1. Al-Fatihah (Pembuka) – الفاتحة

Surat Al-Fatihah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Fatihah ( الفاتحة ) merupakan surah pembuka (ke-1) dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 7 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Fatihah digolongkan menjadi Surat Makkiyah.

Dinamai Al-Fatihah (Pembuka) karena surah ini merupakan surah pembuka dalam Al-Qur’an. Surat ini disebut juga dengan:

  • Fatihah Al-Kitab (Pembuka Kitab Ilahi),
  • Umm Al-Kitab (Intisari Kitab Ilahi),
  • Surah Al-Hamd (Surah Pujian),
  • Asas Al-Qur’an (Dasar Al-Qur’an),
  • Di tempat lain dalam Al-Qur’an, surah ini diberi nama Al-Sab’ Al-Matsani (Tujuh [Ayat] yang Sering Diulang) karena diulang beberapa kali dalam setiap shalat lima waktu.

Menurut Bukhari, sebutan Umm Al-Kitab terhadap surah ini diberikan oleh Nabi Muhammad Saw sendiri karena surah ini mengandung seluruh prinsip fundamental yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam bentuk yang singkat dan padat, yakni:

  • Prinsip keesaan dan keunikan Allah, keberadaan Dia sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta, sebagai sumber segala rahmat yang memberikan kehidupan, tempat manusia memberi pertanggungjawaban akhir, serta satu-satunya kekuatan yang benar-benar dapat memberi petunjuk dan memberi pertolongan.
  • Seruan untuk melakukan tindakan-tindakan kebajikan dalam kehidupan di dunia ini (seperti diungkapkan dalam ayat “tunjukilah kami jalan yang lurus”).
  • Prinsip mengenai kehidupan setelah mati dan akibat dari perbuatan dan tingkah laku manusia (sebagaimana diungkapkan melalui istilah “Hari Pengadilan”).
  • Prinsip petunjuk yang dibawa para rasul (yang tampak jelas dalam ayat yang merujuk pada “orang-orang yang telah Allah anugerahi nikmat-nikmat-Nya”), yang pada gilirannya memunculkan prinsip kontinuitas seluruh agama yang benar (sebagaimana ditunjukkan melalui rujukan tidak langsung terhadap berbagai umat yang hidup—dan melakukan kesalahan—pada masa lalu).
  • Perlunya penyerahan diri secara sukarela pada ketetapan Wujud Tertinggi dan, karena itu, hanya menyembah-Nya.

Karena alasan inilah, Al-Fatihah dirumuskan sebagai doa, yang harus terus-menerus diulang dan dihayati oleh orang-orang beriman.

Al-Fatihah merupakan salah satu wahyu paling awal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Beberapa ahli (misalnya, ‘Ali Ibn Abi Thalib) bahkan berpendapat bahwa surah ini adalah wahyu pertama. Akan tetapi, pendapat ini bertentangan dengan hadis-hadis sahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, yang menunjukkan dengan jelas bahwa lima ayat pertama dari surah 96-lah, yakni Surah Al-‘Alaq (“Sel Benih”), yang merupakan wahyu pertama. Namun, boleh jadi bahwa sementara wahyu-wahyu awal memang hanya terdiri atas beberapa ayat, Al-Fatihah merupakan surah pertama yang diwahyukan kepada Nabi sekaligus secara utuh: dengan demikian, argumen ini dapat menjelaskan pendapat ‘Ali.


Surah Al-Fatihah Ayat 1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat.1


1 Menurut mayoritas ahli, sebutan ini (yang terdapat pada permulaan setiap surah, kecuall dalam Surah At-Taubah [9]) merupakan bagian integral dari Al-Fatihah dan, karena itu, dijadikan sebagai ayat pertama. Dalam seluruh surah lainnya, sebutan bismillahirrahmanirrahim (“dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat”) selalu mendahului setiap surah, tetapi tidak dihitung sebagai salah satu ayatnya.

Kedua sifat Allah, rahman dan rahim, berasal dari kata rahmah yang berarti “welas asih/rahmat” (mercy), “kasih sayang” (compassion), “kelembutan nan sarat cinta” (loving tenderness), dan, secara lebih luas, “karunia” (grace). Sejak awal sekali, para ulama telah berusaha mendefinisikan ragam makna yang tepat untuk membedakan kedua istilah tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa penjelasan terbaik dan paling sederhana adalah penjelasan yang diajukan oleh lbn Al-Qayyim (seperti dikutip dalam Al-Manar I, h. 48). Menurutnya, istilah rahman terbatas pada sifat limpahan rahmat (karunia) yang melekat pada, dan tak terpisahkan dari, konsep Wujud Allah, sedangkan rahim mengungkapkan perwujudan dari rahmat tersebut pada, dan dampaknya terhadap, ciptaan-Nya—dengan kata lain, rahim merupakan suatu aspek dari aktivitas-Nya.

* {Dalam terjemahan Depag, rabb dan ilah sama-sama diterjemahkan menjadi “Tuhan”, sedangkan Allah (bentuk ma’rifah dari ilah) diterjemahkan menjadi “Allah”. Dalam bahasa Arab, rabb dan ilah memiliki arti yang berbeda sehingga, berpijak pada pengertian itu, Muhammad Asad menerjemahkan rabb yang dinisbahkan kepada Allah menjadi Sustainer (Pemelihara). Untuk seterusnya, “Pemelihara” adalah terjemahan dari rabb yang dalam terjemahan Depag diterjemahkan menjadi “Tuhan” atau “tuhan”.—AM}


Surah Al-Fatihah Ayat 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

2. Segala puji hanya bagi Allah, Pemelihara seluruh alam.*2


2 Dalam hal ini, istilah “alam” (‘Alamin; worlds) mengisyaratkan seluruh kategori eksistensi, baik dalam pengertian fisik maupun spiritual. Ungkapan rabb dalam bahasa Arab—yang saya terjemahkan menjadi “Pemelihara” (Sustainer)—mencakup makna yang sangat luas dan kompleks, yang tidak mudah diungkapkan dengan satu istilah dalam bahasa lain. Kata tersebut mencakup berbagai gagasan, baik klaim hakiki terhadap kepemilikan segala sesuatu—dan karena itu kekuasaan atasnya—maupun kegiatan membesarkan, menjaga, dan memelihara segala sesuatu sejak permulaan kejadian hingga tahap kesempurnaannya. Oleh sebab itu, kepala keluarga disebut rabb al-dar (“tuan rumah”) karena dia memiliki kekuasaan atasnya dan bertanggung jawab atas pemeliharaannya; begitu juga istrinya, yang disebut rabbah al-dar (“nyonya rumah”). Jika didahului oleh kata sandang definitif al (“al” ma’rifah), kata rabb dalam Al-Quran secara khusus diterapkan pada Allah sebagai satu-satunya pemelihara dan pelindung seluruh makhluk—baik yang objektif maupun yang konseptual—dan karenanya menjadi sumber tertinggi dari seluruh kekuasaan.


Surah Al-Fatihah Ayat 3

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

ar-raḥmānir-raḥīm

3. Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Fatihah Ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

māliki yaumid-dīn

4. Penguasa Hari Pengadilan!


Surah Al-Fatihah Ayat 5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.


Surah Al-Fatihah Ayat 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,


Surah Al-Fatihah Ayat 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn

7. jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat-nikmat-Mu,3 bukan jalan orang-orang yang telah dimurkai [oleh Engkau], bukan pula jalan orang-orang yang tersesat!4


3 Yakni, dengan memberi mereka petunjuk kenabian yang memungkinkan mereka mendapatkan manfaat darinya.

4 Hampir semua mufasir berpendapat bahwa “kemurkaan” Allah (ghadhab, secara harfiah berarti “kemurkaan”) sama artinya dengan akibat buruk yang ditimbulkan manusia terhadap dirinya sendiri karena sengaja menolak petunjuk Allah dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan perintah-Nya. Sebagian mufasir (seperti, Al-Zamakhsyari) menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “… jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat-nikmat-Mu—orang-orang yang tidak dimurkai [oleh Engkau] dan yang tidak tersesat”: dengan kata lain, para mufasir ini memandang dua ungkapan terakhir itu sebagai definisi dari “orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat-nikmat-Mu”. Sebagian mufasir lainnya (seperti, Al-Baghawi dan Ibn Katsir) tidak sependapat dengan penafsiran ini—yang menunjukkan penggunaan definisi negatif—dan memahami ayat terakhir dari surah ini seperti yang saya terjemahkan. Mengenai dua kelompok manusia yang mengikuti jalan yang sesat, beberapa pemikir besar Islam (seperti, Al-Ghazali atau Muhammad ‘Abduh pada masa kini) berpendapat bahwa orang-orang yang digambarkan telah ditimpa “murka Allah”—yakni, mereka yang telah mencerabut diri mereka sendiri dari rahmat-Nya—adalah orang-orang yang setelah benar-benar menyadari pesan Allah dan memahaminya, lantas menolaknya; sementara yang dimaksud dengan “orang-orang yang tersesat” adalah mereka yang sama sekali belum terjangkau oleh kebenaran, atau mereka yang telah terjangkau oleh kebenaran, tetapi dalam bentuk yang telah diputarbalikkan dan diselewengkan sehingga sulit bagi mereka untuk menerimanya sebagai kebenaran (lihat ‘Abduh dalam Al-Manar I, hh. 68 dan seterusnya).


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top