48. Al-Fath (Kemenangan) – الفتح

Surat Al-Fath dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Fath ( الفتح ) merupakan surat ke 48 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 29 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Fath tergolong Surat Madaniyah.

Menjelang akhir tahun keenam hijriah, Nabi Muhammad Saw, memutuskan untuk menyelenggarakan “haji kecil” atau “ziarah suci” (‘umrah) ke Makkah bersama para pengikutnya pada bulan Dzulqa’dah. Walaupun selama hampir enam tahun perang terus berkecamuk antara komunitas Muslim di Madinah dan penguasa masyarakat pagan Makkah, Nabi tidak mengantisipasi peperangan apa pun dalam kesempatan itu, karena bulan Dzulqa’dah merupakan salah satu dari empat “bulan suci” yang di dalamnya—menurut tradisi bangsa Arab yang dijunjung tinggi sejak lama—segala peperangan tidak diperbolehkan, terutama di dalam dan di sekitar kota Suci Makkah. Sejumlah suku Badui sekutu Nabi yang tinggal di sekitar Madinah telah diseru untuk bergabung dalam perjalanan umrah ini, tetapi kebanyakan mereka mengajukan berbagai macam dalih. Jadi, rombongan Nabi Muhammad yang hendak pergi ke Makkah hanya terdiri dari 1.400-1.500 orang, semuanya berpakaian ihram dan tidak dipersenjatai. Mereka hanya membawa pedang-pedang yang disarungkan.

Mendengar kedatangan Nabi, penduduk Makkah memutuskan menghadang masuknya rombongan umrah ini dengan kekuatan bersenjata—hal yang bertentangan dengan tradisi Arab. Pasukan berkuda dengan kekuatan dua ratus orang di bawah komando Khalid ibn Al-Walid (yang ditakdirkan memeluk Islam kurang dari dua tahun kemudian) dikerahkan untuk menghadang rombongan Nabi, sedangkan ribuan pasukan bersenjata berat mengambil posisi di sekeliling Kota Makkah. Karena Nabi tidak bermaksud berperang, beliau berbelok ke arah barat dari Bir ‘Usfan (sebuah tempat yang jaraknya sekitar satu hari perjalanan dari Makkah) dan singgah di dataran Hudaibiyyah, tempat beliau dan para pengikutnya tinggal selama beberapa hari. Seketika itu juga terjadi negosiasi antara pihak Muslim dan penguasa Makkah. Setelah diadakan negosiasi-negosiasi pendahuluan antara wakil-wakil dari kedua kubu, Nabi mengirim ‘Utsman ibn ‘Affan (yang merupakan anggota dari salah satu suku yang paling berpengaruh di Makkah) sebagai utusannya. Tidak lama setelah ‘Utsman tiba di Makkah, tersiar kabar di tengah kelompok Muslim di Hudaibiyyah bahwa dia telah dibunuh. Lalu Nabi—karena mewaspadai datangnya serangan yang licik dari orang-orang Makkah—mengumpulkan para pengikutnya dan, sambil duduk di bawah pohon akasia liar, mengambil sumpah dari para pengikutnya, di tengah-tengah suasana yang sangat antusias, bahwa mereka akan tetap tabah dan berjuang sampai mati; dan setelah ayat 18 surah ini diwahyukan, “Ikrar di bawah pohon” ini menjadi terkenal dalam sejarah sebagai Bai’at Al-Ridhwan (“Ikrar yang Diridhai [Allah]”).

Ketika beberapa hari kemudian terbukti bahwa kabar kematian ‘Utsman tidak benar dan bahwa dia sendiri sudah kembali ke Hudaibiyyah, menjadi jelaslah bahwa orang-orang Makkah menyiapkan diri melakukan gencatan senjata. Kemudian diadakan perjanjian yang di antaranya menetapkan bahwa segala peperangan antara Makkah dan Madinah akan ditangguhkan selama sepuluh tahun, dan bahwa Nabi dan para pengikutnya harus mengurungkan niatnya memasuki Kota Makkah pada tahun itu, tetapi bebas memasukinya pada tahun berikutnya. Nabi juga menyetujui bahwa jika ada anak kecil penduduk Makkah atau siapa pun yang berada di bawah perwalian seseorang membelot kepada kaum Muslim tanpa izin walinya, dia akan dikembalikan kepada walinya itu; tetapi jika ada pengikut Nabi—baik anak-anak maupun dewasa—membelot ke pihak Quraisy karena keinginannya sendiri, dia tidak perlu dikembalikan. Walaupun ketentuan terakhir ini tampaknya tidak menguntungkan bagi kaum Muslim, jelaslah bahwa Nabi menyetujui ketentuan ini dalam rangka mengikuti prinsip bahwa “Tidak boleh ada paksaan dalam urusan keyakinan” (Surah Al-Baqarah [2]: 256).

Perjanjian Hudaibiyyah terbukti merupakan tahap terpenting bagi masa depan Islam selanjutnya. Untuk pertama kalinya sejak enam tahun, hubungan damai antara orang-orang Makkah dan Madinah tercipta; dengan demikian, terbukalah jalan untuk memasukkan gagasan-gagasan keislaman menembus benteng paganisme Arab. Orang-orang Makkah yang berkesempatan mengunjungi Hudaibiyyah amat terkesan oleh semangat dan kesatuan para pengikut Nabi Muhammad Saw dan banyak di antara mereka mulai ragu dalam memerangi keyakinan yang diajarkan Nabi. Segera setelah peperangan bertahun-tahun ini berakhir dan masyarakat kedua kubu itu dapat berinteraksi secara bebas, orang-orang yang masuk Islam semakin bertambah, awalnya dalam jumlah puluhan, kemudian ratusan, lalu ribuan—sedemikian banyaknya sehingga ketika akhirnya kaum pagan Quraisy melanggar perjanjian itu setelah berjalan dua tahun, Nabi dapat menduduki Kota Makkah hampir tanpa perlawanan. Jadi, jelaslah bahwa kenyataannya—jikapun tampaknya tidak demikian—Perjanjian Hudaibiyyah mengantarkan kemenangan Islam atas seluruh Jazirah Arab, baik secara moral maupun politik.

Menurut kesepakatan para ahli, surah yang mencatat kemenangan ini diwahyukan pada saat rombongan Nabi kembali dari Hudaibiyyah menuju Madinah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Fath Ayat 1

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

innā fataḥnā laka fat-ḥam mubīnā

1. SUNGGUH, [wahai Muhammad,] Kami telah membukakan di hadapanmu kemenangan yang nyata,1


1 Yakni, kemenangan moral yang dicapai melalui Perjanjian Hudaibiyyah, yang membuka banyak jalan bagi kemenangan Islam selanjutnya di Jazirah Arab (lihat catatan pendahuluan, yang menyinggung banyak peristiwa sejarah yang dirujuk dalam ayat-ayat selanjutnya).


Surah Al-Fath Ayat 2

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

liyagfira lakallāhu mā taqaddama min żambika wa mā ta`akhkhara wa yutimma ni’matahụ ‘alaika wa yahdiyaka ṣirāṭam mustaqīmā

2. agar Allah dapat menunjukkan ampunan-Nya atas segala kesalahanmu, yang silam maupun yang akan datang,2 dan [dengan demikian,] menganugerahimu nikmat-nikmat-Nya sepenuhnya, dan membimbingmu pada jalan yang lurus,3


2 Lit., “agar Allah dapat mengampunimu atas segala yang telah lalu dari dosamu dan segala yang akan datang”—jadi, secara eliptis menunjukkan bahwa hanya Allah-lah yang bebas dari kesalahan, dan bahwa setiap manusia, betapapun mulianya, pada saat-saat tertentu pasti melakukan kesalahan.

3 Yakni, secara tersirat, “untuk menyempurnakan dakwahmu”, yang jelas-jelas ditandai dengan disepakatinya Perjanjian Hudaibiyyah.


Surah Al-Fath Ayat 3

وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

wa yanṣurakallāhu naṣran ‘azīzā

3. dan [menunjukkan] bahwa Allah akan menolongmu dengan pertolongan[-Nya] yang kuat.


Surah Al-Fath Ayat 4

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

huwallażī anzalas-sakīnata fī qulụbil-mu`minīna liyazdādū īmānam ma’a īmānihim, wa lillāhi junụdus-samāwāti wal-arḍ, wa kānallāhu ‘alīman ḥakīmā

4. Dia-lah yang telah menurunkan ketenteraman ke dalam hati orang-orang beriman,4 agar—mengingat bahwa milik Allah-lah semua tentara lelangit dan bumi, dan bahwa Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana—keimanan mereka dapat bertambah kukuh lagi;5


4 Yakni, walaupun jumlah mereka sedikit dan praktis tidak dipersenjatai, Allah menganugerahi mereka keberanian dan ketenangan untuk menghadapi kekuatan tentara musuh yang lebih besar.

5 Lit., “agar mereka dapat menambah keimanan terhadap keimanan mereka, mengingat bahwa milik Allah-lah …”, dan seterusnya. Karena kalimat berikutnya jelas merupakan klausa sisipan, saya memindahkan kalimat tersebut agar maknanya menjadi lebih jelas.


Surah Al-Fath Ayat 5

لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا

liyudkhilal-mu`minīna wal-mu`mināti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā wa yukaffira ‘an-hum sayyi`ātihim, wa kāna żālika ‘indallāhi fauzan ‘aẓīmā

5. [dan] agar Dia dapat memasukkan orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, berkediaman di dalamnya, dan agar Dia dapat menghapus perbuatan-perbuatan [buruk] mereka [yang telah lalu]: dan yang demikian itu, dalam pandangan Allah, sungguh merupakan kemenangan yang tertinggi!


Surah Al-Fath Ayat 6

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

wa yu’ażżibal-munāfiqīna wal-munāfiqāti wal-musyrikīna wal-musyrikātiẓ-ẓānnīna billāhi ẓannas-saụ`, ‘alaihim dā`iratus-saụ`, wa gaḍiballāhu ‘alaihim wa la’anahum wa a’adda lahum jahannam, wa sā`at maṣīrā

6. Dan [Allah telah berkehendak] untuk menimpakan penderitaan [di akhirat nanti] bagi orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, dan bagi orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Dia, baik laki-laki maupun perempuan: semua yang berprasangka buruk terhadap Allah.6 Keburukan meliputi mereka dari semua sisi, dan hukuman Allah akan menimpa mereka; dan Dia telah menolak mereka [dari rahmat-Nya], dan telah menyiapkan neraka bagi mereka: dan itu adalah seburuk-buruknya akhir perjalanan!


6 Yakni, yang menolak keberadaan-Nya atau tanggung jawab manusia terhadap-Nya, atau menentang konsep keesaan-Nya.


Surah Al-Fath Ayat 7

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

wa lillāhi junụdus-samāwāti wal-arḍ, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā

7. Sebab, kepunyaan Allah-lah semua tentara lelangit dan bumi; dan Allah sungguh Mahaperkasa, Mahabijaksana!


Surah Al-Fath Ayat 8

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

innā arsalnāka syāhidaw wa mubasysyiraw wa nażīrā

8. SUNGGUH, [wahai Muhammad,] Kami telah mengutusmu sebagai saksi [atas kebenaran], dan sebagai penyampai berita-berita gembira dan pemberi peringatan—


Surah Al-Fath Ayat 9

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

litu`minụ billāhi wa rasụlihī wa tu’azzirụhu wa tuwaqqirụh, wa tusabbiḥụhu bukrataw wa aṣīlā

9. agar kalian [wahai manusia] dapat beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menghormati-Nya, mengagungkan-Nya, dan bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tiada terhingga, dari pagi hingga malam hari.7


7 Lit., “pada waktu pagi dan malam”, yakni, setiap saat.


Surah Al-Fath Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

innallażīna yubāyi’ụnaka innamā yubāyi’ụnallāh, yadullāhi fauqa aidīhim, fa man nakaṡa fa innamā yangkuṡu ‘alā nafsih, wa man aufā bimā ‘āhada ‘alaihullāha fa sayu`tīhi ajran ‘aẓīmā

10. Perhatikanlah, semua orang yang berjanji setia kepadamu berjanji setia kepada Allah: tangan Allah berada di atas tangan mereka.8 Karena itu, orang yang melanggar janjinya hanyalah melanggarnya demi kerugian dirinya sendiri, sedangkan orang yang tetap menepati apa yang telah dia janjikan kepada Allah, kepadanya Allah akan memberikan pahala yang terbesar,


8 Ini pertama-tama merujuk pada janji setia (Bai’at Al-Ridhwan) kaum Muslim terhadap Nabi yang dilakukan di Hudaibiyyah (lihat catatan pendahuluan surah ini). Namun, di luar konteks historis ini, ayat di atas menunjukkan bahwa persis sebagaimana halnya keimanan seseorang pada rasul Allah sebenarnya sama dengan pernyataan iman pada Allah sendiri, kesediaan seseorang untuk patuh pada Allah niscaya menunjukkan kesediaan untuk patuh pada rasul-Nya.

Frasa “tangan Allah berada di atas tangan mereka” tidak hanya sekadar merupakan alusi terhadap tangan-tangan para pengikut Nabi yang berjabatan dengan beliau untuk menyatakan janji setia, tetapi juga merupakan metafora bagi Allah yang menyaksikan janji mereka.


Surah Al-Fath Ayat 11

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚ يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۚ بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

sayaqụlu lakal-mukhallafụna minal-a’rābi syagalatnā amwālunā wa ahlụnā fastagfir lanā, yaqụlụna bi`alsinatihim mā laisa fī qulụbihim, qul fa may yamliku lakum minallāhi syai`an in arāda bikum ḍarran au arāda bikum naf’ā, bal kānallāhu bimā ta’malụna khabīrā

11. Orang-orang Badui yang tinggal di belakang9 akan berkata kepadamu, “[Urusan untuk menjaga] harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami: maka, [wahai Nabi,] mohonkanlah kepada Allah agar mengampuni kami!” [Demikianlah,] mereka akan mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.10

Katakanlah: “Maka, siapakah yang berkuasa menghindarkan dari kalian apa pun yang Allah kehendaki,11 apakah kehendak-Nya itu adalah menimpakan mudarat kepada kalian atau menganugerahkan manfaat bagi kalian? Tidak, tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan!


9 Lit., “yang ditinggalkan di belakang”: yakni, orang-orang Badui suku Ghifar, Muzainah, Juhainah, Asyja’, Aslam, dan Dhail, yang—walaupun bersekutu dengan Nabi dan secara lahir memeluk Islam—dengan berbagai dalih menolak menyertai Nabi pergi ke Makkah (yang berakhir dengan Perjanjian Hudaibiyyah) karena mereka yakin bahwa orang-orang Makkah akan memerangi dan menghancurkan orang-orang Muslim yang tidak bersenjata (Al-Zamakhsyari). Dalih-dalih yang disebutkan dalam ayat di atas dikemukakan setelah Nabi dan pengikut-pengikutnya kembali dengan selamat ke Madinah; demikianlah alasan penggunaan bentuk kala akan datang: sayaqul.

10 Menunjukkan bahwa dalih-dalih yang mereka utarakan adalah kemunafikan saja.

11 Lit., “maka, siapakah yang memiliki apa pun dalam kekuasaannya [yang dapat diraih] untuk kepentingan kalian dari Allah?”: suatu konstruksi kalimat yang, agar terjemahannya dapat dipahami, memerlukan parafrasa.


Surah Al-Fath Ayat 12

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَىٰ أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَٰلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

bal ẓanantum al lay yangqalibar-rasụlu wal-mu`minụna ilā ahlīhim abadaw wa zuyyina żālika fī qulụbikum wa ẓanantum ẓannas-saụ`, wa kuntum qaumam bụrā

12. Tidak, kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang beriman tidak akan pernah kembali kepada karib-kerabatnya: dan ini tampak baik dalam hati kalian.12 Dan kalian memiliki prasangka buruk [seperti itu] karena kalian merupakan umat yang hampa kebaikan!”


12 Menunjukkan bahwa simpati sesungguhnya dari orang-orang Badui itu lebih ditujukan terhadap orang-orang Quraisy daripada terhadap orang-orang Muslim.


Surah Al-Fath Ayat 13

وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَعِيرًا

wa mal lam yu`mim billāhi wa rasụlihī fa innā a’tadnā lil-kāfirīna sa’īrā

13. Adapun bagi orang-orang yang tidak hendak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya—sungguh, Kami telah menyiapkan nyala api yang berkobar bagi semua pengingkar kebenaran [semacam itu]!


Surah Al-Fath Ayat 14

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍ, yagfiru limay yasyā`u wa yu’ażżibu may yasyā`, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

14. Namun, milik Allah-lah kekuasaan atas lelangit dan bumi: Dia mengampuni siapa pun yang Dia kehendaki, dan menimpakan derita kepada siapa pun yang Dia kehendaki—dan [meskipun demikian,] Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.13


13 Menunjukkan bahwa Dia bisa mengampuni bahkan orang-orang yang melakukan dosa yang sangat berat jika mereka benar-benar bertobat dan memperbaiki jalan hidupnya: ini secara tidak langsung mengacu pada apa yang hendaknya dikatakan Nabi menurut ayat 16.


Surah Al-Fath Ayat 15

سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَىٰ مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ ۖ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ ۚ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَٰلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ ۖ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا ۚ بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا

sayaqụlul-mukhallafụna iżanṭalaqtum ilā magānima lita`khużụhā żarụnā nattabi’kum, yurīdụna ay yubaddilụ kalāmallāh, qul lan tattabi’ụnā każālikum qālallāhu ming qabl, fa sayaqụlụna bal taḥsudụnanā, bal kānụ lā yafqahụna illā qalīlā

15. Segera setelah kalian [wahai orang-orang beriman] bersiap untuk berangkat menuju perang yang menjanjikan harta rampasan,14 mereka yang [dahulu] tinggal di belakang pasti akan berkata, “Biarkanlah kami mengikuti kalian”—[dengan demikian menunjukkan bahwa] mereka hendak mengubah firman Allah.15

Katakanlah: “Kalian sekali-kali tidak akan mengikuti kami: Allah telah menyatakan sebelumnya16 [siapa saja yang berhak atas harta rampasan].”

Kemudian, mereka [pasti] akan menjawab, “Tidak, tetapi kalian dengki kepada kami [sehubungan dengan bagian harta rampasan kami]!”

Tidak, hanya sedikit sekali mereka memahami kebenaran!


14 Lit., “berangkat untuk mengambil barang rampasan”: yakni, ekspedisi apa pun selain untuk melawan kaum Quraisy Makkah, yang baru saja mengadakan genjatan senjata dengan Nabi. Secara umum, ini dipahami sebagai mengacu pada perang melawan kaum Yahudi Khaibar yang akan terjadi (pada 7 H), tetapi maknanya boleh jadi bersifat lebih umum.

15 Tampaknya merujuk pada Surah Al-Anfal [8]: 1—”Semua harta rampasan perang adalah kepunyaan Allah dan Rasul”—yang, sebagaimana dijelaskan dalam catatan no. 1 ayat itu, menunjukkan bahwa tiada seorang tentara pun memiliki klaim terhadap harta rampasan perang. Selanjutnya, berperang demi mendapatkan rampasan perang bertentangan dengan prinsip dasar “perang di jalan Allah”, yang hanya boleh dilancarkan untuk mempertahankan iman atau kemerdekaan (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 167), “hingga tiada lagi penindasan dan seluruh peribadatan dipersembahkan hanya untuk Allah” (Iihat Surah Al-Baqarah [2]: 193 dan catatan no. 170 yang terkait). Prinsip-prinsip ini pulalah yang dirujuk oleh jawaban antisipatif Nabi yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut.

16 Yakni, pada ayat pertama Surah Al-Anfal, yang diwahyukan pada 2 H (lihat catatan sebelumnya).


Surah Al-Fath Ayat 16

قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَىٰ قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ ۖ فَإِنْ تُطِيعُوا يُؤْتِكُمُ اللَّهُ أَجْرًا حَسَنًا ۖ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

qul lil-mukhallafīna minal-a’rābi satud’auna ilā qaumin ulī ba`sin syadīdin tuqātilụnahum au yuslimụn, fa in tuṭī’ụ yu`tikumullāhu ajran ḥasanā, wa in tatawallau kamā tawallaitum ming qablu yu’ażżibkum ‘ażāban alīmā

16. Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tinggal di belakang: “Pada waktunya kalian akan diajak [untuk berperang] melawan kaum yang mempunyai kekuatan yang besar dalam perang:17 kalian harus memerangi mereka [hingga kalian mati] atau mereka menyerah. Lalu, jika kalian mematuhi [ajakan itu], Allah akan memberikan kepada kalian pahala yang baik; tetapi jika kalian berpaling sebagaimana kalian berpaling kini,18 Dia akan menghukum kalian dengan hukuman yang pedih.”


17 Ini jefas-jelas merupakan nubuat yang mengacu pada peperangan melawan Bizantium dan Persia yang akan terjadi di masa depan.

18 Lit., “sebelumnya”, yakni, pada waktu ekspedisi yang menghasilkan Perjanjian Hudaibiyyah.


Surah Al-Fath Ayat 17

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا

laisa ‘alal-a’mā ḥarajuw wa lā ‘alal-a’raji ḥarajuw wa lā ‘alal-marīḍi ḥaraj, wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, wa may yatawalla yu’ażżib-hu ‘ażāban alīmā

17. Tidak ada dosa terhadap orang-orang buta, tidak pula ada dosa terhadap orang-orang timpang, dan tidak ada pula dosa terhadap orang sakit [apabila tidak ikut berperang di jalan Allah];19 tetapi siapa saja yang menaati [seruan] Allah dan Rasul-Nya [dengan perbuatan atau di dalam hati20], Allah akan memasukkannya ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai; sedangkan orang yang berpaling akan Dia hukum dengan hukuman yang pedih.


19 Ketiga kategori ini secara metonimia memberikan batasan terhadap segala jenis kelemahan atau ketidakmampuan yang dapat mencegah seseorang ikut serta secara aktif dafam perang di jalan Allah.

20 Yang disebut belakangan ini jelas-jelas mengacu pada mereka yang tidak bisa berpartisipasi dalam perang secara fisik, tetapi hatinya berada bersama mereka yang berperang.


Surah Al-Fath Ayat 18

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

laqad raḍiyallāhu ‘anil-mu`minīna iż yubāyi’ụnaka taḥtasy-syajarati fa ‘alima mā fī qulụbihim fa anzalas-sakīnata ‘alaihim wa aṡābahum fat-ḥang qarībā

18. SUNGGUH, Allah telah ridha terhadap orang-orang beriman ketika mereka berjanji setia kepadamu [wahai Muhammad] di bawah pohon itu,21 karena Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka; lalu Dia menurunkan ketenteraman batin kepada mereka, dan memberi balasan kepada mereka dengan [berita gembira mengenai] kemenangan yang akan datang dalam waktu dekat22


21 Yakni, di Hudaibiyyah (lihat catatan pendahuluan).

22 Kebanyakan mufasir menganggap bahwa hal ini berhubungan dengan penaklukan Khaibar, yang terjadi beberapa bulan setelah Perjanjian Hudaibiyyah. Namun, implikasinya boleh jadi lebih luas daripada itu—yakni, sebuah ramalan tentang penaklukan Makkah yang hampir tidak menumpahkan darah pada 8 H, tentang kemenangan yang diraih Islam atas seluruh Jazirah Arab dan, akhirnya, tentang ekspansi luar biasa dari Persemakmuran Islam di bawah pimpinan para khalifah setelah Nabi.


Surah Al-Fath Ayat 19

وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

wa magānima kaṡīratay ya`khużụnahā, wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā

19. dan [berita gembira tentang] rampasan-perang yang banyak yang akan mereka peroleh: sebab, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-Fath Ayat 20

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

wa ‘adakumullāhu magānima kaṡīratan ta`khużụnahā fa ‘ajjala lakum hāżihī wa kaffa aidiyan-nāsi ‘angkum, wa litakụna āyatal lil-mu`minīna wa yahdiyakum ṣirāṭam mustaqīmā

20. [Wahai, kalian yang beriman!] Allah telah menjanjikan kepada kalian rampasan-perang yang banyak yang akan kalian peroleh; dan Dia menyegerakan [harta duniawi] ini untuk kalian23 dan menahan tangan-tangan kaum [yang memusuhi kalian] dari kalian, agar [kekuatan batin kalian] ini dapat menjadi perlambang bagi orang-orang beriman [yang akan datang setelah kalian24], dan agar Dia dapat memberi petunjuk kepada kalian semua menuju jalan yang lurus.


23 Yakni, secara tersirat, “menyegerakan apa-apa yang akan datang kepada kalian di akhirat”.

24 Demik:ianlah menurut Al-Razi.


Surah Al-Fath Ayat 21

وَأُخْرَىٰ لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

wa ukhrā lam taqdirụ ‘alaihā qad aḥāṭallāhu bihā, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīrā

21. Dan, ada [perolehan] yang lain lagi yang masih belum dapat kalian kuasai,25 [tetapi] yang telah Allah tentukan [bagi kalian]: sebab, Allah berkuasa untuk menetapkan segala sesuatu.


25 Yakni, pencapaian kebahagiaan akhir di akhirat.


Surah Al-Fath Ayat 22

وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

walau qātalakumullażīna kafarụ lawallawul-adbāra ṡumma lā yajidụna waliyyaw wa lā naṣīrā

22. Dan [kini,] sekiranya orang-orang yang bersikukuh mengingkari kebenaran itu memerangi kalian, pastilah mereka akan berbalik [melarikan diri] ke belakang, dan mereka tidak akan mendapati seorang pun yang akan memberi mereka pertolongan:26


26 Janji Allah ini menjadi kenyataan dengan diraihnya kemenangan kaum Muslim secara berturut-turut setelah Perjanjian Hudaibiyyah, yang akhirnya mengantarkan pada berdirinya sebuah kekhalifahan yang terbentang dari Samudra Atlantik hingga daratan Cina.

Mengenai sifat kondisional (bersyarat) dari janji di atas, lihat catatan no. 82 pada Surah Al-‘Imran [3]: 111.


Surah Al-Fath Ayat 23

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

sunnatallāhillatī qad khalat ming qabl, wa lan tajida lisunnatillāhi tabdīlā

23. demikianlah ketetapan Allah yang telah berlaku sejak dahulu—dan engkau sekali-kali tidak akan mendapati perubahan apa pun dalam ketetapan Allah itu!27


27 Rujukan terhadap “ketetapan Allah” (God’s way, sunnatullah) ini memiliki dua segi: di satu sisi, “kalian pasti akan bangkit berjaya jika kalian [benar-benar] orang-orang beriman” (Surah Al-‘Imran [3]: 139), dan di sisi yang lain, “Sungguh, Allah tidak mengubah keadaan manusia, kecuali mereka mengubah lubuk diri mereka sendiri” (Surah Ar-Ra’d [13]: 11), baik dalam konotasi positif maupun negatif dari konsep “perubahan” itu.


Surah Al-Fath Ayat 24

وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

wa huwallażī kaffa aidiyahum ‘angkum wa aidiyakum ‘an-hum bibaṭni makkata mim ba’di an aẓfarakum ‘alaihim, wa kānallāhu bimā ta’malụna baṣīrā

24. Dan, Dia-lah yang telah menahan tangan mereka dari kalian dan menghindarkan tangan kalian dari mereka di lembah Makkah, sesudah Dia menjadikan kalian mampu menaklukkan mereka; dan Allah sungguh melihat apa yang kalian perbuat.28


28 Tidak lama sebelum Perjanjian Hudaibiyyah disepakati, satu pasukan tentara Quraisy—yang menurut sejumlah perkiraan berkekuatan antara 30-80 orang—menyerang kubu Nabi. Namun, pengikut Nabi yang praktis tidak dipersenjatai itu berhasil mengatasi serangan itu dan menjadikan tentara Quraisy sebagai tahanan; setelah perjanjian ditandatangani, Nabi membebaskan mereka dalam keadaan selamat (Muslim, Al-Nasa’i, Al-Thabari).


Surah Al-Fath Ayat 25

هُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوفًا أَنْ يَبْلُغَ مَحِلَّهُ ۚ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

humullażīna kafarụ wa ṣaddụkum ‘anil-masjidil-ḥarāmi wal-hadya ma’kụfan ay yabluga maḥillah, walau lā rijālum mu`minụna wa nisā`um mu`minātul lam ta’lamụhum an taṭa’ụhum fa tuṣībakum min-hum ma’arratum bigairi ‘ilm, liyudkhilallāhu fī raḥmatihī may yasyā`, lau tazayyalụ la’ażżabnallażīna kafarụ min-hum ‘ażāban alīmā

25. [Bukanlah demi kepentingan musuhmu Dia menahan tangan kalian dari mereka:29 sebab,] merekalah yang berkukuh mengingkari kebenaran dan menghalangi kalian dari Masjid Al-Haram30 serta mencegah (hewan korban) persembahan kalian sampai ke tujuannya.31 Dan seandainya bukan karena laki-laki beriman dan perempuan beriman [di Makkah], yang mungkin kalian celakai tanpa sengaja,32 dan yang karenanya kalian akan menanggung kesalahan yang amat besar tanpa sepengetahuan kalian—: [seandainya bukan karena ini, tentu kalian sudah diizinkan untuk berperang memasuki kota: akan tetapi kalian dilarang berperang33] agar [pada saatnya] Allah dapat memasukkan ke dalam rahmat-Nya siapa pun yang Dia kehendaki.34 Seandainya mereka [yang layak memperoleh belas kasih Kami dan mereka yang Kami hukum itu] dapat dibedakan dengan jelas [dalam pandangan kalian],35 tentulah Kami telah menimpakan penderitaan yang pedih [melalui tangan-tangan kalian] kepada orang-orang di antara mereka itu yang berkukuh mengingkari kebenaran.


29 Sisipan ini didasarkan atas penjelasan Al-Razi tentang kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya.

30 Yakni, Ka’bah yang, hingga 7 H, kaum Muslim dilarang mengunjungnya.

31 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 175.

32 Yakni, terbunuh. Setelah Nabi dan pengikutnya berhijrah ke Madinah, sejumlah orang Makkah—baik laki-laki maupun perempuan—telah memeluk Islam, tetapi mereka dihalangi oleh orang musyrik Quraisy untuk berhijrah (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari). Identitas mereka umumnya tidak diketahui oleh Muslim Madinah.

33 Demikianlah Al-Zamakhsyari, didukung oleh Al-Razil, Ibn Katsir, dan mufasir-mufasir lain.

34 Yakni, sehingga orang beriman bisa terselamatkan, dan agar kelak orang musyrik Makkah dapat memeluk Islam, seperti yang memang akhirnya terjadi.

35 Lit., “andai mereka dipisahkan satu sama lain”: yakni, orang beriman dan orang musyrik di antara penduduk Makkah. Dalam pengertian yang lebih luas, pernyataan di atas menunjukkan bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar tahu apakah orang lain berhak mendapat rahmat atau hukuman Allah.


Surah Al-Fath Ayat 26

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

iż ja’alallażīna kafarụ fī qulụbihimul-ḥamiyyata ḥamiyyatal-jāhiliyyati fa anzalallāhu sakīnatahụ ‘alā rasụlihī wa ‘alal-mu`minīna wa alzamahum kalimatat-taqwā wa kānū aḥaqqa bihā wa ahlahā, wa kānallāhu bikulli syai`in ‘alīmā

26. Sementara orang-orang yang bersikukuh mengingkari kebenaran itu menanamkan kesombongan yang amat keras dalam hati mereka—kesombongan [yang disebabkan oleh] kebodohan36—Allah menurunkan [anugerah] ketenteraman batin-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman dan mengikat mereka dengan semangat kesadaran akan Allah:37 sebab, mereka adalah yang paling berhak atas [anugerah Ilahi] ini dan sangat layak (menerimanya). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


36 Meskipun rujukan terhadap “kesombongan yang amat keras” (hamiyyah) dari orang musyrik Quraisy ini mungkin telah menjadi ciri khas keseluruhan sikap mereka terhadap Nabi dan seruan dakwahnya, boleh jadi—sebagaimana ditunjukkan Al-Zamakhsyari—penyebutan hal itu secara khusus di ayat ini mengacu pada peristiwa yang terjadi di Hudaibiyyah, selama proses negosiasi perjanjian antara Nabi dan utusan pihak Makkah, yakni Suhail ibn ‘Amr. Nabi memulai mendiktekan teks usulan perjanjian kepada ‘Ali ibn Abi Thalib: “Tulislah, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat'”; tapi Suhail memotong Nabi dan berkata, “Kami tidak pernah mendengar [ungkapan] ‘Yang Maha Pengasih’; tulis apa yang kami ketahui saja.” Lalu Nabi berkata kepada ‘Ali, ” Kalau begitu, tulislah, ‘Dengan nama-Mu, wahai Allah’.” ‘Ali menulis sebagaimana yang diperintahkan; dan Nabi melanjutkan: “Inilah apa yang disetujui antara Muhammad, Rasul Allah, dan masyarakat Makkah ….” Tapi, Suhail memotong lagi: “Jika engkau [benar-benar] seorang rasul Allah, [tentunya ini merupakan sebuah pengakuan dari kami bahwa] kami telah melakukan kesalahan terhadap kalian; karenanya, tuliskanlah sebagaimana yang kami pahami.” Maka, Nabi mendiktekan kepada ‘Ali: “Tulislah demikian: ‘Inilah apa yang diisetujui antara Muhammad ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abd Al-Muththalib dan masyarakat Makkah …’.” (Kisah ini dicatat dalam banyak versi, di antaranya oleh Al-Nasa’i, Ibn Hanbal, dan Al-Thabari.)

37 Lit., “kalimat kesadaran akan Allah” (kalimat al-taqwa): menunjukkan bahwa kesadaran mereka akan Allah dan kekuasaan-Nya yang maha meliputi segala sesuatu itu memungkinkan mereka bersabar menghadapi “kesombongan yang amat keras” dari musuh-musuh mereka dengan tenang.


Surah Al-Fath Ayat 27

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

laqad ṣadaqallāhu rasụlahur-ru`yā bil-ḥaqq, latadkhulunnal-masjidal-ḥarāma in syā`allāhu āminīna muḥalliqīna ru`ụsakum wa muqaṣṣirīna lā takhāfụn, fa ‘alima mā lam ta’lamụ fa ja’ala min dụni żālika fat-ḥang qarībā

27. Sungguh, Allah telah menunjukkan kebenaran dalam mimpi Rasul-Nya:38 kalian pasti akan memasuki Masjid Al-Haram, jika Allah menghendakinya, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala atau memotongnya sehingga menjadi pendek,39 tanpa ketakutan apa pun: sebab, Dia [senantiasa] telah mengetahui apa yang kalian sendiri tidak dapat ketahui.40 Dan Dia telah menetapkan [bagi kalian], di samping (kemenangan) ini, kemenangan yang akan segera tiba.41


38 Tidak lama sebelum ekspedisi yang berakhir di Hudaibiyyah, Nabi bermimpi melihat dirinya sendiri dan pengikutnya memasuki Makkah untuk melaksanakan haji. Mimpi ini kemudian terwujud setahun kemudian pada 7 H, ketika kaum Muslim bisa menunaikan ibadah haji mereka ke Kota Suci untuk pertama kalinya dengan tenang.

39 Jamaah haji laki-laki biasanya bercukur atau (“atau” merupakan arti dari kata hubung “wa” dalam konteks ini) memotong pendek rambut mereka sebelum memakai pakaian ihram, karena hal itu tidak boleh dilakukan selama masih dalam keadaan ihram. Kegiatan bercukur ini diulangi lagi pada akhir ritual haji dan ini menandai sempurnanya ibadah haji (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 196).

40 Yakni, masa depan.

41 Lihat catatan no. 22.


Surah Al-Fath Ayat 28

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

huwallażī arsala rasụlahụ bil-hudā wa dīnil-ḥaqqi liyuẓ-hirahụ ‘alad-dīni kullih, wa kafā billāhi syahīdā

28. Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan [kewajiban menyebarkan] petunjuk dan agama kebenaran, agar Dia menjadikannya berjaya di atas semua agama [yang batil]; dan tiada yang dapat memberi kesaksian [terhadap kebenaran] sebagaimana Allah.42


42 Yakni, secara tersirat, “melalui wahyu yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya”. Lihat juga Surah Al-‘Imran [3]: 19—”satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya”: konsekuensinya adalah bahwa agama apa pun (dalam artian yang paling luas dari istilah ini) yang tidak didasarkan atas prinsip di atas, dengan sendirinya, salah.


Surah Al-Fath Ayat 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

muḥammadur rasụlullāh, wallażīna ma’ahū asyiddā`u ‘alal-kuffāri ruḥamā`u bainahum tarāhum rukka’an sujjaday yabtagụna faḍlam minallāhi wa riḍwānan sīmāhum fī wujụhihim min aṡaris-sujụd, żālika maṡaluhum fit-taurāti wa maṡaluhum fil-injīl, kazar’in akhraja syaṭ`ahụ fa āzarahụ fastaglaẓa fastawā ‘alā sụqihī yu’jibuz-zurrā’a liyagīẓa bihimul-kuffār, wa’adallāhullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti min-hum magfirataw wa ajran ‘aẓīmā

29. MUHAMMAD adalah Rasul Allah; dan orang-orang yang [benar-benar] bersama dia berteguh hati dan pantang menyerah43 terhadap semua pengingkar kebenaran, [namun] penuh belas kasih terhadap satu sama lain.44 Engkau dapat melihat mereka tunduk rukuk dan sujud [dalam shalat] mencari karunia Allah dan keridhaan[-Nya]: tanda-tanda mereka ada pada wajahnya, dari bekas sujud.45

Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil:46 [mereka] seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan kemudian Dia menguatkannya sehingga ia tumbuh kokoh, dan [akhirnya] berdiri kokoh di atas pokoknya; menggembirakan hati penanam-penanamnya ….

[Demikianlah Allah akan menjadikan orang-orang beriman bertambah kuat,] sehingga melalui mereka, Dia dapat membuat gelisah47 para pengingkar kebenaran. [Namun,] kepada orang-orang di antara mereka yang boleh jadi [masih] akan meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan, Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala tertinggi.48


43 Gabungan kata ini {yakni, firm and unyielding: tegas, berteguh hati, dan pantang menyerah}, menurut saya, memberikan arti-utuh dari istilah asyidda’ (bentuk tunggal: syadid) dalam konteks di atas.

44 Lit., “di antara mereka sendiri”. Bdk. Surah Al-Ma’idah [5]: 54—”rendah hati di hadapan orang-orang beriman dan bangga di hadapan semua orang yang mengingkari kebenaran”.

45 Nomina infinitif sujud di sini dimaksudkan sebagai perwujudan terdalam dari keimanan, sedangkan “bekas”-nya menunjukkan refleksi spiritual dari keimanan itu dalam cara hidup orang beriman itu, dan bahkan dalam aspek lahirnya. Karena “wajah” adalah bagian yang paling ekspresif dari kepribadian seseorang, istilah ini sering digunakan dalam Al-Quran dalam artian “diri seseorang seutuhnya”.

46 Mengenai makna dari istilah Injil (“Gospel“) sebagaimana digunakan dalam Al-Quran, lihat Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 4.

47 {confound} Lit., “memasukkan kemarahan ke dalam”.

48 Sementara sebagian besar mufasir klasik memahami kalimat di atas sebagai mengacu pada kaum beriman secara umum, Al-Razi menghubungkan kata minhum (“dari mereka” atau “di antara mereka”) secara eksplisit kepada para pengingkar kebenaran yang dibicarakan pada kalimat sebelumnya—yakni, kepada mereka yang masih mungkin meraih iman dan dengan demikian mendapat ampunan Allah: sebuah janji yang akhirnya terwujud beberapa tahun setelah ayat ini diwahyukan, karena sebagian besar musuh-musuh Nabi Muhammad Saw. akhirnya memeluk Islam, dan banyak di antara mereka menjadi pembawa obornya. Namun, dalam pengertian yang lebih luas, janji Allah ini tetap terbuka hingga Hari Kebangkitan (Al-Thabari), dan mengacu pada setiap orang, sepanjang masa dan dalam segala lingkungan budaya, yang mungkin masih dapat meraih iman dan hidup menurut iman itu.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top