6. Al-An’am (Hewan Ternak) – الانعام

Surat Al-An’am dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-An’am ( الانعام ) merupakan surah ke 6 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 165 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-An’am tergolong Surat Makkiyah.

Keseluruhan surah ini, dengan pengecualian mungkin dua atau tiga ayat, diwahyukan sekaligus menjelang akhir periode Makkah—hampir pasti pada tahun terakhir sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Nama Al-An’am (“Hewan Ternak”) diambil dari perkataan (dalam ayat 136 dan seterusnya) yang merujuk pada sejumlah takhayul pra-islam mengenai hewan-hewan yang biasa dipersembahkan bangsa Arab kepada berhala-berhala mereka. Betapapun kepercayaan dan praktik keberhalaan ini tampak bertahan singkat saja apabila dipandang dari sejarah Arab berikutnya, masalah tersebut dipaparkan oleh Al-Qur’an sebagai gambaran tentang kecenderungan manusia untuk menisbahkan sifat-sifat Ilahi atau semi-Ilahi kepada benda-benda ciptaan atau kekuatan-kekuatan imajiner (khayali). Kenyataannya, sebagian besar isi surah ini dapat digambarkan sebagai suatu argumen yang berlapis-lapis untuk melawan kecenderungan ini, yang sama sekali tidak terbatas hanya pada kepercayaan politeistik (syirik) yang terang-terangan saja. Inti argumennya adalah pemaparan tentang keesaan dan keunikan Allah. Dia adalah Sebab Pertama (Causa Prima) dari segala yang ada, tetapi “Tiada penglihatan manusia yang dapat menjangkau-Nya” (ayat 103), baik secara fisik maupun konseptual: dan, karenanya, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya, dan Maha Tinggi (Dia) melampaui segala definisi yang dapat manusia pikirkan” (ayat 100). Karena itu, segala upaya untuk “mendefinisikan” Allah dengan menggunakan kategori-kategori pemikiran manusia, atau mereduksi-Nya sehingga menjadi suatu konsep “sosok, pribadi, atau persona” (person) saja, merupakan suatu tindak penghujatan karena membatasi eksistensi-Nya yang tak terhingga. (Untuk menghindari konsep Tuhan sebagai suatu “persona”, Al-Qur’an selalu mengubah-ubah kata ganti yang mengacu pada-Nya: Dia disebut—sering kali dalam satu kalimat yang sama—sebagai “Dia”, “Aku”, “dan “Kami”; demikian pula kata ganti kepunyaan yang mengacu kepada Tuhan, selalu berubah-ubah antara “milik-Nya”, “milik-Ku”, dan “milik Kami”.)

Salah satu bagian yang menonjol dari surah ini adalah pernyataan (dalam ayat 50) bahwa Nabi hanyalah seorang manusia biasa, seperti halnya semua manusia lain, yang tidak dianugerahi dengan kekuatan supernatural apa pun, dan “hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya”. Dan, akhirnya, beliau diperintahkan untuk mengatakan (dalam ayat 162-163): “Perhatikanlah, shalatku, seluruh laku ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, … tiada sekutu dalam ketuhanan-Nya”.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-An’am Ayat 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ۖ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

al-ḥamdu lillāhillażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa ja’alaẓ-ẓulumāti wan-nụr, ṡummallażīna kafarụ birabbihim ya’dilụn

1. SEGALA PUJI bagi Allah, yang telah menciptakan lelangit dan bumi, dan menjadikan kegelapan yang pekat dan cahaya:1 sungguhpun demikian, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran menganggap kuasa-kuasa lain sederajat dengan Pemelihara mereka!


1 Baik “kegelapan” maupun “cahaya” digunakan di sini dalam konotasi spiritualnya. Dalam Al-Quran, “kegelapan” selalu disebut dalam bentuk jamak (zhulumat) untuk menekankan intensitasnya, dan karena itu, paling tepat diterjemahkan menjadi “kegelapan yang pekat” atau “pekatnya kegelapan”.


Surah Al-An’am Ayat 2

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ۖ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ

huwallażī khalaqakum min ṭīnin ṡumma qaḍā ajalā, wa ajalum musamman ‘indahụ ṡumma antum tamtarụn

2. Dia-lah yang telah menciptakan kalian dari tanah, dan kemudian menetapkan suatu batas-waktu [untuk kalian]—batas-waktu yang diketahui oleh Dia [saja].2 Sungguhpun begitu, kalian ragu-ragu—


2 Lit., “dan suatu batas-waktu ditetapkan di sisi-Nya”—yakni hanya diketahui oleh-Nya (Al-Manar VII, h. 298). Beberapa mufasir berpendapat bahwa “batas-waktu” (ajal) mengacu pada akhir dunia dan kebangkitan yang terjadi sesudah itu, sedangkan mufasir lain mengaitkannya dengan kehidupan manusia secara individual. Sebagian mufasir yang lain lagi berpendapat bahwa kata ajal yang disebutkan kali pertama mengacu pada kehidupan manusia secara individual, sedangan yang disebutkan kali kedua mengacu pada Hari Kebangkitan; menurut penafsiran yang disebutkan terakhir ini, frasa penutup itu bisa diterjemahkan sebagai berikut: “dan ada batas-waktu [yang lain] …” dan seterusnya. Bagaimanapun dengan mempertimbangkan ungkapan ajal musamma yang disebutkan dalam ayat-ayat lainnya dalam Al-Quran, istilah itu di sini paling tepat diterjemahkan menjadi “suatu batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya]” atau “diketahui [oleh-Nya]”, yakni mengacu pada kehidupan individu dan pada dunia sekaligus.


Surah Al-An’am Ayat 3

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

wa huwallāhu fis-samāwāti wa fil-arḍ, ya’lamu sirrakum wa jahrakum wa ya’lamu mā taksibụn

3. meskipun Dia adalah Allah di lelangit dan di bumi, yang mengetahui segala yang kalian rahasiakan maupun semua yang kalian lakukan secara terang-terangan, dan mengetahui apa yang pantas kalian dapatkan.


Surah Al-An’am Ayat 4

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

wa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ ‘an-hā mu’riḍīn

4. Namun, manakala pesan apa pun dari Pemelihara mereka sampai kepada mereka, mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran] berpaling darinya:3


3 Lit., “tidaklah datang kepada mereka suatu pesan dari pesan-pesan Pemelihara mereka kecuali mereka berpaling darinya”.


Surah Al-An’am Ayat 5

فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

fa qad każżabụ bil-ḥaqqi lammā jā`ahum, fa saufa ya`tīhim ambā`u mā kānụ bihī yastahzi`ụn

5. dan demikianlah, mereka mendustakan kebenaran ketika ia telah datang kepada mereka. Namun, kelak mereka akhirnya akan memahami apa yang biasa mereka cemoohkan.4


4 Lit., “akan sampai kepada mereka berita tentang apa-apa yang biasa mereka olok-olokkan” atau “cemoohkan”—yakni berlanjutnya kehidupan setelah kematian, pada khususnya, dan pesan Al-Quran, pada umumnya.


Surah Al-An’am Ayat 6

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

a lam yarau kam ahlaknā ming qablihim ming qarnim makkannāhum fil-arḍi mā lam numakkil lakum wa arsalnas-samā`a ‘alaihim midrāraw wa ja’alnal-an-hāra tajrī min taḥtihim fa ahlaknāhum biżunụbihim wa ansya`nā mim ba’dihim qarnan ākharīn

6. Apakah mereka tidak melihat berapa banyak generasi yang telah Kami hancurkan sebelum masa mereka—[orang-orang] yang telah Kami berikan suatu tempat [yang penuh dengan karunia] di muka bumi, yang belum pernah Kami berikan yang serupa itu kepada kalian, yang kepada mereka Kami curahkan nikmat samawi yang melimpah, dan yang pada kaki mereka Kami jadikan sungai-sungai mengalir? Namun, Kami hancurkan mereka karena dosa-dosa mereka dan membangkitkan orang-orang lain sebagai pengganti mereka.5


5 Lit., “suatu generasi yang lain setelah mereka”. Namun, dalam Al-Quran, kata qarn tidak selalu berarti “generasi”, tetapi bisa juga—bahkan lebih sering—berarti “suatu zaman”, atau “orang-orang pada zaman tertentu”, maupun “suatu peradaban” dalam pengertian historis kata ini.


Surah Al-An’am Ayat 7

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

walau nazzalnā ‘alaika kitāban fī qirṭāsin fa lamasụhu bi`aidīhim laqālallażīna kafarū in hāżā illā siḥrum mubīn

7. Namun, bahkan seandainya Kami turunkan kepadamu [wahai Nabi] suatu tulisan di atas kertas dan mereka menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri—orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu pastilah akan berkata, “Jelaslah, hal ini tidak lain hanyalah sebuah muslihat*!”


* {“Sebuah muslihat” (a deception) merupakan terjemahan yang diberikan oleh Muhammad Asad untuk kata sihr, yang dalam terjemahan Al-Quran Depag RI diadopsi menjadi sihir. Karena sihir merupakan sesuatu yang memperdaya manusia, ia bisa berarti suatu muslihat.—AM}


Surah Al-An’am Ayat 8

وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ ۖ وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا لَقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَ

wa qālụ lau lā unzila ‘alaihi malak, walau anzalnā malakal laquḍiyal-amru ṡumma lā yunẓarụn

8. Mereka berkata pula, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat [yang dapat dilihat]?” Namun, seandainya Kami turunkan seorang malaikat, segalanya pasti akan telah diputuskan,6 dan mereka tidak diberi penangguhan lagi [untuk bertobat].


6 Yakni, Hari Pengadilan telah datang—karena hanya pada saat itulah kekuatan-kekuatan yang digambarkan sebagai malaikat itu akan menampakkan diri mereka kepada manusa dalam bentuk mereka yang asli sehingga dapat dipahami manusia. (Bdk. ayat yang mirip dalam Surah Al-Baqarah [2]: 210.)


Surah Al-An’am Ayat 9

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ

walau ja’alnāhu malakal laja’alnāhu rajulaw wa lalabasnā ‘alaihim mā yalbisụn

9. Dan, [bahkan] seandainya Kami menunjuk seorang malaikat sebagai pembawa-pesan Kami,7 tentulah Kami jadikan ia [tampak sebagai] seorang lakl-laki—dan, dengan begitu, Kami hanya akan membingungkan mereka sama seperti mereka kini membingungkan diri mereka sendiri.8


7 Lit., “seandainya Kami menjadikannya seorang malaikat”— kata ganti “nya” (hu) jelas mengacu pada pembawa pesan Allah (Al-Zamakhsyari).

8 Lit., “tentu Kami membuat bingung bagi mereka apa yang membuat mereka bingung”. Karena manusia mustahil melihat malaikat dalam wujud mereka yang sebenarnya, “malaikat pembawa pesan itu” haruslah berwujud manusia—dengan demikian, tuntutan mereka untuk mendapatkan “pembuktian” atas kebenaran risalah secara langsung tetap tidak terpenuhi, dan kebingungan yang diciptakan oleh mereka sendiri itu pun tetap tidak terpecahkan.


Surah Al-An’am Ayat 10

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqadistuhzi`a birusulim ming qablika fa ḥāqa billażīna sakhirụ min-hum mā kānụ bihī yastahzi`ụn

10. Dan, sungguh, [bahkan] sebelum masamu, rasul-rasul telah dicemooh—tetapi, orang-orang yang mengejek mereka [pada akhirnya] justru diliputi oleh hal-hal yang biasa mereka cemoohkan itu.9


9 Lit., “apa-apa yang biasa mereka cemoohkan itu mengepung orang-orang yang telah mengejek mereka” (yakni mengejek rasul-rasul): maknanya adalah bahwa pencemoohan terhadap kebenaran spiritual, tak pelak lagi, akan berbalik pada si pencemooh dan tidak hanya membawa petaka terhadap kehidupan individual mereka setelah mati, tetapi juga—jika terus dilakukan oleh mayoritas orang dalam masyarakat—akan menghancurkan dasar moral masyarakat mereka dan akibatnya kebahagiaan duniawi mereka, dan bahkan kadang-kadang eksistensi fisik mereka.


Surah Al-An’am Ayat 11

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

qul sīrụ fil-arḍi ṡummanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatul-mukażżibīn

11. Katakanlah: “Jelajahilah muka bumi dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi terhadap orang-orang yang mendustakan kebenaran!”


Surah Al-An’am Ayat 12

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلْ لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

qul limam mā fis-samāwāti wal-arḍ, qul lillāh, kataba ‘alā nafsihir-raḥmah, layajma’annakum ilā yaumil-qiyāmati lā raiba fīh, allażīna khasirū anfusahum fa hum lā yu`minụn

12.Katakanlah: “Kepunyaan siapakah segala yang ada di lelangit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah, yang telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih.”10

Dia pasti akan menghimpun kalian semua bersama-sama pada Hari Kebangkitan, yang [kedatangannya] tidak diragukan lagi: namun, orang-orang yang telah menyia-nyiakan diri mereka sendiri—mereka itulah yang menolak beriman [pada-Nya],


10 Ungkapan “Allah telah menetapkan atas diri-Nya” (kataba ‘ala nafsihi) hanya muncul dua kali dalarn Al-Quran—dalam ayat ini dan ayat 54 surah ini—dan keduanya mengacu pada belas kasih dan rahmat (rahmah)-Nya; tidak ada sifat-sifat Ilahi lainnya yang digambarkan seperti sifat rahmah ini. Begtu besarnya belas kasih dan rahmat Allah ini ditekankan lebh lanjut dalam Surah Al-A’raf [7]: 156—”rahmat-Ku meliputi segata sesuatu”—dan dipertegas lagi dalam hadis sahih, yang di dalamnya Nabi bersabda bahwa Allah berfirrnan kepacia diri-Nya sendiri, “Sungguh, belas kasih dan rahmat-Ku rnelampaui murka-Ku” (Al-Bukhari dan Muslim).


Surah Al-An’am Ayat 13

وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa lahụ mā sakana fil-laili wan-nahār, wa huwas-samī’ul-‘alīm

13. meskipun kepunyaan-Nya-lah segala yang ada pada malam dan siang hari, dan Dia saja Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


Surah Al-An’am Ayat 14

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ ۗ قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul agairallāhi attakhiżu waliyyan fāṭiris-samāwāti wal-arḍi wa huwa yuṭ’imu wa lā yuṭ’am, qul innī umirtu an akụna awwala man aslama wa lā takụnanna minal-musyrikīn

14. Katakanlah: “Apakah aku akan mengambil sebagai penguasaku, siapa pun selain Allah, Pencipta lelangit dan bumi, padahal Dia-lah yang memberikan makanan, sedangkan Dia sendiri tidak membutuhkannya?”11

Katakanlah: “Aku diperintah supaya menjadi yang terkemuka di antara orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada Allah*, dan bukan termasuk12 di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.”


11 Lit., “padahal Dia-lah yang memberi makan [yang lainnya] dan tidak diberi makan”.

* (Kalimat ini merupakan terjemahan yang diberikan Asad untuk frasa awwala man aslama. Asad menerjemahkan kata awwal menjadi “terkemuka” (foremost), sedangkan dalam Al-Quran Depag RI, kata ini diterjemahkan menjadi “yang pertama kali”. Awwal berarti “yang pertama”. Namun, jika dikaitkan dengan orang yang menyerahkan diri, Nabi—yang kepadanya redaksi dalam ayat ini ditujukan—bukanlah orang pertama yang berserah diri. Agaknya, atas dasar inilah Asad memberikan pilihan terjemahan “terkemuka” untuk kata awwal dalam ayat ini.—AM}

12 Lit., “dan janganlah engkau menjadi”—suatu rujukan eliptis terhadap kata-kata yang diungkapkan dalam perintah ini.


Surah Al-An’am Ayat 15

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

15. Katakan: “Perhatikanlah, seandainya [kemudian] aku mendurhakai Pemeliharaku, aku takut akan penderitaan [yang akan menimpaku] pada Hari [Pengadilan] yang dahsyat itu.”


Surah Al-An’am Ayat 16

مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

may yuṣraf ‘an-hu yauma`iżin fa qad raḥimah, wa żālikal-fauzul-mubīn

16. Terhadap orang yang akan diselamatkan pada Hari itu, Dia sungguh telah melimpahkan rahmat-Nya: dan inilah kemenangan yang nyata.


Surah Al-An’am Ayat 17

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wa iy yamsaskallāhu biḍurrin fa lā kāsyifa lahū illā huw, wa iy yamsaska bikhairin fa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

17. Dan, seandainya Allah menyentuhkan kepada kalian kemalangan, tidak ada satu pun yang dapat menghilangkannya selain Dia; dan seandainya Dia menyentuhkan kepada kalian keberuntungan—Dia-lah yang berkuasa menetapkan segalanya:


Surah Al-An’am Ayat 18

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

wa huwal-qāhiru fauqa ‘ibādih, wa huwal-ḥakīmul-khabīr

18. sebab, hanya Dia-lah yang berkuasa atas ciptaan-ciptaan-Nya, dan Dia-lah Yang Mahabijaksana, Mahaawas.


Surah Al-An’am Ayat 19

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

qul ayyu syai`in akbaru syahādah, qulillāh, syahīdum bainī wa bainakum, wa ụḥiya ilayya hāżal-qur`ānu li`unżirakum bihī wa mam balag, a innakum latasy-hadụna anna ma’allāhi ālihatan ukhrā, qul lā asy-had, qul innamā huwa ilāhuw wāḥiduw wa innanī barī`um mimmā tusyrikụn

19. Katakanlah: “Siapakah yang paling kuat persaksiannya terhadap kebenaran?” Katakanlah: “Allah adalah saksi antara aku dan kalian; dan Al-Quran ini telah diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku dapat memberi peringatan kepada kalian dan kepada semua orang yang dapat ia jangkau.”

Dapatkah kalian benar-benar menjadi saksi bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?” Katakan: “Aku tidak bersaksi [seperti itu].” Katakan: “Dia adalah Tuhan Yang Esa; dan, perhatikanlah, aku sama sekali berlepas diri dari menisbahkan ketuhanan, seperti yang kalian lakukan, kepada apa pun selain-Nya!”13


13 Lit., “Aku bersih dari apa yang kalian serikatkan [dengan-Nya].”


Surah Al-An’am Ayat 20

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ ۘ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

allażīna ātaināhumul-kitāba ya’rifụnahụ kamā ya’rifụna abnā`ahum, allażīna khasirū anfusahum fa hum lā yu`minụn

20. Orang-orang yang telah Kami anugerahi wahyu terdahulu mengenali hal ini14 sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri; sungguhpun begitu, orang-orang [di kalangan mereka] yang telah menyia-nyiakan diri mereka sendiri—mereka itulah yang menolak beriman.


14 Yakni, kebenaran akan keesaan Allah yang transendental, yang ditekankan dalam semua kitab suci yang autentik.


Surah Al-An’am Ayat 21

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au każżaba bi`āyātih, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

21. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menisbahkan rekaan-rekaan dusta mereka sendiri kepada Allah atau mendustakan pesan-pesan-Nya?

Sungguh, orang-orang zalim seperti itu tidak akan pernah meraih kebahagiaan:


Surah Al-An’am Ayat 22

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa yauma naḥsyuruhum jamī’an ṡumma naqụlu lillażīna asyrakū aina syurakā`ukumullażīna kuntum taz’umụn

22. sebab, suatu Hari, akan Kami kumpulkan mereka semua, dan kemudian Kami akan berkata kepada orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah, “Kini, di manakah makhluk-makhluk yang kalian bayangkan bersekutu dengan Allah?”15


15 {those beings whom you imagined to have a share in God’s divinity?} Lit., “sekutu-sekutu [Tuhan] kalian yang kalian anggap [ada]”. Manakala Al-Quran menyebutkan kata syuraka’ (jamak dari syarik) dengan mengacu pada keyakinan, ia selalu berarti makhluk atau kekuatan yang nyata maupun imajiner yang dianggap memiliki sifat-sifat ketuhanan seperti Allah: karena itu, konsep ini—dan celaan terhadapnya dalam Islam—mengacu tidak hanya pada tindakan menyembah tuhan-tuhan batil, tetapi juga pada tindakan menisbahkan sifat-sifat dan kekuatan-kekuatan semi-Ilahi kepada para wail (saints, dalam pengertian liturgis kata ini), serta pada gagasan-gagasan abstrak seperti kekayaan, status sosial, kekuasaan, kebangsaan, dan sebagainya yang sering kali dianggap memiliki pengaruh objektif terhadap nasib manusia.


Surah Al-An’am Ayat 23

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ

ṡumma lam takun fitnatuhum illā ang qālụ wallāhi rabbinā mā kunnā musyrikīn

23. Kemudian, dalam kebingungan mereka yang memuncak, mereka hanya akan [mampu] berkata, “Demi Allah, Pemelihara kami, kami tidak [bermaksud untuk] menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya!”16


16 Ini mengacu pada keyakinan-keyakinan yang tak diragukan lagi merupakan syirk (“penisbahan ketuhanan atau sifat-sifat Ilahi kepada makhluk atau kekuatan selain Allah”) dalam pengertian objektif konsep ini, tetapi yang oleh penganutnya, secara subjektif, tidak dianggap sebagai pengingkaran terhadap keesaan Allah (Al-Razi): misalnya, dogma mistis “Trinitas” yang, dalam pandangan Kristen, tidak bertentangan dengan prinsip keesaan Tuhan karena dianggap mengungkapkan suatu “aspek tiga serangkai” dari Tuhan Yang Esa, atau penisbahan sifat-sifat Ilahi atau semi-Ilahi kepada para wali yang dianggap sebagai “perantara-perantara” antara manusia dan Allah, dan sebagainya. Tentu saja, semua keyakinan seperti ini secara tegas ditolak Al-Quran.


Surah Al-An’am Ayat 24

انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ ۚ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

unẓur kaifa każabụ ‘alā anfusihim wa ḍalla ‘an-hum mā kānụ yaftarụn

24. Perhatikanlah, bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri17—dan [bagaimana] rekaan-rekaan batil mereka telah meninggalkan mereka!


17 Yakni, dengan berpikir, ketika mereka hidup di dunia, bahwa keyakinan mereka tidak melanggar prinsip-prinsip keesaan Allah (Al-Razi). Namun, lihat juga Surah Yunus [10]: 28 dan catatan-catatannya (no. 45 dan no. 46).


Surah Al-An’am Ayat 25

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۖ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا ۚ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wa min-hum may yastami’u ilaīk, wa ja’alnā ‘alā qulụbihim akinnatan ay yafqahụhu wa fī āżānihim waqrā, wa iy yarau kulla āyatil lā yu`minụ bihā, ḥattā iżā jā`ụka yujādilụnaka yaqụlullażīna kafarū in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

25. Dan, di kalangan mereka, ada yang [tampaknya] mendengarkanmu [wahai Nabi]: tetapi, di atas hati mereka, telah Kami letakkan selubung-selubung yang mencegah mereka memahami kebenaran, dan ke dalam telinga mereka, ketulian.18 Dan, andaikan mereka melihat setiap tanda [kebenaran], mereka tetap saja tidak akan memercayainya—sedemikian kerasnya sehlngga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu berkata, “Ini tiada lain hanyalah dongeng-dongeng masa lalu!”


18 Mengenai tindakan Allah yang “menyebabkan” kebutaan dan ketulian spiritual ini, lihat Surah Al-Baqarah [2]: 7 dan catatannya, serta catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-An’am Ayat 26

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ ۖ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

wa hum yan-hauna ‘an-hu wa yan`auna ‘an-h, wa iy yuhlikụna illā anfusahum wa mā yasy’urụn

26. Dan, mereka halangi orang lain darinya dan pergi menjauh darinya: tetapi, mereka tidak menghancurkan siapa pun selain diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.


Surah Al-An’am Ayat 27

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

walau tarā iż wuqifụ ‘alan-nāri fa qālụ yā laitanā nuraddu wa lā nukażżiba bi`āyāti rabbinā wa nakụna minal-mu`minīn

27. Andaikan engkau mampu melihat [mereka] ketika mereka akan dihadapkan di depan api dan akan berkata, “Aduhai, kiranya kami dikembalikan [hidup] lagi: maka tentu kami tidak akan mendustakan pesan-pesan Pemelihara kami, tetapi akan termasuk di antara orang-orang yang beriman!”


Surah Al-An’am Ayat 28

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

bal badā lahum mā kānụ yukhfụna ming qabl, walau ruddụ la’ādụ limā nuhụ ‘an-hu wa innahum lakāżibụn

28. Namun, sama sekali tidak—[mereka akan mengatakan hal ini hanya karena] kebenaran yang biasa mereka sembunyikan [dari diri mereka sendiri] pada masa lalu akan menjadi nyata bagi mereka; dan andaikan mereka dikembalikan [hidup lagi], mereka akan kembali lagi pada apa-apa yang telah diharamkan bagi mereka: sebab, perhatikanlah, sesungguhnya mereka itu pendusta!19


19 Yakni, keinginan mereka untuk mendapatkan “kesempatan kedua” itu bukanlah disebabkan oleh kecintaan mereka pada kebenaran karena kebenaran itu sendiri, tetapi lebih disebabkan oleh ketakutan mereka akan akibat buruk dari perbuatan mereka; dan “iman tidaklah berguna kecuali kalau dihasrati karena iman itu sendiri” (Al-Razi).


Surah Al-An’am Ayat 29

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

wa qālū in hiya illā ḥayātunad-dun-yā wa mā naḥnu bimab’ụṡīn

29. Dan, sebagian [dari orang-orang yang tidak beriman itu] berkata, “Tiada apa pun di luar kehidupan kita di dunia ini karena kami tidak akan dibangkitkan dari kematian.”


Surah Al-An’am Ayat 30

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

walau tarā iż wuqifụ ‘alā rabbihim, qāla a laisa hāżā bil-ḥaqq, qālụ balā wa rabbinā, qāla fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

30. Andaikan engkau mampu melihat [mereka] ketika mereka akan dihadapkan kepada Pemelihara mereka [dan] Dia akan berfirman, “Bukankah ini kebenaran?”

Mereka akan menjawab, “Benar, sungguh, demi Pemelihara kami!”

[Maka,] Dia akan berfirman, “Maka, rasakanlah derita yang lahir dari20 penolakan kalian mengakui kebenaran!”


20 Lit., “derita [atau ‘hukuman’] karena” atau “sebagai konuensi dari”. Partikel bi-ma di sini mengungkapkan suatu hubungan sebab-akibat antara pengingkaran kebenaran dan penderitaan yang dirasakan setelahnya, sehingga paling tepat diterjemahkan seperti di atas.


Surah Al-An’am Ayat 31

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

qad khasirallażīna każżabụ biliqā`illāh, ḥattā iżā jā`at-humus-sā’atu bagtatang qālụ yā ḥasratanā ‘alā mā farraṭnā fīhā wa hum yaḥmilụna auzārahum ‘alā ẓuhụrihim, alā sā`a mā yazirụn

31. Sungguh, telah rugilah orang-orang yang menganggap dusta bahwa mereka pasti akan bertemu dengan Allah—hingga Saat Terakhir tiba-tiba datang kepada mereka [dan] mereka berteriak, “Aduhai, kecelakaanlah bagi kami (karena) melalaikannya!”—karena mereka akan memikul di atas punggung mereka beban dosa-dosa mereka:21 aduhai, betapa buruknya muatan yang dibebankan kepada mereka itu!


21 Lit., “beban-beban mereka”. Terjemahan saya menjadi “beban dosa-dosa mereka” didasarkan atas penafsiran Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi.


Surah Al-An’am Ayat 32

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa mal-ḥayātud-dun-yā illā la’ibuw wa lahw, wa lad-dārul-ākhiratu khairul lillażīna yattaqụn, a fa lā ta’qilụn

32. Dan, tiadalah kehidupan dunia ini melainkan suatu permainan dan kesenangan sementara saja; dan kehidupan akhirat itu jauh lebih baik bagi semua orang yang sadar akan Allah. Maka, tidakkah kalian menggunakan akal?


Surah Al-An’am Ayat 33

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

qad na’lamu innahụ layaḥzunukallażī yaqụlụna fa innahum lā yukażżibụnaka wa lākinnaẓ-ẓālimīna bi`āyātillāhi yaj-ḥadụn

33. Kami benar-benar mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang semacam itu22 sungguh menyedihkan hatimu: sungguhpun begitu, perhatikanlah, bukan engkaulah yang mereka dustakan, melainkan pesan-pesan Allah-lah yang diingkari oleh orang-orang zalim ini.


22 Lit., “apa yang mereka katakan”—yakni tentang kehidupan setelah mati (yang mereka anggap sebagai “dongeng”), pada khususnya, dan tentang pesan Al-Quran, pada umumnya.


Surah Al-An’am Ayat 34

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

wa laqad kużżibat rusulum ming qablika fa ṣabarụ ‘alā mā kużżibụ wa ụżụ ḥattā atāhum naṣrunā, wa lā mubaddila likalimātillāh, wa laqad jā`aka min naba`il-mursalīn

34. Dan, sungguh, [bahkan] sebelum masamu, rasul-rasul telah didustakan, dan mereka bertahan dengan sabar atas segala pendustaan itu dan atas segala penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka hingga pertolongan dari Kami datang kepada mereka: sebab, tiada kekuasaan yang mampu mengubah [akibat dari] janji-janji Allah. Dan, sebagian dari sejarah rasul-rasul itu telah sampai kau ketahui.23


23 {And some of the histories of those apostles have already come within thy ken.} Lit., “sebagian berita tentang para rasul itu telah datang kepadarnu”: mengacu pada fakta bahwa hanya sedikit nabi-nabi terdahulu dan kisah-kisah mereka yang disebutkan secara khusus dalam Al-Quran (dan penyebutannya selalu berhubungan dengan ajaran moral tertentu). Mayoritas nabi hanya disinggung secara umum untuk mendukung pernyataan Ilahi bahwa tiada satu pun masyarakat atau peradaban dibiarkan tanpa mendapat petunjuk kenabian.


Surah Al-An’am Ayat 35

وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

wa ing kāna kabura ‘alaika i’rāḍuhum fa inistaṭa’ta an tabtagiya nafaqan fil-arḍi au sullaman fis-samā`i fa ta`tiyahum bi`āyah, walau syā`allāhu lajama’ahum ‘alal-hudā fa lā takụnanna minal-jāhilīn

35. Dan, jika berpalingnya orang-orang yang mengingkari kebenaran itu24 menyusahkan engkau—maka, jika engkau mampu menembus jauh ke dalam bumi atau menaiki sebuah tangga ke langit25 untuk membawakan bagi mereka suatu pesan [yang lebih meyakinkan], [lakukanlah itu;] tetapi [ingatlah bahwa] andaikan Allah menghendaki demikian, Dia pasti telah mengumpulkan mereka semua ke dalam petunjuk[-Nya]. Karena itu, jangan biarkan dirimu lalai [akan jalan-jalan Allah].26


24 Lit., “mereka”.

25 Lit., “mencari lubang di bumi atau tangga ke langit”.

26 Lit., “maka janganlah termasuk di antara orang-orang yang lalai”.


Surah Al-An’am Ayat 36

إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ ۘ وَالْمَوْتَىٰ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

innamā yastajībullażīna yasma’ụn, wal-mautā yab’aṡuhumullāhu ṡumma ilaihi yurja’ụn

36. Hanya orang-orang yang mendengar [dengan hati mereka] yang dapat menanggapi seruan; dan adapun orang-orang yang mati [hatinya], Allah [saja] yang dapat membangkitkan mereka dari kematian, kemudian kepada-Nya-lah mereka akan kembali.27


27 Lit., “mereka akan dikembalikan”. Mayoritas mufasir klasik (misalnya, Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, serta mufasir-mufasir awal yang mereka kutip) menafsirkan ayat ini dalam pengertian metatoris seperti yang saya terjemahkan. Makna eliptis ayat di atas hanya bisa ditunjukkan melalui penyisipan—suatu hal yang sering terjadi dalam diksi Al-Quran.


Surah Al-An’am Ayat 37

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

wa qālụ lau lā nuzzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, qul innallāha qādirun ‘alā ay yunazzila āyataw wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

37. Dan, mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan pertanda yang ajaib* kepadanya28 oleh Pemeliharanya?” Katakan: “Perhatikanlah, Allah berkuasa menurunkan tanda apa pun.”

Sungguhpun begitu, kebanyakan manusia tidak menyadari hal ini29


* {“Pertanda yang ajaib” (miraculous sign) adalah terjemahan yang diberikan Asad untuk kata ayat. Dalam Al-Quran Depag RI, kata tersebut diterjemahkan menjadi “mukjizat”. Makna asal ayat, jika dinisbahkan kepada Nabi, adalah “tanda” kenabian yang dipahami sebagai “mukjizat”, yang kemudian diartikan dengan “segala sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan” (khawariq al-‘adat) dan, karenanya, menurut Asad, merupakan “pertanda yang ajaib”. Meskipun demikian, di tempat lain, misalnya dalam ayat 109 surah ini, Asad menerjemahkannya menjadi “mukjizat” (miracle). Perlu diketahui bahwa istilah mukjizat (mu’jizat) tidak pernah ditemukan dalam Al-Quran, kecuali dalam bentuk-bentuk verba. Kalau ada yang berbentuk nomina (mashdar), bentuknya bukan mu’jizat, melainkan mu’jiz dan tidak menunjuk pada pengertian “sesuatu yang ajaib”, atau “yang menyimpang dari kebiasaan”. Untuk “tanda-tanda kenabian”, Al-Quran tidak menggunakan kata mu’jizat, tetapi ayat (tanda) atau ayat (jamak dari ayat; tanda-tanda).—AM}

28 Yakni, kepada Muhammad Saw., untuk menunjukkan bahwa dia benar-benar rasul Allah.

29 Lit., “kebanyakan mereka tidak mengetahui”, yakni, bahwa Allah selalu memanifestasikan diri-Nya—sebagaimana ditunjukkan dalam ayat selanjutnya—melalui keajaiban penciptaan yang terus berlangsung.


Surah Al-An’am Ayat 38

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

wa mā min dābbatin fil-arḍi wa lā ṭā`iriy yaṭīru bijanāḥaihi illā umamun amṡālukum, mā farraṭnā fil-kitābi min syai`in ṡumma ilā rabbihim yuḥsyarụn

38. walaupun, tiada hewan yang berjalan di bumi dan tiada burung yang terbang dengan kedua sayapnya, yang bukan merupakan makhluk [Allah pula]30 sebagaimana diri kalian sendiri:* tiada sesuatu pun Kami abaikan dalam ketetapan Kami.

Dan, sekali lagi:31 mereka [semua] akan dikumpulkan kepada Pemelihara mereka.


30 Lit., “kecuali mereka adalah makhluk-makhluk (umam) [Allah]”. Kata ummah (jamaknya: umam) pada dasarnya menunjukkan sebuah kelompok makhluk hidup yang mempunyai ciri-ciri atau kondisi tertentu yang sama. Jadi, kata itu sering sama artinya dengan “komunitas”, “orang-orang”, “bangsa”, “kelompok”, “generasi”, dan sebagainya. Karena setiap pengelompokan seperti itu dicirikan dengan fakta mendasar bahwa unsur-unsur pokoknya (baik manusia ataupun hewan) dianugerahi nyawa, kata ummah kadang-kadang berarti “makhluk [Allah]” (Lisan Al-‘Arab, dengan referensi khusus pada ayat Al-Quran ini pula; juga Lane I, h. 90). Dengan demikian, arti ayat di atas adalah: Manusia dapat menemukan “tanda-tanda” Allah atau “keajaiban-keajaiban” Allah dalam semua fenomena hidup yang mengelilinginya dan, karena itu, hendaknya mencoba mengamatinya dengan tujuan mencapai pemahaman yang lebih baik tentang “ketetapan Allah” (sunnah Allah)—istilah AI-Quran untuk apa yang kita sebut sebagai “hukum alam” (laws of nature).

* {ini merupakan terjemahan yang diberikan Asad untuk frasa illa umam amtsalukum, yang dalam AI-Quran Depag RI diterjemahkan menjadi “melainkan umat-umat (juga) seperti kamu”. Dalam terjemahan yang diberikan oleh Asad, partikel illa seakan-akan dianggap sebagai la yang berarti “tidak”, sehingga frasa illa umam amtsalukum seakan-akan menjadi la umam amtsaIukum, sehingga penerjemahannya menjadi “yang bukan merupakan makhluk (Allah pula) sebagaimana diri kalian sendiri”.—AM}

31 Partikel tsumma kebanyakan digunakan sebagai kata hubung yang menunjukkan urut-urutan waktu atau giliran (“kemudian”, “setelah itu”, “Ialu”), dan adakalanya juga digunakan sebagai kata hubung yang sama artinya dengan “dan”. Akan tetapi, dalam penggunaan lainnya—yang sering tercantum datam Al-Quran dan juga dalam sajak Arab pra-islam—tsumma berarti penekanan yang berulang, yang mengacu pada suatu hal yang telah dinyatakan dan kini ditegaskan kembali. Penggunaan khusus partikel tsumma ini paling tepat diterjemahkan menjadi “dan sekali lagi”, dengan diikuti oleh titik dua {and once again:}.


Surah Al-An’am Ayat 39

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ ۗ مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā ṣummuw wa bukmun fiẓ-ẓulumāt, may yasya`illāhu yuḍlil-hu wa may yasya` yaj’al-hu ‘alā ṣirāṭim mustaqīm

39. Dan, orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami adalah tuli dan bisu, (dan) berada dalam gelap gulita. Siapa pun yang Allah kehendaki, Dia biarkan tersesat; dan siapa pun yang Dia kehendaki, Dia tempatkan di jalan yang lurus.32


32 Lihat catatan no. 4 pada Surah Ibrahim [14]: 4.


Surah Al-An’am Ayat 40

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul a ra`aitakum in atākum ‘ażābullāhi au atatkumus-sā’atu a gairallāhi tad’ụn, ing kuntum ṣādiqīn

40. Katakanlah: “Dapatkah kalian melihat diri kalian sendiri** menyeru kepada siapa pun kecuali Allah ketika siksaan Allah menimpa kalian [di dunia ini] atau ketika Saat Terakhir mendatangi kalian? [Katakanlah hal ini kepadaku,] jika kalian orang-orang yang benar!


** {ini adalah terjemahan yang diberikan Asad untuk frasa ara’aitakum. Dalam Al-Quran Depag RI, frasa ini diterjemahkan menjadi “Terangkan kepadaku bagaimana pendapatmu”. Terjemahan Depag agaknya menyamakan ara’aitakum dengan ara’aitum, yang berarti “bagaimana pendapat kalian”, yang sejenis dengan ara’aita (misalnya dalam Surah Al-Ma’un [107]: 1) yang berarti “Tahukah kamu” atau “Bagaimana pendapatmu”. Selanjutnya, bandingkan terjemahan yang diberikan Asad dan terjemahan Depag untuk frasa yang mirip dengan itu pada ayat 47 surah ini.—AM}


Surah Al-An’am Ayat 41

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

bal iyyāhu tad’ụna fa yaksyifu mā tad’ụna ilaihi in syā`a wa tansauna mā tusyrikụn

41. Sama sekali tidak, tetapi Dia sajalah yang akan kalian seru—kemudian Dia, jika Dia menghendaki, dapat menghilangkan [sakit] yang menyebabkan kalian menyeru kepada-Nya; dan kalian akan telah melupakan segala yang [kini] kalian persekutukan dengan-Nya.”


Surah Al-An’am Ayat 42

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

wa laqad arsalnā ilā umamim ming qablika fa akhażnāhum bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la’allahum yataḍarra’ụn

42. Dan, sungguh, Kami telah menyampaikan pesan-pesan Kami kepada umat-umat sebelum masamu, [wahai Nabi,] dan Kami timpakan kepada mereka kemalangan dan kesukaran agar mereka merendahkan diri:


Surah Al-An’am Ayat 43

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

falau lā iż jā`ahum ba`sunā taḍarra’ụ wa lāking qasat qulụbuhum wa zayyana lahumusy-syaiṭānu mā kānụ ya’malụn

43. namun, ketika kemalangan yang Kami tetapkan menimpa mereka, mereka tidak merendahkan diri, alih-alih hati mereka menjadi keras karena setan telah menjadikan semua perbuatan mereka tampak baik bagi mereka.


Surah Al-An’am Ayat 44

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

fa lammā nasụ mā żukkirụ bihī fataḥnā ‘alaihim abwāba kulli syaī`, ḥattā iżā fariḥụ bimā ụtū akhażnāhum bagtatan fa iżā hum mublisụn

44. Maka, tatkala mereka telah melupakan semua yang telah diperintahkan untuk dicamkan, Kami bukakan bagi mereka pintu gerbang segala sesuatu [yang baik]33 hingga—bahkan ketika mereka gembira terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka tiba-tiba Kami hukum mereka: dan, lihatlah! mereka menjadi patah semangat;34


33 Yakni, untuk menguji mereka dengan kebahagiaan setelah menguji mereka dengan kesengsaraan.

34 Verba ablasa berarti “dia berputus asa” atau “menjadi patah semangat”. (Untuk kaitan linguistik kata ini dengan nama iblis, sang Malaikat yang Jatuh, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 10.)


Surah Al-An’am Ayat 45

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

fa quṭi’a dābirul-qaumillażīna ẓalamụ, wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

45. dan [pada akhirnya,] sisa-sisa terakhir dari kaum yang berkukuh berbuat zalim itu dimusnahkan.35

Karena segala puji hanya bagi Allah, Pemelihara seluruh alam.


35 Lit., “terpotong”. Ayat di atas mengilustrasikan suatu fenomena yang masyhur dalam sejarah: yakni, bahwa masyarakat yang telah buta terhadap cahaya kebenaran spiritual pasti akan mengalami disintegrasi sosial dan moral.


Surah Al-An’am Ayat 46

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

qul a ra`aitum in akhażallāhu sam’akum wa abṣārakum wa khatama ‘alā qulụbikum man ilāhun gairullāhi ya`tīkum bih, unẓur kaifa nuṣarriful-āyāti ṡumma hum yaṣdifụn

46. Katakanlah: “Bagaimana pendapat kalian? Seandainya Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kalian serta menutup hati kalian—tuhan manakah selain Allah yang dapat mengembalikannya kepada kalian?”

Perhatikanlah, betapa Kami jadikan pesan-pesan Kami memiliki begitu banyak sisi—dan sungguhpun begitu, mereka berpaling seraya mencibirnya.


Surah Al-An’am Ayat 47

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ

qul a ra`aitakum in atākum ‘ażābullāhi bagtatan au jahratan hal yuhlaku illal-qaumuẓ-ẓālimụn

47. Katak:anlah: “Dapatkah kalian membayangkan bagaimana kiranya keadaan kalian36 seandainya siksaan Allah menimpa kalian, baik secara tiba-tiba maupun dalarn suatu cara yang terang-terangan [secara perlahan-lahan]? [Namun, kemudian—] adakah yang [akan] dihancurkan selain dari kaum yang zalim?”37


36 Lit., “Dapatkah kalian melihat diri kalian sendiri”.

37 Yakni, kaum yang saleh tidak akan pernah benar-benar “dihancurkan”—karena, sekalipun mereka hancur secara fisik, mereka pasti akan mencapai kebahagiaan spiritual dan, karenanya, tidak dapat dikatakan telah “dihancurkan” seperti orang-orang zalim yang, karena perbuatan mereka, kehilangan kebahagiaan mereka, baik di dunia ini maupun dalam kehidupan mendatang (Al-Razi).


Surah Al-An’am Ayat 48

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

wa mā nursilul-mursalīna illā mubasysyirīna wa munżirīn, fa man āmana wa aṣlaḥa fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

48. Dan, Kami mengutus para rasul [Kami] hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan: karena itu, semua orang yang beriman dan hidup secara saleh—mereka tidak perlu takut dan tidak pula akan bersedih hati;


Surah Al-An’am Ayat 49

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

wallażīna każżabụ bi`āyātinā yamassuhumul-‘ażābu bimā kānụ yafsuqụn

49. sedangkan orang-orang yang mendustakan pesan-pesan Kami—penderitaan akan menimpa mereka sebagai akibat dari semua perbuatan dosa mereka.


Surah Al-An’am Ayat 50

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

qul lā aqụlu lakum ‘indī khazā`inullāhi wa lā a’lamul-gaiba wa lā aqụlu lakum innī malak, in attabi’u illā mā yụḥā ilayy, qul hal yastawil-a’mā wal-baṣīr, a fa lā tatafakkarụn

50. Katakanlah [wahai Nabi]: “Aku tidak mengatakan kepada kalian, ‘Perbendaharaan Allah ada padaku’; tidak pula [aku katakan], ‘Aku mengetahui hal-hal yan berada di luar jangkauan persepsi manusia’; tidak pula aku berkata kepada kalian, ‘Perhatikanlah, aku adalah malaikat’: aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.”38

Katakan: “Dapatkah orang buta dianggap sama dengan orang yang melihat?39 Maka, apakah kalian tidak berpikir?”


38 Sanggahan Nabi terhadap klaim apa pun yang menyatakan bahwa dia memiliki kekuatan-kekuatan gaib, mengacu terutama pada tuntutan orang-orang yang tidak beriman (yang disebutkan dalam ayat 37) agar Nabi membuktikan misi kerasulannya dengan memperlihatkan suatu “pertanda yang ajaib (mukjizat)”. Namun, selain mengacu pada hal yang spesifik ini, ayat tersebut juga dimaksudkan untuk mencegah agar jangan sampai Nabi didewa-dewakan, dan untuk memperjelas bahwa dia—seperti nabi-nabi lain sebelumnya—hanyalah manusia biasa yang akan mati, dan hanyalah seorang hamba yang telah dipilih oleh Allah untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat manusia. Lihat juga Surah Al-A’raf [7]: 188.

39 Yakni, “Dapatkah orang-orang yang tetap buta dan tuli terhadap pesan-pesan Allah menemukan jalan mereka dalam kehidupan ini sama baiknya dengan orang-orang yang telah meraih visi spiritual dan petunjuk melalui wahyu Allah?”


Surah Al-An’am Ayat 51

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa anżir bihillażīna yakhāfụna ay yuḥsyarū ilā rabbihim laisa lahum min dụnihī waliyyuw wa lā syafī’ul la’allahum yattaqụn

51. Dan, peringatkanlah dengan ini, orang-orang yang takut kalau-kalau mereka dikumpulkan kepada Pemelihara mereka tanpa ada siapa pun yang akan melindungi atau membela mereka dari-Nya, agar mereka menjadi sadar [sepenuhnya] akan Dia.40


40 Dari konteksnya, jelaslah bahwa ayat ini mengacu pada para pengikut kitab-kitab suci yang lebih awal—seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani—yang, sebagaimana para pengikut Al-Quran, sama-sama percaya pada kehidupan setelah mati (Al-Zamakhsyari), serta mengacu pula pada kaum agnostik yang, walaupun tidak memiliki keyakinan yang pasti mengenai hal ini, mengakui kemungkinan adanya hidup setelah mati.


Surah Al-An’am Ayat 52

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

wa lā taṭrudillażīna yad’ụna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdụna waj-hah, mā ‘alaika min ḥisābihim min syai`iw wa mā min ḥisābika ‘alaihim min syai`in fa taṭrudahum fa takụna minaẓ-ẓālimīn

52. Karena itu, janganlah mengusir [siapa pun dari kalangan] orang-orang yang menyeru Pemelihara mereka pada pagi dan petang hari untuk mencari ridha-Nya.41 Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap mereka—sebagaimana mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadapmu42—dan, karena itu, engkau tidak berhak mengusir mereka: sebab, jika demikian, engkau akan termasuk di antara orang-orang yang zalim.43


41 Menurut sejumlah hadis, ayat ini dan ayat berikutnya diwahyukan beberapa tahun sebelum kaum Muslim hijrah ke Madinah, ketika beberapa pemuka kaum musyrik Makkah mengungkapkan kesediaan mereka untuk mempertimbangkan menerima Islam dengan syarat bahwa Nabi mau memisahkan dirinya dari bekas budak-budak dan orang-orang “rendahan” lainnya di antara para pengikutnya—sebuah tuntutan yang tentu saja ditolak Nabi. Namun, acuan historis ini tidak sepenuhnya menjelaskan ayat di atas. Sesuai dengan metode Al-Quran, paparan mengenai peristiwa-peristiwa sejarah—baik yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa kontemporer maupun masa lalu—selalu disajikan untuk mengungkapkan ajaran-ajaran etis yang bersifat permanen; demikian pula dengan ayat yang sedang dibahas ini. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh redaksi kalimatnya, ayat ini mengacu bukan pada pengikut-pengikut Islam “lapisan bawah”, melainkan pada orang-orang yang, walaupun tidak beragama Islam dalam pengertian kata itu kini, percaya pada Tuhan dan selalu (“pada pagi dan petang hari”) “mencari ridha-Nya”, (yakni rahmat dan penerimaan-Nya): jadi, ayat 52-53 secara logis berkaitan dengan ayat 51. Meskipun pada dasarnya ditujukan kepada Nabi, peringatan-peringatan yang disuarakan pada ayat ini ditujukan kepada seluruh pengikut Al-Quran: yakni, mereka dilarang untuk menolak siapa saja yang beriman pada Allah—meskipun keimanannya tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang dituntut Al-Quran—tetapi, sebaliknya, mereka harus mencoba menolongnya dengan menjelaskan ajaran-ajaran Al-Quran dengan sabar.

42 Yakni, tidak bertanggung jawab terhadap apa pun keyakinan atau perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Quran, dan sebaliknya. Dengan kata lain, semuanya dipertanggungjawabkan kepada Allah semata.

43 Lit., “sehingga engkau mengusir mereka dan, karena itu, termasuk di antara orang-orang yang zalim”.


Surah Al-An’am Ayat 53

وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

wa każālika fatannā ba’ḍahum biba’ḍil liyaqụlū a hā`ulā`i mannallāhu ‘alaihim mim baininā, a laisallāhu bi`a’lama bisy-syākirīn

53. Karena dengan cara inilah44 Kami uji manusia satu dengan yang lainnya—supaya akhirnya mereka bertanya, “Maka, apakah Allah melimpahkan anugerah-Nya kepada orang-orang itu, alih-alih kepada kami?”45 Tidakkah Allah lebih mengetahui siapa yang bersyukur [kepada-Nya]?


44 Yakni, dengan menganugerahi manusia kekuatan berpikir dan, karena itu, secara tidak langsung, melahirkan bentuk-bentuk keimanan yang beraneka ragam.

45 Lit., “Inikah orang-orang yang telah Allah anugerahkan karunia-Nya di antara kami (min bainina)?” Sebagaimana dikatakan oteh Al-Zamakhsyari, ungkapan min bainina di sini sama dengan min dunina, yang dalam konteks ini bisa diterjemahkan menjadi “alih-alih kepada kami”. Tampaknya, hal ini merupakan suatu paparan tentang ketidakpercayaan orang-orang non-Muslim yang biasanya disampaikan secara sarkastis ketika mendengar klaim kaum Muslim bahwa Al-Quran adalah risalah terakhir yang disampaikan Allah kepada manusia. “Ujian” yang disebutkan dalam ayat di atas berupa keengganan umat agama lain untuk menerima kesahihan klaim ini, dan itu juga berarti penolakan untuk membuang prasangka terhadap Islam yang ditanamkan oleh lingkungan kultural dan historis mereka, secara sadar maupun tidak sadar.


Surah Al-An’am Ayat 54

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa iżā jā`akallażīna yu`minụna bi`āyātinā fa qul salāmun ‘alaikum kataba rabbukum ‘alā nafsihir-raḥmata annahụ man ‘amila mingkum sū`am bijahālatin ṡumma tāba mim ba’dihī wa aṣlaḥa fa annahụ gafụrur raḥīm

54. Dan, ketika orang-orang yang beriman kepada pesan-pesan Kami datang kepadamu, katakanlah: “Kedamaian atas kalian. Pemeliharamu telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih46—sehingga jika siapa pun di antara kalian melakukan perbuatan buruk karena ketidaktahuan dan sesudah itu bertobat dan hidup secara saleh, Dia sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.”


46 Lihat catatan no. 10 sebelumnya. Mengenai kata salam, yang diterjemahkan di sini menjadi “kedamaian”, lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 29. “Salam” yang disebutkan dalam ungkapan di atas—yang banyak terdapat dalam Al-Quran dan telah menjadi sapaan standar Muslim—memiliki konotasi spritual yang meliputi konsep kesehatan moral, keamanan dari segala kejahatan dan, karenanya, kebebasan dan segala konflik dan kegelisahan.


Surah Al-An’am Ayat 55

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

wa każālika nufaṣṣilul-āyāti wa litastabīna sabīlul-mujrimīn

55. Dan, demikianlah Kami menerangkan pesan-pesan Kami dengan jelas: dan [Kami melakukannya] agar jalan orang-orang yang tersesat dalam dosa dapat dibedakan [dari jalan orang-orang yang saleh].


Surah Al-An’am Ayat 56

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ قُلْ لَا أَتَّبِعُ أَهْوَاءَكُمْ ۙ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

qul innī nuhītu an a’budallażīna tad’ụna min dụnillāh, qul lā attabi’u ahwā`akum qad ḍalaltu iżaw wa mā ana minal-muhtadīn

56. KATAKAN [kepada para pengingkar kebenaran itu]: “Perhatikanlah, aku dilarang menyembah [makhluk-makhluk] yang kalian seru selain Allah.”

Katakanlah: “Aku tidak mengikuti pandangan-pandangan batil kalian—sebab kalau berbuat demikian, niscaya aku akan tersesat dan tidak termasuk di antara orang-orang yang mendapatkan jalan yang benar.”


Surah Al-An’am Ayat 57

قُلْ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ ۚ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

qul innī ‘alā bayyinatim mir rabbī wa każżabtum bih, mā ‘indī mā tasta’jilụna bih, inil-ḥukmu illā lillāh, yaquṣṣul-ḥaqqa wa huwa khairul-fāṣilīn

57. Katakan: “Perhatikanlah, aku berada di atas bukti yang nyata dari Pemeliharaku—dan [dengan demikian,] Dia-lah yang kalian dustakan! Yang kalian tuntut dengan tergesa-gesa [dalam kebodohan kalian] itu tidaklah berada dalam kekuasaanku:47 keputusan hanyalah pada Allah. Dia akan menyatakan kebenaran karena Dia-lah hakim yang terbaik (untuk membedakan) antara kebenaran dan kebatilan.”


47 Lit., “bukanlah padaku apa-apa yang kalian ingin segerakan”: mengacu pada tuntutan sarkastis yang diajukan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Nabi, yang disebutkan dalam Surah Al-Anfal [8]: 32, agar Allah segera menghukum mereka jika benar Nabi Muhammad Saw, adalah rasul Allah.


Surah Al-An’am Ayat 58

قُلْ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الْأَمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۗ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ

qul lau anna ‘indī mā tasta’jilụna bihī laquḍiyal-amru bainī wa bainakum, wallāhu a’lamu biẓ-ẓālimīn

58. Katakanlah: “Andaikan yang kalian tuntut dengan tergesa-gesa itu berada dalam kekuasaanku, segala sesuatunya benar-benar sudah akan diputuskan antara aku dan kalian.48 Namun, Allah lebih mengetahui siapa yang melakukan kesalahan.”


48 Yakni, “kalian pasti akan sudah yakin bahwa aku benar-benar rasul Allah”—artinya, keyakinan yang hanya berdasarkan bukti “yang ajaib” tidak memiliki nilai spiritual apa pun.


Surah Al-An’am Ayat 59

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa ‘indahụ mafātiḥul-gaibi lā ya’lamuhā illā huw, wa ya’lamu mā fil-barri wal-baḥr, wa mā tasquṭu miw waraqatin illā ya’lamuhā wa lā ḥabbatin fī ẓulumātil-arḍi wa lā raṭbiw wa lā yābisin illā fī kitābim mubīn

59. Karena, pada-Nya-lah kunci-kunci segala sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk: tiada yang mengetahui semua itu kecuali Dia.

Dan, Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di darat dan di laut; dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya; dan tiada sebutir biji pun dalam gelap-pekatnya tanah, dan tiada sesuatu pun yang hidup atau yang mati,49 melainkan tertulis dalam ketetapan[-Nya] yang nyata.


49 Lit., “segar atau kering”.


Surah Al-An’am Ayat 60

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa huwallażī yatawaffākum bil-laili wa ya’lamu mā jaraḥtum bin-nahāri ṡumma yab’aṡukum fīhi liyuqḍā ajalum musammā, ṡumma ilaihi marji’ukum ṡumma yunabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn

60. Dan, Dia-lah yang menjadikan kalian [seperti] mati50 pada malam hari, dan mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari; dan Dia mengembalikan kalian pada kehidupan setiap hari51 agar sempurnalah masa yang telah ditentukan[-Nya]. Pada akhirnya, kepada-Nya-lah kalian pasti kembali: dan kemudian, Dia akan membuat kalian mengerti semua yang kalian kerjakan [dalam kehidupan].


50 Untuk penjelasan lengkap tentang verba tawaffa—lit., “dia mengambil [sesuatu] sepenuhnya”—lihat catatan no. 44 dalam Surah Al-Zumar [39]: 42. Dalam surah itulah, kata ini digunakan untuk pertama kalinya dalam Al-Quran.

51 Lit, “di dalamnya” (fihi)—yakni, mengacu pada waktu siang. Polaritas antara tidur dan bangun mengandung kiasan mengenai kehidupan dan kematian (bdk. Surah An-Naba’ [78]: 9-11).


Surah Al-An’am Ayat 61

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

wa huwal-qāhiru fauqa ‘ibādihī wa yursilu ‘alaikum ḥafaẓah, ḥattā iżā jā`a aḥadakumul-mautu tawaffat-hu rusulunā wa hum lā yufarriṭụn

61. Dan, hanya Dia-lah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dan, Dia mengutus kekuatan-kekuatan samawi untuk menjaga kalian52 hingga, apabila kematian mendekati siapa pun di antara kalian, utusan-utusan Kami menjadikannya mati: dan mereka tidak melalaikan [siapa pun].


52 Lit., “mengutus penjaga-penjaga kepada kalian”.


Surah Al-An’am Ayat 62

ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ

ṡumma ruddū ilallāhi maulāhumul-ḥaqq, alā lahul-ḥukmu wa huwa asra’ul-ḥāsibīn

62. Dan, setelah itu, mereka [yang telah mati] dibawa ke hadapan Allah,53 Tuhan sejati mereka Yang Tertinggi. Aduhai, sungguh, segala keputusan hanya milik-Nya: dan Dia-lah yang paling cepat perhitungan-Nya!


53 Lit., “dibawa kembali [atau ‘dikembalikan’] kepada Allah”—yakni, dibawa ke hadapan-Nya untuk diadili. 


Surah Al-An’am Ayat 63

قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

qul may yunajjīkum min ẓulumātil-barri wal-baḥri tad’ụnahụ taḍarru’aw wa khufyah, la`in anjānā min hāżihī lanakụnanna minasy-syākirīn

63. Katakanlah: “Siapakah yang menyelamatkan kalian dari bahaya-bahaya kegelapan54 di darat dan laut [tatkala] kalian menyeru kepada-Nya dengan merendahkan diri, dan dengan segenap kerahasiaan hati kalian, ‘Jika Dia menyelamatkan kami dari [kesukaran] ini, tentulah kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur’?”


54 Lit., “kegelapan” atau “pekatnya kegelapan”.


Surah Al-An’am Ayat 64

قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ

qulillāhu yunajjīkum min-hā wa ming kulli karbin ṡumma antum tusyrikụn

64. Katakanlah: “[Hanya] Allah-lah yang dapat menyelamatkan kalian dari (kesukaran) ini dan dari segala kesukaran—dan kalian tetap saja menisbahkan ketuhanan kepada kekuatan-kekuatan lain selain~Nya!”


Surah Al-An’am Ayat 65

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

qul huwal-qādiru ‘alā ay yab’aṡa ‘alaikum ‘ażābam min fauqikum au min taḥti arjulikum au yalbisakum syiya’aw wa yużīqa ba’ḍakum ba`sa ba’ḍ, unẓur kaifa nuṣarriful-āyāti la’allahum yafqahụn

65. Katakan: “Hanya Dia-lah yang berkuasa membiarkan derita mendatangi kalian dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian,55 atau mengacaukan kalian dengan perselisihan satu sama lain, dan membiarkan kalian merasakan ketakutan terhadap satu sama lain.”56

Perhatikanlah, betapa Kami jadikan pesan-pesan ini memiliki begitu banyak sisi, agar mereka dapat memahami kebenaran;


55 Yakni, dari segala arah dan dengan berbagai cara.

56 Atau: “kekerasan seseorang terhadap yang lainnya”—disintegrasi internal, ketakutan, kekerasan, dan tirani merupakan akibat yang tak terelakkan dari menjauhnya masyarakat dari kebenaran-kebenaran spiritual.


Surah Al-An’am Ayat 66

وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ ۚ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

wa każżaba bihī qaumuka wa huwal-ḥaqq, qul lastu ‘alaikum biwakīl

66. dan sungguhpun begitu, kaummu57 mendustakan semua ini, meskipun ia adalah kebenaran.

[Maka,] katakanlah: “Aku tidak bertanggung jawab atas perilaku kalian.


57 Yakni, orang-orang kafir Makkah dan, secara tersirat, semua orang yang menolak kebenaran.


Surah Al-An’am Ayat 67

لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ ۚ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

likulli naba`im mustaqarruw wa saufa ta’lamụn

67. Setiap berita [dari Allah] memiliki batas-waktu yang telah ditentukan kejadiannya: dan pada saatnya, kalian akan mengetahui [kebenaran].”


Surah Al-An’am Ayat 68

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

wa iżā ra`aitallażīna yakhụḍụna fī āyātinā fa a’riḍ ‘an-hum ḥattā yakhụḍụ fī ḥadīṡin gairih, wa immā yunsiyannakasy-syaiṭānu fa lā taq’ud ba’daż-żikrā ma’al-qaumiẓ-ẓālimīn

68. DAN, MANAKALA engkau menjumpai orang-orang yang asyik tenggelam dalam percakapan [yang berisi penghinaan terhadap] pesan-pesan Kami, berpalinglah dari mereka hingga mereka mulai membicarakan hal-hal yang lain;58 dan jika setan menjadikanmu lupa [akan dirimu sendiri], janganlah, setelah ingat, tetap berkumpul bersama orang-orang zalim itu,


58 Lit., “hingga mereka menyibukkan diri mereka dalam pembicaraan selain hal ini”.


Surah Al-An’am Ayat 69

وَمَا عَلَى الَّذِينَ يَتَّقُونَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَلَٰكِنْ ذِكْرَىٰ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

wa mā ‘alallażīna yattaqụna min ḥisābihim min syai`iw wa lākin żikrā la’allahum yattaqụn

69. yang terhadap mereka, orang-orang yang sadar akan Allah sama sekali tidak bertanggung jawab. Namun, kewajiban mereka adalah mengingatkan [para pendosa itu]59 agar mereka dapat menjadi sadar akan Allah.


59 Ini adalah suatu parafrasa dari ungkapan frasa eliptis walakin dzikra (“alih-alih peringatan”).


Surah Al-An’am Ayat 70

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا ۖ لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

wa żarillażīnattakhażụ dīnahum la’ibaw wa lahwaw wa garrat-humul-ḥayātud-dun-yā wa żakkir bihī an tubsala nafsum bimā kasabat laisa lahā min dụnillāhi waliyyuw wa lā syafī’, wa in ta’dil kulla ‘adlil lā yu`khaż min-hā, ulā`ikallażīna ubsilụ bimā kasabụ lahum syarābum min ḥamīmiw wa ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakfurụn

70. Dan, tinggalkanlah mereka, semua orang yang, (karena) diperdaya oleh kehidupan dunia, menjadikan permainan dan kesenangan sementara sebagai agama mereka;60 tetapi ingatkanlah [mereka] dengan ini bahwa [dalam kehidupan mendatang] setiap manusia akan terikat mempertanggungjawabkan kesalahan apa pun yang telah dia perbuat, dan tiada yang akan melindunginya dari Allah, dan tiada yang akan memberinya syafaat*; dan meskipun dia menawarkan tebusan apa pun yang mungkin,61 niscaya tebusan itu tidak akan diterima darinya. [Orang-orang seperti] mereka inilah yang akan terikat mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah mereka perbuat; bagi mereka, [dalam kehidupan mendatang] ada seteguk keputusasaan yang membara,62 dan derita yang pedih menanti mereka karena keberkukuhan mereka dalam menolak mengakui kebenaran.**


60 Frasa attakhadzu dinahum la’iban walahwan bisa dipahami dengan salah satu dari dua cara ini, yakni: (1) “mereka menjadikan agama mereka [sebagai suatu objek] permainan dan hiburan”, atau (2) “mereka menjadikan permainan dan hiburan [atau ‘kesenangan sementara’] sebagai agama mereka”—yakni, sebagai tujuan utama hidup mereka. Menurut pendapat saya, jelaslah bahwa alternatif kedua yang lebih tepat karena ia menyoroti fakta tentang banyaknya orang yang “diperdaya oleh kehidupan dunia” yang mengabdikan hidup mereka untuk mengejar apa yang oleh Al-Quran digambarkan sebagai “kesenangan sementara”—termasuk kesenangan yang ditawarkan oleh uang dan kekuasaan—dengan suatu semangat yang menyamai semangat keagamaan: suatu sikap mental yang menjadikan mereka buta terhadap segala nilai-nilai spiritual dan moral.

* {wa la syaf’un = and none to intercede for him, yakni tidak ada yang bisa menjadi perantara baginya untuk memohonkan ampunan Allah.—peny.}

61 Lit., “meskipun dia mungkin [mencoba] menebus dirinya sendiri dengan seluruh tebusan”—yakni, meskipun dia menawarkan, setelah Hari Kebangkitan, tebusan apa pun bagi dosa-dosanya yang lampau.

62 Kata hamim mengandung berbagai makna, di antaranya adalah “panas yang hebat” serta “dingin yang menyiksa” (Al-Qamus, Taj Al-‘Arus). Dalam eskatologi Al-Quran, kata tersebut selalu mengacu pada penderitaan yang dialami para pendosa di akhirat; dan karena seluruh keterangan Al-Quran mengenai kehidupan setelah mati itu bersifat alegoris, kata hamim dapat diterjemahkan menjadi “keputusasaan yang membara”.

** {Terjemahan Asad untuk kalimat yang ada pada ayat ini berbeda dengan terjemahan Al-Quran Depag RI. Dalam terjemahan Depag, frasa an tubsala nafsun bima kasabat diterjemahkan menjadi: “agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri”. Adapun Asad menerjemahkannya menjadi: “setiap manusia akan terikat mempertanggungjawabkan kesalahan apa pun yang telah dia perbuat” (every human being shall be held in pledge for whatever wrong he has done). Terjemahan ini mirip dengan yang ada pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 38, yakni frasa kullu nafsin bima kasabat rahinatun: every human being will be held in pledge for whatever [evil] he has wrought.—AM}


Surah Al-An’am Ayat 71

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

qul a nad’ụ min dụnillāhi mā lā yanfa’unā wa lā yaḍurrunā wa nuraddu ‘alā a’qābinā ba’da iż hadānallāhu kallażistahwat-husy-syayāṭīnu fil-arḍi ḥairāna lahū aṣ-ḥābuy yad’ụnahū ilal-huda`tinā, qul inna hudallāhi huwal-hudā, wa umirnā linuslima lirabbil-‘ālamīn

71. KATAKANLAH: “Haruskah kita menyeru, selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat maupun kerugian pada kita, dan [dengan begitu] tiba-tiba berpaling ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita?—seperti orang yang telah dipikat oleh setan-setan masuk dalam kesesatan demi mengejar hasrat-hasrat duniawi, sementara sahabat-sahabatnya, yang berusaha memberinya petunjuk, menyeru kepadanya [dari kejauhan],63 ‘Datanglah engkau kepada kami!’”

Katakanlah: “Sungguh, petunjuk Allah-lah satu-satunya petunjuk: dan demikianlah kita disuruh agar menyerahkan diri kita kepada Sang Pemelihara seluruh alam,


63 Lit., “yang telah setan-setan pikat dengan hasrat-hasrat di bumi, [dengan membuatnya] kebingungan, [sementara] dia mempunyai sahabat-sahabat yang mengajaknya pada petunjuk”. Dalam kaitan ini, lihat catatan no. 10 pada Surah Al-Baqarah [2]: 14 dan catatan no. 31 pada Surah Ibrahim [14]: 22, serta catatan no. 16 pada Surah Al-Hijr [15]. 17.


Surah Al-An’am Ayat 72

وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَاتَّقُوهُ ۚ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

wa an aqīmuṣ-ṣalāta wattaqụh, wa huwallażī ilaihi tuḥsyarụn

72. dan agar teguh mendirikan shalat dan sadar akan Dia: sebab, kepada-Nya-lah kalian semua akan dikumpulkan.”


Surah Al-An’am Ayat 73

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ ۚ قَوْلُهُ الْحَقُّ ۚ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ ۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

wa huwallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, wa yauma yaqụlu kun fa yakụn, qauluhul-ḥaqq, wa lahul-mulku yauma yunfakhu fiṣ-ṣụr, ‘ālimul-gaibi wasy-syahādati wa huwal-ḥakīmul-khabīr

73. Dan, Dia-lah yang telah menciptakan lelangit dan bumi sesuai dengan kebenaran [hakiki]64—dan manakala Dia berkata, “Jadilah,” perkataan-Nya menjadi kenyataan; dan milik-Nya-lah kekuasaan pada Hari ketika sangkakala [kebangkitan] ditiup.

Dia mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk serta segala yang dapat disaksikan oleh indra-indra atau pikiran makhluk:65 sebab, hanya Dia-lah Yang Mahabijaksana, Mahaawas.


64 Lihat Surah Yunus [10], catatan no. 11.

65 Kata al-syahadah (lit, “yang disaksikan”, atau “yang dapat disaksikan”) dalam konteks ini—dan dalam konteks lainnya yang serupa—digunakan sebagai antonim dari kata al-ghaib (“yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk”). Jadi, hanya mencakup aspek-aspek realitas yang dapat ditangkap secara indriawi atau konseptual oleh makhluk.


Surah Al-An’am Ayat 74

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa iż qāla ibrāhīmu li`abīhi āzara a tattakhiżu aṣnāman ālihah, innī arāka wa qaumaka fī ḍalālim mubīn

74. DAN, LIHAT, [demikianlah] Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar:66 “Apakah engkau menjadikan berhala sebagai tuhan? Sungguh, aku melihat bahwa engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata!”


66 Secara naratif, bagian berikutnya (ayat 74 dan seterusnya) melanjutkan uraian tentang keesaan dan keunikan Allah.

Dalam Bibel, nama ayah Ibrahim bukan Azar, melainkan Terah (Tarah atau Tharakh, menurut genealog Muslim awal). Bagaimanapun, tampaknya dia juga dikenal dengan nama-nama (atau sebutan-sebutan) lain, yang semuanya tidak jelas asal-usul dan maknanya. Demikianlah, dalam beragam kisah Talmud, dia disebut Zarah, sedangkan Eusebius Pamphili (sejarahwan gereja yang hidup pada akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 M) menamainya Athar. Meskipun keterangan Talmud maupun Eusebius tidak bisa dianggap otoritatif untuk menafsirkan Al-Quran, tidak mustahil bahwa nama Azar (yang hanya sekali disebut dalam Al-Quran) merupakan sebutan Arab pra-Islam untuk nama Athar atau Zarah. 


Surah Al-An’am Ayat 75

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

wa każālika nurī ibrāhīma malakụtas-samāwāti wal-arḍi wa liyakụna minal-mụqinīn

75. Dan, demikianlah Kami beri Ibrahim pemahaman [pertamanya] mengenai kekuasaan agung [Allah] atas lelangit dan bumi—dan [hal ini] agar dia dapat menjadi salah seorang di antara orang-orang yang benar-benar yakin.


Surah Al-An’am Ayat 76

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

fa lammā janna ‘alaihil-lailu ra`ā kaukabā, qāla hāżā rabbī, fa lammā afala qāla lā uḥibbul-āfilīn

76. Maka, ketika malam menyelubunginya dengan kegelapan, dia melihat sebuah bintang; [dan] dia berseru, “Inilah Pemeliharaku!”—namun, tatkala bintang itu terbenam, dia berkata, “Aku tidak suka kepada hal-hal yang terbenam.”


Surah Al-An’am Ayat 77

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

fa lammā ra`al-qamara bāzigang qāla hāżā rabbī, fa lammā afala qāla la`il lam yahdinī rabbī la`akụnanna minal-qaumiḍ-ḍāllīn

77. Kemudian, ketika dia melihat bulan sedang terbit, dia berkata, “Inilah Pemeliharaku!”—namun, tatkala bulan itu terbenam, dia berkata, “Sungguh, jika Pemeliharaku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku akan termasuk di antara orang-orang yang sesat!”


Surah Al-An’am Ayat 78

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

fa lammā ra`asy-syamsa bāzigatang qāla hāżā rabbī hāżā akbar, fa lammā afalat qāla yā qaumi innī barī`um mimmā tusyrikụn

78. Kemudian, ketika dia melihat matahari sedang terbit, dia berkata, “Inilah Pemeliharaku! Yang satu ini yang terbesar [dari semuanya]!”—namun, tatkala matahari itu terbenam [pula], dia berseru, “Wahai, kaumku! Perhatikanlah, aku sama sekali berlepas diri dari menisbahkan ketuhanan, seperti yang kalian lakukan, kepada apa pun selain Allah!


Surah Al-An’am Ayat 79

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

innī wajjahtu waj-hiya lillażī faṭaras-samāwāti wal-arḍa ḥanīfaw wa mā ana minal-musyrikīn

79. Perhatikanlah, kepada Dia yang telah menciptakan lelangit dan bumi kuhadapkan wajahku, setelah berpaling dari segala yang batil;* dan aku bukanlah termasuk di antara orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.”


* {Ini adalah terjemahan yang diberikan oleh Muhammad Asad untuk hanifa yang dalam Al-Quran Depag RI diterjemahkan menjadi “cenderung kepada agama yang benar”. Dalam kamus, kata hanif yang berakar kata hanaf bisa berarti “orang yang menolak atau memandang rendah suatu keyakinan yang salah dan condong kepada keyakinan yang benar” (one who scorns the false creeds surrounding him and fesses the true religion). Agaknya, atas alasan seperti inilah Muhamrnad Asad memberikan penerjemahan tersebut di atas; lihat catatan no. 110 pada Surah Al-Baqarah [2]: 135.—AM}


Surah Al-An’am Ayat 80

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

wa ḥājjahụ qaumuh, qāla a tuḥājjūnnī fillāhi wa qad hadān, wa lā akhāfu mā tusyrikụna bihī illā ay yasyā`a rabbī syai`ā, wasi’a rabbī kulla syai`in ‘ilmā, a fa lā tatażakkarụn

80. Dan, kaumnya membantah dia. Dia berkata, “Apakah kalian membantahku tentang Allah, padahal Dia-lah yang telah memberiku petunjuk? Akan tetapi, aku tidak takut akan apa pun yang kepadanya kalian nisbahkan ketuhanan di samping Dia, [karena tiada keburukan dapat menimpaku], kecuali kalau Pemeliharaku menghendaki demikian.67 Pemeliharaku meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya; maka, tidakkah kalian mengingat hal ini?


67 Lit., “kecuali jika Pemeliharaku menghendaki sesuatu”.


Surah Al-An’am Ayat 81

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

wa kaifa akhāfu mā asyraktum wa lā takhāfụna annakum asyraktum billāhi mā lam yunazzil bihī ‘alaikum sulṭānā, fa ayyul-farīqaini aḥaqqu bil-amn, ing kuntum ta’lamụn

81. Dan, mengapa aku harus takut terhadap apa-apa yang kalian sembah di samping Dia, padahal kalian tidak takut menisbahkan ketuhanan kepada kekuatan lain selain Allah, sedangkan Dia tidak pernah menurunkan kepada kalian bukti apa pun untuk mendukung ini? Maka, [katakanlah kepadaku] manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak merasa aman—andai kalian mengetahui [jawabannya]?


Surah Al-An’am Ayat 82

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

allażīna āmanụ wa lam yalbisū īmānahum biẓulmin ulā`ika lahumul-amnu wa hum muhtadụn

82. Orang-orang yang telah meraih iman dan yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman—mereka itulah yang akan menjadi aman karena merekalah yang telah menemukan jalan yang benar!”


Surah Al-An’am Ayat 83

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa tilka ḥujjatunā ātaināhā ibrāhīma ‘alā qaumih, narfa’u darajātim man nasyā`, inna rabbaka ḥakīmun ‘alīm

83. Dan, ini adalah hujah Kami68 yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya: [sebab,] Kami memang meninggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat.69 Sungguh, Pemeliharamu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.


68 Penggambaran logika berpikir Ibrahim sebagai argumentasi (hujjah) Allah sendiri menunjukkan bahwa logika berpikir itu telah diilhamkan oleh Allah dan, karena itu, berlaku juga bagi para pengikut Al-Quran.

69 Jelaslah bahwa hal ini merupakan sebuah gambaran mengenai tahapan yang dilalui Ibrahim dalam memahami kebenaran, yang dilambangkan dengan perkembangan intuitif yang dia lalui, mulai dari pemujaan terhadap benda-benda angkasa seperti bintang, bulan, dan matahari—menuju kesadaran penuh akan eksistensi transendental Allah Yang Maha Meliputi. Ungkapan “dengan beberapa derajat” (darajatin) dapat pula dipahami “dengan banyak derajat”, yang menunjukkan tingginya martabat spiritual yang diberikan kepada Ibrahim, sang pelopor lahirnya iringan panjang nabi-nabi (lihat Surah An-Nisa’ [4]: 125).


Surah Al-An’am Ayat 84

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

wa wahabnā lahū is-ḥāqa wa ya’qụb, kullan hadainā wa nụḥan hadainā ming qablu wa min żurriyyatihī dāwụda wa sulaimāna wa ayyụba wa yụsufa wa mụsā wa hārụn, wa każālika najzil-muḥsinīn

84. Dan, Kami telah anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub; dan Kami beri petunjuk kepada keduanya sebagaimana Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh sebelumnya. Dan, dari keturunannya, [Kami anugerahkan kenabian kepada] Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun: sebab, begitulah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik;


Surah Al-An’am Ayat 85

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ

wa zakariyyā wa yaḥyā wa ‘īsā wa ilyās, kullum minaṣ-ṣāliḥīn

85. dan [kepada] Zakariya, Yahya, Isa, dan Ilyas: semuanya adalah orang-orang yang saleh;


Surah Al-An’am Ayat 86

وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

wa ismā’īla walyasa’a wa yụnusa wa lụṭā, wa kullan faḍḍalnā ‘alal-‘ālamīn

86. dan [kepada] Isma’il, Alyasa’, Yunus, dan Luth.70 Masing-masingnya Kami lebihkan di atas orang-orang lain;


70 Meskipun Luth bukan “keturunan” Ibrahim karena dia adalah anak saudara laki-lakinya, namanya dimasukkan di sini karena dua alasan: pertama, karena dia mengikuti Ibrahim sejak masa mudanya, layaknya seorang anak yang mengikuti ayahnya; dan, kedua, karena dalam penggunaan bahasa Arab kuno, paman dari pihak bapak sering disebut sebagai “bapak” dan, sebaliknya, keponakan disebut sebagai “anak”.

Tentang nabi-nabi Yahudi, Elia (Ilyas) dan Elisa (Al-Yasa’), lihat catatan no. 48 pada Surah As-Shaffat [37]: 123.


Surah Al-An’am Ayat 87

وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ ۖ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

wa min ābā`ihim wa żurriyyātihim wa ikhwānihim, wajtabaināhum wa hadaināhum ilā ṣirāṭim mustaqīm

87. dan [Kami muliakan juga] sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka: Kami memilih mereka [semua] dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.


Surah Al-An’am Ayat 88

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā`u min ‘ibādih, walau asyrakụ laḥabiṭa ‘an-hum mā kānụ ya’malụn

88. Demikianlah petunjuk Allah: Dia memberi petunjuk dengannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan, seandainya mereka menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah—sungguh sia-sialah semua [kebajikan] yang telah mereka kerjakan:


Surah Al-An’am Ayat 89

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ

ulā`ikallażīna ātaināhumul-kitāba wal-ḥukma wan-nubuwwah, fa iy yakfur bihā hā`ulā`i fa qad wakkalnā bihā qaumal laisụ bihā bikāfirīn

89. [tetapi,] kepada merekalah Kami memberikan wahyu, penilaian yang sehat (hikmah), dan kenabian.

Dan sekarang, meskipun orang-orang yang tidak beriman itu memilih untuk mengingkari kehenaran-kebenaran ini,71 [ketahuilah bahwa] Kami telah menyerahkan kebenaran ini kepada kaum yang tidak akan pernah menolak mengakuinya—


71 Lit., “jika mereka menyangkalnya”—yakni, manifestasi keesaan Allah dan pewahyuan kehendak-Nya melalui para nabi. 


Surah Al-An’am Ayat 90

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ

ulā`ikallażīna hadallāhu fa bihudāhumuqtadih, qul lā as`alukum ‘alaihi ajrā, in huwa illā żikrā lil-‘ālamīn

90. kepada orang-orang yang telah Allah beri petunjuk. Maka, ikutilah petunjuk mereka, [dan] katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepada kalian karena [kebenaran] ini: perhatikanlah, ini hanyalah peringatan untuk seluruh umat manusia!”


Surah Al-An’am Ayat 91

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrihī iż qālụ mā anzalallāhu ‘alā basyarim min syaī`, qul man anzalal-kitāballażī jā`a bihī mụsā nụraw wa hudal lin-nāsi taj’alụnahụ qarāṭīsa tubdụnahā wa tukhfụna kaṡīrā, wa ‘ullimtum mā lam ta’lamū antum wa lā ābā`ukum, qulillāhu ṡumma żar-hum fī khauḍihim yal’abụn

91. Karena, mereka tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah ketika mereka berkata, “Allah tidak pernah mewahyukan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang telah menurunkan kitab Ilahi yang dibawa Musa kepada manusia sebagai cahaya dan petunjuk, [dan] yang kalian perlakukan sebagai72 lembaran-lembaran kertas [semata], yang kalian perlihatkan sebagiannya, sedangkan [sangat] banyak yang kalian sembunyikan—meskipun kalian telah diajarkan [oleh kitab Ilahi itu] apa-apa yang tidak pernah diketahui oleh kalian dan bapak-bapak kalian?”73 Katakanlah: “Allah [telah mewahyukan kitab Ilahi itu]!”—dan kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam percakapan sia-sia mereka.


72 Lit., “yang kalian jadikan”: tetapi, harus diingat bahwa verba ja’lahu juga memiliki arti abstrak “dia memandangnya sebagai” atau “menganggapnya sebagai”, atau “memperlakukannya sebagai” (Al-Jauhari, Raghib, dan lain-lain): suatu makna yang sering dijumpai dalam Al-Quran.

73 Jelaslah bahwa ayat ini ditujukan kepada para pengikut Alkitab yang berpura-pura menghormati kesucian kitab itu, tetapi pada kenyataannya justru memperlakukannya sebagai “lembaran-lembaran kertas semata”—yakni, sebagai sesuatu yang sedikit saja pengaruhnya terhadap perilaku mereka sendiri: sebab, walau mereka berpura-pura mengagumi kebenaran-kebenaran moral yang dikandung Alkitab, mereka menyembunyikan dari diri mereka sendiri fakta bahwa hidup mereka sebenarnya telah hampa dari kebenaran moral itu.


Surah Al-An’am Ayat 92

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَهُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

wa hāżā kitābun anzalnāhu mubārakum muṣaddiqullażī baina yadaihi wa litunżira ummal-qurā wa man ḥaulahā, wallażīna yu`minụna bil-ākhirati yu`minụna bihī wa hum ‘alā ṣalātihim yuḥāfiẓụn

92. Dan, ini adalah kitab Ilahi pula yang Kami turunkan—yang diberkahi, dengan menegaskan kebenaran apa pun yang masih ada [dari wahyu-wahyu terdahulu]74—dan [hal ini] agar engkau memberi peringatan kepada kota yang terkemuka itu dan semua yang tinggal di sekitarnya.75 Dan, orang-orang yang beriman kepada kehidupan akhirat percaya pada [peringatan] ini; dan merekalah yang selalu memelihara shalatnya.


74 Lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 3.

75 “Kota yang terkemuka itu” (lit., “ibu semua negeri”, umm al-qura) adalah julukan yang diberikan Al-Quran untuk Kota Makkah karena di kota inilah bangunan suci pertama untuk menyembah Tuhan Yang Esa dibangun pertama kalinya (bdk. Surah Alu ‘Imran [3]: 96) dan karena ia menjadi qiblah (arah shalat) bagi orang-orang beriman. Ungkapan “semua yang tinggal di sekitarnya” menunjuk pada seluruh umat manusia (Al-Thabari, berdasarkan riwayat Ibn ‘Abbas; Al-Razi).


Surah Al-An’am Ayat 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au qāla ụḥiya ilayya wa lam yụḥa ilaihi syai`uw wa mang qāla sa`unzilu miṡla mā anzalallāh, walau tarā iżiẓ-ẓālimụna fī gamarātil-mauti wal-malā`ikatu bāsiṭū aidīhim, akhrijū anfusakum, al-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum taqụlụna ‘alallāhi gairal-ḥaqqi wa kuntum ‘an āyātihī tastakbirụn

93. Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta tentang Allah,76 atau berkata, “Ini telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak ada yang diwahyukan kepadanya?—atau yang berkata, “Aku juga dapat menurunkan seperti apa yang telah diturunkan Allah”?77

Andaikan saja engkau dapat melihat [bagaimanakah kejadiannya] ketika orang-orang yang zalim itu mendapati diri mereka sendiri dalam penderitaan sakratulmaut, dan para malaikat merentangkan tangan mereka [dan berseru], “Serahkanlah nyawa kalian! Hari ini kalian akan dibalas dengan derita kehinaan karena telah menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak benar dan karena dengan angkuh terus-menerus mencemoohkan pesan-pesan-Nya!”


76 Dalam konteks ini, “dusta” tersebut tampaknya mengacu pada pengingkaran terhadap fakta wahyu Ilahi itu sendiri, yang dibicarakan dalam ayat 91.

77 Suatu pernyataan sarkastik bahwa wahyu yang disampaikan itu sebenarnya dibuat oleh manusia dan, karena itu, orang lain dapat pula membuat yang serupa dengannya.


Surah Al-An’am Ayat 94

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ ۖ وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ ۚ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

wa laqad ji`tumụnā furādā kamā khalaqnākum awwala marratiw wa taraktum mā khawwalnākum warā`a ẓuhụrikum, wa mā narā ma’akum syufa’ā`akumullażīna za’amtum annahum fīkum syurakā`, laqat taqaṭṭa’a bainakum wa ḍalla ‘angkum mā kuntum taz’umụn

94. [Dan, Allah akan berfirman,] “Dan, kini kalian benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali pertama; dan kalian telah meninggalkan di belakang kalian apa-apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian [dalam kehidupan kalian]. Dan, Kami tiada melihat bersama kalian para perantara itu, yang kalian anggap bersekutu dengan Allah dalam kaitannya dengan diri kalian sendiri!78 Sungguh, seluruh ikatan antara kalian [dan kehidupan duniawi kalian] telah terputus, dan seluruh khayalan kalian yang dahulu telah meninggalkan kalian!”79


78 Lit., “yang kalian anggap sebagai sekutu-sekutu [Allah] dalam kaitannya dengan diri kalian sendiri”—yakni, yang mampu melindungi atau menolong kalian karena mereka dianggap “bersekutu dengan Allah”. Lihat catatan no. 15 terhadap ayat 22 surah ini.

79 Lit., “semua yang biasa kalian nyatakan [atau ‘anggap’] telah pergi meninggalkan kalian”—yakni, semua perantara imajiner atau pemberi syafaat imajiner antara manusia dan Allah.


Surah Al-An’am Ayat 95

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

innallāha fāliqul-ḥabbi wan-nawā, yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa mukhrijul-mayyiti minal-ḥayy, żālikumullāhu fa annā tu`fakụn

95. SUNGGUH, Allah-lah yang telah membelah-belah butir-butir padi dan biji-biji buah, mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Dia-lah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Maka, inilah Allah: namun, betapa menyimpangnya pikiran kalian!80


80 Lihat Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 90.


Surah Al-An’am Ayat 96

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

fāliqul-iṣbāḥ, wa ja’alal-laila sakanaw wasy-syamsa wal-qamara ḥusbānā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

96. [Dia-lah] yang menyebabkan fajar menyingsing; dan Dia menjadikan malam sebagai [sumber] ketenangan, dan matahari serta bulan menjalani jalur mereka yang sudah ditetapkan:81 [semua] ini ditentukan oleh kehendak Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.


81 Lit., “[menurut] perhitungan tertentu”.


Surah Al-An’am Ayat 97

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

wa huwallażī ja’ala lakumun-nujụma litahtadụ bihā fī ẓulumātil-barri wal-baḥr, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy ya’lamụn

97. Dan, Dia-lah yang menjadikan untuk kalian bintang-bintang agar kalian dapat diberi petunjuk oleh bintang-bintang itu di tengah pekatnya kegelapan darat dan laut: Kami benar-benar telah menjelaskan tanda-tanda tersebut kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan*]!


* {[innate] knowledge: pengetahuan bawaan (fitrah), yang merupakan anugerah bawaan manusia sejak lahir. Lihat Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatan no. 139, serta catatan no. 19 paria Surah Al-Baqarah [2].—peny.}


Surah Al-An’am Ayat 98

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ

wa huwallażī ansya`akum min nafsiw wāḥidatin fa mustaqarruw wa mustauda’, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy yafqahụn

98. Dan, Dia-lah yang menciptakan kalian [semua] dari entitas hidup yang satu,82 dan [telah menerapkan bagi setiap kalian] batas-waktu [di bumi] dan tempat peristirahatan [setelah mati]:83 Kami benar-benar telah menjelaskan tanda-tanda tersebut kepada orang-orang yang dapat memahami kebenaran!


82 Lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 1.

83 Para mufasir berbeda pendapat mengenai arti kata mustaqarr dan mustauda’ dalam konteks ini. Bagaimanapun, mengingat makna dasar kata mustaqarr adalah “batas perjalanan”—yakni, suatu titik yang padanya sesuatu mencapai akhir atau kesempurnaannya—dan makna dasar mustauda’ adalah “tempat penitipan” atau “tempat penyimpanan”, kita sampai pada terjemahan yang saya gunakan di atas. Tambahan pula, terjemahan ini didukung dengan kuat oleh Surah Hud [11]: 6, yang menyebutkan Allah sebagai yang memberi rezeki bagi setiap makhluk hidup dan mengetahui “batas-waktunya [di bumi] dan tempat peristirahatannya [setelah mati]” (mustaqarraha wa mustauda’aha), serta oleh ayat 67 surah ini, yang menyebutkan mustaqarr dalam pengertian “batas-waktu yang telah ditentukan kejadiannya”.


Surah Al-An’am Ayat 99

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

wa huwallażī anzala minas-samā`i mā`ā, fa akhrajnā bihī nabāta kulli syai`in fa akhrajnā min-hu khaḍiran nukhriju min-hu ḥabbam mutarākibā, wa minan-nakhli min ṭal’ihā qinwānun dāniyatuw wa jannātim min a’nābiw waz-zaitụna war-rummāna musytabihaw wa gaira mutasyābih, unẓurū ilā ṡamarihī iżā aṡmara wa yan’ih, inna fī żālikum la`āyātil liqaumiy yu`minụn

99. Dan, Dia-lah yang telah menyebabkan air turun dari langit; dan dengan cara ini Kami keluarkan semua tumbuh-tumbuhan, dan dari ini Kami keluarkan tanaman yang hijau.84 Dari ini Kami keluarkan butir yang hampir tumbuh; dan dari kelopak pohon palem, kurma dalam tandan yang padat; dan kebun anggur, pohon zaitun, dan buah delima: [semuanya] begitu serupa, tapi tetap saja sangat berbeda!85 Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan matang! Sungguh, dalam semua ini, benar-benar ada pesan-pesan bagi orang-orang yang akan beriman!


84 Berbeda dengan kalimat-kalimat sesudahnya, yang menggunakan verba bentuk kini (fi’l mudhari’), kalimat di atas seluruhnya diungkapkan dalam bentuk lampau (al-madhi)—karena itu, ia secara tidak langsung menunjukkan aspek orisinal dan mendasar dari tindakan Allah yang menciptakan kehidupan “dari air” (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 30 dan catatannya [no. 39]).

85 Yakni, prinsip-prinsip dasar kehidupan dan perkembangannya serupa, tetapi fisiologi, penampilan, dan rasanya sangat berbeda.


Surah Al-An’am Ayat 100

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ ۖ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

wa ja’alụ lillāhi syurakā`al-jinna wa khalaqahum wa kharaqụ lahụ banīna wa banātim bigairi ‘ilm, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yaṣifụn

100. Dan, sungguhpun begitu, sebagian [manusia] telah menisbahkan kepada segala rupa makhluk-makhluk gaib86 sebuah kedudukan di samping Allah—meskipun Dia-lah yang telah menciptakan mereka [semua]; dan, dalam kebodohan mereka, mereka telah mengada-adakan bagi-Nya anak-anak laki-laki dan perempuan!87

Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Nya, dan Mahatinggi (Dia) melampaui segala definisi yang dapat manusia pikirkan:88


86 {Al-Jinn: all manner of invisible beings: segala rupa makhluk-makhluk yang tak terlihat, gaib}. Nomina jamak jinn (yang secara populer, tetapi tidak tepat, diartikan sebagai “makhluk halus” atau “hantu”) merupakan derivasi dari verba janna, “dia [menjadi] tersembunyi” atau “terselubung dari pandangan”; jadi, kegelapan malam yang menyelubungi disebut jinn (Al-Jauhari). Menurut filolog Arab, kata jinn pada dasarnya berarti “makhluk-makhluk yang tersembunyi dari indra [manusia]” (Al-Qamus, Lisan Al-‘Arab, Raghib) dan, karena itu, dapat digunakan untuk menunjuk segala jenis makhluk atau kekuatan yang tidak terlihat. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang kata ini, lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.

87 Lit., “mereka telah mengada-adakan bagi-Nya [atau ‘menisbahkan secara salah kepada-Nya’] anak-anak laki-laki dan perempuan tanpa [mempunyai] pengetahuan [apa pun]”: suatu paparan tentang keyakinan Arab pra-Islam yang memandang malaikat sebagai “anak-anak perempuan Allah” (suatu julukan yang juga mereka gunakan untuk menyebut dewi-dewi tertentu mereka), sekaligus suatu rujukan terhadap keyakinan Kristen tentang Nabi Isa a.s. sebagai “putra Allah”. Lihat juga Surah Maryam [19]: 92 dan catatannya (no. 77).

88 Yakni, Dia sungguh jauh dari segala ketidaksempurnaan dan kekurangan, sebagaimana yang terkandung dalam konsep memiliki anak. Konsep “definisi” sendiri menunjukkan kemungkinan untuk membandingkan atau menghubungkan suatu objek dengan objek-objek lainnya. Namun, Allah adalah unik, “tiada yang serupa dengan-Nya” (Surah Asy-Syura [42]: 11) dan, karenanya, “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” (Surah Al-Ikhlas [112]: 4)—artinya, segala upaya untuk mendefinisikan Dia atau “sifat-sifat”-Nya mustahil dilakukan dan, dari sudut pandang etis, merupakan suatu dosa. Fakta bahwa Dia tidak dapat didefinisikan memberikan kejelasan bahwa “sifat-sifat” (shifat) Allah yang disebutkan dalam Al-Quran tidak membatasi (mendefinisikan) realitas-Nya (Zat-Nya), alih-alih menggambarkan dampak aktivitas-Nya yang terindra terhadap dan dalam alam semesta yang diciptakan-Nya.


Surah Al-An’am Ayat 101

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

badī’us-samāwāti wal-arḍ, annā yakụnu lahụ waladuw wa lam takul lahụ ṣāḥibah, wa khalaqa kulla syaī`, wa huwa bikulli syai`in ‘alīm

101. Sang Pencipta lelangit dan bumi! Bagaimana bisa Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak pernah mempunyai pasangan—karena Dia-lah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan hanya Dia yang mengetahui segala sesuatu?


Surah Al-An’am Ayat 102

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

żālikumullāhu rabbukum, lā ilāha illā huw, khāliqu kulli syai`in fa’budụh, wa huwa ‘alā kulli syai`iw wakīl

102. Yang demikian itu ialah Allah, Pemelihara kalian: tiada tuhan kecuali Dia, Pencipta segala sesuatu: maka, sembahlah Dia saja—sebab, Dia-lah yang Maha Memelihara segala sesuatu.


Surah Al-An’am Ayat 103

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār, wa huwal-laṭīful-khabīr

103. Tiada penglihatan manusia yang dapat menjangkau-Nya, sementara Dia meliputi semua penglihatan manusia: sebab, Dia sajalah yang Maha Tak Terduga, Mahaawas.89


89 Kata “lathif” menunjukkan sesuatu yang sangat halus sifatnya dan, karena itu, tidak dapat diindra dan tidak dapat dipahami. Setiap kali kata ini muncul dalam Al-Quran dengan merujuk pada Allah bersama-sama dengan kata sifat “khabir” (“Mahatahu”, “Mahaawas”), ia selalu dipakai untuk mengungkapkan gagasan bahwa Dia tidak dapat dijangkau oleh persepsi, imajinasi, atau pemahaman manusia, sebagaimana dikontraskan dengan sifat Mahatahu-Nya (terlepas dari ayat di atas, lihat juga Surah Al-Hajj [22]: 63, Surah Luqman [31]: 16, Surah Al-Ahzab [33]: 34, dan Surah Al-Mulk [67]: 14). Dalam dua kasus ketika gabungan lathif dan khabir menggunakan kata sandang tentu “al” (Surah Al-An’am [6]: 103 dan Surah Al-Mulk [67]: 14), ungkapan huwa al-lathif bermakna “Dia sajalah yang Maha Tak Terduga”—yang menunjukkan bahwa sifat-Nya ini unik dan mutlak.


Surah Al-An’am Ayat 104

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

qad jā`akum baṣā`iru mir rabbikum, fa man abṣara fa linafsih, wa man ‘amiya fa ‘alaihā, wa mā ana ‘alaikum biḥafīẓ

104. Sarana pengetahuan kini telah datang kepada kalian* dari Pemelihara kalian [melalui kitab Ilahi ini]. Karena itu, siapa pun yang memilih untuk melihat, dia melakukannya untuk kebaikan dirinya sendiri; dan siapa pun yang memilih untuk tetap buta, kerugiannya kembali kepada dirinya sendiri. Dan, [katakanlah kepada yang buta hatinya]: “Aku bukanlah penjaga kalian.”


* {Inilah terjemahan yang diberikan Asad untuk frasa ja’akum basha’ir. Di sini, basha’ir diterjemahkan menjadi “sarana pengetahuan”, sedangkan AI-Quran Depag RI menerjemahkannya menjadi “tanda-tanda/bukti-bukti yang terang”. Dalam kamus, basha’ir berarti kekuatan pencerahan mental [(a power of} mental perception]. Pengertian inilah yang, agaknya, dijadikan dasar bagi penerjemahan yang diberikan oleh Asad di atas.—AM)


Surah Al-An’am Ayat 105

وَكَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

wa każālika nuṣarriful-āyāti wa liyaqụlụ darasta wa linubayyinahụ liqaumiy ya’lamụn

105. Dan, demikianlah Kami jadikan pesan-pesan Kami memiliki banyak sisi. Dan agar mereka berkata, “Engkau telah mempertimbangkan [semua ini] dengan baik,”90 dan agar Kami dapat membuatnya jelas bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan [bawaan**],


90 Lit., “engkau telah mempelajari [-nya dengan baik]”—yakni pesan Allah.

** {[innate] knowledge, yakni pengetahuan bawaan yang bersifat fitri, pengetahuan fitrah, yang sudah merupakan anugerah bawaan manusia sejak lahir. Lihat Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatan no. 139, serta catatan no. 19 pada Surah Al-Baqarah [2].—peny.}


Surah Al-An’am Ayat 106

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

ittabi’ mā ụḥiya ilaika mir rabbik, lā ilāha illā huw, wa a’riḍ ‘anil-musyrikīn

106. ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu oleh Pemeliharamu—yang tiada tuhan kecuali Dia—dan berpalinglah dari orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.


Surah Al-An’am Ayat 107

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكُوا ۗ وَمَا جَعَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

walau syā`allāhu mā asyrakụ, wa mā ja’alnāka ‘alaihim ḥafīẓā, wa mā anta ‘alaihim biwakīl

107. Namun, seandainya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya;91 karena itu, Kami tidak menjadikanmu sebagai penjaga mereka dan engkau tidak pula bertanggung jawab atas perilaku mereka.


91 Yakni, manusia mana pun tidak berkuasa menjadikan manusia lain beriman, kecuali Allah merahmati orang itu dengan petunjuk-Nya.


Surah Al-An’am Ayat 108

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa lā tasubbullażīna yad’ụna min dụnillāhi fa yasubbullāha ‘adwam bigairi ‘ilm, każālika zayyannā likulli ummatin ‘amalahum ṡumma ilā rabbihim marji’uhum fa yunabbi`uhum bimā kānụ ya’malụn

108. Akan tetapi, janganlah memaki [makhluk-makhluk] yang mereka seru selain Allah92 agar mereka tidak memaki Allah karena dendam, dan dalam kebodohan: sebab, sungguh Kami jadikan setiap umat menganggap baik perbuatan mereka.93 [Namun,] kelak, kepada Pemelihara merekalah, mereka akan kembali: dan kemudian, Dia akan membuat mereka [benar-benar] memahami apa yang dahulu mereka kerjakan.


92 Larangan mencaci maki apa pun yang dianggap suci oleh orang lain ini—meskipun yang dianggap suci itu bertentangan dengan prinsip keesaan Allah—diungkapkan dalam bentuk jamak dan, karenanya, ditujukan kepada semua orang beriman. Jadi, sementara umat Muslim dituntut agar mengemukakan argumentasi untuk membantah kesalahan keyakinan orang lain, mereka tidak diperbolehkan memaki objek-objek sembahan mereka sehingga menyakiti perasaan manusia yang tersesat itu.

93 Lit., “demikianlah Kami jadikan baik …” dan seterusnya menunjukkan bahwa sudah menjadi sifat alamiah manusia untuk menganggap bahwa kepercayaan yang telah ditanamkan kepadanya sejak kecil, dan yang kini dia yakini bersama-sama dengan orang-orang di lingkungan sosialnya, sebagai satu-satunya kepercayaan yang benar dan mungkin—artinya, polemik melawan kepercayaan semacam itu cenderung memancing permusuhan psikologis.


Surah Al-An’am Ayat 109

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa aqsamụ billāhi jahda aimānihim la`in jā`at-hum āyatul layu`minunna bihā, qul innamal-āyātu ‘indallāhi wa mā yusy’irukum annahā iżā jā`at lā yu`minụn

109. Kini, mereka bersumpah demi Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh bahwa jika suatu mukjizat ditunjukkan kepada mereka, pastilah mereka akan beriman pada [kitab Ilahi] ini. Katakan: “Mukjizat berada dalam kekuasaan Allah saja.”94

Dan, tahukah kalian, sekalipun suatu mukjizat diperlihatkan kepada mereka, mereka tidak akan beriman


94 Lit., “Mukjizat-mukjizat hanyalah milik Allah”. Hendaknya dicatat bahwa kata ayah dalam Al-Quran menunjukkan bukan saja “mukjizat” (yakni sesuatu yang terjadi di luar hukum alam yang biasa—yaitu, yang dapat diamati), melainkan juga berarti sebuah “tanda” atau “pesan”: dan pengertian yang disebutkan terakhir inilah yang jauh lebih sering dijumpai dalam Al-Quran. Jadi, apa yang biasanya digambarkan sehagai “mukjizat”, pada kenyataannya, merupakan sebuah pesan luar biasa dari Allah, yang mengindikasikan—kadangkala dalam suatu cara simbolik—sebuah kebenaran spiritual yang kalau tidak diungkapkan, niscaya akan tetap tersembunyi dari akal manusia. Namun, betapapun luar biasanya, pesan-pesan “mukjizat” itu tidak bisa dipandang sebagai suatu hal yang “supernatural (adialami)”: sebab, apa yang disebut dengan “hukum alam” itu hanyalah suatu manifestasi yang terindra dari “ketetapan Allah” (sunnah Allah) berkenaan dengan ciptaan-Nya—dan, sebagai konsekuensinya, segala sesuatu yang ada dan terjadi adalah “alami” dalam pengertian yang paling dalam dari kata ini, terlepas dari apakah ia sesuai dengan rangkaian kejadian biasa ataukah melampauinya. Nah, karena biasanya pesan-pesan ajaib ini memanifestasikan diri mereka sendiri melalui instrumentalitas pribadi-pribadi yang secara khusus mendapat anugerah dan yang dipilih oleh Allah, yang dikenal sebagai “nabi-nabi”, orang-orang ini kadang-kadang disebut-sebut sebagai “mempertunjukkan mukjizat-mukjizat”—sebuah gagasan keliru yang digugurkan dengan kalimat dalam Al-Quran, “Mukjizat berada dalam kekuasaan Allah saja”. (Lihat pula Surah Al-Isra’ [17]: 59 dan catatan no. 71.)


Surah Al-An’am Ayat 110

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

wa nuqallibu af`idatahum wa abṣārahum kamā lam yu`minụ bihī awwala marratiw wa nażaruhum fī ṭugyānihim ya’mahụn

110. selama Kami biarkan hati dan mata mereka terpaling [menjauhi kebenaran],95 sama sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada awalnya: dan [demikianlah] akan Kami biarkan mereka dalam kesombongan mereka yang keterlaluan, tersandung ke sana kemari dalam keadaan buta.


95 Yakni, selama mereka tetap buta terhadap kebenaran karena keengganan mereka mengakuinya—dan ini sesuai dengan hukum sebab akibat yang Allah tetapkan pada ciptaan-Nya (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7).


Surah Al-An’am Ayat 111

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَىٰ وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

walau annanā nazzalnā ilaihimul-malā`ikata wa kallamahumul-mautā wa ḥasyarnā ‘alaihim kulla syai`ing qubulam mā kānụ liyu`minū illā ay yasyā`allāhu wa lākinna akṡarahum yaj-halụn

111. Dan, bahkan seandainya Kami turunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan seandainya orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka,96 dan [bahkan seandainya] Kami kumpulkan segala sesuatu [yang dapat membuktikan kebenaran] ke hadapan mereka, niscaya mereka tetap tidak akan beriman, kecuali kalau Allah menghendaki.97 Namun, kebanyakan mereka tidak mengetahui [tentang ini].


96 Yakni, mengenai fakta adanya kehidupan setelah mati.

97 Lihat catatan no. 95 sebelumnya.


Surah Al-An’am Ayat 112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

wa każālika ja’alnā likulli nabiyyin ‘aduwwan syayāṭīnal-insi wal-jinni yụḥī ba’ḍuhum ilā ba’ḍin zukhrufal-qauli gurụrā, walau syā`a rabbuka mā fa’alụhu fa żar-hum wa mā yaftarụn

112. DAN DEMIKIANLAH, bagi setiap nabi telah Kami jadikan musuh, yaitu kekuatan-kekuatan jahat dari kalangan manusia dan dari kalangan makhluk-makhluk gaib yang saling membisikkan kebenaran-kebenaran semu nan indah-kemilau*, yang dimaksudkan untuk memperdaya pikiran.98 Namun, mereka tidak dapat melakukan hal ini, kecuali dengan kehendak Pemeliharamu: karena itu, jauhilah mereka dan semua rekaan-rekaan batil mereka!


* {glittering half-truths, harfiah: kebenaran yang separuh-separuh}

98 Lit., “perkataan yang dibumbui” atau “dusta yang dipoles” (Lane III, h. 1223) “melalui khayalan”—yakni, kebenaran semu yang memikat manusia (glittering half-truths) dengan keindahannya yang menipu dan menyebabkan mereka mengabaikan seluruh nilai spiritual yang sejati. (Lihat juga Surah Al-Furan [25]: 30-31.)

Tentang kata jinn yang saya terjemahkan menjadi “makhluk-makhluk gaib”, lihat catatan no. 86 sebelumnya dan artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam. Kata syayathin (lit., “setan-setan”), di sisi lain, sering digunakan dalam Al-Quran dalam pengertian kekuatan-kekuatan jahat yang melekat pada manusia serta pada dunia spiritual (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 14 dan catatannya). Menurut beberapa hadis sahih, yang dikutip oleh Al-Thabari, Nabi ditanya, “Adakah setan dari kalangan manusia?”—dan beliau menjawab, “Ya, ada, dan mereka lebih buruk daripada setan dari kalangan makhluk-makhluk gaib (al-jinn).” Jadi, arti ayat di atas adalah bahwa setiap nabi harus berjuang melawan permusuhan spiritual—dan sering pula permusuhan fisik—dari orang-orang jahat yang, karena alasan apa pun, menolak mendengar suara kebenaran dan mencoba menyesatkan orang lain.


Surah Al-An’am Ayat 113

وَلِتَصْغَىٰ إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ

wa litaṣgā ilaihi af`idatullażīna lā yu`minụna bil-ākhirati wa liyarḍauhu wa liyaqtarifụ mā hum muqtarifụn

113. Namun, agar hati orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat menjadi cenderung pada-Nya, dan agar mereka dapat menemukan kepuasan pada-Nya, dan agar mereka memperoleh [keuntungan] apa pun yang dapat mereka peroleh—


Surah Al-An’am Ayat 114

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

a fagairallāhi abtagī ḥakamaw wa huwallażī anzala ilaikumul-kitāba mufaṣṣalā, wallażīna ātaināhumul-kitāba ya’lamụna annahụ munazzalum mir rabbika bil-ḥaqqi fa lā takụnanna minal-mumtarīn

114. [katakanlah, wahai Nabi:] “Maka, patutkah aku mencari seseorang selain Allah untuk mendapatkan keputusan99 [tentang mana yang benar dan mana yang salah], sementara Dia-lah yang telah menurunkan kepada kalian kitab Ilahi ini dengan menjelaskan kebenaran sejelas-jelasnya?”100

Dan, orang-orang yang telah Kami berikan wahyu sebelumnya mengetahui bahwa (kitab Ilahi) yang ini juga diturunkan oleh Pemelihararnu, mengungkapkan kebenaran, setahap demi setahap.101 Maka, janganlah termasuk orang yang ragu-ragu—


99 Lit., “mencari hakim selain Allah”.

100 Ungkapan mufashshalan bisa juga diterjemahkan menjadi “dengan suatu cara yang menunjukkan perbedaan (fashl) antara yang benar dan yang salah” (Al-Zamakhsyari). Penggunaan kata jamak kum (“kalian”) menunjukkan bahwa kitab Ilahi tersebut ditujukan kepada semua orang yang mungkin mengetahuinya.

101 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 146-147 dan catatannya. Kata ganti “ia” (hu) dapat mengacu pada kitab Ilahi yang terdahulu—Alkitab (Bibel)—dan ramalannya tentang kedatangan seorang nabi dari keturunan Ibrahim atau, lebih mungkin, mengacu pada Al-Quran: sehingga, dalam kasus terakhir ini, ia harus diterjemahkan menjadi “(kitab Ilahi) yang ini juga”. Dalam kedua kasus ini, frasa di atas tampaknya berhubungan dengan kesadaran instingtif (atau barangkali hanya kesadaran bawah-sadar) sebagian pengikut Alkitab bahwa Al-Quran benar-benar merupakan wahyu Ilahi.


Surah Al-An’am Ayat 115

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

wa tammat kalimatu rabbika ṣidqaw wa ‘adlā, lā mubaddila likalimātih, wa huwas-samī’ul-‘alīm

115. sebab, janji Pemeliharamu telah dipenuhi dengan benar dan adil.102 Tiada kekuatan yang dapat mengubah [pemenuhan] janji-janji-Nya: dan Dia saja yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


102 Jika dikaitkan dengan Allah, kata kalimah (lit., “kata”) sering digunakan dalam AI-Quran dalam pengertian “janji”. Dalam hal ini, ia jelas mengacu pada janji Alkitab (Bibel, Kitab Ulangan 18: 15 dan 18) bahwa Allah akan mengangkat seorang nabi di antara orang-orang Arab “yang seperti Musa” (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 33).


Surah Al-An’am Ayat 116

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

wa in tuṭi’ akṡara man fil-arḍi yuḍillụka ‘an sabīlillāh, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa in hum illā yakhruṣụn

116. Dan kini, jika engkau menuruti kebanyakan orang-orang [yang hidup] di muka bumi, mereka hanya akan menyesatkanmu dari jalan Allah: mereka mengikuti persangkaan [orang lain] saja dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga.103


103 Yakni, mengenai: hakikat sesungguhnya kehidupan manusia dan nasib akhirnya, masalah pewahyuan, hubungan antara Tuhan dan manusia, makna kebaikan dan keburukan, dan lain-lain. Dugaan-dugaan itu tidak saja menyesatkan manusia sehingga menjauh dari kebenaran-kebenaran spiritual, tetapi juga menyebabkan timbulnya aturan-aturan perilaku yang arbitrer dan larangan-larangan yang dibuat-buat oleh manusia terhadap dirinya sendiri; hal ini disinggung oleh Al-Quran, melalui sebuah contoh, dalam ayat 118 dan 119.


Surah Al-An’am Ayat 117

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

inna rabbaka huwa a’lamu may yaḍillu ‘an sabīlih, wa huwa a’lamu bil-muhtadīn

117. Sungguh, Pemeliharamu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.


Surah Al-An’am Ayat 118

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ

fa kulụ mimmā żukirasmullāhi ‘alaihi ing kuntum bi`āyātihī mu`minīn

118. MAKA, MAKANLAH apa-apa yang terhadapnya disebutkan nama Allah, jika kalian benar-benar beriman pada pesan-pesan-Nya.104


104 Maksud ayat ini dan ayat selanjutnya bukanlah, sebagaimana tampak sepintas lalu, untuk mengulang hukum makanan, yang telah diwahyukan sebelumnya; tetapi, lebih merupakan suatu peringatan bahwa ketaatan kepada hukum semacam itu seharusnya tidak dijadikan sebagai tujuan akhir pada dirinya, dan bukan pula dijadikan sebagai tujuan ritual: dan inilah alasannya mengapa dua ayat ini ditempatkan di tengah-tengah wacana tentang keesaan transendental Allah dan jalan-jalan keimanan manusia. “Pandangan-pandangan sesat” yang dibicarakan dalam ayat 119 misalnya adalah pandangan-pandangan yang menitikberatkan pada berbagai ritual dan pantangan yang artifisial, alih-alih pada nilai-nilai spiritual.


Surah Al-An’am Ayat 119

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

wa mā lakum allā ta`kulụ mimmā żukirasmullāhi ‘alaihi wa qad faṣṣala lakum mā ḥarrama ‘alaikum illā maḍṭurirtum ilaīh, wa inna kaṡīral layuḍillụna bi`ahwā`ihim bigairi ‘ilm, inna rabbaka huwa a’lamu bil-mu’tadīn

119. Dan, mengapa kalian tidak memakan apa-apa yang terhadapnya disebutkan nama Allah, padahal Allah telah menjelaskan kepada kalian sejelas-jelasnya apa-apa yang telah diharamkan-Nya kepada kalian [untuk dimakan], kecuali kalian terpaksa [melakukannya]? Namun, perhatikanlah, [justru dalam hal-hal seperti inilah] banyak manusia menyesatkan orang lain dengan pandangan-pandangan sesat mereka sendiri, tanpa memiliki pengetahuan [yang benar]. Sungguh, Pemeliharamu mengetahui sepenuhnya siapa yang melanggar batas-batas apa yang benar.


Surah Al-An’am Ayat 120

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

wa żarụ ẓāhiral-iṡmi wa bāṭinah, innallażīna yaksibụnal-iṡma sayujzauna bimā kānụ yaqtarifụn

120. Namun, jauhkanlah diri dari dosa,105 yang terang-terangan atau yang tersembunyi—sebab, perhatikanlah, orang-orang yang mengerjakan dosa akan diberi pembalasan atas segala yang mereka usahakan.


105 Perintah ini berhubungan dengan ayat 118, jadi: “Maka, makanlah apa-apa yang terhadapnya disebutkan nama Allah tetapi jauhkanlah diri dari dosa”—yakni, “janganlah melampaui apa yang telah Allah halalkan untuk kalian”.


Surah Al-An’am Ayat 121

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

wa lā ta`kulụ mimmā lam yużkarismullāhi ‘alaihi wa innahụ lafisq, wa innasy-syayāṭīna layụḥụna ilā auliyā`ihim liyujādilụkum, wa in aṭa’tumụhum innakum lamusyrikụn

121. Karena itu, janganlah memakan apa-apa yang terhadapnya tidak disebutkan nama Allah: sebab, hal ini sungguh suatu kefasikan.

Dan, sungguh, dorongan-dorongan jahat [dalam hati manusia] berbisik kepada orang-orang yang telah menjadikan dorongan-dorongan itu sebagai milik mereka sendiri106 bahwa mereka seharusnya melibatkan kalian dalam perdebatan [tentang apa yang merupakan dosa dan apa yang bukan dosa]; dan jika kalian menuruti dorongan-dorongan ini, lihatlah! kalian akan menjadi [seperti] orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada makhluk atau kekuatan lain selain Allah.107


106 Lit., “setan-setan berbisik kepada orang-orang yang dekat dengan mereka (ila auliya’ ihim)”. Untuk penjelasan tentang kata syayathin yang saya terjemahkan menjadi “dorongan-dorongan jahat”, Iihat catatan no. 10 pada Surah Al-Baqarah [2]: 14 dan catatan no. 31 pada Surah Ibrahim [14]: 22.

107 Yakni, “dorongan-dorongan jahat kalian mencoba menarik kalian ke dalam perdebatan tentang mana yang merupakan dosa dan mana yang bukan sehingga membuat kalian buta terhadap peraturan-peraturan tentang hal ini, yang telah disampaikan dengan jelas oleh Allah; dan jika kalian mengikuti penalaran mereka {yakni dorongan-dorongan jahat itu—peny.} yang arbitrer dan memperdayakan itu, kalian akan menjadikan mereka, demikianlah kira-kira, sebagai pihak yang menetapkan aturan-aturan hukum moral dan, dengan begitu, menisbahkan kepada mereka hak yang sebenarnya hanya dimiliki Allah”.


Surah Al-An’am Ayat 122

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

a wa mang kāna maitan fa aḥyaināhu wa ja’alnā lahụ nụray yamsyī bihī fin-nāsi kamam maṡaluhụ fiẓ-ẓulumāti laisa bikhārijim min-hā, każālika zuyyina lil-kāfirīna mā kānụ ya’malụn

122. LALU, APAKAH orang yang telah mati [semangatnya] dan yang Kami beri kehidupan setelah itu, dan yang Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat melihat jalannya di antara manusia108—[lalu apakah dia] serupa dengan orang [yang tersesat] di dalam pekatnya kegelapan, yang darinya dia tidak dapat keluar?

[Akan tetapi,] demikianlah: orang-orang yang mengingkari kebenaran itu memandang baik semua perbuatan mereka.


108 Lit., “yang dengannya dia berjalan di antara manusia”. Seluruh mufasir setuju bahwa ungkapan “orang yang telah mati” bersifat metatoris, dan mengacu pada orang yang menjadi hidup secara spiritual karena iman dan, setelah itu, mampu menjalani hidup mereka dengan benar.


Surah Al-An’am Ayat 123

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

wa każālika ja’alnā fī kulli qaryatin akābira mujrimīhā liyamkurụ fīhā, wa mā yamkurụna illā bi`anfusihim wa mā yasy’urụn

123. Dan, dengan cara inilah Kami jadikan orang-orang besar di setiap negeri sebagai orang-orang zalimnya [yang terbesar],109 di sanalah mereka menyusun rencana makar mereka: namun, rencana makar itu hanyalah merugikan mereka sendiri—dan mereka tidak menyadarinya.


109 Karena merasa penting, “orang-orang besar” sedikit-banyak menjadi kebal terhadap kritikan, dan biasanya, jika dibandingkan orang lain, kurang tertarik untuk mempersoalkan aspek-aspek moral dari perilaku mereka sendiri. Akibatnya, sikap “merasa suci” ini justru sering kali mengakibatkan mereka melakukan perbuatan yang sangat buruk.


Surah Al-An’am Ayat 124

وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

wa iżā jā`at-hum āyatung qālụ lan nu`mina ḥattā nu`tā miṡla mā ụtiya rusulullāh, allāhu a’lamu ḥaiṡu yaj’alu risālatah, sayuṣībullażīna ajramụ ṣagārun ‘indallāhi wa ‘ażābun syadīdum bimā kānụ yamkurụn

124. Dan, manakala sebuah pesan [Ilahi] datang kepada mereka. mereka berkata, “Karni tidak akan beriman kecuali kalau kami diberikan yang serupa dengan yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah!”110 [Akan tetapi,] Allah lebih mengetahui kepada siapa pesan-Nya harus diberikan.

Kehinaan dalam pandangan Allah akan menimpa orang-orang yang berdosa karena berbuat zalim, dan penderitaan yang dahsyat karena semua rencana makar yang biasa mereka susun.


110 Yakni, wahyu secara langsung.


Surah Al-An’am Ayat 125

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

fa may yuridillāhu ay yahdiyahụ yasyraḥ ṣadrahụ lil-islām, wa may yurid ay yuḍillahụ yaj’al ṣadrahụ ḍayyiqan ḥarajang ka`annamā yaṣṣa”adu fis-samā`, każālika yaj’alullāhur-rijsa ‘alallażīna lā yu`minụn

125. Dan, siapa pun yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, Dia melapangkan dada orang itu untuk berserah diri [kepada-Nya); dan siapa pun yang Allah kehendaki untuk dibiarkan sesat, Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit: demikianlah Allah menimpakan kenistaan kepada orang-orang yang tidak beriman.


Surah Al-An’am Ayat 126

وَهَٰذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ

wa hāżā ṣirāṭu rabbika mustaqīmā, qad faṣṣalnal-āyāti liqaumiy yażżakkarụn

126. Dan, tidaklah menyimpang jalan Tuhanmu ini.111

Sungguh, Kami telah menjelaskan pesan-pesan ini dengan sejelas-jelasnya kepada orang-orang yang [mau] merenungkannya!


111 Lit., “dan inilah jalan Pemeliharamu, (jalan) yang lurus”—yakni, hukum sebab dan akibatnya tidak berubah, dan berlaku pula dalam kehidupan batin manusia.

Kata rijs pada kalimat sebelumnya, yang saya terjemahkan menjadi “horror” (kenistaan), berarti apa pun yang pada dasarnya memuakkan, menjijikkan, atau buruk sekali; dalam kasus ini, kata itu tampaknya menunjukkan perasaan sia-sia yang amat hebat yang, cepat-lambat, menerpa setiap orang yang tidak percaya bahwa hidup memiliki arti dan tujuan.


Surah Al-An’am Ayat 127

لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

lahum dārus-salāmi ‘inda rabbihim wa huwa waliyyuhum bimā kānụ ya’malụn

127. Bagi merekalah tempat kediaman yang damai bersama Pemelihara mereka; dan Dia akan menjadi dekat dengan mereka disebabkan apa-apa yang telah mereka kerjakan.


Surah Al-An’am Ayat 128

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa yauma yaḥsyuruhum jamī’ā, yā ma’syaral-jinni qadistakṡartum minal-ins, wa qāla auliyā`uhum minal-insi rabbanastamta’a ba’ḍunā biba’ḍiw wa balagnā ajalanallażī ajjalta lanā, qālan-nāru maṡwākum khālidīna fīhā illā mā syā`allāh, inna rabbaka ḥakīmun ‘alīm

128. DAN, PADA HARI ketika Dia akan menghimpun mereka [semua] bersama-sama, [Dia akan berfirman,] “Wahai, kalian yang hidup dalam jalinan hubungan yang erat dengan makhluk-makhluk tak terlihat [yang jahat]! Amat banyak manusia [lainnya] yang telah kalian jerat!”112

Dan, manusia-manusia yang dekat dengan mereka113 akan berkata, “Wahai, Pemelihara kami! Kami memang menikmati persahabatan satu sama lain [dalam kehidupan]; tetapi [kini setelah] kami sampai pada akhir batas-waktu kami—batas-waktu yang telah Engkau tetapkan bagi kami—[kami melihat kesalahan jalan kami]!”

[Akan tetapi,] Dia akan berfirman, “Api akan menjadi tempat tinggal kalian, berkediaman di dalamnya—kecuali kalau Allah menghendaki sebaliknya.”114 Sungguh, Pemeliharamu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.


112 Menurut kebanyakan mufasir, makhluk-makhluk tak terlihat (al-jinn) yang disebutkan di sini adalah “kekuatan-kekuatan jahat” (syayathin) di antara mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 112 surah ini. Pada umumnya, diasumsikan bahwa kepada makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan inilah ayat di atas ditujukan; tetapi makna utama kata ma’syar yang disebutkan dalam konteks ini, menurut pendapat saya, membenarkan adanya kesimpulan yang berbeda. Memang benar bahwa kata ini sering digunakan untuk menunjuk pada kelompok, komunitas, atau golongan makhluk hidup berperasaan yang memiliki kesamaan karakteristik tertentu: sebuah arti yang konvensional—dan tidak diragukan lagi, dapat dibenarkan—yang didasarkan pada verba ‘asyarahu, yang berarti “dia berkawan [atau ‘memiliki hubungan yang akrab’] dengannya” atau “menjalani hubungan yang erat dengannya”. Akan tetapi, justru verba ‘asyarahu inilah yang memberikan petunjuk pada kita, apa sebenarnya makna ma’syar ini. Karena, dalam makna utamanya, “ma’syar seseorang” menunjuk pada orang-orang yang memiliki hubungan yang akrab, atau yang menjalani hubungan yang erat dengannya (bdk. Lisan Al-‘Arab: “Ma’syar seseorang adalah keluarganya”), kita dapat menganggap bahwa ia mempunyai makna yang sama dalam frasa Al-Quran di atas. Jadi, menurut saya, seruan ya ma’syar al-jinn tidak berarti, “Wahai, kalian, golongan makhluk-makhluk gaib [yang jahat]”, alih-alih, “Wahai, kalian yang berada dalam [atau ‘hidup dalam jalinan’] hubungan yana erat dengan makhluk-makhluk gaib [yang jahat]”: dengan kata lain, seruan ini ditujukan kepada manusia yang tersesat, yang telah terbujuk oleh “kebenaran-kebenaran semu nan indah-kemilau, yang dimaksudkan untuk memperdaya pikiran” (ayat 112). Penafsiran ini dikuatkan dengan kalimat, “Apakah belum datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian sendiri“, yang terdapat dalam ayat 130 selanjutnya: sebab, Al-Quran selalu berbicara tentang rasul-rasul yang berasal dari ras manusia saja, dan tidak pernah berbicara tentang rasul-rasul dari kalangan jin. (Makna jinn dijelaskan lebih luas pada artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.)

113 Yakni, dekat dengan makhluk-makhluk tak terlihat (gaib) yang jahat itu. Hendaknya diingat bahwa makna utama kata wali (jamak: auliya’) adalah “seorang yang dekat [dengan yang lainnya]”.

114 Yakni, kecuali Dia mengasihi mereka dengan rahmat-Nya (lihat ayat 12 surah ini dan catatannya). Beberapa teolog besar Muslim menyimpulkan dari frasa di atas dan dari frasa yang mirip dalam Surah Hud [11]: 107 (serta dari beberapa hadis sahih) bahwa—berlawanan dengan kebahagiaan surga, yang jangka waktunya tidak terbatas—penderitaan para pendosa dalam kehidupan akhirat akan dibatasi oleh rahmat Allah. (Dalam kaitan ini, lihat hadis-hadis yang dikutip dalam catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12.)


Surah Al-An’am Ayat 129

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

wa każālika nuwallī ba’ḍaẓ-ẓālimīna ba’ḍam bimā kānụ yaksibụn

129. Dan, dengan cara inilah Kami jadikan orang-orang zalim itu saling membujuk115 melalui perbuatan-perbuatan [zalim] mereka.


115 Lit., “dekat antara satu dan lainnya”, atau “satu sama lain saling berhubungan”. Ungkapan “dengan cara inilah” (kadzalika), yang mengawali ayat di atas, jelas menunjuk pada cara makhluk-makhluk jahat itu “saling membisikkan kebenaran-kebenaran semu nan indah-kemilau, yang dimaksudkan untuk memperdaya pikiran” (ayat 112 surah ini).


Surah Al-An’am Ayat 130

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

yā ma’syaral-jinni wal-insi a lam ya`tikum rusulum mingkum yaquṣṣụna ‘alaikum āyātī wa yunżirụnakum liqā`a yaumikum hāżā, qālụ syahidnā ‘alā anfusinā wa garrat-humul-ḥayātud-dun-yā wa syahidụ ‘alā anfusihim annahum kānụ kāfirīn

130. [Dan, Allah akan melanjutkan firman-Nya,] “Wahai, kalian yang menjalin hubungan yang erat dengan makhluk-makhluk gaib [yang jahat] dan manusia-manusia [yang berpikiran serupa]! Apakah belum datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian sendiri, yang menyampaikan kepada kalian pesan-pesan-Ku dan mengingatkan kalian akan kedatangan Hari [Pengadilan]mu ini?”

Mereka akan menjawab, “Kami menjadi saksi terhadap diri kami sendiri!”—sebab, kehidupan dunia ini telah menipu mereka; dan demikianlah, mereka akan menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka telah mengingkari kebenaran.


Surah Al-An’am Ayat 131

ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

żālika al lam yakur rabbuka muhlikal-qurā biẓulmiw wa ahluhā gāfilụn

131. Dan, demikianlah, Pemeliharamu tidak akan pernah membinasakan suatu masyarakat116 karena kezalimannya selama penduduknya masih belum menyadari [makna benar dan salah]:


116 Lit., “masyarakat-masyarakat”. Kata qaryah (lit., “kota”, “kampung”, atau “negeri”) juga berarti penduduk suatu kota atau negeri—singkatnya, “masyarakat”—dan dalam pengertian inilah kata ini paling banyak, kendatipun tidak selalu, digunakan dalam Al-Quran.


Surah Al-An’am Ayat 132

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

wa likullin darajātum mimmā ‘amilụ, wa mā rabbuka bigāfilin ‘ammā ya’malụn

132. karena semuanya akan dinilai berdasarkan perbuatan-perbuatan [sadar] mereka117—dan Pemeliharamu tidak lengah akan apa yang mereka kerjakan.


117 Lit., “semua akan mendapatkan derajat-derajat dari apa yang telah mereka kerjakan”, yakni secara sadar—karena Allah tidak menghukum suatu kaum disebabkan kesalahan-kesalahan yang mungkin telah mereka lakukan, kecuali kalau mereka secara sadar melanggar hukum moral yang sudah dijelaskan kepada mereka oleh para nabi.


Surah Al-An’am Ayat 133

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ

wa rabbukal-ganiyyu żur-raḥmah, iy yasya` yuż-hibkum wa yastakhlif mim ba’dikum mā yasyā`u kamā ansya`akum min żurriyyati qaumin ākharīn

113. Dan, hanya Pemeliharamu Yang Mahacukup, rahmat-Nya tiada terhingga. Jika Dia menghendaki, Dia dapat memusnahkan kalian dan setelah itu menjadikan orang-orang yang Dia kehendaki menggantikan kalian—sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dari benih orang-orang lain.


Surah Al-An’am Ayat 134

إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ ۖ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

inna mā tụ’adụna la`ātiw wa mā antum bimu’jizīn

134. Sungguh, [perhitungan] yang dijanjikan kepada kalian pasti akan datang dan kalian tidak sanggup mengelakkannya!


Surah Al-An’am Ayat 135

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

qul yā qaumi’malụ ‘alā makānatikum innī ‘āmil, fa saufa ta’lamụna man takụnu lahụ ‘āqibatud-dār, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn

135. Katakanlah: “Wahai, kaumku [yang tidak beriman]! Lakukanlah apa pun yang mampu kalian lakukan, [sementara] aku, perhatikanlah, akan berjuang [di jalan Allah]; dan kelak kalian akan mengetahui milik siapakah masa depan itu.118 Sungguh, orang-orang zalim itu tidak akan pernah meraih kebahagiaan!


118 Lit., “milik siapakah akhir kediaman [yang bahagia] itu”. Kata “kediaman/tempat tinggal” (dar) digunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk baik pada kehidupan di dunia ini (dar al-dunya) maupun kehidupan di akhirat (dar al-akhirah). Mayoritas mufasir berpendapat bahwa ia mengacu pada kehidupan akhirat; tetapi, menurut Al-Zamakhsyari, ia mengacu pada kehidupan dunia. Karena kedua penafsiran ini dapat diterima dan dibenarkan, saya memilih terjemahan seperti di atas yang mencakup keduanya. 


Surah Al-An’am Ayat 136

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَٰذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَٰذَا لِشُرَكَائِنَا ۖ فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَىٰ شُرَكَائِهِمْ ۗ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

wa ja’alụ lillāhi mimmā żara`a minal-ḥarṡi wal-an’āmi naṣīban fa qālụ hāżā lillāhi biza’mihim wa hāżā lisyurakā`inā, fa mā kāna lisyurakā`ihim fa lā yaṣilu ilallāh, wa mā kāna lillāhi fa huwa yaṣilu ilā syurakā`ihim, sā`a mā yaḥkumụn

136. DAN, mereka memperuntukkan bagi Allah suatu bagian dari tanam-tanaman dan hewan ternak yang telah Dia ciptakan, seraya berkata, “Ini milik Allah”—atau mereka [dengan keliru] menyatakan119—“dan ini untuk makhluk-makhluk yang, kami yakini, berserikat dalam ketuhanan Allah.”120 Namun, apa-apa yang diperuntukkan bagi makhluk-makhluk yang dalam pikiran mereka dihubung-hubungkan dengan Allah itu tidak mendekatkan [mereka] dengan Allah—sedangkan apa-apa yang diperuntukkan bagi Allah itu [tidak lain hanyalah] mendekatkan [mereka] dengan makhluk-makhluk itu, yang mereka persekutukan dengan-Nya.121 Betapa buruknya penilaian mereka itu!


119 Dengan keliru—karena segala sesuatu yang ada, pada hakikatnya, adalah milik Allah semata.

120 Lit., “untuk sekutu-sekutu [Tuhan] kita”—yakni, “yang kami anggap berserikat dengan Allah”. Untuk penjelasan mengenai kata syarik, lihat catatan no. 15 pada ayat 22 surah ini. Orang-orang Arab pra-Islam biasa mempersembahkan sebagian hasil pertanian dan peternakan mereka kepada beberapa tuhan mereka, dan sebagiannya lagi dipersembahkan untuk Allah, yang mereka anggap sebagai salah satu—meskipun yang paling agung—di antara tuhan-tuhan mereka. Namun, sejalan dengan metode Al-Quran, ayat di atas menyangkut bukan saja aspek sejarah dari kehidupan orang-orang Arab pra-Islam, melainkan juga memiliki implikasi yang lebih luas dan umum: yakni, ia mengacu tidak hanya pada pembagian “hak-hak” ibadah antara Allah dan tuhan-tuhan imajiner, tetapi juga pada penisbahan bagian apa pun dari kekuatan-kekuatan kreatif-Nya kepada siapa pun atau apa pun selain-Nya.

121 Yakni, fakta bahwa mereka memperuntukkan “sebagian” pengabdian mereka untuk Allah tidak memperkuat keimanan mereka pada Dia, alih-alih menunjukkan penyangkalan atas keesaan-Nya yang transendental dan, dengan demikian, membuat mereka semakin bergantung pada “perantara-perantara” Ilahi atau semi-Ilahi yang imajiner itu.


Surah Al-An’am Ayat 137

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

wa każālika zayyana likaṡīrim minal-musyrikīna qatla aulādihim syurakā`uhum liyurdụhum wa liyalbisụ ‘alaihim dīnahum, walau syā`allāhu mā fa’alụhu fa żar-hum wa mā yaftarụn

137. Dan, demikian pula, kepercayaan mereka kepada makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan yang dianggap berserikat dalam ketuhanan Allah [bahkan] menjadikan122 pembunuhan anak-anak mereka tampak baik bagi banyak orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah sehingga menghancurkan mereka dan mengacaukan keimanan mereka.123

Namun, kecuali kalau Allah menghendaki, mereka tidak akan melakukan semua ini:124 karena itu, jauhilah mereka dan semua rekaan-rekaan batil mereka!


122 Lit., “sekutu-sekutu [Tuhan] mereka menjadikan”. Sebagaimana diungkapkan Al-Razi, sejumlah mufasir awal berpendapat bahwa ungkapan syuraka’uhum (lit., “sekutu-sekutu mereka”) di sini berarti “makhluk-makhluk jahat” atau “kekuatan-kekuatan jahat” (syayathin) dari kalangan manusia dan jinn yang dirujuk dalam ayat 112, 121, 128, dan 130 surah ini. Namun, menurut saya, apa yang dimaksudkan di sini—sebagaimana dalam ayat sebelumnya—adalah kepercayaan akan adanya apa pun yang dapat “diperserikatkan” dengan Allah; karena itu, saya menerjemahkan frasa di atas menjadi “kepercayaan mereka kepada makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan yang dianggap …” dan seterusnya.

123 Hal ini mengacu pada adat-istiadat yang berlaku di kalangan orang-orang Arab pra-Islam. Mereka mengubur hidup-hidup anak-anak yang tidak diinginkan, terutama anak perempuan, dan kadang-kadang juga mempersembahkan anak laki-laki untuk dikorbankan kepada salah satu dari berhala-berhala mereka (Al-Zamakhsyari). Terlepas dari acuan historisnya, ayat Al-Quran di atas tampaknya menunjukkan, secara tersirat, fakta psikologis bahwa tindakan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun atau siapa pun selain Allah akan diikuti oleh suatu sikap kebergantungan yang semakin lama semakin besar terhadap segala jenis kekuatan imajiner yang harus “dirayu” lewat ritus-ritus formal yang sering kali absurd dan kejam: dan, pada gilirannya, hal ini mengakibatkan hilangnya kemerdekaan spiritual dan hancurnya moral.

124 Yakni, Dia mengizinkan mereka untuk berperilaku demikian karena Dia menginginkan agar mereka menggunakan akal dan kehendak-bebas yang telah Dia anugerahkan kepada manusia.


Surah Al-An’am Ayat 138

وَقَالُوا هَٰذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لَا يَطْعَمُهَا إِلَّا مَنْ نَشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لَا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ ۚ سَيَجْزِيهِمْ بِمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

wa qālụ hāżihī an’āmuw wa ḥarṡun ḥijrul lā yaṭ’amuhā illā man nasyā`u biza’mihim wa an’āmun ḥurrimat ẓuhụruhā wa an’āmul lā yażkurụnasmallāhi ‘alaihaftirā`an ‘alaīh, sayajzīhim bimā kānụ yaftarụn

138. Dan, mereka berkata, “Hewan-hewan ternak dan buah-buah dari ladang ini dan ini adalah suci; tidak ada yang boleh memakannya kecuali orang-orang yang kami kehendaki [untuk memakannya]”—begitulah mereka mengklaim [dengan keliru];125 dan [mereka menyatakan bahwa] haram untuk membebani punggung jenis hewan ternak tertentu; dan ada hewan ternak yang terhadapnya mereka tidak menyebut nama Allah126—(mereka) dengan batil menisbahkan [asal-usul kebiasaan ini] kepada Allah. [Namun,] Dia akan membalas mereka disebabkan semua rekaan-rekaan batil mereka.


125 Orang-orang Arab pra-Islam dengan keliru telah mengklaim bahwa pantangan-pantangan ini ditetapkan oleh Allah, sebagaimana tampak jelas di bagian akhir ayat ini. Salah satu “aturan” khayal yang arbitrer ini menetapkan bahwa hanya para pendeta dari berhala yang bersangkutan serta beberapa laki-laki dari suku tertentu yang boleh memakan daging hewan korban semacam itu, sedangkan perempuan dilarang memakannya (Al-Zamakhsyari).

126 yakni, ketika mereka mengorbankannya kepada berhala-berhala mereka (lihat juga Surah Al-Ma’idah [5]: 103 dan catatannya). Dari paparan ini tampak bahwar biasanya, orang-orang musyrik Arab memang mengucapkan nama Allah—yang mereka anggap sebagai tuhan tertinggi—ketika menyembelih hewan-hewan itu; tetapi, dalarn kasus pengecualian yang disebutkan di atas, mereka tidak melakukan yang demikian itu karena mereka percaya bahwa Allah sendiri telah melarang hal itu.


Surah Al-An’am Ayat 139

وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَٰذِهِ الْأَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَىٰ أَزْوَاجِنَا ۖ وَإِنْ يَكُنْ مَيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ ۚ سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ ۚ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

wa qālụ mā fī buṭụni hāżihil-an’āmi khāliṣatul liżukụrinā wa muḥarramun ‘alā azwājinā, wa iy yakum maitatan fa hum fīhi syurakā`, sayajzīhim waṣfahum, innahụ ḥakīmun ‘alīm

139. Dan, mereka berkata, “Segala yang ada dalam perut hewan-hewan ternak anu dikhususkan untuk lelaki-lelaki kami dan diharamkan bagi perempuan-perempuan kami; tetapi jika ia dilahirkan mati, laki-laki dan perempuan sama-sama boleh memperoleh bagian darinya.” [Allah] akan membalas mereka disebabkan semua yang [secara salah] mereka nisbahkan [kepada-Nya]: perhatikanlah, Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.


Surah Al-An’am Ayat 140

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ ۚ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

qad khasirallażīna qatalū aulādahum safaham bigairi ‘ilmiw wa ḥarramụ mā razaqahumullāhuftirā`an ‘alallāh, qad ḍallụ wa mā kānụ muhtadīn

140. Sungguh rugilah mereka yang, dalam kebodohan akal mereka, membunuh anak-anak mereka, dan mengharamkan apa yang telah Allah rezekikan kepada mereka, dengan menisbahkan secara keliru [larangan-larangan seperti itu] kepada Allah: mereka telah tersesat dan tidak menemukan jalan yang benar.


Surah Al-An’am Ayat 141

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

wa huwallażī ansya`a jannātim ma’rụsyātiw wa gaira ma’rụsyātiw wan-nakhla waz-zar’a mukhtalifan ukuluhụ waz-zaitụna war-rummāna mutasyābihaw wa gaira mutasyābih, kulụ min ṡamarihī iżā aṡmara wa ātụ ḥaqqahụ yauma ḥaṣādihī wa lā tusrifụ, innahụ lā yuḥibbul-musrifīn

141. Karena Dia-lah yang telah menjadikan kebun-kebun—[baik] yang ditanam maupun yang tumbuh liar127—dan pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, pohon zaitun dan delima: [semuanya] begitu serupa, tapi tetap saja sangat berbeda satu sama lain!128 Makanlah buahnya apabila ia berbuah, dan berikanlah [kepada yang miskin] hak mereka pada waktu panen. Dan, janganlah memboroskan [karunia Allah]: sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang boros!


127 Inilah penjelasan kata ma’rusyat dan ghaira ma’rusyat (lit., “pohon-pohon yang daunnya menjari dan tidak menjari”) yang diterima secara umum. Penyebutan “kebun-kebun” di sini dimaksudkan untuk mengilustrasikan doktrin bahwa segala sesuatu yang hidup dan tumbuh—seperti segala sesuatu yang lainnya dalam alam semesta—mendapatkan eksistensinya dari Allah semata dan, karenanya, mengaitkan hal-hal itu secara kausal dan devosional dengan kekuatan lain mana pun, baik yang nyata maupun yang imajiner, merupakan suatu penghinaan kepada-Nya.

128 Lihat catatan no. 85 pada ayat 99 surah ini. 


Surah Al-An’am Ayat 142

وَمِنَ الْأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا ۚ كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

wa minal-an’āmi ḥamụlataw wa farsyā, kulụ mimmā razaqakumullāhu wa lā tattabi’ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

142. Dan, di antara hewan ternak yang dijadikan untuk pengangkutan dan yang diambil dagingnya, makanlah rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan:129 perhatikanlah, dia adalah musuh yang nyata bagi kalian!


129 Yakni, mengharamkan, berdasarkan takhayul, apa yang telah Allah halalkan bagi manusia. Semua rujukan terhadap pantangan jahiliah yang disebutkan dalam ayat 138-140 serta 142-144 dimaksudkan untuk menekankan kehalalan semua makanan (dan, secara tersirat, semua kenikmatan fisik lainnya) yang tidak dilarang oleh Allah melalui wahyu.


Surah Al-An’am Ayat 143

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۖ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْمَعْزِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ نَبِّئُونِي بِعِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

ṡamāniyata azwāj, minaḍ-ḍa`niṡnaini wa minal-ma’ziṡnaīn, qul āż-żakaraini ḥarrama amil-unṡayaini ammasytamalat ‘alaihi ar-ḥāmul-unṡayaīn, nabbi`ụnī bi’ilmin ing kuntum ṣādiqīn

143. [Pengikut-pengikutnya akan menyatakan bahwa, dalam kasus-kasus tertentu, mana pun di antara] empat jenis hewan ternak, baik yang jantan maupun yang betina, [diharamkan bagi manusia]: domba dan kambing, baik yang jantan maupun yang betina.130 Tanyakanlah [kepada mereka]: “Apakah dua yang jantan yang Dia haramkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betina itu? Terangkanlah kepadaku apa yang kalian ketahui tentang ini131 jika apa yang kalian katakan itu benar.”


130 Lit., “delapan [dalam] pasang[-an]—domba dua pasang dan kambing dua pasang” (dua pasang lainnya disebutkan pada ayat selanjutnya). Ini merupakan contoh yang menonjol dari eliptisisme yang sering digunakan dalam Al-Quran: sebuah gaya ungkapan yang tidak bisa diterjemahkan dengan tepat ke dalam bahasa lain mana pun tanpa menggunakan sisipan-sisipan penjelasan. Kata zauj berarti “sepasang” dan juga “masing-masing unsur dari pasangan itu”: karenanya, saya menerjemahkan kalimat tsamaniyat azwaj (lit., “delapan [dalam] pasang[-an]”) menjadi “empat jenis hewan ternak, baik yang jantan maupun yang betina”. Takhayul yang dirujuk oleh ayat ini dan ayat berikutnya barangkali sama dengan yang disebutkan dalam Surah Al-Ma’idah [5]: 103.

131 Lit., “beri tahukan kepadaku dengan pengetahuan”—yakni, bukan berdasarkan praduga, melainkan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu yang autentik. Pertanyaan-pertanyaan ironis sebelum dan sesudahnya dimaksudkan untuk menunjukkan ketidakjelasan dan inkonsistensi segala larangan yang berdasarkan takhayul ini, yang dibebankan manusia terhadap dirinya sendiri.


Surah Al-An’am Ayat 144

وَمِنَ الْإِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ ۗ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ ۖ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَٰذَا ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

wa minal-ibiliṡnaini wa minal-baqariṡnaīn, qul āż-żakaraini ḥarrama amil-unṡayaini ammasytamalat ‘alaihi ar-ḥāmul-unṡayaīn, am kuntum syuhadā`a iż waṣṣākumullāhu bihāżā, fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibal liyuḍillan-nāsa bigairi ‘ilm, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

144. Dan, [demikian pula mereka nyatakan haram] unta dan sapi, baik yang jantan maupun yang betina.132 Tanyakanlah [kepada mereka]: “Apakah dua yang jantan yang Dia haramkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betina itu? Atau, apakah kalian [sendiri] menyaksikan pada waktu Allah memerintahkan [semua] ini kepada kalian?”

Dan, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang, tanpa pengetahuan [yang benar], menisbahkan rekaan-rekaan dustanya sendiri kepada Allah, dan akibatnya menyesatkan manusia?133 Perhatikanlah, Allah tidak merahmati orang-orang zalim [seperti itu] dengan petunjuk-Nya.


132 Lit., “dan dua unta, dan dua sapi”—jadi, menggenapi uraian “delapan jenis [yakni, empat pasang] hewan ternak”.

133 Lit., “[lalu] untuk menyesatkan manusia”. Namun, kata hubung li yang diimbuhkan sebagai awalan bagi verba yudhill (“dia menyesatkan”) di sini tidak menunjukkan—sebagaimana biasanya—suatu maksud (“supaya”), alih-alih suatu akibat logis (“dan akibatnya …”): suatu fungsi yang digambarkan oleh ahli tata bahasa sebagai lam al-‘aqibah, “huruf lam yang menunjukkan sebuah rangkaian sebab-akibat”.


Surah Al-An’am Ayat 145

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

qul lā ajidu fī mā ụḥiya ilayya muḥarraman ‘alā ṭā’imiy yaṭ’amuhū illā ay yakụna maitatan au damam masfụḥan au laḥma khinzīrin fa innahụ rijsun au fisqan uhilla ligairillāhi bih, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa inna rabbaka gafụrur raḥīm

145. Katakanlah [wahai Nabi]: “Tiadalah aku mendapati dalam segala yang diwahyukan kepadaku, sesuatu pun yang haram dimakan, jika seseorang mau memakannya,134 kecuali makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi—karena, perhatikanlah, itu menjijikkan—atau suatu sesajian penuh dosa135 yang disembelih atas nama selain Allah. Namun, apabila seseorang dalam keadaan terpaksa—tanpa menginginkannya dan tidak melebihi kebutuhannya saat itu—maka [ketahuilah bahwa], perhatikanlah, Pemeliharamu Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.”136


134 Lit., “dilarang bagi seorang pemakan untuk memakan darinya”.

135 Lit., “kefasikan” (fisq)—yang di sini berarti sesajian yang berbau praktik keberhalaan.

136 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 173 dan Surah Al-Ma’idah [5]: 3.


Surah Al-An’am Ayat 146

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ ۖ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ۚ ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

wa ‘alallażīna hādụ ḥarramnā kulla żī ẓufur, wa minal-baqari wal-ganami ḥarramnā ‘alaihim syuḥụmahumā illā mā ḥamalat ẓuhụruhumā awil-ḥawāyā au makhtalaṭa bi’aẓm, żālika jazaināhum bibagyihim, wa innā laṣādiqụn

146. Dan, [hanya] bagi orang-orang yang mengikuti keakinan Yahudi, Kami haramkan segala hewan yang berkuku;137 dan Kami haramkan bagi mereka lemak sapi dan domba, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang di dalam tulang:138 demikianlah Kami balas mereka disebabkan kezaliman mereka—karena, perhatikanlah, Kami menepati janji Kami!139


137 Susunan kalimat di atas memberikan kejelasan bahwa larangan ini diberlakukan secara khusus bagi orang-orang Yahudi, sehingga tidak berlaku bagi orang-orang yang beriman pada masa-masa kemudian (Al-Razi).

138 Bdk. Kitab Imamat 7: 23 (di mana “segala” lemak dari lembu, domba, ataupun kambing diharamkan).

139 Lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 93.


Surah Al-An’am Ayat 147

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

fa ing każżabụka fa qur rabbukum żụ raḥmatiw wāsi’ah, wa lā yuraddu ba`suhụ ‘anil-qaumil-mujrimīn

147. Dan, jika mereka mendustakanmu,140 katakanlah: “Rahmat Pemelihara kalian tiada terhingga; tetapi siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang tersesat dalam dosa.”


140 Yakni, berkenaan dengan pernyataan Al-Quran (dalam ayat 145) bahwa Allah hanya mengharamkan beberapa jenis makanan, yang telah dijelaskan secara gamblang. Kata ganti “mereka” mengacu pada orang-orang Yahudi dan juga orang-orang musyrik Arab yang telah dibicarakan dalam ayat-ayat sebelumnya—keduanya mengklaim bahwa Allah telah menetapkan untuk manusia berbagai larangan yang rumit menyangkut makanan. Menurut Al-Quran, klaim orang-orang Yahudi itu salah karena mereka melupakan fakta bahwa ketatnya syariat Musa menyangkut makanan itu merupakan hukuman atas kesalahan mereka pada masa lalu (lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 93) dan, karena itu, aturan itu hanya diperuntukkan bagi mereka; dan orang-orang musyrik Arab pun salah karena aturan pantangan mereka tidak memiliki dasar Ilahi apa pun dan hanya berdasarkan takhayul.


Surah Al-An’am Ayat 148

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

sayaqụlullażīna asyrakụ lau syā`allāhu mā asyraknā wa lā ābā`unā wa lā ḥarramnā min syaī`, każālika każżaballażīna ming qablihim ḥattā żāqụ ba`sanā, qul hal ‘indakum min ‘ilmin fa tukhrijụhu lanā, in tattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa in antum illā takhruṣụn

148. ORANG-ORANG yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah akan berkata, “Andaikan Allah menghendaki, kami tidak akan menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya, tidak pula nenek moyang kami [melakukan yang demikian]; dan tidak pula akan kami nyatakan haram apa pun [yang telah Dia halalkan].” Bahkan, demikian pulalah orang-orang yang hidup sebelum mereka telah mendustakan kebenaran141—hingga mereka merasakan hukuman Kami!

Katakanlah: “Adakah kalian mempunyai pengetahuan [tertentu] yang dapat kalian kemukakan kepada Kami?142 Kalian hanyalah mengikuti dugaan [orang lain] belaka, dan kalian sendiri tidak melakukan apa pun selain menduga-duga.”


141 Yakni, kebenaran bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk memilih antara yang benar dan yang salah. Ayat di atas menegaskan penolakan total terhadap doktrin “predestinasi (serbanasib)” dalam pengertiannya yang diterima umum.

142 Yakni, pengetahuan tentang “takdir”.


Surah Al-An’am Ayat 149

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ ۖ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

qul falillāhil-ḥujjatul-bāligah, falau syā`a lahadākum ajma’īn

149. Katakan: “Maka [ketahuilah,] bahwa bukti akhir [tentang semua kebenaran] ada pada Allah saja; dan andaikan Dia menghendaki, Dia pasti telah memberi petunjuk kepada kalian semuanya.”143


143 Dengan kata lain, kaitan sebenarnya antara pengetahuan Allah tentang masa depan (dan, karena itu, “tidak-dapat-dihindarkannya” apa yang memang akan terjadi di masa depan) di satu sisi, dan kehendak-bebas manusia di sisi yang lain—dua proposisi yang sepintas lalu tampak saling bertentangan—berada di luar pemahaman manusia; tetapi karena keduanya dipostulatkan oleh Allah, keduanya pasti benar. Konsep tentang “Allah” itu sendiri mensyaratkan kemahatahuan-Nya; dan konsep tentang moralitas dan tanggung jawab moral pada dasarnya mensyaratkan kehendak-bebas manusia. Andai Allah memang menghendaki, setiap manusia dapat saja dipaksa untuk hidup secara saleh; tetapi hal ini berarti menghilangkan kehendak-bebas manusia dan moralitas dengan segala pengertiannya.


Surah Al-An’am Ayat 150

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ ۚ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَهُمْ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

qul halumma syuhadā`akumullażīna yasy-hadụna annallāha ḥarrama hāżā, fa in syahidụ fa lā tasy-had ma’ahum, wa lā tattabi’ ahwā`allażīna każżabụ bi`āyātinā wallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati wa hum birabbihim ya’dilụn

150. Katakanlah: “Bawalah saksi-saksi kalian yang dapat memberi kesaksikan bahwa Allah telah mengharamkan [semua] ini!”144—dan jika mereka memberi kesaksian [dengan palsu], janganlah ikut menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah mengikuti pandangan sesat dari orang-orang yang telah mendustakan pesan-pesan Kami, dan tidak juga dari orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, dan yang memandang kekuatan-kekuatan lain sebagai tandingan Pemelihara mereka!145


144 Sebuah acuan terhadap larangan-larangan arbitrer yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya.

145 Lit., “menjadikan [yang lain] setara dengan Pemelihara mereka”: yakni, melekatkan kualitas Ilahi atau semi-Ilahi terhadap kekuatan-kekuatan alami tertentu—misalnya, percaya pada evolusi kreatif “spontan”, atau percaya pada alam “yang tercipta dengan sendirinya”, atau percaya pada suatu elan vital yang misterius dan impersonal, yang diduga mendasari semua eksistensi, dan sebagainya.


Surah Al-An’am Ayat 151

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

qul ta’ālau atlu mā ḥarrama rabbukum ‘alaikum allā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānā, wa lā taqtulū aulādakum min imlāq, naḥnu narzuqukum wa iyyāhum, wa lā taqrabul-fawāḥisya mā ẓahara min-hā wa mā baṭan, wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum ta’qilụn

151. Katakanlah: “Marilah, kusampaikan kepada kalian apa yang [benar-benar] diharamkan Allah bagi kalian:

“Janganlah menisbahkan ketuhanan, dengan cara apa pun, kepada apa pun selain Dia; dan [janganlah menyakiti hati, alih-alih] berbuat baiklah kepada kedua orangtua kalian;146 dan janganlah membunuh anak-anak kalian karena takut miskin [sebab,] Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada kalian serta kepada mereka;147 dan janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi; dan janganlah mengambil nyawa manusia mana pun—[nyawa] yang telah Allah nyatakan suci—kecuali dengan [tujuan untuk memperoleh] keadilan: inilah yang Dia perintahkan kepada kalian agar kalian menggunakan akal kalian;148


146 Menurut konsensus para mufasir, frasa yang saya sisipkan di dalam kurung secara jelas tersirat dalam perintah di atas karena ia disebutkan di antara hal-hal yang telah dilarang Allah—dan berbuat baik kepada orangtua bukan hanya tidak dilarang, melainkan, sebaliknya, bahkan berulang-ulang diperintahkan dalam Al-Quran.

147 Hal ini mungkin mengacu pada aborsi karena pertimbangan ekonomi.

148 Dengan kata lain, “tidak menggunakan kekerasan dan kekejaman ketika kepentingan pribadi kalian dirugikan”. Ungkapan “kecuali dengan [tujuan untuk memperoleh] keadilan” mengacu pada eksekusi hukuman yang sah, atau pada pembunuhan yang dilakukan dalam perang—yakni perang defensif—atau pembunuhan untuk membela diri.


Surah Al-An’am Ayat 152

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

wa lā taqrabụ mālal-yatīmi illā billatī hiya aḥsanu ḥattā yabluga asyuddah, wa auful-kaila wal-mīzāna bil-qisṭ, lā nukallifu nafsan illā wus’ahā, wa iżā qultum fa’dilụ walau kāna żā qurbā, wa bi’ahdillāhi aufụ, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum tażakkarụn

152. dan janganlah menyentuh harta anak yatim—kecuali untuk mengembangkannya—sebelum dia cukup umur.149

Dan, [dalam segala urusan kalian,] sempurnakanlah takaran dan timbangan150 dengan adil: [bagaimanapun,] Kami tidak membebani seorang manusia pun melebihi kemampuannya;151 dan apabila kalian menyuarakan suatu pendapat, bersikap adillah, kendatipun itu [melawan] karib kerabat kalian.152

Dan, penuhilah [selalu] ikatan kalian dengan Allah:153 ini diperintahkan-Nya kepada kalian agar kalian mengingatnya.


149 Yakni, setelah anak yatim yang berada dalam pengurusan seseorang telah cukup umur, pengurusnya boleh “menyentuh” harta kekayaannya—secara sah–dengan meminjam atau sebaliknya menggunakannya atas izin sang pernilik. Frasa yang saya terjemahkan menjadi “kecuali untuk mengembangkannya” secara harfiah berbunyi, “dengan cara yang terbaik”, yang menyiratkan maksud memperbaikinya.

150 Secara metonimia, ayat ini merujuk pada semua kesepakatan antara manusia, dan tidak hanya pada transaksi komersial: karenanya, saya menyisipkan frasa “dalam segala urusan kalian”.

151 Maknanya adalah bahwa Allah tidak mengharapkan manusia untuk berperilaku adil secara “matematis”—yang, mengingat banyaknya faktor nonmateriel yang terlibat, jarang dapat dicapai dalam muamalah antarmanusia—tetapi mengharapkannya untuk melakukan yang terbaik demi mencapai tujuan ideal ini.

152 Menurut Al-Razi, frasa “apabila kalian menyuarakan suatu pendapat” (secara harfiah berarti, “ketika kalian berbicara”) digunakan untuk mengungkapkan pendapat tentang masalah apa saja, apakah hal itu berhubungan secara pribadi atau tidak; tetapi, acuan berikutnya terhadap “karib kerabat” boleh jadi menunjukkan bahwa perintah di atas mengacu, khususnya, pada pemberian bukti dalam kasus-kasus yang diperselisihkan.

153 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19.


Surah Al-An’am Ayat 153

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

wa anna hāżā ṣirāṭī mustaqīman fattabi’ụh, wa lā tattabi’us-subula fa tafarraqa bikum ‘an sabīlih, żālikum waṣṣākum bihī la’allakum tattaqụn

153. Dan, [ketahuilah] bahwa inilah jalan yang lurus menuju-Ku: maka, ikutilah ia dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain agar jalan-jalan itu tidak menjadikan kalian menyimpang154 dari jalan-Nya.

[Semua] ini diperintahkan-Nya kepada kalian agar kalian tetap sadar akan Allah.


154 Lit., “tercerai-berai”.


Surah Al-An’am Ayat 154

ثُمَّ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

ṡumma ātainā mụsal-kitāba tamāman ‘alallażī aḥsana wa tafṣīlal likulli syai`iw wa hudaw wa raḥmatal la’allahum biliqā`i rabbihim yu`minụn

154. DAN, SEKALI LAGl:155 Kami telah memberikan kitab Ilahi kepada Musa sebagai penyempurnaan [nikmat Kami] kepada orang-orang yang tekun dalam berbuat kebaikan, dengan menjelaskan segala sesuatu sejelas-jelasnya,156 dan [dengan demikian memberikan] petunjuk dan rahmat agar mereka beriman pada pertemuan [akhir] dengan Pemelihara mereka.


155 Lihat catatan no. 31 terhadap paragraf terakhir ayat 38 surah ini. Dalam hal ini, penekanan yang disiratkan dalam penggunaan tsumma tampaknya menunjuk pada ayat 91 surah ini.

156 Yakni, segala sesuatu yang mereka butuhkan melalui aturan-aturan dan perintah yang sesuai dengan zaman dan tingkat perkembangan mereka (Al-Razi). Dalam kaitan ini, lihat frasa, “Kepada masing-masing di antara kalian, telah Kami berikan aturan dan jalan hidup [yang berbeda-beda]”, yang terdapat pada Surah Al-Ma’idah [5]: 48, dan catatannya (no. 66).


Surah Al-An’am Ayat 155

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa hāżā kitābun anzalnāhu mubārakun fattabi’ụhu wattaqụ la’allakum tur-ḥamụn

155. Dan, ini pun adalah kitab Ilahi yang telah Kami turunkan, yang diberkahi: maka, ikutilah ia dan sadarlah akan Allah agar kalian dirahmati dengan belas kasih-Nya.


Surah Al-An’am Ayat 156

أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَىٰ طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ

an taqụlū innamā unzilal-kitābu ‘alā ṭā`ifataini ming qablinā wa ing kunnā ‘an dirāsatihim lagāfilīn

156. [Telah diturunkan kepada kalian] agar kalian tidak berkata, “Kitab Ilahi diturunkan kepada dua kelompok orang saja, [keduanya] sebelum masa kami157—dan kami benar-benar tidak mengetahui ajaran-ajarannya”;


157 Yakni, kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, hanya dua komunitas inilah yang diketahui oleh bangsa Arab sebagai pemilik kitab-kitab wahyu. 


Surah Al-An’am Ayat 157

أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَىٰ مِنْهُمْ ۚ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا ۗ سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ

au taqụlụ lau annā unzila ‘alainal-kitābu lakunnā ahdā min-hum, fa qad jā`akum bayyinatum mir rabbikum wa hudaw wa raḥmah, fa man aẓlamu mim mang każżaba bi`āyātillāhi wa ṣadafa ‘an-hā, sanajzillażīna yaṣdifụna ‘an āyātinā sū`al-‘ażābi bimā kānụ yaṣdifụn

157. atau agar kalian tidak berkata, “Jika sebuah kitab Ilahi diturunkan kepada kami, kami pasti telah mengikuti petunjuknya lebih baik daripada mereka.”158

Dan demikianlah, sebuah bukti yang nyata tentang kebenaran telah datang kepada kalian dari Pemelihara kalian, dan petunjuk, serta rahmat. Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan pesan-pesan Allah dan berpaling seraya mencibirnya?

Kepada orang-orang yang berpaling dari pesan-pesan Kami seraya mencibirnya, Kami akan berikan balasan dengan penderitaan yang buruk disebabkan berpalingnya mereka!


158 Meskipun ayat ini pertama-tama mengacu pada orang-orang Arab di zaman Nabi, pesannya tidak terbatas untuk mereka saja, tetapi mencakup semua orang, di setiap zaman, yang menolak beriman pada wahyu, kecuali jika mereka sendiri yang menerimanya secara langsung.


Surah Al-An’am Ayat 158

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

hal yanẓurụna illā an ta`tiyahumul-malā`ikatu au ya`tiya rabbuka au ya`tiya ba’ḍu āyāti rabbik, yauma ya`tī ba’ḍu āyāti rabbika lā yanfa’u nafsan īmānuhā lam takun āmanat ming qablu au kasabat fī īmānihā khairā, qulintaẓirū innā muntaẓirụn

158. Atau, apakah mereka menunggu munculnya malaikat-malaikat di hadapan mereka, atau munculnya Pemeliharamu [sendiri], atau munculnya sebagian dari tanda-tanda [akhir] Pemeliharamu?159 [Akan tetapi,] pada Hari ketika tanda-tanda [akhir] Pemeliharamu benar-benar muncul, tiada gunanya lagi beriman bagi siapa pun yang sebelumnya tidak beriman, atau bagi yang, kendati beriman, namun tidak berbuat baik.160

Katakanlah: “[Maka,] tunggulah, [Hari Kiamat, wahai orang-orang yang tidak beriman:] perhatikanlah, kami [orang-orang yang beriman] juga menunggu!”


159 Yakni, tanda-tanda pemberitahuan Hari Pengadilan.

160 Lit., “atau [tidak] mendapatkan kebaikan dari imannya”: jadi, dalam ayat ini, iman tanpa amal saleh disamakan dengan tidak beriman sama sekali (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-An’am Ayat 159

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

innallażīna farraqụ dīnahum wa kānụ syiya’al lasta min-hum fī syaī`, innamā amruhum ilallāhi ṡumma yunabbi`uhum bimā kānụ yaf’alụn

159. SUNGGUH, adapun orang-orang yang telah memecah belah kesatuan iman mereka dan menjadi aliran~aliran—tiada urusanmu terhadap mereka.161 Perhatikanlah, urusan mereka bergantung pada Allah: dan kelak Allah akan menjadikan mereka memahami apa yang telah mereka perbuat.


161 Sebuah acuan yang pada dasarnya ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang telah meninggalkan prinsip-prinsip dasar religius yang awalnya mereka anut secara menyeluruh, dan yang telah terpecah-pecah ke dalam berbagai mazhab doktrin dan etika (bdk. Surah Alu ‘Imran [3]: 105). Namun, di luar acuan “utama” ini, ayat di atas secara logs terkait dengan ayat 153 di muka, inilah jalan yang lurus menuju-Ku: maka, ikutilah ia dan janganlah mengikuti jatan-lalan yang lain, agar jalan-jalan itu tidak menjadikan kalian menyimpang dari jalan-Nya”—dan kemudian secara profetik, terkait juga dengan para pengikut Al-Quran: dengan kata lain, ia mengecam segala sektarianisme yang lahir dari klaim-klaim yang tidak toleran dan eksklusif, misalnya mengaku sebagai “satu-satunya pengamal sejati” ajaran-ajaran Al-Quran. Demikianlah, ketika ditanya tentang penjelasan ayat ini, Sahabat Nabi, Abu Hurairah, menjawab, “Ayat itu diwahyukan dalam kaitannya dengan masyarakat [kita] ini” (Al-Thabari).


Surah Al-An’am Ayat 160

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

man jā`a bil-ḥasanati fa lahụ ‘asyru amṡālihā, wa man jā`a bis-sayyi`ati fa lā yujzā illā miṡlahā wa hum lā yuẓlamụn

160. Siapa pun yang datang [ke hadapan Allah] dengan perbuatan baik akan memperoleh sepuluh kali lipat darinya; tetapi siapa pun yang datang dengan perbuatan jahat hanya akan diberi balasan yang setimpal dengannya; dan tiada seorang pun yang akan dizalimi.162


162 Lit., “dan mereka tidak akan dizalimi”. Sehubungan dengan ini, lihatlah pernyataan bahwa Allah “telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih”, yang terdapat pada ayat 12 surah ini dan catatannya (no. 10).


Surah Al-An’am Ayat 161

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

qul innanī hadānī rabbī ilā ṣirāṭim mustaqīm, dīnang qiyamam millata ibrāhīma ḥanīfā, wa mā kāna minal-musyrikīn

161. KATAKAN: “Perhatikanlah, Pemeliharaku telah memberiku petunjuk menuju sebuah jalan yang lurus melalui keimanan yang senantiasa benar—jalan Ibrahim, yang berpaling dari segala yang batil dan yang tidak termasuk orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah.”


Surah Al-An’am Ayat 162

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn

162. Katakan: “Perhatikanlah, shalatku, [seluruh] laku ibadahku, hidupku, dan matiku [hanyalah] untuk Allah, Pemelihara seluruh alam,


Surah Al-An’am Ayat 163

لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

lā syarīka lah, wa biżālika umirtu wa ana awwalul-muslimīn

163. tiada sekutu dalam ketuhanan-Nya: sebab, demikianlah aku diperintahkan—dan aku akan [selalu] menjadi yang terkemuka di antara orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada-Nya.”


Surah Al-An’am Ayat 164

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

qul a gairallāhi abgī rabbaw wa huwa rabbu kulli syaī`, wa lā taksibu kullu nafsin illā ‘alaihā, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji’ukum fa yunabbi`ukum bimā kuntum fīhi takhtalifụn

164. Katakanlah: “Apakah aku akan mencari pemelihara selain Allah, padahal Dia-lah Pemelihara segala sesuatu?”

Dan, [kesalahan] apa pun yang dilakukan oleh seseorang bergantung padanya saja; dan tiada seorang pun penanggung beban akan dijadikan menanggung beban orang lain.163 Dan kelak, kalian pasti akan kembali kepada Pemelihara kalian: dan kemudian Dia akan menjadikan kalian [benar-benar] memahami segala sesuatu yang biasa kalian perselisihkan.164


163 Pernyataan ini—yang juga ditemukan dalam Surah Al-Isra’ [17]: 15, Surah Fathir [35]: 18, Surah Az-Zumar [39]: 7, dan Surah An-Najm [53]: 38—merupakan suatu penolakan total terhadap doktrin “dosa asal” dan “penebusan dosa” Kristen. Untuk implikasi etis yang lebih jauh tentang pernyataan ini, lihat Surah An-Najm [53]: 38, tempat pernyataan ini muncul untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan. 

164 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 94.


Surah Al-An’am Ayat 165

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

wa huwallażī ja’alakum khalā`ifal-arḍi wa rafa’a ba’ḍakum fauqa ba’ḍin darajātil liyabluwakum fī mā ātākum, inna rabbaka sarī’ul-‘iqābi wa innahụ lagafụrur raḥīm

165. Karena, Dia-lah yang menjadikan kalian mewarisi bumi,165 meninggikan derajat sebagian kalian di atas sebagian yang lain agar Dia dapat menguji kalian melalui apa yang telah Dia berikan kepada kalian.166

Sungguh, Pemeliharamu amat cepat dalam menghukum: walaupun begitu, perhatikanlah, Dia sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


165 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 30 dan catatan no. 22.

166 Yakni, melalui karakter, kekuatan, pengetahuan, status sosial, kekayaan, dan lain-lain.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top