57. Al-Hadid (Besi) – الحديد

Surat Al-Hadid dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Hadid ( الحديد ) merupakan surat ke 57 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 29 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Madinah. Dengan demikian, Surah Al-Hadid tergolong Surat Madaniyah.

Penyebutan “besi” (al-hadid) pada ayat ke-25 dan segala yang diindikasikan oleh kata ini (lihat catatan no. 42) membuat para Sahabat dan penerus Rasulullah sedemikian terkesannya sehingga surah ini selalu dinamai sebagai “surah yang menyebut tentang besi” (Al-Thabari). Berdasarkan ayat ke-10 yang merujuk pada penaklukan Kota Makkah (al-fath), jelaslah bahwa awal mula diturunkannya surah ini adalah pada akhir 8 H.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Hadid Ayat 1

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm

1. SEGALA YANG ADA di lelangit dan di bumi bertasbih memuji kemuliaan Allah yang tiada terhingga; sebab, Dia sajalah yang Mahaperkasa, Mahabijaksana!


Surah Al-Hadid Ayat 2

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, yuḥyī wa yumīt, wa huwa ‘alā kulli syai`ing qadīr

2. Milik-Nya lah kekuasaan atas lelangit dan bumi; Dia menganugerahkan kehidupan dan menimpakan kematian; dan Dia berkuasa menghendaki segala sesuatu.


Surah Al-Hadid Ayat 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

huwal-awwalu wal-ākhiru waẓ-ẓāhiru wal-bāṭin, wa huwa bikulli syai`in ‘alīm

3. DIa Yang Awal dan Yang Akhir,1 dan Yang Nyata serta Yang Batin:2 dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.


1 Yakni, wujud-Nya adalah abadi, tanpa sesuatu pun mendahului keberadaan-Nya dan tanpa sesuatu pun melampaui ketidakterhinggaan-Nya: ini merupakan penafsiran yang dikemukakan oleh Rasulullah Saw. sendiri, sebagaimana yang tercatat dalam beberapa hadis sahih. Dengan demikian, “waktu” itu sendiri—suatu konsep yang melampaui pemahaman manusia—tidak lain merupakan ciptaan Allah.

2 Yakni, Dia adalah Penyebab transenden dari {yaitu melampaui} segala sesuatu dan, pada saat yang bersamaan, bersifat imanen {senantiasa berada} dalam setiap fenomena ciptaan-Nya—bdk. kalimat yang sering diulang dalam Al-Quran (misalnya pada ayat ke-5), “segala sesuatu kembali kepada Allah [sebagai asal muasal mereka]”; dalam ungkapan Al-Thabari, “Dia lebih dekat kepada setiap hal daripada segala hal lainnya”. Terjemahan lainnya—yang mungkin melengkapi terjemahan itu—adalah “Dia adalah Yang Nyata sekaligus Yang Tersembunyi”: yakni, “keberadaan-Nya adalah nyata (zhahir) sebagaimana yang terlihat dalam dampak-dampak aktivitas-Nya, sedangkan Dia Sendiri tidak dapat dijangkau oleh persepsi (ghair mudrak) pancaindra kita” (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Hadid Ayat 4

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

huwallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, ya’lamu mā yaliju fil-arḍi wa mā yakhruju min-hā wa mā yanzilu minas-samā`i wa mā ya’ruju fīhā, wa huwa ma’akum aina mā kuntum, wallāhu bimā ta’malụna baṣīr

4. Dia-lah yang telah menciptakan lelangit dan bumi dalam enam masa, dan bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya.3

Dia mengetahui segala yang masuk ke dalam bumi dan segala yang keluar darinya, serta segala yang turun dari langit dan segala yang naik kepadanya.4

Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada; dan Allah melihat segala yang kalian perbuat.


3 Bdk. kalimat serupa pada Surah Al-A’raf [7]: 54 dan catatan no. 43 yang terkait.

4 Lihat catatan no. 1 pada Surah Saba’ [34]: 2.


Surah Al-Hadid Ayat 5

لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍ, wa ilallāhi turja’ul-umụr

5. Milik-Nya-lah kekuasaan atas lelangit dan bumi; dan segala sesuatu kembali kepada Allah [sebagai asal muasal mereka].


Surah Al-Hadid Ayat 6

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۚ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

yụlijul-laila fin-nahāri wa yụlijun-nahāra fil-laīl, wa huwa ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr

6. Dia menjadikan malam bertambah panjang dengan memendekkan siang, dan menjadikan siang bertambah panjang dengan memendekkan malam; dan Dia Mahamengetahui segala yang ada di dalam hati [manusia].


Surah Al-Hadid Ayat 7

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

āminụ billāhi wa rasụlihī wa anfiqụ mimmā ja’alakum mustakhlafīna fīh, fallażīna āmanụ mingkum wa anfaqụ lahum ajrung kabīr

7. BERIMANLAH kepada Allah dan Rasul-Nya, dan nafkahkanlah bagi orang lain sebagian dari apa yang telah Dia amanati kepada kalian:5 sebab, siapa pun di antara kalian yang telah meraih iman dan menafkahkan secara sukarela [di jalan Allah] akan mendapatkan balasan yang besar.


5 Ini menunjukkan bahwa semua yang “dimiliki” manusia tidak lain hanyalah merupakan amanat dari Allah, karena “segala yang ada di lelangit dan di bumi adalah milik-Nya”, sedangkan, manusia hanya diizinkan menggunakannya.


Surah Al-Hadid Ayat 8

وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۙ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

wa mā lakum lā tu`minụna billāh, war-rasụlu yad’ụkum litu`minụ birabbikum wa qad akhaża mīṡāqakum ing kuntum mu`minīn

8. Dan, mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian untuk beriman [kepada Dia yang merupakan] Pemelihara kalian, dan [padahal] Dia telah mengambil sumpah dari kalian?6 [Mengapa kalian tidak memercayai-Nya] jika kalian dapat memercayai [apa pun]?7


6 “Pengambilan sumpah” dari Allah ini merupakan kiasan yang merujuk kepada kemampuan akal yang telah Dia anugerahkan kepada manusia, dan yang seharusnya menjadikan setiap manusia yang waras mampu memahami bukti keberadaan Allah dengan mengamati dampak-dampak tindakan kreatif-Nya di alam semesta dan menaati ajaran rasul-rasul-Nya (Al-Zamakhsyari). Sehubungan dengan hal ini, lihat Surah Al-A’raf [7]: 172 dan catatan no. 139 yang terkait.

7 Lit., “jika kalian adalah orang-orang beriman”: ini menyiratkan, menurut Al-Razi, “jika kalian dapat memercayai apa pun berdasarkan bukti yang kuat”.


Surah Al-Hadid Ayat 9

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

huwallażī yunazzilu ‘alā ‘abdihī āyātim bayyinātil liyukhrijakum minaẓ-ẓulumāti ilan-nụr, wa innallāha bikum lara`ụfur raḥīm

9. Dia-lah yang menurunkan pesan-pesan yang jelas kepada hamba-Nya [ini], untuk membimbing kalian keluar dari pekatnya kegelapan menuju cahaya: sebab, perhatikanlah, Allah adalah Yang Maha Melimpahkan Kasih terhadap kalian, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Al-Hadid Ayat 10

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

wa mā lakum allā tunfiqụ fī sabīlillāhi wa lillāhi mīrāṡus-samāwāti wal-arḍ, lā yastawī mingkum man anfaqa ming qablil-fat-ḥi wa qātal, ulā`ika a’ẓamu darajatam minallażīna anfaqụ mim ba’du wa qātalụ, wa kullaw wa’adallāhul-ḥusnā, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

10. Dan, mengapa kalian tidak menafkahkan secara sukarela di jalan Allah, padahal milik Allah [sajalah] warisan lelangit dan bumi?8

Tidaklah sama orang-orang di antara kalian yang menafkahkan (hartanya) dan berperang [di jalan Allah] sebelum Kemenangan9 [dengan orang-orang yang tidak melakukannya]: derajat mereka lebih tinggi daripada orang-orang yang [hanya] menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah (Kemenangan) itu—meskipun Allah telah menjanjikan kebaikan tertinggi kepada semua [yang berjuang di jalan-Nya].10 Dan Allah Maha Mengetahui segala yang kalian lakukan.


8 Yakni, “bahwa kepunyaan Allah-lah segala yang …”, dst.: lihat catatan no. 5, serta catatan no. 22 pada Surah Al-Hijr [15]: 23.

9 Yakni, sebelum penaklukan Kota Makkah pada 8 H ketika umat Islam masih lemah dan masa depan mereka tidak menentu.

10 Prinsip penghargaan relatif di atas tentunya berlaku bagi orang-orang beriman pada segala zaman yang berjuang karena Allah sebelum dan/atau sesudah kemenangan diraih.


Surah Al-Hadid Ayat 11

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

man żallażī yuqriḍullāha qarḍan ḥasanan fa yuḍā’ifahụ lahụ wa lahū ajrung karīm

11. SIAPAKAH yang mau mempersembahkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan dilunasi-Nya dengan berlipat ganda?11

Sebab, mereka [yang melakukannya] akan mendapatkan imbalan yang mulia


11 Lihat catatan no. 234 mengenai kalimat serupa pada Surah Al-Baqarah [2]: 245. Pengertian yang terkandung dalam ayat ini tampaknya lebih luas, yakni mencakup semua hal yang dilakukan oleh manusia secara ikhlas demi Allah semata.


Surah Al-Hadid Ayat 12

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

yauma taral-mu`minīna wal-mu`mināti yas’ā nụruhum baina aidīhim wa bi`aimānihim busyrākumul-yauma jannātun tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

12. pada Hari ketika kalian akan melihat semua laki-laki dan perempuan yang beriman, dengan cahaya mereka yang tersebar dengan cepat sekali di hadapan dan di sebelah kanan mereka,12 [dan sambutan yang menanti mereka adalah:] “Hari ini ada suatu berita gembira untuk kalian, yaitu taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai, untuk tinggal di dalamnya! Ini, inilah kemenangan yang tertinggi!”


12 Lihat catatan no. 25 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 39 yang menjelaskan ungkapan ashhab al-yamin (“orang-orang pada tangan kanan”). Dalam banyak ayat, metafora “tangan kanan” atau “sisi kanan” digunakan dalam Al-Quran untuk menyata kan “kesalehan” dan, karena itu, “keadaan diberkati”, yang dalam konteks ini dilambangkan dengan “cahaya yang tersebar dengan cepat sekali” di hadapan dan di sebelah kanan orang-orang beriman sebagai hasil dari “keimanan mereka kepada Allah, moral mereka yang agung, dan kebebasan mereka dari kejahilan dan sifat-sifat tercela” (Al-Razi).


Surah Al-Hadid Ayat 13

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ

yauma yaqụlul-munāfiqụna wal-munāfiqātu lillażīna āmanunẓurụnā naqtabis min nụrikum, qīlarji’ụ warā`akum faltamisụ nụrā, fa ḍuriba bainahum bisụril lahụ bāb, bāṭinuhụ fīhir-raḥmatu wa ẓāhiruhụ ming qibalihil-‘ażāb

13. Pada Hari itu, orang-orang munafik, baik yang laki-laki maupun yang perempuan,13 akan berkata [demikian] kepada mereka yang telah meraih iman, “Tunggulah kami! Biarkan kami mendapatkan [pancaran] sinar dari cahaya kalian!” [Namun,] akan dikatakan kepada mereka, “Kembalilah, dan carilah cahaya [kalian sendiri]!”14

Dan kemudian akan didirikan sebuah dinding di antara mereka [dan orang-orang beriman], dengan sebuah gerbang di dalamnya: di sebelah dalamnya ada rahmat dan belas kasih, dan di sebelah luarnya ada penderitaan.15


13 Tampaknya, yang dimaksud “munafik” di sini bukan hanya orang-orang yang terang-terang bersifat “munafik” (dalam pengertian sebagaimana yang dikandung kata “hypocrite” dalam bahasa-bahasa Barat {yakni, orang-orang yang berpura-pura berperilaku sesuai dan/atau menganut pandangan yang luhur}), melainkan juga orang-orang yang, karena merasa goyah dalam keyakinan mereka dan ragu akan pendirian moral mereka, cenderung menipu diri mereka sendiri (lihat catatan no. 7 pada Surah Al-‘Ankabut [29]: 11).

14 Yakni, “kalian seharusnya mencari cahaya itu ketika masih hidup di bumi”.

15 Penekanan pada terdapatnya sebuah gerbang pada dinding yang memisahkan orang-orang beriman sejati dan orang-orang munafik (atau mereka yang lemah iman) menunjukkan adanya ke mungkinan keselamatan bagi orang-orang munafik ini: bdk. hadis terkenal yang disebutkan dalam catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12. Mujahid (sebagaimana dikutip Al-Thabari) menyamakan “dinding” yang disebutkan di sini dengan “penghalang” (hijab) yang disebutkan pada Surah Al-A’raf [7]: 46.


Surah Al-Hadid Ayat 14

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

yunādụnahum a lam nakum ma’akum, qālụ balā wa lākinnakum fatantum anfusakum wa tarabbaṣtum wartabtum wa garratkumul-amāniyyu ḥattā jā`a amrullāhi wa garrakum billāhil-garụr

14. Mereka [yang tetap berada di luar] akan memanggil mereka [yang berada di dalam], “Bukankah kami dahulu bersama kalian?”—[yang] akan dijawab oleh mereka, “Memang! Namun, kalian membiarkan diri kalian terbuai godaan,16 dan kalian ragu-ragu [dalam iman kalian17], dan kalian menyangsikan [hari kebangkitan]; dan angan-angan kosong kalian memperdayakan kalian hingga tibalah perintah Allah:18 sebab, [sungguh,] tipuan pikiran-pikiran [kalian sendiri] tentang Allah telah memperdaya kalian!19


16 Yakni, secara tersirat, “terbuai godaan untuk meraih keuntungan duniawi” atau “karena takut akan keamanan diri kalian”—dua hal ini merupakan karakteristik orang yang setengah hati dalam beriman serta ciri-ciri orang munafik.

17 Demikianlah penafsiran Ibn Zaid (yang dikutip oleh Al-Thabari) ketika menjelaskan verba tarabbashtum.

18 Yakni, “hingga kematian kalian”.

19 Lihat catatan no. 30 pada kalimat terakhir Surah Luqman [31]: 33.


Surah Al-Hadid Ayat 15

فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ مَأْوَاكُمُ النَّارُ ۖ هِيَ مَوْلَاكُمْ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

fal-yauma lā yu`khażu mingkum fidyatuw wa lā minallażīna kafarụ, ma`wākumun-nār, hiya maulākum, wa bi`sal-maṣīr

15. “Maka, tidak akan ada penebusan20 yang diterima dari kalian pada hari ini, dan tidak pula dari mereka yang [terang-terangan] berkukuh mengingkari kebenaran. Tempat kalian menuju adalah api neraka: itulah [satu-satunya] tempat berlindung kalian21—dan betapa buruknya akhir perjalanan itu!”


20 Yakni, penyesalan/tobat yang terlambat.

21 Lit., “kawan kalian” (maulakum)—yakni, “neraka itulah satu-satunya hal yang dapat kalian harapkan untuk menyucikan dan menebus diri kalian”: bdk. sabda Rasulullah Saw. yang disebutkan dalam catatan no. 10 pada Surah Ghafir [40]: 12; lihat juga catatan no. 15 surah ini.


Surah Al-Hadid Ayat 16

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

a lam ya`ni lillażīna āmanū an takhsya’a qulụbuhum liżikrillāhi wa mā nazala minal-ḥaqqi wa lā yakụnụ kallażīna ụtul-kitāba ming qablu fa ṭāla ‘alaihimul-amadu fa qasat qulụbuhum, wa kaṡīrum min-hum fāsiqụn

16. BELUM tibakah waktunya hati semua orang yang telah meraih iman tertunduk karena mengingat Allah dan semua kebenaran yang telah diturunkan [kepada mereka],22 agar jangan sampai mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberi wahyu terdahulu,23 dan yang hatinya mengeras seiring berlalunya waktu sehingga banyak di antara mereka yang [kini] menjadi fasik?24


22 Yakni, “Bukankah seharusnya ingatan akan Allah dan wahyu-Nya membuat mereka menjadi tunduk berendah hati daripada berbangga diri?” Ini adalah peringatan tegas agar manusia tidak teperdaya sehingga berpuas diri, merasa suci, serta berbangga diri karena merasa telah “meraih iman”—suatu kegagalan yang amat sering menimpa orang-orang yang menganggap dirinya “saleh”.

23 Tampaknya, pernyataan ini mengacu kepada orang-orang yang dihinggapi arogansi spiritual dari kalangan Yahudi, yang menganggap diri mereka sebagai “umat pilihan Tuhan” dan, karena itu, telah ditakdirkan mendapatkan ridha-Nya.

24 Yakni, sehingga perilaku mereka kini berlawanan dengan ajaran-ajaran etika agama mereka: ini mengisyaratkan bahwa tujuan dari semua kepercayaan yang benar adalah untuk membuat manusia bersikap rendah hati dan sadar akan Allah {bertakwa}, alih-alih merasa puas diri, serta menunjukkan bahwa hilangnya perasaan rendah hati spiritual tersebut akan selalu mengakibatkan kemerosotan akhlak.


Surah Al-Hadid Ayat 17

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

i’lamū annallāha yuḥyil-arḍa ba’da mautihā, qad bayyannā lakumul-āyāti la’allakum ta’qilụn

17. [Namun,] ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi sesudah matinya!25

Kami benar-benar telah membuat pesan-pesan Kami jelas bagi kalian, agar kalian dapat menggunakan akal.


25 Menurut kebanyakan mufasir—khususnya, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, dan Ibn Katsir—ini adalah suatu kiasan yang mengacu kepada dampak dari bangkitnya kembali kesadaran akan Allah dalam hati-hati yang telah mati akibat rasa puas diri dan kebanggaan batil.


Surah Al-Hadid Ayat 18

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

innal-muṣṣaddiqīna wal-muṣṣaddiqāti wa aqraḍullāha qarḍan ḥasanay yuḍā’afu lahum wa lahum ajrung karīm

18. Sungguh, adapun laki-laki dan perempuan yang menerima kebenaran sebagai kebenaran,26 dan yang [kemudian] mempersembahkan kepada Allah pinjaman yang baik, mereka akan dibalas dengan berlipat ganda27 dan mendapatkan imbalan yang mulia [di akhirat].


26 Atau: “yang memberikan sedekah”—bergantung pada pelafalan konsonan shad dan daI. Jika dilihat dari lanjutan ayatnya, makna yang terdapat dalam terjemahan saya tampaknya lebih tepat (dan sesungguhnya, makna ini ditekankan oleh Al-Zamakhsyari), meskipun dalam pembacaan Hafsh ibn Sulaiman Al-Asadi (yang menjadi dasar penerjemahan karya ini), kedua nomina tersebut dieja mushshaddiqin dan mushshaddiqat, yakni “laki-laki dan perempuan yang memberikan sedekah”.

27 Lihat ayat 11.


Surah Al-Hadid Ayat 19

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ ۖ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

wallażīna āmanụ billāhi wa rusulihī ulā`ika humuṣ-ṣiddīqụna wasy-syuhadā`u ‘inda rabbihim, lahum ajruhum wa nụruhum, wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

19. Sebab, mereka yang telah meraih iman kepada Allah dan Rasul-Nya—mereka, mereka itulah yang menegakkan kebenaran, dan mereka yang menjadi saksi [terhadap hal itu] di depan Pemelihara mereka:28 [demikianlah] mereka akan memperoleh imbalan dan cahaya mereka!

Namun, bagi mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran dan mendustakan pesan-pesan Kami—mereka itulah yang ditetapkan di dalam neraka yang berkobar!


28 Yakni, dengan kesiapan mereka untuk melakukan pengorbanan apa pun.


Surah Al-Hadid Ayat 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

i’lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la’ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād, kamaṡali gaiṡin a’jabal-kuffāra nabātuhụ ṡumma yahīju fa tarāhu muṣfarran ṡumma yakụnu huṭāmā, wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīduw wa magfiratum minallāhi wa riḍwān, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā’ul-gurụr

20. KETAHUILAH [wahai manusia] bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah sebuah permainan dan kesenangan sementara, dan sebuah pertunjukan yang indah, [yang menyebabkan] kalian berlomba-lomba satu sama lain dengan berbangga diri dan [menyebabkan kalian bersikap] rakus untuk mendapatkan harta dan anak-anak yang lebih banyak.29

Perumpamaannya adalah30 hujan [yang memberi kehidupan]: tanam-tanaman yang ditumbuhkannya menyenangkan para penggarap tanah;31 namun kemudian ia layu, dan engkau dapat melihatnya menguning; dan pada akhirnya, ia hancur menjadi debu.

Namun, [kebenaran abadi tentang keadaan manusia akan menjadi jelas sepenuhnya] di kehidupan akhirat mendatang: [baik itu] penderitaan yang pedih, atau32 ampunan Allah serta keridhaan-Nya: sebab, kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.


29 Dalam tafsirnya yang panjang lebar terhadap ayat ini, Al-Razi menegaskan bahwa kehidupan itu sendiri hendaknya tidak dipandang hina, sebab ia diciptakan oleh Allah: bdk. Surah Shad [38]: 27—”Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya tanpa makna dan tujuan”, dan Surah Al-Mu’minun [23]: 115—”Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan main-main?” Namun, sementara kehidupan itu sendiri adalah anugerah yang positif dari Allah dan—sebagaimana yang dikemukakan Al-Razi—merupakan sumber potensial segala keberkahan, segi positif kehidupan ini akan hilang jika ia dinikmati secara sembrono, membuta, dan dengan meremehkan nilai-nilai dan pertimbangan spirituaI: singkatnya, jika ia dinikmati seenaknya tanpa memikirkan kehidupan akhirat.

30 Lit., “Seperti perumpaman …”, dst.

31 Ini adalah satu-satunya kasus di dalam Al-Quran di mana nomina kafir (yang disebutkan dalam bentuk jamaknya, kuffar) digunakan dalam pengertian asalnya, yakni “penggarap tanah”. Untuk penjelasan mengenai etimologi makna ini, lihat catatan no. 4 pada Surah Al-Muddatstsir [74]: 10, yang di dalamnya istilah kafir (dalam pengertian “orang yang mengingkari kebenaran”) muncul untuk pertama kalinya dalam sejarah pewahyuan Al-Quran.

32 Menurut Al-Thabari, kata sambung wa di sini memiliki makna au (“atau”).


Surah Al-Hadid Ayat 21

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

sābiqū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhā ka’arḍis-samā`i wal-arḍi u’iddat lillażīna āmanụ billāhi wa rusulih, żālika faḍlullāhi yu`tīhi may yasyā`, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

21. [Karena itu,] berlomba-lombalah untuk mendapatkan ampunan Pemelihara kalian,33 dan [dengan demikian, mendapatkan] surga yang seluas lelangit dan bumi yang telah disiapkan bagi orang-orang yang telah meraih iman kepada Allah dan Rasul-Nya:34 demikianlah karunia Allah yang Dia anugerahkan kepada siapa pun yang Dia kehendaki—sebab, Allah memiliki karunia yang melimpah tak terhingga.


33 Yakni, secara tersirat, “bukan berlomba-lomba untuk meraih kejayaan dan harta benda dunia”: secara eliptis, ini menyiratkan bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari kesalahan dan pelanggaran, dan karena itu setiap orang membutuhkan ampunan Allah. (Bdk. catatan no. 41 pada Surah An-Nur [24]: 31.)

34 Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai kerendahan hati yang merupakan ciri-ciri Mukmin sejati, lihat Surah Alu ‘Imran [3]: 133-135.


Surah Al-Hadid Ayat 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

mā aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim ming qabli an nabra`ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr

22. TIDAK AKAN ADA BENCANA yang dapat menimpa bumi, dan tidak pula menimpa diri kalian,35 kecuali [telah dicantumkan] di dalam ketetapan Kami sebelum Kami mewujudkannya: sungguh, semua ini36 adalah mudah bagi Allah.


35 Yakni, “bumi ataupun manusia secara keseluruhan, atau salah satu di antara kalian secara perorangan”: ini mengacu pada malapetaka yang terjadi baik karena faktor alam maupun karena ulah manusia, serta mengacu pada penderitaan masing-masing individu dalam bentuk penyakit, kemerosotan dari segi moral atau materiel, dsb.

36 Yakni, tindakan Allah menetapkan suatu peristiwa dan membuatnya terjadi.


Surah Al-Hadid Ayat 23

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

likai lā ta`sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr

23. [Ketahuilah hal ini,] sehingga kalian tidak akan berputus asa terhadap [kebaikan] apa pun yang luput dari kalian dan tidak pula [terlalu] bersuka ria atas [kebaikan] apa pun yang datang kepada kalian:37 sebab, Allah tidak menyukai siapa pun di antara orang-orang yang, karena keangkuhannya, bersikap membanggakan diri38


37 Dengan demikian, pengetahuan bahwa apa pun yang telah terjadi memang mesti terjadi (dan mustahil tidak terjadi), karena semuanya jelas-jelas telah ditetapkan Allah sesuai dengan rencana-Nya yang tak terduga, seharusnya menjadikan seorang beriman sejati mampu menanggapi kebaikan atau keburukan apa pun yang mungkin menimpanya dengan penuh ketenangan dan kesadaran hati.

38 Yakni, menganggap bahwa nasib baik mereka disebabkan karena daya upaya mereka sendiri atau karena “keberuntungan”.


Surah Al-Hadid Ayat 24

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ ۗ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

allażīna yabkhalụna wa ya`murụnan-nāsa bil-bukhl, wa may yatawalla fa innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd

24. mereka yang kikir [dengan rahmat Allah] serta menyuruh orang lain untuk bersikap kikir!39

Dan, orang yang memalingkan punggungnya [dari kebenaran ini40 hendaknya mengetahui bahwa], sungguh, Allah sajalah Yang Mahacukup, Maha Terpuji!


39 Bdk. kalimat terakhir pada Surah An-Nisa’ [4]: 36 dan keseluruhan ayat 37.

40 Yakni, tidak mau mengakui bahwa apa pun yang telah terjadi pasti sudah ditetapkan oleh Allah.


Surah Al-Hadid Ayat 25

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

laqad arsalnā rusulanā bil-bayyināti wa anzalnā ma’ahumul-kitāba wal-mīzāna liyaqụman-nāsu bil-qisṭ, wa anzalnal-ḥadīda fīhi ba`sun syadīduw wa manāfi’u lin-nāsi wa liya’lamallāhu may yanṣuruhụ wa rusulahụ bil-gaīb, innallāha qawiyyun ‘azīz

25. Sungguh, [bahkan pada masa terdahulu] Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan segala bukti kebenaran [ini]; dan melalui mereka,41 Kami turunkan wahyu, dan [dengan demikian memberikan kepada kalian] suatu neraca [untuk menimbang kebenaran dan kesalahan], sehingga manusia dapat berperilaku dengan adil; dan Kami turunkan [kepada kalian kemampuan untuk mempergunakan] besi, yang di dalamnya terdapat kekuatan yang dahsyat serta [sumber] manfaat bagi manusia:42 dan [semua ini diberikan kepada kalian] agar Allah dapat menandai siapa orang yang akan berjuang demi Dia dan rasul-rasul-Nya;43 walaupun Dia [Sendiri] berada di luar jangkauan persepsi manusia.44

Sungguh, Allah Mahadigdaya, Mahaperkasa!


41 Lit., “bersama mereka”.

42 Seiring dengan penganugerahan kemampuan kepada manusia untuk memilah antara yang benar dan yang salah (yang merupakan tujuan utama dari semua wahyu Ilahi), Allah juga telah menganugerahi manusia kemampuan untuk mengolah sumber daya alam yang ada dalam lingkungan buminya sesuai dengan kebutuhannya. Simbol yang menonjol bagi kemampuan manusia ini adalah  keterampilannya dalam membuat perkakas, suatu keterampilan yang unik di antara semua makhluk hidup lainnya; dan bahan dasar untuk membuat semua peralatan—dan, tentunya, untuk semua jenis teknologi manusia—adalah besi, logam yang terdapat di bumi dalam jumlah yang melimpah, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang menguntungkan maupun merugikan. “Kekuatan dahsyat” (ba’s syadid) yang terdapat dalam besi tampak bukan saja dalam pembuatan senjata untuk perang, melainkan juga, secara lebih subtil, dalam kecenderungan manusia yang terus bertambah untuk mengembangkan teknologi mutakhir yang kian lama kian rumit, yang menempatkan mesin sebagai medan utama dari segenap eksistensi manusia dan yang, melalui sifat dinamis yang melekat pada mesin ini—yang nyaris tidak dapat dibendung—perlahan-lahan menjauhkan manusia dari keterkaitannya dengan alam. Proses mekanisasi yang terus berkembang ini, yang sangat nyata terlihat dalam kehidupan modern kita, sangat membahayakan struktur dasar masyarakat manusia dan, dengan demikian, ikut berperan dalam mengikis secara berangsur-angsur seluruh pemahaman moral dan spiritual, yang dilambangk:an dengan “petunjuk Ilahi”. Dalam rangka mengingatkan manusia akan bahaya inilah, Al-Quran menekankan—secara simbolis dan metonimia—potensi buruk (ba’s) “besi” jika ia disalahgunakan: dengan kata lain, Al-Quran mengingatkan terhadap bahaya yang timbul dari tindakan manusia dalam membiarkan kecerdikannya dalam bidang teknologi berkembang secara liar sehingga menutupi kesadaran spiritualnya dan, pada akhirnya, menghancurkan segala kemungkinan untuk meraih kebahagiaan individu dan sosial.

43 Lit., “mereka yang menolong-Nya dan para rasul-Nya”, yakni, orang-orang yang selalu siap sedia demi Allah dan para rasul-Nya. Artinya, hanya orang yang memanfaatkan anugerah materiel dan spiritual dari Allah dengan sebaik-baiknyalah yang dapat disebut sebagai “orang-orang beriman sejati”.

44 Lihat catatan no. 3 pada Surah Al-Baqarah [2]: 3.


Surah Al-Hadid Ayat 26

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ ۖ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

wa laqad arsalnā nụḥaw wa ibrāhīma wa ja’alnā fī żurriyyatihiman-nubuwwata wal-kitāba fa min-hum muhtad, wa kaṡīrum min-hum fāsiqụn

26. Dan, sungguh, [untuk tujuan yang sama,45] Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim [sebagai pengemban pesan-pesan Kami], dan memberikan kenabian dan wahyu di antara keturunannya; dan sebagian dari mereka berada pada jalan yang benar, tetapi banyak yang fasik.


45 Yakni, untuk memberikan kepada manusia suatu neraca guna menimbang yang baik dan yang buruk, sehingga memungkinkannya bertindak adil (lihat ayat sebelumnya).


Surah Al-Hadid Ayat 27

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

ṡumma qaffainā ‘alā āṡārihim birusulinā wa qaffainā bi’īsabni maryama wa ātaināhul-injīla wa ja’alnā fī qulụbillażīnattaba’ụhu ra`fataw wa raḥmah, wa rahbāniyyatanibtada’ụhā mā katabnāhā ‘alaihim illabtigā`a riḍwānillāhi fa mā ra’auhā ḥaqqa ri’āyatihā, fa ātainallażīna āmanụ min-hum ajrahum, wa kaṡīrum min-hum fāsiqụn

27. Dan kemudian, Kami jadikan rasul-rasul Kami [yang lainnya] mengikuti jejak langkah mereka; dan [seiring berjalannya waktu,] Kami jadikan mereka diikuti oleh Isa putra Maryam, yang kepadanya Kami berikan Injil;46 dan di dalam hati mereka yang [benar-benar] mengikutinya, Kami timbulkan rasa cinta dan belas kasih. Adapun mengenai asketisme kebiaraan47—Kami tidak memerintahkan hal itu kepada mereka: mereka mengadakannya sendiri karena ingin mendapatkan ridha Allah.48 Namun kemudian, mereka tidak [selalu] menjalankannya sebagaimana seharusnya ia dijalankan:49 maka, kepada orang-orang di antara mereka yang telah [benar-benar] meraih iman, Kami berikan imbalan mereka; sedangkan banyak dari mereka yang menjadi fasik.50


46 Lihat Surah Alu ‘Imran [3], catatan no. 4.

47 Istilah rahbaniyyah menggabungkan konsep antara kehidupan biara dan asketisme yang berlebih-lebihan, yang seringkali bermuara pada penyangkalan terhadap nilai kehidupan dunia—suatu sikap yang merupakan ciri khas umat Nasrani pada masa-masa awal, namun ditolak oleh Islam (bdk. Surah Al-Baqarah [2]: 143—”Kami telah menetapkan kalian menjadi umat pertengahan”—dan catatan no. 118 yang terkait).

48 Atau: “mereka mengada-adakannya sendiri, [sebab] Kami tidak memerintahkannya kepada mereka: [yang Kami perintahkan kepada mereka] hanyalah mencari perkenan/ridha Allah”. Kedua penafsiran ini sama-sama benar, dan diterima oleh kebanyakan mufasir klasik. Terjemahan yang saya pilih di atas berkaitan dengan penafsiran yang dikemukakan oleh Sa’id ibn Jubair dan Qatadah (yang keduanya dikutip oleh Al-Thabari dan Ibn Katsir).

49 Yakni, tidak semua orang di antara mereka menjalankannya dengan semangat yang benar (Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Ibn Katsir), karena seiring dengan berjalannya waktu, banyak dari antara mereka—atau, lebih tepatnya, banyak di antara orang-orang yang hidup setelah masa-masa para asketik awal itu (Al-Thabari)—menyelewengkan ibadah mereka dengan menerima konsep Trinitas dan penjelmaan Tuhan ke dalam diri Yesus, dan secara berangsur-angsur terjerumus ke dalam formalisme hampa (Al-Razi).

50 Yakni, secara tersirat, “dan tercerabut dari rahmat Kami”.


Surah Al-Hadid Ayat 28

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wa āminụ birasụlihī yu`tikum kiflaini mir raḥmatihī wa yaj’al lakum nụran tamsyụna bihī wa yagfir lakum, wallāhu gafụrur raḥīm

28. WAHAI, KALIAN yang telah meraih iman!51 Tetaplah sadar akan Allah, dan berimanlah kepada Rasul-Nya, [dan] Dia akan memberikan kepada kalian rahmat-Nya dua kali lipat, dan akan menerangi kalian dengan cahaya yang di dalamnya kalian akan berjalan, dan akan mengampuni [dosa-dosa] kalian [yang lalu]: sebab, Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.


51 Sebagaimana yang tersurat pada pasase sebelumnya serta pada ayat 29, orang-orang yang dimaksud di sini adalah para penganut wahyu terdahulu (ahlul kitab) dan khususnya para pengikut sejati Nabi Isa, yakni kaum Unitarian. {Kaum Unitarian ini adalah golongan dalam agama Nasrani yang memercayai keesaan Tuhan secara murni, berbeda dengan kaum Trinitarian yang memercayai Tuhan yang terdiri atas tiga oknum; bdk. catatan no. 15 dalam Surah As-Saff [61]—peny.}


Surah Al-Hadid Ayat 29

لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

li`allā ya’lama ahlul-kitābi allā yaqdirụna ‘alā syai`im min faḍlillāhi wa annal-faḍla biyadillāhi yu`tīhi may yasyā`, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

29. Dan, para penganut wahyu terdahulu hendaknya mengetahui52 bahwa mereka tidak sedikitpun berkuasa atas karunia Allah yang mana pun,53 mengingat bahwa semua karunia ada di tangan Allah [semata]: Dia menganugerahkannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki—sebab, Allah memiliki karunia yang melimpah tak terhingga.


52 Lit., “agar para penganut wahyu terdahulu [yakni, Bibel] mengetahui”.

53 Yakni, bahwa mereka tidak memiliki klaim khusus terhadap apa pun di antara karunia Allah—dalam konteks ayat ini, yang dimaksud dengan karunia Allah adalah penganugerahan wahyu dari Allah. Kalimat ini pertama-tama ditujukan kepada kaum Yahudi, yang menyangkal wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. karena berkeyakinan bahwa tugas kenabian merupakan “wilayah” eksklusif bagi keturunan Israil; ini juga ditujukan kepada umat Nasrani yang, sebagai pengikut Injil, secara implisit menerima klaim yang tidak berdasar ini.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top