65. At-Talaq (Perceraian) – الطلاق

Surat At-Talaq dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat At-Talaq ( الطلاق ) merupakan surat ke 65 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 12 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah At-Talaq tergolong Surat Madaniyah.

Keseluruhan isi surah ini (yang diwahyukan sekitar pertengahan periode Madinah) terpusat pada pembicaraan mengenai satu aspek khusus dalam masalah perceraian, yaitu ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan masa “tunggu” (iddah) yang harus dijalani oleh perempuan yang diceraikan oleh suaminya sebelum tali perkawinan itu pada akhirnya terputus dan mereka diperkenankan untuk menikah kembali—yang dengan demikian memperluas dan menguraikan lebih terperinci ayat 228-233 Surah Al-Baqarah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah At-Talaq Ayat 1

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرًا

yā ayyuhan-nabiyyu iżā ṭallaqtumun-nisā`a fa ṭalliqụhunna li’iddatihinna wa aḥṣul-‘iddah, wattaqullāha rabbakum, lā tukhrijụhunna mim buyụtihinna wa lā yakhrujna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa tilka ḥudụdullāh, wa may yata’adda ḥudụdallāhi fa qad ẓalama nafsah, lā tadrī la’allallāha yuḥdiṡu ba’da żālika amrā

1. WAHAI, NABI! Apabila kalian1 [bermaksud untuk] menceraikan perempuan, ceraikanlah mereka dengan mempertimbangkan masa tunggu yang ditetapkan bagi mereka,2 dan hitunglah masa tunggu itu [dengan seksama], dan sadarlah akan Allah, Pemelihara kalian.

Jangan usir mereka3 dari rumah mereka; dan jangan pula [menyebabkan] mereka pergi,4 kecuali kalau nyata-nyata mereka bersalah melakukan perbuatan dursila.5

Itulah batas-batas yang ditetapkan oleh Allah—dan, siapa yang melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh Allah, sungguh dia telah menzalimi dirinya sendiri: [sebab, wahai manusia, kendati] kalian tidak mengetahuinya, boleh jadi sesudah [perpisahan pertama] itu Allah menyebabkan munculnya sesuatu yang baru.6


1 Bentuk jamak “kalian” menunjukkan bahwa ayat ini ditujukan untuk seluruh umat.

2 Lihat Surah Al-Baqarah [2]: 228 dan catatan-catatannya yang terkait, khususnya catatan no. 215.

Kebanyakan ahli fiqih ternama berpandangan bahwa tiga kali pernyataan talak atau cerai, yang menjadi syarat bahwa suatu perceraian telah final dan tak dapat dibatalkan lagi (bdk. paragraf pertama Surah Al-Baqarah [2]: 229), harus dijatuhkan satu per satu, yakni disela dengan masa tunggu selama tiga bulan, supaya dapat memberi waktu bagi suami untuk mempertimbangkan kembali niatnya dan, dengan demikian, mencegah tindakan tergesa-gesa yang mungkin akan disesali di kemudian hari. Ketentuan ini senada dengan ucapan Nabi dalam hadis sahih, “Dalam pandangan Allah, hal yang halal tetapi paling dibenci (abghadh al-halali) adalah perceraian” (Abu Dawud, bersumber dari ‘Abd Allah ibn ‘Umar). Dengan kata lain, perceraian hampir tidak diizinkan dan tidak boleh dilakukan, kecuali nyata-nyata terbukti bahwa tak ada harapan sama sekali untuk dapat menyelamatkan pernikahan tersebut.

3 Yakni, selama masa tunggu (iddah). Seperti ditunjukkan dalam ayat 6, selama masa tersebut, suami sepenuhnya bertanggung jawab untuk menafkahi sang istri yang dia ceraikan sesuai dengan standar kehidupan yang dijalani selama masa perkawinan mereka.

4 Misalnya, akibat kelalaian suami untuk menafkahi mereka. (Perintah khusus ini bukan menunjukkan larangan bagi perempuan yang diceraikan untuk meninggalkan rumahnya atas kehendaknya sendiri.)

5 Hal ini menyiratkan bahwa dalam kasus semacam itu, sang perempuan, menurut hukum, boleh diusir dari rumah yang dia tempati sebelumnya bersama sang suami. Mengenai istilah fahisyah (“perbuatan dursila, tercela, imoral”), lihat Surah An-Nisa’ [4], catatan no. 14.

6 Menurut Ibn ‘Abbas (seperti dikutip oleh Al-Razi) dan beberapa mufasir lain (lihat Ibn Katsir), penggalan ayat ini berbicara secara tidak langsung tentang kemungkinan untuk rujuk dan dimulainya kembali hubungan pernikahan sebelum perceraian menjadi final (lihat Surah Al-Baqarah [2], bagian kedua dari ayat 228 dan alinea pertama ayat 229).


Surah At-Talaq Ayat 2

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

fa iżā balagna ajalahunna fa amsikụhunna bima’rụfin au fāriqụhunna bima’rụfiw wa asy-hidụ żawai ‘adlim mingkum wa aqīmusy-syahādata lillāh, żālikum yụ’aẓu bihī mang kāna yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, wa may yattaqillāha yaj’al lahụ makhrajā

2. Maka, apabila mereka telah mendekati akhir masa tunggu mereka, pertahankanlah mereka dengan cara yang baik atau berpisahlah dengan cara yang baik. Dan, hendaknya dua orang yang [dikenal] adil dari kalangan masyarakat kalian sendiri7 menyaksikan [apa yang telah kalian putuskan]; dan hendaklah kalian sendiri memberi kesaksian yang benar di hadapan Allah:8 demikianlah yang diajarkan kepada seluruh orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Dan, kepada siapa pun yang sadar akan Allah, Dia [senantiasa] memberi jalan keluar [dari ketidakbahagiaan],


7 Lit., “dari diri kalian sendiri”: yakni, orang-orang yang cukup memahami kondisi kasus tersebut.

8 Secara tersirat, bahwa keputusan itu dibuat tidak secara sembrono.


Surah At-Talaq Ayat 3

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

wa yarzuq-hu min ḥaiṡu lā yaḥtasib, wa may yatawakkal ‘alallāhi fa huwa ḥasbuh, innallāha bāligu amrih, qad ja’alallāhu likulli syai`ing qadrā

3. dan memberinya rezeki dengan cara yang melampaui segala dugaan;9 dan bagi siapa pun yang bersandar penuh percaya kepada Allah (bertawakal), Dia [saja] cukuplah.

Sungguh, Allah selalu dapat mencapai maksud-Nya: [dan] sungguh, Allah telah menetapkan [rentang masa dan] ukuran tiap-tiap sesuatu.


9 Lit., “dari arah yang tidak dia duga”. Perlu dicatat bahwa kata ganti relatif man (“siapa pun” atau “setiap orang yang”)—walaupun dari segi tata bahasa mensyaratkan penggunaan bentuk maskulin dalam verba maupun nomina yang berhubungan dengannya—berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, sebagaimana dibuktikan dalam ayat-ayat Al-Quran yang tak terhitung jumlahnya: karena itu, pasase ini, termasuk pula kalimat selanjutnya, harus dipahami sebagai mengacu baik kepada perempuan maupun kepada laki-laki yang tengah dibicarakan; dan hal yang sama juga berlaku untuk ayat 5 dan 11.


Surah At-Talaq Ayat 4

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

wal-lā`i ya`isna minal-maḥīḍi min nisā`ikum inirtabtum fa ‘iddatuhunna ṡalāṡatu asy-huriw wal-lā`i lam yahiḍn, wa ulātul-aḥmāli ajaluhunna ay yaḍa’na ḥamlahunn, wa may yattaqillāha yaj’al lahụ min amrihī yusrā

4. Adapun mengenai perempuan-perempuan kalian yang tidak haid lagi, ataupun perempuan-perempuan yang tidak mengalami haid,10 masa tunggu (iddah) mereka—jika kalian ragu [tentangnya]—adalah tiga bulan [berdasarkan penanggalan]; dan adapun bagi perempuan-perempuan yang hamil, akhir masa tunggu mereka ialah ketika mereka melahirkan kandungannya.

Dan, bagi siapa pun yang sadar akan Allah, niscaya Dia menjadikan orang itu mudah untuk mematuhi perintah-Nya:11


10 Yakni, untuk alasan fisiologis apa pun.

11 Lit., “Dia memberi kemudahan dari keadaannya”—yakni, memudahkan keadaannya: ini menyiratkan bahwa kesadaran akan Allah (ketakwaan) membuat orang-orang Mukmin mudah menerima apa pun yang ditetapkan oleh Allah dengan senang hati.


Surah At-Talaq Ayat 5

ذَٰلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

żālika amrullāhi anzalahū ilaikum, wa may yattaqillāha yukaffir ‘an-hu sayyi`ātihī wa yu’ẓim lahū ajrā

5. [sebab,] semua ini adalah perintah Allah yang telah Dia turunkan kepada kalian. Dan, bagi siapa pun yang sadar akan Allah, niscaya Dia akan memaafkan [sebagian] kesalahan-kesalahannya dan akan menganugerahinya pahala yang berlipat ganda.


Surah At-Talaq Ayat 6

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَىٰ

askinụhunna min ḥaiṡu sakantum miw wujdikum wa lā tuḍārrụhunna lituḍayyiqụ ‘alaihinn, wa ing kunna ulāti ḥamlin fa anfiqụ ‘alaihinna ḥattā yaḍa’na ḥamlahunn, fa in arḍa’na lakum fa ātụhunna ujụrahunn, wa`tamirụ bainakum bima’rụf, wa in ta’āsartum fa saturḍi’u lahū ukhrā

6. [Karena itu,] biarkanlah perempuan-perempuan itu [yang sedang menjalani masa tunggu] hidup sebagaimana kalian hidup12 sesuai dengan kemampuan yang kalian miliki; dan janganlah mempersulit mereka dengan tujuan untuk membuat hidup mereka sengsara. Dan, jika kebetulan mereka sedang hamil, berilah nafkah kepada mereka hingga mereka bersalin; dan jika mereka menyusui anak-anak kalian [setelah perceraian benar-benar terjadi], berilah mereka imbalan [yang pantas]; dan saling bermusyawarahlah satu sama lain dengan cara yang baik [tentang masa depan anak itu]. Dan, jika kalian berdua merasa kesulitan [bahwa sang ibu harus menyusui sang anak],13 biarlah perempuan lain menyusui sang anak untuk dia [yang telah menjadi bapak dari anak itu].14


12 Lit., “biarkanlah mereka tinggal di tempat kalian tinggal”—yakni, secara majasi, “biarkanlah mereka menikmati standar kehidupan yang sama dengan kalian”.

13 Misalnya, karena alasan kesehatan, atau karena perempuan itu ingin menikah lagi, dan sebagainya.

14 Yakni, dengan biaya yang ditanggung oleh sang bapak: lihat Surah Al-Baqarah [2]: 233 dan catatan no. 219 dan no. 220 yang terkait.


Surah At-Talaq Ayat 7

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

liyunfiq żụ sa’atim min sa’atih, wa mang qudira ‘alaihi rizquhụ falyunfiq mimmā ātāhullāh, lā yukallifullāhu nafsan illā mā ātāhā, sayaj’alullāhu ba’da ‘usriy yusrā

7. [Dalam semua hal itu,] hendaklah orang yang memiliki harta yang banyak memberi nafkah sesuai dengan15 kekayaannya itu; dan orang yang mempunyai harta yang terbatas, memberi nafkah sesuai dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya: Allah tidak membebani seorang manusia melebihi apa yang telah Dia berikan kepadanya—[dan mungkin saja] setelah kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan.


15 Lit., “dari”.


Surah At-Talaq Ayat 8

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا

wa ka`ayyim ming qaryatin ‘atat ‘an amri rabbihā wa rusulihī fa ḥāsabnāhā ḥisāban syadīdaw wa ‘ażżabnāhā ‘ażāban nukrā

8. DAN, BERAPA BANYAK masyarakat yang telah mendurhakai perintah Pemelihara mereka dan rasul-rasul-Nya!16—kemudian Kami memperhitungkan mereka semua dengan perhitungan yang keras, dan Kami menyebabkan mereka menderita dengan penderitaan yang tak terperi:


16 Ini berhubungan dengan, dan sekaligus menekankan, kenyataan bahwa seluruh ketentuan terdahulu itu ditetapkan oleh Allah.


Surah At-Talaq Ayat 9

فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا

fa żāqat wa bāla amrihā wa kāna ‘āqibatu amrihā khusrā

9. dan, dengan demikian, mereka harus merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka sendiri:17 sebab, [di dunia ini,] akhir dari perbuatan mereka adalah kehancuran,


17 Lihat catatan no. 4 dalam Surah At-Taghabun [64]: 5.


Surah At-Talaq Ayat 10

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا

a’addallāhu lahum ‘ażāban syadīdan fattaqullāha yā ulil-albāb, allażīna āmanụ qad anzalallāhu ilaikum żikrā

10. [sementara] Allah telah menyediakan bagi mereka penderitaan yang [bahkan lebih] berat [dalam kehidupan akhirat].

Karena itu, tetaplah sadar akan Allah, wahai kalian yang dianugerahi dengan pengetahuan yang mendalam—[kalian] yang telah meraih iman!

Allah sungguh telah menurunkan kepada kalian suatu peringatan:


Surah At-Talaq Ayat 11

رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا

rasụlay yatlụ ‘alaikum āyātillāhi mubayyinātil liyukhrijallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wa may yu`mim billāhi wa ya’mal ṣāliḥay yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā abadā, qad aḥsanallāhu lahụ rizqā

11. [Dia telah mengutus] seorang rasul yang menyampaikan kepada kalian pesan-pesan Allah yang terang, supaya Dia dapat membimbing orang-orang yang telah meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan saleh keluar dari pekatnya kegelapan menuju cahaya.

Dan, siapa pun yang beriman kepada Allah dan mengerjakan perbuatan yang baik dan adil, Allah akan memasukkannya ke dalam taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, berkediaman di dalamnya melampaui hitungan waktu: sungguh, suatu pemberian yang baik yang Allah berikan kepadanya.


Surah At-Talaq Ayat 12

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

allāhullażī khalaqa sab’a samāwātiw wa minal-arḍi miṡlahunn, yatanazzalul-amru bainahunna lita’lamū annallāha ‘alā kulli syai`ing qadīruw wa annallāha qad aḥāṭa bikulli syai`in ‘ilmā

12. ALLAH-LAH yang telah menciptakan tujuh langit18 dan, seperti itu pula, [banyak segi dari] bumi. Melalui mereka semua, kehendak19 [penciptaan] Allah mengalir turun, tanpa henti, agar kalian dapat mengetahui bahwa Allah berkuasa untuk menghendaki segala sesuatu, dan bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya.


18 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 20.

19 Lit., “perintah”. Verba yatanazzalu menyiratkan keberulangan dan kesinambungan; kombinasi verba itu dengan nomina al-amr mencerminkan gagasan mengenai tindakan penciptaan yang tiada henti-hentinya dilakukan Allah.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top