76. Al-Insan (Manusia) – الإنسان

Surat Al-Insan dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Insan ( الإنسان ) merupakan surat ke 76 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 31 ayat yang menurut sebagian mufasir diturunkan di kota Makkah dan sebagian lainnya menyatakan diwahyukan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Insan digolongkan menjadi Surat Makkiyah dan Madaniyah.

Tidak ada kesamaan pendapat di kalangan para mufasir generasi paling awal menyangkut apakah surah ini—yang juga disebut Ad-Dahr (“Masa” atau “Waktu yang Tiada Akhir”), karena mengikuti sebuah kata yang muncul dalam ayat pertama—termasuk ke dalam periode Makkah atau Madinah. Banyak ulama dari generasi kedua—di antaranya Mujahid, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, dan ‘Ikrimah (yang semuanya dikutip oleh Al-Baghawi)—berpandangan bahwa surah ini diwahyukan di Madinah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Insan Ayat 1

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

hal atā ‘alal-insāni ḥīnum minad-dahri lam yakun syai`am mażkụrā

1. BUKANKAH telah ada rentang masa yang tiada akhir1 sebelum manusia [muncul—suatu masa] ketika dia belum lagi merupakan sesuatu yang dapat dipikirkan?2


1 Menurut seluruh mufasir klasik, ungkapan di atas menyiratkan bahwa “memang telah ada rentang waktu yang benar-benar sangat panjang [atau ‘tiada akhir’]”—kata tanya hal (apakah) di sini memiliki arti penegasan seperti kata qad (sungguh, memang). Namun, arti yang sama juga dapat ditangkap dengan melakukan penyisipan kata atau interpolasi dengan kata “bukan” atau “tidak”.

{Maksudnya, secara harfiah, ayat ini berbunyi “Apakah telah ada rentang waktu yang tiada akhir …?”; namun, menurut Asad, ayat ini lebih tepat dipahami sebagai suatu penegasan tentang adanya rentang waktu yang tiada batas itu, baik dengan cara mengartikan ayat itu sebagai: “Memang, telah ada rentang waktu yang tiada akhir …” ataupun dengan memahaminya sebagai kalimat penegasan dalam bentuk retoris negatif: “Bukankah telah ada rentang waktu yang tiada akhir …?”—peny.}

2 Lit., “sesuatu yang disebut” atau “sesuatu yang dapat disebut”—yakni, sesuatu yang tidak ada (non-existent), bahkan sebagai suatu konsep hipotetis. Maksud pernyataan ini adalah penolakan atas pandangan-dunia “antroposentris” yang bersifat menghujat, yang menganggap keberadaan manusia—dan bukan Wujud yang Tertinggi—sebagai pusat dan realitas puncak dari seluruh kehidupan.


Surah Al-Insan Ayat 2

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

innā khalaqnal-insāna min nuṭfatin amsyājin nabtalīhi fa ja’alnāhu samī’an baṣīrā

2. Sungguh, Kami-lah yang telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur3 sehingga Kami dapat mengujinya [dalam hidupnya kelak]: dan karena itu, Kami jadikan dia suatu makhluk yang dikaruniai dengan pendengaran dan penglihatan.


3 Yakni, secara tersirat: “[bercampur] dengan sel telur perempuan”: bdk. Surah At-Thariq [86]: 6-7.


Surah Al-Insan Ayat 3

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

innā hadaināhus-sabīla immā syākiraw wa immā kafụrā

3. Sungguh, Kami telah menunjukinya jalan:4 [dan terserah kepadanya untuk membuktikan dirinya sendiri] apakah bersyukur atau tidak bersyukur.


4 Yakni, Allah menganugerahi manusia tidak hanya dengan “pendengaran dan penglihatan”, yakni, dengan nalar dan kemampuan naluriah untuk membedakan hal yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk (bdk. Surah Al-Balad [90]: 10), tetapi Dia juga secara aktif memberi petunjuk kepada manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada para nabi.


Surah Al-Insan Ayat 4

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا

innā a’tadnā lil-kāfirīna salāsila wa aglālaw wa sa’īrā

4. [Kini,] perhatikanlah, bagi mereka yang mengingkari kebenaran,5 Kami telah siapkan rantai dan belenggu, dan nyala api yang berkobar6


5 Dalam konteks ini, “pengingkaran terhadap kebenaran” (kufr) jelas berkaitan dengan kesengajaan manusia menutupi pengetahuan yang dia bawa sejak lahir tentang keberadaan Allah (bdk. Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatan no. 139 yang terkait) dan berkaitan dengan pengabaiannya terhadap persepsi naluriahnya sendiri tentang hal yang baik dan yang buruk.

6 Yakni , secara tersirat: “[api] kesengsaraan”. Mengenai metafora “belenggu dan rantai”—yakni, konsekuensi dari tindakan para pendosa yang menundukkan dirinya secara buta kepada nafsu mereka sendiri dan kepada nilai-nilai yang batil, yang mengakibatkan perbudakan atas jiwa mereka—lihat Surah Saba’ [34], catatan no. 44; juga komentar terperinci Al-Razi (dikutip dalam catatan no. 7 dalam Surah Al-Muzzammil [73]: 12-13) mengenai alegori penderitaan di akhirat.


Surah Al-Insan Ayat 5

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

innal-abrāra yasyrabụna ming ka`sing kāna mizājuhā kāfụrā

5. [sementara,] perhatikanlah, mereka yang benar-benar baik akan minum dari cangkir yang dibumbui dengan kelopak bunga yang harum:7


7 Lisan Al-‘Arab mencantumkan “kelopak (kimm) anggur sebelum merekah berbunga” sebagai arti utama dari kata kafur; menurut pakar leksikologi lainnya (misalnya, Taj Al-‘Arus), kata itu berarti “kelopak bunga apa pun“; Al-Jauhari mengartikan kata ini sebagai “pelepah pohon palem”. Karenanya, “kelopak”—dan bukan “kamper”—jelas merupakan makna kafur datam konteks di atas: yakni, merujuk pada aroma yang sangat harum dan lembut dari “minuman” simbolis pengetahuan Ilahi (bdk. Surah Al-Muthaffifin [83]: 25-28
dan catatan no. 8 dan 9 yang terkait).


Surah Al-Insan Ayat 6

عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا

‘ainay yasyrabu bihā ‘ibādullāhi yufajjirụnahā tafjīrā

6. suatu sumber [kebahagiaan] yang darinya hamba-hamba Allah akan minum, (dan mereka) melihat sumber itu mengalir terus menerus dengan berlimpah.8


8 Lit., “membuat [atau ‘membiarkan’] sumber itu mengalir …”, dan seterusnya: yakni, selalu ada untuk memenuhi keinginan mereka.


Surah Al-Insan Ayat 7

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

yụfụna bin-nażri wa yakhāfụna yaumang kāna syarruhụ mustaṭīrā

7. [Orang yang sungguh berbuat kebaikan adalah] mereka [yang] menunaikan sumpah9 dan merasa gentar terhadap suatu Hari yang petakanya pasti tersebar luas ke mana-mana,



9 Yakni, kewajiban-kewajiban spiritual dan sosial yang lahir karena iman mereka.

Surah Al-Insan Ayat 8

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

wa yuṭ’imụnaṭ-ṭa’āma ‘alā ḥubbihī miskīnaw wa yatīmaw wa asīrā

8. dan yang memberikan makanan—betapapun mereka sangat menginginkan makanan itu10—kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,11


10 Atau, seperti dalam Surah Al-Baqarah [2]: 177, “betapapun dia mencintainya [yakni, ‘membutuhkannya’]”; bdk. juga Surah Al-Balad [90]: 14-16. Perlu dicatat bahwa, dalam konteks ini, konsep “memberi makanan” meliputi segala jenis bantuan dan kepedulian, baik materiel maupun moral.

11 lstilah asir berarti setiap orang yang menjadi tawanan, baik secara harfiah (misalnya, tahanan) maupun secara kiasan, yakni tawanan dari keadaan yang membuatnya tidak berdaya; demikianlah Nabi bersabda, “Orang yang berutang kepadamu adalah tawananmu; karena itu, bersikaplah benar-benar baik kepada orang yang berutang kepadamu” (Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan lain-lain). Perintah untuk berbuat baik terhadap semua orang yang membutuhkan pertolongan—dan karena itu merupakan “tawanan” dalam satu atau lain pengertian—berlaku bagi orang beriman maupun orang tidak beriman (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari), dan tampaknya juga berlaku
terhadap hewan-hewan yang hidupnya bergantung pada manusia.


Surah Al-Insan Ayat 9

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

innamā nuṭ’imukum liwaj-hillāhi lā nurīdu mingkum jazā`aw wa lā syukụrā

9. [seraya berkata dalam hati mereka,] “Kami memberi makanan kepada kalian karena Allah semata: kami tidak menginginkan balasan dari kalian, tidak pula terima kasih:


Surah Al-Insan Ayat 10

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

innā nakhāfu mir rabbinā yauman ‘abụsang qamṭarīrā

10. perhatikanlah, kami takut akan pengadilan Pemelihara kami12 pada Hari yang sulit, lagi menentukan!


12 Lit., “kami takut kepada Pemelihara kami”.


Surah Al-Insan Ayat 11

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

fa waqāhumullāhu syarra żālikal-yaumi wa laqqāhum naḍrataw wa surụrā

11. Maka, Allah akan memelihara mereka dari petaka Hari itu dan akan melimpahi mereka keceriaan dan kegembiraan,


Surah Al-Insan Ayat 12

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

wa jazāhum bimā ṣabarụ jannataw wa ḥarīrā

12. dan akan memberi balasan kepada mereka karena semua kesabaran mereka dalam menghadapi kesusahan, dengan taman [kebahagiaan] dan dengan [pakaian yang terbuat dari] sutra.13


13 Mengenai alegori ini, lihat paruh pertama catatan no. 41 dalam Surah Al-Kahfi [18}: 31.


Surah Al-Insan Ayat 13

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ ۖ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا

muttaki`īna fīhā ‘alal-arā`ik, lā yarauna fīhā syamsaw wa lā zamharīrā

13. Di dalam [taman] itu, di atas dipan, mereka akan bersandar, dan di dalamnya mereka tidak akan menjumpai matahari [yang panas terik] dan tidak pula udara dingin yang menggigit,


Surah Al-Insan Ayat 14

وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا

wa dāniyatan ‘alaihim ẓilāluhā wa żullilat quṭụfuhā tażlīlā

14. karena naungan [kebahagiaan-]nya akan merunduk dekat di atas mereka,14 dan tandan buahnya akan menjulur rendah sehingga amat mudah dipetik.15


14 Mengenai pengertian alegoris yang terkandung dalam istilah “bayangan” (zhilal), lihat catatan no. 74 dalam Surah An-Nisa’ [4]: 57. Perlu dicatat bahwa keberadaan bayangan mengandaikan keberadaan cahaya (Al-Jauhari), yang mana istilah terakhir ini merupakan salah satu ciri yang terkandung dalam konsep “surga”.

15 Lit., ” dengan segenap kerendahan hati”.


Surah Al-Insan Ayat 15

وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا

wa yuṭāfu ‘alaihim bi`āniyatim min fiḍḍatiw wa akwābing kānat qawārīrā

15. Dan, mereka akan dilayani dengan bejana-bejana yang terbuat dari perak dan cawan-cawan yang akan [tampak] seperti kristal—


Surah Al-Insan Ayat 16

قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا

qawārīra min fiḍḍating qaddarụhā taqdīrā

16. seperti kristal, [tetapi terbuat] dari perak—yang ukurannya akan mereka tentukan sendiri.16


16 Yakni, dapat menikmati sebanyak yang mereka inginkan.


Surah Al-Insan Ayat 17

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

wa yusqauna fīhā ka`sang kāna mizājuhā zanjabīlā

17. Dan, di dalam [surga] itu, mereka akan diberi secangkir minuman yang dibumbui dengan jahe,


Surah Al-Insan Ayat 18

عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا

‘ainan fīhā tusammā salsabīlā

18. [yang berasal dari] sebuah sumber [yang terdapat] di dalam surga itu, yang namanya adalah “Carilah Jalanmu” (“salsabila”).17


17 Demikianlah bagaimana ‘AIi ibn Abi Thalib—seperti dikutip oleh Al-Zamakhsyari dan Al-Razi—menjelaskan kata salsabilan
(yang jelas merupakan kata gabungan itu) dengan membaginya ke dalam dua bagian: sal sab’ilan (“tanyalah [atau ‘cari lah’] jalan itu”): yaitu, “carilah jalanmu ke surga dengan cara mengerjakan perbuatan-perbuatan saleh”. Walaupun Al-Zamakhsyari tidak sepenuhnya setuju dengan tafsiran ini, menurut pendapat saya penafsiran ini sangat meyakinkan karena mengandung alusi (rujukan) terhadap sifat yang sangat alegoris dari konsep “surga” sebagai suatu konsekuensi spiritual dari perbuatan-perbuatan baik seseorang di dunia ini.
Bahwa kesenangan di dalam surga tidak bersifat materiel juga jelas dari penggambaran yang bermacam-macam tentang surga—yakni, “secangkir minuman yang dibumbui dengan jahe” dalam ayat 17, dan “dibumbui dengan kelopak bunga yang harum” dalam ayat 5; atau “mereka akan dilayani dengan nampan-nampan dan piala-piala emas” dalam Surah Az-Zukhruf [43]: 71, dan “bejana-bejana yang terbuat dari perak dan cawan-cawan yang akan [tampak] seperti kristal—seperti kristal, [tetapi terbuat] dari perak” dalam ayat 15-16
surah ini; dan seterusnya.


Surah Al-Insan Ayat 19

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

wa yaṭụfu ‘alaihim wildānum mukhalladụn, iżā ra`aitahum ḥasibtahum lu`lu`am manṡụrā

19. Dan, pemuda-pemudi yang hidup abadi akan melayani mereka:18 ketika engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan;


18 Lihat catatan no. 6 dalam Surah Al-Waqi’ah [56]: 17-18.


Surah Al-Insan Ayat 20

وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

wa iżā ra`aita ṡamma ra`aita na’īmaw wa mulkang kabīrā

20. dan ketika engkau melihat [segala sesuatu yang ada] di sana, engkau [hanya] akan melihat kebahagiaan dan suatu alam transenden.


Surah Al-Insan Ayat 21

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

‘āliyahum ṡiyābu sundusin khuḍruw wa istabraquw wa ḥullū asāwira min fiḍḍah, wa saqāhum rabbuhum syarāban ṭahụrā

21. Pada orang-orang [yang diberkati] itu akan terdapat pakaian sutra hijau dan brokat; dan mereka akan dihiasi dengan gelang yang terbuat dari perak.19 Dan, Pemelihara mereka akan memberikan kepada mereka minuman yang paling murni.20


19 Lihat Surah Al-Kahfi [18]: 31 (yang menyebutkan “gelang-gelang emas”) dan catatan no. 41 yang terkait.

20 Ungkapan ini menyiratkan bahwa Allah sendiri akan memuaskan rasa haus ruhani mereka dengan menyucikan jiwa mereka “dari semua rasa iri, dendam, dan benci, serta segala sesuatu yang membawa kepada kerusakan, dan semua yang buruk dalam sifat dasar manusia” (Ibn Katsir, mengutip ‘Ali ibn Abi Thalib), dan dengan mengizinkan mereka untuk “meminum” Cahaya-Nya (Al-Razi).


Surah Al-Insan Ayat 22

إِنَّ هَٰذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا

inna hāżā kāna lakum jazā`aw wa kāna sa’yukum masykụrā

22. [Dan kepada mereka akan dikatakan:] “Sungguh, semua ini adalah balasan untuk kalian karena usaha kalian [selama hidup] telah memperoleh keridhaan [Allah]!”


Surah Al-Insan Ayat 23

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا

innā naḥnu nazzalnā ‘alaikal-qur`āna tanzīlā

23. SUNGGUH, [wahai orang beriman,] Kami-lah yang telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu, tahap demi tahap21—suatu penurunan yang sebenar-benarnya!


21 Pewahyuan Al-Quran secara bertahap ditunjukkan melalui penggunaan bentuk verba nazzalna.


Surah Al-Insan Ayat 24

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

faṣbir liḥukmi rabbika wa lā tuṭi’ min-hum āṡiman au kafụrā

24. Maka, tunggulah keputusan Pemeliharamu dengan segenap kesabaran,22 dan janganlah engkau patuh kepada siapa pun di antara mereka yang sengaja berbuat dosa atau orang yang tidak bersyukur;


22 Hal ini berkaitan dengan kehidupan akhirat yang disebut sebelumnya, yang di dalamnya orang-orang yang berbuat baik akan memperoleh kebahagiaan, sedangkan orang-orang yang berbuat jahat akan merasakan penderitaan.


Surah Al-Insan Ayat 25

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

ważkurisma rabbika bukrataw wa aṣīlā

25. dan ingatlah nama Pemeliharamu23 pada pagi dan petang


23 Yakni, sifat-sifat-Nya sebagaimana terwujud dalam ciptaan-Nya—karena pikiran manusia hanya dapat menangkap keberadaan-Nya dan manifestasi dari “sifat-sifat” itu, tetapi tidak pernah dapat mengetahui “bagaimana” realitas-Nya (Al-Razi).


Surah Al-Insan Ayat 26

وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

wa minal-laili fasjud lahụ wa sabbiḥ-hu lailan ṭawīlā

26. dan pada sebagian dari malam,24 dan sujudlah di hadapan-Nya, dan bertasbihlah memuji kemuliaan-Nya yang tak terhingga pada malam yang panjang.25


24 Yakni, pada saat terjaga.

25 Yakni, “tatkala kesedihan mengimpitmu dan semua di sekelilingmu terlihat gelap”.


Surah Al-Insan Ayat 27

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا

inna hā`ulā`i yuḥibbụnal-‘ājilata wa yażarụna warā`ahum yauman ṡaqīlā

27. Perhatikanlah, mereka [yang lupa akan Allah] mencintai kehidupan yang cepat berlalu ini dan mengabaikan [semua pikiran tentang] Hari yang penuh dengan kesengsaraan.


Surah Al-Insan Ayat 28

نَحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ ۖ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا

naḥnu khalaqnāhum wa syadadnā asrahum, wa iżā syi`nā baddalnā amṡālahum tabdīlā

28. [Mereka tidak akan mengakui kepada diri mereka sendiri bahwa] Kami-lah yang menciptakan mereka dan memperkuat penciptaan mereka26—dan [bahwa], apabila kami menghendaki, Kami dapat mengganti mereka semua dengan orang-orang yang sejenis dengan mereka.27


26 Yakni, menganugerahkan kemampuan untuk menikmati “kehidupan yang cepat berlalu ini” kepada tubuh dan pikiran mereka.

27 Yakni, dengan manusia-manusia lain yang akan memiliki kekuatan fisik dan pikiran yang sama, tetapi yang akan memanfaatkan kekuatan itu dengan lebih baik.


Surah Al-Insan Ayat 29

إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

inna hāżihī tażkirah, fa man syā`attakhaża ilā rabbihī sabīlā

29. SUNGGUH, semua ini adalah peringatan: maka, siapa yang menghendaki, niscaya dia menemukan jalan kepada Pemeliharanya.


Surah Al-Insan Ayat 30

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

wa mā tasyā`ụna illā ay yasyā`allāh, innallāha kāna ‘alīman ḥakīmā

30. Namun, kalian tidak dapat menghendakinya, kecuali jika Allah berkehendak [untuk menunjukkan kepada kalian jalan itu]:28 sebab, perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


28 Lihat catatan no. 11 dalam Surah At-Takwir [81]: 28-29. Kebingungan sebagian mufasir menyangkut “kontradiksi” yang seolah-olah tampak antara kedua ayat tersebut—juga antara ayat 29 dan 30 surah ini—disebabkan oleh formulasi eliptis ayat-ayat itu yang, menurut saya, dapat diatasi dengan terjemahan saya terhadap ayat-ayat tersebut. Dalam kasus yang sekarang ini, khususnya, terdapat kaitan yang jelas antara kedua ayat di atas dan ayat ketiga surah ini: “Kami telah menunjukinya jalan: [dan terserah kepadanya untuk membuktikan dirinya sendiri] apakah bersyukur atau tidak bersyukur”. (Bdk. juga dengan Surah Al-Muddatstsir [74]: 56.)


Surah Al-Insan Ayat 31

يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

yudkhilu may yasyā`u fī raḥmatih, waẓ-ẓālimīna a’adda lahum ‘ażāban alīmā

31. Dia memasukkan ke dalam rahmat-Nya siapa saja yang berkehendak [untuk dimasukkan];29 adapun orang-orang yang zalim—bagi mereka telah Dia sediakan penderitaan yang paling pedih [dalam kehidupan akhirat].


29 Atau: “siapa pun yang Dia kehendaki”—masing-masing rumusan kalimat tersebut dapat dibenarkan dari segi sintaksis.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top