40. Al-Ghafir (Mengampuni) – الغافر

Surat Al-Ghafir dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Ghafir ( الغافر ) merupakan surah ke 40 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 85 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Ghafir tergolong Surat Makkiyah.

Tema utama Surat Al-Ghafir adalah kesombongan yang sering kali membuat manusia menyangka bahwa dirinya adalah pusat alam semesta dan, karenanya, mendorongnya untuk merasa tetap berpuas-diri dengan pengetahuan yang diperolehnya sendiri secara empiris (ayat 83): mendorongnya untuk menyembah segala bentuk kekuatan khayali dan nilai-nilai batil yang tampaknya membantu kejayaan manusia—seperti kekayaan, kekuasaan, atau bahkan arogansi “kemajuan”—; dan mendorongnya untuk menyangkal keabsahan setiap kebenaran yang, betapapun jelasnya, bertentangan dengan rasa gengsinya sendiri. Asumsi arogan bahwa manusia adalah makhluk yang serbacukup—suatu ilusi yang telah disinggung dalam ayat 6-7 pada salah satu wahyu Al-Qur’an yang paling awal (Surah Al-‘Alaq [96])—akan menimbulkan keyakinan bahwa dirinya tidak lagi membutuhkan petunjuk Ilahi: hal ini menunjukkan suatu penolakan terhadap iman kepada kebangkitan dan pengadilan akhir Allah pada “Hari Perhitungan” (ayat 27). Nada pembuka dari tema ini muncul dalam pernyataan bahwa “tiada yang akan mempertanyakan pesan-pesan Allah kecuali orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” (ayat 4), lalu dikembangkan menjadi berbagai variasi sepanjang surah ini, yakni: “yang ada dalam hati mereka tidak lain hanyalah kesombongan yang amat besar, yang tidak akan pernah dapat mereka puaskan” (ayat 56); dan “menjadi menyimpanglah pikiran orang-orang yang sengaja menolak pesan-pesan Allah” (ayat 63)—sebab, “Allah menutup setiap hati yang angkuh dan mengagungkan diri” (ayat 35), dan menghukumnya dengan kebutaan ruhani di dunia ini dan, sebagai akibatnya, merasakan penderitaan dalam kehidupan akhirat.

Sebagaimana sering dikemukakan dalam Al-Qur’an, gagasan-gagasan ini digambarkan dengan merujuk kepada kisah-kisah para nabi terdahulu, dan kepada apa yang akhirnya terjadi terhadap orang-orang yang mengingkari kebenaran pada masa silam (ayat 21-22 dan 82 dst,)—“demikianlah ketetapan Allah yang terus berlaku bagi makhluk-makhluk-Nya” (ayat 85).

Kata kunci yang dijadikan sebagai nama surah ini diambil dari ayat 3, yang di dalamnya Allah disebut sebagai ghafir al-dzanb (“Yang Mengampuni dosa-dosa”). Surah ini juga disebut dengan Surat Al-Mu’min (Orang Beriman), yang merujuk pada “seorang beriman dari keluarga Fir’aun” yang mencoba meyakinkan bangsanya yang keliru terhadap kebenaran Nabi Musa a.s.

Seluruh ahli sepakat bahwa Surah Al-Ghafir dan enam surah berikutnya (yang semuanya diawali dengan simbol-huruf Ha-Mim) termasuk ke dalam masa-masa yang lebih terkemudian dari pertengahan periode Makkah.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Ghafir Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Quran.


Surah Al-Ghafir Ayat 2

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-‘alīm

2. TURUNNYA kitab Ilahi ini berasal dari Allah, Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui,


Surah Al-Ghafir Ayat 3

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

gāfiriż-żambi wa qābilit-taubi syadīdil-‘iqābi żiṭ-ṭaụl, lā ilāha illā huw, ilaihil-maṣīr

3. (yang) mengampuni dosa-dosa dan menerima tobat, keras dalam menghukum, memiliki karunia yang melimpah tak terhingga.

Tidak ada tuhan kecuali Dia: pada-Nya-lah akhir seluruh perjalanan.


Surah Al-Ghafir Ayat 4

مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ

mā yujādilu fī āyātillāhi illallażīna kafarụ fa lā yagrurka taqallubuhum fil-bilād

4. TIADA yang akan mempertanyakan pesan-pesan Allah kecuali orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran. Akan tetapi, jangan biarkan hal itu memperdayakan engkau, yakni bahwa mereka tampaknya dapat bertindak sesuka hati mereka di muka bumi:


Surah Al-Ghafir Ayat 5

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ ۖ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ

każżabat qablahum qaumu nụḥiw wal-aḥzābu mim ba’dihim wa hammat kullu ummatim birasụlihim liya`khużụhu wa jādalụ bil-bāṭili liyud-ḥiḍụ bihil-ḥaqqa fa akhażtuhum, fa kaifa kāna ‘iqāb

5. telah mendustakan kebenaran, sebelum zaman mereka, kaum Nuh dan, sesudah mereka, semua kaum [lainnya] yang bersekutu [melawan para pembawa pesan Allah];2 dan masing-masing umat itu telah melakukan makar terhadap rasul yang diutus kepada mereka,3 dengan tujuan untuk menawannya, dan mereka menentang [pesannya] dengan argumen-argumen batil, untuk melenyapkan kebenaran dengan (argumen-argumen batil) itu: tetapi kemudian Aku menghukum mereka—dan betapa dahsyatnya hukuman-Ku!


2 Bdk. Surah Shad [38]: 12-14, yang memerinci sebagian orang-orang yang “bersekutu” (al-ahzab) itu; lihat juga ayat 30 dst. surah ini.

3 Lit., “setiap umat telah merencanakan makar melawan rasul mereka”.


Surah Al-Ghafir Ayat 6

وَكَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

wa każālika ḥaqqat kalimatu rabbika ‘alallażīna kafarū annahum aṣ-ḥābun-nār

6. Dan demikianlah firman Pemeliharamu akan terbukti benar terhadap orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran: mereka akan mendapati diri mereka di dalam api [neraka].


Surah Al-Ghafir Ayat 7

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

allażīna yaḥmilụnal-‘arsya wa man ḥaulahụ yusabbiḥụna biḥamdi rabbihim wa yu`minụna bihī wa yastagfirụna lillażīna āmanụ, rabbanā wasi’ta kulla syai`ir raḥmataw wa ‘ilman fagfir lillażīna tābụ wattaba’ụ sabīlaka wa qihim ‘ażābal-jaḥīm

7. MEREKA YANG MENGEMBAN [dalam dirinya pengetahuan tentang] singgasana kemahakuasaan [Allah], serta mereka yang ada di dekatnya,4 bertasbih memuji kemuliaan Pemelihara mereka yang tak terhingga, dan beriman kepada-Nya, serta memohon ampun bagi semua [orang lainnya] yang telah meraih iman:

“Wahai, Pemelihara kami! Engkau meliputi segala sesuatu dalam rahmat dan pengetahuan-[Mu]: maka ampunilah dosa-dosa mereka yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan lindungilah mereka dari penderitaan berupa api yang berkobar!


4 Lit., “di sekitarnya”: bdk. penjelasan Al-Zamakhsyari atas ungkapan haulaha yang terdapat dalam Surah An-Naml [27]: 8 dalam pengertian “di dekatnya”. Dalam tafsirnya atas ayat yang sedang kita bicarakan ini, Al-Baidhawi secara eksplisit menyatakan bahwa “mengemban” singgasana kemahakuasaan Allah (al-‘arsy—lihat catatan no. 43 pada surah Al-A’raf [7]: 54) harus dipahami dalam pengertian kiasan: “Tindakan mereka membawanya dan mengelilinginya [atau ‘berada di dekatnya’] adalah sebuah kiasan bagi perhatian mereka terhadapnya dan lalu bertindak sesuai dengannya (majaz ‘an hifzhihim wa tadbirihim lahu), atau sebuah metonimia (kinayah) bagi kedekatan mereka dengan Sang Pemilik Singgasana, martabat mulia mereka dalam pandangan-Nya, dan kedudukan mereka sebagai sarana untuk merealisasikan kehendak-Nya.” Terjemahan saya di atas mencerminkan penafsiran Al-Baidhawi.

Mengenai wujud-wujud yang dikatakan dekat dengan singgasana kemahakuasaan Allah, mayoritas mufasir klasik—yang jelas-jelas mendasarkan pandangan mereka pada gambaran simbolik “para malaikat yang mengitari singgasana kemahakuasaan [Allah]” pada Hari Pengadilan (Surah Az-Zumar [39]: 75)—menganggap bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat pula. Akan tetapi, meskipun tidak dapat disangkal bahwa ayat ini juga merujuk pada malaikat, tidak berarti bahwa ayat tersebut merujuk secara khusus pada malaikat saja. Dalam pengertian abstraknya, verba hamala sering kali berarti “dia memikul [atau ‘mengambil’] tanggungjawab [atas sesuatu]”: jadi, jelaslah bahwa kata tersebut di sini berlaku tidak hanya bagi malaikat, tetapi juga bagi semua manusia yang sadar akan implikasi luar biasa dari konsep kemahabesaran Allah dan, karena itu, merasa bertanggung jawab secara moral untuk menerjemahkan kesadaran ini ke dalam realitas kehidupan mereka sendiri dan sesamanya.


Surah Al-Ghafir Ayat 8

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

rabbanā wa adkhil-hum jannāti ‘adninillatī wa’attahum wa man ṣalaḥa min ābā`ihim wa azwājihim wa żurriyyātihim, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm

8. “Dan, wahai Pemelihara Kami! Masukkanlah mereka ke dalam taman-taman kebahagiaan abadi5 yang telah engkau janjikan kepada mereka, bersama orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka dan pasangan-pasangan mereka serta keturunan mereka—sebab, sungguh, hanya Engkau-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana—


5 Lihat catatan no. 45 pada Surah Sad [38]: 50.


Surah Al-Ghafir Ayat 9

وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

wa qihimus-sayyi`āt, wa man taqis-sayyi`āti yauma`iżin fa qad raḥimtah, wa żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

9. dan lindungilah mereka dari [melakukan] perbuatan-perbuatan jahat: sebab, siapa pun yang pada Hari [Pengadilan] itu Kau lindungi dari [noda] perbuatan-perbuatan jahat, dialah orang yang telah Engaku muliakan dengan belas kasih-Mu: dan itu, itulah kemenangan yang tertinggi!”


Surah Al-Ghafir Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ

innallażīna kafarụ yunādauna lamaqtullāhi akbaru mim maqtikum anfusakum iż tud’auna ilal-īmāni fa takfurụn

10. [Namun,] perhatikanlah, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—[pada Hari yang sama] sebuah suara akan menyeru mereka:6 “Sungguh, kebencian Allah terhadap kalian lebih besar daripada kebencian kalian [saat ini] terhadap diri kalian sendiri7 [yakni pada saat] ketika kalian diseru agar beriman, tetapi malah berkukuh mengingkari kebenaran!”8


6 Lit., “mereka akan dipanggil” atau “diseru”.

7 Yakni, “karena menyadari, setelah terlambat, dosa-dosa kalian pada masa lalu”.

8 Karena mustahil menisbahkan emosi-manusiawi murni kepada Allah, “kebencian Allah” terhadap para pendosa jelas merupakan suatu metonimia bagi penolakan-Nya terhadap mereka (Al-Razi). Hal ini mirip dengan penggunaan metonimia dari ungkapan “murka Allah” (ghadhab) dalam pengertian hukuman-Nya (lihat kalimat pertama catatan no. 4 dalam Surah Al-Fatihah [1]: 7).


Surah Al-Ghafir Ayat 11

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

qālụ rabbanā amattanaṡnataini wa aḥyaitanaṡnataini fa’tarafnā biżunụbinā fa hal ilā khurụjim min sabīl

11. [Kemudian,] mereka akan berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Engkau telah dua kali menyebabkan kami mati, sebagaimana telah dua kali Engkau menghidupkan kami!9 Akan tetapi, setelah kini kami mengakui dosa-dosa kami, adakah jalan keluar [dari kematian yang kedua ini]?”


9 Yakni, “Engkau telah menjadikan kami hidup di muka bumi, kemudian mematikan kami; kemudian Engkau membangkitkan kami, dan kini mengutuk kami dengan kematian ruhani sebagai konsekuensi dari kebutaan ruhani kami yang disengaja ketika hidup di dunia.”


Surah Al-Ghafir Ayat 12

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

żālikum bi`annahū iżā du’iyallāhu waḥdahụ kafartum, wa iy yusyrak bihī tu`minụ, fal-ḥukmu lillāhil-‘aliyyil-kabīr

12. [Dan, akan dikatakan kepada mereka:] “ini [telah menimpa kalian] karena, setiap Allah Yang Esa diseru, kalian mengingkari kebenaran ini; sedangkan, ketika ketuhanan dinisbahkan kepada apa pun yang disamping Dia, kalian beriman [kepadanya]! Namun, seluruh keputusan ada di sisi Allah, Yang Mahatinggi, Mahabesar!”10


10 Jawaban atas pertanyaan para pendosa di akhir ayat sebelumnya itu dapat ditemukan dalam ucapan alegoris Nabi yang sangat sahih berikut ini: “[Pada Hari Pengadilan,] orang-orang yang berhak mendapatkan surga akan memasukinya, dan orang-orang yang berhak mendapatkan neraka akan memasukinya. Kemudian Allah Swt. akan berkata, ‘Keluarkanlah [dari neraka] setiap orang yang di dalam hatinya terdapat iman [atau, menurut sejumlah versi, ‘kebaikan’] meskipun sebesar biji sawi!’ Lalu, mereka akan dikeluarkan dari neraka, setelah menghitam, dan akan dilemparkan ke dalam Sungai Kehidupan; kemudian mereka akan hidup [lit., ‘bertunas’] seperti tumbuhan yang bertunas di pinggir arus sungai: dan tidakkah kau lihat bagaimana tumbuhan itu bersemi, dengan kuncup yang kekuning-kuningan?” (Al-Bukhari, berdasarkan riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri, dalam Kitab Al-Iman dan Kitab Bad’ Al-Khalq; juga Muslim Nasa’i: dan Ibn Hanbal.) Penyebutan ciri-cirinya dengan “kuncup yang kekuning-kuningan”—yakni, halus dan berwarna lembut—menunjukkan segarnya kehidupan baru bagi para pendosa yang telah diampuni itu. Tentunya ini tidak ada kaitannya dengan permohonan sia-sia—karena tidak bermakna—dari para pendosa pada Hari Pengadilan agar diberi “kesempatan kedua” di dunia (bdk. Surah Al-An’am [6]: 27-28 atau Surah As-Sajdah [32]: 12). Lihat Juga kalimat kedua terakhir dalam Surah Al-An’am [6]: 128 dan catatan no. 114 yang terkait.


Surah Al-Ghafir Ayat 13

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا ۚ وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ

huwallażī yurīkum āyātihī wa yunazzilu lakum minas-samā`i rizqā, wa mā yatażakkaru illā may yunīb

13. DIA-LAH yang menunjukkan kepada kalian keajaiban-keajaiban-Nya [di seluruh alam] dan menurunkan rezeki bagi kalian dari langit: tetapi tidak seorang pun mengambil pelajaran [mengenai hal itu], kecuali orang-orang yang biasa berpaling kepada Allah.


Surah Al-Ghafir Ayat 14

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

fad’ullāha mukhliṣīna lahud-dīna walau karihal-kāfirụn

14. Maka, berdoalah kepada Allah, tuluslah dalam keyakinan kalian kepada Dia semata, betapapun bencinya orang-orang yang mengingkari kebenaran itu terhadap hal ini!


Surah Al-Ghafir Ayat 15

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ

rafī’ud-darajāti żul-‘arsy, yulqir-rụḥa min amrihī ‘alā may yasyā`u min ‘ibādihī liyunżira yaumat-talāq

15. Dia adalah Mahatinggi di atas segala derajat [wujud], yang bersinggasana dalam kemahakuasaan yang agung.11 Dengan kehendak-Nya sendiri, Dia menurunkan ilham kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, untuk memberi peringatan [kepada seluruh umat manusia] tentang [datangnya] Hari tatkala mereka akan bertemu dengan-Nya12


11 Lit., “Dia pemilik singgasana kemahakuasaan”. Mengenai makna istilah ‘arsy, lihat catatan no. 43 pada Surah Al-A’raf [7]: 54.

12 Lit., “Hari Pertemuan”. Mengenai terjemahan saya atas istilah al-ruh menjadi “ilham” {inspiration}, lihat catatan no. 2 pada Surah An-Nahl [16]: 2, serta catatan no. 71 pada Surah Al-Baqarah [2]: 87.


Surah Al-Ghafir Ayat 16

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ ۖ لَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۚ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

yauma hum bārizụn, lā yakhfā ‘alallāhi min-hum syaī`, limanil-mulkul-yaụm, lillāhil-wāḥidil-qahhār

16. Hari ketika mereka dikeluarkan [dari kematian], tanpa ada sesuatu pun dari mereka yang tersembunyi bagi Allah.

Milik Siapakah kekuasaan pada Hari itu?

Milik Allah, Yang Maha Esa, yang memegang kekuasaan mutlak atas segala sesuatu!


Surah Al-Ghafir Ayat 17

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

al-yauma tujzā kullu nafsim bimā kasabat, lā ẓulmal-yaụm, innallāha sarī’ul-ḥisāb

17. Pada Hari itu, setiap manusia akan diberi balasan atas apa yang telah dia usahakan: tidak ada kezaliman [yang akan terjadi] pada Hari itu: sungguh, amat cepat Allah dalam membuat perhitungan!


Surah Al-Ghafir Ayat 18

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

wa anżir-hum yaumal-āzifati iżil-qulụbu ladal-ḥanājiri kāẓimīn, mā liẓ-ẓālimīna min ḥamīmiw wa lā syafī’iy yuṭā’

18. Karenanya, peringatkanlah mereka akan Hari yang semakin dekat itu, tatkala hati menyesak sampai di kerongkongan: orang-orang zalim itu tidak akan memiliki kawan sejati yang menyayangi, tiada pula perantara (pemberi syafaat) yang akan diikuti:13


13 Mengenai “perantara (pemberi syafaat)” (syafa’ah) dan maknanya dalam Al-Quran, lihat catatan no. 7 pada Surah Yunus [10]: 3.


Surah Al-Ghafir Ayat 19

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

ya’lamu khā`inatal-a’yuni wa mā tukhfiṣ-ṣudụr

19. [sebab,] Dia mengetahui kilas curi-pandang [yang paling tersembunyi], dan segala yang dirahasiakan dalam hati.14


14 Kemahatahuan Allah ditunjukkan di sini sebagai alasan bagi tiadanya “pemberi syafaat”, yakni perantara dengan-Nya, dalam pengertian yang umum diterima dari istilah ini (bdk. Surah Yunus [10], catatan no. 27).


Surah Al-Ghafir Ayat 20

وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَقْضُونَ بِشَيْءٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

wallāhu yaqḍī bil-ḥaqq, wallażīna yad’ụna min dụnihī lā yaqḍụna bisyaī`, innallāha huwas-samī’ul-baṣīr

20. Dan, Allah akan memutuskan menurut kebenaran dan keadilan, sedangkan [wujud-wujud] yang mereka seru di samping Dia15 tidak dapat memutuskan sama sekali: sebab, sungguh, hanya Allah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.


15 Yakni, orang-orang suci, baik yang nyata maupun khayalan, atau para malaikat. (Kata ganti alladzina hanya digunakan untuk merujuk pada makhluk hidup yang berakal.)


Surah Al-Ghafir Ayat 21

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

a wa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna kānụ ming qablihim, kānụ hum asyadda min-hum quwwataw wa āṡāran fil-arḍi fa akhażahumullāhu biżunụbihim, wa mā kāna lahum minallāhi miw wāq

21. Maka, tidakkah mereka pernah melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang [yang mengingkari kebenaran] yang hidup sebelum zaman mereka? Mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka sendiri, dan (lebih besar) dampak yang mereka tinggalkan di muka bumi: tetapi Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, dan mereka tidak memiliki siapa pun untuk melindungi mereka dari Allah:


Surah Al-Ghafir Ayat 22

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

żālika bi`annahum kānat ta`tīhim rusuluhum bil-bayyināti fa kafarụ fa akhażahumullāh, innahụ qawiyyun syadīdul-‘iqāb

22. yang demikian itu adalah karena para rasul mereka telah datang kepada mereka dengan segala bukti kebenaran, namun mereka menolaknya: maka Allah menghukum mereka—sebab, sungguh, Dia Mahadigdaya, amat keras dalam menghukum!


Surah Al-Ghafir Ayat 23

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā wa sulṭānim mubīn

23. DAN, SESUNGGUHNYA telah Kami utus Musa dengan pesan-pesan Kami dan kekuasaan yang nyata [dari Kami]


Surah Al-Ghafir Ayat 24

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

ilā fir’auna wa hāmāna wa qārụna fa qālụ sāḥirung każżāb

24. kepada Fir’aun, Haman, dan Qarun;16 tetapi mereka [hanya] berkata, “Dia adalah seorang pembicara yang memikat,* seorang pendusta!”


16 Mengenai Qarun, yang konon dahulunya adalah pengikut Musa—namun kemudian menjadi penentangnya—lihat Surah Al-Qasas [28]: 76 dst., juga catatan no. 84 yang terkait. Untuk pembahasan tentang nama “Haman”, lihat catatan no. 6 pada Surah Al-Qasas [28]: 6.

* {Lihat catatan penyunting pada Surah Yunus, catatan no. 5—peny.}


Surah Al-Ghafir Ayat 25

فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ ۚ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

fa lammā jā`ahum bil-ḥaqqi min ‘indinā qāluqtulū abnā`allażīna āmanụ ma’ahụ wastaḥyụ nisā`ahum, wa mā kaidul-kāfirīna illā fī ḍalāl

25. Adapun [mengenai Fir’aun dan para pengikutnya,] tatkala dia datang kepada mereka, dengan menyatakan kebenaran dari Kami, mereka berkata, “Bunuhlah anak-anak lelaki dari orang-orang yang menganut kepercayaannya,17 dan biarkan hidup anak-anak perempuan mereka [saja]!”—akan tetapi, tipu daya para pengingkar kebenaran itu tidak akan membawa apa-apa kecuali kegagalan.


17 Lit., “orang-orang yang akhirnya beriman bersamanya”.


Surah Al-Ghafir Ayat 26

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

wa qāla fir’aunu żarụnī aqtul mụsā walyad’u rabbah, innī akhāfu ay yubaddila dīnakum au ay yuẓ-hira fil-arḍil-fasād

26. Dan, Fir’aun berkata, “Biar aku yang membunuh Musa—dan biarlah dia berseru kepada pemelihara [dugaan]-nya itu!18 Perhatikanlah, aku takut kalau-kalau dia menyebabkan kalian mengganti agama kalian, atau dia menyebabkan kerusakan di muka bumi!”


18 Kata “dugaan” yang saya sisipkan di sini diperlukan karena adanya nada sarkastik yang jelas dalam pernyataan Fir’aun itu.


Surah Al-Ghafir Ayat 27

وَقَالَ مُوسَىٰ إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ

wa qāla mụsā innī ‘użtu birabbī wa rabbikum ming kulli mutakabbiril lā yu`minu biyaumil-ḥisāb

27. Akan tetapi, Musa berkata, “Di sisi [Dia yang merupakan] Pemeliharaku dan juga Pemelihara kalian, aku sungguh menemukan tempat berlindung dari siapa pun yang, (karena) tenggelam dalam kesombogan diri, tidak akan beriman kepada [datangnya] Hari Perhitungan!”


Surah Al-Ghafir Ayat 28

وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ ۖ وَإِنْ يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

wa qāla rajulum mu`minum min āli fir’auna yaktumu īmānahū a taqtulụna rajulan ay yaqụla rabbiyallāhu wa qad jā`akum bil-bayyināti mir rabbikum, wa iy yaku kāżiban fa ‘alaihi każibuh, wa iy yaku ṣādiqay yuṣibkum ba’ḍullażī ya’idukum, innallāha lā yahdī man huwa musrifung każżāb

28. Dalam pada itu, seorang yang beriman dari keluarga Fir’aun, yang [hingga saat itu] masih menyembunyikan imannya,19 berseru, “Akankah kalian membunuh seorang manusia karena dia menyatakan, ‘Allah adalah Pemeliharaku’—padahal dia telah membawakan kepada kalian semua bukti kebenaran dari Pemelihara kalian? Adapun jika dia seorang pendusta, dustanya akan berbalik menimpanya; tetapi jika dia orang yang benar, sesuatu [hukuman] yang dia peringatkan kepada kalian pasti akan menimpa kalian: sebab, sungguh, Allah tidak akan memberikan petunjuk-Nya kepada orang yang telah memubazirkan dirinya sendiri dengan berdusta [tentang Dia].20


19 Bdk. perumpamaan orang Mukmin dalam Surah Ya’Sin [36]: 20-27 dan, khususnya, catatan no. 15 yang terkait.

20 Lit., “seorang pendusta”. Mengenai terjemahan saya atas istilah musrif menjadi “orang yang memubazirkan [atau ‘telah memubazirkan’] diri sendiri”, lihat catatan no. 21 pada kalimat terakhir Surah Yunus [10]: 12. Dengan demikian, Mukmin anonim yang disebutkan dalam ayat ini menyatakan bahwa pesan yang dibawa Nabi Musa itu begitu meyakinkan sehingga, dengan sendirinya, menjadi bukti bahwa beliau bukan “orang yang memubazirkan dirinya sendiri”—yakni, merusak dirinya sendiri secara ruhani—dengan mengeluarkan pernyataan bohong bahwa beliau menerima wahyu Ilahi.


Surah Al-Ghafir Ayat 29

يَا قَوْمِ لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظَاهِرِينَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ يَنْصُرُنَا مِنْ بَأْسِ اللَّهِ إِنْ جَاءَنَا ۚ قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَىٰ وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

yā qaumi lakumul-mulkul-yauma ẓāhirīna fil-arḍi fa may yanṣurunā mim ba`sillāhi in jā`anā, qāla fir’aunu mā urīkum illā mā arā wa mā ahdīkum illā sabīlar-rasyād

29. “Wahai, kaumku! Milik kalianlah kekuasaan pada hari ini, [dan] kalian sangat unggul di muka bumi: namun, siapa yang akan menyelamatkan kita dari hukuman Allah, tatkala hukuman itu menimpa kita?”

Berkata Fir’aun, “Aku tidak lain hanya ingin membuat kalian melihat apa yang aku sendiri lihat;21 dan aku tidak akan pernah menjadikan kalian mengikuti jalan apa pun selain yang benar!”


21 Jadi, menyinggung alasan-alasan yang mendasari keinginannya untuk membunuh Musa, yang diungkapkan dalam ayat 26.


Surah Al-Ghafir Ayat 30

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِثْلَ يَوْمِ الْأَحْزَابِ

wa qālallażī āmana yā qaumi innī akhāfu ‘alaikum miṡla yaumil-aḥzāb

30. Kemudian, berserulah orang yang telah meraih iman itu, “Wahai, kaumku! Sungguh, aku mengkhawatirkan kalian (ditimpa sesuatu) seperti apa yang pada suatu hari telah menimpa kelompok lain yang bersekutu [melawan kebenaran Allah]—


Surah Al-Ghafir Ayat 31

مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۚ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ

miṡla da`bi qaumi nụḥiw wa ‘ādiw wa ṡamụda wallażīna mim ba’dihim, wa mallāhu yurīdu ẓulmal lil-‘ibād

31. seperti apa yang telah terjadi terhadap kaum Nuh, dan terhadap [suku-suku] ‘Ad dan Tsamud serta orang-orang yang datang sesudah mereka! Dan meskipun demikian, Allah tidak menghendaki kezaliman apa pun bagi makhluk-makhluk-Nya.22


22 Yakni, para pendosa itu tidak dizalimi oleh hal-hal yang menimpa mereka di dunia ini: alih-alih, mereka memang pantas mendapatkannya. Dua ayat selanjutnya merujuk pada Hari Pengadilan.


Surah Al-Ghafir Ayat 32

وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ

wa yā qaumi innī akhāfu ‘alaikum yaumat-tanād

32. “Dan, wahai kaumku, aku mengkhawatirkan kalian akan [datangnya] Hari [Pengadilan—Hari ketika kalian akan] saling memanggil [dalam kesusahan]—


Surah Al-Ghafir Ayat 33

يَوْمَ تُوَلُّونَ مُدْبِرِينَ مَا لَكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ ۗ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

yauma tuwallụna mudbirīn, mā lakum minallāhi min ‘āṣim, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

33. Hari ketika kalian akan [berharap dapat] memalingkan punggung kalian dan melarikan diri, karena tidak memiliki seorang pun yang dapat melindungi kalian dari Allah: sebab, siapa pun yang Allah biarkan tersesat tidak akan dapat menemukan petunjuk apa pun.23


23 Lihat catatan no. 152 pada Surah Al-A’raf [7]: 186 dan catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-Ghafir Ayat 34

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ مِنْ بَعْدِهِ رَسُولًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ

wa laqad jā`akum yụsufu ming qablu bil-bayyināti fa mā ziltum fī syakkim mimmā jā`akum bih, hattā iżā halaka qultum lay yab’aṡallāhu mim ba’dihī rasụlā, każālika yuḍillullāhu man huwa musrifum murtāb,

34. “Dan [ingatlah:] kepada kalianlah Yusuf datang dahulu kala dengan segala bukti kebenaran; tetapi kalian tidak pernah berhenti melemparkan keraguan terhadap segala [pesan] yang dia bawakan kepada kalian—sehingga ketika dia meninggal, kalian berkata, “Tidaklah Allah akan mengirim seorang rasul [pun] sesudahnya!”24

“Demikianlah Allah membiarkan tersesat orang-orang yang memubazirkan dirinya sendiri karena melempar kecurigaan [terhadap wahyu-wahyu-Nya]—


24 Jadi, tidak hanya menolak kenabian Yusuf, tetapi juga mengingkari kemungkinan bahwa memang ada nabi yang diutus oleh Allah (Al-Zamakhsyari). Tampaknya, orang-orang yang menerima Yusuf sebagai nabi di Mesir hanyalah kelompok penguasa, yakni orang-orang Hyksos, yang berasal dari Arab; mereka berbicara dengan bahasa yang memiliki kaitan erat dengan bahasa Ibrani (bdk. Surah Yusuf [12], catatan no. 44) dan, karenanya, secara emosional dan kultural cenderung pada semangat dakwah Nabi Yusuf, sedangkan penduduk lainnya tetap memusuhi kepercayaan yang diajarkannya.


Surah Al-Ghafir Ayat 35

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

allażīna yujādilụna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum, kabura maqtan ‘indallāhi wa ‘indallażīna āmanụ, każālika yaṭba’ullāhu ‘alā kulli qalbi mutakabbirin jabbār

35. orang-orang yang mempertanyakan pesan-pesan Allah tanpa memiliki bukti apa pun tentangnya:25 [sebuah dosa] yang teramat menjijikkan dalam pandangan Allah dan orang-orang yang telah meraih iman. Demikianlah Allah menutup setiap hati yang angkuh dan mengagungkan diri.”26


25 Lit., “tanpa ada kewenangan [atau ‘bukti’] apa pun yang telah datang kepada mereka”: yakni, tanpa bukti yang masuk akal yang dapat mendukung “pengingkaran” mereka terhadap fakta adanya wahyu.

Verb jajadala utamanya berarti “dia memberi argumen”; jika diikuti dengan partikel fi (“mengenai” atau “tentang”), kata itu berarti “menggugat” kebenaran sesuatu, atau “mempertanyakannya”.

26 Lit., “hati setiap [orang] yang angkuh dan mengagungkan diri”. Untuk penjelasan mengenai tindakan Allah “menutup” hati seseorang yang terus-menerus melakukan dosa sehingga menjadi berurat-akar dalam dirinya, lihat catatan no. 7 pada Surah Al-Baqarah [2]: 7.


Surah Al-Ghafir Ayat 36

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ

wa qāla fir’aunu yā hāmānubni lī ṣar-ḥal la’allī ablugul-asbāb

36. Akan tetapi, Fir’aun berkata, “Hai, Haman! Bangunkanlah bagiku sebuah menara yang tinggi, sehingga aku mungkin dapat meraih sarana-sarana [yang benar]—


Surah Al-Ghafir Ayat 37

أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ

asbābas-samāwāti fa aṭṭali’a ilā ilāhi mụsā wa innī la`aẓunnuhụ kāżibā, wa każālika zuyyina lifir’auna sū`u ‘amalihī wa ṣudda ‘anis-sabīl, wa mā kaidu fir’auna illā fī tabāb

37. sarana-sarana untuk mendekati lelangit—dan [dengan begitu] aku dapat melihat Tuhan Musa:27 sebab, perhatikanlah, aku benar-benar yakin bahwa dia adalah seorang pendusta!”

Dan demikianlah, tampak bagus bagi Fir’aun kejahatan tidakan-tindakannya sendiri dan dengan demikian, dia terhalang dari jalan [kebenaran]: dan tipu daya Fir’aun itu tidak mendatangkan apa-apa kecuali kehancuran.


27 Lihat Surah Al-Qasas [28], catatan no. 6 dan 37.


Surah Al-Ghafir Ayat 38

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ

wa qālallażī āmana yā qaumittabi’ụni ahdikum sabīlar-rasyād

38. Tetap saja, orang yang telah meraih iman itu melanjutkan, “Wahai, kaumku! Ikutilah aku: aku akan menunjukkan kepada kalian jalan yang benar!


Surah Al-Ghafir Ayat 39

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

yā qaumi innamā hāżihil-ḥayātud-dun-yā matā’uw wa innal-ākhirata hiya dārul-qarār

39. “Wahai, kaumku! kehidupan duniawi ini hanyalah suatu kesenangan yang singkat, sedangkan kehidupan akhirat mendatang, perhatikanlah, adalah tempat tinggal yang abadi.


Surah Al-Ghafir Ayat 40

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

man ‘amila sayyi`atan fa lā yujzā illā miṡlahā, wa man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu`minun fa ulā`ika yadkhulụnal-jannata yurzaqụna fīhā bigairi ḥisāb

40. [Disana,] siapa pun yang telah melakukan suatu perbuatan buruk hanya akan dibalas sebanding dengannya, sedangkan siapa pun, baik laki-laki ataupun perempuan, yang telah melakukan kebajikan-kebajikan sedang ia adalah orang yang beriman—semuanya akan masuk surga, yang di dalamnya mereka akan dianugerahi kebaikan yang melampaui perhitungan!28


28 Yakni, melampaui segala imajinasi duniawi. Konsep rizq (yang diungkapkan dalam verba yurzaqun) di sini memiliki artinya yang utuh, yakni segala sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi makhluk hidup, yang meliputi hal-hal materiel serta intelektual dan spiritual; karena itu, saya menerjemahkan yurzaqun (lit., “mereka akan diberi rezeki”) menjadi “mereka akan dianugerahi kebaikan”.


Surah Al-Ghafir Ayat 41

وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ

wa yā qaumi mā lī ad’ụkum ilan-najāti wa tad’ụnanī ilan-nār

41. “Dan, wahai kaumku, bagaimana mungkin29 aku menyeru kalian kepada keselamatan, sedangkan kalian menyeruku menuju api?


29 Lit., “ada apa gerangan denganku”: sebuah ungkapan keheranan terhadap betapa ganjilnya kedua sikap yang disebutkan dalam lanjutan kalimat itu.


Surah Al-Ghafir Ayat 42

تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ

tad’ụnanī li`akfura billāhi wa usyrika bihī mā laisa lī bihī ‘ilmuw wa ana ad’ụkum ilal-‘azīzil-gaffār

42. —[sebab,] kalian menyeruku agar mengingkari [keesaan] Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak [mungkin] dapat kuketahui sedikit pun,30 padahal aku menyeru kalian kepada [kesadaran akan] Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun!


30 Yakni, karena wujud-wujud atau kekuatan-kekuatan yang dianggap “Ilahi” itu tidak memiliki realitas apa pun (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Ghafir Ayat 43

لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

lā jarama annamā tad’ụnanī ilaihi laisa lahụ da’watun fid-dun-yā wa lā fil-ākhirati wa anna maraddanā ilallāhi wa annal-musrifīna hum aṣ-ḥābun-nār

43. “Tidak diragukan lagi bahwa apa yang kalian serukan kepadaku adalah sesuatu yang tidak berhak untuk diseru, baik di dunia ini ataupun dalam kehidupan akhirat mendatang—sebagaimana [tak diragukan lagi] bahwa kepada Allah-lah tempat kembali kami, dan bahwa orang-orang yang telah memubazirkan dirinya sendiri akan mendapati diri mereka dalam api (neraka):


Surah Al-Ghafir Ayat 44

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ ۚ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

fasatażkurụna mā aqụlu lakum, wa ufawwiḍu amrī ilallāh, innallāha baṣīrum bil-‘ibād

44. dan bahwa pada waktu itu, kalian akan [memiliki alasan untuk] mengingat apa yang [kini] kukatakan kepada kalian.

“Namun [adapun aku,] aku mengikatkan sepenuh diriku kepada Allah: sebab, sungguh, Allah melihat segala yang ada dalam [hati] hamba-hamba-Nya.”


Surah Al-Ghafir Ayat 45

فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا ۖ وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

fa waqāhullāhu sayyi`āti mā makarụ wa ḥāqa bi`āli fir’auna sū`ul-‘ażāb

45. Dan, Allah melindunginya dari kejahatan makar mereka, sedangkan penderitaan yang amat buruk meliputi kaum Fir’aun:


Surah Al-Ghafir Ayat 46

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

an-nāru yu’raḍụna ‘alaihā guduwwaw wa ‘asyiyyā, wa yauma taqụmus-sā’ah, adkhilū āla fir’auna asyaddal-‘ażāb

46. (yakni) api [akhirat—api] yang mereka telah diminta untuk merenung-renungkannya [tanpa hasil], pagi dan petang:31 sebab, pada Hari ketika Saat Terakhir tiba, [Allah akan berfirman,] “Masukkanlah kaum Fir’aun ke dalam derita yang sangat keras!”


31 Yakni, yang terhadapnya mereka telah diperingatkan, dari waktu ke waktu, oleh para nabi dan orang-orang Mukmin seperti yang telah disebutkan dalam pasase ini.


Surah Al-Ghafir Ayat 47

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ

wa iż yataḥājjụna fin-nāri fa yaqụlud-du’afā`u lillażīnastakbarū innā kunnā lakum taba’an fa hal antum mugnụna ‘annā naṣībam minan-nār

47. DAN, LIHATLAH! Mereka [yang selama hidupnya biasa mengingkari kebenaran] akan berbantah-bantahan dalam api [akhirat]; maka yang lemah akan berkata kepada orang-orang yang telah menyombongkan diri, “Perhatikanlah, kami hanyalah pengikut-pengikut kalian: maka, dapatkah kalian membebaskan kami dari sebagian api [kami] ini?”32


32 Bdk. Surah Ibrahim [14]: 21 dan catatan no. 28 dan 29 yang berkaitan.


Surah Al-Ghafir Ayat 48

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

qālallażīnastakbarū innā kullun fīhā innallāha qad ḥakama bainal-‘ibād

48. [terhadap hal ini,] orang-orang yang dahulu menyombongkan diri akan menjawab, “Perhatikanlah, kita semua [sama-sama] di dalamnya! Sungguh, Allah telah memutuskan di antara makhluk-makhluk-Nya!”


Surah Al-Ghafir Ayat 49

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ

wa qālallażīna fin-nāri likhazanati jahannamad’ụ rabbakum yukhaffif ‘annā yaumam minal-‘ażāb

49. Dan, orang-orang yang ada di dalam api neraka akan berkata kepada para penjaga neraka,33 “Mohonkanlah kepada Pemelihara kalian agar Dia meringankan penderitaan kami ini, [meskipun hanya] sehari!”


33 Yakni, kekuatan-kekuatan malaikat yang akan mengawasi penderitaan para pendosa di akhirat: hal ini mungkin merupakan suatu alegori bagi timbulnya kesadaran nurani mereka yang terlambat.


Surah Al-Ghafir Ayat 50

قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۚ قَالُوا فَادْعُوا ۗ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

qālū a wa lam taku ta`tīkum rusulukum bil-bayyināt, qālụ balā, qālụ fad’ụ, wa mā du’ā`ul-kāfirīna illā fī ḍalāl

50. [Akan tetapi, para penjaga neraka] akan bertanya, “Bukankah [memang benar bahwa] rasul-rasul kalian telah datang kepada kalian dengan segala bukti kebenaran?” Mereka [yang ada di dalam neraka] akan menjawab, “Memang benar.” [Dan, para penjaga neraka] akan berkata, “Maka, berdoalah!”34—sebab, doa orang-orang yang mengingkari kebenaran tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali khayalan.


34 Menurut para mufasir klasik, jawaban ini tidak lebih hanyalah menunjukkan penolakan “para penjaga neraka” untuk memberi syafaat (medisi untuk memberi pertolongan) bagi para pendosa yang sedang dihukum, dengan mengatakan kepada mereka, demikianlah kira-kira, “berdoalah sendiri, jika kalian dapat”. Namun, bagi saya, ayat ini secara tidak langsung merujuk kepada pengabdian hina para pendosa di masa lalu terhadap objek-objek sembahan dan nilai-nilai batil—sehingga artinya menjadi demikian: “Kini; mohonlah kepada kekuatan-kekuatan khayal yang biasa kalian pertuhankan itu, dan lihatlah kalau-kalau mereka dapat menolongmu!” Penafsiran ini didukung oleh kalimat berikutnya, yang membicarakan angan-angan keliru (dhalal) yang terdapat dalam doa “orang-orang yang mengingkari kebenaran”, yakni, selama hidup di dunia—sebab, pada Hari Pengadilan, semua angan-angan seperti itu jelas-jelas akan sirna.


Surah Al-Ghafir Ayat 51

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

innā lananṣuru rusulanā wallażīna āmanụ fil-ḥayātid-dun-yā wa yauma yaqụmul-asy-hād

51. PERHATIKANLAH, Kami benar-benar akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang telah meraih iman, [baik] dalam kehidupan dunia ini maupun pada Hari ketika semua saksi akan berdiri,35


35 Lihat catatan no. 71 pada Surah Az-Zumar [39]: 69.


Surah Al-Ghafir Ayat 52

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

yauma lā yanfa’uẓ-ẓālimīna ma’żiratuhum wa lahumul-la’natu wa lahum sū`ud-dār

52. Hari ketika dalih-dalih para pelaku kezaliman itu tidak akan berguna sedikit pun bagi mereka, mengingat bahwa nasib mereka adalah penolakan dari segala yang baik dan akhirat yang menyedihkan.36


36 Lit., “keburukan kediaman [akhirat]”. Mengenai istilah la’nah, makna utamanya adalah “pengasingan” atau “penolakan”; dalam peristilahan Al-Quran, kata itu berarti “penolakan dari segala yang baik (Lisan Al-‘Arab) dan, khususnya, “dijauhkan dari rahmat Allah” (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Ghafir Ayat 53

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْهُدَىٰ وَأَوْرَثْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ

wa laqad ātainā mụsal-hudā wa auraṡnā banī isrā`īlal-kitāb

53. Dan, sungguh, sebelumnya Kami telah menurunkan petunjuk [Kami] kepada Musa, dan [kemudian] Kami jadikan Bani Israil mewarisi kitab Ilahi [yang diwahyukan kepadanya]


Surah Al-Ghafir Ayat 54

هُدًى وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

hudaw wa żikrā li`ulil-albāb

54. sebagai [sarana] petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang diberi pengetahuan yang mendalam:37


37 Secara tersirat, “dan demikian pulalah Kami menurunkan wahyu Kami kepada Muhammad”. Ini berkaitan dengan kata-kata pembuka ayat 51: “Kami benar-benar akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang telah meraih iman”—jadi, menjelaskan maksud dari kisah sebelumnya tentang seorang Mukmin yang membela Nabi Musa a.s. Penyebutan “orang-orang [dari kalangan Bani Israil] yang diberi pengetahuan yang mendalam” yang, karenanya, dapat mengambil manfaat dari pesan Nabi Musa, tidak diragukan lagi dimaksudkan untuk mengingatkan para pengikut Al-Quran bahwa kitab suci ini pun ditujukan bagi “mereka yang diberi pengetahuan yang mendalam” (ulu al-albab), bagi “orang-orang yang berpikir” (qaum yatafakkarun), dan bagi “orang-orang yang menggunakan akal mereka” (qaum ya’qilun).


Surah Al-Ghafir Ayat 55

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

faṣbir inna wa’dallāhi ḥaqquw wastagfir liżambika wa sabbiḥ biḥamdi rabbika bil-‘asyiyyi wal-ibkār

55. maka, tetaplah bersabar dalam menghadapi kesusahan—sebab, sungguh, janji Allah selalu benar—dan mohonlah ampunan atas dosa-dosamu dan bertasbihlah memuji keagungan Pemeliharamu, pada malam dan siang.38


38 Menurut semua mufasir klasik, pasase di atas pertama-tama ditujukan kepada Nabi, dan melalui beliau, kepada setiap orang Mukmin. Adapun mengenai Nabi sendiri, lihat catatan no. 41 terhadap kalimat terakhir Surah An-Nur [24]: 31.


Surah Al-Ghafir Ayat 56

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

innallażīna yujādilụna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum in fī ṣudụrihim illā kibrum mā hum bibāligīh, fasta’iż billāh, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

56. Perhatikanlah, adapun orang-orang yang mempertanyakan pesan-pesan Allah tanpa memiliki bukti apa pun tentangnya39—yang ada dalam hati mereka tidak lain hanyalah kesombongan yang amat besar, yang tidak akan pernah dapat mereka puaskan:40 maka, carilah perlindungan bersama Allah—sebab, sungguh, Dia sajalah yang Maha Mendengar, Maha Melihat!


39 Lihat catatan no. 25 sebelumnya.

40 Lit., “yang tidak akan pernah [mampu] mereka raih” atau “penuhi”. Ini merujuk pada sikap angkuh yang membuat banyak kaum agnostik merasa bahwa manusia itu “serba-cukup” dan bahwa, karenanya, tidak ada batas berkenaan dengan apa yang dapat dicapainya, dan tidak perlu pula beranggapan bahwa manusia bertanggung jawab kepada Kekuatan yang lebih tinggi. Dalam kaitan ini, bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7, yang merupakan salah satu ayat Al-Quran yang paling awal diwahyukan: “Tidak, sungguh, manusia menjadi benar-benar melampaui batas manakala dia menganggap dirinya sendiri serba-cukup”. Dan, karena perasaan “serba-cukup” ini sepenuhnya adalah khayalan semata, orang-orang yang membangun pandangan-dunianya berdasarkan perasaan itu “tidak akan pernah dapat memuaskan kesombongan mereka yang amat besar”. (Bdk. juga pernyataan “hati yang angkuh dan mengagungkan diri” dalam ayat 35 sebelumnya.)


Surah Al-Ghafir Ayat 57

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

lakhalqus-samāwāti wal-arḍi akbaru min khalqin-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

57. Sesungguhnya, penciptaan lelangit dan bumi41 jauh lebih besar daripada penciptaan manusia: akan tetapi, kebanyakan manusia tidak memahami [apa yang diisyaratkan oleh hal ini].


41 Yakni, alam semesta secara keseluruhan. Dengan menegaskan fakta bahwa manusia hanyalah suatu bagian kecil dan tidak berarti, Al-Quran menunjukkan betapa absurdnya pandangan-dunia yang berpusat pada manusia yang disinggung dalam ayat sebelumnya.


Surah Al-Ghafir Ayat 58

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَلَا الْمُسِيءُ ۚ قَلِيلًا مَا تَتَذَكَّرُونَ

wa mā yastawil-a’mā wal-baṣīru wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa lal-musī`, qalīlam mā tatażakkarụn

58. Namun, tidaklah sama orang yang buta dan orang yang melihat; dan tidak pula mereka yang telah meraih iman serta melakukan perbuatan-perbuatan baik dan para pelaku kezaliman itu [dapat dipandang sama]. Betapa jarangnya kalian mencamkan hal ini!


Surah Al-Ghafir Ayat 59

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

innas-sā’ata la`ātiyatul lā raiba fīhā wa lākinna akṡaran-nāsi lā yu`minụn

59. Sungguh, Saat Terakhir itu pasti akan datang: tidak ada keraguan tentang hal ini; namun, kebanyakan manusia tidak akan beriman kepadanya.42


42 Yakni, menolak mengakui kepada diri mereka sendiri bahwa dunia sebagaimana yang mereka kenal ini bisa berakhir: hal ini merupakan aspek lain dari “kesombongan yang amat besar” yang disebutkan dalam ayat 56 sebelumnya.


Surah Al-Ghafir Ayat 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

wa qāla rabbukumud’ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna ‘an ‘ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn

60. Akan tetapi, Pemelihara kalian berkata, “Mohonlah kepada-Ku, [dan] Aku akan menjawab kalian!43 Sungguh, orang-orang yang terlalu angkuh untuk menyembah-Ku akan memasuki neraka, (dalam keadaan) sangat hina!”


43 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 186.


Surah Al-Ghafir Ayat 61

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

allāhullażī ja’ala lakumul-laila litaskunụ fīhi wan-nahāra mubṣirā, innallāha lażụ faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurụn

61. ALLAH-LAH yang telah menjadikan malam bagi kalian, agar kalian dapat beristirahat padanya; dan (menjadikan) siang, supaya [kalian] melihat.44 Perhatikanlah, Allah Maha Tak Terhingga Karunia-Nya kepada manusia—akan tetapi, kebanyakan manusia tidak bersyukur.


44 Lihat catatan no. 77 pada Surah An-Naml [27]: 86.


Surah Al-Ghafir Ayat 62

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

żālikumullāhu rabbukum khāliqu kulli syaī`, lā ilāha illā huwa fa annā tu`fakụn

62. Demikian itulah Allah, Pemelihara kalian, Pencipta segala yang ada: tidak ada Tuhan keculai Dia.

Maka, betapa menyimpangnya pikiran kalian!45


45 Secara tersirat, “Wahai, kalian yang mengingkari kebenaran ini”. Mengenai penerjemahan saya atas frasa tu’fakun di atas, lihat catatan no. 90 terhadap kalimat terakhir Surah Al-Ma’idah [5]: 75.


Surah Al-Ghafir Ayat 63

كَذَٰلِكَ يُؤْفَكُ الَّذِينَ كَانُوا بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

każālika yu`fakullażīna kānụ bi`āyātillāhi yaj-ḥadụn

63. [Sebab,] demikianlah: menjadi menyimpanglah pikiran orang-orang yang sengaja menolak pesan-pesan Allah.46


46 Lihat Surah Al-‘Ankabut [29], catatan no. 45.


Surah Al-Ghafir Ayat 64

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

allāhullażī ja’ala lakumul-arḍa qarāraw was-samā`a binā`aw wa ṣawwarakum fa aḥsana ṣuwarakum wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāt, żālikumullāhu rabbukum, fa tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn

64. Allah-lah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat beristirahat bagi kalian dan langit sebagai atap, dan telah membentuk kalian—dan membentuk kalian dengan sedemikian baiknya47—serta memberi rezeki kepada kalian dari hal-hal yang baik dalam kehidupan.

Demikian itulah Allah, Pemelihara kalian: maka, Mahasuci Allah, Pemelihara seluruh alam!


47 Yakni, sesuai dengan tuntutan kebutuhan hidup manusia. Lihat juga catatan no. 8 terhadap kalimat pertama Surah Al-A’raf [7]: 11.


Surah Al-Ghafir Ayat 65

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

huwal-ḥayyu lā ilāha illā huwa fad’ụhu mukhliṣīna lahud-dīn, al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

65. Dia Mahahidup; tidak ada Tuhan kecuali Dia: maka, berdoalah memohon kepada Dia [saja], tulus dalam iman kalian kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Pemelihara seluruh alam!


Surah Al-Ghafir Ayat 66

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِنْ رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

qul innī nuhītu an a’budallażīna tad’ụna min dụnillāhi lammā jā`aniyal-bayyinātu mir rabbī wa umirtu an uslima lirabbil-‘ālamīn

66. Katakanlah: “Karena semua bukti kebenaran telah datang kepadaku dari Pemeliharaku, aku dilarang menyembah wujud-wujud [mana pun] yang kalian seru itu selain Allah; dan aku diperintahkan agar menyerahkan diri kepada Pemelihara seluruh alam.”


Surah Al-Ghafir Ayat 67

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

huwallażī khalaqakum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma min ‘alaqatin ṡumma yukhrijukum ṭiflan ṡumma litablugū asyuddakum ṡumma litakụnụ syuyụkhā, wa mingkum may yutawaffā ming qablu wa litablugū ajalam musammaw wa la’allakum ta’qilụn

67. Dia-lah yang telah menciptakan kalian dari tanah,48 kemudian dari setetes mani, lalu dari sel benih; kemudian Dia mengeluarkan kalian sebagai anak-anak; lalu [Dia menetapkan] bahwa kalian mencapai kedewasaan, dan selanjutnya kalian menajdi tua—meskipun sebagian di antara kalian [Dia sebabkan] meninggal lebih dahulu—: dan [semua ini Dia tetapkan] agar kalian dapat mencapai suatu batas-waktu yang telah ditetapkan [oleh-Nya],49 dan agar kalian dapat [belajar] menggunakan akal kalian.


48 Lihat catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12.

49 Atau: “suatu batas-waktu yang diketahui [hanya oleh-Nya]”—bdk. Surah Al-An’am [6]: 2 dan catatan no. 2 yang terkait.


Surah Al-Ghafir Ayat 68

هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

huwallażī yuḥyī wa yumīt, fa iżā qaḍā amran fa innamā yaqụlu lahụ kun fa yakụn

68. Dia-lah yang menganugerahkan kehidupan dan menimpakan kematian; dan manakala Dia menghendaki untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah”—maka terjadilah ia.


Surah Al-Ghafir Ayat 69

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّىٰ يُصْرَفُونَ

a lam tara ilallażīna yujādilụna fī āyātillāh, annā yuṣrafụn

69. TIDAKKAH kalian menyadari betapa jauhnya orang-orang yang mempertanyakan pesan-pesan Allah itu telah kehilangan pandangan terhadap kebenaran?50


50 Lit., “bagaimana mereka dipalingkan”—yakni, dari kebenaran: dalam hal ini, berpaling dari segala bukti yang kasat-mata terhadap kemahabesaran dan aktivitas kreatif Allah.


Surah Al-Ghafir Ayat 70

الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

allażīna każżabụ bil-kitābi wa bimā arsalnā bihī rusulanā, fa saufa ya’lamụn

70. mereka yang telah mendustakan kitab Ilahi ini dan [dengan demikian, mendustakan] semua [pesan] yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus [dahulu]?51

Namun, kelak mereka akan mengetahui [alangkah butanya mereka selama ini: mereka akan mengetahuinya pada Hari Pengadilan],


51 Karena, seperti yang sering ditunjukkan Al-Quran, kebenaran fundamental yang dikemukakan dalam semua wahyu Ilahi adalah sama, maka penolakan terhadap wahyu terakhir sama saja dengan penolakan terhadap semua wahyu sebelumnya.


Surah Al-Ghafir Ayat 71

إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ

iżil-aglālu fī a’nāqihim was-salāsil, yus-ḥabụn

71. ketika mereka akan harus membawa belenggu dan rantai [yang mereka buat sendiri] pada leher mereka,52 dan diseret


52 Untuk penjelasan tentang alegori “belenggu” dan “rantai”, lihat catatan no. 13 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 5, catatan no. 44 pada kalimat kedua terakhir Surah Saba’ [34]: 33, serta catatan no. 6 dan 7 pada Surah Ya’Sin [36]: 8.


Surah Al-Ghafir Ayat 72

فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ

fil-ḥamīmi ṡumma fin-nāri yusjarụn

72. ke dalam keputusasaan yang membara, dan pada akhirnya menjadi bahan bakar api [neraka].53


53 Demikianlah Mujahid (seperti dikutip Al-Thabari) menjelaskan verba yusjarun. Mengenai terjemahan saya atas hamim menjadi “keputusasaan yang membara,” lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 62.


Surah Al-Ghafir Ayat 73

ثُمَّ قِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تُشْرِكُونَ

ṡumma qīla lahum aina mā kuntum tusyrikụn

73. Kemudian, mereka akan ditanya: “Sekarang, dimanakah [kekuatan-kekuatan] yang dahulu kalian nisbahi dengan ketuhanan


Surah Al-Ghafir Ayat 74

مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ

min dụnillāh, qālụ ḍallụ ‘annā bal lam nakun nad’ụ ming qablu syai`ā, każālika yuḍillullāhul-kāfirīn

74. berdampingan dengan Allah?”

Mereka akan menjawab, “Mereka telah meninggalkan kami—atau, bahkan, apa yang biasa kami seru dahulu (sebenarnya) tidak pernah ada sama sekali!”54

[Dan, akan dikatakan kepada mereka:] “Demikianlah Allah membiarkan tersesat orang-orang yang mengingkari kebenaran:55


54 Lit., “dahulu kami tidak menyeru apa pun [yang nyata]”: jadi, mereka menyadari, dengan terlambat, betapa tidak berartinya semua kekuatan dan nilai khayalan tersebut—termasuk kepercayaan akan perasaan “serba-cukup” dan keagungan manusia—yang mereka junjung tinggi ketika hidup di dunia.

55 Yakni, dengan membiarkan mereka mengejar ilusi-ilusi dan khayalan-khayalan bodoh, sebagai konsekuensi dari keengganan mereka mengakui bukti yang teramat jelas menunjukkan keberadaan dan keesaan Allah, serta kebergantungan mutlak manusia kepada-Nya. Untuk pembahasan mengenai tindakan Allah yang “membiarkan” seorang pendosa tersesat, lihat catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-Ghafir Ayat 75

ذَٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ

żālikum bimā kuntum tafraḥụna fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa bimā kuntum tamraḥụn

75. itulah akibat dari perilaku kalian yang bersukaria dengan sombong di muka bumi tanpa [peduli terhadap apa yang] benar dan sebagai akibat dari sikap kalian yang penuh keangkuhan!


Surah Al-Ghafir Ayat 76

ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

udkhulū abwāba jahannama khālidīna fīhā, fa bi`sa maṡwal-mutakabbirīn

76. [Sekarang] masukilah pintu-pintu neraka, berkediaman di dalamnya: dan betapa buruknya tempat kediaman itu bagi orang-orang yang tenggelam dalam kesombongan!”


Surah Al-Ghafir Ayat 77

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۚ فَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

faṣbir inna wa’dallāhi ḥaqq, fa immā nuriyannaka ba’ḍallażī na’iduhum au natawaffayannaka fa ilainā yurja’ụn

77. KARENA ITU, tetaplah bersabar dalam menghadapi kesusahan—sebab, sungguh, janji Allah pasti benar terjadi. Dan, baik Kami perlihatkan kepadamu [di dunia ini] sesuatu dari apa yang kelak Kami sediakan bagi orang-orang [yang mengingkari kebenaran] itu, ataupun Kami jadikan engkau mati [sebelum pembalasan itu terjadi—ketahuilah bahwa, pada akhirnya,] kepada Kami-lah mereka akan dikembalikan.56


56 Lihat Pasase yang hampir sama dalam Surah Yunus [10]: 46, serta catatan no. 66 dan 67 yang terkait.


Surah Al-Ghafir Ayat 78

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ

wa laqad arsalnā rusulam ming qablika min-hum mang qaṣaṣnā ‘alaika wa min-hum mal lam naqṣuṣ ‘alaīk, wa mā kāna lirasụlin ay ya`tiya bi`āyatin illā bi`iżnillāh, fa iżā jā`a amrullāhi quḍiya bil-ḥaqqi wa khasira hunālikal-mubṭilụn

78. Dan, sesungguhnya, [wahai Muhammad,] Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum zamanmu; sebagian dari mereka telah Kami ceritakan kepadamu,57 dan sebagian dari mereka tidak Kami ceritakan kepadamu. Dan, rasul mana pun tidaklah membawakan suatu mukjizat kecuali dengan izin Allah.58

Namun, tatkala kehendak Allah terwujud,59 keputusan pasti [sudah] akan ditetapkan dengan segenap keadilan, dan seketika itu juga akan merugilah semua orang yang berupaya menganggap tidak berarti [apa pun yang tidak mampu mereka pahami].60


57 Yakni, di dalam Al-Quran.

58 Lihat Surah Al-An’am [6]: 109—”Mukjizat berada dalam kekuasaan Allah saja”—dan catatan no. 94 yang terkait. Kedua pasase tersebut (Surah Al-An’am [6]: 109 dan ayat ini) berkaitan dengan tuntutan sia-sia para penentang Nabi Muhammad agar mereka diperlihatkan suatu mukjizat untuk membuktikan bahwa Al-Quran berasal dari Allah—implikasinya adalah bahwa Allah tidak berkehendak untuk meyakinkan para pengingkar kebenaran itu melalui apa yang umumnya dianggap sebagai “mukjizat”.

59 Lit., “tatkala perintah Allah tiba”, yakni, baik di dunia ini maupun pada Hari Pengadilan: hal ini merujuk pada balasan-hukuman yang dibicarakan dalam ayat 77 sebelumnya.

60 Yakni, dalam hal ini, wahyu Ilahi itu sendiri. Mengenai terjemahan kata al-mubthilun di atas, lihat catatan no. 47 pada kalimat terakhir Surah Al-‘Ankabut [29]: 48.


Surah Al-Ghafir Ayat 79

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَنْعَامَ لِتَرْكَبُوا مِنْهَا وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

allāhullażī ja’ala lakumul-an’āma litarkabụ min-hā wa min-hā ta`kulụn

79. Allah-lah yang [setiap saat menciptakan hal-hal yang menakjubkan bagi kalian:61 demikianlah, Dia] menyediakan bagi kalian [segala jenis] binatang ternak, sehingga sebagian dari mereka dapat kalian tunggangi, dan dari sebagiannya kalian dapat memperoleh makanan,


61 Yakni, dengan menyediakan secara menakjubkan jalan-jalan rezeki manusia, dan dengan menganugerahinya keajaiban berupa intelek kreatif yang memungkinkannya memanfaatkan begitu banyak fenomena alam. (Pasase ini berkaitan dengan pernyataan yang diisyaratkan dalam ayat 78 bahwa “Mukjizat berada dalam kekuasaan Allah saja”: lihat catatan no. 58.)


Surah Al-Ghafir Ayat 80

وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَلِتَبْلُغُوا عَلَيْهَا حَاجَةً فِي صُدُورِكُمْ وَعَلَيْهَا وَعَلَى الْفُلْكِ تُحْمَلُونَ

wa lakum fīhā manāfi’u wa litablugụ ‘alaihā ḥājatan fī ṣudụrikum wa ‘alaihā wa ‘alal-fulki tuḥmalụn

80. dan [bahkan] menemukan manfaat-manfaat [lainnya lagi] pada mereka;62 dan melalui binatang ternak itu, kalian dapat memenuhi [banyak] kebutuhan yang dirasakan hati:63 sebab, di atas mereka, sebagaimana di atas kapal, kalian di angkut [dan melewati kehidupan].


62 “Manfaat-manfaat lainnya” ini bersifat konkret maupun abstrak: yang konkret misalnya wol, kulit, dan lain-lain; sedangkan manfaat abstrak misalnya keindahan (bdk. Surah An-Nahl [16]: 6-8, juga kekaguman Nabi Sulaiman terhadap keindahan kuda ciptaan Allah yang diungkapkan dalam Surah Shad [38]: 31-33), atau persahabatan abadi manusia dengan anjing yang dilambangkan dalam hikayat Para Penghuni Gua [ashhab al-kahf] (Surah Al-Kahfi [18]: 18 dan 22).

63 Lit., “kebutuhan dalam dada-dada [atau ‘hati-hati’] kalian”: yakni, suatu kebutuhan yang sejati.


Surah Al-Ghafir Ayat 81

وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَأَيَّ آيَاتِ اللَّهِ تُنْكِرُونَ

wa yurīkum āyātihī fa ayya āyātillāhi tungkirụn

81. Dan, [demikianlah] Dia memperlihatkan keajaiban-keajaiban-Nya di hadapan kalian: lalu, keajaiban Allah yang manakah yang masih dapat kalian ingkari?


Surah Al-Ghafir Ayat 82

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim, kānū akṡara min-hum wa asyadda quwwataw wa āṡāran fil-arḍi fa mā agnā ‘an-hum mā kānụ yaksibụn

82. MAKA, tidak pernahkah mereka melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang [yang mengingkari kebenaran] yang hidup sebelum zaman mereka? Orang-orang itu lebih banyak jumlahnya, dan lebih besar kekuasaannya daripada mereka, serta (lebih besar) dampak yang mereka tinggalkan di muka bumi: akan tetapi, semua yang pernah mereka capai tidak berguna sedikit pun bagi mereka—


Surah Al-Ghafir Ayat 83

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa lammā jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti fariḥụ bimā ‘indahum minal-‘ilmi wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

83. sebab, tatkala rasul-rasul mereka datang kepada mereka dengan segala bukti kebenaran, secara angkuh mereka merasa senang dengan pengetahuan apa pun yang [telah] mereka miliki:64 maka [pada akhirnya,] mereka justru diliputi oleh hal-hal yang biasa mereka cemoohkan itu.65


64 Yakni, mereka sepenuhnya puas dengan pengetahuan mereka sendiri yang diperoleh atau diwarisi secara empiris atau spekulatif; dan begitulah, karena mereka dengan arogan yakin bahwa manusia itu “serba-cukup” dan, karenanya, tidak membutuhkan petunjuk apa pun yang berasal dari Kekuasaan yang melampaui jangkauan pemahaman manusia, mereka menolak kebenaran-kebenaran etis dan spiritual apa pun yang ditawarkan kepada mereka oleh para rasul.

65 Yakni, gagasan tentang keberadaan Tuhan dan pembalasan-Nya yang tak terelakkan: lihat Surah Al-An’am [6]: 10 dan catatan no. 9 yang terkait.


Surah Al-Ghafir Ayat 84

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ

fa lammā ra`au ba`sanā, qālū āmannā billāhi waḥdahụ wa kafarnā bimā kunnā bihī musyrikīn

84. Maka, tatkala mereka melihat hukuman Kami [dengan jelas],66 mereka berkata, “Kami telah beriman kepada Allah Yang Esa, dan kami telah menolak semua kepercayaan kepada hal-hal yang dengannya kami persekutukan Tuhan!”67


66 Yakni, bencana runtuhnya masyarakat dan peradaban mereka—yang merupakan ketetapan Allah—sebagai konsekuensi tindakan mereka yang terus-menerus menolak segala nilai spiritual.

67 Hal ini jelas-jelas mencakup kepercayaan mereka dahulu bahwa manusia memiliki “kemampuan tak terbatas”, serta keyakinan batil mereka bahwa suatu hari manusia dapat “menguasai alam”.


Surah Al-Ghafir Ayat 85

فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا ۖ سُنَّتَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ ۖ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ

fa lam yaku yanfa’uhum īmānuhum lammā ra`au ba`sanā, sunnatallāhillatī qad khalat fī ‘ibādih, wa khasira hunālikal-kāfirụn

85. Akan tetapi, berimannya mereka setelah melihat hukuman Kami tidak mungkin berguna bagi mereka68—demikianlah ketetapan Allah yang terus berlaku bagi makhluk-makhluk-Nya—: maka, seketika itu juga, merugilah orang-orang yang mengingkari kebenaran.69


68 Yakni, pertama, karena iman yang terlambat ini tidak dapat menghapus kenyataan yang telah terjadi dan, kedua, karena hal itu tidak dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan spiritual mereka, sebab iman seperti itu bukan merupakan hasil dari pilihan bebas, tetapi, sebaliknya, dipaksakan terhadap mereka akibat keterkejutan terhadap bencana yang tak dapat dihindari.

69 “Ketetapan Allah” (sunnat Allah) adalah istilah Al-Quran untuk merujuk pada totalitas hukum-hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta: dalam hal ini, hukum yang menyatakan bahwa iman tidak memiliki nilai spiritual kecuali jika ia muncul karena pencerahan batin yang sejati.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top