36. YaSin (Wahai, Engkau Manusia) – يس

Surat YaSin dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat YaSin ( يس ) merupakan surah ke 36 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 83 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah YaSin tergolong Surat Makkiyah.

Untuk penjelasan mengenai terjemahan saya terhadap judut Ya’Sin menjadi “Wahai, Engkau Manusia”; lihat catatan no. 1 di bawah.

Surah ini diwahyukan pada permulaan dari apa yang disebut sebagai “pertengahan” periode Makkah (mungkin persis sebelum Surah Al-Furqan). Hampir semua isi surah ini berbicara tentang masalah pertanggungjawaban moral manusia dan, karena itu, tentang kepastian kebangkitan dan pengadilan Tuhan: dan, inilah alasan mengapa Nabi menganjurkan pengikutnya supaya membacakan surah ini untuk orang yang menghadapi sakratulmaut dan dalam doa untuk orang yang meninggal (bandingkan dengan beberapa hadis yang mengindikasikan pengertian ini, yang dikutip Ibn Katsir di awal tafsirnya atas surah ini).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surat YaSin Ayat 1

يس

yā sīn

1. WAHAI, engkau manusia!1


1 Beberapa mufasir klasik cenderung pada pendapat bahwa huruf y-s (dilafalkan ya’sin) yang membuka surah ini termasuk kategori huruf-huruf simbol yang misterius (al-muqaththa’at) yang mengawali sejumlah surah Al-Qur’an. Namun, ‘Abdullah ibn ‘Abbas menyatakan bahwa huruf-huruf tersebut sebenarnya menunjukkan dua kata yang berbeda, yaitu kata seru ya (“wahai”) dan sin, yang dalam dialek suku Thayy’ merupakan sinonim untuk insan (“manusia”): oleh sebab itu, sama seperti dengan dua suku kata tha’ ha’ dalam Surah TaHa’ [20], ya’ sin berarti “Wahai, engkau Manusia!”. Penafsiran ini diterima oleh ‘Ikrimah, Al-Dhahhak, Al-Hasan Al-Bashri, Sa’id ibn Jubair, dan beberapa mufasir Al-Qur’an awal lainnya (lihat Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Baidhawi, Ibn Katsir, dan lain-lain). Menurut Al-Zamakhsyari, tampaknya suku kata sin adalah singkatan dari unaisin, bentuk tashghir (pemanis, pengecil, diminutive form) dari insan yang digunakan suku Thayy’ ketika menyeru. (Perlu diingat bahwa dalam bahasa Arab klasik, bentuk tashghir sering kali hanyalah merupakan ungkapan rasa sayang: semisal, ya bunayya, yang tidak mesti berarti “Wahai, anakku yang kecil”, tetapi lebih tepat berarti “Wahai, anakku sayang”, terlepas dari umur anak itu.) Dengan demikian, cukup beralasan bagi kita untuk berpendapat bahwa kata ya’ sin mengacu pada Nabi Muhammad Saw, yang secara eksplisit disapa dalam ayat selanjutnya, dan dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa beliau dan semua nabi lainnya adalah manusia biasa—suatu hal yang sering kali ditegaskan Al-Qur’an.


Surat YaSin Ayat 2

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

wal-qur`ānil-ḥakīm

2. Perhatikanlah Al-Quran ini yang penuh hikmah:


Surat YaSin Ayat 3

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

innaka laminal-mursalīn

3. sungguh, engkau benar-benar salah seorang dari pembawa pesan Allah,2


2 Pernyataan ini menjelaskan partikel sumpah wa (yang saya terjemahkan menjadi “Perhatikanlah”) pada awal ayat sebelumnya—yakni: “Biarlah hikmah yang tampak jelas dalam Al-Quran itu membuktikan fakta bahwa engkau adalah seorang rasul Tuhan”. Mengenai terjemahan saya terhadap alqur’an al-hakim menjadi “Al-Quran ini yang penuh hikmah”, lihat catatan no. 2 pada Surah Yunus [10]: 1.


Surat YaSin Ayat 4

عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

‘alā ṣirāṭim mustaqīm

4. mengikuti jalan yang lurus


Surat YaSin Ayat 5

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

tanzīlal-‘azīzir-raḥīm

5. berkat [kebajikan] apa yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa dan Sang Pemberi Rahmat,3


3 Bdk., Surah Saba’ [34]: 50—”andaikan aku berada di jalan yang benar, hal itu hanyalah berkat apa yang telah diwahyukan Pemeliharaku kepadaku”.


Surat YaSin Ayat 6

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

litunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn

6. [dianugerahkan kepadamu] agar engkau dapat memperingatkan kaum yang nenek moyangnya belum pernah diperingatkan, dan yang karena itu lalai [terhadap makna kebenaran dan kesalahan].4


4 Bdk., Surah Al-An’am [6]: 131-132. Dalam pengertian yang lebih luas dari ungkapan ini, “nenek moyang” mungkin merupakan metonimia bagi sejarah budaya suatu komunitas: oleh karena itu, rujukan kepada “nenek moyang” yang belum “diperingatkan” (yakni, terhadap kejahatan) jelas menunjuk pada ketidaksempurnaan warisan etis orang-orang yang telah terasingkan dari nilai-nilai moral sejati.


Surat YaSin Ayat 7

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

laqad ḥaqqal-qaulu ‘alā akṡarihim fa hum lā yu`minụn

7. Sungguh, perkataan [hukuman Allah] terhadap kebanyakan mereka pasti akan terjadi:5 sebab, mereka tidak akan beriman.


5 Lit., “telah terjadi”. Verba bentuk lampau menunjukkan tak terelakkannya “kejadian itu”—yakni, ia pasti terjadi.


Surat YaSin Ayat 8

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ

innā ja’alnā fī a’nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmaḥụn

8. Perhatikanlah, Kami telah memasang belenggu di leher mereka,6 yang mencapai ke dagu mereka, sehingga kepala mereka tertengadah;7


6 Al-Zamakhsyari: “[Ini adalah] sebuah alegori mengenai kesengajaan mereka menolak kebenaran.” Lihat catatan no. 13 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 5 dan catatan no. 44 pada Surah Saba’ [34]: 33.

7 Yakni, secara tersirat, “dan mereka tidak dapat melihat jalan yang benar” (Al-Razi); “tertengadahnya kepala” mereka juga menyimbolkan arogansi mereka. Di lain pihak; “pemasangan belenggu” di leher para pendosa itu oleh Allah merupakan metafora yang sama dengan “menutup hati dan pendengaran mereka”, yang disebutkan pada Surah Al-Baqarah [2]: 7 dan dijelaskan dalam catatan surah tersebut (no. 7). Metafora yang sama juga berlaku bagi “rintangan” dan “selubung” yang disebutkan pada ayat berikutnya,


Surat YaSin Ayat 9

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

wa ja’alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn

9. dan Kami adakan rintangan di hadapan mereka dan rintangan di belakang mereka,8 dan Kami telah menyelimuti mereka dalam selubung-selubung sehingga mereka tidak dapat melihat:


8 Dengan kata lain, “sehingga mereka tidak bisa maju atau mundur”: sebuah metafora bagi stagnasi spiritual yang mutlak.


Surat YaSin Ayat 10

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

wa sawā`un ‘alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn

10. jadi, sama saja bagi mereka apakah engkau memperingatkan mereka ataukah tidak memperingatkan: mereka tidak akan beriman.


Surat YaSin Ayat 11

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

innamā tunżiru manittaba’aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring karīm

11. Engkau hanya mampu [benar-benar] memperingatkan orang-orang yang mau dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan peringatan itu9 dan yang merasa gentar-terpukau pada Yang Maha Pengasih, walaupun Dia berada di luar jangkauan persepsi manusia: maka, berilah kepada orang-orang semacam ini kabar gembira mengenai ampunan [Allah] dan pahala yang paling mulia!


9 Lit., “yang mengikuti pemberi peringatan itu”.


Surat YaSin Ayat 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn

12. Sungguh, Kami benar-benar akan menghidupkan orang-orang mati; dan Kami akan mencatat [perbuatan] apa pun yang telah mereka kerjakan dahulu, dan jejak-jejak [kebaikan dan kejahatan] yang mereka tinggalkan: sebab, segala sesuatu benar-benar Kami perhitungkan dalam catatan yang terang.


Surat YaSin Ayat 13

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ

waḍrib lahum maṡalan aṣ-ḥābal-qaryah, iż jā`ahal-mursalụn

13. DAN, AJUKANLAH kepada mereka suatu perumpamaan—[suatu kisah bagaimana] penduduk suatu negeri [bersikap] ketika pembawa-pembawa pesan [Kami] datang kepada mereka.


Surat YaSin Ayat 14

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ

iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabụhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin fa qālū innā ilaikum mursalụn

14. Lihatlah! Kami mengutus kepada mereka dua [orang rasul], lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian, Kami kuatkan [keduanya] dengan yang ketiga; kemudian, mereka itu berkata, “Perhatikanlah, kami adalah orang-orang yang diutus kepada kalian [oleh Tuhan]!”10


10 Seperti yang biasa terjadi dengan ayat semacam ini, para mufasir mengajukan berbagai spekulasi mengenai “identitas” kota dan para utusan itu. Bagaimanapun, karena kisah tersebut dengan jelas digambarkan sebagai sebuah perumpamaan, ia harus dipahami dalam makna seperti itu dan tidak sebagai sebuah narasi historis. Dalam pandangan saya, ayat ini tampaknya merupakan sebuah alegori bagi tiga agama monoteistik terbesar, yang secara berturut-turut dibawa oleh Nabi Musa a.s,, Nabi Isa a.s, dan Nabi Muhammad Saw., yang pada dasarnya mewujudkan kebenaran spiritual yang sama. “Negeri” yang disebutkan dalam perumpamaan tersebut, menurut saya, melambangkan lingkungan kultural yang sama tempat ketiga agama ini muncul. Dua nabi yang pertama dikatakan telah diutus “bersamaan”. Hal ini menandakan bahwa ajaran mereka berdua didasarkan pada kitab yang satu dan sama, yakni Bibel Perjanjian Lama. Ketika, seiring dengan berjalannya waktu, pengaruh mereka tidak cukup untuk membentuk sikap etis orang-orang atau bangsa-bangsa yang dimaksud, Allah “memperkuat” mereka melalui pesan terakhir-Nya, yang dibawa ke dunia oleh utusan ketiga dan terakhir, Muhammad Saw.


Surat YaSin Ayat 15

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَٰنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ

qālụ mā antum illā basyarum miṡlunā wa mā anzalar-raḥmānu min syai`in in antum illā takżibụn

15. [Yang lain] menjawab, “Kalian tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami; lagi pula, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak pernah menurunkan sesuatu [wahyu] pun. Kalian tidak lain hanyalah pendusta belaka!”11


11 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 91—”mereka tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah ketika mereka berkata, ‘Allah tidak pernah mewahyukan sesuatu pun kepada manusia'”. Lihat juga Surah Saba’ [34]: 31 dan catatannya (no. 38). Kedua ayat ini, sebagaimana ayat di atas, mengacu pada orang-orang yang menganggap diri mereka “mengimani” Allah, tetapi “keimanan” mereka itu tidak berpengaruh pada kehidupan praktis mereka. Mereka menjustifikasi hal ini dengan me·nyatakan bahwa agama tidak lebih dari sekadar memainkan peranan emosional yang samar, dan dengan menolak mengakui kenyataan objektivitas wahyu—karena konsep wahyu selalu berarti sebuah pernyataan (oleh Tuhan) mengenai nilai moral absolut dan, karenanya, sebuah tuntutan penyerahan diri pada nilai-nilai ini.


Surat YaSin Ayat 16

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ

qālụ rabbunā ya’lamu innā ilaikum lamursalụn

16. Berkata [rasul-rasul itu], “Pemelihara kami mengetahui bahwa kami benar-benar diutus kepada kalian;


Surat YaSin Ayat 17

وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

wa mā ‘alainā illal-balāgul-mubīn

17. tetapi kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan pesan [yang dipercayakan kepada kami].”


Surat YaSin Ayat 18

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

qālū innā taṭayyarnā bikum, la`il lam tantahụ lanarjumannakum wa layamassannakum minnā ‘ażābun alīm

18. [Yang lain] menjawab, “Sungguh, kami meramalkan terjadinya keburukan yang berasal dari kalian!12 Pasti, jika kalian tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kalian dan penderitaan yang pedih akan menimpa kalian melalui tangan kami!”


12 Untuk penjelasan frasa tathayyarna bikum, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 95.


Surat YaSin Ayat 19

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ ۚ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

qālụ ṭā`irukum ma’akum, a in żukkirtum, bal antum qaumum musrifụn

19. [Rasul-rasul itu] menjawab, “Nasib kalian, baik maupun buruk, [bergantung] pada diri kalian sendiri!13 [Apakah tampak buruk bagi kalian] jika kalian diperintahkan untuk mempertimbangkan [kebenaran] dengan sungguh-sungguh? Tidak, tetapi kalian adalah kaum yang memubazirkan diri sendiri!”14


13 Bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 13—”nasib (tha’ir) setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya”—dan catatannya (no. 17).

14 Untuk terjemahan musrifun (bentuk tunggalnya, musrif), lihat catatan no. 21 pada Surah Yunus [10]: 12.


Surat YaSin Ayat 20

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ

wa jā`a min aqṣal-madīnati rajuluy yas’ā qāla yā qaumittabi’ul-mursalīn

20. Dalam pada itu, seorang laki-laki datang dengan berlari dari ujung terjauh kota, [dan] berseru, “Wahai, kaumku! Ikutilah pembawa-pembawa pesan ini!


Surat YaSin Ayat 21

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

ittabi’ụ mal lā yas`alukum ajraw wa hum muhtadụn

21. Ikutilah mereka yang tidak meminta balasan kepadamu dan mereka sendiri adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dengan benar!


Surat YaSin Ayat 22

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

wa mā liya lā a’budullażī faṭaranī wa ilaihi turja’ụn

22. “[Adapun mengenai diriku,] mengapa aku tidak menyembah Dia yang telah menciptakanku dan yang kepada-Nya kalian semua akan dikembalikan?


Surat YaSin Ayat 23

أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ

a attakhiżu min dụnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā’atuhum syai`aw wa lā yungqiżụn

23. Haruskah aku menyembah tuhan-tuhan [yang lain] di samping Dia? [Akan tetapi, kemudian,] seandainya Yang Maha Pengasih menghendaki keburukan menimpaku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku, dan tidak pula mereka dapat menyelamatkanku:


Surat YaSin Ayat 24

إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

innī iżal lafī ḍalālim mubīn

24. sehingga kalau begitu, perhatikanlah, aku benar-benar, pasti, telah tersesat dalam kesalahan!


Surat YaSin Ayat 25

إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ

innī āmantu birabbikum fasma’ụn

25. “Sungguh, [wahai kaumku,] kepada Pemeliharamu sekalianlah akhirnya aku pun beriman: maka, dengarkan aku!”


Surat YaSin Ayat 26

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ

qīladkhulil-jannah, qāla yā laita qaumī ya’lamụn

26. [Dan] dikatakan kepadanya,15 “[Engkau akan] masuk ke dalam surga!”—[lalu] dia berseru, “Seandainya kaumku mengetahui


15 Yakni, oleh para utusan itu. Atau, kemungkinan yang lebih besar, oleh ilhamnya sendiri—mengingat karakter alegoris kisah ini. Terlibatnya seorang laki-laki yang “datang dengan berlari dari ujung terjauh kota” jelaslah merupakan perumpamaan bagi sekelompok kecil orang yang sungguh-sungguh beriman yang terdapat dalam setiap agama. Ini juga merupakan perumpamaan bagi upaya mati-matian—yang kebanyakan tanpa hasil—yang dilakukan oleh mereka untuk meyakinkan saudara-saudara mereka yang keliru bahwa hanya kesadaran akan Allah-lah yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia dari kesia-siaan.


Surat YaSin Ayat 27

بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ

bimā gafara lī rabbī wa ja’alanī minal-mukramīn

27. bagaimana Pemeliharaku mengampuni [dosa-dosa masa lalu]-ku dan menempatkanku di antara orang-orang yang dimuliakan!”


Surat YaSin Ayat 28

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِينَ

wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba’dihī min jundim minas-samā`i wa mā kunnā munzilīn

28. Dan, setelah itu, tidak satu pasukan pun dari langit Kami turunkan kepada kaumnya, dan memang tidak perlu Kami menurunkannya:


Surat YaSin Ayat 29

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ

ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum khāmidụn

29. tidak ada [yang diperlukan] melainkan satu dentuman [dari hukuman Kami] saja—dan lihatlah! mereka menjadi terdiam dan sunyi bagaikan abu.


Surat YaSin Ayat 30

يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

yā ḥasratan ‘alal-‘ibād, mā ya`tīhim mir rasụlin illā kānụ bihī yastahzi`ụn

30. BETAPA (besarnya) penyesalan yang akan ditanggung oleh [kebanyakan] manusia!16 Tidak pernah seorang utusan pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya!


16 Lit., “Betapa (besarnya) penyesalan atas hamba-hamba itu” (al-‘ibad)—karena semua manusia, baik atau buruk, adalah “hamba” Allah. Frasa ini mengacu pada Hari Pengadilan—yang digambarkan dalam Surah Maryam [19]: 39 sebagai “Hari Penyesalan”—dan juga pada kenyataan, yang berulang-ulang ditekankan Al-Quran, bahwa kebanyakan manusia memilih untuk menutup telinga terhadap suara kebenaran dan, dengan demikian, menjerumuskan diri mereka sendiri dalam kematian spiritual.


Surat YaSin Ayat 31

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ

a lam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurụni annahum ilaihim lā yarji’ụn

31. Tidakkah mereka menyadari betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami hancurkan, [dan] bahwa orang-orang [yang telah binasa] itu tidak akan pernah kembali kepada mereka,17


17 Yakni, kepada orang-orang yang hidup kini. Seperti dalam banyak bagian Al-Quran lainnya, istilah qarn (yang secara harfiah berarti “generasi” atau “orang-orang yang hidup dalam periode yang sama”) dalam konteks ini memiliki arti yang lebih luas, yakni “masyarakat” atau “peradaban” dalam konotasi historis. Jadi, jatuh dan lenyapnya masyarakat dan peradaban yang telah silam di sini dikaitkan dengan kedangkalan spiritual dan kerusakan moral yang merupakan konsekuensinya. Pelajaran selanjutnya yang dapat diambil dari perumpamaan ini adalah kesimpulan tersirat bahwa mayoritas manusia dalam setiap masyarakat, pada segala zaman (termasuk zaman kita), menolak dipandu oleh pertimbangan moral karena mereka menganggap hal tersebut bertentangan dengan cara-cara hidup mereka yang konvensional dan juga bertentangan dengan pengejaran mereka terhaddp nilai-nilai materi. Alhasil, “tidak pernah seorang utusan pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya”.


Surat YaSin Ayat 32

وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

wa ing kullul lammā jamī’ul ladainā muḥḍarụn

32. dan [bahwa] mereka semuanya, bersama-sama, [pada akhirnya] akan didakwa di hadapan Kami?


Surat YaSin Ayat 33

وَآيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

wa āyatul lahumul-arḍul-maitatu aḥyaināhā wa akhrajnā min-hā ḥabban fa min-hu ya`kulụn

33. Dan [padahal,] mereka memiliki tanda [tentang kekuasaan Kami untuk menciptakan dan membangkitkan], yakni bumi mati yang Kami hidupkan, dan yang darinya Kami keluarkan biji-bijian, yang darinya mereka dapat makan;


Surat YaSin Ayat 34

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ

wa ja’alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a’nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyụn

34. dan [bagaimana] Kami jadikan kebun-kebun kurma dan anggur [tumbuh] di atasnya, dan Kami pancarkan di tengah-tengahnya sejumlah mata air


Surat YaSin Ayat 35

لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

liya`kulụ min ṡamarihī wa mā ‘amilat-hu aidīhim, a fa lā yasykurụn

35. sehingga mereka dapat memakan buah darinya, sekalipun bukan tangan mereka yang menghasilkannya.

Lalu, tidakkah mereka mau bersyukur?


Surat YaSin Ayat 36

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

sub-ḥānallażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya’lamụn

36. Maha Tak Terhingga Kemuliaan Dia yang telah menciptakan pasangan-pasangan pada apa pun yang dihasilkan bumi, dan pada diri manusia sendiri, maupun dari apa yang [hingga kini] tidak mereka ketahui.18


18 Lit., “yang telah menciptakan semua pasangan dari segala yang dihasilkan bumi. dan dari mereka sendiri, serta dari apa yang tidak mereka ketahui”. Hal ini berkenaan dengan polaritas yang jelas terlihat pada seluruh ciptaan, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, yang mewujudkan dirinya dalam kenyataan adanya kekuatan yang berlawanan dan sekaligus saling melengkapi. Misalnya, jenis kelamin pada manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, terang dan gelap, panas dan dingin, daya positif dan negatif dalam magnet dan listrik, kandungan positif dan negatif (proton dan elektron) dalam struktur atom, dan sebagainya. (Perlu diingat bahwa kata zauj menunjukkan “pasangan” dan juga “salah satu dari pasangan”, seperti diterangkan dalam catatan no. 7 pada Surah Al-Ra’d [13]: 3.) Penyebutan “dari apa yang tidak mereka ketahui” jelas berhubungan dengan hal-hal atau fenomena yang belum dimengerti manusia, tetapi secara potensial berada dalam jangkauan pemahamannya. Karena itu, saya menyisipkan kata “hingga kini” dalam tanda kurung.


Surat YaSin Ayat 37

وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ

wa āyatul lahumul-lailu naslakhu min-hun-nahāra fa iżā hum muẓlimụn

37. Dan, [tentang kekuasaan Kami terhadap segala yang ada,] mereka memiliki tanda pada malam: Kami tanggalkan darinya [cahaya] siang—dan lihatlah! mereka berada dalam kegelapan.


Surat YaSin Ayat 38

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm

38. Dan, [mereka mendapatkan pertanda pada] matahari: ia berjalan di garis edarnya sendiri19—[dan] demikian itu yang ditetapkan sesuai kehendak Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui;


19 Menurut cara baca yang umum diterima, frasa ini dieja Ii mustaqarrin laha, yang bisa diterjemahkan menjadi ia berjalan di garis edarnya sendiri. Atau, secara lebih konvensional, frasa ini diterjemahkan menjadi “pada titik istirahatnya”, yakn waktu (atau titik) terbenamnya matahari setiap harinya (Al-Razi). Namun, menurut riwayat yang bisa dipercaya, ‘Abdullah ibn Mas’ud membaca kata-kata tersebut la mustaqarra laha (Al-Zamakhsyari), yang berarti “ia berjalan [pada garis edarnya] tanpa istirahat”, yakni tanpa henti.


Surat YaSin Ayat 39

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjụnil-qadīm

39. dan [pada] bulan, Kami tetapkan fase-fase [yang harus dilewatinya] hingga ia menjadi seperti tangkai kurma tua, kering, dan melengkung:20


20 Inilah, dalam bentuk yang dipadatkan, arti dari kata ‘urjun—kelopak bunga pohon kurma yang, ketika sudah tua dan kering, menjadi ramping dan melengkung seperti bulan sabit (bdk. Lane V, 1997).


Surat YaSin Ayat 40

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn

40. [dan] matahari tidak mungkin menyusul bulan, dan malam pun tidak dapat merebut waktu siang,21 karena semuanya melayang di angkasa [sesuai dengan hukum-hukum Kami].


21 Lit., “tidak pula malam mendahului (atau ‘melampaui’) siang”.


Surat YaSin Ayat 41

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masy-ḥụn

41. Dan, [seyogianya menjadi] suatu tanda bagi mereka bahwa Kami angkut keturunan mereka [melintasi lautan] dalam bahtera-bahtera yang penuh muatan,22


22 Lit., “dalam bahtera yang penuh muatan itu”, yakni sebuah bentuk tunggal generik dengan makna jamak. Istilah “keturunan” di sini bermakna ras manusia secara keseluruhan (bdk. ungkapan “anak-anak Adam” yang juga sering dipakai).


Surat YaSin Ayat 42

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ

wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabụn

42. dan [bahwa] Kami ciptakan untuk mereka benda-benda yang serupa, yang akan mereka kendarai [dalam perjalanan mereka];23


23 Bdk. Surah An-Nahl [16]: 8 dan catatannya (no. 6). Dalam kedua ayat ini, akal-budi manusia digambarkan sebagai manifestasi langsung dari daya-cipta yang dimiliki Tuhan.


Surat YaSin Ayat 43

وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ

wa in nasya` nugriq-hum fa lā ṣarīkha lahum wa lā hum yungqażụn

43. dan [bahwa,] jika Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikan mereka tenggelam, tanpa siapa pun yang menjawab permintaan tolong mereka: dan [lalu] mereka tidak dapat diselamatkan,


Surat YaSin Ayat 44

إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ

illā raḥmatam minnā wa matā’an ilā ḥīn

44. kecuali berkat belas kasih Kami dan pemberian [perpanjangan jangka waktu] hidup hingga waktu tertentu.


Surat YaSin Ayat 45

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa iżā qīla lahumuttaqụ mā baina aidīkum wa mā khalfakum la’allakum

45. Dan [sekalipun demikian,] apabila dikatakan kepada mereka, “Berhati-hatilah terhadap [pengetahuan Allah atas] segala yang terbentang di hadapan kalian dan segala yang tersembunyi dari kalian,24 agar kalian dirahmati dengan belas kasih-Nya,” [kebanyakan manusia memilih untuk tidak mendengarkan];


24 Untuk penjelasan mengenai terjemahan frasa ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 247. Dalam ayat di atas, hal ini tampaknya menunjukkan tindakan sadar manusia, dan juga motivasi tidak-sadar maupun setengah-sadar manusia.


Surat YaSin Ayat 46

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

wa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ ‘an-hā mu’riḍīn

46. dan tiada satu pesan pun dari pesan-pesan Pemelihara mereka25 yang datang kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya.


25 Atau, “tiada satu tanda pun dari tanda-tanda Pemelihara mereka”—karena kata ayah, yang diulang beberapa kali dalam bagian sebelumnya, menunjukkan “pesan” dan juga “tanda”.


Surat YaSin Ayat 47

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa iżā qīla lahum anfiqụ mimmā razaqakumullāhu qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū a nuṭ’imu mal lau yasyā`ullāhu aṭ’amahū in antum illā fī ḍalālim mubīn

47. Lalu, apabila dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,”26 orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah kami harus memberi makan kepada orang-orang yang jika Tuhan[mu] menghendaki tentulah Dia [sendiri] yang akan memberi makan? Jelaslah, kalian tidak lain tersesat dalam kekeliruan!”


26 Dalam bahasa Al-Quran, verba anfaqa (lit., “dia membelanjakan”) selalu bermakna nafkah seseorang kepada orang lain, atau untuk kepentingan orang lain, apa pun motivasinya. Signifikansi etis dari “menafkahkan untuk orang lain” ini sering ditekankan dalam Al-Quran, dan diwujudkan dalam konsep zakah, yang berarti “iuran untuk penyucian” atau, dalam maknanya yang terluas, “derma” (lihat catatan no. 34 dalam Surah Al-8aqarah [2]: 43).


Surat YaSin Ayat 48

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

48. Dan, mereka menambahkan, “Bilakah janji [kebangkitan] ini dipenuhi? [Jawablah ini] jika kalian adalah orang-orang yang benar!”


Surat YaSin Ayat 49

مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

mā yanẓurụna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta`khużuhum wa hum yakhiṣṣimụn

49. [Dan, mereka tidak sadar bahwa] tiada yang menanti mereka melainkan satu dentuman saja [dari hukuman Tuhan],27 yang akan menimpa mereka ketika mereka sedang berdebat [menentang kebangkitan]:


27 Lit., “mereka tiada menanti apa pun kecuali satu dentuman saja …”, dst.


Surat YaSin Ayat 50

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

fa lā yastaṭī’ụna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji’ụn

50. dan demikian [mendadaknya akhir hidup mereka] sehingga tiada wasiat yang dapat mereka buat, dan tiada pula mereka dapat kembali kepada kaumnya!


Surat YaSin Ayat 51

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

wa nufikha fiṣ-ṣụri fa iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilụn

51. Dan [kemudian] sangkakala [kebangkitan] akan ditiupkan—dan lihatlah! mereka akan keluar dari kuburnya dan bergegas maju kepada Pemelihara mereka!


Surat YaSin Ayat 52

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

qālụ yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụn

52. Mereka akan berkata, “Aduh, celakalah kami! Siapakah yang telah membangkitkan kami dari tidur [kematian] kami?”

[Kemudian, kepada mereka akan dikatakan:] “Inilah yang telah dijanjikan Yang Maha Pengasih! Dan, pembawa-pembawa pesan-Nya mengatakan yang sebenarnya!”


Surat YaSin Ayat 53

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum jamī’ul ladainā muḥḍarụn

53. Tiada yang akan terjadi melainkan hanya sebuah dentuman—dan lihatlah! di hadapan Kami-lah mereka semua akan didakwa [dan akan dikatakan]:


Surat YaSin Ayat 54

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai`aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

54. “Maka, hari ini tidak ada manusia yang akan dizalimi sedikit pun dan kalian tidak dibalas kecuali dengan apa yang telah kalian kerjakan [di dunia].


Surat YaSin Ayat 55

إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ

inna aṣ-ḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihụn

55. “Perhatikanlah, mereka yang ditetapkan untuk menghuni surga pada hari ini bergembira dengan apa pun yang mereka lakukan:


Surat YaSin Ayat 56

هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ

hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā`iki muttaki`ụn

56. mereka dan pasangan-pasangannya akan berbaring di atas dipan-dipan dalam kebahagiaan;28


28 Dalam gambaran Al-Quran tentang surga, kata zhill (“naungan”) dan bentuk jamaknya, zhilal, sering digunakan sebagai metafora bagi “kebahagiaan”—jadi, sebagai contoh dalam Surah An-Nisa’ [4]: 57, zhill zhalil menunjukkan “kebahagiaan yang melimpah” (Iihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 74. Sedangkan “dipan-dipan” tempat orang-orang yang diberkati itu berbaring jelas merupakan lambang kepuasan batin dan kedamaian pikiran, seperti yang ditunjukkan oleh Al-Razi dalam tafsirnya terhadap Surah Al-Kahfi [18]: 31 dan Surah Ar-Rahman [55]: 54.


Surat YaSin Ayat 57

لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ

lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda’ụn

57. [hanya] kesenanganlah yang tersedia bagi mereka dan mereka memperoleh apa pun yang mereka minta:


Surat YaSin Ayat 58

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ

salām, qaulam mir rabbir raḥīm

58. kedamaian dan kepuasan29 melalui firman Sang Pemelihara, yang menganugerahkan segenap rahmat.


29 {peace and fulfilment} Gabungan ungkapan ini, menurut saya, adalah yang paling mendekati konsep salam dalam konteks ayat di atas. Untuk penjelasan lebih jauh mengenai istilah ini, lihat catatan no. 29 pada Surah Al-Ma’idah [5]: 16, yang di dalamnya salam diterjemahkan sebagai “keselamatan” {salvation}.


Surat YaSin Ayat 59

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimụn

59. Namun, menyingkirlah pada hari ini, wahai orang-orang yang tenggelam dalam dosa!


Surat YaSin Ayat 60

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

a lam a’had ilaikum yā banī ādama al lā ta’budusy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn

60. Bukankah telah Kuperintahkan kepada kalian, wahai anak-anak Adam, agar tidak menyembah setan—sebab, sungguh, dia adalah musuh nyata kalian30


30 Mengenai makna dari apa yang digambarkan Al-Quran sebagai “menyembah setan”, lihat catatan no. 33 pada Surah Maryarn [19]: 44.


Surat YaSin Ayat 61

وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌنٌ

wa ani’budụnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm

61. dan supaya kalian seharusnya menyembah-Ku [saja]! Inilah jalan yang lurus!


Surat YaSin Ayat 62

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا ۖ أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

wa laqad aḍalla mingkum jibillang kaṡīrā, a fa lam takụnụ ta’qilụn

62. Dan, [adapun setan—] dia telah menyesatkan sebagian besar di antara kalian: maka, tidakkah kalian dapat menggunakan akal kalian?


Surat YaSin Ayat 63

هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

hāżihī jahannamullatī kuntum tụ’adụn

63. “Maka, inilah neraka yang berulang-ulang diperingatkan kepada kalian:31


31 Frasa “Maka, inilah neraka” menunjukkan kenyataan bahwa kesadaran para pendosa bahwa mereka tersesat—walaupun telah ada peringatan para nabi yang disampaikan berulang-ulang—dengan sendirinya akan menjadi sumber derita yang berat (‘adzab) pada kehidupan yang akan datang. Unsur perulang-ulangan atau persistensi tersirat dalam penggunaan verba bantu kuntum, baik pada ayat ini maupun ayat berikutnya.


Surat YaSin Ayat 64

اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurụn

64. rasakanlah ia pada hari ini disebabkan pengingkaran kalian yang amat keras terhadap kebenaran!”


Surat YaSin Ayat 65

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasy-hadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụn

65. Pada Hari itu, akan Kami bungkam mulut mereka32—tapi tangan-tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa pun yang dahulu mereka peroleh [dalam kehidupan].


32 Sebuah perumpamaan bagi ketidaksanggupan mereka untuk berkelit atau membela tindakan dan sikap mereka dahulu.


Surat YaSin Ayat 66

وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ

walau nasyā`u laṭamasnā ‘alā a’yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirụn

66. ADAPUN JIKA Kami menghendaki [bahwa manusia seharusnya tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah], sungguh, bisa saja Kami menghilangkan penglihatan mereka33 sehingga mereka menyimpang selamanya dari jalan [yang lurus] itu: sebab, bagaimana mungkin mereka memiliki pengetahuan [tentang yang benar]?34


33 Lit., “sungguh, Kami bisa saja menghapus mata mereka”: ini merupakan sebuah perumpamaan, yakni bahwa “Kami bisa saja menciptakan mereka sebagai orang-orang yang buta moral” dan, dengan demikian, sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab moral—yang, pada gilirannya, akan menimbulkan pengingkaran terhadap segala nilai spiritual dalam kehidupan manusia itu sendiri. (Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 20—”jika Allah menghendaki, Dia benar-benar dapat melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka”.)

34 Dalam hal ini—sebagaimana pada Surah Tha’ Ha’ [20]: 96—verba bashura (“dia menjadi melihat” atau “dia melihat”) jelas digunakan dalam makna figuratif yang bermakna “memahami (sesuatu) secara mental”. Menurut Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip Al-Thabari, frasa anna yubshirun berarti “bagaimana mungkin mereka memahami kebenaran”.


Surat YaSin Ayat 67

وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ

walau nasyā`u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā’ụ muḍiyyaw wa lā yarji’ụn

67. Dan, jikalau Kami menghendaki [bahwa mereka seharusnya tidak bisa bebas memilih antara yang benar dan yang salah], sungguh, bisa saja Kami merancang mereka dalam wujud yang berbeda35 [dan menciptakan mereka sebagai makhluk yang terpancang] di tempat-tempat mereka sehingga mereka tidak sanggup bergerak maju dan tidak sanggup kembali.36


35 Lit., “mengubah bentuk [atau ‘mentransmutasi’] mereka”.

36 Yakni, andaikan Tuhan berkehendak bahwa manusia harusnya tidak memiliki kebebasan kehendak atau pilihan moral, sedari awal pasti Dia telah menganugerahi manusia dengan sifat statis secara moral dan spiritual, serta sepenuhnya terikat pada naluri mereka (“di tempat mereka”), tanpa memiliki dorongan maju, dan tanpa daya untuk berkembang secara positif atau untuk undur diri dari jalan yang salah.


Surat YaSin Ayat 68

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

wa man nu’ammir-hu nunakkis-hu fil-khalq, a fa lā ya’qilụn

68. Namun, [hendaklah mereka selalu ingat bahwa] jika Kami panjangkan umur seseorang, Kami juga menjadikan kekuatannya berkurang [tatkala dia menua]: maka, tidakkah mereka mau menggunakan akal mereka?37


37 Yakni, manusia harusnya tidak pernah menunda melaksanakan pilihan moralnya—sebab, walaupun manusia adalah makhluk mulia karena telah dianugerahi akal budi dan kebebasan berkehendak yang cukup luas, mereka juga harus ingat bahwa “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28) dan akan semakin melemah dalam usia senja. Oleh karena itu, waktu yang manusia miliki amat pendek.


Surat YaSin Ayat 69

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

wa mā ‘allamnāhusy-syi’ra wa mā yambagī lah, in huwa illā żikruw wa qur`ānum mubīn

69. DAN, [demikianlah adanya:] Kami tidak memberikan [bakat] syair kepada [Nabi] ini, dan [syair] itu tidak pulalah layak bagi [pesan] ini:38 Al-Quran itu tidak lain hanyalah sebuah peringatan dan wacana [Ilahi], jelas dalam dirinya sendiri dan secara jelas menunjukkan kebenaran,39


38 Bagian ini melanjutkan kembali tema yang dibicarakan pada ayat pembuka surah ini, yakni pewahyuan Al-Quran. Sebagaimana dalam Surah Al-Syu’ara’ [26]: 224, ayat ini mengacu pada tuduhan yang disampaikan oleh lawan-lawan Nabi Muhammad Saw.—pada masa ketika beliau masih hidup maupun pada masa-masa sesudahnya—bahwa apa yang dia nyatakan sebagai wahyu Tuhan itu sebenarnya adalah hasil dari inovasi puitisnya sendiri. Hal ini dibantah Al-Quran dengan menyinggung perbedaan mendasar antara puisi—khususnya puisi Arab—dan wahyu Ilahi sebagaimana dicontohkan oleh Al-Quran: dalam puisi, makna sering menjadi tersubordinasi di bawah {dikorbankan demi} irama dan melodi bahasa; sedangkan dalam Al-Quran, justru sebaliknyalah yang terjadi: sebab, dalam Al-Quran, pilihan kata-kata, bunyi, dan posisi kata-kata dalam kalimat—dan, karena itu, irama dan melodinya—selalu tersubordinasi terhadap makna yang dimaksudkan. (Bdk. juga Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 225 dan catatan no. 100 yang terkait.)

39 Mengenai penerjemahan kata sifat mubin ini, lihal Surah Yusuf [12], dan catatan no. 2. Secara harfiah, frasa di atas berbunyi, “sebuah peringatan dan wacana [Ilahi] …” dst., dengan partikel penghubung wa (“dan”) digunakan di sini, sebagaimana dalam Surah Al-Hijr [15]: 1, untuk menunjukkan bahwa Al-Quran adalah unsur integral dalam proses pewahyuan.


Surat YaSin Ayat 70

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ

liyunżira mang kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn

70. supaya ia memberi peringatan kepada setiap orang yang hidup [hatinya] dan supaya perkataan [Allah] dapat menjadi saksi40 terhadap semua orang yang mengingkari kebenaran.


40 Lit., “dapat terjadi [atau ‘terbukti’] kebenarannya”, maksudnya, pada Hari Pengadilan (bdk. ayat 7 surah ini).


Surat YaSin Ayat 71

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ

a wa lam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an’āman fa hum lahā mālikụn

71. Lalu, apakah mereka tidak menyadari bahwa untuk merekalah Kami telah menciptakan, di antara semua yang telah dilakukan oleh tangan-tangan Kami,41 binatang-binatang ternak yang mereka [kini] adalah penguasa-penguasanya?—


41 Maksudnya, “yang hanya Kami-lah yang telah atau mungkin menciptakannya” (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi). Ungkapan metaforis tersebut didasarkan atas konsep “pekerjaan tangan” dalam pengertiannya yang terluas, baik abstrak maupun konkret.


Surat YaSin Ayat 72

وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ

wa żallalnāhā lahum fa min-hā rakụbuhum wa min-hā ya`kulụn

72. dan bahwa Kami telah menundukkan binatang-binatang itu kepada kehendak manusia,42 sehingga sebagiannya dapat mereka tunggangi dan sebagiannya mereka makan,


42 Lit., “menjadikan mereka tunduk (dzallalnaha) kepada mereka”: ini juga menunjukkan bahwa manusia secara moral bertanggung jawab terhadap caranya menggunakan atau menyalahgunakan binatang-binatang itu.


Surat YaSin Ayat 73

وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

wa lahum fīhā manāfi’u wa masyārib, a fa lā yasykurụn

73. dan (mereka) memperoleh manfaat-manfaat [lainnya lagi] dari binatang-binatang itu, dan [susu] untuk diminum?

Maka, tidakkah mereka hendak bersyukur?


Surat YaSin Ayat 74

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ

wattakhażụ min dụnillāhi ālihatal la’allahum yunṣarụn

74. Namun, [tidak,] mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah,43 [dengan harapan] agar mereka mendapat pertolongan [dari sembahan tersebut, dan tidak mengetahui bahwa]


43 Atau: “sembahan-sembahan lain di samping Allah”; kedua frasa ini merujuk baik kepada objek-objek sembahan yang secara sadar memang disembah (misalnya, berhala, dewa imajiner, manusia yang didewakan, orang suci, dan lain -lain) maupun kepada konsep-konsep abstrak, seperti kekuasaan, kekayaan, atau “keberuntungan”, yang boleh jadi tidak “disembah” secara sadar, tapi sering dijunjung tinggi dengan cara-cara yang hampir menyamai pemberhalaan. Verba ittakhadzu (lit., “mereka [dahulu] mengambil [atau ‘telah mengambil’] untuk mereka sendiri”), yang digunakan Al-Quran dalam ayat ini dan dalam konteks-konteks lainnya yang serupa, sangat cocok digunakan untuk menunjukkan cakupan makna yang luas, sebab istilah ini mengandung pengertian mengadopsi sesuatu—baik secara konkret maupun abstrak—untuk digunakan atau dipuja oleh seseorang.


Surat YaSin Ayat 75

لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ

lā yastaṭī’ụna naṣrahum wa hum lahum jundum muḥḍarụn

75. sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong penyembahnya;44 walaupun bagi mereka, sembahan-sembahan itu mungkin [tampak sebagai] pasukan-pasukan yang disiapkan [untuk menolong].


44 Lit., “mereka”.


Surat YaSin Ayat 76

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ

fa lā yaḥzungka qauluhum, innā na’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn

76. Bagaimanapun, janganlah ucapan mereka [yang mengingkari kebenaran] menyedihkanmu: sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.


Surat YaSin Ayat 77

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

a wa lam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn

77. MAKA, tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami-lah yang menciptakannya dari setetes air mani [belaka]—lalu, lihatlah! dia menunjukkan dirinya dianugerahi kemampuan berpikir dan membantah?45


45 Lihat ayat serupa dalam Surah An-Nahl [16]: 4 serta catatan no. 5 yang terkait. Untuk menyempurnakan interpretasi yang dikemukakan dalam tafsirnya (dan dalam tafsir Al-Zamakhsyari) tentang ayat di atas, Al-Razi mempersamakan istilah khashim (lit., “pembantah”) di sini dengan manifestasi tertinggi dari apa yang digambarkan sebagai nathiq (“makhluk yang mampu mengungkapkan gagasan” [atau “rasional”]).


Surat YaSin Ayat 78

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ

wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah, qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm

78. Dan [kini,] dia [berdebat mengenai Kami dan] berpikir tentang Kami melalui perbandingan-perbandingan,46 dan lupa bagaimana dirinya sendiri diciptakan! [Maka] dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh menjadi tanah?”


46 Lit., “dia membuat sebuah permisalan (matsal) untuk Kami”; ini merupakan suatu kalimat eliptis yang secara tidak langsung merujuk pada keengganan “orang-orang yang mengingkari kebenaran” untuk memahami adanya Wujud Transenden, yang sama sekali berbeda dengan segala yang bisa ditangkap oleh indra dan imajinasi manusia, dan yang memiliki kekuasaan yang tiada bandingannya melampaui segala kekuasaan yang dimiliki ciptaan mana pun. (Bdk. Surah Al-Syura [42]: 11, “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”, dan Surah Al-Ikhlash [112]: 4, “tidak ada apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya”.) Karena mereka terjebak dalam pandangan yang materialistis tentang kehidupan, orang-orang seperti itu mengingkari—sebagaimana yang ditunjukkan dalam ayat selanjutnya—segala kemungkinan mengenai adanya kebangkitan, yang berpuncak pada pengingkaran terhadap daya cipta Tuhan dan, akhirnya, pengingkaran terhadap keberadaan-Nya.


Surat YaSin Ayat 79

قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

qul yuḥyīhallażī ansya`ahā awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin ‘alīm

79. Katakanlah: “Dia yang telah mewujudkan mereka untuk pertama kalinya-lah yang akan menghidupkan mereka [sekali lagi], mengingat bahwa Dia Maha Mengetahui setiap tindak penciptaan:


Surat YaSin Ayat 80

الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ

allażī ja’ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nāran fa iżā antum min-hu tụqidụn

80. Dia-lah yang menjadikan bagi kalian api dari kayu yang hijau, sehingga, lihatlah! kalian nyalakan [api kalian] dengannya.”47


47 Bdk. sebuah pepatah Arab kuno, “Dalam setiap pohon terdapat api” (Al-Zamakhsyari): jelaslah bahwa ini mengacu pada proses metamorfosis dari tanaman hijau—yakni, yang mengandung air—menjadi bahan bakar, baik melalui pengeringan, melalui proses karbonisasi yang dibuat manusia (menjadi arang), atau melalui proses dekomposisi menjadi minyak atau batu bara yang terjadi selama ribuan tahun di bawah tanah. Dalam pengertian spiritual, kata “api” ini tampaknya juga melambangkan kehangatan dan cahaya akal manusia yang diberikan Allah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 77.


Surat YaSin Ayat 81

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

a wa laisallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm

81. Maka, tidakkah Dia yang telah menciptakan lelangit dan bumi itu berkuasa menciptakan [lagi dalam bentuk baru] yang serupa dengan [yang telah mati] itu?

Ya, sungguh (Dia berkuasa!)—sebab, Dia sajalah Pencipta yang Maha Mengetahui:


Surat YaSin Ayat 82

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn

82. Keberadaan-Nya yang esa48 adalah sedemikian sehingga manakala Dia menghendaki untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah”—maka terjadilah ia!


48 Inilah makna dari frasa innama amruhu: dalam kasus ini, kata amr sama artinya dengan sya’n (“keadaan {atau ‘cara’] wujud”). Kekhususan Allah sebagai Wujud Pencipta ditekankan melalui partikel pembatas innama.


Surat YaSin Ayat 83

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

fa sub-ḥānallażī biyadihī malakụtu kulli syai`iw wa ilaihi turja’ụn

83. Maka, Maha Tak Terhingga Dia dalam kemuliaan-Nya, yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu; dan kepada-Nya-lah kalian semua akan dikembalikan!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top