90. Al-Balad (Tanah) – البلد

Surat Al-Balad dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Balad ( البلد ) merupakan surah ke 90 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 20 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Balad tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini diambil dari kata al-balad (Tanah atau Negeri) yang terdapat pada ayat pertamanya. Meskipun Al-Suyuthi menempatkan surah ini pada pertengahan periode Makkah (setelah Surah Qaf [50]), kemungkinan besar surah ini diwahyukan pada tahun-tahun awal kenabian Muhammad Saw.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Balad Ayat 1

لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ

lā uqsimu bihāżal-balad

1. TIDAK! Aku bersaksi demi negeri ini—


Surah Al-Balad Ayat 2

وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَٰذَا الْبَلَدِ

wa anta ḥillum bihāżal-balad

2. negeri ini yang di atasnya engkau tinggal dengan bebas—1


1 Lit., “sementara engkau tinggal di tanah ini”. Para mufasir klasik mengartikan istilah balad dengan “kota” dan berpendapat bahwa ungkapan hadza al-balad (“kota ini”) berarti Makkah, sedangkan kata ganti “engkau” dalam ayat kedua mengacu kepada Nabi Muhammad Saw. Meskipun penafsiran ini masuk akal dengan memperhatikan kenyataan bahwa kesucian Kota Makkah berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran, rangkaian ayat ini—serta maksud umum keseluruhan surah ini—tampaknya menjustifikasi penafsiran yang lebih luas dan umum. Menurut pendapat saya, kata hadza al-balad berarti “tanah manusia ini” (this land of man), yakni bumi (yang istilah ini, menurut semua filolog, merupakan salah satu makna dasar dari kata balad). Dengan demikian, kata “engkau” dalam ayat kedua berkaitan dengan manusia secara umum, dan apa yang secara kiasan “dijadikan saksi” adalah lingkungan bumi manusia.


Surah Al-Balad Ayat 3

وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ

wa wālidiw wa mā walad

3. dan [Aku bersaksi demi] orangtua dan keturunannya:2


2 Lit., “yang melahirkan dan apa yang telah dia lahirkan”. Menurut penjelasan yang meyakinkan dari Al-Thabari, ungkapan ini berarti “setiap orangtua dan semua keturunan mereka”—yakni, umat manusia sejak awal hingga akhir. (Bentuk maskulin dari kata al-walid tentu saja mengandung pengertian orangtua laki-laki maupun perempuan.)


Surah Al-Balad Ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

laqad khalaqnal-insāna fī kabad

4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam [kehi­dupan yang penuh dengan] penderitaan, jerih payah, dan coba­an.3


3 Istilah kabad, yang meliputi konsep “penderitaan”, “tekanan”, “kesulitan”, “jerih payah”, “cobaan”, dan sebagainya, hanya dapat diterjemahkan dengan ungkapan gabungan seperti di atas.


Surah Al-Balad Ayat 5

أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ

a yaḥsabu al lay yaqdira ‘alaihi aḥad

5. Maka, apakah dia mengira bahwa tidak ada yang berkuasa atas dirinya?


Surah Al-Balad Ayat 6

يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا

yaqụlu ahlaktu mālal lubadā

6. Dia berkata dengan pongah, “Aku telah menghabiskan harta yang sangat banyak!”4


4 Perkataan ini menyiratkan bahwa sumber daya manusia dan, karena itu, kemungkinan-kemungkinannya—tidak akan habis. Kita harus ingat bahwa kata “manusia” digunakan di sini dalam pengertian “umat manusia”: karena itu, perkataan pongah di atas merupakan metonimia atau kiasan bagi kepercayaan yang sudah meluas—yang menjadi ciri seluruh periode kemerosotan keagamaan—yakni, bahwa tidak ada batas untuk mencapai kekuasaan yang dicita-citakan manusia dan, karena itu, “kepentingan” duniawinya adalah satu-satunya kriteria benar dan salah.


Surah Al-Balad Ayat 7

أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ

a yaḥsabu al lam yarahū aḥad

7. Maka, apakah dia mengira bahwa tidak ada yang melihatnya?5


5 Yakni, “Apakah dia berpikir bahwa dia tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, kecuali kepada dirinya sendiri?”


Surah Al-Balad Ayat 8

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ

a lam naj’al lahụ ‘ainaīn

8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,


Surah Al-Balad Ayat 9

وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

wa lisānaw wa syafataīn

9. serta lidah dan sepasang bibir,6


Surah Al-Balad Ayat 10

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

wa hadaināhun-najdaīn

10. dan telah menun­jukkan kepadanya dua jalan besar [kebaikan dan keburukan]?


Surah Al-Balad Ayat 11

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ

fa laqtaḥamal-‘aqabah

11. Namun, dia tidak mau mencoba menempuh jalan men­daki yang terjal …


Surah Al-Balad Ayat 12

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

wa mā adrāka mal-‘aqabah

12. Dan, apa yang dapat membuatmu bisa membayangkan apakah jalan mendaki yang terjal itu?


Surah Al-Balad Ayat 13

فَكُّ رَقَبَةٍ

fakku raqabah

13. [Yaitu] membebaskan leher seseorang [dari beban dosa],7


7 Demikianlah terjemahan ‘lkrimah, sebagaimana dikutip oleh Al-Baghawi; demikian pula Al-Razi. Alternatifnya, ungkapan fakk raqabah dapat diterjemahkan menjadi “pembebasan manusia dari belenggu” (bdk. catatan no. 146 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 177) yang pengertiannya mencakup segala bentuk penindasan dan eksploitasi-sosial, ekonomi, atau politik—yang secara tepat dapat digambarkan sebagai “perbudakan”.


Surah Al-Balad Ayat 14

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ

au iṭ’āmun fī yaumin żī masgabah

14. atau memberi makan, pada hari [ketika orang itu sendiri menderita] kelaparan,


Surah Al-Balad Ayat 15

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ

yatīman żā maqrabah

15. (kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kerabat,


Surah Al-Balad Ayat 16

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

au miskīnan żā matrabah

16. atau orang miskin [yang tidak dikenal] yang berkalang tanah—


Surah Al-Balad Ayat 17

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

ṡumma kāna minallażīna āmanụ wa tawāṣau biṣ-ṣabri wa tawāṣau bil-mar-ḥamah

17. dan, sementara itu, menjadi di antara orang-orang yang telah meraih iman, dan yang saling menyuruh untuk bersabar dalam menghadapi kesusahan, dan saling menyuruh untuk berkasih sayang.


Surah Al-Balad Ayat 18

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ

ulā`ika aṣ-ḥābul-maimanah

18. Demikian itulah orang-orang yang telah mencapai kesa­lehan;8


8 Lit., “orang-orang (ashhab) yang berada di sebelah kanan”: lihat catatan no. 25 dalam Surah Al-Mudatsir [74]: 39.


Surah Al-Balad Ayat 19

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ

wallażīna kafarụ bi`āyātinā hum aṣ-ḥābul-masy`amah

19. sedangkan orang-orang yang bersikeras mengingkari kebenaran pesan-pesan Kami—mereka itulah orang-orang yang telah menenggelamkan diri ke dalam kejahatan,*


* {Lihat catatan no. 3 pada Surah Al-Waqi’ah [56].—peny.}


Surah Al-Balad Ayat 20

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

‘alaihim nārum mu`ṣadah

20. [dengan] api yang mengepung rapat di atas mereka.9


9 Yakni, api keputusasaan yang akan “menjalar naik hingga ke hati [para pendosa]” dan “mengepung rapat di atas mereka” dalam kehidupan akhirat: bdk. Surah Al-Humazah [104]: 6-8 dan catatan no. 5 yang terkait. Frasa yang saya terjemahkan menjadi “orang-orang yang telah menenggelamkan diri ke dalam kejahatan” secara harfiah berbunyi “orang-orang yang berada di sebelah kiri (al-masy’amah)”.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top