Surat Al-'Ankabut dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

29. Al-‘Ankabut (Laba-Laba) – العنكبوت

Surat Al-‘Ankabut ( العنكبوت ) merupakan surah ke 29 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 69 ayat yang sebagian diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-‘Ankabut tergolong Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Kebanyakan mufasir berpendapat bahwa surah ini merupakan salah satu surah terakhir yang diwahyukan di Makkah, sementara mufasir lainnya berpendapat bahwa surah ini merupakan salah satu wahyu yang paling awal diturunkan di Madinah. Mufasir lainnya lagi menyatakan bahwa kebanyakan ayat dalam surah ini diwahyukan di Makkah, tetapi sepuluh atau sebelas ayat pertamanya diwahyukan di Madinah. Dan akhirnya, ada beberapa ulama yang justru berpendapat sebaliknya, yakni bahwa sembilan ayat pertama surah ini diturunkan di Makkah, dan selebihnya diturunkan di Madinah. Secara keseluruhan, tampak bahwa surah ini, dari segi historis, menandai peralihan antara periode Makkah dan periode Madinah.

Nama surah ini diambil dari perumpamaan “rumah laba-laba” yang tercantum dalam ayat 41, yang melambangkan kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai batil, yang dalam jangka panjang pasti akan terhempas oleh “angin kebenaran”.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-‘Ankabut Ayat 1

الم

alif lām mīm

1. Alif. Lam. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 2

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

a ḥasiban-nāsu ay yutrakū ay yaqụlū āmannā wa hum lā yuftanụn

2. APAKAH MANUSIA MENGIRA bahwa [hanya] dengan perkataan mereka, “Kami telah meraih iman”, mereka akan dibiarkan saja dan tidak akan diuji?


Surah Al-‘Ankabut Ayat 3

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

wa laqad fatannallażīna ming qablihim fa laya’lamannallāhullażīna ṣadaqụ walaya’lamannal-kāżibīn

3. Benar, Kami sungguh-sungguh telah menguji orang-orang yang hidup sebelum mereka; dan demikian [pula, akan diuji orang-orang yang hidup pada masa kini: dan] Allah pasti akan menandai orang-orang yang membuktikan bahwa diri mereka benar dan Dia pasti akan menandai orang-orang yang berdusta.2


2 Yakni, berdusta kepada orang lain dan/atau kepada diri mereka sendiri (lihat catatan no. 7).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 4

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

am ḥasiballażīna ya’malụnas-sayyi`āti ay yasbiqụnā, sā`a mā yaḥkumụn

4. Atau, apakah mereka—orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat itu [walau mengaku telah meraih iman]—mengira bahwa mereka dapat lolos dari Kami? Alangkah buruknya penilaian mereka!


Surah Al-‘Ankabut Ayat 5

مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

mang kāna yarjụ liqā`allāhi fa inna ajalallāhi la`āt, wa huwas-samī’ul-‘alīm

5. Siapa pun yang [dengan rasa harap dan takut] merindukan pertemuan dengan Allah [pada Hari Kebangkitan, hendaklah ia bersiap untuk itu]: sebab, perhatikanlah, ajal [kehidupan setiap orang] yang ditentukan oleh Allah itu pasti akan datang—dan Dia sajalah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 6

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

wa man jāhada fa innamā yujāhidu linafsih, innallāha laganiyyun ‘anil-‘ālamīn

6. Karenanya, siapa pun yang berjuang sungguh-sungguh [di jalan Allah], melakukannya semata-mata untuk kebaikannya sendiri: sebab, sungguh, Allah tidak membutuhkan apa pun yang ada di seluruh alam!


Surah Al-‘Ankabut Ayat 7

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lanukaffiranna ‘an-hum sayyi`ātihim wa lanajziyannahum aḥsanallażī kānụ ya’malụn

7. Dan, adapun orang-orang yang meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, pasti akan Kami hapuskan perbuatan-perbuatan buruk mereka [sebelumnya], dan pasti akan Kami beri mereka balasan sesuai dengan perbuatan terbaik yang pernah mereka lakukan.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaihi ḥusnā, wa in jāhadāka litusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā, ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

8. Adapun [di antara perbuatan-perbuatan kebajikan terbaik yang] telah Kami perintahkan kepada manusia [adalah] berbuat baik kepada kedua orangtuanya;3 namun, [meskipun demikian,] jika mereka berupaya menjadikanmu menisbahkan ketuhanan, selain-Ku, kepada sesuatu yang akalmu tidak dapat menerimanya [sebagai bersifat Ilahi],4 jangan taati mereka: [sebab,] kepada-Ku-lah kalian semua pasti kembali, kemudian Aku akan membuat kalian [benar-benar] memahami [yang benar dan yang salah tentang] segala yang telah kalian lakukan [di dunia].


3 Bdk. Surah Luqman [31]: 14-15 dan, terutama, catatannya (no. 15).

4 lit., “sesuatu yang tidak engkau ketahui”: yakni, dalam kasus yang khusus ini, “sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuanmu, yakni bahwa tiada seorang pun dan sesuatu pun bersekutu dalam sifat atau kekuasaan Allah”. Menurut Al-Razi, frasa ini mungkin juga secara tidak langsung menyinggung konsep yang muncul bukan melalui pengetahuan personal, melainkan, alih-alih, diperoleh karena menerima pendapat orang lain secara buta (taqlid).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 9

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lanudkhilannahum fiṣ-ṣāliḥīn

9. Namun, adapun mengenai orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan baik, Kami pasti akan menjadikan mereka bergabung [pula] dengan orang-orang saleh [di akhirat].


Surah Al-‘Ankabut Ayat 10

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ ۚ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ

wa minan-nāsi may yaqụlu āmannā billāhi fa iżā ụżiya fillāhi ja’ala fitnatan-nāsi ka’ażābillāh, wa la`in jā`a naṣrum mir rabbika layaqụlunna innā kunnā ma’akum, a wa laisallāhu bi`a’lama bimā fī ṣudụril-‘ālamīn

10. ADAPUN DI ANTARA manusia ada banyak yang berkata [tentang dirinya sendiri dan tentang orang lain yang serupa dengannya], “Kami sungguh-sungguh beriman pada Allah”—tetapi, tatkala dia dijadikan menderita di jalan Allah, dia menganggap bahwa penganiayaan manusia sebagai [sama menakutkannya atau bahkan lebih menakutkan daripada] azab hukuman Allah;5 sedangkan, tatkala tiba pertolongan dari Pemeliharamu [kepada orang-orang yang benar-benar beriman],6 dia pasti berkata, “Perhatikanlah, kami selalu bersama kalian!”

Bukankah Allah benar-benar mengetahui apa yang ada dalam hati seluruh makhluk!


5 Yakni, derita di akhirat yang pasti akan menimpa semua orang yang menanggalkan imannya karena takut akan siksaan dunia. (Perlu diingat kembali bahwa dalam Islam, penolakan terhadap keimanan yang dilakukan secara lahiriah semata karena seseorang berada di bawah siksaan atau ancaman kematian tidak dianggap sebagai dosa, meskipun mati syahid demi mempertahankan keimanan merupakan derajat kebaikan tertinggi yang dapat dicapai seseorang.)

6 Yakni, ketika tiada lagi risiko jika dianggap sebagai salah satu dari mereka {yakni golongan Muslim—peny.}.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 11

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

wa laya’lamannallāhullażīna āmanụ wa laya’lamannal-munāfiqīn

11. [Ya, benar—] dan pasti Allah akan menandai orang-orang yang [benar-benar] telah meraih iman, dan pasti Dia akan menandai orang-orang munafik.7


7 Mungkin, pada ayat inilah istilah munafiq muncul untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan Al-Quran. Secara idiomatik, istilah tersebut berasal dari nomina nafaq, yang berarti sebuah “lorong bawah tanah” yang jalan keluarnya berbeda dari pintu masuknya, dan secara khusus menunjukkan rumitnya kelokan-kelokan yang ada di liang persembunyian tikus ladang, kadal, dan semacamnya; dari liang yang penuh kelokan ini, binatang tersebut dapat keluar dengan mudah; dan di dalam liang ini pula, binatang tersebut dapat mengecoh pengejarnya. Secara figuratif, istilah munafiq menggambarkan seseorang yang “bermuka dua” karena dia selalu berusaha mendapatkan jalan yang mudah untuk berkelit dari komitmen nyata, baik yang bersifat ruhani maupun sosial, dengan menyesuaikan tindak-tanduknya dengan perjanjian-perjanjian tertentu yang akan memberikan keuntungan praktis baginya dalam situasi tertentu yang dihadapinya. Karena orang yang memiliki sifat-sifat ini biasanya berpura-pura lebih baik secara moral daripada keadaan yang sebenarnya, julukan munafiq dapat secara kasar diterjemahkan menjadi “hipokrit”. Bagaimanapun, harus dicatat bahwa sementara istilah Barat ini selalu menyiratkan tindakan mengelabui yang dilakukan secara sadar untuk menipu orang lain, istilah munafiq dalam bahasa Arab dapat juga diterapkan—dan adakalanya diterapkan dalam Al-Quran—pada seseorang yang, karena lemah atau tidak yakin akan keimanan atau pendirian moralnya, hanya menipu dirinya sendiri. Oleh karenanya, walaupun dalam terjemahan teks Al-Quran ini saya menggunakan ungkapan konvensional “hipokrit”, saya berusaha untuk menunjukkan perbedaan kandungan makna ini dalam catatan-catatan penjelas saya, kapan pun hal ini dimungkinkan dan diperlukan.

{Dalam edisi Indonesia ini, penyunting memutuskan untuk menggunakan istilah “munafik” sebagai terjemahan atas istilah “munafiq” dalam bahasa Arab karena istilah ini sudah merupakan kosakata baku dalam bahasa lndonesia.—peny.}


Surah Al-‘Ankabut Ayat 12

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

wa qālallażīna kafarụ lillażīna āmanuttabi’ụ sabīlanā walnaḥmil khaṭāyākum, wa mā hum biḥāmilīna min khaṭāyāhum min syaī`, innahum lakāżibụn

12. Dan, [Dia mengetahui pula bahwa] mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata kepada orang-orang yang telah meraih iman [kira-kira demikian]: “Ikutilah jalan [hidup] kami dan kami benar-benar akan mempertanggungjawabkan dosa-dosa kalian!”8

Namun, mereka tidak pernah dapat mempertanggungjawabkan9 dosa-dosa apa pun dari orang-orang [yang mereka sesatkan]: perhatikanlah, mereka benar-benar pendusta!


8 Tentu saja, “perkataan” orang-orang yang mengingkari kebenaran yang disebutkan di atas hanyalah sebuah metonimia untuk menggambarkan sikap mereka terhadap orang-orang beriman: karena itu, saya menyisipkan kata-kata “kira-kira demikian” dalam tanda kurung siku. Pengertian tersiratnya adalah bahwa orang-orang yang mengingkari keabsahan segala komitmen ruhani yang lahir dari keimanan seseorang pada “hal-hal yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia” (al-ghaib)—dalam hal ini, eksistensi Allah—biasanya, juga tidak bersedia menerima adanya kepercayaan dan komitmen semacam ini dari orang lain: jadi, mereka berusaha keras mengalihkan orang-orang beriman agar mengikuti jalan pikiran mereka dengan menyebutkan konsep “dosa” dengan nada sarkastik dan mencemooh karena mereka tidak percaya dengan gagasan “dosa” itu sendiri.

9 Lit., “memikul”—menyiratkan suatu pengurangan beban yang harus ditanggung orang lain (Al-Razi). Lihat juga catatan selanjutnya.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 13

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa layaḥmilunna aṡqālahum wa aṡqālam ma’a aṡqālihim wa layus`alunna yaumal-qiyāmati ‘ammā kānụ yaftarụn

13. Namun, pasti mereka akan memikul beban mereka sendiri dan beban-beban orang lain di samping beban mereka sendiri;10 dan, pada Hari Kebangkitan, mereka pasti akan dimintai pertanggungjawaban terhadap segala pernyataan batil mereka!


10 Bdk. sabda Nabi: “Siapa pun yang menyeru [orang lain] ke jalan yang benar akan memperoleh pahala sebanding dengan [gabungan] pahala semua orang yang mengikutinya hingga Hari Kebangkitan, tanpa ada pengurangan pahala mereka sedikit pun; dan siapa pun yang menyeru ke jalan yang sesat akan menanggung dosa sebanding dengan [gabungan] dosa semua orang yang mengikutinya hingga Hari Kebangkitan, tanpa ada pengurangan dosa mereka sedikit pun” (HR Al-Bukhari).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 14

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

wa laqad arsalnā nụḥan ilā qaumihī fa labiṡa fīhim alfa sanatin illā khamsīna ‘āmā, fa akhażahumuṭ-ṭụfānu wa hum ẓālimụn

14. DAN, SUNGGUH, [pada masa yang sudah jauh berlalu,] Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya11 dan dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh;12 dan kemudian banjir menenggelamkan mereka, sementara mereka masih tersesat dalam kezaliman:*


11 Ayat ini berhubungan dengan ayat 3, “Kami sungguh-sungguh telah menguji orang-orang yang hidup sebelum mereka”. Kisah Nabi Nuh dan kegagalan dia menjadikan kaumnya beriman muncul beberapa kali dalam Al-Quran, dan yang paling panjang terdapat dalam Surah Hud [11]: 25-48. Dalam kesempatan kali ini, kisah itu dimaksudkan untuk menggambarkan kebenaran bahwa tidak seorang pun—tidak terkecuali seorang nabi—mampu menganugerahkan keimanan kepada orang lain (bdk. Surah Al-Qasas [28]: 56—”… engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada setiap orang yang kau cintai”). Disebutkannya nabi-nabi lain dalam ayat 16-40 juga memiliki maksud yang sama.

12 Secara tersirat, “dan meskipun rentang waktu yang sangat panjang ini telah berlalu, dia tetap tidak mampu meyakinkan kaumnya akan kebenaran misinya”. Angka yang sama—yakni 950 tahun—juga disebutkan dalam Alkitab Bibel (Kitab Kejadian 9, 29) sebagai usia Nabi Nuh. Dengan mengulangi cuplikan dari legenda Bibel ini, Al-Quran semata-mata hendak menekankan fakta bahwa rentang waktu misi seorang nabi sama sekali tidak menentukan kesuksesan atau kegagalan misi tersebut, sebab “seluruh petunjuk [yang benar] adalah petunjuk Allah” (Surah Al-‘Imran [3]: 73)—dan, sebagaimana kita sering diberi tahu oleh Al-Quran, “Allah [hanya] memberi petunjuk kepada orang yang ingin [diberi petunjuk]”. Jadi, keterangan yang mengacu pada Nabi Nuh ini dimaksudkan untuk meneguhkan orang beriman yang mungkin merasa sedih ketika menyaksikan kebanyakan pengikut Nabi Nuh, secara serentak, menolak untuk menerima kebenaran yang baginya tampak jelas.

* {kezaliman: evildoing: perbuatan jahat—peny.}


Surah Al-‘Ankabut Ayat 15

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

fa anjaināhu wa aṣ-hābas-safīnati wa ja’alnāhā āyatal lil-‘ālamīn

15. akan tetapi, Kami menyelamatkannya bersama semua orang yang berada dalam bahtera itu, yang kemudian Kami jadikan sebagai perlambang [rahmat Kami] bagi semua manusia [agar mereka ingat].


Surah Al-‘Ankabut Ayat 16

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa ibrāhīma iż qāla liqaumihi’budullāha wattaqụh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta’lamụn

16. DAN, IBRAHIM [telah diilhami oleh Kami pula,] ketika dia berkata kepada kaumnya, “Sembahlah Allah dan sadarlah akan Dia: inilah yang terbaik bagi kalian, seandainya kalian mengetahuinya!


Surah Al-‘Ankabut Ayat 17

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

innamā ta’budụna min dụnillāhi auṡānaw wa takhluqụna ifkā, innallażīna ta’budụna min dụnillāhi lā yamlikụna lakum rizqan fabtagụ ‘indallāhir-rizqa wa’budụhu wasykurụ lah, ilaihi turja’ụn

17. Kalian hanya menyembah berhala-berhala [yang tiada bernyawa] alih-alih Allah, dan [dengan demikian,] kalian berdusta!13 Perhatikanlah, [benda-benda dan makhluk makhluk] yang kalian sembah alih-alih Allah itu tidak mampu memberikan rezeki bagi kalian: maka, carilah semua rezeki [kalian] dari Allah, sembahlah Dia [saja], dan bersyukur-lah kepada-Nya: [sebab,] kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan!


13 Lit., “kalian membuat dusta”.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 18

وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa in tukażżibụ fa qad każżaba umamum ming qablikum, wa mā ‘alar-rasụli illal-balāgul-mubīn

18. “Dan jika kalian mendustakan [aku]—maka, umat-umat [lain pun] telah mendustakan [nabi-nabi Allah] sebelum masa kalian: namun, yang mesti dilakukan seorang rasul tidak lebih hanyalah menyampaikan pesan [yang diamanatkan kepadanya] dengan jelas.”


Surah Al-‘Ankabut Ayat 19

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

a wa lam yarau kaifa yubdi`ullāhul-khalqa ṡumma yu’īduh, inna żālika ‘alallāhi yasīr

19. MAKA, APAKAH mereka [yang mengingkari kebenaran] tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan [kehidupan] pada mulanya dan kemudian mengulanginya kembali?14 Sungguh, hal ini mudah bagi Allah!


14 Rangkaian ayat ini—mulai dari ayat 19 hingga ayat 23—disisipkan di tengah-tengah kisah Nabi Ibrahim sehingga mengaitkannya dengan pernyataan Nabi Ibrahim mengenai kebangkitan yang terdapat dalam akhir ayat 17 (“kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan”). Muncul dan lenyapnya kehidupan secara berulang-ulang dan berkesinambungan ini, yang demikian jelas tampak dalam setiap dunia organik, sering disebutkan dalam Al-Quran, bukan semata-mata untuk mendukung doktrin kebangkitan, melainkan juga sebagai bukti tentang perencanaan yang disusun-secara-sadar yang mendasari tindakan penciptaan itu sendiri—dan, karena itu, membuktikan eksistensi Sang Pencipta.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 20

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ kaifa bada`al-khalqa ṡummallāhu yunsyi`un-nasy`atal-ākhirah, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

20. Katakan: “Berjalanlah menjelajahi muka bumi dan perhatikanlah bagaimana [dengan mengagumkan] Dia telah menciptakan [manusia] pada mulanya:15 dan demikian juga, Allah akan menjadikan kehidupan kalian yang kedua—sebab, sungguh, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu!


15 Sebagai contoh, bandingkan dengan Surah Al-Mu’minun [23]: 12-14, yang mengingatkan secara tidak langsung akan terciptanya manusia dari unsur-unsur yang paling sederhana dan, secara bertahap, berkembang menjadi makhluk yang sangat kompleks, yang bukan saja dianugerahi dengan jasad, mefainkan juga dengan pikiran, perasaan, dan naluri.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 21

يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَإِلَيْهِ تُقْلَبُونَ

yu’ażżibu may yasyā`u wa yar-ḥamu may yasyā`, wa ilaihi tuqlabụn

21. “Dia jadikan menderita siapa pun yang Dia kehendaki, dan melimpahkan belas kasih-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki; dan kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan:


Surah Al-‘Ankabut Ayat 22

وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ۖ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

wa mā antum bimu’jizīna fil-arḍi wa lā fis-samā`i wa mā lakum min dụnillāhi miw waliyyiw wa lā naṣīr

22. dan kalian tidak akan pernah—tidak di bumi dan tidak pula langit—dapat [berharap untuk] mengelak dari-Nya; dan kalian tidak memiliki siapa pun untuk melindungi kalian dari Allah, dan tidak memiliki siapa pun untuk menolong kalian.”


Surah Al-‘Ankabut Ayat 23

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَٰئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wallażīna kafarụ bi`āyātillāhi wa liqā`ihī ulā`ika ya`isụ mir raḥmatī wa ulā`ika lahum ‘ażābun alīm

23. Dan [demikianlah:] orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah dan pertemuan [pamungkas] mereka dengan-Nya—merekalah orang yang mencampakkan seluruh harapan akan rahmat dan belas kasih-Ku: dan mereka itulah yang penderitaan pedih menanti mereka [di akhirat].16


16 Menyiratkan pengertian bahwa kaum semacam ini melepaskan diri mereka sendiri dari rahmat dan belas kasih Allah (yang merupakan dua arti dari istilah rahmah dalam konteks ini) dengan menolak sama sekali keimanan terhadap keberadaan-Nya: dengan kata lain, keimanan kepada Allah—atau kesediaan seseorang untuk memercayai-Nya—dengan sendirinya sudah merupakan akibat dari rahmat dan belas kasih-Nya, sebagaimana derita akhirat adalah akibat dari sikap seseorang yang “berkukuh mengingkari kebenaran”.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 24

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qāluqtulụhu au ḥarriqụhu fa anjāhullāhu minan-nār, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yu`minụn

24. ADAPUN [Ibrahim,] jawaban kaumnya hanyalah,17 “Bunuh atau bakar dia!”—tetapi Allah menyelamatkannya dari Api.18

Perhatikanlah, dalam [kisah] ini benar-benar terdapat pesan-pesan bagi kaum yang akan beriman!


17 Lit, “jawaban kaumnya tiada lain selain berkata”—jadi, berkaitan dengan rangkaian ayat sebelumnya yang ditutup dengan ayat 18.

18 Lihat catatan no. 64 pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 69.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 25

وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

wa qāla innamattakhażtum min dụnillāhi auṡānam mawaddata bainikum fil-ḥayātid-dun-yā, ṡumma yaumal-qiyāmati yakfuru ba’ḍukum biba’ḍiw wa yal’anu ba’ḍukum ba’ḍaw wa ma`wākumun-nāru wa mā lakum min nāṣirīn

25. Dan [Ibrahim] berkata, “Kalian telah memilih untuk menyembah berhala-berhala, alih-alih (menyembah) Allah, tanpa alasan lain selain agar memiliki ikatan cinta,19 dalam kehidupan dunia ini, antara kalian sendiri [dan nenek moyang kalian]:20 tetapi kemudian, pada Hari Kebangkitan, kalian akan saling mengingkari dan melaknati—sebab, tempat kembali kalian semua adalah api neraka dan kalian tidak akan memiliki seorang penolong pun.”


19 Lit., “semata-mata karena cinta”.

20 Demikianlah, Al-Razi menjelaskan penyembahan berhala ini sebagai akibat taklid (peniruan buta) terhadap sikap-sikap yang diwarisi dari generasi silam.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 26

فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ ۘ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

fa āmana lahụ lụṭ, wa qāla innī muhājirun ilā rabbī, innahụ huwal-‘azīzul-ḥakīm

26. Kemudian, [anak saudaranya,] Luth, akhirnya beriman padanya dan berkata, “Sungguh, aku [juga] akan hijrah meninggalkan ranah kejahatan [dan kembali] menuju Pemeliharaku:21 sebab, sungguh, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!”


21 Untuk penjelasan tentang konsep hijrah dan terjemahan saya terhadap istilah muhajir di atas, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203 dan Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 124. Dalam kesempatan ini, jelaslah bahwa istilah ini digunakan dalam pengertian ruhani maupun fisik, yang dapat disamakan dengan keterangan sebelumnya (dalam Surah Maryam [19]: 48-49) yang mengacu pada tindakan Nabi Ibrahim “menarik diri” (i’tizal) dari lingkungan asalnya yang jahat, dan mengacu pada hijrahnya secara fisik ke daerah Harran (di Mesopotamia Utara), dan kemudian ke Suriah dan Palestina. Kisah Nabi Luth disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran, dan khususnya dalam Surah Hud [11]: 69-83.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 27

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

wa wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụba wa ja’alnā fī żurriyyatihin-nubuwwata wal-kitāba wa ātaināhu ajrahụ fid-dun-yā, wa innahụ fil-ākhirati laminaṣ-ṣāliḥīn

27. Dan [adapun Ibrahim,] Kami telah anugerahkan kepadanya Ishaq dan [anak Ishaq,] Ya’qub,22 dan telah Kami jadikan kenabian dan wahyu terus berlanjut di antara keturunannya. Dan, Kami berikan balasan kepadanya di dunia;23 dan, sungguh, di akhirat [pun] dia akan mendapati dirinya di antara orang-orang yang baik.


22 Yakni, di samping Nabi Isma’il, yang lahir beberapa tahun lebih awal (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 72).

23 Di antaranya, dengan menjadikannya “seorang pemimpin bagi manusia” (Surah Al-Baqarah [2]: 124).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 28

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

wa lụṭan iż qāla liqaumihī innakum lata`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

28. DAN, LUTH [telah diilhami oleh Kami pula] ketika dia berkata kepada kaumnya, “Sungguh, kalian telah melakukan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kalian!


Surah Al-‘Ankabut Ayat 29

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

a innakum lata`tụnar-rijāla wa taqṭa’ụnas-sabīla wa ta`tụna fī nādīkumul-mungkar, fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālu`tinā bi’ażābillāhi ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

29. Benar-benar haruskah kalian mendatangi laki-laki [dengan berahi] dan, dengan demikian, menyimpang dari jalan [alam]?24—dan haruskah kalian mengerjakan perbuatan memalukan ini dalam pertemuan-pertemuan [terbuka] kalian?”

Namun, jawaban kaumnya hanyalah, “Turunkanlah kepada kami hukuman Allah jika engkau orang yang benar!”


24 Penafsiran yang khusus terhadap frasa taqtha’un al-sab’il ini dikemuk akan oleh Al-Baghawi dan (menurut riwayat Al-Hasan) oleh Al-Zamakhsyari; Al-Razi menerima tafsiran ini bulat-bulat tanpa mengajukan keberatan.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 30

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

qāla rabbinṣurnī ‘alal-qaumil-mufsidīn

30. [Dan] dia berdoa, “Wahai, Pemeliharaku! Tolonglah aku melawan kaum yang menyebarkan kerusakan ini!”


Surah Al-‘Ankabut Ayat 31

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ

wa lammā jā`at rusulunā ibrāhīma bil-busyrā qālū innā muhlikū ahli hāżihil-qaryah, inna ahlahā kānụ ẓālimīn

31. Dan demikianlah, ketika para utusan [samawi] Kami datang kepada Ibrahim dengan kabar gembira [tentang kelahiran Ishaq],25 mereka [juga] berkata, “Perhatikanlah, kami hampir menghancurkan penduduk negeri itu26 karena penduduknya benar-benar orang-orang yang zalim!”


25 Lihat Surah Hud [11]: 69 dan seterusnya, serta paruh pertarna catatannya yang terkait (no. 99).

26 Di sini, istilah qaryah bermakna “negeri”—suatu makna yang sering dipakai dalam bahasa Arab klasik. Dalam hal ini, ia mengacu pada Kota Sodom dan Gomora.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 32

قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا ۚ قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا ۖ لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

qāla inna fīhā lụṭā, qālụ naḥnu a’lamu biman fīhā lanunajjiyannahụ wa ahlahū illamra`atahụ kānat minal-gābirīn

32. [Dan ketika Ibrahim] berseru, “Namun, Luth tinggal di sana!”—mereka menjawab, “Kami sangat mengetahui siapa yang ada di sana; kami pasti akan menyelamatkannya dan orang-orang yang tinggal bersamanya—semua, kecuali istrinya: dia benar-benar akan termasuk di antara orang-orang yang tinggal di belakang.”27


27 Lihat catatan no. 66 pada Surah Al-A’raf [7]: 83 dan catatan no. 113 pada Surah Hud [11]: 81. Dalam kasus ini, serta dalam ayat sesudahnya, verba bantu bentuk lampau “kanat ” dimaksudkan untuk menekankan ketak-terelakkannya peristiwa masa depan yang dirujuk; oleh karenanya, “dia benar-benar akan termasuk …”, dan seterusnya.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 33

وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ ۖ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

wa lammā an jā`at rusulunā lụṭan sī`a bihim wa ḍāqa bihim żar’aw wa qālụ lā takhaf wa lā taḥzan, innā munajjụka wa ahlaka illamra`ataka kānat minal-gābirīn

33. Dan, tatkala utusan-utusan Kami itu datang kepada Luth, dia merasa amat sedih perihal mereka, mengingat melindungi mereka berada di luar kekuasaannya;28 tetapi mereka berkata, “Jangan takut dan jangan merasa susah! Perhatikanlah, kami akan menyelamatkanmu dan orang-orang yang tinggal bersamamu—semua, kecuali istrimu: dia benar-benar akan termasuk di antara orang-orang yang tinggal di belakang.


28 Lihat catatan no. 107 pada Surah Hud [11]: 77.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 34

إِنَّا مُنْزِلُونَ عَلَىٰ أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

innā munzilụna ‘alā ahli hāżihil-qaryati rijzam minas-samā`i bimā kānụ yafsuqụn

34. Sungguh, kepada penduduk negeri ini, akan kami turunkan ketakutan dari langit sebagai balasan bagi semua perbuatan fasik mereka!”


Surah Al-‘Ankabut Ayat 35

وَلَقَدْ تَرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa laqat taraknā min-hā āyatam bayyinatal liqaumiy ya’qilụn

35. Dan, [demikianlah hal itu terjadi; dan] darinya, Kami benar-benar telah meninggalkan satu tanda yang jelas bagi kaum yang menggunakan akal mereka.29


29 Ini secara tidak langsung mengacu pada Laut Mati—yang sekarang dikenal sebagai Bahr Luth (Laut Luth)—yang menutupi sebagian besar daerah yang dahulunya merupakan Kota Sodom dan Gomora. Airnya mengandung kadar sulfur dan kalium karbonat (garam abu) yang sangat tinggi sehingga ikan dan tanaman tidak bisa hidup di dalamnya.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 36

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

wa ilā madyana akhāhum syu’aiban fa qāla yā qaumi’budullāha warjul-yaumal-ākhira wa lā ta’ṡau fil-arḍi mufsidīn

36. DAN, KEPADA [kaum] Madyan, [Kami utus] saudara mereka, Syu’aib,30 yang kemudian berkata, “Wahai, kaumku! Sembahlah Allah [saja], dan harapkanlah Hari Akhir, dan janganlah berbuat jahat di muka bumi dengan menyebarkan kerusakan!”


30 Lihat catatan no. 67 pada Surah Al-A’raf [7]: 85. Kisah Nabi Syu’aib dan kaumnya diceritakan dengan lebih terperinci dalam Surah Hud [11]: 84-95.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 37

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

fa każżabụhu fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn

37. Namun, mereka mendustakannya. Kemudian, gempa bumi menimpa mereka: dan lalu mereka bergelimpangan tak bernyawa di atas tanah di dalam rumah-rumah mereka sendiri.31


31 Lihat catatan no. 62 pada Surah Al-A’raf [7]: 78 (rangkaian ayat yang mengisahkan suku Tsamud) dan catatan no. 73 pada Surah Al-A’raf [7]: 91.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 38

وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ ۖ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

wa ‘ādaw wa ṡamụda wa qat tabayyana lakum mim masākinihim, wa zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum fa ṣaddahum ‘anis-sabīli wa kānụ mustabṣirīn

38. DAN [suku] ‘Ad dan Tsamud,32 [juga, telah Kami hancurkan—] yang seharusnya telah nyata bagi kalian dari [apa pun yang tersisa dari] tempat tinggal mereka.33 [Mereka binasa] karena setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan [dosa] mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan [Allah], meskipun mereka telah diberi kemampuan untuk memahami kebenaran.34


32 Lihat Surah Al-A’raf [7], paruh kedua catatan no. 48 dan catatan no. 56.

33 Berkenaan dengan suku ‘Ad, ayat di atas tampaknya secara tidak langsung mengingatkan kita pada ibu kota mereka pada saat itu, yakni “Kota Iram dengan pilar-pilarnya yang banyak” yang sangat legendaris (yang disebutkan hanya sekali dalam Al-Quran, yakni dalam Surah Al-Fajr [89]: 7). Sejak saat itu, Kota Iram telah terkubur oleh bukit pasir yang bergerak dari Al-Ahqaf (suatu daerah antara ‘Uman dan Hadhramaut, di tengah-tengah gurun pasir Arab Selatan yang luas, Rub’ Al-Khali); namun, konon bekas-bekas kota itu kadang-kadang muncul kembali karena pasir yang menimbuninya tertiup angin kencang. Untuk penjelasan mengenai tempat tinggal suku Tsamud yang disebutkan di atas, lihat catatan no. 59 pada Surah Al-A’raf [7]: 74.

34 Jadi, secara tidak langsung Al-Quran menyatakan bahwa “kemampuan memahami kebenaran” (istibshar) yang dimiliki manusialah yang membuatnya secara moral bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatannya dan, oleh karenanya, terhadap kegagalannya dalam melawan dorongan-dorongan jahatnya sendiri—yang jelas-jelas merupakan makna “setan” dalam konteks ini. Dalam kaitan ini, lihat Surah Ibrahim [14]: 22 dan catatannya yang terkait (no. 31 dan no. 33).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 39

وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ

wa qārụna wa fir’auna wa hāmān, wa laqad jā`ahum mụsā bil-bayyināti fastakbarụ fil-arḍi wa mā kānụ sābiqīn

39. Dan [demikian pula, Kami memperlakukan] Qarun, Fir’aun, dan Haman:35 telah datang kepada mereka Musa dengan membawa seluruh bukti kebenaran, tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi [dan menolak Musa]; dan sungguhpun begitu, mereka tidak lolos [dari Kami].


35 Berkenaan dengan Qarun, lihat Surah Al-Qasas [28]: 76 dan seterusnya, dan khususnya, catatannya yang terkait (no. 84); sedangkan mengenai Haman, lihat catatan no. 6 pada Surah Al-Qasas [28]: 6. Kesamaan antara dua orang ini dan Fir’aun adalah kebanggaan-batil (takabbur) dan kesombongan (istikbar) mereka, yang menjadikan mereka sebagai “contoh kejahatan” (bdk. Surah Al-Qasas [28]: 41 dan catatannya [no. 40]). Kaum ‘Ad dan Tsamud, yang dikisahkan dalam ayat terdahulu, dikatakan memiliki pola pikir yang serupa.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 40

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

fa kullan akhażnā biżambihī fa min-hum man arsalnā ‘alaihi ḥāṣibā, wa min-hum man akhażat-huṣ-ṣaiḥah, wa min-hum man khasafnā bihil-arḍ, wa min-hum man agraqnā, wa mā kānallāhu liyaẓlimahum wa lāking kānū anfusahum yaẓlimụn

40. Karena, masing-masing di antara mereka telah Kami hukum karena dosanya: dan juga, kepada sebagian dari mereka, telah Kami kirimkan angin topan yang mematikan; dan sebagian dari mereka ada yang ditimpa suara ledakan [yang tiba-tiba];36 dan sebagian dari mereka ada yang Kami jadikan ditelan bumi; dan sebagian dari mereka ada yang Kami jadikan tenggelam. Dan, bukanlah Allah yang menzalimi mereka, melainkan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.


36 Secara tersirat, “hukuman Allah”; bdk. catatan no. 98 pada Surah Hud [11]: 67.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 41

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

maṡalullażīnattakhażụ min dụnillāhi auliyā`a kamaṡalil-‘angkabụt, ittakhażat baitā, wa inna auhanal-buyụti labaitul-‘angkabụt, lau kānụ ya’lamụn

41. PERUMPAMAAN orang-orang yang mengambil [makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan] selain Allah sebagai pelindung mereka adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuknya: sebab, perhatikanlah, rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. Seandainya mereka dapat memahami ini!


Surah Al-‘Ankabut Ayat 42

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

innallāha ya’lamu mā yad’ụna min dụnihī min syaī`, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

42. Sungguh, Allah mengetahui apa saja yang manusia seru alih-alih Dia37—sebab, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


37 Lit., “apa pun yang mereka seru alih-alih Dia”: yakni, Dia mengetahui tidak berartinya objek-objek sembahan batil itu (Al-Zamakhsyari), berlepas dari apakah mereka itu berupa dewa-dewa khayalan, atau orang-orang suci yang didewakan, atau kekuatan alam, atau bahkan konsep-konsep atau gagasan-gagasan batil; tetapi Dia pun mengetahui kelemahan hati dan pikiran manusia dan, oleh karenanya, juga mengetahui motivasi tersembunyi dari semua ibadat yang irasional semacam itu.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 43

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nās, wa mā ya’qiluhā illal-‘ālimụn

43. Dan demikianlah, Kami kemukakan perumpamaan-perumpamaan ini kepada manusia: namun, tiada seorang pun dapat memahami maknanya yang terdalam, kecuali mereka yang sadar [terhadap Kami],38


38 Karena di sini kesadaran akan keberadaan Allah ditetapkan sebagai prasyarat bagi pernahaman yang menyeluruh atas kisah-kisah perumpamaan dalam Al-Quran (dan secara tersirat, juga atas kisah-kisah alegori/kiasan dalam Al-Quran), ayat di atas harus dibaca berdampingan dengan pernyataan bahwa Al-Quran dimaksudkan untuk menjadi “petunjuk bagi semua orang yang sadar akan Allah, yang beriman pada [adanya] hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia” (lihat Surah Al-Baqarah [2]: 2-3 dan catatannya [no. 3]).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 44

خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ

khalaqallāhus-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, inna fī żālika la`āyatal lil-mu`minīn

44. [dan, karena itu, yakin bahwa] Allah menciptakan lelangit dan bumi sesuai dengan kebenaran [hakiki]:39 sebab, perhatikanlah, dalam [ciptaan ini] benar-benar terdapat sebuah pesan bagi semua yang beriman [pada-Nya].


39 {[inner] truth} Yakni, dengan makna dan tujuan: lihat Surah Yunus [10], catatan no. 11. Dengan kata lain, kepercayaan akan adanya makna dan tujuan yang mendasari penciptaan alam semesta merupakan akibat logis dari keimanan seseorang kepada Allah.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 45

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

utlu mā ụḥiya ilaika minal-kitābi wa aqimiṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta tan-hā ‘anil-faḥsyā`i wal-mungkar, walażikrullāhi akbar, wallāhu ya’lamu mā taṣna’ụn

45. SAMPAIKANLAH [kepada orang lain] apa pun dari kitab Ilahi ini yang telah diwahyukan kepadamu,40 dan berteguhlah dalam mendirikan shalat: sebab, perhatikanlah, shalat mencegah [manusia] dari perbuatan keji dan dari segala yang bertentangan dengan akal;41 dan, mengingat Allah benar-benar merupakan [kebaikan] yang terbesar. Dan, Allah mengetahui segala yang kalian kerjakan.


40 Jika kita menganggap bahwa ayat 45-46 ditujukan tidak hanya kepada Nabi, tetapi juga kepada kaum beriman secara umum (sebuah asumsi yang diperkuat dengan penggunaan kata ganti orang kedua dalam bentuk jamak dalam klausa terakhir ayat 45 dan dalam keseluruhan ayat 46), frasa di atas dapat dipahami dalam pengertian bahwa “apa pun dari kitab Ilahi ini yang telah membuka dirinya sendiri pada pemahamanmu“.

41 Tentang penjelasan mengenai terjemahan istilah dan konsep al-munkar ini, lihat Surah An-Nahl [16], catatan no. 109.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 46

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

wa lā tujādilū ahlal-kitābi illā billatī hiya aḥsanu illallażīna ẓalamụ min-hum wa qụlū āmannā billażī unzila ilainā wa unzila ilaikum wa ilāhunā wa ilāhukum wāḥiduw wa naḥnu lahụ muslimụn

46. Dan, janganlah berdebat dengan para penganut wahyu terdahulu, kecuali dengan cara yang paling baik—kecuali dengan orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman di antara mereka42—dan katakanlah: “Kami beriman pada apa yang diturunkan kepada kami serta pada apa yang diturunkan kepada kalian: sebab, Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu dan sama, dan kepada-Nya-lah kita [semua] berserah diri.”


42 Secara tersirat, “dan karenanya, tidak akan menerima argumen yang santun”: implikasinya adalah bahwa dalam kasus-kasus semacam ini, segala perdebatan harus dihindari secara apriori. Berkenaan dengan diskusi keagamaan secara umum, lihat catatan no. 149 pada Surah An-Nahl [16]: 125. {kezaliman: evildoing: perbuatan jahat—peny.}


Surah Al-‘Ankabut Ayat 47

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ ۚ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَمِنْ هَٰؤُلَاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ

wa każālika anzalnā ilaikal-kitāb, fallażīna ātaināhumul-kitāba yu`minụna bih, wa min hā`ulā`i may yu`minu bih, wa mā yaj-ḥadu bi`āyātinā illal-kāfirụn

47. Karena, demikianlah43 Kami menurunkan kitab Ilahi ini kepadamu [wahai Muhammad]. Dan, orang-orang yang telah Kami berikan kitab Ilahi44 ini beriman padanya—sebagaimana di antara orang-orang [yang menganut wahyu terdahulu itu] ada sebagian yang beriman padanya. Dan, tidak ada seorang pun yang dapat menolak pesan-pesan Kami dengan sadar,45 kecuali orang-orang yang mengingkari kebenaran [yang nyata]:


43 Yakni, “dalam semangat ini”: merujuk pada kesamaan kebenaran-kebenaran fundamental yang terdapat dalam semua agama wahyu.

44 Yakni, “mereka yang Kami beri kemampuan untuk memahami kitab Ilahi ini”.

45 Terjemahan verba jahada ini—dalam kasus ini dan dalam ayat 49 selanjutnya (serta dalam Surah Luqman [31]: 32, Ghafir [40]: 63, dan Fussilat [41]: 28)—dalam pengertian pengingkaran atau penolakan seseorang terhadap sesuatu yang dia ketahui kebenarannya, didasarkan pada Kitab Asas karya Al-Zamakhsyari.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 48

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

wa mā kunta tatlụ ming qablihī ming kitābiw wa lā takhuṭṭuhụ biyamīnika iżal lartābal-mubṭilụn

48. sebab, engkau [wahai Muhammad] tidak pernah dapat membaca kitab Ilahi apa pun sebelum yang ini [diwahyukan], dan engkau tidak pernah pula menulis kitab Ilahi apa pun dengan tanganmu sendiri46—jika tidak begitu, mereka yang berusaha menyangkal kebenaran [wahyumu]47 mungkin benar-benar memiliki alasan untuk ragu [padanya].


46 Yakni, “dengan tangan kananmu”. Di sini, istilah yamin digunakan secara metonimia dan menunjukkan tidak lebih daripada “tangan orang itu sendiri“.

Secara historis, telah dibuktikan bahwa Muhammad Saw., “Nabi yang ummi (buta aksara)” (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 157 dan 158), tidak dapat membaca ataupun menulis dan, karena itu, pengetahuannya yang luas mengenai kandungan wahyu-wahyu terdahulu tidak mungkin berasal dari Bibel atau kitab-kitab suci lainnya: yang—sebagaimana ditunjukkan Al-Quran—seharusnya meyakinkan siapa pun yang tidak berprasangka bahwa pengetahuan ini betul-betul datang kepadanya melalui wahyu Ilahi.

47 Nomina partisip (ism fa’il min al-fi’l al-mazid) mubthil berasal dari verba abthala, “dia membuat suatu pernyataan batil” [atau “sia-sia”] atau “berusaha menyangkal kebenaran [sesuatu]” atau “menjadikan [sesuatu] tidak berarti”, “membuktikan [bahwa ia] tidak bernilai”, atau “batal dan kosong”, “tidak berdasar”, “salah”, “palsu”, dan seterusnya, terlepas dari apakah objek itu benar atau salah, asli atau palsu, sahih atau tidak berdasar (Lisan Al-‘Arab dan Taj Al-‘Arus).


Surah Al-‘Ankabut Ayat 49

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

bal huwa āyātum bayyinātun fī ṣudụrillażīna ụtul-‘ilm, wa mā yaj-ḥadu bi`āyātinā illaẓ-ẓālimụn

49. Tidak, tetapi [kitab Ilahi] ini mengandung pesan-pesan yang jelas bagi hati semua orang yang dianugerahi pengetahuan [bawaan]48—dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak pesan-pesan Kami dengan sadar, kecuali orang-orang yang zalim [terhadap diri mereka sendiri].


48 Lit., “yang jelas dengan sendirinya (bayyinat) di dalam dada orang-orang yang telah dianugerahi pengetahuan”—istilah ‘ilm di sini memiliki konotasi daya tangkap intuitif dan ruhani.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 50

وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ ۖ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ

wa qālụ lau lā unzila ‘alaihi āyātum mir rabbih, qul innamal-āyātu ‘indallāh, wa innamā ana nażīrum mubīn

50. Dan, sungguhpun begitu, mereka berkata, “Mengapa mukjizat tidak diturunkan kepadanya oleh Pemeliharanya?”

Katakanlah: “Mukjizat berada dalam kekuasaan Allah saja,49 sedangkan aku—aku hanyalah seorang pemberi peringatan.”


49 Lihat catatan no. 94 pada Surah Al-An’am [6]: 109.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 51

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

a wa lam yakfihim annā anzalnā ‘alaikal-kitāba yutlā ‘alaihim, inna fī żālika laraḥmataw wa żikrā liqaumiy yu`minụn

51. Mengapa—tidak cukupkah bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini untuk disampaikan kepada mereka [oleh engkau]?50 Sebab, sungguh, di dalamnyalah terletak [perwujudan] rahmat [Kami] dan peringatan bagi kaum yang bersedia untuk beriman.


50 Yakni, “apakah kandungan wahyu ini tidak cukup bagi mereka agar mereka dapat memahami kebenaran intrinsiknya tanpa bantuan ‘mukjizat-mukjizat’ untuk membuktikan bahwa ia berasal dari sesuatu yang Ilahi?” (Bdk. catatan no. 60 pada kalimat terakhir Surah Al-A’raf [7]: 75.)


Surah Al-‘Ankabut Ayat 52

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا ۖ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

qul kafā billāhi bainī wa bainakum syahīdā, ya’lamu mā fis-samāwāti wal-arḍ, wallażīna āmanụ bil-bāṭili wa kafarụ billāhi ulā`ika humul-khāsirụn

52. Katakanlah [kepada mereka yang tidak bersedia untuk beriman]: “Cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kalian! Dia mengetahui segala yang ada di lelangit dan di bumi; dan orang-orang yang berkukuh memercayai apa yang batil dan sia-sia, dan dengan demikian mengingkari Allah—mereka, mereka itulah yang akan menjadi orang-orang yang rugi!”


Surah Al-‘Ankabut Ayat 53

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ ۚ وَلَوْلَا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

wa yasta’jilụnaka bil-‘ażāb, walau lā ajalum musammal lajā`ahumul-‘ażāb, wa laya`tiyannahum bagtataw wa hum lā yasy’urụn

53. Kini, mereka menantangmu untuk mempercepat datangnya hukuman [Allah] terhadap mereka:51 dan sungguh, seandainya masa [untuk itu] belum ditetapkan [oleh Allah], penderitaan itu pasti telah datang kepada mereka! Akan tetapi, sungguh, penderitaan itu pasti akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba dan mereka tidak akan menyadarinya.


51 Lihat catatan no. 32 pada Surah Al-Anfal [8]: 32.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 54

يَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

yasta’jilụnaka bil-‘ażāb, wa inna jahannama lamuḥīṭatum bil-kāfirīn

54. Mereka menantangmu untuk mempercepat datangnya hukuman [Allah] terhadap mereka: tetapi, sungguh, neraka pasti akan meliputi semua orang yang mengingkari kebenaran—


Surah Al-‘Ankabut Ayat 55

يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ وَيَقُولُ ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

yauma yagsyāhumul-‘ażābu min fauqihim wa min taḥti arjulihim wa yaqụlu żụqụ mā kuntum ta’malụn

55. [meliputi mereka] pada Hari ketika penderitaan akan menenggelamkan mereka dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka,52 lalu Dia akan berfirman, “Rasakanlah [kini buah dari] perbuatan kalian sendiri!”


52 Yakni, dari segala arah dan karena banyak sebab.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 56

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

yā ‘ibādiyallażīna āmanū inna arḍī wāsi’atun fa iyyāya fa’budụn

56. WAHAI, KALIAN hamba-hamba-Ku yang telah meraih iman! Perhatikanlah, terbentang luas bumi-Ku: maka, sembahlah Aku, [hanya] Aku!53


53 Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa karena bumi memberikan sarana-sarana yang tak terhitung banyaknya dan bermacam-macam bentuknya untuk mendukung kehidupan manusia, tidak ada alasan untuk melupakan Allah “karena tekanan keadaan yang sulit”. Kapan pun dan di mana pun beribadah kepada Allah—dalam pengertian esensialnya, bukan dalam pengertian ibadah ritual belaka—menjadi tidak mungkin dilakukan, kaum beriman diwajibkan untuk “meninggalkan ranah kejahatan itu” (yang, sebagaimana dijelaskan dalam catatan no. 124 pada Surah An-Nisa’ [4]: 97, merupakan makna terdalam dari konsep hijrah) dan “berhijrah menuju Allah”, yakni ke suatu tempat yang di sana seseorang dapat hidup sesuai dengan keyakinannya.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 57

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

kullu nafsin żā`iqatul-maụt, ṡumma ilainā turja’ụn

57. Setiap manusia pasti akan merasakan kematian, [dan] pada akhirnya, kepada Kami-lah semuanya akan dikembalikan:


Surah Al-‘Ankabut Ayat 58

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lanubawwi`annahum minal-jannati gurafan tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, ni’ma ajrul-‘āmilīn

58. lalu, orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan, pasti akan Kami tempatkan dalam rumah-rumah besar dalam surga, yang dilalui aliran sungai-sungai, di dalamnya (mereka) berkediaman: balasan yang amat istimewa bagi orang-orang yang mengerahkan upaya


Surah Al-‘Ankabut Ayat 59

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

allażīna ṣabarụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

59. —orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesusahan, dan yang bersandar penuh percaya kepada Pemelihara mereka!*


* {bertawakal, in their Sustainer place their trust—peny.}


Surah Al-‘Ankabut Ayat 60

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa ka`ayyim min dābbatil lā taḥmilu rizqahallāhu yarzuquhā wa iyyākum wa huwas-samī’ul-‘alīm

60. Dan, ada berapa banyak makhluk hidup yang tidak memikirkan rezekinya sendiri,54 [padahal] Allah menyediakan untuknya sebagaimana [Dia menyediakan] untuk kalian—karena Dia sajalah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


54 Lit., “yang tidak menanggung (atau ‘bertanggung jawab atas’) rezekinya”—yakni, karena mungkin terlalu lemah untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau (menurut Al-Hasan, sebagaimana dikutip Al-Zamakhsyari) karena tidak menimbun persediaan untuk hari esok. Rangkaian ayat ini berkaitan dengan pernyataan pada akhir ayat sebelumnya, yakni “orang-orang yang bersandar penuh percaya (bertawakal) kepada Pemelihara mereka”.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 61

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

wa la`in sa`altahum man khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa sakhkharasy-syamsa wal-qamara layaqụlunnallāh, fa annā yu`fakụn

61. Dan demikianlah adanya [dengan kebanyakan manusia]: jika55 engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan lelangit dan bumi, dan menjadikan matahari dan bulan tunduk [pada hukum-Nya]?”—tentulah mereka akan menjawab, “Allah.”

Maka, betapa menyimpangnya pikiran mereka!56


55 Mengenai frasa la’in yang saya terjemahkan menjadi “Dan demikianlah adanya: jika …”, dst., lihat Surah Ar-Rum [30], catatan no. 45. Kaum yang dibicarakan dalam rangkaian ayat tersebut adalah kaum yang mengakui keberadaan Allah, tetapi hanya memiliki pengertian yang samar tentang implikasi atau implikasi-yang-seharusnya dari pengakuan ini.

56 Lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90. Kesesatannya terletak pada anggapan mereka bahwa mereka benar-benar “beriman pada Allah”, tetapi meskipun demikian, mereka menyembah nilai-nilai batil dan kekuatan-kekuatan yang dianggap “Ilahi” di samping-Nya: semua ini merupakan penolakan semu terhadap keunikan dan kemahakuasaan-Nya.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 62

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

allāhu yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u min ‘ibādihī wa yaqdiru lah, innallāha bikulli syai`in ‘alīm

62. Allah menganugerahkan rezeki yang melimpah atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit kepada siapa pun yang Dia kehendaki di antara makhluk-makhluk-Nya: sebab, perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.57


57 Secara tersirat, “dan, karena itu, Allah tahu apa yang benar-benar baik dan, dari sudut pandang rencana-Nya yang tak terduga, Dia tahu apa yang dibutuhkan setiap makhluk hidup”.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 63

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

wa la`in sa`altahum man nazzala minas-samā`i mā`an fa aḥyā bihil-arḍa mim ba’di mautihā layaqụlunnallāhu qulil-ḥamdu lillāh, bal akṡaruhum lā ya’qilụn

63. Dan demikianlah: jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu memberi kehidupan kepada bumi setelah dahulunya ia mati?”—tentulah mereka akan menjawab, “Allah.”

Katakanlah: “[Karena memang demikian,] segala puji [hanyalah] bagi Allah!”

Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mau menggunakan akal mereka:


Surah Al-‘Ankabut Ayat 64

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

wa mā hāżihil-ḥayātud-dun-yā illā lahwuw wa la’ib, wa innad-dāral-ākhirata lahiyal-ḥayawān, lau kānụ ya’lamụn

64. sebab, [andaikan mereka menggunakannya, mereka akan tahu bahwa] kehidupan dunia ini tak lain hanyalah suatu kesenangan sementara dan permainan—sedangkan, perhatikanlah, kehidupan akhirat itu benar-benar satu-satunya kehidupan [yang sejati]: andaikan mereka mengetahui hal ini!


Surah Al-‘Ankabut Ayat 65

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

fa iżā rakibụ fil-fulki da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīn, fa lammā najjāhum ilal-barri iżā hum yusyrikụn

65. Dan demikianlah, tatkala mereka naik kapal [dan mendapati diri mereka dalam bahaya], mereka berdoa kepada Allah, [pada saat itu] tulus dalam keyakinan mereka kepada-Nya semata; tetapi, segera setelah Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka [mulai] mempersekutukan Allah dengan kekuatan-kekuatan khayali:


Surah Al-‘Ankabut Ayat 66

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

liyakfurụ bimā ātaināhum wa liyatamatta’ụ, fa saufa ya’lamụn

66. dengan demikian,58 mereka menunjukkan rasa amat sangat tak bersyukur terhadap segala yang telah Kami berikan kepada mereka, dan [dengan lalai] terus menikmati kehidupan duniawi mereka. Namun, pada saatnya, mereka akhirnya akan mengetahui [kebenaran].


58 Partikel Ii yang mengawali verba yakfuru (mereka menunjukkan rasa amat sangat tak bersyukur) dan yatamatta’u (mereka menikmati [atau “terus menikmati”] kehidupan duniawi mereka) bukan menunjukkan suatu maksud (“supaya” atau “agar”), melainkan semata-mata menunjukkan rangkaian sebab akibat; dalam konteks di atas, partikel tersebut dapat dengan tepat diterjemahkan menjadi “dengan demikian” {and thus}.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 67

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ

a wa lam yarau annā ja’alnā ḥaraman āminaw wa yutakhaṭṭafun-nāsu min ḥaulihim, a fa bil-bāṭili yu`minụna wa bini’matillāhi yakfurụn

67. Maka, tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami telah mendirikan tempat perlindungan yang aman [bagi mereka yang beriman pada Kami], padahal semua manusia di sekitar mereka hanyut [oleh rasa takut dan putus asa]?59 Maka, akankah mereka [terus] percaya pada sesuatu yang batil dan sia-sia, dan lalu mengingkari nikmat-nikmat Allah?


59 Lihat catatan no. 58 pada paragraf kedua Surah Al-Qasas [28]: 57. Berkebalikan dengan “tempat perlindungan yang aman”—yakni, kedamaian batin dan rasa kepuasan ruhani yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang benar-benar beriman pada-Nya—orang ateis dan agnostik lebih sering menderita ketakutan terhadap Yang Tidak Diketahui (the Unknown) dan keputusasaan yang muncul karena ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi padanya setelah meninggal.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 68

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bil-ḥaqqi lammā jā`ah, a laisa fī jahannama maṡwal lil-kāfirīn

68. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menisbahkan rekaan-rekaan dustanya sendiri kepada Allah,60 atau mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepadanya [melalui wahyu]? [Jadi,] bukankah neraka adalah tempat [yang layak] bagi semua orang yang mengingkari kebenaran?


60 Yakni, dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa di samping Allah atau bahkan terlepas dari-Nya, ada suatu “kekuatan” yang dapat menentukan nasib manusia.


Surah Al-‘Ankabut Ayat 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

wallażīna jāhadụ fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama’al-muḥsinīn

69. Akan tetapi, orang-orang yang berjuang sungguh-sungguh di jalan Kami—pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan yang mengantarkan kepada Kami:61 sebab, perhatikanlah, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.


61 Lit., “jalan-jalan Kami”. Jelaslah bahwa penggunaan bentuk jamak di sini dimaksudkan untuk menekankan fakta—yang sering disinggung dalam Al-Quran—bahwa ada banyak jalan yang mengantarkan pada pengetahuan dan kesadaran (ma’rifah, cognizance) akan Allah.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Similar Posts