53. An-Najm (Pengungkapan) – النجم

Surat An-Najm dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat An-Najm ( النجم ) merupakan surat ke 53 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 62 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah An-Najm tergolong Surat Makkiyah.

Secara umum, surah ini dianggap termasuk ke dalam golongan surah-surah makkiyyah awal, diturunkan tidak lama setelah Surah Al-Ikhlas [112]. Namun, beberapa bagiannya tidak diragukan lagi diwahyukan pada periode yang lebih terkemudian—khususnya ayat 13-18, yang mengacu pada pengalaman mistik Nabi melakukan perjalanan naik ke langit (mi’raj), yaitu sekitar satu tahun sebelum hijrah ke Madinah (lihat artikel Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw).

Nama surah ini—yang dijelaskan dalam catatan no.1 di bawah—diambil dari kata al-najm yang terdapat pada awal ayat pertama.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah An-Najm Ayat 1

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ

wan-najmi iżā hawā

1. PERHATIKANLAH pengungkapan [pesan Allah] ini, ketika ia turun!1


1 Atau: “Perhatikanlah bintang kala ia terbenam”—sebuah tafsiran yang, karena beberapa alasan, dipilih oleh kebanyakan mufasir. Namun, hampir semua mufasir itu mengakui bahwa istilah najm—yang diderivasi dari verba najama, “ia telah muncul”, “mulai”, “terjadi”, atau “timbul”—juga berarti “terungkapnya” sesuatu yang datang atau muncul secara bertahap, seolah-olah muncul sebagian demi sebagian. Oleh karena itu, istilah ini sejak awalnya telah dipakai untuk menunjuk setiap bagian Al-Quran yang diwahyukan secara bertahap (nujum) dan, karenanya, dipakai untuk menunjuk proses pewahyuannya yang bertahap itu, atau “pengungkapan” Al-Quran itu sendiri. Pada kenyataannya, inilah penafsiran terhadap ayat di atas yang dikemukakan oleh ‘Abd Allah ibn ‘Abbas (seperti dikutip Al-Thabari); dengan mempertimbangkan ayat-ayat selanjutnya, tafsiran ini dianggap dapat dibenarkan sepenuhnya oleh Raghib, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi, Ibn Katsir, dan para ahli lainnya. Raghib dan Ibn Katsir, khususnya, menunjuk pada frasa mawaqi’ al-nujum pada Surah Al-Waqi’ah [56]: 75, yang tidak diragukan lagi mengacu pada penurunan wahyu Al-Quran secara bertahap.

Mengenai penafsiran saya terhadap partikel adjektif wa menjadi “Perhatikanlah”, lihat Surah Al-Muddatstsir [74], catatan 23.


Surah An-Najm Ayat 2

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā

2. Kawan kalian ini tidaklah sesat, dan tidak pula terperdaya2,


2 Lihat catatan no. 150 pada Surah Al-A’raf [7]: 184.


Surah An-Najm Ayat 3

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ

wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā

3. dan tidak pula dia berbicara menurut hawa nafsunya:


Surah An-Najm Ayat 4

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

in huwa illā waḥyuy yụḥā

4. [yang dia sampaikan kepada kalian] itu tiada lain adalah wahyu [Ilahi] yang diwahyukan kepadanya—


Surah An-Najm Ayat 5

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ

‘allamahụ syadīdul-quwā

5. sesuatu yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat:3


3 Yakni, Malaikat Pembawa Wahyu, Jibril a.s.


Surah An-Najm Ayat 6

ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ

żụ mirrah, fastawā

6. [yaitu, malaikat] yang dikaruniai kekuasaan yang mengungguli, yang pada waktunya menampakkan diri dalam rupa dan wujudnya yang asli,


Surah An-Najm Ayat 7

وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ

wa huwa bil-ufuqil-a’lā

7. yang muncul di lapisan ufuk tertinggi4,


4 Bdk. Surah At-Takwir [81]: 23 dan catatan no. 8 yang terkait. Menurut Al-Quran dan keterangan dalam sejumlah hadis sahih, semasa hidupnya tidak lebih dari dua kali saja Nabi melihat kekuatan malaikati semacam ini “menampakkan diri dalam rupa dan wujudnya yang asli” (yang, sebagaimana dinyatakan Al-Zamakhsyari, merupakan arti dari ungkapan istawa dalam konteks ini), yaitu: pertama, setelah periode yang disebut fatrat al-wahy (lihat catatan pengantar pada Surah Al-Muddatstsir [74]), dan kedua, seperti yang dibicarakan secara tidak langsung dalam ayat 13-18 ini, yakni selama berlangsungnya pengalaman mistik beliau yang dikenal sebagai peristiwa “mikraj” (lihat artikel Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw).


Surah An-Najm Ayat 8

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ

ṡumma danā fa tadallā

8. dan kemudian mendekat dan bertambah dekat lagi,


Surah An-Najm Ayat 9

فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ

fa kāna qāba qausaini au adnā

9. hingga dia hanya berjarak sepanjang dua busur panah, atau bahkan lebih dekat lagi.5


5 “Gambaran” grafis mengenai malaikat yang semakin mendekat ini, berdasarkan ungkapan-ungkapan yang digunakan bangsa Arab kuno, dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan bahwa kehadiran Malaikat Pembawa Wahyu dapat dilihat dengan amat jelas serta hampir nyata.


Surah An-Najm Ayat 10

فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ

fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā

10. Dan demikianlah [Allah] mewahyukan kepada hamba-Nya apa pun yang Dia anggap tepat untuk diwahyukan6.


6 Lit., “apa pun yang Dia wahyukan”: mengacu kepada perwujudan yang tidak biasanya dari malaikat “dalam rupa dan wujudnya yang asli” serta kepada kandungan wahyu itu sendiri. Dalam makna yang lebih dalam, frasa di atas menunjukkan bahwa bahkan kepada rasul pilihan-Nya pun, Allah tidak sepenuhnya mengungkapkan misteri sesungguhnya dari eksistensi, kehidupan dan kematian, tujuan Dia menciptakan alam semesta, atau hakikat alam semesta itu sendiri.


Surah An-Najm Ayat 11

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ

mā każabal-fu`ādu mā ra`ā

11. Hati [hamba] itu tidaklah mendustakan apa yang dia lihat:7


7 Karena Nabi sangat menyadari sifat spiritual dari pengalamannya itu, tidak ada pertentangan antara alam sadarnya dan persepsi intuitifnya (“penglihatan hati”) dari apa yang umumnya tidak dapat dipersepsi.


Surah An-Najm Ayat 12

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ

a fa tumārụnahụ ‘alā mā yarā

12. maka, apakah kalian hendak berbantahan dengannya mengenai apa yang telah dia lihat?8


8 Dengan demikian, Al-Quran menyatakan dengan jelas bahwa pengalaman Nabi melihat malaikat bukanlah merupakan delusi, melainkan pengalaman spiritual yang benar: namun, justru karena pengalaman itu bersifat spiritual murni, penyampaiannya kepada orang lain hanya bisa dilakukan melalui simbol dan alegori, yang oleh orang-orang skeptis serta-merta saja dianggap sebagai cerita khayalan, “berbantahan dengannya mengenai apa yang telah dia lihat”.


Surah An-Najm Ayat 13

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā

13. Dan sesungguhnya, dia telah melihatnya9 untuk kedua kalinya


9 Yakni dia melihat malaikat itu “menampakkan diri dalam rupa dan wujudnya yang asli”.


Surah An-Najm Ayat 14

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ

‘inda sidratil-muntahā

14. pada pohon bidara pada batas terjauh10


10 Yakni, pada peristiwa pengalaman mistik Nabi pada saat mi’raj (“Kenaikan”). Ketika menjelaskan gagasan yang terkandung dalam ungkapan sidrat al-muntaha, Raghib menunjukkan bahwa mengingat pohon sidr atau sidrah (pohon bidara Arab) memiliki daun-daun yang rimbun, di dalam Al-Quran serta hadis yang mengisahkan peristiwa mikraj istilah sidr atau sidrah ini muncul sebagai simbol “naungan”—yakni, kedamaian dan kepuasan spiritual-surga. Dapat diasumsikan bahwa keterangan al-muntaha (“batas tertinggi” [atau “terjauh”]) mengisyaratkan kenyataan bahwa Allah telah menetapkan batas tertentu terhadap segala pengetahuan yang bisa diperoleh
makhluk, seperti yang dijelaskan di dalam Nihayah: ini menunjukkan, khususnya, bahwa walaupun pengetahuan manusia secara potensial amat luas dan dalam, ia tidak akan pernah bisa—bahkan tidak pula di surga (“taman yang dijanjikan” yang disebutkan pada ayat selanjutnya)—memperoleh pemahaman tentang realitas tertinggi, yang dibatasi Sang Pencipta untuk-Nya sendiri (bdk. catatan no. 6 sebelumnya).


Surah An-Najm Ayat 15

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

‘indahā jannatul-ma`wā

15. yang dekat dengan taman yang dijanjikan,


Surah An-Najm Ayat 16

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

iż yagsyas-sidrata mā yagsyā

16. tatkala pohon bidara itu terselubung di dalam selubung yang tidak terkatakan indahnya ….11


11 Lit., “tatkala pohon bidara itu terselubung dengan apa pun yang menyelubungi[-nya]”: frasa yang sengaja dibuat samar (mubham) ini mengisyaratkan keindahan dan kemuliaan yang tak terkira yang melekat pada simbol surga ini “yang tiada gambaran apa pun dapat melukiskannya dan tiada definisi mana pun dapat mencakupnya” (Al-Zamakhsyari).


Surah An-Najm Ayat 17

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā

17. [Dan selanjutnya,] penglihatannya tidaklah berpaling, tidak pula menyimpang:


Surah An-Najm Ayat 18

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā

18. dia sungguh telah melihat perlambang-perlambang yang paling dalam dari Pemeliharanya.12


12 Lit., “[sebagian] perlambang-perlambang (ayat) terbesar dari Pemeliharanya”. Untuk penafsiran khusus dari istilah ayat ini, lihat catatan no. 2 pada Surah Al-Isra’ [17]: 1 yang mengacu pada pengalaman mistik yang sama, yakni mi’raj. Dalam kedua ayat Al-Quran ini, Nabi dikatakan telah “dibuat melihat” (yaitu dijadikan memahami) sebagian, tetapi tidak semua, kebenaran-kebenaran tertinggi (bdk. juga Surah Al-A’raf [7]: 187-188); dan ini juga menjelaskan gagasan yang diungkapkan dalam ayat 10 surah ini.


Surah An-Najm Ayat 19

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

a fa ra`aitumul-lāta wal-‘uzzā

19. MAKA, apakah telah kalian perhatikan [apa yang kalian sembah pada Al-Lar dan Al-‘Uzza,


Surah An-Najm Ayat 20

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

wa manātaṡ-ṡāliṡatal-ukhrā

20. serta [pada] Manat, yang ketiga dan terakhir [dari tri sembahan ini]?13


13 Setelah menyatakan bahwa Nabi diberi pengetahuan sejati mengenai sebagian dari kebenaran-kebenaran terbesar, Al-Quran mengajak kita memperhatikan “perlambang-perlambang batil” yang oleh manusia sering dinisbahi dengan kualitas dan kekuatan ketuhanan: dalam ayat ini, perhatian kita diarahkan—dengan menggunakan contoh—kepada berhala-berhala yang disembah kaum musyrik semasa hidup Nabi, yang dilambangkan dengan trio Al-Lat, Manat, dan Al-‘Uzza. Ketiga dewi ini—yang oleh kaum musyrik Arab dianggap sebagai “anak-anak perempuan Allah” berdampingan dengan para malaikat (yang juga dianggap sebagai perempuan)—disembah oleh kebanyakan bangsa Arab sebelum Islam, dan memiliki beberapa tempat pemujaan di Hijaz dan Najd. Penyembahan Al-Lat khususnya merupakan tradisi kuno dan hampir pasti berasal dari Arab Selatan; dewi ini mungkin merupakan prototipe dari semi-dewi bangsa Yunani, Leto, yang merupakan salah satu istri Zeus dan ibu Apollo dan Artemis.


Surah An-Najm Ayat 21

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ

a lakumuż-żakaru wa lahul-unṡā

21. Mengapa—bagi kalian sendiri [kalian hanya memilih] anak-anak lelaki, sedangkan kepada-Nya [kalian menisbahkan] anak-anak perempuan:14


14 Mengingat bangsa musyrik Arab memandang anak-anak perempuan dengan rasa jijik dan benci (bdk. Surah An-Nahl [16]: 57-59 dan 62, dan juga catatan-catatannya yang terkait), tindakan mereka menisbahkan “anak-anak perempuan” bagi Allah sungguh absurd dan kontradiktif: sebab, memercayai bahwa Allah memiliki “anak” saja, apa pun jenisnya, dengan sendirinya sudah merupakan penghujatan, apalagi menisbahkan-Nya dengan sesuatu yang dibenci oleh mereka sendiri; ini justru membuktikan bahwa sikap “pengagungan” mereka kepada Allah—yang oleh mereka pun dianggap sebagai Wujud Tertinggi—merupakan dusta belaka; hal ini ditekankan pada kalimat selanjutnya dengan nada ironi.


Surah An-Najm Ayat 22

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ

tilka iżang qismatun ḍīzā

22. lihat dan perhatikanlah, yang demikian itu adalah pembagian yang tidak adil!


Surah An-Najm Ayat 23

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

in hiya illā asmā`un sammaitumụhā antum wa ābā`ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa mā tahwal-anfus, wa laqad jā`ahum mir rabbihimul-hudā

23. Yang [dianggap sebagai wujud-wujud Ilahi] ini tidak lain hanyalah nama-nama hampa yang kalian buat-buat—kalian dan nenek moyang kalian—[dan] yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya.15 Mereka [yang menyembah berhala-berhala itu] tidak mengikuti apa pun selain dugaan serta angan-angan kosong mereka saja16—walaupun petunjuk yang benar dari Pemelihara mereka kini sungguh telah datang kepada mereka.


15 Bdk. Surah Yusuf [12]: 40.

16 Ini mengacu kepada gagasan syirik bahwa dewi-dewi tersebut, sebagaimana para malaikat, akan berperan sebagai “perantara” antara para penyembah mereka dan Allah: suatu gagasan khayal yang tetap bertahan bahkan di antara para penganut agama-agama yang lebih tinggi dalam bentuk pemujaan terhadap para wali dan orang-orang yang dipertuhankan.


Surah An-Najm Ayat 24

أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّىٰ

am lil-insāni mā tamannā

24. Apakah manusia membayangkan bahwa sudah merupakan haknya untuk memiliki17 semua yang dia inginkan,


17 Lit., “Pantaskah bagi manusia untuk memiliki …”, dst.


Surah An-Najm Ayat 25

فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ

fa lillāhil-ākhiratu wal-ụlā

25. walau pada kenyataannya, [baik] kehidupan akhirat maupun kehidupan [yang] sekarang ini adalah milik Allah [saja]?18


18 Yakni, walau pada kenyataannya (yang merupakan arti dari partikel fa dalam konteks ini), Allah Mahakuasa dan Maha Mengetahui dan, karenanya, tidak membutuhkan “perantara apa pun” antara Diri-Nya dan ciptaan-Nya.


Surah An-Najm Ayat 26

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

wa kam mim malakin fis-samāwāti lā tugnī syafā’atuhum syai`an illā mim ba’di ay ya`żanallāhu limay yasyā`u wa yarḍā

26. Sebab, betapapun banyaknya jumlah malaikat yang berada di lelangit, syafaat mereka tidaklah bermanfaat sedikit pun [bagi siapa saja]—kecuali setelah Allah mengizinkan [pemberian syafaat] bagi siapa pun yang Dia kehendaki dan ridhai.19


19 Untuk penjelasan mengenai konsep “syafaat” dalam Al-Quran, lihat catatan no. 7 pada Surah Yunus [10]: 3, dan juga catatan no. 26 dan 27 pada Surah Yunus [10]: 18.


Surah An-Najm Ayat 27

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَىٰ

innallażīna lā yu`minụna bil-ākhirati layusammụnal-malā`ikata tasmiyatal-unṡā

27. Perhatikanlah, [hanyalah] orang-orang yang tidak [benar-benar] beriman kepada kehidupan akhiratlah yang menganggap malaikat sebagai perempuan;20


20 Lit., “yang menamakan para malaikat dengan nama perempuan”—yakni, menganggap mereka memiliki jenis kelamin dan/atau sebagai “anak-anak perempuan Allah”. Seperti yang telah dijelaskan oleh Al-Quran pada banyak tempat, orang-orang yang dibicarakan dalam konteks ini memang mengimani adanya kehidupan setelah mati, karena mereka mengungkapkan harapan agar para malaikat dan sesembahan khayal yang mereka sembah itu akan “menjadi perantara” antara mereka dan Allah, serta akan “memberi syafaat” kepada mereka. Namun, kepercayaan mereka sedemikian kaburnya sehingga tidak membuat mereka sadar bahwa kualitas hidup manusia di akhirat tidaklah bergantung pada faktor eksternal seperti itu, tetapi terkait secara kausal dan langsung dengan tingkah laku hidupnya di dunia ini: demikianlah Al-Quran menyatakan bahwa sikap mereka, pada kenyataannya, tidak jauh berbeda dengan sikap orang-orang yang menolak gagasan adanya kehidupan akhirat sama sekali.


Surah An-Najm Ayat 28

وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

wa mā lahum bihī min ‘ilm, iy yattabi’ụna illaẓ-ẓanna wa innaẓ-ẓanna lā yugnī minal-ḥaqqi syai`ā

28. dan [karena] mereka tidak memiliki pengetahuan apa pun tentangnya,21 mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan belaka: namun perhatikanlah, dugaan tidak akan pernah dapat menggantikan kebenaran.


21 Yaitu, mengenai hakikat dan fungsi sebenarnya dari jenis makhluk yang dalam Al-Quran disebut sebagai malaikat, lantaran mereka termasuk dalam ranah al-ghaib, yaitu “yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”. Alternatifnya, kata ganti pada bihi mungkin merujuk pada Allah, sehingga frasa itu dapat diterjemahkan menjadi “mereka tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Dia”—ini menunjukkan bahwa baik penisbahan “anak” kepada Tuhan maupun kepercayaan bahwa keputusan-Nya bergantung pada, atau dapat dipengaruhi oleh, “perantaraan” atau “syafaat”, merupakan akibat dari konsep antropomorfis tentang Tuhan dan, karenanya, amat jauh dari kebenaran.


Surah An-Najm Ayat 29

فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

fa a’riḍ ‘am man tawallā ‘an żikrinā wa lam yurid illal-ḥayātad-dun-yā

29. Karenanya, hindarilah olehmu orang-orang yang berpaling dari mengingat Kami dan yang hanya menginginkan kehidupan dunia ini saja,*


* {Dalam teks aslinya, “who care for no more than the life of this world“. Frasa care for, selain bermakna “menginginkan”, di antaranya juga mengandung arti “menyukai”, “merasa cinta terhadap”, “memperhatikan”, dan “memedulikan”. Karena tiadanya kata dalam bahasa Indonesia yang dapat mencakup semua makna tersebut, kami menerjemahkannya menjadi “menginginkan” saja. Bdk. Surah Hud [11]: 15.—peny.}


Surah An-Najm Ayat 30

ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ

żālika mablaguhum minal-‘ilm, inna rabbaka huwa a’lamu biman ḍalla ‘an sabīlihī wa huwa a’lamu bimanihtadā

30. yang bagi mereka merupakan satu-satunya hal yang layak diketahui.22 Perhatikanlah, Pemeliharamu mengetahui sepenuhnya siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia mengetahui sepenuhnya siapa yang mengikuti petunjuk-Nya.


22 Lit., “itulah keseluruhan [atau ‘tujuan’] pengetahuan mereka”.


Surah An-Najm Ayat 31

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, liyajziyallażīna asā`ụ bimā ‘amilụ wa yajziyallażīna aḥsanụ bil-ḥusnā

31. Sesungguhnya, kepunyaan Allah-lah segala yang ada di lelangit dan segala yang ada di bumi: dan demikianlah Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan tertinggi.23


23 Yakni, sementara perbuatan baik akan diganjar dengan pahala yang jauh melebihi nilai sebenarnya, perbuatan jahat akan dibalas dengan setimpal saja (bdk. Surah Al-An’am [6]: 160); dan keduanya akan diputuskan oleh Yang Mahakuasa tanpa bantuan “perantaraan” ataupun “syafaat”.


Surah An-Najm Ayat 32

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

allażīna yajtanibụna kabā`iral-iṡmi wal-fawāḥisya illal-lamama inna rabbaka wāsi’ul-magfirah, huwa a’lamu bikum iż ansya`akum minal-arḍi wa iż antum ajinnatun fī buṭụni ummahātikum, fa lā tuzakkū anfusakum, huwa a’lamu bimanittaqā

32. Adapun bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan yang memalukan—walaupun terkadang boleh jadi mereka tergelincir24—perhatikanlah, ampunan Pemeliharamu berlimpah-limpah.

Dia mengetahui keadaan kalian sepenuhnya25 tatkala Dia menjadikan kalian dari tanah,26 dan tatkala kalian masih tersembunyi di dalam rahim ibu kalian: maka, janganlah menganggap diri kalian suci—[sebab,] Dia-lah yang paling mengetahui siapa orang yang sadar akan Dia.27


24 Lit., “kecuali sebuah sentuhan [daripadanya]”: suatu frasa yang dapat dipahami sebagai “ketergelinciran berbuat dosa yang terjadi sekali-sekali”—yakni, yang dilakukan dengan tidak disengaja—yang kemudian diikuti dengan tobat yang tulus (Al-Baghawi, Al-Razi, Ibn Katsir).

25 Secara tersirat, “dan mengetahui kelemahan kodratimu”—sebuah pengulangan tersirat dari pernyataan “manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah An-Nisa’ [4]: 28) dan, karenanya, bisa saja tersandung berbuat dosa.

26 Lit., “dari bumi”: Iihat paruh kedua dari catatan no. 47 pada Surah Al-‘Imran [3]: 59 dan juga catatan no. 4 pada Surah Al-Mu’minun [23]: 12.

27 Yakni, “jangan pernah membanggakan kesucian diri kalian”, tetapi tetaplah rendah hati dan ingatlah bahwa “tetapi Allah-lah yang menyebabkan siapa pun yang Dia kehendaki untuk tumbuh dalam kesucian” (Surah An-Nisa’ [4]: 49).


Surah An-Najm Ayat 33

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّىٰ

a fa ra`aitallażī tawallā

33. MAKA, sudahkah engkau perhatikan orang yang berpaling [dari mengingat Kami, dan yang hanya menginginkan kehidupan dunia ini saja],


Surah An-Najm Ayat 34

وَأَعْطَىٰ قَلِيلًا وَأَكْدَىٰ

wa a’ṭā qalīlaw wa akdā

34. dan yang sedikit sekali memberi [apa yang ada padanya demi kebaikan jiwanya], dan dengan sikap enggan?28


28 Penerjemahan kedua ayat di atas (serta dua sisipan di antara kurung siku) didasarkan pada penafsiran meyakinkan yang dikemukakan Al-Razi bahwa pasase ini kembali lagi membicarakan tema yang telah disinggung pada ayat 29- 30.


Surah An-Najm Ayat 35

أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَىٰ

a ‘indahụ ‘ilmul-gaibi fa huwa yarā

35. Apakah dia [mengaku] memiliki pengetahuan tentang hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia, sehingga dia dapat melihatnya [dengan jelas]?29


29 Yakni, “bagaimana dia dapat begitu yakin bahwa tidak ada kehidupan akhirat dan tidak ada pembalasan?”


Surah An-Najm Ayat 36

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ

am lam yunabba` bimā fī ṣuḥufi mụsā

36. Atau, apakah dia belum diberitakan tentang apa [yang disebutkan] dalam wahyu-wahyu Musa,


Surah An-Najm Ayat 37

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ

wa ibrāhīmallażī waffā

37. dan wahyu-wahyu Ibrahim, yang selalu memenuhi amanatnya:30


30 Bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 124 dan catatan no. 100 yang terkait. Jelaslah bahwa nama Nabi Ibrahim dan Musa a.s. disebutkan di sini hanya sebagai contoh, untuk menarik perhatian kita pada kenyataan bahwa dalam sepanjang sejarah manusia, Allah telah memberi amanat kepada orang-orang yang Dia pilih untuk menyampaikan kepada manusia sejumlah kebenaran etis tertentu yang tidak berubah.


Surah An-Najm Ayat 38

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

allā taziru wāziratuw wizra ukhrā

38. yaitu bahwa tiada seorang pun penanggung beban akan dijadikan menanggung beban orang lain;31


31 Hukum etis yang mendasar ini muncul dalam Al-Quran sebanyak lima kali (yakni, dalam Surah Al-An’am [6]: 164, Al-Isra’ [17]: 15, Fathir [35]: 18, Az-Zumar [39]: 7, serta dalam ayat di atas, yang merupakan ayat paling awal dari segi kronologisnya). Implikasi prinsip ini ada tiga: pertama, ia merupakan penolakan yang tegas terhadap doktrin Kristen tentang “dosa warisan” yang dianggap telah membebani setiap manusia sejak kelahirannya; kedua, ia menolak gagasan bahwa dosa seseorang dapat “ditebus” oleh pengorbanan orang suci atau rasul (seperti ditunjukkan, misalnya, dalam doktrin Kristen mengenai penebusan dosa-dosa manusia oleh Yesus, atau dalam doktrin agama Persia yang lebih tua lagi mengenai penyelamatan manusia oleh Mithra); dan ketiga, secara tersirat ia menolak kemungkinan adanya bentuk “perantaraan” apa pun antara orang yang berdosa dan Tuhan.


Surah An-Najm Ayat 39

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

wa al laisa lil-insāni illā mā sa’ā

39. dan bahwa tidaklah diperhitungkan terhadap manusia kecuali apa yang dia usahakan;32


32 Bdk. sabda Nabi yang sangat sahih dan mendasar, “Perbuatan [dinilai] sesuai dengan niat sadar [yang mendasarinya]; dan yang akan dihitung atas setiap manusia hanyalah apa yang secara sadar dia niatkan,” yakni, ketika melakukan perbuatan itu. Hadis ini  diriwayatkan oleh Bukhari di tujuh tempat—yang pertama sebagai semacam pendahuluan untuk kitab Shahih yang dia susun—serta oleh Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Al-Nasa’i (dalam empat tempat), Ibn Majah, Ibn Hanbal, dan dalam beberapa kumpulan hadis lainnya. Dalam kaitan ini, perlu dicatat bahwa dalam etika Al-Quran, istilah “perbuatan” (‘amal) juga mencakup sengaja tidak melakukan suatu perbuatan, baik itu perbuatan baik maupun buruk, serta menyuarakan kepercayaan dengan sengaja, baik yang benar maupun yang batil: singkatnya, apa pun yang seseorang tuju dan ungkapkan secara sadar, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.


Surah An-Najm Ayat 40

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

wa anna sa’yahụ saufa yurā

40. dan bahwa pada saatnya, [hakikat dari] segala yang dia usahakan akan diperlihatkan [kepadanya dengan sebenarnya],33


33 Lit., “segala usahanya akan dilihat”, yakni pada Hari Pengadilan, ketika—sebagaimana dinyatakan dalam banyak tempat dalam Al-Quran—Allah “akan menjadikan kalian [benar-benar] memahami semua yang kalian lakukan [dalam hidupmu]”.


Surah An-Najm Ayat 41

ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

ṡumma yujzāhul-jazā`al-aufā

41. kemudian dia akan diberi balasan atas perbuatannya itu dengan balasan yang paling sempurna;


Surah An-Najm Ayat 42

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَىٰ

wa anna ilā rabbikal-muntahā

42. dan bahwa bersama Pemeliharamu-lah awal dan akhir [segala sesuatu];34


34 Lit., “batasan” atau “tujuan terjauh”, menunjuk pada awal dan akhir alam semesta, baik dalam ruang maupun waktu, serta pada sumber dari mana segala sesuatu bermula serta ke mana segala sesuatu pasti kembali.


Surah An-Najm Ayat 43

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

wa annahụ huwa aḍ-ḥaka wa abkā

43. dan bahwa Dia sajalah yang menyebabkan [kalian] tertawa dan menangis;


Surah An-Najm Ayat 44

وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

wa annahụ huwa amāta wa aḥyā

44. dan bahwa Dia sajalah yang menimpakan kematian dan menganugerahkan kehidupan;


Surah An-Najm Ayat 45

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ

wa annahụ khalaqaz-zaujainiż-żakara wal-unṡā

45. dan bahwa Dia-lah yang menciptakan dua jenis itu—laki-laki dan perempuan—


Surah An-Najm Ayat 46

مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ

min nuṭfatin iżā tumnā

46. dari [sekadar] setetes mani ketika ia dipancarkan,


Surah An-Najm Ayat 47

وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰ

wa anna ‘alaihin-nasy`atal-ukhrā

47. dan bahwa [karena itu,] Dia berkuasa menciptakan kehidupan kedua;35


35 Lit., “bahwa pada Dia-lah kehidupan (nasy’ah) lainnya [atau ‘yang kedua’]”, yakni kebangkitan.


Surah An-Najm Ayat 48

وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ

wa annahụ huwa agnā wa aqnā

48. dan bahwa Dia sajalah yang membebaskan (makhluk-Nya) dari keinginan dan yang menyebabkan (makhluk-Nya) memiliki;


Surah An-Najm Ayat 49

وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰ

wa annahụ huwa rabbusy-syi’rā

49. dan bahwa Dia sajalah yang memelihara bintang yang paling terang;36


36 Lit., “Dia-lah Pemelihara Sirius (al-syi’ra)”, sebuah bintang yang sangat terang, yang termasuk dalam rasi Canis Major. Karena Sirius adalah bintang yang paling terang di langit, ia banyak disembah oleh bangsa Arab pra-Islam. Secara idiomatik, frasa rabb al syi’ra digunakan sebagai metonimia bagi Pencipta dan Pemelihara alam semesta.


Surah An-Najm Ayat 50

وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَىٰ

wa annahū ahlaka ‘ādanil-ụlā

50. dan bahwa Dia-lah yang telah membinasakan [kaum] ‘Ad kuno


Surah An-Najm Ayat 51

وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَىٰ

wa ṡamụda fa mā abqā

51. dan Tsamud, tanpa meninggalkan jejak [mereka],37


37 Mengenai riwayat suku ‘Ad, lihat paruh kedua dari catatan no. 48 pada Surah Al-A’raf [7]: 65; sedangkan mengenai suku Tsamud, lihat catatan no. 56 pada Surah Al-A’raf [7]: 73.


Surah An-Najm Ayat 52

وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ

wa qauma nụḥim ming qabl, innahum kānụ hum aẓlama wa aṭgā

52. serta kaum Nuh sebelum mereka—[sebab,] sungguh, mereka semua adalah yang paling keras kepala dalam kezaliman mereka dan paling melampaui batas—


Surah An-Najm Ayat 53

وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَىٰ

wal-mu`tafikata ahwā

53. sebagaimana Dia menghancurkan kota-kota yang digulingkan


Surah An-Najm Ayat 54

فَغَشَّاهَا مَا غَشَّىٰ

fa gasysyāhā mā gasysyā

54. dan kemudian menutupi mereka dari pandangan selamanya.38


38 Lit., “sehingga menutupi mereka sesuatu yang menutup”: mengacu kepada Sodom dan Gomora, kota-kota “umat Nabi Luth” (lihat, khususnya, Surah Hud [11]: 77-83).


Surah An-Najm Ayat 55

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ

fa bi`ayyi ālā`i rabbika tatamārā

55. Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang [masih] engkau ragukan?39


39 Pertanyaan retoris ini tampaknya ditujukan kepada manusia-manusia yang dibicarakan dalam ayat 33-35.

Mengenai alasan saya menerjemahkan ala’ (lit., “nikmat” atau “karunia”) menjadi “kuasa”, Iihat paruh kedua dari catatan no. 4 pada Surah Ar-Rahman [55]: 13.


Surah An-Najm Ayat 56

هَٰذَا نَذِيرٌ مِنَ النُّذُرِ الْأُولَىٰ

hāżā nażīrum minan-nużuril-ụlā

56. INILAH peringatan seperti peringatan-peringatan terdahulu:40


40 Lit., “sebuah peringatan dari [atau ‘di antara’] peringatan-peringatan terdahulu”—ini menunjukkan bahwa wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. tidak dimaksudkan untuk membuat agama yang “baru”, tetapi sebaliknya, untuk melanjutkan dan membenarkan pesan-pesan dasar yang diamanatkan kepada nabi-nabi sebelumnya—yang dalam ayat ini mengacu kepada pastinya kedatangan Saat Terakhir dan pengadilan akhir Allah.


Surah An-Najm Ayat 57

أَزِفَتِ الْآزِفَةُ

azifatil-āzifah

57. [Saat Terakhir] yang amat dekat itu semakin mendekat,


Surah An-Najm Ayat 58

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ

laisa lahā min dụnillāhi kāsyifah

58. [walau] tiada yang mampu mengungkapkannya kecuali Allah ….


Surah An-Najm Ayat 59

أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ

a fa min hāżal-ḥadīṡi ta’jabụn

59. Apakah kalian, mungkin, merasa heran dengan pemberitaan ini?


Surah An-Najm Ayat 60

وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ

wa taḍ-ḥakụna wa lā tabkụn

60. Dan apakah kalian tertawa dan bukannya menangis,


Surah An-Najm Ayat 61

وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ

wa antum sāmidụn

61. dan kalian selalu mengalihkan diri?


Surah An-Najm Ayat 62

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

fasjudụ lillāhi wa’budụ

62. [Tidak,] akan tetapi bersujudlah di hadapan Allah, dan sembahlah [Dia saja]!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top