8. Al-Anfal (Harta Rampasan Perang) – الأنفال

Surat Al-Anfal dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Anfal ( الأنفال ) merupakan surah ke 8 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 75 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Anfal tergolong Surat Madaniyah.

Sebagian besar ayat Surah Al-Anfal (nama ini diambil dari istilah “harta rampasan perang” yang ada dalam ayat 1 surah ini) diwahyukan pada saat, dan tak lama seusai, berlangsungnya Perang Badar (Arab: Badr) pada 2 H; tetapi beberapa ayatnya, khususnya yang ada di bagian penutup, dianggap diturunkan lebih terkemudian. Karena hampir seluruh bagian surah ini berkaitan dengan peristiwa Perang Badar serta pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut, suatu survei historis perlu dilakukan agar diperoleh pemahaman yang tepat tentang surah ini.

Pada bulan Sya’ban 2 H, kaum Muslim di Madinah mengetahui bahwa sekelompok besar kafilah dagang dari Makkah, yang berangkat ke Suriah beberapa bulan sebelumnya di bawah kepemimpinan Abu Sufyan, telah bersiap untuk perjalanan pulang menuju selatan dan akan melintasi Madinah dalam waktu beberapa minggu kemudian. Mengingat kenyataan bahwa sejak umat Islam berhijrah dari Makkah ke Madinah telah berlangsung perang terbuka antara umat Islam dan kaum Quraisy di Makkah, Nabi Muhammad Saw memberitahukan para pengikutnya bahwa beliau bermaksud menyerang kafilah dagang itu segera setelah mereka mendekati Madinah; dan desas-desus mengenai rencana ini telah sampai kepada Abu Sufyan ketika dia dan kafilahnya masih berada di Suriah. Karena sebelum mencapai daerah berbahaya itu masih tersedia waktu beberapa minggu, Abu Sufyan berkesempatan mengutus seorang kurir penunggang kuda cepat ke Makkah guna menyampaikan permohonan penting untuk meminta bantuan (kafilah itu sendiri, yang terdiri atas sekitar seribu unta yang dimuati dengan barang dagangan berharga, hanya dikawal oleh sekitar empat puluh orang bersenjata). Setelah menerima pesan dari Abu Sufyan, kaum Quraisy mengumpulkan pasukan yang kuat di bawah komando Abu Jahl, seorang musuh Nabi yang paling sengit, dan kemudian pasukan itu berangkat menuju utara guna memberikan pertolongan kepada kafilah tersebut. Sementara itu, kafilah dagang itu sendiri telah mengubah rute perjalanan yang biasa ditempuh dengan berbelok ke arah dataran rendah pesisir demi menjaga jarak sejauh mungkin antara mereka dan Madinah.

Bertentangan dengan kebiasaannya, pada peristiwa ini Nabi Muhammad Saw membiarkan rencana serangannya sudah diketahui jauh sebelum rencana itu dilaksanakan. Fakta ini memberi kesan bahwa maksud serangan terhadap kafilah itu tidak lebih hanya sebagai gertakan, sedangkan tujuan utamanya adalah pertempuran dengan pasukan Quraisy. Seperti telah disebutkan, keadaan perang telah berlangsung antara kaum Quraisy di Makkah dan umat islam di Madinah: Namun, sejauh ini, belum pernah terjadi pertempuran yang menentukan, sementara kaum Muslim terus-menerus hidup di bawah ancaman invasi kaum Quraisy. Kemungkinan Nabi ingin mengakhiri kondisi ini dan, jika mungkin, menciptakan kekalahan telak di pihak Quraisy sehingga, dengan demikian, memberikan keamanan bagi umatnya yang masih lemah. Andaikan Nabi benar-benar bermaksud menyerang dan merampas kafilah Abu Sufyan, beliau dapat dengan mudah melakukannya dengan cara menunggu hingga kafilah dagang itu mendekati daerah Madinah, lalu menyergapnya; maka, Abu Sufyan tidak mempunyai waktu untuk meminta bantuan dari Makkah. Namun, kenyataannya, berminggu-minggu sebelumnya Nabi telah mengumumkan rencana serangannya sehingga memberi Abu Sufyan kesempatan untuk mengirimkan tanda bahaya kepada sekutunya di Makkah, dan meminta mereka untuk mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Madinah.

Sementara kafilah Abu Sufyan bergerak menuju selatan dengan menyusuri daerah pesisir, dan dengan demikian berada di luar jangkauan kaum Muslim, pasukan Quraisy—yang terdiri atas seribu prajurit berpakaian perang, tujuh ratus unta, dan lebih dari seratus kuda—tiba di lembah Badar, kira-kira 160 kilometer di sebelah barat daya Madinah dan berharap dapat bertemu dengan Abu Sufyan di sana, sementara mereka tidak menyadari bahwa saat itu Abu Sufyan menempuh rute pesisir. Pada waktu bersamaan, Nabi bergerak keluar dari Madinah dengan memimpin tiga ratus orang lebih sedikit, yang semuanya tidak dilengkapi persenjataan memadai, serta hanya membawa tujuh puluh unta dan dua kuda. Pada saat itu, para pengikut Nabi sendiri mengira bahwa mereka akan menyerang kafilah dengan Abu Sufyan dan pasukan pengawalnya yang lemah; dan tatkala, pada tanggal 17 (atau menurut pendapat beberapa mufasir, pada tanggal 19 atau 21) Ramadhan, kaum Muslim berhadapan dengan pasukan Quraisy yang berkekuatan lebih dari tiga kali jumlah pasukan mereka, kaum Muslim segera mengadakan rapat perang untuk membahas masalh tersebut. Beberapa kalangan Muslim berpendapat bahwa pasukan musuh terlalu kuat bagi mereka dan mereka harus mundur kembali ke Madinah. Namun, mayoritas kalangan, yang dipimpin oleh Abu Bakr dan ‘Umar, lebih berpendapat untuk melancarkan serangan tiba-tiba, dan semangat mereka yang menggelora telah memengaruhi kaum Muslim lainnya untuk turut bersama mereka; maka, Nabi pun kemudian melancarkan serangan kepada pasukan Quraisy. Setelah diawali dengan pertempuran satu lawan satu—yang dilakukan dalam rangka menghormati tradisi Arab yang berlaku—pertempuran pun kemudian berubah menjadi perang terbuka; pasukan Makkah sepenuhnya ditaklukkan dan beberapa kepala suku mereka yang terkemuka, antara lain Abu Jahl, terbunuh.

Peristiwa itu merupakan perang terbuka pertama antara kaum pagan (penyembah berhala) Quraisy dan masyarakat Muslim di Madinah yang belum lama terbentuk; dan hasil perang itu membuat kaum Quraisy sadar bahwa gerakan yang dicanangkan oleh Muhammad bukan sekedar mimpi yang tidak akan bertahan lama, melainkan merupakan permulaan dari suatu kekuatan politik baru dan suatu era baru yang berbeda dengan yang pernah dikenal oleh bangsa Arab pada masa lampau. Kecemasan penduduk Makkah, yang telah muncul sejak peristiwa hijrah Nabi dan para pengikutnya ke Madinah, memperoleh penegasan yang mengguncangkan pada hari terjadinya Perang Badar. Meskipun kekuatan paganisme Arab belum sepenuhnya ambruk hingga beberapa tahun kemudian, tanda-tanda keruntuhannya telah menjadi jelas dengan terjadinya peristiwa bersejarah itu. Pun, bagi kaum Muslim, peristiwa Badar telah menjadi tonggak peralihan. Mungkin tidak keliru untuk beranggapan bahwa, hingga saat itu, hanya sedikit Sahabat Nabi yang memahami sepenuhnya implikasi-implikasi politik tatanan baru Islam. Bagi kebanyakan mereka, hijrahnya mereka ke Madinah pada masa sebelumnya berarti tidak lebih dari sekedar menyelamatkan diri dari penganiayaan-penganiayaan yang sebelumnya harus mereka alami di Makkah: namun, setelah Perang Badar, bahkan orang-orang berpikiran paling sederhana di antara mereka pun mulai menyadari bahwa mereka sedang menuju suatu tatanan masyarakat baru. Semangat pengorbanan pasif, yang menjadi ciri utama mereka pada masa lalu, memperoleh pelengkapnya di dalam gagasan tentang pengorbanan melalui tindakan. Doktrin Tindakan sebagai unsur paling fundamental dan kreatif dari kehidupan, mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, diwujudkan secara sadar tidak hanya oleh segelintir individu terpilih, tetapi juga oleh umat secara keseluruhan; dan aktivisme yang menggebu-gebu yang menjadi ciri khas sejarah Muslim pada beberapa dasawarsa dan abad selanjutnya merupakan akibat langsung dari Perang Badar.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Anfal Ayat 1

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

yas`alụnaka ‘anil-anfāl, qulil-anfālu lillāhi war-rasụl, fattaqullāha wa aṣliḥụ żāta bainikum wa aṭī’ullāha wa rasụlahū ing kuntum mu`minīn

1. MEREKA AKAN BERTANYA kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah: “Semua harta rampasan perang adalah kepunyaan Allah dan Rasul.”1

Maka, senantiasalah sadar akan Allah dan hidupkanlah terus tali persaudaraan di antara kalian,2 dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian [benar-benar] orang beriman!


1 Istilah nafl (jamak: anfal), dalam pengertian asal dari segi Bahasa, berarti “suatu peningkatan atau tambahan yang diterima melebihi hak seseorang” atau “sesuatu yang diberikan melebihi kewajiban seseorang” (yang dari makna terakhir inilah istilah shalat al-nafl—yakni, “shalat tambahan”—berasal). Dalam bentuk jamak anfal, yang dalam Al-Quran hanya muncul pada ayat di atas, kata ini berarti “harta rampasan perang”, sebab harta rampasan semacam itu merupakan tambahan yang diperoleh secara tidak disengaja, yang sangat jauh dari apa pun yang layak diharapkan oleh seorang mujahid (“seorang yang berjuang di jalan Allah”). Pernyataan bahwa “semua harta rampasan perang adalah kepunyaan Allah dan Rasul” mengandung pengertian bahwa tidak seorang pun pejuang berhak memiliki klaim atas harta rampasan perang apa pun: harta rampasan perang adalah milik umum, yang harus digunakan atau dibagi-bagikan oleh pemerintahan sebuah negara Islam sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah digariskan di dalam Al-Quran dan ajaran Nabi. Untuk perincian lebih jauh mengenai ketentuan pembagian harta rampasan perang tersebut, lihat ayat 41 surah ini.

Sebab langsung turunnya wahyu ini adalah pertanyaan menyangkut harta rampasan perang yang diperoleh kaum Muslim dalam Perang Badar (yang penjelasan mengenai peristiwa itu diuraikan di dalam catatan pendahuluan surah ini); tetapi, prinsip yang dikemukakan di atas berlaku untuk setiap zaman dan situasi.

2 Lit., “perbaikilah hubungan di antara kalian”—yakni, “tetap menyadari bahwa kalian adalah saudara seiman dan menyingkirkan segala perselisihan di antara kalian”.


Surah Al-Anfal Ayat 2

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

innamal-mu`minụnallażīna iżā żukirallāhu wajilat qulụbuhum wa iżā tuliyat ‘alaihim āyātuhụ zādat-hum īmānaw wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn

2. Orang-orang beriman hanyalah mereka yang hatinya bergetar dengan rasa gentar-terpukau manakala nama Allah disebut, dan yang keimanannya bertambah kuat ketika pesan-pesan-Nya disampaikan kepada mereka,3 dan yang bersandar penuh percaya pada Pemelihara mereka*


3 Lit., “dan setiap kali pesan-pesan-Nya disampaikan kepada mereka, pesan-pesan itu meningkatkan keimanan mereka”.

* {Yakni, bertawakal; who in their Sustainer place their trust, yang bersandar penuh percaya pada Pemelihara mereka.—peny.}


Surah Al-Anfal Ayat 3

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

allażīna yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn

3. mereka yang teguh mendirikan shalat dan menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka:4


4 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 4.


Surah Al-Anfal Ayat 4

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

ulā`ika humul-mu`minụna ḥaqqā, lahum darajātun ‘inda rabbihim wa magfiratuw wa rizqung karīm

4. mereka, mereka itulah orang yang benar-benar beriman! Bagi mereka martabat yang tinggi dalam pandangan Allah, dan ampunan atas dosa, serta rezeki yang paling mulia.5


5 Yakni, di surga. Namun, menurut Al-Razi, ungkapan “rezeki yang paling mulia” (rizq karim) adalah suatu metonimia untuk “kegairahan ruhani yang tumbuh dari pengetahuan tentang Allah, cinta kepada-Nya, dan pembenaman-diri (istighraq) dalam ibadah kepada-Nya”. Dalam penafsiran ungkapan ini mengacu pada balasan ruhani atas keimanan di dunia ini. Sebagian mufasir (bdk. Al-Manar IX, h. 597) menganggap definisi orang yang benar-benar beriman di atas sebagai bagian paling penting dari surah ini.

Frasa yang saya terjemahkan menjadi “bagi mereka martabat yang tinggi”, secara harfiah berbunyi “mereka akan memperoleh beberapa derajat”, yakni kemuliaan dan martabat.


Surah Al-Anfal Ayat 5

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

kamā akhrajaka rabbuka mim baitika bil-ḥaqqi wa inna farīqam minal-mu`minīna lakārihụn

5. SAMA SEPERTI KETIKA Pemeliharamu membawamu keluar dari rumahmu [untuk berjuang] demi kebenaran, kendati sebagian orang beriman tidak menyukainya,


Surah Al-Anfal Ayat 6

يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ

yujādilụnaka fil-ḥaqqi ba’da mā tabayyana ka`annamā yusāqụna ilal-mauti wa hum yanẓurụn

6. [demikian pula] mereka akan menyanggahmu menyangkut kebenaran [itu sendiri] setelah kebenaran itu menjadi nyata6—seolah-olah mereka sedang digiring menuju kematian dan menyaksikan kematian itu dengan mata kepala mereka sendiri.


6 Yakni, setelah menjadi jelas bahwa Allah memang menghendaki agar kaum Muslim melancarkan perang terbuka melawan pasukan Quraisy. Rujukan pada kejadian-kejadian sebelum Perang Badar ini (Iihat catatan pendahuluan surah ini) berkaitan dengan peringatan yang diberikan dalam ayat 1, “taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya”, dan juga dengan peringatan dalam ayat 2, yakni bahwa orang yang benar-benar beriman akan bersandar penuh percaya (bertawakal) pada Allah. Segelintir pengikut Nabi tidak menyukai gagasan untuk bertempur dengan pasukan utama Quraisy, tetapi lebih memilih untuk menyerang kafilah dagang orang-orang Makkah yang sedang dalam perjalanan pulang dari Suriah dan, dengan demikian, dapat memperoleh harta rampasan perang dengan mudah; akan tetapi, kebanyakan pengikut Nabi segera menyatakan bahwa mereka akan mengikuti Rasul Allah ke mana pun beliau akan memimpin mereka.

Sebagian mufasir cenderung mengaitkan kata keterangan kama (“sebagaimana pula” atau “sama seperti ketika”), yang mengawali kalimat tersebut, dengan ayat sebelumnya, yaitu mengaitkannya dengan kewajiban mereka untuk mematuhi perintah Allah. Namun, sebagian mufasir lainnya berpendapat bahwa penafsiran itu agak dipaksakan, dan mereka lebih cenderung mengaitkan perbandingan yang terkandung di dalam kata kama dengan anak kalimat pertama dalam ayat 6, sehingga penjelasan terhadap bagian ayat tersebut berbunyi: “Sama seperti ketika sebagian orang beriman tidak suka pergi dari Madinah untuk bertempur melawan kaum Quraisy, demikianlah mereka juga akan menyanggahmu tentang apakah [perang] ini benar-benar diinginkan Allah”. Ini, khususnya, adalah pandangan Mujahid yang dikutip dan didukung oleh Al-Thabarl dalam penafsirannya terhadap ayat di atas.


Surah Al-Anfal Ayat 7

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

wa iż ya’idukumullāhu iḥdaṭ-ṭā`ifataini annahā lakum wa tawaddụna anna gaira żātisy-syaukati takụnu lakum wa yurīdullāhu ay yuḥiqqal-ḥaqqa bikalimātihī wa yaqṭa’a dābiral-kāfirīn

7. Dan, lihatlah, Allah telah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua kelompok [musuh] akan takluk kepada kalian: dan kalian berkeinginan untuk menaklukkan yang lebih lemah,7 sementara Allah hendak membuktikan bahwa yang benar adalah benar sesuai dengan kalam-kalam-Nya, dan untuk menyapu bersih sisa-sisa orang yang mengingkari kebenaran8


7 Lit., “sementara kalian menyukai agar yang tidak kuat diperuntukkan bagi kalian”—yakni, kafilah yang datang dari Suriah, yang hanya dikawal oleh empat puluh orang bersenjata dan, karena itu, dapat diserang tanpa menimbulkan bahaya yang besar.

8 Kehancuran tentara Makkah di Badar adalah awal dari kehancuran seluruh perlawanan terhadap Islam di tanah asalnya dalam kurun waktu beberapa tahun kemudian: pemenuhan janji Allah pada masa depan inilah yang dirujuk oleh kata-kata di atas. Lihat juga Surah Yunus [10], catatan no. 103.


Surah Al-Anfal Ayat 8

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

liyuḥiqqal-ḥaqqa wa yubṭilal-bāṭila walau karihal-mujrimụn

8. agar Dia dapat membuktikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, betapapun hal ini mungkin amat dibenci oleh orang-orang yang tenggelam dalam dosa.9


9 Maknanya yang tersirat ialah bahwa kebenaran perjuangan Nabi tidak dapat dijustifikasi andaikan kaum Muslim menguasai dan merampas kafilah kaya yang datang dari utara. Meskipun tindakan tersebut akan menguntungkan kaum Muslim secara materiel, hal ini tidak akan melemahkan kekuatan kaum pagan Quraisy: sementara, di sisi lain, pertempuran di Badar yang berhadapan dengan kekuatan bersenjata Quraisy yang sangat besar, yang menghasilkan kemenangan di pihak kaum Muslim, ditakdirkan untuk menghancurkan rasa percaya diri musuh dan, dengan demikian, membuka jalan bagi puncak kemenangan Islam di Arabia.


Surah Al-Anfal Ayat 9

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

iż tastagīṡụna rabbakum fastajāba lakum annī mumiddukum bi`alfim minal-malā`ikati murdifīn

9. Lihatlah! Kalian berdoa memohon pertolongan kepada Pemelihara kalian, lalu Dia menanggapi kalian: “Sungguh, Aku akan menolong kalian dengan seribu malaikat yang datang susul-menyusul!”


Surah Al-Anfal Ayat 10

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wa mā ja’alahullāhu illā busyrā wa litaṭma`inna bihī qulụbukum, wa man-naṣru illā min ‘indillāh, innallāha ‘azīzun ḥakīm

10. Dan, Alllah menetapkan hal yang demikian itu semata-mata sebagai kabar gembira dan agar hati kalian hendaknya menjadi tenteram karenanya—karena tiada pertolongan datang kecuali dari Allah: sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksa!10


10 “Pada hari Perang Badar, Nabi memandang kepada para pengikutnya, yang berjumlah tiga ratus orang lebih sedikit, dan dia memandang kepada orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada selain Allah (kaum musyrik): dan lihatlah, jumlah mereka lebih dari seribu orang. Kemudian, Nabi menghadap kiblat sambil mengangkat tangannya dan berdoa kepada Pemeliharanya: ‘Ya Allah! Penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku! Ya Allah! Jika kelompok kecil orang-orang yang telah memasrahkan dirinya kepada-Mu ini hancur, Engkau tidak akan disembah di muka bumi ….'” Hadis sahih ini, yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ahmad ibn Hanbal, dan lain-lain, tercantum pula dalam versi yang sangat serupa di dalam Shahih Al-Bukhari. Dikatakan bahwa ayat Al-Quran di atas diwahyukan sebagai tanggapan terhadap doa Nabi tersebut—lalu beliau membacakan ayat lain yang lebih awal (Surah Al-Qamar [54]: 45): “Pasukan besar itu akan dikalahkan, dan mereka akan berbalik mundur [melarikan diri] (Al-Bukhari).

Adapun mengenai janji bantuan berupa beribu-ribu malaikat, lihat Surah Al-‘Imran [3]: 124-125, yang di dalamnya janji serupa—yang dibuat pada saat Perang Uhud dikatakan telah diucapkan oleh Nabi dan, karena itu, secara tersirat hal itu telah dibenarkan oleh Allah. Bahwa bantuan malaikat ini bersifat ruhani (spiritual) secara jelas diungkapkan dalam kata-kata “dan, Allah menetapkan hal yang demikian itu semata-mata sebagai kabar gembira …”, dan seterusnya. (Lihat juga Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 93 dan no. 94.)


Surah Al-Anfal Ayat 11

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

iż yugasysyīkumun-nu’āsa amanatam min-hu wa yunazzilu ‘alaikum minas-samā`i mā`al liyuṭahhirakum bihī wa yuż-hiba ‘angkum rijzasy-syaiṭāni wa liyarbiṭa ‘alā qulụbikum wa yuṡabbita bihil-aqdām

11. [Ingatlah bagaimana keadaannya] tatkala Dia menjadikan ketenangan batin menyelimuti kalian,11 sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan menurunkan kepada kalian air dari langit agar Dia dapat menyucikan kalian dengan air itu dan membebaskan kalian dari bisikan kotor setan12 dan menguatkan hati kalian serta meneguhkan langkah kalian.


11 Yakni, sebelum Perang Badar. Mengenai penafsiran kata nu’as sebagai “ketenangan batin”, lihat Surah Al-‘Iman[3], catatan no. 112. Di sini, istilah itu mengacu pada ketenangan ruhani dan rasa percaya diri orang-orang beriman dalam menghadapi tantangan yang sangat berat.

12 Lit., “menghilangkan kotoran setan dari kalian”. Tidak lama sebelum dimulainya pertempuran, pasukan Makkah mengepung sumber-sumber air di Badar sehingga menyebabkan pasukan Muslim kekurangan air; dan karena kehausan, sebagian pasukan Muslim merasa tidak tahan hingga mengungkapkan keputusasaan (di sini disimbolkan dengan “bisikan kotor setan”)—Ialu, tiba-tiba hujan lebat turun dan pasukan Muslim dapat memuaskan rasa dahaga mereka (Al-Thabari, bersumber dari Ibn ‘Abbas).


Surah Al-Anfal Ayat 12

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

iż yụḥī rabbuka ilal-malā`ikati annī ma’akum fa ṡabbitullażīna āmanụ, sa`ulqī fī qulụbillażīna kafarur-ru’ba faḍribụ fauqal-a’nāqi waḍribụ min-hum kulla banān

12. Lihatlah! Pemeliharamu mewahyukan kepada malaikat [untuk menyampaikan pesan-Nya ini kepada orang beriman]: “Aku bersama kalian!”13

[Dan, Dia memerintahkan malaikat:] “Dan, berikanlah keteguhan kepada mereka yang telah meraih iman [dengan kata-kata-Ku ini]:14 ‘Aku akan menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran; maka tebaslah, [wahai orang beriman,] dan tebaslah tiap-tiap ujung jari tangan mereka!’”15


13 Ungkapan “Aku bersama kalian” dialamatkan (melalui malaikat) kepada orang beriman—”sebab, maksud kata-kata ini adalah untuk menghilangkan rasa takut; karena kaum Muslimlah, bukan malaikat, yang takut terhadap para pengingkar kebenaran itu” (Al-Razi).

14 Kata-kata berikutnya lagi-lagi ditujukan kepada orang beriman (Al-Razi). Ayat 10 surah ini memperjelas bahwa bantuan malaikat itu bersifat ruhani; dan tidak ada bukti di bagian mana pun dalam Al-Quran bahwa malaikat telah, atau diartikan telah, ikut serta di dalam perang dalam pengertian fisik. Dalam penafsirannya terhadap ayat di atas, Al-Razi menekankan hal ini berulang-ulang; di antara para mufasir modern, Rasyid Ridha tegas menolak pikiran berbau legenda bahwa malaikat secara nyata berperang di dalam pertempuran ini ataupun dalam pertempuran-pertempuran Nabi lainnya (lihat Al-Manar IX, hh. 612 dst.). Terutama berdasarkan penafsiran Al-Razi terhadap ayat inilah, saya menyisipkan kalimat-kalimat penjelas di dalam kurung siku di sejumlah tempat.

15 Yakni, “menghancurkan mereka sehancur-hancurnya”.


Surah Al-Anfal Ayat 13

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

żālika bi`annahum syāqqullāha wa rasụlah, wa may yusyāqiqillāha wa rasụlahụ fa innallāha syadīdul-‘iqāb

13. Yang demikian itu, karena mereka telah memutus diri mereka dari Allah dan Rasul-Nya: dan untuk orang yang memutus dirinya sendiri16 dari Allah dan Rasul-Nya—sungguh, Allah amat keras dalam menghukum.


16 Atau: “melawan” (Al-Baghawi). Namun, karena makna utama syaqqahu (“dia memisahkan dirinya dari dia” atau “memutus dirinya dari dia”) mengandung konsep pemisahan sekaligus perlawanan (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Razi), terjemahan yang saya gunakan tampaknya adalah yang paling sesuai dalam konteks ini.


Surah Al-Anfal Ayat 14

ذَٰلِكُمْ فَذُوقُوهُ وَأَنَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابَ النَّارِ

żālikum fa żụqụhu wa anna lil-kāfirīna ‘ażāban-nār

14. Itulah [untuk kalian, wahai musuh-musuh Allah]! Maka, rasakanlah [dan ketahuilah] bahwa derita api neraka menanti orang-orang yang mengingkari kebenaran!


Surah Al-Anfal Ayat 15

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā laqītumullażīna kafarụ zaḥfan fa lā tuwallụhumul-adbār

15. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Ketika dalam pertempuran kalian bertemu dengan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, yang maju dengan kekuatan besar, janganlah kalian membelakangi mereka:17


17 Yakni, melarikan diri: pengertian yang tersirat di dalamnya ialah bahwa mengingat Allah menjanjikan kemenangan, maka mundur tidak diperbolehkan. Karena ayat ini (seperti keseluruhan surah ini) terutama berhubungan dengan Perang Badar, peringatan di atas dapat dianggap sebagai bagian dari pesan pembangkit semangat atau keberanian yang dimulai dengan kata-kata, “Aku bersama kalian” (ayat 12), yang Allah perintahkan kepada malaikat untuk disampaikan kepada orang beriman sebelum perang. Namun, sejalan dengan metode pengajaran Al-Quran, pelajaran moral yang terkandung di dalam ayat ini tidak terbatas pada peristiwa sejarah yang dirujuk oleh ayat tersebut, tetapi juga memiliki kesahihan sebagai suatu hukum yang berlaku sepanjang masa.


Surah Al-Anfal Ayat 16

وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

wa may yuwallihim yauma`iżin duburahū illā mutaḥarrifal liqitālin au mutaḥayyizan ilā fi`atin fa qad bā`a bigaḍabim minallāhi wa ma`wāhu jahannam, wa bi`sal-maṣīr

16. sebab, siapa pun yang pada hari itu berpaling dari mereka—jika bukan dalam rangka melakukan siasat atau dalam rangka bergabung dengan pasukan [orang beriman] lainnya—maka dia benar-benar akan menanggung beban murka Allah, dan tempat kembalinya adalah neraka: dan betapa buruknya akhir perjalanan itu!


Surah Al-Anfal Ayat 17

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

fa lam taqtulụhum wa lākinnallāha qatalahum wa mā ramaita iż ramaita wa lākinnallāha ramā, wa liyubliyal-mu`minīna min-hu balā`an ḥasanā, innallāha samī’un ‘alīm

17. Akan tetapi; [wahai orang-orang yang beriman,] bukanlah kalian yang telah membunuh musuh itu,18 melainkan Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukanlah engkau yang melontarkan [rasa takut ke dalam hati mereka, wahai Muhammad,] ketika engkau melontarkannya, melainkan Allah-lah yang melontarkannya:19 dan [Dia melakukan semua ini] agar Dia dapat menguji orang-orang beriman dengan cobaan yang baik dari ketentuan-Nya sendiri.20 Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui!


18 Lit., “kalian tidak membunuh mereka”—maksudnya pada Perang Badar, yang berakhir dengan kemenangan mutlak di pihak Muslim.

19 Menurut sejumlah hadis, pada permulaan perang, Nabi melempar musuh dengan segenggam kerikil atau pasir, yang secara simbolis menandakan kekalahan pihak musuh. Namun, tidak satu pun dari hadis itu yang mencapai standar keautentikan yang disebut sebagai shahih (yakni “tepercaya, dapat diandalkan”) oleh para ahli ilmu hadis (‘ilm al-hadits) dan, karenanya, tidak dapat menjelaskan secara memuaskan bagian ayat Al-Quran di atas (lihat penafsiran Ibn Katsir atas ayat ini, dan juga Al-Manar IX, hh. 620 dan seterusnya). Karena verba rama (lit., “dia melemparkan” atau “melontarkan”) dapat pula berarti tindakan “menembakkan anak panah” atau “melempar tombak”, dapat dijelaskan di sini bahwa kata tersebut mengacu pada partisipasi aktif Nabi dalam peperangan. Atau, kata itu dapat berarti tindakan Nabi “menebar ketakutan”, yakni ke dalam hati musuh-musuhnya, dengan keberanian luar biasa yang diperlihatkan olehnya dan para pengikutnya. Penjelasan mana pun yang diambil, ayat di atas mengandung pengertian bahwa kemenangan kaum Muslim atas pasukan Quraisy yang memiliki jumlah tentara yang jauh lebih banyak serta peralatan perang yang jauh Iebih baik adalah berkat rahmat Allah semata: dan, karenanya, hal itu menjadi peringatan bagi orang-orang beriman, pada setiap zaman, untuk tidak hanyut dalam kebanggaan yang tidak sepantasnya atas setiap keberhasilan yang mereka capai (yang merupakan makna dari “ujian” yang disebutkan dalam kalimat berikutnya).

20 Lit., “dari diri-Nya”.


Surah Al-Anfal Ayat 18

ذَٰلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ

żālikum wa annallāha mụhinu kaidil-kāfirīn

18. Demikianlah [maksud Allah]—dan juga [untuk memperlihatkan] bahwa Allah menjadikan sia-sia tipu daya orang-orang yang mengingkari kebenaran.


Surah Al-Anfal Ayat 19

إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ ۖ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

in tastaftiḥụ fa qad jā`akumul-fat-ḥ, wa in tantahụ fa huwa khairul lakum, wa in ta’ụdụ na’ud, wa lan tugniya ‘angkum fi`atukum syai`aw walau kaṡurat wa annallāha ma’al-mu`minīn

19. Apabila kalian selama ini berdoa agar memperoleh kemenangan [wahai orang-orang yang beriman]—kini kemenangan itu benar-benar telah datang kepada kalian. Dan, jika kalian menahan diri [dari berbuat dosa], hal itu adalah demi kebaikan kalian sendiri; tetapi, jika kalian kembali kepadanya (berbuat dosa), Kami akan menarik kembali [janji pertolongan Kami] dan kaum kalian tidak akan pernah bisa memberi manfaat apa pun bagi kalian, sebesar apa pun jumlah mereka: sebab, perhatikanlah, Allah [hanyalah] bersama orang-orang yang beriman!21


21 Tidak ada kesepakatan di antara para mufasir mengenai apakah ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman atau kepada lawan mereka di Badar, yaitu kaum pagan Quraisy. Sementara sebagian mufasir (misalnya, Al-Razi) berpendapat bahwa ayat ini adalah peringatan bagi orang beriman dan mereka memahami ayat itu dalam pengertian seperti yang saya terjemahkan di atas, sebagian mufasir lain berpendapat bahwa ayat ini adalah peringatan yang dialamatkan kepada orang-orang Quraisy. Untuk membenarkan pandangan ini, mereka mengartikan kata fath (lit., “pembukaan yang terdapat pada kalimat pertama dengan “ketetapan” atau “keputusan” (yang jelas dimungkinkan dari segi ilmu Bahasa) sehingga terjemahan ayat tersebut berbunyi sebagai berikut: “Jika kalian mencari keputusan [wahai orang-orang yang tidak beriman]—suatu keputusan kini telah datang kepada kalian. Dan, jika kalian menahan diri [dari berperang melawan Allah dan Rasul-Nya], itu adalah demi kebaikan kalian sendiri; namun, jika kalian kembali, Kami akan kembali [untuk mengalahkan kalian]—dan pasukan kalian tidak akan bermanfaat bagi kalian, sekalipun besar jumlahnya: sebab, perhatikanlah, Allah bersama orang-orang yang beriman!”

Seperti terlihat dari alternatif terjemahan ini, perbedaan penafsiran ini bergantung pada makna figuratif yang diberikan pada kata fath (“keputusan” atau “kemenangan”) dan fi’ah (“pasukan tentara” atau “kaum”, community). Mengenai kata yang disebutkan terakhir, perlu diingat bahwa makna utamanya ialah “suatu kelompok” atau “sekumpulan orang”—yang kurang lebih sinonim dengan kata thai’fah atau jama’ah; karena itu, kata tersebut dapat berarti “pasukan tentara” maupun “kaum”.

Demikian juga, ungkapan na’ud dapat dipahami dengan dua cara, yaitu: dalam arti “Kami akan kembali [untuk mengalahkan kalian]”—atau, seperti dalam terjemahan saya, “Kami akan menarik kembali [janji pertolongan Kami]”; terjemahan pertama dialamatkan kepada kaum yang tidak beriman, sedangkan terjemahan kedua ditujukan kepada kaum beriman. (Mengenai penggunaan verba ‘ada dalam arti “dia mencabut”, lihat Taj Al-‘Arus; juga Lane V, h. 2189). Namun, kendati kedua penafsiran di atas sama-sama dibenarkan dari sudut ilmu bahasa, penafsiran yang saya ambil (dan yang menurut Ibn Katsir didukung oleh Ubayy ibn Ka’b) lebih selaras dengan konteks ayat tersebut, sebab ayat sebelum maupun sesudahnya tidak diragukan lagi memang dialamatkan kepada kaum beriman. Jadi, ayat ini harus dipahami sebagai peringatan bagi kaum Muslim bahwa Allah akan bersama mereka hanya selama mereka tetap teguh dalam keimanan dan benar dalam tindakan, dan bahwa betapapun besar umat Muslim pada masa mendatang, mereka tidak akan memiliki kekuatan kecuali jika mereka benar-benar beriman.


Surah Al-Anfal Ayat 20

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa rasụlahụ wa lā tawallau ‘an-hu wa antum tasma’ụn

20. [Karena itu,] wahai kalian yang telah meraih iman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah berpaling dari-Nya, padahal kalian mendengar [pesan-Nya];


Surah Al-Anfal Ayat 21

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

wa lā takụnụ kallażīna qālụ sami’nā wa hum lā yasma’ụn

21. dan janganlah menjadi seperti orang-orang yang berkata, “Kami telah mendengar,” padahal mereka tidak memperhatikan.22


22 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 93 dan An-Nisa’ [4]: 46 serta catatan-catatannya. Sementara dalam kedua ayat tersebut kaum Yahudi-lah yang dibicarakan secara tidak langsung, dalam ayat ini yang dibicarakan sifatnya lebih umum dan berkaitan dengan semua orang yang telah mengetahui dan memahami pesan Al-Quran, tetapi tidak menaatinya.


Surah Al-Anfal Ayat 22

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

inna syarrad-dawābbi ‘indallāhiṣ-ṣummul-bukmullażīna lā ya’qilụn

22. Sungguh, seburuk-buruk makhluk23 dalam pandangan Allah adalah mereka yang tuli, bisu, yang tidak menggunakan akal mereka.


23 Lit., “hewan-hewan yang berjalan atau merayap” (dawab, tunggal: dabbah), termasuk manusia.


Surah Al-Anfal Ayat 23

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ ۖ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

walau ‘alimallāhu fīhim khairal la`asma’ahum, walau asma’ahum latawallaw wa hum mu’riḍụn

23. Sebab, sekiranya Allah melihat ada sesuatu yang baik pada diri mereka, niscaya Dia akan menjadikan mereka mendengar: tetapi [begitulah,] bahkan jikapun Dia menjadikan mereka mendengar, mereka pasti akan berpaling karena keras kepala.


Surah Al-Anfal Ayat 24

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanustajībụ lillāhi wa lir-rasụli iżā da’ākum limā yuḥyīkum, wa’lamū annallāha yaḥụlu bainal-mar`i wa qalbihī wa annahū ilaihi tuḥsyarụn

24. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Jawablah seruan Allah dan Rasul tatkala dia menyeru kalian menuju apa yang akan memberi kalian kehidupan; dan ketahuilah bahwa Allah berada di antara manusia dan [hasrat] hatinya,24 dan kepada Dia-lah kalian akan dikumpulkan.


24 Yakni, di antara hasrat manusia dan tindakan lahiriah yang mungkin muncul dari hasrat tersebut: yang menunjukkan bahwa Allah dapat memalingkan manusia dari dorongan hatinya untuk melakukan sesuatu (Raghib). Dengan kata lain, kesadaran akan Allah (ketakwaan) sematalah yang dapat mencegah manusia tersesat karena hasrat-hasrat yang keliru dan, dengan demikian, mencegah manusia agar tidak menjadi seperti “mereka yang tuli, bisu, yang tidak menggunakan akal mereka” (ayat 22 di atas); dan kesadaran akan Allah sematalah yang dapat memungkinkan manusia untuk mengikuti panggilan “menuju apa yang memberi kehidupan”—yaitu, kesadaran ruhani tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta kehendak untuk bertindak sesuai dengan kesadaran tersebut.


Surah Al-Anfal Ayat 25

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

wattaqụ fitnatal lā tuṣībannallażīna ẓalamụ mingkum khāṣṣah, wa’lamū annallāha syadīdul-‘iqāb

25. Dan, berhati-hatilah terhadap godaan untuk (melakukan) kejahatan yang tidak hanya menimpa orang-orang di antara kalian yang berkukuh mengingkari kebenaran;25 dan ketahuilah bahwa Allah amat keras dalam menghukum.


25 Istilah fitnah—yang dalam konteks ini diterjemahkan menjadi “godaan untuk (melakukan) kejahatan”—meliputi banyak konsep, seperti “bujukan”, “cobaan”, “ujian”, atau “kesusahan yang dengannya seseorang diuji”; juga “kebingungan” (seperti di dalam Surah Al-‘Imran [3]: 7 dan Surah Al-An’am [6]: 23), “ketakselarasan” atau “perselisihan” (karena hal itu merupakan suatu “cobaan” berupa pengelompokan manusia), serta “penganiayaan” dan “penindasan” (karena hal itu merupakan penderitaan yang dapat menyebabkan manusia tersesat dan kehilangan keimanannya terhadap nilai-nilai ruhani—makna kata fitnah yang digunakan di dalam Surah Al-Baqarah [2]: 191 dan 193); dan, terakhir, “hasutan” dan “perang saudara” (karena hal itu menyebabkan seluruh umat tersesat). Karena ungkapan “godaan untuk (melakukan) kejahatan” dapat diterapkan pada seluruh makna tersebut, ungkapan tersebut tampaknya merupakan yang paling sesuai untuk konteks ayat 25 di atas: idenya ialah bahwa bukan saja mereka yang secara sengaja mengingkari kebenaran ruhani yang dihadapkan dengan godaan semacam itu, melainkan juga orang-orang yang saleh sekali pun bisa terjerumus dalam godaan tersebut, kecuali jika mereka tetap senantiasa, dan secara sadar, menjaga diri dari apa pun yang dapat menyebabkan mereka tersesat dari jalan yang benar.


Surah Al-Anfal Ayat 26

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

ważkurū iż antum qalīlum mustaḍ’afụna fil-arḍi takhāfụna ay yatakhaṭṭafakumun-nāsu fa āwākum wa ayyadakum binaṣrihī wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāti la’allakum tasykurụn

26. Dan, ingatlah masa ketika kalian masih sedikit [dan] tak berdaya di muka bumi dan merasa takut bahwa orang akan membinasakan kalian26—lalu Allah menyediakan tempat penampungan bagi kalian, memperkuat kalian dengan pertolongan-Nya, dan menganugerahi kalian rezeki dari hal-hal yang baik dalam kehidupan supaya kalian bersyukur.


26 Merujuk pada kelemahan orang-orang beriman pada masa awal Islam, sebelum mereka berhijrah dari Makkah ke Madinah. Dalam maknanya yang lebih luas, ini merupakan peringatan bagi setiap umat yang benar-benar beriman, sepanjang masa, mengenai keadaan mereka yang pada awalnya lemah dan jumlahnya tidak signifikan, lalu mulai berkembang jumlah dan pengaruhnya pada masa-masa kemudian.


Surah Al-Anfal Ayat 27

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā takhụnullāha war-rasụla wa takhụnū amānātikum wa antum ta’lamụn

27. [Karena itu,] wahai kalian yang telah meraih iman, janganlah berkhianat kepada Allah dan Rasul, dan janganlah secara sengaja* mengkhianati amanah yang telah diberikan kepada kalian;27


* {ta’lamun, “knowingly“, sengaja, dengan sepengetahuan kalian—peny.}

27 Lit., “jangan mengkhianati amanah-amanah kalian, sedangkan kalian mengetahui”. Mengenai makna yang lebih dalam dari istilah amanah (“kepercayaan”), lihat catatan no. 87 dalam Surah Al-Ahzab [33]: 72.


Surah Al-Anfal Ayat 28

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

wa’lamū annamā amwālukum wa aulādukum fitnatuw wa annallāha ‘indahū ajrun ‘aẓīm

28. dan ketahuilah bahwa harta duniawi kalian dan anak-anak kalian tidak lain hanyalah cobaan dan godaan, dan bahwa di sisi Allah terdapat balasan yang amat besar.28


28 Karena cinta terhadap harta duniawi dan keinginan untuk memberi perlindungan kepada keluarga dapat menyebabkan orang berbuat dosa (dan, dengan demikian, mengkhianati nilai-nilai moral yang ditetapkan dalam pesan Allah), hal itu digambarkan sebagai fitnah—yang dalam konteks ini paling balk diterjemahkan dengan dua kata: “cobaan dan godaan”. Peringatan ini berhubungan dengan ayat 25: “berhati-hatilah terhadap godaan untuk (melakukan) kejahatan yang tidak hanya menimpa orang-orang di antara kalian yang berkukuh mengingkari kebenaran”, karena keserakahan dan keinginan untuk memberi keuntungan kepada keluarga sendiri sering menggoda seorang yang saleh untuk melanggar hak-hak orang lain. Perlu diingat bahwa, berbeda dengan Perjanjian Baru, Al-Quran tidak menetapkan kebencian terhadap keterikatan duniawi sebagai prasyarat bagi kebaikan atau kesalehan: ia hanya menuntut manusia agar tidak membiarkan keterikatan itu menjadikan manusia lupa untuk mengejar kebenaran-kebenaran moral.


Surah Al-Anfal Ayat 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

yā ayyuhallażīna āmanū in tattaqullāha yaj’al lakum furqānaw wa yukaffir ‘angkum sayyi`ātikum wa yagfir lakum, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

29. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Jika kalian tetap sadar akan Allah, Dia akan memberi kalian patokan untuk membedakan hal yang benar dari yang salah,29 dan akan menghapus perbuatan buruk kalian, serta akan mengampuni dosa-dosa kalian: karena Allah memiliki karunia yang melimpah tak terhingga.


29 Yakni, kemampuan untuk melakukan penilaian moral (Al-Manar IX, h. 648). Lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 38.


Surah Al-Anfal Ayat 30

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

wa iż yamkuru bikallażīna kafarụ liyuṡbitụka au yaqtulụka au yukhrijụk, wa yamkurụna wa yamkurullāh, wallāhu khairul-mākirīn

30. DAN [ingatlah, wahai Nabi,] bagaimana ketika orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu merencanakan siasat jahat melawanmu untuk menghalangimu [berdakwah], atau membunuhmu, atau mengusirmu: demikianlah mereka telah [senantiasa] bersiasat:30 tetapi Allah menjadikan siasat mereka tidak berarti—sebab, Allah lebih unggul daripada semua pembuat siasat!


30 Sementara kalimat pertama ayat ini berbicara tentang penganiayaan yang dialami oleh Nabi dan para pengikutnya di Makkah sebelum hijrah ke Madinah, bagian penutup ayat ini berbicara tentang kenyataan sejarah keagamaan manusia yang selalu berulang, yakni bahwa orang-orang yang mengingkari kebenaran wahyu Ilahi selalu bermaksud untuk melemahkan kekuatan para pendakwah atau menghancurkan mereka, baik secara fisik maupun secara figuratif, melalui ejekan.


Surah Al-Anfal Ayat 31

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُوا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَٰذَا ۙ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā qālụ qad sami’nā lau nasyā`u laqulnā miṡla hāżā in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

31. Dan, ketika pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka, mereka akan berkata, “Kami telah mendengar [semua ini] sebelumnya; jika kami mau, kami [sendiri] pasti dapat menggubah perkataan-perkataan seperti ini: (perkataan-perkataan) itu tiada lain hanyalah dongeng-dongeng masa lalu!”31


31 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 25. Mengenai ungkapan la qulna—di sini diterjemahkan sebagai “kami [sendiri] pasti dapat menggubah”—perlu diingat bahwa verba qala tidak selalu hanya berarti “dia telah berkata”, tetapi juga “dia telah menegaskan” atau “telah mengungkapkan pendapat”, demikian juga—dalam kaitannya dengan karya kesusastraan—”dia telah menggubah”: jadi, qala syi’r berarti “dia telah menggubah sebuah puisi”. Dalam konteks di atas, ungkapan ini mengacu, secara tidak Iangsung, pada sesumbar kaum pagan Quraisy yang kerap dikemukakan berulang-ulang (tetapi tidak pernah diwujudkan) bahwa mereka dapat menghasilkan sebuah pesan puitis yang kualitasnya sebanding dengan Al-Quran; dalam pengertiannya yang lebih luas, hal ini mengacu secara tidak langsung pada sikap kaum yang tidak beriman terhadap kitab-kitab yang diwahyukan pada umumnya.


Surah Al-Anfal Ayat 32

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

wa iż qālullāhumma ing kāna hāżā huwal-ḥaqqa min ‘indika fa amṭir ‘alainā ḥijāratam minas-samā`i awi`tinā bi’ażābin alīm

32. Dan, lihatlah, mereka berkata, “Ya Allah! Jika ini memang kebenaran dari-Mu, hujanilah kami dengan bebatuan dari langit atau timpakanlah derita [lain] yang pedih kepada kami!”32


32 Seruan yang bersifat sindiran dari kaum tak beriman ini yang beberapa kali disebutkan dalam Al-Quran—dimaksudkan untuk menekankan keyakinan mereka bahwa Al-Quran bukanlah wahyu Ilahi. Menurut Anas ibn Malik, kata-kata ini pertama kali diucapkan Abu Jahl, lawan utama Nabi di Makkah, yang terbunuh dalam Perang Badar (Al-Bukhari).


Surah Al-Anfal Ayat 33

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

wa mā kānallāhu liyu’ażżibahum wa anta fīhim, wa mā kānallāhu mu’ażżibahum wa hum yastagfirụn

33. Namun, Allah memilih untuk tidak menghukum mereka selama engkau [wahai Nabi] masih berada di antara mereka33 dan tidak pula Allah akan menghukum mereka ketika mereka [mungkin pada suatu saat nanti] meminta ampunan.


33 Yakni, di Makkah, sebelum hijrah ke Madinah.


Surah Al-Anfal Ayat 34

وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ ۚ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa mā lahum allā yu’ażżibahumullāhu wa hum yaṣuddụna ‘anil-masjidil-ḥarāmi wa mā kānū auliyā`ah, in auliyā`uhū illal-muttaqụna wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

34. Namun, kelebihan apa yang [sekarang] mereka miliki sehingga Allah tidak akan menghukum mereka—padahal mereka menghalangi [orang beriman] dari Masjid Al-Haram, meskipun mereka bukanlah para penjaganya [yang berhak]?34

Tiada yang dapat menjadi penjaganya selain dari orang-orang yang sadar akan Allah: namun, kebanyakan mereka [yang zalim] itu tidak mengetahui;


34 Pada saat diwahyukannya surah ini (yakni pada 2 H), Kota Makkah masih berada dalam kekuasaan kaum Quraisy dan tidak ada seorang Muslim pun yang diizinkan memasuki kota itu. Karena mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s., kaum Quraisy menganggap diri mereka memiliki hak sebagai penjaga Ka’bah (“Rumah ibadah yang Suci”, Masjid Al-Haram), yang dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai tempat ibadah pertama yang diabdikan untuk Allah yang Esa (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 102). Al-Quran menyangkal anggapan ini, seperti halnya Al-Quran menyangkal klaim Bani Israil sebagai “umat pilihan” semata-mata berdasarkan alasan bahwa mereka adalah keturunan Ibrahim. (Dalam kaitan ini, bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 124, khususnya kalimat terakhir, “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim”.) Walaupun masih menyimpan sedikit kepercayaan pada Allah, kaum Quraisy telah meninggalkan sama sekali kepercayaan monoteis Ibrahim dan, dengan demikian, mereka juga telah kehilangan klaim moral sebagai penjaga rumah ibadah (al-bait) yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. tersebut.


Surah Al-Anfal Ayat 35

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

wa mā kāna ṣalātuhum ‘indal-baiti illā mukā`aw wa taṣdiyah, fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

35. dan shalat mereka di depan Bait itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan.35

Maka, rasakanlah; [wahai orang-orang yang tak beriman,] hukuman ini sebagai akibat sikap kalian yang terus-menerus mengingkari kebenaran!36


35 Yakni, kosong dari segala kandungan spiritual. Sebagian mufasir paling awal berpendapat bahwa menari mengelilingi Ka’bah, dengan diiringi siulan dan tepukan tangan, sesungguhnya merupakan ritual yang dipraktikkan orang-orang Arab sebelum era Islam. Walau penjelasan itu cukup masuk akal, berdasarkan konteks ayat ini, ungkapan “siulan dan tepuk tangan” di sini tampaknya digunakan sebagai metafora untuk menunjukkan kosongnya kandungan spiritual dari ritual keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang yang terbiasa mengagungkan, sehingga seperti mempertuhankan, segala macam “kekuatan” yang tidak esensial—seperti kekayaan, kekuasaan, status sosial, “keberuntungan”, dll.

36 Hukuman atau penderitaan (azab) yang dirujuk di sini adalah kekalahan telak mereka di Badar.


Surah Al-Anfal Ayat 36

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

innallażīna kafarụ yunfiqụna amwālahum liyaṣuddụ ‘an sabīlillāh, fa sayunfiqụnahā ṡumma takụnu ‘alaihim ḥasratan ṡumma yuglabụn, wallażīna kafarū ilā jahannama yuḥsyarụn

36. Perhatikanlah, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran menafkahkan harta mereka untuk membuat orang lain berpaling dari jalan Allah; dan mereka akan terus menafkahkan harta tersebut hingga harta itu menjadi [sumber] penyesalan yang dalam bagi mereka; dan kemudian mereka akan ditaklukkan!

Dan, orang-orang yang [hingga mereka mati] mengingkari kebenaran akan dikumpulkan ke dalam neraka


Surah Al-Anfal Ayat 37

لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

liyamīzallāhul-khabīṡa minaṭ-ṭayyibi wa yaj’alal-khabīṡa ba’ḍahụ ‘alā ba’ḍin fa yarkumahụ jamī’an fa yaj’alahụ fī jahannam, ulā`ika humul-khāsirụn

37. sehingga Allah dapat memisahkan antara yang jahat dan yang baik, dan menggabungkan antar-sesama yang jahat, dan mengikat mereka bersama [di dalam murka-Nya], lalu menempatkan mereka di dalam neraka. Mereka, mereka itulah orang-orang yang merugi!


Surah Al-Anfal Ayat 38

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ

qul lillażīna kafarū iy yantahụ yugfar lahum mā qad salaf, wa iy ya’ụdụ fa qad maḍat sunnatul-awwalīn

38. Katakanlah kepada orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran bahwa apabila mereka berhenti,37 semua dosa mereka yang lalu akan diampuni; tetapi, jika mereka kembali [berbuat zalim], biarlah mereka mengingat apa yang terjadi pada orang-orang seperti mereka pada masa lalu.38


37 Yakni, dari usaha mereka untuk memalingkan orang lain dari jalan Allah dan dari memerangi kaum beriman.

38 Lit., “contoh (sunnah) orang-orang pada masa silam telah berlalu”: hal ini merujuk secara tidak langsung pada bencana-bencana yang menimpa, dan pasti akan menimpa, orang-orang yang terus-menerus mengingkari kebenaran-kebenaran moral.


Surah Al-Anfal Ayat 39

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

wa qātilụhum ḥattā lā takụna fitnatuw wa yakụnad-dīnu kulluhụ lillāh, fa inintahau fa innallāha bimā ya’malụna baṣīr

39. Dan, perangilah mereka hingga tiada lagi penindasan dan seluruh peribadahan dipersembahkan hanya untuk Allah.39

Dan, apabila mereka berhenti—perhatikanlah, Allah menyaksikan semua yang mereka lakukan;40


39 Yakni, hingga manusia bebas untuk menyembah Allah. Bdk. frasa yang sama dalam Surah Al-Baqarah [2]: 193 dan catatan yang terkait. Kedua bagian ayat ini menekankan soal pembelaan diri—dalam maknanya yang terluas—sebagai satu-satunya pembenaran bagi perang.

40 Yakni, Dia mengetahui motif mereka dan akan membalas mereka sesuai dengan kebaikan mereka.


Surah Al-Anfal Ayat 40

وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ ۚ نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

wa in tawallau fa’lamū annallāha maulākum, ni’mal-maulā wa ni’man-naṣīr

40. dan apabila. mereka berpaling [dari kebajikan], ketahuilah bahwa Allah adalah Penguasa kalian yang Tertinggi: [dan] betapa mulia Sang Penguasa tertinggi ini, dan betapa mulia Sang Maha Penolong ini!


Surah Al-Anfal Ayat 41

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa’lamū annamā ganimtum min syai`in fa anna lillāhi khumusahụ wa lir-rasụli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli ing kuntum āmantum billāhi wa mā anzalnā ‘alā ‘abdinā yaumal-furqāni yaumaltaqal jam’ān, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr

41. DAN, KETAHUILAH bahwa harta rampasan apa pun yang kalian peroleh [dalam perang], seperlimanya adalah milik Allah dan Rasul, serta karib kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, dan para musafir.41

[Hal demikian itu harus kalian patuhi] jika kalian beriman pada Allah dan beriman pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari ketika kebenaran dibedakan dari kesalahan—hari ketika kedua pasukan bertemu dalam pertempuran. Dan, Allah berkuasa menetapkan segala sesuatu.42


41 Menurut ayat 1 surah ini, “semua harta rampasan perang adalah kepunyaan Allah dan Rasul”, yakni harus diatur oleh penguasa suatu negara Islam untuk kepentingan kesejahteraan umum. Sebagian besar ahli Hukum Islam terkemuka berpendapat bahwa sementara empat perlima harta rampasan dibagikan kepada orang-orang yang secara aktif ambil bagian dalam perang atau digunakan untuk kesejahteraan umat, seperlima bagiannya harus dicadangkan untuk tujuan-tujuan spesifik yang disebutkan satu per satu di dalam ayat di atas, termasuk bagian “untuk Allah dan Rasul” (yang jelas merupakan metonimia untuk pemerintah yang menjalankan pemerintahan sesuai dengan hukum Al-Quran dan ajaran Rasul Allah); bagian yang terakhir ini harus digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak administrasi negara. Karena pembahasan menyeluruh mengenai masalah hukum yang kompleks ini akan jauh melampaui cakupan catatan penjelasan ini, pembaca dianjurkan untuk mengacu khususnya pada Al-Manar X, hh. 4 dst., yang di dalamnya pandangan para ahli Hukum Islam klasik diringkaskan.

Mengenai arti ibn al-sabil (musafir) yang muncul dalam ayat ini, lihat Surah AI-Baqarah [2], catatan no. 145. Sedangkan, yang dimaksud dengan “karib kerabat dan anak-anak yatim” dalam konteks ini tampaknya adalah sanak saudara dari para pejuang yang gugur.

42 Yakni, “Dia dapat memberi kemenangan kepada kalian atau menahannya dari kalian”. Di sini, Perang Badar digambarkan sebagai “hari ketika kebenaran dibedakan dari kesalahan” (yaum al-furqan), sebab pada peristiwa itu kelompok orang beriman yang berjumlah sedikit dan dengan persenjataan yang sangat tidak memadai dapat memorak-porandakan pasukan yang memiliki persenjataan yang jauh lebih balk dan dengan tentara yang lebih dari tiga kali lipat jumlahnya. Wahyu yang dirujuk dalam kaitan ini adalah janji kemenangan dari Allah, yang terdapat dalam ayat 12-14 surah ini. (Lihat juga catatan no. 38 dalam Surah Al-Baqarah [2]. 53.)


Surah Al-Anfal Ayat 42

إِذْ أَنْتُمْ بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُمْ بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَىٰ وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنْكُمْ ۚ وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ ۙ وَلَٰكِنْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ

iż antum bil-‘udwatid-dun-yā wa hum bil-‘udwatil-quṣwā war-rakbu asfala mingkum, walau tawā’attum lakhtalaftum fil-mī’ādi wa lākil liyaqḍiyallāhu amrang kāna maf’ụlal liyahlika man halaka ‘am bayyinatiw wa yaḥyā man ḥayya ‘am bayyinah, wa innallāha lasamī’un ‘alīm

42. [Ingatlah hari itu] ketika kalian berada di ujung Lembah [Badar] dan mereka berada di ujung lainnya, sementara kafilah berada di bawah kalian.43 Dan, seandainya kalian mengetahui akan terjadi pertempuran, kalian sungguh akan menolak untuk menerima tantangan itu:44 tetapi [bagaimanapun, pertempuran itu tetap terjadi] supaya Allah dapat menyelesaikan suatu hal [yang Dia kehendaki] agar terlaksana,45 [dan] agar siapa pun yang akan hancur dapat hancur dengan bukti kebenaran yang nyata, dan siapa pun yang akan tetap hidup dapat hidup dengan bukti kebenaran yang nyata.46 Dan, perhatikanlah, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


43 Sebelum dimulai perang, Nabi dan pengikutnya berkemah di bagian sebelah utara Lembah Badar, dekat Madinah. Sementara itu, musuh mereka, yang datang dari Makkah, menempati bagian selatan. Sementara itu, kafilah dagang Makkah, yang datang dari Suriah di bawah pimpinan Abu Sufyan, bergerak menuju selatan melalui dataran rendah pesisir (lihat catatan pendahuluan surah ini).

44 Ini adalah terjemahan yang sangat bebas dari ungkapan eliptis yang secara harfiah berbunyi: “Dan, jika kalian membuat janji bersama, kalian pasti akan gagal menaati janji itu”—yakni, janji untuk bertempur. Sebagaimana telah dikemukakan di dalam catatan pendahuluan surah ini, sebagian besar pengikut Nabi awalnya mengira bahwa sasaran mereka adalah kafilah dagang yang relatif lemah, dan sebagian dari mereka merasa cemas ketika akhirnya mengetahui diri mereka berhadapan dengan tentara Quraisy yang kuat yang bergerak maju dari arah selatan.

45 Menurut seluruh mufasir, kata-kata yang saya sisipkan dalam kurung siku itu terkandung secara tersirat dalam kalimat yang sangat eliptis tersebut. Jika diterjemahkan secara harfiah, kata-kata terakhir ayat tersebut dapat diterjemahkan menjadi “suatu hal yang [telah] terlaksana”: yang berarti bahwa jika Allah menetapkan suatu hal, hal itu niscaya akan terjadi dan, karena itu, dapat digambarkan sebagai hal yang telah terlaksana.

46 Sebagian mufasir terkemuka memahami kalimat ini dalam pengertian metaforis. “Kehancuran” menunjuk pada sikap berkukuh dalam menolak kebenaran (kufr), sedangkan “kehidupan” sama artinya dengan keimanan. Menurut penafsiran ini, kalimat di atas memiliki arti sebagai berikut: “… agar pengingkaran kebenaran oleh orang yang mengingkari kebenaran itu, dan keimanan orang yang telah meraih iman itu, dapat tampak jelas” (Al-Zamakhsyari); atau “biarkan orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu terus mengingkarinya setelah bukti jelas mengenai kehendak Allah ini dan biarkan mereka yang telah meraih iman terus beriman” (Ibn Ishaq, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir). Namun, menurut pendapat saya, mati dan hidup dalam ayat di atas lebih baik ditafsirkan dalam makna harfiah-nya (bukan kiasan)— yaitu, mengacu pada orang-orang yang tewas atau orang-orang yang tetap hidup dalam Perang Badar, balk di pihak orang beriman maupun orang tak beriman: orang beriman yang gugur dalam perang itu menjadi martir atau syahid karena Allah, sementara orang-orang yang bertahan hidup dapat melihat dengan jelas peran Allah dalam kemenangan mereka; sementara mereka yang tewas dari kalangan orang-orang yang mengingkari kebenaran, kematian mereka jelas sia-sia, dan mereka yang bertahan hidup kini harus menyadari bahwa kekalahan telak mereka, pada hakikatnya, disebabkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar semangat keberanian orang-orang Muslim (bdk. ayat 17 dan catatan terkait).


Surah Al-Anfal Ayat 43

إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلًا ۖ وَلَوْ أَرَاكَهُمْ كَثِيرًا لَفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ ۗ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

iż yurīkahumullāhu fī manāmika qalīlā, walau arākahum kaṡīral lafasyiltum wa latanāza’tum fil-amri wa lākinnallāha sallam, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

43. Lihatlah! Allah memperlihatkan mereka kepadamu dalam mimpi bahwa mereka berjumlah sedikit:47 sebab, seandainya Dia memperlihatkan kepadamu bahwa mereka berjumlah banyak, pastilah hati kalian akan menjadi gentar dan kalian pasti akan berbantah-bantahan mengenai apa yang harus dilakukan.48 Akan tetapi, Allah menyelamatkan [kalian dari keadaan demikian]: sungguh, Dia mengetahui sepenuhnya apakah hati [manusia] itu.*


47 Lit., “dalam mimpimu” secara jelas berhubungan dengan mimpi yang Nabi alami sebelum pertempuran di Badar. Kita tidak menemukan hadis sahih dengan makna seperti itu, tetapi seorang tabi’i {pengikut Sahabat Nabi—peny.} bernama Mujahid diriwayatkan pernah berkata, “Allah telah memperlihatkan pihak musuh kepada Nabi, dalam sebuah mimpi, berjumlah sedikit; lalu dia memberitahukan {hal ini kepada} Para Sahabatnya, dan hal ini sungguh membesarkan hati mereka” (Al-Razi dan Ibn Katsir, dengan sedikit perbedaan).

48 Lit., “mengenai perkara tersebut”—yakni, mengenai pilihan apakah harus teus maju untuk berperang ataukah harus mundur.

* {“Mengetahui sepenuhnya apakah hati manusia itu” adalah terjemahan Asad untuk frasa dzat al-shudur, yang dalam versi Depag RI diterjemahkan menjadi “apa yang ada dalam hati”. Jika dianalogikan dengan Dzat Allah, yang diterjemahkan menjadi “Zat Allah”, misalnya, terjemahan Asad, secara harfiah, lebih tepat.—AM}


Surah Al-Anfal Ayat 44

وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا ۗ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

wa iż yurīkumụhum iżiltaqaitum fī a’yunikum qalīlaw wa yuqallilukum fī a’yunihim liyaqḍiyallāhu amrang kāna maf’ụlā, wa ilallāhi turja’ul-umụr

44. Dan demikianlah, ketika kalian bertemu dalam pertempuran, Dia menjadikan mereka tampak berjumlah sedikit di mata kalian—sama seperti Dia membuat kalian tampak berjumlah sedikit di mata mereka—sehingga Allah dapat menyelesaikan suatu hal [yang Dia kehendaki] agar terlaksana:49 sebab, segala sesuatu kembali kepada Allah [sebagai sumbernya].


49 Lihat catatan no. 45. Karena pada saat pertempuran itu benar-benar terjadi kaum Muslim tidak lagi ragu mengenai besarnya kekuatan musuh, ungkapan “Dia menjadikan mereka tampak berjumlah sedikit di mata kalian” jelas memiliki arti kiasan: yakni, pada waktu itu pengikut Nab benar-benar dipenuhi rasa keberanian sehingga musuh tampak tidak berarti bagi mereka. Di sisi lain, orang-orang Quraisy begitu menyadari kekuatan mereka dan keunggulan jumlah mereka sehingga kaum Muslim terlihat kecil bagi mereka—suatu kesalahan yang menyebabkan kekalahan mereka dalam perang dan mereka kehilangan begitu banyak nyawa. 


Surah Al-Anfal Ayat 45

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

yā ayyuhallażīna āmanū iżā laqītum fi`atan faṡbutụ ważkurullāha kaṡīral la’allakum tufliḥụn

45. [Karena itu,] wahai kalian yang telah meraih iman, jika kalian bertemu musuh dalam pertempuran, bersikap teguhlah dan seringlah mengingat Allah agar kalian meraih kebahagiaan!


Surah Al-Anfal Ayat 46

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

wa aṭī’ullāha wa rasụlahụ wa lā tanāza’ụ fa tafsyalụ wa taż-haba rīḥukum waṣbirụ, innallāha ma’aṣ-ṣābirīn

46. Dan, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan [biarkan diri kalian] berbantah-bantahan agar kalian tidak kehilangan nyali, dan (agar) semangat juang50 tidak meninggalkan kalian. Dan, bersabarlah dalam menghadapi kesusahan: sebab, sungguh, Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesusahan.


50 Kata yang dimaksud adalah rih, yang secara harfiah berarti “angin”; kata ini digunakan sebagai kiasan untuk “semangat” {spirit} atau “kekuatan moral” {moral strength}.


Surah Al-Anfal Ayat 47

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

wa lā takụnụ kallażīna kharajụ min diyārihim baṭaraw wa ri`ā`an-nāsi wa yaṣuddụna ‘an sabīlillāh, wallāhu bimā ya’malụna muḥīṭ

47. Dan, janganlah seperti orang-orang [yang tidak beriman] yang keluar dari kampung halaman mereka dengan penuh rasa bangga diri dan hasrat ingin dilihat dan dipuji orang:51 sebab mereka berusaha memalingkan orang lain dari jalan Allah—sedangkan Allah meliputi seluruh perbuatan mereka [dengan kekuasaan-Nya].


51 Kalimat ini mengacu pada tentara Quraisy yang bergerak maju dari Makkah di bawah pimpinan Abu Jahl dengan keyakinan bahwa mereka akan menghancurkan Nabi dan para pengikutnya. Kata-kata ini mengandung peringatan bagi orang beriman, sepanjang masa, agar jangan pernah pergi berperang dengan perasaan sombong dan demi keagungan yang hampa.


Surah Al-Anfal Ayat 48

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ ۖ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَىٰ مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

wa iż zayyana lahumusy-syaiṭānu a’mālahum wa qāla lā gāliba lakumul-yauma minan-nāsi wa innī jārul lakum, fa lammā tarā`atil-fi`atāni nakaṣa ‘alā ‘aqibaihi wa qāla innī barī`um mingkum innī arā mā lā tarauna innī akhāfullāh, wallāhu syadīdul-‘iqāb

48. Dan, lihatlah, setan menjadikan semua perbuatan mereka tampak baik bagi mereka, dan berkata, “Tiada yang dapat mengalahkan kalian pada hari ini karena, perhatikanlah, aku akan menjadi pelindung kalian!”52—namun, segera setelah kedua pasukan itu dapat melihat satu sama lain, setan segera—berbalik dan berkata, “Perhatikanlah, aku tidak bertanggung jawab atas diri kalian: perhatikanlah, aku melihat apa yang tidak bisa kalian lihat: perhatikanlah, aku takut kepada Allah—sebab, Allah amat keras dalam menghukum!”53


52 Lit., “tetangga kalian”—sebuah ungkapan yang berasal dari prinsip Arab kuno bahwa seseorang berkewajiban untuk menolong dan melindungi tetangganya.

53 Alegori tentang bujukan setan dan bahwa kemudian setan akan meninggalkan orang-orang berdosa itu, muncul dalam bentuk yang lebih umum dalam Surah Al-Hasyr [59]: 16.


Surah Al-Anfal Ayat 49

إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَٰؤُلَاءِ دِينُهُمْ ۗ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

iż yaqụlul-munāfiqụna wallażīna fī qulụbihim maraḍun garra hā`ulā`i dīnuhum, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa innallāha ‘azīzun ḥakīm

49. Pada saat yang sama, orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, “Keyakinan mereka telah menipu [orang-orang beriman] ini!”54

Namun, siapa pun yang bersandar penuh percaya (bertawakal) pada Allah [mengetahui bahwa], sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


54 Yakni, berpikir bahwa mereka mampu menghadapi tentara Makkah yang kuat, walaupun mereka lemah dari segi jumlah dan kekurangan persenjataan. Istilah din, yang sering berarti “agama”, di sini jelas berarti sikap seseorang terhadap agamanya: dengan kata lain, keimanan seseorang. “Orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit” mengacu pada orang-orang yang bimbang dan pengecut di kalangan pengikut Nabi, yang takut bertemu dengan pasukan Quraisy dalam pertempuran.

Kata idz yang mengawali kalimat ini sering bermakna “ketika”; namun, dalam konteks kalimat ini, kata ini berarti “pada saat yang sama”.


Surah Al-Anfal Ayat 50

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

walau tarā iż yatawaffallażīna kafarul-malā`ikatu yaḍribụna wujụhahum wa adbārahum, wa żụqụ ‘ażābal-ḥarīq

50. DAN, SEANDAINYA engkau dapat melihat [bagaimana yang akan terjadi] tatkala Dia mencabut nyawa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran: malaikat akan memukul wajah dan punggung mereka,55 dan [akan berkata], “Rasakanlah derita neraka


55 Atau: “… ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, mereka memukul …”, dan seterusnya—bergantung apakah kata ganti dalam verba yatawaffa dinisbahkan kepada malaikat sehingga kalimat itu berbunyi “mereka mencabut nyawa [mereka]”, ataukah kepada Tuhan, yang dalam hal ini ayat itu berbunyi “Dia mencabut nyawa [mereka]” (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi).

Menurut AI-Razi, pukulan ke wajah dan punggung orang yang berdosa itu adalah suatu alegori tentang penderitaan mereka di kehidupan akhirat karena mereka telah mengingkari kebenaran semasa hidup di dunia ini: “Di belakang mereka gelap gulita dan di hadapan mereka gelap gulita—dan inilah makna dari kata-kata, ‘[para malaikat] memukul wajah mereka dan punggung mereka’.” Sebagian besar mufasir berpendapat bahwa bagian ayat ini mengacu secara khusus pada kaum pagan Quraisy yang tewas dalam Perang Badar; meskipun tidak diragukan bahwa ayat ini memang ditujukan kepada mereka, menurut pendapat saya, tidak ada alasan untuk membatasi maksud dari ayat tersebut hanya pada peristiwa sejarah ini—khususnya dengan memperhatikan bagian-bagian ayat selanjutnya (hingga dan termasuk ayat 55), yang secara jelas mengacu pada semua orang yang “berkukuh mengingkari kebenaran”.


Surah Al-Anfal Ayat 51

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

żālika bimā qaddamat aidīkum wa annallāha laisa biẓallāmil lil-‘abīd

51. sebagai balasan atas apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan kalian—sebab, Allah tidak pernah sedikit pun berbuat zalim terhadap makhluk-makhluk-Nya!”


Surah Al-Anfal Ayat 52

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ ۙ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

kada`bi āli fir’auna wallażīna ming qablihim, kafarụ bi`āyātillāhi fa akhażahumullāhu biżunụbihim, innallāha qawiyyun syadīdul-‘iqāb

52. [Mereka akan mengalami] hal seperti yang dialami oleh orang-orang Fir’aun dan orang-orang yang hidup sebelum mereka: mereka mengingkari kebenaran pesan-pesan Allah—dan kemudian Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka. Sungguh, Allah Mahadigdaya, amat keras dalam menghukum!


Surah Al-Anfal Ayat 53

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

żālika bi`annallāha lam yaku mugayyiran ni’matan an’amahā ‘alā qaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim wa annallāha samī’un ‘alīm

53. Demikianlah, karena Allah tidak akan pernah mengubah56 nikmat yang telah Dia anugerahkan atas suatu kaum, kecuali mereka mengubah lubuk diri* mereka sendiri:57 dan [ketahuilah] bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


56 Yakni, menarik kembali.

* {Untuk terjemahan ma bi anfusihim, yang secara harfiah berarti “apa yang ada dalam diri mereka”, mungkin lebih tepat jika digunakan “lubuk diri (inner-self) mereka”.—AM}

57 Untuk penjelasan tentang implikasi-implikasi yang lebih luas dari pernyataan ini dalam konteks hukum sebab akibat yang telah Allah tetapkan terhadap ciptaan-Nya (dan yang di tempat lain dalam Al-Quran digambarkan sebagai sunnah Allah, “ketetapan/jalan Allah”), lihat catatan saya mengenai ungkapan “Allah tidak mengubah keadaan manusia, kecuali mereka mengubah lubuk diri mereka sendiri” yang terdapat dalam Surah Ar-Ra’d [13]: 11.


Surah Al-Anfal Ayat 54

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ ۙ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَّبُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ ۚ وَكُلٌّ كَانُوا ظَالِمِينَ

kada`bi āli fir’auna wallażīna ming qablihim, każżabụ bi`āyāti rabbihim fa ahlaknāhum biżunụbihim wa agraqnā āla fir’aụn, wa kullung kānụ ẓālimīn

54. [Orang-orang yang berbuat dosa itu akan mengalami] hal seperti yang dialami oleh orang-orang Fir’aun dan orang-orang yang hidup sebelum mereka: mereka mendustakan pesan-pesan Sang Pemelihara mereka—maka kemudian, Kami hancurkan mereka sebagai balasan atas dosa-dosa mereka, dan Kami jadikan orang-orang Fir’aun tenggelam: sebab, mereka semua adalah orang-orang yang berbuat zalim.


Surah Al-Anfal Ayat 55

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

inna syarrad-dawābbi ‘indallāhillażīna kafarụ fa hum lā yu`minụn

55. Sungguh, seburuk-buruk makhluk dalam pandangan Allah adalah mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran dan karena itu tidak beriman.58


58 Bdk. ayat 22 surah ini, yang di dalamnya julukan yang sama diberikan kepada manusia “yang tidak menggunakan akal mereka”. Dalam kasus ayat ini, perlu dicatat bahwa kata fa di awal ungkapan fa hum la yuiminun memiliki arti “dan karena itu” (“dan karena itu mereka tidak percaya”): dengan demikian, memperlihatkan bahwa tiadanya kepercayaan terhadap kebenaran ruhani merupakan konsekuensi dari sikap “berkukuh mengingkari kebenaran”. Apabila diungkapkan dalam bahasa yang positif, ini sama dengan pernyataan bahwa kepercayaan terhadap setiap proposisi etis bergantung pada kesiapan seseorang untuk mempertimbangkan proposisi itu berdasarkan kualitas-kualitasnya dan mengakui kebenaran hal-hal apa pun yang dinilai oleh pikiran seseorang sesuai dengan kebenaran-kebenaran lainnya, yang dibuktikan secara empiris ataupun intuitif. Berkenaan dengan ungkapan alladzina kafaru, penggunaan verba bentuk larnpau (al-madhi) di sini, seperti begitu sering digunakan dalam Al-Quran, dimaksudkan untuk menekankan unsur niat dan, karena itu—manakala dibenarkan oleh konteksnya—secara konsisten saya terjemahkan menjadi “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” (lihat juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 6).


Surah Al-Anfal Ayat 56

الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ

allażīna ‘āhatta min-hum ṡumma yangquḍụna ‘ahdahum fī kulli marratiw wa hum lā yattaqụn

56. ADAPUN MENGENAI ORANG-ORANG yang engkau telah membuat perjanjian dengan mereka, dan yang lalu melanggar perjanjian mereka pada setiap kesempatan,59 serta tidak pula sadar akan Allah—


59 Lit., “setiap kali”. Perjanjian yang dibicarakan ialah kesepakatan-kesepakatan antara kaum Muslim dan kelompok-kelompok politik non-Muslim. Walaupun ayat ini pertama-tama dialamatkan kepada Nabi, kata ganti “engkau” di sini merujuk pada setiap pengikut Al-Quran dan, dengan demikian, juga seluruh umat Islam sepanjang zaman. Dengan ayat di atas, wacana ini kembali pada topik tentang perang melawan kaum tak beriman yang dibahas dalam sebagian besar isi surah ini. Dibicarakannya tindakan kaum tak beriman dalam “melanggar perjanjian mereka” menyiratkan dua pengertian: pertama, membuat perjanjian (yakni perjanjian tentang hubungan damai) dengan pihak non-Muslim tidak raja diperbolehkan, tetapi bahkan dikehendaki (bdk. ayat 61); dan, kedua, kaum Muslim dapat menempuh jalan perang hanya apabila dan ketika pihak lain secara terbuka bersikap bermusuhan terhadap mereka.


Surah Al-Anfal Ayat 57

فَإِمَّا تَثْقَفَنَّهُمْ فِي الْحَرْبِ فَشَرِّدْ بِهِمْ مَنْ خَلْفَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

fa immā taṡqafannahum fil-ḥarbi fa syarrid bihim man khalfahum la’allahum yażżakkarụn

57. jika engkau menemukan mereka dalam pertempuran [melawan kalian], jadikanlah mereka contoh yang mengerikan bagi orang-orang yang mengikuti mereka60 sehingga mudah-mudahan mereka dapat merenungkannya;


60 Lit., “mengusir, dengan menggunakan mereka, orang-orang yang datang setelah mereka”; atau “membuat takut, dengan perantaraan mereka, orang-orang yang mengikuti mereka”: yakni, “melawan mereka dan memberikan hukuman sebagai contoh untuk mereka”.


Surah Al-Anfal Ayat 58

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

wa immā takhāfanna ming qaumin khiyānatan fambiż ilaihim ‘alā sawā`, innallāha lā yuḥibbul-khā`inīn

58. atau, jika engkau memiliki alasan untuk khawatir terhadap pengkhianatan61 dari orang-orang [yang dengan mereka engkau telah membuat suatu perjanjian], kembalikanlah kepada mereka dengan cara yang adil:62 sebab, sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berkhianat!


61 “Alasan untuk khawatir terhadap pengkhianatan” tentu saja tidak boleh hanya berdasarkan dugaan, tetapi harus berdasarkan bukti-bukti objektif yang jelas (Al-Thabari, AI-Baghawi, Al-Razi, juga Al-Manar X, h. 58).

62 Yakni, “akhiri perjanjian dengan cara yang adil (‘ala sawa’)”. Al-Thabari menjelaskan kalimat ini sebagai berikut: “Sebelum berperang dengan mereka, beri tahukan mereka bahwa, berdasarkan bukti yang jelas tentang pengkhianatan mereka, engkau harus mengakhiri perjanjian yang telah dibuat antara engkau dan mereka sehingga, baik engkau maupun mereka, mengetahui bahwa engkau berada dalam kondisi perang dengan mereka”. Dalam penafsirannya terhadap ayat ini, Al-Baghawi memberikan penafsiran yang nyaris sama dan menambahkan, “sehingga mereka tidak memiliki kesan keliru bahwa engkau mengakhiri perjanjian setelah memulai Perang”. Jadi, kalimat penutup ayat ini—”Allah tidak menyukai orang yang berkhianat”—adalah peringatan yang ditujukan bagi orang-orang beriman maupun musuh-musuh mereka (Al-Manar X, hh. 58 dan seterusnya).


Surah Al-Anfal Ayat 59

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا ۚ إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ

wa lā yaḥsabannallażīna kafarụ sabaqụ, innahum lā yu’jizụn

59. Dan, jangan biarkan mereka—orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—mengira bahwa mereka akan lolos63 [dari Allah]: perhatikanlah, mereka tidak dapat menggagalkan [maksud-Nya].


63 Lit., “bahwa mereka telah mendahului”.


Surah Al-Anfal Ayat 60

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

wa a’iddụ lahum mastaṭa’tum ming quwwatiw wa mir ribāṭil-khaili tur-hibụna bihī ‘aduwwallāhi wa ‘aduwwakum wa ākharīna min dụnihim, lā ta’lamụnahum, allāhu ya’lamuhum, wa mā tunfiqụ min syai`in fī sabīlillāhi yuwaffa ilaikum wa antum lā tuẓlamụn

60. Karena itu, untuk menghadapi mereka, siapkanlah kekuatan dan tunggangan perang apa pun64 yang mampu kalian kerahkan sehingga, dengan demikian, kalian dapat menggentarkan musuh Allah, yang juga merupakan musuh kalian,65 dan orang-orang selain mereka yang mungkin tidak kalian ketahui, [tetapi] yang diketahui Allah; dan apa pun yang mungkin kalian nafkahkan66 di jalan Allah akan dibalas sepenuhnya untuk kalian, dan kalian tidak akan dizalimi.


64 Lit., “tambatan kuda” (ribath al-khail): sebuah ungkapan yang berarti “menyiagakan pasukan berkuda di seluruh titik yang terbuka terhadap serangan musuh (tsughur)”; karena itu, dalam arti kiasan, menunjukkan kesiapsiagaan militer yang dijalankan secara menyeluruh.

65 Lit., “musuh Allah dan musuh kalian” yang menyiratkan bahwa setiap “musuh Allah” (yakni, setiap orang yang dengan sengaja menentang dan berusaha merusak hukum-hukum moral yang ditetapkan oleh Allah) juga adalah musuh dari orang-orang yang beriman kepada-Nya.

66 Yakni, sumber daya, usaha, dan pengorbanan diri/nyawa.


Surah Al-Anfal Ayat 61

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa in janaḥụ lis-salmi fajnaḥ lahā wa tawakkal ‘alallāh, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

61. Akan tetapi, jika mereka condong pada perdamaian, hendaknya engkau pun condong pada perdamaian, dan bersandarlah penuh percaya pada Allah: sungguh, Dia saja Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui!


Surah Al-Anfal Ayat 62

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

wa iy yurīdū ay yakhda’ụka fa inna ḥasbakallāh, huwallażī ayyadaka binaṣrihī wa bil-mu`minīn

62. Dan, seandainya mereka berusaha menipumu [dengan memperlihatkan seolah-olah ingin berdamai]—perhatikanlah, cukuplah Allah bagimu!67

Dia-lah yang telah memperkuatmu dengan pertolongan-Nya, dan dengan memberimu para pengikut yang beriman68


67 Pengertian yang terkandung di dalamnya ialah bahwa “sekalipun mereka menawarkan damai dengan maksud untuk menipumu, [tawaran] damai ini harus diterima, karena seluruh penilaian [tentang niat mereka] harus didasarkan atas bukti nyata semata” (Al-Razi): dengan kata lain, kecurigaan semata tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak tawaran damai.

68 Lit., “dan dengan orang-orang beriman”: dengan demikian, menunjukkan cara-cara “yang dapat dilihat” (wasithah) yang digunakan oleh Allah dalam memberi pertolongan kepada Nabi.


Surah Al-Anfal Ayat 63

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

wa allafa baina qulụbihim, lau anfaqta mā fil-arḍi jamī’am mā allafta baina qulụbihim wa lākinnallāha allafa bainahum, innahụ ‘azīzun ḥakīm

63. yang hati mereka telah Dia satukan: [sebab,] jikapun engkau telah menafkahkan semua yang ada di muka bumi, niscaya engkau tidak dapat menyatukan hati mereka [dengan kemampuan dirimu sendiri]: tetapi Allah-lah yang telah menyatukan mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-Anfal Ayat 64

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

yā ayyuhan-nabiyyu ḥasbukallāhu wa manittaba’aka minal-mu`minīn

64. Wahai, Nabi, cukuplah Allah bagimu dan bagi orang-orang beriman yang mengikutimu!


Surah Al-Anfal Ayat 65

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

yā ayyuhan-nabiyyu ḥarriḍil-mu`minīna ‘alal-qitāl, iy yakum mingkum ‘isyrụna ṣābirụna yaglibụ mi`ataīn, wa iy yakum mingkum mi`atuy yaglibū alfam minallażīna kafarụ bi`annahum qaumul lā yafqahụn

65. Wahai, Nabi, gugahlah semangat orang-orang beriman untuk menaklukkan segala rasa takut akan kematian ketika mereka sedang berperang,69 [sehingga] jika ada dua puluh orang di antara kalian yang bersabar dalam menghadapi kesusahan, mereka mungkin dapat mengalahkan dua ratus orang; dan [bahwa] jika ada seratus orang di antara kalian, mereka mungkin dapat mengalahkan seribu orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, karena mereka adalah orang yang tidak dapat memahaminya.70


69 Untuk penjelasan mengenai ungkapan harridh al-muiminin, lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 102. Konsisten dengan penafsiran saya, kata ‘ala al-qital di sini dapat diterjemahkan dengan dua cara: “[dengan maksud] untuk berperang” atau “ketika berperang”. Berdasarkan penafsiran konvensional terhadap kata harridh sebagai “desaklah” (urge) atau “piculah” (rouse), frasa itu dapat diterjemahkan menjadi “desaklah orang-orang beriman untuk berperang”: tetapi, seperti telah saya tunjukkan di dalam catatan terdahulu yang disebut di atas, terjemahan itu tidak mencakup makna sesungguhnya dari perintah tersebut.

70 Sebagian mufasir berpendapat bahwa di dalam ayat ini terdapat ramalan Ilahi sehingga ayat itu berbunyi: “Jika ada dua puluh orang di antara kalian …, mereka akan mengalahkan dua raatus …”, dan seterusnya. Namun, karena sejarah memperlihatkan bahwa orang-orang beriman, bahkan pada masa Nabi, tidak selalu menang melawan musuh, pandangan di atas tidak dapat dipertahankan. Untuk memahami bagian ini dengan benar, kita harus membacanya dalam kaitannya dengan kalimat pembuka, “Gugahlah semangat orang-orang beriman untuk menaklukkan segala rasa takut akan kematian”, yang kemudian membawa kita pada makna yang terdapat dalam terjemahan saya: yaitu, suatu dorongan kepada orang-orang beriman untuk mengatasi rasa takut akan kematian dan untuk bersabar dalam menghadapi kesusahan sehingga mereka mampu mengatasi musuh yang jumlahnya berlipat-lipat (Al-Razi; lihat juga Al-Manar X, h. 87). Kata-kata penutup ayat ini—”karena mereka adalah orang-orang yang tidak dapat memahaminya [yakni kebenaran]”—dapat dipahami dengan dua cara: (a) memberi alasan tambahan bagi keunggulan orang-orang yang benar-benar beriman atas “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” (alladzina kafaru) sebab orang yang disebut belakangan itu, karena tidak memercayai kebenaran abadi dan kehidupan setelah mati, tidak dapat meraih antusiasme dan kesiapan untuk pengorbanan diri, yang membedakan mereka dari orang-orang yang benar-benar beriman; atau (b) sebagai penjelasan bohwa “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu” menolak kebenaran semata-mata karena ketulian dan kebutaan ruhani mereka menghalangi mereka untuk memahaminya. Menurut pendapat saya, penafsiran yang kedua ini sesuai, dan khususnya demikian dengan memperhatikan kenyataan bahwa Al-Quran sering menjelaskan sikap “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” dengan istilah-istilah semacam itu (misalnya, dalam Surah Al-An’am [6]: 25, Al-A’raf [7]: 179, At-Taubah [9]: 87, dan sebagainya).


Surah Al-Anfal Ayat 66

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

al-āna khaffafallāhu ‘angkum wa ‘alima anna fīkum ḍa’fā, fa iy yakum mingkum mi`atun ṣābiratuy yaglibụ mi`ataīn, wa iy yakum mingkum alfuy yaglibū alfaini bi`iżnillāh, wallāhu ma’aṣ-ṣābirīn

66. [Bagaimanapun,] untuk saat ini, Allah telah meringankan beban kalian karena Dia mengetahui bahwa kalian dalam keadaan lemah: maka, jika ada seratus orang di antara kalian yang bersabar dalam menghadapi kesusahan, mereka seharusnya [mampu] mengalahkan dua ratus; dan jika ada seribu orang di antara kalian, mereka seharusnya [mampu] mengalahkan dua ribu dengan izin Allah: sebab, Allah beserta orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesusahan.71


71 Hal ini berhubungan dengan saat ketika ayat ini diturunkan, yaitu tidak lama setelah Perang Badar (2 H), tatkala kaum Muslim benar-benar dalam keadaan lemah, baik dari segi jumlah pasukan maupun kemampuan peralatan perang, dan komunitas mereka belum mencapai tingkat organisasi politik yang signifikan. Dalam keadaan seperti itu, Al-Quran menyatakan, mereka tidak dapat—tidak pula komunitas Muslim pada masa kemudian dalam kondisi yang serupa—diharapkan untuk melahirkan upaya dan efisiensi yang dibutuhkan oleh komunitas beriman yang telah berkembang sepenuhnya; namun, kendati demikian, mereka seharusnya mampu menghadapi musuh yang berjumlah dua kali lipat dari jumlah mereka. (Perbandingan satu dengan dua atau—seperti dalam ayat sebelumnya, satu berbanding sepuluh—tentu saja tidak dapat dipahami secara harfiah karena, pada kenyataannya, dalam Perang Badar, kaum Muslim mengalahkan pasukan musuh yang memiliki persenjataan yang lebih balk dan berjumlah tiga kali lipat dari pasukan kaum Muslim sendiri.) Penyebutan bahwa Allah telah “meringankan beban” yang dihadapi oleh orang beriman dalam hal ini memperjelas bahwa ayat ini maupun ayat sebelumnya menunjukkan suatu perintah Ilahi yang diungkapkan dalam bentuk dorongan, dan bukan sebuah prediksi tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi (Al-Razi).


Surah Al-Anfal Ayat 67

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

mā kāna linabiyyin ay yakụna lahū asrā ḥattā yuṡkhina fil-arḍ, turīdụna ‘araḍad-dun-yā wallāhu yurīdul-ākhirah, wallāhu ‘azīzun ḥakīm

67. TIDAKLAH pantas seorang nabi menahan tawanan, kecuali setelah dia bertempur dengan gigih di muka bumi.72 Kalian mungkin menghendaki keuntungan sesaat di dunia ini—tetapi Allah menghendaki [bagi kalian kebaikan di] kehidupan akhirat: dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.


72 Yakni, sebagai hasil dari suatu perang dalam rangka menegakkan keadilan. Sebagaimana hampir selalu demikian di dalam Al-Quran, suatu perintah yang ditujukan kepada Nabi juga, secara tersirat, berlaku bagi para pengikutnya. Oleh karena itu, ayat di atas menetapkan bahwa tidak ada orang yang boleh ditangkap atau ditahan, untuk berapa lama pun, kecuali dia adalah tawanan dalam perang jihad—yaitu, suatu perang suci untuk mempertahankan keimanan atau untuk kemerdekaan (menyangkut soal ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 167)—dan, karena itu, memperoleh budak melalui cara “damai”, dan memelihara budak yang diperoleh itu, sama sekali dilarang: jadi, hal ini sama saja artinya dengan melarang perbudakan sebagai suatu “institusi sosial”. Namun, bahkan berkenaan dengan tawanan yang tertangkap dalam perang, Al-Quran menetapkan (dalam Surah Muhammad [47]: 4) bahwa mereka harus dibebaskan setelah perang berakhir.


Surah Al-Anfal Ayat 68

لَوْلَا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

lau lā kitābum minallāhi sabaqa lamassakum fīmā akhażtum ‘ażābun ‘aẓīm

68. Sekiranya bukan karena ketetapan Allah yang telah lalu, kalian pasti akan tertimpa hukuman sangat berat disebabkan semua [tawanan] yang kalian ambil.73


73 lni tampaknya mengacu pada tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslim di Badar, dan diskusi di antara para pengikut Nabi mengenai apa yang harus dilakukan terhadap mereka. ‘Umar ibn Al-Khaththab berpendapat bahwa mereka harus dibunuh sebagai balasan atas kesalahan mereka pada masa lalu, dan khususnya penganiayaan mereka terhadap kaum Muslim sebelum hijrah ke Madinah: di sisi lain, Abu Bakr meminta agar para tawanan diberikan pengampunan dan dibebaskan dengan tebusan. Beliau memberi alasan terhadap permintaannya itu bahwa tindakan belas kasih seperti itu mungkin dapat mendorong sebagian mereka untuk menyadari kebenaran Islam. Nabi menempuh langkah sebagaimana yang dianjurkan oleh Abu Bakr, dan membebaskan tawanan. (Hadis-hadis yang terkait dengan soal ini dikutip oleh kebanyakan mufasir, dan khususnya—dengan menyebutkan sumber-sumbernya secara lengkap—dikutip oleh Al-Thabari dan Ibn Katsir.) Penyebutan, dalam ayat di atas, tentang “hukuman sangat berat” yang mungkin menimpa kaum Muslim “kalau bukan karena ketetapan (kitab) Allah yang telah lalu”—yakni, arah tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya dalam pengetahuan Allah—memperjelas bahwa tindakan membunuh para tahanan adalah sebuah dosa yang amat besar.


Surah Al-Anfal Ayat 69

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

fa kulụ mimmā ganimtum ḥalālan ṭayyibaw wattaqullāh, innallāha gafụrur raḥīm

69. Maka, nikmatilah semua yang halal dan baik dari apa yang kalian peroleh dalam perang, dan tetaplah sadar akan Allah: sungguh, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Anfal Ayat 70

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِمَنْ فِي أَيْدِيكُمْ مِنَ الْأَسْرَىٰ إِنْ يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhan-nabiyyu qul liman fī aidīkum minal-asrā iy ya’lamillāhu fī qulụbikum khairay yu`tikum khairam mimmā ukhiża mingkum wa yagfir lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

70. [Karena itu,] wahai Nabi, katakanlah kepada tawanan yang berada di tanganmu: “Jika Allah mendapati kebaikan di dalam hati kalian, Dia akan memberi sesuatu yang lebih baik daripada semua yang telah diambil dari kalian, serta akan memberi ampunan atas dosa-dosa kalian: sebab, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.”74


74 Yakni, “Jika Allah menemukan di dalam hati kalian kecenderungan untuk menyadari kebenaran pesan-Nya, Dia akan menganugerahi kalian keimanan serta kebaikan di kehidupan mendatang: dan ini jauh Iebih penting daripada kekalahan kalian di dalam perang dan kehilangan begitu banyak kawan dan sahabat.” Meskipun kata-kata ini terutama berkaitan dengan kaum pagan Quraisy yang menjadi tawanan dalam Perang Badar, kata-kata tersebut menggariskan ketentuan sikap Islam terhadap semua musuh tak beriman yang mungkin jatuh ke tangan kaum beriman pada saat perang. Untuk pembahasan lebih jauh mengenai masalah tawanan perang, lihat Surah Muhammad [47]: 4.


Surah Al-Anfal Ayat 71

وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa iy yurīdụ khiyānataka fa qad khānullāha ming qablu fa amkana min-hum wallāhu ‘alīmun ḥakīm

71. Dan, seandainya mereka berupaya mengkhianatimu75—toh mereka telah mengkhianati Allah [sendiri] sebelumnya: tetapi, Dia memberikan [kepada orang-orang beriman] keunggulan atas mereka.76 Dan, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


75 Maksudnya, dengan berpura-pura mengubah hati dan menerima Islam agar dibebaskan dari kewajiban membayar tebusan.

76 Dengan kata lain, “dan jika Dia menghendaki, Dia dapat melakukannya lagi”. Dengan demikian, secara tersirat, kaum Muslim diperintahkan untuk menerima pernyataan lahiriah para tawanan dan tidak dipengaruhi oleh sekadar kecurigaan terhadap motif atau alasan mereka. Kemungkinan pengkhianatan yang dilakukan oleh para tawanan, dan bahkan jika di kemudian waktu terbukti sebagian dari mereka benar-henar berkhianat, hendaknya tidak menyebabkan kaum Muslim menyimpang dari arah yang telah ditetapkan Allah.


Surah Al-Anfal Ayat 72

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

innallażīna āmanụ wa hājarụ wa jāhadụ bi`amwālihim wa anfusihim fī sabīlillāhi wallażīna āwaw wa naṣarū ulā`ika ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, wallażīna āmanụ wa lam yuhājirụ mā lakum miw walāyatihim min syai`in ḥattā yuhājirụ, wa inistanṣarụkum fid-dīni fa ‘alaikumun-naṣru illā ‘alā qaumim bainakum wa bainahum mīṡāq, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr

72. PERHATIKANLAH, adapun orang-orang yang telah meraih iman, dan orang-orang yang telah hijrah meninggalkan ranah kejahatan77 serta berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, maupun orang-orang yang menyediakan tempat penampungan dan memberi pertolongan [kepada mereka]78—mereka inilah [sebenar-benarnya] kawan dekat dan pelindung bagi satu sama lain.

Adapun orang-orang yang telah beriman, tetapi mereka tidak ikut hijrah [ke negeri kalian]79—kalian sama sekali tidak bertanggung jawab untuk melindungi mereka hingga mereka telah hijrah [kepada kalian]. Akan tetapi, jika mereka meminta pertolongan kepada kalian untuk melawan penganiayaan yang berkaitan dengan agama,80 adalah kewajiban kalian untuk memberi [mereka] pertolongan itu—kecuali terhadap orang-orang yang antara mereka dan diri kalian terdapat perjanjian:81 sebab, Allah melihat semua yang kalian lakukan.


77 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 203. Secara historis, ungkapan ini berhubungan dengan kaum Muslim Makkah yang berhijrah bersama Nabi ke Madinah, tetapi rangkaian ayat ini memperjelas bahwa definisi-definisi dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh ayat ini merupakan suatu hukum umum yang berlaku sepanjang masa. Dengan demikian, perlu dicatat bahwa hijrah yang dirujuk di sini lebih banyak memiliki konotasi fisik, yang menyiratkan suatu emigrasi atau perpindahan dari sebuah negeri non-Muslim ke sebuah negeri yang diatur oleh Hukum Islam.

78 Pertama-tama, hal ini mengacu pada kaum anshar di Madinah—yaitu, orang-orang yang baru menjadi Muslim di kota itu, yang memberi tempat penampungan dan bantuan sepenuh hati kepada muhajirin (“kelompok emigran”) dari Makkah sebelum dan sesudah Nabi sendiri hijrah ke Madinah: namun, serupa dengan makna ruhani yang melekat pada kata hijrah dan muhajir, ungkapan anshar melampaui konotasi historis murninya semata dan berlaku bagi seluruh orang beriman yang menolong dan memberi bantuan kepada “orang-orang yang lari dari kejahatan kepada Allah”.

79 Yakni, segolongan umat Muslim yang, karena satu dan lain hal, berada di luar Batas wilayah politik negara Islam. Karena tidak semua negeri non-Muslim secara serta-merta merupakan “wilayah kejahatan”, saya menerjemahkan ungkapan wa lam yuhajiru menjadi “tidak ikut hijrah [ke negeri kalian]”.

80 Lit., “untuk menolong mereka dalam agama”: yang mengandung pengertian bahwa mereka menghadapi penganiayaan karena keyakinan agama mereka.

81 Yakni, perjanjian persekutuan atau perjanjian untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing pihak. Karena, dalam kasus-kasus semacam ini, campur tangan bersenjata terhadap sebuah negara non-Muslim yang dilakukan oleh sebuah negara Islam untuk membela kepentingan warga merupakan pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam perjanjian, negara Islam tidak boleh berupaya menyelesaikan soal penganiayaan yang dialami oleh warga Muslim di negara non-Muslim itu dengan menggunakan kekuatan. Penyelesaian atas masalah ini mungkin dapat dicapai melalui negosiasi antara dua negara atau dengan hijrahnya orang-orang Muslim yang teraniaya dari negara tersebut.


Surah Al-Anfal Ayat 73

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

wallażīna kafarụ ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, illā taf’alụhu takun fitnatun fil-arḍi wa fasādung kabīr

73. Karena itu, [ingatlah bahwa] orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran adalah sekutu bagi satu sama lain;82 dan jika kalian tidak berbuat hal yang serupa [di antara kalian sendiri], niscaya penindasan serta kerusakan yang besar akan berkuasa di muka bumi.


82 Fakta bahwa mereka berkukuh mengingkari kebenaran pesan Ilahi seolah-olah menjadi benang merah di antara mereka, dan menghalangi kemungkinan mereka menjadi kawan sejati bagi kaum beriman. Tentu saja, hal ini mengacu pada hubungan antarumat, dan tidak serta-merta mengacu pada hubungan antarindividu: karena itu, saya menerjemahkan istilah auliya’ dalam konteks ini menjadi “sekutu” {allies}.


Surah Al-Anfal Ayat 74

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

wallażīna āmanụ wa hājarụ wa jāhadụ fī sabīlillāhi wallażīna āwaw wa naṣarū ulā`ika humul-mu`minụna ḥaqqā, lahum magfiratuw wa rizqung karīm

74. Dan, mereka yang telah meraih iman, dan yang telah hijrah meninggalkan ranah kejahatan dan berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah, serta mereka yang telah menyediakan tempat penampungan dan menolong [mereka]—mereka, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman! Ampunan atas dosa menanti mereka, serta rezeki yang paling mulia.83


83 Lihat catatan no. 5 pada ayat 4 surah ini.


Surah Al-Anfal Ayat 75

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَٰئِكَ مِنْكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

wallażīna āmanụ mim ba’du wa hājarụ wa jāhadụ ma’akum fa ulā`ika mingkum, wa ulul-ar-ḥāmi ba’ḍuhum aulā biba’ḍin fī kitābillāh, innallāha bikulli syai`in ‘alīm

75. Adapun orang-orang yang beriman sesudah itu,84 dan yang hijrah meninggalkan ranah kejahatan serta berjuang sungguh-sungguh [di jalan Allah] bersama kalian—mereka [juga] akan menjadi bagian kalian;85 dan mereka, yang [dengan demikian] memiliki hubungan karib, paling berhak satu sama lain [sesuai] dengan ketetapan Allah.86

Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


84 Meskipun ungkapan alladzina amanu (lit., “mereka yang telah meraih iman”) adalah dalam bentuk waktu lampau (al-madhi, past tense), kata min ba’d (“sesudah itu” atau “kemudian”) menunjukkan masa depan dalam kaitannya dengan masa diwahyukannya ayat ini: karena itu, keseluruhan kalimat yang diawali dengan ungkapan alladzina amanu itu harus dipahami sebagai mengacu ke masa depan (Al-Manar X, hh. 134 dan seterusnya; lihat pula penafsiran terhadap ayat ini).

85 Yakni, mereka juga akan menjadi bagian dari persaudaraan Islam, yang di dalamnya keyakinan yang dianut bersama akan mernbentuk ikatan yang kuat antara seorang beriman dan orang beriman lainnya.

86 Para mufasir klasik berpendapat bahwa anak kalimat terakhir ini mengacu pada hubungan kekeluargaan yang sebenarnya, yang berbeda dengan persaudaraan ruhani yang berdasarkan sebuah komunitas beriman. Menurut para mufasir tersebut, kalimat di atas menghapus adat-istiadat yang berlaku di kalangan Muslim awal, yang mana kelompok anshar (“penolong”—yakni, para pemeluk baru Islam di Madinah) secara perseorangan menjalin ikatan persaudaraan yang hersifat simbolis dengan kelompok muhajirin (kelompok “emigran” dari Makkah), yang hampir tanpa kecuali tiba di Madinah dalam keadaan benar-benar nestapa: ikatan persaudaraan yang memberi hak kepada setiap muhajir untuk memperoleh bagian dari harta milik “saudaranya” dari kalangan anshar. Dalam hal “saudara” dari kalangan anshar itu meninggal, pihak muhajir pun akan memperoleh bagian dari harta waris yang ditinggalkan olehnya. Dikatakan bahwa ayat di atas melarang pengaturan semacam itu dengan menetapkan bahwa hanya hubungan kekeluargaan yang sesungguhnya sajalah yang dapat menimbulkan klaim atas harta waris. Namun, menurut pendapat saya, penafsiran seperti itu tidak meyakinkan. Meskipun ungkapan ulu al-arham berasal dari nomina rahm (yang juga dilafalkan sebagai rihm atau rahim), yang secara harfiah berarti “rahim” atau “kandungan”, tidak boleh dilupakan bahwa kata itu secara figuratif digunakan dalam pengertian “kekeluargaan”, “hubungan” atau “hubungan karib” secara umum (yakni, bukan sekadar pertalian darah). Dengan demikian, “dalam bahasa kiasik, ulu al-arham berarti setiap hubungan apa pun: dan dalam hukum berarti setiap hubungan yang tidak memiliki bagian [atas warisan yang disebut dengan istilah fara’idh]” (Lane III, h. 1056, yang antara lain mengutip Taj Al-‘Arus). Dalam kasus ini, penyebutan tentang “hubungan karib” muncul di akhir sebuah ayat yang menekankan ketentuan bahwa orang beriman harus menjadi “kawan dekat dan pelindung (auliya’) satu sama lain”, dan bahwa semua orang beriman yang datang kemudian juga akan dianggap sebagai anggota persaudaraan Islam. Apabila penyebutan “hubungan karib” itu dipahami dalam pengertian harfiah dan dipahami bahwa istilah itu mengacu secara tidak langsung pada hukum waris, pengertian itu akan menjadi tidak sejalan dengan keseluruhan ayat tersebut, yang menekankan ikatan keimanan di kalangan orang beriman sejati, serta kewajiban-kewajiban moral yang lahir dari ikatan tersebut.

Karena itu, menurut pendapat saya, ayat di atas bukan membahas soal hukum waris, melainkan meringkaskan pelajaran dari ayat-ayat sebelumnya: Seluruh orang Mukmin sejati, dari seluruh zaman, membentuk satu komunitas tunggal dalam pengertian terdalam dari kata tersebut; dan, dengan demikian, semua orang yang memiliki hubungan erat secara ruhani adalah orang-orang yang paling berhak satu sama lain, sejalan dengan ketetapan Allah bahwa “seluruh orang beriman adalah bersaudara” (Surah Al-Hujurat [49]: 10).


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top