14. Ibrahim (Ibrahim) – إبراهيم

Surat Ibrahim dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Ibrahim ( إبراهيم ) merupakan surah ke 14 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 52 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Ibrahim tergolong Surat Makkiyah.

Semua mufasir sepakat bahwa surah ini termasuk ke dalam kelompok wahyu terakhir periode Makkah. Dalam kitab Al-Itqan, surah ini ditempatkan persis setelah Surah Nuh [71] dan kita tidak mempunyai alasan untuk mempertanyakan kronologi ini. Nama surah ini didasarkan pada doa Nabi Ibrahim yang terdapat dalam ayat 35-41; adapun relevansi nama surah ini dengan keseluruhan isinya, telah dijelaskan dalam catatan no. 48.

Sebagaimana pada surah terdahulu, tema pokok Surah Ibrahim adalah pewahyuan firman Allah kepada manusia yang akan menuntunnya keluar “dari pekatnya kegelapan menuju cahaya” (ayat 1 dan 5) melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam bahasa manusia, yang menjadi sasaran pewahyuannya untuk pertama kali (ayat 4; bdk. juga Surah Ar-Ra’d [13]: 37). Akan tetapi, sementara semua kitab Ilahi terdahulu hanya ditujukan kepada umat yang diseru oleh nabi mereka (bdk. perintah Allah kepada Nabi Musa a.s. dalam ayat 5, “Tuntunlah kaummu keluar dari pekatnya kegelapan menuju cahaya”), Al-Qur’an adalah pesan bagi seluruh umat manusia, sebagaimana disebutkan dalam ayat pertama dan terakhir surah ini.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Ibrahim Ayat 1

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

alif lām rā, kitābun anzalnāhu ilaika litukhrijan-nāsa minaẓ-ẓulumāti ilan-nụri bi`iżni rabbihim ilā ṣirāṭil-‘azīzil-ḥamīd

1. Alif. Lam. Ra.1

[INILAH] KITAB ILAHI [—sebuah wahyu] yang Kami turunkan kepadamu agar engkau mengeluarkan seluruh manusia, dengan izin Pemelihara mereka, dari pekatnya kegelapan menuju cahaya: ke jalan yang mengantarkan kepada Yang Mahaperkasa, yang kepada-Nya-lah segala pujian tertuju—


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an, juga Surah Hud [11], catatan no. 1.


Surah Ibrahim Ayat 2

اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

allāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa wailul lil-kāfirīna min ‘ażābin syadīd

2. kepada Allah, yang kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu yang ada di lelangit dan segala sesuatu yang ada di bumi.

Namun, celakalah orang-orang yang mengingkari kebenaran: sebab, penderitaan yang dahsyat


Surah Ibrahim Ayat 3

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

allażīna yastaḥibbụnal-ḥayātad-dun-yā ‘alal-ākhirati wa yaṣuddụna ‘an sabīlillāhi wa yabgụnahā ‘iwajā, ulā`ika fī ḍalālim ba’īd

3. menanti orang-orang yang memilih kehidupan dunia ini sebagai satu-satunya kecintaan mereka,2 dengan lebih menyukainya daripada [semua pikiran tentang] kehidupan akhirat, dan orang-orang yang menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah dan mencoba membuatnya tampak bengkok. Orang-orang seperti ini benar-benar telah jauh tersesat!


2 Menurut Al-Zamakhsyari dan Al-Razi, ini adalah makna sebenarnya dari bentuk verbal yastahibbun dalam konteks di atas—yang menyiratkan bahwa bentuk cinta buta yang ditujukan hanya pada kehidupan dunia ini pasti mengakibatkan pengingkaran terhadap kebenaran-kebenaran moral.


Surah Ibrahim Ayat 4

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

wa mā arsalnā mir rasụlin illā bilisāni qaumihī liyubayyina lahum, fa yuḍillullāhu may yasyā`u wa yahdī may yasyā`, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

4. DAN, TIDAK PERNAH Kami mengutus seorang rasul pun melainkan [dengan pesan] dalam bahasa kaumnya sendiri agar dia dapat menjadikan [kebenaran itu] jelas bagi mereka;3 tetapi Allah membiarkan tersesat siapa saja yang ingin [tersesat], dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang ingin [diberi petunjuk]—sebab, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.4


3 Karena setiap kitab Ilahi dimaksudkan agar dipahami manusia, jelaslah bahwa ia harus disampaikan dalam bahasa kaum yang diseru oleh nabi bersangkutan pada kali pertamanya; dan dalam hal ini, Al-Quran pun—walau maknanya bersifat universal (bdk. catatan no. 126 pada Surah Al-A’raf [7]: 158)—tidak terkecuali.

4 Atau: “Allah membiarkan tersesat siapa pun yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki”. Seluruh keterangan Al-Quran mengenai tindakan Allah “membiarkan manusia tersesat” harus dipahami dengan latar belakang Surah Al-Baqarah [2]: 26-27—”tak seorang pun yang disesatkan-Nya kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang memutus ikatan mereka dengan Allah” (mengenai ungkapan “memutus ikatan dengan Allah” ini, lihat catatan no. 19 pada Surah Al-Baqarah [2]): jadi, “tersesatnya” manusia adalah akibat dari sikap dan kecenderungan hatinya sendiri dan bukan karena “takdir” yang sewenang-wenang dalam arti yang populer dari kata ini (bdk. Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7). Dalam tafsirannya mengenai ayat di atas, Al-Zamakhsyari menekankan aspek kebebasan memilih yang dimiliki manusia dan menunjukkan bahwa “Allah tidak menyebabkan siapa pun tersesat, kecuali orang yang, sebagaimana Dia ketahui, tidak akan pernah ingin meraih iman; dan Dia tidak memberi petunjuk kepada siapa pun ke jalan yang benar, kecuali kepada orang yang, sebagaimana Dia ketahui, ingin meraih iman. Karena itu, [ungkapan] “menyebabkan tersesat” berarti [bahwa Allah] membiarkan [seseorang] sendirian (takhliyah) dan mencerabut[-nya] dari segala karunia, sedangkan [ungkapan] “petunjuk” berarti anugerah[-Nya] yang berupa “keberhasilan mencapai ridha-Nya” (taufiq) dan karunia …. Jadi, Dia tidak meninggalkan siapa pun, kecuali orang-orang yang memang patut untuk ditinggalkan, dan tidak melimpahkan karunia-Nya kepada siapa pun, kecuali orang-orang yang berhak mendapatkan karunia”. Ketika menafsirkan frasa yang sama yang terdapat pada Surah An-Nahl [16]: 93, Al-Zamakhsyari menyatakan: “[Allah] meninggalkan orang yang, sebagaimana Dia ketahui, [secara sadar] akan memilih mengingkari kebenaran dan akan berkukuh dalam [keingkaran] ini; dan … Dia memberikan karunia-Nya kepada orang yang, sebagaimana Dia ketahui, akan memilih iman: yang berarti bahwa Dia menjadikan masalah ini bergantung pada kebebasan memilih [seseorang] (al-ikhtiyar), yang kemudian akan menentukan apakah dia akan mendapatkan karunia [Allah] atau tercerabut dari pertolongan[-Nya] … dan tidak menjadikannya bergantung pada paksaan (yakni predestinasi), yang justru akan menjadikan [seseorang] tidak layak menerima apa pun dari kedua hal di atas {yakni menerima karunia atau tercerabut dari pertolongan-Nya—peny.}.


Surah Ibrahim Ayat 5

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

wa laqad arsalnā mụsā bi`āyātinā an akhrij qaumaka minaẓ-ẓulumāti ilan-nụri wa żakkir-hum bi`ayyāmillāh, inna fī żālika la`āyātil likulli ṣabbārin syakụr

5. Dan [demikianlah], sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan pesan-pesan Kami [dan perintah Kami ini]: “Tuntunlah kaummu keluar dari pekatnya kegelapan menuju cahaya, dan ingatkanlah mereka kepada Hari-Hari Allah!”5

Sungguh, dalam [peringatan] yang demikian ini benar-benar terdapat pesan-pesan bagi semua orang yang sepenuhnya sabar dalam menghadapi kesusahan dan yang amat dalam syukurnya [kepada Allah].


5 Dalam tradisi bangsa Arab kuno, istilah “hari” atau “hari-hari” sering digunakan untuk menggambarkan kejadian-kejadian historis yang penting (misalnya, ayyam al-‘arab digunakan sebagai metonimia bagi perang antarsuku pada masa-masa Arab pra-Islam). Namun, mengingat bahwa kata “hari” sering digunakan Al-Quran untuk konsep-konsep eskatologis—misalnya, “Hari Akhir”, “Hari Kebangkitan”, “Hari Perhitungan”, dan sebagainya—dan khususnya, mengingat Surah Al-Jatsiyah [45]: 14, yang menunjukkan bahwa ungkapan “Hari-Hari Allah” tidak diragukan lagi mengacu pada keputusan-Nya di akhirat—logislah untuk berasumsi bahwa, dalam konteks ini, ungkapan itu juga memiliki makna yang sama: yakni, putusan final Allah terhadap manusia pada Hari Kebangkitan. Digunakannya bentuk jamak (Hari-Hari Allah) mungkin dimaksudkan untuk mengemukakan gagasan bahwa “Hari” yang sering dibicarakan Al-Quran ini sama sekali tidak berkaitan dengan batasan-waktu yang biasa dikenal manusia, alih-alih ia menyinggung suatu realitas tertinggi yang di dalamnya konsep “waktu” tidak mempunyai tempat atau arti apa pun.


Surah Ibrahim Ayat 6

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

wa iż qāla mụsā liqaumihiżkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż anjākum min āli fir’auna yasụmụnakum sū`al-‘ażābi wa yużabbiḥụna abnā`akum wa yastaḥyụna nisā`akum, wa fī żālikum balā`um mir rabbikum ‘aẓīm

6. Dan, lihatlah,6 Musa berkata [demikian] kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kalian ketika Dia menyelamatkan kalian dari pengikut-pengikut Fir’aun yang menimpakan kepada kalian derita yang kejam, dan menyembelih anak-anak lelaki kalian, dan membiarkan hidup [hanya] anak-anak perempuan kalian7—yang merupakan suatu cobaan yang menakutkan dari Pemelihara kalian.”


6 Untuk penerjemahan partikel idz ini, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21.

7 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 49; juga Bibel, Keluaran I: 15-16, dan 22.


Surah Ibrahim Ayat 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

wa iż ta`ażżana rabbukum la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna ‘ażābī lasyadīd

7. Dan, [ingatlah] ketika Pemelihara kalian memaklumkan [janji ini]: “Jika kalian bersyukur [kepada-Ku], Aku pasti akan memberikan kepada kalian lebih banyak lagi,8 tetapi jika kalian tidak bersyukur, sungguh, hukuman-Ku benar-benar amat keras!”


8 Yakni, “bahkan lebih banyak daripada yang berhak kalian terima”.


Surah Ibrahim Ayat 8

وَقَالَ مُوسَىٰ إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

wa qāla mụsā in takfurū antum wa man fil-arḍi jamī’an fa innallāha laganiyyun ḥamīd

8. Dan, Musa menambahkan, “Seandainya kalian mengingkari kebenaran—kalian dan orang-orang lainnya yang ada di muka bumi, semuanya—[ketahuilah bahwa,] sungguh, Allah benar-benar Mahacukup, Maha Terpuji!


Surah Ibrahim Ayat 9

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ ۛ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ ۚ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

a lam ya`tikum naba`ullażīna ming qablikum qaumi nụḥiw wa ‘ādiw wa ṡamụd, wallażīna mim ba’dihim, lā ya’lamuhum illallāh, jā`at-hum rusuluhum bil-bayyināti fa raddū aidiyahum fī afwāhihim wa qālū innā kafarnā bimā ursiltum bihī wa innā lafī syakkim mimmā tad’ụnanā ilaihi murīb

9. BELUM SAMPAIKAH kepada kalian kisah-kisah mereka [yang mengingkari kebenaran] yang hidup sebelum kalian—[kisah-kisah] kaum Nuh, [suku] ‘Ad dan Tsamud, dan orang-orang yang datang sesudah mereka? Tiada yang mengetahui mereka [kini] selain Allah.9

Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa semua bukti kebenaran—tetapi, mereka menutup mulut mereka dengan tangan mereka10 dan menjawab, “Perhatikanlah, kami menolak untuk membenarkan pesan yang [kau klaim] diamanatkan kepadamu; dan perhatikanlah, kami berada dalam keraguan yang besar, sampai-sampai curiga, terhadap [makna] seruan kalian kepada kami!”11


9 Yakni, mereka telah musnah dari muka bumi dan tiada siapa pun selain Allah yang mengetahui saat ini berapa banyak jumlah mereka dan bagaimana mereka hidup. Lihat ayat 14 dan catatan no. 18.

10 Lit., “mereka memasukkan tangan mereka ke dalam mulut mereka”—suatu frasa idiomatik yang menunjukkan ketidakmampuan seseorang untuk membantah penjelasan logis dengan menggunakan kontra-argumen yang meyakinkan dan masuk akal: sebab, penolakan mentah-mentah terhadap pesan-pesan rasul yang dilakukan oleh umat mereka yang keras kepala itu sama sekali tidak dapat dipandang sebagai suatu “argumen”.

11 Lihat Surah Hud [11], catatan no. 92. Perlu dicatat bahwa sementara dalam Surah Hud [11]: 62 jawaban ini diucapkan oleh orang-orang dari suatu kaum tertentu—yakni, kaum Tsamud—dan diutarakan dalam bentuk kata ganti tunggal (“seruanmu kepada kami”), di sini ia muncul dalam bentuk jamak (“seruan kalian kepada kami”) dan merupakan inti jawaban yang diberikan oleh berbagai masyarakat kepada berbagai nabinya. Generalisasi ini, yang mendasari seluruh kisah berikutnya dan mengandung gema dari sejumlah kisah Al-Quran lainnya yang berkenaan dengan pengalaman para nabi pada masa-masa silam, jelas-jelas dimaksudkan untuk menggarisbawahi ciri khas dari sikap orang-orang yang sedang dibicarakan itu: yaitu, sikap keras kepala orang-orang yang, kalau tidak mengingkari Allah sama sekali, merasa harus menempatkan “perantara-perantara” khayali (yang dianggap Ilahi atau semi-Ilahi) dalam berbagai bentuknya antara mereka dan Allah—walaupun mereka tidak mengingkari eksistensi Allah secara sadar—sehingga, secara tersirat, mengingkari kemahatahuan dan kemahakuasaan-Nya.


Surah Ibrahim Ayat 10

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

qālat rusuluhum a fillāhi syakkun fāṭiris-samāwāti wal-arḍ, yad’ụkum liyagfira lakum min żunụbikum wa yu`akhkhirakum ilā ajalim musammā, qālū in antum illā basyarum miṡlunā, turīdụna an taṣuddụnā ‘ammā kāna ya’budu ābā`unā fa`tụnā bisulṭānim mubīn

10. Berkatalah rasul-rasul yang diutus kepada mereka,12 “Mungkinkah ada keraguan tentang [keberadaan dan keesaan] Allah, Pencipta lelangit dan bumi? Dia-lah yang menyeru kalian agar Dia dapat mengampuni kalian [apa pun yang telah berlalu] dari dosa-dosa kalian dan memberi kalian penangguhan hingga suatu masa [yang telah Dia tentukan terpenuhi].”13

[Namun,] mereka menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami juga! Kamu hendak memalingkan kami dari apa yang biasa disembah nenek moyang kami: maka, kalau begitu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata [tentang kerasulanmu]!”


12 Lit., “rasul-rasul mereka”.

13 Yakni, “hingga akhir hidup kalian di dunia”. Saya percaya bahwa hal ini secara tidak langsung berbicara mengenai malapetaka yang pasti akan diturunkan, bahkan di dunia ini, terhadap “mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran” (lihat paragraf terakhir Surah Ar-Ra’d [13]: 31 dan catatan no. 57 yang terkait)—ini menyiratkan pengertian bahwa mereka yang secara sadar menyambut seruan Allah yang disampaikan melalui nabinya akan terhindar dari segala macam penderitaan ini dan akan dirahmati dengan kebahagiaan ruhani yang abadi (bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 29).


Surah Ibrahim Ayat 11

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

qālat lahum rusuluhum in naḥnu illā basyarum miṡlukum wa lākinnallāha yamunnu ‘alā may yasyā`u min ‘ibādih, wa mā kāna lanā an na`tiyakum bisulṭānin illā bi`iżnillāh, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu`minụn

11. Rasul-rasul mereka menjawab mereka, “Benar, kami tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kalian juga: tetapi Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sungguhpun begitu, bukanlah dalam kekuasaan kami untuk mendatangkan kepada kalian bukti [kerasulan kami], kecuali dengan izin Allah—dan [demikianlah] kepada Allah-lah semua orang beriman harus bersandar penuh percaya.14


14 {place trust in God, bertawakal} Yakni, untuk mendapatkan pencerahan, semua pencari kebenaran harus merujuk pada kandungan pesan Ilahi yang disampaikan kepada mereka (lihat Surah Al-A’raf [7]: 75 dan Surah Ar-Ra’d [13]: 43, serta catatan-catatannya). Dalam banyak tempat (misalnya dalam Surah Al-An’am [6]: 109-111 atau Surah Ar-Ra’d [13]: 31), Al-Qur’an membahas sia-sianya—baik secara moral maupun intelektual—permintaan untuk membuktikan keaslian pesan-pesan kenabian (yakni, membuktikan bahwa pesan-pesan itu benar-benar dari sumber Ilahi) dengan cara-cara yang kasatmata dan tidak relevan: sebab, keyakinan terhadap kebenaran intrinsik yang terkandung dalam pesan seperti ini—keyakinan yang sahih secara moral dan dapat dibenarkan secara intelektual—hanya dapat dicapai melalui “pengetahuan sadar yang dapat dijangkau oleh akal” (Surah Yusuf [12]: 108).


Surah Ibrahim Ayat 12

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

wa mā lanā allā natawakkala ‘alallāhi wa qad hadānā subulanā, wa lanaṣbiranna ‘alā mā āżaitumụnā, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mutawakkilụn

12. Dan, bagaimana kami tidak akan bersandar penuh percaya kepada Allah, padahal Dia-lah yang telah menunjukkan kepada kami jalan yang harus kami ikuti?15

“Karena itu, kami pasti akan bersabar terhadap derita apa pun yang mungkin kalian timpakan kepada kami: sebab, semua orang yang percaya [akan keberadaan-Nya] haruslah bersandar penuh percaya (bertawakal) kepada Allah [saja]!”


15 Lit., “menunjuki kami ke jalan-jalan kami”—bentuk jamak ini menunjukkan (sebagaimana halnya dengan keseluruhan rangkaian ayat yang diawali mulai dari ayat 9) kesamaan fundamental dari pesan-pesan yang diajarkan semua nabi.


Surah Ibrahim Ayat 13

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۖ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ

wa qālallażīna kafarụ lirusulihim lanukhrijannakum min arḍinā au lata’ụdunna fī millatinā, fa auḥā ilaihim rabbuhum lanuhlikannaẓ-ẓālimīn

13. Namun, mereka yang mengingkari kebenaran berkata [demikian] kepada rasul-rasul mereka, “Kami pasti akan mengusir kalian dari negeri kami, kecuali kalian kembali ke jalan kami!”16

Kemudian, Pemelihara mereka mewahyukan ini kepada rasul-rasul-Nya:17 “Kami pasti akan membinasakan orang-orang zalim ini,


16 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 88-89, yang di dalamnya pilihan ini diberikan kepada Syu’aib.

17 Lit., “kepada mereka”.


Surah Ibrahim Ayat 14

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

wa lanuskinannakumul-arḍa mim ba’dihim, żālika liman khāfa maqāmī wa khāfa wa’īd

14. dan Kami pasti akan menjadikan kalian tinggal di muka bumi [jauh] sesudah mereka wafat:18 ini adalah [janji-Ku] kepada semua orang yang gentar akan keberadaan-Ku dan yang gentar akan peringatan-Ku!”19


18 Lit., “setelah mereka”: menunjukkan suatu janji Ilahi bahwa kebenaran yang diajarkan oleh para rasul akan bertahan lebih lama daripada orang-orang yang mencelanya (bdk. ayat 9, “Tiada yang mengetahui mereka [kini] selain Allah”), dan pada akhirnya akan menang.

19 Seperti yang ditunjukkan Al-Zamakhsyari, janji Ilahi yang diungkapkan pada ayat di atas sama dengan pernyataan pada Surah Al-A’raf [7]: 128 bahwa “masa depan (al-‘aqibah) milik orang yang sadar akan Allah”.


Surah Ibrahim Ayat 15

وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

wastaftaḥụ wa khāba kullu jabbārin ‘anīd

15. Dan, mereka berdoa [kepada Allah] agar kebenaran dimenangkan.20

Dan [demikianlah:] setiap musuh sombong yang menentang kebenaran akan dibinasakan [dalam kehidupan akhirat],


20 Atau: “mereka [yakni para rasul] berdoa untuk meraih kemenangan” atau “untuk memperoleh bantuan [Allah]”—kedua makna tersebut terkandung dalam nomina fath, yang berkaitan dengan bentuk verbanya, istaftahu, yang digunakan di sini. Hendaknya diingat bahwa arti utama fataha adalah “dia telah membuka”, sedangkan istaftaha berarti “dia berusaha membuka [sesuatu]” atau “dia ingin agar sesuatu itu dibuka”. Jadi, bunyi ayat di atas menggemakan doa Syu’aib dalam bentuk umum, sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al-A’raf [7]: 89, “Wahai, Pemelihara kami, bukakanlah (iftah) kebenaran antara kami dan kaum kami”.


Surah Ibrahim Ayat 16

مِنْ وَرَائِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَىٰ مِنْ مَاءٍ صَدِيدٍ

miw warā`ihī jahannamu wa yusqā mim mā`in ṣadīd

16. seraya neraka menantinya21 dan dia akan dipaksa meminum air kesukaran yang paling pahit,22


21 Lit., “[dengan] neraka di hadapannya”, yakni sebagai takdirnya. Untuk terjemahan saya terhadap al-jabbar dalam konteks ini menjadi “musuh kebenaran”, Iihat bagian pertama catatan no. 58 pada Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 130.

22 Kata shadid adalah nomina infinitif dari shadda, yang utamanya berarti “dia berpaling” atau “ditolak [dari sesuatu]”; juga—sebagaimana tercantum dalam Al-Qamus dan Al-Asas—”dia berteriak keras” (yakni karena penolakannya terhadap sesuatu). Karena shadid menunjukkan apa pun yang menjijikkan, secara figuratif ia juga digunakan untuk menggambarkan nanah yang mengalir dari Iuka atau cairan kental yang keluar dari mayat. Dalam tafsirannya mengenai ayat ini, Al-Razi menyarankan bahwa ungkapan ma shadid di sini murni bersifat metaforis dan harus dipahami sebagai “air yang seperti [apa yang digambarkan sebagai] shadid“. Berdasarkan penafsiran inilah, saya menerjemahkan ungkapan di atas menjadi “air kesukaran yang paling pahit”—suatu metafora bagi penderitaan tak terhingga dan kemalangan paling menyedihkan di akhirat yang menanti mereka yang selama hidupnya di dunia ini berkukuh mengingkari semua kebenaran ruhani. (Bdk. ungkapan syarah min hamim—yang saya terjemahkan menjadi “seteguk keputusasaan yang membara”—yang terdapat dalam beberapa tempat dan dijelaskan pada catatan no. 62 pada Surah Al-An’am [6]: 70.)


Surah Ibrahim Ayat 17

يَتَجَرَّعُهُ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ ۖ وَمِنْ وَرَائِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ

yatajarra’uhụ wa lā yakādu yusīguhụ wa ya`tīhil-mautu ming kulli makāniw wa mā huwa bimayyit, wa miw warā`ihī ‘ażābun galīẓ

17. (dia) meneguknya [tanpa henti], sedikit demi sedikit, dan sungguhpun begitu, (dia) hampir tidak bisa menelannya.23 Dan, kematian akan menyergapnya dari segala penjuru—tetapi dia tidak akan mati: sebab, penderitaan yang [bahkan lebih] berat ada di hadapannya.*


23 Yakni, berdamai dengan dirinya atas penderitaan ini.

* {Dalam ayat ini, Asad menerjemahkan frasa wa min wara’ihi ‘adzabun ghafizh dengan “[yet more] severe suffering lies ahead of him“, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “penderitaan yang [bahkan lebih] berat ada di hadapannya”. Untuk wara’, lihat catatan pada no. 21 sebelumnya.—AM}


Surah Ibrahim Ayat 18

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

maṡalullażīna kafarụ birabbihim a’māluhum karamādinisytaddat bihir-rīḥu fī yaumin ‘āṣif, lā yaqdirụna mimmā kasabụ ‘alā syaī`, żālika huwaḍ-ḍalālul-ba’īd

18. [Maka, inilah] perumpamaan orang-orang yang berkukuh mengingkari Pemelihara mereka: semua amalan mereka24 bagaikan abu yang ditiup kencang oleh angin pada suatu hari yang penuh badai: [di akhirat,] mereka tidak dapat mengambil manfaat apa pun dari semua [kebaikan] yang mungkin telah mereka usahakan: sebab, [pengingkaran terhadap Allah] ini benar-benar kesesatan yang sejauh-jauhnya.25


24 Yakni, bahkan amal-amal yang baik sekali pun (Al-Razi).

25 Lit., “ini ini adalah kesesatan yang amat jauh”. Kata sandang tentu [lam al-ta’rif—peny.] dalam ungkapan al-dhalal al-ba’id yang didahului oleh kata ganti dzalika huwa dimaksudkan untuk menekankan betapa parahnya “kesesatan” atau “tersesat” ini: suatu bangunan kalimat yang dalam bahasa Inggris hanya dapat diterjemahkan dengan parafrasa the farthest one can go astray {dalam bahasa Indonesia, frasa itu diterjemahkan sebagaimana di atas—peny.}. Harus dicatat bahwa frasa ini hanya terdapat dalam Al-Quran di dua tempat—yakni, pada ayat di atas dan pada Surah Al-Hajj [22]: 12—dan keduanya mengacu pada suatu pengingkaran, secara sadar maupun tidak, terhadap keesaan dan keunikan Allah.


Surah Ibrahim Ayat 19

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ

a lam tara annallāha khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq, iy yasya` yuż-hibkum wa ya`ti bikhalqin jadīd

19. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan bahwa Allah telah menciptakan lelangit dan bumi sesuai dengan kebenaran [hakiki]?26 Jika Dia menghendaki, Dia dapat memusnahkan kalian dan mendatangkan umat manusia yang baru [sebagai pengganti kalian]:27


26 Lihat catatan no. 11 pada Surah Yunus [10]: 5.

27 Lit., “mendatangkan makhluk yang baru” atau “kaum yang baru” karena harus diingat bahwa istilah khalq menunjukkan tidak hanya “makhluk” atau “hasil ciptaan”, tetapi juga “kaum” atau “umat manusia”. Kedua makna yang disebutkan terakhir inilah yang tampaknya dikandung oleh istilah tersebut di sini (Ibn ‘Abbas, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi).


Surah Ibrahim Ayat 20

وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

wa mā żālika ‘alallāhi bi’azīz

20. dan, yang demikian itu tidak sukar bagi Allah.


Surah Ibrahim Ayat 21

وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ ۖ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ

wa barazụ lillāhi jamī’an fa qālaḍ-ḍu’afā`u lillażīnastakbarū innā kunnā lakum taba’an fa hal antum mugnụna ‘annā min ‘ażābillāhi min syaī`, qālụ lau hadānallāhu lahadainākum, sawā`un ‘alainā ajazi’nā am ṣabarnā mā lanā mim maḥīṣ

21. Dan, semua [manusia] akan berkumpul di hadapan Allah [pada Hari Pengadilan]; lalu berkatalah orang-orang yang lemah28 kepada orang-orang yang dahulu menyombongkan diri, “Perhatikanlah, kami dahulu tidak lain adalah pengikut-pengikut kalian: maka, dapatkah kalian sedikit saja membebaskan kami dari hukuman Allah?”

[Dan, mereka] akan menjawab, “Seandainya saja Allah menunjukkan kepada kami jalan [menuju keselamatan], kami tentu akan menunjuki kalian [ke arah itu].29 [Kini] semua sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau menahan [nasib kita] dengan sabar: tidak ada bagi kita tempat untuk melarikan diri!”


28 Yakni, mereka yang berbuat dosa karena lemah moral dan terbawa hawa nafsu karena menyandarkan diri pada kebijaksanaan “tokoh-tokoh pemikiran”, yang kebijaksanaannya diduga lebih unggul dan yang dalam ayat tersebut digambarkan sebagai “orang-orang yang menyombongkan diri” (astakbaru) karena mereka menolak untuk menaati pesan-pesan Allah (Al-Thabari, bersumber dari Ibn ‘Abbas).

29 Dengan kata lain, “tetapi sekarang sudah terlambat untuk bertobat”. Menurut Al-Thabari dan Al-Razi, inilah arti ayat di atas. Namun, Al-Zamakhsyari lebih menyukai penafsiran lain, yang menyiratkan acuan bukan pada saat ini, melainkan pada masa lalu, yakni demikian: “Jika Allah telah memberikan petunjuk kepada kami ke jalan yang benar, kami [pun] pasti telah memberikan petunjuk kepada kalian ke jalan yang benar”: dengan kata lain, Al-Zamakhsyari memahami frasa di atas sebagai usaha dari orang yang tertimpa hukuman itu untuk melepaskan diri mereka dari segala tanggung jawab, dan menisbahkan dosa mereka pada masa silam kepada “ketidakinginan” Allah untuk memberikan petunjuk kepada mereka. Dalam pandangan saya, penafsiran Al-Thabari dan Al-Razi lebih baik karena—terlepas dari seluruh pertimbangan lain—ia menyajikan suatu hubungan yang logis antara permintaan dari pihak “yang lemah” (lihat catatan terdahulu) dan jawaban dari pihak yang “menyombongkan diri” ketika hidup di dunia ini, serta dengan ungkapan keputusasaan yang selanjutnya diutarakan oleh orang-orang yang sombong itu, yang tersimpul dalam perkataan “terlalu terlambat!”.


Surah Ibrahim Ayat 22

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

wa qālasy-syaiṭānu lammā quḍiyal-amru innallāha wa’adakum wa’dal-ḥaqqi wa wa’attukum fa akhlaftukum, wa mā kāna liya ‘alaikum min sulṭānin illā an da’autukum fastajabtum lī, fa lā talụmụnī wa lụmū anfusakum, mā ana bimuṣrikhikum wa mā antum bimuṣrikhiyy, innī kafartu bimā asyraktumụni ming qabl, innaẓ-ẓālimīna lahum ‘ażābun alīm

22. Dan, ketika segala sesuatu telah ditetapkan, setan akan berkata, “Perhatikanlah, Allah telah menjanjikan kalian sesuatu yang pasti menjadi kenyataan!30 Aku juga telah memberikan [segala macam] janji kepada kalian—tetapi, aku menipu kalian. Sungguhpun begitu, aku sama sekali tidak mempunyai kekuasaan terhadap kalian: aku hanya menyeru kalian—dan kalian memenuhi seruanku. Karena itu, janganlah kalian menyalahkan aku, tetapi salahkanlah diri kalian sendiri.31 Aku tidak layak memenuhi seruan kalian, dan kalian pun tidak layak memenuhi seruanku:32 sebab, perhatikanlah, aku [selalu] menolak mengakui bahwa kepercayaan kalian dahulu itu benar, (yakni kepercayaan kalian) bahwa aku berserikat dalam ketuhanan Allah.”33

Sungguh, bagi semua orang zalim34 disediakan penderitaan yang pedih.


30 Lit., “Allah menjanjikan kepada kalian suatu janji kebenaran”—yakni, janji tentang kebangkitan dan pengadilan terakhir.

31 Dalam penafsirannya tentang ayat ini, Al-Razi berkata, “Ayat ini memperlihatkan bahwa setan yang sebenarnya (al-syaithan al-ashli) adalah nafsu (al-nafs) yang kompleks [yang dimiliki manusia sendiri]: sebab, setan telah menjelaskan [di atas] bahwa hanya dengan bisikan negatif (waswasah)-lah dia mampu memengaruhi jiwa para pendosa]; dan kalau bukan karena watak jahat] yang telah ada yang disebabkan oleh hasrat, kemarahan, takhayul, atau ide-ide khayal, bisikan negatif [setani] ini tidak akan mempunyai pengaruh apa pun.”

32 Yakni, “Aku tidak dapat memenuhi seruan permintaan tolong kalian, seperti halnya kalian seharusnya tidak memenuhi seruanku ketika hidup di dunia”. Kalimat di atas sering ditafsirkan dalam pengertian lain, yakni “Aku tidak dapat membantu kalian, seperti kalian tidak dapat membantuku”. Namun, mengingat ungkapan alegoris yang diutarakan setan—dalam bagian terdahulu dan juga pada kalimat berikutnya—tentang masa lalu para pendosa ketika hidup di dunia, terjemahan yang saya pilih sepertinya lebih cocok; tambahan pula, ia lebih dekat dengan makna utama verba sharakha (“dia memanggil”), yang darinyalah bentuk mushrikh (“seseorang yang menjawab panggilan”) diderivasi (Al-Jauhari).

33 Menurut saya, inilah makna frasa kafartu bi ma asyraktumuni min qabl yang sangat eliptis itu, yang dapat diterjemahkan secara harfiah—tetapi kurang memadai—menjadi: “Aku telah menolak untuk mengakui benarnya hal itu, yang dengannya kalian persekutukan aku [dengan Allah] pada masa silam. “Artinya, walaupun setan berusaha keras menyesatkan manusia, dia tidak pernah mengklaim sebagai “sekutu” Allah (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 20, yang menyebutkan bahwa ketika setan berbicara dengan Adam dan Hawa, dia menyebut Allah sebagai “Pemelihara kalian”, atau Surah Al-Hijr [15]: 36 dan 39 yang menyatakan bahwa setan menyebut Allah sebagai “Pemeliharaku”, atau Surah Al-Anfal [8]: 48 dan Surah Al-Hasyr [59]: 16, yang menyatakan bahwa dia berkata, “Perhatikanlah, aku takut kepada Allah,” tetapi setan mencoba menjadikan perbuatan-perbuatan dosa manusia “tampak baik dalam pandangan mereka” (bdk. Surah Al-An’am [6]: 43, Surah Al-Anfal [8]: 48, Surah An-Nahl [16]: 63, Surah An-Naml [27]: 24, Surah Al-‘Ankabut [29]: 38), yakni, membujuk manusia dengan mengatakan bahwa tindakan mengikuti khayalan dan nafsu diri tanpa kekangan apa pun dapat dibenarkan secara moral. Namun, sementara setan sendiri tidak menyatakan bahwa dirinya setara dengan Allah, tindakan para pendosa yang tunduk pada bujukan setan sama saja artinya dengan menganggap bahwa setan-setan itu “berserikat dalam ketuhanan Allah”.

Dalam hubungan ini, harus ditekankan bahwa ungkapan syaithan dalam Al-Quran sering digunakan sebagai suatu metafora bagi setiap gerak hati manusia yang secara intrinsik bersifat imoral (dursila) dan, karena itu, bertentangan dengan kepentingan terbaik manusia (yakni, kepentingan ruhani).

34 Yakni, semua orang yang dengan sadar—baik karena kesombongan intelektual maupun karena kelemahan moral—menyambut “seruan setan”.


Surah Ibrahim Ayat 23

وَأُدْخِلَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ ۖ تَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ

wa udkhilallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā bi`iżni rabbihim, taḥiyyatuhum fīhā salām

23. Namun, orang-orang yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan akan dimasukkan ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, (mereka) berkediaman di dalamnya dengan izin Pemelihara mereka, dan akan disambut dengan salam, “Kedamaian!”35


35 Sebagaimana dalam Surah Yunus [10]: 10, ayat ini secara harfiah berbunyi, “sambutan mereka di dalamnya [akan berupa], ‘Kedamaian!’ (salam)”. Istilah ini telah diterangkan dalam Surah Al-Ma’idah [5], catatan no. 29.


Surah Ibrahim Ayat 24

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

a lam tara kaifa ḍaraballāhu maṡalang kalimatan ṭayyibatang kasyajaratin ṭayyibatin aṣluhā ṡābituw wa far’uhā fis-samā`

24. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan perkataan yang baik?36 [Yaitu] seperti pohon yang baik, akarnya teguh, cabang-cabangnya [menjulang] ke langit,


36 Dalam maknanya yang lebih luas, istilah kalimah (“kata”) menunjukkan pernyataan atau proposisi konseptual. Jadi, sebuah “perkataan yang baik” mencakup proposisi (atau gagasan) apa pun yang secara intrinsik benar dan—karena ia merupakan seruan terhadap apa yang baik dalam pengertian moral—pada akhirnya bermanfaat dan abadi; dan karena seruan terhadap kesalehan adalah inti terdalam dari setiap pesan Allah, istilah “perkataan yang baik” dapat pula diterapkan kepadanya. Demikian pula halnya dengan “perkataan yang buruk” yang disebutkan dalam ayat 26 digunakan untuk menunjuk pada lawan dari suatu tujuan pesan Ilahi: yakni, pada setiap gagasan yang secara intrinsik batil atau secara moral buruk dan, karena itu, secara ruhani merugikan.


Surah Ibrahim Ayat 25

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

tu`tī ukulahā kulla ḥīnim bi`iżni rabbihā, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nāsi la’allahum yatażakkarụn

25. memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Pemeliharanya.

Dan, [demikianlah] Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia agar mereka mungkin merenungkan diri kembali [akan kebenaran].37


37 Lihat catatan no. 33 pada klausa pertama Surah Az-Zumar [39]: 27.


Surah Ibrahim Ayat 26

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

wa maṡalu kalimatin khabīṡating kasyajaratin khabīṡatinijtuṡṡat min fauqil-arḍi mā lahā ming qarār

26. Dan, perumpamaan perkataan yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut [dari akarnya] ke atas permukaan bumi;* sedikit pun tidak dapat tegak.38


* “Yang telah dicabut [dari akarnya] ke atas permukaan bumi” adalah terjemahan Asad untuk ijtutstsat min fauq al-ardhi, yang secara harfiah berarti “dicerabut dari permukaan bumi”.

38 Lit., “sedikit pun tidak dapat bertahan (qarar)”: yakni, “perkataan yang buruk” (lihat catatan no. 36) dampaknya berlangsung sebentar saja, sekuat apa pun dampak awalnya pada pemikiran manusia yang menjadi korbannya.


Surah Ibrahim Ayat 27

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

yuṡabbitullāhullażīna āmanụ bil-qauliṡ-ṡābiti fil-ḥayātid-dun-yā wa fil-ākhirah, wa yuḍillullāhuẓ-ẓālimīn, wa yaf’alullāhu mā yasyā`

27. [Maka,] Allah menganugerahkan keteguhan kepada orang-orang yang telah meraih iman melalui kata yang kukuh kebenarannya39 dalam kehidupan dunia ini dan dalam kehidupan akhirat; tetapi orang-orang zalim, Allah biarkan tersesat:40 sebab, Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki.


39 Lit., “teguh” (tsabit). Istilah qaul—sama dengan istilah kalimah (lihat catatan no. 36)—di luar makna utamanya yaitu “perkataan” atau “ucapan”, juga menunjukkan segala sesuatu yang dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan pendapat atau gagasan, yaitu “konsep”, “ajaran”, atau “penegasan keimanan”, dan lain-lain. Dalam konteks ini, istilah tersebut mengungkapkan konsep bahwa “tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya”: ini merupakan penafsiran yang diberikan oleh Nabi sendiri terhadap frasa di atas, sebagaimana dikutip oleh Al-Bukhari dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Barra’ ibn ‘Azib (Kitab Al-Tafsir), dan oleh para ahli hadis yang lain, termasuk Imam Muslim berdasarkan riwayat Syu’bah. Kata sifat tsabit berarti “keteguhan”—yaitu kebenaran yang tidak tergoyahkan—dari “kata” (atau “konsep”) yang disifati. Jadi, ini berhubungan dengan perumpamaan “perkataan yang baik” dan “pohon yang baik” yang diungkapkan sebelumnya.

40 Lihat catatan no. 4 pada ayat 4 surah ini.


Surah Ibrahim Ayat 28

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ

a lam tara ilallażīna baddalụ ni’matallāhi kufraw wa aḥallụ qaumahum dāral-bawār

28. TIDAKKAH ENGKAU perhatikan orang-orang yang lebih memilih pengingkaran kebenaran daripada nikmat-nikmat Allah,41 dan [dengan demikian] menjadikan kaumnya jatuh ke tempat kediaman yang penuh kesengsaraan


41 Lit., “orang yang mempertukarkan nikmat-nikmat Allah dengan pengingkaran terhadap kebenaran”. Ungkapan “nikmat-ntkmat Allah (ni’mah)” jelas-jelas di sini mengacu pada pesan-pesan yang diwahyukan melalui rasul-rasul-Nya.


Surah Ibrahim Ayat 29

جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا ۖ وَبِئْسَ الْقَرَارُ

jahannam, yaṣlaunahā, wa bi`sal-qarār

29. —neraka—yang mereka [sendiri] akan harus menanggungnya?42 Dan, betapa buruknya keadaan itu untuk ditempati!


42 Jelaslah bahwa ayat ini berbicara secara tidak langsung mengenai hubungan antara tokoh-tokoh pemikiran yang sombong dan pengikut-pengikut mereka yang lemah yang dibicarakan dalam ayat 21.


Surah Ibrahim Ayat 30

وَجَعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِهِ ۗ قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ

wa ja’alụ lillāhi andādal liyuḍillụ ‘an sabīlih, qul tamatta’ụ fa inna maṣīrakum ilan-nār

30. Sebab, mereka menyatakan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang dapat menandingi Allah,43 sehingga mereka menjadi tersesat dari jalan-Nya.

Katakanlah: “Bersenang-senanglah kalian [di dunia ini], tetapi sungguh, neraka akan menjadi akhir perjalanan kalian!”


43 Lit., “mereka memberi tandingan-tandingan (andad) kepada Allah”. Untuk penjelasan mengenai parafrasa saya terhadap kalimat ini (yang sepenuhnya dibenarkan oleh Al-Razi), lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 13.

Partikel li yang diimbuhkan pada verba berikutnya, Ii yudhillu, tidak menunjukkan maksud, tetapi menunjukkan apa yang disebut sebagai lam al-‘aqibah, yakni “[huruf] lam yang menunjukkan suatu akibat” atau “hasil” (Al-Razi), dan dalam kasus ini lebih tepat diterjemahkan menjadi “sehingga” {and so}.


Surah Ibrahim Ayat 31

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

qul li’ibādiyallażīna āmanụ yuqīmuṣ-ṣalāta wa yunfiqụ mimmā razaqnāhum sirraw wa ‘alāniyatam ming qabli ay ya`tiya yaumul lā bai’un fīhi wa lā khilāl

31. [Dan] katakanlah kepada hamba-hamba-Ku [itu] yang telah meraih iman bahwa hendaklah mereka berteguh dalam mendirikan shalat dan menafkahkan [di jalan Kami] sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka,44 secara diam-diam atau terang-terangan, sebelum datang suatu Hari ketika tiada lagi tawar-menawar dan persahabatan.45


44 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 4.

45 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 254. Menurut filolog, Abu ‘Ubaidah, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi, ungkapan bai’ (“menjual”, atau “membeli”, atau “menawar”) di sini menunjukkan arti metaforis “[memberi dan menerima] tebusan” yang, sebagaimana berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran, tidak akan diterima pada Hari Pengadilan (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 91 dan catatannya no. 71, juga Surah Al-Ma’idah [5]: 36, Surah Yunus [10]: 54, Surah Ar- Ra’d [13]: 18, Surah Az-Zumar [39]: 47, dan Surah Al-Ma’arij [70]: 11-15); demikian pula pengingkaran terhadap khilal, yang dalam pandangan Abu ‘Ubaidah bersinonim dengan mukhalah (“saling pertemanan”)—mengungkapkan mustahilnya “tebusan” melalui syafaat pada Hari Pengadilan, sebab “kini kalian benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali pertama” (Surah Al-An’am [6]: 94).


Surah Ibrahim Ayat 32

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ

allāhullażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa anzala minas-samā`i mā`an fa akhraja bihī minaṡ-ṡamarāti rizqal lakum, wa sakhkhara lakumul-fulka litajriya fil-baḥri bi`amrih, wasakhkhara lakumul-an-hār

32. [Dan, ingatlah bahwa] Allah-lah yang telah menciptakan lelangit dan bumi, dan yang menurunkan air dari langit dan, dengan demikian, mengeluarkan [segala jenis] buah-buahan sebagai rezeki kalian; dan yang telah menjadikan bahtera-bahtera tunduk kepada kalian agar mereka dapat berlayar di lautan dengan kehendak-Nya; dan telah menjadikan sungai-sungai tunduk [pada hukum-hukum-Nya sehingga mereka membawa manfaat] bagi kalian;


Surah Ibrahim Ayat 33

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

wa sakhkhara lakumusy-syamsa wal-qamara dā`ibaīn, wa sakhkhara lakumul-laila wan-nahār

33. dan telah menjadikan matahari dan bulan, keduanya terus-menerus berada di jalur edarnya, tunduk [pada hukum-hukum-Nya sehingga mereka membawa manfaat] bagi kalian; dan telah menjadikan malam dan siang tunduk [pada hukum-hukum-Nya sehingga mereka membawa manfaat] bagi kalian.46


46 Hampir semua mufasir klasik sependapat bahwa tindakan Allah yang “menundukkan” fenomena alam bagi manusia adalah suatu metafora (majaz) terhadap tindakan-Nya yang membuat manusia mampu mengambil manfaat yang terus-menerus dari alam: itulah alasan saya menambahkan sisipan-sisipan penjelas di atas. Dalam pengertian yang sama, siang dan malam dikatakan sebagai “dijadikan untuk kalian” (atau “untuk mereka”) dalam Surah Yunus [10]: 67, Surah An-Naml [27]: 86, atau Surah Ghafir [40]: 61.


Surah Ibrahim Ayat 34

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

wa ātākum ming kulli mā sa`altumụh, wa in ta’uddụ ni’matallāhi lā tuḥṣụhā, innal-insāna laẓalụmung kaffār

34. Dan, Dia [selalu] memberikan kepada kalian sesuatu dari yang kalian mohonkan kepada-Nya;47 dan seandainya kalian mencoba menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan pernah mampu menghitungnya.

[Dan, sungguhpun begitu,] perhatikanlah, manusia benar-benar berkukuh dalam melakukan kezaliman, sangat tak bersyukur!


47 Yakni, Allah memenuhi keinginan setiap manusia, sepanjang pengetahuan hikmah-Nya yang tidak terduga itu memandang bahwa pemenuhan keinginan tersebut pada akhirnya bermanfaat bagi manusia yang bersangkutan: inilah makna kata depan min (lit., “dari”, tetapi dalam konteks ini bermakna “sesuatu dari”) yang mendahului frasa “yang kalian mohonkan kepada-Nya”.


Surah Ibrahim Ayat 35

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

wa iż qāla ibrāhīmu rabbij’al hāżal-balada āminaw wajnubnī wa baniyya an na’budal-aṣnām

35. DAN [ingatlah suatu waktu], ketika Ibrahim berkata [demikian],48 “Wahai, Pemeliharaku! Jadikanlah negeri ini aman49 dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala50


48 Keseluruhan rangkaian ayat ini (ayat 35-41)—yang darinya nama surah ini diambil—merupakan suatu peringatan yang disisipkan (dalam bentuk doa Ibrahim) tentang satu-satunya jalan kebajikan, dalam pengertian terdalam dari kata ini, yang terbuka bagi manusia: yakni, pengakuan terhadap keberadaan, keesaan, dan keunikan Allah, dan karena itu, suatu penolakan terhadap semua kepercayaan pada “kekuatan-kekuatan lain” yang diduga ada bersama-Nya (bdk. ayat 30). Karena doa ini menyiratkan suatu kesadaran akan, dan rasa syukur terhadap, karunia Allah yang tak terbatas, doa ini berkaitan secara langsung dengan ayat 34 sebelumnya dan ayat 42 berikutnya.

49 Yakni, negeri tempat Ka’bah berada (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 102) dan, lebih spesifik, Makkah.

50 Istilah “berhala-berhala” (asnam, bentuk tunggalnya: sanam) diterapkan tidak hanya terhadap representasi-representasi konkret dan aktual dari “sembahan-sembahan” batil: sebab, syirk—yakni, penisbahan sifat-sifat atau kekuatan-kekuatan Ilahi terhadap sesuatu atau seseorang di samping Allah—mungkin juga, sebagaimana ditunjukkan Al-Razi, berupa pengabdian yang penuh ketaatan terhadap segala bentuk “perantara-perantara kausatif dan sarana-sarana lahiriah untuk mencapai suatu tujuan”—suatu acuan yang jelas terhadap kekayaan, kekuasaan, keberuntungan, pertolongan atau pengabaian masyarakat, dan sebagainya—”sedangkan keimanan sejati akan keesaan dan keunikan Allah (al-tauhid al-mahdh) berarti melepaskan diri dari segala keterikatan batin terhadap perantara-perantara kausatif [seperti ini], dan yakin bahwa tidak ada kekuatan memerintah yang sejati yang terlepas dari (kuasa) Allah”.


Surah Ibrahim Ayat 36

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

rabbi innahunna aḍlalna kaṡīram minan-nās, fa man tabi’anī fa innahụ minnī, wa man ‘aṣānī fa innaka gafụrur raḥīm

36. sebab, sungguh, wahai Pemeliharaku, [sesembahan-sesemban batil] ini telah menyesatkan banyak manusia!

Karena itu, [hanya] orang yang mengikutiku [dalam kepercayaanku inilah] yang benar-benar golonganku;51 dan adapun orang yang mendurhakai aku—sungguh, Engkau Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!


51 Jadi, Ibrahim menerima putusan Allah (dalam Surah Al-Baqarah [2]: 124) berkenaan dengan para pendosa di antara keturunannya.


Surah Ibrahim Ayat 37

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin gairi żī zar’in ‘inda baitikal-muḥarrami rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj’al af`idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuq-hum minaṡ-ṡamarāti la’allahum yasykurụn

37. “Wahai, Pemelihara kami! Perhatikanlah, aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman,52 di dekat rumah-Mu yang disucikan, agar mereka, wahai Pemelihara kami, dapat mengabdikan diri dalam shalat: maka, jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka,53 dan berikanlah kepada mereka rezeki yang berlimpah,* agar mereka memiliki alasan untuk bersyukur.


52 Yakni, lembah gurun Makkah yang sempit, yang dikelilingi bukit tandus dan berbatu. Dengan “sebagian keturunanku”, Ibrahim mengacu pada Isma’il dan keturunannya yang menetap di Makkah.

53 Yakni, agar ingin mengunjungi mereka—ketika berhaji ke Makkah—dan, dengan demikian, membantu mereka agar tetap tinggal di tanah suci, tetapi tandus itu. Frasa af’idah min al-nas juga berarti “hati sejumlah manusia”, yang dalam hal ini dapat dianggap  menunjuk pada “hati orang-orang beriman” (Al-Baghawi, Al-Razi, Ibn Katsir).

* {Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan bertanda “*” pada ayat 126.—peny.}


Surah Ibrahim Ayat 38

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

rabbanā innaka ta’lamu mā nukhfī wa mā nu’lin, wa mā yakhfā ‘alallāhi min syai`in fil-arḍi wa lā fis-samā`

38. “Wahai, Pemelihara kami! Engkau Maha Mengetahui semua yang kami sembunyikan [di dalam hati kami] serta semua yang kami nyatakan: sebab, tiada sesuatu pun, di bumi ataupun di langit, yang tersembunyi bagi Allah.


Surah Ibrahim Ayat 39

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

al-ḥamdu lillāhillażī wahaba lī ‘alal-kibari ismā’īla wa is-ḥāq, inna rabbī lasamī’ud-du’ā`

39. “Segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku Isma’il dan Ishaq di usia lanjutku! Perhatikanlah, Pemeliharaku benar-benar mendengar segala doa:


Surah Ibrahim Ayat 40

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

rabbij’alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī rabbanā wa taqabbal du’ā`

40. [karena itu,] wahai Pemeliharaku, jadikanlah aku dan [sebagian] anak cucuku tetap teguh mendirikan shalat!54

“Dan, wahai Pemelihara kami, perkenankanlah doaku ini: (yaitu)


54 Yakni, secara metonimia, “untuk tetap mengabdi sepenuhnya kepada-Mu”. Partikel min (“[sebagian] dari”) yang ada di depan kata dzurriyyati (“anak cucuku”) jelas-jelas merupakan suatu acuan terhadap Surah Al-Baqarah [2]: 124 yang menyebutkan bahwa ketika Allah menjawab pertanyaan Ibrahim mengenai keturunannya, Dia berfirman, “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.” Jadi, Ibrahim diberi pengertian bahwa tidak semua keturunannya akan menjadi orang saleh, dan bahwa tidak ada yang dapat mengklaim sebagai “umat pilihan” hanya karena dia merupakan keturunan rasul: suatu pernyataan yang berkenaan tidak hanya dengan orang-orang Israel, yang merupakan keturunan Ibrahim melalui Ishaq, tetapi juga berkenaan dengan orang-orang Arab, yang merupakan keturunan Ibrahim melalui Isma’il, yang melahirkan suku Quraisy. Karena itu, secara tersirat, ia bahkan mengacu pula pada orang-orang yang tidak saleh di antara keturunan Nabi Terakhir, Muhammad Saw., yang termasuk suku Quraisy.


Surah Ibrahim Ayat 41

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

rabbanagfir lī wa liwālidayya wa lil-mu`minīna yauma yaqụmul-ḥisāb

41. curahkanlah ampunan-Mu kepadaku, ibu bapakku, dan semua orang yang beriman, pada Hari ketika perhitungan [terakhir] tiba!”


Surah Ibrahim Ayat 42

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

wa lā taḥsabannallāha gāfilan ‘ammā ya’maluẓ-ẓālimụn, innamā yu`akhkhiruhum liyaumin tasykhaṣu fīhil-abṣār

42. DAN, JANGANLAH mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim: Dia hanya memberi penangguhan kepada mereka hingga Hari ketika mata mereka terbelalak ketakutan,55


55 Ayat ini berkaitan dengan kalimat terakhir dalam doa Ibrahim, yakni “pada Hari ketika perhitungan [terakhir] datang”. Orang-orang zalim yang disebutkan di sini adalah mereka yang memercayai “bahwa ada kekuatan-kekuatan lain yang dapat menandingi Allah” (bdk. ayat 30) dan, dengan demikian, melakukan dosa syirik yang tidak terampuni. Mengenai “penangguhan” yang diberikan kepada mereka, lihat klausa pertama dari Surah Hud [11]: 20 dan catatannya (no. 39).


Surah Ibrahim Ayat 43

مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ ۖ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءٌ

muhṭi’īna muqni’ī ru`ụsihim lā yartaddu ilaihim ṭarfuhum, wa af`idatuhum hawā`

43. sementara mereka akan berlarian ke sana kemari kebingungan, dengan mengangkat kepala mereka [seraya memohon], tidak dapat mengalihkan pandangan dari apa yang akan mereka lihat,56 dan hati mereka luar biasa hampa.


56 Lit., “pandangan mereka tidak akan kembali kepada mereka”.


Surah Ibrahim Ayat 44

وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ

wa anżirin-nāsa yauma ya`tīhimul-‘ażābu fa yaqụlullażīna ẓalamụ rabbanā akhkhirnā ilā ajaling qarībin nujib da’wataka wa nattabi’ir-rusul, a wa lam takụnū aqsamtum ming qablu mā lakum min zawāl

44. Karena itu, peringatkanlah manusia akan Hari ketika penderitaan ini mungkin menimpa mereka, dan ketika orang-orang yang melakukan kezaliman [dalam kehidupan mereka] akan berseru, “Wahai, Pemelihara kami! Berikanlah kepada kami penangguhan sebentar saja agar kami dapat mematuhi seruan-Mu dan mengikuti para rasul!”57

[Akan tetapi, Allah akan menjawab,] “Kenapa?—bukankah dahulu kalian telah berkali-kali bersumpah bahwa tiada kebangkitan dan hukuman apa pun yang menanti kalian?58


57 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 27.

58 Lit., “bahwa tidak akan ada penurunan (atau ‘pemindahan’) apa pun bagi kalian”—yakni, kehidupan dunia tidak akan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat, yang disertai dengan balasan-hukuman terhadap dosa-dosa oleh Allah: mengacu pada penolakan banyak kaum, yang sering disebutkan dalam Al-Quran, untuk beriman pada Hari Akhir dan pada keputusan akhir Allah.


Surah Ibrahim Ayat 45

وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ

wa sakantum fī masākinillażīna ẓalamū anfusahum wa tabayyana lakum kaifa fa’alnā bihim wa ḍarabnā lakumul-amṡāl

45. Dan bahkan, kalian telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri [sebelum masa kalian],59 dan telah nyata bagi kalian bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka: sebab, Kami telah memberikan kepada kalian banyak perumpamaan [tentang dosa, kebangkitan, dan hukuman Ilahi].”60


59 Yakni, “kalian hidup di bumi yang sama dan dalam lingkungan manusia yang pada dasarnya sama pula, sebagaimana generasi-generasi terdahulu yang melanggar seluruh nilai-nilai etis dan, dengan demikian, mengakibatkan kerusakan diri mereka sendiri: karenanya, nasib tragis mereka itu seharusnya menjadi peringatan bagi kalian”.

60 Lit., “perumpamaan-perumpamaan”, yakni perumpamaan-perumpamaan di dalam Al-Quran yang menerangkan gagasan tentang kebangkitan dan pengadilan akhir Allah (Al-Razi). Lihat juga catatan no. 37.


Surah Ibrahim Ayat 46

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

wa qad makarụ makrahum wa ‘indallāhi makruhum, wa ing kāna makruhum litazụla min-hul-jibāl

46. Dan, [hukurnan ini akan menimpa semua orang zalim karena] mereka merekayasa rekaan-rekaan batil mereka itu61—dan, semua rekaan batil mereka ada dalam pengetahuan Allah.

[Dan, para penghujat itu tidak akan pernah menang melawan kebenaran—tidak] sekalipun jika rekaan-rekaan batil mereka sedemikian [baik dan kuatnya] sehingga gunung-gunung dapat berpindah karenanya.


61 Lit., “mereka merekayasa rekayasa mereka”, yakni kepercayaan hina mereka pada adanya “kekuatan-kekuatan Ilahi” yang lain di samping Allah: inilah penafsiran yang dikemukakan Al-Thabari menjelang akhir penafsirannya yang panjang mengenai ayat ini. Mengenai penerjemahan saya terhadap istilah makr, dalam konteks ini, menjadi false imagery (“rekaan-rekaan batil”), lihat Surah Ar-Ra’d [13], catatan no. 62.


Surah Ibrahim Ayat 47

فَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ مُخْلِفَ وَعْدِهِ رُسُلَهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

fa lā taḥsabannallāha mukhlifa wa’dihī rusulah, innallāha ‘azīzun żuntiqām

47. KARENA ITU, jangan mengira bahwa Allah akan menyalahi janji yang telah Dia berikan kepada rasul-rasul-Nya:62 sungguh, Allah Mahaperkasa, Sang Pembalas Kejahatan!


62 Yakni, janji tentang kebangkitan dan pembalasan pada Hari Pengadilan. Ini secara khusus berhubungan dengan “penangguhan” yang kadang kala diberikan kepada orang-orang zalim selama hidup mereka (bdk. ayat 42).


Surah Ibrahim Ayat 48

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

yauma tubaddalul-arḍu gairal-arḍi was-samāwātu wa barazụ lillāhil-wāḥidil-qahhār

48. [Janji-Nya akan terlaksana] pada Hari ketika bumi akan diubah menjadi bumi yang lain, demikian pula lelangit,63 dan ketika [semua manusia] akan berkumpul di hadapan Allah, yang memegang kekuasaan mutlak atas segala yang ada.


63 Ini mengacu pada perubahan total seluruh fenomena alam dan seluruh jagat raya yang terjadi pada Hari Akhir, (bdk. Surah TaHa [20]: 105-107 dan catatannya no. 90). Karena perubahan tersebut akan melampaui pengalaman apa pun yang pernah dialami manusia atau apa pun yang dapat dipahami pikiran manusia, seluruh gambaran Al-Quran—pada dua ayat berikutnya, sebagaimana pada banyak tempat lain—mengenai apa yang akan terjadi pada Hari Akhir, harus diungkapkan melalui istilah-istilah alegoris: dan hal ini juga berlaku terhadap semua gambaran tentang keadaan manusia di akhirat, baik keadaan yang baik maupun yang buruk. (Bdk. catatan no. 37, sehubungan dengan istilah “perumpamaan” yang sering digunakan dalam Al-Quran.)


Surah Ibrahim Ayat 49

وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ

wa taral-mujrimīna yauma`iżim muqarranīna fil-aṣfād

49. Karena, pada Hari itu, engkau akan melihat semua orang yang tenggelam dalam dosa diikat bersama-sama dalam belenggu,64


64 Dalam tafsirnya atas rangkaian ayat ini, Al-Razi mengungkapkan pandangan bahwa pernyataan yang mengacu pada para pendosa yang “diikat bersama-sama dalam belenggu-belenggu” adalah suatu metafora dari perbuatan dan kecenderungan buruk mereka sendiri, dan sebagai konsekuensinya, juga sebagai metafora dari keputusasaan total yang akan menimpa semua pendosa itu di alam baka. Menurut saya, hal ini mungkin juga mengacu pada reaksi berantai yang pasti akan ditimbulkan oleh setiap perbuatan jahat di dunia; suatu kejahatan pasti akan menimbulkan kejahatan lainnya.


Surah Ibrahim Ayat 50

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَىٰ وُجُوهَهُمُ النَّارُ

sarābīluhum ming qaṭirāniw wa tagsyā wujụhahumun-nār

50. pakaian mereka terbuat dari ter hitam, dengan api menutupi wajah mereka.65


65 Menurut Al-Razi, “pakaian-pakaian yang terbuat dari terhitam (qathiran)” dan “api yang menutupi wajah mereka” adalah metafora bagi penderitaan yang tidak bisa digambarkan dan ketakutan yang mengerikan yang akan menyelimuti jiwa-jiwa para pendosa itu pada Hari Pengadilan. (Lihat juga Surah Al-Muzzammil [73], catatan no. 7.)


Surah Ibrahim Ayat 51

لِيَجْزِيَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

liyajziyallāhu kulla nafsim mā kasabat, innallāha sarī’ul-ḥisāb

51. [Dan, semua akan diadili pada Hari itu] agar Allah dapat membalasi tiap-tiap manusia terhadap apa yang telah dia usahakan [di dunia]: sungguh, Allah amat cepat dalam membuat perhitungan!


Surah Ibrahim Ayat 52

هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

hāżā balāgul lin-nāsi wa liyunżarụ bihī wa liya’lamū annamā huwa ilāhuw wāḥiduw wa liyażżakkara ulul-albāb

52. INI ADALAH PESAN bagi semua manusia. Karena itu, hendaklah mereka diberi peringatan dengannya, dan hendaklah mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa; dan hendaklah orang-orang yang dianugerahi pengetahuan merenungkannya!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top