memberi petunjuk ke jalan yang lurus kepada orang-orang yang telah meraih iman—


Surah Al-Hajj Ayat 55

وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ

wa lā yazālullażīna kafarụ fī miryatim min-hu ḥattā ta`tiyahumus-sā’atu bagtatan au ya`tiyahum ‘ażābu yaumin ‘aqīm

55. sedangkan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran tidak henti-hentinya berada dalam keraguan tentang Dia, hingga Saat Terakhir datang kepada mereka dengan tiba-tiba dan penderitaan [yang amat dahsyat] menimpa mereka pada Hari ketika segala harapan sirna.70


70 Lit., “atau [hingga] datang kepada mereka hukuman [atau ‘derita’] pada Hari yang hampa”, yakni Hari Pengadilan, yang tidak akan memberikan harapan kepada mereka yang, hingga kematian mereka, gagal menyadari keberadaan Allah atau tunduk mengikuti petunjuk-Nya.


Surah Al-Hajj Ayat 56

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

al-mulku yauma`iżil lillāh, yaḥkumu bainahum, fallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fī jannātin-na’īm

56. Pada Hari itu, seluruh kekuasaan akan [terlihat jelas sebagai] milik Allah. Dia akan memberi keputusan [kepada seluruh manusia dan membedakan] di antara mereka: maka, semua orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan akan mendapatkan diri mereka berada dalam taman-taman kenikmatan,


Surah Al-Hajj Ayat 57

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā fa ulā`ika lahum ‘ażābum muhīn

57. sedangkan bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mendustakan ayat-ayat Kami akan tersedia penderitaan yang hina.


Surah Al-Hajj Ayat 58

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

wallażīna hājarụ fī sabīlillāhi ṡumma qutilū au mātụ layarzuqannahumullāhu rizqan ḥasanā, wa innallāha lahuwa khairur-rāziqīn

58. ADAPUN orang yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan71 [dan berjuang] di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati—Allah pasti akan memberikan rezeki yang baik bagi mereka [di akhirat]: sebab, sungguh, Allah—Dia sajalah—sebaik-baik Pemberi Rezeki;


71 Untuk penerjemahan frasa alladzina hajaru, lihat catatan no. 203 pada Surah Al-Baqarah [2]: 218. Sebutan selanjutnya mengenai “orang-orang yang berjuang di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati” berkaitan dengan keterangan dalam ayat 39-40, yang menyatakan bahwa Allah memberi izin kepada orang-orang beriman untuk berperang dalam rangka mempertahankan iman dan kebebasan mereka. Betapa tingginya nilai pengorbanan-diri ini ditekankan dalam beberapa bagian Al-Quran, dan khususnya pada Surah An-Nisa’ [4]: 95-96, oleh karena itu, ayat ini juga berkaitan dengan Hari Pengadilan yang telah dibicarakan dalam bagian sebelumnya.


Surah Al-Hajj Ayat 59

لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ

layudkhilannahum mudkhalay yarḍaunah, wa innallāha la’alīmun ḥalīm

59. [dan] Dia pasti akan menjadikan mereka memasuki suatu keadaan yang akan sangat menyenangkan mereka:72 sebab, sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.


72 {to enter upon a state [of being] that shall please them well}. Atau: “menjadikan mereka masuk [dalam kehidupan mereka di akhirat] dengan suatu cara yang sangat menyenangkan mereka” (bdk. catatan no. 40 pada bagian terakhir Surah An-Nisa’ [4]: 31)—jadi, secara tersirat, menunjukkan bahwa dengan mengorbankan hidup mereka di jalan Allah, mereka akan memperoleh ampunan-Nya atas dosa apa pun yang telah mereka lakukan.


Surah Al-Hajj Ayat 60

ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

żālika wa man ‘āqaba bimiṡli mā ‘ụqiba bihī ṡumma bugiya ‘alaihi layanṣurannahullāh, innallāha la’afuwwun gafụr

60. Demikianlah yang akan terjadi.

Dan, adapun orang yang membalas agresi hanya sebatas serangan yang telah dilancarkan kepadanya,73 dan kemudian dia dengan licik diserang [lagi]—Allah pasti akan menolongnya: sebab, perhatikanlah, Allah benar-benar Sang Penghapus Dosa-Dosa, Maha Pengampun.74


73 Lit., “orang yang membalas setimpal dengan apa yang dia alami”—yakni, hanya melakukan tindakan membela diri dan memperlakukan musuh tidak lebih daripada apa yang telah dilakukan musuhnya kepadanya. (Frasa yang serupa, yang berkenaan dengan pembalasan yang setimpal dalam perdebatan, tercantum dalam Surah An-Nahl [16]: 126 dan dijelaskan dalam catatan no. 150 yang terkait.)

74 Kalimat pembuka ayat ini menekankan prinsip pembelaan-diri sebagai satu-satunya alasan untuk membenarkan perang (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 190 dan 192-193)—dengan ketentuan bahwa pembalasan tidak boleh melebihi Iuka yang diderita pada awalnya; sedangkan, bagian penutup ayat ini menunjukkan secara tersirat bahwa dalam kasus penyerangan yang berulang dan tak beralasan, orang-orang beriman diperbolehkan untuk berperang habis-habisan dengan tujuan menghancurleburkan kekuatan militer lawan secara total. Karena perang habis-habisan semacam ini tampaknya bertentangan dengan prinsip pembalasan-terbatas seperti yang disebutkan di atas, AI-Quran menyatakan bahwa Allah membebaskan orang-orang beriman dari apa yang pada situasi normal mungkin sudah dihitung sebagai dosa karena merekalah “orang-orang yang telah diperangi secara zalim” (ayat 39) dengan agresi yang berulang-ulang.


Surah Al-Hajj Ayat 61

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

żālika bi`annallāha yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laili wa annallāha samī’um baṣīr

61. Demikianlah adanya, karena Allah [adalah Mahakuasa75—yang] menjadikan malam bertambah panjang dengan memendekkan siang, dan Engkau jadikan siang bertambah panjang dengan memendekkan malam; dan karena Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.76


75 Secara tersirat, “dan oleh karena itu mempunyai kekuatan untuk menolong orang-orang beriman yang telah dizafimi”.

76 Yakni, Dia-lah yang mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia dan, meskipun demikian, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak dapat diduga, Dia membiarkan gelapnya penindasan tumbuh dengan mengorbankan cahaya kebebasan, dan kemudian menjadikan cahaya itu mengalahkan kegelapan: suatu pengulang-ulangan abadi dan berkesinambungan, yang mendominasi kehidupan umat manusia. (Sebagaimana ditunjukkan Ibn Katsir, rangkaian ayat di atas secara langsung mengingatkan pada Surah Al-‘Imran [3]: 26-27—”Katakanlah: ‘Wahai, Allah, Pemilik seluruh kekuasaan! Engkau anugerahkan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan mencabutnya dari siapa pun yang Engkau kehendaki … Engkau berkuasa menetapkan segala sesuatu: Engkau jadikan malam bertambah panjang dengan memendekkan siang, dan Engkau jadikan siang bertambah panjang dengan memendekkan malam …'”.)


Surah Al-Hajj Ayat 62

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

żālika bi`annallāha huwal-ḥaqqu wa anna mā yad’ụna min dụnihī huwal-bāṭilu wa annallāha huwal-‘aliyyul-kabīr

62. Demikianlah, karena Allah sajalah Kebenaran Tertinggi,77 sehingga segala yang diseru manusia di samping Dia adalah kebatilan belaka, dan karena Allah sajalah yang Mahatinggi, Mahabesar!


77 Lihat Surah TaHa [20], catatan no. 99.


Surah Al-Hajj Ayat 63

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً ۗ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

a lam tara annallāha anzala minas-samā`i mā`an fa tuṣbiḥul-arḍu mukhḍarrah, innallāha laṭīfun khabīr

63. Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah-lah yang menurunkan air dari langit, kemudian bumi itu menjadi hijau? Sungguh, Allah Maha Tak Terduga [hikmah-Nya], Maha Mengetahui.78


78 Untuk penjelasan istilah lathif (Maha Tak Terduga), lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 89.


Surah Al-Hajj Ayat 64

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa innallāha lahuwal-ganiyyul-ḥamīd

64. Kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi; dan, sungguh, Allah—Dia sajalah—Yang Mahacukup. Maha Terpuji.


Surah Al-Hajj Ayat 65

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

a lam tara annallāha sakhkhara lakum mā fil-arḍi wal-fulka tajrī fil-baḥri bi`amrih, wa yumsikus-samā`a an taqa’a ‘alal-arḍi illā bi`iżnih, innallāha bin-nāsi lara`ụfur raḥīm

65. Tidakkah engkan perhatikan bahwa Allah-lah yang menundukkan bagi kalian segala yang ada di muka bumi,79 dan bahtera yang berlayar di tengah lautan atas perintah-Nya—dan [bahwa Dia-lah yang] menahan benda-benda angkasa80 [dalam jalur edar mereka] agar mereka tidak jatuh menimpa bumi, kecuali dengan izin-Nya?81

Sungguh, Allah Maha Melimpahkan Kasih kepada manusia, Sang Pemberi Rahmat—


79 Yakni, “telah memungkinkan kalian memperoleh keuntungan dari semua …”, dan seterusnya (bdk. Surah Ibrahim [14], catatan no. 46).

80 Lit., “menahan langit”—di sini digunakan sebagai metonimia terhadap bintang-bintang dan planet-planet, yang berputar pada jalurnya sesuai dengan hukum peredaran kosmik yang ditetapkan Allah (Al-Maraghi XVII, h. 137).

81 Yakni, pada Saat Terakhir, yang—seperti sering ditegaskan oleh Al-Quran—akan terjadi dalam bentuk bencana alam semesta.


Surah Al-Hajj Ayat 66

وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ

wa huwallażī aḥyākum ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum, innal-insāna lakafụr

66. mengingat Dia-lah yang menghidupkan kalian, dan kemudian akan mematikan kalian, lalu menghidupkan kalian kembali: [tetapi,] sungguh, manusia tidak bersyukur!


Surah Al-Hajj Ayat 67

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ

likulli ummatin ja’alnā mansakan hum nāsikụhu fa lā yunāzi’unnaka fil-amri wad’u ilā rabbik, innaka la’alā hudam mustaqīm

67. BAGI tiap-tiap umat, telah Kami tetapkan cara-cara ibadah [yang berbeda],82 yang harus mereka patuhi. Oleh karena itu, [wahai orang yang beriman,] jangan biarkan orang-orang [yang mengikuti jalan yang berbeda dengan jalanmu] menarikmu ke dalam perselisihan mengenai hal ini, tetapi serulah [mereka semua] menuju Pemeliharamu:83 sebab, perhatikanlah, engkau sungguh-sungguh berada pada jalan yang benar.


82 Lit., “sebuah cara ibadah” (mansak, yang kadang-kadang juga berarti “laku ibadah”). Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai rangkaian ayat ini, lihat paragraf kedua Surah Al-Ma’idah [5]: 48—”Kepada masing-masing di antara kalian, telah Kami berikan aturan dan jalan hidup [yang berbeda]”—dan catatannya (no. 66-68).

83 Yakni, “jangan biarkan dirimu sendiri ditarik menuju perselisihan” (Al-Zamakhsyari dan Al-Baghawi).


Surah Al-Hajj Ayat 68

وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ

wa in jādalụka fa qulillāhu a’lamu bimā ta’malụn

68. Dan, jika mereka [mencoba] berdebat denganmu, katakan [saja]: ”Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”84


84 Bdk. Surah Yunus [10]: 41—”Bagiku [akan diperhitungkan] perbuatan-perbuatanku dan bagi kalian perbuatan-perbuatan kalian: kalian tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kuperbuat dan aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian perbuat”.


Surah Al-Hajj Ayat 69

اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

allāhu yaḥkumu bainakum yaumal-qiyāmati fīmā kuntum fīhi takhtalifụn

69. [Karena, sungguh,] Allah akan memberi keputusan di antara kalian pada Hari Kebangkitan tentang segala hal yang biasa kalian perselisihkan.85


85 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 94.


Surah Al-Hajj Ayat 70

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

a lam ta’lam annallāha ya’lamu mā fis-samā`i wal-arḍ, inna żālika fī kitāb, inna żālika ‘alallāhi yasīr

70. Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang terjadi di Iangit dan di bumi? Perhatikanlah, semua ini terdapat dalam catatan [Allah]: sungguh, [untuk mengetahui] semua ini amat mudah bagi Allah.


Surah Al-Hajj Ayat 71

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānaw wa mā laisa lahum bihī ‘ilm, wa mā liẓ-ẓālimīna min naṣīr

71. Dan, sungguhpun begitu,86 mereka [yang sering mengaku beriman pada-Nya] menyembah [makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan lain] di samping Allah—sesuatu yang Allah tidak pernah menurunkan keterangan apa pun tentangnya,87 dan [kenyataan] yang mereka tidak dapat memiliki pengetahuan apa pun tentangnya:88 dan orang zalim semacam ini tiada memiliki seorang penolong [pada Hari Pengadilan].


86 Yakni, meskipun mereka menyadari bahwa hanya Allah sendirilah yang mengetahui segala sesuatu dan, oleh karena itu, unik dalam Kemaha-hadiran-Nya.

87 Lihat Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 106.

88 Yakni, melalui penalaran bebas atau pengamatan.


Surah Al-Hajj Ayat 72

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكُمُ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātin ta’rifu fī wujụhillażīna kafarul-mungkar, yakādụna yasṭụna billażīna yatlụna ‘alaihim āyātinā, qul a fa unabbi`ukum bisyarrim min żālikum, an-nār, wa’adahallāhullażīna kafarụ, wa bi`sal-maṣīr

72. Demikianlah, setiap kali pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka dengan seluruh kejelasannya, engkau dapat melihat tanda-tanda kebencian pada wajah orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu: hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang menyampaikan pesan-pesan Kami kepada mereka!

Katakanlah: “Maka, maukah kalian kukabari sesuatu yang lebih buruk daripada apa yang kalian rasakan kini?”89 Yaitu, api neraka [pada Hari Akhirat] yang telah Allah janjikan kepada orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran: dan betapa buruknya akhir perjalanan itu!


89 Lit., “lebih buruk daripada ini”—yakni, “lebih menyakitkan daripada perasaan, jijik yang kalian rasakan berkenaan dengan pesan-pesan Allah”.


Surah Al-Hajj Ayat 73

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

yā ayyuhan-nāsu ḍuriba maṡalun fastami’ụ lah, innallażīna tad’ụna min dụnillāhi lay yakhluqụ żubābaw wa lawijtama’ụ lah, wa iy yaslub-humuż-żubābu syai`al lā yastangqiżụhu min-h, ḍa’ufaṭ-ṭālibu wal-maṭlụb

73. WAHAI, MANUSIA! Telah dibuat perumpamaan [sebagai berikut]; maka, dengarkanlah perumpamaan itu! Perhatikanlah, makhluk-makhluk yang kalian seru selain Allah itu tidak mampu menciptakan [semisal] seekor lalat, bahkan seandainya mereka menyatukan seluruh kekuatan mereka untuk tujuan itu! Dan, apabila seekor lalat merampas sesuatu dari mereka, mereka [bahkan] tidak mampu merebutnya kembali dari lalat itu! Betapa lemahnya sang pencari, dan [betapa lemahnya] yang dicari!


Surah Al-Hajj Ayat 74

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

mā qadarullāha ḥaqqa qadrih, innallāha laqawiyyun ‘azīz

74. Mereka [yang melakukan kesalahan sedemikian ini] tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah: sebab, sungguh, Allah Mahadigdaya, Mahaperkasa!


Surah Al-Hajj Ayat 75

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

allāhu yaṣṭafī minal-malā`ikati rusulaw wa minan-nās, innallāha samī’um baṣīr

75. [Dalam kekuasaan-Nya,] Allah memilih para (utusan) pembawa pesan dari kalangan malaikat serta dari kalangan manusia. Namun, perhatikanlah, [hanya] Allah-lah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat:90


90 Yakni, para nabi dan malaikat hanyalah makhluk-makhluk yang tidak memiliki andil apa pun dalam kemahatahuan-Nya dan, karena itu, tidak berhak disembah.


Surah Al-Hajj Ayat 76

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۗ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa ilallāhi turja’ul-umụr

76. [sementara pengetahuan mereka terbatas,] Allah mengetahui segala yang terbentang di hadapan mereka dan segala yang tersembunyi dari mereka91—sebab, segala sesuatu kembali kepada Allah [sebagai sumbernya].


91 Untuk penjelasan mengenai terjemahan atas frasa ma baina aidihim wa ma khalfahum, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 247.


Surah Al-Hajj Ayat 77

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanurka’ụ wasjudụ wa’budụ rabbakum waf’alul-khaira la’allakum tufliḥụn

77. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Rukuk dan sujudlah kalian, dan sembahlah Pemelihara kalian [saja], dan kerjakanlah kebajikan agar kalian meraih kebahagiaan!


Surah Al-Hajj Ayat 78

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

wa jāhidụ fillāhi ḥaqqa jihādih, huwajtabākum wa mā ja’ala ‘alaikum fid-dīni min ḥaraj, millata abīkum ibrāhīm, huwa sammākumul-muslimīna ming qablu wa fī hāżā liyakụnar-rasụlu syahīdan ‘alaikum wa takụnụ syuhadā`a ‘alan-nāsi fa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa’taṣimụ billāh, huwa maulākum, fa ni’mal-maulā wa ni’man-naṣīr

78. Dan, berjuanglah sungguh-sungguh di jalan Allah dengan segenap daya juang yang layak (dipersembahkan) bagi-Nya: Dia-lah yang telah memilih kalian [untuk mengemban risalah-Nya], dan (Dia) tidak menetapkan kesukaran terhadap kalian dalam [hal apa pun yang berkenaan dengan] agama,92 [dan Dia menjadikan kalian mengikuti] agama Ibrahim, bapak moyang kalian.93

Dia-lah yang telah menamai kalian—pada masa silam serta dalam [kitab Ilahi] ini—“orang-orang yang telah menyerahkan diri kepada Allah”,94 agar Rasul menjadi saksi atas kebenaran di hadapan kalian, dan agar kalian menjadi saksi terhadapnya di hadapan seluruh umat manusia.

Maka, berteguhlah mendirikan shalat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia-lah Penguasa kalian Yang Mahatinggi: betapa mulia Sang Penguasa Tertinggi ini dan betapa mulia Sang Penolong ini!


92 Tiadanya “kesukaran” dalam agama Islam disebabkan oleh beberapa faktor, yakni karena agama Islam: (a) bebas dari dogma atau proposisi mistik apa pun yang mungkin menjadikan doktrin Al-Quran sulit dipahami atau bahkan mungkin bertentangan dengan nalar-fitri manusia; (b) terhindar dari segala ritual atau sistem tabu yang rumit, yang membebani kehidupan sehari-hari manusia dengan batasan-batasan yang tidak perlu; (c) menentang segala bentuk penolakan total terhadap nafsu dan asketisme yang berlebihan, yang pasti bertentangan dengan fitrah alami manusia (dalam kaitan dengan ini, bdk. catatan no. 118 pada kalimat pertama Surah Al-Baqarah [2]: 143); dan (d) memperhitungkan sepenuhnya fakta bahwa “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28).

93 Di sini, Nabi Ibrahim disebut sebagai “bapak moyang kalian” tidak hanya karena dia, pada kenyataannya, adalah leluhur Nabi Muhammad Saw.—yang kepada para pengikutnyalah rangkaian ayat ini dialamatkan—tetapi juga karena dia adalah prototipe (dan, karena itu, “bapak moyang” spiritual) semua orang yang dengan sadar “menyerahkan diri kepada Allah” (lihat catatan berikutnya).

94 Istilah muslim berarti “seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah”; senada dengan itu, istilah islam berarti “penyerahan-diri kepada Allah”. Dalam Al-Quran, kedua istilah ini dipakai untuk menunjukkan semua orang yang beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, dan yang menegaskan keimanan mereka ini dengan tanpa ragu-ragu menerima pesan-pesan yang telah Dia wahyukan. Karena Al-Quran merupakan wahyu Ilahi yang paling akhir dan paling universal, pada rangkaian selanjutnya, orang-orang beriman diperintahkan untuk mengikuti petunjuk Rasulnya dan, dengan demikian, menjadi teladan bagi seluruh umat manusia (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 143 dan catatannya, no. 119).


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top