113. Al-Falaq (Fajar Menyingsing) – الفلق

Surat Al-Falaq dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Falaq ( الفلق ) merupakan surah ke-113 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 5 ayat yang sebagian besar mufasir menyatakan diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya menyebutkan diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Falaq digolongkan menjadi Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Nama surah ini diambil dari kata al-falaq yang terdapat pada ayat pertama.

Surat Al-Falaq dianggap oleh sebagian besar mufasir diwahyukan pada masa periode Makkah. Namun, sebagian mufasir lainnya (misalnya, Ibn Katsir dan Al-Razi) malah menganggap surah ini dan surah selanjutnya (Surat An-Nas) diwahyukan di kota Madinah. Terkait hal ini, beberapa mufasir lainnya (seperti, Al-Zamakhsyari, Al-Baidhawi, dan Al-Baghawi) tidak memberikan jawaban. Menurut beberapa bukti yang dapat ditemukan, kemungkinan bahwa kedua surah tersebut diwahyukan di kota Makkah pada masa awal kenabian Muhammad.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Falaq Ayat 1

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

qul a’ụdżu birabbil-falaq

1. KATAKANLAH,: “Aku berlindung kepada Pemelihara fajar yang menyingsing,1


1 Istilah al-falaq (“cahaya fajar” atau “fajar menyingsing”) sering digunakan secara figuratif untuk menggambarkan “munculnya kebenaran setelah [masa] ketidakpastian” (Taj Al-‘Arus): karena itu, sebutan “Pemelihara fajar yang menyingsing” secara tidak langsung menunjukkan bahwa Allah adalah sumber segala pemahaman tentang kebenaran, dan bahwa “upaya berlindungnya” seseorang kepada-Nya identik dengan usaha pencarian kebenaran.


Surah Al-Falaq Ayat 2

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

min syarri mā khalaq

2. “dari kejahatan (makhluk) apa pun yang telah Dia ciptakan,


Surah Al-Falaq Ayat 3

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

wa min syarri gāsiqin iżā waqab

3. “dan dari kejahatan pekatnya kegelapan tatkala ia datang,2


2 Yakni, gelapnya keputusasaan, atau gelapnya sakratulmaut. Dalam empat ayat ini (ayat 2-5), istilah “kejahatan” (syarr) mengandung bukan hanya konotasi objektif, melainkan juga subjektif—yakni, ketakutan terhadap kejahatan.


Surah Al-Falaq Ayat 4

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad

4. dan dari kejahatan semua manusia yang cenderung pada upaya-upaya klenik (kejahatan yang tersembunyi),3


3 Lit., “dari mereka yang mengembus-embus (al-naffatsat) pada buhul-buhul”: sebuah frasa idiomatik yang terdapat pada masa Arab pra-lslam dan, sebab itu, digunakan dalam bahasa Arab klasik untuk menunjuk pada semua hal yang dianggap sebagai upaya-upaya klenik. Ungkapan ini mungkin berasal dari praktik “perempuan penyihir” dan “tukang tenung” yang biasa mengikat seutas tali menjadi sejumlah buhul seraya mengembus-embuskannya dan menggumamkan mantra-mantra magis. Sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, bentuk feminin al-naffatsat tidak mutlak selalu mengindikasikan “wanita”, tetapi bisa pula berarti “manusia” (anfus, yang bentuk tunggalnya nafs, adalah nomina yang secara gramatikal berbentuk feminin). Ketika menjelaskan ayat di atas, Al-Zamakhsyari menolak dengan tegas semua kepercayaan terhadap praktik-praktik ini, baik mengenai keberadaannya, efektivitasnya, maupun konsep “magis” itu sendiri. Pandangan serupa, walaupun dalam bentuk yang lebih elaboratif berdasarkan temuan-temuan psikologi yang mapan, dikemukakan oleh Muhammad ‘Abduh dan Rashid Ridha (lihat Al-Manar I, hh. 398 dan seterusnya). Menurut Al-Zamakhsyari, alasan mengapa orang-orang beriman diperintahkan untuk “berlindung kepada Allah” dari praktik-praktik ini, sekalipun irasionalitasnya demikian gamblang, adalah karena upaya-upaya klenik ini secara inheren memang merupakan perbuatan dosa (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 84), dan karena adanya bahaya mental yang mungkin menimpa pelakunya.


Surah Al-Falaq Ayat 5

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

wa min syarri ḥāsidin idżā ḥasad

5. “dan dari kejahatan orang yang dengki manakala dia dengki.”4


4 Yakni, dari dampak moral maupun sosial yang ditimbulkan oleh rasa dengki seseorang terhadap kehidupan orang lain, juga dari takluknya seseorang pada kejahatan rasa dengki. Dalam hal ini, Al-Zamakhsyari mengutip ucapan Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz (yang digelari “‘Umar Kedua” karena kesalehan dan integritasnya): “Aku tidak dapat membayangkan ada orang zalim lain yang lebih berpeluang menjadi orang yang terzalimi (mazhlum), selain orang yang dengki.”


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top