13. Ar-Ra’d (Guruh) – الرعد

Surat Ar-Ra'd dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Ar-Ra’d ( الرعد ) merupakan surah ke 13 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 43 ayat yang sebagian besar ayatnya diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Ar-Ra’d tergolong Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Ada perbedaan pendapat yang tajam mengenai periode pewahyuan surah ini. Menurut suatu pernyataan yang dinisbahkan kepada Ibn ‘Abbas, surah ini termasuk ke dalam periode Makkiyyah (Al-Suyuthi), sedangkan menurut mufasir lainnya, yang disebutkan oleh Al-Thabari, diriwayatkan bahwa Ibn ‘Abbas menganggap surah ini sebagai surah Madaniyyah (ibid). Al-Suyuthi sendiri cenderung berpendapat bahwa surah ini termasuk periode Makkah, tetapi ia mengandung sejumlah kecil ayat yang diwahyukan di Madinah, demikian pula pendapat Al-Baghawi dan Al-Razi. Pada sisi lain, Al-Zamakhsyari mencukupkan diri dengan pernyataan bahwa waktu pewahyuan surah ini tidak dapat dipastikan.

Seperti banyak surah lainnya, nama surah ini juga diambil dari sebuah kata yang disebutkan secara insidental, yang menggugah imajinasi kaum Muslim yang paling awal: yakni, kata “guruh” yang terdapat dalam ayat 13, yang mengacu pada bukti daya-daya kreatif Allah, yang terdapat dalam manifestasi-manifestasi fenomena alam yang dapat diobservasi.

Tema pokok surah ini adalah wahyu Allah, yang diturunkan melalui nabi-nabi-Nya, yang berisi kebenaran-kebenaran moral tertentu yang fundamental, yang tidak dapat diabaikan manusia tanpa menderita konsekuensi alami dari pengabaiannya ini (lihat paragraf terakhir ayat 31)—demikian pula, pengamalan kebenaran-kebenaran moral tersebut oleh orang-orang “yang dianugerahi pengetahuan mendalam … [dan] orang-orang yang setia-menjaga ikatan mereka dengan Allah” (ayat 19-20) pasti akan menyebabkan mereka “mendapatkan kebahagiaan batin dan tempat kembali yang terindah” (ayat 29): sebab, “Allah tidak mengubah keadaan manusia, kecuali mereka mengubah lubuk diri mereka sendiri” (ayat 11).

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Ar-Ra’d Ayat 1

المر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ ۗ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

alif lām mīm rā, tilka āyātul-kitāb, wallażī unzila ilaika mir rabbikal-ḥaqqu wa lākinna akṡaran-nāsi lā yu`minụn

1. Alif. Lam. Mim. Ra.1

INILAH PESAN-PESAN wahyu:2 dan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Pemeliharamu adalah benar—namun, kebanyakan manusia tidak akan beriman [padanya].3


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.

2 Meskipun sejumlah mufasir berpendapat bahwa istilah kitab (“kitab Ilahi” atau “wahyu”) di sini mengacu pada Surah Ar-Ra’d ini secara khusus, Ibn ‘Abbas dengan tegas menyatakan bahwa ia mengacu pada Al-Quran secara keseluruhan (Al-Baghawi).

3 Bagian ini berkaitan dengan ayat-ayat penutup (102-111) dari surah sebelumnya, khususnya dengan ayat 103, yang semuanya menekankan bahwa Al-Quran berasal dari Allah.


Surah Ar-Ra’d Ayat 2

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

allāhullażī rafa’as-samāwāti bigairi ‘amadin taraunahā ṡummastawā ‘alal-‘arsyi wa sakhkharasy-syamsa wal-qamar, kulluy yajrī li`ajalim musammā, yudabbirul-amra yufaṣṣilul-āyāti la’allakum biliqā`i rabbikum tụqinụn

2. Allah-lah yang telah meninggikan lelangit tanpa penyangga apa pun yang dapat kalian lihat, dan yang bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya;4 dan Dia[-lah yang] telah menjadikan matahari dan bulan tunduk [kepada hukum-hukum-Nya], masing-masing menjalani garis edarnya menurut batas-waktu yang ditentukan [oleh-Nya].5 Dia mengatur segala sesuatu yang ada.

Dia menguraikan pesan-pesan ini dengan sangat jelas agar kalian menjadi benar-benar yakin bahwa kalian sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan Pemelihara kalian [pada Hari Pengadilan].6


4 Untuk penjelasan mengenai frasa ini, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 43. Mengenai “meninggikan lelangit tanpa penyangga apa pun” yang dapat dilihat manusia, hendaknya diingat bahwa nomina sama’ terutama menunjukkan “sesuatu yang berada di atas [sesuatu yang lain]” dan digunakan—kebanyakan dalam bentuk jamaknya, yakni samawat—untuk menggambarkan: (a) langit yang terlihat (kadang-kadang juga awan); (b) ruang kosmik tempat bintang-bintang, sistem tata surya (termasuk tata surya kita), dan galaksi-galaksi yang beredar dalam orbitnya; dan (c) konsep abstrak tentang kekuatan-kekuatan yang beremanasi dari Allah (karena Dia, dalam pengertian metonimia dari kata ini, berada “di atas” segala yang ada). Menurut pendapat saya, dari ketiga makna samawat ini, yang dirujuk oleh ayat di atas adalah makna yang kedua: yakni, ruang alam semesta tempat seluruh kumpulan materi—bisa berupa planet, bintang, sekelompok bintang di langit yang tampak seperti kabut yang bercahaya (nebulae) atau galaksi—”menggantung” di angkasa, demikian kira-kira, dalam sebuah sistem gerakan terus-menerus yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sentrifugal dan gaya gravitasi yang tarik-menarik.

5 Ini mungkin mengacu pada akhir dunia ini sebagaimana yang kita kenal—jadi, menunjukkan bahwa semua ciptaan pasti akan berakhir—atau, menurut ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, (sebagaimana dikutip oleh Al-Baghawi dan Al-Razi), mengacu pada “tempat-tempat singgah” {manazil, “posisi”—peny.} atau tahapan-tahapan ruang dan waktu yang dilalui oleh matahari dan bulan, seperti semua benda angkasa lainnya.

6 Yakni, “sehingga kalian dapat menyadari bahwa Dia yang telah menciptakan alam semesta dan yang menguasai segala yang ada ini, dapat pula membangkitkan orang yang mati dan mengadili kalian di akhirat sesuai dengan apa yang kalian lakukan ketika hidup di dunia”.


Surah Ar-Ra’d Ayat 3

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

wa huwallażī maddal-arḍa wa ja’ala fīhā rawāsiya wa an-hārā, wa ming kulliṡ-ṡamarāti ja’ala fīhā zaujainiṡnaini yugsyil-lailan-nahār, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yatafakkarụn

3. Dan, Dia-lah yang membentangkan bumi dan menempatkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh dan sungai-sungai yang mengalir, dan menciptakan di atasnya dua jenis kelamin dari setiap [jenis] tumbuhan,7 [dan Dia-lah yang] menjadikan malam menutupi siang.

Sungguh, dalam semua ini benar-benar terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang berpikir!


7 Lit., “dan dari segala [macam] buah-buahan, Dia jadikan di atasnya [yakni di atas bumi] berpasang-pasangan (zaujain itsnain)”. Menurut konteksnya, istilah zauj selain menunjukkan “sepasang”, juga menunjukkan “satu unsur dari sepasang”. Setiap kali bentuk dual zaujan diikuti oleh definisi numerik tambahan itsnan (“dua”), ia selalu bermakna “sepasang yang terdiri atas dua jenis kelamin”. Jadi, frasa di atas menyatakan bahwa ada dua jenis kelamin dari setiap macam tumbuhan: suatu pernyataan yang benar-benar sesuai dengan ilmu botani. (Biasanya, organ reproduksi jantan dan betina sama-sama berada dalam satu bunga yang sama dari suatu tumbuhan tertentu, misalnya, kapas; atau, kedua organ reproduksi itu terletak dalam bunga yang terpisah dalam tanaman yang sama, misalnya dalam kebanyakan tanaman cucurbitaceae; dan, dalam kasus yang jarang, kedua organ reproduksi itu terdapat dalam tanaman yang terpisah sama sekali [uniseksual] dalam spesies yang sama, misalnya pada pohon kurma.)


Surah Ar-Ra’d Ayat 4

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

wa fil-arḍi qiṭa’um mutajāwirātuw wa jannātum min a’nābiw wa zar’uw wa nakhīlun ṣinwānuw wa gairu ṣinwāniy yusqā bimā`iw wāḥidiw wa nufaḍḍilu ba’ḍahā ‘alā ba’ḍin fil-ukul, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy ya’qilụn

4. Dan, di atas bumi terdapat [banyak] bidang tanah yang saling berdampingan [dan sungguhpun begitu, sangat berbeda satu sama lain8], dan [di atasnya terdapat] kebun-kebun anggur, ladang-ladang bebijian, dan pohon-pohon kurma yang tumbuh dalam tandan-tandan yang berasal dari satu akar atau yang berdiri sendiri,9 [semuanyaJ disiram dengan air yang sama: dan sungguhpun begitu, Kami lebihkan sebagian tanam-tanaman itu di atas sebagian yang lain dalam hal makanan [yang mereka hasilkan bagi manusia dan binatang].10

Sungguh, dalam semua ini benar-benar terdapat pesan-pesan bagi orang-orang yang menggunakan akalnya!


8 Yakni, mengenai sifat tanah, kesuburan, dan ragam tumbuh-tumbuhannya. Perlunya memasukkan sisipan ini—yang, menurut kesepakatan seluruh mufasir, meliputi makna frasa di atas—akan tampak jelas dari klausa-klausa berikutnya.

9 Lit., “yang tidak bertandan” (ghair sinwan)—yakni, setiap pohon yang mempunyai akar terpisah.

10 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 99 dan 141, yang memberikan penekanan yang sama terhadap berbagai bentuk tumbuh-tumbuhan—dan beragam manfaatnya bagi manusia dan hewan—sebagai tanda-tanda dari tindakan kreatif Allah yang sarat dengan tujuan.


Surah Ar-Ra’d Ayat 5

وَإِنْ تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

wa in ta’jab fa ‘ajabung qauluhum a iżā kunnā turāban a innā lafī khalqin jadīd, ulā`ikallażīna kafarụ birabbihim, wa ulā`ikal-aglālu fī a’nāqihim, wa ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

5. NAMUN, JIKA engkau heran [akan keajaiban ciptaan Allah], mengherankan pula ucapan mereka, “Apa? Setelah kita menjadi tanah, akankah kita benar-benar [dihidupkan kembali] menjadi makhluk yang baru?”11

Mereka itulah orang-orang yang [dengan cara itu menunjukkan bahwa mereka] berkukuh mengingkari Pemelihara mereka;12 dan mereka itulah yang menanggung belenggu [akibat perbuatan mereka sendiri] pada leher mereka;13 dan mereka itulah yang ditetapkan di api neraka, berkediaman di dalamnya.


11 Yakni, walaupun sudah cukup mengherankan bahwa seseorang dapat menolak beriman kepada Allah meskipun semua bukti—yang dapat dijangkau oleh pengamatan manusia—menunjukkan adanya tujuan tertentu dalam seluruh fenomena kehidupan dan adanya Kekuatan Kreatif yang sadar, tidak kurang mengherankannya apabila kita melihat manusia yang, walaupun beriman kepada Allah, menolak untuk mengimani kebangkitan {setelah mati—peny.}: sebab, jika Allah telah menciptakan alam semesta dan juga fenomena kehidupan itu sendiri, Dia pasti berkuasa untuk menciptakan kembali kehidupan—dan sarana fisik yang diperlukan untuk itu—dalam suatu penciptaan baru.

12 Dengan mengingkari adanya kebangkitan kembali, mereka secara implisit menolak kemahaperkasaan Allah dan, karena itu, sekaligus menolak wujud-Nya.

13 Suatu metafora mengenai penyerahan-diri manusia secara sengaja kepada nilai-nilai yang batil dan jalan-jalan yang buruk, yang selanjutnya mengakibatkan perbudakan jiwa (bdk. Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi). Lihat juga Surah Saba’ [34], catatan no. 44.


Surah Ar-Ra’d Ayat 6

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ وَقَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمُ الْمَثُلَاتُ ۗ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ ۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ

wa yasta’jilụnaka bis-sayyi`ati qablal-ḥasanati wa qad khalat ming qablihimul-maṡulāt, wa inna rabbaka lażụ magfiratil lin-nāsi ‘alā ẓulmihim, wa inna rabbaka lasyadīdul-‘iqāb

6. Dan, [wahai Nabi, karena mereka berkukuh mengingkari kebenaran,] mereka menantangmu untuk menyegerakan datangnya keburukan kepada mereka daripada [mengharapkan] kebaikan14—meskipun [mereka seharusnya mengetahui bahwa] contoh-contoh hukuman [yang sekarang mereka cemoohkan itu] benar-benar telah terjadi sebelum masa mereka.

Kini, perhatikanlah, Pemeliharamu penuh ampunan terhadap manusia terlepas dari semua perbuatan zalim mereka:15 tetapi, perhatikanlah, Pemeliharamu [juga] amat keras dalam menghukum!


14 Lit., “mereka memintamu untuk mempercepat keburukan sebelum kebaikan”: yakni, alih-alih menerima dengan senang hati petunjuk yang ditawarkan Nabi kepada mereka, mereka malah menantangnya dengan nada menghina untuk mendatangkan contoh hukuman yang, sebagaimana dikatakan Nabi, diancamkan Allah kepada mereka. (Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai “tantangan” yang disebutkan di sini dan di beberapa tempat lain dalam Al-Quran, lihat Surah Al-An’am [6]: 57-58 dan Al-Anfal [8]: 32 serta catatan-catatannya.)

15 Bdk. kalimat pertama Surah Yunus [10]: 11 dan catatan no. 17 yang terkait.


Surah Ar-Ra’d Ayat 7

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۗ إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

wa yaqụlullażīna kafarụ lau lā unzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, innamā anta munżiruw wa likulli qaumin hād

7. Namun, mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran [menolak untuk beriman dan] berkata, “Mengapa tidak pernah diturunkan kepadanya suatu penanda yang ajaib dari Pemeliharanya?”16

[Namun,] engkau hanyalah seorang pemberi peringatan; dan setiap kaum memiliki pemberi petunjuk [yakni Allah].17


16 Yakni, untuk membuktikan bahwa dia {Muhammad Saw.) benar-benar seorang nabi yang diberi wahyu oleh Allah. Namun, Al-Quran telah menjelaskan dalam berbagai tempat (misalnya, dalam Surah Al-An’am [6]: 7 dan 111, Surah Yunus [10]: 96-97, atau Surah Ar-Ra’d [13]: 31) bahwa bahkan keajaiban sekalipun tidak akan meyakinkan orang-orang “yang berkukuh mengingkari kebenaran”.

17 {and [in God] all people have a guide.} Menurut para mufasir klasik, kalimat ini dapat mengacu pada beberapa penafsiran: (1) “Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan; dan setiap bangsa telah memiliki pemberi petunjuk sepertimu (yakni seorang nabi)”—suatu penafsiran yang bersesuaian dengan doktrin Al-Quran mengenai kontinuitas petunjuk kenabian; atau (2) “Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan—tetapi [bersamaan dengan itu] juga seorang pemberi petunjuk kepada seluruh manusia”—penafsiran ini menekankan universalitas pesan-pesan Al-Quran dikontraskan dengan misi-misi nabi terdahulu yang terikat pada masa tertentu dan terbatas untuk etnis tertentu pula; atau (3) “Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan yang hanya berkewajiban untuk menyampaikan pesan yang diamanatkan kepadamu, sedangkan Allah sajalah yang benar-benar dapat menunjuki hati manusia menuju keimanan”. Karena penafsiran terakhir inilah yang paling memuaskan dan, tambahan pula, didukung oleh ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, Sa’id ibn Jubair, Mujahid, dan Al-Dhahhak, saya menggunakannya dalam terjemahan di atas. Menurut Al-Zamakhsyari, penafsiran ini semakin diperkuat dengan disebutkannya kemahatahuan Allah pada ayat berikutnya.


Surah Ar-Ra’d Ayat 8

اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَىٰ وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۖ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ

allāhu ya’lamu mā taḥmilu kullu unṡā wa mā tagīḍul-ar-ḥāmu wa mā tazdād, wa kullu syai`in ‘indahụ bimiqdār

8. Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan [di dalam rahimnya], dan seberapa banyak kekurangsempurnaan [masa kehamilan] rahim-rahim itu*, dan seberapa banyak penambahannya [dari masa hamil rata-rata]:18 sebab, pada sisi-Nya, segala sesuatu [diciptakan] menurut jangkauan dan tujuannya.19


18* {God knows … by how much the wombs may fall short [in gestation]. Fall short bisa berarti “berkurang” maupun “gagal”.—peny.} Istilah untsa menunjukkan sembarang makhluk perempuan, baik manusia maupun hewan. “Berkurang” di sini selain mungkin mengacu pada masa kehamilan yang menjadi lebih pendek daripada biasanya (misalnya, menjadi tujuh bulan pada manusia), juga mengacu pada kehamilan yang gagal, yakni gugurnya kandungan; hendaknya dicatat bahwa nomina ghaid berarti “janin yang gugur” (Taj Al-‘Arus), yakni, apabila pada manusia, janin yang usianya kurang dari tujuh bulan. Di lain pihak, “pertambahan” bisa berarti selesainya masa kehamilan atau bertambah lamanya masa kehamilan itu lebih daripada periode rata-rata (misalnya, kadang-kadang menjadi 305 hari, atau menurut beberapa ahli medis, bahkan hingga 307 hari, dibandingkan dengan masa kehamilan normal yang 280 hari). Tambahan pula, pengetahuan Allah tentang “apa yang dikandung oleh setiap perempuan [di dalam rahimnya]” jelas-jelas juga berhubungan dengan jenis kelamin embrio yang belum lahir itu serta jumlah anak yang ada di dalamnya.

Sebagaimana ditunjukkan oleh rangkaian ayat tersebut, diuraikannya misteri kehamilan, yang diketahui sepenuhnya hanya oleh Allah, dimaksudkan untuk menekankan gagasan bahwa Dia yang mengetahui apa yang ada dalam kandungan juga mengetahui kecenderungan batin terdalam setiap manusia dan arah perkembangannya.

19 Lit., “sesuai dengan ukuran (miqdar)”—yakni, sesuai dengan tujuan tertentu yang mendasari penciptaannya, urgensi keberadaannya, dan peran yang telah djtentukan untuk dimainkannya dalam rencana penciptaan yang ditetapkan Allah.


Surah Ar-Ra’d Ayat 9

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-kabīrul-muta’āl

9. Dia mengetahui segala yang berada di luar jangkauan persepsi makhluk serta segala yang dapat disaksikan oleh indra atau pikiran makhluk20—Yang Mahabesar, Yang jauh melampaui apa pun yang ada atau yang mungkin akan ada!21


20 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 65.

21 Sifat Allah al-muta’al, yang muncul hanya sekali dalam Al-Quran pada ayat ini, menunjukkan kemahatinggian-Nya yang tidak terhingga melampaui segala sesuatu yang ada atau yang mungkin ada; serta, menurut Al-Zamakhsyari, melampaui segala sesuatu yang dapat dicakup oleh definisi manusia. (Dalam kaitannya dengan ini, lihat kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 100 dan catatannya no. 88.)


Surah Ar-Ra’d Ayat 10

سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ

sawā`um mingkum man asarral-qaula wa man jahara bihī wa man huwa mustakhfim bil-laili wa sāribum bin-nahār

10. Semua sama saja [bagi-Nya], apakah di antara kalian ada yang merahasiakan pikirannya,22 atau menampakkannya, dan apakah dia bersembunyi [atau menyembunyikan perbuatan-perbuatan buruknya] di bawah naungan malam atau berjalan [terang-terangan) di siang hari,23


22 Istilah qaul terutama menunjukkan “suatu perkataan” atau “suatu ucapan”, tetapi secara figuratif ia juga digunakan dalam pengertian “gagasan”, terlepas dari apakah ia diungkapkan dalam kata-kata yang sebenarnya (misalnya, suatu pernyataan, penegasan, doktrin yang dirumuskan, dan sebagainya) ataupun hanya ada dalam pikiran (misalnya, suatu opini, pandangan, atau serangkaian pemikiran yang saling berhubungan). Karena pada ayat di atas istilah ini jelas-jelas mengacu pada pikiran-pikiran yang tidak terucap, saya menerjemahkannya sebagaimana di atas.

23 Lit., “bepergian di siang hari”—yakni, melakukan dosa terang-terangan (Ibn ‘Abbas sebagaimana dikutip Al-Baghawi dan Al-Razi). Dalam struktur kalimat bahasa Arabnya, kalimat tersebut dibaca demikian: “Semua sama saja [bagi-Nya] apakah dia dari antara kalian yang menyembunyikan pikirannya (al-qaul) dan dia yang menampakkannya, sebagaimana dia yang …,” dan seterusnya.


Surah Ar-Ra’d Ayat 11

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

lahụ mu’aqqibātum mim baini yadaihi wa min khalfihī yaḥfaẓụnahụ min amrillāh, innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl

11. [seraya berpikir bahwa] dia memiliki pasukan-pasukan penolong—baik yang dapat disaksikannya maupun yang tersembunyi darinya24—yang dapat melindunginya dari apa pun yang mungkin telah ditetapkan Allah.25

Sungguh, Allah tidak mengubah keadaan manusia, kecuali mereka mengubah lubuk diri mereka sendiri;26 dan jika Allah menghendaki suatu kaum tertimpa keburukan [sebagai akibat dari perbuatan zalim mereka sendiri], tiada seorang pun yang dapat menolaknya: sebab, mereka tidak memiliki siapa pun yang dapat melindungi mereka dari Dia.


24 Lit., “di antara tangan-tangannya dan dari belakangnya”. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah [2]: 255, ungkapan “di antara tangan-tangannya” menunjukkan “sesuatu yang dapat dilihat olehnya” atau “jelas baginya”, sedangkan “yang di belakangnya” adalah suatu metonimia terhadap sesuatu yang berada “di luar jangkauan pengetahuannya” atau “tersembunyi darinya”. Lihat juga catatan berikut ini.

25 Lit., “dari perintah (amr) Allah”. Penerjemahan ayat ini bergantung pada makna yang dinisbahkan pada istilah mu’aqqibat—bentuk jamak ganda (jam’u jam’in) dari mu’aqqib, yang berarti “sesuatu yang datang segera setelah sesuatu yang lainnya” atau “sesuatu yang segera menggantikan sesuatu yang lainnya”. Mayoritas mufasir klasik memahami mu’aqqibat sebagai “rombongan-rombongan malaikat”, yakni malaikat-malaikat pencatat yang menyertai setiap manusia, yang satu menggantikan yang lainnya tanpa putus. Karena itu, mereka menafsirkan frasa min baini yadaihi wa min khalfihi berarti “berjajar di depan dan di belakangnya”, yakni mengelilingi manusia dari segala sisi; dan mereka menerangkan bahwa kata “dari perintah Allah” di sini sama artinya dengan “dengan perintah Allah” dan menganggapnya mengacu pada para malaikat atau pada fungsi penjagaan mereka. Namun, penafsiran ini tidak mendapat dukungan dari semua mufasir. Sejumlah mufasir paling awal berasumsi bahwa istilah mu’aqibat mengacu pada segala bentuk kekuatan atau konsep duniawi yang sering dijadikan sandaran oleh manusia karena keyakinan mereka yang keliru bahwa kekuatan atau konsep itu dapat membantu manusia mencapai tujuan-tujuannya tanpa campur tangan kehendak Allah: dan inilah pengertian ayat yang bersifat eliptis itu menurut Abu Muslim Al-Ishfahani, sebagaimana dikutip oleh Al-Razi. Ketika menjelaskan ayat 10 dan bagian pertama ayat 11, dia mengatakan: “Dalam pengetahuan Allah, semuanya sama saja, baik suatu perbuatan dilakukan secara rahasia maupun terbuka, sebagaimana seseorang yang bersembunyi dalam kegelapan malam dan yang berjalan [terang-terangan] dalam cahaya siang …: sebab, orang yang bersembunyi dalam [naungan] malam tidak akan dapat menghindarkan diri dari ketetapan (amr) Allah, sebagaimana [tidak pula dapat menghindar] orang yang berjalan pada siang hari yang terang dengan dikelilingi oleh pasukan-pasukan penolong (mu’aqqibat)—yaitu para penjaga dan pembantu—yang bermaksud untuk melindunginya: [sebab,] para penjaga itu tidak mampu menjaganya terhadap [ketetapan] Allah.” Penafsiran yang meyakinkan inilah yang saya jadikan sebagai landasan bagi penerjemahan saya. “Pelindung dan penolong” duniawi yang dijadikan sandaran oleh seorang pendosa, mungkin berupa sesuatu yang kasatmata (seperti kekayaan, keturunan, dan sebagainya), atau tidak kasatmata (seperti kekuatan pribadi, status sosial yang tinggi, atau kepercayaan pada “keberuntungan” seseorang): dan ini menjelaskan frasa “baik yang dapat disaksikannya maupun yang tersembunyi darinya” (lihat catatan terdahulu).

26 Lit., “apa yang terdapat dalam diri mereka sendiri”. Pernyataan ini mempunyai konotasi positif dan negatif sekaligus: yakni, Allah tidak akan mencabut nikmat-nikmat-Nya dari manusia, kecuali lubuk diri (inner-selves) mereka sendiri menjadi rusak (bdk. Surah Al-Anfal [8]: 53), sebagaimana Dia tidak melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada orang-orang yang sengaja melakukan dosa, kecuali mereka mengubah watak mereka sendiri sehingga pantas mendapat rahmat-Nya. Dalam pengertian yang lebih luas, ini merupakan suatu gambaran mengenai hukum sebab-akibat yang ditetapkan Allah (sunnah Allah) yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat sehingga kebangkitan dan keruntuhan suatu peradaban akan bergantung pada kualitas moral umatnya dan pada perubahan dalam “lubuk diri mereka” sendiri.


Surah Ar-Ra’d Ayat 12

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ

huwallażī yurīkumul-barqa khaufaw wa ṭama’aw wa yunsyi`us-saḥābaṡ-ṡiqāl

12. DIA-LAH yang memperlihatkan kilat kepada kalian untuk menimbulkan ketakutan dan [sekaligus] harapan,27 dan Dia-lah yang mengadakan awan mendung;


27 Yakni, harapan akan turunnya hujan, yang dalam Al-Quran sering kali melambangkan iman dan kehidupan ruhani. Dengan ayat ini, wacana kembali pada tema yang diuraikan pada awal surah ini (ayat 2-4): yaitu, bukti tentang adanya rencana yang disusun secara sadar dan adanya tujuan yang inheren dalam seluruh alam dan, karena itu, bukti mengenai eksistensi Allah.


Surah Ar-Ra’d Ayat 13

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

wa yusabbiḥur-ra’du biḥamdihī wal-malā`ikatu min khīfatih, wa yursiluṣ-ṣawā’iqa fa yuṣību bihā may yasyā`u wa hum yujādilụna fillāh, wa huwa syadīdul miḥāl

13. dan guruh itu bertasbih dan memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga, dan [demikian pula] para malaikat karena gentar-terpukau pada-Nya; dan Dia[-lah yang] melepaskan halilintar dan menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Dan, sungguhpun begitu, mereka dengan keras kepala berbantah-bantahan tentang Allah,28 walaupun [seluruh bukti menunjukkan bahwa] Dia sajalah yang berkuasa merancang apa pun sebagaimana yang dikehendaki oleh hikmat-kebijaksanaan-Nya yang sangat tak terduga!29


28 Yakni, mengenai eksistensi transendental-Nya atau sifat keberadaan-Nya.

29 {He alone has the power to contrive whatever His unfathomable wisdom wills.} Menurut Raghib, ungkapan syadid al-mihal (yang dalam Al-Quran hanya terdapat dalam ayat ini) berarti “sangat berkuasa merencanakan (sesuatu), dengan cara-cara yang tidak diketahui manusia, dan yang di dalamnya penuh hikmah”. Karena itu, saya menerjemahkannya demikian.


Surah Ar-Ra’d Ayat 14

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ ۖ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ ۚ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

lahụ da’watul-ḥaqq, wallażīna yad’ụna min dụnihī lā yastajībụna lahum bisyai`in illā kabāsiṭi kaffaihi ilal-mā`i liyabluga fāhu wa mā huwa bibāligih, wa mā du’ā`ul-kāfirīna illā fī ḍalāl

14. Kepada-Nya [sajalah] dipanjatkan segala doa untuk meraih Kebenaran Tertinggi30 karena [makhluk-makhluk atau kekuatan-kekuatan lain] yang diseru manusia selain Allah31 sama sekali tidak dapat menjawab mereka—[sehingga orang yang menyeru mereka] tidak Iain seperti orang yang mengulurkan tangannya yang terbuka32 ke dalam air, [mengharapkan] agar air itu mencapai mulutnya, padahal air itu tidak akan pernah mencapainya. Karena itu, doa orang-orang yang mengingkari kebenaran sama saja dengan keterjerumusan ke dalam kesalahan besar.


30 Lit., “Kepunyaan-Nya-lah panggilan (atau ‘seruan’] kebenaran”; atau, kemungkinan lain, “kepada-Nya [sajalah] dipanjatkan segala seruan yang benar”. Namun, hendaknya diingat bahwa istilah al-haqq (“Kebenaran”) merupakan salah satu sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran, yang berarti Realitas Tertinggi atau Sebab Pertama (Causa Prima) dari segala sesuatu yang ada (Urgrund dalam terminologi filosofis Jerman): karena itu, ungkapan da’wat al-haqq dapat dipahami dalam pengertian “doa yang dipanjatkan kepada-Nya, Sang Realitas Tertinggi”, yang menyiratkan—sebagaimana dengan jelas dinyatakan oleh lanjutan ayat tersebut—bahwa doa yang dipanjatkan kepada makhluk, kekuatan, atau sumber lain apa pun secara eo ipso (dengan sendirinya) adalah salah dan sia-sia.

31 Atau: “berdampingan dengan Allah”.

32 Lit., “kedua telapak tangannya”.


Surah Ar-Ra’d Ayat 15

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

wa lillāhi yasjudu man fis-samāwāti wal-arḍi ṭau’aw wa kar-haw wa ẓilāluhum bil-guduwwi wal-āṣāl

15. Dan di hadapan Allah, bersujudlah segala [benda dan makhluk] yang ada di lelangit dan bumi,33 demikian pula bayang-bayangnya, dengan sukarela maupun terpaksa, pada waktu pagi dan petang.34


33 Ungkapan yasjud (“dia bersujud” atau “mereka bersujud”) merupakan suatu metonimia terhadap penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak-Nya (Al-Zamakhsyari), yakni pada hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya terhadap segala sesuatu yang ada. Menurut mayoritas mufasir klasik, mereka yang dengan sukarela (yakni secara sadar) berserah diri kepada Allah adalah para malaikat dan orang-orang beriman; sedangkan pengingkar-pengingkar kebenaran yang “tidak ingin” berserah diri kepada-Nya, bagaimanapun, tetap tunduk pada kehendak-Nya, meskipun mereka tidak menyadarinya. Namun, mengingat disebutkannya “bayang-bayang” pada kalimat selanjutnya, cukup masuk akal untuk berasumsi bahwa kata ganti man dalam konteks ini mengacu tidak hanya pada makhluk yang sadar semata, tetapi juga pada semua objek fisik lainnya, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa—yakni, mengacu pada “segala benda dan makhluk yang ada di lelangit dan di bumi”. (Lihat juga Surah An-Nahl [16]: 48-49 dan Surah Al-Hajj [22]: 18.)

34 Yakni, variasi ukuran panjang bayang-bayang dari benda apa pun bergantung pada posisi matahari terhadap bumi; dan karena peredaran bumi mengelilingi matahari—sebagaimana setiap hal lainnya di alam semesta—merupakan hasil kehendak kreatif Allah, memanjangnya bayang-bayang pada pagi dan sore serta memendeknya ia menjelang siang hari nyata-nyata memperlihatkan tunduknya bayang-bayang tersebut pada-Nya.


Surah Ar-Ra’d Ayat 16

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

qul mar rabbus-samāwāti wal-arḍ, qulillāh, qul a fattakhażtum min dụnihī auliyā`a lā yamlikụna li`anfusihim naf’aw wa lā ḍarrā, qul hal yastawil-a’mā wal-baṣīru am hal tastawiẓ-ẓulumātu wan-nụr, am ja’alụ lillāhi syurakā`a khalaqụ kakhalqihī fa tasyābahal-khalqu ‘alaihim, qulillāhu khāliqu kulli syai`iw wa huwal-wāḥidul-qahhār

16. Katakanlah: “Siapakah Pemelihara lelangit dan bumi?”

Katakanlah: “Allah.”

Katakanlah: “Maka, [mengapakah] kalian mengambil sebagai pelindung-pelindung kalian, alih-alih Allah, mereka yang tidak berkuasa untuk memberi manfaat kepada, atau menolak mudarat dari, diri mereka sendiri?”

Katakanlah: “Adakah sama orang buta dengan orang yang dapat melihat?—atau, adakah sama gelap gulita dengan cahaya?”

Atau, apakah mereka [benar-benar] percaya bahwa di samping Allah terdapat kuasa-kuasa Ilahi yang lain35 yang telah menciptakan seperti apa yang Dia ciptakan sehingga ciptaan ini tampak serupa bagi mereka [dengan ciptaan-Nya]?36

Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Yang Maha Esa, yang memegang kekuasaan mutlak atas segala yang ada.”


35 Lit., “apakah mereka menisbahkan sekutu-sekutu bagi Allah …”, dan seterusnya—yakni, makhluk-makhluk yang dianggap bersekutu dalam ketuhanan atau dalam kekuatan kreatif-Nya. Lihat juga Surah Al-An’am [6], catatan no. 15.)

36 Meskipun istilah khalq (“kreasi” atau “hasil cipta”) sering digunakan secara metafora dengan mengacu pada capaian-capaian manusia, ada perbedaan intrinsik antara “kreasi” seniman, pujangga, atau filosof dan hasil kreasi yang dinisbahkan pada Allah: sebab, sementara manusia “pencipta” menghasilkan karyanya dari bahan-bahan yang sudah ada dan sekadar menyatukan bahan-bahan tersebut menjadi suatu (kemungkinan) kombinasi baru, Allah sajalah yang mempunyai kekuasaan untuk mencipta dalam pengertian sesungguhnya dari kata ini—yakni, mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada, baik suatu benda secara utuh maupun bagian-bagiannya saja (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 117—”manakala Dia menetapkan untuk menjadikan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya, ‘Jadilah’—maka terjadilah ia!”). Inilah arti dari rujukan, dalam ayat di atas, terhadap kepercayaan batil bahwa kekuatan atau makhluk lain pun dapat “menciptakan seperti apa yang Dia ciptakan”.


Surah Ar-Ra’d Ayat 17

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

anzala minas-samā`i mā`an fa sālat audiyatum biqadarihā faḥtamalas-sailu zabadar rābiyā, wa mimmā yụqidụna ‘alaihi fin-nāribtigā`a ḥilyatin au matā’in zabadum miṡluh, każālika yaḍribullāhul-ḥaqqa wal-bāṭil, fa ammaz-zabadu fa yaż-habu jufā`ā, wa ammā mā yanfa’un-nāsa fa yamkuṡu fil-arḍ, każālika yaḍribullāhul-amṡāl

17. [Setiap kali] Dia menurunkan air dari langit, dan dasar-dasar sungai [yang dulunya kering] mengalirkan air deras37 sesuai dengan ukurannya, arus itu membawa buih di atas permukaannya;38 dan begitu pula, dari [logam] yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, [timbul] buih.

Dengan cara inilah Allah mengemukakan perumpamaan tentang kebenaran dan kebatilan: sebab, adapun buih, ia akan berlalu sebagai [-mana halnya dengan segala] hal yang tidak berguna*; namun, yang memberi manfaat bagi manusia, akan tetap tinggal di bumi.

Dengan cara inilah Allah mengemukakan perumpamaan-perumpamaan


37 Kata-kata “yang dulunya kering” perlu disisipkan sesudah nomina “dasar-dasar sungai” (audiyah) karena nomina ini tidak disertai dengan kata sandang tentu al {lam ta’rif sehingga menjadi al-audiyah—peny.}. Menurut AI-Zamakhsyari, hal ini menunjukkan bahwa hanya sebagian dasar-dasar sungai yang dialiri air, sementara yang lainnya, karena tidak dipengaruhi oleh hujan yang khusus ini, tetap kering. Hendaknya diingat bahwa istilah wad (atau wadi dalam bahasa populer) utamanya berarti “kanal-air” atau “dasar sungai” yang biasanya kering dan hanya mengalirkan air setelah turun hujan deras; hanya karena perluasan maknalah, istilah ini kadang-kadang digunakan pula untuk menyebut sungai yang sebenarnya.

38 Dengan kata lain, “sementara air di bawahnya tetap jernih”.

* {“it passes away as [does all dross“. “Dross” memiliki dua pengertian: (1) hal yang tidak berguna atau rendah mutunya; dan (2) buih yang berasal dari logam cair. Pemilihan kata dross ini sungguh tepat dalam konteks perumpamaan di atas karena mengandung makna konotatif dan denotatif sekaligus. Dalam penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, makna denotatifnya tidak dapat tersampaikan karena tidak ada padanan kata dalam bahasa Indonesia yang dapat mencakup kedua makna denotatif dan konotatif tersebut sekaligus.—peny.}


Surah Ar-Ra’d Ayat 18

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

lillażīnastajābụ lirabbihimul-ḥusnā, wallażīna lam yastajībụ lahụ lau anna lahum mā fil-arḍi jamī’aw wa miṡlahụ ma’ahụ laftadau bih, ulā`ika lahum sū`ul-ḥisābi wa ma`wāhum jahannam, wa bi`sal-mihād

18. tentang orang-orang yang menjawab seruan Pemeliharanya dengan jawaban yang baik, dan tentang orang-orang yang tidak menjawab seruan-Nya.39 [Adapun mengenai orang-orang yang tidak menjawab seruan-Nya,] sekiranya mereka memiliki segala sesuatu yang ada di atas bumi, dan ditambah dua kali sebanyak itu,40 niscaya mereka akan memberikan semuanya itu sebagai tebusan [pada Hari Pengadilan]:41 perhitungan yang terburuk menanti mereka, dan tempat kembali mereka adalah neraka: dan betapa buruknya tempat peristirahatan itu!


39 Terjemahan ini didasarkan pada penafsiran Al-Zamakhsyari terhadap pasase di atas. Menurut mufasir lainnya, bagian awal ayat 18 tidak berhubungan dengan bagian akhir ayat sebelumnya, dan merupakan kalimat baru, sehingga dibaca demikian: “Bagi orang-orang yang menanggapi seruan Pemelihara mereka, [tersedia] kebaikan yang tertinggi (al-husna); tetapi bagi orang-orang yang tidak menanggapi seruan-Nya …”, dst. Menurut pendapat saya, versi bacaan Al-Zamakhsyari—yang memandang ungkapan al-husna sebagai kata sifat yang menerangkan sambutan orang-orang beriman—lebih tepat karena sepenuhnya menjustifikasi pengulangan kata-kata “perumpamaan-perumpamaan Allah”.

40 Lit., “dan sebanyak itu lagi besertanya”.

41 Bdk. Surah Al-‘Imran [3]: 91 dan catatan no. 71 yang terkait.


Surah Ar-Ra’d Ayat 19

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

a fa may ya’lamu annamā unzila ilaika mir rabbikal-ḥaqqu kaman huwa a’mā, innamā yatażakkaru ulul-albāb

19. LALU, APAKAH orang yang mengetahui bahwasanya apa pun yang telah diturunkan kepadamu dari Pemeliharamu itu benar sama dengan orang yang buta?

Hanya orang-orang yang dianugerahi pengetahuan mendalamlah yang dapat mengingat ini:


Surah Ar-Ra’d Ayat 20

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ

allażīna yụfụna bi’ahdillāhi wa lā yangquḍụnal-mīṡāq

20. orang-orang yang setia menjaga ikatan mereka dengan Allah dan tidak pernah melanggar perjanjian mereka;42


42 Dalam konteks ini, “perjanjian” adalah sebuah istilah umum yang mencakup kewajiban ruhani (yang lahir dari keyakinan seseorang pada Allah) dan kewajiban moral dan sosial (yang timbul sebagai akibat dari keyakinan itu) terhadap sesama manusia (Al-Zamakhsyari); dalam kaitannya dengan ini, lihat kalimat pertama Surah Al-Ma’idah [5]: 1 (yang di dalamnya istilah ‘aqd tercantum) dan catatan no. 1 yang terkait. Mengenai penerjemahan saya terhadap ‘ahd Allah menjadi “ikatan dengan Allah”, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19.


Surah Ar-Ra’d Ayat 21

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

wallażīna yaṣilụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yakhsyauna rabbahum wa yakhāfụna sū`al-ḥisāb

21. dan orang-orang yang menghubungkan apa yang telah Allah perintahkan agar dihubungkan,43 dan yang terpukau-gentar terhadap Pemelihara mereka dan takut terhadap perhitungan terburuk [yang menanti orang-orang yang tidak menanggapi-Nya];


43 Ini merujuk pada semua pertalian yang muncul dari hubungan antar-sesama manusia—yakni, ikatan keluarga, tanggung jawab terhadap anak yatim dan fakir miskin, hak dan kewajiban timbal-balik antar-tetangga—serta ikatan ruhani dan ikatan praktis yang seharusnya ada di antara sesama Muslim (bdk. Surah Al-Anfal [8]: 75 dan catatannya). Dalam pengertiannya yang terluas, frasa “apa yang telah Allah perintahkan agar dihubungkan” merujuk pada kewajiban ruhani agar manusia tetap menyadari kesamaan tujuan yang mendasari semua ciptaan Allah dan, karena itu—menurut Al-Razi—menyadari kewajiban moral manusia untuk memperlakukan semua makhluk hidup dengan cinta dan belas kasih.


Surah Ar-Ra’d Ayat 22

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

wallażīna ṣabarubtigā`a waj-hi rabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa anfaqụ mimmā razaqnāhum sirraw wa ‘alāniyataw wa yadra`ụna bil-ḥasanatis-sayyi`ata ulā`ika lahum ‘uqbad-dār

22. dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi kesusahan karena merindukan wajah Pemelihara mereka, teguh mendirikan shalat, dan menafkahkan untuk orang lain sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka, secara sembunyi ataupun terang-terangan, serta [yang] menolak kejahatan dengan kebaikan.44

Orang-orang inilah yang akan mendapatkan kepuasan mereka di akhirat:45


44 Beberapa mufasir mengartikannya demikian: “jika mereka berbuat dosa, mereka menolaknya [yakni akibatnya] dengan tobat” (Ibn Kaisan, sebagaimana dikutip oleh Al-Zamakhsyari), sementara mufasir lain berpendapat bahwa “penolakan” ini berarti melakukan suatu perbuatan baik untuk menebus suatu perbuatan buruk—yang mungkin dilakukan dengan tidak disengaja (Al-Razi) atau bahwa ia mengacu pada upaya sungguh-sungguh untuk mengubah keadaan yang buruk menjadi baik melalui perkataan atau perbuatan (suatu alternatif penafsiran yang dikemukakan oleh Al-Zamakhsyari). Namun, mayoritas mufasir klasik menganggap bahwa artinya adalah “mereka membalas kejahatan dengan kebajikan”; demikianlah Al-Hasan Al-Bashri (sebagaimana dikutip Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Razi) berkata, “Tatkala mereka kekurangan [sesuatu], mereka memberi; dan tatkala mereka dizalimi, mereka memaafkan.” Penjelasan Al-Thabari sangat mirip: “Mereka membalas perbuatan buruk yang dilakukan terhadap mereka dengan melakukan kebaikan terhadap orang-orang yang melakukan keburukan tersebut”; dan “mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi membalasnya dengan [melakukan] kebaikan”. Lihat juga Surah Fussilat [41]: 34-36.

45 Lit., “Untuk mereka akan tersedia hasil akhir [atau ‘kepuasan’] berupa tempat tinggal [yang terakhir]”. Oleh hampir semua filolog, nomina ‘uqba dianggap sama artinya dengan al-‘aqibah (“akibat”, “akhir”, atau “hasil akhir”; dan karena itu juga “balasan” dan, secara figuratif, “nasib” atau “kepuasan”). Istilah al-dar maksudnya adalah al-dar al-akhirah, “tempat tinggal yang terakhir”, yakni kehidupan akhirat.


Surah Ar-Ra’d Ayat 23

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

jannātu ‘adniy yadkhulụnahā wa man ṣalaḥa min ābā`ihim wa azwājihim wa żurriyyātihim wal-malā`ikatu yadkhulụna ‘alaihim ming kulli bāb

23. taman-taman kebahagiaan yang abadi, yang akan mereka masuki bersama-sama dengan orang-orang saleh di antara orangtua, pasangan-pasangan, dan anak cucu mereka;46 dan malaikat-malaikat akan datang kepada mereka dari setiap pintu gerbang [dan akan berkata],


46 Seperti telah saya tunjukkan dalam banyak tempat, istilah zauj menunjukkan “sepasang” atau “sejodoh” serta masing-masing komponen dari pasangan itu—yakni, dalam hal manusia, menunjukkan “pasangan” {spouse}: jadi, “suami” atau “istri”. Demikian pula halnya dengan istilah aba’ (lit., “ayah” atau “nenek moyang”) biasanya menunjukkan ayah dan ibu sekaligus, yakni “orangtua”; dan menurut Al-Zamakhsyari, inilah makna kata itu di sini.

Adapun mengenai ungkapan ‘adn, yang saya terjemahkan menjadi “kebahagiaan yang abadi”, lihat catatan pada Surah Sad [38]: 50—ayat Al-Quran yang pertama kali menyebutkan istilah ini.


Surah Ar-Ra’d Ayat 24

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

salāmun ‘alaikum bimā ṣabartum fa ni’ma ‘uqbad-dār

24. “Semoga kedamaian tercurah atas kalian karena kalian telah bersabar!”

Maka, alangkah baiknya kepuasan di akhirat ini!


Surah Ar-Ra’d Ayat 25

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

wallażīna yangquḍụna ‘ahdallāhi mim ba’di mīṡāqihī wa yaqṭa’ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍi ulā`ika lahumul-la’natu wa lahum sū`ud-dār

25. Namun, adapun orang-orang yang memutus ikatan mereka dengan Allah sesudah ikatan itu dibina [di dalam fitrah mereka],47 dan mencerai-beraikan apa yang telah Allah perintahkan agar dihubungkan, dan menyebarkan kerusakan di muka bumi—balasan bagi mereka adalah penolakan [dari Allah]48 dan bagi mereka nasib yang paling buruk [di akhirat].


47 Lit., “setelah pembinaannya (mitsaq)”. Untuk penjelasan lengkap mengenai ungkapan “ikatan dengan Allah” dan kata-kata “di dalam fitrah mereka” {in their nature} yang saya sisipkan di antara dua kurung siku, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 19.

48 Istilah Al-Quran la’nah—yang biasanya (tetapi kurang tepat) diterjemahkan menjadi “kutukan” (dan secara populer digunakan dalam pengertian ini dalam percakapan sehari-hari bahasa Arab pascaklasik)—berarti “pembuangan” atau “pengasingan” (ib’ad), yakni dari segala sesuatu yang baik (Lisan Al-‘Arab). Manakala dalam Al-Quran istilah ini dinisbahkan pada Allah dalam kaitannya dengan pendosa, ia berarti “dikucilkannya si pendosa itu dari rahmat Allah” atau “ditolaknya pendosa itu oleh Allah”. Dalam konteks ini, pengertian ini diperkuat kembali dengan disebutkannya “nasib yang paling buruk” (secara harfiah “tempat tinggal”) di akhirat pada kalimat selanjutnya.

Untuk penjelasan mengenai “apa-apa yang telah Allah perintahkan agar dihubungkan”, lihat catatan no. 43.


Surah Ar-Ra’d Ayat 26

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

allāhu yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, wa fariḥụ bil-ḥayātid-dun-yā, wa mal-ḥayātud-dun-yā fil-ākhirati illā matā’

26. ALLAH MENGANUGERAHKAN rezeki yang melimpah, atau memberikannya dalam jumlah yang sedikit, kepada siapa saja yang Dia kehendaki; dan mereka [yang diberikan kelimpahan] bergembira dalam kehidupan dunia ini—meskipun, bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah kesenangan yang cepat berlalu.


Surah Ar-Ra’d Ayat 27

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۗ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

wa yaqụlullażīna kafarụ lau lā unzila ‘alaihi āyatum mir rabbih, qul innallāha yuḍillu may yasyā`u wa yahdī ilaihi man anāb

27. ADAPUN ORANG-ORANG. yang berkukuh mengingkari kebenaran [pesan Nabi] berkata, “Mengapa tidak pernah diturunkan kepadanya suatu pertanda yang ajaib dari Pemeliharanya?”49

Katakan: “Perhatikanlah, Allah membiarkan sesat siapa saja yang ingin [sesat],50 sebagaimana Dia memberi petunjuk menuju diri-Nya kepada semua orang yang kembali kepada-Nya—


49 Lihat ayat 7 surah ini dan catatan no. 16 yang terkait. Diulanginya pertanyaan ini di sini menunjukkan kaitannya dengan kalimat “orang-orang yang memutus ikatan mereka dengan Allah sesudah ikatan itu dibina [di dalam fitrah mereka]” pada ayat 25 di atas (yang diterangkan dalam catatan no. 19 pada Surah Al-Baqarah [2]: 27). Dilalaikannya kemampuan fitrah (bawaan) asli mereka untuk menyadari eksistensi Allah dan untuk menyadari kebergantungan mutlak mereka terhadap petunjuk-Nya—yang disebabkan mereka benar-benar tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana ini—membuat “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu” mustahil merasakan isyarat keilahian dalam risalah yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. kepada mereka: karena itu, mereka menolak menerimanya sebagai kebenaran, kecuali kalau ia didukung oleh suatu “mukjizat” yang dapat dilihat dengan nyata. (Dalam kaitannya dengan ini, lihat catatan no. 94 pada Surah Al-An’am [6]: 109.)

50 Atau: “Allah membiarkan tersesat siapa pun yang Dia kehendaki”. Mengenai penerjemahan yang saya pilih, lihat Surah Ibrahim [14], catatan no. 4.


Surah Ar-Ra’d Ayat 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

allażīna āmanụ wa taṭma`innu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma`innul-qulụb

28. orang-orang yang beriman, dan yang hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah—sebab, sungguh, dengan mengingat Allah, hati [manusia] benar-benar menjadi tenteram—:


Surah Ar-Ra’d Ayat 29

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

allażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti ṭụbā lahum wa ḥusnu ma`āb

29. [dan demikianlah,] orang-orang yang meraih iman dan beramal saleh akan mendapatkan kebahagiaan [di dunia ini] dan tempat kembali yang terindah [dalam kehidupan akhirat]!”


Surah Ar-Ra’d Ayat 30

كَذَٰلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَٰنِ ۚ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ

każālika arsalnāka fī ummating qad khalat ming qablihā umamul litatluwā ‘alaihimullażī auḥainā ilaika wa hum yakfurụna bir-raḥmān, qul huwa rabbī lā ilāha illā huw, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi matāb

30. Demikianlah,51 Kami telah mengangkatmu [wahai Muhammad] sebagai Rasul Kami di tengah-tengah suatu umat [yang tidak beriman] yang sebelum masa mereka umat-umat [yang serupa] telah datang dan pergi52 agar engkau menyampaikan kepada mereka apa yang telah Kami wahyukan kepadamu: sebab, [dalam ketidaktahuan mereka,] mereka mengingkari Yang Maha Pengasih!53

Katakanlah: “Dia-lah Pemeliharaku. Tiada tuhan kecuali Dia. Kepada-Nya aku bersandar penuh percaya,* dan kepada-Nya aku berpaling untuk meminta pertolongan!”


51 Mayoritas mufasir menyatakan bahwa “demikianlah” atau “begitulah” (kadzalika) mengacu pada nabi-nabi terdahulu, yakni “Demikianlah [atau ‘dengan cara yang sama’] sebagaimana Kami telah mengutus para nabi sebelummu, wahai Muhammad, kini Kami mengutusmu …”, dst. Namun, bagi saya, sisipan spekulatif ini tidak diperlukan dan adverbia “demikianlah” secara langsung berkaitan dengan pernyataan sebelumnya bahwa Allah “memberikan petunjuk menuju diri-Nya kepada semua orang yang kembali kepada-Nya”: dengan kata lain, adverbia “demikianlah” berfungsi menerangkan misi kerasulan Muhammad Saw. sebagai sarana menyampaikan petunjuk Allah. (Beginilah kiranya Al-Thabari memahami frasa di atas.)

52 Lit., “yang sebelum mereka umat-umat [yang lain] telah berlalu”: secara tidak langsung mengacu pada kontinuitas wahyu kepada para nabi sebelum dan hingga nabi terakhir, Muhammad Saw. (Al-Zamakhsyari, Al-Razi). Penyisipan kata-kata “yang tidak beriman” didasarkan pada penafsiran Ibn Katsir atas ayat ini, sementara penerjemahan saya terhadap arsalnaka (lit., “Kami telah mengutusmu”) menjadi” Kami telah mengangkatmu sebagai Rasul Kami” diharuskan, dalam bahasa Inggris {dan dalam bahasa Indones ia—peny.} karena adanya kata depan amidst (di tengah-tengah) yang mengikutinya. {We raised thee as Our Apostle amidst a community ….}

53 Yakni, dengan menolak mengakui eksistensi-Nya, atau dengan menolak petunjuk-Nya, atau dengan menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada makhluk atau kuasa-kuasa lain selain-Nya.

* {Yakni, bertawakal, in Him have I placed my trust.—peny.}


Surah Ar-Ra’d Ayat 31

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

walau anna qur`ānan suyyirat bihil-jibālu au quṭṭi’at bihil-arḍu au kullima bihil-mautā, bal lillāhil-amru jamī’ā, a fa lam yai`asillażīna āmanū al lau yasyā`ullāhu laḥadan-nāsa jamī’ā, wa lā yazālullażīna kafarụ tuṣībuhum bimā ṣana’ụ qāri’atun au taḥullu qarībam min dārihim ḥattā ya`tiya wa’dullāh, innallāha lā yukhliful-mī’ād

31. Namun, bahkan jika [mereka mendengar] bacaan [Ilahi] yang dengan bacaan itu gunung-gunung berguncang, atau bumi menjadi terbelah, atau orang-orang yang sudah mati dapat berbicara—[mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran akan tetap menolak untuk mengimaninya]!54

Tidak, hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang akan terjadi.55 Maka, tidakkah orang-orang yang telah meraih iman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki, Dia benar-benar sudah memberi petunjuk kepada manusia semuanya?56

Adapun orang-orang yang mengingkari kebenaran—sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan [buruk] mereka, bencana yang tiba-tiba akan selalu menimpa mereka atau akan turun di dekat rumah-rumah mereka;57 [dan ini akan terus berlanjut] hingga janji Allah [tentang Kebangkitan] terpenuhi: sungguh, Allah tidak pernah melanggar janji-Nya!


54 Kalimat yang saya tam bahkan di antara dua kurung siku itu berkaitan dengan penafsiran terhadap ayat di atas yang dikemukakan oleh Al-Thabari dan Al-Zajjaj (sebagaimana dikutip oleh Al-Razi—tanpa secara langsung menyebutkan nama Al-Zajjaj—, Al-Baghawi, dan Al-Zamakhsyari); bdk. Surah Al-An’am [6]: 109- 111.

55 Lit., “hanya milik Allah-lah segala [kekuasaan untuk memberi] perintah”: yakni, tidak ada satu pun “mukjizat” yang dapat meyakinkan orang-orang yang hatinya telah “ditutup” Allah sebagai konsekuensi tindakan mereka yang “memutus ikatan mereka dengan-Nya” (lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 7 dan 191.

56 Artinya, Allah menganugerahi manusia kebebasan untuk memilih antara yang benar dan yang salah: “Dia memberi petunjuk yang mengantarkan kepada Diri-Nya bagi semua orang yang kembali kepada-Nya” (ayat 27) dan “orang-orang yang setia-menjaga ikatan mereka dengan Allah” (ayat 20); pada sisi lain, Dia menahan petunjuk-Nya dari “orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang memutus ikatan mereka dengan Allah” (Surah Al-Baqarah [2]: 26-27). Lihat juga kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 149 dan catatannya no. 143.

57 Lit., “bencana yang tiba-tiba (qari’ah) tidak akan berhenti (la yazal) menimpa mereka atau turun di dekat rumah-rumah mereka”. Namun, karena frasa ini mengandung arti pengulangan dan keberlanjutan, bentuk tunggal nomina qari’ah di sini jelas mempunyai makna kumulatif—yakni, bencana sosial, perang saudara, dan saling rampas yang datang silih berganti dan tidak henti-hentinya yang, sebagai konsekuensi dari sikap acuh tak acuh mereka yang disengaja terhadap nilai-nilai ruhani, secara langsung akan menimpa “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” (alladzina kafaru), atau secara tidak langsung akan menyebabkan mereka menderita karena berdampak pada lingkungan organik mereka secara keseluruhan: dan inilah, menurut saya, arti dari frasa “atau akan turun di dekat rumah-rumah mereka”. (Bdk. dalam kaitan ini Surah Al-Ma’idah [5]: 33 dan catatan-catatannya, khususnya catatan no. 45.)


Surah Ar-Ra’d Ayat 32

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ

wa laqadistuhzi`a birusulim ming qablika fa amlaitu lillażīna kafarụ ṡumma akhażtuhum fa kaifa kāna ‘iqāb

32. Dan sungguh, [bahkan] sebelum masamu, rasul-rasul [Allah] telah diperolok dan, untuk sementara waktu, Aku beri penangguhan kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran: tetapi, kemudian Aku hukum mereka—dan, alangkah dahsyatnya hukuman-Ku itu!


Surah Ar-Ra’d Ayat 33

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۗ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ ۚ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ ۗ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

a fa man huwa qā`imun ‘alā kulli nafsim bimā kasabat, wa ja’alụ lillāhi syurakā`, qul sammụhum, am tunabbi`ụnahụ bimā lā ya’lamu fil-arḍi am biẓāhirim minal-qaụl, bal zuyyina lillażīna kafarụ makruhum wa ṣuddụ ‘anis-sabīl, wa may yuḍlilillāhu fa mā lahụ min hād

33. MAKA, APAKAH DIA, yang menjaga setiap makhluk hidup58 dalam pemeliharaan-Nya yang agung, [dengan memperlakukan setiap makhluk hidup itu] menurut apa yang layak ia terima59—[maka, apakah Dia serupa dengan segala sesuatu yang ada]? Dan, sungguhpun begitu, mereka menganggap wujud-wujud lainnya bersekutu dalam ketuhanan Allah!

Katakanlah: “Namailah mereka dengan nama apa pun [yang menyenangkan kalian]:60 tetapi, apakah kalian [benar-benar menduga bahwa kalian dapat] memberitakan kepada Allah apa pun yang ada di atas bumi yang tidak Dia ketahui—atau [apakah kalian] tiada lain hanyalah bermain dengan kata-kata?”61

Tidak, rekaan-rekaan batil62* mereka tampak baik dalam pandangan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu, dan demikianlah mereka dipalingkan dari jalan [yang benar]: dan siapa pun yang Allah biarkan tersesat tidak akan pernah menemukan seorang pun pemberi petunjuk.63


58 Istilah nafs di sini rupanya merujuk pada pengertian umumnya, yakni “jiwa” atau “makhluk hidup”, yang menunjuk pada manusia dan hewan.

59 Lit., “apa yang telah ia usahakan”—yakni, sesuai dengan kebutuhan hidupnya dan, dalam kasus manusia, sesuai dengan ganjaran moralnya.

60 Lit., “Sebutkanlah (nama-nama) mereka!” Mayoritas mufasir menjelaskan frasa ini sebagai ungkapan penghinaan terhadap makhluk-makhluk yang dianggap “memiliki sifat-sifat ketuhanan”: yakni, bahwa “makhluk-makhluk itu sedemikian tidak nyatanya dan sama sekali tak bermakna sehingga bahkan tidak layak memiliki nama”. Mungkin pula di sini kita disuguhkan dengan suatu gema dari pernyataan—yang terdapat dalam Surah Al-A’raf [7]: 71, Yusuf [12]: 40, dan An-Najm [53]: 23—bahwa objek-objek sembahan yang batil itu tidak lain hanyalah “nama-nama [hampa] yang kalian buat-buat”. Namun, mengingat kalimat berikutnya—yang mengacu pada kemahatahuan Allah, dan yang mirip dengan ayat 18 Surah Yunus [10] yang secara eksplisit menyebutkan “perantara” (pemberi syafaat) khayalan—terbuka kemungkinan untuk menafsirkan frasa di atas secara jauh lebih tepat, yakni “Namailah mereka ‘perantara-perantara Ilahi’, jika kalian suka: tetapi …,” dst. (Menurut Al-Zamakhsyari, partikel am yang biasanya menunjukkan “atau”, di sini menunjukkan bal, yakni “tidak, tetapi,” atau “tetapi” saja.)

61 Lit., “atau [apakah kalian mengatakan hal ini] dengan perkataan lahir (bi-zhahir) saja”. Bdk. bagian kedua ayat 18 Surah Yunus [10] (yang didahului dengan disebutkannya “para perantara” yang dipertuhankan) dan catatan no. 27 yang terkait.

62 Lit., “tipu-rekayasa licik [atau ‘cerdik’] (makr) mereka”: tetapi, sebagaimana ditunjukkan Al-Thabari, karena di sini istilah ini terutama mengacu pada syirk (“penisbahan sifat-sifat ketuhanan kepada apa pun selain Allah”) yang dilakukan dengan sadar dan, karena itu, mengacu pada gagasan-gagasan batil mengenai agama pada umumnya, istilah ini dapat diterjemahkan seperti di atas. *{false imagery}

63 Lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 152, dan Surah Ibrahim [14], catatan no. 4.


Surah Ar-Ra’d Ayat 34

لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

lahum ‘ażābun fil-ḥayātid-dun-yā wa la’ażābul-ākhirati asyaqq, wa mā lahum minallāhi miw wāq

34. Bagi orang-orang yang seperti ini, ada penderitaan dalam kehidupan dunia ini;64 tetapi, sungguh, penderitaan [mereka] di akhirat akan lebih keras, dan mereka tidak akan memiliki siapa pun untuk melindungi mereka dari Allah.


64 Lihat paragraf terakhir ayat 31 dan catatan no. 57.


Surah Ar-Ra’d Ayat 35

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا ۖ وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

maṡalul-jannatillatī wu’idal-muttaqụn, tajrī min taḥtihal-an-hār, ukuluhā dā`imuw wa ẓilluhā, tilka ‘uqballażīnattaqaw wa ‘uqbal-kāfirīnan-nār

35. PERUMPAMAAN surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang sadar akan Allah [adalah bagaikan taman] yang dilalui aliran sungai-sungai:65 [tetapi, tidak seperti taman di dunia,] buah-buahannya akan kekal, dan [begitu pula dengan] naungannya.66

Itulah yang akan menjadi nasib orang-orang yang tetap sadar akan Allah—sebagaimana nasib orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran adalah api neraka.67


65 Terjemahan ini (dan penyisipan “adalah bagaikan taman”) adalah salinan harfiah dari penafsiran yang dikemukakan Al-Zajjaj terhadap ayat di atas, sebagaimana dikutip oleh Al-Zamakhsyari dan—dalam bentuk yang lebih singkat—oleh Al-Razi; menurut Al-Zamakhsyari ayat ini menyajikan “suatu ilustrasi majasi mengenai sesuatu yang ada di luar jangkauan persepsi kita dengan menggunakan sesuatu yang kita ketahui dari pengalaman kita” (tamtsilan li-ma ghaba ‘anna bi-ma nusyahid). Seperti halnya dengan rujukan yang sama (tetapi lebih luas) yang mengacu pada “perumpamaan surga” dalam Surah Muhammad [47]: 15, di sini kita diingatkan bahwa gambaran Al-Quran tentang apa yang akan menanti manusia setelah kebangkitan—sebagai suatu keharusan—bersifat metafora, sebab pikiran manusia tidak bisa memahami sesuatu yang, baik dalam hal unsur-unsurnya maupun keseluruhannya, sama sekali berbeda dengan apa yang dapat dialami di dunia ini. (Dalam kaitannya dengan hal ini, lihat artikel Al-Mutasyabihat (Simbolisme dan Alegori) dalam Al-Qur’an.)

66 Yakni, anugerah kebahagiaannya. Mengenai makna metafora dari kata zhill (“naungan”) ini, lihat klausa terakhir Surah An-Nisa’ [4]: 57 dan catatan no. 74 yang terkait.

67 Untuk penerjemahan saya terhadap kata ‘uqba dalam konteks ini menjadi “nasib”, lihat catatan no. 45.


Surah Ar-Ra’d Ayat 36

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ ۖ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ ۚ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

wallażīna ātaināhumul-kitāba yafraḥụna bimā unzila ilaika wa minal-aḥzābi may yungkiru ba’ḍah, qul innamā umirtu an a’budallāha wa lā usyrika bih, ilaihi ad’ụ wa ilaihi ma`āb

36. Karena itu, mereka yang telah Kami beri wahyu ini68 bergembira atas segala yang diturunkan kepadamu [wahai Nabi],69 tetapi di antara pengikut-pengikut keimanan yang lain ada yang mengingkari keabsahan sebagian darinya.70

Katakanlah [kepada mereka, wahai Nabi]: “Aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan agar tidak menisbahkan kuasa-kuasa Ilahi kepada apa pun selain Dia:71 kepada-Nya aku seru [semua manusia], dan Dia-lah tujuanku!”


68 Dengan kata lain, “dan orang yang percaya padanya”.

69 Yakni, karena wahyu itu memberi petunjuk kepada mereka di dunia ini dan menjanjikan kebahagiaan tertinggi di akhirat.

70 Yakni, dan pada saat yang sama mengakui bahwa Al-Quran juga mengandung banyak hal yang serupa dengan konsep-konsep ruhani yang diajarkan oleh agama mereka sendiri. Istilah ahzab (lit., “golongan” atau “aliran”, bentuk tunggalnya: hizb) di sini merujuk pada pengikut agama atau kepercayaan yang lain (Al-Thabari dan Al-Razi).

71 Partikel “hanya” (innama) pada awal kalimat ini dengan jelas menunjukkan bahwa [dalam Islam] tidak ada kewajiban, aturan, atau larangan yang tidak berkaitan dengan [prinsip-prinsip] ini (Al-Razi).


Surah Ar-Ra’d Ayat 37

وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ

wa każālika anzalnāhu ḥukman ‘arabiyyā, wa la`inittaba’ta ahwā`ahum ba’da mā jā`aka minal-‘ilmi mā laka minallāhi miw waliyyiw wa lā wāq

37. Maka demikianlah, Kami turunkan [kitab Ilahi] ini sebagai aturan dalam bahasa Arab.72 Dan sesungguhnya, andaikan engkau tunduk pada hawa nafsu mereka73 setelah semua pengetahuan [Ilahi] yang datang kepadamu, engkau tidak memiliki siapa pun yang dapat melindungimu dan menjagamu dari Allah.


72 Lit., “sebagai suatu peraturan (hukm) Arab”: yakni, agar nabi berbangsa Arab itu bisa menyampaikannya kepada manusia di lingkungan terdekatnya dan, melalui mereka, ke seluruh dunia. Dalam kaitannya dengan ini, bdk. Surah Ibrahim [14]: 4, yang di dalamnya dinyatakan bahwa setiap nabi diamanati untuk menyampaikan pesan “dalam bahasa kaumnya sendiri agar dia dapat menjadikan [kebenaran itu] jelas bagi mereka”. Universalitas pesan Al-Quran dan cakupannya yang tidak terbatas pada bangsa Arab saja ditunjukkan dalam banyak tempat, misalnya dalam Surah Al-A’raf [7]: 158: “Katakanlah [wahai Nabi]: ‘Wahai, Manusia, Sungguh, aku adalah (rasul) utusan Allah kepada kalian semua'”.

73 lit., “mengikuti hawa nafsu mereka {their likes and dislikes}”—yakni, dengan berkompromi dengan pengikut-pengikut kepercayaan lain yang, walaupun menerima sejumlah kebenaran tertentu dalam Al-Quran, tidak mau menerimanya secara keseluruhan.


Surah Ar-Ra’d Ayat 38

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

wa laqad arsalnā rusulam ming qablika wa ja’alnā lahum azwājaw wa żurriyyah, wa mā kāna lirasụlin ay ya`tiya bi`āyatin illā bi`iżnillāh, likulli ajaling kitāb

38. Dan, sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau, dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan anak cucu;74 dan tidak mungkin bagi seorang rasul untuk mendatangkan suatu mukjizat, kecuali dengan perintah Allah.75

Bagi tiap-tiap zaman, telah ada wahyunya:76


74 Yakni, mereka adalah manusia biasa seperti semua manusia lainnya, dan tidak diberkahi sifat-sifat “supernatural” apa pun. Ini adalah suatu sangkalan terhadap mereka yang menolak untuk menerima kebenaran pesan Ilahi dengan alasan bahwa pesan itu disampaikan kepada manusia oleh seorang “manusia biasa”. (Bdk. Surah Al-Furqan [25]: 7, yang menyebutkan bahwa orang-orang tidak beriman itu mengatakan, dengan nada mengejek, bahwa Muhammad Saw. adalah rasul “yang memakan makanan [seperti semua manusia lainnya] dan berjalan di pasar-pasar” dan banyak lagi uraian mengenai keheranan mereka tentang mengapa Allah memilih “seseorang dari kalangan mereka sendiri” sebagai utusan-Nya.) Tambahan pula, ayat di atas secara tersirat menekankan pada: (1) nilai positif dari aspek kehidupan jasadiah dan alamiah manusia—yang tersimpul, demikianlah kira-kira, dalam ungkapan “istri-istri dan anak-cucu”—dan (2) penolakan terhadap asketisme dan penghukuman-diri yang berlebih-lebihan yang dianggap sebagai suatu “jalan” yang dianjurkan untuk “menuju Allah”.

75 Lit., “dengan izin Allah”. Bdk. Surah Al-An’am [6]: 109—”Mukjizat berada dalam kekuasaan Allah saja”—dan catatannya, no. 94. Dalam konteks ini, hal ini merupakan suatu jawaban bagi mereka yang menolak beriman pada pesan-pesan Nabi Muhammad Saw., kecuali kalau dia menerima “suatu pertanda mukjizat”.

76 Atau: “ada kitab Ilahi (kitab)-nya”. Lihat Surah Al-Ma’idah [5]: 48—”Kepada masing-masing di antara kalian, telah Kami berikan aturan dan jalan hidup [yang berbeda]”—dan catatan no. 66, yang menguraikan silih bergantinya risalah yang lalu berpuncak pada dan berakhir dengan pewahyuan Al-Quran. Penafsiran terhadap frasa di atas ini—yang antara lain dipilih oleh Ibn Katsir—secara masuk akal berkaitan dengan sebutan sebelumnya mengenai rasul-rasul yang datang sebelum Muhammad Saw., dan berkaitan dengan uraian berikutnya mengenai digantikannya risalah-risalah Ilahi terdahulu oleh Al-Quran. Terlepas dari ini, pernyataan bahwa setiap zaman mendapatkan wahyu yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khusus yang cocok dengan masa dan manusia bersangkutan (Al-Zamakhsyari) merupakan jawaban atas sanggahan, yang sering diajukan oleh penganut kepercayaan lain, bahwa pesan-pesan Al-Quran dalam banyak hal berbeda dibandingkan dengan wahyu-wahyu terdahulu (Al-Razi).


Surah Ar-Ra’d Ayat 39

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

yam-ḥullāhu mā yasyā`u wa yuṡbit, wa ‘indahū ummul-kitāb

39. Allah menghapuskan atau menetapkan apa pun yang Dia kehendaki [dari pesan-pesan-Nya yang terdahulu]—sebab, pada-Nya-lah sumber segala wahyu.77


77 Yakni, Dia-lah asal atau sumber (ashl) semua wahyu.

Mengenai rujukan sebelumnya tentang penghapusan (nasakh) sistem-sistem keagamaan terdahulu dan digantikannya mereka oleh sistem keagamaan yang datang kemudian—yang ditutup dengan wahyu terakhir, Al-Quran—lihat Surah Al-Baqarah [2]: 106 dan catatan no. 87. (Menurut Qatadah, sebagaimana dikutip Al-Thabari dan Ibn Katsir, bagian ini memiliki maksud yang sama dengan Surah Al-Baqarah [2]: 106.)


Surah Ar-Ra’d Ayat 40

وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

wa im mā nuriyannaka ba’ḍallażī na’iduhum au natawaffayannaka fa innamā ‘alaikal-balāgu wa ‘alainal-ḥisāb

40. NAMUN, JIKA Kami membiarkanmu melihat [digenapinya] beberapa dari yang Kami janjikan kepada mereka78 [pada masa hidupmu, wahai Nabi,] atau Kami wafatkan engkau [sebelum digenapinya]—tugasmu tidak lain hanyalah menyampaikan pesan; dan pada Kami-lah perhitungannya.


78 Yakni, bencana-bencana yang, menurut paragraf terakhir ayat 31, diperuntukkan bagi “mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran” (alladzina kafaru).


Surah Ar-Ra’d Ayat 41

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

a wa lam yarau annā na`til-arḍa nangquṣuhā min aṭrāfihā, wallāhu yaḥkumu lā mu’aqqiba liḥukmih, wa huwa sarī’ul-ḥisāb

41. Maka, apakah mereka [yang mengingkari kebenaran itu] belum pernah melihat bagaimana79 Kami mendatangi bumi [bersama hukuman Kami], secara bertahap (Kami) mengambil segala yang terbaik yang ada di atasnya?80

Sebab, [tatkala] Allah menetapkan hukum, tiada kekuatan yang dapat menolak ketetapan-Nya: dan, amatlah cepat Dia dalam membuat perhitungan!


79 Lit., “bahwa”.

80 Atau: “menguranginya dari [semua] sisinya” (min athrafiha)—bergantung pada apakah athraf dipahami sebagai “sisi”, “ujung”, atau “bagian-bagian terluar” (dari tubuh atau negeri), atau “orang terkemuka”—yakni, para pemimpin besar, sarjana, atau pemikir (Taj Al-‘Arus)—dan “penduduk serta buah-buahan terbaik [dari negeri itu]” (ibid.). Banyak mufasir, yang mengambil makna pertama dari athraf, berpendapat bahwa kalimat di atas berhubungan dengan pertempuran antara umat Muslim awal di Madinah dan kaum musyrik Makkah, dan menafsirkannya demikian: “Tidakkah mereka [yakni kaum musyrik Makkah] melihat bahwa Kami mendatangi [dengan hukuman Kami] negeri [yang dikuasai mereka], dengan menguranginya tahap demi tahap dari [segala] sisinya?”—suatu tafsiran yang menunjukkan nubuat tentang penaklukan seluruh Jazirah Arab oleh kaum Muslim secara bertahap. Namun, mufasir lainnya memilih makna kedua dari athraf dan—tanpa menolak relevansinya dengan sejarah awal Islam—menafsirkan bagian ini dalam pengertian yang lebih umum, mirip dengan penafsiran yang saya pilih. Jadi, misalnya, Al-Razi menafsirkannya demikian: “Belum pernahkah mereka, [yakni para pengingkar kebenaran] melihat pergantian nasib (ikhtilafat) yang terjadi di dunia ini—kebinasaan setelah kemakmuran, kematian setelah kehidupan, kehinaan setelah kemuliaan, kekurangan setelah kesempurnaan? …. Maka, apa yang membuat para pengingkar kebenaran itu merasa begitu yakin bahwa Allah tidak akan membuat mereka hina setelah mereka dulunya kuat, dan dikuasai [oleh orang lain] setelah mereka dulunya berkuasa?” Jadi, dalam maknanya yang terluas, frasa “secara bertahap mengambil segala yang terbaik yang ada di atasnya” mungkin mengacu tidak hanya pada bencana fisik dan sosial, tetapi juga pada hilangnya segala nilai etis—dan, karena itu, hilangnya segala kekuatan duniawi—yang akhirnya pasti akan diderita oleh “mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran”.


Surah Ar-Ra’d Ayat 42

وَقَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلِلَّهِ الْمَكْرُ جَمِيعًا ۖ يَعْلَمُ مَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ ۗ وَسَيَعْلَمُ الْكُفَّارُ لِمَنْ عُقْبَى الدَّارِ

wa qad makarallażīna ming qablihim fa lillāhil-makru jamī’ā, ya’lamu mā taksibu kullu nafs, wa saya’lamul-kuffāru liman ‘uqbad-dār

42. Adapun mereka yang hidup sebelum [para pendosa] ini, juga merekayasa banyak penghujatan,81—tetapi rekayasa yang paling halus adalah rekayasa Allah, yang mengetahui apa yang layak bagi tiap-tiap manusia:82 dan para pengingkar kebenaran itu [pada waktunya] akan mengetahui milik siapakah masa depan itu.83


81 Lit., “melakukan tipu muslihat”—suatu ungkapan yang dalam konteks ini tampaknya mengacu pada pemikiran dan sikap yang menghujat Allah.

82 Lit., “apa yang setiap manusia peroleh”—yakni, kebaikan dan keburukan.

83 Untuk penjelasan mengenai pengertian ‘uqba al-dar ini (yang di sini sama artinya dengan ‘aqibah al-dar), lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 118.


Surah Ar-Ra’d Ayat 43

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا ۚ قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

wa yaqụlullażīna kafarụ lasta mursalā, qul kafā billāhi syahīdam bainī wa bainakum wa man ‘indahụ ‘ilmul-kitāb

43. Dan [jika] mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran berkata [kepadamu, wahai Nabi], “Engkau tidak diutus [oleh Allah],” katakanlah: “Tiada yang dapat memberikan kesaksian antara aku dan kalian sebagaimana Allah; dan [tiada yang dapat memberikan kesaksian sebagaimana] orang yang benar-benar memahami kitab Ilahi ini.”84


84 Lit., “dan siapa pun yang memiliki (man ‘indahu) pengetahuan mengenai wahyu”—menunjukkan bahwa pemahaman yang benar terhadap Al-Quran niscaya akan mendorong seseorang untuk meyakini bahwa Al-Quran itu diwahyukan oleh Allah.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top