69. Al-Haqqah (Penyingkapan Kebenaran) – الحآقة

Surat Al-Haqqah dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Haqqah ( الحآقة ) merupakan surat ke 69 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 52 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Haqqah tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini diwahyukan tidak lama setelah Surah Al-Mulk [67], yakni kira-kira tiga atau empat tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Haqqah Ayat 1

الْحَاقَّةُ

al-ḥāqqah

1. OH, PENYINGKAPAN kebenaran!1


1 Yakni, Hari Kebangkitan dan Hari Pengadilan, yang pada saat itu manusia akan menyadari sepenuhnya kualitas kehidupannya pada masa lalu dan—karena terbebas dari segala penipuan-diri—akan melihat dirinya sebagaimana adanya, seraya ditampakkan kepadanya dengan amat terang makna hakiki dari semua perbuatannya pada masa lalu, demikian pula nasibnya di akhirat. (Bdk. Surah As-Shaffat [37]: 19, kalimat terakhir Surah Az-Zumar [39]: 68, dan Surah Qaf [50]: 21-22.)


Surah Al-Haqqah Ayat 2

مَا الْحَاقَّةُ

mal-ḥāqqah

2. Betapa dahsyatnya penyingkapan kebenaran itu!


Surah Al-Haqqah Ayat 3

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ

wa mā adrāka mal-ḥāqqah

3. Dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayangkan akan seperti apakah penyingkapan kebenaran itu?2


2 Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman yang tiba-tiba mengenai realitas tertinggi ini akan melampaui segala sesuatu yang dapat diantisipasi atau dibayangkan manusia: karenanya, pertanyaan retoris di atas dibiarkan tanpa jawaban.


Surah Al-Haqqah Ayat 4

كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ

każżabaṡ ṡamụdu wa ‘ādum bil-qāri’ah

4. [KAUM] Tsamud dan ‘Ad telah mendustakan [semua berita tentang] malapetaka yang tiba-tiba itu!3


3 Yakni, Saat Terakhir (lihat catatan no. 1 dalam Surah Al-Qari’ah [101]: 1). Untuk keterangan mengenai suku-suku pra-Islam ‘Ad dan Tsamud ini, lihat Surah Al-A’raf [7]: 65-79 dan catatan-catatannya yang terkait.


Surah Al-Haqqah Ayat 5

فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ

fa ammā ṡamụdu fa uhlikụ biṭ-ṭāgiyah

5. Adapun kaum Tsamud—mereka telah dibinasakan oleh pelengkungan [kerak bumi] yang dahsyat;4


4 Bdk. Surah Al-A’raf [7]: 78.


Surah Al-Haqqah Ayat 6

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

wa ammā ‘ādun fa uhlikụ birīḥin ṣarṣarin ‘ātiyah

6. sedangkan kaum ‘Ad—mereka telah dibinasakan oleh angin ribut yang mengamuk amat hebat,


Surah Al-Haqqah Ayat 7

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

sakhkharahā ‘alaihim sab’a layāliw wa ṡamāniyata ayyāmin ḥusụman fa taral-qauma fīhā ṣar’ā ka`annahum a’jāzu nakhlin khāwiyah

7. yang Dia timpakan ke atas mereka selama tujuh malam dan delapan hari tanpa henti, sehingga akhirnya engkau dapat melihat kaum itu bergelimpangan [dalam kematian], seakan-akan mereka seperti batang-batang pohon kurma keropos [yang tumbang]:


Surah Al-Haqqah Ayat 8

فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

fa hal tarā lahum mim bāqiyah

8. dan apakah engkau lihat sisa-sisa mereka kini?


Surah Al-Haqqah Ayat 9

وَجَاءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهُ وَالْمُؤْتَفِكَاتُ بِالْخَاطِئَةِ

wa jā`a fir’aunu wa mang qablahụ wal-mu`tafikātu bil-khāṭi`ah

9. Dan ada pula Fir’aun, dan [banyak] orang yang hidup sebelumnya, dan kota-kota yang dijungkirbalikkan5—[mereka semua] tenggelam dalam dosa demi dosa


5 Yakni, Kota Sodom dan Gomora, dua kota umat Nabi Luth (lihat Surah Hud [11]: 69-83).


Surah Al-Haqqah Ayat 10

فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةً

fa ‘aṣau rasụla rabbihim fa akhażahum akhżatar rābiyah

10. dan memberontak menentang rasul-rasul Pemelihara mereka: maka, Dia menghukum mereka dengan sambaran siksa yang teramat keras!


Surah Al-Haqqah Ayat 11

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

innā lammā ṭagal-mā`u ḥamalnākum fil-jāriyah

11. [Dan] perhatikanlah: tatkala air [banjir Nuh] meluap melampaui batas, Kami-lah yang menyebabkan kalian6 dibawa [menuju keselamatan] di dalam bahtera yang mengambang itu,


6 Yakni, secara metonimia (menurut kesepakatan semua mufasir klasik), “nenek moyang kalian”.


Surah Al-Haqqah Ayat 12

لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

linaj’alahā lakum tażkirataw wa ta’iyahā użunuw wā’iyah

12. agar Kami dapat menjadikan semua ini7 sebagai peringatan [abadi] bagi kalian semua, dan agar setiap telinga yang waspada dapat memperhatikannya dengan sadar.


7 Hal ini mengacu pada hukuman terhadap orang-orang zalim dan rahmat yang dianugerahkan kepada orang-orang saleh.


Surah Al-Haqqah Ayat 13

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ

fa iżā nufikha fiṣ-ṣụri nafkhatuw wāḥidah

13. Karena itu, [renungkanlah Saat Terakhir,] ketika sangkakala [pengadilan] akan dibunyikan dengan sekali tiupan,


Surah Al-Haqqah Ayat 14

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً

wa ḥumilatil-arḍu wal-jibālu fa dukkatā dakkataw wāḥidah

14. dan bumi serta gunung-gunung akan diangkat dan dihancurkan dengan sekali hantaman!


Surah Al-Haqqah Ayat 15

فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

fa yauma`iżiw waqa’atil-wāqi’ah

15. Maka, yang harus terjadi8 pada Hari itu pasti terjadi:


8 Yakni, berakhirnya dunia seperti yang kita kenal ini, yang diikuti dengan kebangkitan dan Pengadilan Terakhir.


Surah Al-Haqqah Ayat 16

وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ

wansyaqqatis-samā`u fa hiya yauma`iżiw wāhiyah

16. dan langit akan terkoyak9—sebab, ia akan menjadi rapuh pada Hari itu;—


9 Kata al-sama’ di sini bisa berarti “langit” (the sky) atau “lelangit” (skies), yakni angkasa yang tampak, atau “langit” dalam pengertian alegorisnya (heaven), atau keseluruhan sistem kosmik yang tercakup dalam konsep “alam semesta” (bdk. Surah Al-Baqarah [2] catatan no. 20). Kondisinya yang “terkoyak” mungkin merupakan metafora bagi kerusakan total tatanan kosmik.


Surah Al-Haqqah Ayat 17

وَالْمَلَكُ عَلَىٰ أَرْجَائِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ

wal-malaku ‘alā arjā`ihā, wa yaḥmilu ‘arsya rabbika fauqahum yauma`iżin ṡamāniyah

17. dan para malaikat [akan muncul] di ujung-ujungnya;10 dan pada Hari itu, di atas mereka, delapan akan menjunjung tinggi singgasana kemahakuasaan Pemeliharamu ….11


10 Atau: “di sisi-sisinya”.

11 Karena Allah tidak terbatas dalam ruang dan waktu, jelaslah bahwa “singgasana” (‘arsy)-Nya memiliki makna kiasan murni, yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak dan tidak terbayangkan atas segala sesuatu yang ada atau mungkin ada (bdk. catatan no. 43 pada surah Al-A’raf [7]: 54). Karena itu pula, “menjunjung tinggi” singgasana kemahakuasaan-Nya tidak lain hanyalah kiasan—yakni, kiasan bagi manifestasi seutuhnya dari kemahakuasaan itu pada Hari Pengadilan. Al-Quran tidak menyebutkan mengenai apa atau siapa “delapan” yang menjadi tempat manifestasi ini bersandar. Beberapa mufasir awal berpendapat bahwa mereka adalah delapan malaikat; yang lainnya berpendapat bahwa mereka adalah delapan peringkat malaikat; sementara yang lain lagi secara terang-terangan mengakui bahwa mustahil memastikan apakah yang dimaksud adalah “delapan” atau “delapan ribu” (Al-Hasan Al-Bashri, seperti dikutip oleh Al-Zamakhsyari). Boleh jadi,ini merupakan kiasan bagi delapan sifat Allah atau aspek ciptaan-Nya (yang tidak disebutkan); akan tetapi, seperti Al-Quran, “tiada seorang pun selain Allah yang mengetahui makna pamungkasnya” (lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 7 dan catatan no. 8 yang terkait).


Surah Al-Haqqah Ayat 18

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

yauma`iżin tu’raḍụna lā takhfā mingkum khāfiyah

18. Pada Hari itu, kalian akan dihadapkan ke pengadilan: [bahkan] yang paling tersembunyi dari perbuatan kalian pun tidak akan lagi tersembunyi.


Surah Al-Haqqah Ayat 19

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ

fa ammā man ụtiya kitābahụ biyamīnihī fa yaqụlu hā`umuqra`ụ kitābiyah

19. Adapun orang yang catatannya akan diletakkan pada tangan kanannya,12 dia akan berseru, “Datanglah kalian semua! Bacalah catatanku ini!


12 Yakni, yang catatannya menunjukkan bahwa dia adalah orang saleh dalam kehidupannya di dunia: bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 71, serta ungkapan simbolik “mereka yang ada pada tangan kanan” dalam Surah Al-Muddatstsir [74]: 39. Asal-usul linguistik dari simbolisme “kanan” dan “kiri” sebagai perlambang bagi “yang saleh” dan “yang durhaka” dijelaskan dalam catatan no. 3 pada Surah Al-Waqi’ah [56]: 8-9.


Surah Al-Haqqah Ayat 20

إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ

innī ẓanantu annī mulāqin ḥisābiyah

20. Perhatikanlah, aku memang telah mengetahui bahwa [suatu hari] aku harus berhadapan dengan perhitunganku!”13


13 Ini menunjukkan bahwa dia senantiasa sadar akan kebangkitan dan pengadilan, dan telah berupaya untuk berperilaku sesuai dengan kesadaran tersebut.


Surah Al-Haqqah Ayat 21

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ

fa huwa fī ‘īsyatir rāḍiyah

21. Maka, dia akan mendapati dirinya dalam kehidupan yang bahagia,


Surah Al-Haqqah Ayat 22

فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ

fī jannatin ‘āliyah

22. dalam surga yang tinggi,


Surah Al-Haqqah Ayat 23

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

quṭụfuhā dāniyah

23. dengan buah-buahannya yang mudah dijangkau.


Surah Al-Haqqah Ayat 24

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

kulụ wasyrabụ hanī`am bimā aslaftum fil-ayyāmil-khāliyah

24. [Dan kepada semua orang yang diberkati, akan dikatakan:] “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan atas segala [perbuatan baik] yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah berlalu!”


Surah Al-Haqqah Ayat 25

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ

wa ammā man ụtiya kitābahụ bisyimālihī fa yaqụlu yā laitanī lam ụta kitābiyah

25. Namun, orang yang catatannya akan diletakkan pada tangan kirinya,14 dia akan berseru, “Duhai, andaikan catatanku ini tidak pernah ditunjukkan kepadaku,


14 Dengan demikian, menunjukkan bahwa dia telah bersikap durhaka dalam kehidupannya di dunia, berlawanan dengan orang-orang “yang catatannya akan diletakkan pada tangan kanannya” (Iihat ayat 19 dan catatan no. 12 sebelumnya).


Surah Al-Haqqah Ayat 26

وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ

wa lam adri mā ḥisābiyah

26. dan perhitunganku tidak pula diberitahukan kepadaku!


Surah Al-Haqqah Ayat 27

يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ

yā laitahā kānatil-qāḍiyah

27. Duhai, andaikan [kematianku] ini menjadi akhir (kehidupan)-ku!


Surah Al-Haqqah Ayat 28

مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ

mā agnā ‘annī māliyah

28. Tiada berguna sama sekali bagiku segala yang [pernah] menjadi milikku,


Surah Al-Haqqah Ayat 29

هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

halaka ‘annī sulṭāniyah

29. [dan] telah lenyap dariku segala kekuatan argumentasiku!”15


15 Istilah sulthan, yang utamanya berarti “kekuatan” atau “kekuasaan”, di sini—seperti dalam banyak ayat lainnya dalam Al-Quran—tampaknya berarti “argumentasi”, yang sama artinya dengan hujjah (Ibn ‘Abbas, ‘Ikrimah, Mujahid, Al-Dhahhak; semuanya dikutip oleh Al-Thabari): jadi, dalam hal ini menunjuk pada suatu argumen, atau argumen-argumen, yang menentang gagasan mengenai kehidupan sesudah mati dan pengadilan Tuhan.


Surah Al-Haqqah Ayat 30

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ

khużụhu fa gullụh

30. [Kemudian, perintah itu akan datang:] “Tangkap dan belenggulah dia,16


16 Mengenai penjelasan terhadap alegori “belenggu”, Iihat catatan no. 13 pada Surah Ar-Ra’d [13]: 5, catatan no. 44 pada Surah Saba’ [34]: 33, dan catatan no. 6 dan 7 pada Surah Ya’Sin [36]: 8.


Surah Al-Haqqah Ayat 31

ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ

ṡummal-jaḥīma ṣallụh

31. lalu biarkanlah dia memasuki neraka,


Surah Al-Haqqah Ayat 32

ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ

ṡumma fī silsilatin żar’uhā sab’ụna żirā’an faslukụh

32. dan kemudian masukkanlah dia ke dalam rantai [para pendosa lainnya seperti dia17—suatu rantai] yang panjangnya tujuh puluh hasta:18


17 Lihat Surah Ibrahim [14]: 49—”pada Hari itu, engkau akan melihat semua orang yang tenggelam dalam dosa (al-mujrimin) diikat bersama-sama dalam belenggu”—dan catatan no. 64 yang terkait, yang menjelaskan alasan saya menyisipkan frasa “para pendosa lainnya seperti dia” dalam ayat di atas.

18 Yakni, sebuah rantai yang sangat panjang—jumlah “tujuh puluh” di sini digunakan secara metonimia, yakni (seperti yang sering digunakan dalam bahasa Arab klasik) dalam pengertian “sangat banyak” (Al-Zamakhsyari); jadi, “ukuran yang panjangnya hanya diketahui Allah” (Al-Thabari; juga Al-Hasan, seperti dikutip Al-Razi).


Surah Al-Haqqah Ayat 33

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

innahụ kāna lā yu`minu billāhil-‘aẓīm

33. sebab, perhatikanlah, dia tidak beriman kepada Allah, Yang Mahabesar,


Surah Al-Haqqah Ayat 34

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa’āmil-miskīn

34. dan tidak merasa terdorong19 untuk memberi makan orang miskin:


19 Lit., “tidak mendorong”, yakni, mendorong dirinya sendiri.


Surah Al-Haqqah Ayat 35

فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ

fa laisa lahul-yauma hāhunā ḥamīm

35. maka, hari ini dia tidak memiliki seorang kawan pun di sini,


Surah Al-Haqqah Ayat 36

وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ

wa lā ṭa’āmun illā min gislīn

36. tidak pula makanan, kecuali kotoran


Surah Al-Haqqah Ayat 37

لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ

lā ya`kuluhū illal-khāṭi`ụn

37. yang tiada seorang pun memakannya, kecuali para pendosa!”20


20 Nomina ghislin, yang muncul dalam Al-Quran hanya pada ayat ini, telah dijelaskan dengan berbagai macam cara—dan saling bertentangan—oleh para mufasir awal. Ibn ‘Abbas, ketika ditanya tentang hal ini, secara jujur menjawab, “Saya tidak tahu apa arti ghislin” (Al-Razi). Istilah “kotoran” yang saya gunakan di sini mengandung kiasan bagi “kerakusan” terhadap segala sesuatu yang buruk dalam pengertian spiritualnya: bdk. penyifatannya dalam ayat berikutnya sebagai “[sesuatu] yang tiada seorang pun memakannya, kecuali para pendosa”—yakni, (secara metaforis) di dunia ini dan, karena itu, di akhirat kelak.


Surah Al-Haqqah Ayat 38

فَلَا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ

fa lā uqsimu bimā tubṣirụn

38. NAMUN, TIDAK! Aku memanggil sebagai saksi, segala sesuatu yang dapat kalian lihat,


Surah Al-Haqqah Ayat 39

وَمَا لَا تُبْصِرُونَ

wa mā lā tubṣirụn

39. serta segala sesuatu yang tidak dapat kalian lihat!21


21 Ungkapan “segala sesuatu yang dapat kalian lihat” mencakup segala fenomena alam yang dapat diamati—termasuk manusia sendiri beserea kondisi-kondisi organik eksistensinya—serta susunan masyarakat manusia dan hukum-hukum pertumbuhan dan kehancurannya dalam pengertian historis yang dapat diobservasi. Sedangkan “yang tidak dapat kalian lihat” berkaitan dengan kebenaran-kebenaran spiritual yang tidak kasat-mata namun dapat dijangkau oleh intuisi dan naluri manusia, termasuk suara hati nuraninya sendiri: semuanya ini {yakni, segala sesuatu yang dapat kalian lihat dan yang tidak dapat kalian lihat} “memberi kesaksian”, demikianlah kira-kira, terhadap fakta bahwa petunjuk kitab Ilahi (yang dibicarakan pada kalimat berikutnya) yang menerangi realitas terdalam dan inter-relasi segala sesuatu secara objektif—atau mungkin, mewujudkan diri secara subjektif dalam jiwa manusia itu sendiri—mestilah merupakan wahyu sejati, sebab ia jauh melampaui segala sesuatu yang dapat dicapai oleh akal manusia secara mandiri.


Surah Al-Haqqah Ayat 40

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

innahụ laqaulu rasụling karīm

40. Perhatikanlah, [Al-Quran] ini benar-benar firman [yang diwahyukan kepada] seorang rasul yang mulia,


Surah Al-Haqqah Ayat 41

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ

wa mā huwa biqauli syā’ir, qalīlam mā tu`minụn

41. dan bukan kata-kata seorang penyair—betapapun sedikitnya kalian [siap untuk] memercayainya;


Surah Al-Haqqah Ayat 42

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

wa lā biqauli kāhin, qalīlam mā tażakkarụn

42. dan ia bukan pula kata-kata tukang renung—betapapun sedikitnya kalian [siap untuk] mencamkannya:


Surah Al-Haqqah Ayat 43

تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn

43. [Al-Quran] adalah wahyu dari Pemelihara seluruh alam.


Surah Al-Haqqah Ayat 44

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ

walau taqawwala ‘alainā ba’ḍal-aqāwīl

44. Adapun jika dia [yang Kami amanati dengannya] berani menisbahkan sebagian perkataan[-nya sendiri] kepada Kami,


Surah Al-Haqqah Ayat 45

لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ

la`akhażnā min-hu bil-yamīn

45. pasti telah Kami cengkam dia pada tangan kanannya,22


22 Yakni, menghilangkan segala kemampuannya untuk bertindak—”tangan kanan” merupakan simbol bagi kekuasaan.


Surah Al-Haqqah Ayat 46

ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

ṡumma laqaṭa’nā min-hul-watīn

46. dan pasti telah Kami potong urat nadinya,


Surah Al-Haqqah Ayat 47

فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

fa mā mingkum min aḥadin ‘an-hu ḥājizīn

47. dan tidak seorang pun di antara kalian dapat menyelamatkannya!


Surah Al-Haqqah Ayat 48

وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

wa innahụ latażkiratul lil-muttaqīn

48. Dan, sungguh, [Al-Quran] ini adalah suatu peringatan bagi semua orang yang sadar akan Allah.23


23 Secara tersirat, yakni “yang beriman pada [adanya] hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”; bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 2-3.


Surah Al-Haqqah Ayat 49

وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ

wa innā lana’lamu anna mingkum mukażżibīn

49. Dan, perhatikanlah, Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada yang akan mendustakannya:


Surah Al-Haqqah Ayat 50

وَإِنَّهُ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكَافِرِينَ

wa innahụ laḥasratun ‘alal-kāfirīn

50. namun, perhatikanlah, [penolakan] ini sungguh akan menjadi sumber penyesalan yang amat pahit bagi semua orang yang mengingkari kebenaran [wahyu Allah]—


Surah Al-Haqqah Ayat 51

وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ

wa innahụ laḥaqqul-yaqīn

51. sebab, sungguh, ia adalah kebenaran yang mutlak!


Surah Al-Haqqah Ayat 52

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm

52. Maka, bertasbihlah memuji kemuliaan nama Pemeliharamu yang keagungan-Nya tiada terhingga!


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top