100. Al-‘Adiyat (Kuda-Kuda Perang) – العاديات

Surat Al-'Adiyat dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-‘Adiyat ( العاديات ) merupakan surat ke 100 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 11 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-‘Adiyat tergolong Surat Makkiyah.

Nama surah ini diambil dari kata al-‘adiyat yang terdapat pada ayat pertama. Al-‘Adiyat mengacu pada kuda perang yang digunakan oleh orang-orang Arab sejak dahulu hingga abad pertengahan (bentuk feminin dari kata tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa orang-orang Arab biasa lebih memilih kuda betina daripada kuda jantan).

Surah ini diwahyukan setelah Surah Al-‘Ashr [103].

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-‘Adiyat Ayat 1

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا

wal-‘ādiyāti ḍab-ḥā

1. OH,1 kuda-kuda perang yang terengah-engah berlari,


1 Karena anak kalimat berikutnya mengacu pada situasi parabolik dan imajiner, partikel wa yang mengekspresikan sumpah itu dalam konteks ini lebih sesuai diterjemahkan menjadi “Oh” daripada “Perhatikanlah” sebagaimana yang biasa saya lakukan, ataupun kata sumpah “Demi” sebagaimana yang tercantum di dalam kebanyakan terjemahan lainnya.


Surah Al-‘Adiyat Ayat 2

فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا

fal-mụriyāti qad-ḥā

2. memercikkan bunga-bunga api,


Surah Al-‘Adiyat Ayat 3

فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا

fal-mugīrāti ṣub-ḥā

3. bergegas menyerang di kala pagi,


Surah Al-‘Adiyat Ayat 4

فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا

fa aṡarna bihī naq’ā

4. sehingga menimbulkan kepulan debu,


Surah Al-‘Adiyat Ayat 5

فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا

fa wasaṭna bihī jam’ā

5. sehingga pasukan mana saja, [secara membabi buta] mereka serbu!2


2 Yakni, dibutakan oleh kepulan debu sehingga tidak mengetahui apakah serangan mereka mengarah kepada pihak lawan atau kawan. Gambaran metafora yang dikembangkan di dalam lima ayat di atas terkait erat dengan rangkaian ayat-ayat berikutnya, sekalipun kaitan ini belum pernah diperlihatkan oleh para mufasir klasik. Tidak diragukan lagi bahwa kata “al-‘adiyat” mengacu pada kuda perang yang digunakan oleh orang-orang Arab sejak dahulu hingga Abad Pertengahan (bentuk feminin dari kata tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa orang-orang Arab biasa lebih memilih kuda betina daripada kuda jantan). Namun, sementara penjelasan yang konvensional didasari atas asumsi bahwa “kuda-kuda perang” itu dalam konteks ini merupakan simbol perjuangan orang-orang beriman di jalan Allah (jihad) dan, karena itu, merepresentasikan sesuatu yang sangat dianjurkan, penjelasan semacam itu tidak memperhatikan perbedaan antara penggambaran yang positif semacam itu dan kecaman yang diungkapkan di dalam ayat 6 dan seterusnya, untuk tidak mengatakan fakta bahwa penafsiran konvensional semacam itu tidak memberikan kaitan logis antara kedua bagian surah ini. Namun, lantaran kaitan logis semacam itu mesti ada, dan karena ayat 6 hingga ayat 11 tidak diragukan lagi berisikan kecaman, kita harus menyimpulkan bahwa kelima ayat pertama juga memiliki karakter yang sama atau, sekurang-kurangnya, serupa. Karakter ini serta-merta menjadi jelas jika kita melepaskan diri kita dari gagasan yang telah dipraanggapkan sebelumnya bahwa perumpamaan “kuda-kuda perang” digunakan di sini dalam pengertian yang bersifat pujian. Pada kenyataannya, yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak diragukan lagi, “kuda-kuda perang” itu menjadi simbol untuk jiwa atau diri manusia yang berdosa—jiwa yang hampa dari segala petunjuk ruhani, yang terobsesi dan dikendalikan oleh segenap sikap dan hasrat yang keliru dan mementingkan diri sendiri, yang menerobos ke depan dengan membabi buta, yang tidak diuji oleh hati nurani atau nalar, yang dibutakan oleh kepulan debu nafsu yang kebingungan dan membingungkan, menerobos ke dalam situasi-situasi yang tidak terpecahkan dan, dengan demikian, akhirnya menuju kehancuran ruhaninya sendiri.


Surah Al-‘Adiyat Ayat 6

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

innal-insāna lirabbihī lakanụd

6. SUNGGUH, kepada Pemeliharanya, manusia itu sangat tidak berterima kasih3


3 Yakni, setiap kali dia tunduk pada nafsunya—yang disimbolkan dengan kuda perang yang berlari liar—dia melupakan Allah dan melupakan tanggung jawabnya kepada-Nya.


Surah Al-‘Adiyat Ayat 7

وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ

wa innahụ ‘alā żālika lasyahīd

7. dan terhadap hal ini, perhatikanlah, dia [sendiri] benar-benar menjadi saksi:


Surah Al-‘Adiyat Ayat 8

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

wa innahụ liḥubbil-khairi lasyadīd

8. sebab, sungguh, demi kecintaan terhadap hartalah dia abdikan dirinya dengan penuh semangat.


Surah Al-‘Adiyat Ayat 9

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ

a fa lā ya’lamu iżā bu’ṡira mā fil-qubụr

9. Namun, tidakkah dia tahu bahwa [pada Hari Akhir,] tatkala dibangkitkan dan dikeluarkan semua yang ada di dalam kubur,


Surah Al-‘Adiyat Ayat 10

وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ

wa huṣṣila mā fiṣ-ṣudụr

10. dan diungkapkan segala yang [tersembunyi] di dalam hati manusia—


Surah Al-‘Adiyat Ayat 11

إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ

inna rabbahum bihim yauma`iżil lakhabīr

11. bahwa pada Hari itu, Pemelihara mereka [akan memperlihatkan bahwa Dia] selalu mengetahui sepenuhnya keadaan mereka?


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top