21. Al-Anbiya’ (Para Nabi) – الأنبياء

Surat Al-Anbiya’ dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Anbiya’ ( الأنبياء ) merupakan surah ke 21 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 112 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Anbiya’ tergolong Surat Makkiyah.

Tema utama surah ini—yang menurut Kitab Itqan termasuk ke dalam kelompok terakhir ayat-ayat Makkiyyah—adalah penekanan pada keesaan, keunikan, dan transendensi Allah, serta pada fakta bahwa kebenaran ini selalu menjadi inti dari seluruh wahyu kenabian, “esensi dari semua hal yang harus kalian ingat” (ayat 10); kebenaran yang terlalu sering dilupakan manusia: sebab, “yang tuli [hatinya] tidak akan mendengarkan seruan ini, betapapun seringnya mereka diberi peringatan” (ayat 45), dan “mereka hanya mendengarkannya dengan main-main, hati mereka cenderung pada kesenangan sesaat” (ayat 2-3).

Para nabi terdahulu, yang semuanya menyerukan kebenaran fundamental yang sama, berulang-ulang disebutkan sehingga digunakan sebagai judul surah ini. Kisah-kisah para nabi tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kesinambungan dan kesatuan intrinsik semua wahyu Ilahi dan pengalaman keagamaan manusia: karena itu, ketika menyeru semua orang yang beriman pada-Nya, Allah berfirman, “Sungguh, umat kalian ini adalah umat yang satu karena Aku adalah Pemelihara kalian semua” (ayat 92), dengan demikian, Dia menegaskan persaudaraan semua orang yang benar-benar beriman, apa pun label lahiriah mereka, sebagai konsekuensi logis dari keimanan mereka pada-Nya—keyakinan bahwa “Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa” (ayat 108).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Anbiya’ Ayat 1

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

iqtaraba lin-nāsi ḥisābuhum wa hum fī gaflatim mu’riḍụn

1. KIAN DEKAT kepada manusia perhitungan mereka: sungguhpun begitu, mereka dengan bebal tetap lalai [terhadap mendekatnya perhitungan itu].1


1 Lit., “sungguhpun begitu, dalam kelalaian [mereka], mereka berkeras kepala (mu’ridhun).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 2

مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ

mā ya`tīhim min żikrim mir rabbihim muḥdaṡin illastama’ụhu wa hum yal’abụn

2. Setiap kali datang kepada mereka peringatan yang baru dari Pemelihara mereka, mereka hanya mendengarkannya dengan main-main,2


2 Lit., “ketika mereka sedang bermain”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 3

لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ

lāhiyatang qulụbuhum, wa asarrun-najwallażīna ẓalamụ hal hāżā illā basyarum miṡlukum, a fa ta`tụnas-siḥra wa antum tubṣirụn

3. hati mereka cenderung pada kesenangan sesaat; sementara orang-orang yang berkukuh berbuat zalim menyembunyikan pikiran terdalam mereka3 [ketika mereka saling berkata], “Bukankah [Muhammad] ini hanyalah seorang manusia biasa. seperti kalian? Lalu, apakah kalian menerima kepiawaian berbicara-[nya] yang memikat seraya mata kalian terbuka?”4


3 Lihat catatan berikutnya.

4 Mengenai istilah sihr (lit., “ilmu sihir” atau “magi”) yang adakalanya saya terjemahkan menjadi “kepiawaian berbicara yang memikat”, lihat Surah Al-Muddassir [74]: 24, tempat istilah ini muncul untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan Al-Quran.

Dengan menolak pesan Al-Quran berdasarkan dalih—yang tampaknya bagus—bahwa Nabi Muhammad Saw. hanyalah seorang manusia yang dikaruniai bakat “kepiawaian berbicara yang memikat”, para penentang doktrin Al-Quran sebenarnya “menyembunyikan pikiran-pikiran terdalam mereka”: sebab, penolakan mereka itu tidak banyak berkaitan dengan kritik terhadap doktrin ini, alih-alih karena keengganan instingtif yang mendalam pada diri mereka untuk tunduk pada aturan moral dan ruhani—ketundukan yang merupakan konsekuensi dari penerimaan mereka terhadap seruan Nabi.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 4

قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

qāla rabbī ya’lamul-qaula fis-samā`i wal-arḍi wa huwas-samī’ul-‘alīm

4. Katakanlah:5 “Pemeliharaku mengetahui apa saja yang dibicarakan di langit dan di bumi; dan Dia sajalah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”


5 Menurut ulama-ulama awal dari Madinah dan Basrah, juga beberapa ulama Kufah, kata ini dibaca qul, yakni sebagai kata perintah (“Katakanlah”), sedangkan beberapa ulama Makkah dan kebanyakan ulama Kufah membacanya qala (“Dia [yaitu Nabi] telah berkata”). Tampaknya, dalam mushaf Al-Quran yang paling awal, kata tersebut dalam ayat ini hanya dieja dengan konsonan q-l: karenanya, kata itu mungkin dibaca qul atau qala. Namun, seperti dikemukakan Al-Thabari, kedua pembacaan tersebut mempunyai makna yang sama dan, karenanya, sama-sama absah, “karena, ketika Allah memerintahkan Nabi Muhammad Saw. agar mengatakan hal ini, dia [tidak diragukan lagi] mengucapkannya …. Karena itu, bagaimanapun kata ini dibaca, sang pembaca benar (mushib al-shawab) dalam bacaannya.” Di antara para mufasir klasik, Al-Baghawi dan Al-Baidhawi secara eksplisit menggunakan bacaan qul, sementara komentar pendek Al-Zamakhsyari bahwa “kata tersebut juga dibaca qala” tampaknya menunjukkan pilihannya terhadap qala dibandingkan qul.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 5

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ

bal qālū aḍgāṡu aḥlām, baliftarāhu bal huwa syā’ir, falya`tinā bi`āyating kamā ursilal-awwalụn

5. “Tidak,”* kata mereka, “[Muhammad mengemukakan] mimpi-mimpi yang paling rumit dan membingungkan!”6—“Tidak, tetapi dia mengada-adakan [semua] ini!”—“Tidak, dia [hanyalah] seorang penyair!”—[dan,] “Maka, biarlah dia datang kepada kita dengan suatu mukjizat, sebagaimana [nabi-nabi] yang terdahulu diutus [dengan membawa mukjizat-mukjizat]!”


* {“Tidak” adalah terjemahan Asad untuk kata sambung bal yang lazimnya diterjemahkan menjadi “bahkan”. Jika terdapat dua, bahkan tiga kata sambung ini dalam satu frasa atau kalimat, ia menegaskan langgam bahasa hiperbolik. Karena itu, dalam terjemahan Depag RI, ia diterjemahkan menjadi, “Bahkan” mereka berkata …, “bahkan” mereka …, “malahan” ….—AM}

6 Lit., “rangkaian mimpi-mimpi (adhghats) yang membingungkan”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 6

مَا آمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا ۖ أَفَهُمْ يُؤْمِنُونَ

mā āmanat qablahum ming qaryatin ahlaknāhā, a fa hum yu`minụn

6. Tidak satu pun masyarakat yang telah Kami hancurkan pada masa silam7 pernah beriman [pada nabi-nabi mereka]: maka, akankah mereka ini [lebih bersedia untuk] beriman?8


7 Lit., “sebelum mereka”.

8 Runtuhnya umat-umat terdahulu itu—yang sering dirujuk dalam Al-Quran—hampir selalu disebabkan oleh fakta bahwa mereka telah berketetapan hati untuk mengabaikan semua kebenaran ruhani yang menentang konsep materialistis mereka sendiri tentang kehidupan: lalu, (demikianlah bunyi argumen Al-Quran) apakah masuk akal untuk berharap bahwa penentang-penentang Nabi Muhammad Saw. itu, yang mempunyai motivasi yang serupa, akan lebih bersedia mempertimbangkan pesannya itu berdasarkan nilai yang terkandung di dalamnya?


Surah Al-Anbiya’ Ayat 7

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

wa mā arsalnā qablaka illā rijālan nụḥī ilaihim fas`alū ahlaż-żikri ing kuntum lā ta’lamụn

7. Karena [bahkan] sebelum masamu, [wahai Muhammad,] tidak pernah Kami mengutus [sebagai rasul-rasul Kami] seorang pun kecuali manusia [biasa] yang Kami beri ilham—karena itu, [katakanlah kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran,] “Jika kalian tidak mengetahui hal ini, tanyakanlah kepada para penganut wahyu terdahulu”9*


9 Lit., “para pengikut peringatan”—yakni, Bibel, yang dalam bentuk aslinya yang belum mengalami penyelewengan adalah salah satu dari “peringatan” Allah kepada manusia.

* {“Para penganut wahyu terdahulu” adalah tafsir Asad untuk ahl al-dzikr. Biasanya, Asad menggunakan terjemahan ini untuk ahl al-kitab (Indonesia, “ahli kitab”). Jadi , Asad memahami ahl al-dzikr (harfiah: “ahli zikir”) dengan ahli kitab. Dalam terjemah Depag RI, ahl al-dzikr diterjemahkan menjadi “orang-orang yang berilmu”.—AM}


Surah Al-Anbiya’ Ayat 8

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

wa mā ja’alnāhum jasadal lā ya`kulụnaṭ-ṭa’āma wa mā kānụ khālidīn

8. dan tidak pula Kami menganugerahi mereka, tubuh yang tidak memerlukan makanan,10 mereka bukan pula orang-orang yang kekal.


10 Lit., “tidak pula Kami jadikan mereka [yakni: para nabi] sebagai tubuh-tubuh yang tidak memakan makanan”, yakni menyiratkan suatu bantahan bahwa para nabi, yang mengemban amanat untuk menyampaikan pesan-pesan Allah itu, memiliki sifat adikodrati apa pun (bak. Surah Al-Ma’idah [5] 75), Surah Ar-Ra’d [13]: 38, dan Surah Al-Furqan [25]: 20, dan juga catatan-catatannya yang terkait). Pernyataan di atas merupakan jawaban atas keberatan orang-orang kafir terhadap kenabian Muhammad Saw. yang diungkapkan pada ayat 3 surah ini.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 9

ثُمَّ صَدَقْنَاهُمُ الْوَعْدَ فَأَنْجَيْنَاهُمْ وَمَنْ نَشَاءُ وَأَهْلَكْنَا الْمُسْرِفِينَ

ṡumma ṣadaqnāhumul-wa’da fa anjaināhum wa man nasyā`u wa ahlaknal-musrifīn

9. Pada akhirnya, Kami tepati janji Kami kepada mereka, dan Kami selamatkan mereka dan semua orang yang Kami kehendaki [untuk diselamatkan],11 dan Kami hancurkan orang-orang yang telah menyia-nyiakan diri mereka sendiri.12


11 Yakni, pengikut-pengikut mereka yang beriman.

12 Mengenai kata al-musrifun, yang saya terjemahkan menjadi “orang-orang yang menyia-nyiakan diri mereka sendiri”, lihat catatan no. 21 pada kalimat terakhir Surah Yunus [10]: 12.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 10

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

laqad anzalnā ilaikum kitāban fīhi żikrukum, a fa lā ta’qilụn

10. [WAHAI, MANUSIA!] Kini telah Kami turunkan kepada kalian sebuah kitab Ilahi yang mengandung segala hal yang hendaknya kalian ingat:13 lalu, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?


13 Istilah dzikr, yang pada dasarnya berarti “peringatan”, atau “pengingat”, atau, seperti didefinisikan oleh Raghib, “kehadiran [sesuatu] dalam pikiran”, juga mempunyai makna “sesuatu yang dengannya seseorang diingat”, yakni dengan pujian—dengan kata lain, “kemasyhuran” atau “popularitas”—dan secara metaforis, “kehormatan”, “kebesaran”, atau “martabat”. Karena itu, frasa di atas—terlepas dari konsep “pengingat”—mengandung suatu acuan tidak langsung terhadap martabat dan kebahagiaan yang dapat diraih oleh manusia dengan mengikuti ajaran-ajaran ruhani dan sosial yang ditetapkan dalam AI-Quran. Dengan menerjemahkan ungkapan dzikrukum menjadi “semua hal yang harus kalian ingat”, saya telah mencoba mengungkapkan semua makna ini.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 11

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آخَرِينَ

wa kam qaṣamnā ming qaryating kānat ẓālimataw wa ansya`nā ba’dahā qauman ākharīn

11. Karena, betapa banyaknya masyarakat yang berkukuh melakukan kezaliman telah Kami hancurkan berkeping-keping, dan membangkitkan orang-orang lain sebagai gantinya!14


14 Lit., “sesudahnya”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 12

فَلَمَّا أَحَسُّوا بَأْسَنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَرْكُضُونَ

fa lammā aḥassụ ba`sanā iżā hum min-hā yarkuḍụn

12. Dan [setiap kali,] begitu mereka mulai merasakan dahsyatnya hukuman Kami, lihatlah! mereka berusaha lari darinya—


Surah Al-Anbiya’ Ayat 13

لَا تَرْكُضُوا وَارْجِعُوا إِلَىٰ مَا أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَاكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْأَلُونَ

lā tarkuḍụ warji’ū ilā mā utriftum fīhi wa masākinikum la’allakum tus`alụn

13. [dan pada waktu yang bersamaan, tampaknya mereka mendengar suara yang menghina]: “Jangan coba lari, tetapi kembalilah ke segala yang [pernah] memberikan kenikmatan kepada kalian dan merusak keseluruhan wujud kalian,15 dan [kembalilah] ke tempat tinggal kalian agar kalian dapat dimintai pertanggungjawaban [atas apa yang telah kalian lakukan]!”16


15 Untuk penjelasan tentang frasa ma utriftum fihi, lihat Surah Hud [11], catatan no. 147.

16 AI-Quran tidak menyebutkan kata-kata siapakah ini, tetapi menurut saya, nada ayat ini menunjukkan bahwa kata-kata tersebut merupakan suara hinaan dan penuh dengan rasa sesal-diri yang timbul dari kata-hati orang-orang yang berdosa itu sendiri: itulah alasan sisipan saya, di antara dua kurung siku, di awal ayat ini.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 14

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

qālụ yā wailanā innā kunnā ẓālimīn

14. Dan, mereka hanya dapat berteriak:17 “Oh, celakalah kami! Sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim!”


17 Lit., “Mereka berkata”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 15

فَمَا زَالَتْ تِلْكَ دَعْوَاهُمْ حَتَّىٰ جَعَلْنَاهُمْ حَصِيدًا خَامِدِينَ

fa mā zālat tilka da’wāhum ḥattā ja’alnāhum ḥaṣīdan khāmidīn

15. Dan, teriakan mereka itu tidak berhenti hingga Kami membuat mereka menjadi [seperti] ladang yang telah habis dituai, sunyi dan bisu bagai abu.*


* {“… sunyi dan bisu bagai abu” adalah terjemahan majemuk Asad untuk khamidin yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “yang tidak dapat hidup lagi”. Khamid (bentuk tunggal dari khamidin) berakar kata khamada yang berarti “padam” (api).—AM}


Surah Al-Anbiya’ Ayat 16

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

wa mā khalaqnas-samā`a wal-arḍa wa mā bainahumā lā’ibīn

16. DAN, [ketahuilah bahwa] Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dalam permainan yang sia-sia belaka:18


18 Lit., “dengan bermain” atau “secara main-main”, yaitu tanpa arti dan tujuan: lihat catatan no. 11, Surah Yunus [10]: 5.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 17

لَوْ أَرَدْنَا أَنْ نَتَّخِذَ لَهْوًا لَاتَّخَذْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا إِنْ كُنَّا فَاعِلِينَ

lau aradnā an nattakhiża lahwal lattakhażnāhu mil ladunnā ing kunnā fā’ilīn

17. [sebab,] andaikan Kami hendak menikmati hiburan, sungguh Kami pasti telah menciptakannya dari dalam diri Kami Sendiri—andaikan yang demikian itu memang merupakan kehendak Kami!19


19 Lit., “seandainya Kami [memang] menghendaki melakukan demikian”: yang berarti bahwa, andaikan Allah ingin “menikmati hiburan” (padahal, karena Dia Mahaperkasa dan Mahacukup, Dia tidak perlu melakukan yang demikian), Dia dapat memperolehnya dalam Diri-Nya Sendiri, tanpa harus menciptakan alam semesta yang akan mengejawantahkan keinginan-Nya untuk “menyenangkan diri-Nya”—suatu keinginan yang bersifat hipotesis dan tidak dapat dimengerti secara logis—dan, dengan demikian, alam semesta itu akan merupakan suatu “proyeksi”, demikianlah kira-kira, dari Wujud-Nya Sendiri. Dalam sudut pandang gaya eliptis Al-Quran, rangkaian ayat di atas merupakan suatu pernyataan tentang transendensi Tuhan.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 18

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ۚ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

bal naqżifu bil-ḥaqqi ‘alal-bāṭili fa yadmaguhụ fa iżā huwa zāhiq, wa lakumul-wailu mimmā taṣifụn

18. Tidak, sebaliknya [melalui tindakan penciptaan itulah] Kami kirimkan kebenaran melawan kebatilan20 dan kebenaran itu menghancurkan kebatilan: dan lihatlah! kebatilan itu memudar-lenyap.21

Namun, celakalah kalian akibat semua tindakan kalian [yang berupaya] mendefinisikan [Allah]22


20 Yakni, kebenaran gagasan tentang transendensi Tuhan berlawanan dengan gagasan batil tentang imanensi wujud-Nya di dalam, atau bersamaan dengan, alam semesta ciptaan-Nya.

21 Fakta yang nyata bahwa segala sesuatu di alam semesta yang diciptakan ini bersifat terbatas dan fana secara telak menolak pernyataan bahwa alam semesta mungkin merupakan suatu “proyeksi” dari Sang Pencipta, yang tidak terbatas dan kekal.

22 Lit., “akibat segala yang kalian nisbahkan [kepada Allah] melalui deskripsi” atau “definisi” (bdk. kalimat terakhir pada Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatan no. 38 yang terkait)—yang menunjukkan bahwa gagasan tentang “imanensi” Tuhan dalam makhluk-Nya sama dengan upaya mendefinisikan wujud-Nya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 19

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ

wa lahụ man fis-samāwāti wal-arḍ, wa man ‘indahụ lā yastakbirụna ‘an ‘ibādatihī wa lā yastaḥsirụn

19. sebab, milik-Nya-lah semua [makhluk] yang ada di lelangit dan di bumi; dan mereka yang ada di sisi-Nya23 tidak pernah merasa terlalu angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pernah pula merasa bosan [menyembah]:


23 Menurut para mufasir klasik, ini merujuk pada para malaikat; akan tetapi, ungkapan “mereka yang ada di sisi-Nya” mungkin juga dipahami dalam pengertian yang lebih luas, yang meliputi bukan saja para malaikat, melainkan juga semua manusia yang benar-benar sadar akan kehadiran Allah dan mengabdi sepenuhnya kepada-Nya. Mana pun yang benar, dalam kedua kasus tersebut, “keberadaan mereka di sisi-Nya” merupakan suatu isyarat metaforis bagi keutamaan ruhani dan martabat mereka dalam pandangan Allah, dan tidak mengandung arti “kedekatan” ruang sama sekali (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi): jelaslah memang demikian adanya karena Allah tidak terbatas, baik dalam ruang maupun waktu. (Lihat juga Surah Ghafir [40]: 7 dan catatan no. 4 yang terkait.)


Surah Al-Anbiya’ Ayat 20

يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

yusabbiḥụnal-laila wan-nahāra lā yafturụn

20. mereka bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga, malam dan siang, tanpa pernah letih [dalam memuji].


Surah Al-Anbiya’ Ayat 21

أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ

amittakhażū ālihatam minal-arḍi hum yunsyirụn

21. Sungguhpun begitu,24 sebagian orang memilih untuk menyembah benda atau wujud duniawi tertentu sebagai tuhan-tuhan25 yang [diduga dapat] membangkitkan [orang mati; dan mereka gagal menyadari bahwa],


24 Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Zamakhsyari, partikel am yang mengawali kalimat ini tidak mempunyai—sebagaimana yang sering terjadi—suatu konotasi pertanyaan (“apakah …”), tetapi digunakan di sini dalam konotasi bal, yang dalam kasus ini dapat diterjemahkan menjadi “sungguhpun begitu”.

25 Lit., “mereka telah mengambil untuk diri mereka sendiri tuhan-tuhan dari bumi”, yakni dari antara benda-benda atau makhluk-makhluk yang ada di bumi: suatu ungkapan yang menyinggung segala bentuk objek penyembahan yang keliru—yakni, berhala dengan segala bentuknya, kekuatan alam, manusia yang dipertuhankan, dan terakhir, konsep-konsep abstrak, seperti kekayaan, kekuasaan, dan sebagainya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 22

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

lau kāna fīhimā ālihatun illallāhu lafasadatā, fa sub-ḥānallāhi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifụn

22. andaikan di langit atau di bumi26 terdapat tuhan-tuhan selain Allah, kedua [alam] itu pasti akan hancur berkeping-keping!

Namun, Maha Tak Terhingga Kemuliaan Allah, yang bersinggasana dalam kemahakuasaan-Nya yang agung,27 [jauh] melampaui segala sesuatu yang dapat manusia pikirkan melalui definisi!28


26 Lit., “dalam kedua [alam] itu”, menyinggung klausa pertama ayat 19 sebelumnya.

27 Lit., “Pemelihara (rabb) singgasana kemahakuasaan yang agung”. (Untuk terjemahan al-‘arsy ini, lihat catatan no. 43 dalam Surah Al-A’raf [7]: 54.)

28 Bdk. kalimat terakhit ayat 18 dan catatan no. 22 yang terkait, dan juga catatan no. 88 dalam Surah Al-An’am [6]: 100.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 23

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

lā yus`alu ‘ammā yaf’alu wa hum yus`alụn

23. Dia tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas apa pun yang Dia perbuat, sedangkan mereka akan dimintai pertanggungjawaban:


Surah Al-Anbiya’ Ayat 24

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ ۖ هَٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُمْ مُعْرِضُونَ

amittakhażụ min dụnihī ālihah, qul hātụ bur-hānakum, hāżā żikru mam ma’iya wa żikru mang qablī, bal akṡaruhum lā ya’lamụnal-ḥaqqa fa hum mu’riḍụn

24. dan sungguhpun begitu,29 mereka memilih menyembah tuhan-tuhan (khayalan) selain Dia!

Katakanlah [wahai Nabi]: “Tunjukkanlah bukti atas apa yang kalian nyatakan:30 inilah suatu peringatan [yang tak henti-hentinya disuarakan] oleh orang-orang yang bersamaku, sebagaimana ia telah menjadi peringatan [yang disuarakan] oleh orang-orang yang datang sebelumku.”31

Namun tidak, kebanyakan mereka tidak mengetahui kebenaran sehingga mereka dengan bebal berpaling [darinya]32


29 Lihat catatan no. 24.

30 Lit., “Tunjukkanlah bukti-bukti kalian”, yaitu untuk membuktikan adanya tuhan-tuhan selain Allah, serta untuk melakukan justifikasi moral dan intelektual terhadap penyembahan sesuatu selain Dia.

31 Yakni, nabi-nabi terdahulu yang tujuan pesan-pesannya selalu menekankan pada keesaan Tuhan.

32 Dengan kata lain, tindakan kebanyakan orang yang dengan bebal menolak untuk mempertimbangkan suatu proposisi yang rasional berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sering kali hanya disebabkan oleh kenyataan yang sederhana bahwa proposisi tersebut tidak banyak mereka ketahui.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 25

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

wa mā arsalnā ming qablika mir rasụlin illā nụḥī ilaihi annahụ lā ilāha illā ana fa’budụn

25. dan [hal ini terlepas dari fakta bahwa bahkan] sebelum masamu [pun] Kami tidak pernah mengutus seorang rasul tanpa mewahyukan kepadanya bahwa tiada tuhan kecuali Aku, [dan bahwa] karena itu, kalian harus menyembah-Ku [saja]!


Surah Al-Anbiya’ Ayat 26

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ

wa qāluttakhażar-raḥmānu waladan sub-ḥānah, bal ‘ibādum mukramụn

26. [Namun,] sebagian orang berkata, “Yang Maha Pengasih telah mengambil bagi diri-Nya seorang anak!”

Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya!33 Tidak, [orang-orang yang mereka angap sebagai “keturunan” Allah34 hanyalah] hamba-hamba-[Nya] yang dimuliakan:


33 Yakni, sangat jauh dari ketidaksempurnaan yang tersirat dalam konsep “keturunan”: lihat catatan no. 77 dalam Surah Maryam [19]: 92.

34 Ini menyinggung para nabi seperti Isa a.s., yang oleh orang-orang Kristen dianggap sebagai “putra Tuhan”, juga para malaikat, yang oleh bangsa Arab pra-Islam dianggap sebagai “anak perempuan Tuhan” (karena malaikat dipandang sebagai wanita).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 27

لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

lā yasbiqụnahụ bil-qauli wa hum bi`amrihī ya’malụn

27. mereka tidak akan berkata sebelum Dia berkata kepada mereka,35 dan [kapan saja mereka bertindak,] mereka bertindak atas perintah-Nya.


35 Lit., “mereka tidak mendahului-Nya dalam berbicara”—yang berarti bahwa mereka hanya menyatakan apa yang telah Dia wahyukan kepada mereka dan apa yang Dia perintahkan kepada mereka agar disampaikan.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 28

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yasyfa’ụna illā limanirtaḍā wa hum min khasy-yatihī musyfiqụn

28. Dia mengetahui segala yang terbentang di hadapan mereka dan segala yang tersembunyi dari mereka:36 karena itu, mereka tidak dapat memberi syafaat kepada siapa pun, kecuali orang-orang yang [telah] Dia berkahi dengan ridha-Nya yang melimpah,37 karena mereka sendiri merasa gentar-terpukau penuh takzim pada-Nya.


36 Lihat catatan no. 247 pada Surah Al-baqarah [2]: 255.

37 Bdk. Surah Maryam [19]: 87 dan Surah TaHa [20]: 109. Mengenai masalah “syafaat” itu sendiri, lihat catatan no. 7 pada Surah Yunus [10]: 3.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 29

وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

wa may yaqul min-hum innī ilāhum min dụnihī fa żālika najzīhi jahannam, każālika najziẓ-ẓālimīn

29. Dan, seandainya salah seorang di antara mereka berkata, “Perhatikanlah, aku adalah tuhan di samping Dia”—yang berkata demikian itu akan Kami balas dengan neraka: demikianlah Kami memberi balasan kepada semua orang zalim [semacam itu].


Surah Al-Anbiya’ Ayat 30

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

a wa lam yarallażīna kafarū annas-samāwāti wal-arḍa kānatā ratqan fa fataqnāhumā, wa ja’alnā minal-mā`i kulla syai`in ḥayy, a fa lā yu`minụn

30. MAKA, TIDAKKAH orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu memperhatikan bahwa lelangit dan bumi [pernah menjadi] satu kesatuan tunggal, yang kemudian Kami pisah-ceraikan?38—dan [bahwa] Kami menjadikan semua makhluk hidup dari air? Maka, tidakkah mereka [mulai] beriman?39


38 Biasanya, sia-sia membuat suatu penjelasan tentang Al-Quran berdasarkan “temuan-temuan ilmiah”, yang pada hari ini mungkin tampak benar, tetapi besok mungkin justru akan disangkal oleh temuan-temuan baru. Meskipun demikian, pernyataan tegas mengenai asal-muasal tunggal alam semesta—yang secara metonimia digambarkan dalam Al-Quran sebagai “lelangit dan bumi”—dengan sangat mengesankan mendahului pandangan hampir seluruh ahli astrofisika modern bahwa alam semesta ini bermula sebagai satu entitas dari satu unsur tunggal, yaitu hidrogen, yang kemudian dikonsolidasikan melalui gravitasi dan kemudian berpisah menjadi nebula, galaksi, dan tata surya dengan bagian-bagian individual berikutnya yang secara progresif pecah membentuk entitas-entitas baru dalam bentuk bintang-bintang, planet, dan satelit-satelitnya. (Berkenaan dengan penyebutan Al-Quran mengenai fenomena yang digambarkan oleh istilah “alam semesta yang mengembang”, lihat Surah Az-Zariyat [51]: 47 dan catatan no. 31 yang terkait.)

39 Pernyataan bahwa Allah “menciptakan semua makhluk hidup dari air” mengungkapkan dengan tepat suatu kebenaran yang sekarang ini diterima secara universal oleh sains. Pernyataan tersebut mempunyai tiga makna, yakni: (1) Air dan khususnya laut—adalah lingkungan tempat prototipe semua makhluk hidup berasal; (2) di antara semua cairan yang tak terhitung jumlahnya—baik yang memang ada maupun yang dapat dibayangkan ada—hanya airlah yang memiliki sifat-sifat khas yang dibutuhkan bagi muncul dan berkembangnya kehidupan; dan (3) protoplasma, yang merupakan dasar fisik bagi setiap sel hidup—baik dalam tumbuh-tumbuhan maupun hewan—dan yang merupakan satu-satunya bentuk materi tempat fenomena kehidupan memanifestasikan diri, sepenuhnya terdiri dari air dan, dengan demikian, sangat bergantung padanya. Jika dibaca secara bersamaan dengan pernyataan sebelumnya, yang menyinggung asal-muasal tunggal alam semesta, munculnya kehidupan dari—dan dari dalam—unsur yang juga tunggal menunjukkan adanya rencana tunggal yang mendasari semua ciptaan dan, juga, menunjukkan eksistensi dan keesaan Sang Pencipta. Penekanan pada keesaan Tuhan dan kesatuan penciptaan-Nya dibicarakan lagi dalam ayat 92 berikutnya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 31

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

wa ja’alnā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bihim wa ja’alnā fīhā fijājan subulal la’allahum yahtadụn

31. Dan, [tidakkah mereka memperhatikan bahwa] telah Kami jadikan gunung-gunung yang kokoh di muka bumi agar bumi itu tidak bergoyang bersama mereka,40 dan [bahwa] telah Kami jadikan di atasnya jalan-jalan yang lebar agar mereka dapat menemukan jalan mereka,


40 Lihat Surah An-Nahl [16]: 15 dan catatan no. 11 yang terkait.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 32

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا ۖ وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

wa ja’alnas-samā`a saqfam maḥfụẓā, wa hum ‘an āyātihā mu’riḍụn

32. dan [bahwa] telah Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terjaga dengan baik?41

Sungguhpun begitu, mereka dengan bebal berpaling dari [semua] tanda-tanda [ciptaan] ini,


41 Lihat catatan no. 4 pada kalimat pertama Surah Ar-Ra’d [13]: 2, yang tampaknya memiliki makna serupa.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 33

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

wa huwallażī khalaqal-laila wan-nahāra wasy-syamsa wal-qamar, kullun fī falakiy yasbaḥụn

33. dan [gagal melihat bahwa] Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan—yang semuanya melayang di tengah angkasa!*


* {“… yang semuanya melayang di tengah angkasa” adalah terjemahan Asad untuk frasa kullun fi falakin yasbahun. Verba yasbahu (bentuk tunggal dari yasbahun) mempunyai arti berenang (to swim), melayang (to float), menyebar (to spread), atau memuji (to praise, glorify), tetapi jarang, atau bahkan tidak pernah, diartikan “beredar”. Secara harfiah, terjemahan Asad lebih tepat jika dibandingkan dengan terjemahan Depag RI yang menerjemahkan frasa ini menjadi “masing-masing dari keduanya beredar pada garis edarnya”.—AM}


Surah Al-Anbiya’ Ayat 34

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

wa mā ja’alnā libasyarim ming qablikal-khuld, a fā im mitta fa humul-khālidụn

34. DAN, [peringatkanlah orang-orang yang mengingkari engkau, wahai Nabi,42 bahwa] tidak pernah Kami memberikan hidup yang kekal kepada seorang manusia pun sebelum engkau:43 tetapi apakah, mungkin, mereka berharap bahwa meskipun engkau pasti mati, mereka akan hidup kekal?44


42 Ini merujuk pada keberatan orang-orang kafir, yang disebutkan dalam ayat 3 surah ini, yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. “hanyalah seorang manusia biasa seperti kalian” dan juga berkaitan dengan ayat 7-8, yang menekankan bahwa semua rasul Allah hanyalah manusia biasa (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 144.)

43 Implikasinya yang jelas adalah, “demikian pula, Kami tidak akan memberikan hidup yang kekal kepadamu”. Bdk. Surah Az-Zumar [39]: 30—”engkau pasti akan mati”.

44 Lit., “tetapi jika engkau pasti akan mati, lalu akankah mereka hidup selamanya?”—yang menyiratkan suatu asumsi yang mereka percayai bahwa mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban ketika mati dan dibangkitkan.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

kullu nafsin żā`iqatul-maụt, wa nablụkum bisy-syarri wal-khairi fitnah, wa ilainā turja’ụn

35. Setiap manusia pasti akan merasakan kematian; dan Kami menguji kalian [semua] dengan [hal-hal] yang buruk dan yang baik [dalam kehidupan] melalui cobaan: dan kepada Kamilah kalian semua pasti kembali.45


45 Lit., “kalian akan dikembalikan”, yaitu untuk diadili.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 36

وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ هُمْ كَافِرُونَ

wa iżā ra`ākallażīna kafarū iy yattakhiżụnaka illā huzuwā, a hāżallażī yażkuru ālihatakum, wa hum biżikrir-raḥmāni hum kāfirụn

36. Namun [demikianlah:] setiap kali orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu memperhatikanmu,46 mereka hanya menjadikanmu sebagai sasaran ejekan mereka, [sambil saling berkata,] “Inikah dia orang yang berbicara tentang tuhan-tuhan kalian [dengan nada yang begitu merendahkan]?”47

Padahal, mereka sendirilah yang, terhadap [setiap] sebutan Yang Maha Pengasih, biasa mengingkari kebenaran!48*


46 Lit., “melihat engkau”: akan tetapi, karena verba ini di sini jelas-jelas bermakna abstrak, yang berhubungan dengan pesan yang disampaikan oleh Nabi, sebaiknya kata tersebut diterjemahkan seperti di atas.

47 Secara tersirat, “dan berani mengingkari realitas tuhan-tuhan kita meskipun dia hanyalah seorang manusia biasa seperti kita?”

48 Yakni, meskipun mereka tersinggung ketika ada cemoohan terhadap benda atau kekuatan apa saja yang mereka sembah tanpa menggunakan akal, mereka menolak mengakui bahwa perencanaan Allah akan terwujud dalam setiap aspek dari ciptaan-Nya.

* {at [every] mention of the Most Gracious, are wont to deny the truth: “terhadap [setiap] sebutan Yang Maha Pengasih, biasa mengingkari kebenaran” adalah terjemahan Asad untuk frasa wa hum bi dzikr al-rahman hum kafirun, yang secara harfiah berarti, “dan mereka terhadap ingatan/sebutan Yang Maha Pengasih, mereka kafir [mengingkari kebenaran]”. Di sini, Asad memahami kata sambung bi [lazimnya diartikan “dengan” atau “terhadap”] dengan arti “terhadap [setiap]”, sedangkan yang diingkari orang-orang kafir adalah “kebenaran”. Terjemah Depag RI menjadikan frasa bi dzikr al-rahman sebagai objek (maf’ul bih) sehingga menerjemahkannya menjadi “yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.” Dzikr memang bisa berarti “ingatan” atau “sebutan”.—AM}


Surah Al-Anbiya’ Ayat 37

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

khuliqal-insānu min ‘ajal, sa`urīkum āyātī fa lā tasta’jilụn

37. Manusia adalah makhluk yang tergesa-gesa;49 [tetapi pada waktunya] Aku akan menunjukkan kepada kalian [kebenaran] pesan-pesan-Ku: maka, janganlah meminta-Ku menyegerakan-[nya]!50


49 Lit., “diciptakan dari ketergesa-gesaan”—yakni, secara alamiah manusia dipenuhi dengan ketidaksabaran: bdk. kalimat terakhir pada Surah Al-Isra’ [17]: 11. Dalam konteks ayat ini, ungkapan tersebut mengacu pada ketidaksabaran manusia terhadap hal-hal yang akan datang: dalam kasus ini—sebagaimana terlihat jelas dari rangkaian ayatnya—ketergesa-gesaannya menolak beriman pada keputusan Allah yang akan datang.

50 Bdk. Surah An-Nahl [16]: 1—”keputusan Allah [pasti] datang: karena itu, janganlah kalian meminta agar kedatangannya dipercepat!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 38

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

38. Akan tetapi, mereka [yang mengingkari pesan-pesan-Ku biasa] bertanya, “Kapankah janji [pengadilan Allah] itu terpenuhi? [Jawablah ini, wahai orang-orang yang percaya padanya,] jika kalian orang-orang yang benar!”51


51 Jawaban Al-Quran terhadap masalah ini terdapat dalam Surah Al-A’raf [7]: 187.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 39

لَوْ يَعْلَمُ الَّذِينَ كَفَرُوا حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَنْ وُجُوهِهِمُ النَّارَ وَلَا عَنْ ظُهُورِهِمْ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

lau ya’lamullażīna kafarụ ḥīna lā yakuffụna ‘aw wujụhihimun-nāra wa lā ‘an ẓuhụrihim wa lā hum yunṣarụn

39. Kalau sekiranya mereka tahu—mereka, yang berkukuh mengingkari kebenaran itu—[bahwa akan datang] suatu saat ketika mereka tidak mampu mengelak dari api, baik dari wajah mereka maupun dari punggung mereka, dan tidak akan menemukan seorang pun penolong!


Surah Al-Anbiya’ Ayat 40

بَلْ تَأْتِيهِمْ بَغْتَةً فَتَبْهَتُهُمْ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ رَدَّهَا وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ

bal ta`tīhim bagtatan fa tab-hatuhum fa lā yastaṭī’ụna raddahā wa lā hum yunẓarụn

40. Tidak, tetapi [Saat Terakhir] akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, dan akan membuat mereka tercengang-bingung: dan mereka tidak akan dapat menolaknya, dan tidak pula mereka diberi penangguhan sedikit pun.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 41

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqadistuhzi`a birusulim ming qablika fa ḥāqa billażīna sakhirụ min-hum mā kānụ bihī yastahzi`ụn

41. Dan sungguh, [wahai Muhammad, bahkan] sebelum masamu, rasul-rasul [Allah] telah dicemooh—tetapi mereka yang mencemooh para rasul itu [pada akhirnya] justru diliputi oleh hal-hal yang biasa mereka cemoohkan itu.52


52 Lihat Surah Al-An’am [6]: 10 (yang redaksinya persis sama) dan catatan no. 9 yang terkait.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 42

قُلْ مَنْ يَكْلَؤُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَٰنِ ۗ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُعْرِضُونَ

qul may yakla`ukum bil-laili wan-nahāri minar-raḥmān, bal hum ‘an żikri rabbihim mu’riḍụn

42. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kalian, malam atau siang hari, dari Yang Maha Pengasih?”53

Sungguhpun begitu, mereka dengan bebal berpaling dari mengingat Pemelihara mereka!


53 Disebutkannya Allah, dalam konteks ini, sebagai “Yang Maha Pengasih” (al-rahman) dimaksudkan untuk menonjolkan fakta bahwa Dia-lah, dan hanya Dia, pelindung semua makhluk.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 43

أَمْ لَهُمْ آلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا ۚ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ

am lahum ālihatun tamna’uhum min dụninā, lā yastaṭī’ụna naṣra anfusihim wa lā hum minnā yuṣ-ḥabụn

43. Apakah mereka [benar-benar menduga bahwa mereka] mempunyai tuhan-tuhan yang dapat melindungi mereka dari Kami? [Yang diduga sebagai tuhan-tuhan] itu [pun bahkan] tidak mampu menolong diri mereka sendiri: karena itu, tidak pula mereka [yang menyembah tuhan-tuhan itu dapat berharap] ditolong [oleh tuhan-tuhan itu] dalam menghadapi Kami.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 44

بَلْ مَتَّعْنَا هَٰؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ ۗ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ

bal matta’nā hā`ulā`i wa ābā`ahum ḥattā ṭāla ‘alaihimul-‘umur, a fa lā yarauna annā na`til-arḍa nangquṣuhā min aṭrāfihā, a fa humul-gālibụn

44. Tidak, Kami biarkan [pendosa-pendosa] ini—sebagaimana [telah Kami biarkan] nenek moyang mereka—menikmati hal-hal yang baik dalam kehidupan untuk jangka waktu yang lama:54 tetapi kemudian—belum pernahkah mereka melihat bagaimana Kami mendatangi bumi [dengan hukuman Kami], seraya mencerabut semua yang terbaik dari atasnya, secara bertahap?55 Maka, dapatkah mereka [berharap] menjadi pemenang?


54 Lit., “hingga usia mereka (‘umur) bertambah panjang”—yakni, hingga mereka sudah terbiasa dengan pemikiran bahwa kemakmuran mereka akan abadi selamanya (Al-Zamakhsyari).

55 Untuk penjelasannya, lihat frasa yang sama dalam Surah Ar-Ra’d [13]: 41 dan catatan no. 79 dan no. 80 yang terkait.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 45

قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ ۚ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنْذَرُونَ

qul innamā unżirukum bil-waḥyi wa lā yasma’uṣ-ṣummud-du’ā`a iżā mā yunżarụn

45. KATAKANLAH [kepada semua manusia]: “Aku hanya memperingatkan kalian berdasarkan wahyu Ilahi!”

Akan tetapi, yang tuli [hatinya] tidak akan mendengarkan seruan ini, betapapun seringnya mereka diberi peringatan.56


56 Lit., “setiap kali mereka diberi peringatan”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 46

وَلَئِنْ مَسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ مِنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

wa la`im massat-hum naf-ḥatum min ‘ażābi rabbika layaqụlunna yā wailanā innā kunnā ẓālimīn

46. Sungguhpun begitu, apabila sedikit saja azab Pemeliharamu menyentuh mereka, mereka pasti berteriak, “Oh, celakalah kami! Sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 47

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

wa naḍa’ul-mawāzīnal-qisṭa liyaumil-qiyāmati fa lā tuẓlamu nafsun syai`ā, wa ing kāna miṡqāla ḥabbatim min khardalin atainā bihā, wa kafā binā ḥāsibīn

47. Akan tetapi, Kami akan membuat timbangan-timbangan yang adil pada Hari Kebangkitan, dan tidak ada manusia yang akan dizalimi sedikit pun: sebab, meskipun ada [padanya kebaikan atau kejahatan, sekalipun] seberat biji sawi, Kami akan mendatangkannya; dan tak seorang pun dapat membuat perhitungan seperti Kami melakukannya!


Surah Al-Anbiya’ Ayat 48

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ

wa laqad ātainā mụsā wa hārụnal-furqāna wa ḍiyā`aw wa żikral lil-muttaqīn

48. DAN, SESUNGGUHNYA, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun [wahyu Kami sebagai] patokan untuk membedakan yang benar dari yang salah,57 dan sebagai cahaya [petunjuk] dan pengingat bagi orang-orang yang sadar akan Allah


57 Lihat catatan no. 38 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 53. Penyebutan wahyu yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu sebagai “patokan untuk membedakan yang benar dari yang salah” (al-furqan) di sini mempunyai dua implikasi”: yakni, pertama, ia menyinggung doktrin Al-Quran—yang dijelaskan pada catatan no. 5 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 4—tentang kesinambungan historis seluruh wahyu Allah, dan kedua, ia menekankan fakta bahwa wahyu—dan hanya wahyu—yang menjadi kriteria mutlak bagi semua penilaian moral. Karena syariat Nabi Musa a.s. itu sendiri hanya mengikat Bani Israil dan absah hanya dalam konteks historis dan kultural tertentu, istilah al-furqan di sini tidak berhubungan dengan Hukum Musa itu sendiri, tetapi berkaitan dengan kebenaran-kebenaran etis fundamental yang terkandung dalam Taurat dan semua wahyu Ilahi umumnya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 49

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

allażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa hum minas-sā’ati musyfiqụn

49. yang merasa gentar-terpukau pada Pemelihara mereka meskipun Dia berada di luar jangkauan pemahaman manusia,58 dan yang tergetar ketika memikirkan Saat Terakhir.


58 Untuk penjelasan mengenai terjemahan ungkapan bi al-ghaib di atas, lihat catatan no. 3 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 3.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 50

وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ ۚ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

wa hāżā żikrum mubārakun anzalnāh, a fa antum lahụ mungkirụn

50. Dan [sebagaimana wahyu-wahyu terdahulu,] wahyu yang satu ini pun merupakan peringatan yang penuh berkah yang telah Kami turunkan: maka, apakah kalian mengingkarinya?


Surah Al-Anbiya’ Ayat 51

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ

wa laqad ātainā ibrāhīma rusydahụ ming qablu wa kunnā bihī ‘ālimīn

51. DAN, SESUNGGUHNYA, jauh sebelum [zaman Musa], Kami telah memberikan kepada Ibrahim kesadarannya akan apa yang benar;59 dan Kami mengetahui [apa yang menggerakkan]-nya


59 Kata ganti kepunyaan “hu” (nya) yang dibubuhkan pada nomina rusyd (yang dalam konteks ini berarti “kesadaran akan apa yang benar”) menekankan kualitas personal dan intelektual yang tinggi dari kesadaran progresif Nabi Ibrahim a.s. akan kemahabesaran dan keunikan Allah (bdk. Surah Al-An’am [6]: 74-79 dan catatan no. 69 dalam Surah Al-An’am [6]: 83); sedangkan ungkapan min qabl—yang saya terjemahkan menjadi “jauh sebelum [zaman Musa]”—menekankan, sekali lagi, unsur kesinambungan dalam wawasan dan pengalaman keagamaan manusia.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 52

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

iż qāla li`abīhi wa qaumihī mā hāżihit-tamāṡīlullatī antum lahā ‘ākifụn

52. ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini, yang kepadanya kalian begitu bersungguh mengabdi?”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 53

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

qālụ wajadnā ābā`anā lahā ‘ābidīn

53. Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 54

قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qāla laqad kuntum antum wa ābā`ukum fī ḍalālim mubīn

54. Ibrahim berkata, “Sungguh, kalian dan nenek moyang kalian jelas-jelas telah tersesat.”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 55

قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ

qālū a ji`tanā bil-ḥaqqi am anta minal-lā’ibīn

55. Mereka bertanya, “Apakah engkau datang kepada kami [membawa pernyataan ini] dengan sepenuh kesungguhan—ataukah engkau termasuk salah seorang di antara orang-orang yang suka bercanda itu?”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 56

قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

qāla bar rabbukum rabbus-samāwāti wal-arḍillażī faṭarahunna wa ana ‘alā żālikum minasy-syāhidīn

56. Ibrahim menjawab, “Tidak, tetapi Pemelihara kalian [yang sebenarnya] adalah Pemelihara lelangit dan bumi—Dia-lah yang telah menciptakan keduanya: dan aku adalah salah seorang yang menyaksikan [kebenaran] ini!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 57

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ

wa tallāhi la`akīdanna aṣnāmakum ba’da an tuwallụ mudbirīn

57. Dan [dia mengatakan lagi kepada dirinya sendiri], “Demi Allah, aku pasti akan menyebabkan keruntuhan berhala-berhala kalian begitu kalian berbalik badan dan pergi!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 58

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

fa ja’alahum jużāżan illā kabīral lahum la’allahum ilaihi yarji’ụn

58. Lalu, dia menghancurkan [berhala-berhala] itu hingga berkeping-keping, [semuanya,] kecuali yang paling besar di antara mereka, agar mereka [dapat] kembali kepadanya.60


60 Yakni, secara tersirat, “untuk mendapat penjelasan tentang apa yang telah terjadi”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 59

قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ

qālụ man fa’ala hāżā bi`ālihatinā innahụ laminaẓ-ẓālimīn

59. [Ketika mereka melihat apa yang telah terjadi,] mereka berkata, “Siapa yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia adalah orang yang paling zalim!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 60

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

qālụ sami’nā fatay yażkuruhum yuqālu lahū ibrāhīm

60. Sebagian [di antara mereka] berkata, “Kami dengar seorang pemuda berkata tentang [tuhan-tuhan] ini dengan [mencemooh]: dia bernama Ibrahim.”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 61

قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

qālụ fa`tụ bihī ‘alā a’yunin-nāsi la’allahum yasy-hadụn

61. [Yang lain] berkata, “Maka, bawalah dia ke hadapan mata masyarakat agar mereka dapat menyaksikan[-nya]!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 62

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ

qālū a anta fa’alta hāżā bi`ālihatinā yā ibrāhīm

62. [Dan, ketika Ibrahim datang,] mereka bertanya, “Apakah engkau telah melakukan hal ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 63

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

qāla bal fa’alahụ kabīruhum hāżā fas`alụhum ing kānụ yanṭiqụn

63. Dia menjawab, “Tidak, yang satu inilah, yang terbesar di antara patung-patung itu, yang telah melakukannya: maka, tanyakan [saja sendiri] kepada patung-patung itu—jika mereka dapat berbicara!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 64

فَرَجَعُوا إِلَىٰ أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ

fa raja’ū ilā anfusihim fa qālū innakum antumuẓ-ẓālimụn

64. Kemudian, mereka saling menyalahkan61 sambil berkata, “Sungguh, kalianlah yang melakukan kezaliman.”62


61 lit., “mereka berpaling ke [atau ‘terhadap’] diri mereka sendiri”, yaitu menyalahkan satu sama lain.

62 Yakni, “kalian melakukan kezaliman terhadap Ibrahim dengan tergesa-gesa menuduhnya” (Al-Thabari).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 65

ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ

ṡumma nukisụ ‘alā ru`ụsihim, laqad ‘alimta mā hā`ulā`i yanṭiqụn

65. Namun, mereka kemudian kembali ke cara berpikir mereka sebelumnya63 dan berkata, “Engkau tahu betul bahwa [patung-patung] ini tidak dapat berbicara!”


63 Lit., “mereka dijungkirbalikkan di atas kepala mereka”: suatu frasa idiomatik yang berarti “penjungkirbalikan mental”—dalam kasus ini, batalnya mereka membebaskan Ibrahim dari tuduhan, dan kembalinya mereka pada kecurigaan mereka sebelumnya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 66

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ

qāla a fa ta’budụna min dụnillāhi mā lā yanfa’ukum syai`aw wa lā yaḍurrukum

66. [Ibrahim] berkata, “Lalu, apakah kalian menyembah sesuatu, selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat apa pun kepada kalian dan tidak pula dapat merugikan kalian?


Surah Al-Anbiya’ Ayat 67

أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

uffil lakum wa limā ta’budụna min dụnillāh, a fa lā ta’qilụn

67. Cis! Celakalah kalian dan semua yang kalian sembah selain Allah! Lalu, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 68

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

qālụ ḥarriqụhu wanṣurū ālihatakum ing kuntum fā’ilīn

68. Mereka berseru, “Bakarlah dia dan [dengan demikian] tolonglah tuhan-tuhan kalian, jika kalian hendak melakukan [sesuatu]!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 69

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

qulnā yā nāru kụnī bardaw wa salāman ‘alā ibrāhīm

69. [Akan tetapi,] Kami berfirman, ”Wahai, api! Jadilah dingin dan [jadilah sumber] kedamaian batin bagi Ibrahim!”64


64 Al-Quran tidak pernah menyatakan di ayat mana pun bahwa tubuh Ibrahim a.s. benar-benar dilemparkan ke dalam api, lalu secara ajaib tetap hidup di dalamnya: sebaliknya, frasa “Allah menyelamatkannya dari api” yang terdapat dalam Surah Al-‘Ankabut [29]: 24, alih-alih justru menunjukkan fakta bahwa dia tidak dilemparkan ke dalam api. Di sisi lain, demikian banyaknya kisah yang terperinci dan (saling bertentangan) yang dikemukakan para mufasir klasik untuk menghiasi penafsiran mereka terhadap ayat di atas hampir selalu dapat ditelusuri rujukannya pada legenda-legenda Talmud dan, karenanya, dapat diabaikan. Yang disuguhkan Al-Quran kepada kita di sini, sebagaimana juga dalam Surah Al-‘Ankabut [29]: 24 dan Surah As-Shaffat [37]: 97, tampaknya merupakan suatu kiasan alegoris bagi api penganiayaan yang terpaksa diderita Nabi Ibrahim a.s. dan yang, berkat intensitas penyiksaan itu, akan menjadi sumber kekuatan ruhani dan kedamaian batin (salam) dalam kehidupannya di kemudian hari. Mengenai implikasi yang lebih mendalam dari istilah salam, lihat catatan no. 29 dalam Surah Al-Mai’dah [5]: 16.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 70

وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

wa arādụ bihī kaidan fa ja’alnāhumul-akhsarīn

70. dan sementara mereka mencoba berbuat jahat terhadapnya, Kami jadikan mereka menderita kerugian yang terbesar:65


65 Karena Nabi Ibrahim a.s.—seperti ditunjukkan dalam ayat berikutnya—meninggalkan negerinya dan, dengan demikian, membiarkan kaumnya dalam kebodohan ruhani mereka.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 71

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

wa najjaināhu wa lụṭan ilal-arḍillatī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn

71. sebab, Kami menyelamatkannya dan Luth, [putra saudara laki-lakinya, dengan membimbing mereka] menuju negeri yang Kami berkahi sepanjang masa di kemudian hari.66


66 Lit., “untuk seluruh alam” atau “untuk semua manusia”: yakni Palestina, yang kemudian menjadi negeri kelahiran sejumlah nabi. (Daerah asal Nabi Ibrahim a.s.—dan tempat dia melakukan perjuangan paling awal melawan kemusyrikan—adalah Ur, di Mesopotamia.)


Surah Al-Anbiya’ Ayat 72

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ

wa wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụba nāfilah, wa kullan ja’alnā ṣāliḥīn

72. Dan, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan [putra Ishaq, yakni] Ya’qub sebagai suatu karunia tambahan,67 dan menjadikan mereka semua sebagai orang-orang yang saleh,


67 Yakni, sebagai tambahan (nafilatan) bagi putra tertuanya, Nabi Isma’il, yang lahir beberapa tahun sebelum Nabi Ishaq.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 73

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

wa ja’alnāhum a`immatay yahdụna bi`amrinā wa auḥainā ilaihim fi’lal-khairāti wa iqāmaṣ-ṣalāti wa ītā`az-zakāh, wa kānụ lanā ‘ābidīn

73. dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin yang akan membimbing [orang lain] sesuai dengan perintah Kami: sebab, Kami telah mengilhami mereka [dengan kehendak] untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan, berteguh mendirikan shalat, dan memberikan derma: dan Kami [sajalah] yang mereka sembah.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 74

وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۗ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ

wa lụṭan ātaināhu ḥukmaw wa ‘ilmaw wa najjaināhu minal-qaryatillatī kānat ta’malul-khabā`iṡ, innahum kānụ qauma sau`in fāsiqīn

74. DAN JUGA KEPADA LUTH, Kami berikan hikmah dan ilmu [tentang yang benar dan yang salah], dan menyelamatkannya dari masyarakat itu, yang terbiasa dengan perbuatan keji.68 [Kami telah hancurkan orang-orang itu—sebab,] sungguh, mereka adalah kaum yang tenggelam dalam keburukan, fasik—


68 Tentang kisah Nabi Luth a.s., lihat Surah Al-A’raf [7]: 80-84, Surah Hud [11]: 77-83, dan Surah Al-Hijr [15]: 58-76.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 75

وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa adkhalnāhu fī raḥmatinā, innahụ minaṣ-ṣāliḥīn

75. sedangkan dia Kami masukkan ke dalam rahmat Kami—sebab, perhatikanlah, dia termasuk orang-orang yang saleh.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 76

وَنُوحًا إِذْ نَادَىٰ مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa nụḥan iż nādā ming qablu fastajabnā lahụ fa najjaināhu wa ahlahụ minal-karbil-‘aẓīm

76. DAN, [INGATLAH] NUH—[bagaimana,] ketika dia menyeru [kepada Kami], lama sebelum [masa Ibrahim dan Luth], Kami memperkenankan seruannya dan menyelamatkan dia dan keluarganya dari petaka yang menakutkan;69


69 Yakni, banjir besar. Kisah Nabi Nuh a.s. disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran dan secara khusus dalam Surah Hud [11]: 25-48. Mengenai banjir itu sendiri, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 47.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 77

وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

wa naṣarnāhu minal-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, innahum kānụ qauma sau`in fa agraqnāhum ajma’īn

77. dan [bagaimana] Kami menolongnya terhadap orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami: sungguh, mereka adalah orang-orang yang tenggelam dalam keburukan—dan [karenanya] Kami jadikan mereka semua tenggelam.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 78

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ

wa dāwụda wa sulaimāna iż yaḥkumāni fil-ḥarṡi iż nafasyat fīhi ganamul-qaụm, wa kunnā liḥukmihim syāhidīn

78. DAN, [INGATLAH] DAUD DAN SULAIMAN—[bagaimana kejadiannya] ketika keduanya memberikan keputusan tentang ladang, yang ke dalamnya domba suatu kaum tersesat pada malam hari dan merumput di dalamnya, dan [bagaimana] Kami menyaksikan keputusan mereka:70


70 Tentang uraian kisah—atau, lebih tepatnya, legenda yang disinggung ayat di atas, kita harus bersandar pada informasi dari para Sahabat Nabi semata karena baik Al-Quran maupun hadis Nabi yang sahih tidak menjelaskannya kepada kita. Namun, fakta bahwa banyak Sahabat dan penerus-penerus mereka (tabi’un) menyetujui sepenuhnya substansi kisah tersebut, dengan perbedaan pendapat hanya pada satu atau dua perincian yang tidak penting, tampaknya mengisyaratkan bahwa pada masa tersebut kisah ini telah tertanam kukuh dalam. tradisi Arab kuno (bdk. catatan no. 77 nanti). Menurut kisah ini, sekawanan domba pada malam hari tersesat memasuki ladang tetangga dan merusak tanamannya. Masalah ini diajukan ke hadapan Raja Daud untuk mendapatkan keputusan hukum. Berdasarkan temuan bahwa insiden tersebut merupakan akibat kesembronoan pemilik domba, Daud memutuskan untuk memberikan semua kawanan domba tersebut—yang nilainya kira-kira setara dengan tingkat kerusakan ladang itu—kepada pemilik ladang sebagai suatu ganti rugi. Putra Daud yang masih muda, Sulaiman, menganggap keputusan ini terlalu berat karena domba tersebut merupakan barang modal (capital) tergugat, sedangkan kerusakan ladang itu bersifat sesaat, yang hanya berupa kehilangan hasil panen satu tahun, yaitu pendapatan (income). Karena itu, Sulaiman menyarankan kepada ayahnya agar keputusan itu diganti: yakni, pemilik ladang berhak memiliki domba-domba dan apa pun yang dihasilkannya itu (susu, wol, anak domba yang baru lahir, dan sebagainya) secara temporer, sedangkan pemilik domba harus merawat ladang yang rusak itu hingga ladang tersebut pulih ke tingkat produktivitasnya semula, kemudian baik ladang maupun kawanan domba itu harus dikembalikan kepada pemiliknya yang semula; dengan begitu, penggugat akan memperoleh ganti atas kerugiannya tanpa merampas harta benda tergugat. Daud menyadari bahwa solusi yang diberikan putranya mengenai kasus ini lebih baik daripada solusinya sendiri, dan kemudian menetapkan keputusan sesuai dengan usulan putranya. Akan tetapi, karena dia, tidak kalah dari Sulaiman, telah diilhami oleh rasa keadilan yang mendalam, Allah—dalam kata-kata Al-Quran—”menyaksikan keputusan mereka”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 79

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

fa fahhamnāhā sulaimān, wa kullan ātainā ḥukmaw wa ‘ilmaw wa sakhkharnā ma’a dāwụdal-jibāla yusabbiḥna waṭ-ṭaīr, wa kunnā fā’ilīn

79. sebab, [meskipun] telah Kami jadikan Sulaiman memahami persoalan tersebut [lebih mendalam], Kami berikan kepada keduanya hikmah dan ilmu [tentang yang benar dan yang salah].71

Dan, Kami jadikan72 gunung-gunung bergabung dengan Daud dalam bertasbih memuji kemuliaan Kami yang tak terhingga, dan begitu pula burung-burung:73 sebab, Kami mampu melakukan [segala sesuatu].


71 Yakni, fakta bahwa keputusan Sulaiman lebih berbobot tidaklah menghilangkan unsur keadilan yang terkandung dalam keputusan awal Daud, atau menghapus nilai keputusannya itu.

72 Lit., “Kami telah memaksa”.

73 Mengacu pada Kitab Mazmur Daud, yang menyeru semesta alam agar memuji kemuliaan Allah—yang serupa dengan ayat Al-Quran, “Langit yang tujuh, bumi, serta semua yang ada di dalamnya bertasbih (memuji) kemuliaan-Nya yang tak terhingga” (Surah Al-Isra’ [17]: 44), atau “Segala yang ada di lelangit dan bumi bertasbih memuji kemuliaan Allah yang tak terhingga” (Surah Al-Hadid [57]: 1).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 80

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ

wa ‘allamnāhu ṣan’ata labụsil lakum lituhṣinakum mim ba`sikum, fa hal antum syākirụn

80. Dan, Kami ajarkan kepadanya bagaimana membuat pakaian [kesadaran akan Allah] untuk kalian [wahai manusia] agar pakaian itu dapat membentengi kalian dari segala yang dapat menyebabkan kalian takut: tetapi, apakah kalian bersyukur [atas anugerah ini]?74


74 Nomina labus bersinonim dengan libas atau libs, yang berarti “pakaian” atau “pakaian-pakaian” (Al-Qamus, Lisan Al-‘Arab). Akan tetapi, karena istilah ini kadang-kadang digunakan oleh bangsa Arab pra-Islam dalam pengertian “baju besi” atau “zirah” (ibid.), para mufasir klasik berasumsi bahwa, dalam konteks di atas, kata tersebut juga memiliki makna ini; dan dalam hal ini mereka bersandar pada pernyataan seorang tabi’i, Qatadah—satu-satunya pernyataan yang mendukung pendapat ini—yang menyatakan bahwa “Daud adalah orang pertama yang membuat baju besi yang terbuat dari rantai-rantai logam” (Al-Thabari). Dengan landasan yang sama, mereka memahami istilah ba’s yang terdapat di akhir kalimat tersebut menurut pengertian sekundernya, yakni “perang” atau “kekerasan yang menyerupai perang” dan menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut: “Kami mengajarkan kepadanya bagaimana membuat baju perang bagi kalian agar ia dapat membentengi kalian dari tindak kekerasan kalian [terhadap satu sama lain]” atau “membentengi kalian dari [dampak] kekerasan yang menyerupai perang”. Namun, kita harus ingat bahwa ba’s juga berarti “kerugian”, “kemalangan”, “penderitaan”, dan sebagainya, di samping “bahaya”; karena itu, dalam pengertiannya yang terluas, istilah ini berarti segala sesuatu yang menyebabkan penderitaan atau ketakutan (Taj Al-‘Arus). Jika kita menggunakan makna yang terakhir ini, istilah labus dapat dipahami menurut pengertian dasarnya, “pakaian”—dalam hal ini, “pakaian kesadaran akan Allah (libas al-taqwa)” yang metaforis yang dibicarakan Al-Quran dalarn Surah Al-A’raf [7]: 26. Jika diterjemahkan dalam pengertian ini, ayat di atas mengungkapkan gagasan bahwa Yang Mahaperkasa mengajarkan kepada Daud bagaimana mengilhami para pengikutnya dengan kesadaran yang mendalam akan Allah, yang membebaskan manusia dari segala penderitaan ruhani dan segala ketakutan, baik ketakutan terhadap sesama maupun ketakutan bawah sadar terhadap Yang Tidak Diketahui. Pertanyaan retoris penutupnya, “tetapi, apakah kalian bersyukur [atas anugerah ini]?” menunjukkan bahwa, biasanya, manusia tidak sepenuhnya menyadari akan—dan, karenanya, tidak benar-benar bersyukur atas—karunia ruhani yang diberikan Allah kepadanya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 81

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

wa lisulaimānar-rīḥa ‘āṣifatan tajrī bi`amrihī ilal-arḍillatī bāraknā fīhā, wa kunnā bikulli syai`in ‘ālimīn

81. Dan, kepada Sulaiman, [Kami tundukkan] angin topan agar ia bertiup cepat menurut perintahnya menuju negeri yang Kami berkahi:75 sebab, Kami-lah yang memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu.


75 Tampaknya, ini mengingatkan pada armada kapat layar yang membawa kekayaan yang tak terkira ke Palestina (“negeri yang telah Kami berkahi”) dan membuat kekayaan Nabi Sulaiman a.s. menjadi tersohor.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 82

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

wa minasy-syayāṭīni may yagụṣụna lahụ wa ya’malụna ‘amalan dụna żālik, wa kunnā lahum ḥāfiẓīn

82. Dan, di antara kekuatan-kekuatan pembangkang [yang Kami jadikan tunduk kepadanya],76 ada sebagian yang menyelam untuknya [ke dalam laut] dan melaksanakan pekerjaan lain selain itu: tetapi, Kami-lah yang mengawasi mereka.77


76 Terjemahan saya atas syayathin (lit., “setan-setan”), dalam konteks khusus ini, menjadi “kekuatan pembangkang”, didasarkan pada penggunaan figuratif istilah syaithan dalam pengertian apa pun yang “membangkang”, “sangat sombong”, atau “kurang ajar” (bdk. Lane IV, h. 1552)—dalam hal ini, kemungkinan suatu rujukan bagi musuh-musuh yang ditaklukkan dan diperbudak atau, kemungkinan besar, bagi kekuatan-kekuatan alam “yang membangkang” yang dapat dijinakkan dan dimanfaatkan oleh Nabi Sulaiman a.s.; namun, lihat juga catatan berikutnya.

77 Baik dalam pasase ini maupun dalam sejumlah pasase lain yang terkait dengan Nabi Sulaim an a.s., Al-Quran menyinggung banyak legenda/hikayat puitis yang dikaitkan dengan namanya sejak zaman dahulu dan telah menjadi bagian penting dari tradisi Yahudi-Kristen dan Arabia, jauh sebelum kedatangan Islam. Meskipun sangat mungkin untuk menafsirkan bagian ini secara “rasional”, saya tidak menganggapnya benar-benar perlu. Mengingat legenda-legenda tersebut sudah mendarah daging dalam imajinasi orang-orang yang menjadi sasaran pertama pewahyuan Al-Quran, kisah-kisah legendaris tentang hikmah dan kekuatan magis Nabi Sulaiman a.s. ini telah memperoleh realitas kulturalnya sendiri dan, karenanya, sangat tepat dijadikan sebagai sarana bagi penjelasan majasi tentang kebenaran etis tertentu yang merupakan pusat perhatian Kitab Al-Quran ini: dengan demikian, tanpa menolak atau mendukung sifat mitologisnya, Al-Quran menggunakan legenda-legenda itu sebagai suatu pengiring bagi gagasan bahwa Allah-lah sumber utama semua kekuatan dan keagungan manusia, dan bahwa seluruh prestasi kecerdasan manusia, meskipun prestasi itu mungkin mendekati mukjizat, tidak lain hanyalah merupakan ungkapan kreativitas transendental Allah.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 83

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

wa ayyụba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

83. DAN, [INGATLAH] AYYUB, tatkala dia berseru kepada Pemeliharanya, “Derita telah menimpaku: tetapi Engkau-lah Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih!”78


78 Kisah Nabi Ayyub a.s., yang menggambarkan kebahagiaan dan kemakmurannya pada masa lalu, cobaan dan penderitaannya pada masa berikutnya, hilangnya seluruh anak dan harta bendanya, penyakitnya yang menjijikkan dan keputusasaannya yang mendalam, dan, akhirnya, balasan Allah atas kesabarannya dalam menghadapi kesusahan, diceritakan secara lengkap dalam Perjanjian Lama (Kitab Ayub). Epik Bibel yang sangat filosofis ini kemungkinan besar adalah terjemahan atau parafrasa Ibrani—masih terlihat jelas dalam bahasa yang digunakan—dari syair Nabatean (yakni, Arabia-Utara) kuno, sebab “Ayyub, pengarang syair terindah yang dihasilkan dunia Semit kuno, adalah seorang Arab, bukan seorang Yahudi, sebagaimana ditunjukkan oleh bentuk namanya (Iyyob) dan seting ceritanya, yakni yang mengambil tempat di Arabia Utara” (Philip K. Hitti, History of the Arabs, London, 1937, hh. 42-43). Karena Allah “berbicara” kepadanya, Ayyub dalam Al-Quran menempati kedudukan sebagai nabi, yang melambangkan kesabaran puncak dalam menghadapi kesusahan (shabr).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 84

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

fastajabnā lahụ fa kasyafnā mā bihī min ḍurriw wa ātaināhu ahlahụ wa miṡlahum ma’ahum raḥmatam min ‘indinā wa żikrā lil-‘ābidīn

84. kemudian Kami memperkenankan seruannya dan melenyapkan semua derita yang dialaminya; dan Kami berikan kepadanya keturunan baru,79 dengan melipatgandakan jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan sebagai pengingat bagi semua yang menyembah Kami.


79 Lit., “keluarganya”—yaitu anak-anak baru sebagai pengganti anak-anak yang telah meninggal.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 85

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ

wa ismā’īla wa idrīsa wa żal-kifl, kullum minaṣ-ṣābirīn

85. DAN, [INGATLAH] ISMA’IL DAN IDRIS,80 dan setiap orang [seperti mereka] yang telah mengikrarkan diri [kepada Allah]:81 mereka semuanya termasuk orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan,


80 Lihat Surah Maryam [19], catatan no. 41.

81 Lit., “dan dia yang memiliki janji”. Ungkapan dzu al-kifl berasal dari verba kafala—dan khususnya bentuk takaffala—yang berarti “dia bertanggung jawab [atas sesuatu atau seseorang]” atau “dia telah mengikrarkan diri (untuk melakukan sesuatu)”. Meskipun para mufasir klasik menganggap dzu al-kifl sebagai julukan atau nama diri seorang nabi tertentu—yang secara beragam, kurang lebih secara acak, mereka identifikasikan dengan Elia, atau Yosua, atau Zakharia, atau Yehezkiel—saya tidak melihat alasan apa pun bagi upaya “pengidentifikasian” semacam itu, lebih-lebih karena kita tidak memiliki satu pun hadis sahih yang menyebutkan atau, bahk an, secara tersirat menyinggung seorang nabi dengan nama ini. Karena itu, saya berpendapat bahwa dzu al-kifl ini merupakan (sebagaimana dalam ungkapan yang sama dalam Surah Sad [38]: 48) suatu istilah generik yang berlaku bagi setiap nabi karena tiap-tiap nabi itu mengikrarkan diri tanpa syarat kepada Allah dan menerima tanggung jawab untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 86

وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa adkhalnāhum fī raḥmatinā, innahum minaṣ-ṣāliḥīn

86. lalu Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami: perhatikanlah, mereka termasuk orang-orang yang saleh!


Surah Al-Anbiya’ Ayat 87

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

wa żan-nụni iż żahaba mugāḍiban fa ẓanna al lan naqdira ‘alaihi fa nādā fiẓ-ẓulumāti al lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn

87. DAN, [INGATLAH) dia dengan ikan besar82—ketika dia pergi dalam keadaan marah seraya mengira bahwa Kami tidak memiliki kekuasaan atasnya!83 Akan tetapi, kemudian dia berseru dalam gelap gulita [kesusahannya]: “Tiada tuhan kecuali Engkau! Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Mu! Sungguh, aku telah berbuat zalim!”84


82 Yakni, Nabi Yunus a.s., yang konon ditelan oleh seekor “ikan besar”, sebagaimana disebutkan dalam Surah As-Shaffat [37]: 139 dan seterusnya, dan diceritakan lebih lengkap dalam Perjanjian Lama (Kitab Yunus).

83 Menurut penjelasan Bibel (yang lebih kurang sama dengan uraian Al-Quran terhadap kisahnya), Yunus adalah seorang nabi yang diutus kepada kaum Niniwe, ibu kota Asiria. Pada mulanya, dakwah Yunus tidak dipedulikan oleh kaumnya dan dia meninggalkan mereka dalam keadaan marah sehingga meninggalkan dakwah yang diamanatkan Allah kepadanya; dalam ungkapan Al-Quran (Surah As-Shaffat [37]: 140), “dia melarikan diri bagaikan seorang budak yang kabur”. Alegori tentang hukuman temporer, lalu penyelamatan serta pengampunannya disebutkan di tempat lain dalam Al-Quran (yaitu dalam Surah As-Shaffat [37]: 139-148) dan telah dijelaskan dalam catatan-catatannya yang terkait. Hukuman, tobat, dan penyelamatan inilah yang disinggung oleh ayat ini dan ayat berikutnya. (Ampunan bagi umat Nabi Yunus a.s. disebutkan dalam Surah Yunus [10]: 98 dan Surah As-Shaffat [37]: 147-148.)

84 Lit., “Aku termasuk orang-orang yang zalim”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 88

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

fastajabnā lahụ wa najjaināhu minal-gamm, wa każālika nunjil-mu`minīn

88. Lalu, Kami memperkenankan seruannya dan menyelamatkannya dari kesusahan[-nya]: demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang memiliki iman.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 89

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

wa zakariyyā iż nādā rabbahụ rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

89. DAN, [DEMIKIANLAH Kami lepaskan] Zakariya [dari kesusahan] ketika dia menyeru Pemeliharanya: “Wahai, Pemeliharaku! Janganlah biarkan aku tanpa anak! Akan tetapi, [kalaupun Engkau tidak memberikan anak kepadaku, aku tahu bahwa] Engkau akan tetap kekal ketika semua yang lainnya berhenti wujud!”85


85 Lit., “Engkau-lah sebaik-baik ahli waris”—suatu frasa yang telah dijelaskan dalam catatan no. 22 dalam Surah Al-Hijr [15]: 23. Kata-kata yang saya sisipkan di antara dua kurung sejalan dengan penafsiran Al-Zamakhsyari dan Al-Razi atas frasa ini. Untuk uraian yang lebih terperinci tentang Nabi Zakariya a.s., ayah Yahya sang Pembaptis, lihat Surah Al-‘Imran [3]: 37 dan seterusnya, dan Surah Maryam [19]: 2 dst.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 90

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

fastajabnā lahụ wa wahabnā lahụ yaḥyā wa aṣlaḥnā lahụ zaujah, innahum kānụ yusāri’ụna fil-khairāti wa yad’ụnanā ragabaw wa rahabā, wa kānụ lanā khāsyi’īn

90. Lalu, Kami memperkenankan seruannya dan memberikan kepadanya anugerah Yahya, setelah menjadikan istrinya mampu memberikan anak untuknya:86 [dan,] sungguh, [mereka bertiga] ini akan saling berlomba dalam melakukan kebajikan, dan akan menyeru Kami dengan penuh harap dan takut; dan mereka selalu merendahkan diri di hadapan Kami.


86 Lit., “karena Kami telah menjadikan istrinya mampu baginya”, yaitu setelah sebelumnya dia mandul.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 91

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

wallatī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhā mir rụḥinā wa ja’alnāhā wabnahā āyatal lil-‘ālamīn

91. DAN, [INGATLAH] dia yang telah menjaga kesuciannya, kemudian Kami tiupkan ke dalamnya dari ruh Kami87 dan menjadikannya, bersama putranya, sebagai perlambang [rahmat Kami] kepada semua manusia.88


87 Ungkapan alegoris ini, yang digunakan di sini dengan mengacu pada proses kehamilan Maryam ketika mengandung Isa, ditafsirkan secara meluas—dan secara keliru—sebagai berkaitan khusus dengan kelahiran Isa saja. Kenyataannya, Al-Quran menggunakan ungkapan yang sama di tiga tempat lainnya dengan mengacu pada penciptaan manusia secara umum—yakni, dalam Surah Al-Hijr [15]: 29 dan Surah Sad [38]: 72, “tatkala Aku telah membentuknya … dan meniupkan ke dalamnya dari ruh-Ku”; dan dalam Surah As-Sajdah [32]: 9, “dan kemudian Dia membentuk [lit., ‘telah membentuk’]-nya sempurna dan meniupkan [lit., ‘telah meniupkan’] ke dalamnya dari ruh-Nya”. Secara khusus, pasase yang mencantumkan frasa yang disebutkan terakhir ini (yaitu, Surah As-Sajdah [32]: 7-9) menyatakan dengan gamblang dan jelas bahwa Allah “meniupkan dari ruh-Nya” ke dalam setiap manusia. Ketika mengomentari ayat ini, Al-Zamakhsyari menyatakan bahwa “peniupan ruh [Allah] ke dalam badan berarti menganugerahinya kehidupan”: suatu penjelasan yang sama-sama disetujui oleh Al-Razi. (Dalam kaitan ini, lihat juga catatan no. 181 dalam Surah An-Nisa’ [4]: 171.) Adapun tentang gambaran Maryam sebagai allati ahshanat farjaha, yang secara idiomatik berarti “seseorang yang menjaga kesuciannya” (lit., “anggota-anggota badannya yang sangat pribadi”), harus diingat bahwa istilah ihshan—lit., “dibentenginya [seseorang dari setiap bahaya atau keburukan]”—mempunyai pengertian figuratif “menjauhkan diri dari apa pun yang terlarang atau tercela” (Taj Al-‘Arus), khususnya hubungan seksual yang haram, dan dapat diterapkan pada laki-laki maupun perempuan: maka, istilah muhshan dan muhshanah, misalnya, digunakan di tempat lain dalam Al-Quran untuk menggambarkan seorang laki-laki atau perempuan yang “dibentengi [oleh pernikahan] dari ketidaksucian”. Karena itu, ungkapan allati ahshanat farjaha, yang terdapat dalam ayat di atas serta dalam Surah At-Tahrim [66]: 12 yang mengacu pada Maryam, tidak lain hanya dimaksudkan untuk menekankan kesuciannya yang luar biasa dan pengekangan nafsunya secara total, baik dalam pikiran maupun perbuatan, dari segala sesuatu yang haram atau tercela secara moral: dengan kata lain, ungkapan ini merupakan suatu sanggahan terhadap fitnah (yang disebutkan dalam Surah An-Nisa [4]: 156 dan secara tidak langsung disinggung dalam Surah Maryam [19]: 27-28) yang mengatakan bahwa kelahiran Nabi Isa a.s. merupakan akibat dari “perzinaan”.

88 Tentang terjemahan saya atas istilah ayah menjadi “perlambang”, lihat Surah Al-Isra’ [17], catatan no. 2, dan Surah Maryam [19], catatan no. 16.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 92

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

inna hāżihī ummatukum ummataw wāḥidataw wa ana rabbukum fa’budụn

92. SUNGGUH, [wahai kalian yang beriman pada-Ku,] umat kalian ini adalah umat yang satu karena Aku adalah Pemelihara kalian semua: maka, sembahlah Aku [saja]!89


89 Setelah mengingatkan kita (dalam ayat 48-91) kepada beberapa nabi terdahulu, yang semuanya menekankan keesaan dan keunikan Tuhan, wacana beralih ke prinsip tauhid yang seharusnya tecermin dalam kesatuan semua manusia yang beriman pada-Nya {tauhid al-ummah—peny.}. (Lihat Surah Al-Mu’minun [23]: 51 dan seterusnya.)


Surah Al-Anbiya’ Ayat 93

وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ ۖ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ

wa taqaṭṭa’ū amrahum bainahum, kullun ilainā rāji’ụn

93. Akan tetapi, manusia telah mengoyak kesatuan mereka, tercerai-berai,90 [lupa bahwa] kepada Kami, mereka semua pasti kembali.


90 Inilah makna frasa idiomatik, taqaththa’u amrahum bainahum. Sebagaimana ditunjukkan Al-Zamakhsyari, peralihan wacana secara tiba-tiba dari kata ganti orang kedua jamak menjadi kata ganti orang ketiga merupakan isyarat dari penyangkalan yang keras oleh Allah—”berpalingnya” Allah, demikianlah kira-kira, dari orang-orang yang sedang atau telah melakukan dosa karena memecah belah persatuan orang-orang yang beriman. (Lihat juga Surah Al-Mu’minun [23]: 53 dan catatan no. 30 yang terkait.)


Surah Al-Anbiya’ Ayat 94

فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ

fa may ya’mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu`minun fa lā kufrāna lisa’yih, wa innā lahụ kātibụn

94. Sungguhpun begitu, siapa pun yang mengerjakan amal saleh [yang paling ringan] sedang dia orang beriman, jerih payahnya tidak akan dimungkiri: sebab, perhatikanlah, Kami akan mencatatnya untuk kepentingannya.91


91 Yakni, bahkan perpecahan dalam kesatuan keagamaan pun dapat diampuni selama hal itu tidak melibatkan suatu penyembahan terhadap tuhan-tuhan atau nilai-nilai moral yang keliru (bdk. ayat 98-99 berikutnya); dalam konteks di atas, inilah makna penekanan “sedang dia orang beriman”—suatu gaung dari prinsip yang dengan jelas diuraikan dalam Surah Al-Baqarah [2]: 62 dan dalam beberapa bagian Al-Quran lainnya.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 95

وَحَرَامٌ عَلَىٰ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

wa ḥarāmun ‘alā qaryatin ahlaknāhā annahum lā yarji’ụn

95. Karena itu, suatu kepastian tentang92 masyarakat mana pun yang pernah Kami hancurkan bahwa mereka [adalah orang-orang yang] tidak pernah berpaling [dari jalan mereka. yang penuh dosa]93


92 Lit., “haram (haram) terhadap …”, yang mengungkapkan ketidakmungkinan untuk membayangkan apa pun yang berlawanan dengannya (Al-Zamakhsyari).

93 Yakni, kapan pun Allah membiarkan suatu masyarakat hancur, Dia melakukannya bukan karena mereka sesekali melakukan kesalahan, melainkan hanya karena mereka secara sadar dan final berkukuh enggan meninggalkan jalan mereka yang penuh dosa.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 96

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

ḥattā iżā futiḥat ya`jụju wa ma`jụju wa hum ming kulli ḥadabiy yansilụn

96. hingga sewaktu Ya’juj dan Ma’juj dibebaskan [ke dunia] dan turun berkerumun dari setiap sudut [bumi],94


94 Yakni, hingga Hari Kebangkitan, yang ditandai oleh kemunculan alegoris “Ya’juj dan Ma’juj” (lihat Surah Al-Kahfi [18], catatan no. 100, khususnya kalimat terakhir); sebab, pada Hari itulah pelaku dosa yang paling keras-hati sekali pun pada akhirnya akan menyadari kesalahannya dan akan diliputi dengan penyesalan yang terlambat.

Istilah hadab secara harfiah berarti “tanah yang diangkat” atau “kenaikan”, tetapi ungkapan min kulli hadabin di sini digunakan secara idiomatik, yang berarti “dari segala arah” atau “dari setiap sudut [bumi]”: yakni, suatu paparan tentang bencana sosial dan kultural yang dahsyat yang akan menimpa umat manusia sebelum datangnya Saat Terakhir.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 97

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

waqtarabal-wa’dul-ḥaqqu fa iżā hiya syākhiṣatun abṣārullażīna kafarụ, yā wailanā qad kunnā fī gaflatim min hāżā bal kunnā ẓālimīn

97. sementara janji yang benar [tentang kebangkitan] semakin dekat [pemenuhannya].

Akan tetapi kemudian, lihatlah! mata orang-orang yang [semasa hidupnya] berkukuh mengingkari kebenaran akan terbelalak ketakutan, [dan mereka akan berseru:] “Oh, celakalah kami! Kami sungguh lalai terhadap [janji kebangkitan] ini!—tidak, kami [berkukuh] berbuat zalim!”95


95 Yakni, dengan sengaja dan tanpa dalih apa pun karena semua nabi telah memperingatkan manusia akan Hari Kebangkitan dan Pengadilan: bdk. Surah Ibrahim [14]: 44-45. Kata “berkukuh” yang saya sisipkan dalam kurung menunjukkan niat, yang serupa dengan ungkapan alladzina kafaru, “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” (lihat juga catatan no. 6 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 6).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 98

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

innakum wa mā ta’budụna min dụnillāhi ḥaṣabu jahannam, antum lahā wāridụn

98. [Kemudian, akan dikatakan kepada mereka:] “Sungguh, kalian dan semua yang kalian [biasa] sembah selain Allah hanya akan menjadi bahan bakar neraka: itulah apa yang ditakdirkan bagi kalian.96


96 Lit., “kalian pasti meraihnya”. Ungkapan “semua yang kalian sembah selain Allah” meliputi tidak hanya semua khayalan keagamaan yang keliru, tetapi juga semua nilai etika batil yang diberi nilai sakral semi-Ilahi, yang semuanya tidak lain hanyalah “bahan bakar neraka”.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 99

لَوْ كَانَ هَٰؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا ۖ وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ

lau kāna hā`ulā`i ālihatam mā waradụhā, wa kullun fīhā khālidụn

99. Jika [objek sesembahan kalian yang batil] itu benar-benar tuhan, tentunya mereka tidak akan ditakdirkan baginya: akan tetapi [demikianlah, kalian] semua akan berkediaman di dalamnya!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 100

لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ

lahum fīhā zafīruw wa hum fīhā lā yasma’ụn

100. Bagi mereka rintihan di dalamnya, dan tiada [apa pun selain itu] yang akan mereka dengar di dalamnya.97


97 Dengan demikian, “ketulian” ruhani dalam kehidupan akhirat akan menjadi konsekuensi tak terelakkan dari seseorang yang tetap tidak mau mendengar, di dunia ini, suara kebenaran, sebagaimana “kebutaan” dan sifat lupa akan menjadi bagian dari penderitaan semua orang yang secara ruhani buta akan kebenaran (bdk. Surah TaHa [20]: 124-126).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 101

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَىٰ أُولَٰئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ

innallażīna sabaqat lahum minnal-ḥusnā ulā`ika ‘an-hā mub’adụn

101. [Akan tetapi,] perhatikanlah, adapun orang-orang yang telah ditetapkan bagi mereka [ketetapan] kebaikan tertinggi dari Kami98—mereka ini akan dijauhkan dari [neraka] itu:


98 Yakni, mereka yang telah dijanjikan surga berkat iman dan amal saleh mereka.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 102

لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا ۖ وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ

lā yasma’ụna ḥasīsahā, wa hum fī masytahat anfusuhum khālidụn

102. tidak ada suara darinya yang akan mereka dengar; dan mereka akan berkediaman di dalam segala hal yang pernah diinginkan oleh jiwa mereka.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 103

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

lā yaḥzunuhumul-faza’ul-akbaru wa tatalaqqāhumul-malā`ikah, hāżā yaumukumullażī kuntum tụ’adụn

103. Kemahadahsyatan [Hari Kebangkitan] tidak akan menyebabkan mereka bersedih karena para malaikat akan menyambut mereka dengan ucapan, “Inilah Hari [kemenangan] kalian [—Hari] yang telah dijanjikan kepada kalian!”


Surah Al-Anbiya’ Ayat 104

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

yauma naṭwis-samā`a kaṭayyis-sijilli lil-kutub, kamā bada`nā awwala khalqin nu’īduh, wa’dan ‘alainā, innā kunnā fā’ilīn

104. Pada Hari itu akan Kami gulung angkasa layaknya lembaran-lembaran tertulis digulung; [dan] seperti Kami telah mewujudkan ciptaan pertama, begitulah Kami akan mewujudkannya lagi99—suatu janji yang telah Kami tetapkan terhadap Kami sendiri: sebab, perhatikanlah, Kami mampu melakukan [segala sesuatu]!


99 Dalam kaitan ini, lihat Surah Ibrahim [14]: 48 dan catatan no. 63 yang terkait.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 105

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

wa laqad katabnā fiz-zabụri mim ba’diż-żikri annal-arḍa yariṡuhā ‘ibādiyaṣ-ṣāliḥụn

105. DAN, SUNGGUH, setelah mengingatkan [manusia],100 telah Kami tetapkan dalam semua kitab hikmat Ilahi bahwa hamba-hamba-Ku yang saleh akan mewarisi bumi:101


100 Lit., “setelah pengingat (al-dzikr)”. Tentang implikasi yang lebih dalam dari istilah dzikr dalam Al-Quran, lihat catatan no. 13 pada ayat 10 surah ini.

101 Zabur (yang secara harfiah berarti “kitab suci” atau “buku”) adalah istilah generik yang berarti “buku hikmat” apa pun: jadi, setiap dan semua Kitab Suci Ilahi yang diwahyukan Allah kepada para nabi (Al-Thabari). Pernyataan bahwa “hamba-hamba-Ku yang saleh akan mewarisi bumi” jelas merupakan resonansi dari janji Allah, “karena kalian pasti akan bangkit berjaya, jika kalian [benar-benar] beriman” (Surah Al-‘Imran [3]: 139)—yang mengisyaratkan bahwa hanya dengan iman pada Allah dan perilaku saleh di bumilah manusia dapat meraih derajat tertinggi yang telah digambarkan baginya berkat rahmat Sang Pencipta.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 106

إِنَّ فِي هَٰذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ

inna fī hāżā labalāgal liqaumin ‘ābidīn

106. perhatikanlah, dalam hal ini terdapat sebuah pesan bagi orang-orang yang [benar-benar] menyembah Allah.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn

107. Dan [demikianlah, wahai Nabi,] telah Kami utus engkau sebagai [bukti] rahmat [Kami] bagi semesta alam.102


102 Yakni, kepada semua manusia. Untuk penjelasan tentang prinsip fundamental yang mendasari pesan Al-Quran ini, lihat Surah al-A’raf [7]: 158 dan catatan no. 126 yang terkait. Universalitas wahyu Al-Quran muncul karena tiga faktor: pertama, seruannya kepada seluruh umat manusia terlepas dari faktor keturunan, ras, atau lingkungan kultural; kedua, fakta bahwa Al-Quran secara khusus menyeru akal manusia dan, karena itu, tidak mengasumsikan suatu dogma yang hanya dapat diterima berdasarkan kepercayaan buta semata; dan terakhir, fakta bahwa—berlawanan dengan semua Kitab Suci lain yang dikenal sejarah—susunan kata-kata Al-Quran tetap tak berubah sama sekali sejak pewahyuannya empat belas abad yang lalu dan, karena dicatat secara luas, akan tetap demikianlah untuk selamanya, sesuai dengan janji Allah, “Kami-lah yang benar-benar akan menjaganya [dari segala kerusakan]” (bdk. Surah Al-Hijr [15]: 9 dan catatan no. 10 yang terkait). Berkat tiga faktor inilah, Al-Quran menjadi tahap terakhir dari semua wahyu Allah, dan Nabi yang diberi wahyu Al-Quran ini untuk disampaikan kepada umat manusia disebut sebagai nabi terakhir (dalam istilah Al-Quran, “nabi penutup”, bdk. Surah Al-Ahzab [33]: 40).


Surah Al-Anbiya’ Ayat 108

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

qul innamā yụḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥid, fa hal antum muslimụn

108. Katakanlah: “Tiada lain yang diwahyukan kepadaku103 hanyalah bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa: maka, akankah kalian berserah diri kepada-Nya?”


103 Bdk. kalimat pertama ayat 45 surah ini. Penekanan pada wahyu Ilahi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan Nabi, yang disebutkan dalam rangkaian ayat tersebut, diungkapkan dalam bahasa Arab melalui partikel innama yang berfungsi memberi batasan.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 109

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ آذَنْتُكُمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۖ وَإِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ أَمْ بَعِيدٌ مَا تُوعَدُونَ

fa in tawallau fa qul āżantukum ‘alā sawā`, wa in adrī a qarībun am ba’īdum mā tụ’adụn

109. Akan tetapi, jika mereka berpaling, katakanlah: “Aku telah menyatakan ini secara adil dan sama kepada kalian semua,104 tetapi aku tidak tahu apakah [pengadilan] yang dijanjikan [Allah] kepada kalian itu sudah dekat atau masih jauh [waktunya].”


104 Ungkapan ‘ala sawa (lit., “dengan cara yang sama”) dalam konteks ini meliputi dua konsep yang berbeda: yakni, konsep kejujuran, yang berkaitan dengan kejelasan dan kejernihan berita di atas; serta konsep kesetaraan, yang menunjukkan bahwa berita tersebut ditujukan kepada umat manusia seluruhnya; itulah alasan terjemahan majemuk saya atas frasa ini.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 110

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُونَ

innahụ ya’lamul-jahra minal-qauli wa ya’lamu mā taktumụn

110. “Sungguh, Dia mengetahui semua yang dikatakan secara terbuka, sebagaimana Dia [sajalah yang] mengetahui semua yang kalian sembunyikan.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 111

وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

wa in adrī la’allahụ fitnatul lakum wa matā’un ilā ḥīn

111. Namun, [adapun aku,] aku tidak tahu apakah, mungkin, [penundaan balasan Allah] ini hanyalah suatu ujian bagi kalian dan suatu penangguhan sesaat [yang penuh belas kasih].”105


105 Lit., “kesenangan [hidup] untuk sementara waktu”: yakni, suatu kesempatan yang dengan penuh belas kasih diberikan Allah untuk meraih iman.


Surah Al-Anbiya’ Ayat 112

قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّ ۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمَٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

qāla rabbiḥkum bil-ḥaqq, wa rabbunar-raḥmānul-musta’ānu ‘alā mā taṣifụn

112. Katakanlah:106 “Wahai, Pemeliharaku! Berilah keputusan dengan benar!”—dan [katakanlah]: “Pemelihara kami adalah Sang Maha Pengasih, yang pertolongan-Nya selalu diminta terhadap semua [upaya] pendefinisian kalian [terhadap-Nya]!”107


106 Lihat catatan no. 5 pada ayat 4 surah ini.

107 Lit., “terhadap (‘ala) semua yang kalian nisbahkan [kepada-Nya] melalui deskripsi” atau “definisi” (lihat catatan no. 88 pada kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 100): menunjukkan bahwa hanya rahmat Allah-lah yang dapat menyelamatkan manusia dari upaya-upaya hina—yang dibisikkan oleh kelemahannya yang inheren—untuk menjadikan Allah “lebih dekat” kepada pemahaman manusiawinya sendiri, dengan cara membuat “definisi-definisi” tentang Dia yang transenden, tak terhingga, dan tidak terduga, melalui nalar-manusiawi.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top