37. As-Saffat (Yang Tertata Dalam Baris-Baris) – الصافات

Surat As-Saffat dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat As-Saffat ( الصافات ) merupakan surah ke 37 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 182 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah As-Saffat tergolong Surat Makkiyah.

Semua mufasir sepakat bahwa surah ini seluruhnya diwahyukan di Makkah, kemungkinan besar pada pertengahan periode tersebut.

Seperti surah sebelumnya (YaSin), surah ini pada prinsipnya membahas terjadinya kebangkitan dan, dengan demikian, keniscayaan bahwa semua manusia harus memberikan jawaban di hadapan Allah mengenai apa yang telah mereka lakukan di muka bumi. Karena manusia cenderung berbuat salah (bdk. ayat 71—“kebanyakan orang terdahulu telah tersesat”), manusia selalu membutuhkan petunjuk kenabian: dan ini menjelaskan pengulangan kembali (dalam ayat 75-148) kisah-kisah sebagian nabi terdahulu, disamping penyebutan yang terus-menerus tentang pesan Al-Qur’an itu sendiri, yang berporos pada ajaran bahwa “Tuhan kalian benar-benar Esa” (ayat 4), “melampaui segala definisi yang dapat manusia pikirkan” (ayat 159 dan 180).

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah As-Saffat Ayat 1

وَالصَّافَّاتِ صَفًّا

waṣ-ṣāffāti ṣaffā

1. PERHATIKANLAH [pesan-pesan] ini, yang tertera dalam baris-baris yang berurut,1


1 Tentang partikel penghubung wa (lit., “dan”) yang saya terjemahkan menjadi “Perhatikanlah”, lihat paruh pertama catatan no. 23 pada Surah Al-Muddassir [74]: 32.

Kebanyakan mufasir klasik berasumsi bahwa ayat 1-3 merujuk kepada malaikat—suatu asumsi yang ditolak oleh Abu Muslim Al-Ishfahani (sebagaimana dikutip oleh Al-Razi). Abu Muslim menyatakan bahwa bagian tersebut merujuk kepada manusia-manusia Mukmin sejati. Namun, Al-Razi mengemukakan penafsiran lain (dan, menurut saya, paling meyakinkan) yang menyatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah pesan-pesan (ayat) Al-Quran, yang—dalam ungkapan mufasir ini—”membahas berbagai persoalan, sebagian berbicara tentang bukti keesaan Allah atau bukti tentang kemahatahuan, kemahakuasaan, dan kemahabijaksanaan-Nya; dan sebagian lagi mengemukakan bukti [kebenaran] wahyu kenabian atau kebangkitan; sementara yang lainnya lagi membahas kewajiban-kewajiban manusia dan hukum-hukum [yang terkait dengannya]; dan yang lainnya lagi dicurahkan pada pengajaran prinsip-prinsip moral yang tinggi; dan pesan-pesan ini disusun sesuai dengan suatu sistem yang koheren, yang tidak [membutuhkan lagi] perubahan atau penggantian, sehingga pesan-pesan tersebut menyerupai makhluk-makhluk atau benda-benda yang berdiri ‘dalam baris-baris yang berurut’.”


Surah As-Saffat Ayat 2

فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا

faz-zājirāti zajrā

2. dan yang mengekang [kejahatan] dengan seruan untuk mengekang,


Surah As-Saffat Ayat 3

فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا

fat-tāliyāti żikrā

3. dan yang menyampaikan [ke seluruh dunia] sebuah peringatan (yaitu):


Surah As-Saffat Ayat 4

إِنَّ إِلَٰهَكُمْ لَوَاحِدٌ

inna ilāhakum lawāḥid

4. Sungguh, Tuhan Kalian benar-benar Esa—


Surah As-Saffat Ayat 5

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ

rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa rabbul-masyāriq

5. Pemelihara lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, dan Pemelihara semua titik terbit matahari!2


2 Secara tersirat, “dan (semua titik) terbenamnya” (bdk.Surah Ar-Rahman [55]: 17 dan catatan no. 7 yang terkait). Penekanan pada pelbagai “titik terbitnya matahari” (masyariq) menunjukkan keanekaragaman fenomena ciptaan yang tak ada habis-habisnya jika dibandingkan dengan keesaan dan keunikan Penciptanya. Menurut saya, disebutkannya “titik-titik terbitnya matahari” dan tidak disebutkannya “titik-titik terbenamnya matahari” dalam teks (meskipun tersirat dengan jelas dalam maknanya), mengisyaratkan sifat Al-Quran yang “menerangi” yang dibicarakan dalam ayat 1-3.


Surah As-Saffat Ayat 6

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

innā zayyannas-samā`ad-dun-yā bizīnatinil-kawākib

6. Perhatikanlah, Kami telah menghiasi lelangit yang terdekat dari bumi dengan indahnya bintang-gemintang,


Surah As-Saffat Ayat 7

وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ

wa ḥifẓam ming kulli syaiṭānim mārid

7. dan telah menjadikan lelangit itu terpelihara dari setiap kekuatan setani yang durhaka,3


3 Untuk penjelasan bagian ini, lihat catatan no. 16 dalam Surah Al-Hijr [15]: 17.


Surah As-Saffat Ayat 8

لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ

lā yassamma’ụna ilal-mala`il-a’lā wa yuqżafụna ming kulli jānib

8. [sehingga] mereka [yang ingin mencari-cari tahu hal-hal yang tak dapat diketahui itu] sama sekali tidak dapat mendengar-dengarkan para penghuni langit,4 tetapi akan diusir dari segala penjuru,


4 {host on high}. Maksudnya, kekuatan malaikati yang “pembicaraan”-nya merupakan metonimia bagi keputusan Allah.


Surah As-Saffat Ayat 9

دُحُورًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ

duḥụraw wa lahum ‘ażābuw wāṣib

9. terhalau [dari segala rahmat], dengan penderitaan terus-menerus yang tersedia bagi mereka [dalam kehidupan akhirat];


Surah As-Saffat Ayat 10

إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

illā man khaṭifal-khaṭfata fa atba’ahụ syihābun ṡāqib

10. tetapi, jika ada yang5 benar-benar berhasil mencuri-curi sekilas [pengetahuan semacam itu], dia [selanjutnya] akan dikejar oleh nyala api yang berkilat-kilat.6


5 Lit., “kecuali [atau ‘kecuali bahwa’] orang yang …”, dan seterusnya. Namun, sebagaimana yang ditunjukkan oleh beberapa ahli (misalnya dalam Al-Mughni), partikel illa adakalanya merupakan sinonim kata penghubung wa, yang dalam hal ini berarti “tetapi”.

6 Tentang makna frasa ini, lihat catatan no. 17 dalam Surah Al-Hijr [15]: 18. Setelah menekankan keesaan Allah dalam ayat 4-5, rangkaian ayat 6-10 menunjuk pada fakta bahwa manusia tidak benar-benar mampu menangkap keanekaragaman dan kedalaman alam semesta yang Dia ciptakan. Di sini, kita menemukan gema dari Surah Saba’ [34]: 9—”Lalu, apakah mereka tidak menyadari betapa sedikitnya dari langit dan bumi yang terbentang di hadapan mereka dan betapa banyaknya yang tersembunyi dari mereka?”—dan, dengan demikian, sebuah pendekatan baru yang menyinggung tema kebangkitan, yang dibahas dalam rangkaian ayat di atas dalam bentuk pertanyaan tak langsung.


Surah As-Saffat Ayat 11

فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ

fastaftihim a hum asyaddu khalqan am man khalaqnā, innā khalaqnāhum min ṭīnil lāzib

11. MAKA KINI, tanyakanlah kepada mereka [yang mengingkari kebenaran itu] agar menerangkan kepadamu: Apakah mereka lebih sulit diciptakan daripada semua [keajaiban yang tak terungkap] yang telah Kami ciptakan?—sebab, perhatikanlah, mereka telah Kami ciptakan dari tanah liat yang dicampur dengan air [semata]!7


7 Maksudnya, dari substansi sederhana yang ada dalam bentuk elementernya di dalam dan di permukaan bumi (lihat Surah Al-Mu’minun [23], catatan no. 4)—substansi yang tidak berarti jika dibandingkan dengan kompleksitas “lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya”: oleh sebab itu, kebangkitan individu manusia juga tidak berarti jika dibandingkan dengan penciptaan alam semesta yang memiliki beragam bentuk.


Surah As-Saffat Ayat 12

بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ

bal ‘ajibta wa yaskharụn

12. Tidak, tetapi sementara engkau benar-benar takjub,8 mereka [hanya] mengejek;


8 Yakni, takjub terhadap kekuasaan kreatif Allah serta terhadap keangkuhan buta yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mengingkarinya.


Surah As-Saffat Ayat 13

وَإِذَا ذُكِّرُوا لَا يَذْكُرُونَ

wa iżā żukkirụ lā yażkurụn

13. dan jika mereka diingatkan [akan kebenaran], mereka menolak merenungkannya;


Surah As-Saffat Ayat 14

وَإِذَا رَأَوْا آيَةً يَسْتَسْخِرُونَ

wa iżā ra`au āyatay yastaskhirụn

14. dan jika terpikirkan oleh mereka suatu [pesan] Ilahi, mereka mencemoohkannya


Surah As-Saffat Ayat 15

وَقَالُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa qālū in hāżā illā siḥrum mubīn

15. dan berkata, “Jelaslah, ini tidak lain hanyalah kefasihan yang memikat [yang dibuat oleh manusia biasa]!


Surah As-Saffat Ayat 16

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamab’ụṡụn

16. Apa?—setelah kita mati dan hanya menjadi tanah dan tulang belulang, akankah kita benar-benar dibangkitkan dari kematian?—


Surah As-Saffat Ayat 17

أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ

a wa ābā`unal-awwalụn

17. dan mungkin juga nenek moyang kita yang terdahulu?”


Surah As-Saffat Ayat 18

قُلْ نَعَمْ وَأَنْتُمْ دَاخِرُونَ

qul na’am wa antum dākhirụn

18. Katakanlah: “Memang demikian—lalu kalian akan menjadi amat terhina!”—


Surah As-Saffat Ayat 19

فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَ

fa innamā hiya zajratuw wāḥidatun fa iżā hum yanẓurụn

19. karena [kebangkitan yang mereka cemoohkan] itu akan [menimpa mereka secara tiba-tiba, seolah-olah] berupa satu tarikan hukuman saja—dan kemudian, lihatlah! mereka akan mulai melihat [kebenaran]


Surah As-Saffat Ayat 20

وَقَالُوا يَا وَيْلَنَا هَٰذَا يَوْمُ الدِّينِ

wa qālụ yā wailanā hāżā yaumud-dīn

20. dan akan berkata, “Oh, celakalah kita! Inilah Hari Pengadilan!”


Surah As-Saffat Ayat 21

هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

hāżā yaumul-faṣlillażī kuntum bihī tukażżibụn

21. [Dan, akan dikatakan kepada mereka:] “Inilah Hari Pembeda [antara yang benar dan yang salah9—Hari] yang dahulu biasa kalian dustakan!”


9 Lihat catatan no. 6 dalam Surah Al-Mursalat [77]: 13.


Surah As-Saffat Ayat 22

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ

uḥsyurullażīna ẓalamụ wa azwājahum wa mā kānụ ya’budụn

22. [Maka, Allah akan memerintahkan:] “Kumpulkanlah semua orang yang berkukuh melakukan kezaliman bersama dengan orang-orang lainnya yang sejenis10 dan [dengan] semua yang biasa mereka sembah


10 Menurut hampir semua ahli pada masa Islam paling awal—termasuk ‘Umar ibn Al-Khaththab, ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, Qatadah, Mujahid, Al-Suddi, Sa’id ibn Jubair, Al-Hasan Al-Bashri, dan lain-lain—ungkapan azwaj di sini menunjukkan “orang-orang yang menyerupai satu sama lain [dalam watak dan kecenderungan mereka]” atau “orang-orang dari jenis yang sama”, atau “satu macam”.


Surah As-Saffat Ayat 23

مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ

min dụnillāhi fahdụhum ilā ṣirāṭil-jaḥīm

23. selain Allah, dan giringlah mereka semua ke jalan yang menuju api yang berkobar,


Surah As-Saffat Ayat 24

وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ

waqifụhum innahum mas`ụlụn

24. dan tahanlah mereka [di sana]!”

[Dan kemudian,] perhatikanlah, mereka akan ditanya,


Surah As-Saffat Ayat 25

مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ

mā lakum lā tanāṣarụn

25. “Mengapa kalian [kini] tidak dapat tolong-menolong?”


Surah As-Saffat Ayat 26

بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

bal humul-yauma mustaslimụn

26. Tidak. Akan tetapi, pada Hari itu, mereka akan berserah diri [kepada Allah] dengan sukarela;


Surah As-Saffat Ayat 27

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

wa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

27. akan tetapi, [karena sudah amat terlambat,] mereka akan berpaling kepada satu sama lain seraya saling meminta [agar dibebaskan dari beban dosa masa lalu mereka].11


11 Bdk. pasase yang berlawanan—meskipun secara verbal sama—yang terdapat dalam ayat 50 dan seterusnya dari surah ini. Sementara dalam rangkaian ayat tersebut verba yatasa ‘alun mengandung makna dasarnya, yakni “saling bertanya [tentang sesuatu hal]”, di sini kata tersebut berarti “saling meminta [sesuatu]”—yakni, sebagaimana ditunjukkan oleh lanjutan ayatnya, untuk bertanggung jawab terhadap tindakan menolak kebenaran yang mereka lakukan dahulu.


Surah As-Saffat Ayat 28

قَالُوا إِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ

qālū innakum kuntum ta`tụnanā ‘anil-yamīn

28. Sebagian [dari mereka] akan berkata, “Perhatikanlah, dahulu kalian biasa mendatangi kami [dengan menipu] dari kanan!”12


12 Yakni, “dengan menyatakan bahwa apa yang kalian mintakan kepada kami untuk melakukannya merupakan sesuatu yang benar dan baik”. Frasa idiomatik “mendatangi seseorang dari kanan” kira-kira sama artinya dengan “pura-pura memberikan nasihat yang baik secara moral”, serta “mendatangi seseorang dengan kekuasaan dan pengaruh” (Al-Zamakhsyari).


Surah As-Saffat Ayat 29

قَالُوا بَلْ لَمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

qālụ bal lam takụnụ mu`minīn

29. [Yang] akan dibalas oleh yang lainnya, “Tidak, kalian sendirilah yang telah kehilangan iman!


Surah As-Saffat Ayat 30

وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ

wa mā kāna lanā ‘alaikum min sulṭān, bal kuntum qauman ṭāgīn

30. Lebih dari itu, kami tidak memiliki kekuatan apa pun terhadap kalian: tidak, kalian adalah orang-orang yang penuh dengan kesombongan yang berlebihan!


Surah As-Saffat Ayat 31

فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ

fa ḥaqqa ‘alainā qaulu rabbinā innā lażā`iqụn

31. Akan tetapi kini, kata-kata Pemelihara kita terbukti benar bagi kita [pula]: sungguh, kita pasti akan merasakan [buah dari dosa-dosa kita].


Surah As-Saffat Ayat 32

فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ

fa agwainākum innā kunnā gāwīn

32. Lalu, [jika benar bahwa] kami telah membuat kalian melakukan kesalahan besar—perhatikanlah, kami sendiri telah tenggelam dalam kesalahan besar!”13


13 Untuk penjelasannya, lihat Surah Al-Qasas [28]: 62-64 dan catatan-catatannya.


Surah As-Saffat Ayat 33

فَإِنَّهُمْ يَوْمَئِذٍ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

fa innahum yauma`iżin fil-‘ażābi musytarikụn

33. Dan, sungguh, pada Hari itu mereka semua akan bersama-sama dalam penderitaan.


Surah As-Saffat Ayat 34

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ

innā każālika naf’alu bil-mujrimīn

34. Sungguh, begitulah Kami akan memperlakukan semua orang yang tenggelam dalam dosa:


Surah As-Saffat Ayat 35

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

innahum kānū iżā qīla lahum lā ilāha illallāhu yastakbirụn

35. karena, perhatikanlah, setiap dikatakan kepada mereka, “Tiada tuhan kecuali Allah,” mereka menyombongkan diri


Surah As-Saffat Ayat 36

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

wa yaqụlụna a innā latārikū ālihatinā lisyā’irim majnụn

36. dan berkata, “Lalu, haruskah kami meninggalkan tuhan-tuhan kami karena permintaan* seorang penyair gila?”14


* “permintaan” adalah sisipan dari Asad—peny.

14 Lit., “untuk [atau ‘demi’] seorang penyair gila”—jadi, mengacu pada dugaan bahwa Al-Quran adalah hasil pikiran Nabi Muhammad Saw. (lihat catatan no. 38 dalam Surah YaSin [36]: 69). Penyebutan “tuhan-tuhan”, dalam konteks ini, meliputi segala sesuatu yang mungkin “disembah” manusia, baik dalam pengertian harfiah maupun metafora dari kata tersebut.


Surah As-Saffat Ayat 37

بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ

bal jā`a bil-ḥaqqi wa ṣaddaqal-mursalīn

37. Tidak, tetapi dia [yang kalian sebut penyair gila itu] telah membawa kebenaran; dan dia mempertegas kebenaran [apa yang telah diajarkan oleh] rasul-rasul [Allah terdahulu].15


15 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 5. Hendaknya diingat bahwa hal ini merujuk pada ajaran-ajaran fundamental yang selalu sama dalam setiap agama yang benar, dan bukan merujuk pada berbagai hukum yang terikat—masa sebagaimana tampak pada hukum-hukum agama terdahulu.


Surah As-Saffat Ayat 38

إِنَّكُمْ لَذَائِقُو الْعَذَابِ الْأَلِيمِ

innakum lażā`iqul-‘ażābil-alīm

38. Perhatikanlah, kalian benar-benar akan merasakan derita yang pedih [dalam kehidupan akhirat],


Surah As-Saffat Ayat 39

وَمَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

wa mā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn

39. meskipun kalian tidak akan diberi balasan apa pun, kecuali terhadap apa yang telah kalian lakukan dahulu.


Surah As-Saffat Ayat 40

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

40. Namun, tidak demikian halnya dengan hamba-hamba Allah yang sejati:16


16 Lit., “hamba-hamba yang ikhlas”. Berlawanan dengan prinsip bahwa “perbuatan buruk hanya akan dibalas dengan yang setimpal dengannya” yang dinyatakan dalam ayat sebelumnya, di sini Al-Quran menegaskan bahwa orang yang “datang [ke hadapan Allah] dengan perbuatan baik akan memperoleh sepuluh kali lipat darinya” (lihat Surah Al-An’am [6]: 160).


Surah As-Saffat Ayat 41

أُولَٰئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَعْلُومٌ

ulā`ika lahum rizqum ma’lụm

41. [di akhirat,] mereka akan memperoleh rezeki yang akan mereka kenali17


17 Lit., “rezeki yang diketahui”. Untuk penjelasan tentatif mengenai frasa ini, lihat catatan no. 17 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 25.


Surah As-Saffat Ayat 42

فَوَاكِهُ ۖ وَهُمْ مُكْرَمُونَ

fawākih, wa hum mukramụn

42. sebagai buah-buah [dari kehidupan mereka di dunia]; dan mereka akan dimuliakan


Surah As-Saffat Ayat 43

فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

fī jannātin na’īm

43. di dalam taman-taman kenikmatan,


Surah As-Saffat Ayat 44

عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

‘alā sururim mutaqābilīn

44. saling berhadapan [dalam cinta] di atas singgasana-singgasana kebahagiaan.18


18 Untuk nomina jamak surur yang kadang-kadang saya terjemahkan menjadi “singgasana-singgasana kebahagiaan”, lihat catatan no. 34 dalam Surah Al-Hijr [15]: 47.


Surah As-Saffat Ayat 45

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ

yuṭāfu ‘alaihim bika`sim mim ma’īn

45. Akan diedarkan piala di antara mereka [yang berisi minuman] dari mata air yang tak bernoda,


Surah As-Saffat Ayat 46

بَيْضَاءَ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ

baiḍā`a lażżatil lisy-syāribīn

46. jernih, lezat bagi orang-orang yang meminumnya:


Surah As-Saffat Ayat 47

لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُونَ

lā fīhā gauluw wa lā hum ‘an-hā yunzafụn

47. tidak ada rasa pening di dalamnya dan mereka tidak mabuk karenanya.


Surah As-Saffat Ayat 48

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi ‘īn

48. Dan, di sisi mereka akan ada pasangan-pasangan yang berpandangan sopan19 yang bermata sangat indah,


19 Lihat catatan no. 46 dalam Surah Sad [38]: 52, yang di dalamnya ungkapan qashirat al-tharf (lit., “orang-orang yang menahan pandangan mereka”) muncul untuk pertama kalinya dalam kronologi pewahyuan Al-Quran.


Surah As-Saffat Ayat 49

كَأَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَكْنُونٌ

ka`annahunna baiḍum maknụn

49. [karena bebas dari kekurangan] seolah-olah mereka adalah telur-telur [burung unta] yang tersembunyi.20


20 Ini merupakan gaya ungkapan dalam bahasa Arab kuno yang berasal dari kebiasaan burung unta betina yang mengubur telurnya di pasir untuk melindunginya (Al-Zamakhsyari). Penerapan khusus ungkapan ini terhadap perempuan yang meraih surga akan tampak jelas dari Surah Al-Waqi’ah [56]: 34 dan seterusnya, yang menegaskan bahwa semua perempuan yang saleh, terlepas dari usia dan keadaannya saat meninggal, akan dibangkitkan sebagai gadis-gadis cantik.


Surah As-Saffat Ayat 50

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ

fa aqbala ba’ḍuhum ‘alā ba’ḍiy yatasā`alụn

50. Dan, mereka semua akan saling berhadapan, saling bertanya [tentang kehidupan mereka yang dahulu].21


21 Bdk. ayat 27 di atas dan catatan no. 11 yang terkait. Sebagaimana halnya dengan saling tuduh di antara para pendosa dalam rangkaian ayat tersebut, “percakapan” di antara orang-orang yang diberi rahmat dalam ayat ini tentu bersifat kiasan, dan dimaksudkan untuk menekankan berlanjutnya kesadaran individu dalam kehidupan akhirat.


Surah As-Saffat Ayat 51

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ

qāla qā`ilum min-hum innī kāna lī qarīn

51. Maka, berkatalah salah seorang di antara mereka, “Perhatikanlah, [di dunia,] aku mempunyai seorang sahabat


Surah As-Saffat Ayat 52

يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ

yaqụlu a innaka laminal-muṣaddiqīn

52. yang biasa bertanya [kepadaku], “Apa?—apakah engkau benar-benar termasuk salah seorang di antara mereka yang mempercayai kebenaran hal itu


Surah As-Saffat Ayat 53

أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a innā lamadīnụn

53. [bahwa] setelah kita mati dan hanya menjadi tanah dan tulang belulang, kita benar-benar akan diberi pembalasan?”


Surah As-Saffat Ayat 54

قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ

qāla hal antum muṭṭali’ụn

54. [Dan,] berkata pula dia, “Maukah kau melihat [dan memperhatikannya]?”—


Surah As-Saffat Ayat 55

فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ

faṭṭala’a fa ra`āhu fī sawā`il-jaḥīm

55. kemudian dia melihat dan memperhatikan bahwa [sahabatnya itu] berada di tengah-tengah api yang berkobar,


Surah As-Saffat Ayat 56

قَالَ تَاللَّهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ

qāla tallāhi ing kitta laturdīn

56. dan berkata, “Demi Allah! Sungguh, engkau nyaris telah menghancurkanku [pula, wahai mantan sahabatku]—


Surah As-Saffat Ayat 57

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ

walau lā ni’matu rabbī lakuntu minal-muḥḍarīn

57. andaikan bukan berkat nikmat Pemeliharaku, pastilah aku [kini] termasuk di antara orang-orang yang dicampakkan [ke dalam derita]!


Surah As-Saffat Ayat 58

أَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِينَ

a fa mā naḥnu bimayyitīn

58. Lalu, [wahai sahabat-sahabatku di surga,] apakah [memang benar bahwa] kita tidak akan mati


Surah As-Saffat Ayat 59

إِلَّا مَوْتَتَنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

illā mautatanal-ụlā wa mā naḥnu bimu’ażżabīn

59. [lagi,] selain kematian kita sebelumnya, dan bahwa kita tidak akan pernah dibuat menderita [lagi]?


Surah As-Saffat Ayat 60

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

inna hāżā lahuwal-fauzul-‘aẓīm

60. Sungguh, ini—ini benar-benar—adalah kemenangan yang tertinggi!”


Surah As-Saffat Ayat 61

لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

limiṡli hāżā falya’malil-‘āmilụn

61. Maka, demi kemenangan yang seperti ini, hendaklah berkarya orang-orang yang berkarya [di jalan Allah].


Surah As-Saffat Ayat 62

أَذَٰلِكَ خَيْرٌ نُزُلًا أَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّومِ

a żālika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqụm

62. Apakah [surga] seperti itu yang merupakan sambutan yang lebih baik—ataukah pohon [neraka] dengan buah yang mematikan?22


22 Menurut para ahli leksikografi (perkamusan), nomina zaqqum (yang terdapat, selain dalam ayat ini, dalam Surah Ad-Dukhan [44]: 43 dan juga dalam Al-Waqi’ah [56]: 52) berarti “makanan apa saja yang mematikan”; karena itu, ungkapan syajarat al-zaqqum, lambang neraka, dapat diterjemahkan dengan tepat menjadi “pohon dengan buah yang mematikan” (tak syak lagi sama dengan “pohon yang terkutuk dalam Al-Quran ini”, yang disebutkan dalam Surah Al-Isra’ [17]: 60), yang merupakan perlambang terhadap fakta bahwa derita-derita akhirat lainnya yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai “neraka” tidak lain hanyalah buah—yakni, konsekuensi organik—dari perilaku buruk seseorang di dunia.


Surah As-Saffat Ayat 63

إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ

innā ja’alnāhā fitnatal liẓ-ẓālimīn

63. Sungguh, Kami telah menjadikannya sebagai ujian bagi orang-orang zalim:23


23 Lagi-lagi, kita harus mengulang-ulang pernyataan bahwa semua keterangan mengenai surga dan neraka dalam Al-Quran—dan, karena itu, semua gambaran tentang keadaan manusia di akhirat—adalah, terpaksa, bersifat sangat alegoris (majazi, lihat artikel Al-Mutasyabihat (Simbolisme dan Alegori) dalam Al-Qur’an) dan, karena itu, dapat disalahpahami jika kita menafsirkannya menurut pengertian harfiahnya atau, sebaliknya, menafsirkannya secara arbitrer (bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 7 dan catatan no. 5, 7, dan 8 yang terkait): dan hal ini, menurut pendapat saya, menjelaskan mengapa perlambang “pohon dengan buah yang mematikan”—salah satu metonimia bagi derita yang dirasakan para pendosa di akhirat—menjadi “ujian (fitnah) semata bagi para pendosa” (atau “bagi manusia” dalam Surah Al-Isra’ [17]: 60). Dalam kaitan ini, lihat Surah Al-Muddassir [74]: 31, yang merupakan ayat Al-Quran yang paling awal menyebutkan konsep “ujian” (fitnah).
.


Surah As-Saffat Ayat 64

إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ

innahā syajaratun takhruju fī aṣlil-jaḥīm

64. karena, perhatikanlah, itulah sebatang pohon yang tumbuh persis di tengah-tengah api [neraka] yang berkobar,


Surah As-Saffat Ayat 65

طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ

ṭal’uhā ka`annahụ ru`ụsusy-syayāṭīn

65. yang buahnya [menjijikkan] seperti kepala setan-setan;24


24 Menurut Al-Zamakhsyari, “kiasan yang murni verbal ini (isti’arah lafzhiyyah) dimaksudkan untuk mengungkapkan puncak segala kehinaan dan kejelekan … karena setan dianggap sebagai simbol segala hal yang buruk”.


Surah As-Saffat Ayat 66

فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

fa innahum la`ākilụna min-hā famāli`ụna min-hal buṭụn

66. dan mereka [yang tenggelam dalam dosa] benar-benar akan memakannya, dan memenuhi perut mereka dengannya.


Surah As-Saffat Ayat 67

ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِنْ حَمِيمٍ

ṡumma inna lahum ‘alaihā lasyaubam min ḥamīm

67. Dan, perhatikanlah, di atas semua ini, mereka akan dikacaukan dengan keputusasaan yang membara!25


25 Lit., “dan di atasnya, perhatikanlah, mereka akan mendapatkan suatu campuran [atau ‘kebingungan’] hamim“. (Tentang penerjemahan saya atas istilah terakhir tersebut menjadi “keputusasaan yang membara”, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 62.)


Surah As-Saffat Ayat 68

ثُمَّ إِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَإِلَى الْجَحِيمِ

ṡumma inna marji’ahum la`ilal-jaḥīm

68. Dan, sekali lagi:26 Sungguh, api yang berkobar itu adalah tujuan akhir mereka—


26 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 31.


Surah As-Saffat Ayat 69

إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ

innahum alfau ābā`ahum ḍāllīn

69. sebab, perhatikanlah, mereka telah mendapati nenek moyang mereka berada di jalan yang sesat,


Surah As-Saffat Ayat 70

فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ

fa hum ‘alā āṡārihim yuhra’ụn

70. dan [kini] mereka tergesa-gesa mengikuti jejak-langkah mereka!27


27 Yakni, tindakan mengikuti secara buta (taqlid) kepercayaan, penilaian, dan adat-istiadat—yang jelas-jelas absurd—yang dianut oleh nenek moyang, tanpa mempertimbangkan seluruh bukti kebenaran yang didukung akal maupun wahyu Ilahi, di sini ditunjukkan sebagai penyebab utama penderitaan yang disebutkan dalam bagian sebelumnya (Al-Zamakhsyari).


Surah As-Saffat Ayat 71

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ

wa laqad ḍalla qablahum akṡarul-awwalīn

71. Maka, sesungguhnya, kebanyakan orang terdahulu telah tersesat sebelum mereka,


Surah As-Saffat Ayat 72

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِمْ مُنْذِرِينَ

wa laqad arsalnā fīhim munżirīn

72. padahal, sungguh, telah Kami utus para pemberi peringatan kepada mereka:


Surah As-Saffat Ayat 73

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn

73. dan perhatikanlah apa yang akhirnya terjadi pada orang-orang yang telah diberi peringatan [tetapi tidak mengambil faedahnya].


Surah As-Saffat Ayat 74

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

74. KECUALI hamba-hamba Allah yang sejati, [kebanyakan manusia cenderung tersesat.]28


28 Secara tersirat, “dan, karena itu, membutuhkan petunjuk kenabian”: ini menjelaskan mengapa bagian selanjutnya menguraikan kisah-kisah tentang sejumlah nabi. Kisah Nuh, yang disebutkan secara singkat di sini, diuraikan lebih terperinci dalam Surah Hud [11]: 25-48.


Surah As-Saffat Ayat 75

وَلَقَدْ نَادَانَا نُوحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيبُونَ

wa laqad nādānā nụḥun fa lani’mal-mujībụn

75. Dan, sesungguhnya, [karena alasan inilah] Nuh berseru kepada Kami—dan betapa baiknya tanggapan Kami:


Surah As-Saffat Ayat 76

وَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa najjaināhu wa ahlahụ minal-karbil-‘aẓīm

76. sebab, Kami telah menyelamatkan dia dan keluarganya dari bencana yang dahsyat,29


29 Yakni, Banjir Besar.


Surah As-Saffat Ayat 77

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

wa ja’alnā żurriyyatahụ humul-bāqīn

77. dan menjadikan keturunannya bertahan hidup [di muka bumi];


Surah As-Saffat Ayat 78

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

78. dan kemudian, Kami jadikan Nuh agar diingat30 di kalangan generasi-generasi yang terkemudian:


30 Lit., “dan Kami tinggalkan padanya”, yakni, secara tersirat, “pujian ini” atau “kenangan”, yang terungkap dalam ucapan salam pada ayat selanjutnya.


Surah As-Saffat Ayat 79

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ

salāmun ‘alā nụḥin fil-‘ālamīn

79. “Semoga kedamaian tercurah atas Nuh di seluruh alam!”


Surah As-Saffat Ayat 80

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

80. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan—


Surah As-Saffat Ayat 81

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

81. karena dia benar-benar termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman:


Surah As-Saffat Ayat 82

ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ

ṡumma agraqnal-ākharīn

82. [dan demikianlah Kami menyelamatkan dia dan orang-orang yang mengikutinya] dan kemudian Kami jadikan yang lain tenggelam.


Surah As-Saffat Ayat 83

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ

wa inna min syī’atihī la`ibrāhīm

83. DAN, PERHATIKANLAH, di antara yang mengikutinya adalah Ibrahim juga,


Surah As-Saffat Ayat 84

إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

iż jā`a rabbahụ biqalbin salīm

84. ketika dia berpaling kepada Pemeliharanya dengan hati yang suci,


Surah As-Saffat Ayat 85

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَاذَا تَعْبُدُونَ

iż qāla li`abīhi wa qaumihī māżā ta’budụn

85. dan [lalu] berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Apakah yang kalian sembah itu?


Surah As-Saffat Ayat 86

أَئِفْكًا آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ

a ifkan āliḥatan dụnallāhi turīdụn

86. Apakah kalian mau [bersujud di hadapan] sebuah dusta—[di hadapan] tuhan-tuhan selain Allah?


Surah As-Saffat Ayat 87

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

fa mā ẓannukum birabbil-‘ālamīn

87. Lalu, bagaimana pandangan kalian tentang Pemelihara seluruh alam?”31


31 Argumen yang dikemukakan Ibrahim adalah sebagai berikut: “Apakah kalian percaya pada adanya Pencipta dan Penguasa alam semesta?”—sebuah pertanyaan yang pasti dijawab kaumnya dengan jawaban “ya” karena kepercayaan pada Tuhan Yang Tertinggi merupakan bagian integral dari agama mereka. Argumen tahap berikutnya adalah: “Lalu, bagaimana mungkin kalian menyembah berhala-berhala—hasil buatan tangan kalian sendiri—bersamaan dengan gagasan tentang adanya Pencipta alam semesta?”


Surah As-Saffat Ayat 88

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ

fa naẓara naẓratan fin-nujụm

88. Kemudian, dia memandang sekilas ke arah bintang-bintang,32


32 Jelaslah bahwa hal ini mengingatkan pada upayanya yang sia-sia pada masa lalu untuk menyamakan Allah dengan bintang-bintang, matahari, atau bulan (lihat Surah Al-An’am [6]: 76-78).


Surah As-Saffat Ayat 89

فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ

fa qāla innī saqīm

89. dan berkata, “Sungguh, [hati] aku sakit!”33


33 Yakni, “karena tindakan kalian yang menyembah berhala-berhala selain Allah” (Ibn Katsir; bandingkan juga dengan Lane IV, h. 1384).


Surah As-Saffat Ayat 90

فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِينَ

fa tawallau ‘an-hu mudbirīn

90. —dan pada saat itu mereka berpaling membelakanginya dan pergi.


Surah As-Saffat Ayat 91

فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

fa rāga ilā ālihatihim fa qāla alā ta`kulụn

91. Kemudian, dia mendatangi tuhan-tuhan mereka dengan diam-diam dan berkata, “Mengapa kalian tidak makan [sajian yang ada di hadapan kalian]?


Surah As-Saffat Ayat 92

مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُونَ

mā lakum lā tanṭiqụn

92. Ada apa gerangan sehingga kalian tidak bicara?”


Surah As-Saffat Ayat 93

فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ

fa rāga ‘alaihim ḍarbam bil-yamīn

93. Lalu, dia menghampiri berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya.34


34 Sebuah ungkapan metonimia yang berarti: “dengan seluruh kekuatannya”. Tentang apa yang terjadi sesudah itu, lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 58 dan seterusnya.


Surah As-Saffat Ayat 94

فَأَقْبَلُوا إِلَيْهِ يَزِفُّونَ

fa aqbalū ilaihi yaziffụn

94. [Namun,] kemudian orang-orang mendatanginya dengan bergegas [dan menuduhnya atas perbuatannya].


Surah As-Saffat Ayat 95

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ

qāla a ta’budụna mā tan-ḥitụn

95. Dia menjawab, “Apakah kalian menyembah sesuatu yang kalian pahat [sendiri],


Surah As-Saffat Ayat 96

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

wallāhu khalaqakum wa mā ta’malụn

96. padahal Allah-lah yang telah menciptakan kalian dan semua karya tangan kalian?”


Surah As-Saffat Ayat 97

قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ

qālubnụ lahụ bun-yānan fa alqụhu fil-jaḥīm

97. Mereka berseru, “Buatkanlah tumpukan kayu bakar35 baginya, dan lemparkanlah dia ke dalam api yang berkobar!”


35 Lit., “suatu bangunan” atau “suatu gedung”.


Surah As-Saffat Ayat 98

فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ

fa arādụ bihī kaidan fa ja’alnāhumul-asfalīn

98. Namun, ketika mereka hendak berbuat jahat kepadanya, Kami [gagalkan rencana mereka, lalu] menjadikan mereka hina.36


36 Lihat Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 64.


Surah As-Saffat Ayat 99

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ

wa qāla innī żāhibun ilā rabbī sayahdīn

99. Dan [Ibrahim] berkata, “Sungguh, aku akan [meninggalkan negeri ini dan] pergi ke mana saja Pemeliharaku akan membimbingku!”37


37 Lit., “Aku akan pergi menuju Pemeliharaku: Dia akan membimbingku.”


Surah As-Saffat Ayat 100

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn

100. [Dan, dia berdoa,] “Wahai, Pemeliharaku! Anugerahkanlah kepadaku hadiah, yaitu [seorang anak yang akan menjadi] salah seorang di antara orang-orang yang saleh!”—


Surah As-Saffat Ayat 101

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

fa basysyarnāhu bigulāmin ḥalīm

101. kemudian, Kami memberinya kabar gembira tentang seorang anak laki-laki yang lemah lembut [seperti dirinya].38


38 Maksudnya, anak Nabi Ibrahim a.s. yang pertama, yakni Nabi Isma’il a.s. (dalam ejaan Inggris: Ishmael).


Surah As-Saffat Ayat 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

fa lammā balaga ma’ahus-sa’ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif’al mā tu`maru satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣābirīn

102. Dan, [suatu hari] ketika [anak itu] cukup dewasa untuk ikut andil dalam perjuangan [ayahnya],39 Ibrahim berkata, “Wahai, anakku tercinta! Aku telah melihat dalam mimpi bahwa aku harus mengorbankanmu: maka, pertimbangkanlah, bagaimana pandanganmu?”

[Isma’il] menjawab, “Wahai, ayahku! Lakukanlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu: jika Allah menghendaki, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan!”


39 Lit., “mencapai [usia] untuk menyertai [atau ‘berjuang’] dengannya”: ini jelas merupakan suatu metonimia bagi usia akil-balig ketika seseorang mulai dapat memahami, dan menganut, agama dan cita-cita ayah nya.


Surah As-Saffat Ayat 103

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

fa lammā aslamā wa tallahụ lil-jabīn

103. Namun, begitu keduanya telah berserah diri pada [apa yang mereka pandang sebagai] kehendak Allah,40 dan [Ibrahim] telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya,


40 Menurut saya, sisipan di atas mutlak perlu dimasukkan agar ayat itu dapat dipahami dengan benar. Sebagaimana berulang-ulang ditunjukkan dalam catatan-catatan ini, verba aslma dalam Al-Quran berarti “dia berserah diri kepada Allah”, atau “pada kehendak Allah”, meskipun kata “Allah” tidak disebutkan secara langsung; karena itu, bentuk dual (mutsanna) aslama yang ada dalam ayat di atas mungkin, pada dasarnya, mengandung makna ini juga. Namun, karena lanjutan ayat ini jelas-jelas menunjukkan bahwa dikorbankannya Isma’il bukanlah kehendak Allah, “berserah diri pada kehendak Allah” yang dilakukan Isma’il dan ayahnya dalam konteks ini hanya mengandung pengertian subjektif murni—yakni, “berserah diri pada apa yang mereka pandang sebagai kehendak Allah”.


Surah As-Saffat Ayat 104

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ

wa nādaināhu ay yā ibrāhīm

104. Kami memanggilnya, “Wahai, Ibrahim,


Surah As-Saffat Ayat 105

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

qad ṣaddaqtar-ru`yā, innā każālika najzil-muḥsinīn

105. engkau telah memenuhi [tujuan] mimpi tersebut!”41

Sungguh, demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan:


41 Yakni, signifikansi moral dari mimpi Ibrahim a.s. ini terletak pada ujian atas kesediaannya untuk mengorbankan apa pun yang paling dia cintai dalam kehidupan untuk memenuhi apa yang dia pandang sebagai perintah Allah (lihat catatan sebelumnya).


Surah As-Saffat Ayat 106

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

inna hāżā lahuwal-balā`ul mubīn

106. sebab, perhatikanlah, semua ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata.42


42 Maksudnya, ujian yang seberat ini jelas menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. mampu memikulnya, dan, dengan demikian, merupakan sebuah penghargaan moral yang tinggi—ini dengan sendirinya merupakan suatu balasan (penghargaan yang baik) dari Allah.


Surah As-Saffat Ayat 107

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

wa fadaināhu biżib-ḥin ‘aẓīm

107. Dan, Kami menebus anak itu dengan suatu pengorbanan yang besar,43


43 Keterangan kata ‘azhim (“besar” atau “agung”) tersebut menunjukkan bahwa pengorbanan itu tidak merujuk kepada biri-biri jantan yang kemudian ditemukan dan disembelih oleh Nabi Ibrahim a.s. sebagai pengganti Nabi Isma’il a.s. (Kitab Kejadian 22: 13). Menurut pendapat saya, pengorbanan yang dibicarakan di sini adalah pengorbanan tahunan yang dilakukan oleh begitu banyak kaum Mukmin dalam kaitannya dengan ibadah haji di Makkah yang, pada dasarnya, memperingati pengalaman Ibrahim dan Isma’il, dan merupakan salah satu dari lima rukun Islam. (Lihat Surah Al-Hajj [22]: 27-37, juga Surah Al-baqarah [2]: 196-203.)


Surah As-Saffat Ayat 108

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

108. dan kemudian menjadikannya agar diingat di kalangan generasi-generasi yang terkemudian:44


44 Lihat catatan no. 30 pada ayat 78 sebelumnya.


Surah As-Saffat Ayat 109

سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

salāmun ‘alā ibrāhīm

109. “Semoga kedamaian tercurah atas Ibrahim!”


Surah As-Saffat Ayat 110

كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

każālika najzil-muḥsinīn

110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan—


Surah As-Saffat Ayat 111

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

111. karena dia benar-benar termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.


Surah As-Saffat Ayat 112

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

wa basysyarnāhu bi`is-ḥāqa nabiyyam minaṣ-ṣāliḥīn

112. Dan, [kemudian] Kami memberinya kabar gembira tentang Ishaq, [yang juga akan menjadi] seorang nabi, salah seorang yang saleh;


Surah As-Saffat Ayat 113

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

wa bāraknā ‘alaihi wa ‘alā is-ḥāq, wa min żurriyyatihimā muḥsinuw wa ẓālimul linafsihī mubīn

113. dan Kami memberkahinya beserta Ishaq: akan tetapi, di antara keturunan keduanya ada [yang ditakdirkan] baik sebagai pelaku kebajikan maupun sebagai orang yang nyata-nyata berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri.45


45 Yakni, melakukan kejahatan. Dengan ramalan ini, sebagaimana dalam banyak ayat lainnya, Al-Quran membantah pendirian lancung orang -orang Yahudi yang berpendapat bahwa mereka adalah “umat pilihan” karena merupakan keturunan Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub sehingga mereka secara apriori “terjamin”, begitulah kira-kira, untuk mendapatkan ridha Allah. Dengan kata lain, berkah Allah yang diberikan kepada seorang nabi atau wali tidak serta-merta menunjukkan bahwa keturunannya juga mendapatkan kedudukan yang istimewa.


Surah As-Saffat Ayat 114

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

wa laqad manannā ‘alā mụsā wa hārụn

114. MAKA, SESUNGGUHNYA Kami telah melimpahkan nikmat Kami kepada Musa dan Harun,46


46 Yakni, karena perbuatan baik mereka sendiri, bukan karena mereka merupakan keturunan Ibrahim dan Ishaq (lihat ayat dan catatan sebelumnya).


Surah As-Saffat Ayat 115

وَنَجَّيْنَاهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ

wa najjaināhumā wa qaumahumā minal-karbil-‘aẓīm

115. dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana [perbudakan] yang dahsyat,


Surah As-Saffat Ayat 116

وَنَصَرْنَاهُمْ فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ

wa naṣarnāhum fa kānụ humul-gālibīn

116. dan menolong mereka sehingga [pada akhirnya] merekalah yang meraih kemenangan.


Surah As-Saffat Ayat 117

وَآتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ

wa ātaināhumal-kitābal-mustabīn

117. Dan, Kami memberikan kepada keduanya kitab Ilahi yang membedakan [antara yang benar dan yang salah],47


47 Yakni, “Taurat, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya … bagi orang-orang yang menganut iman Yahudi” (Surah Al-Ma’idah [5]: 44).


Surah As-Saffat Ayat 118

وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

wa hadaināhumaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

118. dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus,


Surah As-Saffat Ayat 119

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihimā fil-ākhirīn

119. dan menjadikan mereka agar diingat di kalangan generasi-generasi yang terkemudian:


Surah As-Saffat Ayat 120

سَلَامٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

salāmun ‘alā mụsā wa hārụn

120. “Semoga kedamaian tercurah atas Musa dan Harun!”


Surah As-Saffat Ayat 121

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

121. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan—


Surah As-Saffat Ayat 122

إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahumā min ‘ibādinal-mu`minīn

122. karena keduanya benar-benar termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.


Surah As-Saffat Ayat 123

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna ilyāsa laminal-mursalīn

123. DAN, PERHATIKANLAH, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang di antara rasul-rasul48 Kami [pula]


48 Menurut Bibel (1 Raja-Raja 17 dan seterusnya, dan 2 Raja-Raja 1-2), Nabi Elia (Ilyas dalam bahasa Arab) yang berkebangsaan Yahudi itu hidup dalam Kerajaan Israel bagian Utara semasa pemerintahan Ahab dan Ahaziah—yakni, pada abad ke-9 SM—dan digantikan oleh Elisa (Al-Yasa’ dalam bahasa Arab). Penekanan di atas pada Ilyas a.s. yang juga merupakan “salah seorang rasul” (min al-mursalin) mengingatkan kembali pada prinsip Al-Quran bahwa Allah “tidak membeda-bedakan siapa pun di antara para rasul-Nya” (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 136 dan 285, Al-‘Imran [3]: 84, An-Nisa’ [4]: 152 dan catatan-catatannya).


Surah As-Saffat Ayat 124

إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ

iż qāla liqaumihī alā tattaqụn

124. ketika dia berkata kepada kaumnya [demikian], “Apakah kalian tetap tidak sadar akan Allah?


Surah As-Saffat Ayat 125

أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ

a tad’ụna ba’law wa tażarụna aḥsanal-khāliqīn

125. Apakah kalian menyeru Baal dan meninggalkan [Allah,] yang terbaik di antara pembuat karya49


49 Tentang terjemahan ahsan al-khaliqin ini, lihat Surah Al-Mu’minun [23], catatan no. 6.

Istilah ba’l (yang biasanya dieja Baal dalam bahasa-bahasa Eropa) dalam semua cabang bahasa Arab kuno, termasuk bahasa Ibrani dan Fenisia, berarti “penguasa” atau “tuan”; ia merupakan suatu sebutan kehormatan yang digunakan untuk menunjuk pada setiap dewa “laki-laki” yang begitu banyak jumlahnya itu, yang disembah oleh bangsa Semit kuno, khususnya di Suriah dan Palestina. Dalam Perjanjian Lama, sebutan ini kadang-kadang memiliki makna umum “penyembahan-berhala”—suatu dosa yang, menurut Bibel, sering menimpa orang-orang Israel dahulu.


Surah As-Saffat Ayat 126

اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

allāha rabbakum wa rabba ābā`ikumul-awwalīn

126. Allah, Pemelihara kalian dan Pemelihara nenek moyang kalian terdahulu?”


Surah As-Saffat Ayat 127

فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

fa każżabụhu fa innahum lamuḥḍarụn

127. Namun, mereka mendustakannya: dan, karena itu, mereka pasti akan didakwa [pada Hari Pengadilan],


Surah As-Saffat Ayat 128

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

128. kecuali [mereka yang merupakan] hamba-hamba Allah yang sejati;


Surah As-Saffat Ayat 129

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn

129. dan Kami jadikan dia agar diingat di kalangan generasi-generasi yang terkemudian:


Surah As-Saffat Ayat 130

سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ

salāmun ‘alā ilyāsīn

130. “Semoga kedamaian tercurah atas Ilyas dan para pengikutnya!”50


50 Bentuk Il-Yasin yang muncul dalam ayat di atas bisa jadi merupakan varian dari Ilyas (Elia) atau, kemungkinan besar, sebagai bentuk jamak—”orang-orangnya Elia”—yang berarti Nabi Elia dan para pengikutnya (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, et al.). Menurut Al-Thabari, ‘Abd Allah ibn Mas’ud biasa membaca ayat ini dengan “Salam damai semoga tercurah bagi Idrasin” yang, selain memberikan kepada kita varian atau bentuk jamak dari Idris (Idris dan para pengikutnya), juga mendukung pendapat bahwa Idris dan Ilyas hanyalah dua sebutan bagi satu orang yang sama, yakni Elia yang disebutkan dalam Bibel. (Lihat juga catatan no. 41 dalam Surah Maryam [19]: 56.)


Surah As-Saffat Ayat 131

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

innā każālika najzil-muḥsinīn

131. Sungguh, demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan—


Surah As-Saffat Ayat 132

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

innahụ min ‘ibādinal-mu`minīn

132. karena dia benar-benar termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman!


Surah As-Saffat Ayat 133

وَإِنَّ لُوطًا لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna lụṭal laminal-mursalīn

133. DAN, PERHATIKANLAH, Luth benar-benar salah seorang di antara rasul-rasul Kami;


Surah As-Saffat Ayat 134

إِذْ نَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ

iż najjaināhu wa ahlahū ajma’īn

134. [maka,] ketika [Kami menetapkan hukuman terhadap kotanya yang penuh dosa,51] Kami selamatkan dia dan keluarganya,


51 Lihat Surah Al-A’raf [7]: 80-84 dan Surah Hud [11]: 69-83.


Surah As-Saffat Ayat 135

إِلَّا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ

illā ‘ajụzan fil-gābirīn

135. kecuali seorang perempuan tua yang termasuk di antara orang-orang yang tetap tinggal di belakang;52


52 Sebagaimana terIihat dalam Surah Al-A’raf [7]: 83 dan Surah Hud [11]: 81, perempuan tersebut adalah istri Luth, yang memilih untuk tetap tinggal (bdk. catatan no. 66 dalam Surah Al-A’raf [7]: 83).


Surah As-Saffat Ayat 136

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْآخَرِينَ

ṡumma dammarnal-ākharīn

136. kemudian, Kami luluh-lantakkan yang lainnya:


Surah As-Saffat Ayat 137

وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ

wa innakum latamurrụna ‘alaihim muṣbiḥīn

137. dan, sungguh, [hingga hari ini] kalian melewati sisa-sisa tempat tinggal mereka53 pada waktu pagi


53 Lit., “kalian melewati mereka”, maksudnya tempat mereka hidup (lihat Surah Al-Hijr [15]: 76 dan catatan no. 55 yang terkait).


Surah As-Saffat Ayat 138

وَبِاللَّيْلِ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

wa bil-laīl, a fa lā ta’qilụn

138. dan malam.

Maka, tidakkah kalian menggunakan akal kalian?


Surah As-Saffat Ayat 139

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

wa inna yụnusa laminal-mursalīn

139. DAN, PERHATIKANLAH, Yunus benar-benar termasuk salah seorang di antara rasul-rasul Kami


Surah As-Saffat Ayat 140

إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

iż abaqa ilal-fulkil-masy-ḥụn

140. ketika dia melarikan diri ke kapal yang penuh muatan bagaikan seorang budak yang kabur.54


54 Yakni, ketika dia meninggalkan dakwah yang diamanatkan oleh Allah kepadanya (lihat Surah Al-Anbiya’ [21], catatan no. 83, yang menceritakan bagian pertama dari kisah Yunus) dan, dengan demikian, dalam ungkapan Bibel (Kitab Yunus 1: 3 dan 10), telah melakukan dosa dengan “melarikan diri jauh dari hadapan Tuhan”. Menurut makna utamanya, nomina infinitif ibaq (yang berasal dari verba abaqa) berarti “larinya seorang budak dari tuannya”; dan Yunus dikatakan “melarikan diri bagaikan seorang budak yang kabur” karena—meskipun dia merupakan seorang pembawa-pesan (rasul) Allah—dia meninggalkan tugasnya karena tekanan kemarahan yang hebat. Selanjutnya, “kapal yang penuh muatan” menyinggung bagian utama kisah Yunus yang bersifat alegoris. Kapal tersebut melewati badai dan nyaris tenggelam; dan para pelaut “berkatalah mereka satu sama lain: ‘Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini'” (Kitab Yunus 1: 7)—suatu ketentuan yang disepakati oleh Yunus.


Surah As-Saffat Ayat 141

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

fa sāhama fa kāna minal-mud-ḥaḍīn

141. Kemudian, mereka mengundi nasib dan dialah yang kalah;55


55 Lit., “dia mengundi nasib [bersama para pelaut itu], dan termasuk di antara orang-orang yang kalah”. Menurut penjelasan Bibel (Kitab Yunus 1: 10-15): Yunus menceritakan kepada mereka bahwa dia telah “melarikan diri jauh dari hadapan Tuhan”, dan karena dosanya inilah mereka semua sekarang berada di ambang bahaya tenggelam. “Sahutnya kepada mereka: ‘Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu’ …. Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk”.


Surah As-Saffat Ayat 142

فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ

faltaqamahul-ḥụtu wa huwa mulīm

142. [dan mereka melemparkannya ke laut,] lalu ikan besar menelannya karena dia tercela.56


56 Dalam ketiga ayat yang di dalamnya “ikan besar ” yang menelan Yunus disebutkan secara eksplisit dalam Al-Quran (sebagai al-hut dalam ayat di atas dan dalam Surah Al-Qalam [68]: 48; dan sebagai al-nun dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 87), kata tersebut menggunakan kata sandang al. Hal ini mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa hikayat Yunus, sejak dahulu hingga kini, sudah dikenal luas sehingga setiap acuan terhadap alegori “ikan besar itu” dianggap sudah jelas dengan sendirinya. Rongga-dalam ikan “yang menelan” Yunus tampaknya melambangkan gelapnya penderitaan spiritual yang mendalam yang dibicarakan dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 87: penderitaan karena “melarikan diri bagaikan budak yang kabur” dari misi kenabiannya dan, dengan demikian, lari “dari hadapan Tuhan”. Kisah sisipan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa, karena “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28, bahkan nabi-nabi sekalipun tidak luput dihinggapi segala kelemahan yang sudah menjadi bagian dari watak manusia.


Surah As-Saffat Ayat 143

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ

falau lā annahụ kāna minal-musabbiḥīn

143. Dan, sekiranya dia bukan termasuk orang-orang yang [meskipun dalam puncak kesusahannya masih dapat] memuji kemuliaan Allah Yang Tak Terhingga,57


57 Yakni, mengingat Allah dan bertobat (kembali) pada-Nya: lihat Surah Al-Anbiya’ [21]: 87, yang dalam rumusannya yang khas menunjukkan makna universal dari kisah Nabi Yunus a.s.


Surah As-Saffat Ayat 144

لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

lalabiṡa fī baṭnihī ilā yaumi yub’aṡụn

144. sungguh, dia akan tetap tinggal di perut ikan itu hingga Hari ketika semuanya akan dibangkitkan dari kematian:


Surah As-Saffat Ayat 145

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

fa nabażnāhu bil-‘arā`i wa huwa saqīm

145. tetapi Kami membuatnya terlempar ke pesisir yang sepi, sakit [hatinya],


Surah As-Saffat Ayat 146

وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ

wa ambatnā ‘alaihi syajaratam miy yaqṭīn

146. dan menumbuhkan tanaman menjalar di atasnya [dari tanah yang tandus].58


58 Yakni, untuk menaungi dan menyenangkannya. Jadi, dengan menggunakan gaya simbolik yang memang merupakan ciri khasnya, Al-Quran mengakhiri alegori tentang Nabi Yunus a.s. dan ikan itu dengan menunjukkan bahwa Allah, yang dapat menumbuhkan tanaman dari tanah yang sangat gersang dan tandus, dapat pula membuat hati yang sudah tenggelam dalam kegelapan kembali bersinar dan menuju kehidupan ruhani.


Surah As-Saffat Ayat 147

وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ

wa arsalnāhu ilā mi`ati alfin au yazīdụn

147. Dan, [kemudian] Kami mengutusnya [sekali lagi] kepada [kaumnya,] seratus ribu [jiwa] atau lebih:


Surah As-Saffat Ayat 148

فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

fa āmanụ fa matta’nāhum ilā ḥīn

148. dan [kali ini] mereka beriman [kepadanya]59—maka, Kami biarkan mereka menikmati kehidupan mereka selama waktu yang ditentukan bagi mereka.60


59 Bdk. rujukan terhadap kaum Yunus dalam Surah Yunus [10]: 98. Untuk versi Bibel tentang kisah ini, lihat Kitab Yunus 3.

60 Lit., “untuk sementara”: yakni, selama jangka waktu kehidupan alamiah mereka (Al-Razi; juga Al-Manar XI, h. 483).


Surah As-Saffat Ayat 149

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ

fastaftihim a lirabbikal-banātu wa lahumul-banụn

149. DAN KINI, mintalah kepada mereka61 agar menerangkan kepadamu: Apakah untuk Pemeliharamu anak-anak perempuan, padahal mereka [hanya] menginginkan anak laki-laki?62


61 Rujukan terhadap orang-orang yang menisbahkan ketuhanan kepada wujud-wujud selain Allah ini berkaitan dengan ayat 4 (“sungguh, Tuhan kalian benar-benar Esa”), juga terkait dengan ayat 69-70 (“perhatikanlah, mereka telah mendapati nenek moyang mereka berada di jalan yang sesat; dan [kini] mereka tergesa-gesa mengikuti jejak-langkah mereka”).

62 Untuk penjelasan tentang bagian ini, lihat Surah An-Nahl [16]: 57-59 dan catatan-catatannya.


Surah As-Saffat Ayat 150

أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثًا وَهُمْ شَاهِدُونَ

am khalaqnal-malā`ikata ināṡaw wa hum syāhidụn

150. —ataukah Kami telah menciptakan malaikat-malaikat itu sebagai perempuan, dan mereka [yang meyakininya sebagai tuhan] telah menyaksikan [penciptaan tersebut]?


Surah As-Saffat Ayat 151

أَلَا إِنَّهُمْ مِنْ إِفْكِهِمْ لَيَقُولُونَ

alā innahum min ifkihim layaqụlụn

151. Sungguh, karena [kecenderungan] mereka sendiri kepada kebohonganlah, sebagian manusia menegaskan,63


63 Lit., “mereka”.


Surah As-Saffat Ayat 152

وَلَدَ اللَّهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

waladallāhu wa innahum lakāżibụn

152. “Allah mempunyai anak [laki-laki]; dan, sungguh, mereka berdusta [juga, ketika mereka berkata],


Surah As-Saffat Ayat 153

أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ

aṣṭafal-banāti ‘alal-banīn

153. “Dia lebih menyukai anak-anak perempuan daripada anak laki-laki!”64


64 Lihat Surah Al-An’arn [6]: 100 (“mereka telah mengada-adakan bagi-Nya anak-anak laki-laki dan perempuan”) dan catatan no. 87 dan no. 88 yang terkait. Lihat juga catatan no. 49 dalam Surah Al-Isra’ [17]: 40, serta Surah An-Najm [53]: 19-22 dan catatan-catatannya.


Surah As-Saffat Ayat 154

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

mā lakum, kaifa taḥkumụn

154. Ada apa gerangan dengan kalian dan keputusan kalian?65


65 Lit., “bagaimana kalian memutuskan?”


Surah As-Saffat Ayat 155

أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

a fa lā tażakkarụn

155. Maka, tidakkah kalian merenungkan?


Surah As-Saffat Ayat 156

أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ

am lakum sulṭānum mubīn

156. Ataukah, mungkin, kalian mempunyai bukti yang jelas [bagi pernyataan kalian]?


Surah As-Saffat Ayat 157

فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

fa`tụ bikitābikum ing kuntum ṣādiqīn

157. Maka, datangkanlah kitab Ilahi kalian jika kalian berkata benar!


Surah As-Saffat Ayat 158

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

wa ja’alụ bainahụ wa bainal-jinnati nasabā, wa laqad ‘alimatil-jinnatu innahum lamuḥḍarụn

158. Dan, sebagian manusia66 telah membuat-buat hubungan kekerabatan antara Dia dan segala bentuk kekuatan gaib67—meskipun kekuatan-kekuatan gaib itu [sendiri] tahu betul bahwa, sungguh, mereka [yang melecehkan Allah] benar-benar akan didakwa [di hadapan-Nya pada Hari Pengadilan:68 sebab]


66 Lit., “mereka”.

67 Lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam. Sementara kebanyakan mufasir klasik berpendapat bahwa istilah al-jinnah di sini berarti malaikat, karena mereka—seperti semua makhluk yang termasuk dalam kategori ini—tidak bisa dipersepsi oleh indra manusia, menurut saya, ayat di atas mengacu pada kekuatan-kekuatan alam yang tak terlihat (intangible), yang tak bisa ditangkap melalui pengamatan langsung dan mewujudkan diri hanya melalui dampak-dampaknya: karena itulah, dalam konteks ini, mereka dirujuk dengan nomina berbentuk jamak al-Jinnah, yang pada dasarnya berarti “yang tersembunyi dari indra [manusia]”. Karena orang-orang yang menolak beriman pada Allah sering menganggap bahwa kekuatan-kekuatan dasar ini secara misterius dianugerahi dengan daya kreatif yang memiliki tujuan tertentu (bdk. konsep Bergson tentang elan vital), Al-Quran menyatakan bahwa para penyembah mereka membuat-buat suatu “hubungan kekerabatan” antara kekuatan-kekuatan itu dan Allah, yakni menisbahkan kepada mereka sifat-sifat dan kuasa-kuasa yang serupa dengan kekuasaan-Nya.

68 Untuk penisbahan metaforis “pengetahuan” ini dengan kekuatan-kekuatan dasar alam, lihat ayat 164-166 dan catatan no. 71 yang terkait.


Surah As-Saffat Ayat 159

سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥanallāhi ‘ammā yaṣifụn

159. Maha Tak Terhingga Kemuliaan Allah, melampaui segala definisi yang dapat manusia pikirkan!69


69 Lihat catatan no. 88 terhadap kalimat terakhir dari Surah Al-An’am [6]: 100.


Surah As-Saffat Ayat 160

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

160. Namun, tidak demikianlah [perilaku] hamba-hamba Allah yang sejati:


Surah As-Saffat Ayat 161

فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ

fa innakum wa mā ta’budụn

161. sebab, sungguh, baik kalian [para peleceh Allah] maupun objek sesembahan kalian


Surah As-Saffat Ayat 162

مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ

mā antum ‘alaihi bifātinīn

162. sama sekali tidak dapat membuat seorang pun terjerumus ke dalam godaan kalian


Surah As-Saffat Ayat 163

إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ

illā man huwa ṣālil-jaḥīm

163. kecuali orang-orang yang terburu-buru menuju api yang berkobar [karena keinginannya sendiri]!70


70 Iman yang sejati kepada Allah akan menyingkirkan segala macam godaan untuk mendefinisikan Dia yang memang tak dapat didefinisikan, atau untuk mempersekutukan, secara konseptual, seseorang atau sesuatu dengan Dia; sebaliknya, pelecehan yang terdapat dalam upaya-upaya semacam itu akan menghancurkan nilai potensial dari keimanan seseorang pada Allah sehingga menimbulkan kehancuran ruhani bagi orang tersebut.


Surah As-Saffat Ayat 164

وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ

wa mā minnā illā lahụ maqāmum ma’lụm

164. [Semua kekuatan alam memuji Allah dan berkata,71] “Di antara kami pun, tiada satu pun kecuali memiliki kedudukan yang telah ditetapkan bagi-Nya [oleh Dia];


71 “Ucapan” metaforis seperti ini selaras dengan sejumlah bagian lainnya dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa benda-benda mati sekalipun “memuji Allah”, seperti “Langit yang tujuh, bumi, serta semua yang ada di dalamnya bertasbih (memuji) kemuliaan-Nya yang tak terhingga” (Surah Al-Isra’ [17]: 44), atau “Kami jadikan gunung-gunung bergabung dengan Daud dalam bertasbih memuji kemuliaan Kami yang tak terhingga” (Surah Al-Anbiya’ [21]: 79), atau, “Wahai kalian, gunung-gunung! Nyanyikanlah bersama Daud puji-pujian bagi Allah!” (Surah Saba’ [34]: 10); demikian juga, bayangan benda-benda material pun dikatakan sebagai “bersujud di hadapan Allah” (Surah An-Nahl [16]: 48).


Surah As-Saffat Ayat 165

وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ

wa innā lanaḥnuṣ-ṣāffụn

165. dan, sungguh, kami juga berbaris [menyembah di hadapan-Nya];


Surah As-Saffat Ayat 166

وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ

wa innā lanaḥnul-musabbiḥụn

166. dan, sungguh, kami juga memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga!”


Surah As-Saffat Ayat 167

وَإِنْ كَانُوا لَيَقُولُونَ

wa ing kānụ layaqụlụn

167. DAN, SUNGGUH, mereka [yang mengingkari kebenaran] dahulu biasa berkata,


Surah As-Saffat Ayat 168

لَوْ أَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِنَ الْأَوَّلِينَ

lau anna ‘indanā żikram minal-awwalīn

168. “Kalau saja kami memiliki suatu riwayat [yang menunjuk tentang hal ini] dari nenek moyang kami,72


72 Lit., “sebuah peringatan (dzikr) dari orang-orang terdahuIu”: lihat catatan no. 27 terhadap ayat 69-70 sebelumnya. Kebanyakan mufasir berasumsi bahwa dzikr di sini berarti “kitab Ilahi”, suatu pengertian yang sering dijumpai dalam Al-Quran. Namun, menurut pendapat saya, kemungkinan besar—karena lebih selaras dengan konteksnya—kata dzikr tersebut dalam hal ini menunjukkan tradisi leluhur yang diterima dari nenek moyang mereka mengenai ajaran tentang keesaan dan keunikan Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Quran—suatu ajaran yang mengherankan bagi mereka.


Surah As-Saffat Ayat 169

لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

lakunnā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn

169. kami pasti akan menjadi hamba-hamba Allah yang sejati.”


Surah As-Saffat Ayat 170

فَكَفَرُوا بِهِ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

fa kafarụ bih, fa saufa ya’lamụn

170. Sungguhpun begitu, [kini setelah kitab Ilahi itu ada di hadapan mereka,] mereka menolak kebenarannya!

Namun, pada waktunya, mereka akan mengetahui [apa yang telah mereka tolak itu]:


Surah As-Saffat Ayat 171

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ

wa laqad sabaqat kalimatunā li’ibādinal-mursalīn

171. karena, sejak dahulu telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami, para rasul,


Surah As-Saffat Ayat 172

إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ

innahum lahumul-manṣụrụn

172. bahwa, sungguh, mereka—benar-benar mereka—akan ditolong,


Surah As-Saffat Ayat 173

وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

wa inna jundanā lahumul-gālibụn

173. dan bahwa, sungguh, pasukan Kami—benar-benar mereka—yang [pada akhirnya] akan menang!


Surah As-Saffat Ayat 174

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ

fa tawalla ‘an-hum ḥattā ḥīn

174. Karena itu, berpalinglah engkau sejenak dari orang-orang [yang mengingkari kebenaran] itu,


Surah As-Saffat Ayat 175

وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

wa abṣir-hum, fa saufa yubṣirụn

175. dan lihatlah mereka [sebagaimana adanya];73 dan kelak mereka [juga] akan melihat [apa yang kini tidak mereka lihat].74


73 Yakni, sebagai orang-orang yang berkukuh menipu diri mereka sendiri. Dalam konteks ini, verba bashura (lit., “dia melihat” atau “menjadi melihat”) digunakan secara kiasan, dalam arti “melihat secara mental” atau “memperoleh pandangan”.

74 Yakni, mereka akan menyadari kebenaran serta penderitaan karena menolak kebenaran itu: ini jelas-jelas merujuk pada Hari Pengadilan.


Surah As-Saffat Ayat 176

أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ

a fa bi’ażābinā yasta’jilụn

176. Lalu, apakah mereka [benar-benar] ingin hukuman Kami disegerakan?75


75 Ini mengacu pada permintaan sarkastis yang disampaikan oleh orang-orang yang menolak mengakui Al-Quran sebagai wahyu Ilahi agar mereka segera dihukum “Jika ini memang kebenaran dari Allah” (lihat Surah Al-Anfal [8]: 32 dan catatan yang terkait).


Surah As-Saffat Ayat 177

فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ

fa iżā nazala bisāḥatihim fa sā`a ṣabāḥul-munżarīn

177. Akan tetapi, begitu hukuman itu menimpa mereka, celakalah bangunnya orang-orang yang diberi peringatan [tetapi tidak mau mengambil manfaat darinya]!76


76 Lit., “ketika ia turun di halaman mereka, buruklah [atau ‘celakalah’] waktu pagi orang-orang …”, dan seterusnya. Dalam bahasa Arab kuno, frasa idiomatik “hukuman [atau ‘derita’] telah turun (nazala) di halaman si anu” berarti turunnya, atau menimpanya, penderitaan terhadap seseorang atau beberapa orang yang bersangkutan (Al-Thabari). Begitu pula, “pagi” (shabah) merupakan metonimia bagi “bangun”.


Surah As-Saffat Ayat 178

وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّىٰ حِينٍ

wa tawalla ‘an-hum ḥattā ḥīn

178. Karena itu, berpalinglah engkau sejenak dari mereka,


Surah As-Saffat Ayat 179

وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ

wa abṣir, fa saufa yubṣirụn

179. dan lihatlah [mereka sebagaimana adanya]; dan kelak mereka [juga] akan melihat [apa yang kini tidak mereka lihat].


Surah As-Saffat Ayat 180

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yaṣifụn

180. MAHA TAK TERHINGGA Kemuliaan Pemeliharamu, Pemilik keperkasaan, [Mahatinggi] melampaui segala definisi yang dapat manusia pikirkan!


Surah As-Saffat Ayat 181

وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ

wa salāmun ‘alal-mursalīn

181. Dan, semoga kedamaian tercurah atas seluruh rasul-Nya!


Surah As-Saffat Ayat 182

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn

182. Dan, segala puji hanya bagi Allah, Pemelihara seluruh alam!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top