85. Al-Buruj (Gugusan-Gugusan Bintang yang Besar) – البروج

Surat Al-Buruj dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Buruj ( البروج ) merupakan surah ke 85 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 22 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Buruj tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini diambil dari kata al-buruj yang terdapat pada ayat pertama. Menurut pendapat para mufasir, Surat Al-Buruj diwahyukan setelah Surah Asy-Syams [91].

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Buruj Ayat 1

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

was-samā`i żātil-burụj

1. PERHATIKANLAH langit yang penuh dengan gugusan-gugusan bintang yang besar,


Surah Al-Buruj Ayat 2

وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ

wal-yaumil-mau’ụd

2. dan [kemudian renungkanlah tentang] Hari yang dijanjikan,1


1 Yakni, Hari Kebangkitan.


Surah Al-Buruj Ayat 3

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

wa syāhidiw wa masy-hụd

3. dan [tentang] Dia yang menyaksikan [segalanya], dan [tentang] apa yang disaksikan [oleh-Nya]!2


2 Dengan menciptakan alam semesta, Allah “memberi kesaksian”, demikianlah kira-kira, atas kemahakuasaan dan keunikan diri-Nya sendiri: bdk. Surah Al-‘lmran [3]: 18—“Allah [sendiri] memberi kesaksian bahwa tiada tuhan kecuali Dia”—dan catatan no. 11 yang terkait.


Surah Al-Buruj Ayat 4

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ

qutila aṣ-ḥābul-ukhdụd

4. MEREKA [hanyalah] membinasakan diri mereka sendiri,3 mereka yang hendak menyiapkan lubang


3 Mengenai penjelasan tentang terjemahan kata qutila, lihat catatan no. 9 dalam Surah Al-Mudatsir [74]: 19-20.


Surah Al-Buruj Ayat 5

النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ

an-nāri żātil-waqụd

5. [lubang] api yang berkobar-kobar dengan dahsyat [bagi semua orang yang telah meraih iman]!4


4 Lit., “mereka yang bertanggung jawab (ashhab) atas lubang api yang bahan bakarnya melimpah”. Dalam rangka menjelaskan pasase yang bersifat perumpamaan ini, para mufasir menafsirkan ayat ini dalam bentuk waktu lampau—hal yang sebenarnya tidak perlu—dan mengemukakan riwayat-riwayat yang paling kontradiktif, yang dimaksudkan untuk “mengidentifikasi” orang-orang zalim itu dalam kerangka historis. Hasilnya adalah rentetan kisah yang merentang dari pengalaman Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya yang merupakan penyembah berhala (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 68-70) hingga riwayat Bibel tentang upaya Nebukadnezar untuk membakar tiga orang Israil yang saleh dalam tungku perapian (Daniel 3: 19 dst.); atau penyiksaan terhadap orang-orang Kristen Najran oleh Raja Yaman, Dzu Nawas (yang beragama Yahudi), pada abad ke-6 Masehi; atau kisah yang seluruhnya bersifat apokrif {yaitu, sesuatu yang dipercayai secara luas, tetapi kebenarannya masih diragukan—peny.} tentang seorang raja Zoroaster yang membakar hingga mati rakyatnya yang menolak untuk menerima ajarannya, yang menyatakan bahwa perkawinan antara saudara laki-laki dan perempuan “diperbolehkan oleh Tuhan”; dan seterusnya. Tentu saja, tidak satu pun dari riwayat-riwayat tersebut perlu dipertimbangkan secara serius dalam konteks ini. Pada kenyataannya, fakta bahwa tidak disebutkannya secara khusus orang-orang zalim yang dirujuk dalam ayat Al-Quran di atas menunjukkan bahwa di sini kita disuguhi dengan sebuah kisah perumpamaan (parable), dan bukan sebuah rujukan terhadap peristiwa-peristiwa “historis” ataupun bahkan peristiwa-peristiwa yang berupa legenda. Para pelaku penyiksaan itu adalah orang-orang yang tidak memiliki iman dan benci melihat keimanan bersemayam dalam hati orang lain (lihat ayat 8); “lubang api” adalah perumpamaan tentang penyiksaan terhadap pihak kedua oleh pihak pertama: suatu fenomena yang tidak terbatas pada zaman atau masyarakat tertentu, tetapi terus berlangsung dalam berbagai bentuk dan dengan tingkat yang bervariasi di sepanjang catatan sejarah.


Surah Al-Buruj Ayat 6

إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ

iż hum ‘alaihā qu’ụd

6. Lihatlah! [dengan riang gembira,] mereka menatap [api] itu,


Surah Al-Buruj Ayat 7

وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

wa hum ‘alā mā yaf’alụna bil-mu`minīna syuhụd

7. sepenuhnya sadar dengan apa yang tengah mereka lakukan terhadap orang-orang beriman,5


5 Lit., “ketika mereka duduk menghadap lubang api itu, sementara itu mereka menyaksikan semua yang mereka kerjakan …”, dan seterusnya.


Surah Al-Buruj Ayat 8

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

wa mā naqamụ min-hum illā ay yu`minụ billāhil-‘azīzil-ḥamīd

8. yang mereka benci tanpa alasan lain kecuali karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, yang kepada-Nya segala pujian patut dihaturkan,


Surah Al-Buruj Ayat 9

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

allażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, wallāhu ‘alā kulli syai`in syahīd

9. [dan] Yang Memiliki Kekuasaan atas lelangit dan bumi. Namun, Allah adalah Maha Penyaksi atas segala sesuatu!


Surah Al-Buruj Ayat 10

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

innallażīna fatanul-mu`minīna wal-mu`mināti ṡumma lam yatụbụ fa lahum ‘ażābu jahannama wa lahum ‘ażābul-ḥarīq

10. Sungguh, adapun orang-orang yang menganiaya laki-laki beriman dan perempuan beriman, kemudian tidak bertobat, penderitaan neraka menanti mereka: ya, penderitaan karena api menanti mereka!6


6 Lit., “karena pembakaran”.


Surah Al-Buruj Ayat 11

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

innallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum jannātun tajrī min taḥtihal-an-hār, żālikal-fauzul-kabīr

11. [Namun,] sungguh, orang-orang yang meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan saleh akan memperoleh [dalam kehidupan akhirat] taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai—itulah kemenangan yang paling besar!7


7 Hampir pasti bahwa ini merupakan penyebutan Al-Quran yang paling awal tentang “taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai” sebagai suatu alegori tentang kebahagiaan yang menanti orang-orang saleh di dalam kehidupan akhirat.


Surah Al-Buruj Ayat 12

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

inna baṭsya rabbika lasyadīd

12. SUNGGUH, cengkeraman Pemeliharamu benar-benar sangat kuat!


Surah Al-Buruj Ayat 13

إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ

innahụ huwa yubdi`u wa yu’īd

13. Perhatikanlah, Dia-lah yang menciptakan [manusia] pada kali yang pertama dan Dia[-lah yang] akan menghidupkannya kembali.


Surah Al-Buruj Ayat 14

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

wa huwal-gafụrul-wadụd

14. Dan, Dia sajalah yang sungguh Maha Pengampun dan yang cinta kasih-Nya meliputi segala sesuatu,


Surah Al-Buruj Ayat 15

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ

żul-‘arsyil-majīd

15. yang bersinggasana dalam kemahakuasaan yang mulia,8


8 Lit., “Dia {pemilik} singgasana kemahakuasaan yang agung (Al-‘Arsy Al-Majid)”. Mengenai terjemahan saya atas kata ‘arsy menjadi “singgasana kemahakuasaan”, lihat Surah Al-A’raf [7]: 54 dan catatan no. 43 yang terkait.


Surah Al-Buruj Ayat 16

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

fa”ālul limā yurīd

16. Pelaku yang sungguh-sungguh berdaulat atas apa pun yang Dia kehendaki.


Surah Al-Buruj Ayat 17

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ

hal atāka ḥadīṡul-junụd

17. APAKAH telah sampai kepadamu kisah pasukan-pasukan [yang bergelimang dosa],


Surah Al-Buruj Ayat 18

فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ

fir’auna wa ṡamụd

18. [pasukan] Fir’aun dan [pasukan suku] Tsamud?9


9 Secara tersirat, yaitu “yang keduanya dihancurkan karena dosa-dosa mereka”. Kisah tentang Fir’aun dan pasukannya, dan pembinasaan mereka dengan cara ditenggelamkan, disebut berkali-kali dalam Al-Quran; mengenai kisah kaum Tsamud, lihat khususnya Surah Al-A’raf [7]: 73 dst., serta catatan no. 56-62 yang terkait.


Surah Al-Buruj Ayat 19

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ

balillażīna kafarụ fī takżīb

19. Sungguhpun demikian, mereka yang bersikeras mengingkari kebenaran tetap kukuh dalam mendustakan kebenaran itu:


Surah Al-Buruj Ayat 20

وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ

wallāhu miw warā`ihim muḥīṭ

20. padahal, sementara itu Allah meliputi mereka [dengan pengetahuan dan kekuasaan-Nya] tanpa mereka menyadari akan hal itu.10


10 Lit., “dari belakang mereka”, suatu frasa idiomatis yang berarti suatu kejadian yang tidak dapat diketahui oleh orang-orang yang terkait erat dengannya.


Surah Al-Buruj Ayat 21

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ

bal huwa qur`ānum majīd

21. Tidak, tetapi [kitab Ilahi yang mereka tolak] ini adalah bacaan yang sangat mulia,


Surah Al-Buruj Ayat 22

فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ

fī lauḥim maḥfụẓ

22. [yang tertulis] di dalam suatu lembaran yang tidak akan pernah rusak ataupun sirna.11


11 Lit., “pada lembaran yang terjaga dengan baik (lauh mahfuzh)”—suatu penggambaran mengenai Al-Quran yang hanya dapat ditemukan dalam ayat ini. Meskipun sebagian mufasir mengambil ungkapan tersebut secara harfiah dan memahaminya sebagai “lembaran yang terdapat di langit” yang padanya Al-Quran dituliskan sejak zaman azali, bagi banyak mufasir lainnya ungkapan ini senantiasa mengandung makna metafora: yakni, mengacu pada kualitas kitab Ilahi ini yang tidak akan pernah rusak ataupun sirna. Penafsiran ini dinyatakan, secara tegas, dapat dibenarkan, misalnya oleh Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Razi, atau lbn Katsir, yang semuanya sepakat bahwa ungkapan “pada lembaran yang terjaga dengan baik” berkaitan dengan janji Allah bahwa Al-Quran tidak akan pernah rusak atau hilang, dan akan selalu terbebas dari penambahan, pengurangan, dan perubahan teks secara sewenang-wenang. Dalam kaitan ini, lihat pula Surah Al-Hijr [15]: 9 dan catatan no. 10 yang terkait.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top