70. Al-Ma’arij (Jalan-Jalan Kenaikan) – المعارج

Surat Al-Ma'arij dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Ma’arij ( المعارج ) merupakan surat ke 70 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 44 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Ma’arij tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini disebut demikian mengikuti kata al-ma’arij yang terdapat dalam ayat 3. Ia termasuk penode Makkah pertengahan dan isinya terutama dicurahkan untuk menjawab tantangan yang diajukan oleh kekufuran—atau, lebih tepatnya, keengganan untuk beriman—terhadap keimanan. Kedua sikap ini (kekufuran dan keengganan untuk beriman) muncul dari kegelisahan yang merupakan sifat inheren dalam tabiat manusia.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Ma’arij Ayat 1

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ

sa`ala sā`ilum bi’ażābiw wāqi’

1. SESEORANG yang suka bertanya mungkin bertanya1 tentang penderitaan [di akhirat] yang pasti menimpa


1 Lit., “Seorang penanya bertanya” atau “mungkin bertanya”.


Surah Al-Ma’arij Ayat 2

لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ

lil-kāfirīna laisa lahụ dāfi’

2. orang-orang yang mengingkari kebenaran.2

[Maka, ketahuilah bahwa] tidak ada sesuatu pun yang dapat menangkalnya,


2 Mengingat kenyataan bahwa banyak di antara “orang-orang yang mengingkari kebenaran”—dan yang, secara tersirat, melakukan dosa sebagai akibat dari pengingkaran sengaja itu—dapat hidup makmur di dunia ini, seorang peragu mungkin akan bertanya apakah, atau kapankah, keadaan ini akan benar-benar berbalik dan nilai-nilainya diatur sesuai dengan keadilan Ilahi. Jawaban terhadap “apakah” diberikan dalam paragraf kedua ayat 2; sedangkan jawaban terhadap “kapankah” disebutkan, secara eliptis, di akhir ayat 4.


Surah Al-Ma’arij Ayat 3

مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ

minallāhi żil-ma’ārij

3. [karena ia datang] dari Allah, yang kepada-Nya terdapat banyak jalan bermikraj (kenaikan):3


3 Lit., “Dia yang memiliki [banyak] mikraj-mikraj”: sebuah ungkapan metonimia yang menunjukkan, bahwa ada banyak jalan yang dapat digunakan manusia untuk “naik” guna memahami keberadaan Allah dan, dengan demikian, untuk meraih “kedekatan” spiritual dengan-Nya—dan bahwa, oleh karena itu, bergantung pada upaya manusia itu sendiri, apakah dia hendak memanfaatkan jalan-jalan yang mengantarkannya kepada Allah itu (bdk. Surah Al-Insan [76]: 3).


Surah Al-Ma’arij Ayat 4

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

ta’rujul-malā`ikatu war-rụḥu ilaihi fī yauming kāna miqdāruhụ khamsīna alfa sanah

4. semua malaikat dan semua ilham [yang pernah diberikan kepada manusia] bermikraj (naik) kepada-Nya4 [setiap hari,] dalam sehari yang panjangnya [bagaikan] lima puluh ribu tahun ….5


5 Konsep “waktu” itu sendiri tidaklah bermakna dalam kaitannya dengan Tuhan, yang Mahakekal dan Maha Tidak Terbatas: bdk. catatan no. 63 pada kalimat terakhir Surah Al-Hajj [21]: 47—”satu hari di sisi Pemeliharamu adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian”: dengan kata lain, satu hari, satu masa, seribu tahun, atau lima puluh ribu tahun adalah sama bagi-Nya—kesemuanya memiliki realitas nyata hanya dalam alam ciptaan, tidak berkaitan dengan Sang Pencipta. Dan karena di akhirat, waktu akan kehilangan maknanya bagi manusia pula, menjadi tidak relevan jika kita bertanya “kapan” orang-orang zalim akan dihukum dan orang-orang saleh diberikan haknya.


Surah Al-Ma’arij Ayat 5

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

faṣbir ṣabran jamīlā

5. Karena itu, [wahai orang-orang beriman,] tabahlah menjalani segala kesusahan dengan kesabaran yang sebaik-baiknya:


Surah Al-Ma’arij Ayat 6

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا

innahum yaraunahụ ba’īdā

6. perhatikanlah, manusia6 memandang bahwa [perhitungan] itu sebagai sesuatu yang amat jauh—


6 Lit., “mereka”.


Surah Al-Ma’arij Ayat 7

وَنَرَاهُ قَرِيبًا

wa narāhu qarībā

7. tetapi, Kami melihatnya dekat!


Surah Al-Ma’arij Ayat 8

يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ

yauma takụnus-samā`u kal-muhl

8. [Perhitungan itu akan terjadi] pada suatu hari tatkala langit akan menjadi seperti timah meleleh,


Surah Al-Ma’arij Ayat 9

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ

wa takụnul-jibālu kal-‘ihn

9. dan gunung-gunung akan menjadi seperti berkas-berkas wol,


Surah Al-Ma’arij Ayat 10

وَلَا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًا

wa lā yas`alu ḥamīmun ḥamīmā

10. dan [tatkala] tidak seorang kawan pun akan bertanya tentang kawannya,


Surah Al-Ma’arij Ayat 11

يُبَصَّرُونَهُمْ ۚ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ

yubaṣṣarụnahum, yawaddul-mujrimu lau yaftadī min ‘ażābi yaumi`iżim bibanīh

11. meskipun boleh jadi mereka saling berpandangan: [sebab,] pada Hari itu, setiap orang yang tenggelam dalam dosa hanya ingin membebaskan diri dari penderitaan dengan mengorbankan anak-anaknya sendiri,


Surah Al-Ma’arij Ayat 12

وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ

wa ṣāḥibatihī wa akhīh

12. pasangannya, dan saudaranya,


Surah Al-Ma’arij Ayat 13

وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ

wa faṣīlatihillatī tu`wīh

13. dan sanak keluarga yang pernah melindunginya,


Surah Al-Ma’arij Ayat 14

وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ

wa man fil-arḍi jamī’an ṡumma yunjīh

14. dan siapa saja [yang lain] yang hidup di muka bumi, semuanya—agar dia benar-benar dapat menyelamatkan dirinya sendiri.


Surah Al-Ma’arij Ayat 15

كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ

kallā, innahā laẓā

15. Namun, tidak! Sungguh, semua [yang menantinya] hanyalah nyala api yang begolak,


Surah Al-Ma’arij Ayat 16

نَزَّاعَةً لِلشَّوَىٰ

nazzā’atal lisy-syawā

16. yang mengelupasi kulitnya!


Surah Al-Ma’arij Ayat 17

تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّىٰ

tad’ụ man adbara wa tawallā

17. Ia (api itu) akan menuntut semua orang yang membelakangi [apa yang benar] dan berpaling menjauh [dari kebenaran],


Surah Al-Ma’arij Ayat 18

وَجَمَعَ فَأَوْعَىٰ

wa jama’a fa au’ā

18. dan menumpuk-numpuk [harta] dan kemudian menahannya [dari sesama manusia].


Surah Al-Ma’arij Ayat 19

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا *

innal-insāna khuliqa halụ’ā

19. SUNGGUH, manusia dilahirkan dengan tabiat gelisah.7


7 Lit., “manusia telah diciptakan gelisah (halu’an)”—yakni, secara kodrati merasakan kegelisahan batin, yang sama-sama dapat mendorongnya meraih pencapaian yang bermanfaat maupun menimbulkan kekecewaan dan frustrasi yang terus-menerus. Dengan kata lain, cara manusia manfaatkan kegelisahan pemberian Tuhan inilah yang akan menentukan apakah kegelisahan itu bersifat positif atau negatif. Dua ayat berikutnya (ayat 20 dan 21) menyinggung kegelisahan yang negatif, sedangkan ayat 22-25 menunjukkan bahwa hanya kesadaran moral dan spiritual sejatilah yang dapat membentuk kegelisahan bawaan itu menjadi suatu kekuatan positif dan, dengan begitu, menimbulkan ketenangan batin dan kepuasan abadi.


Surah Al-Ma’arij Ayat 20

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

iżā massahusy-syarru jazụ’ā

20. [Biasanya,] setiap kali kemalangan menyentuhnya, dia dipenuhi dengan keluh kesah;8


8 Partisip jazu’—yang berasal dari verba jazi’a—menggabungkan konsep “ketidaksabaran” dan “keluh kesah terhadap kemalangan seseorang” dan, karenanya, berlawanan dengan konsep sabar (shabr; Jauhari).


Surah Al-Ma’arij Ayat 21

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

wa iżā massahul-khairu manụ’ā

21. dan setiap kali nasib baik menghampirinya, dengan egoistis dia menahannya [dari manusia lain].


Surah Al-Ma’arij Ayat 22

إِلَّا الْمُصَلِّينَ

illal-muṣallīn

22. Namun, tidak demikian (halnya dengan) orang-orang yang secara sadar berpaling kepada Allah dalam doa,9


9 Menurut saya, inilah makna ungkapan al-mushallin (lit., “orang-orang yang berdoa”), yang di sini jelas-jelas tidak berkaitan dengan sekadar doa ritual (shalat), alih-alih, seperti ditunjukkan oleh ayat berikutnya, berkaitan dengan sikap mental dan kebutuhan spiritual yang mendasarinya. Dalam pengertian ini, ungkapan tersebut berkaitan dengan pernyataan dalam ayat 19 bahwa “manusia dilahirkan dengan tabiat gelisah” yang, jika kegelisahan ini dimanfaatkan dengan benar, akan mendorongnya mencapai pertumbuhan spiritual secara sadar, di samping meraih kebebasan dari keluh kesah/mengasihani diri sendiri dan sifat egoistis.


Surah Al-Ma’arij Ayat 23

الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

allażīna hum ‘alā ṣalātihim dā`imụn

23. [dan] yang bertekun dalam doa dengan tiada henti;


Surah Al-Ma’arij Ayat 24

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ

wallażīna fī amwālihim ḥaqqum ma’lụm

24. dan yang dalam hartanya terdapat suatu bagian tertentu, yang diakui [oleh mereka],


Surah Al-Ma’arij Ayat 25

لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

lis-sā`ili wal-maḥrụm

25. bagi orang yang mungkin meminta [pertolongan] dan orang yang mungkin berkekurangan [dari apa yang baik dalam kehidupan];10


10 Secara tersirat, “tapi tidak atau tidak dapat meminta”: lihat penafsiran Al-Razi terhadap ungkapan yang sama dalam Surah Al-Dzariyat [51]: 19, yang dikutip dalam catatan no. 12 yang terkait.


Surah Al-Ma’arij Ayat 26

وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

wallażīna yuṣaddiqụna biyaumid-dīn

26. dan yang menerima kebenaran [datangnya] Hari Pengadilan;


Surah Al-Ma’arij Ayat 27

وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

wallażīna hum min ‘ażābi rabbihim musyfiqụn

27. dan yang takut terhadap hukuman Pemelihara mereka—


Surah Al-Ma’arij Ayat 28

إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ

inna ‘ażāba rabbihim gairu ma`mụn

28. sebab, perhatikanlah, terhadap hukuman Pemelihara mereka itu, tiada seorang pun dapat [benar-benar] merasa aman;11


11 Peringatan terhadap sifat ‘ujub {self righteousness: yakni mengagumi kesalehan diri sendiri} ini menunjukkan bahwa betapapun “baiknya” seseorang, selalu saja ada kemungkinan bahwa dia melakukan suatu kesalahan moral (misalnya, menyakiti sesamanya) dan kemudian “melupakan” dosa ini begitu saja. Secara eliptis, peringatan ini mengandung seruan untuk meningkatkan kesadaran seseorang dalam segala perbuatannya—sebab, “fitnah (yakni, godaan untuk [melakukan] kejahatan) tidak hanya menimpa orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran” (Surah Al-Anfal [8]: 25), tetapi dapat juga menimpa orang-orang saleh sekalipun. {Dalam bahasa Arab, “fitnah” berarti ujian atau godaan.}


Surah Al-Ma’arij Ayat 29

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

wallażīna hum lifurụjihim ḥāfiẓụn

29. dan yang berhati-hati memelihara kesucian mereka,12


12 Lit., “yang menjaga bagian-bagian pribadi tubuh {yakni, kemaluan} mereka”.


Surah Al-Ma’arij Ayat 30

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

illā ‘alā azwājihim au mā malakat aimānuhum fa innahum gairu malụmīn

30. [dengan tidak memberi jalan bagi hasrat-hasrat mereka,] kecuali dengan pasangan-pasangan mereka—yaitu, yang mereka miliki secara sah [melalui ikatan perkawinan]—:13 karena dengan begitu, perhatikanlah, mereka bebas dari segala cela,


13 Lihat pasase yang sama dalam Surah Al-Mu’minun [23]: 5-7, juga catatan no. 3 yang terkait, yang di dalamnya saya telah menjelaskan sepenuhnya alasan-alasan penerjemahan saya atas ungkapan au ma malakat aimanuhum menjadi “yaitu, yang mereka miliki secara sah [melalui ikatan perkawinan]”. Berkenaan dengan penafsiran ini, lihat juga penafsiran Al-Razi terhadap Surah Al-Nisa’ [4]: 24, serta salah satu penafsiran alternatif terhadap ayat tersebut yang dikemukakan oleh Al-Thabari berdasarkan riwayat Ibn ‘Abbas dan Mujahid.


Surah Al-Ma’arij Ayat 31

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

fa manibtagā warā`a żālika fa ulā`ika humul-‘ādụn

31. sedangkan mereka yang mencari-cari di luar [batasan] itu benar-benar orang-orang yang melampaui batas;


Surah Al-Ma’arij Ayat 32

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

wallażīna hum li`amānātihim wa ‘ahdihim rā’ụn

32. dan yang setia terhadap amanat-amanat dan dengan janji-janji mereka;


Surah Al-Ma’arij Ayat 33

وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ

wallażīna hum bisyahādātihim qā`imụn

33. dan yang tetap teguh manakala bersaksi;


Surah Al-Ma’arij Ayat 34

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

wallażīna hum ‘alā ṣalātihim yuḥāfiẓụn

34. dan yang memelihara shalat-shalat mereka [dari segala maksud duniawi].


Surah Al-Ma’arij Ayat 35

أُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ

ulā`ika fī jannātim mukramụn

35. Mereka itulah yang di dalam taman-taman [surga] akan dihormati!


Surah Al-Ma’arij Ayat 36

فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ

fa mālillażīna kafarụ qibalaka muhṭi’īn

36. LALU, ada apa gerangan dengan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran, sehingga mereka berlarian ke sana kemari dalam kebingungan di hadapanmu,


Surah Al-Ma’arij Ayat 37

عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ

‘anil-yamīni wa ‘anisy-syimāli ‘izīn

37. [mendatangimu] dari kanan dan dari kiri, beramai-ramai?14


14 Lagi-lagi, ini berhubungan dengan pernyataan dalam ayat 19, “manusia dilahirkan dengan tabiat gelisah” (Iihat catatan no. 7 sebelumnya). Orang-orang yang tidak ingin melihat kebenaran eksistensi Tuhan dan, karenanya, tidak memiliki dasar yang kuat untuk membangun pandangan dunianya, juga tidak mampu memahami setiap standar etika pribadi dan etika sosial tertentu. Karena itu, setiap kali mereka dihadapkan dengan penegasan positif seseorang terhadap keimanannya, mereka “berlarian ke sana kemari” dalam kebingungan spiritual, seraya mencoba—guna mencari pembenaran intelektual—melumpuhkan premis-premis keimanan tersebut melalui berbagai macam argumen yang saling bertentangan; upaya inilah yang digambarkan melalui metafora, “mendatangimu dari kanan dan dari kiri”; dan, karena mereka memperoleh segenap kekuatannya dengan menyesuaikan diri dengan opini-massa yang dangkal, mereka hanya dapat melakukan ini “beramai-ramai”.


Surah Al-Ma’arij Ayat 38

أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ

a yaṭma’u kullumri`im min-hum ay yudkhala jannata na’īm

38. Apakah setiap orang dari mereka ingin masuk ke dalam taman kebahagiaan [dengan bersikap demikian]?15


15 Yakni, “Apakah mereka berharap dapat meraih kedamaian dan kepuasan batin dengan ‘menyangkal’ keimanan orang lain?”


Surah Al-Ma’arij Ayat 39

كَلَّا ۖ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ

kallā, innā khalaqnāhum mimmā ya’lamụn

39. Tidak akan pernah! Karena, perhatikanlah, Kami telah menciptakan mereka dari sesuatu yang mereka ketahui [dengan amat baik]!16


16 Yakni, dari “tanah”—maksudnya, dari substansi organik dan anorganik sederhana yang sama sebagaimana yang ditemukan di dalam dan di atas permukaan bumi: implikasinya adalah bahwa hanya kesadaran dan upaya spiritual yang dapat menaikkan manusia melampaui sekadar bentuk materiel eksistensinya dan, dengan demikian, memungkinkannya mencapai kesempurnaan batin yang secara metaforis digambarkan sebagai “taman kebahagiaan”.


Surah Al-Ma’arij Ayat 40

فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ

fa lā uqsimu birabbil-masyāriqi wal-magāribi innā laqādirụn

40. Namun, tidak! Aku bersumpah [bahwa Kami-lah] Pemelihara semua titik terbit dan terbenamnya matahari:17 sungguh, Kami benar-benar mampu


17 Yakni, bahwa Kami-lah yang memelihara pergeseran titik-titik “terbit” dan “terbenamnya” matahari yang terjadi sepanjang tahun syamsiah: dengan demikian, menekankan fakta bahwa Dia adalah Penyebab Utama semua gerak orbit di alam semesta dan, karenanya, adalah Penciptanya (bdk. Surah Al-Shaffat [37]: 5 dan Surah Ar-Rahman [55]: 17).


Surah Al-Ma’arij Ayat 41

عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

‘alā an nubaddila khairam min-hum wa mā naḥnu bimasbụqīn

41. mengganti mereka dengan [kaum] yang lebih baik daripada mereka; karena tidak ada sesuatu pun yang menghalangi Kami [dari melakukan apa pun yang Kami kehendaki].18


18 Implikasinya adalah: Dia tidak berkehendak untuk menggantikan “orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran”, di dunia ini, dengan orang-orang beriman, karena “penggantian” semacam itu tidak sejalan dengan rencana-Nya yang merancang manusia dalam eksistensi yang multibentuk, yang di dalamnya keimanan selalu ditantang dan diuji oleh kekufuran, dan demikian pula sebaliknya.


Surah Al-Ma’arij Ayat 42

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ

fa żar-hum yakhụḍụ wa yal’abụ ḥattā yulāqụ yaumahumullażī yụ’adụn

42. Karena itu, biarkanlah mereka tenggelam dalam pembicaraan dan permainan [kata-kata] yang sia-sia19 hingga mereka menghadapi Hari [Pengadilan} mereka yang telah dijanjikan kepada mereka—


19 Yakni, daya-upaya filosofis mereka yang menganggap bahwa dunia ini “tidak diciptakan” dan hipotesis mereka tentang “munculnya kehidupan dengan sendirinya”, serta “penolakan” mereka yang terang-terangan, yang tidak didukung oleh bukti faktual apa pun, terhadap adanya kehidupan sesudah mati atau bahkan penolakan terhadap eksistensi Tuhan.


Surah Al-Ma’arij Ayat 43

يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَىٰ نُصُبٍ يُوفِضُونَ

yauma yakhrujụna minal-ajdāṡi sirā’ang ka`annahum ilā nuṣubiy yụfiḍụn

43. Hari tatkala mereka akan keluar dari kubur-kubur mereka secara tergesa-gesa, seolah-olah berlomba menuju garis-akhir,


Surah Al-Ma’arij Ayat 44

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۚ ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

khāsyi’atan abṣāruhum tar-haquhum żillah, żālikal-yaumullażī kānụ yụ’adụn

44. dengan pandangan yang tertunduk sedih, dengan kenistaan meliputi mereka: itulah Hari yang telah berulang-ulang dijanjikan kepada mereka ….20


20 Konsep “berulang-ulang”—yakni, datangnya wahyu kenabian dengan silih-berganti sepanjang masa—diisyaratkan oleh kata kanu, yang biasanya menunjukkan pengulangan dan/atau durasi.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top