24. An-Nur (Cahaya) – النور

Surat An-Nur dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat An-Nur ( النور ) merupakan surat ke 24 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 64 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah An-Nur tergolong Surat Madaniyah.

Dengan memperhatikan berbagai rujukan tak langsung (khususnya di dalam ayat 11-20) kepada peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan gerakan Nabi melawan suku Mushthaliq, surah ini jelas diwahyukan saat menjelang akhir tahun kelima atau awal tahun keenam setelah hijrah.

Bagian terbesar surah ini membahas perihal hubungan timbal balik antara laki-laki dan perempuan serta soal aturan-aturan etika tertentu yang harus dijalankan dalam konteks hubungan tersebut. Ayat 2-9 khususnya menggariskan ketentuan-ketentuan hukum yang jelas berkenaan dengan hubungan seks terlarang, sementara ayat 27-29 dan ayat 58-59 menekankan hak-hak pribadi masing-masing pria dan wanita.

Judul surah ini berasal dari perumpamaan mistis tentang “Cahaya Tuhan” yang terdapat di dalam ayat 35, yang juga diulangi dalam ayat 40: “siapa pun yang tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah dia memiliki cahaya sama sekali!”.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Nur Ayat 1

سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

sụratun anzalnāhā wa faraḍnāhā wa anzalnā fīhā āyātim bayyinātil la’allakum tażakkarụn

1. SURAH [inilah] yang telah Karni turunkan dan telah Kami tetapkan dengan kata-kata yang lugas,1 dan di dalamnya Kami telah turunkan pesan-pesan yang telah jelas [dengan sendirinya] agar kalian mengingat [pesan-pesan itu].


1 Yakni, “ketentuan yang telah Kami jadikan jelas dengan sendirinya berkat bentuk susunan dan pilihan kata yang digunakan”: demikianlah, menurut Al-Bukhari (Kitab Al-Tafsir), ‘Abd Allah ibn ‘Abbas menjelaskan ungkapan faradhnaha dalam konteks ini (bdk. dengan Fath Al-Bari VIII, h. 361). Penjelasan serupa, yang juga didasarkan pada pandangan Ibn ‘Abbas, dikemukakan oleh Al-Thabari. Penekanan khusus bahwa Allah telah menyampaikan surah ini “dengan kata-kata yang lugas” berkaitan dengan tingkat keseriusan ketentuan-ketentuan yang diuraikan di dalam lanjutan ayat berikutnya: dengan kata lain, hal itu menyiratkan peringatan yang sungguh-sungguh terhadap setiap upaya untuk memperluas dan meredefinisi ketentuan-ketentuan itu, baik dengan cara melakukan deduksi, menarik kesimpulan, maupun pertimbangan-pertimbangan lain yang tidak ada kaitannya dengan rumusan kata atau kalimat yang telah jelas seperti digunakan Al-Quran sendiri.


Surah An-Nur Ayat 2

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

az-zāniyatu waz-zānī fajlidụ kulla wāḥidim min-humā mi`ata jaldatiw wa lā ta`khużkum bihimā ra`fatun fī dīnillāhi ing kuntum tu`minụna billāhi wal-yaumil-ākhir, walyasy-had ‘ażābahumā ṭā`ifatum minal-mu`minīn

2. ADAPUN perempuan pezina dan laki-laki pezina2—cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan terhadap keduanya mencegah kalian untuk [menjalankan] hukum Allah ini, sekiranya kalian [sungguh-sungguh] beriman kepada Allah dan Hari Akhir; dan hendaknya sekelompok orang beriman menyaksikan hukuman tersebut.3


2 Istilah zina berarti hubungan seks secara sukarela antara seorang laki-laki dan perempuan yang belum menikah satu sama lain, terlepas apakah salah satu atau keduanya telah menikah dengan orang lain atau tidak: karena itu, berbeda dengan penggunaan yang berlaku umum dalam kebanyakan bahasa-bahasa Barat, istilah zina tidak membedakan antara konsep “perselingkuhan” (adultery, yakni: persetubuhan yang dilakukan antara seorang laki-laki yang telah menikah dan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau antara seorang perempuan yang telah menikah dan seorang laki-laki yang bukan suaminya) dan konsep “hubungan seks pranikah” (fornication, yaitu: persetubuhan antara dua orang yang belum menikah). {Dalam terjemahan Inggris, Muhammad Asad menggunakan kata “adultery” sebagai terjemahan istilah zina untuk kepentingan penyederhanaan istilah, tetapi dengan pengertian yang mengacu pada konsep “perselingkuhan” maupun “hubungan seks pranikah”. Dalam terjemahan Indonesia ini, istilah yang digunakan adalah “perzinaan”—dan pelakunya disebut “pezina”—karena istilah itu telah umum digunakan; dengan catatan bahwa kata itu juga mengacu pada konsep “perselingkuhan” sekaligus “hubungan seks pranikah”.—peny.}

3 Jumlah orang yang harus hadir dalam pelaksanaan hukuman itu sengaja tidak ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa kendati hukuman itu harus dilaksanakan di depan umum, bukan berarti harus dijadikan semacam “tontonan umum”.


Surah An-Nur Ayat 3

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

az-zānī lā yangkiḥu illā zāniyatan au musyrikataw waz-zāniyatu lā yangkiḥuhā illā zānin au musyrik, wa ḥurrima żālika ‘alal-mu`minīn

3. [Keduanya sama-sama bersalah:] laki-Iaki pezina itu tidak lain berpasangan dengan perempuan pezina—yakni, perempuan yang menempatkan [hawa nafsunya] sejajar dengan Allah;4 dan perempuan pezina itu tidak lain berpasangan dengan laki-laki pezina—yakni, laki-laki yang menempatkan [hawa nafsunya] sejajar dengan Allah: dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman.5


4 Istilah musyrik (untuk wanita: musyrikah), yang umumnya berarti seseorang yang mempertautkan di dalam pikirannya semua bentuk dewa-dewi atau kekuatan-kekuatan khayalan dengan Allah, atau orang yang percaya bahwa ada makhluk yang memiliki andil atau berserikat dalam sifat-sifat atau kekuasaan Allah, dalam konteks ayat ini jelas digunakan dalam pengertian kiasan yang paling luas, yang berarti seseorang yang menisbahkan kepada hasrat atau keinginan dirinya sendiri suatu keunggulan yang hanya pantas dimiliki oleh Allah semata, dan hal itu berarti merupakan penghinaan berat terhadap prinsip-prinsip etis dan moralitas yang ditetapkan oleh Allah. Kata penghubung au (lit., “atau”), yang menghubungkan kata musyrikah dengan kata zaniyah (“pezina perempuan”) sebelumnya, dalam konteks ayat ini—sebagaimana pula dalam anak kalimat berikutnya tempat kedua istilah ini muncul dalam bentuk maskulin—memiliki nilai penjelas-penegas yang sepadan dengan ungkapan “dengan kata lain” atau “yakni”, yang serupa dengan penggunaan kata penghubung tersebut dalam Surah Al-Mu’minun [23]: 6. Untuk penjelasan lebih jauh bagian ayat ini, lihat catatan berikut.

5 Sebagian mufasir memahami bagian ayat ini sebagai suatu ketentuan atau perintah, yakni: “Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan perempuan pezina pula atau perempuan musyrik (musyrikah); dan perempuan pezina tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina pula atau laki-laki musyrik (musyrik)”. Penafsiran ini dapat dipersoalkan dengan sejumlah pertimbangan: pertama, Al-Quran tidak pernah membenarkan pernikahan seorang beriman dengan orang tak beriman (dalam pengertian yang paling buruk dari istilah ini), betapapun besar dosa yang mungkin telah dilakukan oleh orang beriman itu; kedua, ada sebuah prinsip penting dalam hukum Islam, yaitu sekali seorang penjahat telah dijatuhi hukuman dan dia telah menjalani sanksi hukum yang telah ditetapkan (dalam kasus ini, misalnya, seratus kali hukuman cambuk), kejahatan itu, dalam hal kaitannya dengan masyarakat, harus dianggap telah ditebus dan diselesaikan; dan terakhir, susunan kalimat bagian ayat tersebut jelas merupakan sebuah pernyataan tentang fakta (Al-Razi), dan tidak bisa ditafsirkan sebagai ketentuan atau perintah. Dengan kata lain, karena perzinaan adalah suatu tindakan persetubuhan yang dilarang, verba yankihu, yang muncul sebanyak dua kali pada bagian ayat ini, tidak bisa memiliki pengertian khusus yang lazim, yaitu “dia menikah”, melainkan kata itu harus dipahami dalam pengertian yang lebih umum—yang berlaku bagi tindakan persetubuhan yang halal maupun yang haram—yaitu: “dia berpasangan dengan” {he couples with, yakni: bersanggama dengan}. Dalam pengertian inilah, mufasir terkemuka Abu Muslim (seperti dikutip Al-Razi) menjelaskan ayat di atas, yang menekankan fakta bahwa baik pihak laki-laki maupun pihak perempuan dari pasangan itu sama-sama berdosa sepanjang mereka melakukan perbuatan dosa itu secara sadar—yang hal itu mengandung pengertian bahwa kedua-duanya tidak dapat membela diri mereka dengan alasan bahwa mereka melakukan perbuatan itu karena semata-mata telah “dirayu”.


Surah An-Nur Ayat 4

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

wallażīna yarmụnal-muḥṣanāti ṡumma lam ya`tụ bi`arba’ati syuhadā`a fajlidụhum ṡamānīna jaldataw wa lā taqbalụ lahum syahādatan abadā, wa ulā`ika humul-fāsiqụn

4. Dan, adapun orang-orang yang menuduh perempuan suci [sebagai telah berbuat zina]6 dan kemudian mereka tidak dapat menghadirkan empat orang saksi [untuk mendukung tuduhan mereka], cambuklah mereka delapan puluh kali cambukan;7 dan janganlah kalian terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya—sebab mereka, mereka itulah orang yang benar-benar tersesat!—


6 Istilah muhshanat secara harfiah berarti “perempuan yang terbentengi [dari ketidaksucian]”, yaitu dengan menikah dan/atau menjaga keimanan dan kehormatan diri, yang dari sudut pandang hukum menyiratkan pengertian bahwa setiap perempuan harus dipandang suci kecuali jika terdapat bukti jelas yang menunjukkan sebaliknya. (Bagian ayat ini berhubungan dengan perempuan yang bukan istri dari orang yang melontarkan tuduhan karena kasus yang terakhir ini memiliki hukum pembuktian dan akibat-akibat yang berbeda, sebagaimana tampak dalam ayat 6-9.)

7 Meski secara tersirat, ketentuan ini jelas berlaku pula untuk kasus ketika seorang perempuan menuduh seorang laki-laki berzina, dan kemudian dia tidak mampu membuktikan tuduhannya secara hukum. Beratnya hukuman yang diberlakukan untuk kasus-kasus semacam ini, termasuk pula persyaratan empat orang saksi—bukannya dua orang saksi, seperti yang dipandang cukup menurut Hukum Islam bagi seluruh kasus-kasus pidana dan perdata lainnya—didasarkan pada keharusan mendesak guna mencegah maraknya kabar bohong dan tuduhan-tuduhan yang tidak bertanggung jawab. Sebagaimana telah disebut di dalam sejumlah hadis Nabi yang sahih, bukti yang diajukan empat orang saksi itu harus bersifat langsung, bukan semata-mata didasarkan atas penilaian terhadap gejala atau situasi tertentu (circumstantial evidence): dengan kata lain, tidak cukup bagi para saksi itu untuk mengatakan bahwa mereka telah menyaksikan suatu gejala atau situasi yang menjadi bukti bahwa perzinaan itu terjadi atau telah terjadi: mereka harus telah menyaksikan tindakan perzinaan yang dimaksud, dan harus membuktikan hal itu guna dapat meyakinkan sepenuhnya pihak pengadilan (Al-Razi, dengan mengikhtisarkan pandangan para ahli terkemuka Hukum Islam). Karena memperoleh bukti lengkap semacam itu sangat luar biasa sulit, jika bukan mustahil, jelaslah bahwa maksud dari ketentuan Al-Quran tersebut dalam praktiknya adalah untuk mencegah munculnya semua tuduhan pihak ketiga berkaitan dengan hubungan seks yang terlarang—karena “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28)—dan untuk membuat bukti tentang suatu perzinaan bergantung pada pengakuan sukarela yang diilhami iman dari pihak-pihak yang berdosa itu sendiri.


Surah An-Nur Ayat 5

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

illallażīna tābụ mim ba’di żālika wa aṣlaḥụ, fa innallāha gafụrur raḥīm

5. terkecuali [dari larangan ini], orang-orang yang bertobat sesudah itu dan melakukan perbaikan:8 sebab, perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


8 Yakni, orang yang secara terbuka menarik tuduhan mereka setelah menjalani hukuman cambuk—yang, karena mempertimbangkan hak hukum dari orang yang secara keliru telah dituduh bersalah, tidak dapat dihapuskan hanya dengan pertobatan dan pengakuan bersalah. Jadi, pengecualian yang disebut di atas hanya berkaitan dengan larangan untuk memberikan kesaksian, bukan untuk menerima hukuman cambuk.


Surah An-Nur Ayat 6

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

wallażīna yarmụna azwājahum wa lam yakul lahum syuhadā`u illā anfusuhum fa syahādatu aḥadihim arba’u syahādātim billāhi innahụ laminaṣ-ṣādiqīn

6. Dan, adapun orang-orang yang menuduh istrinya [berzina], padahal mereka tidak mempunyai saksi selain diri mereka sendiri, biarkan masing-masing [penuduh itu] bersumpah atas nama Allah hingga empat kali9 sekiranya dia sungguh berkata benar,


9 Lit., “maka, kesaksian masing-masing mereka itu hendaknya empat kesaksian [atau ‘penegasan yang sungguh-sungguh’] di hadapan Allah”.


Surah An-Nur Ayat 7

وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

wal-khāmisatu anna la’natallāhi ‘alaihi ing kāna minal-kāżibīn

7. dan pada kali yang kelima, (hendaknya dia bersumpah) bahwa kutukan Allah akan menimpa dirinya sekiranya dia berkata dusta.


Surah An-Nur Ayat 8

وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ

wa yadra`u ‘an-hal-‘ażāba an tasy-hada arba’a syahādātim billāhi innahụ laminal-kāżibīn

8. Namun, [adapun sang istri, seluruh] hukuman hendaknya dibebaskan darinya jika dia bersumpah empat kali atas nama Allah bahwa suaminya itu sungguh berkata dusta,


Surah An-Nur Ayat 9

وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

wal-khāmisata anna gaḍaballāhi ‘alaihā ing kāna minaṣ-ṣādiqīn

9. dan [pada kali] yang kelima, (hendaknya dia bersumpah) bahwa kutukan Allah akan menimpa dirinya jika suaminya berkata benar.10


10 Dengan demkian, tuduhan sang suami harus dianggap terbukti jika sang istri menolak untuk mengambil sumpah yang sebaliknya {yakni sumpah yang mengandung kutukan atas dirinya sendiri—peny.}, dan tidak terbukti apabila sang istri sungguh-sungguh bersumpah membantah tuduhan sang suami. Karena prosedur ini, yang disebut li’an (“sumpah kutukan”). tidak dapat memutuskan secara hukum pihak mana yang bersalah, kedua pihak terbebas dari semua akibat hukum perbuatan zina. Sebaliknya, satu-satunya akibat yang mungkin ditimbulkan sehubungan dengan tuduhan perzinaan yang tidak terbukti—adalah perceraian yang wajib.


Surah An-Nur Ayat 10

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ wa annallāha tawwābun ḥakīm

10. DAN, SEKIRANYA bukan karena anugerah Allah atas diri kalian [wahai manusia], dan juga rahmat-Nya, dan bahwa Allah adalah Penerima Tobat nan Mahabijaksana …!11


11 Kalimat ini, yang menjadi pengantar kepada bagian yang membahas masalah kutukan menyangkut semua tuduhan atas perbuatan kotor yang tidak berdasar atau tidak terbukti—seperti halnya kalimat serupa yang mengakhiri ayat 20—sengaja dibiarkan tidak lengkap guna mendorong orang agar membayangkan apa yang akan terjadi pada kehidupan individu dan masyarakat jika Allah tidak menetapkan benteng-benteng moral dan hukum, sebagaimana disebut di atas, guna mengatasi soal tuduhan-tuduhan yang mungkin keliru, atau sekiranya Allah menjadikan bukti untuk perzinaan semata-mata bergantung pada bukti tidak langsung (berupa “situasi atau gejala”: circumstantial evidence). Gagasan ini diuraikan lebih jauh dalam ayat 14-15.


Surah An-Nur Ayat 11

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

innallażīna jā`ụ bil-ifki ‘uṣbatum mingkum, lā taḥsabụhu syarral lakum, bal huwa khairul lakum, likullimri`im min-hum maktasaba minal-iṡm, wallażī tawallā kibrahụ min-hum lahụ ‘ażābun ‘aẓīm

11. Sungguh, banyak di antara kalian adalah orang-orang yang telah keliru menuduh orang lain tidak suci:12 [namun, wahai kalian yang dizalimi,] janganlah anggap hal itu keburukan bagi kalian: tidak, itu adalah kebaikan bagi kalian!13

[Adapun para pemfitnah itu,] untuk masing-masing mereka [akan diperhitungkan] semua yang dia telah peroleh akibat perbuatan dosa [yang dia lakukan]; dan penderitaan yang lebih berat menanti siapa pun di antara mereka yang berperan memperbesar [dosa] ini!14


12 Lit., “orang-orang yang memunculkan kebohongan itu (al-ifk, di sini berarti suatu tuduhan palsu tentang perbuatan nista) adalah sekelompok orang (‘ushbah) di antara kalian”. Istilah ‘ushbah mengacu pada sekelompok orang, dalam jumlah yang tidak tertentu, yang berkumpul untuk maksud tertentu (Taj Al-‘Arus).

Menurut semua mufasir, bagian surah ini yang terdiri dari ayat 11-20 berkaitan dengan suatu peristiwa yang terjadi ketika Nabi Muhammad Saw. kembali dari gerakan melawan suku Mushthaliq pada 5 H. ‘A’isyah, istri Nabi yang menemani Nabi dalam perjalanan ini, secara tidak sengaja tertinggal ketika kaum Muslim meninggalkan perkemahan menjelang shubuh. Setelah beberapa jam ‘A’isyah berada sendirian, lalu dia ditemukan oleh salah seorang Sahabat Nabi, yang kemudian mengantarnya ke tempat persinggahan tentara berikutnya. Kejadian ini menimbulkan desas-desus bahwa ‘A’isyah telah melakukan perbuatan tak terpuji; namun, desas-desus ini tidak bertahan lama, dan status bahwa ‘A’isyah tidak bersalah dikuatkan sehingga melenyapkan semua keraguan.

Seperti halnya seluruh rujukan tak langsung Al-Quran kepada berbagai peristiwa sejarah, rujukan ini pun utamanya dimaksudkan untuk mengemukakan sebuah proposisi etis yang dapat berlaku untuk sepanjang zaman dan segala kondisi masyarakat: dan itulah sebabnya mengapa susunan dan bentuk tata bahasa bagian ayat tersebut di atas sedemikian rupa sehingga verba bentuk lampau yang muncul di dalam ayat 11-16 dapat—dan, saya yakin, seharusnya—dipahami sebagai verba bentuk kini.

13 Yakni, dalam pandangan Allah: sebab, kesengsaraan yang disebabkan oleh perlakuan yang tidak adil—seperti halnya setiap penderitaan yang sebenarnya tidak layak dialami, tetapi tetap dipikul dengan tabah—memberikan suatu manfaat ruhani kepada orang yang mengalaminya. Bdk. dengan hadis Nabi, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: “Manakala seorang beriman ditimpa kesulitan, kepedihan, kegelisahan, kemurungan, petaka, dan ketertekanan—bahkan meskipun (hanya) sebuah duri yang melukainya—maka Allah akan menebusnya dengan menghapus sebagian kesalahannya.”

14 Yakni, dengan menekankan, melalui suatu cara yang tidak dapat dibenarkan baik secara hukum maupun moral, perincian atau segi-segi situasi tertentu dari peristiwa tersebut dengan tujuan agar tuduhan yang tidak benar dan tidak beralasan itu dapat lebih dipercaya.


Surah An-Nur Ayat 12

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

lau lā iż sami’tumụhu ẓannal-mu`minụna wal-mu`minātu bi`anfusihim khairaw wa qālụ hāżā ifkum mubīn

12. Mengapa, pada saat [desas-desus] semacam itu terdengar,15 laki-laki dan perempuan beriman itu tidak bersangka baik satu sama lain dan berkata, “Ini adalah suatu kebohongan yang nyata?”


15 Lit., “pada saat kalian mendengarnya”—kata ganti pelaku “kalian” di sini mengacu kepada umat sebagai keseluruhan.


Surah An-Nur Ayat 13

لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ

lau lā jā`ụ ‘alaihi bi`arba’ati syuhadā`, fa iż lam ya`tụ bisy-syuhadā`i fa ulā`ika ‘indallāhi humul-kāżibụn

13. Mengapa mereka tidak [menuntut para penuduh itu16 agar mereka] mendatangkan empat orang saksi untuk membuktikan tuduhan mereka?17—sebab, jika mereka tidak menghadirkan saksi-saksi, mereka [para penuduh] itulah, dalam pandangan Allah, orang yang sungguh-sungguh pendusta!


16 Tambahan kalimat itu harus diberikan dengan memperhatikan kenyataan bahwa orang beriman yang dibicarakan dalam ayat sebelumnya dipersalahkan, bukan karena mereka membuat tuduhan palsu, melainkan karena mereka tidak menganggap tuduhan itu sebagai kebohongan.

17 Lit., “untuk mendukung” (‘alaihi).


Surah An-Nur Ayat 14

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ fid-dun-yā wal-ākhirati lamassakum fī mā afaḍtum fīhi ‘ażābun ‘aẓīm

14. Dan, sekiranya bukan karena keutamaan Allah atas diri kalian. [wahai manusia,] serta kasih-Nya di dunia ini dan di kehidupan mendatang, niscaya penderitaan yang berat akan menimpa kalian18 disebabkan semua [fitnah] yang kalian terima saja itu


18 Dengan kata lain, “diri kalian dan seluruh masyarakat kalian”. Di sini dan di dalam ayat berikutnya, perbincangan kembali kepada, serta mengulas lebih jauh, gagasan yang telah disinggung dalam ayat 10 serta dijelaskan di dalam catatan no. 11.


Surah An-Nur Ayat 15

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

iż talaqqaunahụ bi`alsinatikum wa taqụlụna bi`afwāhikum mā laisa lakum bihī ‘ilmuw wa taḥsabụnahụ hayyinaw wa huwa ‘indallāhi ‘aẓīm

15. ketika kalian sambut berita bohong itu dengan lidah kalian dan kalian utarakan dengan mulut kalian hal yang kalian tidak miliki sedikit pun pengetahuan tentangnya, dan kalian menganggapnya sebagai perkara yang ringan saja. Padahal, di sisi Allah itu adalah perkara yang besar.


Surah An-Nur Ayat 16

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

walau lā iż sami’tumụhu qultum mā yakụnu lanā an natakallama bihāżā sub-ḥānaka hāżā buhtānun ‘aẓīm

16. Dan, [sekali lagi:] mengapa kalian tidak berkata, saat mendengar [desas-desus] seperti itu, “Tidaklah pantas bagi kita memperbincangkan hal ini. Wahai, Engkau, yang tiada terhingga kemuliaan-Mu: ini adalah kebohongan yang besar”?19


19 Seruan subhanaka (Wahai, Engkau, yang tiada terhingga kemuliaan-Mu) di sini menekankan kewajiban moral orang beriman untuk mengingat Allah manakala dia menghadapi godaan untuk mendengarkan, atau menceritakan kembali, sebuah berita bohong (lantaran setiap desas-desus semacam itu harus dianggap berita bohong, kecuali jika kebenarannya secara hukum telah terbukti).


Surah An-Nur Ayat 17

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

ya’iẓukumullāhu an ta’ụdụ limiṡlihī abadan ing kuntum mu`minīn

17. Allah memperingatkan kalian [dengan ini] agar kalian tidak pernah lagi berbuat [dosa] yang seperti itu selama-lamanya, jika kalian [benar-benar] orang beriman;


Surah An-Nur Ayat 18

وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa yubayyinullāhu lakumul-āyāt, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

18. sebab, Allah menjadikan pesan-pesan[-Nya] jelas bagi kalian—dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana!


Surah An-Nur Ayat 19

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

innallażīna yuḥibbụna an tasyī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanụ lahum ‘ażābun alīmun fid-dun-yā wal-ākhirah, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

19. Sungguh, adapun orang-orang yang suka [mendengar] fitnah keji20 yang beredar menimpa siapa pun di kalangan orang-orang yang telah meraih iman—derita nan pedih menanti mereka di dunia ini21 dan di kehidupan mendatang: sebab, Allah mengetahui [kebenaran sepenuhnya], sedangkan kalian tidak mengetahui[nya].22


20 Istilah fahisyah menunjuk pada apa pun yang secara moral patut dicela atau dikecam: karena itu, ia merupakan “tindakan tak bermoral” dalam pengertian yang paling luas dari ungkapan ini. Dalam konteks ayat di atas, istilah itu mengacu pada tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar atau tidak terbukti yang mencerminkan perbuatan tak bermoral. Dengan kata lain, “fitnah yang keji”.

21 Yakni, sanksi hukum sebagaimana ditetapkan di dalam ayat 4 surah ini.

22 Peringatan Al-Quran tentang kabar bohong (fitnah) dan, dalam pengertian tak langsung yang secara nyata terkandung di dalamnya, juga tentang setiap upaya untuk mencari-cari kesalahan orang lain secara jelas tecermin di dalam sejumlah hadis Nabi yang sahih: “Hati-hatilah terhadap segala prasangka [terhadap satu sama lain] karena, ingatlah, segala prasangka [semacam itu] paling memperdayakan (akdzab al-hadits); dan jangan saling memata-matai, dan jangan mencoba membeberkan kesalahan [orang lain]” (Muwaththa’; berbagai versi hadis yang hampir serupa telah dikutip oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud); “Janganlah kalian menyakiti orang-orang yang telah berserah diri kepada Allah (al-muslimin), jangan menuduhkan hal yang jahat kepada mereka, dan jangan mencoba untuk membeberkan aib/aurat mereka [yaitu, kesalahan mereka]: sebab, perhatikanlah, jika seseorang mencoba membeberkan aib saudaranya, Allah akan membeberkan aibnya sendiri [pada Hari Pengadilan]” (Al-Tirmidzi); dan, “Tidak pernah seorang beriman menutupi aib orang beriman yang lain kecuali Allah juga akan menutupi aibnya sendiri pada Hari Kebangkitan” (Al-Bukhari). Seluruh ketentuan atau perintah tersebut seakan-akan diperkuat dengan peringatan Al-Quran: “Hindarilah sebagian besar prasangka [terhadap satu sama lain]—sebab, perhatikanlah, sebagian prasangka [seperti itu dengan sendirinya] adalah dosa” (Surah Al-Hujurat [49]: 12).


Surah An-Nur Ayat 20

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ wa annallāha ra`ụfur raḥīm

20. Dan, sekiranya bukan karena anugerah Allah atas diri kalian, dan juga rahmat-Nya: dan bahwa Allah Allah Maha Penyantun, Sang Pemberi Rahmat …!23


23 Lihat ayat 10 surah ini dan catatan terkait no. 11.


Surah An-Nur Ayat 21

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tattabi’ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, wa may yattabi’ khuṭuwātisy-syaiṭāni fa innahụ ya`muru bil-faḥsyā`i wal-mungkar, walau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhụ mā zakā mingkum min aḥadin abadaw wa lākinnallāha yuzakkī may yasyā`, wallāhu samī’un ‘alīm

21. WAHAI ORANG-ORANG yang telah meraih iman! Janganlah Kalian mengikuti jejak-langkah setan: sebab, siapa pun yang mengikuti jejak langkah setan, ingatlah, [dia akan mendapati bahwa] setan itu tiada lain menyuruh perbuatan keji dan segala hal yang bertentangan dengan akal.24

Dan. sekiranya bukan karena keutamaan Allah atas diri kalian, serta kasih-Nya, niscaya tidak seorang pun dari kalian akan pernah bisa suci. Karena [demikianlah:] Allah-lah yang menyebabkan siapa yang Dia kehendaki untuk tumbuh dalam kesucian: sebab, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


24 Dalam konteks ini, istilah al-munkar tampaknya memiliki makna serupa dengan yang terdapat di dalam Surah An-Nahl [16]: 90 (yang dijelaskan dalam catatan no. 109 yang terkait) karena, seperti ditunjukkan oleh rangkaian ayat ini {yaitu ayat 21-26—peny.}, istilah itu jelas berkaitan dengan rasa ujub (berbangga diri atas kesalehan-diri) yang tidak masuk akal dari banyak orang yang “mengikuti jejak-langkah setan” dengan menuduhkan aib moral kepada orang lain, tetapi melupakan bahwa hanya berkat kasih Allah-lah, manusia, dengan kelemahan bawaannya, dapat tetap suci.


Surah An-Nur Ayat 22

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

wa lā ya`tali ulul-faḍli mingkum was-sa’ati ay yu`tū ulil-qurbā wal-masākīna wal-muhājirīna fī sabīlillāhi walya’fụ walyaṣfaḥụ, alā tuḥibbụna ay yagfirallāhu lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

22. Karena itu, [bahkan kendati mereka telah dizalimi karena fitnah,] janganlah sekali-kali siapa pun di antara kalian yang telah dikaruniai [Allah] dengan keutamaan dan kelapangan hidup menjadi abai membantu25 [orang-orang yang telah berbuat kesalahan di antara] kerabat kalian, orang-orang miskin, dan orang-orang yang telah hijrah meninggalkan ranah kejahatan demi Allah,26 tetapi hendaknya mereka memberi maaf dan menahan diri. [Sebab,] tidakkah kalian menginginkan agar Allah memaafkan dosa-dosa kalian, mengingat bahwa Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat?27


25 Atau: “Bersumpahlah bahwa [sejak saat ini] mereka tidak akan membantu [secara harfiah, ‘memberi kepada’] …” dan seterusnya. Kedua makna ini—”dia bersumpah [bahwa]” dan “dia menjadi abai [untuk]”—dapat diberikan kepada verba ala, yang di dalam kalimat di atas muncul dalam bentuk ya’tal. Terjemahan yang saya gunakan didasarkan pada penafsiran yang diberikan terhadap verba itu oleh seorang filolog Abu ‘Ubaid Al-Qasim Al-Harawi (bdk. dengan Lane I, h. 84).

26 Untuk penjelasan tentang penerjemahan terhadap sebutan al-muhajirun (atau, di tempat lain, alladzina hajaru), lihat Surah AI-Baqarah [2], catatan no. 203.

27 Ayat ini umumnya dianggap merujuk kepada Abu Bakr yang bersumpah bahwa dia tidak akan pernah lagi menolong kerabatnya yang miskin, muhajir Misthah (orang yang sebelumnya biasa dibantu oleh Abu Bakr), setelah dia turut ambil bagian dalam memfitnah putri Abu Bakr, ‘A’isyah (lihat catatan no. 12). Tidak diragukan bahwa anggapan para mufasir itu cukup beralasan; tetapi juga tidak diragukan bahwa maksud etis ayat tersebut bersifat abadi dan, karena itu, tidak bergantung pada fakta tersebut atau fakta-fakta yang seakan-akan memiliki kaitan historis dengan ayat tersebut. (Pandangan ini menemukan dukungan tambahan dari penggunaan bentuk jamak di seluruh bagian ayat di atas.) Seruan untuk “memberi maaf dan menahan diri” adalah sepenuhnya sejalan dengan prinsip Al-Quran tentang melawan kejahatan dengan kebaikan (lihat Surah Ar-Ra’d [13]: 22 dan catatan terkait no. 44).


Surah An-Nur Ayat 23

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

innallażīna yarmụnal-muḥṣanātil-gāfilātil-mu`mināti lu’inụ fid-dun-yā wal-ākhirati wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm

23. [Akan tetapi,] sungguh, orang-orang [yang dengan keliru dan tanpa penyesalan,28] menuduh perempuan suci yang bisa jadi memang ceroboh tetapi mereka tetap sungguh-sungguh beriman,29 akan tertolak [dari kasih Allah] di dunia ini maupun di kehidupan akhirat mendatang: penderitaan yang amat berat menanti mereka


28 Menurut Al-Razi, tak bisa di bantah bahwa ketiadaan penyesalan/tobat tersirat di dalam kutukan atau laknat yang diungkapkan di bagian selanjutnya dari ayat tersebut karena Al-Quran menegaskan di banyak tempat bahwa Allah senantiasa menerima tobat atau penyesalan yang tulus dari orang yang berdosa. {Kutukan Allah tersebut secara harfiah berbunyi, “[mereka] dilaknat [oleh Allah] di dunia ini …” dan diterjemahkan oleh Muhammad Asad dengan kalimat “akan tertolak [dari kasih Allah] di dunia ini …”.—peny.}

29 Lit., “perempuan beriman yang suci, yang kurang pertimbangan [atau ‘ceroboh’]”, yakni perempuan saleh yang karena kecerobohannya malah membuka diri kepada situasi yang bisa mengundang pandangan atau penafsiran yang bersifat fitnah.


Surah An-Nur Ayat 24

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

yauma tasy-hadu ‘alaihim alsinatuhum wa aidīhim wa arjuluhum bimā kānụ ya’malụn

24. pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka akan memberi kesaksian melawan mereka dengan [mengingatkan] apa yang mereka telah perbuat,


Surah An-Nur Ayat 25

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ

yauma`iżiy yuwaffīhimullāhu dīnahumul-ḥaqqa wa ya’lamụna annallāha huwal-ḥaqqul-mubīn

25. Pada hari itu, Allah akan memberi mereka sepenuhnya balasan yang setimpal dan pada akhirnya mereka akan tahu bahwa hanya Allah-lah Kebenaran Tertinggi, Yang Mahanyata, dan Yang Menyatakan [hakikat sebenarnya dari semua yang pernah terjadi].30


30 Berkenaan dengan makna ganda (“nyata” dan “menyatakan”) yang melekat di dalam kata sifat mubin, lihat catatan no. 2 pada surah Yusuf [12]: 1; menyangkut terjemahan saya terhadap sifat Allah, Al-Haqq sebagai “Kebenaran Tertinggi” (Ultimate Truth), lihat catatan no. 99 pada Surah TaHa [20]: 114. Dalam contoh khusus ini, bentuk aktif mubin (“menjadikan jelas”) tampaknya berhubungan dengan penyingkapan yang akan dilakukan Allah pada Hari Pengadilan tentang hakikat sebenarnya tindakan-tindakan manusia, dan dengan demikian pula tentang banyaknya perbuatan dosa yang dirujuk oleh bagian ayat ini.


Surah An-Nur Ayat 26

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

al-khabīṡātu lil-khabīṡīna wal-khabīṡụna lil-khabīṡāt, waṭ-ṭayyibātu liṭ-ṭayyibīna waṭ-ṭayyibụna liṭ-ṭayyibāt, ulā`ika mubarra`ụna mimmā yaqụlụn, lahum magfiratuw wa rizqung karīm

26. [Sudah semestinya,] perempuan yang buruk adalah untuk laki-laki yang buruk, dan laki-laki yang buruk adalah untuk perempuan yang buruk—seperti halnya perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik [Sebab, Allah mengetahui hahwa] mereka itu tidak bersalah seperti apa yang mungkin dituduhkan lidah-lidah keji itu kepada mereka,31 dan mereka akan memperoleh ampunan dan rezeki yang paling mulia!32


31 Lit., “tidak bersalah seperti semua yang mungkin dikatakan mereka [yaitu para pembuat fitnah]”.

32 Lihat catatan no. 5 dalam Surah Al-Anfal [8]: 4. Dalam konteks ini, rujukan kepada “ampunan Allah atas dosa” (maghfirah) jelas dimaksudkan untuk menekankan segi kelemahan bawaan yang merupakan sifat dasar manusia, yang membuat manusia cenderung berbuat dosa, betapapun baik atau sucinya dia (bdk. dengan Surah An-Nisa’ [4]: 28).


Surah An-Nur Ayat 27

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

yā ayyuhallażīna āmanụ lā tadkhulụ buyụtan gaira buyụtikum ḥattā tasta`nisụ wa tusallimụ ‘alā ahlihā, żālikum khairul lakum la’allakum tażakkarụn

27. WAHAI, ORANG-ORANG yang telah meraih iman! Janganlah kalian memasuki rumah yang bukan milik kalian sendiri, kecuali kalian telah memperoleh izin dan memberi salam kepada penghuninya. Hal demikian itu [diperintahkan atas kalian] demi kebaikan kalian sendiri agar kalian mengingat [hak-hak kalian satu sama lain].33


33 Larangan tegas ini terkait dengan bagian-bagian ayat terdahulu sejauh berfungsi sebagai perlindungan tambahan bagi individu-individu terhadap kemungkinan fitnah. Dalam maksudnya yang lebih luas, larangan ini menjadi landasan bagi prinsip tentang tak boleh dilanggarnya privasi rumah dan kehidupan pribadi setiap orang. (Mengenai akibat-akibat sosial-politik tak langsung dari prinsip ini, Iihat State and Government in Islam, hh. 84 dan seterusnya.)


Surah An-Nur Ayat 28

فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

fa il lam tajidụ fīhā aḥadan fa lā tadkhulụhā ḥattā yu`żana lakum wa ing qīla lakumurji’ụ farji’ụ huwa azkā lakum, wallāhu bimā ta’malụna ‘alīm

28. Karena itu, [meski] jika kalian tidak menjumpai seorang pun di dalam [rumah itu], janganlah kalian masuk sebelum mendapat izin;34 dan jika dikatakan kepada kalian, “Kembalilah”, hendaknya kalian kembali. Hal demikian itu akan sangat membantu terpeliharanya kesucian kalian; dan Allah Maha Mengetahui semua yang kalian lakukan.


34 Yakni, oleh pemilik yang sah atau orang yang menjadi penanggung jawab.


Surah An-Nur Ayat 29

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

laisa ‘alaikum junāḥun an tadkhulụ buyụtan gaira maskụnatin fīhā matā’ul lakum, wallāhu ya’lamu mā tubdụna wa mā taktumụn

29. [Sebaliknya,] tidaklah berdosa jika kalian [dengan bebas] memasuki rumah yang tidak diperuntukkan sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai tempat yang menyediakan keperluan yang berguna bagi kalian:35 akan tetapi, [ingatlah senantiasa] bahwa Allah mengetahui apa yang kalian perbuat dengan terang-terangan maupun apa yang kalian hendak sembunyikan.


35 Lit., “rumah-rumah yang tak didiami yang di dalamnya terdapat haI-hal yang berguna (mata’) bagi kalian”. Berdasarkan kesepakatan semua mufasir, termasuk para Sahabat Nabi, hal ini berhubungan dengan bangunan atau tempat-tempat yang kurang lebih berfungsi sebagai sarana umum, seperti penginapan, toko, kantor pemerintah, jamban umum, dan sebagainya, termasuk reruntuhan bangunan kuno.


Surah An-Nur Ayat 30

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

qul lil-mu`minīna yaguḍḍụ min abṣārihim wa yaḥfaẓụ furụjahum, żālika azkā lahum, innallāha khabīrum bimā yaṣna’ụn

30. KATAKANLAH kepada laki-laki beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan berhati-hati memelihara kesucian mereka:36 hal yang demikian itu akan sangat mendukung (terpeliharanya) kesucian mereka—[dan,] sungguh, Allah Maha Mengetahui semua yang mereka perbuat.


36 Lit., “menahan [sesuatu] dari pandangan mereka dan menjaga kemaluan (bagian-bagian pribadi tubuh) mereka”. Ungkapan terakhir ini bisa dipahami baik dalam makna harfiah “menutup kemaluan (bagian-bagian pribadi) seseorang”—yakni, kesopanan dalam berpakaian—maupun makna kiasan “menahan hasrat seks seseorang”, yakni membatasi hasrat itu hanya terhadap yang diperbolehkan atau halal, yaitu hubungan seks suami-istri (bdk. dengan Surah Al-Mu’minun [23]: 5-6). Terjemahan yang saya pilih (to be mindful of their chastity, “berhati-hati memelihara kesucian mereka”) dalam hal ini memungkinkan kedua penafsiran itu. “Menundukkan pandangan” juga berhubungan dengan kesantunan jasmani maupun emosi/perasaan (Al-Razi).


Surah An-Nur Ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

wa qul lil-mu`mināti yagḍuḍna min abṣārihinna wa yaḥfaẓna furụjahunna wa lā yubdīna zīnatahunna illā mā ẓahara min-hā walyaḍribna bikhumurihinna ‘alā juyụbihinna wa lā yubdīna zīnatahunna illā libu’ụlatihinna au ābā`ihinna au ābā`i bu’ụlatihinna au abnā`ihinna au abnā`i bu’ụlatihinna au ikhwānihinna au banī ikhwānihinna au banī akhawātihinna au nisā`ihinna au mā malakat aimānuhunna awittābi’īna gairi ulil-irbati minar-rijāli awiṭ-ṭiflillażīna lam yaẓ-harụ ‘alā ‘aurātin-nisā`i wa lā yaḍribna bi`arjulihinna liyu’lama mā yukhfīna min zīnatihinn, wa tụbū ilallāhi jamī’an ayyuhal-mu`minụna la’allakum tufliḥụn

31. Dan, katakanlah kepada perempuan beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan berhati-hati memelihara kesucian mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan pesona (bagian-bagian tertentu tubuh) mereka [di depan umum] melampaui apa yang [sepantasnya] tampak darinya;37 karena itu, hendaknya mereka menarik kerudung mereka hingga menutupi dada mereka.38 Dan, janganlah memperlihatkan [lebih banyak lagi] dari pesona (bagian-bagian tertentu tubuh) mereka kepada siapa pun, kecuali kepada suami mereka, atau bapak mereka, atau mertua laki-laki mereka, atau putra mereka, atau putra tiri mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra saudara laki-laki mereka, atau putra saudara perempuan mereka, atau kepada sesama perempuan, atau orang-orang yang mereka miliki secara sah, atau para pelayan laki-laki yang tidak lagi memiliki hasrat seksual,39 atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka mengayunkan kaki mereka [ketika berjalan] sedemikian sehingga menarik perhatian terhadap pesona (bagian-bagian tertentu tubuh) mereka yang tersembunyi.40

Dan, [senantiasalah,] wahai kalian orang-orang beriman—kalian semua—bertobat kepada Allah, agar kalian meraih kebahagiaan!”41


37 Kata “sepantasnya” {decently} yang saya sisipkan mencerminkan penafsiran sejumlah ulama Islam awal, khususnya Al-Qiffal (yang dikutip oleh Al-Razi), terhadap ungkapan illa ma zhahara minha sebagai “bagian-bagian yang boleh diperlihatkan seorang manusia sesuai dengan kebiasaan yang berlaku (al-‘adah al-jariyah)”. Meskipun kalangan tradisional ahli Hukum Islam selama berabad-abad cenderung membatasi pengertian dari “apa yang [sepantasnya] tampak” kepada wajah, tangan, dan kaki perempuan—dan terkadang kurang dari itu—kita dapat berasumsi dengan aman bahwa makna illa ma zhahara minha adalah lebih luas, dan bahwa kekaburan yang disengaja dari ungkapan ini dimaksudkan untuk memungkinkan perubahan-perubahan sepanjang masa yang di perlukan bagi pertumbuhan moral dan masyarakat. Bagian kalimat terpenting dalam perintah di atas adalah tuntutan, yang dialamatkan baik kepada laki-laki maupun perempuan dengan menggunakan istilah yang sama, “untuk menundukkan pandangan mereka dan berhati-hati memelihara kesucian mereka”: dan inilah yang menentukan cakupan tentang apa yang, pada zaman kapan pun, boleh secara sah—yakni sejalan dengan prinsip-prinsip Al-Quran tentang moralitas sosial—dapat dianggap “pantas” atau “tidak pantas” menyangkut penampilan lahiriah seseorang.

{Secara harfiah, kata zinah (Arab) maupun charm (Inggris, terjemahan yang dipilih Asad) berarti “hiasan” atau ” sesuatu yang memiliki daya tarik, pesona”. Namun, karena sudah jelas bahwa dalam konteks ayat ini kata itu dipakai untuk merujuk “bagian-bagian tubuh perempuan yang dapat mengundang ketertarikan atau hasrat seksual di pihak laki-l aki”, kata tersebut diindonesiakan dengan ungkapan “pesona (bagian-bagian tubuh tertentu perempuan)”, seperti dada, yang disebut di ayat ini dan dalam penjelasan Asad di atas.—peny.}

38 Kata khimar (jamak: khumur) berarti penutup kepala atau kerudung yang sebagai adat-istiadat dipakai oleh perempuan Arab pada saat sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Menurut mayoritas mufasir klasik, kerudung itu dipakai pada masa pra-Islam kurang lebih sebagai hiasan dan dibiarkan longgar terjulur ke bagian punggung si pemakai; dan karena—sesuai dengan mode pakaian yang berlaku pada saat itu—bagian atas baju panjang perempuan terbuka lebar di bagian depannya, dada sang perempuan dibiarkan tampak. Karena itu, perintah untuk menutup dada dengan menggunakan khimar (istilah yang begitu dikenal oleh orang-orang yang sezaman dengan Nabi) tidak mesti berkaitan dengan penggunaan khimar seperti itu, tetapi lebih dimaksudkan untuk memperjelas bahwa dada wanita tidak termasuk di dalam konsep mengenai “apa yang pantas tampak” dari tubuh perempuan dan, karena itu, tidak perlu diperlihatkan.

39 Yakni, laki-laki yang sudah sangat tua. Ungkapan sebelumnya, “orang-orang yang mereka miliki secara sah” (lit., “orang-orang yang dimiliki tangan kanan mereka”), berarti hamba atau budak; tetapi lihat juga catatan no. 78.

40 Lit., “sehingga bagian-bagian tubuh tertentu yang mereka sembunyikan itu dapat diketahui”. Sebagai sebuah idiom, ungkapan yadhribna bi-arjulihinna serupa dengan ungkapan dharaba bi-yadaihi fi misyyatihi, “dia mengayunkan lengannya pada saat berjalan” (dikutip dalam konteks ini dari Taj Al-‘Arus) dan, secara tak langsung, menunjuk pada gaya berjalan yang secara sengaja dimaksudkan untuk mengundang perhatian.

41 Makna lain yang tersirat di dalam seruan umum untuk bertobat itu adalah bahwa karena “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28), tidak seorang pun yang pernah terbebas dari kesalahan dan godaan—sedemikian besar kemungkinan untuk salah dan tergoda itu sehingga bahkan Nabi biasa mengatakan, “Sungguh, aku menghadap kepada-Nya untuk bertobat seratus kali sehari” (Ibn Hanbal, Al-Bukhari, dan Al-Baihaqi, yang semuanya diriwayatkan dari ‘Abd Allah ibn ‘Umar).


Surah An-Nur Ayat 32

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

wa angkiḥul-ayāmā mingkum waṣ-ṣāliḥīna min ‘ibādikum wa imā`ikum, iy yakụnụ fuqarā`a yugnihimullāhu min faḍlih, wallāhu wāsi’un ‘alīm

32. DAN, [kalian hendaknya] menikah dengan orang-orang yang masih sendirian diantara kalian,42 maupun dengan orang-orang di antara hamba sahaya lelaki dan hamba sahaya perempuan kalian yang layak [untuk dinikahi].43

Jika mereka [yang hendak kalian nikahi] miskin, [hendaknya hal ini tidak menghalangi kalian;] Allah akan menganugerahi mereka kecukupan dengan karunia-Nya—sebab, Allah Maha Tak Terhingga [dalam belas kasih-Nya], Maha Mengetahui.


42 Yakni, di antara anggota umat yang merdeka, sebagaimana jelas dari penyejajaran kata itu dengan hamba sahaya di bagian berikutnya. (Sebagaimana ditunjukkan oleh mayoritas mufasir klasik, ini bukan merupakan perintah, melainkan saran bagi umat secara keseluruhan: itulah sebabnya, saya menambahkan kata-kata “kalian hendaknya”.) Istilah ayyim—yang bentuk jamaknya adalah ayama—menunjuk kepada laki-laki maupun perempuan yang tidak memiliki pasangan, terlepas dari apakah orang itu belum menikah, sudah bercerai, atau menduda/menjanda. Dengan demikian, ayat di atas mengungkapkan gagasan—yang diulang dalam banyak hadis Nabi yang sahih—bahwa, dari sudut pandang etika maupun sosial, menikah sangat jauh lebih baik daripada hidup membujang.

43 Di sini, istilah al-shalihin memiliki pengertian, kelayakan moral maupun fisik untuk menikah, yakni: pencapaian kedewasaan fisik dan mental serta terdapatnya rasa saling mengasihi antara laki-laki dan perempuan bersangkutan. Seperti di dalam Surah An-Nisa’ [4]: 25, ayat di atas menolak segala bentuk pergundikan dan menetapkan pernikahan sebagai satu-satunya landasan bagi hubungan seks yang halal antara seorang laki-laki dan hamba sahaya perempuannya.


Surah An-Nur Ayat 33

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

walyasta’fifillażīna lā yajidụna nikāḥan ḥattā yugniyahumullāhu min faḍlih, wallażīna yabtagụnal-kitāba mimmā malakat aimānukum fa kātibụhum in ‘alimtum fīhim khairaw wa ātụhum mim mālillāhillażī ātākum, wa lā tukrihụ fatayātikum ‘alal-bigā`i in aradna taḥaṣṣunal litabtagụ ‘araḍal ḥayātid-dun-yā, wa may yukrihhunna fa innallāha mim ba’di ikrāhihinna gafụrur raḥīm

33. Dan, adapun orang-orang yang tidak mampu menikah,44 hendaknya mereka menahan diri hingga Allah menganugerahi mereka kecukupan dengan karunia-Nya.

Dan, jika salah seorang di antara orang-orang yang kalian miliki secara sah45 berkeinginan [memperoleh] pernyataan merdeka, tuliskanlah untuk mereka sekiranya kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka itu:46 dan berikanlah kepada mereka [bagian mereka atas] harta Allah yang Dia telah karuniakan kepada kalian.47

Dan, janganlah, karena ingin meraih48 kesenangan sesaat dari kehidupan duniawi, memaksa para pelayan [hamba sahaya] kalian untuk melakukan pelacuran sekiranya mereka sendiri berkeinginan menikah;49 dan siapa pun yang memaksa mereka, kemudian mereka terpaksa [menuruti karena tak berdaya], sungguh, (terhadap mereka yang dipaksa itu) Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang!


44 Yakni, karena kemiskinan, atau karena tidak mampu menemukan pasangan yang cocok, atau karena alasan pribadi lainnya.

45 Lit., “orang-orang yang dimiliki tangan kananmu”, yakni hamba sahaya laki-laki atau perempuan.

46 Nomina kitab di dalam konteks ini adalah padanan dari kitabah atau mukatabah (lit., “persetujuan tertulis antara kedua belah pihak”), sebuah istilah yuridis yang berarti “pernyataan kebebasan” atau “pembebasan budak” yang dilaksanakan berdasarkan kesepakatan antara budak dan majikannya, yang berarti bahwa budak itu berusaha membeli kebebasannya dengan sejumlah uang yang sepadan, yang dapat dibayar secara mengangsur pada saat sebelum atau sesudah kesepakatan itu, atau alternatifnya, dengan cara memberikan pelayanan tertentu kepada majikannya yang ditetapkan secara terperinci. Dengan melihat tujuan ini, secara hukum, sang budak berhak melakukan pekerjaan apa pun yang sah guna memperoleh keuntungan atau guna memperoleh sejumlah uang melalui cara apa pun yang halal (misalnya, melalui pinjaman atau pemberian dari pihak ketiga). Melihat bentuk perintah dari kata katibuhum (“tuliskanlah untuk mereka”), akta pembebasan budak tidak boleh ditolak oleh sang majikan. Satu-satunya prasyarat yang harus dipenuhi hanyalah bukti—yang jika perlu ditegaskan oleh penengah yang tidak berpihak—tentang karakter baik sang budak dan kemampuannya untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, sebagaimana yang ditetapkan di dalam perjanjian. Ketentuan bahwa akta pembebasan budak itu tidak boleh ditolak, dan penetapan petunjuk-petunjuk yuridis yang terperinci untuk maksud tersebut, secara jelas menunjukkan bahwa Hukum Islam telah sejak awal bertujuan untuk menghapus perbudakan sebagai sebuah institusi sosial, dan bahwa pelarangan perbudakan pada masa modern tidak lebih daripada implementasi final dari tujuan tersebut. (Lihat juga catatan selanjutnya, serta catatan no. 146 pada Surah Al-Baqarah [2]: 177.)

47 Menurut semua mufasir, hal ini berhubungan dengan: (a) kewajiban moral di pihak majikan untuk mendorong upaya sang hamba sahaya memperoleh pendapatan yang diperlukan dengan membantunya untuk mencapai status ekonomi yang rnandiri dan/atau dengan menghapuskan sebagian tebusan yang disepakati, dan (b) berkaitan dengan kewajiban lembaga keuangan negara (bait al-mal) untuk membiayai pembebasan budak, sejalan dengan prinsip Al-Quran—yang disebutkan dalam Surah At-Taubah [9]: 60—bahwa pendapatan yang diperoleh melalui kewajiban zakat harus digunakan antara lain “untuk membebaskan manusia dari (belenggu) perbudakan” (fi al-riqab, sebuah ungkapan yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah [2], catatan 146). Karena itu, Al-Zamakhsyari berpandangan bahwa anak kalimat di atas dialamatkan bukan hanya kepada orang-orang yang memiliki hamba sahaya, melainkan juga kepada umat secara keseluruhan.

Ungkapan “harta Allah” mengandung rujukan tak langsung kepada prinsip bahwa “Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman, dengan menjanjikan bagi mereka surga sebagai balasannya” (Surah At-Taubah [9]: 111)—yang mengandung pengertian bahwa seluruh milik manusia sesungguhnya berada di tangan Allah, dan bahwa manusia tidak lain hanya memiliki hak penggunaan saja atas modal (usufruct) yang mereka miliki.

48 Lit., “agar kalian bisa mencari” atau “berusaha meraih”.

49 Lit., “jika mereka ingin berlindung dari ketidaksucian (tahashshun)”, yakni melalui pernikahan (bdk. dengan ungkapan mushshanat sebagaimana digunakan dalam Surah An-Nisa’ [4]: 24). Mayoritas mufasir klasik berpendapat bahwa istilah fatayat (“pelayan perempuan”) di sini berarti “gadis-gadis hamba sahaya”: sebuah asumsi yang dibenarkan sepenuhnya oleh konteks istilah tersebut. Karena itu, ayat di atas mengulangi pelarangan pergundikan dengan menggambarkannya secara tegas sebagai “pelacuran” (bigha).


Surah An-Nur Ayat 34

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

wa laqad anzalnā ilaikum āyātim mubayyinātiw wa maṡalam minallażīna khalau ming qablikum wa mau’iẓatal lil-muttaqīn

34. DAN, SUNGGUH, Kami telah menurunkan kepada kalian pesan-pesan yang dengan jelas memperlihatkan kebenaran, dan [banyak] pelajaran dari [kisah] orang-orang yang telah berlalu sebelum kalian, serta [banyak] peringatan bagi orang-orang yang sadar akan Allah.


Surah An-Nur Ayat 35

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun ‘alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

35. Allah adalah Cahaya lelangit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seolah-olah50 sebuah relung di dinding yang di dalamnya terdapat sebuah pelita; pelita itu [terbungkus] di dalam kaca, kaca itu [bersinar] laksana bintang yang bersinar:51 [sebuah pelita] yang dinyalakan dari sebuah pohon yang diberkati—pohon zaitun yang tidak berada di timur dan tidak pula di barat52—yang minyak dari pohon itu [demikian terang sehingga] hampir-hampir menyala [dengan sendirinya] walaupun tidak disentuh api: cahaya di atas cahaya!53

Allah menuntun kepada cahaya-Nya siapa yang berkehendak [diberi petunjuk];54 dan [untuk maksud inilah] Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, sebab Allah [sajalah yang] Maha Mengetahui segala sesuatu.55


50 Huruf ka (“seolah-olah” atau “seakan-akan”) yang diimbuhkan di awal sebuah nomina disebut kaf al-tasybih (“huruf kaf yang menunjukkan kemiripan [antara satu dan lainnya]” atau “menunjukkan sebuah metafora atau kiasan”). Dalam konteks ayat di atas, hal itu secara tak langsung mengacu kepada kemustahilan untuk mendefinisikan Allah sekalipun melalui penggunaan kiasan atau perumpamaan—sebab, lantaran “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan -Nya” (Surah Asy-Sura [42]: 11), “tidak ada sesuatu pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya” (Surah Al-Ikhlash [112]: 4). Karena itu, perumpamaan tentang “cahaya Tuhan” tidak dimaksudkan untuk mengungkapkan hakikat Allah yang sesungguhnya—yang tak mungkin dipahami oleh makhluk apa pun dan, karena itu, tidak dapat diungkapkan dalam bahasa manusia—tetapi hanya untuk mengacu secara tidak langsung kepada pancaran yang Dia, sebagai Kebenaran Tertinggi, limpahkan pada pikiran dan perasaan semua orang yang ingin diberi petunjuk. Al-Thabari, Al-Baghawi, dan Ibn Katsir mengutip Ibn ‘Abbas dan Ibn Mas’ud, yang dalam konteks ini mengatakan, “Itu adalah perumpamaan dari cahaya-Nya di dalam hati seorang beriman.”

51 “Cahaya” adalah wahyu yang diberikan Allah kepada para nabi-Nya dan yang terpantul di dalam hati orang beriman—yang disebut “relung di dinding” di dalam perumpamaan di atas (Ubayy ibn Ka’b, seperti dikutip oleh Al-Thabari)—setelah diterima dan dipahami oleh akal atau nalarnya (yang diumpamakan sebagai “kaca [yang bersinar terang} laksana bintang kejora”): karena, hanya melalui akallah iman sejati dapat menemukan jalannya untuk sampai ke lubuk hati manusia.

52 Tampaknya, ini merupakan suatu rujukan tak langsung kepada kesinambungan organis seluruh wahyu Ilahi yang awalnya bermula seperti sebuah pohon dari satu “akar” atau proposisi—pernyataan tentang keberadaan dan keunikan Allah—kemudian tumbuh terus-menerus di sepanjang sejarah ruhani manusia, lalu bercabang-cabang menjadi beraneka ragam pengalaman keberagamaan, sehingga terus memperluas rentang persepsi manusia tentang kebenaran dengan tiada akhir. Pengaitan konsep ini dengan pohon zaitun tampaknya muncul dari kenyataan bahwa pohon jenis ini merupakan ciri khas dari wilayah-wilayah tempat kebanyakan pesan-pesan kenabian sebelum Al-Quran berada, yaitu wilayah-wilayah hingga ke timur wilayah Mediterania: namun, karena seluruh wahyu yang benar berasal dari Wujud Yang Tak Terhingga, ia “tidak berada di timur maupun di barat”—dan khususnya demikian berkenaan dengan wahyu Al-Quran yang, karena dialamatkan kepada seluruh umat manusia, memiliki tujuan yang bersifat universal pula.

53 Intisari pesan AI-Quran digambarkan di tempat lain sebagai “jelas [dengan sendirinya] dan dengan jelas menunjukkan kebenaran” (bdk. catatan no. 2, Surah Yusuf [12]: 1); dan, menurut saya, aspek Al-Quran inilah yang dirujuk secara tak langsung oleh kalimat di atas. Pesan Al-Quran itu memberi cahaya penerang, sebab ia berasal dari Tuhan; namun, ia “hampir-hampir menyala [dengan sendirinya] walaupun tidak disentuh api”: yakni, walaupun seseorang mungkin tidak menyadari bahwa intisari pesan itu telah “disentuh api” wahyu Ilahi, konsistensi, kebenaran, dan kebijaksanaan yang melekat pada intisari pesan itu seharusnya telah menjadi jelas dengan sendirinya bagi siapa pun yang mendekatinya dengan menggunakan akal serta tanpa prasangka.

54 Meskipun mayoritas mufasir membaca bagian kalimat di atas dalam pengertian “Allah menuntun siapa pun yang Dia kehendaki” kepada cahaya-Nya, Al-Zamakhsyari memberikan pengertian kepada kalimat tersebut sebagaimana yang saya gunakan dalam terjemahan saya (kedua pengertian itu dimungkinkan dari segi aturan tata bahasa).

55 Yakni, karena sangat rumit untuk dimengerti, kebenaran-kebenaran tertentu hanya dapat disampaikan kepada manusia melalui perumpamaan (tamsil) atau pengalihmaknaan (takwil, alegori): lihat catatan no. 5 dan no. 8 dalam Surah Al-‘Imran [3]: 7.


Surah An-Nur Ayat 36

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

fī buyụtin ażinallāhu an turfa’a wa yużkara fīhasmuhụ yusabbiḥu lahụ fīhā bil-guduwwi wal-āṣāl

36. DI RUMAH-RUMAH [ibadah] yang telah Allah perkenankan untuk dimuliakan agar nama-Nya diingat di dalamnya,56 di sana [terdapat orang-orang yang] bertasbih memuji kemuliaan-Nya yang tiada terhingga, pada waktu pagi dan petang—


56 Lit., “dan [diperintahkan] agar nama-Nya …” dst.: menyiratkan, seperti diperlihatkan dalam ayat selanjutnya, bahwa tujuan spiritual dari didirikannya rumah-rumah ibadah itu dipenuhi hanya oleh sebagian, bukan semua, orang yang biasa berkumpul di sana karena alasan kebiasaan.


Surah An-Nur Ayat 37

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

rijālul lā tul-hīhim tijāratuw wa lā bai’un ‘an żikrillāhi wa iqāmiṣ-ṣalāti wa ītā`iz-zakāti yakhāfụna yauman tataqallabu fīhil qulụbu wal-abṣār

37. (yaitu) orang-orang yang baik perniagaan [duniawi] maupun usaha meraih keuntungan57 tidak dapat melalaikannya dari mengingat Allah, dari berteguh mendirikan shalat, dan dari bederma:58 [orang-orang] yang dipenuhi rasa takut [karena memikirkan] akan Hari tatkala seluruh hati dan penglihatan akan menjadi amat terguncang,


57 Lit., “tawar-menawar” atau “penjualan” atau “jual-beli” (bai’)—suatu kiasan untuk segala sesuatu yang dapat memberi keuntungan duniawi.

58 Mengenai terjemahan ini untuk istilah zakah, lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 34.


Surah An-Nur Ayat 38

لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

liyajziyahumullāhu aḥsana mā ‘amilụ wa yazīdahum min faḍlih, wallāhu yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

38. [dan yang hanya berharap] agar Allah memberi balasan kepada mereka sesuai dengan yang terbaik yang telah mereka perbuat, dan memberi mereka, dari karunia-Nya, lebih [dari apa yang pantas mereka peroleh]: sebab, Allah menganugerahkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, melampaui segala perhitungan.


Surah An-Nur Ayat 39

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

wallażīna kafarū a’māluhum kasarābim biqī’atiy yaḥsabuhuẓ-ẓam`ānu mā`ā, ḥattā iżā jā`ahụ lam yajid-hu syai`aw wa wajadallāha ‘indahụ fa waffāhu ḥisābah, wallāhu sarī’ul ḥisāb

39. Namun, adapun orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, perbuatan [kebajikan] mereka laksana fatamorgana di tengah padang pasir, yang disangka air oleh orang yang dahaga—hingga, tatkala orang itu mendekatinya, dia mendapatinya tiada:59 alih-alih, dia mendapati [bahwa] Allah [senantiasa hadir] bersamanya, dan [bahwa] Dia akan membalas penuh perbuatannya—sebab, Allah amat cepat dalam membuat perhitungan!


59 Yakni, pada Hari Pengadilan, dia pasti menyadari bahwa seluruh perbuatannya yang dia anggap baik ternyata tidak berharga lantaran dia sengaja menolak mendengarkan suara kebenaran (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi).


Surah An-Nur Ayat 40

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

au kaẓulumātin fī baḥril lujjiyyiy yagsyāhu maujum min fauqihī maujum min fauqihī saḥāb, ẓulumātum ba’ḍuhā fauqa ba’ḍ, iżā akhraja yadahụ lam yakad yarāhā, wa mal lam yaj’alillāhu lahụ nụran fa mā lahụ min nụr

40. Atau [jika tidak demikian, perbuatan mereka60] laksana keadaan gelap gulita di tengah lautan yang amat dalam laksana jurang, yang bahkan keadaannya menjadi lebih gelap lagi akibat gelombang yang bergulung-gulung di atas gelombang, dengan awan-awan [hitam] di atas semua itu: gelap gulita, bertumpuk-tumpuk,61 [sehingga] jika seseorang mengangkat tangannya, dia nyaris tidak dapat melihatnya: sebab, siapa pun yang tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah dia memiliki cahaya sama sekali!


60 Yakni, perbuatan buruk mereka, sebagaimana dilawankan dengan perbuatan baik mereka, yang di dalam ayat sebelumnya diumpamakan seperti sebuah fatamorgana.

61 Lit., “satu di atas yang lain”.


Surah An-Nur Ayat 41

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

a lam tara annallāha yusabbiḥu lahụ man fis-samāwāti wal-arḍi waṭ-ṭairu ṣāffāt, kullung qad ‘alima ṣalātahụ wa tasbīḥah, wallāhu ‘alīmum bimā yaf’alụn

41. TIDAKKAH ENGKAU ketahui bahwa Allah-lah, yang kemuliaan-Nya tiada terbatas, yang diagungkan oleh seluruh [makhluk] yang berada di lelangit dan di bumi, dan bahkan oleh burung-burung tatkala mereka mengepakkan sayapnya?62 Masing-masing [mereka] sungguh mengetahui bagaimana cara menyembah-Nya dan bagaimana cara mengagungkan-Nya; dan Allah Maha Mengetahui semua yang mereka lakukan:


62 Bdk. dengan Surah Al-Isra’ [17]: 44 dan catatan no. 53.


Surah An-Nur Ayat 42

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍ, wa ilallāhil-maṣīr

42. sebab, milik Allah-lah kekuasaan atas lelangit dan bumi, dan pada Allah-lah akhir dari seluruh perjalanan.


Surah An-Nur Ayat 43

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

a lam tara annallāha yuzjī saḥāban ṡumma yu`allifu bainahụ ṡumma yaj’aluhụ rukāman fa taral-wadqa yakhruju min khilālih, wa yunazzilu minas-samā`i min jibālin fīhā mim baradin fa yuṣību bihī may yasyā`u wa yaṣrifuhụ ‘am may yasyā`, yakādu sanā barqihī yaż-habu bil-abṣār

43. Tidakkah engkau ketahui bahwa Allah-lah yang menyebabkan awan terus bergerak, lalu mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk sehingga engkau dapat melihat hujan keluar dari tengah-tengahnya?

Dan, Dia-lah yang menurunkan dari langit, secara bertahap, kumpulan lebat [awan] yang berisi butiran-butiran air, yang lalu ditimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki dan dipalingkan dari siapa yang Dia kehendaki, [sementara] kilatan petir-Nya hampir-hampir menyebabkan pandangan [orang] menjadi buta!



Surah An-Nur Ayat 44

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

yuqallibullāhul-laila wan-nahār, inna fī żālika la’ibratal li`ulil-abṣār

44. Allah-lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti: pada yang demikian itu [pun], perhatikanlah, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan!


Surah An-Nur Ayat 45

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

wallāhu khalaqa kulla dābbatim mim mā`, fa min-hum may yamsyī ‘alā baṭnih, wa min-hum may yamsyī ‘alā rijlaīn, wa min-hum may yamsyī ‘alā arba’, yakhluqullāhu mā yasyā`, innallāha ‘alā kulli syai`ing qadīr

45. Dan, Allah-lah yang telah menciptakan semua hewan dari air;63 dan [Dia telah menghendaki bahwa] di antara hewan-hewan itu ada yang berjalan dengan merayap, ada yang berjalan dengan dua kaki, dan ada yang berjalan dengan empat kaki.

Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki: sebab, sungguh, Allah memiliki kekuasaan untuk menetapkan segala sesuatu.


63 Lihat catatan no. 39 dalam Surah Al-Anbiya’ [21]: 30. Istilah dabbah berarti setiap wujud berjasad yang dianugerahi dengan daya hidup dan gerakan yang spontan. Karena itu, dalam pengertiannya yang paling luas, istilah itu meliputi seluruh dunia hewan, termasuk manusia.


Surah An-Nur Ayat 46

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ ۚ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

laqad anzalnā āyātim mubayyināt, wallāhu yahdī may yasyā`u ilā ṣirāṭim mustaqīm

46. SUNGGUH, Kami telah turunkan pesan-pesan yang dengan jelas memperlihatkan kebenaran; tetapi Allah hanya memberi petunjuk ke jalan yang lurus siapa yang berkehendak [untuk diberi petunjuk].64


64 Atau: “Allah memberi petunjuk ke jalan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki”, Dalam hal ini, tampaknya, terjemahan yang saya pilih lebih sesuai karena mempertimbangkan penekanan yang begitu intensif dalam ayat-ayat sebelumnya terhadap bukti, yang terpapar di seluruh alam, tentang aktivitas perencanaan kreatif Allah serta seruan kepada “semua yang memiliki mata untuk melihat” agar membiarkan diri mereka dituntun oleh bukti-bukti yang sangat banyak itu.


Surah An-Nur Ayat 47

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

wa yaqụlụna āmannā billāhi wa bir-rasụli wa aṭa’nā ṡumma yatawallā farīqum min-hum mim ba’di żālik, wa mā ulā`ika bil-mu`minīn

47. Karena, [banyak dari] mereka [yang] berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami patuh!”—namun kemudian, sebagian dari mereka berpaling sesudah [pernyataan] ini: dan mereka itu sama sekali bukanlah orang beriman [yang sejati].


Surah An-Nur Ayat 48

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ

wa iżā du’ū ilallāhi wa rasụlihī liyaḥkuma bainahum iżā farīqum min-hum mu’riḍụn

48. Dan, [karena itulah,] ketika mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar [kitab Ilahi ini] dapat memberi putusan di antara mereka,65 lihatlah! sebagian dari mereka berpaling;


65 Yakni, agar kitab Ilahi ini—yang tersirat di dalam ungkapan “Allah dan Rasul-Nya” sebelumnya—dapat menentukan nilai-nilai etis bagi mereka dan, sebagai akibatnya, perilaku sosial mereka.


Surah An-Nur Ayat 49

وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ

wa iy yakul lahumul-ḥaqqu ya`tū ilaihi muż’inīn

49. Namun, jika kebenaran itu kebetulan sesuai dengan keinginan mereka, mereka akan menerimanya dengan senang hati.66


66 Lit., “Jika kebenaran kebetulan bersama mereka, mereka datang kepadanya dengan sukarela”: bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 60-61 dan catatan-catatan yang terkait, khususnya catatan no. 80.


Surah An-Nur Ayat 50

أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

a fī qulụbihim maraḍun amirtābū am yakhāfụna ay yaḥīfallāhu ‘alaihim wa rasụluh, bal ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

50. Apakah ada penyakit di dalam hati mereka? Ataukah mereka mulai ragu [bahwa ini adalah kitab Ilahi]? Ataukah mereka takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku aniaya terhadap mereka?67

Tidak, [sebenarnya] mereka, mereka itulah yang berbuat aniaya [terhadap diri mereka sendiri]!


67 Yakni, dengan mencabut dari mereka apa yang mereka pilih untuk dianggap sebagai kebebasan-kebebasan dan kenikmatan-kenikmatan yang “sah”, atau dengan mencegah mereka untuk “tetap sesuai dengan perkembangan zaman”. Seperti dalam ayat 47 dan 48 (serta ayat 51 di bawah), ungkapan “Allah dan Rasul-Nya” di sini memiliki arti yang sama dengan kitab Ilahi yang diwahyukan kepada Rasul.


Surah An-Nur Ayat 51

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

innamā kāna qaulal-mu`minīna iżā du’ū ilallāhi wa rasụlihī liyaḥkuma bainahum ay yaqụlụ sami’nā wa aṭa’nā, wa ulā`ika humul-mufliḥụn

51. Satu-satunya tanggapan orang-orang beriman apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar [kitab Ilahi ini] memberi putusan di antara mereka, tidak lain adalah,68 “Kami telah mendengar dan kami patuh!”—dan mereka, mereka itulah yang akan meraih kebahagiaan:


68 Lit., “perkataan satu-satunya dari orang-orang beriman … adalah bahwa mereka berkata”—yakni, tanpa adanya keraguan. Istilah qaul (lit., “perkataan”) di sini memiliki arti “respons” spiritual sejati, yang berbeda dengan perkataan yang hanya di bibir semata, yang dibicarakan secara tidak langsung dalam ayat 47 di atas.


Surah An-Nur Ayat 52

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ wa yakhsyallāha wa yattaq-hi fa ulā`ika humul-fā`izụn

52. sebab, mereka yang patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, serta merasa gentar-terpukau pada Allah dan sadar akan Dia—mereka, mereka itulah yang [pada akhirnya] akan meraih kemenangan!


Surah An-Nur Ayat 53

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ قُلْ لَا تُقْسِمُوا ۖ طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

wa aqsamụ billāhi jahda aimānihim la`in amartahum layakhrujunn, qul lā tuqsimụ, ṭā’atum ma’rụfah, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

53. Kini, [adapun orang-orang yang bersikap setengah hati,] mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah mereka yang paling sungguh-sungguh bahwa jika engkau [wahai Rasul] menyuruh mereka untuk berbuat demikian, pastilah mereka akan pergi [dan mengorbankan diri mereka sendiri].69

Katakanlah: “Janganlah kalian bersumpah! Kepatuhan yang masuk-akal [terhadap pesan-pesan Allah hanyalah yang diminta dari kalian].70 Sungguh, Allah Maha Mengetahui semua yang kalian perbuat!”


69 Ayat ini berbicara secara tidak langsung tentang antusiasme sesaat yang bersifat menipu diri sendiri dari orang-orang yang bersikap setengah hati dan tentang sikap mereka yang seolah-olah siap untuk “mengorbankan diri”, yang berlawanan dengan sikap mereka sesungguhnya yang nyata-nyata enggan untuk bertindak sesuai dengan pesan Al-Quran dalam berbagai urusan mereka sehari-hari.

70 Ungkapan yang bersifat eliptis ini berbicara secara tidak langsung tentang prinsip yang berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran—bahwa Allah tidak memikulkan beban kepada manusia melebihi dari apa yang dia dapat pikul dengan mudah.


Surah An-Nur Ayat 54

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

qul aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụl, fa in tawallau fa innamā ‘alaihi mā ḥummila wa ‘alaikum mā ḥummiltum, wa in tuṭī’ụhu tahtadụ, wa mā ‘alar-rasụli illal-balāgul-mubīn

54. Katakanlah: “Patuhlah kepada Allah dan patuhlah kepada Rasul.”

Dan, jika kalian berpaling [dari Rasul, ketahuilah bahwa] dia hanyalah harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan kalian atas apa yang menjadi tanggung jawab kalian; namun, jika kalian patuh kepadanya, kalian akan berada di jalan yang benar. Lagi pula, Rasul tidak dibebani untuk melakukan lebih dari sekadar menyampaikan dengan jelas pesan [yang diamanatkan kepadanya].”


Surah An-Nur Ayat 55

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

wa’adallāhullażīna āmanụ mingkum wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti layastakhlifannahum fil-arḍi kamastakhlafallażīna ming qablihim wa layumakkinanna lahum dīnahumullażirtaḍā lahum wa layubaddilannahum mim ba’di khaufihim amnā, ya’budụnanī lā yusyrikụna bī syai`ā, wa mang kafara ba’da żālika fa ulā`ika humul-fāsiqụn

55. Dan, Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kalian yang telah meraih iman dan melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan bahwa, pasti, Dia akan menjadikan mereka meraih kekuasaan di muka bumi,71 sebagaimana Dia telah menjadikan [sebagian dari] orang-orang yang hidup sebelum mereka berkuasa; dan bahwa, pasti, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Dia telah berkenan untuk diturunkan kepada mereka;72 dan bahwa, pasti, Dia akan menyebabkan kondisi mereka sebelumnya yang berada dalam keadaan takut berubah menjadi rasa aman73—[mengingat bahwa] mereka menyembah Aku [semata], tidak menisbahkan kuasa-kuasa ketuhanan kepada apa pun selain Aku.74

Akan tetapi, siapa pun yang, setelah [memahami hal] ini, memilih untuk mengingkari kebenaran—mereka, mereka itulah orang yang benar-benar menyimpang!


71 Lit., “menjadikan mereka sebagai para pengganti di bumi—yakni, memungkinkan mereka, pada gilirannya, untuk memperoleh kekuatan dan keamanan. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan duniawi mereka. Dengan menyebut tentang “janji” Allah ini, Al-Quran secara tidak langsung berbicara tentang hukum alam yang dikehendaki Allah, yang menetapkan tanpa kecuali bahwa jatuh bangunnya bangsa-bangsa bergantung pada kualitas moral mereka masing-masing.

72 Bdk. dengan Surah Al-Ma’idah [5]: 3—”telah Kutetapkan bahwa penyerahan-diri kepada-Ku (al-islam) menjadi agama kalian”. “Peneguhan” (tamkin) agama ini merujuk pada menguatnya kepercayaan orang-orang Mukmin ini dan pada tumbuhnya pengaruh moral agama ini di dunia.

73 Lit., “menukar bagi mereka, setelah keadaan takut [atau ‘bahaya’] mereka, keadaan aman”. Perlu dicatat bahwa istilah amn tidak hanya berarti keadaan aman secara lahiriah yang bersifat fisik, tetapi juga—dan bahkan sesungguhnya pada mulanya—berarti “bebas dari rasa takut” (Taj Al-‘Arus). Karena itu, anak kalimat di atas menyiratkan bukan hanya janji bahwa kaum beriman sebagai kelompok akan menikmati keadaan aman setelah pada masa-masa awalnya mereka berada dalam keadaan lemah dan bahaya (yang, sebagaimana diceritakan oleh sejarah kepada kita, membayang-bayangi permulaan dari setiap gerakan keagamaan yang sejati), melainkan juga janji bahwa kaum beriman sebagai individu akan merasakan keamanan batin—yakni, hilangnya segala rasa takut terhadap hal-hal Yang Tidak Diketahui, yang merupakan ciri-ciri seorang Mukmin sejati. (Lihat catatan berikut.)

74 Yakni, keadaan bebas dari rasa takut yang dirasakan oleh orang beriman merupakan hasil langsung dari penolakannya secara intelektual maupun emosional untuk menisbahkan kepada seseorang atau sesuatu selain Allah kekuasaan untuk menentukan nasib dirinya.


Surah An-Nur Ayat 56

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa aṭī’ur-rasụla la’allakum tur-ḥamụn

56. Karena itu, [wahai orang-orang beriman,] berteguhlah mendirikan shalat, dan tunaikanlah zakat,75 dan patuhlah kepada Rasul, mudah-mudahan kalian dirahmati dengan belas kasih Allah.


75 Penyebutan secara khusus “iuran wajib yang menyucikan” (al-zakah) dalam konteks ini dimaksudkan untuk menekankan unsur sikap, tidak mementingkan diri sendiri sebagai suatu aspek yang menyatu dalam keyakinan yang benar. Menurut Al-Zamakhsyari, ayat di atas berkaitan dengan, sekaligus menyimpulkan, ayat 54.


Surah An-Nur Ayat 57

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَلَبِئْسَ الْمَصِيرُ

lā taḥsabannallażīna kafarụ mu’jizīna fil-arḍ, wa ma`wāhumun-nār, wa labi`sal-maṣīr

57. [Dan,] janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu dapat melarikan diri [dari perhitungan akhir mereka, bahkan jika pun mereka tetap selamat] di bumi:76 neraka adalah tempat yang mereka tuju [di kehidupan mendatang]—dan sungguh buruk akhir perjalanan semacam itu!


76 Untuk penjelasan mengenai kalimat di atas dan kata-kata yang saya tambahkan, lihat catatan no. 39 mengenai ungkapan serupa dalam Surah Hud [11]: 20.


Surah An-Nur Ayat 58

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ۚ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanụ liyasta`żingkumullażīna malakat aimānukum wallażīna lam yablugul-ḥuluma mingkum ṡalāṡa marrāt, ming qabli ṣalātil-fajri wa ḥīna taḍa’ụna ṡiyābakum minaẓ-ẓahīrati wa mim ba’di ṣalātil-‘isyā`, ṡalāṡu ‘aurātil lakum, laisa ‘alaikum wa lā ‘alaihim junāḥum ba’dahunn, ṭawwāfụna ‘alaikum ba’ḍukum ‘alā ba’ḍ, każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāt, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

58. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman!77 Hendaklah [bahkan] orang-orang yang kalian miliki secara sah,78 serta orang-orang yang belum balig di antara kalian,79 meminta izin kepada kalian [sebelum masuk ke dalam ruang pribadi kalian] pada tiga waktu [dalam sehari, yaitu]: sebelum shalat Shubuh, pada tengah hari ketika kalian menanggalkan pakaian kalian, dan sesudah shalat ‘Isya:80 tiga waktu ketika kalian mungkin bisa terlihat dalam keadaan telanjang.81 Selain dari waktu-waktu tersebut, tidaklah berdosa atas kalian maupun mereka jika mereka berlalu-lalang [dengan bebas] di sekitar kalian guna memenuhi [keperluan] satu sama lain.

Demikianlah, Allah menjadikan jelas pesan-pesan-Nya bagi kalian: sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana!


77 Sejalan dengan prinsip Al-Quran bahwa aspek sosial maupun individual—serta aspek spiritual dan materiel—dari kehidupan manusia membentuk satu keseluruhan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan, karena itu, tidak dapat dibahas secara terpisah-pisah, wacana ini kembali kepada pertimbangan tentang beberapa aturan perilaku sosial yang sehat yang dikemukakan di bagian-bagian awal surah ini. Ayat selanjutnya berbicara lebih jauh dan menguraikan dengan lebih terperinci tema tentang hak privasi individu, yang telah disinggung dalam ayat 27-29.

78 Lit., “orang-orang yang dimiliki oleh tangan kanan kalian”—sebuah ungkapan yang terutama dan lazimnya berarti hamba sahaya laki-laki maupun hamba sahaya perempuan. Namun, karena institusi perbudakan dipandang di dalam Al-Quran sekadar sebagai fenomena historis yang suatu waktu harus dihapus (bdk. dengan catatan no. 46 dan no. 47 dalam ay at 33 surah ini, serta catatan no. 146 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 177), ungkapan di atas mungkin pula dipahami secara umum mengacu pada orang yang menjadi tanggungan seseorang serta mengacu pada pelayan rumah tangga, baik laki-laki maupun perempuan. Alternatifnya, ungkapan wa ma malakat aimanukum dalam konteks ini bisa berarti “orang yang kalian miliki secara sah melalui ikatan perkawinan“, yakni istri ataupun suami (bdk. dengan Surah An-Nisa’ [4]: 24 dan catatan terkait no. 26).

79 Yakni, semua anak-anak, terlepas dari apakah mereka memiliki hubungan keluarga atau tidak.

80 Istilah zhahirah (lit., “tengah hari” atau, terkadang, “panas di tengah hari”), yang di dalam Al-Quran muncul hanya di dalam ayat ini, mungkin telah digunakan secara kiasan dalam pengertian “waktu siang hari”, sebagaimana dikontraskan dengan waktu sesudah shalat ‘Isya dan waktu sebelum shalat Shubuh: karena itu, terjemahan tentatif saya untuk istilah itu adalah “tengah hari”.

81 Lit., “tiga [waktu] keadaan telanjang (tsalats ‘aurat) bagi kalian”. Ungkapan ini harus dipahami baik secara harfiah maupun secara kiasan. Pada dasarnya, istilah ‘aurah berarti bagian-bagian tubuh seorang dewasa yang tidak layak untuk diperlihatkan kepada orang lain, kecuali kepada suami atau istri orang itu, atau kepada dokter ketika orang tersebut berada dalam keadaan sakit. Dalam makna kiasannya, istilah itu juga digunakan dalam pengertian “keadaan telanjang” secara ruhani, maupun situasi dan keadaan ketika seseorang berhak atas privasi yang mutlak. Bilangan “tiga” yang digunakan sebanyak dua kali dalam konteks ini tentu saja bukan bersifat terbatas maupun merupakan penghitungan, melainkan jelas dimaksudkan untuk menekankan sifat berulang dari waktu-waktu ketika privasi seseorang harus dihormati, bahkan oleh anggota rumah tangga yang paling dekat, termasuk suami, istri, dan anak-anak.


Surah An-Nur Ayat 59

وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

wa iżā balagal-aṭfālu mingkumul-ḥuluma falyasta`żinụ kamasta`żanallażīna ming qablihim, każālika yubayyinullāhu lakum āyātih, wallāhu ‘alīmun ḥakīm

59. Namun, ketika anak-anak kalian mencapai umur balig, hendaklah mereka meminta izin kepada kalian [pada setiap waktu], sama seperti orang-orang [yang telah mencapai umur balig] sebelum mereka telah diperintahkan untuk meminta izin.82

Demikianlah, Allah menjadikan jelas pesan-pesan-Nya bagi kalian: sebab, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana!


82 Lit., “telah memintanya”: sebuah ungkapan yang mengacu pada perintah yang digariskan di dalam ayat 27-28. Penambahan yang saya lakukan di dalam tanda kurung dengan ungkapan “yang telah mencapai umur balig” adalah didasarkan pada penafsiran Al-Zamakhsyari terhadap kata “orang-orang sebelum mereka”.


Surah An-Nur Ayat 60

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

wal-qawā’idu minan-nisā`illātī lā yarjụna nikāḥan fa laisa ‘alaihinna junāḥun ay yaḍa’na ṡiyābahunna gaira mutabarrijātim bizīnah, wa ay yasta’fifna khairul lahunn, wallāhu samī’un ‘alīm

60. DAN,83 [ketahuilah bahwa] perempuan-perempuan yang sudah berusia lanjut, yang tidak lagi memiliki hasrat seksual,84 tidaklah berdosa jika mereka menanggalkan pakaian [luar] mereka, sepanjang mereka tidak bertujuan untuk memamerkan pesona-pesona (bagian-bagian tertentu tubuh) [mereka]. Namun, [kendati demikian,] adalah lebih baik bagi mereka untuk tidak berbuat [demikian]: dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.


83 Saya yakin bahwa kata penghubung “dan” di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ayat yang diantarkan oleh kata penghubung itu memiliki kaitan dengan ayat-ayat tertentu yang diwahyukan sebelumnya, yakni ayat 31 surah ini dan Surah Al-Ahzab [33]: 59, yang keduanya berbicara secara tidak langsung tentang prinsip kesopanan yang dijalani oleh para wanita Muslim dalam hal berpakaian: karena itu, ayat ini harus dipandang sebagai suatu “bagian” terpisah {yakni, bukan termasuk dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya dan, karena itu, digunakan huruf besar untuk kata penghubung tersebut—peny.}.

84 Lit., “yang tidak berhasrat untuk [atau ‘mengharapkan’] hubungan seks”—kata yang terakhir ini, yakni hubungan seks, jelas merupakan arti nikah dalam konteks ini. Sekalipun nomina nikah, serta verba nakaha yang darinya kata nikah berasal, hampir selalu digunakan dalam Al-Quran dalam pengertian “pernikahan” atau “menikahi”, tidak diragukan bahwa terdapat pengecualian-pengecualian dari aturan umum tersebut: misalnya, cara digunakannya bentuk verba yankihu dalam ayat 3 surah ini (lihat catatan terkait no. 5). Pengecualian-pengecualian tersebut membenarkan pandangan yang dianut oleh beberapa filolog terkemuka, seperti Al-Jauhari atau Al-Azhari (yang belakangan ini dikutip di dalam Lisan Al-‘Arab), yang menyatakan bahwa “dalam percakapan orang-orang Arab, makna asal dari kata nikah adalah hubungan seks (al-wath’).


Surah An-Nur Ayat 61

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

laisa ‘alal-a’mā ḥarajuw wa lā ‘alal-a’raji ḥarajuw wa lā ‘alal-marīḍi ḥarajuw wa lā ‘alā anfusikum an ta`kulụ mim buyụtikum au buyụti ābā`ikum au buyụti ummahātikum au buyụti ikhwānikum au buyụti akhawātikum au buyụti a’māmikum au buyụti ‘ammātikum au buyụti akhwālikum au buyụti khālātikum au mā malaktum mafātiḥahū au ṣadīqikum, laisa ‘alaikum junāḥun an ta`kulụ jamī’an au asytātā, fa iżā dakhaltum buyụtan fa sallimụ ‘alā anfusikum taḥiyyatam min ‘indillāhi mubārakatan ṭayyibah, każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāti la’allakum ta’qilụn

61. [KALIAN SEMUA, wahai orang-orang beriman, adalah bersaudara:85 maka,] tidak ada larangan bagi orang tunanetra, dan tidak ada larangan bagi orang pincang, dan tidak ada larangan bagi orang sakit [untuk menerima derma dari orang sehat], dan tidak juga bagi kalian sendiri untuk memakan [apa pun yang ditawarkan kepada kalian oleh pihak lain, apakah itu makanan yang diperoleh] dari rumah [anak-anak] kalian,86 atau rumah bapak kalian, atau rumah ibu kalian, atau rumah saudara laki-laki kalian, atau rumah saudara perempuan kalian, atau rumah paman kalian dari pihak bapak, atau rumah bibi kalian dari pihak bapak, atau rumah paman kalian dari pihak ibu, atau rumah bibi kalian dari pihak ibu, atau [rumah] yang kuncinya ada di tangan kalian,87 atau [rumah] salah satu dari kawan kalian; tidak pula kalian berdosa untuk makan secara bersama-sama atau sendirian. Namun, manakala kalian memasuki [salah satu dari] rumah-rumah itu, hendaklah kalian saling memberi salam dengan salam yang baik lagi diberkati, sebagaimana diperintahkan oleh Allah.

Demikianlah, Allah menjadikan jelas pesan-pesan-Nya bagi kalian agar kalian dapat [belajar untuk] menggunakan nalar kalian.


85 Keseluruhan ayat 61 disusun dalam bentuk yang sangat eliptis sehingga ketidaksepakatan menyangkut maknanya selalu tidak dapat dielakkan. Namun, jika seluruh penjelasan yang diberikan oleh para mufasir masa awal dipertimbangkan, kita mendapati bahwa benang merahnya adalah bahwa makna terdalam dari ayat ini adalah penekanan pada persaudaraan sesama orang beriman, yang diungkapkan dalam seruan untuk bersikap dermawan, welas-asih, dan menjunjung persahabatan bersama dan, karena itu, menghindari seluruh formalitas yang tidak perlu di dalam hubungan sesama mereka.

86 Menurut kesepakatan seluruh mufasir, ungkapan “rumah kalian” dalam konteks ini juga mengandung pengertian “rumah anak-anak kalian” karena semua milik seseorang secara moral adalah juga milik orangtuanya.

87 Yakni, “yang berada dalam tanggung jawab kalian”.


Surah An-Nur Ayat 62

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

innamal-mu`minụnallażīna āmanụ billāhi wa rasụlihī wa iżā kānụ ma’ahụ ‘alā amrin jāmi’il lam yaż-habụ ḥattā yasta`żinụh, innallażīna yasta`żinụnaka ulā`ikallażīna yu`minụna billāhi wa rasụlih, fa iżasta`żanụka liba’ḍi sya`nihim fa`żal liman syi`ta min-hum wastagfir lahumullāh, innallāha gafụrur raḥīm

62. ORANG-ORANG BERIMAN [YANG SEJATI] hanyalah mereka yang telah meraih iman terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan yang apabila mereka [terlibat] bersama Rasul berkaitan dengan urusan yang menyangkut seluruh umat,88 mereka tidak meninggalkan [apa pun yang telah disetujui], kecuali mereka telah meminta [dan memperoleh] izin dari nya.89

Sungguh, orang-orang yang [tidak meninggalkan tindakan yang telah disetujui, kecuali mereka] meminta izin kepada engkau—[hanya] mereka itulah orang yang [benar-benar] beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!

Karena itu, apabila mereka meminta izin kepada engkau untuk suatu alasan [yang benar], berilah izin kepada siapa yang engkau pilih di antara mereka [untuk diberi izin],90 dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka: sebab, perhatikanlah, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!91


88 Lit., “suatu perkara yang menyatukan [atau ‘yang dihadapi bersama’]” (amr jami’). Kata ganti orang pada kata “dengannya” mengacu kepada Nabi Muhammad Saw. dan, secara analogi, mengacu kepada semua pemimpin yang sah (imam) dari komunitas Muslim yang bertindak sesuai dengan semangat Al-Quran dan teladan hidup Nabi.

89 Yakni, izin dari Nabi untuk tidak turut berpartisipasi, karena alasan-alasan yang benar, dalam tindakan atau kebijakan yang telah disepakati oleh mayoritas umat (‘amma ijtama’u lahu min al-amr: Al-Thabari). Dalam perkembangan logis dari prinsip ini, kita sampai pada sesuatu yang serupa dengan konsep “oposisi loyal”, yang di dalamnya terkandung prinsip tentang kemungkinan perbedaan pendapat menyangkut hal tertentu dari kebijakan kelompok masyarakat atau negara, yang dikombinasikan dengan prinsip loyalitas absolut kepada tujuan bersama. (Namun, lihat pula catatan no. 91.)

90 Yakni, setelah menimbang alasan-alasan yang diajukan oleh individu-individu terkait berdasarkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

91 Pernyataan bahwa “Allah Maha Pengampun” dengan jelas menyiratkan bahwa menghindari “meminta izin” untuk tidak turut serta dalam tindakan yang telah disepakati, dalam semua kondisi, secara moral lebih baik (Al-Zamakhsyari).


Surah An-Nur Ayat 63

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

lā taj’alụ du’ā`ar-rasụli bainakum kadu’ā`i ba’ḍikum ba’ḍā, qad ya’lamullāhullażīna yatasallalụna mingkum liwāżā, falyaḥżarillażīna yukhālifụna ‘an amrihī an tuṣībahum fitnatun au yuṣībahum ‘ażābun alīm

63. JANGANLAH kalian jadikan seruan Rasul kepada kalian92 [sama seperti] seruan salah seorang di antara kalian kepada yang lainnya: Allah sungguh mengetahui orang-orang di antara kalian yang hendak menarik diri secara diam-diam: maka, biarlah orang-orang yang hendak melawan perintah-Nya berhati-hati bahwa ujian [yang lebih berat] akan menimpa mereka [di dunia ini] atau penderitaan yang pedih akan menimpa mereka [di kehidupan mendatang].


92 Yakni, seruan Rasul menyangkut pesan Allah secara umum, yang dibicarakan dalam ayat 46-54, serta menyangkut tindakan tertentu individu-individu beriman sebagai bagian dari suatu komunitas beriman, yang dibicarakan dalam ayat 62. Alternatifnya, “seruan Rasul” dalam konteks ini mungkin sama artinya dengan Al-Quran sendiri.


Surah An-Nur Ayat 64

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

alā inna lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, qad ya’lamu mā antum ‘alaīh, wa yauma yurja’ụna ilaihi fa yunabbi`uhum bimā ‘amilụ, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

64. Duhai, sungguh, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan di bumi: Dia benar-benar mengetahui pendirian dan tujuan kalian!93

Dan suatu Hari, semua [yang pernah hidup] akan dikembalikan kepada-Nya, lalu Dia akan membuat mereka [benar-benar] memahami segala yang mereka perbuat [selama hidup]: sebab, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


93 {well does He know where you stand and at what you aim}. Lit., “Dia benar-benar mengetahui di atas apa kalian berada” {well does He know upon what you are}: yakni, “apa keyakinan kalian dan prinsip-prinsip moral apa yang menentukan sikap dan tindakan kalian”.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top