33. Al-Ahzab (Kaum-Kaum yang Bersekutu) – الْأحزاب

Surat Al-Ahzab dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Ahzab merupakan surat ke 33 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 73 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Ahzab tergolong Surat Madaniyah.

Penamaan surat ini berasal dari acuan-acuan dalam ayat 9-27 tentang perang Kaum-Kaum yang Bersekutu, yang terjadi pada 5 H (lihat catatan no. 13). Nada acuan-acuan ini, khususnya ayat 20, menunjukkan bahwa bagian surah ini diwahyukan segera setelah perang tersebut, yakni menjelang akhir 5 H.

Ayat 37-40, yang menyangkut perkawinan Nabi dengan Zainab binti Jahsi, diwahyukan pada tahun yang sama, barangkali beberapa bulan lebih awal. Begitu pula dengan ayat 4-5, yang tampaknya mengandung rujukan tak langsung terhadap hubungan Nabi dengan anak angkatnya, yakni Zaid ibn Haritsah yang merupakan suami pertama Zainab.

Di sisi lain, ayat 28-29 dan 52 tidak mungkin diwahyukan sebelum 7 H, dan bahkan mungkin termasuk dalam periode pewahyuan yang lebih terkemudian. Tidak ada bukti yang jelas mengenai waktu pewahyuan ayat-ayat lainnya dari surah ini, meskipun beberapa mufasir (misalnya, Al-Suyuthi) berpendapat bahwa banyak—jika tidak hampir semua—ayat dari surah ini diwahyukan setelah Surah Al-‘Imran [3] dan sebelum Surah An-Nisa’ [4], sehingga menempatkan kronologinya menjelang akhir 3 H atau pada bagian awal 4 H. Singkatnya, dapat dipastikan bahwa surah ini diwahyukan dalam kelompok-kelompok kecil ayat dan pada berbagai waktu antara akhir pertigaan awal dan pertengahan pertigaan akhir dari periode Madinah. Hal ini, ditambah fakta bahwa sejumlah besar ayat dalam surah ini berbicara tentang sejarah pribadi Nabi, hubungan antara beliau dan orang-orang pada masanya—terutama, keluarganya—serta peraturan-peraturan tertentu tentang perilaku yang berlaku secara eksplisit, dan spesifik, bagi istri-istri beliau saja, menjelaskan mengapa surah ini begitu kompleks strukturnya dan begitu bervariasi gaya pengungkapannya.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Ahzab Ayat 1

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

yā ayyuhan-nabiyyuttaqillāha wa lā tuṭi’il-kāfirīna wal-munāfiqīn, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

1. WAHAI, NABI! Tetaplah sadar akan Allah, dan janganlah tunduk kepada pengingkar-pengingkar kebenaran dan orang-orang munafik: sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


Surah Al-Ahzab Ayat 2

وَاتَّبِعْ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

wattabi’ mā yụḥā ilaika mir rabbik, innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

2. Dan, ikutilah apa yang datang kepadamu melalui wahyu dari Pemeliharamu [saja]:1 sebab, Allah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan, [wahai manusia].


1 Lit., “apa yang diwahyukan kepadamu dari Pemeliharamu”—mengindikasikan bahwa Dia adalah sumber dari semua wahyu.


Surah Al-Ahzab Ayat 3

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

wa tawakkal ‘alallāh, wa kafā billāhi wakīlā

3. Dan, bersandarlah penuh percaya (bertawakallah) kepada Allah [saja]: sebab, tiada satu pun yang layak dipercaya sebagaimana Allah.


Surah Al-Ahzab Ayat 4

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

mā ja’alallāhu lirajulim ming qalbaini fī jaufih, wa mā ja’ala azwājakumul-lā`ī tuẓāhirụna min-hunna ummahātikum, wa mā ja’ala ad’iyā`akum abnā`akum, żālikum qaulukum bi`afwāhikum, wallāhu yaqụlul-ḥaqqa wa huwa yahdis-sabīl

4. ALLAH TIDAK PERNAH menganugerahi manusia mana pun dengan dua hati dalam satu tubuh:2 dan [persis sebagaimana] Dia tidak pernah menjadikan istri-istri kalian—yang boleh jadi telah kalian nyatakan “haram bagi kalian sebagaimana tubuh ibu-ibu kalian”—[benar-benar] sebagai ibu kalian,3 demikian pula Dia tidak pernah menjadikan anak-anak angkat kalian [benar-benar] sebagai anak-anak kalian:4 ini tiada lain hanyalah perkataan [kiasan] yang diutarakan oleh mulut kalian—sedangkan Allah mengatakan kebenaran [yang mutlak]:5 dan Dia sajalah yang dapat menunjukkan [kalian] jalan yang benar.


2 Lit., “di dalam dirinya”. Pertama-tama, ini berkaitan dengan bagian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa manusia tidak bisa benar-benar bertakwa kepada Allah (menyadari keberadaan-Nya) dan pada saat yang sama menuruti pandangan-pandangan “para pengingkar kebenaran dan orang-orang munafik” (Al-Razi). Akan tetapi, di samping itu, kalimat di atas membentuk suatu hubungan konseptual dengan lanjutan ayat tersebut, yang menyatakan bahwa tindakan menisbahkan peran-peran yang saling bertentangan kepada dua orang yang sama dalam kerangka hubungan manusia merupakan hal yang berlawanan dengan hukum alam yang merupakan kehendak Allah—dan, karenanya, tidak masuk akal dan tidak dapat diterima secara moral (Al-Zamakhsyari).

3 Ini mengacu pada adat kebiasaan Arab pra-Islam yang disebut zhihar. Dengan zhihar ini, seorang suami dapat menceraikan istrinya hanya dengan menyatakan, “Engkau [mulai sekarang, haram] bagiku seperti punggung ibuku”—dalam hal ini, istilah zhahr (“punggung”) adalah suatu metonimia untuk “tubuh”. Dalam masyarakat Arab pagan, gaya perceraian ini dianggap final dan tidak dapat ditarik kembali; tetapi, wanita yang dicerai dengan cara seperti ini tidak diizinkan untuk menikah lagi, dan harus tetap berada dalam tanggungan bekas suaminya untuk selamanya. Sebagaimana tampak jelas dari empat ayat pertama Surah Al-Mujadalah [58]—yang diwahyukan sedikit lebih awal daripada surah ini—adat kebiasaan keji masyarakat pagan ini telah dihapuskan pada saat ayat di atas diwahyukan, dan disebutkan di sini hanya sebagai suatu ilustrasi terhadap diktum berikutnya, yakni bahwa “perkataan kiasan [lit., ‘perkataan-perkataan kalian’] yang diutarakan oleh mulut kalian” tidak dengan sendirinya sesuai dengan kenyataan yang ada dalam hubungan antarmanusia.

4 Yakni, dalam pengertian hubungan darah: karena itu, batasan perkawinan yang berlaku bagi putra-putra kandung—dan, tentu saja, putri-putri kandung pula—tidak berlaku bagi anak-anak angkat. Pernyataan ini memiliki kaitan yang jelas dengan ayat 37 dan seterusnya.

5 Secara tersirat, dengan menciptakan hubungan faktual dan biologis antara orangtua dan anak, yang berbeda dengan seluruh hubungan sosial yang dibuat manusia, seperti hubungan suami dengan istri, atau orangtua angkat dengan anak angkat. Dalam kaitan ini, hendaknya diingat bahwa Al-Quran sering menggunakan metafora “perkataan” Allah untuk mengungkapkan aktivitas kreatif-Nya.


Surah Al-Ahzab Ayat 5

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

ud’ụhum li`ābā`ihim huwa aqsaṭu ‘indallāh, fa il lam ta’lamū ābā`ahum fa ikhwānukum fid-dīni wa mawālīkum, wa laisa ‘alaikum junāḥun fīmā akhṭa`tum bihī wa lākim mā ta’ammadat qulụbukum, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

5. [Adapun anak-anak angkat kalian,] panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka [yang sebenarnya]: ini lebih adil dalam pandangan Allah; dan jika kalian tidak mengetahui siapa bapak mereka, [panggillah mereka sebagai] saudara-saudara kalian seiman dan kawan-kawan kalian.6 Namun, kalian tidak akan berdosa jika kalian khilaf dalam hal ini:7 tetapi, [yang benar-benar penting adalah] apa yang dimaksudkan oleh hati kalian—sebab, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


6 Yakni, “jelaskanlah bahwa hubungan kalian hanyalah hubungan adopsi, dan jangan menciptakan kesan bahwa mereka adalah anak-anak kandung kalian”—dengan demikian, identitas mereka yang sebenarnya dapat terjaga.

7 Yakni, dengan melakukan kesalahan dalam penisbahan orangtua si anak, atau dengan memanggilnya, karena rasa cinta, sebagai “putraku” atau “putriku”.


Surah Al-Ahzab Ayat 6

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

an-nabiyyu aulā bil-mu`minīna min anfusihim wa azwājuhū ummahātuhum, wa ulul-ar-ḥāmi ba’ḍuhum aulā biba’ḍin fī kitābillāhi minal-mu`minīna wal-muhājirīna illā an taf’alū ilā auliyā`ikum ma’rụfā, kāna żālika fil-kitābi masṭụrā

6. Nabi memiliki hak yang lebih tinggi terhadap orang-orang beriman daripada [hak mereka terhadap] diri mereka sendiri, [mengingat bahwa Nabi adalah bagaikan seorang bapak bagi mereka] dan istri-istrinya adalah ibunda-ibunda mereka:8 dan orang-orang yang [dengan demikian] memiliki hubungan kekerabatan, sesuai dengan ketetapan Allah, memiliki hak yang lebih terhadap satu sama lain daripada [hubungan yang bahkan pernah terjadi antara] orang-orang beriman [asal Yatsrib] dan orang-orang yang telah berhijrah [ke sana karena Allah].9 Meskipun demikian, kalian hendaknya berperilaku dengan kebajikan tertinggi pula terhadap kawan-kawan dekat kalian [yang lain]:10 ini [pun] tertulis dalam ketetapan Allah.


8 Jadi, seraya mengaitkan dengan penyebutan sebelumnya tentang hubungan yang diciptakan berdasarkan kesukarelaan dan pilihan (berbeda dengan hubungan darah), ayat ini menunjuk pada perwujudan tertinggi dari sebuah hubungan spiritual yang berdasarkan pilihan: yakni, hubungan antara Nabi yang mendapat wahyu Allah dan orang yang dengan sukarela memilih untuk mengikutinya. Nabi sendiri dikabarkan pernah bersabda, “Tiada seorang pun di antara kalian memiliki keimanan sejati, kecuali aku lebih dicintai olehnya daripada ayahnya, anaknya, dan semua umat manusia” (Al-Bukhari dan Muslim, diriwayatkan oleh Anas, dengan sejumlah versi yang hampir sama dalam kumpulan hadis lainnya). Para Sahabat semuanya memandang Nabi sebagai bapak spiritual umatnya. Beberapa Sahabat-misalnya, Ibn Mas’ud (seperti dikutip oleh Al-Zamakhsyari) atau Ubayy ibn Ka’b, Ibn ‘Abbas, dan Mu’awiyah (seperti dikutip oleh Ibn Katsir)-hampir tidak pernah membaca ayat tersebut tanpa menambahkan, sebagai penjelasan, “[mengingat bahwa Nabi adalah bagaikan seorang bapak bagi mereka]”; dan banyak tabi’in—termasuk Mujahid, Qatadah, ‘Ikrimah, dan Al-Hasan (bdk. Al-Thabari dan Ibn Katsir)—melakukan hal yang sama: karenanya, saya memasukkan frasa sisipan di antara dua kurung siku. (Namun, lihat juga ayat 40 surah ini dan catatan no. 50.) Adapun mengenai kedudukan istri-istri Nabi sebagai “ibunda-ibunda kaum Mukmin”, hal ini pada dasarnya muncul dari fakta bahwa mereka telah menjalani hidup bersama-sama dengan Rasulullah dalam aspeknya yang paling dalam. Karena itu, mereka tidak dapat menikah lagi setelah Rasul wafat (lihat ayat 53), karena semua orang beriman, secara spiritual, adalah “anak-anak” mereka.

9 Lihat catatan no. 86 terhadap kalimat kedua terakhir dalam Surah Al-Anfal [8]: 75. Sebagaimana dijelaskan dalam catatan itu, kedua pasase ini (Surah Al-Anfal [8]: 75 dan Surah Al-Ahzab [33]: 6) tidak dapat ditafsirkan secara memuaskan sebagai berkenaan dengan hukum waris: segala upaya untuk menafsirkannya dalam pengertian itu hanya merusak bangunan logis dan kepaduan internal wacana qurani itu. Di sisi lain, jelaslah bahwa kedua pasase tersebut pada dasarnya mempunyai makna yang serupa (yakni, makna spiritual)—perbedaannya hanyalah bahwa, sementara kalimat-kalimat penutup Surah Al-Anfal mengacu pada persaudaraan orang-orang beriman secara umum, pasase yang sedang dibahas ini menekankan pada hubungan yang lebih mendalam dan khusus antara setiap Mukmin sejati dan Rasulullah Saw.

10 Yakni, terhadap semua orang beriman lainnya, sebagaimana sering ditekankan dalam Al-Quran, dan terutama pada Surah Al-Anfal l8]: 75 (lihat catatan sebelumnya): dengan kata lain, cinta luhur seorang Mukmin kepada Nabi seharusnya tidak membutakannya terhadap fakta bahwa “seluruh orang beriman adalah bersaudara” (Surah Al-Hujurat [49]: 10). Istilah ma’ruf yang sangat kompleks, yang saya terjemahkan dalam konteks ini menjadi “kebajikan tertinggi”, dapat didefinisikan sebagai “setiap tindakan [atau sikap] yang kebaikannya tampak jelas bagi akal” (Al-Raghib).


Surah Al-Ahzab Ayat 7

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

wa iż akhażnā minan-nabiyyīna mīṡāqahum wa mingka wa min nụḥiw wa ibrāhīma wa mụsā wa ‘īsabni maryama wa akhażnā min-hum mīṡāqan galīẓā

7. DAN, LIHATLAH! Kami telah menerima sumpah setia dari semua nabi11—dari engkau, [wahai Muhammad] serta dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam—: sebab, Kami menerima sumpah setia yang amat berat dari mereka [semua],


11 Pasase sisipan ini berkaitan dengan ayat 1-3, dan berhubungan dengan “sumpah” setiap nabi—yakni, tugas suci—untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia, dan dengan demikian bertindak sebagai “pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan”. (Untuk penerjemahan saya atas idz, dalam konteks ini, menjadi “lihatlah”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21.)


Surah Al-Ahzab Ayat 8

لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ ۚ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

liyas`alaṣ-ṣādiqīna ‘an ṣidqihim, wa a’adda lil-kāfirīna ‘ażāban alīmā

8. agar [pada akhir masa,] Dia dapat bertanya kepada orang-orang yang benar berkenaan dengan [apa tanggapan terhadap] kebenaran mereka [di bumi].12 Dan derita yang pedih telah Dia persiapkan bagi semua orang yang mengingkari kebenaran!


12 Bdk. Surah Al-Ma’idah [5]: 109 dan, lebih khususnya, Surah Al-A’raf [7]: 6—”Kami pasti akan menanyai semua orang yang kepada mereka telah dikirimkan pesan [Ilahi], dan Kami pasti akan menanyai rasul-rasul [itu sendiri]”.


Surah Al-Ahzab Ayat 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanużkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż jā`atkum junụdun fa arsalnā ‘alaihim rīḥaw wa junụdal lam tarauhā, wa kānallāhu bimā ta’malụna baṣīrā

9. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian [pada saat] ketika pasukan-pasukan [musuh] datang kepada kalian, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan pasukan-pasukan [samawi] yang tidak dapat kalian lihat:13 namun, Allah Maha Melihat segala yang kalian kerjakan.


13 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 124-125 dan catatannya (no. 93). Pasase ini (ayat 9-27) berhubungan dengan Perang Kaum-Kaum yang Bersekutu (Al-Ahzab)—disebut juga Perang Parit (Al-Khandaq)—yang terjadi pada 5 H. Atas hasutan kaum Yahudi Banu Al-Nadhir, yang telah diusir dari Yatsrib (Madinah) setelah mereka melanggar perjanjian yang mengikat mereka dengan kaum Muslim, beberapa suku Arab yang paling kuat membentuk suatu persekutuan dengan maksud untuk meng atasi dengan tuntas ancaman yang dibawa Islam terhadap keyakinan dan serangkaian adat-kebiasaan Arab pagan. Pada Syawwal 5 H, sebuah pasukan yang berkekuatan lebih dari 12.000 orang, yang terdiri dari kaum Quraisy dan sekutu-sekutu mereka—Banu Kinanah, Banu Asad, dan orang-orang pesisir (kaum Tihamah), serta kaum Najdi yang besar dari Ghathafan dan sekutu-sekutunya, yakni kaum Hawazin (atau Banu ‘Amir) dan Banu Sulaim—berkumpul mendekati Madinah. Dalam rangka mengantisipasi kedatangan mereka, Nabi telah memerintahkan untuk menggali parit yang dalam di sekeliling kota—suatu usaha pertahanan yang belum pernah dikenal di Jazirah Arab pra-Islam—sehingga serangan yang dilancarkan Kaum-Kaum yang Bersekutu itu terhenti. Namun, pada saat itu, bahaya lain mengintai kaum Muslim: suku Yahudi Banu Quraizhah, yang tinggal di pinggiran Madinah dan yang hingga saat itu masih bersekutu dengan kaum Muslim, melanggar perjanjian persekutuan itu dan secara terang-terangan bergabung dengan Kaum-Kaum yang Bersekutu tersebut. Meskipun demikian, selama masa pengepungan yang berlangsung beberapa minggu, segala upaya Kaum- Kaum yang Bersekutu itu untuk menyeberangi parit tersebut—yang dipertahankan oleh kaum Muslim yang jumlahnya lebih sedikit dan dengan senjata yang kurang memadai—gagal dengan menimbulkan kerugian besar di pihak para penyerang itu; sejumlah pertikaian, yang didasarkan pada rasa saling tidak percaya, secara bertahap meruntuhkan persekutuan yang telah dibina antara kaum Yahudi dan suku-suku Arab pagan; pada bulan Dzulqadah, frustrasi mereka memuncak ketika badai yang sangat dingin mengamuk selama beberapa hari, yang membuat kehidupan menjadi tidak tertahankan lagi, bahkan bagi pejuang tangguh sekali pun. Demikianlah, pengepungan berakhir dan Kaum-Kaum yang Bersekutu itu pun bubar. Dengan demikian, usailah sudah usaha terakhir kaum pagan itu untuk menghancurkan Nabi dan masyarakatnya.


Surah Al-Ahzab Ayat 10

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا

iż jā`ụkum min fauqikum wa min asfala mingkum wa iż zāgatil-abṣāru wa balagatil-qulụbul-ḥanājira wa taẓunnụna billāhiẓ-ẓunụnā

10. [Ingatlah apa yang kalian rasakan] ketika mereka datang kepada kalian dari atas kalian dan dari bawah kalian,14 dan ketika penglihatan [kalian] menjadi kabur dan hati [kalian] naik sampai ke tenggorokan [kalian], dan [ketika] pemikiran-pemikiran yang paling bertentangan mengenai Allah melintasi pikiran kalian:15


14 Kelompok Ghathafan mencoba melintasi parit dengan menyerang dari bagian atas sebelah timur dataran Madinah, sedangkan kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya melancarkan serangan dari arah bawah, yakni, bagian sebelah barat (Al-Zamakhsyari), dan hal ini tentunya sejalan dengan pendekatan daerah asal mereka—kaum Ghathafan berasal dari dataran tinggi (Najd), dan Quraisy dari daerah pesisir yang rendah (Tihamah).

15 Lit., “[ketika] kalian memikirkan segala [macam] pikiran tentang Allah”: yakni, “apakah Dia akan menyelamatkan kalian atau membiarkan musuh-musuh kalian menang”.


Surah Al-Ahzab Ayat 11

هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا

hunālikabtuliyal-mu`minụna wa zulzilụ zilzālan syadīdā

11. [sebab,] seketika itu juga orang-orang beriman itu diuji, dan diguncang dengan guncangan yang hebat.


Surah Al-Ahzab Ayat 12

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

wa iż yaqụlul-munāfiqụna wallażīna fī qulụbihim maraḍum mā wa’adanallāhu wa rasụluhū illā gurụrā

12. Dan, [ingatlah bagaimana halnya] ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya16 berkata [kepada satu sama lain], “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan apa pun kepada kami, kecuali tipu daya!17


16 Di sini, frasa ini jelas-jelas menunjuk pada orang Mukmin yang lemah imannya.

17 Ini mengacu pada visi kenabian Nabi Muhammad Saw., pada saat penggalian parit, mengenai penaklukan seluruh Jazirah Arab serta Kekaisaran Persia dan Romawi oleh kaum Muslim di masa depan (Al-Thabari). Sejumlah hadis sahih menyebutkan bahwa Nabi menyampaikan visi ini pada waktu tersebut.


Surah Al-Ahzab Ayat 13

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

wa iż qālat ṭā`ifatum min-hum yā ahla yaṡriba lā muqāma lakum farji’ụ, wa yasta`żinu farīqum min-humun-nabiyya yaqụlụna inna buyụtanā ‘aurah, wa mā hiya bi’aurah, iy yurīdụna illā firārā

13. dan ketika sebagian dari mereka berkata, “Wahai, kalian penduduk Yatsrib! Kalian tidak dapat bertahan [menghadapi musuh] di sini:18 karenanya, kembalilah [ke rumah kalian]!”—kemudian sekelompok di antara mereka meminta izin kepada Nabi, dengan berkata, “Perhatikanlah, rumah-rumah kami terbuka [terhadap serangan]!”—sedangkan rumah-rumah itu tidak [benar-benar] terbuka: mereka tidak lain hanya ingin melarikan diri.


18 Yakni, di luar kota, dengan mempertahankan parit.


Surah Al-Ahzab Ayat 14

وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِمْ مِنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا الْفِتْنَةَ لَآتَوْهَا وَمَا تَلَبَّثُوا بِهَا إِلَّا يَسِيرًا

walau dukhilat ‘alaihim min aqṭārihā ṡumma su`ilul-fitnata la`ātauhā wa mā talabbaṡụ bihā illā yasīrā

14. Adapun seandainya kota mereka digempur,19 dan mereka diminta [oleh musuh] untuk murtad, [orang-orang munafik itu] tentu akan melakukannya tanpa ditunda-tunda20


19 Lit., “seandainya masuk kepada mereka itu dipaksakan”.

20 Lit., “dan tidak akan berlama-lama lebih dari sedikit [saja]”.


Surah Al-Ahzab Ayat 15

وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ لَا يُوَلُّونَ الْأَدْبَارَ ۚ وَكَانَ عَهْدُ اللَّهِ مَسْئُولًا

wa laqad kānụ ‘āhadullāha ming qablu lā yuwallụnal-adbār, wa kāna ‘ahdullāhi mas`ụlā

15. meskipun sebelum itu mereka telah berjanji di hadapan Allah bahwa mereka tidak akan pernah berpaling [dari pesan-Nya]: dan janji yang dibuat dengan Allah tentulah harus dipertanggungjawabkan!


Surah Al-Ahzab Ayat 16

قُلْ لَنْ يَنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لَا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلًا

qul lay yanfa’akumul-firāru in farartum minal-mauti awil-qatli wa iżal lā tumatta’ụna illā qalīlā

16. Katakanlah: “Apakah kalian melarikan diri dari kematian [alami] atau dari dibunuh [dalam pertempuran], lari tidak akan berguna bagi kalian—karena, bagaimanapun kalian berupaya,21 kalian tidak [dibiarkan] menikmati hidup lebih dari sesaat saja!”


21 Lit., “karena jika demikian “atau” dalam hal itu” (idzan), yang di sini berarti “bagaimanapun halnya”.


Surah Al-Ahzab Ayat 17

قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً ۚ وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

qul man żallażī ya’ṣimukum minallāhi in arāda bikum sū`an au arāda bikum raḥmah, wa lā yajidụna lahum min dụnillāhi waliyyaw wa lā naṣīrā

17. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kalian dari Allah, andaikan Dia berkehendak menimpakan celaka atas kalian, atau andaikan Dia berkehendak melimpahkan belas kasih kepada kalian?”

Sebab, [tidaklah mereka mengetahui bahwa] selain Allah, mereka tidak dapat menemukan siapa pun yang melindungi mereka, dan tiada seorang pun yang memberi mereka pertolongan?


Surah Al-Ahzab Ayat 18

قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنْكُمْ وَالْقَائِلِينَ لِإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا ۖ وَلَا يَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلَّا قَلِيلًا

qad ya’lamullāhul-mu’awwiqīna mingkum wal-qā`ilīna li`ikhwānihim halumma ilainā, wa lā ya`tụnal-ba`sa illā qalīlā

18. Allah sungguh mengetahui orang-orang di antara kalian yang akan mengalihkan orang lain [dari berperang di jalan-Nya], serta orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka, “Datanglah kemari kepada kami [dan hadapilah musuh]!”—sedangkan mereka [sendiri] tidak ikut serta dalam pertempuran, kecuali jarang,


Surah Al-Ahzab Ayat 19

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ ۚ أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

asyiḥḥatan ‘alaikum fa iżā jā`al-khaufu ra`aitahum yanẓurụna ilaika tadụru a’yunuhum kallażī yugsyā ‘alaihi minal-maụt, fa iżā żahabal-khaufu salaqụkum bi`alsinatin ḥidādin asyiḥḥatan ‘alal-khaīr, ulā`ika lam yu`minụ fa aḥbaṭallāhu a’mālahum, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

19. enggan memberi bantuan kepada kalian. Namun kemudian, tatkala bahaya datang mengancam, engkau dapat melihat mereka memandang ke arahmu [untuk mendapatkan pertolongan, wahai Nabi], mata mereka terbalik-balik [dirundung ketakutan] seperti [mata] orang yang sedang dibayang-bayangi kematian: namun, begitu bahaya itu berlalu, mereka akan menyerang kalian [wahai orang-orang beriman] dengan lidah yang tajam, enggan memberi semua yang baik kepada kalian!

[Orang-orang seperti] ini tidak pernah mengenal iman—dan karenanya, Allah akan menyebabkan segala amal perbuatan mereka menjadi sia-sia: sebab, hal ini sungguh mudah bagi Allah.


Surah Al-Ahzab Ayat 20

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا ۖ وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا

yaḥsabụnal-aḥzāba lam yaż-habụ, wa iy ya`til-aḥzābu yawaddụ lau annahum bādụna fil-a’rābi yas`alụna ‘an ambā`ikum, walau kānụ fīkum mā qātalū illā qalīlā

20. Mereka menyangka bahwa kaum-kaum yang bersekutu itu belum [benar-benar] menarik diri;22 dan andaikan Kaum-Kaum yang Bersekutu itu datang kembali, [orang-orang munafik] ini akan lebih suka berada di padang pasir, di antara orang-orang Badui, sambil menanyakan berita-berita tentang kalian [wahai orang-orang beriman, dari kejauahan;] dan bahkan seandainya mereka mendapati diri mereka berada di tengah-tengah kalian, mereka tidak lain hanya akan berpura-pura berperang [di pihak kalian].23


22 Yakni, secara tersirat, “tetapi akan kembali dengan kekuatan besar dan memulai pengepungan lagi”.

23 Lit., “mereka tidak akan berperang, kecuali sebentar saja”.


Surah Al-Ahzab Ayat 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā

21. SUNGGUH, pada Rasul Allah, kalian mendapati suatu suri teladan yang baik bagi siapa pun yang [dengan penuh harap dan gentar] mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan mengingat Allah dengan tiada henti.24


24 Ayat ini (dan pasase berikutnya) berkaitan dengan ayat 9-11, khususnya dengan ayat 11—”seketika itu juga orang-orang beriman itu diuji, dan diguncang dengan guncangan yang hebat”—yang merangkum, demikianlah kira-kira, pengalaman mereka selama hari-hari dan minggu-minggu kritis Perang Parit. Meskipun ayat di atas pertama-tama memang ditujukan kepada para pembela Kota Madinah yang didesak untuk meneladani keimanan, keberanian, dan ketabahan Nabi, makna dan keabsahan ayat ini tidaklah terbatas waktunya, dan berlaku untuk segala situasi dan kondisi.

Karena verba rajawa—sebagaimana bentuk nomina rajw, rujuww, dan raja’ yang diderivasi darinya—mengandung konotasi “harapan” dan “ketakutan” sekaligus {atau “awe” dalam bahasa Inggris—peny.}, saya menerjemahkan yarju seperti di atas.


Surah Al-Ahzab Ayat 22

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

wa lammā ra`al-mu`minụnal-aḥzāba qālụ hāżā mā wa’adanallāhu wa rasụluhụ wa ṣadaqallāhu wa rasụluhụ wa mā zādahum illā īmānaw wa taslīmā

22. Dan [demikianlah,] ketika orang-orang beriman melihat Kaum-Kaum yang Bersekutu itu [bergerak maju melawan mereka], mereka berkata, “Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita!”—dan, “Benarlah kata-kata Allah dan Rasul-Nya!”25—dan, semua ini hanyalah menambah keimanan mereka dan kesiapan mereka untuk berserah diri kepada Allah.


25 Hal ini tampaknya mengacu pada Surah Al-‘Ankabut [29]: 2 (yang mungkin merupakan salah satu dari wahyu-wahyu Makkah terakhir) serta pada Surah Al-Baqarah [2]: 155 dan 214 (yakni, ayat-ayat surah pertama periode Madinah).


Surah Al-Ahzab Ayat 23

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

minal-mu`minīna rijālun ṣadaqụ mā ‘āhadullāha ‘alaīh, fa min-hum mang qaḍā naḥbahụ wa min-hum may yantaẓiru wa mā baddalụ tabdīlā

23. Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang [selalu] menepati apa yang telah mereka janjikan di hadapan Allah;26 dan di antara mereka ada yang [sudah] menebus sumpah mereka dengan kematian, dan ada yang masih menunggu [terlaksananya sumpah itu] tanpa sedikit pun berubah [ketetapan hatinya].


26 Secara spesifik, ayat ini dikatakan berlaku bagi beberapa Sahabat yang bersumpah, pada masa-masa terjadinya serangan-serangan awal, bahwa mereka akan berperang hingga mati pada pihak Nabi (Al-Zamakhsyari); namun, dalam pengertian yang lebih luas, ia berhubungan dengan segala upaya yang menuntut pengorbanan tertinggi di jalan Allah.


Surah Al-Ahzab Ayat 24

لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

liyajziyallāhuṣ-ṣādiqīna biṣidqihim wa yu’ażżibal-munāfiqīna in syā`a au yatụba ‘alaihim, innallāha kāna gafụrar raḥīmā

24. [Ujian-ujian seperti itu ditimpakan kepada manusia] agar Allah dapat memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena telah menepati perkataan mereka, dan menyebabkan orang-orang munafik merasakan derita—jika demikianlah kehendak-Nya—atau menerima tobat mereka [jika mereka bertobat]:27 sebab, sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


27 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 12—”Allah, yang telah menetapkan atas diri-Nya hukum rahmat dan belas kasih”—dan catatannya (no. 10).


Surah Al-Ahzab Ayat 25

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا ۚ وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

wa raddallāhullażīna kafarụ bigaiẓihim lam yanālụ khairā, wa kafallāhul-mu`minīnal-qitāl, wa kānallāhu qawiyyan ‘azīzā

25. Demikianlah, karena amarah mereka, Allah menghalau orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran;28 mereka tiada beroleh keuntungan, karena cukuplah Allah [melindungi] orang-orang beriman dalam pertempuran—mengingat bahwa Allah Mahadigdaya, Mahaperkasa—;


28 Yakni, kaum musyrik di antara Kaum-Kaum yang Bersekutu itu (lihat catatan no. 13); sekutu-sekutu Yahudi mereka disebutkan secara terpisah dalam ayat berikutnya.


Surah Al-Ahzab Ayat 26

وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا

wa anzalallażīna ẓāharụhum min ahlil-kitābi min ṣayāṣīhim wa qażafa fī qulụbihimur-ru’ba farīqan taqtulụna wa ta`sirụna farīqā

26. dan Dia menurunkan dari benteng-benteng mereka orang-orang dari kalangan penganut wahyu terdahulu yang telah membantu para penyerang,29 dan melemparkan ketakutan ke dalam hati mereka: sebagian kalian bunuh, dan sebagian kalian jadikan tawanan;


29 Lit., “mereka”, yakni, suku-suku yang bersekutu menentang Nabi Muhammad Saw. dan umatnya. “Para penganut wahyu terdahulu” (ahl al-kitab) yang dirujuk di sini adalah orang-orang Yahudi dari suku Banu Quraizhah yang, meskipun mereka menganut keimanan monoteistik, telah mengkhianati kaum Muslim dan berpihak pada Kaum-Kaum yang Bersekutu yang beragama pagan. Setelah Kaum-Kaum yang Bersekutu ini mengalami kekalahan total yang menyedihkan, Banu Quraizhah menarik diri ke benteng mereka di kawasan sekitar Madinah, untuk mengantisipasi balas dendam pengikut Nabi yang telah mereka khianati. Setelah pengepungan yang berlangsung selama 25 hari, mereka menyerah kepada kaum Muslim, dengan menyerahkan segala yang mereka miliki.


Surah Al-Ahzab Ayat 27

وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

wa auraṡakum arḍahum wa diyārahum wa amwālahum wa arḍal lam taṭa’ụhā, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīrā

27. dan Dia menjadikan kalian mewarisi tanah-tanah, rumah-rumah, dan barang-barang mereka—dan [menjanjikan kepada kalian] tanah-tanah yang belum pernah kalian pijak:30 sebab, Allah benar-benar berkuasa menetapkan segala sesuatu.


30 Yakni, negeri-negeri yang akan ditaklukkan dan dikuasai oleh kaum Muslim pada masa depan. Klausa ini—dengan rujukannya terhadap masa depan yang bahkan lebih makmur lagi—menyuguhkan suatu hubungan antara pasase ini dan pasase berikutnya.


Surah Al-Ahzab Ayat 28

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

yā ayyuhan-nabiyyu qul li`azwājika ing kuntunna turidnal-ḥayātad-dun-yā wa zīnatahā fa ta’ālaina umatti’kunna wa usarriḥkunna sarāḥan jamīlā

28. WAHAI, NABI! Katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kalian [hanya] menginginkan kehidupan dunia ini dan pesonanya—maka, baiklah, aku akan memberikan nafkah kepada kalian dan menceraikan kalian dengan cara yang layak;31


31 Menjelang ayat ini diwahyukan (lihat catatan no. 65 pada ayat 52 surah ini), kaum Muslim telah menaklukkan daerah pertanian Khaibar yang subur dan kaya, dan masyarakat pun telah menjadi lebih makmur. Namun, ketika hidup telah menjadi semakin mudah bagi semua anggota masyarakat, kemudahan ini tidak tecermin dalam rumah tangga Nabi yang, seperti sebelumnya, hanya memperkenankan diri dan keluarganya untuk menikmati kebutuhan absolut minimum yang diperlukan untuk hidup secara sangat sederhana. Mengingat keadaan telah berubah, sebenarnya tidaklah berlebihan jika istri-istri Nabi mendambakan sebagian kemewahan sebagaimana yang kini dapat dinikmati oleh wanita-wanita Muslim lainnya: tetapi, persetujuan diam-diam Nabi Muhammad Saw. terhadap tuntutan mereka akan bertentangan dengan prinsip, yang dijalankan sepanjang hidupnya, bahwa standar hidup seorang Rasul Allah dan keluarganya tidak boleh lebih tinggi daripada standar hidup orang-orang termiskin di antara orang-orang beriman.


Surah Al-Ahzab Ayat 29

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

wa ing kuntunna turidnallāha wa rasụlahụ wad-dāral-ākhirata fa innallāha a’adda lil-muḥsināti mingkunna ajran ‘aẓīmā

29. tetapi, jika kalian menginginkan Allah dan Rasul-Nya, dan [dengan demikian, kebaikan] kehidupan di akhirat, maka [ketahuilah bahwa,] sungguh, bagi orang-orang yang melakukan kebaikan di antara kalian, Allah telah menyiapkan pahala yang besar!”32


32 Ketika, segera setelah pewahyuan ayat-ayat ini, Nabi membacakan kedua ayat di atas kepada istri-istrinya, mereka semua dengan tegas menolak semua pikiran tentang perceraian dan menyatakan bahwa mereka telah memilih “Allah dan RasuI-Nya serta [kebaikan] akhirat” (yang diriwayatkan dalam beberapa kumpulan hadis, di antaranya oleh Al-Bukhari dan Muslim), Beberapa ulama awal (semisal Qatadah dan Al-Hasan, sebagaimana dikutip oleh Al-Thabari) berpendapat bahwa pewahyuan ayat 52 surah ini merupakan imbalan dari Allah, begitulah kira-kira, atas sikap ini.


Surah Al-Ahzab Ayat 30

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

yā nisā`an-nabiyyi may ya`ti mingkunna bifāḥisyatim mubayyinatiy yuḍā’af lahal-‘ażābu ḍi’faīn, wa kāna żālika ‘alallāhi yasīrā

30. Wahai, istri-istri Nabi! jika siapa pun di antara kalian melakukan perbuatan keji yang nyata,33 penderitaannya [di akhirat] akan dua kali lipat [dibandingkan dengan penderitaan para pendosa lainnya]: sebab, hal itu benar-benar mudah bagi Allah.


33 Me:ngenai konotasi istilah fahisyah ini, lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 14. Menurut Al-Zamakhsyari, dalam tafsirnya mengenai ayat ini, istilah ini mencakup semua yang dapat digambarkan sebagai “dosa besar” (kabirah).


Surah Al-Ahzab Ayat 31

وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

wa may yaqnut mingkunna lillāhi wa rasụlihī wa ta’mal ṣāliḥan nu`tihā ajrahā marrataini wa a’tadnā lahā rizqang karīmā

31. Namun, jika siapa pun di antara kalian menaati Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh pengabdian serta mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan, kepadanya akan Kami anugerahkan pahalanya dua kali lebih banyak: sebab, Kami akan menyiapkan baginya rezeki yang paling mulia [dalam kehidupan akhirat].34


34 Lihat catatan no. 5 pada Surah Al-Anfal [8]: 4.


Surah Al-Ahzab Ayat 32

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

yā nisā`an-nabiyyi lastunna ka`aḥadim minan-nisā`i inittaqaitunna fa lā takhḍa’na bil-qauli fa yaṭma’allażī fī qalbihī maraḍuw wa qulna qaulam ma’rụfā

32. Wahai, istri-istri Nabi! kalian tidaklah seperti perempuan [lain] mana pun, asalkan kalian tetap [sungguh-sungguh] sadar akan Allah.35 Karenanya, janganlah terlampau lembut dalam cara bicara kalian, agar siapa pun yang berpenyakit dalam hatinya tidak tergerak untuk menghasrati [kalian]: namun demikian, tetaplah berbicara dengan cara yang baik.


35 Secara tersirat, “dan, dengan demikian, sadar akan kedudukan istimewa kalian sebagai istri-istri Rasulullah dan ibu-ibu kaum Mukmin”.


Surah Al-Ahzab Ayat 33

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

wa qarna fī buyụtikunna wa lā tabarrajna tabarrujal-jāhiliyyatil-ụlā wa aqimnaṣ-ṣalāta wa ātīnaz-zakāta wa aṭi’nallāha wa rasụlah, innamā yurīdullāhu liyuż-hiba ‘angkumur-rijsa ahlal-baiti wa yuṭahhirakum taṭ-hīrā

33. Dan, tinggallah dengan tenang di rumah-rumah kalian, dan janganlah memamerkan pesona kalian sebagaimana mereka biasa memamerkannya pada masa-masa jahiliah dahulu;36 dan berteguhlah mendirikan shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya: sebab, Allah hanya ingin menghilangkan dari kalian segala sesuatu yang mungkin menjijikkan, wahai kalian para anggota keluarga [Nabi], dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.


36 Istilah jahiliyyah menunjukkan periode kebodohan moral orang-orang—atau peradaban—yang berlangsung di antara periode lenyapnya suatu ajaran kenabian dengan munculnya ajaran nabi lainnya; dan, khususnya, periode paganisme Arab sebelum kedatangan Nabi Mu hammad Saw. Namun, terlepas dari konotasi historis ini, istilah itu menggambarkan keadaan kebodohan moral atau ketidaksadaran dalam pengertiannya yang umum, terlepas dari masa atau lingkungan sosial. (Lihat juga catatan no. 71 pada Surah Al-Ma’idah [5]: 50.)


Surah Al-Ahzab Ayat 34

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

ważkurna mā yutlā fī buyụtikunna min āyātillāhi wal-ḥikmah, innallāha kāna laṭīfan khabīrā

34. Dan, ingatlah semua pesan-pesan Allah dan hikmah[-Nya] yang dibacakan di rumah-rumah kalian: sebab, Allah Maha Tak Terduga [hikmah-Nya], Maha Mengetahui.37


37 Untuk makna istilah lathif yang diterapkan kepada Allah, khususnya ketika digabungkan dengan istilah khabir, lihat catatan no. 89 pada Surah Al-An’am [6]: 103.


Surah Al-Ahzab Ayat 35

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

innal-muslimīna wal-muslimāti wal-mu`minīna wal-mu`mināti wal-qānitīna wal-qānitāti waṣ-ṣādiqīna waṣ-ṣādiqāti waṣ-ṣābirīna waṣ-ṣābirāti wal-khāsyi’īna wal-khāsyi’āti wal-mutaṣaddiqīna wal-mutaṣaddiqāti waṣ-ṣā`imīna waṣ-ṣā`imāti wal-ḥāfiẓīna furụjahum wal-ḥāfiẓāti waż-żākirīnallāha kaṡīraw waż-żākirāti a’addallāhu lahum magfirataw wa ajran ‘aẓīmā

35. SUNGGUH, bagi semua laki-laki dan perempuan yang telah berserah diri kepada Allah, semua laki-laki dan perempuan yang beriman, semua laki-laki dan perempuan yang benar-benar taat, semua laki-laki dan perempuan yang menepati perkataan mereka, semua laki-laki dan perempuan yang bersabar dalam menghadapi kesusahan, semua laki-laki dan perempuan yang menundukkan diri [di hadapan Allah], semua laki-laki dan perempuan yang bersedekah, semua laki-laki dan perempuan yang menahan nafsu,38 semua laki-laki dan perempuan yang berhati-hati memelihara kesucian mereka,39 dan semua laki-laki dan perempuan yang mengingat Allah dengan tiada henti: bagi mereka [semuanya], Allah telah mempersiapkan ampunan dan pahala yang besar.


38 {self-denying men and self-denying women.} Istilah sha’im, yang biasanya diterjemahkan menjadi “berpuasa”, di sini memiliki pengertian utamanya sebagai “seorang yang berpantang [dari segala sesuatu]” atau “menolak bagi dirinya sendiri [segala sesuatu]”: bdk. Surah Maryam [19]: 26, yang di dalamnya nomina shaum berarti “berpantang bicara”.

39 Lit., “laki-laki yang menjaga kemaluannya (bagian-bagian pribadi tubuhnya) dan perempuan yang menjaga [bagian tersebut]”: lihat catatan no. 36 pada Surah An-Nur [24]: 30.


Surah Al-Ahzab Ayat 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

wa mā kāna limu`miniw wa lā mu`minatin iżā qaḍallāhu wa rasụluhū amran ay yakụna lahumul-khiyaratu min amrihim, wa may ya’ṣillāha wa rasụlahụ fa qad ḍalla ḍalālam mubīnā

36. Adapun manakala Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara,40 tidaklah patut bagi seorang laki-laki atau perempuan beriman untuk menuntut kebebasan memilih sejauh berurusan dengan diri mereka sendiri:41 sebab, siapa pun yang [dengan demikian] durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, nyata-nyata, telah tersesat.


40 Yakni, manakala sebuah hukum khusus telah dirumuskan sebagaimana adanya dalam Al-Quran atau dalam keputusan yang disampaikan oleh Nabi.

41 Lit., “untuk memiliki pilihan dalam urusan mereka (min amrihim)”-yakni, membiarkan sikap atau tindakan mereka ditentukan bukan oleh hukum yang relevan, melainkan oleh kesukaan dan hawa nafsu mereka.


Surah Al-Ahzab Ayat 37

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

wa iż taqụlu lillażī an’amallāhu ‘alaihi wa an’amta ‘alaihi amsik ‘alaika zaujaka wattaqillāha wa tukhfī fī nafsika mallāhu mubdīhi wa takhsyan-nās, wallāhu aḥaqqu an takhsyāh, fa lammā qaḍā zaidum min-hā waṭarā, zawwajnākahā likai lā yakụna ‘alal-mu`minīna ḥarajun fī azwāji ad’iyā`ihim iżā qaḍau min-hunna waṭarā, wa kāna amrullāhi maf’ụlā

37. DAN, LIHATLAH,42 [wahai Muhammad,] engkau telah berkata kepada seorang yang Allah telah memberikan nikmat kepadanya dan yang engkau telah berikan nikmat kepadanya,43 “Bertahanlah dengan istrimu, dan tetaplah sadar akan Allah!” Dan [demikianlah] engkau ingin menyembunyikan dalam dirimu sesuatu yang Allah akan menerangkannya44—sebab, engkau merasa gentar terhadap [apa yang mungkin dipikirkan] orang-orang, padahal terhadap Allah sajalah seharusnya engkau merasa gentar!45

[Namun] kemudian, tatkala Zaid telah sampai pada akhir pernikahan dengan istrinya,46 Kami mengawinkannya denganmu, agar [di masa mendatang] tidak akan ada kesalahan yang ditimpakan kepada orang-orang beriman karena [menikahi] pasangan-pasangan dari anak-anak angkat mereka ketika anak-anak angkat ini telah sampai pada akhir pernikahan dengan mereka.47 Dan [demikianlah] kehendak Allah itu terlaksana.


42 Untuk penerjemahan partikel idz ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21.

Dengan ayat di atas, wacana kembali lagi pada masalah hubungan “berdasarkan pilihan” {yakni, hubungan suami dengan istri, atau orangtua angkat dengan anak angkat}, yang disinggung dalam ayat 4 dan seterusnya.

Beberapa tahun sebelum Muhammad Saw. diangkat menjadi nabi, Khadijah istrinya menghadiahkan kepadanya seorang budak muda bernama Zaid ibn Haritsah, seorang keturunan Arab Utara suku Banu Kalb, yang sewaktu masih kecil dijadikan tawanan dalam salah satu dari sekian banyak perang antarsuku dan kemudian dijual sebagai budak di Makkah. Begitu menjadi tuan dari anak itu, Nabi memerdekakannya, dan tak lama kemudian mengangkatnya sebagai anak; dan Zaid, pada gilirannya, adalah salah seorang di antara yang pertama masuk Islam. Beberapa tahun kemudian, terdorong oleh hasrat untuk menghapuskan prasangka Arab kuno yang menentang perkawinan antara seorang budak atau bahkan seorang yang telah merdeka dan seorang wanita yang “terlahir-merdeka”, Nabi Muhammad membujuk Zaid untuk menikahi sepupu Nabi sendiri, Zainab binti Jahsy, yang, tanpa disadari oleh Nabi, telah mencintai Nabi Saw. semenjak masa kecilnya. Karenanya, Zainab menyetujui pernikahan yang diajukan tersebut dengan rasa keengganan yang besar, dan dilakukan hanya karena menghormati otoritas sang Nabi. Karena Zaid pun tidak terlalu menginginkan perkawinan tersebut (karena sudah merasa bahagia menikahi budak lainnya yang telah merdeka, yakni Umm Aiman, ibu dari anaknya, Usamah), tidaklah mengejutkan bahwa pernikahan ini tidak membuahkan kebahagiaan baik pada Zainab maupun Zaid. Pernah beberapa kali Zaid berniat menceraikan istri barunya ini yang secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka padanya; tetapi setiap saat mereka selalu dibujuk oleh Nabi untuk bersabar dan tidak berpisah. Namun, pada akhirnya, pernikahan itu ternyata tidak dapat dipertahankan, dan Zaid menceraikan Zainab pada 5 H. Tidak lama setelah itu, Nabi menikahi Zainab untuk memulihkan apa yang dia anggap sebagai tanggung jawab moral atas ketidakbahagiaan Zainab dahulu.

43 Yakni, Zaid ibn Haritsah, yang ditakdirkan Allah menjadi salah satu di antara orang yang pertama kali beriman, dan yang diangkat oleh Nabi sebagai anaknya.

44 Yakni, bahwa pernikahan Zaid dan Zainab, yang didukung oleh Nabi sendiri, dan yang didorong dengan amat keras olehnya, adalah sebuah kegagalan total dan hanya dapat berakhir dengan perceraian (lihat juga catatan berikutnya).

45 Lit., “padahal Allah lebih berhak (ahaqq) sehingga engkau seharusnya takut kepada-Nya”. Seraya mengacu pada teguran Ilahi ini (yang, dengan sendirinya, menyanggah pernyataan bahwa Al-Quran “dikarang oleh Muhammad”), menurut sumber yang tepercaya, ‘Aisyah berkata, “Andaikan Rasulullah cenderung menyembunyikan apa yang diwahyukan kepada beliau, tentunya ayat ini sudah disembunyikan olehnya” (Bukhari dan Muslim).

46 Lit., “menyelesaikan keinginannya terhadap [atau ‘haknya atas’]-nya {istrinya}”, yakni, dengan menceraikannya (Al-Zamakhsyari).

47 Jadi, terlepas dari keinginan Nabi untuk menebus ketidakbahagiaan Zainab di masa lalu, maksud Ilahi dari tindakan Allah menjadikannya menikahi mantan istri anak angkatnya (yang ditekankan dalam frasa, “Kami mengawinkannya denganmu”) adalah untuk menunjukkan bahwa—bertentangan dengan apa yang diyakini oleh masyarakat Arab pagan—hubungan adopsi tidak menyebabkan pembatasan pernikahan sebagaimana yang disebabkan oleh hubungan orangtua-anak kandung secara biologis (bdk. catatan no. 3 pada ayat 4 surah ini).


Surah Al-Ahzab Ayat 38

مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ ۖ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

mā kāna ‘alan-nabiyyi min ḥarajin fīmā faraḍallāhu lah, sunnatallāhi fillażīna khalau ming qabl, wa kāna amrullāhi qadaram maqdụrā

38. [Karenanya,] tidak ada kesalahan apa pun pada Nabi karena [telah melakukan] apa yang ditetapkan Allah baginya.48 [Sesungguhnya, demikianlah] ketetapan Allah bagi mereka yang telah berlalu pada masa silam49—dan [ingatlah bahwa] kehendak Allah senantiasa merupakan takdir yang mutlak—;


48 Yakni, perkawinannya dengan Zainab, yang dimaksudkan untuk memberikan suatu contoh hukum syariat serta untuk memenuhi apa yang dipandang Nabi sebagai kewajiban moralnya secara pribadi.

49 Yakni, para nabi sebelum Muhammad Saw., yang selera pribadi mereka semua, sebagaimana juga Nabi Muhammad, bersamaan dengan kesediaan mereka untuk berserah diri kepada Allah: hal ini merupakan suatu kecenderungan jiwa yang harmonis dan bawaan sejak lahir yang merupakan ciri manusia pilihan Allah dan—sebagaimana dinyatakan dalam frasa sisipan berikutnya—merupakan “takdir mutlak” (qadar maqdur) mereka.


Surah Al-Ahzab Ayat 39

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

allażīna yuballigụna risālātillāhi wa yakhsyaunahụ wa lā yakhsyauna aḥadan illallāh, wa kafā billāhi ḥasībā

39. [dan demikian itulah yang akan senantiasa menjadi ketetapan-Nya bagi] orang-orang yang menyampaikan pesan-pesan Allah [ke seluruh dunia], merasa gentar kepada-Nya, dan tidak merasa gentar kepada siapa pun selain kepada Allah: sebab, tiada siapa pun yang dapat memperhitungkan [perbuatan-perbuatan manusia] sebagaimana Allah!


Surah Al-Ahzab Ayat 40

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

mā kāna muḥammadun aba aḥadim mir rijālikum wa lākir rasụlallāhi wa khātaman-nabiyyīn, wa kānallāhu bikulli syai`in ‘alīmā

40. [Dan ketahuilah, wahai orang-orang beriman, bahwa] Muhammad bukanlah bapak dari laki-laki mana pun di antara kalian,50 tetapi (dia adalah) Utusan Allah dan Penutup semua nabi.51 Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


50 Yakni, dia adalah “bapak” spiritual dari seluruh umat (bdk. catatan no. 8 pada ayat 6 surah ini), dan bukan bapak seseorang atau orang-orang tertentu—jadi, bersamaan dengan itu, membantah pendapat yang keliru bahwa menjadi keturunan dari seorang nabi memberi, dengan sendirinya, suatu keuntungan bagi orang-orang yang bersangkutan.

51 Yakni, nabi terakhir, persis seperti sebuah segeI penutup (khatam) yang menandai akhir sebuah dokumen; terlepas dari ini, istilah khatam juga sinonim dengan khitam, yakni “akhir” atau “penutup” sesuatu: artinya, risalah yang diwahyukan melalui Muhammad Saw.—Al-Quran—harus dipandang sebagai puncak dan akhir dari semua wahyu kenabian (bdk. catatan no. 66 pada kalimat pertama paragraf kedua Surah Al-Ma’idah [5]: 48, dan catatan no. 126 pada Surah Al-A’raf [7]: 158) . Lihat juga catatan no. 102 pada Surah Al-Anbiya’ [21]: 107.


Surah Al-Ahzab Ayat 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikrang kaṡīrā

41. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Ingatlah Allah dengan ingatan yang tak henti-henti,


Surah Al-Ahzab Ayat 42

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

wa sabbiḥụhu bukrataw wa aṣīlā

42. dan bertasbihlah memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga dari pagi hingga malam.52


52 Lit., “pada waktu pagi dan malam”, yakni, setiap saat.


Surah Al-Ahzab Ayat 43

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

huwallażī yuṣallī ‘alaikum wa malā`ikatuhụ liyukhrijakum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wa kāna bil-mu`minīna raḥīmā

43. Dia-lah yang menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kalian, dengan malaikat-malaikat-Nya [yang menggemakan-Nya], agar Dia dapat mengeluarkan kalian dari pekatnya kegelapan menuju cahaya.

Dan, sesungguhnya, Dia-lah Sang Maha Pemberi Rahmat kepada orang-orang beriman.


Surah Al-Ahzab Ayat 44

تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا

taḥiyyatuhum yauma yalqaunahụ salām, wa a’adda lahum ajrang karīmā

44. Pada Hari ketika mereka bertemu dengan-Nya, mereka akan disambut dengan ucapan, “Salam damai”; dan Dia akan telah menyiapkan bagi mereka pahala yang sangat istimewa.


Surah Al-Ahzab Ayat 45

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

yā ayyuhan-nabiyyu innā arsalnāka syāhidaw wa mubasysyiraw wa nażīrā

45. [Adapun engkau,] wahai Nabi—perhatikanlah, Kami telah mengutusmu sebagai saksi [terhadap kebenaran], dan sebagai seorang penyampai berita gembira dan pemberi peringatan,


Surah Al-Ahzab Ayat 46

وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

wa dā’iyan ilallāhi bi`iżnihī wa sirājam munīrā

46. dan sebagai seorang yang menyeru [semua manusia] kepada Allah dengan izin-Nya,53 dan sebagai suar yang memberi cahaya.


53 Yakni, dengan perintah-Nya (Al-Thabari).


Surah Al-Ahzab Ayat 47

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا

wa basysyiril-mu`minīna bi`anna lahum minallāhi faḍlang kabīrā

47. Dan [karena itu,] sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman bahwa suatu karunia yang besar dari Allah menanti mereka;


Surah Al-Ahzab Ayat 48

وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

wa lā tuṭi’il-kāfirīna wal-munāfiqīna wa da’ ażāhum wa tawakkal ‘alallāh, wa kafā billāhi wakīlā

48. dan janganlah menuruti [selera] para pengingkar kebenaran dan orang-orang munafik, dan jangan hiraukan ucapan mereka yang menyakitkan,54 dan bersandarlah penuh percaya (bertawakkallah) kepada Allah: sebab, tiada siapa pun yang layak dipercaya sebagaimana Allah.


54 Atau: “dan [dalam pada itu,] jauhilah dari menyakiti mereka (Al-Zamakhsyari)”—bergantung pada apakah adzahum diartikan sebagai “sakit yang disebabkan oleh mereka” atau “dilakukan terhadap mereka”.


Surah Al-Ahzab Ayat 49

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا ۖ فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

yā ayyuhallażīna āmanū iżā nakaḥtumul-mu`mināti ṡumma ṭallaqtumụhunna ming qabli an tamassụhunna fa mā lakum ‘alaihinna min ‘iddatin ta’taddụnahā, fa matti’ụhunna wa sarriḥụhunna sarāḥan jamīlā

49. WAHAI, KALAIAN yang telah meraih iman! Jika kalian menikahi perempuan-perempuan beriman dan kemudian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, kalian tidak punya alasan untuk mengharapkan, dan menghitung, masa-penantian apa pun dari mereka:55 karenanya, serahkanlah kepada mereka pemberian [dengan segera], dan ceraikanlah mereka dengan cara yang layak.56


55 Lit., “kalian tidak memiliki masa-penantian apa pun yang harus kalian hitung atas mereka”—yakni, “yang hendaknya diperhitungkan oleh salah satu dari kalian sebagai kewajiban”: bdk. bagian pertama Surah Al-Baqarah [2]: 228, dan catatannya (no. 215). Karena persoalan kehamilan tidak akan muncul jika perkawinan tidak disempurnakan {yakni, tidak ada persetubuhan—peny.}, masa-penantian (‘iddah) bagi pihak istri yang dicerai menjadi tidak bermakna dan tidak memberi manfaat apa-apa baik bagi dia maupun bagi mantan suaminya.

56 {release them in a becoming manner}. Perintah ini, yang berhubungan dengan masalah-masalah tertentu dalam pernikahan yang memengaruhi orang Mukmin pada umumnya, membentuk suatu pendahuluan, begitulah kira-kira, untuk membuka lagi, dalam ayat berikutnya, wacana tentang hukum perkawinan yang berlaku secara eksklusif bagi Nabi: jadi, ia berkaitan dengan pesan yang diawali dengan kata-kata, “Wahai, istri-istri Nabi! Kalian tidaklah seperti perempuan [lain] mana pun” (ayat 32), serta dengan ayat berikutnya yang mengacu pada perkawinannya dengan Zainab (ayat 37 dan seterusnya).


Surah Al-Ahzab Ayat 50

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۗ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

yā ayyuhan-nabiyyu innā aḥlalnā laka azwājakallātī ātaita ujụrahunna wa mā malakat yamīnuka mimmā afā`allāhu ‘alaika wa banāti ‘ammika wa banāti ‘ammātika wa banāti khālika wa banāti khālātikallātī hājarna ma’ak, wamra`atam mu`minatan iw wahabat nafsahā lin-nabiyyi in arādan-nabiyyu ay yastangkiḥahā khāliṣatal laka min dụnil-mu`minīn, qad ‘alimnā mā faraḍnā ‘alaihim fī azwājihim wa mā malakat aimānuhum likai lā yakụna ‘alaika ḥaraj, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

50. WAHAI, NABI! Perhatikanlah, Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang kepada mereka telah engkau bayarkan maskawinnya,57 serta orang-orang yang akhirnya dimiliki tangan kananmu dari kalangan tawanan-tawanan perang yang telah Allah anugerahkan kepadamu.58 Dan, [telah Kami halalkan bagimu] anak-anak perempuan dari paman dan bibimu dari garis ayah, serta anak-anak perempuan dari paman dan bibimu dari garis ibu, yang telah berhijrah bersamamu [ke Yatsrib];59 dan perempuan beriman mana pun yang menawarkan dirinya secara sukarela kepada Nabi dan yang bersedia Nabi nikahi:60 [yang disebut terakhir ini hanyalah] suatu hak istimewa bagimu, dan bukan bagi orang-orang beriman lainnya—[mengingat bahwa] Kami telah memberitahukan apa yang Kami perintahkan kepada mereka berkenaan dengan istri-istri mereka dan orang-orang yang dimiliki tangan kanan mereka.61

[Dan,] agar engkau tidak dibebani dengan kegelisahan [yang tak perlu]—sebab, Allah sungguh Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat—


57 Istilah ajr dalam konteks ini sinonim dengan faridhah dalam pengertian khususnya, yakni “maskawin” (mahr): lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 224.

58 Seperti ditunjukkan dalam beberapa tempat (lihat, terutama, catatan no. 32 pada Surah An-Nisa’ [4]: 25), Islam tidak menyetujui segala macam bentuk pergundikan, dan secara tegas melarang hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, kecuali kalau mereka telah menikah secara sah. Dalam hal ini, perbedaan antara wanita “merdeka” dan budak hanyalah bahwa sementara wanita “merdeka” harus menerima maskawin dari suaminya, kewajiban seperti itu tidak dibebankan kepada laki-laki yang menikahi budak yang dimilikinya secara sah (lit., “yang dimiliki tangan kanannya”)—yakni, wanita yang dijadikan tawanan dalam suatu “perang suci” (jihad) yang dilancarkan dalam rangka mempertahankan iman ataupun kemerdekaan (catatan no. 167 pada Surah Al-Baqarah [2]: 190 dan catatan no. 72 pada Surah Al-Anfal [8]: 67)—: sebab, dalam kasus seperti itu, kebebasan yang diberikan kepada pengantin perempuan itu, berkat pernikahannya, dianggap setara dengan maskawin.

59 Hal ini—di samping tidak diperkenankannya Nabi menceraikan satu pun dari istri-istrinya (lihat ayat 52)—merupakan pembatasan lebih lanjut yang dibebankan kepada Nabi dalam hal perkawinan: sementara semua Muslim lainnya bebas untuk menikahi siapa pun di antara sepupunya, baik dari garis bapak atau ibu, Nabi hanya diperbolehkan untuk menikahi di antara mereka yang telah terbukti: keteguhan dan keterikatan awalnya kepada Islam dengan mengikuti Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Menurut pendapat Al-Baghawi—pendapat yang jelas-jelas didasarkan pada penggunaan bahasa Arab kuno—istilah “anak-anak perempuan dari paman dan bibimu dari garis ayah” dalam konteks ini mencakup tidak hanya sepupu sebenarnya dari pihak bapak, tetapi, secara umum, semua wanita dari suku Quraisy, suku ayahanda Nabi Muhammad Saw.; sedangkan istilah “serta anak-anak perempuan dari paman dan bibimu dari garis ibu” mencakup semua wanita dari suku ibunya, Banu Zuhrah.

60 Klausa ini secara harfiah berbunyi demikian, “jika dia menawarkan dirinya sebagai pemberian (in wahabat nafsaha) kepada Nabi”. Kebanyakan mufasir klasik mengartikannya sebagai “tanpa meminta atau mengharapkan maskawin (mahr)”, yang, sejauh menyangkut kaum Muslim biasa, merupakan hal yang mendasar dalam kesepakatan perkawinan (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 4 dan 24, dan catatan-catatannya; juga Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 224).

61 Kalimat sisipan di atas mengacu pada hukum-hukum umum yang diwahyukan sebelumnya yang berkenaan dengan pernikahan (Iihat Surah Al-Baqarah [2]: 221, Surah An-Nisa’ [4]: 3-4 dan 19-25, serta catatan-catatannya), dan terutama hukum yang berhubungan dengan persoalan maskawin.


Surah Al-Ahzab Ayat 51

تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ ۖ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا

turjī man tasyā`u min-hunna wa tu`wī ilaika man tasyā`, wa manibtagaita mim man ‘azalta fa lā junāḥa ‘alaīk, żālika adnā an taqarra a’yunuhunna wa lā yaḥzanna wa yarḍaina bimā ātaitahunna kulluhunn, wallāhu ya’lamu mā fī qulụbikum, wa kānallāhu ‘alīman ḥalīmā

51. [ketahuilah bahwa] engkau boleh menangguhkan untuk suatu waktu siapa pun di antara mereka yang engkau kehendaki, dan boleh menggauli siapa pun di antara mereka yang engkau kehendaki; dan [bahwa,] jika engkau ingin menggauli siapa pun dari yang telah engkau jauhi [untuk suatu waktu], engkau tidak akan berdosa [karenanya]:62 hal ini akan lebih memungkinkan mereka bergembira [manakala mereka melihatmu],63 dan agar mereka tidak bersedih [manakala mereka diabaikan], dan agar mereka semua dapat menemukan kepuasan hati dalam apa pun yang telah engkau berikan kepada mereka: sebab, Allah [sajalah yang] mengetahui apa yang ada dalam kalbu-kalbu kalian—dan Allah sungguh Maha Mengetahui, Maha Penyantun.64


62 Jadi, Nabi diberi tahu untuk tidak perlu menjalankan “gihran” yang ketat dalam memberikan perhatian kepada istri-istrinya, walaupun dia sendiri, didorong oleh rasa keadilan yang merupakan bawaan sejak lahir, selalu berusaha keras untuk memberikan perasaan kesetaraan mutlak kepada mereka.

63 Yakni, dengan keyakinan batin bahwa setiap kali beliau berpaling kepada siapa pun di antara mereka, beliau melakukannya karena dorongan hati, karena cinta-kasih yang sejati, dan bukan karena “kewajiban” perkawinan.

64 Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, yang tercatat dalam Musnad Ibn Hanbal, Nabi “biasa membagi perhatiannya secara adil kepada semua istrinya, dan kemudian berdoa: ‘Ya Allah! Aku hanya bisa melakukan apa yang mampu aku lakukan: maka janganlah salahkan aku karena [gagal melakukan] sesuatu yang ada dalam kekuasaan-Mu [semata], dan bukan dalam kekuasaanku!’—jadi, mengacu pada perasaan hatinya, dan cintanya kepada sebagian [dari istri-istrinya] lebih daripada yang lainnya.”


Surah Al-Ahzab Ayat 52

لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

lā yaḥillu lakan-nisā`u mim ba’du wa lā an tabaddala bihinna min azwājiw walau a’jabaka ḥusnuhunna illā mā malakat yamīnuk, wa kānallāhu ‘alā kulli syai`ir raqībā

52. Tidak ada perempuan [lain] setelah itu yang akan menjadi halal bagimu65—tidak pula engkau [dibolehkan] mengganti [siapa pun dari] mereka dengan istri-istri lain,66 meskipun kecantikan mereka akan sangat menyenangkanmu—: [tidak seorang pun akan menjadi halal bagimu] di luar yang [sudah] engkau miliki itu.67 Dan Allah Maha Memantau segala sesuatu.


65 Sejumlah mufasir (semisal Al-Thabari) menganggap bahwa pembatasan ini berhubungan dengan empat kategori wanita yang diuraikan satu per satu dalam ayat 50: namun, kemungkinannya lebih besar bahwa ia merupakan larangan untuk mencegah Nabi menikahi wanita mana pun di luar wanita-wanita yang telah dinikahinya (Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari). Beberapa mufasir paling awal dan terkemuka, seperti Ibn ‘Abbas, Mujahid, Al-Dhahhak, Qatadah, Ibn Zaid (yang semuanya disebutkan oleh Ibn Katsir), atau Al-Hasan Al-Bashri (yang dikutip oleh Al-Thabari dalam tafsirnya atas ayat 28-29), mengaitkan larangan pernikahan lebih lanjut ini dengan pilihan antara pesona kehidupan duniawi dan kebaikan akhirat yang dikemukakan kepada para istri Nabi berdasarkan ayat 28-29, dan tindakan mereka yang dengan tegas memilih “Allah dan Rasul-Nya” (bdk. catatan no. 32). Semua mufasir awal itu menggambarkan bahwa pewahyuan ayat 52—dan jaminan yang dimaksudkan untuk disampaikan kepada istri-istri Nabi—merupakan balasan Allah bagi mereka di dunia ini atas keimanan dan kesetiaan mereka. Karena tidak mungkin bahwa Nabi tidak mematuhi perintah tegas ini, “Tidak ada perempuan [lain] setelah itu yang akan menjadi halal bagimu”, pasase ini tidak mungkin diwahyukan lebih awal daripada 7 H, yakni, tahun ketika penaklukan Khaibar dan pernikahan Nabi dengan Shafiyyah—pernikahan terakhirnya—terjadi. Karena itu, ayat 28-29 (yang, seperti kita lihat, terkait erat dengan ayat 52) pastilah diwahyukan pada periode yang lebih terkemudian, dan bukan, sebagaimana dikira oleh sebagian mufasir, pada 5 H (yaitu, pada saat pernikahan Nabi dengan Zainab).

66 Yakni, menceraikan salah satu dari mereka dengan alasan untuk mengambil istri yang lain sebagai penggantinya (dengan titik tekan pelarangan pada “mengganti”—yakni, menceraikan—salah satu dari istri-istrinya).

67 Menurut pendapat saya, ungkapan ma malakat yaminuka (lit., “apa yang dimiliki” atau “akhirnya dimiliki tangan kananmu”) di sini memiliki makna yang sama dengan yang ada dalam Surah An-Nisa’ [4]: 24, yaitu, “yang kalian miliki secara sah melalui ikatan perkawinan” (lihat Surah 4, catatan no. 26); jadi, ayat di atas hendaknya dipahami sebagai membatasi pernikahan Nabi hanya pada wanita-wanita yang sudah dinikahi saja.


Surah Al-Ahzab Ayat 53

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tadkhulụ buyụtan-nabiyyi illā ay yu`żana lakum ilā ṭa’āmin gaira nāẓirīna ināhu wa lākin iżā du’ītum fadkhulụ fa iżā ṭa’imtum fantasyirụ wa lā musta`nisīna liḥadīṡ, inna żālikum kāna yu`żin-nabiyya fa yastaḥyī mingkum wallāhu lā yastaḥyī minal-ḥaqq, wa iżā sa`altumụhunna matā’an fas`alụhunna miw warā`i ḥijāb, żālikum aṭ-haru liqulụbikum wa qulụbihinn, wa mā kāna lakum an tu`żụ rasụlallāhi wa lā an tangkiḥū azwājahụ mim ba’dihī abadā, inna żālikum kāna ‘indallāhi ‘aẓīmā

53. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah memasuki tempat-tempat tinggal Nabi kecuali kalau kalian diberi izin; [dan jika diundang] untuk makan, janganlah datang [begitu cepat] untuk menunggunya dipersiapkan: tetapi, kapan pun kalian diundang, masuklah [pada saat yang tepat]; dan ketika kalian selesai makan, bubarlah tanpa berlama-lama tinggal sekedar untuk bercakap-cakap: perhatikanlah, hal itu akan mengganggu Nabi, dan sementara itu boleh jadi dia merasa malu [meminta] kepada kalian [untuk pergi]: tetapi, Allah tidak malu [mengajarkan kepada kalian] mengenai apa yang benar.68

Dan [adapun istri-istri Nabi,] kapan pun kalian meminta kepada mereka apa saja yang kalian butuhkan, mintalah kepada mereka dari balik tabir:69 ini akan memperdalam kesucian hati kalian dan hati mereka. Selain itu, tidak pantas kalian menyakiti hati Rasulullah—sebagaimana tidak pantas kalian mengawini janda-jandanya setelah beliau meninggal:70 sungguh, itu akan menjadi suatu yang sangat besar dalam pandangan Allah.


68 Dalam kaitannya dengan acuan, pada ayat 45-48, kepada misi Nabi, pasase di atas dimaksudkan untuk menekankan kedudukan uniknya di antara orang-orang pada masanya; tetapi, sebagaimana yang sering kali terjadi dalam rujukan Al-Quran terhadap peristiwa atau situasi historis, prinsip etis yang diungkapkan di sini tidaklah dibatasi pada waktu atau lingkungan tertentu. Dengan mendesak para Sahabat Nabi untuk menakzimkan pribadinya, Al-Quran mengingatkan seluruh orang beriman, di segala zaman, akan kemuliaan kedudukannya (bdk. catatan no. 85 pada Surah Al-Baqarah [2]: 104; di samping itu, Al-Quran mengajarkan kepada mereka aturan perilaku tertentu yang berkenaan dengan kehidupan umat itu sendiri, yakni: aturan-aturan yang, betapapun sepintas lalu tampak remeh, bernilai psikologis dalam suatu masyarakat yang harus diatur oleh suatu perasaan persaudaraan yang tulus, saling  memperhatikan dan menghormati kesucian pribadi dan privasi setiap orang.

69 Istilah hijab berarti segala sesuatu yang menghalangi antara dua hal, atau menyembunyikan, menaungi, atau melindungi sesuatu dari sesuatu yang lain; istilah ini dapat diterjemahkan, sesuai dengan konteksnya, menjadi “rintangan”, “halangan”, “sekat”, “tabir”, “tirai”, “selubung”, dsb., dalam konotasi konkret maupun abstrak dari kata-kata ini. Larangan untuk mendekati istri-istri Nabi kecuali “dari balik tabir” atau “tirai” dapat dipahami secara harfiah—sebagaimana yang benar-benar dipahami oleh kebanyakan Sahabat Nabi—atau secara metaforis, yang mengindikasikan penghormatan yang luar biasa kepada “para ibunda kaum beriman” ini.

70 Lit., “menikahi istri-istrinya sesudah beliau”.


Surah Al-Ahzab Ayat 54

إِنْ تُبْدُوا شَيْئًا أَوْ تُخْفُوهُ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

in tubdụ syai`an au tukhfụhu fa innallāha kāna bikulli syai`in ‘alīmā

54. Baik kalian melakukan sesuatu secara terang-terangan ataupun secara rahasia, [ingatlah bahwa,] sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


Surah Al-Ahzab Ayat 55

لَا جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي آبَائِهِنَّ وَلَا أَبْنَائِهِنَّ وَلَا إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلَا نِسَائِهِنَّ وَلَا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ ۗ وَاتَّقِينَ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا

lā junāḥa ‘alaihinna fī ābā`ihinna wa lā abnā`ihinna wa lā ikhwānihinna wa lā abnā`i ikhwānihinna wa lā abnā`i akhawātihinna wa lā nisā`ihinna wa lā mā malakat aimānuhunn, wattaqīnallāh, innallāha kāna ‘alā kulli syai`in syahīdā

55. [Bagaimanapun,] tidak ada dosa bagi mereka71 [untuk menampilkan diri secara bebas] di hadapan bapak-bapak mereka, anak-anak lelaki mereka, saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak lelaki dari saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak lelaki dari saudara-saudara perempuan mereka, kaum perempuan sesamanya, atau [budak-budak lelaki] yang boleh jadi dimiliki tangan kanan mereka.

Namun, [wahai istri-istri Nabi,72] tetaplah sadar akan Allah [senantiasa]—sebab, perhatikanlah, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.


71 Yakni, istri-istri Nabi (berkaitan dengan perintah, (dalam ayat 53 di atas, bahwa mereka harus diajak berbicara “dari balik tabir”).

72 Penyisipan ini dipersyaratkan oleh bentuk feminin dari kata perintah jamak ittaqina berikutnya.


Surah Al-Ahzab Ayat 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīmā

56. Sungguh, Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi*: [karenanya,] wahai kalian yang telah meraih iman, bershalawatlah kepadanya dan serahkanlah dirimu [terhadap petunjuknya] dengan penyerahan-diri yang sepenuhnya!


* {God and His angels bless the Prophet: Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberkati sang Nabi.—peny.}


Surah Al-Ahzab Ayat 57

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

innallażīna yu`żụnallāha wa rasụlahụ la’anahumullāhu fid-dun-yā wal-ākhirati wa a’adda lahum ‘ażābam muhīnā

57. Sungguh, adapun orang-orang yang [dengan sadar] menghina Allah dan Rasul-Nya—Allah akan menolak mereka73 di dunia ini dan dalam kehidupan akhirat mendatang dan derita yang hina akan Dia persiapkan untuk mereka.


73 Dalam bahasa Arab klasik, istilah la’nah lebih kurang sama artinya dengan kata ib’ad (“pemindahan ke tempat yang jauh” atau “pembuangan”); jadi, laknat Allah berarti “penolakan-Nya terhadap seorang pendosa dari segala yang baik” (Lisan Al-‘Arab) atau “pengucilan dari rahmat-Nya” (Manar II, 50). Istilah mal’un yang terdapat dalam ayat 61, karenanya, berarti “seorang yang dicerabut dari rahmat Allah”.


Surah Al-Ahzab Ayat 58

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

wallażīna yu`żụnal-mu`minīna wal-mu`mināti bigairi maktasabụ faqadiḥtamalụ buhtānaw wa iṡmam mubīnā

58. Dan adapun orang-orang yang menyakiti laki-laki Mukmin dan perempuan Mukmin tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat—pastilah mereka membebani diri mereka sendiri dengan kesalahan (karena melakukan) fitnah, dan [dengan demikian,] dengan suatu dosa yang nyata!


Surah Al-Ahzab Ayat 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

yā ayyuhan-nabiyyu qul li`azwājika wa banātika wa nisā`il-mu`minīna yudnīna ‘alaihinna min jalābībihinn, żālika adnā ay yu’rafna fa lā yu`żaīn, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

59. Wahai, Nabi! katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, serta semua perempuan beriman [lainnya], bahwa mereka seharusnya menutup diri mereka dengan sebagian dari pakaian luar mereka [ketika berada di depan umum]; ini akan lebih mudah bagi mereka untuk dikenal [sebagai perempuan baik-baik] dan tidak diganggu.74 Namun [sementara itu,] Allah benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!75


74 Bdk. dua kalimat pertama Surah An-Nur, [24]: 31 dan catatannya (no. 37 dan 38).

75 Rumusan yang spesifik dan terikat-waktu dari ayat di atas (yang terlihat dari rujukan terhadap istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi), serta kesamaran yang disengaja dalam anjuran bahwa wanita “seharusnya menutup diri mereka dengan sebagian dari pakaian luar mereka (min jalabibihinna)” ketika berada di depan umum, menjelaskan bahwa ayat ini tidak dimaksudkan sebagai perintah (hukm) dalam pengertian yang umum dan abadi dari istilah ini, alih-alih merupakan pedoman moral yang harus ditaati dalam kaitannya dengan latar belakang waktu dan lingkungan sosial yang selalu berubah. Hal ini diperkuat oleh kalimat penutup yang mengacu kepada ampunan dan rahmat Allah.


Surah Al-Ahzab Ayat 60

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

la`il lam yantahil-munāfiqụna wallażīna fī qulụbihim maraḍuw wal-murjifụna fil-madīnati lanugriyannaka bihim ṡumma lā yujāwirụnaka fīhā illā qalīlā

60. DEMIKIANLAH ADANYA: jika76 orang-orang munafik dan mereka yang dalam hatinya ada penyakit77 serta mereka yang, dengan menyebarkan kabar-kabar bohong, akan menyebabkan gangguan-gangguan78 di kota [Nabi] tidak berhenti [melancarkan permusuhan mereka], niscaya Kami benar-benar akan memberikan kepadamu kekuasaan atas mereka, [wahai Muhammad]—dan kemudian mereka tidak akan tetap menjadi tetanggamu di [kota] ini kecuali hanya sesaat saja:79


76 Untuk penerjemahan saya atas la’in di atas, lihat Surah Ar-Rum [30], catatan no. 45. Dengan pasase ini, wacana kembali kepad tema yang disinggung dalam ayat 1 dan yang diuraikan lebih lengkap dalam ayat 9-27: yakni , perlawanan yang dihadapi Nabi dan para pengikutnya pada tahun-tahun awal di Yatsrib (yang sejak saat itu akhirnya menjadi terkenal dengan sebutan Madinah Al-Nabi, “Kota Nabi”).

77 Lihat catatan no. 16.

78 Demikianlah Al-Zamakhsyari, ketika menjelaskan istilah al-murjifun dalam konteks di atas.

79 Yakni, “akan terjadi peperangan terbuka antara engkau dan mereka”, yang akan berakhir dengan pengusiran mereka dari Madinah: suatu prediksi yang terbukti benar seiring dengan perjalanan waktu.


Surah Al-Ahzab Ayat 61

مَلْعُونِينَ ۖ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا

mal’ụnīna ainamā ṡuqifū ukhiżụ wa quttilụ taqtīlā

61. (seraya) dicerabut dari rahmat Allah, mereka akan ditangkap di mana pun mereka mungkin ditemukan, dan dibunuh habis-habisan.80


80 Lit., “dibunuh dengan pembunuhan [yang dahsyat]”.

Dalam kaitan ini, Iihat catatan no. 168 pada Surah Al-Baqarah [2]: 191. Untuk penerjemahan saya atas mal’unin menjadi “dicerabut dari rahmat Allah”, lihat catatan no. 73.


Surah Al-Ahzab Ayat 62

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

sunnatallāhi fillażīna khalau ming qabl, wa lan tajida lisunnatillāhi tabdīlā

62. Yang demikian ini telah menjadi ketetapan Allah bagi orang-orang yang [melakukan dosa dengan cara yang sama dan] telah meninggal sebelumnya—dan engkau tidak akan pernah mendapati perubahan apa pun dalam ketetapan Allah!81


81 Bdk. Surah Fathir [35]: 42-44, dan terutama paragraf terakhir ayat 43.


Surah Al-Ahzab Ayat 63

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

yas`alukan-nāsu ‘anis-sā’ah, qul innamā ‘ilmuhā ‘indallāh, wa mā yudrīka la’allas-sā’ata takụnu qarībā

63. ORANG-ORANG akan bertanya kepadamu mengenai Saat Terakhir. Katakanlah: “Pengetahuan tentangnya berada pada Allah saja; namun ketahuilah, mungkin saja Saat Terakhir itu sangatlah dekat!”82


82 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 187.


Surah Al-Ahzab Ayat 64

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا

innallāha la’anal-kāfirīna wa a’adda lahum sa’īrā

64. Sungguh, Allah telah menolak para pengingkar kebenaran, dan telah mempersiapkan bagi mereka api yang berkobar,


Surah Al-Ahzab Ayat 65

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

khālidīna fīhā abadā, lā yajidụna waliyyaw wa lā naṣīrā

65. di dalamnya mereka berkediaman melampaui hitungan waktu: tiada pelindung akan mereka dapati, dan tiada seorang pun memberi mereka pertolongan.


Surah Al-Ahzab Ayat 66

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

yauma tuqallabu wujụhuhum fin-nāri yaqụlụna yā laitanā aṭa’nallāha wa aṭa’nar-rasụlā

66. Pada Hari ketika wajah-wajah mereka akan dibolak-balikkan di dalam neraka,83 mereka akan berseru, “Aduhai, sekiranya kami taat kepada Allah, dan taat kepada Rasul!”


83 Seperti dalam beberapa contoh lainnya dalam Al-Quran, “wajah”, yang merupakan bagian yang paling mulia dan ekspresif dari manusia, di sini merepresentasikan “kepribadian” manusia secara keseluruhan; dan “dibolak-balikkan di dalam neraka” melambangkan peniadaan keinginan si pendosa dan penurunan derajatnya hingga tingkat kepasifan total.


Surah Al-Ahzab Ayat 67

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

wa qālụ rabbanā innā aṭa’nā sādatanā wa kubarā`anā fa aḍallụnas-sabīlā

67. Dan, mereka akan berkata, “Wahai, Pemelihara kami! Perhatikanlah, kami telah menaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami, dan merekalah yang telah menyesatkan kami dari jalan yang benar!


Surah Al-Ahzab Ayat 68

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

rabbanā ātihim ḍi’faini minal-‘ażābi wal’an-hum la’nang kabīrā

68. Wahai, Pemelihara kami! Berilah mereka derita yang berganda, dan campakkanlah mereka sama sekali dari rahmat-Mu!”84


84 Lit., “tolaklah mereka (il’anhum) dengan penolakan yang besar”, yakni, “dari rahmat-Mu”.


Surah Al-Ahzab Ayat 69

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا ۚ وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

yā ayyuhallażīna āmanụ lā takụnụ kallażīna āżau mụsā fa barra`ahullāhu mimmā qālụ, wa kāna ‘indallāhi wajīhā

69. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman! Janganlah menjadi seperti [Bani Israil] yang menyakiti hati Musa, dan [ingatlah bahwa] Allah membersihkannya dari apa pun yang mereka tuduhkan [terhadapnya atau yang mereka tuntut darinya]:85 karena dia memiliki kedudukan yang sangat terhormat dalam pandangan Allah.


85 Ini mengacu kepada kata-kata fitnah yang kadang-kadang dilemparkan kepada Nabi Musa a.s. oleh sebagian pengikutnya dan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama (misalnya, Kitab Bilangan 12: 1-13), serta tuntutan-tuntutan bernada hujatan yang dibicarakan Al-Quran—misalnya, “Hai, Musa, sungguh kami tidak akan beriman kepadamu hingga kami melihat Allah secara langsung” (Surah Al-Baqarah [2]: 55) atau, “Pergilah engkau bersama Pemeliharamu, dan berperanglah, kalian berdua!” (Surah Al-Ma’idah [5]: 24). Contoh-contoh tersebut disejajarkan di sini dengan tuduhan-tuduhan yang sering disebutkan bahwa Nabi Muhammad telah “membuat-buat” Al-Quran dan kemudian dengan batil menisbahkannya kepada Allah, bahwa dia adalah orang gila, dan sebagainya, serta disejajarkan dengan tuntutan-tuntutan konyol untuk membuktikan kenabiannya dengan mendatangkan mukjizat atau—sebagaimana dinyatakan kembali dalam ayat 63 surah ini—dengan meramalkan waktu terjadinya Saat Terakhir.


Surah Al-Ahzab Ayat 70

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa qụlụ qaulan sadīdā

70. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Tetaplah sadar akan Allah, dan berbicaralah [selalu] dengan suatu tekad untuk [hanya] mengemukakan apa yang pantas dan benar86


86 Ungkapan qaul sadid secara harfiah berarti, “perkataan yang mengenai sasarannya”, yakni, jujur, relevan, dan tepat sasaran. Dalam satu-satunya contoh lain tempat ungkapan ini digunakan dalam Al-Quran (di akhir Surah An-Nisa’ [4]: 9), ia bisa diterjemahkan dengan tepat menjadi “berbicara dengan cara yang pantas”; namun, dalam contoh yang ini, ungkapan tersebut jelas-jelas berhubungan dengan pembicaraan tentang orang lain tanpa makna tersembunyi, sindiran, dan syak wasangka, yang tujuannya tidak lebih dan tidak kurang adalah untuk menyampaikan kebenaran.


Surah Al-Ahzab Ayat 71

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

yuṣliḥ lakum a’mālakum wa yagfir lakum żunụbakum, wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ fa qad fāza fauzan ‘aẓīmā

71. [kemudian] Dia akan menyebabkan amal perbuatan kalian menjadi kebajikan, dan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan [ketahuilah bahwa] siapa pun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya telah meraih suatu kemenangan yang besar.


Surah Al-Ahzab Ayat 72

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

innā ‘araḍnal-amānata ‘alas-samāwāti wal-arḍi wal-jibāli fa abaina ay yaḥmilnahā wa asyfaqna min-hā wa ḥamalahal-insān, innahụ kāna ẓalụman jahụlā

72. Sungguh, Kami telah menawarkan amanat [berupa akal dan kemampuan berkehendak] kepada lelangit, bumi, dan gunung-gunung:87 namun, mereka menolak memikulnya karena mereka khawatir terhadapnya. Namun, manusia mengambilnya88—sebab, sungguh, manusia selalu mudah menjadi paling jahat, paling bodoh.


87 Para mufasir klasik memberikan segala macam penjelasan yang rumit untuk istilah amanah (“amanat, kepercayaan”) yang terdapat dalam perumpamaan ini, tetapi yang paling meyakinkan dari semuanya (yang disebutkan dalam Lane I, 102, dengan mengacu kepada ayat di atas) adalah “akal”, atau “intelek”, dan “kemampuan berkehendak”—yakni, kemampuan untuk memilih di antara dua atau lebih tindakan atau modus perilaku yang mungkin, dan karenanya, kemampuan memilih antara yang baik dan yang buruk.

88 Yakni, secara tersirat, “dan kemudian gagal memenuhi tanggung jawab moral yang muncul dari penganugerahan akal dan kehendak bebas ini” (Al-Zamakhsyari). Ini tentunya berlaku terhadap keseluruhan umat manusia itu sendiri, jadi tidak mesti demikian bagi setiap individu.


Surah Al-Ahzab Ayat 73

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

liyu’ażżiballāhul-munāfiqīna wal-munāfiqāti wal-musyrikīna wal-musyrikāti wa yatụballāhu ‘alal-mu`minīna wal-mu`mināt, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

73. [Dan demikianlah] agar Allah menimpakan penderitaan terhadap orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, serta terhadap laki-laki dan perempuan yang menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain-Nya.89 Dan [demikian pula] agar Allah berpaling dengan belas kasih-Nya kepada laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman: sebab, Allah benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


89 Dengan kata lain, kepada orang-orang yang membangkang terhadap apa yang diperintahkan oleh akal dan hati nurani mereka sendiri. Penderitaan ini, apakah terjadi di dunia ini atau di akhirat, tidak lain hanyalah merupakan akibat kausal—sebagaimana ditunjukkan oleh lam al-‘aqibah di awal kalimat ini—dari kekeliruan moral manusia, dan bukan merupakan tindakan sewenang-wenang Allah. (Dalam kaitan ini, bdk. catatan no. 7 pada Surah Al-Baqarah [2]: 7, yang berbicara tentang tindakan Allah “menutup” hati orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran.)


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top