47. Muhammad (Muhammad) – محمد

Surat Muhammad dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Muhammad ( محمد ) merupakan surat ke 47 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 38 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Muhammad tergolong Surat Madaniyah.

Tidak diragukan lagi, surah ini merupakan salah satu di antara wahyu-wahyu periode Madinah awal—mungkin yang paling awal. Sebagaimana ditunjukkan dalam catatan no. 11, ayat 13 mungkin diwahyukan pada saat Nabi sedang berhijrah. Pandangan Al-Dhahhak dan Sa’id ibn Jubair (yang dikutip Al-Zamakhsyari) bahwa surah ini adalah surah makkiyyah tidak didukung bukti internal maupun eksternal, dan karena itu tidak dapat diterima.

Nama surah ini didasarkan pada penyebutan nama “Muhammad” dalam ayat 2; akan tetapi, karena surah ini utamanya membahas berbagai aspek peperangan (qital) di jalan Allah, ia sering disebut oleh para Sahabat Nabi dan tabi’in sebagai Surah Al-Qital.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Muhammad Ayat 1

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

allażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi aḍalla a’mālahum

1. ADAPUN ORANG-ORANG yang berkukuh mengingkari kebenaran dan menghalang-halangi [orang lain] dari jalan Allah—semua perbuatan [baik] mereka akan Dia biarkan sia-sia;1


1 Yakni, nilai perbuatan-perbuatan baik apa pun yang mungkin telah mereka kerjakan akan benar-benar dikalahkan oleh dosa yang disebutkan di atas, sehingga perbuatan-perbuatan baik tersebut tidak akan bernilai sama sekali pada Hari Pengadilan. (Namun, lihat juga catatan no. 9 surah ini.) Ayat di atas berkaitan dengan kalimat terakhir dari surah sebelumnya, “[Inilah] pesan [Kami]. Lalu, akankah ada yang [benar-benar] dihancurkan kecuali kaum yang fasik?”


Surah Muhammad Ayat 2

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

wallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa āmanụ bimā nuzzila ‘alā muḥammadiw wa huwal-ḥaqqu mir rabbihim, kaffara ‘an-hum sayyi`ātihim wa aṣlaḥa bālahum

2. sedangkan orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, serta akhirnya beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad—karena hal itu adalah kebenaran dari Pemelihara mereka—[akan memperoleh rahmat Allah:] Dia akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk mereka [yang telah silam] dan akan membuat hati mereka tenteram.2


2 Lit., “akan memperbaiki hati mereka” atau “pikiran mereka”, mengingat bahwa salah satu di antara sekian makna istilah bal adalah “hati” atau “pikiran” manusia (Al-Jauhari).


Surah Muhammad Ayat 3

ذَٰلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ

żālika bi`annallażīna kafaruttaba’ul-bāṭila wa annallażīna āmanuttaba’ul-ḥaqqa mir rabbihim, każālika yaḍribullāhu lin-nāsi amṡālahum

3. Yang demikian itu adalah karena orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu mengejar kebatilan, sedangkan orang-orang yang telah meraih iman [hanyalah] mengejar kebenaran [yang berasal] dari Pemelihara mereka.

Demikianlah Allah mengemukakan kepada manusia perumpamaan tentang keadaan mereka yang sebenarnya.3


3 Lit., “perumpamaan mereka” (amtsalahum). Menurut beberapa mufasir terkemuka, ini berkaitan dengan ungkapan majasi dalam tiga ayat di atas, yaitu: “sia-sianya” perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang yang mengingkari kebenaran—sebagai akibat dari tindakan mereka sendiri yang secara sengaja “mengejar kebatilan”—serta “dihapuskannya perbuatan buruk” yang dilakukan oleh orang-orang beriman sejati sebagai akibat dari tindakan mereka yang “mengejar kebenaran” (Baghawi, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Baidhawi). Dalam perspektif yang lebih luas, penafsiran ini mempertimbangkan bukan hanya sifat majasi dari kalimat di atas, melainkan juga mempertimbangkan sifat majasi dari banyak pernyataan lainnya dalam Al-Quran yang berkaitan dengan keadaan dan nasib spiritual manusia di dunia ini maupun dalam kehidupan akhirat mendatang.


Surah Muhammad Ayat 4

فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ۚ ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ ۗ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

fa iżā laqītumullażīna kafarụ fa ḍarbar-riqāb, ḥattā iżā aṡkhantumụhum fa syuddul-waṡāqa fa immā mannam ba’du wa immā fidā`an ḥattā taḍa’al-ḥarbu auzārahā, żālika walau yasyā`ullāhu lantaṣara min-hum wa lākil liyabluwa ba’ḍakum biba’ḍ, wallażīna qutilụ fī sabīlillāhi fa lay yuḍilla a’mālahum

4. MAKA, jika kalian bertemu [dalam perang] dengan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran,4 hantamlah leher-leher mereka hingga kalian dapat mengatasi mereka sepenuhnya, lalu perketatlah ikatan mereka;5 tetapi, sesudah itu, [bebaskanlah mereka,] baik karena kebaikan hati atau melalui tebusan, sehingga beban perang dapat terangkat:6 demikianlah [hendaknya].

Dan, [ketahuilah bahwa] jika Allah menghendaki, Dia [Sendiri] benar-benar dapat menghukum mereka; akan tetapi, [Dia menghendaki kalian berjuang] untuk menguji kalian [semua] satu dengan lainnya.7

Adapun orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, Dia tidak akan pernah membiarkan perbuatan mereka menjadi sia-sia:


4 Secara tersirat, “dan berkukuh menghalang-halangi [orang lain] dari jalan Allah”; dengan demikian, pernyataan ini berkaitan dengan ayat 1 dan menetapkan satu-satunya syarat fundamental untuk melakukan peperangan fisik: yaitu, mempertahankan keyakinan dan kemerdekaan (dalam hal ini, bdk. catatan no. 167 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 190). Dengan kata lain, jika “orang-orang yang berkeras mengingkari kebenaran” mencoba merampas kebebasan sosial politik kaum Muslim dan, dengan demikian, membuat mereka tidak dapat lagi hidup sesuai dengan prinsip-prinsip keimanan mereka, perang yang adil (jihad) menjadi halal dan, bahkan lebih dari itu, menjadi suatu kewajiban. Keseluruhan ayat di atas merujuk pada perang yang benar-benar sedang berlangsung (bdk. catatan no. 168 pada Surah Al-Baqarah [2]: 191); dan tidak ada keraguan bahwa ayat ini diwahyukan setelah Surah Al-Hajj [22]: 39-40, yang merupakan ayat Al-Quran paling awal yang berbicara tentang perang secara fisik.

5 Lit., “perketatlah ikatan itu”. Menurut hampir semua mufasir, ungkapan ini berarti tindakan menangkap musuh sebagai tawanan perang. Di samping itu, ungkapan tersebut juga dapat merujuk pada bentuk-bentuk sanksi atau perlindungan apa pun yang dapat mencegah dilanjutkannya kembali penyerangan tersebut dalam waktu dekat.

6 Lit., “sehingga (hatta) perang dapat menurunkan bebannya”. Istilah “tebusan” juga meliputi, dalam konteks ini, pertukaran tawanan perang dengan pihak musuh (Al-Zamakhsyari, yang mengutip pendapat Imam Al-Syafi’i).

7 Yakni, sehingga memungkinkan orang-orang beriman membuktikan, dengan tindakan nyata, kedalaman iman mereka dan kesiapan mereka mengorbankan-diri, serta memungkinkan para penyerang menyadari betapa salahnya mereka dan, dengan demikian, mendekatkan mereka kepada kebenaran.


Surah Muhammad Ayat 5

سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ

sayahdīhim wa yuṣliḥu bālahum

5. Dia akan memberi mereka petunjuk [di akhirat pula], dan akan menenteramkan hati mereka,


Surah Muhammad Ayat 6

وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ

wa yudkhiluhumul-jannata ‘arrafahā lahum

6. dan akan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah Dia janjikan kepada mereka.


Surah Muhammad Ayat 7

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

yā ayyuhallażīna āmanū in tanṣurullāha yanṣurkum wa yuṡabbit aqdāmakum

7. Wahai, kalian yang telah meraih iman! Jika kalian menolong [di jalan] Allah, Dia akan menolong kalian dan meneguhkan langkah-langkah kalian;


Surah Muhammad Ayat 8

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ

wallażīna kafarụ fa ta’sal lahum wa aḍalla a’mālahum

8. namun, bagi orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, nasib buruk menanti mereka, karena Dia akan membiarkan semua perbuatan [baik] mereka menjadi sia-sia:


Surah Muhammad Ayat 9

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

żālika bi`annahum karihụ mā anzalallāhu fa aḥbaṭa a’mālahum

9. yang demikian itu karena mereka membenci [gagasan tentang] apa yang telah diturunkan Allah8—maka Dia menjadikan semua perbuatan mereka sia-sia.9


8 Yaitu, wahyu, yang menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab secara moral kepada Sang Wujud Tertinggi.

9 Partikel fa (“maka”) di awal anak kalimat ini menunjukkan konsekuensi: dengan kata lain, penolakan mereka terhadap gagasan adanya tanggung jawab moral—yang terdapat dalam semua wahyu Ilahi—itulah yang menjadikan perbuatan “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” itu kehilangan segala nilai moralnya, sekalipun perbuatan-perbuatan itu dapat disebut sebagai perbuatan “baik”. Hukum kausalitas batini ini menjelaskan sepenuhnya frasa “Dia akan membiarkan semua perbuatan [baik] mereka menjadi sia-sia” yang terdapat dalam ayat 1 dan 8.


Surah Muhammad Ayat 10

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۖ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا

a fa lam yasīrụ fil-arḍi fa yanẓurụ kaifa kāna ‘āqibatullażīna ming qablihim, dammarallāhu ‘alaihim wa lil-kāfirīna amṡāluhā

10. Maka, tidak pernahkah mereka melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan apa yang pada akhirnya terjadi terhadap orang-orang [pendosa yang sengaja berbuat dosa] itu, yang hidup sebelum masa mereka? Allah menghancurkan mereka sehancur-hancurnya: dan yang serupa dengan itu menanti semua orang yang mengingkari kebenaran.10


10 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 10 dan catatan no. 9 yang terkait.


Surah Muhammad Ayat 11

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ

żālika bi`annallāha maulallażīna āmanụ wa annal-kāfirīna lā maulā lahum

11. Yang demikian itu adalah karena Allah adalah Pelindung semua orang yang telah meraih iman, sedangkan orang-orang yang mengingkari kebenaran sama sekali tidak mempunyai pelindung.


Surah Muhammad Ayat 12

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

innallāha yudkhilullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, wallażīna kafarụ yatamatta’ụna wa ya`kulụna kamā ta`kulul-an’āmu wan-nāru maṡwal lahum

12. Sungguh, Allah akan memasukkan semua orang yang meraih iman dan berbuat kebajikan ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, sedangkan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran—meskipun mereka dapat menikmati kehidupannya [di dunia ini] dan makan sebagaimana makannya hewan ternak—akan mendapatkan api [akhirat] sebagai tempat berkediamannya.


Surah Muhammad Ayat 13

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ

wa ka`ayyim ming qaryatin hiya asyaddu quwwatam ming qaryatikallatī akhrajatk, ahlaknāhum fa lā nāṣira lahum

13. Dan, berapa banyak masyarakat11 yang kekuasannya lebih besar daripada masyarakatmu yang telah mengusirmu ini [wahai Muhammad,] yang telah Kami hancurkan, tanpa seorang pun yang menolong mereka!


11 Lihat catatan no. 116 dalam Surah Al-An’am [6]: 131. Disebutkan bahwa ayat ini diwahyukan pada malam pertama hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah (Al-Thabari, menurut riwayat Ibn ‘Abbas).


Surah Muhammad Ayat 14

أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

a fa mang kāna ‘alā bayyinatim mir rabbihī kaman zuyyina lahụ sū`u ‘amalihī wattaba’ū ahwā`ahum

14. MAKA, apakah orang yang mendasarkan pendiriannya pada bukti yang nyata dari Pemeliharanya dapat disamakan dengan seseorang12 yang kejahatan perbuatannya sendiri [selalu] tampak baik baginya dan dengan orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya?


12 Lit., “Maka, apakah orang yang mendasarkan pendiriannya … seperti orang yang …”, dst.


Surah Muhammad Ayat 15

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

maṡalul-jannatillatī wu’idal-muttaqụn, fīhā an-hārum mim mā`in gairi āsin, wa an-hārum mil labanil lam yatagayyar ṭa’muh, wa an-hārum min khamril lażżatil lisy-syāribīn, wa an-hārum min ‘asalim muṣaffā, wa lahum fīhā ming kulliṡ-ṡamarāti wa magfiratum mir rabbihim, kaman huwa khālidun fin-nāri wa suqụ mā`an ḥamīman fa qaṭṭa’a am’ā`ahum

15. [Dan, dapatkah] perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang sadar akan Allah13—[surga] yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang airnya tidak rusak oleh zaman, dan sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah, dan sungai-sungai anggur yang menyenangkan bagi para peminumnya,14 dan sungai-sungai madu yang bersih dari segala kotoran; dan kenikmatan15 segala buah [kebajikan mereka] dan ampunan dari Pemelihara mereka—: dapatkah [perumpamaan surga] ini disamakan dengan [perumpamaan tentang balasan bagi16] orang-orang yang harus berkediaman di dalam api dan diberi minum dengan air keputusasaan yang membara,17 sehingga meluluhlantakkan isi perut mereka?


13 Penerjemahan saya atas ayat ini sepenuhnya didasarkan pada susunan gramatika yang diberikan oleh Al-Zamakhsyari terhadap ayat ini (yang didukung oleh Al-Razi). Dalam susunan kalimat ini, gambaran majasi tentang surga—yang dimulai dengan ungkapan “yang di dalamnya terdapat sungai-sungai …” dst., dan diakhiri dengan ungkapan “dan ampunan dari Pemelihara mereka”—merupakan pasase sisipan (jumlah mu’taridhah). Adapun istilah “perumpamaan” (matsal) itu sendiri, tidak diragukan lagi dimaksudkan untuk memberi kesan kepada orang yang membaca atau mendengar Al-Quran bahwa gambarannya tentang kehidupan di akhirat murni bersifat alegoris: dalam hal ini, Iihat pernyataan eksplisit Al-Zamakhsyari yang dikutip dalam catatan no. 65 dalam Surah Ar-Ra’d [13]: 35.

14 Bdk. Surah As-Saffat [37]: 45-47, terutama ayat 47: “tidak ada rasa pening di dalamnya dan mereka tidak mabuk karenanya”.

15 Lit., “dan di dalamnya mereka [yaitu, orang yang sadar akan Tuhan] akan mendapatkan …”, dst.

16 Sisipan ini sepenuhnya merupakan kutipan harfiah dari penjelasan Al-Zamakhsyari terhadap kalimat eliptis di atas.

17 Lit., “air yang luar biasa panas [atau ‘mendidih’]”. Untuk ·penjelasan mengenai metafora ini, lihat catatan no . 62 dalam Surah Al-An’am [6] : 70.


Surah Muhammad Ayat 16

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّىٰ إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

wa min-hum may yastami’u ilaīk, ḥattā iżā kharajụ min ‘indika qālụ lillażīna ụtul-‘ilma māżā qāla ānifā, ulā`ikallażīna ṭaba’allāhu ‘alā qulụbihim wattaba’ū ahwā`ahum

16. Dan, di antara [para pendosa yang malang] itu, ada orang-orang yang [berpura-pura] mendengarkanmu, [wahai Muhammad,]18 kemudian, segera setelah mereka beranjak dari hadapanmu, berkata [dengan nada menghina] kepada orang-orang yang telah memahami [pesanmu]:19 “Apa yang baru saja dikatakannya tadi?”

Mereka itulah orang-orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah karena mereka [senantiasa] hanya memperturutkan hawa nafsunya sendiri—20


18 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 25 dan Surah Yunus [10]: 42-43.

19 Lit., “kepada orang-orang yang telah diberi pengetahuan”, secara tersirat, “tentang kebenaran” atau “tentang pesanmu”: yakni, orang-orang beriman. Orang-orang yang disebutkan dalam ayat di atas adalah orang-orang munafik yang hidup sezaman dengan Nabi serta semua manusia, sepanjang masa, yang berpura-pura melakukan pendekatan terhadap pesan -pesan Al-Quran dengan menunjukkan sikap “hormat”, tetapi dalam batinnya mereka tidak bersedia mengakui kebenaran yang terkandung di dalamnya.

20 Yakni, “tertutupnya” hati mereka (untuk penjelasannya, lihat catatan no. 7 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 7) merupakan konsekuensi dari tindakan mereka yang “memperturutkan hawa nafsunya sendiri”.


Surah Muhammad Ayat 17

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

wallażīnahtadau zādahum hudaw wa ātāhum taqwāhum

17. persis sebagaimana orang-orang yang [ingin] diberi petunjuk, Dia menambahkan kepada mereka [kemampuan untuk mengikuti] petunjuk[-Nya] dan membuat mereka semakin sadar akan Allah.21


21 Lit., “dan memberikan kepada mereka kesadaran mereka akan Tuhan (taqwahum)”.


Surah Muhammad Ayat 18

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

fa hal yanẓurụna illas-sā’ata an ta`tiyahum bagtah, fa qad jā`a asyrāṭuhā, fa annā lahum iżā jā`at-hum żikrāhum

18. Lalu, apakah mereka [yang hatinya telah ditutup] menunggu Saat Terakhir—[menunggu] kedatangannya kepada mereka secara tiba-tiba? Namun, ia telah diramalkan!22 Dan apalah gunanya bagi mereka ingatan [atas dosa-dosa masa lalu] mereka, ketika (Saat Terakhir) itu telah datang kepada mereka?23


22 Lit., “isyarat-isyaratnya telah datang”: ini mengacu pada sekian banyak prediksi yang terdapat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa kedatangan Saat Terakhir itu tidak dapat dielakkan, serta mengacu pada bukti, yang dapat dipahami oleh setiap pikiran yang terbebas dari prasangka, bahwa segala ciptaan ini akan berakhir secara temporal.

23 Yakni, “ketika Saat Terakhir itu datang, apalah manfaatnya bagi mereka tobat yang terlambat, serta timbulnya kesadaran bahwa mereka telah berbuat dosa?”


Surah Muhammad Ayat 19

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

fa’lam annahụ lā ilāha illallāhu wastagfir liżambika wa lil-mu`minīna wal-mu`mināt, wallāhu ya’lamu mutaqallabakum wa maṡwākum

19. Maka, ketahuilah [wahai manusia] bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan [selagi masih ada waktu,] mohonlah ampunan atas dosa-dosamu dan atas [dosa-dosa] semua orang beriman lainnya, laki-laki maupun perempuan: sebab, Allah mengetahui semua kedatangan dan kepergian kalian, juga tempat tinggal kalian [ketika beristirahat].24


24 Yakni , “Dia mengetahui segala yang kalian lakukan dan segala yang luput kalian lakukan”.


Surah Muhammad Ayat 20

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ ۖ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ ۙ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَأَوْلَىٰ لَهُمْ

wa yaqụlullażīna āmanụ lau lā nuzzilat sụrah, fa iżā unzilat sụratum muḥkamatuw wa żukira fīhal-qitālu ra`aitallażīna fī qulụbihim maraḍuy yanẓurụna ilaika naẓaral-magsyiyyi ‘alaihi minal-maụt, fa aulā lahum

20. ADAPUN ORANG-ORANG yang telah meraih iman berkata, “Andaikan saja wahyu [yang mengizinkan kami berperang] diturunkan!”25

Akan tetapi sekarang, ketika wahyu yang jelas pada dan oleh dirinya sendiri,26 yang menyebutkan perang, telah diturunkan, engkau dapat melihat orang-orang itu, yang dalam hatinya ada penyakit, memandangmu [wahai Muhammad] dengan pandangan orang yang hampir putus asa karena takut mati! Sungguhpun begitu, jauh lebih baik bagi mereka


25 Saya menerjemahkan istilah surah di sini dan dalam kalimat berikutnya menjadi “wahyu” sebab, di samping tidak ada satu pun surah yang secara eksklusif hanya membahas masalah perang, terdapat banyak rujukan mengenai perang pada berbagai surah; dan tampaknya memang inilah makna dari istilah tersebut dalam konteks ini serta dalam Surah At-Taubah [9]: 86.

Tidak diragukan lagi bahwa ayat ini diwahyu)kan sebelum Surah Al-Hajj [22]: 39 (yang turun pada 1 H) yang menyatakan dengan tegas—dan untuk pertama kalinya—bahwa orang-orang beriman diizinkan berperang manakala “mereka diperangi secara zalim” (dalam hal ini, lihat catatan no. 57 dalam Surah Al-Hajj [22]: 39).

26 Ini merujuk pada Surah Al-Hajj [22]: 39-40. Untuk penjelasan mengenai ungkapan muhkamah (“jelas pada dan oleh diri nya sendiri”), lihat catatan no. 5 dalam Surah Al-‘Imran [3]: 7. (Sebagaimana dalam kalimat sebelumnya, ungkapan surah di sini diterjemahkan, secara khusus, menjadi “wahyu”.)


Surah Muhammad Ayat 21

طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَعْرُوفٌ ۚ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

ṭā’atuw wa qaulum ma’rụf, fa iżā ‘azamal-amr, falau ṣadaqullāha lakāna khairal lahum

21. ketaatan [terhadap seruan Allah] dan perkataan yang dapat memperoleh perkenan[-Nya]:27 sebab, karena urusannya telah diputuskan [oleh wahyu-Nya], tetap bersetia kepada Allah tidak lain hanyalah demi kebaikan mereka sendiri.


27 Yakni, ungkapan kesediaan untuk berjuang di jalan-Nya: ini jelas merupakan makna dari qaul ma’ruf dalam konteks ini.


Surah Muhammad Ayat 22

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

fa hal ‘asaitum in tawallaitum an tufsidụ fil-arḍi wa tuqaṭṭi’ū ar-ḥāmakum

22. [Tanyakan kepada mereka:] “Apakah kalian, mungkin, setelah berpaling [dari perintah Allah, lebih suka berbalik ke cara lama kalian, dan] menyebarkan kerusakan di muka bumi, dan [sekali lagi] memutuskan ikatan kekeluargaan kalian?”28


28 Sisipan di atas sejalan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh hampir semua mufasir klasik terhadap pasase ini, yang berpendapat bahwa “pertanyaan” retoris ini mengacu kepada kondisi Jazirah Arab pra-Islam yang kacau balau, peperangan antarsukunya yang sia-sia, serta kebejatan moral yang akhirnya sirna dengan kedatangan Islam. Sungguhpun demikian, ayat ini, sebagaimana keseluruhan pasasenya, mengandung makna yang berlaku sepanjang masa.


Surah Muhammad Ayat 23

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

ulā`ikallażīna la’anahumullāhu fa aṣammahum wa a’mā abṣārahum

23. Orang-orang seperti itulah yang Allah tolak dan yang Dia jadikan tuli [terhadap suara kebenaran] dan yang Dia butakan [pandangan] matanya!29


29 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 7 yang menyebutkan bahwa Allah “menutup” hati orang-orang zalim yang keras kepala.


Surah Muhammad Ayat 24

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

a fa lā yatadabbarụnal-qur`āna am ‘alā qulụbin aqfāluhā

24. Lalu, apakah mereka tidak hendak merenungkan Al-Quran ini?—ataukah terdapat kunci pada hati mereka?


Surah Muhammad Ayat 25

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ

innallażīnartaddụ ‘alā adbārihim mim ba’di mā tabayyana lahumul-hudasy-syaiṭānu sawwala lahum, wa amlā lahum

25. SUNGGUH, orang-orang yang memalingkan punggungnya [dari pesan ini] sesudah petunjuk diberikan kepada mereka, [mereka melakukannya karena] setan telah memperindah khayalan mereka dan memenuhinya dengan harapan-harapan palsu:


Surah Muhammad Ayat 26

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ

żālika bi`annahum qālụ lillażīna karihụ mā nazzalallāhu sanuṭī’ukum fī ba’ḍil-amr, wallāhu ya’lamu isrārahum

26. [mereka benar-benar memalingkan punggungnya dari pesan ini] lantaran30 mereka biasa mengatakan kepada orang-orang yang membenci segala yang telah Allah wahyukan, “Kami akan mengikuti pandangan-pandangan kalian dalam beberapa hal.”31

Namun, Allah mengetahui pikiran rahasia mereka:


30 Lit., “ini, karena …”, dst.

31 Lit., “dalam beberapa [atau ‘sebagian’] persoalan”: yakni, “meskipun kami tidak setuju dengan kalian [kaum ateis] sehubungan dengan pengingkaran kalian terhadap Tuhan, kebangkitan, atau fakta wahyu, kami memang setuju dengan kalian bahwa Muhammad adalah seorang penipu yang cerdas dan bahwa Al-Quran tidak lain adalah hasil buatannya” (Al-Razi). Yang dimaksud dengan “orang-orang yang memalingkan punggungnya [dari pesan ini] sesudah petunjuk diberikan kepada mereka”, pertama-tama, adalah orang-orang munafik dan para penganut Islam setengah hati yang menolak berperang untuk membela iman pada masa Nabi; namun, dalam pengertian yang lebih luas, definisi ini juga berlaku bagi semua orang, sepanjang masa, yang terkesan dengan ajaran-ajaran Al-Quran, tetapi menolak kedudukannya sebagai wahyu Tuhan dan, karena itu, menolak sifatnya yang mengikat secara moral.


Surah Muhammad Ayat 27

فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ

fa kaifa iżā tawaffat-humul-malā`ikatu yaḍribụna wujụhahum wa adbārahum

27. karena itu, bagaimana [mereka akan mengatasinya] ketika malaikat mencabut nyawa mereka, seraya memukul muka dan punggung mereka?32


32 Lihat catatan no. 55 dalam Surah Al-Anfal [8]: 50.


Surah Muhammad Ayat 28

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

żālika bi`annahumuttaba’ụ mā askhaṭallāha wa karihụ riḍwānahụ fa aḥbaṭa a’mālahum

28. Yang demikian itu adalah karena mereka terbiasa mengejar apa yang dikutuk Allah dan membenci [apa pun yang dapat mengantarkan pada] ridha-Nya:33 maka Allah menjadikan segala perbuatan [baik] mereka sia-sia.


33 Lihat anak kalimat pertama pada ayat 3 surah ini, yang berbicara tentang “mengejar kebatilan”. Dalam ayat ini, ” yang dapat mengantarkan pada ridha-Nya” adalah kesiapan orang-orang beriman untuk mengorbankan, jika perlu, hidupnya dalam rangka membela iman.


Surah Muhammad Ayat 29

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

am ḥasiballażīna fī qulụbihim maraḍun al lay yukhrijallāhu aḍgānahum

29. Ataukah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, mungkin, menyangka bahwa Allah tidak akan menampakkan kelemahan akhlak mereka?34


34 Nomina dhighn (jamak: adhghan) utamanya berarti “dendam” atau “kebencian”; dalam pengertiannya yang lebih luas, kata itu berarti “kecenderungan”, “kecondongan”, atau “kesukaan” seseorang, terutama dalam aspek-aspek negatifnya (Jauhari): dengan demikian, “cacat” atau “kelemahan akhlak”.


Surah Muhammad Ayat 30

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

walau nasyā`u la`arainākahum fa la’araftahum bisīmāhum, wa lata’rifannahum fī laḥnil-qaụl, wallāhu ya’lamu a’mālakum

30. Adapun seandainya Kami kehendaki, Kami dapat menunjukkan mereka kepadamu dengan jelas, sehingga engkau dapat mengetahui mereka dengan pasti melalui suatu tanda yang tampak:35 tetapi [meskipun demikian,] engkau pasti akan mengetahui mereka melalui nada suaranya.36

Dan, Allah mengetahui segala yang kalian lakukan, [wahai manusia;]


35 Lit., “melalui tanda-tanda mereka”: menunjukkan, secara eliptis, bahwa Allah tidak memberikan kepada siapa pun suatu pengetahuan yang jelas, seperti melalui suatu tanda yang kasat mata, mengenai hati atau pikiran manusia lainnya.

36 Lit., “nada (lahn) bicara”: menunjukkan bahwa seorang Mukmin sejati dapat menyadari adanya kemunafikan meskipun tanpa disertai “tanda yang kasatmata” (sima).


Surah Muhammad Ayat 31

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

wa lanabluwannakum ḥattā na’lamal-mujāhidīna mingkum waṣ-ṣābirīna wa nabluwa akhbārakum

31. dan Kami pasti akan menguji kalian semua, agar Kami dapat membedakan37 orang-orang di antara kalian yang berjuang sungguh-sungguh [di jalan Kami] dan yang bersabar dalam menghadapi kesusahan: sebab, Kami akan menguji [kebenaran] segala pernyataan kalian.38


37 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 140, yang di dalamnya verba ‘alama diterjemahkan dengan cara yang sama.

38 Lit., “pemberitahuan-pemberitahuan kalian”—yakni, semua pernyataan yang berhubungan dengan kepercayaan. “Ujian”-nya terletak dalam kesediaan seseorang untuk mengorbankan apa pun—dan, karena sebagian besar surah ini membahas persoalan tentang perang yang adil (jihad) di jalan Allah—bahkan mengorbankan nyawa.


Surah Muhammad Ayat 32

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَىٰ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ

innallażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi wa syāqqur-rasụla mim ba’di mā tabayyana lahumul-hudā lay yaḍurrullāha syai`ā, wa sayuḥbiṭu a’mālahum

32. Sungguh, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan menghalang-halangi [orang lain] dari jalan Allah dan [yang demikian] memutuskan diri dari Rasul39 setelah petunjuk disampaikan kepada mereka, sama sekali tidak dapat merugikan Allah; tetapi Allah akan menjadikan semua perbuatan mereka sia-sia.


39 Mengenai penerjemahan syaqqu di atas, lihat catatan no. 16 dalam Surah Al-AnfaI [8]: 13. “Memutuskan diri” dari Rasul jelas menunjukkan penolakan terhadap pesannya dan, dalam konteks khusus ini, menunjukkan penolakan mengikuti seruan Al-Quran untuk berperang dengan tujuan yang dibenarkan, yakni untuk mempertahankan iman atau kemerdekaan (lihat catatan no. 167 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 190).


Surah Muhammad Ayat 33

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla wa lā tubṭilū a’mālakum

33. Wahai, kalian orang-orang yang telah meraih iman! Taatilah Allah dan Taatilah Rasul, dan jangan biarkan perbuatan [baik] kalian menjadi sia-sia!


Surah Muhammad Ayat 34

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ مَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ

innallażīna kafarụ wa ṣaddụ ‘an sabīlillāhi ṡumma mātụ wa hum kuffārun fa lay yagfirallāhu lahum

34. Sungguh, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran dan menghalang-halangi [orang lain] dari jalan Allah, kemudian mati sebagai pengingkar kebenaran—Allah benar-benar tidak akan memberi ampunan kepada mereka!


Surah Muhammad Ayat 35

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

fa lā tahinụ wa tad’ū ilas-salmi wa antumul-a’laụn, wallāhu ma’akum wa lay yatirakum a’mālakum

35. MAKA, [ketika kalian berjuang di jalan yang benar,] janganlah kehllangan semangat dan [janganlah pernah] meminta damai: karena, mengingat bahwa Allah bersama kalian, [pada akhirnya] kalian pasti akan bangkit berjaya;40 dan Dia tidak pernah membiarkan perbuatan [baik] kalian menjadi sia-sia.


40 Yakni, kalaupun perang itu ternyata tidak membawa kemenangan, kesadaran bahwa mereka telah berperang di jalan kebenaran dan keadilan pasti akan memperbesar kekuatan batin orang-orang beriman dan, dengan demikian, menjadi sumber keagungan mereka pada masa yang akan datang; bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 139.


Surah Muhammad Ayat 36

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

innamal-ḥayātud-dun-yā la’ibuw wa lahw, wa in tu`minụ wa tattaqụ yu`tikum ujụrakum wa lā yas`alkum amwālakum

36. Kehidupan dunia ini hanyalah sebuah permainan dan kesenangan sementara: akan tetapi, jika kalian beriman [kepada Allah] dan sadar terhadap-Nya, Dia akan memberikan kepada kalian ganjaran kalian.

Dan sementara itu, Dia tidak menuntut kalian [agar mengorbankan di jalan-Nya seluruh] harta kalian:41


41 Meskipun kehidupan dunia ini “tidak lain hanyalah sebuah permainan dan kesenangan sementara”, Allah tidak ingin mencabut dari orang-orang beriman kesenangannya yang sah untuk dinikmati: demikianlah, Allah meminta mereka agar mengorbankan sebagian kecil saja dari kekayaan mereka untuk dibelanjakan di jalan-Nya. Sebagaimana ditunjukkan oleh sebagian besar mufasir klasik dalam kaitannya dengan ayat di atas, pasase ini tampaknya merupakan isyarat awal mengenai pembebanan kewajiban pajak tahunan yang disebut zakah (zakat; iuran yang menyucikan, “the purifying dues“) yang besarnya sekitar 2,5 persen dari pendapatan dan kekayaan seorang Muslim (demikianlah alasan bagi sisipan yang saya masukkan dalam ayat di atas). Hasil zakat ini harus dimanfaatkan—dalam istilah Al-Quran—di “jalan Allah”, yakni, untuk mempertahankan dan menyebarluaskan keimanan dan kesejahteraan masyarakat; sedangkan tujuan spiritualnya adalah untuk “menyucikan” kekayaan seorang Muslim dari sifat tamak dan egoisme. (Hendaknya diperhatikan bahwa kewajiban membayar zakat ditetapkan pada awal mula periode Madinah, yaitu kira-kira bersamaan dengan turunnya surah ini.)


Surah Muhammad Ayat 37

إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ

iy yas`alkumụhā fa yuḥfikum tabkhalụ wa yukhrij aḍgānakum

37. [sebab,] seandainya Dia menuntut diri kalian seluruhnya dan mendesak kalian,42 dengan kikir kalian akan memegang[nya] erat-erat dan dengan begitu Dia [hanyalah] akan menampakkan kelemahan akhlak kalian.43


42 Yakni, secara tersirat, “untuk melucuti seluruh harta-milik kalian”.

43 Mengenai penerjemahan adhghan menjadi “kelemahan akhlak”, lihat catatan no. 34. Dalam konteks ayat ini, istilah tersebut memiliki makna yang kurang lebih sama dengan kata fujur dalam Surah Asy-Syams [91]: 8. Implikasinya adalah bahwa karena “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28), penetapan kewajiban yang terlalu besar kepada orang-orang beriman justru akan menggagalkan tercapainya tujuan awal dari kewajiban itu sendiri, mengingat hal itu bukannya mengakibatkan peningkatan iman, melainkan, justru sebaliknya, menyusutkan iman. Pasase ini menggambarkan betapa Al-Quran bersifat sangat realistis, yakni memandang watak manusia sebagaimana adanya, dengan segala kompleksitas dan kontradiksi batinnya yang merupakan kehendak Allah dan, karenanya, tidak menetapkan secara apriori suatu tujuan mustahil sebagai norma perilaku manusia. (Bdk. Surah Asy-Syams [91]: 8, yang menyebutkan kepribadian manusia sebagai “diilhami dengan kelemahan-kelemahan akhlak serta dengan kesadaran akan Allah”—sebuah frasa yang dijelaskan dalam catatan no. 6 yang terkait.)


Surah Muhammad Ayat 38

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ ۖ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ ۚ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

hā`antum hā`ulā`i tud’auna litunfiqụ fī sabīlillāh, fa mingkum may yabkhal, wa may yabkhal fa innamā yabkhalu ‘an nafsih, wallāhul-ganiyyu wa antumul-fuqarā`, wa in tatawallau yastabdil-qauman gairakum ṡumma lā yakụnū amṡālakum

38. Perhatikanlah, [wahai orang-orang beriman,] kalianlah yang diseru agar menafkahkan (harta kalian) dengan sukarela di jalan Allah: akan tetapi, di antara kalian [pun] terdapat orang-orang yang ternyata bersifat kikir! Namun, orang berlaku kikir [di jalan Allah] hanyalah berlaku kikir terhadap dirinya sendiri: sebab, Allah benar-benar Mahacukup, sedangkan kalian membutuhkan[-Nya]; dan jika kalian berpaling [dari-Nya], Dia akan menjadikan orang lain menggantikan kedudukan kalian, dan mereka tidak akan seperti kalian!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top