25. Al-Furqan (Patokan Benar dan Salah) – الفرقان

Surat Al-Furqan dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Furqan ( الفرقان ) merupakan surat ke 25 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 77 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Furqan tergolong Surat Makkiyah.

Sedikit saja keraguan bahwa Surah Al-Furqan ini termasuk dalam kelompok pertengahan dari wahyu-wahyu Makkah, dan bahwa surah ini hampir bersamaan turunnya dengan Surah Maryam (yang secara kronologi dapat diletakkan pada tahun kelima atau pada permulaan tahun keenam misi kenabian).

Nama Al-Furqan, yang dengan nama inilah surah ini selalu dikenal, secara ringkas dan padat membatasi tema utama surah ini, yaitu: pernyataan bahwa tujuan hakiki setiap wahyu Ilahi adalah untuk memberikan kepada manusia suatu standar baku tentang kebenaran dan kebatilan atau mana yang betul dan mana yang salah, dan dengan demikian, memberikan standar tentang penilaian moral yang mengikat individu dan masyarakat. Sejalan dengan proposisi ini adalah penekanan bahwa setiap rasul yang diutus Allah kepada manusia adalah manusia biasa (ayat 20), dalam rangka membantah argumen batil yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah wahyu Allah karena Nabi Muhammad Saw hanyalah seorang manusia biasa yang juga memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik yang sama dengan manusia atau makhluk lainnya dan juga melakukan seluruh aktivitas manusia normal (ayat 7-8).

Secara tersirat, diperlihatkan bahwa baik pewahyuan kitab Ilahi maupun semua fenomena alam yang dapat dilihat, keduanya sama-sama merupakan bagian dari tatanan agung aktivitas penciptaan yang dilakukan oleh Allah (lihat misalnya ayat 2, 45-54, 61-62, dan lain-lain). Namun, manusia tidak mudah untuk menerima petunjuk Ilahi ini, karenanya, pada Hari Pengadilan, Rasul sendiri akan menunjukkan bahwa banyak dari pengikut-pengikutnya telah “memandang Al-Qur’an ini sebagai sesuatu [yang seharusnya] dicampakkan!” (ayat 30): sebuah pernyataan yang memiliki signifikansi khusus pada masa kita.

Daftar Isi

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Furqan Ayat 1

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

tabārakallażī nazzalal-furqāna ‘alā ‘abdihī liyakụna lil-‘ālamīna nażīrā

1. MAHA SUCI Dia, yang dengan berangsur-angsur telah menurunkan kepada hamba-Nya patokan, yang dengannya dibedakan yang benar dari yang salah1 agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam:


1 Hampir semua mufasir memberikan arti seperti ini untuk istilah Al-Furqan. Dalam konteks di atas, istilah ini berarti Al-Quran dan juga fenomena wahyu Ilahi itu sendiri. (Untuk penafsiran yang lebih terperinci atas istilah ini yang dikemukakan oleh Muhammad ‘Abduh, lihat catatan no. 38 pada Surah Al-Baqarah [2]: 53.) Bentuk verba nazzala menyiratkan keberangsur-angsuran, baik dari segi waktu (“berturut-turut”) maupun dari segi metode (“setahap demi setahap”).


Surah Al-Furqan Ayat 2

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

allażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍi wa lam yattakhiż waladaw wa lam yakul lahụ syarīkun fil-mulki wa khalaqa kulla syai`in fa qaddarahụ taqdīrā

2. Dia, yang kepunyaan-Nya-lah kekuasaan atas lelangit dan bumi, yang tidak mempunyai keturunan,2 dan yang tidak memiliki sekutu dalam kekuasaan-Nya: sebab, Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan sifat-dasarnya sesuai dengan rancangan[-Nya sendiri].3


2 Lihat catatan no. 133 pada Surah Al-Isra’ [17]: 111.

3 Yakni, sesuai dengan fungsi yang ditetapkan oleh-Nya terhadap setiap benda atau fenomena tertentu: bdk. rumusan yang paling awal dari gagasan ini, yang terdapat dalam Surah Al-A’la [87]: 2-3.


Surah Al-Furqan Ayat 3

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

wattakhażụ min dụnihī ālihatal lā yakhluqụna syai`aw wa hum yukhlaqụna wa lā yamlikụna li`anfusihim ḍarraw wa lā naf’aw wa lā yamlikụna mautaw wa lā ḥayātaw wa lā nusyụrā

3. Sungguhpun begitu, beberapa orang memilih untuk menyembah, alih-alih Dia, tuhan-tuhan [khayali] yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun melainkan mereka sendiri diciptakan,4 dan tidak memiliki kekuatan untuk mencegah kemudaratan dari, atau membawa manfaat pada, diri mereka sendiri, dan tidak memiliki kekuasaan terhadap kematian, tidak pula terhadap kehidupan, dan tidak pula terhadap kebangkitan!


4 Yakni, apakah mereka merupakan “representasi-representasi” tak bernyawa dari tuhan-tuhan khayali, atau kekuatan alam yang diwujudkan melalui sosok tertentu, atau manusia yang dipertuhankan, ataupun sekadar hasil rekaan khayal.


Surah Al-Furqan Ayat 4

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

wa qālallażīna kafarū in hāżā illā ifkuniftarāhu wa a’ānahụ ‘alaihi qaumun ākharụn, fa qad jā`ụ ẓulmaw wa zụrā

4. Selanjutnya, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran biasa berkata, “[Al-Quran] ini tiada lain hanyalah sebuah kebohongan yang telah dia rencanakan [sendiri] dengan bantuan orang-orang lain,5 yang kemudian telah menyelewengkan kebenaran dan mengadakan dusta.”6


5 Secara tidak langsung menyatakan bahwa Al-Quran, atau sebagian besar isinya, didasarkan pada ajaran Yahudi-Kristiani yang diduga diberitahukan kepada Nabi Muhammad Saw. oleh sejumlah orang asing yang tidak diketahui identitasnya (bdk. Surah An-Nahl [16]: 103 dan catatan-catatannya, khususnya no. 130); atau, alternatif lain, bahwa ia diberitahukan oleh berbagai orang Arab yang memeluk agama Yahudi dan Kristen; atau, lebih lanjut, bahwa Nabi Muhammad Saw. telah menipu dirinya sendiri hingga meyakini bahwa Al-Quran benar-benar merupakan wahyu Ilahi atau, kalaupun tidak demikian, dia dengan sengaja menyatakan Al-Quran berasal dari Allah, walaupun dia mengetahui bahwa bukan demikianlah yang sebenarnya.

6 Lit., “dan, dengan demikian, mereka benar-benar telah datang dengan [atau ‘membawa’] penyelewengan terhadap kebenaran” [yang jelas-jelas merupakan makna kata zhulm dalam konteks ini] “dan dusta”. Sementara secara umum diasumsikan bahwa klausa ini merupakan bantahan Al-Quran terhadap tuduhan penuh kebencian yang diungkapkan dalam klausa sebelumnya, saya berpendapat bahwa klausa itu justru merupakan sebagian dari tuduhan itu sehingga menjadikan “penolong-penolong” khayal Nabi Muhammad Saw. ikut bertanggung jawab, demikianlah kira-kira, terhadap “pembuatan” Al-Quran.


Surah Al-Furqan Ayat 5

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

wa qālū asāṭīrul-awwalīnaktatabahā fa hiya tumlā ‘alaihi bukrataw wa aṣīlā

5. Dan, mereka berkata, “Dongeng-dongeng zaman dahulu yang telah dia minta agar dituliskan7 supaya dongeng-dongeng itu dibacakan untuknya pada pagi dan petang!”


7 Karena diketahui oleh orang-orang pada masanya bahwa dia adalah seorang yang buta huruf (ummi) dan tidak dapat membaca dan menulis.


Surah Al-Furqan Ayat 6

قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

qul anzalahullażī ya’lamus-sirra fis-samāwāti wal-arḍ, innahụ kāna gafụrar-raḥīmā

6. Katakanlah [wahai Muhammad]: “Dia, yang mengetahui segala rahasia lelangit dan bumi, telah menurunkan [Al-Quran] ini [kepadaku]! Sungguh, Dia Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat!”


Surah Al-Furqan Ayat 7

وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا

wa qālụ mā lihāżar-rasụli ya`kuluṭ-ṭa’āma wa yamsyī fil-aswāq, lau lā unzila ilaihi malakun fa yakụna ma’ahụ nażīrā

7. Namun, mereka berkata, “Rasul macam apakah [orang] ini yang memakan makanan [seperti semua manusia lainnya] dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat [yang dapat dilihat] untuk bertindak sebagai pemberi peringatan bersama dengannya?”


Surah Al-Furqan Ayat 8

أَوْ يُلْقَىٰ إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا ۚ وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

au yulqā ilaihi kanzun au takụnu lahụ jannatuy ya`kulu min-hā, wa qālaẓ-ẓālimụna in tattabi’ụna illā rajulam mas-ḥụrā

8. Atau: “[Mengapa tidak] diberikan kepadanya perbendaharaan harta [oleh Allah]?” Atau: “[Paling tidak,] dia seharusnya memiliki kebun [yang melimpah] agar dia dapat makan darinya [tanpa berusaha]!”8

Dan demikianlah orang-orang zalim ini* [saling] berkata, “Jika kalian mengikuti [Muhammad, kalian tidak akan mengikuti] kecuali seorang lelaki yang tersihir!”


8 Sebuah sindiran sarkastis terhadap “taman-taman surga” yang sering dibicarakan Al-Quran. (Bdk. Surah Ar-Ra’d [13]: 38 dan catatan no. 74 dan no. 75 yang terkait; juga Surah Al-Ma’idah [5]: 75 dan Surah Al-Anbiya’ [21]: 7-8.)

* {al-zhalimuna, these evildoers: para pelaku kejahatan—peny.}


Surah Al-Furqan Ayat 9

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

unẓur kaifa ḍarabụ lakal-amṡāla fa ḍallụ fa lā yastaṭī’ụna sabīlā

9. Lihatlah, dengan apa mereka mempersamakanmu [wahai Nabi, hanya] karena mereka telah tersesat dan kini tidak mampu menemukan jalan [menuju kebenaran]!


Surah Al-Furqan Ayat 10

تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَٰلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا

tabārakallażī in syā`a ja’ala laka khairam min żālika jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru wa yaj’al laka quṣụrā

10. Mahasuci Dia yang, jika Dia menghendaki, akan memberimu sesuatu yang lebih baik daripada [apa yang mereka bicarakan] itu—taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai—dan akan memberikan kepadamu istana-istana [kebahagiaan dalam kehidupan akhirat].


Surah Al-Furqan Ayat 11

بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا

bal każżabụ bis-sā’ati wa a’tadnā limang każżaba bis-sā’ati sa’īrā

11. Namun, tidak! [Justru kedatangan] Saat Terakhir itulah yang mereka dustakan! Bagaimanapun, bagi orang-orang yang mendustakan [pemberitaan tentang] Saar Terakhir, Kami telah menyiapkan nyala api yang berkobar:


Surah Al-Furqan Ayat 12

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا

iżā ra`at-hum mim makānim ba’īdin sami’ụ lahā tagayyuẓaw wa zafīrā

12. ketika ia menghadap kepada mereka dari kejauhan,9 mereka akan mendengar raungan murkanya dan suara nyalanya;


9 Lit., “ketika ia (nyala api yang berkobar itu) akan melihat rnereka dari tempat yang jauh”: tarnpaknya, hal ini merupakan alusi metaforis terhadap saat-saat kematian mereka di bumi sebagaimana dalam banyak contoh lain, di sini kita disuguhi dengan suatu isyarat verbal yang halus tentang watak alegoris deskripsi-deskripsi Al-Quran mengenai keadaan dan suasana kehidupan akhirat, yang secara retoris “mempertukarkan” daya penglihatan manusia dengan objek penglihatannya: sebuah penggunaan ungkapan yang oleh Al-Zamakhsyari digolongkan secara eksplisit sebagai metafora (‘ala sabil al-majaz).


Surah Al-Furqan Ayat 13

وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا

wa iżā ulqụ min-hā makānan ḍayyiqam muqarranīna da’au hunālika ṡubụrā

13. dan ketika mereka dilemparkan ke dalam tempat yang sempit, dengan dirantai [semua] bersama-sama, mereka akan memohon kebinasaan saat itu juga!10


10 Untuk penjelasan tentatif tentang alegori keadaan para pendosa yang “dirantai bersama” di neraka, lihat catatan no. 64 pada Surah Ibrahim [14]: 49. Adapun mengenai “tempat yang sempit”, tempat mereka akan dilemparkan, Al-Zamakhsyari berkata, “Penderitaan disertai dengan [perasaan] sesak, sebagaimana kebahagiaan disertai dengan [perasaan] lapang; dan, karena ini, Allah menggambarkan surga sebagai ‘seluas lelangit dan bumi’ [Surah Al-‘Imran [3]: 133].”


Surah Al-Furqan Ayat 14

لَا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا

lā tad’ul-yauma ṡubụraw wāḥidaw wad’ụ ṡubụrang kaṡīrā

14. [Namun, akan dikatakan kepada mereka:] “Janganlah memohon satu kebinasaan pada hari ini, tetapi mohonlah kebinasaan yang banyak!”11


11 Walaupun konsep “kebinasaan” (tsubur) mengisyaratkan ketuntasan dan, karena itu, tidak dapat diulang, doa para pendosa yang mengharapkan “banyak kebinasaan” di sini digunakan sebagai metonimia terhadap derita yang tak terbayangkan yang akan mereka alami serta, sehubungan dengan itu, keinginan yang juga tak terbayangkan untuk dapat lolos dari penderitaan tersebut.


Surah Al-Furqan Ayat 15

قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

qul a żālika khairun am jannatul-khuldillatī wu’idal-muttaqụn, kānat lahum jazā`aw wa maṣīrā

15. Katakanlah: “Manakah yang lebih baik—hal itu atau surga kehidupan yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang sadar akan Allah sebagai balasan untuk mereka dan akhir perjalanan mereka—


Surah Al-Furqan Ayat 16

لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ خَالِدِينَ ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعْدًا مَسْئُولًا

lahum fīhā mā yasyā`ụna khālidīn, kāna ‘alā rabbika wa’dam mas`ụlā

16. di dalam [surga] itu, mereka akan mendapati segala yang mungkin mereka kehendaki, di dalamnya mereka berkediaman—sebuah janji yang diberikan oleh Pemeliharamu, [yang selalu] dimohonkan?”


Surah Al-Furqan Ayat 17

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَٰؤُلَاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ

wa yauma yaḥsyuruhum wa mā ya’budụna min dụnillāhi fa yaqụlu a antum aḍlaltum ‘ibādī hā`ulā`i am hum ḍallus-sabīl

17. AKAN TETAPI, [adapun orang-orang yang lupa akan keesaan Pemeliharamu12—] suatu Hari, Dia akan mengumpulkan mereka bersama dengan semua yang [kini] mereka sembah selain Allah, dan akan bertanya [kepada mereka yang secara keliru telah dinisbahi dengan ketuhanan13]: “Apakah kalian yang menyesatkan makhluk-makhluk-Ku ini atau apakah mereka sendiri yang sesat dari jalan yang benar?”


12 Bagian ini secara eliptis berkaitan dengan ayat 3.

13 “Pertanyaan” retorik selanjutnya jelas-jelas ditujukan kepada makhluk berakal yang secara keliru dipertuhankan (yakni para nabi atau wali) dan bukan, seperti yang diasumsikan oleh sebagian mufasir, ditujukan kepada berhala-berhala yang tak-bernyawa yang “akan dibuat berbicara”.


Surah Al-Furqan Ayat 18

قَالُوا سُبْحَانَكَ مَا كَانَ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَّخِذَ مِنْ دُونِكَ مِنْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنْ مَتَّعْتَهُمْ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ نَسُوا الذِّكْرَ وَكَانُوا قَوْمًا بُورًا

qālụ sub-ḥānaka mā kāna yambagī lanā an nattakhiża min dụnika min auliyā`a wa lākim matta’tahum wa ābā`ahum ḥattā nasuż-żikr, wa kānụ qaumam bụrā

18. Mereka akan menjawab, “Maha Tak Terhingga Kemuliaan-Mu! Mustahil bagi kami mengambil siapa pun, selain Engkau sendiri, sebagai tuan penguasa kami!14 Namun, [adapun mereka—] Engkau telah membiarkan mereka dan nenek moyang mereka menikmati [kesenangan] hidup sampai batas tertentu sehingga15 mereka melupakan semua ingatan [akan Engkau]: sebab, mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan.”


14 Yakni, “dengan demikian, secara moral mustahil bagi kami untuk menyuruh mereka agar menyembah kami”. Di sisi lain, Ibn Katsir memahami ungkapan “bagi kami” (lana) sebagai “kami manusia” pada umumnya, dan bukan hanya orang yang berbicara itu—yang, dalam hal demikian, kalimat di atas dapat diterjemahkan menjadi: “tidak benar bagi kami [manusia] untuk mengambil …” dst. Mana pun dari kedua pengertian itu yang benar, “tanya-jawab” alegoris di atas—yang diulang dengan berbagai variasinya sepanjang Al-Quran—dimaksudkan untuk menekankan, secara dramatis, bahwa tindakan menisbahkan ketuhanan kepada wujud apa pun selain Allah merupakan suatu hal yang menjijikkan secara moral, dan kosong nilainya secara intelektual.

15 Inilah arti hatta (lit., “sampai” atau “hingga”) dalam konteks ini.


Surah Al-Furqan Ayat 19

فَقَدْ كَذَّبُوكُمْ بِمَا تَقُولُونَ فَمَا تَسْتَطِيعُونَ صَرْفًا وَلَا نَصْرًا ۚ وَمَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيرًا

fa qad każżabụkum bimā taqụlụna fa mā tastaṭī’ụna ṣarfaw wa lā naṣrā, wa may yaẓlim mingkum nużiq-hu ‘ażābang kabīrā

19. [Kemudian, Allah akan berfirman,] “Dan kini, mereka [yang kalian anggap Ilahi] telah mendustakan semua pernyataan [masa lalu] kalian, dan kalian tidak dapat menghindari [hukuman kalian], tidak pula mendapatkan pertolongan apa pun! Karena, siapa pun di antara kalian yang telah berbuat zalim [semacam itu], akan Kami jadikan dia merasakan derita yang besar!”


Surah Al-Furqan Ayat 20

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

wa mā arsalnā qablaka minal-mursalīna illā innahum laya`kulụnaṭ-ṭa’āma wa yamsyụna fil-aswāq, wa ja’alnā ba’ḍakum liba’ḍin fitnah, a taṣbirụn, wa kāna rabbuka baṣīrā

20. DAN [bahkan] sebelum engkau, [wahai Muhammad,] Kami tidak pernah mengutus sebagai rasul Kami kecuali [manusia biasa,] yang benar-benar memakan makanan [seperti manusia lainnya] dan berjalan di pasar-pasar: sebab, [dengan begitulah] Kami jadikan kalian [wahai manusia] sebagai sarana ujian satu sama lain.16

Apakah kalian17 mampu menempuh [ujian ini] dengan sabar? Karena [ingatlah, wahai manusia,] Pemeliharamu Maha Melihat!


16 Tidak diragukan lagi, bagian eliptis ini menyinggung fakta bahwa munculnya setiap nabi baru, biasanya, mempunyai dua tujuan: pertama, untuk menyampaikan kepada manusia suatu pesan etis yang bersumber dari wahyu-Ilahi, sehingga dapat menetapkan suatu kriteria tentang betul dan salah, atau sebuah standar yang digunakan untuk mengenali perbedaan antara yang benar dan yang batil (al-furqan, sebagaimana tercantum dalam ayat pertama surah ini); dan, kedua, untuk menjadi sarana ujian bagi persepsi moral dan kecenderungan manusia, yang akan terlihat dari reaksi-reaksi mereka terhadap pesan sang nabi—yakni, kesediaan atau keengganan mereka untuk menerimanya berdasarkan nilai kebaikan hakiki yang dikandungnya, tanpa menuntut atau bahkan mengharapkan bukti “supernatural” apa pun untuk membuktikan bahwa ia memang berasal dari Allah. Secara tidak langsung, dalam pengertiannya yang terdalam, bagian ini mengisyaratkan bahwa bukan hanya nabi, melainkan juga setiap manusia, berkat eksistensi sosialnya, adalah sarana untuk menguji kualitas-kualitas moral sesamanya: karena itu, beberapa mufasir awal (di antaranya Al-Thabari) mengartikan frasa di atas menjadi: “Kami menjadikan kalian, manusia, untuk menjadi sarana ujian bagi satu sama lain”.

17 Yakni, “kalian umat manusia” atau lebih khusus, “kalian yang telah terjangkau oleh pesan-pesan Al-Quran”.


Surah Al-Furqan Ayat 21

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا

wa qālallażīna lā yarjụna liqā`anā lau lā unzila ‘alainal-malā`ikatu au narā rabbanā, laqadistakbarụ fī anfusihim wa ‘atau ‘utuwwang kabīrā

21. Namun, orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bertemu dengan Kami18 biasa berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepada kami malaikat-malaikat?”—atau, “Mengapa kami tidak melihat Pemelihara kami?”

Sesungguhnya, mereka terlalu bangga terhadap diri mereka sendiri, telah durhaka [melawan kebenaran dari Allah] dengan penghinaan yang sangat!


18 Lit., “yang tidak mengharapkan [yakni menduga] pertemuan dengan Kami”: implikasinya adalah bahwa mereka tidak beriman pada kebangkitan dan, karena itu, tidak menduga akan diadili oleh Allah di akhirat.


Surah Al-Furqan Ayat 22

يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلَائِكَةَ لَا بُشْرَىٰ يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا

yauma yaraunal-malā`ikata lā busyrā yauma`iżil lil-mujrimīna wa yaqụlụna ḥijram maḥjụrā

22. [Namun,] pada Hari itu—Hari ketika mereka akan melihat malaikat-malaikat19—tidak akan ada kabar gembira bagi orang-orang yang tenggelam dalam dosa; dan mereka akan berseru, “Oleh suatu rintangan yang mencegah [kami terhalang dari rahmat Allah]!”—


19 Yakni, pada Hari Pengadilan, ketika “segalanya pasti telah diputuskan” (bdk. Surah Al-An’am [6]: 8).


Surah Al-Furqan Ayat 23

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

wa qadimnā ilā mā ‘amilụ min ‘amalin fa ja’alnāhu habā`am manṡụrā

23. sebab, Kami akan berbalik menuju semua perbuatan [yang dianggap baik] yang mereka kerjakan, dan akan mengubah perbuatan-perbuatan itu menjadi debu yang bertebaran—


Surah Al-Furqan Ayat 24

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا

aṣ-ḥābul-jannati yauma`iżin khairum mustaqarraw wa aḥsanu maqīlā

24. [sementara] pada Hari yang sama, orang-orang yang ditakdirk.an untuk (memasuki) surga akan dimuliakan dengan sebaik-baik kediaman dan seelok-elok tempat istirahat.20


20 Lit., “akan menjadi yang paling bahagia dalam hal kediaman mereka dan yang paling baik dalam hal tempat beristirahat mereka”.


Surah Al-Furqan Ayat 25

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنْزِيلًا

wa yauma tasyaqqaqus-samā`u bil-gamāmi wa nuzzilal-malā`ikatu tanzīlā

25. Dan, pada Hari ketika langit, bersama dengan awan-awan, hancur berkeping-keping, dan malaikat-malaikat diturunkan dengan suatu penurunan yang hebat—


Surah Al-Furqan Ayat 26

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ ۚ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا

al-mulku yauma`iżinil-ḥaqqu lir-raḥmān, wa kāna yauman ‘alal-kāfirīna ‘asīrā

26. pada Hari itu, [akan menjadi jelas bagi semua bahwa] kedaulatan sejati [hanyalah] milik Yang Maha Pengasih: karenanya, Hari itu akan menjadi hari yang penuh kesukaran bagi semua yang mengingkari kebenaran


Surah Al-Furqan Ayat 27

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

wa yauma ya’aḍḍuẓ-ẓālimu ‘alā yadaihi yaqụlu yā laitanittakhażtu ma’ar-rasụli sabīlā

27. dan suatu Hari yang padanya orang zalim akan menggigit dua tangannya [dengan putus asa], seraya berseru, “Duhai, sekiranya aku mengikuti jalan yang ditunjukkan kepadaku oleh rasul!21


21 Lit., “mengambil suatu jalan bersama rasul”. Istilah “rasul” dan “orang zalim” di sini jelas-jelas dipakai dalam pengertian umum, yang berlaku untuk semua rasul Allah dan semua orang yang secara sadar menolak petunjuk mereka. Demikian pula, ungkapan “si fulan” (fulan) yang terdapat dalam ayat berikutnya mencakup orang mana pun atau pengaruh apa pun yang dipersonifikasi, yang bertanggung jawab atas sesatnya manusia.


Surah Al-Furqan Ayat 28

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

yā wailatā laitanī lam attakhiż fulānan khalīlā

28. Duhai, celaka aku! Sekiranya aku tidak menjadikan si fulan sebagai sahabat!


Surah Al-Furqan Ayat 29

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

laqad aḍallanī ‘aniż-żikri ba’da iż jā`anī, wa kānasy-syaiṭānu lil-insāni khażụlā

29. Sesungguhnya, dia menyesatkan aku dari ingatan [akan Allah] setelah ingatan itu datang kepadaku!”

Karena [demikianlah:] setan selalu merupakan pengkhianat manusia.22


22 Untuk implikasi istilah “setan” sebagaimana yang dipakai di sini, lihat catatan no. 10 pada Surah Al-Baqarah [2]: 14, paruh pertama catatan no. 16 pada Surah Al-Hijr [15]: 17, serta catatan no. 31 pada Surah Ibrahim [14]: 22.


Surah Al-Furqan Ayat 30

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

wa qālar-rasụlu yā rabbi inna qaumittakhażụ hāżal-qur`āna mahjụrā

30. DAN, [pada Hari itu] Rasul akan berkata,23 “Wahai, Pemeliharaku! Perhatikanlah, [sebagian dari] kaumku telah memandaag, Al-Quran ini sebagai sesuatu yang [seharusnya] dicampakkan!”24


23 Sisipan “pada Hari itu” dan diubahnya dimensi waktu dalam verba “[dia] telah berkata” (qala) menjadi “[dia] akan berkata” (yang secara linguistik diperbolehkan) didasarkan pada penafsiran yang sama terhadap frasa di atas yang dikemukakan oleh mufasir-mufasir besar seperti Abu Muslim (sebagaimana dikutip oleh Al-Razi) atau Al-Baghawi.

24 Yakni, sebagai angan-angan kosong belaka dan, karenanya, tidak bernilai, atau sebagai sesuatu yang, seiring dengan perjalanan waktu, sudah “tidak relevan lagi”. Karena banyak di antara orang-orang yang telah terjangkau oleh pesan Al-Quran ini, baik dahulu maupun kini, menganggapnya sebagai wahyu Ilahi dan, karenanya, meyakininya sebagai paling “relevan”—dalam segala pengertian kata ini—jelaslah bahwa ungkapan “kaumku” di sini tidak mungkin menunjuk pada semua umat Nabi (baik dalam pengertian kebangsaan ataupun ideologis dari kata ini), tetapi mengacu hanya pada sebagian orang saja dari umat Nabi, yang telah kehilangan seluruh keimanan sejati mereka akan pesan Al-Quran {nominal followers: namanya saja yang masih Islam, tetapi hatinya sudah tidak lagi beriman—peny.}: karena itu, kata-kata “sebagian dari” (yang tersirat secara eliptis) perlu disisipkan sebelum kata “kaumku”.


Surah Al-Furqan Ayat 31

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

wa każālika ja’alnā likulli nabiyyin ‘aduwwam minal-mujrimīn, wa kafā birabbika hādiyaw wa naṣīrā

31. Karena demikianlah, terhadap setiap nabi telah Kami adakan musuh-musuh dari kalangan orang-orang yang tenggelam dalam dosa:25 namun, tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk dan memberi pertolongan sebagaimana Pemeliharamu!


25 Bdk. Surah Al-An’am [6]: 112, yang dengan istilah-istilah yang serupa mengacu pada kekuatan-kekuatan jahat (syayathin) yang harus dilawan oleh setiap nabi. “Kebenaran-kebenaran semu nan indah kemilau, yang dimaksudkan untuk memperdaya pikiran” yang dibicarakan dalam ayat Surah Al-An’am itu kemudian diberikan contohnya dalam ayat di surah ini, secara profetik, yakni berupa argumen yang memperdaya, bahwa karena diturunkan sejak empat belas abad yang lalu, kini Al-Quran mestilah dianggap “usang”.


Surah Al-Furqan Ayat 32

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

wa qālallażīna kafarụ lau lā nuzzila ‘alaihil-qur`ānu jumlataw wāḥidah, każālika linuṡabbita bihī fu`ādaka wa rattalnāhu tartīlā

32. Dan, mereka yang berkukuh mengingkari kebenaran biasa bertanya, “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya sekaligus?”26

[Al-Quran telah diwahyukan] dengan cara ini agar Kami dapat memperkuat hatimu dengannya—sebab, Kami telah menyusun bagian-bagiannya sedemikian rupa sehingga bagian-bagian itu membentuk satu kesatuan yang serasi27


26 Lit., “dalam satu satuan {utuh}” atau “sebagai satu pernyataan”(jumlatan wahidatan)-yang, dalam pandangan para penentang Islam, mengisyaratkan bahwa pewahyuan Al-Quran secara berangsur-angsur dan setahap demi setahap menunjukkan bahwa Nabi Muhammad “mengarang”-nya untuk disesuaikan seiring dengan perubahan tuntutan pribadi dan politiknya.

27 Yakni, bebas dari segala pertentangan internal (bdk. Surah An-Nisa’ [4]: 82). Lihat juga Surah Az-Zumar [39]: 23 yang di dalamnya Al-Quran disebut sebagai “serasi sepenuhnya dalam dirinya sendiri”. Frasa rattalnahu tartilan yang padat ini mencakup dua konsep yang paralel, yakni “menyusun bagian-bagian unsur [sesuatu] dan mengaturnya dengan baik” serta “memberikan keserasian internal kepadanya”. Fakta bahwa risalah ini yang diturunkan selama rentang waktu 23 tahun dalam kehidupan Nabi yang penuh dengan gejolak pergerakan dan drama sepenuhnya konsisten dan bebas dari kontradiksi di dalamnya, memberikan indikasi yang jelas bahwa ia memang merupakan wahyu Ilahi dan, karena itu, niscaya memperkuat keimanan setiap Mukmin yang berpikir: dan, di sinilah justru alasan yang paling mendasar, menurut Al-Quran sendiri, bagi diturunkannya Al-Quran secara perlahan-lahan dan bertahap. (Ketika digunakan untuk menunjuk pada pembacaan {reciting} Al-Quran itu sendiri—seperti dalam Surah Al-Muzzammil [73]: 4—istilah tartil mengacu pada tata cara membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah pembacaan yang berlaku.)


Surah Al-Furqan Ayat 33

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

wa lā ya`tụnaka bimaṡalin illā ji`nāka bil-ḥaqqi wa aḥsana tafsīrā

33. dan [agar] mereka [yang mengingkari kebenaran] tidak akan pernah bisa mencelamu dengan kebenaran semu apa pun yang memperdayakan,28 tanpa Kami telah menyampaikan kepadamu kebenaran [yang sepenuhnya] dan [memberikan kepadamu] penjelasan terbaik.29


28 Lit., “datang kepadamu dengan suatu perumpamaan (matsal)”—yakni, dengan mengemukakan segala macam bantahan melalui penggunaan perumpamaan yang tampaknya masuk akal (yang dicontohkan dalam ayat 7-8, 21, dan 32 surah ini serta dalam banyak tempat lain dalam Al-Quran) yang dimaksudkan untuk melemparkan keragu-raguan terhadap klaim kenabian Muhammad Saw. dan, karenanya, meragukan bahwa Al-Quran merupakan wahyu Ilahi.

29 Yakni, “tentang masalah atau masalah-masalah yang terkait”: hal ini secara tidak langsung berbicara mengenai sifat Al-Quran yang “sudah jelas dengan sendirinya” (mubin, self-explanatory). Di sepanjang bagian ini (ayat 30-34), kata ganti personal “engkau” (dan “mu”) berhubungan tidak hanya dengan Nabi, tetapi juga dengan setiap pengikutnya sepanjang masa.


Surah Al-Furqan Ayat 34

الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلًا

allażīna yuḥsyarụna ‘alā wujụhihim ilā jahannama ulā`ika syarrum makānaw wa aḍallu sabīlā

34. [Maka, katakanlah kepada orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran bahwa] mereka yang akan dikumpulkan ke neraka di atas wajah-wajah mereka30—mereka itulah yang [dalam kehidupan akhirat] akan paling buruk tempatnya dan bahkan lebih jauh tersesatnya dari jalan [kebenaran]!31


30 Yakni, dalam kehinaan ruhani yang sangat (menurut Al-Razi, seraya menyebutkan pula beberapa mufasir lainnya).

31 Bdk. Surah Al-Isra’ [17]: 72 dan catatan no. 87 yang terkait.


Surah Al-Furqan Ayat 35

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا

wa laqad ātainā mụsal-kitāba wa ja’alnā ma’ahū akhāhu hārụna wazīrā

35. DAN, SESUNGGUHNYA, [jauh sebelum Muhammad,] Kami telah menyampaikan wahyu kepada Musa dan menunjuk saudaranya, Harun, untuk membantu menanggung bebannya;32


32 Untuk penerjemahan istilah wazir, lihat catatan no. 18 pada Surah TaHa [20]: 29. Penyebutan Nabi Musa dan Nabi Harun pada ayat ini—serta Nabi Nuh dan sebagainya dalam ayat-ayat berikutnya—dimaksudkan untuk mengingatkan kita akan pernyataan dalam ayat 31 bahwa “terhadap setiap nabi telah Kami adakan musuh-musuh dari kalangan orang-orang yang tenggelam dalam dosa”.


Surah Al-Furqan Ayat 36

فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا

fa qulnaż-habā ilal-qaumillażīna każżabụ bi`āyātinā, fa dammarnāhum tadmīrā

36. dan Kami berfirman, “Pergilah kalian berdua kepada kaum yang telah mendustakan pesan-pesan Kami!”—dan kemudian Kami hancurkan [para pendosa] itu sehancur-hancurnya.


Surah Al-Furqan Ayat 37

وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً ۖ وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

wa qauma nụḥil lammā każżabur-rusula agraqnāhum wa ja’alnāhum lin-nāsi āyah, wa a’tadnā liẓ-ẓālimīna ‘ażāban alīmā

37. Dan, [renungkanlah tentang] kaum Nuh: tatkala mereka mendustakan [salah seorang dari] rasul-rasul, Kami jadikan mereka tenggelam dan menjadikan mereka sebuah tanda bagi seluruh umat manusia: sebab, derita yang pedih telah Kami siapkan bagi semua orang yang [dengan sadar] berbuat zalim!


Surah Al-Furqan Ayat 38

وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَٰلِكَ كَثِيرًا

wa ‘ādaw wa ṡamụda wa aṣ-ḥābar-rassi wa qurụnam baina żālika kaṡīrā

38. Dan, [ingatlah bagaimana Kami menghukum suku] ‘Ad dan [suku] Tsamud, dan penduduk Al-Rass,33 dan banyak generasi [pendosa] di antara mereka itu:


33 Mengenai suku ‘Ad dan suku Tsamud, lihat Surah Al-A’raf [7], catatan no. 48 dan no. 56. Adapun mengenai Al-Rass, sebuah kota yang bernama demikian, hingga hari ini masih ada di Provinsi Al-Qasim di Arabia tengah; pada masa-masa silam, kota ini tampaknya diacukan sebagai kota yang didiami oleh keturunan suku Tsamud Nabatean (Al-Thabari). Namun, tidak ada kesepakatan di antara para mufasir mengenai makna nama atau julukan ini yang sebenarnya; AI-Razi mengutip beberapa tafsiran mutakhir yang kontradiktif, lalu menolak semuanya karena dianggapnya sebagai dugaan belaka.


Surah Al-Furqan Ayat 39

وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ ۖ وَكُلًّا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا

wa kullan ḍarabnā lahul-amṡāla wa kullan tabbarnā tatbīrā

39. dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan sejumlah pelajaran,34 dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami hancurkan dengan sehancur-hancurnya.


34 Yakni, “yang mereka lalaikan”. Untuk penerjemahan saya atas kata matsal, dalam konteks ini, menjadi “pelajaran”, lihat catatan no. 104 pada Surah Al-Isra’ [17]: 89.


Surah Al-Furqan Ayat 40

وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ ۚ أَفَلَمْ يَكُونُوا يَرَوْنَهَا ۚ بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا

wa laqad atau ‘alal-qaryatillatī umṭirat maṭaras-saụ`, a fa lam yakụnụ yaraunahā, bal kānụ lā yarjụna nusyụrā

40. Dan, mereka [yang kini mengingkari pesan-pesan Kami] pastilah telah melintasi kota yang telah dihujani dengan hujan yang buruk itu:35 maka, tidak pernahkah mereka memperhatikannya [dengan mata batin mereka]? Namun, tidak, mereka tidak akan beriman pada kebangkitan!36


35 Mengacu pada Sodom dan kehancurannya oleh hujan “serangan-serangan azab sekeras batu yang telah ditakdirkan sebelumnya” (lihat Surah Hud [11]: 82 dan catatannya no. 114. Frasa “telah melintasi” dapat dipahami menurut salah satu dari dua cara berikut: (a) dalam pengertian harfiahnya, yakni “berpapasan dengan tiba-tiba” atau “melewati”, yang dalam hal ini mengacu pada orang-orang semasa Nabi dan para penentangnya, yaitu kaum pagan Makkah, yang jalur kafilah dagangnya biasanya melintasi daerah di sekitar Laut Mati dan daerah yang barangkali termasuk wilayah Sodom dan Gomora dahulu; atau (b) dalam pengertian figuratifnya, yakni “menjadi sadar [akan sesuatu]” dengan membaca atau mendengar dari orang lain—yang dalam hal ini dapat dianggap mengacu pada semua orang sepanjang masa, dan pada fakta bahwa kisah Sodom dan Gomora adalah bagian dari warisan moral umat manusia.

36 Lit., “mereka tidak terbiasa melihat ke depan kepada [yakni mengharapkan atau beriman pada) kebangkitan”.


Surah Al-Furqan Ayat 41

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا

wa iżā ra`auka iy yattakhiżụnaka illā huzuwā, a hāżallażī ba’aṡallāhu rasụlā

41. Karenanya, setiap kali mereka memperhatikanmu [wahai Muhammad], mereka hanyalah menjadikanmu sebagai sasaran ejekan mereka, [seraya berkata,] “Inikah orang yang telah diutus Allah sebagai seorang rasul?


Surah Al-Furqan Ayat 42

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا ۚ وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا

ing kāda layuḍillunā ‘an ālihatinā lau lā an ṣabarnā ‘alaihā, wa saufa ya’lamụna ḥīna yaraunal-‘ażāba man aḍallu sabīlā

42. Sesungguhnya, dia hampir telah menyesatkan kita dari tuhan-tuhan kita, seandainya kita tidak [begitu] teguh terikat kepada mereka!”

Namun, kelak, ketika mereka melihat derita [yang menanti mereka], mereka akhirnya akan mengetahui siapa yang paling jauh tersesat dari jalan [kebenaran]!


Surah Al-Furqan Ayat 43

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

a ra`aita manittakhaża ilāhahụ hawāh, a fa anta takụnu ‘alaihi wakīlā

43. Pernahkah engkau memperhatikan [golongan manusia] yang menjadikan hawa-hawa nafsunya sendiri sebagai tuhannya? Maka, dapatkah engkau [wahai Nabi] bertanggung jawab atasnya?


Surah Al-Furqan Ayat 44

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

am taḥsabu anna akṡarahum yasma’ụna au ya’qilụn, in hum illā kal-an’āmi bal hum aḍallu sabīlā

44. Atau, apakah engkau mengira bahwa kebanyakan dari mereka mendengar [pesanmu] dan menggunakan akal mereka? Tidak, mereka tidak lain hanyalah seperti hewan ternak—tidak, mereka bahkan lebih sedikit kesadarannya akan jalan yang benar!37


37 Lit., “mereka lebih jauh tersesat dari jalan [kebenaran]”: lihat catatan no. 144 pada Surah Al-A’raf [7]: 179.


Surah Al-Furqan Ayat 45

أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا

a lam tara ilā rabbika kaifa maddaẓ-ẓill, walau syā`a laja’alahụ sākinā, ṡumma ja’alnasy-syamsa ‘alaihi dalīlā

45. TIDAKKAH ENGKAU memperhatikan Pemeliharamu [melalui ciptaan-ciptaan-Nya]?—bagaimana Dia menjadikan bayang-bayang menjadi panjang [pada malam hari], padahal, andai Dia menghendaki, Dia benar-benar dapat menjadikannya tetap diam: tetapi kemudian, telah Kami jadikan matahari petunjuknya;


Surah Al-Furqan Ayat 46

ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا

ṡumma qabaḍnāhu ilainā qabḍay yasīrā

46. dan kemudian, [setelah menjadikannya bertambah panjang,] Kami tarik bayang-bayang itu ke arah Kami sendiri38 dengan tarikan yang perlahan-lahan.


38 Yakni, “Kami menjadikannya mengecil sesuai dengan ‘hukum-hukum alam’ yang telah ditetapkan oleh Kami sendiri”. Sebagaimana dalam banyak contoh lain dalam Al-Quran, perubahan secara tiba-tiba dari kata ganti bentuk ketiga “Dia” menjadi “Kami” dimaksudkan untuk menggambarkan kenyataan bahwa Allah tidaklah dapat didefinisikan, dan bahwa ketidakmemadaian bahasa manusialah—dan, karenanya, pikiran manusia itu sendiri—yang memaksa kita untuk menunjuk pada Wujud Tertinggi itu dengan menggunakan sejumlah kata ganti yang kenyataannya hanya dapat diterapkan kepada “pribadi-pribadi (persons)” yang terbatas dan tercipta (bdk. Prakata, catatan no. 2).


Surah Al-Furqan Ayat 47

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

wa huwallażī ja’ala lakumul-laila libāsaw wan-nauma subātaw wa ja’alan-nahāra nusyụrā

47. Dan, Dia-lah yang menjadikan malam sebagai pakaian bagi kalian, dan tidur [kalian] untuk istirahat, dan menjadikan setiap hari [yang baru] sebagai suatu kebangkitan.


Surah Al-Furqan Ayat 48

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

wa huwallażī arsalar-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, wa anzalnā minas-samā`i mā`an ṭahụrā

48. Dan, Dia-lah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira akan kedatangan rahmat-Nya; dan [demikian pula,] Kami jadikan air yang murni turun dari langit


Surah Al-Furqan Ayat 49

لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا

linuḥyiya bihī baldatam maitaw wa nusqiyahụ mimmā khalaqnā an’āmaw wa anāsiyya kaṡīrā

49. agar Kami dapat menghidupkan dengan air ini negeri yang mati, dan memberi minum dengan air itu kepada banyak [makhluk] ciptaan Kami, hewan maupun manusia.


Surah Al-Furqan Ayat 50

وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

wa laqad ṣarrafnāhu bainahum liyażżakkarụ fa abā akṡarun-nāsi illā kufụrā

50. Dan, sesungguhnya, Kami telah berkali-kali mengulangi [semua] ini kepada manusia39 agar mereka dapat merenungkannya: tetapi, kebanyakan manusia menolak, kecuali menjadi orang yang tak bersyukur.


39 Lit., “Kami telah mempergilirkannya (sharrafnahu) di antara mereka”: mengacu pada semua bukti yang tidak salah lagi menunjukkan adanya Pencipta yang sadar bukti-bukti yang sering diulang dalam berbagai variasinya dalam Al-Quran serta dalam wahyu-wahyu terdahulu (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Furqan Ayat 51

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

walau syi`nā laba’aṡnā fī kulli qaryatin nażīrā

51. Dan, seandainya Kami kehendaki, Kami bisa saja [melanjutkan sebagaimana sebelumnya dan] membangkitkan seorang pemberi peringatan [yang berbeda-beda] dalam setiap masyarakat:40


40 Secara tersirat, “tetapi, alih-alih Kami telah menetapkan Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi terakhir dan, karena itu, sebagai seorang pemben peringatan kepada semua orang pada masa-masa mendatang”.


Surah Al-Furqan Ayat 52

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

fa lā tuṭi’il kāfirīna wa jāhid-hum bihī jihādang kabīrā

52. karenanya, janganlah tunduk pada [selera hawa nafsu] orang-orang yang mengingkari kebenaran, tetapi berjuanglah sungguh-sungguh melawan mereka, dengan [kitab Ilahi] ini, dengan perjuangan yang sehebat-hebatnya.


Surah Al-Furqan Ayat 53

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

wa huwallażī marajal-baḥraini hāżā ‘ażbun furātuw wa hāżā mil-ḥun ujāj, wa ja’ala bainahumā barzakhaw wa ḥijram maḥjụrā

53. DAN, DIA-LAH yang telah memberi keleluasaan gerak pada dua himpunan besar air41—yang satu tawar dan menghilangkan dahaga, dan yang lainnya asin dan pahit—dan sungguhpun begitu, telah membuat penghalang dan rintangan yang mencegah.42


41 Nomina bahr, yang biasanya berarti “laut”, juga dipakai untuk menunjuk pada himpunan air tawar yang besar, seperti sungai, danau, dan lain-lain; datam konteks di atas, bahrain (yakni, dua bahr) menunjukkan “dua himpunan [atau ‘jenis’] besar air”—yang asin dan yang tawar—yang terletak berdampingan di bumi.

42 Yakni, menjadikan keduanya—seolah-olah dibatasi oleh sekat yang tidak terlihat—tetap berbeda jenisnya, meskipun kedua jenis air itu terus-menerus bertemu dan bercampur di samudra: hal ini secara tidak langsung mengingatkan pada kreativitas perencanaan yang dirancang Allah, yang berlangsung secara inheren dalam siklus perubahan air—air menguap dari laut asin, lalu membentuk awan-awan, kemudian berkondensasi menjadi hujan dan salju yang memungkinkan terisinya sumber-sumber mata air dan sungai-sungai, lalu kembali lagi ke laut. Oleh beberapa mistikus Muslim, penekanan terhadap dua jenis air ini dipandang sebagai sebuah alegori mengenai jurang pemisah—dan, pada saat yang sama, interaksi—antara persepsi-persepsi spiritual manusia di satu sisi, dan kebutuhan serta keinginan duniawinya di sisi lain.


Surah Al-Furqan Ayat 54

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

wa huwallażī khalaqa minal-mā`i basyaran fa ja’alahụ nasabaw wa ṣihrā, wa kāna rabbuka qadīrā

54. Dan, Dia-lah yang telah menciptakan manusia dari air ini [juga],43 dan telah menganugerahinya dengan [kesadaran akan] keturunan dan ikatan-perkawinan:44 sebab, Pemeliharamu Mahakuasa tiada hingga.


43 Lihat paruh kedua Surah Al-Anbiya’ [21]: 30, yang menyebutkan tentang penciptaan “semua makhluk hidup dari air”, serta Surah An-Nur [24]: 45, yang dalam kaitan ini menyebutkan dunia hewan secara keseluruhan (yang tentu saja mencakup manusia).

44 Yakni, telah memungkinkan dia untuk memberikan nilai ruhani kepada, dan untuk memperoleh kekuatan dari, hubungan-hubungan organik dan sosialnya.


Surah Al-Furqan Ayat 55

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْ ۗ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلَىٰ رَبِّهِ ظَهِيرًا

wa ya’budụna min dụnillāhi mā lā yanfa’uhum wa lā yaḍurruhum, wa kānal-kāfiru ‘alā rabbihī ẓahīrā

55. Sungguhpun begitu, sebagian orang45 menyembah, alih-alih Allah, hal-hal yang tiada memberi manfaat kepada mereka dan tiada pula membawa mudarat kepada mereka: demikianlah, orang yang mengingkari kebenaran benar-benar berpaling dari Pemeliharanya!


45 Lit., “mereka”.


Surah Al-Furqan Ayat 56

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

wa mā arsalnāka illā mubasysyiraw wa nażīrā

56. Namun [demikian, wahai Nabi,] Kami mengutusmu hanyalah sebagai penyampai berita-berita gembira dan pemberi peringatan.


Surah Al-Furqan Ayat 57

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

qul mā as`alukum ‘alaihi min ajrin illā man syā`a ay yattakhiża ilā rabbihī sabīlā

57. Katakanlah: “Untuk ini, tidak ada imbalan yang aku minta dari kalian [—tiada imbalan] selain bahwa bagi orang yang menghendaki, dia dapat menemukan jalan menuju Pemeliharanya!”


Surah Al-Furqan Ayat 58

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

wa tawakkal ‘alal-ḥayyillażī lā yamụtu wa sabbiḥ biḥamdih, wa kafā bihī biżunụbi ‘ibādihī khabīrā

58. Karena itu, bersandarlah penuh percaya kepada Yang Mahahidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah memuji kemuliaan-Nya yang tidak terhingga: sebab, tiada satu pun yang mengetahui dosa-dosa makhluk-Nya sebagaimana Dia—


Surah Al-Furqan Ayat 59

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا

allażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy, ar-raḥmānu fas`al bihī khabīrā

59. Dia yang telah menciptakan lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya:46 Yang Maha Pengasih! Maka, tanyakanlah tentang Dia, Yang [benar-benar] mengetahui.47


46 Lihat catatan no. 43 pada kalimat pertama Surah Al-A’raf [7]: 54.

47 Yakni, “tanyalah kepada Allah sendiri”; Allah sajalah yang memegang kunci-kunci rahasia alam. Oleh karena itu, hanya dengan mengamati ciptaan-Nya dan mendengar pesan-pesan yang diwahyukan-Nya-lah, manusia dapat meraih sedikit pengetahuan tentang keberadaan Allah Sendiri, betapapun sedikitnya pengetahuan itu.


Surah Al-Furqan Ayat 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

wa iżā qīla lahumusjudụ lir-raḥmāni qālụ wa mar-raḥmānu a nasjudu limā ta`murunā wa zādahum nufụrā

60. Namun, tatkala dikatakan kepada mereka [yang berkukuh mengingkari kebenaran], “Sujudlah di hadapan Yang Maha Pengasih,” mereka biasa bertanya, “Dan, [siapa dan) apa itu Yang Maha Pengasih? Apakah kami mesti bersujud di hadapan apa pun yang engkau minta kepada kami [untuk disembah)?”—dan demikianlah [seruanmu] hanyalah menambah keengganan mereka.


Surah Al-Furqan Ayat 61

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

tabārakallażī ja’ala fis-samā`i burụjaw wa ja’ala fīhā sirājaw wa qamaram munīrā

61. MAHA SUCI Dia yang telah menjadikan gugusan-gugusan bintang yang besar di angkasa, dan telah menempatkan di antaranya sebuah pelita [yang bersinar] dan bulan yang memberikan cahaya.48


48 Lihat Surah Yunus [10]: 5, yang menyebutkan matahari sebagai “sebuah [sumber] cahaya yang bersinar”, yang lalu dijelaskan dalam catatan no. 10. Untuk penerjemahan saya atas buruj menjadi “gugusan-gugusan bintang yang besar”, lihat catatan no. 15 pada Surah Al-Hijr [15]: 16.


Surah Al-Furqan Ayat 62

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

wa huwallażī ja’alal-laila wan-nahāra khilfatal liman arāda ay yażżakkara au arāda syukụrā

62. Dan, Dia-lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti, [mengungkapkan Diri-Nya Sendiri dalam karya cipta-Nya] kepada orang yang memiliki keinginan untuk berpikir—yakni,49 memiliki keinginan untuk bersyukur.


49 Lit., “atau” (au)—sebuah partikel yang di sini jelas tidak menunjukkan sebuah alternatif, alih-alih menunjukkan sebuah penjelasan tambahan, yang mirip dengan ungkapan “dengan kata lain”.


Surah Al-Furqan Ayat 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

wa ‘ibādur-raḥmānillażīna yamsyụna ‘alal-arḍi haunaw wa iżā khāṭabahumul-jāhilụna qālụ salāmā

63. Karena, hamba-hamba [sejati] dari Yang Maha Pengasih [hanyalah] mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan yang, setiap kali orang-orang bodoh menyapa mereka,50 menjawab dengan [kata-kata] kedamaian;


50 Secara tersirat, “dengan maksud untuk menertawakan mereka, atau berdebat untuk membantah keimanan mereka”.


Surah Al-Furqan Ayat 64

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

wallażīna yabītụna lirabbihim sujjadaw wa qiyāmā

64. dan yang mengingat Pemelihara mereka pada malam nan larut dengan bersujud dan berdiri;


Surah Al-Furqan Ayat 65

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

wallażīna yaqụlụna rabbanaṣrif ‘annā ‘ażāba jahannama inna ‘ażābahā kāna garāmā

65. dan yang berdoa: “Wahai, Pemelihara kami! Hindarkanlah dari kami derita neraka—sebab, sungguh, penderitaan yang disebabkan olehnya pasti merupakan siksaan yang hebat:


Surah Al-Furqan Ayat 66

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

innahā sā`at mustaqarraw wa muqāmā

66. sungguh, suatu kediaman dan tempat yang amat buruk!”—;


Surah Al-Furqan Ayat 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

wallażīna iżā anfaqụ lam yusrifụ wa lam yaqturụ wa kāna baina żālika qawāmā

67. dan yang, manakala mereka membelanjakan untuk orang lain,51 tidak boros dan tidak pula kikir, tetapi [ingatlah bahwa] selalu ada pertengahan yang seimbang di antara [dua sikap ekstrem] itu;


51 Datam Al-Quran, verba anfaqa (dan nomina nafaqah yang berkaitan dengannya) biasanya memiliki pengertian ini.


Surah Al-Furqan Ayat 68

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

wallażīna lā yad’ụna ma’allāhi ilāhan ākhara wa lā yaqtulụnan-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqqi wa lā yaznụn, wa may yaf’al żālika yalqa aṡāmā

68. dan orang-orang yang tidak pernah menyeru tuhan [khayali] apa pun berdampingan dengan Allah, dan tidak mengambil nyawa manusia mana pun—[nyawa] yang telah Allah kehendaki agar disucikan—kecuali dalam rangka [mencari] keadilan,52 dan tidak berzina.

Dan, [ketahuilah bahwa] orang yang melakukan apa pun di antara yang demikian itu53 [tidak hanya] akan mendapati pembalasan yang penuh,


52 Lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 148.

53 Lit., “orang yang mengerjakan itu (dzalika)”, yaitu dosa apa pun dari ketiga dosa yang dirujuk dalam ayat ini. (Untuk penerjemahan  saya atas istilah zina [adultery], lihat Surah An-Nur [24], catatan no. 2.)


Surah Al-Furqan Ayat 69

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

yuḍā’af lahul-‘ażābu yaumal-qiyāmati wa yakhlud fīhī muhānā

69. [tetapi juga] akan dilipatgandakan pendentaannya pada Hari Kebangkitan: sebab, pada [Hari] itu, dia akan berkediaman di dalam kenistaan.


Surah Al-Furqan Ayat 70

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

illā man tāba wa āmana wa ‘amila ‘amalan ṣāliḥan fa ulā`ika yubaddilullāhu sayyi`ātihim ḥasanāt, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

70. Kecuali orang-orang yang bertobat dan meraih iman serta mengerjakan perbuatan-perbuatan kebajikan: sebab, mereka itulah yang perbuatan-perbuatan buruknya [yang dahulu] akan Allah ubah menjadi perbuatan-perbuatan baik—mengingat bahwa Allah benar-benar Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat,


Surah Al-Furqan Ayat 71

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

wa man tāba wa ‘amila ṣāliḥan fa innahụ yatụbu ilallāhi matābā

71. dan mengingat bahwa orang yang bertobat, dan [setelah itu] mengerjakan apa yang baik, telah benar-benar berpaling kembali kepada Allah melalui [tindakan] tobat[-nya ini].


Surah Al-Furqan Ayat 72

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

wallażīna lā yasy-hadụnaz-zụra wa iżā marrụ bil-lagwi marrụ kirāmā

72. Dan, [ketahuilah bahwa hamba-hamba Ailah yang sejati hanyalah] orang-orang yang tidak pernah memberi persaksian terhadap apa yang palsu,54 dan [yang], manakala mereka bertemu dengan [orang-orang yang melakukan] perbuatan yang tidak bermanfaat, (mereka) lewati dengan menjaga kehormatan dirinya;


54 Menyiratkan bahwa mereka sendiri tidak pernah memberi kesaksian palsu (yakni dalam pengertian yang paling luas dari ungkapan ini, yaitu berkata bohong), dan mereka tidak pula turut ambil bagian secara sadar dalam hal apa pun yang didasarkan pada kepalsuan (Al-Razi).


Surah Al-Furqan Ayat 73

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

wallażīna iżā żukkirụ bi`āyāti rabbihim lam yakhirrụ ‘alaihā ṣummaw wa ‘umyānā

73. dan yang, manakala mereka diingatkan akan pesan-pesan Pemelihara mereka, tidak menghadapi pesan-pesan itu [seolah-olah] tuli dan buta;55


55 Ketika menjelaskan ayat ini, Al-Zamakhsyari mengatakan bahwa orang awam kebanyakan mendekati kitab Ilahi dengan hanya mempertunjukkan animo lahiriah, yakni “menghadapinya” demi pertunjukan lahiriah belaka, tetapi, sebenarnya, mereka tidak berusaha sekecil apa pun untuk memahami pesan itu sendiri dan, karenanya, tetap buta dan tuli terhadap kandungannya—sedangkan, orang-orang yang benar-benar sadar-akan-Allah benar-benar berhasrat untuk memahami-nya dan, karena itu, “mendengarkannya dengan pendengaran yang sadar dan melihatnya dengan mata yang melihat”.


Surah Al-Furqan Ayat 74

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

wallażīna yaqụlụna rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā

74. dan yang berdoa: “Wahai, Pemelihara kami! Anugerahkanlah agar istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami,56 dan jadikanlah kami yang terkemuka di antara orang-orang yang sadar akan Engkau!”


56 Yakni, dengan menjalani kehidupan yang saleh.


Surah Al-Furqan Ayat 75

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

ulā`ika yujzaunal-gurfata bimā ṣabarụ wa yulaqqauna fīhā taḥiyyataw wa salāmā

75. [Orang-orang yang demikian] ini akan dibalas karena segala kesabaran mereka [dalam kehidupan] dengan suatu kedudukan yang tinggi [di surga], dan akan ditemui di sana dengan sambutan selamat datang dan kedamaian,


Surah Al-Furqan Ayat 76

خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا

khālidīna fīhā, ḥasunat mustaqarraw wa muqāmā

76. di sanalah (mereka) berkediaman: [dan] betapa bagusnya kediaman dan [betapa mulianya] tempat itu!


Surah Al-Furqan Ayat 77

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

qul mā ya’ba`u bikum rabbī lau lā du’ā`ukum, fa qad każżabtum fa saufa yakụnu lizāmā

77. KATAKANLAH [kepada orang-orang yang beriman]: “Tiada bobot atau nilai yang akan Pemeliharaku berikan kepada kalian jika bukan karena keimanan kalian [kepada-Nya]!”57

[Dan, katakanlah kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran:] “Kalian benar-benar telah mendustakan [pesan-pesan Allah], dan kelak [dosa] ini akan melekat pada kalian!”58


57 Lit., “jika bukan karena doa kalian”; istilah yang, dalam konteks ini, oleh Ibn ‘Abbas (sebagaimana dikutip Al-Thabari) disamakan dengan “keimanan”.

58 Yakni, “kecuali kalau kalian bertobat, dosa ini akan menentukan takdir ruhani kalian dalam kehidupan akhirat”.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top