89. Al-Fajr (Fajar) – الفجر

Surat Al-Fajr dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Fajr ( الفجر ) merupakan surah ke 89 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 30 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Fajr tergolong Surat Makkiyah.

Penamaan surah ini—yang merupakan surah kesepuluh dalam urutan pewahyuan­—didasarkan pada penyebutan kata “fajr” pada ayat pertama.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Fajr Ayat 1

وَالْفَجْرِ

wal-fajr

1. PERHATIKANLAH fajar


Surah Al-Fajr Ayat 2

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

wa layālin ‘asyr

2. dan malam yang sepuluh!1


1 “Fajar” (fajr) tampaknya menjadi simbol kebangkitan kesadaran ruhani manusia; karena itu, ungkapan “sepuluh malam” merupakan alusi tentang sepertiga akhir bulan Ramadhan pada tahun 13 sebelum Hijrah, yang ketika itu Nabi Muhammad Saw. pertama kali menerima wahyu (lihat catatan pendahuluan Surah Al-‘Alaq [96]) dan, dengan demikian, dimungkinkan untuk memberi kontribusi bagi kebangkitan kesadaran ruhani manusia.


Surah Al-Fajr Ayat 3

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

wasy-syaf’i wal-watr

3. Perhatikanlah yang banyak dan Yang Tunggal!2


2 Lit., “yang genap dan yang ganjil” atau “yang esa”: yakni, keanekaragaman ciptaan sebagaimana dikontraskan dengan keesaan dan keunikan Sang Pencipta (Al-Baghawi, bersumber dari Sa’id ibn Al-Khudri, serta Al-Thabari dalam salah satu alternatif penafsirannya terhadap ungkapan di atas). Konsep “angka genap” menyiratkan eksistensi hal sejenis yang lebih dari satu: dengan kata lain, hal itu berarti segala sesuatu yang memiliki pasangan atau pasangan-pasangan dan, karena itu, memiliki suatu hubungan yang pasti dengan sesuatu yang lain (bdk. istilah azwaj dalam Surah Ya’Sin [36]: 36, yang mengacu pada polaritas yang tampak nyata dalam seluruh ciptaan). Sebagai lawan dari konsep “yang banyak” (al-syaf’) ini, istilah al-watr—atau dalam ejaan (Al-Najdi) yang lebih umum, al-witr—utamanya berarti “yang tunggal” atau “yang esa” dan, karena itu, merupakan salah satu penamaan yang diberikan kepada Allah—lantaran “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” (Surah Al-Ikhlash [112]: 4) dan “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Surah Asy-Syura [42]: 11).


Surah Al-Fajr Ayat 4

وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

wal-laili iżā yasr

4. Perhatikanlah malam ketika ia menempuh jalannya!3


3 Ayat ini berbicara secara tidak langsung tentang malam kegelapan ruhani yang pasti “menempuh jalannya”—yakni, pasti berlalu atau menghilang—segera ketika manusia menjadi benar-benar sadar akan Allah.


Surah Al-Fajr Ayat 5

هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

hal fī żālika qasamul liżī ḥijr

5. Memperhatikan semua ini—apakah mungkin, bagi siapa pun yang dianugerahi nalar, ada bukti kebenaran yang [lebih] kuat?4


4 Lit., “suatu penegasan yang [lebih] kuat” (qasam): yakni, bukti yang meyakinkan tentang keberadaan dan keesaan Allah.


Surah Al-Fajr Ayat 6

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

a lam tara kaifa fa’ala rabbuka bi’ād

6. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan bagaimana Pemelihara­mu berbuat terhadap [suku] ‘Ad,5

5 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 65-72, dan khususnya paruh kedua catatan no. 48 pada Surah Al-A’raf [7]: 65. Iram, yang disebut dalam ayat selanjutnya, agaknya merupakan nama ibu kota suku ‘Ad yang legendaris, yang kini tertimbun padang pasir Al-Ahqaf.


Surah Al-Fajr Ayat 7

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ

irama żātil-‘imād

7. [penduduk] Iram yang mempunyai banyak pilar,


Surah Al-Fajr Ayat 8

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ

allatī lam yukhlaq miṡluhā fil-bilād

8. yang belum pernah dibangun seperti itu di semua negeri?—


Surah Al-Fajr Ayat 9

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ

wa ṡamụdallażīna jābuṣ-ṣakhra bil-wād

9. dan terhadap [suku] Tsamud,6 yang melubangi batu-batu cadas di lembah?—


6 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 56 dan no. 59. “Lembah” yang dirujuk pada bagian berikutnya adalah Wadi Al-Qura, yang terletak di sebelah utara Madinah pada rute kafilah pada masa lalu dari Arabia Selatan ke Suriah.


Surah Al-Fajr Ayat 10

وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ

wa fir’auna żil-autād

10. dan terhadap Fir’aun yang memiliki [banyak] tiang-tenda?7


7 Mengenai penjelasan tentang julukan ini, lihat Surah Shad [38], catatan no. 17.


Surah Al-Fajr Ayat 11

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ

allażīna ṭagau fil-bilād

11. [Mereka itulah] yang melanggar batas-batas keadilan di seluruh negeri mereka,


Surah Al-Fajr Ayat 12

فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ

fa akṡarụ fīhal-fasād

12. dan menimbulkan kerusakan besar di dalamnya:


Surah Al-Fajr Ayat 13

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ

fa ṣabba ‘alaihim rabbuka sauṭa ‘ażāb

13. dan karena itu, Pemeliharamu menimpakan kepada mereka cemeti penderitaan:


Surah Al-Fajr Ayat 14

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

inna rabbaka labil-mirṣād

14. sebab, sungguh, Pemeli­haramu senantiasa mengawasi!


Surah Al-Fajr Ayat 15

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhụ fa akramahụ wa na”amahụ fa yaqụlu rabbī akraman

15. NAMUN, ADAPUN manusia,8 manakala Pemeliharanya menguji dia dengan kemurahhatian-Nya dan membiarkan diri­ nya menikmati hidup yang mudah, dia berkata, “Pemeliharaku telah bermurah hati kepadaku [sebagaimana seharusnya]”;9


8 Frasa di atas, yang diawali dengan partikel fa-amma (“Namun, adapun …”), jelas memiliki kaitan dengan “bukti kebenaran yang kuat” yang disebut dalam ayat 5—yang menyiratkan bahwa manusia, sebagaimana lazimnya, tidak memikirkan kehidupan akhirat, tetapi hanya peduli dengan kehidupan dunia serta apa-apa yang menjanjikan keuntungan langsung bagi dirinya (Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi).

9 Yakni, dia memandang kemurahan Allah sebagai sesuatu yang sudah menjadi haknya (Al-Razi).


Surah Al-Fajr Ayat 16

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

16. sedangkan, manakala Dia mengujinya dengan membatasi sarana penghidupannya, dia berkata, “Pemeliharaku telah menghinakan daku!”10


10 Yakni, dia menganggap tiadanya atau hilangnya kekayaan bukan sebagai suatu cobaan, melainkan sebagai bukti “ketidakadilan” Ilahi—yang pada gilirannya bermuara pada pengingkaran akan keberadaan Allah.


Surah Al-Fajr Ayat 17

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

kallā bal lā tukrimụnal-yatīm

17. Namun tidak, tidak, [wahai manusia, renungkanlah se­mua yang kalian lakukan dan yang tidak kalian lakukan:] kalian tidak bermurah hati kepada anak yatim,


Surah Al-Fajr Ayat 18

وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

wa lā tahāḍḍụna ‘alā ṭa’āmil-miskīn

18. dan kalian tidak saling mendorong untuk memberi makan orang miskin,11


11 Yakni, ” kalian tidak merasa terdorong untuk memberi makan orang miskin” (bdk. Surah Al-Ma’un [107]: 3).


Surah Al-Fajr Ayat 19

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا

wa ta`kulụnat-turāṡa aklal lammā

19. dan kalian melahap harta warisan [orang lain] dengan sangat serakah,


Surah Al-Fajr Ayat 20

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

wa tuḥibbụnal-māla ḥubban jammā

20. dan kalian mencintai harta kekayaan dengan kecin­taan yang tiada batas!


Surah Al-Fajr Ayat 21

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا

kallā iżā dukkatil-arḍu dakkan dakkā

21. Tidak, tetapi [bagaimana keadaan kalian nanti pada Hari Pengadilan,] ketika bumi dihancurkan dengan sehancur-hancurnya,


Surah Al-Fajr Ayat 22

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

wa jā`a rabbuka wal-malaku ṣaffan ṣaffā

22. dan [keagungan] Pemeliharamu tersingkap,12 dan juga [hakikat sejati] para malaikat, baris demi baris?


12 Lit., “[tatkala] Pemeliharamu datang”, yang dipahami oleh hampir semua mufasir klasik sebagai penampakan (dalam pengertian abstrak kata ini) keagungan transendental Allah dan perwujudan pengadilan-Nya.


Surah Al-Fajr Ayat 23

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ

wa jī`a yauma`iżim bijahannama yauma`iżiy yatażakkarul-insānu wa annā lahuż-żikrā

23. Dan pada Hari itu, neraka akan didatangkan [ke dalam jangkauan pandangan]; pada Hari itu manusia akan mengingat [semua yang dia lakukan dan yang tidak dia lakukan]: tetapi, apalah gunanya ingatan itu baginya?


Surah Al-Fajr Ayat 24

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

yaqụlu yā laitanī qaddamtu liḥayātī

24. Dia akan berkata, “Ah, seandainya aku telah bersiap sebelumnya untuk kehidupanku [yang akan datang]!”


Surah Al-Fajr Ayat 25

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

fa yauma`iżil lā yu’ażżibu ‘ażābahū aḥad

25. Karena, pada Hari itu tidak ada yang dapat menyiksa, sebagaimana Dia akan menyiksa [orang-orang yang berbuat dosa],


Surah Al-Fajr Ayat 26

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ

wa lā yụṡiqu waṡāqahū aḥad

26. dan tidak ada yang dapat mengikat dengan ikatan­-ikatan yang seperti ikatan-Nya.13


13 Lihat catatan no. 7 dalam Surah Al-Muzzammil [73]: 12-13.


Surah Al-Fajr Ayat 27

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

yā ayyatuhan-nafsul-muṭma`innah

27. [Namun, kepada orang-orang yang saleh, Allah akan berkata,] “Wahai, engkau manusia yang telah mencapai ketenang­an jiwa!


Surah Al-Fajr Ayat 28

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

irji’ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah

28. Kembalilah engkau kepada Pemeliharamu, dalam keadaan berkenan kepada-Nya [dan] memperoleh perkenan-Nya:


Surah Al-Fajr Ayat 29

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

fadkhulī fī ‘ibādī

29. maka, masuklah bersama hamba-hamba-Ku [lainnya yang sejati]—


Surah Al-Fajr Ayat 30

وَادْخُلِي جَنَّتِي

wadkhulī jannatī

30. ya, masuklah engkau ke dalam surga-Ku!”


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top