7. Al-A’raf (Kemampuan – Mengenali) – الأعراف

Surat Al-A’raf dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-A’raf ( الأعراف ) merupakan surah ke 7 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 206 ayat yang diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-A’raf tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini didasarkan pada ungkapan yang terdapat dalam ayat 46 dan 48, yang artinya dijelaskan dalam catatan no. 37. Menurut mayoritas mufasir (dan khususnya Ibn ‘Abbas), seluruh Surah Al-A’raf diwahyukan sesaat sebelum surah sebelumnya diwahyukan—yaitu, pada tahun terakhir tinggalnya Nabi di Makkah; pernyataan Al-Suyuthi dan beberapa sarjana lain yang mengatakan bahwa ayat 163-171 termasuk ke dalam periode Madinah merupakan dugaan saja dan, karena itu, tidak dapat diterima (Al-Manar VIII, h. 294).

Meskipun dalam kronologi wahyu Surat Al-A’raf mendahului Surah Al-An’am [6], ia ditempatkan setelahnya {yakni sebagai surah ke-7—peny.} karena ia menguraikan tema yang terdapat dalam Surah Al-An’am. Setelah penjelasan tentang keesaan dan keunikan Tuhan—yang merupakan tema pokok surah ke-6—Surah Al-A’raf melanjutkan tema tersebut dengan uraian mengenai wahyu sebagai medium Allah untuk mengomunikasikan kehendak-Nya kepada manusia: dengan kata lain, ia memaparkan misi nabi-nabi. Perlunya bimbingan nabi secara berkelanjutan muncul karena kenyataan bahwa manusia bersifat lemah dan cenderung mengikuti setiap godaan yang menyenangkan seleranya, kesombongannya, atau hawa nafsunya yang menyeleweng: dan, aspek esensial dari kondisi manusia ini diilustrasikan melalui alegori tentang Adam dan Hawa, serta kejatuhan martabat mereka berdua (ayat 19-25), yang didahului oleh alegori tentang iblis sebagai penggoda abadi manusia (ayat 16-18). Tanpa petunjuk yang diberikan Allah kepada manusia melalui nabi-nabi-Nya, jalan yang lurus tidak akan ditemukan dan, oleh karena itu, “bagi orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami dan meremehkannya karena kesombongan mereka, pintu-pintu gerbang surga tidak akan dibukakan” (ayat 40).

Dari ayat 59 dan selanjutnya, sebagian besar isi surah mengacu pada sejarah beberapa nabi terdahulu yang peringatannya ditolak oleh kaumnya, dimulai dari Nabi Nuh a.s., dilanjutkan dengan Nabi Hud a.s., Nabi Saleh a.s., Nabi Luth a.s., dan Nabi Syu’aib a.s., serta berpuncak pada kisah panjang menantu Nabi Syu’aib, yakni Nabi Musa a.s., dan pengalamannya dengan Bani Israil.

Mulai ayat 172, pembahasan kembali pada kompleksitas psikologi manusia, kemampuan naluriahnya untuk mengetahui eksistensi dan keesaan Allah, dan pada “apa yang terjadi pada orang yang telah Kami berikan pesan-pesan Kami, dan yang kemudian mencampakkannya: setan mengikutinya, dan dia tersesat, seperti banyak orang lainnya, dalam kesalahan yang besar” (ayat 175). Hal ini mengantarkan kita pada pesan terakhir Allah, yakni Al-Qur’an, dan pada peran sang Nabi Terakhir, yakni Nabi Muhammad Saw, yang “tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira” (ayat 188): manusia biasa, pelayan Allah, yang tidak memiliki kekuatan atau sifat “supernatural”, dan—seperti semua makhluk yang sadar akan Allah—“tidak pernah merasa terlalu angkuh untuk menyembah-Nya” (ayat 206).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-A’raf Ayat 1

المص

alif lām mīm shād

1. Alif. Lam. Mim. Shad.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-A’raf Ayat 2

كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

kitābun unzila ilaika fa lā yakun fī ṣadrika ḥarajum min-hu litunżira bihī wa żikrā lil-mu`minīn

2. SEBUAH KITAB ILAHI telah diturunkan kepadamu—dan hendaknya jangan ada keraguan tentang hal ini di dalam hatimu—agar engkau dapat memperingatkan dengan kitab Ilahi itu [orang-orang yang khilaf], dan [lalu] menasihati orang-orang beriman:2


2 Ungkapan “haraj” (lit., “kesukaran” atau “kesempitan”) sering digunakan secara idiomatik untuk menunjukkan “keraguan”: dan inilah—menurut Ibn ‘Abbas, Mujahid, dan Qatadah—arti istiIah tersebut di sini (lihat Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Baghawi, Al-Razi, dan Ibn Katsir). Struktur keseluruhan kalimat itu sangat jelas menunjukkan bahwa “keraguan” itu berhubungan bukan dengan sumber kitab Ilahi, melainkan pada maksud-nya: jadi, walau tampaknya ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw., ayat di atas dimaksudkan untuk menarik perhatian semua orang yang mungkin dijangkau oleh pesan Al-Quran terhadap kenyataan bahwa Al-Quran mempunyai dua tujuan sekaligus: yakni, untuk mengingatkan para pengingkar kebenaran dan untuk memberi petunjuk kepada mereka yang tefah mengimaninya. Baik peringatan maupun nasihat ini diikhtisarkan dalam lanjutan ayat di atas.


Surah Al-A’raf Ayat 3

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

ittabi’ụ mā unzila ilaikum mir rabbikum wa lā tattabi’ụ min dụnihī auliyā`, qalīlam mā tażakkarụn

3. “Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Pemelihara kalian dan janganlah mengikuti tuan-tuan penguasa selain Dia.”3

Betapa jarangnya kalian ingat akan hal ini!


3 Beberapa pemikir besar Muslim, khususnya Ibn Hazm dan Ibn Taimiyyah, menyatakan bahwa ungkapan “aulia'” (di sini diterjemahkan menjadi “tuan-tuan penguasa” [masters]) dalam konteks ini berarti “penguasa-penguasa” (authorities) dalam pengertian religiusnya, sehingga ayat ini menunjukkan suatu larangan untuk menisbahkan validitas hukum—sejajar dengan perintah-perintah Al-Quran—kepada pendapat subjektif siapa pun yang kedudukannya di bawah Nabi. Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-Ma’idah [5]: 101 dan catatan-catatannya.


Surah Al-A’raf Ayat 4

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ

wa kam ming qaryatin ahlaknāhā fa jā`ahā ba`sunā bayātan au hum qā`ilụn

4. Dan, betapa banyaknya masyarakat [pembangkang] yang telah Kami binasakan; maka, datanglah hukuman Kami pada malam hari atau ketika mereka sedang beristirahat pada tengah hari!4


4 Yakni, tiba-tiba, ketika manusia merasa sangat aman dan tenteram. Ayat ini berkaitan dengan perintah, dalam dua ayat terdahulu, untuk mengikuti pesan-pesan wahyu Allah.


Surah Al-A’raf Ayat 5

فَمَا كَانَ دَعْوَاهُمْ إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا إِلَّا أَنْ قَالُوا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

fa mā kāna da’wāhum iż jā`ahum ba`sunā illā ang qālū innā kunnā ẓālimīn

5. Dan, ketika hukuman Kami datang kepada mereka, tiada apa pun yang dapat mereka katakan kepada diri mereka sendiri dan (mereka) hanya dapat berseru,5 “Sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim!”


5 Lit., “seruan mereka tak lain kecuali bahwa mereka berkata”.


Surah Al-A’raf Ayat 6

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

fa lanas`alannallażīna ursila ilaihim wa lanas`alannal-mursalīn

6. Maka, [pada Hari Pengadilan,] Kami pasti akan menanyai semua orang yang kepada mereka telah dikirimkan pesan [Ilahi], dan Kami pasti akan menanyai rasul-rasul [itu sendiri];6


6 Bdk. Surah Al-Ma’idah [5]: 109.


Surah Al-A’raf Ayat 7

فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ

fa lanaquṣṣanna ‘alaihim bi’ilmiw wa mā kunnā gā`ibīn

7. dan, kemudian pasti akan Kami ungkapkan kepada mereka pengetahuan Kami [tentang perbuatan-perbuatan mereka]:7 sebab, Kami selalu hadir [melihat mereka].*


7 Lit., “menceritakan kepada mereka dengan pengetahuan”.

* {for never have We been absent [from them].}


Surah Al-A’raf Ayat 8

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

wal-waznu yauma`iżinil-ḥaqq, fa man ṡaqulat mawāzīnuhụ fa ulā`ika humul-mufliḥụn

8. Dan, benarlah timbangan pada hari itu: dan orang-orang yang berat timbangan [amal baik]-nya—mereka, mereka itulah orang-orang yang meraih kebahagiaan;


Surah Al-A’raf Ayat 9

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

wa man khaffat mawāzīnuhụ fa ulā`ikallażīna khasirū anfusahum bimā kānụ bi`āyātinā yaẓlimụn

9. adapun orang-orang yang ringan timbangannya—mereka, mereka itulah orang-orang yang telah menyia-nyiakan diri mereka sendiri karena mereka dengan sengaja menolak pesan-pesan Kami.8


8 Lit., “karena mereka biasa bertindak zalim berkenaan dengan pesan-pesan Kami”.


Surah Al-A’raf Ayat 10

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

wa laqad makkannākum fil-arḍi wa ja’alnā lakum fīhā ma’āyisy, qalīlam mā tasykurụn

10. SUNGGUH, [wahai manusia,] Kami telah memberikan kepada kalian tempat [yang luas] di bumi, dan Kami adakan di atasnya sarana-sarana penghidupan bagi kalian: [sungguhpun begitu,] betapa jarangnya kalian bersyukur!


Surah Al-A’raf Ayat 11

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

wa laqad khalaqnākum ṡumma ṣawwarnākum ṡumma qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, lam yakum minas-sājidīn

11. Sungguh, Kami telah menciptakan kalian, lalu membentuk kalian;9 lalu Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah di hadapan Adam!”—lalu mereka [semua] bersujud, kecuali iblis: dia tidak termasuk mereka yang bersujud.10


9 Rangkaian dua pernyataan ini—”Kami telah menciptakan kalian [yakni ‘menjadikan kalian ada sebagai makhluk hidup’], lalu membentuk kalian” [atau “memberikan bentuk kepada kalian”, yakni sebagai manusia]—dimaksudkan untuk menonjolkan fakta mengenai perkembangan manusia (sebagai individu) yang berlangsung secara bertahap, dari tingkatan embrionik, lalu menjadi makhluk hidup yang sempurna, sebagaimana proses evolusi ras manusia itu sendiri.

10 Berkenaan dengan perintah alegoris Allah kepada para malaikat untuk “bersujud” di hadapan Adam, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 30-34 dan catatan-catatannya. Penyebutan “seluruh umat manusia” yang mendahului kisah Nabi Adam a.s. dalam surah ini memperjelas bahwa, dalam konteks ini, nama Adam melambangkan seluruh umat manusia.

Sarjana-sarjana Barat biasanya menerima begitu saja bahwa nama “iblis” adalah perubahan dari kata diabolos dalam bahasa Yunani, yang menjadi asal-usul kata bahasa Inggris “devil“. Kendati demikian, tidak terdapat sedikit pun bukti yang menyatakan bahwa masyarakat Arab pra-Islam meminjam kata ini atau istilah-istilah mitologi lainnya dari peradaban Yunani—sedangkan, pada sisi lain, telah lama diketahui bahwa peradaban Yunani telah banyak mengambil konsep-konsep mitologi mereka (termasuk berbagai dewa dan peran-perannya) dari peradaban Arab-Selatan yang jauh lebih tua (bdk. Encydopaedia of Islam I, h. 379). Karena itu, kita dapat pula berasumsi (dengan hampir pasti) bahwa kata bahasa Yunani diabolos adalah bentukan dari kata Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Yunani untuk menyebut “sang Malaikat yang Jatuh”, yang terambil dari kata dasar ablasa, “dia berputus asa” atau “putus harapan” atau “menjadi patah semangat” (lihat Lane I, h. 248). Kenyataan bahwa nomina diabolos (“tukang fitnah”—diderivasi dari verba diaballein, “melempar [sesuatu] ke seberang”) murni berasal dari kata bahasa Yunani tidak dengan sendirinya mengurangi kebenaran apa pun dari hipotesis ini: sebab, bisa dipahami bahwa orang-orang Yunani, dengan kecenderungannya yang amat masyhur untuk menyerap nama-nama asing ke dalam bahasa mereka, menyamakan nama “iblis” dengan nama diabolos yang lebih akrab terdengar bagi mereka.

Berkenaan dengan pernyataan iblis pada ayat selanjutnya, bahwa dia diciptakan dari “api”, lihat Surah Sad [38], catatan no. 60.


Surah Al-A’raf Ayat 12

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

qāla mā mana’aka allā tasjuda iż amartuk, qāla ana khairum min-h, khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahụ min ṭīn

12. [Dan, Allah] berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud tatkala Aku memerintahkanmu?”

Menjawab [iblis], “Aku lebih baik daripadanya: Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah.”


Surah Al-A’raf Ayat 13

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

qāla fahbiṭ min-hā fa mā yakụnu laka an tatakabbara fīhā fakhruj innaka minaṣ-ṣāgirīn

13. [Allah] berfirman, “Kalau begitu, turunlah kau dari [kedudukan] ini—sebab, tidak sepatutnya engkau menyombongkan diri di sini! Maka, keluarlah: sungguh, engkau termasuk di antara yang dihinakan!”


Surah Al-A’raf Ayat 14

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

qāla anẓirnī ilā yaumi yub’aṡụn

14. [Iblis] berkata, “Berikanlah penangguhan untukku hingga Hari ketika semua dibangkitkan dari kematian.”


Surah Al-A’raf Ayat 15

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

qāla innaka minal-munẓarīn

15. [Dan, Allah] menjawab. “Sungguh, engkau termasuk mereka yang diberi penangguhan.”


Surah Al-A’raf Ayat 16

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

qāla fa bimā agwaitanī la`aq’udanna lahum ṣirāṭakal-mustaqīm

16. [Karena itu, iblis] berkata, “Karena Engkau telah menggagalkanku,11 aku pasti akan mengendap-endap untuk menyergap mereka di sepanjang jalan-Mu yang lurus,


11 Atau: “telah membiarkanku terjerumus ke dalam kesesatan”. Istilah aghwahu berarti “dia menyebabkan [atau ‘membiarkan’]-nya berbuat salah” atau “dia membuatnya kecewa” atau “gagal mencapai keinginannya” (bdk. Lane VI, h. 2304). Karena, dalam kasus ini, ucapan iblis merujuk pada kehilangan kedudukannya yang dahulu di antara para malaikat, terjemahan yang saya gunakan tampaknya adalah yang paling tepat.


Surah Al-A’raf Ayat 17

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

ṡumma la`ātiyannahum mim baini aidīhim wa min khalfihim wa ‘an aimānihim wa ‘an syamā`ilihim, wa lā tajidu akṡarahum syākirīn

17. dan pasti akan mendatangi mereka, baik dengan terang-terangan maupun dengan cara yang tidak mereka ketahui,12 dari kanan dan dari kiri mereka: dan, Engkau akan mendapati kebanyakan dari mereka tidaklah bersyukur.”


12 Lit, “di antara kedua tangan mereka dan dari belakang mereka”. Mengenai ungkapan idiomatik ini dan terjemahannya, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 255 (“Dia mengetahui segala yang terbentang di hadapan manusia dan segala yang tersembunyi dari mereka”). Frasa berikutnya, “dari kanan dan dari kiri mereka” berarti “dari segala arah dan dengan segala cara yang mungkin”.


Surah Al-A’raf Ayat 18

قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا ۖ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ

qālakhruj min-hā maż`ụmam mad-ḥụrā, laman tabi’aka min-hum la`amla`anna jahannama mingkum ajma’īn

18. [Dan, Allah] berfirman, “Keluarlah dari sini dalam keadaan terhina lagi terusir! [Dan,] adapun orang-orang di antara mereka yang mengikutimu—Aku benar-benar akan mengisi Neraka Jahanam dengan kalian semuanya!


Surah Al-A’raf Ayat 19

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

wa yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata fa kulā min ḥaiṡu syi`tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takụnā minaẓ-ẓālimīn

19. Dan, [adapun engkau,] wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di taman ini, serta makanlah oleh kamu berdua apa pun yang kalian kehendaki; tetapi jangan dekati pohon yang satu ini, agar kamu berdua tidak menjadi orang-orang yang zalim!”13


13 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 35 dan Surah TaHa [20]: 120, juga catatan-catatannya.


Surah Al-A’raf Ayat 20

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

fa waswasa lahumasy-syaiṭānu liyubdiya lahumā mā wụriya ‘an-humā min sau`ātihimā wa qāla mā nahākumā rabbukumā ‘an hāżihisy-syajarati illā an takụnā malakaini au takụnā minal-khālidīn

20. Maka, setan membisikkan kepada mereka berdua dengan tujuan untuk menjadikan mereka menyadari ketelanjangan mereka, yang [hingga saat itu] tidak mereka sadari;14 dan setan berkata, “Tidaklah Pemelihara kalian melarang kalian mendekati pohon ini, kecuali agar kalian berdua tidak menjadi [seperti] malaikat, atau agar kalian hidup kekal.”15


14 Lit., “sehingga menjadi nyata bagi mereka ketelanjangan mereka yang [hingga saat itu] tak terasa bagi mereka”: sebuah alegori bagi keadaan tanpa dosa yang dijalani manusia sebelum kejatuhannya—yakni, sebelum dia sadar-diri dan mengetahui adanya kemungkinan untuk memilih dari sekian banyak alternatif tindakan yang ada, beserta seluruh godaan kejahatan yang senantiasa muncul dan kesengsaraan yang pasti akan timbul karena mengambil pilihan yang salah.

15 Lit., “atau [agar] kamu berdua [tidak] termasuk orang-orang yang kekal”: jadi, membangkitkan dalam diri mereka hasrat untuk dapat hidup abadi dan menjadi seperti Tuhan (dalam hal keabadian ini). (Lihat catatan no. 106 pada Surah TaHa [20]: 120.)


Surah Al-A’raf Ayat 21

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

wa qāsamahumā innī lakumā laminan-nāṣiḥīn

21. Dan, dia bersumpah kepada keduanya, “Sungguh, aku benar-benar termasuk mereka yang mengharapkan kebaikan bagi kalian!”


Surah Al-A’raf Ayat 22

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

fa dallāhumā bigurụr, fa lammā żāqasy-syajarata badat lahumā sau`ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil-jannah, wa nādāhumā rabbuhumā a lam an-hakumā ‘an tilkumasy-syajarati wa aqul lakumā innasy-syaiṭāna lakumā ‘aduwwum mubīn

22. —maka, setan membujuk keduanya dengan pikiran-pikiran yang menipu.

Namun, begitu keduanya telah merasakan [buah] pohon itu, mereka menjadi sadar akan ketelanjangan mereka; dan mereka mulai menutupi diri mereka dengan rerangkaian daun-daun dari taman. Kemudian, Pemelihara mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan mengatakan kepada kalian, ‘Sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian’?”


Surah Al-A’raf Ayat 23

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

qālā rabbanā ẓalamnā anfusana wa il lam tagfir lanā wa tar-ḥamnā lanakụnanna minal-khāsirīn

23. Keduanya menjawab, “Wahai, Pemelihara kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri—dan, kecuali Engkau memberi ampunan kepada kami dan melimpahkan belas kasih-Mu kepada kami, niscaya kami pastilah merugi!”


Surah Al-A’raf Ayat 24

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

qālahbiṭụ ba’ḍukum liba’ḍin ‘aduww, wa lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā’un ilā ḥīn

24. Allah berfirman, “Turunlah kalian,16 [dan selanjutnya, jadilah] musuh satu sama lain; di muka bumi, kalian mempunyai tempat tinggal dan penghidupan untuk sementara:


16 Dengan kata lain, “dari keadaan yang suci dan tanpa dosa ini”. Sebagaimana dalam cerita yang sama tentang perumpamaan Kejatuhan ini yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah [2]: 35-36, pada tahap ini, bentuk kata ganti dual {“kalian berdua”—peny.} berubah menjadi bentuk jamak {kalian—peny.} sehingga berkaitan lagi dengan ayat 10 dan permulaan ayat 11 surah ini, dan memperjelas bahwa sejarah Adam dan Hawa, pada kenyataannya, adalah sebuah alegori dari takdir manusia. Dalam keadaan tanpa dosanya yang terdahulu, manusia tidak sadar akan adanya kejahatan dan, oleh karenanya, tidak menyadari keharusan untuk senantiasa membuat pilihan di antara berbagai kemungkinan tindakan dan tingkah laku: dengan kata lain, dia hidup hanya dengan menggunakan instingnya seperti binatang lainnya. Bagaimanapun, karena keadaan tidak-berdosa ini hanya merupakan suatu kondisi dari keberadaannya, dan bukan merupakan sebuah kebajikan, hal itu menjadikan kehidupannya bersifat statis sehingga menghindarkannya dari perkembangan moral dan intelektual. Pertumbuhan kesadaran ini—yang disimbolkan dengan pembangkangan yang disengaja terhadap perintah Tuhan—telah mengubah semua itu. Kesadaran ini mengubahnya dari makhluk yang hanya mengandalkan insting menjadi entitas manusia yang utuh sebagaimana yang kita kenal—manusia yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, dan kemudian memilih jalan hidupnya. Dalam pengertian yang lebih dalam ini, alegori tentang Kejatuhan bukanlah menggambarkan sebuah kejadian pada masa lalu, melainkan lebih merupakan penjelasan tentang tingkatan baru dari perkembangan manusia: yakni, terbukanya gerbang menuju pertimbangan moral. Dengan melarang manusia “mendekati pohon ini”, Allah memungkinkan manusia untuk melakukan perbuatan salah—dan, karena itu, juga untuk melakukan perbuatan benar: dengan demikian, manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih secara moral, hal yang membedakannya dari seluruh makhluk lainnya.

Mengenai peran setan (atau iblis) sebagai penggoda-abadi manusia, lihat catatan no. 26 pada Surah Al-Baqarah [2]: 34 dan catatan no. 31 pada Surah Al-Hijr [15]: 41.


Surah Al-A’raf Ayat 25

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

qāla fīhā taḥyauna wa fīhā tamụtụna wa min-hā tukhrajụn

25. di sanalah kalian akan hidup”—Allah menambahkan—“dan di sanalah kalian akan mati, dan dari sanalah kalian akan dibangkitkan [pada Hari Kebangkitan]!”


Surah Al-A’raf Ayat 26

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn

26. WAHAI, ANAK-ANAK ADAM! Sesungguhnya, Kami telah menurunkan kepada kalian [pengetahuan untuk membuat] pakaian guna menutupi aurat kalian, dan sebagai sesuatu yang indah:17 akan tetapi, pakaian kesadaran akan Allah itulah yang terbaik. Dalam hal ini terdapat suatu pesan dari Allah, agar manusia18 dapat merenungkannya.


17 Lit, “sebagai bulu burung”—sebuah ungkapan metaforis yang berasal dari keindahan bulu burung.

18 Lit., “ini adalah [salah satu] dari pesan-pesan Allah, agar mereka …”, dan seterusnya.


Surah Al-A’raf Ayat 27

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

yā banī ādama lā yaftinannakumusy-syaiṭānu kamā akhraja abawaikum minal-jannati yanzi’u ‘an-humā libāsahumā liyuriyahumā sau`ātihimā, innahụ yarākum huwa wa qabīluhụ min ḥaiṡu lā taraunahum, innā ja’alnasy-syayāṭīna auliyā`a lillażīna lā yu`minụn

27. Wahai, anak-anak Adam! Jangan biarkan setan membujuk kalian sebagaimana dia telah menyebabkan nenek moyang kalian keluar dari taman itu: dia tanggalkan dari keduanya pakaian [kesadaran ketuhanan] mereka, agar menjadikan keduanya menyadari ketelanjangan mereka. Sungguh, dia dan pengikut-pengikutnya menunggu-nunggu untuk menyergap kalian di suatu tempat di mana kalian tidak dapat melihat mereka!19

Sungguh, telah Kami jadikan [segala jenis] kekuatan setani itu dekat kepada orang-orang yang tidak [sungguh-sungguh] beriman;20


19 Lit., “melihat kalian dari tempat di mana kalian tidak bisa melihat mereka”.

20 Kata “sungguh-sungguh” yang disisipkan dalam ayat di atas tersirat dalam frasa ini, mengingat acuan berikutnya terhadap kepercayaan-kepercayaan batil yang dianut oleh orang-orang semacam ini: sebab, meskipun keimanan mereka batil, sebagian dari mereka menduga bahwa “perbuatan memalukan” yang disebutkan selanjutnya itu justru diperintahkan oleh Allah. Adapun mengenai “kekuatan-kekuatan setani” (syayathin), harus diingat bahwa sebutan ini diberikan oleh Al-Quran kepada segala bentuk dorongan atau kecenderungan jahat yang “dekat kepada” (yakni, ada dalam hati) orang-orang yang tidak sungguh-sungguh beriman pada Allah (lihat catatan no. 31 pada Surah Ibrahim [14]: 22): karena itu, istilah “syayathin” yang terdapat pada ayat 30 berikut ini diterjemahkan menjadi “dorongan-dorongan jahat”.


Surah Al-A’raf Ayat 28

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ ۖ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

wa iżā fa’alụ fāḥisyatang qālụ wajadnā ‘alaihā ābā`anā wallāhu amaranā bihā, qul innallāha lā ya`muru bil-faḥsyā`, a taqụlụna ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

28. dan [demikianlah,] setiap kali mereka melakukan suatu perbuatan yang memalukan, mereka biasa berkata, “Kami dapati nenek moyang kami melakukannya” dan “Allah memerintahkannya kepada kami.”

Katakan: “Perhatikanlah, tidak pernah Allah memerintahkan perbuatan buruk. Apakah kalian menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui?”


Surah Al-A’raf Ayat 29

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

qul amara rabbī bil-qisṭ, wa aqīmụ wujụhakum ‘inda kulli masjidiw wad’ụhu mukhliṣīna lahud-dīn, kamā bada`akum ta’ụdụn

29. Katakanlah: “Pemeliharaku [tidak lain hanyalah] memerintahkan untuk melakukan apa yang benar; dan [Dia menghendaki agar kalian] mengabdikan sepenuh diri kalian dalam setiap laku ibadah,21 dan berdoa menyeru kepada-Nya, tulus dalam keyakinanmu kepada Dia semata. Sebagaimana Dia-lah yang telah menciptakan kalian pada mulanya, maka [kepada-Nya-lah] kalian pun akan kembali:


21 Istilah “wajh” (lit., “wajah”) yang terdapat di sini sering digunakan dalam pengertian abstrak untuk menunjukkan keberadaan atau perhatian seseorang secara keseluruhan—contohnya, dalam frasa aslamtu wajhiya li Allah, “Aku telah menyerahkan diriku seutuhnya kepada Allah” (Surah Al-‘Imran [3]: 20). Kata masjid, yang biasanya menunjukkan waktu atau tempat sujud ketika shalat (sujud), dalam konteks ini jelas menunjukkan—sebagaimana dalam ayat 31 surah ini—segala kegiatan ibadah.


Surah Al-A’raf Ayat 30

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ ۗ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

farīqan hadā wa farīqan ḥaqqa ‘alaihimuḍ-ḍalālah, innahumuttakhażusy-syayāṭīna auliyā`a min dụnillāhi wa yaḥsabụna annahum muhtadụn

30. sebagian [dari kalian] akan Dia anugerahi petunjuk-Nya, sedangkan bagi sebagian yang lain, penyimpangan dari jalan yang benar tak akan dapat di hindari:22 sebab, perhatikanlah, mereka akan menjadikan dorongan-dorongan jahat [dalam diri mereka sendiri], alih-alih Allah, sebagai tuan-tuan penguasa mereka, seraya menyangka bahwa selama ini mereka telah menemukan jalan yang benar!”


22 Lit., akan menjadi wajib atas mereka (haqqa ‘alaihim)”. Artinya, penyimpangan ini merupakan akibat yang tidak terelakkan dari perbuatan dan sikap mereka sendiri.


Surah Al-A’raf Ayat 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

yā banī ādama khużụ zīnatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulụ wasyrabụ wa lā tusrifụ, innahụ lā yuḥibbul-musrifīn

31. WAHAI, ANAK-ANAK ADAM! Perindahlah diri kalian23 dalam setiap laku ibadah* dan makan serta minumlah [sesukamu], tetapi janganlah boros: sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang boros!


23 Lit., “pakailah perhiasan kalian (zinah)”. Menurut Raghib (seperti dikutip dalam Lane III, h. 1279), makna yang tepat dari zinah adalah “sesuatu [yang memperindah] yang tidak memalukan atau menjadikan tidak pantas … baik di dunia ini maupun di akhirat nanti”: jadi, hal itu menunjukkan segala sesuatu yang indah, baik dalam arti fisik maupun moral.

* {Lit., “setiap memasuki masjid”. Lihat catatan no. 21 sebelumnya.—AM}


Surah Al-A’raf Ayat 32

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

qul man ḥarrama zīnatallāhillatī akhraja li’ibādihī waṭ-ṭayyibāti minar-rizq, qul hiya lillażīna āmanụ fil-ḥayātid-dun-yā khāliṣatay yaumal-qiyāmah, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya’lamụn

32. Katakanlah: “Siapa yang mengharamkan keindahan yang telah Allah keluarkan untuk makhluk-makhluk-Nya, dan rezeki yang baik-baik?”

Katakanlah: “Semuanya itu [halal] dalam kehidupan dunia ini bagi orang-orang yang telah meraih iman—diperuntukkan bagi mereka saja pada Hari Kebangkitan.”24

Demikianlah, Kami jelaskan pesan-pesan ini kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan**]!


24 Dengan menyatakan bahwa segala hal yang baik dan indah dalam kehidupan—yakni, hal-hal yang tidak diharamkan—adalah halal bagi orang beriman, Al-Quran secara tersirat mengutuk segala bentuk asketisisme yang menolak kehidupan, menjauhi dunia, dan tindakan menghukum diri sendiri. Jika di dunia ini semua hal yang baik-baik itu sama-sama dinikmati oleh orang beriman dan orang tidak beriman, pada kehidupan akhirat nanti hal-hal itu tidak akan dinikmati oleh orang yang tidak beriman (bdk. ayat 50-51 surah ini).

** {[innate] knowledge: pengetahuan fitrah, bawaan sejak lahir. Lihat catatan no. 139 surah ini dan Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19.—peny.}


Surah Al-A’raf Ayat 33

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

qul innamā ḥarrama rabbiyal-fawāḥisya mā ẓahara min-hā wa mā baṭana wal-iṡma wal-bagya bigairil-ḥaqqi wa an tusyrikụ billāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānaw wa an taqụlụ ‘alallāhi mā lā ta’lamụn

33. Katakanlah: “Sungguh, Pemeliharaku hanyalah mengharamkan perbuatan-perbuatan memalukan, baik yang terbuka maupun yang rahasia, dan [setiap jenis] perbuatan dosa, dan iri-dengki yang tidak dibenarkan, dan penisbahan ketuhanan kepada apa pun selain Allah—sebab, Dia tidak pernah menurunkan alasan pembenaran apa pun untuk itu—dan penisbahan terhadap Allah apa pun yang tidak kalian ketahui.”


Surah Al-A’raf Ayat 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

wa likulli ummatin ajal, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn

34. Dan, bagi setiap kaum, suatu batas-waktu telah ditentukan:25 maka, tatkala datang [akhir] batas-waktu mereka, mereka tidak dapat menundanya walaupun sesaat,26 dan tidak pula dapat mempercepatnya.


25 Lit., “untuk setiap umat (community), ada suatu batas-waktu”: yakni, semua manusia mempunyai batas kehidupan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dalam jangka waktu itu, mereka bebas untuk menerima atau menolak petunjuk yang diberikan kepada mereka melalui wahyu. Istilah ummah sering menunjukkan “makhluk-makhluk hidup” (living beings)—daIam konteks ini, “kaum” (people).

26 Dalam penggunaan bahasa Arab, istilah sa’ah (lit., “saat”, “waktu”) menunjukkan tidak hanya waktu astronomik—yakni 24 jam sehari semalam menurut perhitungan matahari—tetapi juga “waktu” dalam pengertian absolut, atau satuan waktu apa pun, baik besar ataupun kecil. Dalam konteks di atas, jelas-jelas ia digunakan dalam pengertian “satuan terkecil waktu” atau “sesaat”.


Surah Al-A’raf Ayat 35

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

yā banī ādama immā ya`tiyannakum rusulum mingkum yaquṣṣụna ‘alaikum āyātī fa manittaqā wa aṣlaḥa fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

35. WAHAI, ANAK-ANAK ADAM! Manakala datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian, yang menyampaikan pesan-pesan-Ku kepada kalian, maka semua yang sadar kepada-Ku dan menjalani hidup dengan saleh—tidak perlu mereka takut, dan tiada pula mereka akan bersedih hati;


Surah Al-A’raf Ayat 36

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā wastakbarụ ‘an-hā ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

36. tetapi, mereka yang mendustakan pesan-pesan Kami dan meremehkannya karena kesombongan mereka—orang-orang inilah yang ditetapkan di neraka, berkediaman di dalamnya.


Surah Al-A’raf Ayat 37

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ أُولَٰئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, ulā`ika yanaluhum naṣībuhum minal-kitāb, ḥattā iżā jā`at-hum rusulunā yatawaffaunahum qālū aina mā kuntum tad’ụna min dụnillāh, qālụ ḍallụ ‘annā wa syahidụ ‘alā anfusihim annahum kānụ kāfirīn

37. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menisbahkan rekaan-rekaan dusta mereka itu sendiri kepada Allah atau mendustakan pesan-pesan-Nya? Apa pun yang telah ditetapkan untuk menjadi bagian mereka [dalam kehidupan] akan menjadi milik mereka27—hingga datanglah kepada mereka utusan-utusan Kami yang akan menjadikan mereka mati, [dan] akan berkata, “Di manakah kini makhluk-makhluk yang biasa kalian seru di samping Allah?”

Dan, [pendosa-pendosa itu] akan menjawab, “Mereka telah meninggalkan kami!”—dan [demikianlah] mereka akan menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka telah mengingkari kebenaran.


27 Lit, “bagian mereka dari kitab [Ilahi] (al-kitab) akan sampai pada mereka”: yakni, selama kehidupan mereka, sebagaimana manusia lainnya, mereka akan menerima segala nasib baik dan buruk yang telah tergambarkan sebelumnya dalam ketentuan-ketentuan abadi yang ditetapkan oleh Allah. “Utusan-utusan” (rusul) pada klausa selanjutnya, tampaknya, merujuk pada malaikat-malaikat maut. 


Surah Al-A’raf Ayat 38

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

qāladkhulụ fī umaming qad khalat ming qablikum minal-jinni wal-insi fin-nāri kullamā dakhalat ummatul la’anat ukhtahā, ḥattā iżad dārakụ fīhā jamī’ang qālat ukhrāhum li`ụlāhum rabbanā hā`ulā`i aḍallụnā fa ātihim ‘ażāban ḍi’fam minan-nār, qāla likullin ḍi’fuw wa lākil lā ta’lamụn

38. [Dan, Allah] akan berfirman, “Bergabunglah bersama rombongan makhluk-makhluk gaib dan manusia yang telah berlalu sebelum kalian ke dalam api neraka!”

[Dan,] setiap kali suatu rombongan memasuki [api neraka], rombongan itu akan mengutuk rombongan lainnya—sedemikian rupa sehingga tatkala mereka telah masuk semuanya, beriring-iringan, rombongan terakhir dari mereka akan berkata [demikian] tentang rombongan pertama,28 “Wahai, Pemelihara kami! Merekalah yang telah menyesatkan kami: karena itu, berikanlah kepada mereka derita api neraka yang berlipat ganda!”

Dia akan menjawab, “Masing-masing di antara kalian mendapatkan penderitaan yang berlipat ganda29—tetapi kalian tidak mengetahuinya.”


28 Istilah “yang pertama” (ula) dan “yang terakhir” (ukhra) di sini merujuk pada salah satu dari dua hal, yakni urutan berdasarkan waktu (“mereka yang datang terlebih dahulu” dan “mereka yang datang terkemudian”) atau urutan berdasarkan status (“pemimpin” dan “pengikut”); dan dalam kedua kasus ini, keduanya sangat berkaitan, seperti ditunjukkan dalam kalimat berikutnya, dengan pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh para pemimpin itu terhadap pengikutnya di dunia—apakah secara langsung, karena kedudukan mereka sebagai tokoh pemikiran dan orang yang terkemuka, ataupun secara tak langsung, karena mereka hidup lebih dahulu sehingga teladannya diikuti oleh generasi-generasi terkemudian.

29 Lit., “bagi setiap orang, [derita yang] berlipat ganda”: yakni, karena telah sesat dan menyesatkan orang lain karena contoh yang diberikannya. Bdk. Surah An-Nahl [16]: 25: “pada Hari Kebangkitan, mereka akan memikul penuh beban mereka sendiri, serta memikul sebagian beban orang-orang tidak berpengetahuan yang telah mereka sesatkan”.


Surah Al-A’raf Ayat 39

وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

wa qālat ụlāhum li`ukhrāhum fa mā kāna lakum ‘alainā min faḍlin fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum taksibụn

39. Dan, rombongan pertama dari antara mereka akan berkata kepada rombongan terakhir, “Kalian sarna sekali tidak memiliki kelebihan apa pun atas kami!30 Maka, rasakanlah penderitaan ini karena segala [keburukan] yang dahulu biasa kalian lakukan!”


30 Yakni, “Kalian, sebagaimana kami, mengambil jalan yang salah karena pilihan bebas kalian sendiri dan kalian menanggung beban pertanggungjawaban yang sama sebagaimana kami”. Penafsiran lain yang mungkin adalah: “Kalian tidaklah lebih unggul daripada kami karena kalian tidak belajar dari kesalahan-kesalahan kami”.


Surah Al-A’raf Ayat 40

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

innallażīna każżabụ bi`āyātinā wastakbarụ ‘an-hā lā tufattaḥu lahum abwābus-samā`i wa lā yadkhulụnal-jannata ḥattā yalijal-jamalu fī sammil-khiyāṭ, wa każālika najzil-mujrimīn

40. SUNGGUH, bagi orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami dan meremehkannya karena kesombongan mereka, pintu-pintu gerbang surga tidak akan dibukakan;31 dan mereka tidak akan masuk surga sebagaimana mustahilnya tali yang tersimpul dapat masuk melalui lubang jarum:32 sebab, demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang tenggelam dalam dosa.


31 Menurut Ibn ‘Abbas (sebagaimana dikutip Al-Razi), metafora ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan baik apa pun dari para pendosa semacam itu, dan tidak pula akan menerima permohonan mereka selanjutnya.

32 Lit., “hingga (hatta) sebuah tali yang tersimpul masuk melewati lubang jarum”; karena frasa ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kemustahilan, penerjemahan hatta di sini menjadi “sebagaimana mustahilnya” {any more than} tampaknya berterima. Adapun mengenai kata jamal yang terdapat dalam kalimat ini, hampir tidak ada keraguan bahwa terjemahannya dalam konteks ini menjadi “unta” adalah keliru. Sebagaimana diungkapkan oleh Al-Zamakhsyari (dan dikuatkan oleh para mufasir klasik, termasuk Al-Razi), Ibn ‘Abbss biasa melafalkannya jummal, yang berarti “tali yang besar” atau “tali yang tersimpul”, dan dikatakan bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib juga melafalkannya demikian (Taj Al ‘Arus). Hendaknya diperhatikan bahwa kata ini memiliki beberapa ragam ejaan, yakni jumal, juml, jumul, dan akhirnya jamal (sebagaimana dalam versi Al-Quran yang diterima secara umum)—yang kesemuanya menunjukkan “tali yang besar dan tersimpul” (Al-Jauhari), dan kesemuanya digunakan dalam pengertian ini oleh beberapa Sahabat Nabi dan para generasi penerus setelahnya (tabi’in). Al-Zamakhsyari juga mengutip Ibn ‘Abbas yang dikabarkan berkata bahwa Allah tidak mungkin telah menciptakan suatu perumpamaan yang tidak pantas seperti itu, yakni “seekor unta melewati lubang jarum”—artinya, tidak ada hubungan apa pun antara unta dan lubang jarum, padahal, di sisi lain, terdapat hubungan yang jelas antara lubang jarum dan tali (yang bagaimanapun, merupakan benang yang sangat tebal). Karena itu, berdasarkan segala keterangan ini, kata jamal dalam konteks di atas jauh lebih tepat diterjemahkan menjadi “tali yang tersimpul” daripada “seekor unta”. Fakta bahwa terjemahan “unta” itu terdapat dalam frasa yang serupa dalam injil Sinoptik versi bahasa Yunani (Matius 19: 24, Markus 10: 25, dan Lukas 18: 25) tidaklah memengaruhi pernyataan ini. Perlu diingat bahwa Kitab Injil pada mulanya ditulis dalam bahasa Aram—bahasa Palestina pada zaman Nabi Isa a.s.—dan naskah-naskah dalam bahasa Aram itu kini telah hilang. Sangat mungkin bahwa, karena tiadanya tanda-tanda huruf vokal dalam penulisan bahasa Aram, para penerjemah Injil ke dalam bahasa Yunani itu salah memahami pengejaan konsonan g-m-l (yang sejajar dengan ejaan dalam bahasa Arab j-m-l), dan memahaminya sebagai “seekor unta”: suatu kesalahan yang sejak saat itu terus diulangi—berkenaan dengan penerjemahan ayat Al-Quran di atas—oleh banyak Muslim maupun oleh semua orientalis non-Muslim.


Surah Al-A’raf Ayat 41

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

lahum min jahannama mihāduw wa min fauqihim gawāsy, wa każālika najziẓ-ẓālimīn

41. Neraka akan menjadi tempat peristirahatan mereka dan menjadi selubung mereka pula:33 sebab; demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim.


33 Lit., “untuk mereka, akan ada tempat peristirahatan dari [api] neraka dan, dari atas mereka, selubung-selubung [dari-nya, yakni, yang berasal dari api itu]”.


Surah Al-A’raf Ayat 42

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lā nukallifu nafsan illā wus’ahā ulā`ika aṣ-ḥābul-jannah, hum fīhā khālidụn

42. Namun, orang-orang yang meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan—[dan] Kami tidak membebani seorang manusia pun melebihi kemampuannya—mereka ditetapkan di surga, berkediaman di dalamnya,


Surah Al-A’raf Ayat 43

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa naza’nā mā fī ṣudụrihim min gillin tajrī min taḥtihimul-an-hār, wa qālul-ḥamdu lillāhillażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh, laqad jā`at rusulu rabbinā bil-ḥaqq, wa nụdū an tilkumul-jannatu ụriṡtumụhā bimā kuntum ta’malụn

43. setelah Kami hilangkan pikiran atau perasaan apa pun yang tidak berguna* yang mungkin pernah ada [melekat] dalam dada-dada mereka. Sungai-sungai akan mengalir di bawah kaki mereka;34 dan mereka akan berkata, “Segala puji bagi Allah, yang telah menunjuki kami kepada ini; sebab, kami pasti tidak akan menemukan jalan yang benar sekiranya Allah tidak menunjuki kami! Sungguh, rasul-rasul Pemelihara kami telah menyampaikan kebenaran kepada kami!”

Dan, [sebuah suara] akan berseru kepada mereka, “Inilah surga yang diwariskan kepada kalian berkat amal-amal kalian dahulu!”


* {Lit., “dendam”.—AM}

34 Lit., “di bawah mereka”: yakni, seluruh nikmat akan berada di bawah kekuasaan mereka {yakni, diberikan mengikuti kehendak mereka sendiri—peny.}.


Surah Al-A’raf Ayat 44

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۖ قَالُوا نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

wa nādā aṣ-ḥābul-jannati aṣ-ḥāban-nāri ang qad wajadnā mā wa’adanā rabbunā ḥaqqan fa hal wajattum mā wa’ada rabbukum ḥaqqā, qālụ na’am, fa ażżana mu`ażżinum bainahum al la’natullāhi ‘alaẓ-ẓālimīn

44. Dan, penghuni-penghuni surga akan berseru kepada penghuni-penghuni neraka, “Kini kami telah mendapati bahwa apa yang telah dijanjikan oleh Pemelihara kami benar adanya; apakah kalian juga telah mendapati apa yang telah dijanjikan oleh Pemelihara kalian kepada kalian benar adanya?”

[Penghuni yang lain] akan menjawab, “Betul!”—kemudian dari tengah-tengah mereka, sebuah suara35 akan menyatakan dengan keras, “Penolakan Allah adalah balasan bagi orang-orang zalim


35 Lit., “seorang penyeru” (mu’adzdzin).


Surah Al-A’raf Ayat 45

الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ كَافِرُونَ

allażīna yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wa yabgụnahā ‘iwajā, wa hum bil-ākhirati kāfirụn

45. yang memalingkan orang lain dari jalan Allah dan berusaha menjadikannya tampak bengkok,* dan yang menolak untuk mengakui kebenaran kehidupan akhirat!”


* {Adalah terjemahan Asad untuk yashudduna ‘an sabil al-Allah. Lit., “menghalang-halangi dari jalan Allah”.—AM}


Surah Al-A’raf Ayat 46

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ ۚ وَعَلَى الْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ ۚ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

wa bainahumā ḥijāb, wa ‘alal-a’rāfi rijāluy ya’rifụna kullam bisīmāhum, wa nādau aṣ-ḥābal-jannati an salāmun ‘alaikum, lam yadkhulụhā wa hum yaṭma’ụn

46. Dan, di antara keduanya akan ada pembatas.36

Dan, akan ada orang-orang yang [dalam kehidupan dunia] dianugerahi dengan kemampuan-mengenali [antara kebenaran dan kesalahan], mengenalinya masing-masing melalui tandanya.37 Dan, mereka akan berseru kepada penghuni surga, “Semoga kedamaian tercurah atas kalian!”—mereka belum memasukinya, tetapi mereka merindukan [surga itu].


36 Kata hijab menunjukkan apa pun yang berperan sebagai pembatas antara benda-benda atau yang menyembunyikan sesuatu hal dari hal lain; ia digunakan baik dalam pengertian abstrak maupun konkret.

37 Istilah al-a’raf yang dijadikan sebagai nama surah ini disebut dua kali—yakni, pada ayat 46 dan 48. Ia adalah bentuk jamak dari ‘urf, yang terutama berarti “pengakuan” atau “pengenalan” dan sering juga digunakan untuk menunjukkan bagian yang tertinggi atau termulia dari sesuatu (karena bagian itulah yang paling mudah dikenali): sebagai contoh, ‘urf seekor ayam adalah jambulnya, ‘urf pada seekor kuda adalah surainya, dan seterusnya. Berdasarkan penggunaan idiomatik ini, banyak mufasir mengasumsikan bahwa kata a’raf di sini mengacu pada “tempat-tempat yang tinggi”, seperti puncak dinding atau benteng dan menyamakannya dengan “pembatas” (hijab) yang disebutkan dalam ayat 46. Namun, penafsiran yang mungkin jauh lebih baik adalah yang bersumber dari makna dasar kata ‘urf dan bentuk jamaknya (a’raf): yakni, “pengenalan” dan “kemampuan mengenali”. Penafsiran ini dianut oleh beberapa mufasir besar pada masa awal, seperti Hasan Al-Bashri dan Al-Zajjaj, yang pendapatnya dikutip dan jelas-jelas disetujui oleh Al-Razi. Mereka menyatakan dengan tegas bahwa ungkapan ‘ala al-a’raf sama dengan ‘ala al-ma’rifah, yang berarti “memiliki pengetahuan” atau “diberkahi dengan kemampuan mengenali” (yakni antara yang benar dan yang salah); dan bahwa orang-orang yang digambarkan demikian adalah mereka yang dalam kehidupannya mampu membedakan antara yang benar dan yang salah (“mengenalinya masing-masing melalui tandanya”), tetapi tidak dengan tegas cenderung kepada mana pun dari keduanya: singkatnya, orang-orang yang acuh tak acuh. Sikap setengah-setengah mereka telah menghalangi mereka dari melakukan banyak kebaikan ataupun banyak keburukan—walhasil, sebagaimana terlihat di ayat selanjutnya, mereka tak berhak mendapat surga maupun neraka. (Sejumlah hadis yang menyatakan hal ini dikutip oleh Al-Thabari serta Ibn Katsir dalam tafsir mereka terhadap ayat ini.)

Nomina rijal (lit., laki-laki) di awal kalimat selanjutnya—sebagaimana di ayat 48—jelas menunjukkan “manusia” dari kedua jenis kelamin.


Surah Al-A’raf Ayat 47

وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ قَالُوا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa iżā ṣurifat abṣāruhum tilqā`a aṣ-ḥābin-nāri qālụ rabbanā lā taj’alnā ma’al-qaumiẓ-ẓālimīn

47. Dan, manakala pandangan mereka dialihkan ke arah para penghuni neraka, mereka akan berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim!”


Surah Al-A’raf Ayat 48

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ قَالُوا مَا أَغْنَىٰ عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ

wa nādā aṣ-ḥābul-a’rāfi rijālay ya’rifụnahum bisīmāhum qālụ mā agnā ‘angkum jam’ukum wa mā kuntum tastakbirụn

48. Dan, orang-orang yang [dalam kehidupan dunia] telah memiliki kemampuan-mengenali ini akan berseru kepada orang-orang yang mereka kenali dari tandanya [sebagai orang yang berdosa], dengan berkata, “Manfaat apakah yang kalian peroleh dari tindakan kalian mengumpul-ngumpulkan [harta], dan dari segala kebanggaan batil di masa silam kalian?**


** {Dalam terjemahan Al-Quran Depag RI, frasa ini diterjemahkan menjadi “Harta yang kamu kumpulkan dan selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu”. Perbedaan ini disebabkan adanya dua makna kata ma: terjemahan Al-Quran Depag RI memahami ma dengan ma nafiy (yang berarti “tidak”), sedangkan Asad memahami ma dengan ma li al-istifham (untuk kalimat tanya); dalam ayat di atas, kata ma diterjemahkan menjadi pertanyaan retoris, sehingga pada akhirnya juga menunjukkan makna negasi.— AM}


Surah Al-A’raf Ayat 49

أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ

a hā`ulā`illażīna aqsamtum lā yanaluhumullāhu biraḥmah, udkhulul-jannata lā khaufun ‘alaikum wa lā antum taḥzanụn

49. Mereka [yang mendapat berkah] itukah orang-orang yang sama dengan orang-orang yang telah kalian nyatakan dengan yakin bahwa, ‘Allah tidak akan pernah menurunkan rahmat-Nya kepada mereka’?38 [Karena kini telah dikatakan kepada mereka:] ‘Masuklah ke dalam surga, engkau tidak perlu takut, dan engkau tidak pula akan bersedih hati!’”


38 Menunjukkan bahwa orang-orang beriman tidak mendapat rahmat Allah atau bahwa Tuhan tidak ada. Ungkapan “kalian nyatakan dengan yakin” (lit., “kalian berkata di bawah sumpah”) adalah suatu metafora bagi pendirian teguh orang-orang yang tidak beriman tentang hal ini.


Surah Al-A’raf Ayat 50

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

wa nādā aṣ-ḥābun-nāri aṣ-ḥābal-jannati an afīḍụ ‘alainā minal-mā`i au mimmā razaqakumullāh, qālū innallāha ḥarramahumā ‘alal-kāfirīn

50. Dan, para penghuni neraka akan berseru kepada para penghuni surga, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau sebagian dari rezeki [surga] yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian!”

[Para penghuni surga] akan menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran—


Surah Al-A’raf Ayat 51

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

allażīnattakhażụ dīnahum lahwaw wa la’ibaw wa garrat-humul-ḥayātud-dun-yā, fal-yauma nansāhum kamā nasụ liqā`a yaumihim hāżā wa mā kānụ bi`āyātinā yaj-ḥadụn

51. mereka yang, (karena) diperdaya oleh kehidupan dunia ini, telah menjadikan permainan dan kesenangan sementara sebagai agama mereka!”39

[Dan, Allah akan berfirman,] “Dan, demikianlah Kami melupakan mereka pada hari ini sebagaimana mereka melupakan datangnya Hari [Pengadilan] mereka ini, dan sebagaimana mereka mengingkari pesan-pesan Kami:


39 Lihat Surah Al-An’am [6]: 70 dan catatan no. 60 yang terkait.


Surah Al-A’raf Ayat 52

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa laqad ji`nāhum bikitābin faṣṣalnāhu ‘alā ‘ilmin hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

52. sebab, sungguh, Kami telah menyampaikan kepada mereka sebuah kitab Ilahi yang telah Kami uraikan secara jelas dan bijak40—sebuah petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang akan beriman.”


40 Lit., “dengan pengetahuan”.


Surah Al-A’raf Ayat 53

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ ۚ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ قَدْ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

hal yanẓurụna illā ta`wīlah, yauma ya`tī ta`wīluhụ yaqụlullażīna nasụhu ming qablu qad jā`at rusulu rabbinā bil-ḥaqq, fa hal lanā min syufa’ā`a fa yasyfa’ụ lanā au nuraddu fa na’mala gairallażī kunnā na’mal, qad khasirū anfusahum wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

53. Bukankah [orang-orang yang tidak beriman itu] tidak lain hanyalah menanti-nanti terungkapnya makna pamungkas dari [Hari Pengadilan] itu?41 [Namun,] pada Hari ketika makna pamungkasnya terungkap, berkatalah orang-orang yang dahulu melupakannya, “Rasul-rasul Pemelihara kami benar-benar telah mengatakan kebenaran kepada kami! Maka, adakah bagi kami pemberi syafaat yang dapat membela kami? Atau, dapatkah kami dikembalikan lagi [ke dunia] sehingga kami dapat beramal yang Iain daripada yang biasa kami amalkan?”42

Sesungguhnya, mereka telah menyia-nyiakan diri mereka sendiri dan segala rekaan-rekaan batil mereka akan meninggalkan mereka.


41 Secara literal, ta’wil berarti “suatu usaha untuk sampai pada makna pamungkas/hakiki [dari suatu perkataan atau kejadian”]—bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 7. Dalam konteks ini, istilah ta’wil berarti terwujudnya peringatan-peringatan yang terdapat dalam AI-Quran: dan dalam pengertian ini, ia berkonotasi dengan “penyingkapan makna pamungkasnya”.

42 Bdk. Surah Al-An’am [6]. 27-28.


Surah Al-A’raf Ayat 54

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

inna rabbakumullāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, yugsyil-lailan-nahāra yaṭlubuhụ ḥaṡīṡaw wasy-syamsa wal-qamara wan-nujụma musakhkharātim bi`amrihī alā lahul-khalqu wal-amr, tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn

54. SUNGGUH, pemelihara kalian adalah Allah yang telah menciptakan lelangit dan bumi dalam enam masa, dan bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya.43 Dia menyelimuti siang dengan malam yang mengikutinya dengan cepat seraya matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya: duhai, sungguh, milik-Nya-lah segala penciptaan dan segala perintah. Mahasuci-lah Allah, Pemelihara seluruh alam!


43 Partikel konjungtif “tsumma” yang mendahului klausa ini tidak selalu menunjukkan urutan waktu (“kemudian” atau “Ialu”). Dalam kasus ketika ia digunakan untuk menghubungkan pernyataan yang sejajar, ia sering berfungsi sebagai kata sambung wa (“dan”)—seperti, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 29 (“dan telah menerapkan rancangan-Nya di langit …”, dst.). Berkenaan dengan istilah ‘arsy (lit., “singgasana” atau “kursi kekuasaan”), semua mufasir Muslim, baik yang klasik maupun yang modern, sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa penggunaan metaforiknya dalam Al-Quran dimaksudkan untuk mengungkapkan kekuasaan mutlak Allah terhadap makhluk-Nya. Patut diperhatikan bahwa dalam ketujuh ayat Al-Quran tempat Allah digambarkan sebagai “bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya” (Surah Al-A’raf [7]: 54, Surah Yunus [10]: 3, Surah Ar-Ra’d [13]: 2, Surah TaHa [20]: 5, Surah Al-Furqan [25]: 59, Surah As-Sajdah [32]: 4, dan Surah Al-Hadid [57]: 4), ungkapan ini berkaitan dengan pernyataan bahwa Dia-lah yang telah menciptakan alam semesta.

Kata yaum, yang umumnya diterjemahkan menjadi “hari” tetapi dalam kalimat di atas diterjemahkan menjadi “masa” (aeon)—digunakan dalam Bahasa Arab untuk menunjukkan sembarang periode, baik yang sangat lama (“masa”, aeon) maupun yang sangat pendek (“sesaat”): “hari” bumi yang 24 jam lamanya itu hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak makna yang dikandungnya. (Dalam hal ini, bdk. catatan no. 26 surah ini, yang di dalamnya dijelaskan makna “sa’ah“, yang secara harfiah berarti “saat”, “waktu” [hour].)


Surah Al-A’raf Ayat 55

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

ud’ụ rabbakum taḍarru’aw wa khufyah, innahụ lā yuḥibbul-mu’tadīn

55. Berdoalah kepada Pemelihara kalian dengan merendahkan diri, dan dalam kerahasiaan hati kalian. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas-batas apa yang benar:


Surah Al-A’raf Ayat 56

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

wa lā tufsidụ fil-arḍi ba’da iṣlāḥihā wad’ụhu khaufaw wa ṭama’ā, inna raḥmatallāhi qarībum minal-muḥsinīn

56. karena itu, janganlah menyebarkan kerusakan di muka bumi setelah ia sudah sedemikian teraturnya.* Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan rindu: sungguh, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebajikan!


* {Ini adalah terjemahan Asad untuk frasa ba’da ishlahiha. Nomina abstrak (mashdar) ishlah berakar kata ashlaha yang berarti membuat sesuatu menjadi baik (memperbaiki). Dalam Al-Quran Depag RI, frasa tersebut diterjemahkan menjadi “Sesudah (Allah) memperbaikinya (membuatnya menjadi baik)”, dalam pengertian lain, “demikian teratur”. Karena dalam ayat ini yang digunakan adalah bentuk mashdar dan bukan verbs (fi’l), agaknya penerjemahan Asad lebih tepat.—AM}


Surah Al-A’raf Ayat 57

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

wa huwallażī yursilur-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, ḥattā iżā aqallat saḥāban ṡiqālan suqnāhu libaladim mayyitin fa anzalnā bihil-mā`a fa akhrajnā bihī ming kulliṡ-ṡamarāt, każālika nukhrijul-mautā la’allakum tażakkarụn

57. Dan, Dia-lah yang mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira tentang kedatangan rahmat-Nya—sehingga, tatkala angin itu membawa awan-awan mendung, Kami dapat menghalaunya menuju tanah yang tandus dan, dengan demikian, menjadikan hujan turun; dan dengan cara inilah Kami tumbuhkan berbagai macam buah. Seperti itulah akan Kami bangkitkan orang-orang yang telah mati: [dan hal ini] hendaknya kalian ingat.44


44 Ini merupakan kalimat-kunci dari rangkaian perumpamaan yang dikemukakan dalam ayat 57-58: dengan kekuasaan-menghidupkan yang sama yang digunakan Allah untuk menumbuhkan tanam-tanaman, pada akhir masa, Dia juga akan membangkitkan manusia yang mati*. Kalimat berikutnya melanjutkan perumpamaan tersebut dengan menyatakan bahwa orang-orang yang hatinya terbuka terhadap suara kebenaran adalah bagaikan tanah yang subur dan orang-orang yang berkukuh mengingkarinya adalah bagaikan tanah yang tandus.

* {Verba kharaja (lit., “dia telah keluar”) dan berbagai variasinya (akhrajna, yakhruju) yang terdapat dalam ayat 57-58 diterjemahkan secara konsisten oleh Asad ke dalam Bahasa Inggris dengan kata come forth (jadi: “fa akhrajna … tsamaratin” menjadi “cause … fruit to come forth“; “nukhriju al mauta” menjadi “cause the dead to come forth“; “yakhruju nabatuhu” menjadi “its vegetation comes forth“. Nuansa pengulangan kata kharaja (sebanyak empat kali dengan berbagai variasinya) pada ayat 57-58—yang dengan baik dipertahankan oleh Asad dalam terjemahan Inggrisnya (dengan diksi “come forth“)—terpaksa hilang ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia karena tiadanya satu frasa yang tepat yang dapat digunakan sekaligus untuk “buah dan tanaman” dan “orang mati” (“membangkitkan tanaman/buah” atau “menumbuhkan orang mati” terasa janggal).—peny.}


Surah Al-A’raf Ayat 58

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

wal-baladuṭ-ṭayyibu yakhruju nabātuhụ bi`iżni rabbih, wallażī khabuṡa lā yakhruju illā nakidā, każālika nuṣarriful-āyāti liqaumiy yasykurụn

58. Adapun tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh [dengan melimpah] dengan seizin Pemeliharanya; sedangkan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.

Demikianlah, Kami jadikan pesan-pesan Kami memiliki banyak sisi untuk [memberi manfaat bagi] orang-orang yang bersyukur!


Surah Al-A’raf Ayat 59

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī fa qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

59. SESUNGGUHNYA, telah Kami utus Nuh kepada kaumnya45 dan dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah saja: kalian tidak punya tuhan selain Dia. Sungguh, aku takut kalau-kalau penderitaan menimpa kalian pada suatu Hari yang dahsyat!”46


45 Sebagai kelanjutan dari penekanan, dalam rangkaian ayat sebelumnya, terhadap kemahakuasaan Allah dan keesaan-Nya yang transenden, ayat 59-93 merujuk pada sejumlah rasul terdahulu, yang menyampaikan kebenaran yang sama, dan yang nama-namanya sudah dikenal di kalangan bangsa Arab sebelum turunnya Al-Quran. Di sini, kisah-kisah mereka—yang dimulai dari kisah Nabi Nuh a.s., yang dianggap sebagai rasul pertama yang diutus kepada umat manusia—hanya dibatasi pada gagalnya peringatan-peringatan mereka untuk mengajak manusia agar menyembah Allah semata dan agar menjalani hidup yang saleh.

46 Ini merujuk pada Hari Pengadilan atau pada banjir besar yang akan menimpa mereka.


Surah Al-A’raf Ayat 60

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qālal-mala`u ming qaumihī innā lanarāka fī ḍalālim mubīn

60. Pembesar-pembesar kaumnya menjawab, “Sungguh, kami memandang bahwa engkau jelas-jelas tenggelam dalam kesesatan!”


Surah Al-A’raf Ayat 61

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qāla yā qaumi laisa bī ḍalālatuw wa lākinnī rasụlum mir rabbil-‘ālamīn

61. [Nuh] menjawab, “Wahai, kaumku! Tiada kesesatan padaku, tetapi aku adalah (rasul) utusan dari Pemelihara seluruh alam.


Surah Al-A’raf Ayat 62

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

uballigukum risālāti rabbī wa anṣaḥu lakum wa a’lamu minallāhi mā lā ta’lamụn

62. Kusampaikan kepada kalian pesan-pesan Pemeliharaku dan kuberikan kepada kalian nasihat yang baik: sebab, aku mengetahui dari Allah [melalui wahyu] apa yang tidak kalian ketahui.


Surah Al-A’raf Ayat 63

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

a wa ‘ajibtum an jā`akum żikrum mir rabbikum ‘alā rajulim mingkum liyunżirakum wa litattaqụ wa la’allakum tur-ḥamụn

63. Mengapa, apakah kalian heran bahwa suaru berita dari Pemelihara kalian datang kepada kalian dengan perantaraan seorang laki-laki dari golongan kalian sendiri agar dia dapat memperingatkan kalian, dan agar kalian menjadi sadar akan Allah, dan agar kalian dirahmati dengan belas kasih-Nya?”


Surah Al-A’raf Ayat 64

فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا عَمِينَ

fa każżabụhu fa anjaināhu wallażīna ma’ahụ fil-fulki wa agraqnallażīna każżabụ bi`āyātinā, innahum kānụ qauman ‘amīn

64. Sungguhpun begitu, mereka mendustakannya! Dan kemudian, Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera; sedangkan, mereka yang mendustakan pesan-pesan Kami, Kami jadikan tenggelam: sungguh, mereka adalah kaum yang buta!47


47 Ketika menjelaskan ayat ini dalam terjemahan Al-Quran-nya, Muhammad ‘Ali secara tepat menunjukkan bahwa Al-Quran “tidak mendukung teori banjir besar yang melanda seluruh bumi karena ia sangat jelas menyatakan … bahwa hanya kaum Nabi Nuh a.s.-lah yang menyebutnya sebagai seorang pendusta, dan … {hanya merekalah yang—peny.} ditenggelamkan …. Karena itu, banjir besar tersebut hanya menimpa negeri tempat kaum Nabi Nuh a.s. tinggal, tidak melanda seluruh dunia, sebagaimana dalam keterangan Bibel.” Dapat pula ditambahkan bahwa peristiwa banjir besar yang disebutkan dalam Bibel, dalam mitos bangsa Sumeria dan Babilonia, dan akhirnya dalam Al-Quran, kemungkinan besar merujuk pada banjir yang terjadi pada Zaman Es yang melanda lempengan sangat besar yang sekarang tertutup oleh Laut Tengah: suatu banjir yang terjadi karena Lautan Atlantik bergerak masuk menembus daratan penghalang yang terletak di Selat Gibraltar kini, dan karena Laut Hitam bergerak masuk menembus daerah yang kini merupakan Selat Dardanella. 


Surah Al-A’raf Ayat 65

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

wa ilā ‘ādin akhāhum hụdā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, a fa lā tattaqụn

65. DAN, KEPADA [kaum] ‘Ad, [Kami utus] saudara mereka, Hud.48 Dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah saja: kalian tidak punya tuhan selain Dia. Maka, tidakkah kalian bertakwa kepada-Nya?”


48 Konon, Hud a.s. adalah nabi berkebangsaan Arab yang pertama. Mungkin dia sama dengan Eber yang disebutkan dalam Bibel, nenek moyang bangsa Ibrani (‘Ibrim) yang—seperti kebanyakan suku bangsa Semit—mungkin berasal dari Arab Selatan. (Keterangan mengenai Eber dapat ditemukan dalam Bibel, Kejadian 10: 24-25 dan 11: 14 dan seterusnya.) Nama Arab kuno Hud ini masih tecermin dalam nama Yehuda, anak Ya’qub (Yahudah dalam bahasa Ibrani) yang selanjutnya menjadi julukan lainnya bagi orang-orang Yahudi. Nama Eber—baik dalam bahasa Ibrani maupun dalam bentuk Arabnya, `Abir—berarti “seseorang yang menyeberang” (yakni dari satu daerah ke daerah lainnya), dan mungkin juga merupakan gaung Bibel terhadap kenyataan bahwa suku ini “menyeberang” dari Semenanjung Arabia ke Mesopotamia pada masa pra-Ibrahim.

Suku ‘Ad, yakni suku Nabi Hud a.s. (“saudara mereka Hud”), mendiami daerah gurun yang luas yang dikenal dengan Al-Ahqaf, yang terletak di antara ‘Uman dan Hadhramaut. Suku ini masyhur karena kekuatan dan pengaruhnya yang besar (lihat Surah Al-Fajr [89]: 8—”yang belum pernah dibangun seperti itu di semua negeri”). Suku itu musnah berabad-abad sebelum kedatangan Islam, tetapi kenangan tentangnya selalu hidup dalam tradisi bangsa Arab.


Surah Al-A’raf Ayat 66

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī innā lanarāka fī safāhatiw wa innā lanaẓunnuka minal-kāżibīn

66. Berkatalah pembesar-pembesar kaumnya, yang menolak mengakui kebenaran, “Sungguh, kami memandang engkau lemah-akal; dan, sungguh, kami menganggap engkau seorang pendusta!”49


49 Mereka menganggapnya “lemah-akal” karena dia meminta mereka meninggalkan keimanan dan berhala-berhala tradisional mereka; dan mereka menganggapnya sebagai “pendusta” karena dia menyatakan diri sebagai rasul Allah.


Surah Al-A’raf Ayat 67

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qāla yā qaumi laisa bī safāhatuw wa lākinnī rasụlum mir rabbil-‘ālamīn

67. [Hud] berkata, “Wahai, kaumku! Tiada kelemahan-akal padaku, tetapi aku adalah (rasul) utusan dari Pemelihara seluruh alam.


Surah Al-A’raf Ayat 68

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

uballigukum risālāti rabbī wa ana lakum nāṣiḥun amīn

68. Kusampaikan kepada kalian pesan-pesan Pemeliharaku dan kunasihati kalian dengan tulus dan baik.50


50 Lit., “aku adalah penasihat yang tepercaya bagi kalian”.


Surah Al-A’raf Ayat 69

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

a wa ‘ajibtum an jā`akum żikrum mir rabbikum ‘alā rajulim mingkum liyunżirakum, ważkurū iż ja’alakum khulafā`a mim ba’di qaumi nụḥiw wa zādakum fil-khalqi baṣṭah, fażkurū ālā`allāhi la’allakum tufliḥụn

69. Mengapa, apakah kalian heran bahwa suatu berita dari Pemelihara kalian datang kepada kalian dengan perantaraan seorang Iaki-laki dari golongan kalian sendiri agar dia dapat memperingatkan kalian? Ingatlah, bagaimana Dia menjadikan kalian ahli-ahli waris kaum Nuh, dan menganugerahi kalian dengan limpahan kekuasaan:51 maka. ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kalian meraih kebahagiaan!”


51 Lit., “pengganti-pengganti setelah kaum Nabi Nuh a.s.”— yakni, suku yang paling banyak jumlahnya dan paling kuat di antara seluruh suku keturunan Nabi Nuh a.s.—”dan melebihkan kalian secara berlimpah dalam hal bakat alami (khalq) [kalian]”. Istilah khalq juga berarti “kekuatan” (Al-Razi).


Surah Al-A’raf Ayat 70

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا ۖ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālū a ji`tanā lina’budallāha waḥdahụ wa nażara mā kāna ya’budu ābā`unā, fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

70. Mereka menjawab, “Apakah engkau datang kepada kami [dengan tuntutan] agar kami menyembah Allah saja, dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami? Maka, datangkanlah [hukuman] yang kau ancamkan kepada kami jika engkau adalah orang yang benar!”


Surah Al-A’raf Ayat 71

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ ۖ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

qāla qad waqa’a ‘alaikum mir rabbikum rijsuw wa gaḍab, a tujādilụnanī fī asmā`in sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā nazzalallāhu bihā min sulṭān, fantaẓirū innī ma’akum minal-muntaẓirīn

71. Berkata [Hud], “Kalian telah ditimpa oleh keburukan yang menjijikkan52 dan kemurkaan dari Pemelihara kalian! Apakah kalian hendak berbantahan denganku mengenai nama-nama [hampa] yang kalian buat-buat53—kalian dan nenek moyang kalian—nama-nama yang Allah tidak pernah menurunkan keterangan apa pun tentangnya? Maka, tunggulah [apa yang akan terjadi:] sungguh, aku akan menunggu bersama kalian!”54


52 Mengacu pada kemusyrikan dan kedegilan mereka.

53 Lit., “nama-nama yang kalian namai”—yakni, tuhan-tuhan batil, yang sebenarnya tidak ada.

54 Lit., “aku, bersama kalian, akan berada di antara orang-orang yang menunggu”.


Surah Al-A’raf Ayat 72

فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ

fa anjaināhu wallażīna ma’ahụ biraḥmatim minnā wa qaṭa’nā dābirallażīna każżabụ bi`āyātinā wa mā kānụ mu`minīn

72. Maka, dengan rahmat Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang bersamanya, sementara Kami tumpas habis sisa terakhir dari orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami* dan yang tidak beriman.55


* {Dalam terjemahan Depag, frasa ini berbunyi “Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami”. Terjemahan Depag ini seakan mengabaikan kata dabir yang secara harfiah berarti “bagian terakhir” (end) atau “sisa”.—AM}

55 Sebagaimana diperlihatkan dalam Surah Al-Haqqah [69]: 6-8, kerusakan ini terjadi melalui badai pasir hebat yang mengamuk tanpa henti selama delapan hari tujuh malam.


Surah Al-A’raf Ayat 73

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, qad jā`atkum bayyinatum mir rabbikum, hāżihī nāqatullāhi lakum āyatan fa żarụhā ta`kul fī arḍillāhi wa lā tamassụhā bisū`in fa ya`khużakum ‘ażābun alīm

73. DAN, KEPADA [kaum] Tsamud, [Kami utus] saudara mereka, Shaleh.56 Dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah saja: kalian tidak punya tuhan selain Dia. Bukti kebenaran yang nyata kini telah datang kepada kalian dari Pemelihara kalian.57

“Unta betina milik Allah ini akan menjadi pertanda bagi kalian: maka, biarkanlah ia merumput di atas bumi Allah, dan jangan menyakitinya, agar azab yang pedih tidak menimpa kalian.


56 Suku Nabatean dari bangsa Tsamud merupakan keturunan dari suku ‘Ad yang telah disebutkan di ayat terdahulu dan, karena itu, sering disebut-sebut dalam sajak pra-Islam sebagai “Kaum ‘Ad Kedua”. Terlepas dari sumber-sumber Arab, “serangkaian referensi yang lebih tua, yang bukan berasal dari Arab, menegaskan bahwa nama dan kaum Tsamud memang ada dalam sejarah. Demikianlah, prasasti Sargon pada 715 SM menyebutkan Tsamud di antara orang-orang yang menempati wilayah Arab Timur dan Tengah yang ditundukkan oleh bangsa Asiria. Kita juga menemukan kata Thamudaei, Thamudenes yang disebutkan dalam karya Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny” (Encyclopaedia of Islam IV, h. 736). Masa yang dirujuk oleh AI-Quran adalah masa ketika kaum Tsamud menempati daerah Hijaz yang paling utara, dekat dengan perbatasan Suriah. Batu prasasti yang dinisbahkan kepada mereka masih ada di kawasan Al-Hijr.

Sebagaimana halnya dengan Nabi Hud a.s., nabi kaum ‘Ad itu—serta Nabi Syu’aib a.s. yang telah dibicarakan pada ayat 85-93 surah ini—Nabi Shaleh a.s. juga disebut “saudara” suku itu karena dia memang berasal dari suku tersebut.

57 Para mufasir mengutip berbagai legenda yang menyatakan bahwa unta betina ini terjadi secara ajaib. Karena Al-Quran dan hadis sahih sama sekali tidak memberikan dukungan apa pun mengenai legenda ini, kita mesti mengasumsikan bahwa legenda itu semuanya didasarkan pada ungkapan naqat Allah (“unta betina Allah”), yang telah mengantarkan orang-orang Muslim yang saleh pada dugaan-dugaan yang tidak masuk akal. Namun, sebagaimana diungkapkan oleh Rasyid Ridha (Al-Manar VIII, h. 502), ungkapan ini hanya menunjukkan fakta bahwa binatang tersebut tidak dimiliki oleh siapa pun dan, karena itu, seharusnya ia dipelihara oleh seluruh suku. Ungkapan selanjutnya yang mirip dengan ungkapan ini dapat ditemukan pada kata “bumi Allah” di ayat yang sama: sebuah ilustrasi terhadap fakta bahwa segala sesuatunya adalah milik Allah. Tindakan Nabi Shaleh a.s. yang secara khusus menekankan agar hewan yang tidak bertuan tersebut diperlakukan dengan baik—yang disebutkan dalam beberapa tempat dalam Al-Quran—jelas-jelas menunjukkan kekejaman suku tersebut, yang sebagaimana diperlihatkan pada dua ayat selanjutnya, biasa “berlaku zalim di muka bumi dengan menyebarkan kerusakan” dan “menyombongkan diri terhadap semua yang dianggap lemah”: dengan kata lain, sikap mereka terhadap binatang yang tidak berdaya itu hendaknya menjadi “pertanda” perubahan hati mereka atau (sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Qamar [54]: 27) “sebagai ujian bagi mereka”.


Surah Al-A’raf Ayat 74

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

ważkurū iż ja’alakum khulafā`a mim ba’di ‘ādiw wa bawwa`akum fil-arḍi tattakhiżụna min suhụlihā quṣụraw wa tan-ḥitụnal-jibāla buyụtā, fażkurū ālā`allāhi wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

74. “Dan, ingatlah bagaimana Allah menjadikan kalian ahli-ahli waris bagi [kaum] ‘Ad58 dan menempatkan kalian dengan teguh di bumi sehingga kalian [dapat] mendirikan istana-istana bagi kalian di atas tanah-tanahnya yang datar dan memahat gunung-gunungnya [untuk kalian gunakan] sebagai tempat tinggal:59 maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah berlaku zalim di muka bumi dengan menyebarkan kerusakan.”


58 Bdk. ungkapan yang paralel dalam ayat 69 sebelumnya—”ahli-ahli waris kaum Nabi Nuh a.s.”—dan catatannya yang terkait. Dari seluruh keterangan historis tentang Tsamud, tampak bahwa mereka merupakan salah satu dari suku-suku Arab yang terbesar dan terkuat di antara suku-suku lainnya pada masanya.

59 Suatu rujukan terhadap sejumlah kuburan atau tempat tinggal yang terbuat dari batu karang—yang masih dapat disaksikan hingga kini—yang telah dipahat dengan sangat apik oleh bangsa Tsamud di tebing-tebing bagian barat Al-Hijr, yang terletak di sebelah utara Hijaz, dan dihiasi dengan ukiran binatang serta sejumlah prasasti yang menjadi saksi atas tingginya peradaban dan kekuasaan mereka. Dalam percakapan sehari-hari bangsa Arab, tempat tinggal yang terbuat dari batu karang itu sekarang disebut Mada’in Shalih (“Kota-Kota Nabi Shaleh”).


Surah Al-A’raf Ayat 75

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ

qālal-mala`ullażīnastakbarụ ming qaumihī lillażīnastuḍ’ifụ liman āmana min-hum a ta’lamụna anna ṣāliḥam mursalum mir rabbih, qālū innā bimā ursila bihī mu`minụn

75. Para pembesar kaumnya, yang menyombongkan diri terhadap semua yang dianggap lemah, berkata kepada orang-orang beriman di antara mereka, “Apakah kalian [benar-benar] mengetahui bahwa Shaleh diutus oleh Pemeliharanya?”

Mereka menjawab, “Sungguh, kami beriman pada pesan yang dibawanya.”60


60 Kandungan pesan yang dia bawa (lit., “yang dengannya dia telah diutus”) tampak bagi mereka sebagai justifikasi yang memadai untuk menerima pesan itu, tanpa memerlukan “bukti” esoteris apa pun untuk membuktikan misi kenabian Shaleh a.s. Dengan cara yang subtil, pernyataan keimanan ini mempunyai makna yang jauh melampaui kisah Tsamud di atas. Ia merupakan suatu ajakan kepada orang-orang yang skeptis—yang tidak bisa memercayai bahwa suatu pesan religius berasal dari Allah—agar menilai pesan-pesan itu berdasarkan nilai-nilai kebaikan yang dikandungnya, dan bukan menjadikan penerimaannya terhadap keaslian sumbernya itu bergantung pada bukti-bukti eksternal dan bukti-bukti yang secara objektif mustahil didapatkan: sebab, hanya melalui kandungan pesannya itulah, kebenaran dan validitasnya bisa ditentukan.


Surah Al-A’raf Ayat 76

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

qālallażīnastakbarū innā billażī āmantum bihī kāfirụn

76. [Tetapi,] orang-orang yang sombong berkata, “Perhatikanlah, kami menolak mengakui apa-apa yang kalian imani itu sebagai kebenaran!”


Surah Al-A’raf Ayat 77

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

fa ‘aqarun-nāqata wa ‘atau ‘an amri rabbihim wa qālụ yā ṣāliḥu`tinā bimā ta’idunā ing kunta minal-mursalīn

77. Kemudian, mereka menyembelih unta betina itu dengan kejam,61 dan berpaling dari perintah Pemelihara mereka seraya mencibir dan berkata, “Wahai, Shaleh! Datangkanlah [hukuman] yang kau ancamkan kepada kami jika engkau benar-benar salah seorang rasul Allah!”


61 Verba ‘aqara utamanya berarti “dia memotong urat-urat Iutut [seekor binatang]”—yakni, sebelum menyembelihnya sehingga binatang itu tidak akan lari. Kebiasaan barbar ini telah dipraktikkan secara luas pada masa Arab pra-Islam sehingga ‘aqr (“tindakan memotong urat-urat lutut”) lama-kelamaan sama artinya dengan menyembelih dengan kejam (Al-Razi; lihat juga Lane V, h. 2107).


Surah Al-A’raf Ayat 78

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn

78. Lalu, gempa bumi menghantam mereka: dan kemudian mereka bergelimpangan di atas tanah, tanpa nyawa, dalam rumah-rumah mereka sendiri.62


62 Lit., “maka mereka tersungkur ke tanah, di rumah-rumah mereka”. Istilah rajfah yang terdapat pada awal ayat ini menunjukkan sembarang huru-hara atau getaran yang dahsyat, yang sering—walaupun tidak selalu—digunakan untuk merujuk pada gempa bumi (rajfat al-ardhi). Mungkin saja gempa bumi yang disebutkan di sini disertai dengan letusan gunung berapi yang pada suatu saat melanda tempat tinggal suku Tsamud. Hamparan lava hitam yang luas (harrah) yang terletak di utara Hijaz, dan khususnya yang ada di dekat Mada’in Shalih (lihat catatan no. 59 surah ini), merupakan bukti nyata yang masih dapat disaksikan hingga detik ini terhadap adanya letusan itu.


Surah Al-A’raf Ayat 79

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

fa tawallā ‘an-hum wa qāla yā qaumi laqad ablagtukum risālata rabbī wa naṣaḥtu lakum wa lākil lā tuḥibbụnan-nāṣiḥīn

79. Dan, [Shaleh] berpaling dari mereka dan berkata, “Wahai, kaumku! Sesungguhnya, telah kusampaikan kepada kalian pesan-pesan Pemeliharaku dan kuberikan kepada kalian nasihat yang baik: tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat yang baik [kepada kalian].”


Surah Al-A’raf Ayat 80

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

80. DAN, [ingatlah] Luth63 ketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian di seluruh alam?


63 Kisah Nabi Luth a.s., keponakan Nabi Ibrahim a.s., diceritakan lebih terperinci dalam Surah Hud [11]: 69-83.


Surah Al-A’raf Ayat 81

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn

81. Sungguh, kalian mendatangi laki-laki, alih-alih perempuan, dengan nafsu berahi: tidak, tetapi kalian adalah kaum yang terbiasa melampaui batas!”


Surah Al-A’raf Ayat 82

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn

82. Namun, jawaban kaumnya hunyalah ini,64 “Usirlah mereka dari negeri kalian! Sungguh, mereka adalah orang-orang yang berlagak suci!”65


64 Lit., “jawaban mereka tidak lain kecuali bahwa mereka berkata”.

65 Lit., “yang menyucikan diri mereka sendiri”; juga, “yang menjauhkan diri dari hal-hal yang kotor”: di sini jelas digunakan sebagai sindiran. Bentuk jamak pada ayat ini mengacu pada Nabi Luth a.s., keluarganya, dan para pengikutnya (bdk. Surah An-Naml [27]: 56).


Surah Al-A’raf Ayat 83

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

fa anjaināhu wa ahlahū illamra`atahụ kānat minal-gābirīn

83. Kemudian, Kami selamatkan dia dan anggota keluarganya—kecuali istrinya, yang termasuk di antara orang-orang yang tinggal di belakang66


66 Berlawanan dengan keterangan Bibel yang menyatakan bahwa istri Nabi Luth a.s. hanya “menoleh ke belakang” secara tidak sengaja (Kitab Kejadian 19: 26), AI-Quran menyatakan dengan jelas dalam Surah Hud [11]: 81 dan Surah At-Tahrim [66]: 10 bahwa dia sengaja tetap berada di belakang, menyatukan hati dengan orang-orang Sodom yang durhaka itu, dan tidak beriman kepada suaminya.


Surah Al-A’raf Ayat 84

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mujrimīn

84. sementara itu, Kami hujani yang lainnya dengan hujan [kehancuran]: dan, perhatikanlah, apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang tenggelam dalam dosa itu!


Surah Al-A’raf Ayat 85

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa ilā madyana akhāhum syu’aibā, qāla yā qaumi’budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, qad jā`atkum bayyinatum mir rabbikum fa auful-kaila wal mīzāna wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā`ahum wa lā tufsidụ fil-arḍi ba’da iṣlāḥihā, żālikum khairul lakum ing kuntum mu`minīn

85. DAN, KEPADA [kaum] Madyan, [Kami utus] saudara mereka, Syu’aib.67 Dia berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah saja: kalian tidak punya tuhan selain Dia. Bukti kebenaran yang nyata kini telah datang kepada kalian dari Pemelihara kalian. Karena itu, sempurnakanlah takaran dan timbangan [dalam segala urusan kalian], dan janganlah mengambil dari manusia apa-apa yang merupakan milik-sah mereka,68 dan janganlah menyebarkan kerusakan di muka bumi setelah ia sudah sedemikian teraturnya: [semua] ini adalah untuk kebaikan kalian sendiri, andaikan saja kalian hendak beriman.


67 Nabi Syu’aib a.s. disebut-sebut sama dengan Jethro, mertua Nabi Musa a.s., yang dalam Bibel juga disebut sebagai Rehuel (Kitab Keluaran 2: 18) yang berarti “Setia pada Allah”. Wilayah negeri Madyan—Midian dalam Bibel—memanjang dari Teluk Aqabah ke belahan barat hingga jauh ke dalam Semenanjung Sinai dan hingga Gunung Moab yang terletak di sebelah timur Laut Mati; penduduknya adalah orang-orang Arab dari kelompok suku Amori.

68 Lit., “janganlah mengurangi dari manusia barang-barang mereka”—sebuah ungkapan yang digunakan untuk merujuk pada kepemilikan fisik serta hak-hak moral dan sosial. Mengenai sisipan saya “dalam segala urusan kalian”, lihat Surah Al-An’m [6], catatan no. 150.


Surah Al-A’raf Ayat 86

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

wa lā taq’udụ bikulli ṣirāṭin tụ’idụna wa taṣuddụna ‘an sabīlillāhi man āmana bihī wa tabgụnahā ‘iwajā, ważkurū iż kuntum qalīlan fa kaṡṡarakum wanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn

86. Dan, janganlah mengendap-endap untuk menyergap pada setiap jalan [yang menuju kebenaran68]* dengan mengancam dan berusaha memalingkan semua orang yang beriman kepada-Nya dari jalan Allah, dan berusaha menjadikannya tampak bengkok. Dan, ingatlah [saat] ketika kalian berjumlah sedikit, dan [bagaimana] Dia memperbanyak jumlah kalian: dan, perhatikanlah, apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang menyebarkan kerusakan!


69 Demikianlah menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, yang menekankan makna metaforis frasa di atas. Bdk. ungkapan yang sama, yang dinisbahkan kepada setan, pada ayat 16 surah ini.

* {Terjemahan majemuk ini, seperti diakui Asad, diambil dari Al-Zamakhsyari dan Al-Razi. Lit., “duduk di tiap-tiap jalan”.— AM}


Surah Al-A’raf Ayat 87

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّىٰ يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا ۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ

wa ing kāna ṭā`ifatum mingkum āmanụ billażī ursiltu bihī wa ṭā`ifatul lam yu`minụ faṣbirụ ḥattā yaḥkumallāhu bainanā, wa huwa khairul-ḥākimīn

87. “Dan, jika ada di antara kalian yang akhirnya beriman pada pesan yang aku bawa, sementara yang lainnya tidak beriman, maka bersabarlah dalam menghadapi kesusahan hingga Allah menetapkan hukum antara kita [dan mereka]: sebab, Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya!”


Surah Al-A’raf Ayat 88

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۚ قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ

qālal-mala`ullażīnastakbarụ ming qaumihī lanukhrijannaka yā syu’aibu wallażīna āmanụ ma’aka ming qaryatinā au lata’ụdunna fī millatinā, qāla a walau kunnā kārihīn

88. Berkata para pembesar kaumnya yang menyombongkan diri, “Wahai, Syu’aib, pastilah kami akan mengusirmu dan para pengikutmu yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau benar-benar kembali kepada jalan-jalan kami!”

Berkata [Syu’aib], “Mengapa, meskipun kami benci [kepada jalan-jalan itu]?


Surah Al-A’raf Ayat 89

قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا ۚ وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا ۚ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

qadiftarainā ‘alallāhi każiban in ‘udnā fī millatikum ba’da iż najjānallāhu min-hā, wa mā yakụnu lanā an na’ụda fīhā illā ay yasyā`allāhu rabbunā, wasi’a rabbunā kulla syai`in ‘ilmā, ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanaftaḥ bainanā wa baina qauminā bil-ḥaqqi wa anta khairul-fātiḥīn

89. Kami akan berdosa karena (melakukan) penghujatan terhadap Allah70 seandainya kami kembali kepada jalan-jalan kalian setelah Allah menyelamatkan kami darinya! Dan, tidaklah patut kami kembali kepadanya—kecuali Allah, Pemelihara kami, menghendakinya.71 Pemelihara kami meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya; kepada Allah-lah kami bersandar penuh percaya.* Wahai, Pemelihara kami! Bukakanlah kebenaran antara kami dan kaum kami—sebab, Engkau-lah sebaik-baik pembuka kebenaran!”72


70 Lit.,”membuat-buat dusta tentang Allah”.

71 Sebuah ungkapan kerendah-hatian, dan bukan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Allah mungkin “menghendaki” mereka melakukan penghujatan.

* {Yakni, bertawakal: in God do we place our trust.—peny.}

72 Atau: “Engkau-lah pemberi keputusan yang sebaik-baik-nya”—karena verba fataha bisa juga diterjemahkan menjadi “dia memutuskan”. Namun, doa Nabi Syu’aib a.s. tidak mungkin menunjukkan suatu permintaan untuk mendapatkan “keputusan” Allah (karena dia sama sekali tidak ragu tentang siapa yang benar) dan, oleh karena itu, arti utama iftah (“bukakanlah”) dan fatih (“seseorang yang membuka”, yakni kebenaran) lebih tepat.


Surah Al-A’raf Ayat 90

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ

wa qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī la`inittaba’tum syu’aiban innakum iżal lakhāsirụn

90. Namun, para pembesar kaumnya, yang berkukuh mengingkari kebenaran, berkata [kepada para pengikutnya], “Sesungguhnya, jika kalian mengikuti Syu’aib, kalian benar-benar akan menjadi orang-orang yang merugi!”


Surah Al-A’raf Ayat 91

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn

91. Lalu, gempa bumi menghantam mereka: dan kemudian mereka bergelimpangan di atas tanah, tanpa nyawa, dalam rumah-rumah mereka sendiri73


73 Lihat catatan no. 62 surah ini. Seperti daerah harrah yang pernah didiami oleh suku Tsamud, daerah Madyan (Midian dalam Bibel) yang berdekatan dengannya juga menunjukkan bukti-bukti yang banyak tentang adanya letusan gunung berapi dan gempa bumi. 


Surah Al-A’raf Ayat 92

الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۚ الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ

allażīna każżabụ syu’aibang ka`al lam yagnau fīhā, allażīna każżabụ syu’aibang kānụ humul-khāsirīn

92. orang-orang yang telah mendustakan Syu’aib—seolah-olah mereka belum pernah tinggal di sana: orang-orang yang telah mendustakan Syu’aib—mereka itulah orang-orang yang merugi!


Surah Al-A’raf Ayat 93

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ آسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَافِرِينَ

fa tawallā ‘an-hum wa qāla yā qaumi laqad ablagtukum risālāti rabbī wa naṣaḥtu lakum, fa kaifa āsā ‘alā qauming kāfirīn

93. Dan, dia berpaling dari mereka dan berkata, “Wahai, kaumku! Sesungguhnya, telah kusarnpaikan kepada kalian pesan-pesan Pemeliharaku dan kuberikan kepada kalian nasihat yang baik: maka, bagaimana aku dapat berdukacita bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran?”


Surah Al-A’raf Ayat 94

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

wa mā arsalnā fī qaryatim min nabiyyin illā akhażnā ahlahā bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la’allahum yaḍḍarra’ụn

94. DAN, BELUM PERNAH Kami mengutus seorang nabi pun kepada suatu masyarakat* tanpa menguji penduduknya dengan kemalangan dan kesukaran agar mereka merendahkan diri;


* {“masyarakat” adalah terjemahan Asad untuk kata qaryah yang secara harfiah berarti “negeri”—AM. Lihat juga catatan no. 116 pada Surah Al-An’am yang membahas makna qaryah ini.}


Surah Al-A’raf Ayat 95

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

ṡumma baddalnā makānas-sayyi`atil-ḥasanata ḥattā ‘afaw wa qālụ qad massa ābā`anaḍ-ḍarrā`u was-sarrā`u fa akhażnāhum bagtataw wa hum lā yasy’urụn

95. kemudian, Kami ubah penderitaan itu menjadi kesenangan hidup74 sehingga mereka berkembang pesat dan berkata [kepada diri mereka sendiri], “Kemalangan dan kesukaran telah menimpa nenek moyang kami pula”75—maka Kami hukum mereka, dengan tiba-tiba, tanpa mereka menyadari [apa yang akan terjadi].76


74 Lit., “kemudian, Kami tempatkan [hal-hal] yang baik untuk menggantikan yang buruk”.

75 Yakni, mereka menganggapnya sebagai kejadian biasa dan tidak mengambil pelajaran darinya.

76 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 42-45.


Surah Al-A’raf Ayat 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

walau anna ahlal-qurā āmanụ wattaqau lafataḥnā ‘alaihim barakātim minas-samā`i wal-arḍi wa lāking każżabụ fa akhażnāhum bimā kānụ yaksibụn

96. Padahal, andaikan saja penduduk masyarakat itu meraih iman dan sadar akan Kami, tentu telah benar-benar Kami bukakan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi: tetapi mereka mendustakan kebenaran—maka Kami hukum mereka melalui apa yang mereka [sendiri] perbuat.77


77 Jadi, wacana kembali kepada titik mula pada permulaan surah ini (ayat 4-5): yakni, bahwa bencana yang pasti akan melanda suatu masyarakat (arti yang paling tepat untuk istilah qaryah dalam konteks ini) yang menjalani kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran moral yang abadi pada akhirnya akan berujung pada kehancuran diri sendiri: sebab, inilah makna sebenamya dari tindakan Allah yang “menghukum mereka melalui apa (bi-ma) yang mereka [sendiri] perbuat”.


Surah Al-A’raf Ayat 97

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

a fa amina ahlul-qurā ay ya`tiyahum ba`sunā bayātaw wa hum nā`imụn

97. Maka, dapatkah penduduk suatu masyarakat merasa aman bahwa hukuman Kami tidak akan datang kepada mereka pada malam hari tatkala mereka sedang lelap tidur?


Surah Al-A’raf Ayat 98

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

a wa amina ahlul-qurā ay ya`tiyahum ba`sunā ḍuḥaw wa hum yal’abụn

98. Mengapa, dapatkah penduduk suatu masyarakat mana pun merasa aman bahwa hukuman Kami tidak akan datang kepada mereka pada siang hari yang terang benderang, tatkala mereka sedang sibuk dalam permainan [duniawi]?78


78 Yakni, ketika mereka merasa santai dan aman serta tidak sadar akan bahaya yang mungkin mengancam mereka (bdk. ayat 4 surah ini).


Surah Al-A’raf Ayat 99

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

a fa aminụ makrallāh, fa lā ya`manu makrallāhi illal-qaumul-khāsirụn

99. Maka, dapatkah mereka merasa aman dari rekayasa Allah yang tak terduga? Namun, tiada seorang pun yang merasa aman dari rekayasa Allah yang tak terduga, kecuali orang-orang yang [telah] merugi.79


79 Yakni, rugi (tersesat) secara moral dan, oleh karena itu, pasti binasa. Istilah “makr Allah” (“rekayasa Allah yang tak terduga” [God’s deep devising]) di sini menunjukkan rencana-Nya yang amat halus, mendalam, dan rahasia, yang di tempat lain dalam Al-Quran dirujuk dengan ungkapan sunnat Allah (“ketetapan Allah [yang tak bisa diubah]”)—bdk., khususnya, Surah Al-Ahzab [33]: 62, Surah Fathir [35]; 43, dan Surah Al-Fath [48]: 23.


Surah Al-A’raf Ayat 100

أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ ۚ وَنَطْبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

a wa lam yahdi lillażīna yariṡụnal-arḍa mim ba’di ahlihā al lau nasyā`u aṣabnāhum biżunụbihim, wa naṭba’u ‘alā qulụbihim fa hum lā yasma’ụn

100. Maka, apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi bumi setelah generasi-genernsi sebelumnya80 bahwa, jika Kami menghendaki, tentu Kami dapat menghantam mereka [pula] karena dosa-dosa mereka dan Kami tutup hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar [kebenaran]?81


80 Lit., “setelah orang-orangnya [yang terdahulu]”. “Orang-orang yang mewarisi bumi” adalah mereka yang sekarang hidup.

81 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7. Di sini, sekali lagi, kita mendapatkan penegasan bahwa apa yang digambarkan Al-Quran sebagai “hukuman Allah” (sebagaimana juga “pahala Allah”) sebenarnya merupakan konsekuensi perbuatan manusia sendiri dan bukan merupakan tindakan semena-mena yang dilakukan Allah: yakni, “karena dosa-dosa mereka” (bi-dzunubihim)-lah Allah “menutup” hati manusia. Ungkapan ini diuraikan lebih lanjut pada akhir ayat 101.


Surah Al-A’raf Ayat 101

تِلْكَ الْقُرَىٰ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ الْكَافِرِينَ

tilkal-qurā naquṣṣu ‘alaika min ambā`ihā, wa laqad jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināt, fa mā kānụ liyu`minụ bimā każżabụ ming qabl, każālika yaṭba’ullāhu ‘alā qulụbil-kāfirīn

101. Kepada masyarakat-masyarakat [terdahulu]—yang sebagian kisahnya [kini] Kami ceritakan kepadamu—benar-benar telah datang rasul-rasul dari kalangan mereka sendiri dengan seluruh bukti kebenaran; tetapi mereka tidak mau beriman kepada apa pun yang pernah mereka dustakan:82 demikianlah Allah menutup hati orang-orang yang mengingkari kebenaran;


82 Lit, “kepada apa yang mereka dustakan pada masa lalu”: mengacu pada keengganan naluriah kebanyakan manusia untuk meninggalkan gagasan-gagasan—baik positif maupun negatif—yang telah mereka akrabi.


Surah Al-A’raf Ayat 102

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ ۖ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

wa mā wajadnā li`akṡarihim min ‘ahd, wa iw wajadnā akṡarahum lafāsiqīn

102. dan tiada Kami dapati pada kebanyakan di antara mereka ikatan [batin] dengan apa pun yang benar83—dan Kami dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang benar-benar fasik.


83 Demikianlah Al-Rghib menjelaskan istilah ‘ahd yang terdapat dalam kalimat ini. Terjemahan konvensionalnya, yakni “perjanjian” atau “kesetiaan terhadap janji mereka”, sama sekali tidak berarti dalam konteks ini. Rasyid Ridha memperluas penafsiran Al-Raghib ini, dengan menyatakan bahwa istilah di atas juga mencakup kemampuan naluriah manusia untuk membedakan yang benar dan yang salah dan, dengan demikian, untuk mengikuti suara hati nuraninya sendiri (Al-Manar IX, hh. 33 dst.). Mengenai makna yang lebih dalam yang terkandung dalam ungkapan ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19.


Surah Al-A’raf Ayat 103

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

ṡumma ba’aṡnā mim ba’dihim mụsā bi`āyātinā ilā fir’auna wa mala`ihī fa ẓalamụ bihā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn

103. DAN, SETELAH [kaum terdahulu] itu, Kami utus Musa dengan (membawa) pesan-pesan Kami kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya, dan mereka dengan sengaja menolak pesan-pesan itu:84 dan, perhatikanlah, apa yang akhirnya terjadi pada para penyebar kerusakan itu!


84 Lit, “mereka berbuat zalim terhadap pesan-pesan itu”.


Surah Al-A’raf Ayat 104

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wa qāla mụsā yā fir’aunu innī rasụlum mir rabbil-‘ālamīn

104. Dan, Musa berkata, “Wahai, Fir’aun! Sungguh, aku ini adalah seorang (rasul) utusan dari Pemelihara seluruh alam,


Surah Al-A’raf Ayat 105

حَقِيقٌ عَلَىٰ أَنْ لَا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

ḥaqīqun ‘alā al lā aqụla ‘alallāhi illal-ḥaqq, qad ji`tukum bibayyinatim mir rabbikum fa arsil ma’iya banī isrā`īl

105. yang diwajibkan sedemikian rupa sehingga aku tidak dapat mengatakan apa pun tentang Allah kecuali kebenaran. Kini, aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Pemeliharamu: maka, biarkanlah Bani Israil pergi bersamaku!”


Surah Al-A’raf Ayat 106

قَالَ إِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qāla ing kunta ji`ta bi`āyatin fa`ti bihā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

06. Berkata [Fir’aun], “Jika engkau datang dengan membawa sebuah tanda, datangkanlah ia—jika engkau orang yang benar!”


Surah Al-A’raf Ayat 107

فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ

fa alqā ‘aṣāhu fa iżā hiya ṡu’bānum mubīn

107. Kemudian, [Musa] melemparkan tongkatnya, dan lihatlah! ia seekor ular yang tampak nyata;


Surah Al-A’raf Ayat 108

وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ

wa naza’a yadahụ fa iżā hiya baiḍā`u lin-nāẓirīn

108. dan dia menarik tangannya, dan lihatlah! tangan itu tampak putih [bersinar] bagi orang-orang yang memandang.85


85 Sebagaimana diterangkan dalam Surah TaHa [20]: 22, Surah An-Naml [27]: 12, dan Surah AI-Qashash [28]: 32, tangan Nabi Musa a.s. “[bersinar] putih, tanpa cacat”, yakni diberkati dengan cahaya transenden yang menjadi pertanda kenabian-nya—dan bukan “kena kusta, putih seperti salju” seperti yang dinyatakan dalam Bibel (Keluaran 4: 6). Berkenaan dengan kemungkinan makna mistis dari mukjizat tongkat, lihat catatan no. 14 pada Surah TaHa [20]: 21.


Surah Al-A’raf Ayat 109

قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ

qālal-mala`u ming qaumi fir’auna inna hāżā lasāḥirun ‘alīm

109. Para pembesar di antara kaum Fir’aun berkata, “Sungguh, (dia) ini benar-benar seorang ahli sihir yang amat pandai,


Surah Al-A’raf Ayat 110

يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ ۖ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ

yurīdu ay yukhrijakum min arḍikum, fa māżā ta`murụn

110. yang bermaksud untuk mengeluarkan kalian dari negeri kalian!”86

[Berkata Fir’aun,] “Lalu, apakah yang kalian anjurkan?”


86 Yakni, “mencabut kekuasaan kalian”. Bentuk jamak “kalian” mengacu pada Fir’aun dan golongan-golongan penguasa.


Surah Al-A’raf Ayat 111

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَأَرْسِلْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ

qālū arjih wa akhāhu wa arsil fil-madā`ini ḥāsyirīn

111. Mereka menjawab, “Biarkanlah dia dan saudaranya87 menunggu sebentar, dan utuslah para penyampai pengumuman ke semua kota


87 Yakni, Nabi Harun a.s., yang—sebagaimana disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Quran—menyertai Nabi Musa a.s. dalam misinya.


Surah Al-A’raf Ayat 112

يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ

ya`tụka bikulli sāḥirin ‘alīm

112. yang akan mendatangkan setiap ahli sihir yang amat pandai ke hadapan engkau.”


Surah Al-A’raf Ayat 113

وَجَاءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوا إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ

wa jā`as-saḥaratu fir’auna qālū inna lanā la`ajran ing kunnā naḥnul-gālibīn

113. Dan, ahli-ahli sihir itu datang kepada Fir’aun [dan] berkata, “Sungguh, kami mesti mendapat imbalan yang besar88 jika kamilah yang menang.”


88 Partikel la yang mendahului nomina ajr (“balasan”) menunjukkan suatu penekanan sehingga gabungannya berarti “imbalan yang besar“.


Surah Al-A’raf Ayat 114

قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

qāla na’am wa innakum laminal-muqarrabīn

114. [Fir’aun] menjawab, “Ya; dan, sungguh, kalian akan menjadi orang-orang yang dekat kepadaku.”


Surah Al-A’raf Ayat 115

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ

qālụ yā mụsā immā an tulqiya wa immā an nakụna naḥnul-mulqīn

115. Mereka berkata, “Wahai, Musa! Apakah engkau yang melemparkan [tongkatmu terlebih dahulu] ataukah kami yang [mula-mula] melemparkan.”


Surah Al-A’raf Ayat 116

قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

qāla alqụ, fa lammā alqau saḥarū a’yunan-nāsi wastar-habụhum wa jā`ụ bisiḥrin ‘aẓīm

116. Dia menjawab, “Lemparkanlah [lebih dahulu].”

Dan, ketika mereka melemparkan [tongkat-tongkat mereka], mereka menyihir pandangan orang-orang, dan membuat orang-orang itu gentar-ketakutan, serta membuat sihir yang hebat.


Surah Al-A’raf Ayat 117

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

wa auḥainā ilā mụsā an alqi ‘aṣāk, fa iżā hiya talqafu mā ya`fikụn

117. Dan [kemudian,] Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!”—dan lihatlah! tongkat itu menelan semua tipuan mereka:89


89 Menunjukkan bahwa perbuatan Nabi Musa a.s. merupakan mukjizat sejati, sedangkan perbuatan para tukang sihir itu hanyalah keterampilan tipuan (bdk. Surah TaHa [20]: 66).


Surah Al-A’raf Ayat 118

فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

fa waqa’al-ḥaqqu wa baṭala mā kānụ ya’malụn

118. maka, kukuhlah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan terbukti gagal.


Surah Al-A’raf Ayat 119

فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

fa gulibụ hunālika wangqalabụ ṣāgirīn

119. Maka, seketika itu pula mereka kalah dan menjadi amat hina.


Surah Al-A’raf Ayat 120

وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ

wa ulqiyas-saḥaratu sājidīn

120. Dan, ahli-ahli sihir itu jatuh tersungkur90 dengan bersujud


90 Lit., “ahli-ahli sihir itu dijatuhkan”—yakni, mereka jatuh ke tanah seolah-olah dilemparkan oleh kekuatan yang Iebih besar (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-A’raf Ayat 121

قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

qālū āmannā birabbil-‘ālamīn

121. [dan] berseru, “Akhirnya, kami beriman pada Pemelihara seluruh alam,


Surah Al-A’raf Ayat 122

رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

rabbi mụsā wa hārụn

122. Pemelihara Musa dan Harun!”


Surah Al-A’raf Ayat 123

قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّ هَٰذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

qāla fir’aunu āmantum bihī qabla an āżana lakum, inna hāżā lamakrum makartumụhu fil-madīnati litukhrijụ min-hā ahlahā, fa saufa ta’lamụn

123. Fir’aun berkata, “Apakah kalian beriman kepadanya91 sebelum aku mengizinkan kalian? Perhatikanlah, ini benar-benar suatu makar yang telah kalian rencanakan dengan cerdik dalam kota[ku] ini untuk mengeluarkan penduduknya darinya! Namun, pada waktunya, kalian akan mengetahui [pembalasanku]:


91 Kata ganti ini dapat mengacu pada Allah atau pada Nabi Musa a.s.; tetapi, ungkapan yang sama pada Surah TaHa [20]: 71 dan Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 49 memperjelas bahwa di sini ia mengacu pada Nabi Musa a.s.


Surah Al-A’raf Ayat 124

لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ

la`uqaṭṭi’anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfin ṡumma la`uṣallibannakum ajma’īn

124. pasti akan kupotong tangan dan kaki kalian secara massal disebabkan oleh pembangkangan [kalian], lalu pasti akan kusalib kalian semua secara massal, semuanya bersama-sama!”92


92 Bentuk gramatikal la-uqaththi’anna dan la-ushallibannakum harus diterjemahkan menjadi “pasti akan kupotong [kedua tangan dan kaki kalian] secara massal” dan “menyalib kalian secara massaI“: dan hal ini menunjukkan dua kemungkinan, yakni: (1) bahwa para tukang sihir yang bertobat yang disebutkan di sini jumlahnya banyak, atau (2) bahwa mereka mempunyai banyak pengikut di antara orang-orang Mesir. Asumsi kedua ini tampaknya didukung oleh keterangan Bibel yang menyatakan bahwa banyak orang Mesir yang bergabung dengan orang-orang Israel dalam eksodus mereka dari Mesir: “Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka” (Keluaran 12: 38). Berkenaan dengan terjemahan saya atas kalimat min khilaf menjadi “disebabkan oleh pembangkangan [kalian]”, lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 44 (kalimat terakhir)


Surah Al-A’raf Ayat 125

قَالُوا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ

qālū innā ilā rabbinā mungqalibụn

125. Mereka menjawab, “Sungguh, kepada Pemelihara kamilah kami kembali—


Surah Al-A’raf Ayat 126

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

wa mā tangqimu minnā illā an āmannā bi`āyāti rabbinā lammā jā`atnā, rabbanā afrig ‘alainā ṣabraw wa tawaffanā muslimīn

126. sebab, engkau membalas dendam pada kami, hanya karena kami akhirnya beriman pada pesan-pesan Pemelihara kami segera setelah pesan-pesan itu datang kepada kami. Wahai, Pemelihara kami! Limpahkanlah kepada kami kesabaran dalam menghadapi kesusahan dan wafatkanlah kami sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu!”


Surah Al-A’raf Ayat 127

وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ أَتَذَرُ مُوسَىٰ وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ ۚ قَالَ سَنُقَتِّلُ أَبْنَاءَهُمْ وَنَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ وَإِنَّا فَوْقَهُمْ قَاهِرُونَ

wa qālal-mala`u ming qaumi fir’auna a tażaru mụsā wa qaumahụ liyufsidụ fil-arḍi wa yażaraka wa ālihatak, qāla sanuqattilu abnā`ahum wa nastaḥyī nisā`ahum, wa innā fauqahum qāhirụn

127. Dan, para pembesar di antara kaum Fir’aun berkata, “Akankah kau biarkan Musa dan kaumnya menyebarkan kerusakan di bumi, dan [menjadikan orang-orangmu] meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?”

[Fir’aun] menjawab, “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka secara besar-besaran dan kita biarkan hidup [hanya] perempuan-perempuan mereka: sebab, sungguh, kita berkuasa atas mereka!”


Surah Al-A’raf Ayat 128

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

qāla mụsā liqaumihista’īnụ billāhi waṣbirụ, innal-arḍa lillāh, yụriṡuhā may yasyā`u min ‘ibādih, wal-‘āqibatu lil-muttaqīn

128. [Dan,] Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah dalam menghadapi kesusahan. Sungguh, seluruh bumi ini milik Allah: Dia memberikannya sebagai pusaka kepada orang-orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hanmba-Nya. Dan, masa depan* adalah milik orang-orang yang sadar akan Allah!”


* {“masa depan” (future) adalah terjemahan Asad untuk al-‘aqibah yang secara harfiah berarti “akibat” [baik maupun buruk]. Bdk. Surah Al-An’am [6], catatan no. 118; Surah Ar-Ra’d [13], catatan no. 45; dan Surah Ar-Ra’d [13]: 42.—AM}


Surah Al-A’raf Ayat 129

قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

qālū ụżīnā ming qabli an ta`tiyana wa mim ba’di mā ji`tana, qāla ‘asā rabbukum ay yuhlika ‘aduwwakum wa yastakhlifakum fil-arḍi fa yanẓura kaifa ta’malụn

129. [Namun, Bani Israil] berkata, “Kami telah merasakan penderitaan sebelurn engkau datang kepada kami dan sejak engkau datang kepada kami!”93

[Musa] menjawab, “Mudah-mudahan Pemelihara kalian membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian mewarisi bumi: dan setelah itu, Allah akan memperhatikan bagaimana kalian bertindak.”94


93 Dalam konteks di atas, ini merupakan isyarat pertama dari kedurhakaan dan kelemahan iman Bani Israil yang sering dikutuk Al-Quran: dan hal inilah, bersama dengan apa yang tercantum dalam ayat 138-140 dan 148 serta seterusnya, yang menjadi alasan mengapa kisah Nabi Musa a.s. dimasukkan di sini di antara kisah nabi-nabi yang lebih terdahulu, yang peringatannya diabaikan oleh kaum mereka sendiri.

94 Yakni, “Dia akan mengadili kalian berdasarkan perbuatan kalian”. Sebagaimana yang tampak dalam ayat 137, yang menyebutkan “kesabaran dalam menghadapi kesusahan” yang ditunjukkan oleh Bani Israil, tampaknya harapan yang diberikan Nabi Musa a.s. telah menolong mereka, sekali lagi, untuk mengatasi kelemahan moral mereka; tetapi, bersamaan dengan itu, perkataan Nabi Musa a.s. bahwa “Allah akan memperhatikan bagaimana kalian bertindak” menunjukkan suatu peringatan yang jelas.


Surah Al-A’raf Ayat 130

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

wa laqad akhażnā āla fir’auna bis-sinīna wa naqṣim minaṡ-ṡamarāti la’allahum yażżakkarụn

130. Dan, tentunya Kami telah menghukum kaum Fir’aun dengan kekeringan dan kekurangan buah-buahan supaya mereka merenungkannya.


Surah Al-A’raf Ayat 131

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

fa iżā jā`at-humul-ḥasanatu qālụ lanā hāżih, wa in tuṣib-hum sayyi`atuy yaṭṭayyarụ bimụsā wa mam ma’ah, alā innamā ṭā`iruhum ‘indallāhi wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

131. Namun, manakala nasib baik datang kepada mereka, mereka akan berkata, “Ini [tidak lain adalah] hak kami”; dan manakala kesusahan menimpa mereka, mereka akan lemparkan penyebab nasib buruk itu kepada Musa dan orang-orang yang mengikutinya.95 Duhai, sungguh, nasib [buruk] mereka itu telah ditetapkan oleh Allah—akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.


95 Frasa tathayyara bihi berarti “dia menisbahkan suatu pertanda buruk kepadanya” atau “dia meramalkan keburukan (akan datang) darinya”. Hal tersebut didasarkan pada kebiasaan masyarakat Arab pra-Islam untuk meramal masa depan atau menetapkan sebuah pertanda dengan melihat arah terbang burung. Jadi, kata tha’ir (lit., “makhluk yang terbang” atau “burung”) sering digunakan dalam bahasa Arab klasik untuk menunjukkan “nasib” atau “peruntungan”, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana dalam kalimat selanjutnya dari ayat di atas (“nasib [buruk] mereka itu telah ditetapkan oleh Allah”). Contoh-contoh penggunaan figuratif dari ungkapan tha’ir, thair, dan derivasi verbalnya dapat juga ditemukan pada Surah Alu-‘Imran [3]: 49, Surah Al-Ma’idah [5]: 110, Surah Al-Isra’ [17]: 13, Surah An-Naml [27]: 47, dan Surah YaSin [36]: 18-19.


Surah Al-A’raf Ayat 132

وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

wa qālụ mahmā ta`tinā bihī min āyatil litas-ḥaranā bihā fa mā naḥnu laka bimu`minīn

132. Dan, mereka berkata [kepada Musa], “Tanda apa pun yang mungkin kau datangkan ke hadapan kami untuk menyihir kami dengannya, kami tidak akan memercayaimu!”


Surah Al-A’raf Ayat 133

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

fa arsalnā ‘alaihimuṭ-ṭụfāna wal-jarāda wal-qummala waḍ-ḍafādi’a wad-dama āyātim mufaṣṣalāt, fastakbarụ wa kānụ qaumam mujrimīn

133. Maka, Kami biarkan banjir menimpa mereka, dan [wabah] belalang, kutu, katak, dan [air yang berubah menjadi] darah96—[semuanya] tanda-tanda yang jelas: tetapi, mereka menyombongkan diri karena mereka adalah kaum yang tenggelam dalam dosa.


96 Mengenai penjelasan tentang wabah ini, lihat Bibel, Kitab Keluaran 7-10.


Surah Al-A’raf Ayat 134

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۖ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

wa lammā waqa’a ‘alaihimur-rijzu qālụ yā mụsad’u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak, la`ing kasyafta ‘annar-rijza lanu`minanna laka wa lanursilanna ma’aka banī isrā`īl

134. Dan, manakala wabah menimpa mereka, mereka akan berseru, “Wahai, Musa, mohonkanlah bagi kami kepada Pemeliharamu berdasarkan perjanjian [kenabian] yang telah Dia buat denganmu! Jika engkau menghilangkan wabah ini dari kami, kami akan benar-benar beriman kepadamu dan akan membiarkan Bani Israil pergi bersamamu!”


Surah Al-A’raf Ayat 135

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ

fa lammā kasyafnā ‘an-humur-rijza ilā ajalin hum bāligụhu iżā hum yangkuṡụn

135. Namun, ketika telah Kami hilangkan wabah itu dari mereka, dengan memberikan waktu kepada mereka untuk menepati janji mereka,97 lihatlah, mereka mengingkari janji mereka.


97 Lit., “hingga suatu batas-waktu (ajal) yang mereka sampai kepadanya”.


Surah Al-A’raf Ayat 136

فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

fantaqamnā min-hum fa agraqnāhum fil-yammi bi`annahum każżabụ bi`āyātinā wa kānụ ‘an-hā gāfilīn

136. Kemudian, Kami timpakan hukuman Kami kepada mereka, dan menjadikan mereka tenggelam di laut, karena mereka mendustakan pesan-pesan Kami dan melalaikannya;


Surah Al-A’raf Ayat 137

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

wa auraṡnal-qaumallażīna kānụ yustaḍ’afụna masyāriqal-arḍi wa magāribahallatī bāraknā fīhā, wa tammat kalimatu rabbikal-ḥusnā ‘alā banī isrā`īla bimā ṣabarụ, wa dammarnā mā kāna yaṣna’u fir’aunu wa qaumuhụ wa mā kānụ ya’risyụn

137. adapun kepada orang-orang yang [pada masa lalu] dianggap sangat hina, Kami berikan bagian timur dan bagian barat dari tanah yang telah Kami berkahi sebagai warisan bagi mereka.98

Dan, [demikianlah] janji yang baik dari Pemeliharamu terhadap Bani Israil telah dipenuhi sebagai hasil dari kesabaran mereka dalam menghadapi kesusahan;99 sementara itu, Kami hancur leburkan segala yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya, dan segala yang telah mereka bangun.100


98 Palestina dikatakan sebagai “diberkahi” karena negeri itu merupakan tempat tinggal Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ishaq a.s., dan Nabi Ya’qub a.s., dan karena banyak rasul lainnya lagi yang muncul di sini.

99 Janji Allah yang dimaksudkan di sini adalah janji yang diberikan kepada Bani Israil melalui Nabi Musa a.s. (lihat ayat 128 dan 129).

100 Kisah penderitaan orang-orang Israel selama masa perbudakan mereka di Mesir, pembebasan mereka di bawah kepemimpinan Nabi Musa a.s., penyeberangan Laut Merah (atau yang mungkin sekarang dikenal sebagai Teluk Suez), dan kehancuran Fir’aun dan bala tentaranya dikisahkan dengan amat terperinci dalam Bibel (Kitab Keluaran 1-14): Di sisi lain, Al-Quran tidak memberikan narasi yang berurutan kepada kita: sebab, Al-Quran memang tidak bertujuan memberikan narasi sejarah seperti itu. Ketika Al-Quran mengacu pada kejadian-kejadian masa Ialu—apakah yang dicatat dalam Bibel atau yang, hidup dalam tradisi bangsa Arab—ia melakukan yang demikian itu semata-mata untuk menonjolkan unsur-unsur yang relevan dengan ajaran-ajaran etika yang diajarkannya.


Surah Al-A’raf Ayat 138

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

wa jāwaznā bibanī isrā`īlal-baḥra fa atau ‘alā qaumiy ya’kufụna ‘alā aṣnāmil lahum, qālụ yā mụsaj’al lanā ilāhang kamā lahum ālihah, qāla innakum qaumun taj-halụn

138. DAN, KAMI SEBERANGKAN Bani lsrail melintasi lautan; dan kemudian mereka bertemu dengan kaum yang menyembah berhala-berhala mereka.101 [Bani lsrail] berkata, “Wahai, Musa, buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan!”

Dia menjawab, “Sungguh, kalian adalah kaum yang tidak memiliki pengetahuan sedikit pun [terhadap kebenaran dan kesalahan]!


101 Al-Quran tidak menceritakan siapa orang-orang tersebut. Namun, boleh jadi mereka termasuk kelompok suku bangsa Arab yang digambarkan dalam Bibel sebagai orang-orang “Amalek” (Amalekites), yang menempati daerah paling selatan negeri Palestina, daerah-daerah yang berdampingan dengan Hijaz, dan sebagian daerah Semenanjung Sinai.


Surah Al-A’raf Ayat 139

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

inna hā`ulā`i mutabbarum mā hum fīhi wa bāṭilum mā kānụ ya’malụn

139. Adapun mereka ini—sungguh, jalan hidup mereka pasti akan mengantarkan pada kehancuran; dan sia-sialah semua yang telah mereka kerjakan!”


Surah Al-A’raf Ayat 140

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

qāla a gairallāhi abgīkum ilāhaw wa huwa faḍḍalakum ‘alal-‘ālamīn

140. [Dan,] dia berkata, “Patutkah aku mencari tuhan untuk kalian selain Allah, padahal Dia-lah yang telah melebihkan kalian di atas semua kaum lainnya?”102


102 Yakni, dengan mengutus begitu banyak nabi di antara mereka.


Surah Al-A’raf Ayat 141

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۖ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

wa iż anjainākum min āli fir’auna yasụmụnakum sū`al-‘ażāb, yuqattilụna abnā`akum wa yastaḥyụna nisā`akum, wa fī żālikum balā`um mir rabbikum ‘aẓīm

141. Dan, [Musa mengingatkan mereka dengan firman Allah ini:] “Lihatlah, telah Kami selamatkan kalian dari kaum Fir’aun yang menimpakan penderitaan yang kejam kepada kalian, (yakni) membunuh anak-anak lelaki kalian secara besar-besaran dan membiarkan hidup [hanya] perempuan-perempuan kalian—suatu cobaan yang dahsyat dari Pemelihara kalian.”103


103 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 49. Tampaknya, ayat ini merupakan bagian dari peringatan Nabi Musa a.s. kepada umatnya (Al-Manar IX, hh. 115 dan seterusnya). Saya telah menonjolkannya melalui sisipan “Musa mengingatkan mereka dengan firman Allah ini”.


Surah Al-A’raf Ayat 142

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

wa wā’adnā mụsā ṡalāṡīna lailataw wa atmamnāhā bi’asyrin fa tamma mīqātu rabbihī arba’īna lailah, wa qāla mụsā li`akhīhi hārụnakhlufnī fī qaumī wa aṣliḥ wa lā tattabi’ sabīlal-mufsidīn

142. DAN [KEMUDIAN], Kami menetapkan bagi Musa tiga puluh malam* [di Gunung Sinai]; dan Kami tambahkan sepuluh (malam) lagi, maka sempurnalah waktu empat puluh malam yang telah ditentukan oleh Pemeliharanya.104 Dan, Musa berkata kepada Harun, saudaranya, “Gantikanlah kedudukanku di antara kaumku; dan berlaku salehlah, dan janganlah mengikuti jalan orang-orang yang menyebarkan kerusakan.”


* {Adalah terjemahan Asad untuk frasa wa wa’adna Musa tsalatsina lailat. Al-Quran Depag RI menerjemahkannya menjadi “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam”.

Dalam terjemahan Asad, yang ditetapkan bagi Musa adalah tiga puluh malam. Dalam terjemahan Depag, yang dijanjikan adalah “pemberian Taurat”, sedangkan “tiga puluh malam” merupakan keterangan waktu, bukan objek langsung seperti dalam terjemahan Asad. Dilihat dari struktur bahasa, terjemahan Asad lebih tepat.—AM}

104 Menurut beberapa Sahabat Nabi, khususnya Ibn ‘Abbas, tiga puluh hari pertama dihabiskan oleh Nabi Musa a.s. untuk persiapan ruhani, termasuk puasa, lalu Hukum itu akan diwahyukan kepadanya dalam sepuluh hari sisanya (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi; lihat juga Al-Manar IX, hh. 119 dan seterusnya). Dalam bahasa Arab, periode waktu yang dirujuk oleh istilah “malam-malam” mencakup siang hari pula.


Surah Al-A’raf Ayat 143

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

wa lammā jā`a mụsā limīqātinā wa kallamahụ rabbuhụ qāla rabbi arinī anẓur ilaīk, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahụ fa saufa tarānī, fa lammā tajallā rabbuhụ lil-jabali ja’alahụ dakkaw wa kharra mụsā ṣa’iqā, fa lammā afāqa qāla sub-ḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu`minīn

143. Dan, tatkala Musa datang [ke Gunung Sinai] pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Pemeliharanya berfirman kepadanya, dia berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Tunjukkanlah [diri-Mu] kepadaku agar aku dapat melihat Engkau!”

Berfirman [Allah], “Engkau tidak akan pernah sanggup melihat-Ku. Namun, lihatlah gunung ini: jika ia tetap kokoh pada tempatnya, maka—hanya jika itu terjadilah—engkau dapat melihat-Ku.”105

Dan, segera setelah Pemeliharanya menampakkan keagungan-Nya kepada gunung itu, Dia menyebabkannya hancur menjadi debu; dan Musa terjatuh pingsan. Dan, tatkala Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Mu! Kepada Engkau-lah aku berpaling dalam tobat; dan aku akan [selalu] menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu!”106


105 Lit., “maka, pada akhirnya (saufa) engkau akan melihat-Ku”, Karena kata-kata ini mengungkapkan mustahilnya manusia melihat Allah—yang secara jelas ditunjukkan dalam konstruksi bahasa Arabnya—terjemahan harfiahnya justru tidak akan memadai dalam menyampaikan maksudnya dengan tepat.

106 Karena Nabi Musa a.s. adalah seorang yang beriman, kata-katanya tersebut bukan semata-mata mengacu pada keimanan akan keberadaan Allah, alih-alih pada keimanan terhadap mustahilnya manusia melihat Allah (Ibn Katsir, berdasarkan riwayat Ibn ‘Abbs).


Surah Al-A’raf Ayat 144

قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

qāla yā mụsā inniṣṭafaituka ‘alan-nāsi birisālātī wa bikalāmī fa khuż mā ātaituka wa kum minasy-syākirīn

144. Berfirman [Allah], “Wahai, Musa! Perhatikanlah, Aku telah memuliakanmu di atas semua manusia berkat pesan-pesan yang Kupercayakan kepadamu,107 dan berkat pembicaraan-Ku [denganmu]: karena itu, berpegang teguhlah pada apa yang telah Kuberikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk di antara orang-orang yang bersyukur!”


107 Lit., “berkat pesan-pesan-Ku”.


Surah Al-A’raf Ayat 145

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الْأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ

wa katabnā lahụ fil-alwāḥi ming kulli syai`im mau’iẓataw wa tafṣīlal likulli syaī`, fa khuż-hā biquwwatiw wa`mur qaumaka ya`khużụ bi`aḥsanihā, sa`urīkum dāral-fāsiqīn

145. Dan, Kami perintahkan baginya dalam lempengan [Hukum] segala macam pelajaran dengan menjelaskan segala sesuatu sejelas-jelasnya.108 Dan [Kami berfirman], “Berpegang teguhlah kepadanya dengan [sepenuh] kekuatan[mu], dan suruhlah kaummu agar berpegang teguh pada aturan-aturan mereka yang terbaik itu.”

Akan Kuperlihatkan kepada kalian jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang yang fasik.109


108 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 156.


Surah Al-A’raf Ayat 146

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

sa aṣrifu ‘an āyātiyallażīna yatakabbarụna fil-arḍi bigairil-ḥaqq, wa iy yarau kulla āyatil lā yu`minụ bihā, wa iy yarau sabīlar-rusydi lā yattakhiżụhu sabīlā, wa iy yarau sabīlal-gayyi yattakhiżụhu sabīlā, żālika bi`annahum każżabụ bi`āyātinā wa kānụ ‘an-hā gāfilīn

146. Dari pesan-pesan-Ku, akan Aku palingkan semua orang yang, tanpa alasan apa pun, bertingkah sombong di muka bumi: sebab, meskipun mereka dapat rnelihat setiap tanda [kebenaran], mereka tidak beriman padanya, dan meskipun mereka dapat melihat jalan kebenaran, mereka tidak mau menempuhnya—sedangkan, jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka mengambilnya untuk diri mereka sendiri: hal ini disebabkan mereka mendustakan pesan-pesan Kami, dan tetap melalaikannya.110


110 Sebagaimana yang sering disebutkan dalam Al-Quran, tindakan Allah “menjadikan” manusia berbuat dosa diperlihatkan sebagai konsekuensi dari tingkah laku mereka dan akibat pilihan bebas mereka sendiri, Klausa “semua orang yang, tanpa alasan apa pun, bertingkah sombong di muka bumi” jelas merujuk pada manusia yang berpikir bahwa penilaian mereka sendiri mengenai apa yang benar dan apa yang salah merupakan satu-satunya penilaian yang absah dan, karena itu, menolak untuk menundukkan kepentingan-kepentingan pribadi mereka di bawah kriteria standar moral yang absolut (yakni yang diwahyukan); bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7—”manusia menjadi benar-benar melampaui batas manakala dia menganggap dirinya sendiri serbacukup”.


Surah Al-A’raf Ayat 147

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā wa liqā`il-ākhirati ḥabiṭat a’māluhum, hal yujzauna illā mā kānụ ya’malụn

147. Karena itu, semua orang yang mendustakan pesan-pesan Kami dan [dengan demikian, juga mendustakan] kebenaran111 (adanya) kehidupan akhirat—sia-sialah seluruh perbuatan mereka: [sebab,] patutkah mereka diberi balasan selain terhadap apa yang biasa mereka kerjakan?112


111 Lit., “terhadap pertemuan (liqa’)”—dalam pengertian bahwa ia merupakan suatu kenyataan yang telah ditakdirkan.

112 Inilah akhir dari wacana sisipan yang diawali dengan kata-kata “Akan Kuperlihatkan kepada kalian jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang yang fasik”.


Surah Al-A’raf Ayat 148

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ

wattakhaża qaumu mụsā mim ba’dihī min ḥuliyyihim ‘ijlan jasadal lahụ khuwār, a lam yarau annahụ lā yukallimuhum wa lā yahdīhim sabīlā, ittakhażụhu wa kānụ ẓālimīn

148. DAN, SETELAH kepergian Musa, pengikutnya menyembah patung anak sapi yang mengeluarkan suara rendah, [yang terbuat] dari perhiasan-perhiasan mereka.113 Tidakkah mereka melihat bahwa patung itu sama sekali tidak dapat berbicara dengan mereka ataupun menunjukkan jalan kepada mereka? [Namun,] mereka mengambilnya sebagai sesembahan karena mereka adalah orang-orang zalim:


113 Patung anak sapi yang terbuat ciari emas yang pernah disembah Bani Israil jelas-jelas merupakan pengaruh tradisi Mesir yang sudah berabad-abad usianya. Di Memfis, bang,sa Mesir menyembah Apis, sapi jantan suci, yang mereka yakini sebagai penjelmaan Dewa Ptah. Apis yang baru diyakini akan selalu lahir ketika yang tua telah mati, sedangkan nyawa Apis yang telah mati itu diyakini memasuki Osiris dalam Dunia Kematian untuk selanjutnya disembah sebagai Osiris-Apis (yakni “Serapis” pada masa Mesir-Yunani). “Suara rendah” (khuwar) yang ditimbulkan oleh patung anak sapi yang terbuat dari emas itu mungkin disebabkan efek udara, sebagaimana yang ada pada patung-patung yang terdapat di kuil-kuil suci orang Mesir.


Surah Al-A’raf Ayat 149

وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

wa lammā suqiṭa fī aidīhim wa ra`au annahum qad ḍallụ qālụ la`il lam yar-ḥamnā rabbunā wa yagfir lanā lanakụnanna minal-khāsirīn

149. meskipun [kemudian,] ketika mereka memukul-mukul tangan mereka karena menyesal,114 setelah mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka akan berkata, “Sesungguhnya, jika Pemelihara kami tidak berbelas kasih kepada kami dan memberikan ampunan kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang merugi!”115


114 Lit., “ketika dibuat terjatuh di atas tangan-tangan mereka”—suatu frasa idiomatik yang menunjukkan penyesalan yang sangat dalam, mungkin terambil dari gerakan bertepuknya (“jatuhnya”) tangan yang satu ke tangan lainnya sebagai suatu ungkapan dukacita atau penyesalan.

115 Seluruh ayat 149 merupakan suatu klausa sisipan (jumlah mu’taridhah) yang mengacu pada waktu yang lebih terkemudian—karena Bani Israil baru bertobat setelah Nabi Musa a.s. kembali dari Gunung Sinai, seperti yang disebutkan pada ayat selanjutnya.


Surah Al-A’raf Ayat 150

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ ۖ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ ۚ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa lammā raja’a mụsā ilā qaumihī gaḍbāna asifang qāla bi`samā khalaftumụnī mim ba’dī, a ‘ajiltum amra rabbikum, wa alqal-alwāḥa wa akhaża bira`si akhīhi yajurruhū ilaīh, qālabna umma innal-qaumastaḍ’afụnī wa kādụ yaqtulụnanī fa lā tusymit biyal-a’dā`a wa lā taj’alnī ma’al qaumiẓ-ẓālimīn

150. Dan, ketika Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan dukacita, dia berseru, “Alangkah buruknya jalan yang kalian tempuh ketika aku tidak ada! Apakah kalian telah meninggalkan116 perintah Pemelihara kalian?”

Dan, dia menjatuhkan lempengan-lempengan [Hukum] dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arah dirinya. Harun berseru, “Wahai, putra ibuku! Perhatikanlah, kaum ini telah merendahkanku117 dan hampir membunuhku: maka, janganlah menjadikan musuh-musuhku gembira atas penderitaanku dan jangan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang zalim!”


116 Lit., “mendahului”. Ungkapan “seseorang telah mendahului suatu masalah” sama artinya dengan “dia menInggalkannya” atau “membiarkannya telantar” (Al-Zamakhsyari).

117 Lit., “membuatku [atau ‘menganggapku’] lemah tidak berdaya”. Berlawanan dengan cerita Bibei (Kitab Keluaran 32: 1-5), Al-Quran tidak menuduh Nabi Harun a.s. ikut ambil bagian dalam pembuatan atau penyembahan patung anak sapi yang terbuat dari emas itu; kesalahannya adalah karena dia berdiam diri melihat kemusyrikan kaumnya karena takut kalau-kalau terjadi perpecahan di antara mereka (bdk. Surah TaHa [20]: 92-94).


Surah Al-A’raf Ayat 151

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

qāla rabbigfir lī wa li`akhī wa adkhilnā fī raḥmatika wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

151. [Musa] berkata, “Wahai, Pemeliharaku! Ampunilah aku118 dan saudaraku, serta masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu: sebab, Engkau-lah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang!”


118 Yakni, “karena kemarahan dan kekerasanku” (Al-Razi).


Surah Al-A’raf Ayat 152

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

innallażīnattakhażul-‘ijla sayanāluhum gaḍabum mir rabbihim wa żillatun fil-ḥayātid-dun-yā, wa każālika najzil-muftarīn

152. [Dan, kepada Harun, dia berkata,] “Sungguh, adapun bagi orang-orang yang menyembah anak sapi [emas] itu—murka Allah akan menimpa mereka dan kenistaan [akan menjadi nasib mereka] dalam kehidupan di dunia ini!”

Karena, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebatilan [seperti itu].119


119 Di seluruh AI-Quran, ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan (a) penisbahan sifat-sifat ketuhanan pada benda-benda atau persona-persona mana pun, baik yang konkret maupun yang khayali, dan (b) pernyataan yang batil tentang Allah, sifat-sifat-Nya, atau kandungan pesan-pesan-Nya. Dalam konteks di atas, ia mengacu pada citra batil apa pun yang mengalihkan manusia dari menyembah Allah yang Esa.


Surah Al-A’raf Ayat 153

وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wallażīna ‘amilus-sayyi`āti ṡumma tābụ mim ba’dihā wa āmanū inna rabbaka mim ba’dihā lagafụrur raḥīm

153. Namun, adapun orang-orang yang melakukan perbuatan buruk, kemudian bertobat dan [benar-benar] beriman—sungguh, setelah tobat yang seperti itu,120 Pemeliharamu benar-benar Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


120 Lit., “setelahnya”.


Surah Al-A’raf Ayat 154

وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ ۖ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ

wa lammā sakata ‘am mụsal-gaḍabu akhażal-alwāḥa wa fī nuskhatihā hudaw wa raḥmatul lillażīna hum lirabbihim yar-habụn

154. Dan, ketika amarah Musa mereda, dia mengambil lempengan-lempengan itu; yang dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang gentar-terpukau kepada Pemeliharanya.121


121 Menurut Bibel (Kitab Keluaran 32: 19), Nabi Musa a.s. memecahkan lempengan-lempengan batu itu ketika dia melemparkannya karena marah; namun, uraian AI-Quran menunjukkan bahwa lempengan-lempengan tersebut tetap utuh.


Surah Al-A’raf Ayat 155

وَاخْتَارَ مُوسَىٰ قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا ۖ فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا ۖ إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ ۖ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۖ وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

wakhtāra mụsā qaumahụ sab’īna rajulal limīqātinā, fa lammā akhażat-humur-rajfatu qāla rabbi lau syi`ta ahlaktahum ming qablu wa iyyāy, a tuhlikunā bimā fa’alas-sufahā`u minnā, in hiya illā fitnatuk, tuḍillu bihā man tasyā`u wa tahdī man tasyā`, anta waliyyunā fagfir lanā war-ḥamnā wa anta khairul-gāfirīn

155. Dan, Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk datang [dan berdoa memohon ampun] pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka, ketika mereka diterpa guncangan yang keras,122 dia berdoa,

“Wahai, Pemeliharaku! Seandainya Engkau menghendaki, tentulah Engkau telah membinasakan mereka dan aku [bersama-sama] sebelum ini. Akankah Engkau membinasakan kami karena apa yang dilakukan oleh orang yang lemah-akal di antara kami? [Semua] ini hanyalah cobaan dari Engkau, yang dengannya Kau biarkan sesat siapa pun yang Kau kehendaki dan Kau berikan petunjuk kepada siapa pun yang Kau kehendaki. Engkau dekat dengan kami:* maka, ampunilah kami dan berbelas kasihlah kepada kami—sebab, Engkau-lah sebaik-baik Pemberi ampun!


122 Mayoritas mufasir menafsirkan kata rajfah di sini dengan “gempa bumi”, sebagaimana dalam tempat lainnya dalam Al-Quran (terutama, ayat 78 dan 91 surah ini). Namun, hendaknya diingat bahwa nomina ini menunjukkan sembarang “huru-hara yang dahsyat” atau “guncangan”, apa pun penyebabnya; dan karena tidak ada alasan untuk menganggap bahwa dalam konteks ini yang dimaksud adalah gempa bumi, kita bisa mengasumsikan bahwa guncangan keras yang menerpa tujuh puluh orang itu disebabkan oleh rasa penyesalan mereka yang mendalam dan ketakutan mereka akan siksa Allah.

* (“Thou art near unto us” adalah terjemahan Asad untuk anta waliyyuna. Dalam bahasa Arab, waliy dapat berarti pemimpin dan bisa pula berarti sahabat, kekasih (orang yang sangat dekat) sehingga dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “pemimpin”.—AM}


Surah Al-A’raf Ayat 156

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

waktub lana fī hāżihid-dun-yā ḥasanataw wa fil-ākhirati innā hudnā ilaīk, qāla ‘ażābī uṣību bihī man asyā`, wa raḥmatī wasi’at kulla syaī`, fa sa`aktubuhā lillażīna yattaqụna wa yu`tụnaz-zakāta wallażīna hum bi`āyātinā yu`minụn

156. Dan, tetapkanlah bagi kami apa-apa yang baik di dunia ini maupun dalam kehidupan akhirat: perhatikanlah, kepada Engkau-lah kami berpaling dalam tobat!”

[Allah] menjawab, “Aku timpakan hukuman-Ku kepada siapa yang Aku kehendaki—tetapi rahmat-Ku meliputi segala sesuatu:123 maka, akan Aku anugerahkan rahmat-Ku itu kepada orang-orang yang sadar akan Aku, yang memberikan derma, dan yang beriman kepada pesan-pesan Kami—


123 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 12 (dan catatannya no. 10), serta Surah Al-An’am [6]: 54.


Surah Al-A’raf Ayat 157

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

allażīna yattabi’ụnar-rasụlan-nabiyyal-ummiyyallażī yajidụnahụ maktụban ‘indahum fit-taurāti wal-injīli ya`muruhum bil-ma’rụfi wa yan-hāhum ‘anil-mungkari wa yuḥillu lahumuṭ-ṭayyibāti wa yuḥarrimu ‘alaihimul-khabā`iṡa wa yaḍa’u ‘an-hum iṣrahum wal-aglālallatī kānat ‘alaihim, fallażīna āmanụ bihī wa ‘azzarụhu wa naṣarụhu wattaba’un-nụrallażī unzila ma’ahū ulā`ika humul-mufliḥụn

157. orang-orang yang akan mengikuti Rasul [terakhir], Nabi buta aksara yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat yang ada pada mereka, dan [kelak] di dalam lnjil:124 [Nabi] yang memerintahkan mereka untuk mengerjakan apa yang benar dan melarang mereka dari mengerjakan apa yang salah, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik-baik dalam kehidupan dan mengharamkan bagi mereka segaJa hal yang buruk, dan mengangkat dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka [pada masa lalu].125 Karena itu, orang-orang yang akan beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang telah diturunkan melaluinya—mereka itulah orang-orang yang akan meraih kebahagiaan.”


124 Kata “kelak” perlu disisipkan sebelum kata Injil karena fakta bahwa keseluruhan wacana ini ditujukan kepada Nabi Musa a.s. dan Bani Israil, yakni jauh sebelum Injil diwahyukan kepada Nabi Isa a.s. (yakni Injil menurut versi Al-Quran—bdk. Surah Alu ‘Imran [3] dengan catatan no. 4 yang terkait). Kisah-kisah beberapa nabi terdahulu yang disebutkan dalam surah ini—yang dimulai dengan kisah Nabi Nuh a.s. dan diakhiri dengan kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil—menjadi semacam pendahuluan bagi perintah agar mengikuti “Nabi buta aksara (unlettered)” itu, yakni Nabi Muhammad Saw. Pernyataan bahwa Nabi “buta aksara” (ummi), yakni tidak bisa membaca dan menulis, menekankan fakta bahwa seluruh pengetahuannya tentang nabi-nabi terdahulu dan pesan-pesan yang disampaikan oleh mereka murni bersumber dari wahyu dan bukan karena telah membaca Injil itu sendiri. Untuk ramalan-ramalan Perjanjian Lama tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. (khususnya dalam Kitab Ulangan 18: 15 dan 18), lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 33; untuk ramalan Perjanjian Baru terhadap hal yang sama, lihat Surah As-Shaff [61]: 6 dan catatan no. 6 yang terkait.

125 Hal ini mengacu pada begitu banyaknya ritual dan kewajiban yang ketat dalam Hukum Musa a.s., serta pada kecenderungan ke arah asketisisme yang tampak jelas dalam ajaran Injil. Jadi, Al-Quran menunjukkan bahwa “beban dan belenggu”—yang dimaksudkan sebagai sarana pendisiplinan ruhani bagi sebagian kalangan tertentu, dan pada tingkat tertentu dalam perkembangan manusia—akan menjadi tidak diperlukan lagi segera setelah pesan-pesan Allah kepada manusia telah mencapai kesempurnaan dan keuniversalannya, yakni yang tecermin dalam ajaran Nabi Terakhir, Nabi Muhammad Saw.


Surah Al-A’raf Ayat 158

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

qul yā ayyuhan-nāsu innī rasụlullāhi ilaikum jamī’anillażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, lā ilāha illā huwa yuḥyī wa yumītu fa āminụ billāhi wa rasụlihin-nabiyyil-ummiyyillażī yu`minu billāhi wa kalimātihī wattabi’ụhu la’allakum tahtadụn

158. Katakanlah [wahai Muhammad]: “Wahai, manusia! Sungguh, aku adalah (rasul) utusan Allah kepada kalian semua,126 [yang diutus oleh Allah] yang memiliki kekuasaan atas lelangit dan bumi! Tiada tuhan kecuali Dia; Dia [sajalah] yang menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian!”

Maka, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya—Nabi buta aksara yang beriman kepada Allah dan firman-firman-Nya—dan ikutilah dia agar kalian mendapat petunjuk!


126 Ayat ini, yang disisipkan di tengah-tengah kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil, dimaksudkan untuk menjelaskan ayat terdahulu. Setiap nabi terdahulu diutus kepada, dan hanya kepada, kaumnya: jadi, Perjanjian Lama ditujukan kepada Bani Israil saja; dan bahkan Nabi Isa a.s., yang cakupan risalahnya lebih luas, menyebut dirinya sebagai “diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Bibel, Matius 15: 24). Berlawanan dengan itu, pesan-pesan Al-Quran bersifat universal—yakni, ditujukan kepada seluruh umat manusia—dan tidak terbatas oleh masa maupun lingkungan budaya tertentu. Karena inilah, Nabi Muhammad Saw , yang melaluinya pesan ini disampaikan, digambarkan dalam Al-Quran (Surah Al-Anbiya’ [21]: 107) sebagai bukti dari “rahmat [Allah] bagi semesta alam” (yakni bagi seluruh manusia), dan sebagai “penutup semua nabi” (Surah Al-Ahzab [33]: 40)—dengan kata lain, sebagai nabi yang terakhir.


Surah Al-A’raf Ayat 159

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

wa ming qaumi mụsā ummatuy yahdụna bil-ḥaqqi wa bihī ya’dilụn

159. DAN, DI ANTARA kaum Musa terdapat umat yang menunjuki [manusia] ke jalan kebenaran dan berlaku adil sesuai dengan (jalan) itu.127


127 Yakni, orang-orang seperti yang dibicarakan pada Surah Alu ‘Imran [3]: 113-115. Dengan ayat ini, wacana beralih kembali pada sejarah moral Bani Israil. Penekanan terhadap fakta bahwa selalu ada orang-orang saleh di antara mereka dimaksudkan untuk menyajikan suatu kontras antara kesalehan ini dan dosa pembangkangan dari kebanyakan mereka, sebagaimana yang ditunjukkan sepanjang sejarah mereka menurut Bibel. Pada saat yang sama, hal itu menunjukkan suatu indikasi bahwa, meskipun kezaliman yang dilakukan oleh sebagian orang kadang-kadang dapat menjerumuskan keseluruhan umat ke dalam kesengsaraan, Allah menghakimi manusia secara individual dan bukan secara berkelompok.


Surah Al-A’raf Ayat 160

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۚ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

wa qaṭṭa’nāhumuṡnatai ‘asyrata asbāṭan umamā, wa auḥainā ilā mụsā iżistasqāhu qaumuhū aniḍrib bi’aṣākal-ḥajar, fambajasat min-huṡnatā ‘asyrata ‘ainā, qad ‘alima kullu unāsim masyrabahum, wa ẓallalnā ‘alaihimul-gamāma wa anzalnā ‘alaihimul-manna was-salwā, kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum, wa mā ẓalamụnā wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

160. Dan, Kami bagi mereka menjadi dua belas suku [atau] umat. Dan, ketika kaumnya meminta air kepada Musa, Kami mewahyukan kepadanya “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”—lalu memancarlah darinya dua belas mata air sehingga semua kaum mengetahui sumber minumannya.

Dan, Kami jadikan awan memberi kenyamanan bagi mereka dengan bayangannya dan Kami turunkan kepada mereka hidangan dari langit dan burung puyuh, [seraya berfirman,] “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian.”

Dan, [dengan segala dosa mereka,] mereka tidak menzalimi Kami—tetapi mereka [hanyalah] menzalimi diri mereka sendiri.


Surah Al-A’raf Ayat 161

وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ ۚ سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

wa iż qīla lahumuskunụ hāżihil-qaryata wa kulụ min-hā ḥaiṡu syi`tum wa qụlụ hiṭṭatuw wadkhulul-bāba sujjadan nagfir lakum khaṭī`ātikum, sanazīdul-muḥsinīn

161. Dan, [ingatlah] ketika dikatakan kepada mereka: “Tinggallah di negeri ini dan makanlah dari hasil buminya sekehendak kalian; tetapi, ucapkanlah, ‘Bebaskanlah kami dari beban dosa-dosa kami,’ dan masukilah pintu gerbangnya dengan rendah hati—[kemudian] Kami akan mengampuni dosa-dosa kalian [dan] akan melipatgandakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.”


Surah Al-A’raf Ayat 162

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ

fa baddalallażīna ẓalamụ min-hum qaulan gairallażī qīla lahum fa arsalnā ‘alaihim rijzam minas-samā`i bimā kānụ yaẓlimụn

162. Namun, orang-orang yang berkukuh berbuat zalim di antara mereka itu mengganti ucapan yang disampaikan kepada mereka dengan ucapan lain: maka, Kami timpakan atas mereka wabah dari langit sebagai balasan atas segala perbuatan zalim mereka.128


128 Untuk penjelasan mengenai ayat ini dan ayat sebelumnya, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 58-59 dan catatannya yang terkait.


Surah Al-A’raf Ayat 163

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ ۙ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

was`al-hum ‘anil-qaryatillatī kānat hāḍiratal-baḥr, iż ya’dụna fis-sabti iż ta`tīhim ḥītānuhum yauma sabtihim syurra’aw wa yauma lā yasbitụna lā ta`tīhim, każālika nablụhum bimā kānụ yafsuqụn

163. Dan, tanyakanlah kepada mereka tentang kota yang terletak di tepi laut itu: bagaimana penduduknya mencemari hari Sabat manakala ikan-ikan mereka mendatangi mereka, dengan memecah-mecah permukaan air, pada hari ketika mereka seharusnya menjaga aturan hari Sabat—karena ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka selain pada hari-hari Sabat!129 Demikianlah Kami menguji mereka melalui perbuatan-perbuatan fasik mereka [sendiri].


129 Lit., “pada hari ketika mereka tidak menjaga aturan hari Sabat”. Menurut Hukum Musa, mereka diwajibkan berpantang dari melakukan segala pekerjaan—termasuk memancing—pada hari-hari Sabat sehingga ikan menjadi berlimpah ruah dan lebih mendekati pantai pada hari-hari itu: dan penduduk kota menjadikan hal ini sebagai dalih untuk melanggar aturan hari Sabat. Karena Al-Quran tidak menyebutkan nama kota itu dan tidak pula memberikan indikasi apa pun mengenai kapan pelanggaran itu terjadi, kita dapat berasumsi bahwa kisah pelanggaran hari Sabat ini (yang telah disinggung dalam beberapa tempat dalam Al-Quran) merupakan gambaran umum terhadap kecenderungan untuk melanggar aturan-aturan agama demi mengejar hawa nafsu atau demi keuntungan duniawi semata—suatu hal yang sering dilakukan oleh Bani Israil. Meskipun, menurut ajaran Islam, Hukum Musa telah dibatalkan, Al-Quran sering mengungkapkan peran penting yang dimainkan hukum itu dalam sejarah kepercayaan monoteistik manusia, dan berkali-kali menekankan pentingnya hukum itu (yang terbatas masa berlakunya) sebagai sarana untuk menegakkan disiplin ruhani terhadap Bani Israil. Tindakan mereka yang berulang-ulang melanggar Hukum Musa dengan sengaja diperlihatkan sebagai bukti sikap pembangkangan mereka terhadap aturan itu dan, karena itu, terhadap perintah-perintah Allah pada umumnya.


Surah Al-A’raf Ayat 164

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا ۙ اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa iż qālat ummatum min-hum lima ta’iẓụna qaumanillāhu muhlikuhum au mu’ażżibuhum ‘ażāban syadīdā, qālụ ma’żiratan ilā rabbikum wa la’allahum yattaqụn

164. Dan, manakala beberapa orang130 di antara mereka bertanya [kepada orang-orang yang mencoba menahan para pelanggar hari Sabat], “Mengapa kalian menasihati kaum yang akan Allah binasakan atau [setidaknya] akan Allah hukum dengan penderitaan yang amat keras?”—orang-orang yang saleh131 akan menjawab, “Agar kami terbebas dari tuduhan di hadapan Pemelihara kalian dan agar mereka [para pelanggar] ini [pun] dapat menjadi bertakwa kepada-Nya.”


130 Lit., “suatu umat”—tampaknya mereka adalah orang-orang yang, walaupun tidak secara aktif menolak kefasikan dalam lingkungan mereka, tidak turut ambil bagian dalam pelanggaran hari Sabat.

131 Lit., “mereka”—mengacu pada orang-orang yang benar-benar saleh di antara mereka, seperti yang telah dijelaskan pada ayat 159.


Surah Al-A’raf Ayat 165

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

fa lammā nasụ mā żukkirụ bihī anjainallażīna yan-hauna ‘anis-sū`i wa akhażnallażīna ẓalamụ bi’ażābim ba`īsim bimā kānụ yafsuqụn

165. Maka, tatkala mereka [para pendosa] itu telah melupakan semua yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang berupaya mencegah perbuatan jahat132, dan kepada orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman, Kami timpakan derita yang mengerikan karena segala kefasikan mereka;


132 Lit., “yang melarang kejahatan”.


Surah Al-A’raf Ayat 166

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

fa lammā ‘atau ‘am mā nuhụ ‘an-hu qulnā lahum kụnụ qiradatan khāsi`īn

166. dan kemudian, tatkala dengan mencemooh mereka tetap berkukuh melakukan apa yang mereka dilarang melakukannya, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kalian seperti kera yang hina!”133


133 Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, ungkapan “Kami katakan kepada mereka” di sini sama artinya dengan “Kami menetapkan terhadap mereka”.

Dalam kasus ini, “perkataan” Allah adalah metonimia dari perwujudan kehendak-Nya. Adapun mengenai makna sebenarnya dari pernyataan Allah, “Jadilah kalian seperti kera yang hina”, tabi’i terkenal Mujahid menjelaskannya demikian: “[Hanya] hati mereka yang berubah, yakni mereka tidaklah [benar-benar] berubah menjadi kera: ini hanyalah merupakan metafora (matsal) yang dibuat oleh Allah berkenaan dengan mereka, serupa dengan kiasan ‘keledai yang membawa muatan buku-buku’ (Surah Al-Jumu’ah [62]: 5)” (Al-Thabari, dalam penafsirannya terhadap Surah Al-Baqarah [2]: 65; juga Al-Manar I, h. 343; VI, h. 448; dan IX, h. 379). Raghib juga memberikan penafsiran yang sama. Hendaknya diingat bahwa ungkapan “seperti kera” sering digunakan dalam bahasa Arab klasik untuk menggambarkan manusia yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya.


Surah Al-A’raf Ayat 167

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۗ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ ۖ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa iż ta`ażżana rabbuka layab’aṡanna ‘alaihim ilā yaumil-qiyāmati may yasụmuhum sū`al-‘ażāb, inna rabbaka lasarī’ul-‘iqābi wa innahụ lagafụrur raḥīm

167. Dan, lihatlah! Pemeliharamu memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia akan membangkitkan, melawan mereka, orang-orang yang akan menimpakan penderitaan yang keji kepada mereka hingga Hari Kiamat: sungguh, Pemeliharamu amat cepat dalam menghukum—namun, sungguh, Dia [juga] Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-A’raf Ayat 168

وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا ۖ مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa qaṭṭa’nāhum fil-arḍi umamā, min-humuṣ-ṣāliḥụna wa min-hum dụna żālika wa balaunāhum bil-ḥasanāti was-sayyi`āti la’allahum yarji’ụn

168. Dan, Kami sebarkan mereka menjadi beberapa umat [yang terpisah-pisah] di muka bumi; sebagian di antara mereka adalah orang-orang yang saleh, dan sebagian lagi tidak demikian: dan Kami uji orang-orang yang tidak saleh itu dengan nikmat-nikmat maupun penderitaan agar mereka dapat memperbaiki jalan mereka.134


134 Lit, “agar mereka dapat kembali [pada jalan kesalehan]”.


Surah Al-A’raf Ayat 169

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

fa khalafa mim ba’dihim khalfuw wariṡul-kitāba ya`khużụna ‘araḍa hāżal-adnā wa yaqụlụna sayugfaru lanā, wa iy ya`tihim ‘araḍum miṡluhụ ya`khużụh, a lam yu`khaż ‘alaihim mīṡāqul-kitābi al lā yaqụlụ ‘alallāhi illal-ḥaqqa wa darasụ mā fīh, wad-dārul-ākhiratu khairul lillażīna yattaqụn, a fa lā ta’qilụn

169. Dan, mereka digantikan dengan generasi-generasi [baru] yang—[meskipun] mewarisi kitab Ilahi—hanya berpegangan pada keuntungan sesaat dari dunia yang rendah ini dan berkata, “Kami akan diampuni,”135 padahal, andaikan datang kepada mereka keuntungan sesaat lainnya yang seperti itu, mereka siap berpegangan kepadanya [dan melakukan dosa kembali]. Bukankah mereka telah disumpah-setia melalui kitab Ilahi agar tidak menisbahkan kepada Allah apa pun kecuali yang benar,136 dan [belumkah mereka] mempelajari semua yang terdapat di dalamnya?

Karena kehidupan di akhirat itu lebih baik [daripada kehidupan dunia] bagi semua yang sadar akan Allah—maka, tidakkah kalian menggunakan akal?


135 Yakni, karena melanggar perintah-perintah Allah demi mengejar keuntungan duniawi: mengacu pada kepercayaan mereka yang teguh bahwa mereka adalah “umat pilihan Tuhan” dan bahwa, terlepas dari apa pun yang mereka perbuat, mereka dijamin mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya karena mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s.

136 Suatu rujukan terhadap pendapat batil mereka bahwa ampunan Allah mungkin diperoleh walaupun tanpa melakukan tobat dengan sungguh-sungguh. Kitab Ilahi (kitab) yang disebutkan dua kali dalam ayat ini jelas maksudnya adalah Bibel (Alkitab).


Surah Al-A’raf Ayat 170

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

wallażīna yumassikụna bil-kitābi wa aqāmuṣ-ṣalāh, innā lā nuḍī’u ajral-muṣliḥīn

170. Karena [Kami akan memberikan balasan kepada] semua orang yang berpegang erat pada kitab Ilahi serta teguh mendirikan shalat: sungguh, Kami tidak akan lalai memberikan balasan kepada orang-orang yang memerintahkan untuk mengerjakan apa yang benar!


Surah Al-A’raf Ayat 171

وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

wa iż nataqnal-jabala fauqahum ka`annahụ ẓullatuw wa ẓannū annahụ wāqi’um bihim, khużụ mā ātainākum biquwwatiw ważkurụ mā fīhi la’allakum tattaqụn

171. Dan, [bukankah telah Kami katakan,] ketika Kami jadikan Gunung Sinai berguncang di atas Bani Israil137 seakan-akan gunung itu [hanyalah] bayangan, dan mereka menyangka bahwa gunung itu akan jatuh menimpa mereka, “Berpegang teguhlah dengan [sepenuh] kekuatan [kalian] pada apa yang telah Kami berikan kepada kalian, serta ingatlah semua yang terdapat di dalamnya, agar kalian senantiasa sadar akan Allah”?138


137 Lit., “ketika Kami guncangkan gunung di atas mereka”: mungkin merujuk pada gempa bumi yang terjadi ketika Hukum Musa (“lempengan-lempengan”) diwahyukan kepadanya.

138 Inilah akhir kisah Bani Israil dalam surah ini. Sesuai dengan metode Al-Quran, kisah mereka dijadikan sebagai peiajaran bagi seluruh orang beriman dari segala bangsa dan masa: dan, karena itulah, wacana selanjutnya berbicara tentang “Bani Adam”, yaitu seluruh umat manusia.


Surah Al-A’raf Ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

wa iż akhaża rabbuka mim banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alā anfusihim, a lastu birabbikum, qālụ balā syahidnā, an taqụlụ yaumal-qiyāmati innā kunnā ‘an hāżā gāfilīn

172. DAN, MANAKALA Pemeliharamu mengeluarkan keturunan mereka dari sulbi anak-anak Adam, [maka] Dia memanggil mereka menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, “Bukankah Aku ini Pemelihara kalian?”—yang dijawab oleh mereka, “Ya, sungguh, kami benar-benar menjadi saksi atas hal itu!”139

[Kami mengingatkan kalian tentang hal ini] agar pada Hari Kebangkitan, kalian tidak mengatakan, “Sungguh, kami lalai terhadap ini”;


139 Dalam teks Al-Qurannya, bagian ini menggunakan kalimat bentuk lampau (fi’l madhi, “Dia telah mengeluarkan”, “Dia telah bertanya kepada mereka”, dan seterusnya), jadi menekankan perulangan yang kontinu dari “tanya-jawab” metaforis di atas, yakni: suatu kontinuitas yang dalam terjemahan {bahasa Inggrisnya} akan tampak lebih jelas dengan penggunaan kalimat bentuk kini (present tense). Menurut Al-Quran, kemampuan untuk menyadari adanya Yang Mahakuasa sudah tertanam dalam fitrah (kecenderungan alami) manusia; dan pengetahuan fitrah inilah—yang selanjutnya bisa dikotori oleh hawa nafsu atau pengaruh lingkungan yang buruk—yang menjadikan setiap manusia yang waras sebagai “saksi atas dirinya sendiri” di hadapan Allah. Sebagaimana yang sering dijumpai dalam Al-Quran, “berbicaranya” Allah dan “jawaban” manusia merupakan metonimia bagi tindakan kreatif Allah dan bagi tanggapan eksistensial manusia terhadapnya.


Surah Al-A’raf Ayat 173

أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ

au taqụlū innamā asyraka ābā`unā ming qablu wa kunnā żurriyyatam mim ba’dihim, a fa tuhlikunā bimā fa’alal-mubṭilụn

173. atau agar kalian tidak mengatakan, “Sungguh, nenek moyang kamilah yang, pada masa silam, memulai menisbahkan ketuhanan kepada makhluk-makhluk lain selain Allah, sedangkan kami ini hanyalah keturunan sesudah mereka: maka, apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang membuat-buat kebatilan itu?”


Surah Al-A’raf Ayat 174

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa każālika nufaṣṣilul-āyāti wa la’allahum yarji’ụn

174. Dan, demikianlah Kami menjelaskan pesan-pesan ini sejelas-jelasnya, dan [Kami melakukannya] agar mereka [yang telah melakukan dosa itu] dapat kembali [kepada Kami].


Surah Al-A’raf Ayat 175

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

watlu ‘alaihim naba`allażī ātaināhu āyātinā fansalakha min-hā fa atba’ahusy-syaiṭānu fa kāna minal-gāwīn

175. Dan, ceritakanlah kepada mereka (tentang) apa yang terjadi pada orang140 yang telah Kami berikan pesan-pesan Kami, dan yang kemudian mencampakkannya: setan mengikutinya, dan dia tersesat, seperti banyak orang lainnya, dalam kesalahan yang besar.141


140 Lit., “sampaikanlah kepada mereka berita tentang dia”.

141 Lit., “maka jadilah termasuk orang-orang yang tersesat ke dalam kesalahan yang besar”. Dalam teks Al-Qurannya, keseluruhan ayat ini diungkapkan dalam kalimat bentuk lampau (fi’l madhi); tetapi, karena maksudnya jelas-jelas merupakan pernyataan kebenaran yang bersifat umum (bdk. Al-Razi, berdasarkan riwayat Qathadah, ‘Ikrimah, dan Abu Muslim) dan bukan—sebagaimana asumsi beberapa mufasir—mengacu pada orang tertentu, ayat ini sebaiknya diterjemahkan dalam kalimat bentuk kini. Golongan manusia yang dibicarakan di sini adalah mereka yang telah memahami pesan-pesan Ilahi, tapi menolak untuk menerima kebenarannya karena—sebagaimana ditunjukkan dalam ayat selanjutnya—”dia cenderung kepada dunia”, yakni dikuasai oleh pandangan tentang kehidupan yang materialistis dan “duniawi”. (Bdk. alegori “makhluk dari bumi” dalam Surah An-Naml [27]: 82.)


Surah Al-A’raf Ayat 176

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

walau syi`nā larafa’nāhu bihā wa lākinnahū akhlada ilal-arḍi wattaba’a hawāh, fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in taḥmil ‘alaihi yal-haṡ au tatruk-hu yal-haṡ, żālika maṡalul-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, faqṣuṣil-qaṣaṣa la’allahum yatafakkarụn

176. Dan, seandainya Kami menghendaki, Kami sungguh dapat meninggikannya dengan [pesan-pesan] itu: tetapi dia selalu cenderung kepada dunia dan hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri.

Maka, perumpamaannya adalah seperti anjing [yang gembira]: jika engkau menghalaunya, ia akan mendengus seraya menjulurkan lidahnya; dan jika engkau membiarkannya, ia akan mendengus seraya menjulurkan lidahnya.142 Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang berkukuh mendustakan pesan-pesan Kami. Maka, ceritakanlah [kepada mereka] kisah-kisah ini agar mereka dapat berpikir.


142 Sikap manusia semacam ini hanya dipengaruhi oleh apa yang digambarkan oleh hasrat-hasrat duniawinya sebagai “keuntungan” atau “kerugian” jangka pendeknya, karena itu, tipe manusia yang disinggung dalam wacana ini selaiu—dalam keadaan apa pun—menjadi korban konflik antara akal dan hasrat dasarnya dan, dengan demikian, menjadi korban kegelisahan batin dan bayangan ketakutan, serta tidak dapat meraih kedamaian batin seperti yang diraih kaum Mukmin melalui imannya.


Surah Al-A’raf Ayat 177

سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ

sā`a maṡalanil-qaumullażīna każżabụ bi`āyātinā wa anfusahum kānụ yaẓlimụn

177. Amat buruklah contoh orang-orang yang berkukuh mendustakan pesan-pesan Kami: sebab, terhadap diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim!


Surah Al-A’raf Ayat 178

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

may yahdillāhu fa huwal-muhtadī, wa may yuḍlil fa ulā`ika humul-khāsirụn

178. Siapa pun yang Allah beri petunjuk, maka dia sendirilah yang benar-benar mendapat petunjuk; sedangkan, siapa pun yang Allah biarkan sesat—mereka, mereka itulah orang-orang yang merugi!


Surah Al-A’raf Ayat 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

wa laqad żara`nā lijahannama kaṡīram minal-jinni wal-insi lahum qulụbul lā yafqahụna bihā wa lahum a’yunul lā yubṣirụna bihā wa lahum āżānul lā yasma’ụna bihā, ulā`ika kal-an’āmi bal hum aḍall, ulā`ika humul-gāfilụn

179. Dan sesungguhnya, bagi neraka, telah Kami tetapkan banyak makhluk gaib143 dan manusia yang mempunyai hati, tetapi tidak dapat menangkap kebenaran, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, dan mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak—tidak, mereka bahkan kurang sadar terhadap jalan yang benar:144 mereka, mereka itulah orang yang [benar-benar] lalai!


143 Lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.

144 Lit., “mereka lebih sesat”—karena binatang hanya mengikuti insting dan kebutuhan alaminya belaka serta tidak sadar akan kemungkinan atau perlunya pilihan moral.


Surah Al-A’raf Ayat 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lillāhil-asmā`ul-ḥusnā fad’ụhu bihā wa żarullażīna yul-ḥidụna fī asmā`ih, sayujzauna mā kānụ ya’malụn

180. [HANYA] MILIK ALLAH-LAH sifat-sifat kesempurnaan;145 maka, mohonlah kepada-Nya dengan itu, dan tinggalkanlah semua orang yang menyelewengkan makna sifat-sifat-Nya:146 mereka akan mendapatkan balasan atas segala yang biasa mereka kerjakan!


145 Ayat ini berkaitan dengan disebutkannya—pada akhir ayat sebelumnya—”orang yang [benar-benar] lalai”, yakni yang tidak menggunakan kemampuan pemahaman mereka sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah, dan tetap lalai terhadap Dia, Zat yang memiliki seturuh sifat kesempurnaan dan, karena itu, merupakan Realitas Tertinggi. Adapun mengenai istilah al-asma al-husna (lit., “nama-nama yang paling sempurna [atau ‘paling baik’]”) yang muncul dalam Al-Quran sebanyak empat kali—yakni, pada ayat di atas, pada Surah Al-Isra’ [17]: 110, Surah TaHa [20]: 8, dan Surah Al-Hasyr [59]: 24—hendaknya diingat bahwa istilah ism, utamanya, adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan substansi atau sifat-sifat intrinsik dari suatu objek yang dibicarakan; sedangkan istilah al-husna adalah bentuk jamak dari al-ahsan (“yang terbaik” atau “paling bagus”). Jadi, gabungan al-asma al-husna bisa secara tepat diterjemahkan menjadi “sifat-sifat kesempurnaan”—sebuah istilah yang dalam Al-Quran digunakan untuk Allah semata.

146 Yakni, dengan memakaikan nama-nama tersebut pada makhluk-makhluk atau benda-benda lain atau, jika tidak demikian, dengan mencoba “mendefinisikan” Allah melalui istilah-istilah dan relasi-relasi yang bersifat antropomorfis, seperti “bapak” atau “anak” (Al-Razi).


Surah Al-A’raf Ayat 181

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

wa mim man khalaqnā ummatuy yahdụna bil-ḥaqqi wa bihī ya’dilụn

181. Dan, di antara orang-orang yang Kami ciptakan terdapat suatu umat yang menunjuki [manusia] ke jalan kebenaran dan berlaku adil sesuai dengan (jalan) itu.147


147 Yakni, “dan mereka akan diganjar sesuai dengan itu {perbuatannya—peny.}”. Lihat ayat 159, yang menggambarkan orang-orang saleh “di antara kaum Musa”. Dalam ayat ini, acuannya diperluas sehingga mencakup orang-orang saleh dari segala zaman dan masyarakat—yakni, semua orang yang menerima pesan-pesan Allah dan hidup sesuai dengannya karena meyakini bahwa Allah adalah Realitas Tertinggi.


Surah Al-A’raf Ayat 182

وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

182. Adapun orang-orang yang berkukuh mendustakan pesan-pesan Kami—akan Kami rendahkan mereka, dengan berangsur-angsur, tanpa mereka merasakan bagaimana hal itu terjadi:148


148 Lit., “tanpa mereka mengetahui dari mana [hal itu datang]”. Untuk penjelasan mengenai istilah kaid (“rencana halus”) yang terdapat pada ayat selanjutnya, lihat catatan no. 25 pada Surah Al-Qalam [68]: 45, tempat istilah ini muncul untuk pertama kali dalam kronologi pewahyuan Al-Quran.


Surah Al-A’raf Ayat 183

وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

wa umlī lahum, inna kaidī matīn

183. sebab, perhatikanlah, walaupun boleh jadi Aku memberikan kelonggaran kepada mereka untuk sementara waktu, rencana halus-Ku amat teguh!


Surah Al-A’raf Ayat 184

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا ۗ مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ

a wa lam yatafakkarụ mā biṣāḥibihim min jinnah, in huwa illā nażīrum mubīn

184. Maka, apakah tidak pernah terlintas kepada mereka149 bahwa tidak ada kegilaan apa pun pada kawan mereka [ini]? Dia hanyalah seorang pemberi peringatan.150


149 Lit., “Maka, apakah mereka tidak pernah memikirkan”.

150 Karena Nabi menyampaikan pesan yang berbeda secara mendasar dari segala kebiasaan orang-orang Makkah, banyak orang tak beriman menganggap beliau gila. Penekanan pada “sejawat mereka” (“their fellow-man“; shahibuhum, lit.: sahabat mereka) dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa beliau adalah manusia biasa sehingga akan mencegah kemungkinan bahwa pengikut-pengikutnya akan menganggapnya memiliki sifat-sifat adi-manusiawi: suatu argumen yang dijabarkan lebih terperinci dalam ayat 188.


Surah Al-A’raf Ayat 185

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

a wa lam yanẓurụ fī malakụtis-samāwāti wal-arḍi wa mā khalaqallāhu min syai`iw wa an ‘asā ay yakụna qadiqtaraba ajaluhum fa bi`ayyi ḥadīṡim ba’dahụ yu`minụn

185. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan [Allah] yang besar terhadap lelangit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan [bertanya kepada diri mereka sendiri] apakah, boleh jadi, akhir ajal mereka sendiri telah mendekat? Maka, kepada berita yang mana lagi, setelah (berita) ini, mereka akan beriman?151


151 Terlepas bahwa ayat di atas mengingatkan kebergantungan mutlak manusia kepada Allah, implikasinya adalah sebagai berikut: Karena segala sesuatu yang ada dalam alam semesta yang notabene bisa diamati atau dipahami secara intelektual ini jelas-jelas memiliki sebab, ia mestilah memiliki awal dan, karena itu, mesti pula memiliki akhir. Selanjutnya, karena alam semesta tidaklah kekal (dalam pengertian bahwa ia tidak memiliki awal) dan karena ia mustahil berevolusi “dengan sendirinya” dari ketiadaan, dan karena “ketiadaan” itu adalah suatu konsep yang tidak ada realitasnya, kita dipaksa untuk menegaskan adanya Causa Prima (Sebab Pertama) yang melampaui batas-batas pengalaman kita dan, oleh karenanya, melampaui kategori-kategori pengetahuan kita—yakni keberadaan Allah: dan inilah arti dari “berita” yang dirujuk dalam ayat ini.


Surah Al-A’raf Ayat 186

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

may yuḍlilillāhu fa lā hādiya lahụ wa yażaruhum fī ṭugyānihim ya’mahụn

186. Siapa pun yang Allah biarkan sesat, maka tiada pemberi petunjuk baginya; dan Dia akan membiarkan mereka dalam kesombongan mereka yang keterlaluan, tersandung ke sana kemari dalam keadaan buta.152


152 Sebagaimana dalam ayat 178—dan dalam banyak ayat Al-Quran lainnya—ungkapan “siapa pun yang Allah biarkan [atau ‘jadikan’] sesat” menunjuk pada hukum alam yang ditetapkan oleh Allah (sunnat Allah) sehingga, jika seseorang sengaja melalaikan kemampuan berpikirnya yang merupakan bawaan sejak lahir, dia pasti akan kehilangan seluruh orientasi etika: jadi, sesatnya orang itu disebabkan bukan oleh “predestinasi {ditetapkan sebelumnya}”, melainkan karena pilihannya sendiri. Lihat juga catatan no. 7 pada Surah Al-Baqarah [2] dan catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14].


Surah Al-A’raf Ayat 187

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

yas`alụnaka ‘anis-sā’ati ayyāna mursāhā, qul innamā ‘ilmuhā ‘inda rabbī, lā yujallīhā liwaqtihā illā huw, ṡaqulat fis-samāwāti wal-arḍ, lā ta`tīkum illā bagtah, yas`alụnaka ka`annaka ḥafiyyun ‘an-hā, qul innamā ‘ilmuhā ‘indallāhi wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

187. MEREKA AKAN MENANYAKAN kepadamu [wahai Nabi] tentang Saat Terakhir, “Kapankah itu akan terjadi?”

Katakanlah: “Sungguh, pengetahuan tentang hal itu ada pada Pemeliharaku saja. Tiada seorang pun kecuali Dia yang akan mengungkapkan hal itu pada waktunya. Saat Terakhir itu amat berat terhadap lelangit dan di bumi; [dan] ia tidak akan menimpa kalian kecuali dengan tiba-tiba.”

Mereka akan bertanya kepadamu—seolah-olah engkau dapat memperoleh pengetahuan tentang [misteri] ini dengan penyelidikan yang gigih!153 Katakanlah: “Pengetahuan tentang Saat Terakhir itu ada pada Pemeliharaku saja; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [tentang ini].”


153 Kata ahfa berarti “dia melakukan [sesuatu] dengan berlebihan” atau “dia melebihi batas yang biasa dalam mengerjakan [sesuatu]”. Dalam hubungannya dengan penyelidikan, dan khususnya ketika diikuti oleh kata ‘anhu atau ‘anha (“tentangnya”), ia berarti “dia berupaya keras memperoleh pengetahuan [tentang sesuatu] dengan menyelidikinya secara gigih”. Jadi, apabila digunakan sebagai partisip, ia berarti “seseorang yang telah memperoleh pengetahuan [tentang sesuatu] melalui penyelidikan yang gigih”. Dalam konteks di atas, implikasinya adalah bahwa penyelidikan ataupun spekulasi sedikit pun tidak bisa mengungkapkan kepada manusia—termasuk nabi-nabi—tentang kedatangan Saat Terakhir sebelum hari itu benar-benar terjadi.


Surah Al-A’raf Ayat 188

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

qul lā amliku linafsī naf’aw wa lā ḍarran illā mā syā`allāh, walau kuntu a’lamul-gaiba lastakṡartu minal-khaīr, wa mā massaniyas-sū`u in ana illā nażīruw wa basyīrul liqaumiy yu`minụn

188. Katakanlah [wahai Nabi]: “Aku tiada berkuasa mendatangkan manfaat pada atau menolak mudarat dari diriku sendiri, kecuali sebagaimana yang Allah kehendaki. Dan, andaikan aku mengetahui hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia, harta yang melimpah pasti sudah menjadi milikku*, dan kemudaratan tidak akan pernah menyentuhku. Aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang mau beriman.”154


* (lastaktsartu min al-khair diterjemahkan oleh Asad menjadi “abundant good fortune would surely have fallen to my lot“. Al-khair dapat berarti “kebaikan” maupun “harta” (sebagaimana dalam Surah Al-‘Adiyat [100]: 8), Oleh Asad, al-khair diterjemahkan menjadi good fortune, yang bisa berarti “nasib baik” maupun “harta yang baik”. Dengan adanya kata keterangan abundant sebelum good fortune, terjemahan yang lebih tepat adalah “harta yang melimpah” sebagaimana tertulis di atas.—peny.}

154 Lihat Surah Al-An’am [6]: 50, serta catatannya. Penegasan yang disampaikan dengan berulang-ulang dalam Al-Quran bahwa Nabi adalah manusia biasa selaras dengan doktrin bahwa tidak ada makhluk yang memiliki atau mungkin memiliki sebagian dari, betapapun kecilnya, sifat-sifat atau kuasa-kuasa Sang Pencipta. Sebagai kesinambungan logis dari argumentasi ini, rangkaian ayat-ayat berikutnya (ayat 189-198) menekankan unik dan eksklusifnya kekuatan kreatif Allah.


Surah Al-A’raf Ayat 189

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

huwallażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa ja’ala min-hā zaujahā liyaskuna ilaihā, fa lammā tagasysyāhā ḥamalat ḥamlan khafīfan fa marrat bih, fa lammā aṡqalad da’awallāha rabbahumā la`in ātaitanā ṣāliḥal lanakụnanna minasy-syākirīn

189. DIA-LAH yang telah menciptakan kalian [semua] dari entitas hidup yang satu, dan darinya Dia menjadikan pasangannya, agar laki-laki dapat merasa cenderung kepada perempuan [dengan cinta].155 Maka, setelah dia memeluknya (sepenuh cinta)*, istrinya itu mengandung kandungan [yang pada mulanya] ringan, dan teruslah dia mengandungnya. Kemudian, tatkala dia bertambah berat [dengan anak], keduanya memohon kepada Allah, Pemelihara mereka, “Jika Engkau benar-benar memberi kami seorang [anak] yang sehat, tentulah kami termasuk di antara orang-orang yang bersyukur!”


155 Lit., “agar dia dapat merasa cenderung kepadanya”. Untuk penjelasan mengenai istilah “entitas hidup yang satu” dan “pasangannya”, lihat Surah An-Nisa’ [4]: 1 dan catatannya.

* {falamma taghasysyaha: when he has embraced her: “embrace” di sini mengisyaratkan hubungan intim, bukan sekadar pelukan biasa. Maka, istilah itu diindonesiakan menjadi ” memeluknya (sepenuh cinta)”.—peny.}


Surah Al-A’raf Ayat 190

فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

fa lammā ātāhumā ṣāliḥan ja’alā lahụ syurakā`a fīmā ātāhumā, fa ta’ālallāhu ‘ammā yusyrikụn

190. Namun, begitu Allah memberikan kepada keduanya [keturunan] yang sehat, mereka mulai menisbahkan, kepada kekuatan-kekuatan lain selain Dia, suatu andil dalam menjadikan apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka!156 Namun, Mahatinggi Allah melampaui apa pun yang mungkin manusia persekutukan dengan-Nya!


156 Lit., “mereka menisbahkan kepada-Nya sekutu-sekutu berkenaan dengan apa yang telah Dia anugerahkan kepada mereka”: yakni, banyak di antara mereka yang menganggap bahwa faktor-faktor yang turut memengaruhi lahirnya anak dengan sehat (seperti, perawatan diri selama kehamilan, bantuan medis, pemilihan gen yang baik, dan sebagainya) sebagai sesuatu yang berjalan sendiri, independen, tanpa campur tangan Allah, karena melupakan bahwa semua faktor pendukung ini—seperti kelahiran anak itu sendiri—tidak lain merupakan hasil dari kehendak dan rahmat Allah jua: yakni, merupakan manifestasi dari apa yang disebut oleh Al-Quran sebagai “ketetapan Allah” (sunnat Allah). Karena jenis asosiasi mental ini (yakni mengasosiasikan faktor-faktor “lain” di samping Allah) tidak benar-benar disengaja, hal tersebut tidak dianggap sebagai dosa syirk (“penisbahan sifat-sifat ketuhanan kepada kekuatan-kekuatan selain Allah”) yang tidak terampuni; tetapi, hal itu cukup dekat dengannya sehingga dalam wacana pada ayat selanjutnya, syirk disajikan dalam pengertiannya yang sebenarnya.


Surah Al-A’raf Ayat 191

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

a yusyrikụna mā lā yakhluqu syai`aw wa hum yukhlaqụn

191. Maka, apakah mereka menisbahkan ketuhanan, berdampingan dengan-Nya, kepada makhluk-makhluk yang tidak dapat menciptakan apa pun157—karena makhluk-makhluk itu sendiri diciptakan—


157 Lit., “yang tidak menciptakan apa pun”: yakni, suatu frasa yang diungkapkan dalam bentuk tunggal, tetapi mempunyai makna jamak, yaitu “makhluk-makhluk”—baik itu makhluk-makhluk bernyawa (seperti orang-orang suci atau orang-orang yang dianggap mempunyai kepribadian “Ilahi”) maupun penggambaran mereka melalui benda-benda mati.


Surah Al-A’raf Ayat 192

وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

wa lā yastaṭī’ụna lahum naṣraw wa lā anfusahum yanṣurụn

192. dan yang tidak mampu memberikan pertolongan kepada mereka maupun menolong diri mereka sendiri,


Surah Al-A’raf Ayat 193

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَتَّبِعُوكُمْ ۚ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ

wa in tad’ụhum ilal-hudā lā yattabi’ụkum, sawā`un ‘alaikum a da’autumụhum am antum ṣāmitụn

193. dan jika kalian berdoa memohon petunjuk kepada mereka, mereka tidak dapat menanggapi kalian?158 Sama saja bagi kalian, apakah kalian menyeru mereka atau kalian tetap diam.


158 Lit., “tidak mengikuti kalian”. Berkenaan dengan terjemahan saya atas kalimat in tad’uhum ila al-huda menjadi “jika kalian berdoa memohon petunjuk kepada mereka” (alih-alih terjemahan keliru—tetapi sudah umum—yakni, “jika kalian mengajak [atau memanggil] mereka kepada petunjuk”), lihat Al-Zamakhsyari, Al-Razi dan Ibn Katsir. Bandingkan juga dengan ayat 198.


Surah Al-A’raf Ayat 194

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ ۖ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

innallażīna tad’ụna min dụnillāhi ‘ibādun amṡālukum fad’ụhum falyastajībụ lakum ing kuntum ṣādiqīn

194. Sungguh, segala sesuatu yang kalian seru di samping Allah itu hanyalah makhluk-makhluk ciptaan159 seperti kalian sendiri: maka, serulah mereka, dan biarkan mereka menjawab doa kaiian—jika apa yang kalian nyatakan itu memang benar!


159 Lit., “hamba-hamba” (‘ibad)—yakni, makhluk-makhluk yang mematuhi kehendak Allah. Hal ini merujuk pada orang-orang suci, yang hidup maupun yang telah mati, serta pada benda-benda mati dalam segala bentuknya, termasuk patung, jimat, dan gambaran yang melukiskan (secara fisik atau mental) orang-orang saleh atau orang-orang yang didewakan.


Surah Al-A’raf Ayat 195

أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا ۖ أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۗ قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ

a lahum arjuluy yamsyụna bihā am lahum aidiy yabṭisyụna bihā am lahum a’yunuy yubṣirụna bihā am lahum āżānuy yasma’ụna bihā, qulid’ụ syurakā`akum ṡumma kīdụni fa lā tunẓirụn

195. Apakah [berhala-berhala) tersebut mempunyai kaki yang dengannya mereka dapat berjalan? Atau, mempunyai tangan yang dengannya mereka dapat menggenggam? Atau, mempunyai mata yang dengannya mereka dapat melihat? Atau, mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar?

Katakanlah [wahai Nabi]: “Panggillah untuk membantu kalian, segala sesuatu yang kalian anggap bersekutu dengan Allah,160 kemudian rencanakanlah [apa pun yang kalian inginkan] terhadapku, dan jangan berikan penangguhan padaku!


160 Lit., “panggillah sekutu-sekutu [Allah]-mu” (lihat Surah AI-An’am [6], catatan no. 15).


Surah Al-A’raf Ayat 196

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

inna waliyyiyallāhullażī nazzalal-kitāba wa huwa yatawallaṣ-ṣāliḥīn

196. Sungguh, pelindungku adalah Allah, yang telah menurunkan kitab Ilahi ini: sebab, Dia-lah yang melindungi orang-orang yang saleh,


Surah Al-A’raf Ayat 197

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

wallażīna tad’ụna min dụnihī lā yastaṭī’ụna naṣrakum wa lā anfusahum yanṣurụn

197. sedangkan segala sesuatu yang kalian seru alih-alih Allah, tidak sanggup memberi kalian pertolongan maupun menolong diri mereka sendiri;


Surah Al-A’raf Ayat 198

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ لَا يَسْمَعُوا ۖ وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

wa in tad’ụhum ilal-hudā lā yasma’ụ, wa tarāhum yanẓurụna ilaika wa hum lā yubṣirụn

198. dan jika kalian berdoa memohon petunjuk kepada mereka, mereka tidak mendengar; dan meskipun engkau boleh jadi membayangkan bahwa mereka memandang kepadamu,161 mereka tidak melihat.”


161 Lit., “meskipun engkau melihat mereka memandangmu”—tetapi, karena kata ganti “mereka” dalam kalimat tarahum (“engkau melihat mereka”) juga mengacu pada gambaran-gambaran mental, sebagaimana pada gambaran-gambaran fisik, kata tersebut mesti dipahami dalam pengertian abstrak, yakni “melihat dengan pikiran”, yakni “mempertimbangkan” atau “membayangkan”. Berbeda dengan bagian-bagian terdahulu, yang ditujukan kepada orang-orang yang benar-benar menyeru berhala-berhala atau gambaran-gambaran batil, kalimat terakhir ini ditujukan kepada manusia secara umum, baik para pendosa maupun kaum yang beriman: dan generalisasi ini ditonjolkan dengan perubahan bentuk kata ganti dari ” kalian” menjadi “engkau”.


Surah Al-A’raf Ayat 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

khużil-‘afwa wa`mur bil-‘urfi wa a’riḍ ‘anil-jāhilīn

199. BERLAPANG DADALAH dalam menghadapi tabiat manusia,162 dan suruhlah mengerjakan apa yang benar; dan tinggalkanlah semua orang yang memilih untuk tetap bodoh.163


162 Lit., “terimalah apa yang mudah muncul [dari tabiat manusia]”. Menurut Al-Zamakhsyari, khudz al-‘afwa berarti: “Terimalah apa-apa yang datang dengan mudah kepadamu [atau `apa-apa yang diberikan dengan sukarela kepadamu’], yakni perbuatan-perbuatan atau sifat-sifat manusia, dan permudahlah [bagi mereka], tanpa menyebabkan mereka mendapat kesukaran yang tak perlu (kulfah); dan jangan menuntut dari mereka upaya-upaya yang mungkin terlalu sulit bagi mereka”. Penafsiran ini—yang dianut oleh banyak mufasir klasik lainnya—didasarkan pada penjelasan yang sama terhadap frasa khudz al-‘afwa tersebut yang dikemukakan oleh ‘Abdullah ibn AI-Zubair dan saudaranya ‘Urwah (Al-Bukhari), serta oleh ‘Aisyah dan, pada generasi berikutnya, oleh Hisyam ibn `Urwah dan Mujahid (lihat Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Ibn Katsir). Jadi, sesuai dengan ungkapan Al-Quran “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28) dan “Allah tiada membebani seseorang melebihi kemampuannya” (Surah Al-Baqarah [2]: 286, Surah Al-An’am [6]: 152, Surah Al-A’raf [7]: 42, Surah Al-Mu’minun [23]: 62), orang-orang beriman diingatkan untuk berlapang dada menyikapi berbagai sifat manusia dan tidak bersikap terlalu keras kepada orang yang berbuat salah. Peringatan ini semakin mengesankan karena ia disampaikan segera setelah wacana yang membahas tentang dosa yang paling tidak terampuni—yaitu, menganggap adanya kekuatan atau sifat Ilahi pada seseorang atau sesuatu selain Allah.

163 Lit., “orang-orang bodoh itu”—yakni, orang-orang yang dengan sengaja tetap tidak mau mendengarkan kebenaran-kebenaran moral, bukan orang-orang yang tidak menyadarinya.


Surah Al-A’raf Ayat 200

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta’iż billāh, innahụ samī’un ‘alīm

200. Dan, seandainya bisikan setan menggiringmu [pada amarah buta],164 berlindunglah kepada Allah: perhatikanlah, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


164 Yakni, marah karena penolakan terhadap kebenaran yang dilakukan oleh “mereka yang memilih untuk tetap bodoh”. Ungkapan “amarah buta” disisipkan berdasarkan hadis yang menyatakan bahwa Nabi, setelah pewahyuan ayat sebelumnya yang mengajak untuk bersabar, berseru, “Dan, bagaimana dengan marah [yang dibenarkan], wahai Pemeliharaku?”—maka, setelah itu, diturunkanlah ayat di atas kepadanya (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan Ibn Katsir).


Surah Al-A’raf Ayat 201

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

innallażīnattaqau iżā massahum ṭā`ifum minasy-syaiṭāni tażakkarụ fa iżā hum mubṣirụn

201. Sungguh, orang-orang yang sadar akan Allah, diri mereka ingat [kepada Allah] manakala bisikan gelap apa pun dari setan menyentuh mereka165—maka, lihatlah! Mereka mulai melihat [segala sesuatu] dengan jernih,


165 Kata tha’if (yang juga muncul dalam bentuk thaif dan thayyif) menunjukkan momok, khayalan, atau sugesti apa pun yang tak dapat dipahami, sebagaimana dalam sebuah mimpi, atau “obsesi halus yang mengaburkan pikiran” (Taj Al-‘Arus). Karena, dalam konteks di atas, ungkapan tersebut digambarkan datang dari setan, terjemahan “bisikan gelap” {a dark suggestion} tampaknya tepat.


Surah Al-A’raf Ayat 202

وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ

wa ikhwānuhum yamuddụnahum fil-gayyi ṡumma lā yuqṣirụn

202. meskipun saudara-saudara mereka [yang abai-Tuhan] hendak menarik mereka ke dalam kesesatan:166 dan kemudian mereka tidak akan gagal [melakukan apa yang benar].


166 Yakni, dengan menggoda mereka agar marah atau mencoba mengajak mereka melakukan argumentasi yang sia-sia. “Saudara-saudara mereka” adalah mereka yang dengan sengaja tetap tidak peduli terhadap kebenaran (kata ganti “mereka” {hum} mengacu pada orang-orang yang sadar akan Allah). Partikel penghubung wa yang mendahului klausa di sini berarti “meskipun” atau “walaupun”.


Surah Al-A’raf Ayat 203

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ قَالُوا لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي ۚ هَٰذَا بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa iżā lam ta`tihim bi`āyating qālụ lau lajtabaitahā, qul innamā attabi’u mā yụḥā ilayya mir rabbī, hāżā baṣā`iru mir rabbikum wa hudaw wa raḥmatul liqaumiy yu`minụn

203. Dan, apabila engkau [wahai Nabi] tidak mendatangkan suatu mukjizat bagi mereka, sebagian [orang] berkata, “Mengapa engkau tidak berusaha memperolehnya [dari Allah]?”167

Katakanlah: “Aku hanya mengikuti apa pun yang diwahyukan kepadaku oleh Pemeliharaku: [wahyu] ini adalah sarana pengetahuan dari Pemelihara kalian, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang hendak beriman.


167 Yakni, “jika engkau benar-benar rasul-Nya” (bdk. Surah Al-An’am [6]: 37 dan 109, serta catatan-catatannya). Sejumlah mufasir mengasumsikan bahwa istilah ayah—yang saya terjemahkan menjadi “mukjizat”—di sini menunjukkan “pesan” verbal yang akan menjawab keberatan-keberatan mereka yang tidak percaya kepada Nabi. Namun, karena pewahyuan Al-Quran yang berangsur-angsur itu sarat dengan pesan-pesan semacam ini, tuntutan orang-orang yang tidak beriman itu pasti berkenaan dengan suatu perwujudan tertentu atau “bukti” kenabiannya: yakni, berhubungan dengan mukjizat konkret yang akan menguatkan kebenaran klaimnya secara “objektif”. Dalam implikasinya yang lebih luas, ayat di atas berkenaan dengan mentalitas primitif dari semua orang yang menganggap bahwa keajaiban (mukjizat)-Iah, bukan pesan-pesan itu sendiri, yang merupakan satu-satunya “bukti” yang absah dari kenabian.


Surah Al-A’raf Ayat 204

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa iżā quri`al-qur`ānu fastami’ụ lahụ wa anṣitụ la’allakum tur-ḥamụn

204. Karena itu, jika Al-Quran dibacakan, perhatikanlah ia dan dengarkanlah dengan tenang agar kalian dirahmati dengan belas kasih [Allah].”


Surah Al-A’raf Ayat 205

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

ważkur rabbaka fī nafsika taḍarru’aw wa khīfataw wa dụnal-jahri minal-qauli bil-guduwwi wal-āṣāli wa lā takum minal-gāfilīn

205. Dan, ingatlah Pemeliharamu dengan merendahkan diri serta dengan rasa gentar-terpukau, dan tanpa mengeraskan suaramu, pada pagi dan petang; dan janganlah engkau menjadi orang yang lalai.


Surah Al-A’raf Ayat 206

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

innallażīna ‘inda rabbika lā yastakbirụna ‘an ‘ibādatihī wa yusabbiḥụnahụ wa lahụ yasjudụn

206. Perhatikanlah, mereka yang dekat kepada Pemeliharanmu168 tidak pernah merasa terlalu angkuh untuk menyembah-Nya: dan mereka bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tidak terhingga, dan bersujud di hadapan Dia [saja].


168 Lit., “mereka yang berada bersama Pemeliharamu”: yakni, suatu gambaran metaforis tentang kesadaran yang sungguh-sungguh akan keberadaan Allah.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top