34. Saba’ (Kaum Saba’) – سبأ

Surat Saba' dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Saba’ ( سبأ ) merupakan surah ke 34 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 54 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Saba’ tergolong Surat Makkiyah.

Hampir pasti, surah ini diwahyukan pada paruh kedua periode Makkah, kemungkinan tidak lama sebelum surah ke-17 (Al-Isra’). Nama surah ini didasarkan pada penyebutan kaum Saba’ (dalam Injil, Sheba) dalam ayat 15-20, yang dinukil sebagai contoh tidak kekalnya kekuasaan, kekayaan, dan kemuliaan manusia.

Gagasan-gagasan penting dari keseluruhan surah ini dapat dirangkum dalam:

  1. pertanyaan yang diajukan kepada seluruh manusia dalam ayat 9: “Lalu, apakah mereka tidak menyadari betapa sedikitnya dari langit dan bumi yang terbentang di hadapan mereka, dan betapa banyaknya yang tersembunyi dari mereka?”—dan
  2. dalam seruan terhadap tanggung jawab moral yang didengungkan dalam ayat 46: “Katakanlah: ‘Aku menasihati kalian satu hal saja: Sadarlah selalu untuk berdiri menghadap Allah, baik tatkala kalian bersama-sama dengan yang lain ataupun sendirian.’“

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Saba’ Ayat 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

al-ḥamdu lillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa lahul-ḥamdu fil`ākhirah, wa huwal-ḥakīmul-khabīr

1. SEGALA PUJI bagi Allah, kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi; dan bagi-Nya-lah segala puji dalam kehidupan akhirat.

Sebab, Dia sajalah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui:


Surah Saba’ Ayat 2

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ

ya’lamu mā yaliju fil-arḍi wa mā yakhruju min-hā wa mā yanzilu minas-samā`i wa mā ya’ruju fīhā, wa huwar-raḥīmul-gafụr

2. Dia mengetahui segala yang masuk ke dalam bumi dan segala yang keluar darinya, serta segala yang turun dari langit dan segala yang naik kepadanya.1 Dan, Dia sajalah Sang Pemberi Rahmat, Maha Pengampun.


1 Definisi ini mencakup hal-hal yang bersifat fisik dan ruhani: air meresap hilang ke bawah tanah dan muncul kembali; biji bermetamorfosis menjadi tumbuhan, dan tumbuhan membusuk, lalu menjadi minyak dan batu bara; jejak-jejak artefak kuno dan seluruh peradaban terkubur di dalam bumi dan kemudian muncul kembali ke permukaan sehingga dapat dilihat dan diketahui oleh generasi manusia berikutnya; bangkai binatang dan manusia berubah menjadi unsur-unsur bahan makanan bagi kehidupan baru; uap dari bumi naik ke angkasa, lalu turun lagi dalam bentuk hujan, salju, ataupun hujan es; kerinduan, harapan, dan keinginan manusia naik ke alam samawi dan ilham Ilahi turun ke dalam pikiran manusia, lalu keyakinan dan pemikiran bangkit kembali, dan bersamaan dengan itu tumbuhlah artefak, keterampilan, dan harapan baru: singkatnya, silih bergantinya kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali secara terus-menerus, yang menjadi ciri-ciri seluruh makhluk Allah.


Surah Saba’ Ayat 3

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

wa qālallażīna kafarụ lā ta`tīnas-sā’ah, qul balā wa rabbī lata`tiyannakum ‘ālimil-gaibi lā ya’zubu ‘an-hu miṡqālu żarratin fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa lā aṣgaru min żālika wa lā akbaru illā fī kitābim mubīn

3. Sungguhpun begitu, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran menyatakan, “Saat Terakhir itu tidak akan pernah datang kepada kami!”2

Katakanlah: “Tidak, demi Pemeliharaku! Demi Dia yang mengetahui segala yang ada di luar jangkauan pemahaman makhluk: Saat Terakhir itu pasti akan datang kepada kalian!”

Tidak ada seberat atom pun [dari segala yang ada] di lelangit atau di bumi luput dari pengetahuan-Nya; dan tiada sesuatu pun yang lebih kecil atau lebih besar daripada itu, kecuali tercatat dalam ketetapan-[Nya] yang jelas,


2 Pernyataan orang-orang yang tidak bertuhan ini mempunyai dua makna: (1) “Alam semesta tidak memiliki awal dan akhir; ia hanya dapat berubah, tetapi tidak pernah lenyap” yang sama dengan penolakan terhadap fakta bahwa hanya Allah sajalah yang kekal; dan (2) “Tidak ada kebangkitan kembali dan pengadilan Ilahi, sebagaimana yang dilambangkan dengan Saat Terakhir”—yang sama dengan penolakan terhadap kehidupan sesudah mati dan, karena itu, terhadap seluruh makna dan tujuan kehidupan manusia itu sendiri.


Surah Saba’ Ayat 4

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

liyajziyallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt, ulā`ika lahum magfiratuw wa rizqung karīm

4. agar Dia dapat memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan melakukan perbuatan-perbuatan saleh: [sebab,] bagi mereka itulah ampunan atas dosa, dan rezeki yang paling mulia3


3 Lihat catatan no. 5 dalam Surah Al-Anfal [8]: 4.


Surah Saba’ Ayat 5

وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ

wallażīna sa’au fī āyātinā mu’ājizīna ulā`ika lahum ‘ażābum mir rijzin alīm

5. sedangkan bagi orang-orang yang berupaya keras menentang pesan-pesan Kami, seraya berusaha untuk menggagalkan tujuannya, disediakan penderitaan yang pedih sebagai akibat dari kekejian [mereka].4


4 Partikel min (lit., “dari”) yang mendahului nomina rijz (“kekejian” atau “perbuatan keji”) menunjukkan bahwa penderitaan yang menanti para pendosa semacam itu dalam kehidupan akhirat merupakan konsekuensi alamiah dari perbuatan jahat yang mereka lakukan secara sengaja di dunia.


Surah Saba’ Ayat 6

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

wa yarallażīna ụtul-‘ilmallażī unzila ilaika mir rabbika huwal-ḥaqqa wa yahdī ilā ṣirāṭil-‘azīzil-ḥamīd

6. ADAPUN, orang-orang yang dianugerahi pengetahuan [bawaan] benar-benar menyadari bahwa apa pun yang telah diturunkan kepadamu oleh Pemeliharamu sungguh-sungguh merupakan kebenaran, dan bahwa kebenaran itu memberi petunjuk ke jalan menuju Yang Mahaperkasa, yang kepada-Nya seluruh pujian tertuju!


Surah Saba’ Ayat 7

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ نَدُلُّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ يُنَبِّئُكُمْ إِذَا مُزِّقْتُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّكُمْ لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ

wa qālallażīna kafarụ hal nadullukum ‘alā rajuliy yunabbi`ukum iżā muzziqtum kulla mumazzaqin innakum lafī khalqin jadīd

7. Sebaliknya, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata [kepada semua yang berpikiran sama], “Maukah kalian kami tunjukkan seorang laki-laki yang akan menceritakan kepada kalian bahwa [setelah kematian kalian,] ketika kalian telah terserak menjadi kepingan-kepingan yang tak terhingga—lihat dan perhatikanlah!—kalian akan [dihidupkan kembali] dalam suatu penciptaan yang baru?


Surah Saba’ Ayat 8

أَفْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَمْ بِهِ جِنَّةٌ ۗ بَلِ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ فِي الْعَذَابِ وَالضَّلَالِ الْبَعِيدِ

aftarā ‘alallāhi każiban am bihī jinnah, balillażīna lā yu`minụna bil-ākhirati fil-‘ażābi waḍ-ḍalālil-ba’īd

8. Apakah dia [sengaja] menisbahkan rekaan-rekaan dustanya sendiri kepada Allah—ataukah dia seorang yang gila?”

Bukan, [tidak ada kegilaan dalam diri Nabi ini—] tetapi mereka yang tidak mau beriman pada kehidupan akhirat [pasti akan tenggelam] dalam penderitaan dan penyimpangan yang parah.5


5 Lit., “penyimpangan yang jauh”. (Tentang penggunaan istilah dhalal dalam Al-Quran—lit., “kesalahan” atau “kesesatan”—dalam pengertian “penyimpangan”, lihat Surah Yusuf [12]: 8 dan 95.) Susunan frasa ini jelas-jelas menunjuk pada penderitaan di dunia ini (berlawanan dengan penderitaan di akhirat yang dibicarakan dalam ayat 5 sebelumnya): sebab, dalam konteks kehidupan akhirat, konsep “penyimpangan” ini tidak bermakna; sedangkan dalam konteks kekacauan moral dan sosial, konsep tersebut memiliki makna yang jelas—demikian pula dalam konteks penderitaan sosial dan individual—yang merupakan akibat yang tak terelakkan dari hilangnya kepercayaan masyarakat pada adanya nilai-nilai moraI yang mutlak dan, karena itu, akan adanya pengadilan Ilahi tertinggi yang akan diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai tersebut.


Surah Saba’ Ayat 9

أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ

a fa lam yarau ilā mā baina aidīhim wa mā khalfahum minas-samā`i wal-arḍ, in nasya` nakhsif bihimul-arḍa au nusqiṭ ‘alaihim kisafam minas-samā`, inna fī żālika la`āyatal likulli ‘abdim munīb

9. Lalu, apakah mereka tidak menyadari betapa sedikitnya dari langit dan bumi yang terbentang di hadapan mereka, dan betapa banyaknya yang tersembunyi dari mereka?6—[atau bahwa,] jika Kami menghendaki, Kami dapat menjadikan bumi menelan mereka,7 atau menjadikan kepingan-kepingan langit jatuh menimpa mereka?8

Perhatikanlah, di dalam semua ini, sungguh terdapat suatu pesan bagi setiap hamba [Allah] yang senantiasa berpaling kepada-Nya [dalam tobat].9


6 Lit., “… tidak menyadari tentang apa-apa yang ada di antara tangan-tangan mereka dan apa yang ada di belakang mereka dari langit dan bumi”: sebuah frasa idiomatik yang dijelaskan daiam Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 247. Dalam konteks ini—sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah [2]: 225—ayat di atas menekankan tidak berartinya pengetahuan yang diraih atau yang dapat dijangkau oleh manusia; oleh karena itu, argumentasinya demikian: “bagaimana mungkin seseorang menjadi begitu congkak dengan menolak realitas kebangkitan dan kehidupan setelah mati, mengingat hal itu merupakan fenomena yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia, sementara di sisi lain, segala sesuatu yang berada dalam alam semesta menunjukkan kekuasaan kreatif yang tak terhingga yang dimiliki Allah?”

7 Yakni, melalui gempa bumi.

8 Penyebutan peristiwa geologis dan kosmis yang tidak dapat diduga ini—gempa bumi, jatuhnya meteor dan meteorit, sinar kosmis, dan lain-lain—memperkuat pernyataan “betapa sedikitnya dari langit dan bumi yang terbentang di hadapan mereka, dan betapa banyaknya yang tersembunyi dari mereka”, dan mengontraskan ketidakberartian manusia dengan pengetahuan dan keperkasaan mutlak Tuhan.

9 Lihat kalimat terakhir dari Surah An-Nur [24]: 31 dan catatan no. 41 yang terkait.


Surah Saba’ Ayat 10

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

wa laqad ātainā dāwụda minnā faḍlā, yā jibālu awwibī ma’ahụ waṭ-ṭaīr, wa alannā lahul-ḥadīd

10. DAN [DEMIKIANLAH], sungguh telah Kami muliakan Daud dengan karunia Kami:10 “Wahai, kalian, gunung-gunung! Nyanyikanlah bersama Daud puji-pujian bagi Allah! Dan [juga] kalian, burung-burung!”11

Dan, Kami telah melunakkan segala ketajaman dalam dirinya,12


10 Lit., “sungguh telah Kami anugerahkan kepada Daud karunia dari diri Kami”. Ini berkaitan dengan pernyataan eliptis tentang tobat yang disebutkan dalam ayat sebelumnya: di sini Daud disebutkan secara khusus, mengingat kisah tentang dirinya pada Surah Sad [38] yang tiba-tiba sadar bahwa dia telah melakukan dosa, kemudian “dia memohon kepada Pemeliharanya agar mengampuni dosanya … serta kembali kepada-Nya dalam tobat” (Surah Sad [38]: 24).

11 Bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 79 dan catatannya (no. 73).

12 Lit., “baginya”. Istilah hadid pada dasarnya berarti sesuatu yang “tajam”, baik dalam pengertian konkret maupun abstrak: untuk pengertian abstraknya, bdk. frasa Al-Quran: “tajamlah (hadid) penglihatanmu pada hari ini” (Surah Qaf [50]: 22), atau dengan sejumlah ungkapan idiomatis, seperti rajul hadid, “laki-laki yang berpikiran tajam”; hadid al-nazhar, “seseorang yang menatap tajam [orang lain]”; ra’ihah hadidah, “bau yang tajam”; dan seterusnya (Lisan Al-‘Arab). Sebagai nomina dengan kata sandang tertentu (al-hadid), ungkapan ini menunjukkan “segala sesuatu yang tajam”, atau “ketajaman”, serta “besi”. Tindakan Allah yang telah “melunakkan segala ketajaman” dalam diri Daud jelas merupakan kiasan terhadap perasaannya yang sangat tinggi dan peka terhadap keindahan (yang diungkapkan dalam syair-syair Kitab Mazmur-nya), juga sebagai kiasan atas kebaikan dan kerendahan hatinya.

Penerjemahan alternatif terhadap ungkapan di atas adalah: “Kami menjadikan besi lunak baginya”, yang mengingatkan akan kemampuannya yang luar biasa sebagai penyair, prajurit, dan penguasa.


Surah Saba’ Ayat 11

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

ani’mal sābigātiw wa qaddir fis-sardi wa’malụ ṣāliḥā, innī bimā ta’malụna baṣīr

11. [lalu Kami ilhamkan kepadanya demikian:] “Berbuatlah kebajikan sebanyak-banyaknya, tanpa batas, dan pikirkanlah secara mendalam akan kebersinambungannya.”13

Dan, [hendaklah kalian juga, wahai orang-orang beriman,] kerjakanlah perbuatan-perbuatan saleh: sebab, sungguh, Aku melihat segala yang kalian kerjakan!


13 Kata sifat sabigh (bentuk femininnya, sabighah) berarti sesuatu yang “banyak”, “berlimpah”, dan “lengkap” (dalam arti sempurna). Dalam bentuk jamaknya, sabighat, kata ini berperan sebagai nomina yang disifatinya, dan secara harfiah berarti “hal-hal [atau ‘perbuatan-perbuatan’] yang banyak dan lengkap” atau “sempurna”—yakni, perbuatan baik yang dilakukan secara melimpah dan tak terhingga: bdk. satu-satunya contoh lain dalam ayat Al-Quran dengan akar kata yang sama, dalam Surah Luqman [31]: 20—”[Allah] telah melimpah-ruahkan (asbagha) untuk kalian nikmat-nikmat Nya”. Di sisi lain, nomina sard berarti sesuatu yang “dilakukan secara berurutan”, atau sesuatu yang bagian-bagian (atau tahap-tahapnya) “saling mengikuti secara berkesinambungan”, yakni berlanjut atau berulang-ulang.


Surah Saba’ Ayat 12

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

wa lisulaimānar-rīḥa guduwwuhā syahruw wa rawāḥuhā syahr, wa asalnā lahụ ‘ainal-qiṭr, wa minal-jinni may ya’malu baina yadaihi bi`iżni rabbih, wa may yazig min-hum ‘an amrinā nużiq-hu min ‘ażābis-sa’īr

12. DAN, KEPADA Sulaiman, [Kami tundukkan] angin; perjalanan paginya [meliputi jarak] perjalanan sebulan, dan perjalanan sorenya, perjalanan sebulan.14

Dan, Kami jadikan air mancur dari tembaga cair mengalir atas perintahnya;15 dan [bahkan] di antara makhluk-makhluk gaib, terdapat sebagian yang telah [dipaksa] bekerja untuknya16 dengan izin Pemeliharanya—dan siapa pun di antara mereka yang menyimpang dari perintah Kami, Kami akan membiarkannya merasakan penderitaan api yang berkobar—:


14 Bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 81 dan catatan no. 75 yang terkait. Untuk penjelasan umum lebih lanjut mengenai hikayat-hikayat yang terkait dengan ketokohan Nabi Sulaiman, lihat catatan no. 77 dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 82.

15 Lit., “baginya”: mungkin mengacu pada begitu banyaknya perlengkapan yang terbuat dari tembaga dan kuningan yang, menurut Bibel, dibuat oleh Nabi Sulaiman untuk kuilnya yang baru dibangun (bdk. Bibel, 2 Tawarikh 4).

16 Lit., “antara (dua) tangannya”, maksudnya, tunduk pada kehendaknya: lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 82 dan catatan no. 76 dan no. 77 yang terkait. Tentang istilah jinn yang saya terjemahkan menjadi “makhluk-makhluk gaib” (invisible beings), lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Saba’ Ayat 13

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

ya’malụna lahụ mā yasyā`u mim maḥārība wa tamāṡīla wa jifāning kal-jawābi wa qudụrir rāsiyāt, i’malū āla dāwụda syukrā, wa qalīlum min ‘ibādiyasy-syakụr

13. mereka membuat untuk Sulaiman apa saja yang dia kehendaki: altar, patung, dan kolam [seluas] palung pengairan yang besar, serta periuk-periuk yang tertambat dengan kukuh.17

[Dan, Kami berfirman,] “Bekerjalah, wahai umat Daud, untuk bersyukur [kepada-Ku]18—dan [ingatlah bahwa] sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku [sekalipun] yang benar-benar bersyukur!”19


17 Yakni, karena ukurannya yang sangat besar. Bdk. 2 Tawarikh 3: 10-13, yang menyebutkan pahatan-pahatan (“patung-patung”) kerubim {sejenis malaikat—peny.}, serta pasal 4: 2-5, yang menggambarkan “laut tuangan” (yakni, kolam) yang mahaluas, yang menumpang di atas dua belas patung lembu, dan dimaksudkan untuk menampung air “bagi para imam untuk bersuci” (ibid., 4: 6). Tampaknya, mezbah-mezbahnya adalah berbagai ruang di kuil baru itu.

18 Kata-kata ini, yang seolah-olah ditujukan kepada “umat” atau “keluarga” Daud, sebenarnya adalah peringatan bagi semua Mukmin pada sepanjang masa karena, secara ruhani, mereka semua adalah “umat Daud”.

19 Yakni, bahkan di antara orang-orang yang menganggap diri mereka sendiri sebagai hamba-hamba Allah—, “orang yang benar-benar bersyukur [kepada Allah] hanyalah orang yang menyadari ketidakmampuan-nya mempersembahkan rasa syukur yang memadai kepada-Nya” (Al-Zamakhsyari).


Surah Saba’ Ayat 14

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

fa lammā qaḍainā ‘alaihil-mauta mā dallahum ‘alā mautihī illā dābbatul-arḍi ta`kulu minsa`atah, fa lammā kharra tabayyanatil-jinnu al lau kānụ ya’lamụnal-gaiba mā labiṡụ fil-‘ażābil-muhīn

14. Sungguhpun begitu, [bahkan Sulaiman pun pasti mati; akan tetapi] ketika Kami memutuskan bahwa dia harus mati, tiada sesuatu pun yang menunjukkan kepada mereka bahwa dia telah mati, kecuali cacing tanah yang menggerogoti tongkatnya hingga habis.20 Dan, ketika dia terjatuh ke tanah, makhluk-makhluk gaib [yang tunduk kepadanya] itu melihat dengan jelas bahwa, andaikan mereka memang memahami kenyataan yang berada di luar jangkauan persepsi mereka,21 mereka tidak akan terus [bekerja keras] dalam penderitaan [perbudakan] yang hina.22


20 Ini adalah salah satu dari sekian banyak kisah tentang Nabi Sulaiman yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi Arab kuno, dan yang digunakan oleh Al-Quran sebagai media untuk menggambarkan sebagian ajarannya secara alegoris. Menurut kisah yang disinggung dalam ayat ini, Nabi Sulaiman meninggal di atas singgasananya dengan bersandar pada tongkatnya dan, dalam waktu yang lama, tak satu pun menyadari kematiannya: akibatnya, jin yang diperintahkan untuk bekerja bagi Nabi Sulaiman terus melaksanakan tugas berat yang dipikulkan kepada mereka. Namun, lambat laun, seekor rayap menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman, sehingga jasadnya yang tidak lagi disangga jatuh ke tanah. Kisah ini—yang hanya disinggung secara garis besar—jelas-jelas digunakan di sini sebagai suatu alegori mengenai rapuh dan remehnya kehidupan manusia, serta kehampaan dan akan musnahnya segala kebesaran dan kejayaan duniawi.

21 Al-ghaib, “hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi [makhluk]”, baik dalam pengertiannya yang mutlak maupun—seperti dalam ayat ini—dalam pengertiannya yang relatif dan sementara.

22 Karena, andaikan demikian, mereka akan mengetahui bahwa kekuasaan Nabi Sulaiman atas mereka telah berakhir. Di sini, dengan cara eliptis yang menjadi ciri khas Al-Quran, penekanan diletakkan pada, pertama, terbatasnya semua pengetahuan empiris, termasuk yang merupakan hasil deduksi dan penyimpulan yang hanya didasarkan pada fenomena yang dapat diamati dan dihitung; dan kedua, mustahilnya menentukan dengan tepat tindakan apa yang benar dalam suatu situasi tertentu jika dilakukan hanya berdasarkan potongan-potongan pengetahuan yang terbatas seperti itu. Walaupun kisah itu sendiri mengacu pada “makhluk-makhluk gaib”, nilai moralnya (yang dapat diringkas dalam pernyataan bahwa pengetahuan empiris tidak dapat memberikan panduan etis apa pun jika ia tidak dibimbing, dan dilengkapi, dengan petunjuk Ilahi), jelas ditujukan kepada manusia juga.


Surah Saba’ Ayat 15

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

laqad kāna lisaba`in fī maskanihim āyah, jannatāni ‘ay yamīniw wa syimāl, kulụ mir rizqi rabbikum wasykurụ lah, baldatun ṭayyibatuw wa rabbun gafụr

15. SUNGGUH, dalam [keindahan] tanah air mereka [yang subur dan kaya], kaum Saba’ telah memiliki bukti [akan rahmat Allah]23—dua [bidang] kebun [yang luas], yang (membentang) ke kiri dan ke kanan, [yang berseru kepada mereka demikianlah kira-kira:] “Makanlah apa yang telah dianugerahkan oleh Pemelihara kalian, dan haturkanlah rasa syukur kepada-Nya: sebuah negeri yang baik, dan Pemelihara Yang Maha Pengampun!”


23 Ini berkaitan dengan seruan bersyukur kepada Allah dalam ayat sebelumnya, dan penyebutan di akhir ayat 13 bahwa “sedikit sekali yang benar-benar bersyukur”, bahkan di kalangan orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai “hamba-hamba Allah” (lihat catatan no. 19 sebelum ini).

Kerajaan Saba’ berada di barat daya Arabia dan, pada saat menca pai puncak kemakmurannya (yaitu pada milenium pertama SM), kekuasaannya meliputi tidak hanya wilayah Yaman, tetapi juga sebagian besar wilayah Hadhramaut dan negeri Mahrah, dan mungkin juga sebagian besar wilayah Habasyah (Etiopia yang sekarang). Di sekitar ibu kotanya, Ma’rib—kadang-kadang disebut juga Marib—seiring dengan berlalunya abad demi abad, kaum Saba’ telah membangun sistem bendungan, tanggul, dan pintu air yang mengagumkan yang terkenal dalam sejarah, dengan sisa-sisa peninggalannya yang mencengangkan hingga sekarang. Berkat bendungan besar inilah, seluruh negeri Saba’ memperoleh kemakmuran yang luar biasa, yang menjadi pembicaraan di seluruh Arabia. (Menurut seorang ahli geografi, Al-Hamdani, yang meninggal pada 334 H, wilayah yang diairi oleh sistem bendungan ini membentang ke timur hingga Gurun Pasir Shaihad di perbatasan Rub’ Al-Khali.) Kondisi negeri yang maju ini tecermin dalam aktivitas perdagangan rakyatnya yang intens dan kendali mereka atas “jalur dupa” yang membentang dari Ma’rib ke arah utara menuju Makkah, Yatsrib, dan Suriah, dan ke arah timur menuju Dhufar di pantai Laut Arab sehingga dapat menghubungkan jalur laut dari India dan Cina.

Jelaslah bahwa periode yang dirujuk oleh ayat Al-Quran di atas adalah periode yang jauh lebih belakangan ketimbang yang dibicarakan dalam Surah An-Naml [27]: 22-24.


Surah Saba’ Ayat 16

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

fa a’raḍụ fa arsalnā ‘alaihim sailal-‘arimi wa baddalnāhum bijannataihim jannataini żawātai ukulin khamṭiw wa aṡliw wa syai`im min sidring qalīl

16. Akan tetapi, mereka berpaling [dari Kami], maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang meluapkan bendungan,24 dan mengubah dua [bidang] kebun mereka [yang subur] itu menjadi dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl, dan beberapa pohon bidara [liar]:


24 Lit., “luapan bendungan” (sail al-‘arim). Tahun terjadinya bencana tersebut tidak dapat ditetapkan secara pasti, tetapi kemungkinan besar Bendungan Ma’rib itu jebol untuk pertama kalinya pada periode abad ke-2 M. Kerajaan Saba’ porak-poranda, dan hal ini mendorong banyak suku (Qahthan) di bagian selatan bermigrasi ke arah utara Semenanjung Arab. Setelah itu, tampaknya sistem bendungan dan tanggul tersebut telah diperbaiki hingga tingkat tertentu, tetapi negeri tersebut tidak pernah meraih kembali kemakmurannya yang dulu; dan beberapa dekade sebelum kedatangan Islam, bendungan besar itu akhirnya hancur sepenuhnya.


Surah Saba’ Ayat 17

ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

żālika jazaināhum bimā kafarụ, wa hal nujāzī illal-kafụr

17. demikianlah, Kami memberikan balasan kepada mereka karena penolakan mereka terhadap kebenaran. Akan tetapi, pernahkah Kami memberikan balasan [demikian itu] kecuali hanya kepada orang-orang yang sama sekali tidak bersyukur?25


25 Baik Al-Quran maupun hadis sahih tidak memberikan keterangan apa pun yang pasti kepada kita tentang perbuatan dosa apakah yang dilakukan oleh kaum Saba’ menjelang kehancuran akhir Bendungan Ma’rib (yakni, pada abad ke-6 M). Namun, tidak  disebutkannya keterangan mengenai hal ini tampaknya disengaja. Mengingat kenyataan bahwa kisah kemakmuran negeri Saba’ dan bencana keruntuhannya yang terjadi kemudian telah menjadi buah bibir di Arabia kuno, kemungkinan terbesar adalah bahwa penyebutan kisah ini dalam Al-Quran memiliki tujuan moral murni, yang sama dengan kisah sebelumnya tentang kematian Nabi Sulaiman karena, dalam penyajian Al-Quran, kedua kisah tersebut merupakan kiasan yang menunjukkan betapa sementaranya kekuatan dan pencapaian manusia. Sebagaimana disebutkan di awal catatan no. 23 sebelum ini, kisah keruntuhan Saba’ terkait sangat erat dengan fenomena yang berulang-ulang terjadi, yakni tidak bersyukurnya manusia kepada Allah. (Lihat juga ayat 20 dan catatan no. 29 yang terkait.)


Surah Saba’ Ayat 18

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ

wa ja’alnā bainahum wa bainal-qurallatī bāraknā fīhā quran ẓāhirataw wa qaddarnā fīhas-saīr, sīrụ fīhā layāliya wa ayyāman āminīn

18. Kini, [sebelum keruntuhan mereka,] Kami telah menempatkan di antara mereka dan kota-kota yang telah Kami berkahi itu26 [banyak] kota yang satu sama lainnya masih berada dalam jangkauan pandangan; dan, demikianlah, perjalanan Kami jadikan mudah [bagi mereka, seolah-olah dikatakan]: “Lakukanlah perjalanan dengan aman di [negeri] ini, malam atau siang hari!”


26 Yakni, Makkah dan Yerusalem, yang keduanya terletak di jalur kafilah yang sering dilalui kaum Saba’.


Surah Saba’ Ayat 19

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

fa qālụ rabbanā bā’id baina asfārinā wa ẓalamū anfusahum fa ja’alnāhum aḥādīṡa wa mazzaqnāhum kulla mumazzaq, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr

19. Akan tetapi, kini mereka akan berkata, “Pemelihara kami telah menjauhkan jarak antara tahap-tahap perjalanan kami!”27—sebab, mereka telah menzalimi diri mereka sendiri. Dan, pada akhirnya, Kami jadikan mereka [salah satu dari sekian] kisah [tentang hal-hal pada masa silam], dan mencerai-beraikan mereka menjadi kepingan-kepingan yang tak terhingga.28

Dalam yang demikian ini, perhatikanlah, benar-benar terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang sepenuhnya bersabar dalam menghadapi kesusahan, dan yang amat dalam rasa syukurnya [kepada Allah].


27 Menurut pelafalannya yang diterima secara umum—yang didasarkan pada pembacaan yang digunakan oleh kebanyakan ulama awal dari Madinah dan Kufah—frasa di atas berbunyi seruan rabbana dan imperatif ba’id (“Pemelihara kami! Jauhkanlah jarak …”, dan seterusnya) yang, bagaimanapun, tidak dapat dijelaskan secara meyakinkan. Di sisi lain, berdasarkan riwayat beberapa mufasir terdahulu, Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Al-Zamakhsyari menyebutkan pembacaan lain yang juga absah atas kata-kata tersebut, yaitu rabbuna (dalam bentuk nominatif) dan ba’ada (dalam bentuk indikatif), yang maknanya seperti yang saya terjemahkan: “Pemelihara kami telah menjauhkan jarak …”, dan seterusnya. Menurut hemat saya, pembacaan yang terakhir ini jauh lebih tepat karena (sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Zamakhsyari) ia mengungkapkan penyesalan yang terlambat dan kesedihan kaum Saba’ atas kehancuran negeri mereka, eksodusnya sebagian besar penduduk dan, akibatnya, ditinggalkannya banyak kota dan perkampungan yang terletak di jalur lalu lintas kafilah dagang.

28 Bagian ini secara tidak langsung menggambarkan migrasi massal suku-suku Arab-Selatan ke segala penjuru—terutama ke Arabia tengah dan utara—menyusul hancurnya Bendungan Ma’rib.


Surah Saba’ Ayat 20

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

wa laqad ṣaddaqa ‘alaihim iblīsu ẓannahụ fattaba’ụhu illā farīqam minal-mu`minīn

20. Sungguh, kini iblis benar-benar telah membuktikan kebenaran pendapatnya tentang mereka:29 sebab, [ketika dia menyeru mereka,] mereka semua mengikutinya—kecuali beberapa orang yang beriman [di antara mereka].


29 Lihat Surah Al-Isra’ [17]: 62, serta kalimat terakhir Surah Al-A’raf [7]: 17, yang di dalamnya iblis (yaitu setan) berkata tentang umat manusia, “Engkau (Allah) akan mendapati kebanyakan dari mereka tidaklah bersyukur”.


Surah Saba’ Ayat 21

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ ۗ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

wa mā kāna lahụ ‘alaihim min sulṭānin illā lina’lama may yu`minu bil-ākhirati mim man huwa min-hā fī syakk, wa rabbuka ‘alā kulli syai`in ḥafīẓ

21. Dan, sungguhpun demikian, dia sama sekali tidak memiliki kekuatan apa pun terhadap mereka:30 [sebab, kalaupun Kami mengizinkannya menggoda manusia,] itu hanya dimaksudkan agar Kami dapat membedakan dengan jelas antara orang-orang yang [benar-benar] beriman pada kehidupan akhirat dan orang-orang yang ragu tentangnya:31 sebab, Pemeliharamu menjaga segala sesuatu.


30 Bdk. ungkapan serupa yang keluar dari mulut setan dalam Surah Ibrahim [14]: 22 (“aku sama sekali tidak mempunyai kekuasaan terhadap kalian: aku hanya menyeru kalian—dan kalian memenuhi seruanku”), dan catatan no. 31 yang terkait; lihat juga catatan no. 30 dalam Surah Al-Hijr [15]: 39-40.

Meskipun, secara sepintas, ayat 20-21 surah ini mengacu pada kaum Saba’, makna ayat tersebut (sebagaimana ditunjukkan oleh rangkaian ayatnya) jauh lebih luas dan berlaku bagi umat manusia seluruhnya.

31 Lihat Surah Al-Hijr [15]: 41 dan catatan no. 31 yang terkait.


Surah Saba’ Ayat 22

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

qulid’ullażīna za’amtum min dụnillāh, lā yamlikụna miṡqāla żarratin fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa mā lahum fīhimā min syirkiw wa mā lahụ min-hum min ẓahīr

22. KATAKANLAH: “Serulah [makhluk-makhluk] yang kalian bayangkan [dianugerahi dengan kekuasaan Ilahi] di samping Allah: mereka tidak memiliki kekuatan sekalipun seberat atom, baik di lelangit maupun di bumi, tidak pula mereka memiliki andil dalam [mengurus] keduanya, tidak pula Dia [memilih] di antara mereka sebagai penolong.”32


32 Yakni, siapa saja yang “memperantarai” Dia dan makhluk-Nya. Sebagaimana terlihat jelas dari rangkaian ayatnya (juga dari Surah Al-Isra [17]: 56-57), bagian ini khususnya berkaitan dengan penisbahan sifat ketuhanan atau semi-ketuhanan kepada orang-orang suci dan malaikat, dan terkait dengan masalah “syafaat” {campur tangan, perantaraan—peny.} mereka terhadap Allah.


Surah Saba’ Ayat 23

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

wa lā tanfa’usy-syafā’atu ‘indahū illā liman ażina lah, ḥattā iżā fuzzi’a ‘ang qulụbihim qālụ māżā qāla rabbukum, qālul-ḥaqq, wa huwal-‘aliyyul-kabīr

23. Dan, di hadapan-Nya, syafaat tidak berguna [bagi siapa pun], kecuali orang yang diberi izin oleh-Nya:33 sehingga ketika rasa takut [akan Saat Terakhir] diangkat dari hati mereka, mereka [yang telah dibangkitkan] akan bertanya [satu sama lain], “Apa yang telah ditetapkan Pemelihara kalian [bagi kalian]?”—[yang] akan dijawab oleh yang lain, “Apa pun yang benar dan layak34—sebab, hanya Dia-lah Yang Mahatinggi, Mahabesar!”


33 Mengenai konsep Al-Quran tentang “syafaat”, lihat catatan no. 7 dalam Surah Yunus [10]: 3. Bdk. juga Surah Maryam [19]: 87 dan Surah Ta’Ha’ [20]: 109.

34 Lit., “kebenaran”—yakni, apa pun yang ditetapkan Allah menyangkut penolakan atau pemberian izin terhadap syafaat (yang sama artinya dengan penerimaan-Nya atau penolakan-Nya atas tobat orang tersebut) akan sejalan dengan ketentuan-ketentuan mutlak kebenaran dan keadilan (lihat catatan no. 74 dalam Surah Maryam [19]: 87).


Surah Saba’ Ayat 24

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

qul may yarzuqukum minas-samāwāti wal-arḍ, qulillāhu wa innā au iyyākum la’alā hudan au fī ḍalālim mubīn

24. Katakanlah: “Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari lelangit dan bumi?”35

Katakanlah: “Allah. Dan, perhatikanlah, kami [yang beriman pada-Nya] atau kalian [yang mengingkari keesaan-Nya] pasti berada di jalan yang lurus atas nyata-nyata telah tersesat!”


35 Lihat catatan no. 49 atas kalimat pertama Surah Yunus [10]: 31.


Surah Saba’ Ayat 25

قُلْ لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ

qul lā tus`alụna ‘ammā ajramnā wa lā nus`alu ‘ammā ta’malụn

25. Katakanlah: “Kalian tidak akan diminta untuk mempertanggungjawabkan kesalahan apa pun yang mungkin telah kami pebuat, tidak pula kami diminta untuk mempertanggungjawabkan apa pun yang kalian lakukan.”


Surah Saba’ Ayat 26

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

qul yajma’u bainanā rabbunā ṡumma yaftaḥu bainanā bil-ḥaqq, wa huwal-fattāḥul-‘alīm

26. Katakanlah, “Pemelihara kami akan mengumpulkan kita semua [pada Hari Pengadilan], dan kemudian Dia akan membentangkan kebenaran di antara kita secara adil—sebab, hanya Dia-lah yang Maha Membuka Seluruh Kebenaran, Maha Mengetahui!”


Surah Saba’ Ayat 27

قُلْ أَرُونِيَ الَّذِينَ أَلْحَقْتُمْ بِهِ شُرَكَاءَ ۖ كَلَّا ۚ بَلْ هُوَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

qul arụniyallażīna alḥaqtum bihī syurakā`a kallā, bal huwallāhul-‘azīzul-ḥakīm

27. Katakanlah: “Tunjukkan kepadaku [makhluk-makhluk] yang kalian hubung-hubungkan dengan-Nya [dalam pikiran kalian] sebagai sekutu-sekutu [dalam ketuhanan-Nya]! Sekali-kali tidak—tidak, [hanya] Dia-lah Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!”


Surah Saba’ Ayat 28

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

wa mā arsalnāka illā kāffatal lin-nāsi basyīraw wa nażīraw wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

28. DAN [adapun mengenai engkau, wahai Muhammad,] tidaklah Kami mengutusmu, kecuali bagi seluruh umat manusia, sebagai penyampai berita gembira dan pemberi peringatan; tetapi kebanyakan manusia tidak memahami [hal ini],


Surah Saba’ Ayat 29

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn

29. dan kemudian mereka bertanya, “Kapankah janji [tentang kebangkitan dan pengadilan] itu akan terpenuhi? [Jawablah, wahai kalian, orang yang beriman padanya,] jika kalian adalah orang-orang yang benar!”36


36 Jawaban Al-Quran atas pertanyaan ironis ini terdapat dalam Surah Al-A’raf [7]: 187.


Surah Saba’ Ayat 30

قُلْ لَكُمْ مِيعَادُ يَوْمٍ لَا تَسْتَأْخِرُونَ عَنْهُ سَاعَةً وَلَا تَسْتَقْدِمُونَ

qul lakum mī’ādu yaumil lā tasta`khirụna ‘an-hu sā’ataw wa lā tastaqdimụn

30. Katakanlah: “Telah ditetapkan bagi kalian suatu Hari yang tidak dapat kalian tunda atau kalian majukan sekalipun sesaat.”37


37 Mengenai penerjemahan saya atas sa’ah (lit., “jam”) menjadi “saat”, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 26.


Surah Saba’ Ayat 31

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ نُؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ

wa qālallażīna kafarụ lan nu`mina bihāżal-qur`āni wa lā billażī baina yadaīh, walau tarā iżiẓ-ẓālimụna mauqụfụna ‘inda rabbihim yarji’u ba’ḍuhum ilā ba’ḍinil-qaụl, yaqụlullażīnastuḍ’ifụ lillażīnastakbarụ lau lā antum lakunnā mu`minīn

31. Dan, [sungguhpun begitu,] orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata, “Kami tidak akan pernah beriman pada Al-Quran ini dan tidak pula pada apa pun yang masih ada dari wahyu-wahyu terdahulu!”38

Akan tetapi, andaikan saja engkau dapat melihat [apa yang akan terjadi pada Hari Pengadilan,] ketika orang-orang zalim ini akan dihadapkan kepada Pemelihara mereka, sambil saling melempar celaan ke sana kemari!

Orang-orang [di antara mereka] yang dahulu lemah [di dunia] akan berkata kepada mereka yang menyombongkan diri mereka,39 “Kalau bukan karena kalian, tentu kami akan menjadi orang-orang yang beriman!”


38 Mengenai penerjemahan saya atas frasa ma baina yadaihi, dalam kaitannya dengan Al-Quran, menjadi “apa pun yang masih ada dari wahyu-wahyu terdahulu”, lihat Surah Al-‘Imran [3], catatan no. 3. Sebagaimana terlihat dengan jelas dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, penolakan “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” terhadap semua wahyu dimotivasi oleh penolakan mereka untuk beriman pada kebangkitan dan pengadilan Allah dan, karenanya, menolak mengakui keabsahan standar moral mutlak yang ditegaskan oleh setiap agama yang lebih tinggi.

39 Yakni, sebagai “pemimpin-pemimpin intelektual” masyarakat mereka.


Surah Saba’ Ayat 32

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَىٰ بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ ۖ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ

qālallażīnastakbarụ lillażīnastuḍ’ifū a naḥnu ṣadadnākum ‘anil-hudā ba’da iż jā`akum bal kuntum mujrimīn

32. [Dan,] mereka yang biasa menyombongkan diri akan berkata kepada orang-orang yang lemah, “Mengapa—apakah kami menghalangi kalian [secara paksa] dari mengikuti jalan yang lurus setelah jalan itu jelas bagi kalian?40 Tidak, tetapi kalian [sendirilah] yang bersalah!”


40 Lit., “apakah kami menghalangi kalian dari petunjuk setelah ia datang kepada kalian?”


Surah Saba’ Ayat 33

وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا ۚ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الْأَغْلَالَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

wa qālallażīnastuḍ’ifụ lillażīnastakbarụ bal makrul-laili wan-nahāri iż ta`murụnanā an nakfura billāhi wa naj’ala lahū andādā, wa asarrun-nadāmata lammā ra`awul-‘ażāb, wa ja’alnal-aglāla fī a’nāqillażīna kafarụ, hal yujzauna illā mā kānụ ya’malụn

33. Namun, mereka yang lemah akan berkata kepada mereka yang menyombongkan diri, “Tidak, [yang menghalangi kami adalah] tipu daya kalian merekayasa dalil-dalil batil, siang dan malam,41 [melawan pesan-pesan Allah—seperti yang telah kalian lakukan] ketika kalian membujuk kami untuk melecehkan Allah dan menyatakan bahwa ada kekuatan lain yang dapat menandingi-Nya!”42

Dan, ketika mereka melihat derita [yang menanti mereka], mereka [semua] tidak akan mampu mengungkapkan [kedalaman] penyesalan mereka:43 sebab, Kami akan mengalungkan belenggu pada leher orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran:44 [dan] bukankah ini hanyalah merupakan suatu balasan [yang adil] atas apa yang telah mereka kerjakan?


41 Yakni, selalu. Istilah makr (lit., “rekayasa jahat” atau “perencanaan rekayasa jahat”) di sini memiliki konotasi “merekayasa dalil-dalil batil” menentang sesuatu yang benar: dalam hal ini, menentang pesan-pesan Allah, seperti ditunjukkan dalam paragraf pertama ayat 31 sebelumnya (bdk. Surah Yunus [10]: 21, Surah Fathir [35]: 43, serta Surah At-Tariq [86]: 15 yang menggunakan istilah ini dalam pemakaian yang serupa).

42 Lit., “[bahwa kita harus] memberikan kepada Allah tandingan-tandingan (andad)”. Untuk penjelasan mengenai ungkapan ini dan penerjemahan saya, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 13.

43 Tentang alasan yang membenarkan penerjemahan frasa asarru al-nadamah ini, lihat Surah Yunus [10], catatan no. 77.

44 Sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah mufasir klasik (semisal Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan Al-Baidhawi) dalam tafsir mereka atas frasa serupa yang terdapat dalam Surah Ar-Ra’d [13]: 5 dan Surah YaSin [36]: 8, “belenggu” (aghlal} yang dikalungkan kepada para pendosa ini “di leher mereka”, dalam kehidupan dunia dan juga pada Hari Pengadilan, adalah suatu kiasan atas diperbudaknya jiwa mereka oleh nilai-nilai batil yang mereka anut dan kiasan untuk penderitaan yang diakibatkan oleh sikap tunduk mereka pada nilai-nilai itu.


Surah Saba’ Ayat 34

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

wa mā arsalnā fī qaryatim min nażīrin illā qāla mutrafụhā innā bimā ursiltum bihī kāfirụn

34. Karena [demikianlah adanya:] setiap kali Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu umat, sebagian orang dari masyarakat itu, yang telah menenggelamkan diri mereka sepenuhnya dalam mengejar kesenangan,45 akan menyatakan, “Perhatikanlah, kami menolak bahwa ada kebenaran apa pun dalam [apa yang kalian anggap sebagai] pesan kalian!”—


45 Istilah mutraf berarti “orang yang tenggelam dalam mengejar kesenangan”, yaitu dengan mengesampingkan seluruh pertimbangan moral; bdk. catatan no. 147 dalam Surah Hud [11]: 116.


Surah Saba’ Ayat 35

وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

wa qālụ naḥnu akṡaru amwālaw wa aulādaw wa mā naḥnu bimu’ażżabīn

35. dan mereka menambahkan, “Kami lebih kaya [daripada kalian] dalam harta benda dan anak-anak, dan [karenanya] kami tidak akan dibuat menderita!”46


46 Hal ini menunjukkan bahwa, pertama, satu-satunya hal yang benar-benar berarti dalam kehidupan adalah menikmati keuntungan-keuntungan materiel; dan kedua, hidup yang sukses secara materiel, dengan sendirinya, merupakan bukti bahwa seseorang berada “di jalan yang lurus”.


Surah Saba’ Ayat 36

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdiru wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya’lamụn

36. Katakan: “Perhatikanlah, Pemeliharaku menganugerahkan rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa saja yang Dia kehendaki: tetapi, kebanyakan manusia tidak memahami [cara Allah].”47


47 Secara tersirat, “dan secara bodoh menganggap bahwa kekayaan dan kemiskinan sebagai tanda karunia atau murka Allah”. Secara tidak langsung, pernyataan ini menolak kepercayaan yang dianut banyak orang, pada masa kini maupun dahulu, bahwa kemakmuran materiel merupakan suatu justifikasi bagi segala usaha manusia.


Surah Saba’ Ayat 37

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

wa mā amwālukum wa lā aulādukum billatī tuqarribukum ‘indanā zulfā illā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa ulā`ika lahum jazā`uḍ-ḍi’fi bimā ‘amilụ wa hum fil-gurufāti āminụn

37. Karena, bukanlah kekayaan maupun anak-anak kalian yang dapat mendekatkan kalian kepada Kami: hanya orang yang meraih iman dan mengerjakan apa yang benar dan adil [yang dapat mendekat kepada Kami]; dan bagi orang-orang [seperti] itulah, ganjaran berlipat ganda menanti disebabkan segala yang telah mereka kerjakan; dan merekalah orang-orang yang akan tinggal aman di rumah-rumah besar [dalam surga]—


Surah Saba’ Ayat 38

وَالَّذِينَ يَسْعَوْنَ فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ

wallażīna yas’auna fī āyātinā mu’ājizīna ulā`ika fil-‘ażābi muḥḍarụn

38. sedangkan semua orang yang berusaha keras menentang pesan-pesan Kami, seraya mencoba menggagalkan tujuan pesan itu, akan merasakan penderitaan.


Surah Saba’ Ayat 39

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u min ‘ibādihī wa yaqdiru lah, wa mā anfaqtum min syai`in fa huwa yukhlifuh, wa huwa khairur-rāziqīn

39. Katakan: “Perhatikanlah, Pemeliharaku menganugerahkan rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya;48 dan apa pun yang kalian nafkahkan untuk orang lain, Dia [selalu] menggantinya:49 sebab, Dia-lah sebaik-baik Pemberi Rezeki.”


48 Yakni, janji Allah kepada orang saleh bahwa mereka akan memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan mendatang sama sekali tidak berarti bahwa mereka akan menjadi orang kaya ataupun orang miskin di dunia ini.

49 Yakni, baik dengan kekayaan duniawi, kepuasan batin, atau dengan nilai ruhani (Al-Zamakhsyari).


Surah Saba’ Ayat 40

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

wa yauma yaḥsyuruhum jamī’an ṡumma yaqụlu lil-malā`ikati a hā`ulā`i iyyākum kānụ ya’budụn

40. Dan, [adapun bagi orang-orang yang kini mengingkari kebenaran,] suatu Hari, Dia akan mengumpulkan mereka semua bersama, dan akan bertanya kepada para malaikat, “Kaliankah yang mereka sembah dahulu?”50


50 “Pertanyaan” alegoris ini—alegoris, karena Allah Maha Mengetahui dan tidak perlu “bertanya”—menunjukkan bahwa banyak “orang-orang yang mengingkari kebenaran” pesan-pesan Allah menipu diri mereka sendiri dengan meyakini bahwa mereka, bagaimanapun, sebenarnya menyembah kekuatan spiritual, yang di sini ditunjukkan dalam istilah “malaikat”.


Surah Saba’ Ayat 41

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ ۖ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

qālụ sub-ḥānaka anta waliyyunā min dụnihim, bal kānụ ya’budụnal-jinna akṡaruhum bihim mu`minụn

41. Mereka akan menjawab, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Mu! [Hanya] Engkau-lah yang dekat dengan kami, bukan mereka!51 Tidak, [ketika mereka mengira bahwa mereka menyembah kami,] mereka hanya menyembah [secara buta] kekuatan-kekuatan yang tersembunyi dari indra mereka; kebanyakan mereka percaya pada kekuatan-kekuatan itu.52


51 Menunjukkan bahwa mereka (malaikat) tidak pernah menerima penyembahan, yang memang merupakan hak Allah semata.

52 Dalam hal ini, menurut saya, istilah jinn harus dipahami dalam makna utamanya, yaitu “sesuatu yang tersembunyi dari indra [manusia]” (lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam), dengan demikian meliputi segala bentuk kekuatan yang tidak diketahui, baik yang nyata maupun yang khayali, yang diyakini ada secara inheren dalam apa yang kita gambarkan sebagai “alam”. Karena itu, jawaban para malaikat tersebut menunjukkan secara tidak langsung bahwa penyembahan tanpa dasar kepada para malaikat yang dilakukan oleh para pendosa itu tidak pernah lebih daripada suatu tabir bawah-sadar untuk menutupi ketakutan mereka terhadap kekuatan yang tidak terlihat yang ada dalam alam dan, pada akhirnya, ketakutan yang lebih dalam terhadap Yang Tidak Diketahui—ketakutan yang cepat atau lambat akan melanda semua orang yang menolak beriman pada adanya Allah dan, karenanya, tidak dapat melihat makna dan tujuan kehidupan. (Lihat juga kalimat terakhir dari Surah Yunus [10]: 28 dan catatan no. 46 yang terkait.)


Surah Saba’ Ayat 42

فَالْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

fal-yauma lā yamliku ba’ḍukum liba’ḍin naf’aw wa lā ḍarrā, wa naqụlu lillażīna ẓalamụ żụqụ ‘ażāban-nārillatī kuntum bihā tukażżibụn

42. Dan, [pada Hari itu, Allah akan berkata,] “Hari ini, tak seorang pun dari kalian [wahai makhluk-makhluk,] yang memiliki kekuasaan untuk memberi manfaat atau merugikan yang lainnya!”

Dan, [kemudian] Kami akan berfirman kepada orang-orang yang berkukuh melakukan kezaliman, “[Kini,] rasakanlah derita neraka yang dahulu kalian katakan sebagai dusta belaka!”


Surah Saba’ Ayat 43

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُكُمْ وَقَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ مُفْتَرًى ۚ وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālụ mā hāżā illā rajuluy yurīdu ay yaṣuddakum ‘ammā kāna ya’budu ābā`ukum, wa qālụ mā hāżā illā ifkum muftarā, wa qālallażīna kafarụ lil-ḥaqqi lammā jā`ahum in hāżā illā siḥrum mubīn

43. Karena [demikianlah adanya:] setiap kali pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka dengan segala kejelasannya, mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran itu] berkata [satu sama lain], “[Muhammad] ini tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang ingin memalingkan kalian dari apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kalian!”

Dan, mereka berkata, “[Al-Quran] ini tidak lain hanyalah suatu kebohongan yang dibuat-buat [oleh manusia]!”

Dan [akhirnya,] ketika kebenaran datang kepada orang-orang yang berkukuh mengingkarinya, mereka lalu berbicara demikian tentangnya, “Jelaslah bahwa ini tidak lain hanyalah kepiawaian berbicara yang memikat!”53


53 Lit., “ilmu sihir” atau “magi”—suatu istilah yang sering digunakan dalam pengertian “kepiawaian berbicara yang memikat” (bdk. Surah Al-Muddassir [74]: 24, yang pertama kali memuat istilah ini dari sudut kronologi pewahyuan Al-Quran).


Surah Saba’ Ayat 44

وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا ۖ وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ

wa mā ātaināhum ming kutubiy yadrusụnahā wa mā arsalnā ilaihim qablaka min nażīr

44. Namun, [wahai Muhammad,] tidak pernah Kami berikan kepada mereka wahyu yang dapat mereka nukil,54 dan tidak pula Kami utus kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum engkau.


54 Lit., “yang dapat mereka pelajari”, yakni, untuk mendukung keyakinan dan praktik hina yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Bdk. Surah Ar-Rum [30]: 35, yang mengungkapkan gagasan serupa.


Surah Saba’ Ayat 45

وَكَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوا مِعْشَارَ مَا آتَيْنَاهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِي ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ

wa każżaballażīna ming qablihim wa mā balagụ mi’syāra mā ātaināhum fa każżabụ rusulī, fa kaifa kāna nakīr

45. Demikian pula, [banyak di antara] orang-orang yang hidup sebelum mereka telah mendustakan kebenaran; dan meskipun mereka [umat terdahulu] itu belum mencapai sekalipun sepersepuluh [bukti kebenaran] yang Kami berikan kepada [penerus-penerus mereka] ini, ketika mereka mendustakan rasul-rasul-Ku, betapa dahsyatnya penolakan-Ku!55


55 Secara tersirat, “dan betapa amat buruknya apa yang menimpa orang-orang yang mengingkari kebenaran, padahal kitab Ilahi yang demikian jelas dan menyeluruh seperti Al-Quran ini telah disampaikan kepada mereka!” Penerjemahan saya atas seluruh ayat ini didasarkan pada penafsiran Al-Razi, yang berbeda dengan kebanyakan mufasir.


Surah Saba’ Ayat 46

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ ۖ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا ۚ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

qul innamā a’iẓukum biwāḥidah, an taqụmụ lillāhi maṡnā wa furādā ṡumma tatafakkarụ, mā biṣāḥibikum min jinnah, in huwa illā nażīrul lakum baina yadai ‘ażābin syadīd

46. Katakanlah: “Aku menasihati kalian satu hal saja: [sadarlah selalu untuk] berdiri menghadap Allah, baik tatkala kalian bersama-sama dengan orang lain ataupun sendirian;56 dan kemudian ingatkanlah diri kalian sendiri [bahwa] tidak ada kegilaan dalam [diri nabi ini,] kawan kalian:57 dia hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kalian tentang derita pedih yang akan datang.”


56 Lit., “dua-dua (matsna) dan sendiri-sendiri (furada)”. Menurut Al-Razi, ungkapan matsna dalam konteks ini berarti “bersama dengan seorang lainnya” atau “dengan orang-orang lain”: karenanya, frasa di atas dapat dipahami sebagai mengacu pada perilaku sosial manusia—yaitu, tindakan-tindakannya berkenaan dengan orang lain—serta pada perilaku batiniah dan personalnya dalam segala situasi yang mensyaratkan suatu pilihan moral.

57 Lihat catatan no. 150 dalam Surah Al-A’raf [7]: 184.


Surah Saba’ Ayat 47

قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

qul mā sa`altukum min ajrin fa huwa lakum, in ajriya illā ‘alallāh, wa huwa ‘alā kulli syai`in syahīd

47. Katakanlah: “Aku tidak pernah meminta kepada kalian imbalan [apa pun] yang merupakan milik kalian:58 imbalanku hanya ada pada Allah, dan Dia adalah saksi atas segala sesuatu!”


58 Yakni, imbalan yang bersifat materiel: bdk. Surah Al-Furqan [25]: 57—”tiada imbalan selain bahwa bagi orang yang menghendaki, dia dapat menemukan jalan menuju Pemeliharanya”.


Surah Saba’ Ayat 48

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

qul inna rabbī yaqżifu bil-ḥaqq, ‘allāmul-guyụb

48. Katakanlah: “Sungguh, Pemeliharaku mengirimkan kebenaran [melawan segala kebatilan]59—Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk!”


59 Bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 18.


Surah Saba’ Ayat 49

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

qul jā`al-ḥaqqu wa mā yubdi`ul-bāṭilu wa mā yu’īd

49. Katakanlah: “Kebenaran kini telah datang [bersinar, dan kebatilan pastilah lenyap60]: sebab, kebatilan tidak dapat mendatangkan sesuatu yang baru, tidak pula dapat mengembalikan [apa yang telah berlalu].61


60 Bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 81.

61 Yakni, berlawanan dengan daya cipta yang inheren dalam setiap gagasan yang benar, kebatilan—yang pada dasarnya merupakan suatu ilusi—tidak dapat benar-benar menciptakan apa pun atau membangkitkan nilai apa pun yang mungkin pernah hidup pada masa lalu.


Surah Saba’ Ayat 50

قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي ۖ وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

qul in ḍalaltu fa innamā aḍillu ‘alā nafsī, wa inihtadaitu fa bimā yụḥī ilayya rabbī, innahụ samī’ung qarīb

50. Katakanlah: “Andaikan aku tersesat, aku tersesat [karena diriku sendiri, dan] merugikan diriku sendiri;62 tetapi andaikan aku berada di jalan yang benar, hal itu hanyalah berkat apa yang telah diwahyukan Pemeliharaku kepadaku: sebab, sungguh, Dia Maha Mendengar, Mahadekat!”


62 Menurut Al-Zamakhsyari, gagasan yang diungkapkan oleh kata-kata sisipan “karena diriku sendiri” ditunjukkan secara tidak langsung dalam ayat ini karena “segala sesuatu yang bertentangan dengan [pertimbangan ruhani] seseorang disebabkan oleh dirinya sendiri”. (Lihat catatan no. 4 dalam Surah Ibrahim [14] : 4.)


Surah Saba’ Ayat 51

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ فَزِعُوا فَلَا فَوْتَ وَأُخِذُوا مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ

walau tarā iż fazi’ụ fa lā fauta wa ukhiżụ mim makāning qarīb

51. ANDAIKAN SAJA engkau dapat melihat [bagaimana orang-orang yang mengingkari kebenaran akan diperlakukan pada Hari Kebangkitan,] ketika mereka menciut ketakutan, tanpa jalan keluar—sebab, mereka akan dicengkram dari jarak yang amat dekat63


63 Lit., “dari suatu tempat yang dekat”—yaitu, dari dalam diri mereka sendiri: bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 13 (“Dan, nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya”) dan catatan no. 17 yang terkait. Gagasan yang sama diungkapkan dalam Surah Al-Ra’d [13]: 5 (“mereka itulah yang menanggung belenggu [akibat perbuatan mereka sendiri] pada leher mereka”), serta dalam bagian kedua ayat 33 dari surah ini (“Kami akan mengalungkan belenggu pada leher orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran”). Lihat juga Surah Qaf [50]: 41 dan catatan no. 33 yang terkait.


Surah Saba’ Ayat 52

وَقَالُوا آمَنَّا بِهِ وَأَنَّىٰ لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

wa qālū āmannā bih, wa annā lahumut-tanāwusyu mim makānim ba’īd

52. dan berteriak, “[Kini] kami sungguh percaya padanya!”

Akan tetapi, bagaimana bisa mereka [berharap] meraih [keselamatan] dari kejauhan yang sedemikian,64


64 Lit., “dari tempat yang sangat jauh”—yaitu, dari kehidupan masa lalu mereka yang sangat berbeda di dunia.


Surah Saba’ Ayat 53

وَقَدْ كَفَرُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ ۖ وَيَقْذِفُونَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

wa qad kafarụ bihī ming qabl, wa yaqżifụna bil-gaibi mim makānim ba’īd

53. mengingat dahulu mereka telah berkukuh mengingkari kebenaran itu; dan biasa melemparkan cacian dari jauh, pada sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia?65


65 Implikasinya yang nyata adalah bahwa nasib manusia di akhirat merupakan konsekuensi dari, dan selalu ditentukan oleh, sikap ruhani dan cara hidupnya selama tahapan eksistensi duniawinya yang pertama. Dalam ayat ini, ungkapan “dari jarak yang jauh” jelas digunakan dalam pengertian yang serupa dengan ucapan seperti “jauh dari sasaran” atau “tanpa rima atau alasan”, dan dimaksudkan untuk menyatakan betapa tidak berdasar dan sia-sianya semua spekulasi negatif mengenai apa yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai al-ghaib (“hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia [atau ‘makhluk’]”): dalam hal ini, hidup sesudah mati.


Surah Saba’ Ayat 54

وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُرِيبٍ

wa hīla bainahum wa baina mā yasytahụna kamā fu’ila bi`asy-yā’ihim ming qabl, innahum kānụ fī syakkim murīb

54. Dan demikianlah, suatu halangan akan diletakkan di antara mereka dan segala sesuatu yang [pernah] mereka inginkan,66 sebagaimana akan dilakukan terhadap orang-orang semacam mereka yang hidup sebelum masa mereka: sebab, perhatikanlah, mereka [juga] telah tenggelam dalam keragu-raguan yang memuncak pada kecurigaan.67


66 Jadi, kemustahilan untuk memenuhi setiap keinginan mereka—baik yang positif maupun yang negatif—menjadi pamungkas derita yang menimpa orang-orang yang terkutuk dalam kehidupan akhirat.

67 Yakni, suatu kecurigaan bahwa seluruh ketentuan moral, hanyalah dimaksudkan untuk merampas apa-apa yang dianggap sebagai “keuntungan-keuntungan yang sah” dari kehidupan di dunia ini sehingga tidak lagi bisa dinikmati oleh mereka.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top