46. Al-Ahqaf (Bukit-Bukit Pasir) – الَأحقاف

Surat Al-Ahqaf dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Al-Ahqaf ( الَأحقاف ) merupakan surat ke 46 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 35 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Al-Ahqaf tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini merupakan yang terakhir dari rangkaian surah yang diawali dengan kata Ha-Mim. Kata kunci surah ini {yakni, al-ahqaf} terdapat pada ayat 21. Kemungkinan besar ia diwahyukan kira-kira pada masa yang bersamaan dengan pewahyuan Surah Al-Jin [72], yaitu sekitar dua tahun, atau bahkan kurang, sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Al-Ahqaf Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Al-Ahqaf Ayat 2

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm

2. TURUNNYA kitab Ilahi ini berasal dari Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.


Surah Al-Ahqaf Ayat 3

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musamman, wallażīna kafarụ ‘ammā unżirụ mu’riḍụn

3. Tidaklah Kami ciptakan lelangit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya melainkan sesuai dengan suatu kebenaran [hakiki] dan selama batas-waktu yang ditentukan [oleh Kami]:2 namun, orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran berpaling dari peringatan yang telah disampaikan kepada mereka.3


2 Mengenai ungkapan “sesuai dengan suatu kebenaran [hakiki]”, lihat catatan no. 11 dalam Surah Yunus [10]: 5. Penyebutan “batas-waktu” yang telah ditetapkan Allah bagi semua ciptaan dimaksudkan untuk menekankan fakta bahwa segenap ruang dan waktu dalam ciptaan ini memiliki batas akhir, berlawanan dengan kekekalan dan ketakterhinggaan-Nya.

3 Lit., “dari sesuatu yang tentangnya mereka telah diberi peringatan”: maksudnya, mereka menolak mengindahkan peringatan agar tidak menisbahkan sifat-sifat ketuhanan kepada wujud atau kekuatan apa pun selain Allah.


Surah Al-Ahqaf Ayat 4

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ۖ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

qul a ra`aitum mā tad’ụna min dụnillāhi arụnī māżā khalaqụ minal-arḍi am lahum syirkun fis-samāwāti`tụnī bikitābim ming qabli hāżā au aṡāratim min ‘ilmin ing kuntum ṣādiqīn

4. Katakanlah: “Sudahkah kalian [benar-benar] memikirkan apa yang kalian seru selain Allah? Tunjukkanlah kepadaku apa yang yang telah diciptakan oleh [wujud atau kekuatan] ini di mana pun di muka bumi! Ataukah mereka, mungkin, memiliki suatu andil dalam [menciptakan] lelangit? [Jika begitu,] bawakan kepadaku kitab Ilahi mana pun yang mendahului (kitab Ilahi) ini, atau peninggalan pengetahuan apa pun [yang lainnya]4—jika apa yang kalian nyatakan itu benar!”


4 Secara tersirat, “untuk mendukung pernyataan kalian bahwa ada kekuatan ilahi lain selain Allah”.


Surah Al-Ahqaf Ayat 5

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

wa man aḍallu mim may yad’ụ min dụnillāhi mal lā yastajību lahū ilā yaumil-qiyāmati wa hum ‘an du’ā`ihim gāfilụn

5. Dan, siapakah yang dapat lebih tersesat daripada orang yang menyeru, selain Allah, apa yang tidak akan menjawabnya, baik sekarang maupun pada Hari Kebangkitan,5 dan yang bahkan tidak sadar bahwa ia diseru?—


5 Lit., “tidak akan menjawabnya hingga Hari Kebangkitan”, yakni, tidak akan pernah.


Surah Al-Ahqaf Ayat 6

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

wa iżā ḥusyiran-nāsu kānụ lahum a’dā`aw wa kānụ bi’ibādatihim kāfirīn

6. yaitu apa yang, ketika seluruh umat manusia dikumpulkan [untuk diadili], akan menjadi musuh bagi mereka [yang menyembahnya] dan yang benar-benar akan mengingkari penyembahan mereka?6


6 Mengenai “permusuhan” simbolik yang ditunjukkan oleh semua objek sesembahan batil ini, lihat catatan no. 13 dalam Surah Fathir [35]: 14.


Surah Al-Ahqaf Ayat 7

وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَٰذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyināting qālallażīna kafarụ lil-ḥaqqi lammā jā`ahum hāżā siḥrum mubīn

7. Namun, setiap kali pesan-pesan Kami disampaikan kepada mereka dengan segala kejelasannya, demikianlah ucapan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu tentang kebenaran, segera setelah kebenaran itu disampaikan kepada mereka: “Ini nyata-nyata hanyalah kepiawaian berbicara yang memikat!”7


7 Lit., “ilmu sihir”: lihat catatan no. 12 dalam Surah Al-Muddassir [74]: 24, yang di dalamnya istilah sihr digunakan, secara kronologis, untuk pertama kalinya dalam pengertian di atas. Sebagaimana dalam ayat itu, kebenaran yang disebutkan di sini maksudnya adalah pesan Al-Quran.


Surah Al-Ahqaf Ayat 8

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ ۖ كَفَىٰ بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۖ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

am yaqụlụnaftarāh, qul iniftaraituhụ fa lā tamlikụna lī minallāhi syai`ā, huwa a’lamu bimā tufīḍụna fīh, kafā bihī syahīdam bainī wa bainakum, wa huwal-gafụrur-raḥīm

8. Ataukah mereka mengatakan, “Dia telah membuat-buat semua ini”?

Katakanlah [wahai Muhammad]: “Seandainya aku membuat-buatnya, kalian sedikit pun tidak dapat menjadi penolong bagiku menghadapi Allah.8 Dia Maha Mengetahui tentang [fitnah] apa yang ke dalamnya kalian terjerumus dengan begitu cerobohnya: cukuplah Dia sebagai saksi antara aku dan kalian! Dan [sementara itu,] Dia sajalah Yang Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat yang sejati.9


8 Secara tersirat, “lalu mengapa aku harus membuat-buat semua ini demi kepentingan kalian?”

9 Implikasinya adalah, “Semoga Allah mengampuni kalian, dan merahmati kalian dengan petunjuk-Nya” (Al-Zamakhsyari).


Surah Al-Ahqaf Ayat 9

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ

qul mā kuntu bid’am minar-rusuli wa mā adrī mā yuf’alu bī wa lā bikum, in attabi’u illā mā yụḥā ilayya wa mā ana illā nażīrum mubīn

9. Katakanlah: “Aku bukanlah yang pertama di antara rasul-rasul [Allah];10 dan [seperti semua rasul lainnya,] aku tidak mengetahui apa yang akan dilakukan terhadapku atau terhadap kalian;11 aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku: sebab, aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.”


10 Demikianlah Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Razi, dan Ibn Katsir, yang menyiratkan—seperti ditekankan Al-Razi—bahwa “Aku hanyalah seorang manusia seperti semua pembawa pesan Tuhan yang telah mendahuluiku”. Kemungkinan lain, frasa tersebut dapat diterjemahkan menjadi “Aku bukanlah seorang pembaru di kalangan para rasul”—yakni, “Aku tidak mengajarkan sesuatu yang belum pernah diajarkan oleh semua rasul Allah sebelumku” (Al-Razi dan Al-Baidhawi): ini sejalan dengan doktrin Al-Quran yang menyatakan bahwa ajaran-ajaran etis yang disampaikan oleh semua nabi Allah adalah sama.

11 Yakni, “apa yang akan terjadi pada kita semua di dunia ini” (Al-Thabari, yang mengutip dan mendukung penafsiran Al-Hasan Al-Bashri ini), atau “baik di dunia ini maupun di akhirat” (Al-Baidhawi). Kedua penafsiran ini menunjukkan bantahan terhadap anggapan bahwa Nabi memiliki pengetahuan dini tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan, dalam pengertian yang lebih luas, membantah bahwa Nabi mengetahui “apa yang berada di luar jangkauan persepsi manusia” (al-ghaib): bdk. Surah Al-An’am [6]: 50 atau Surah Al-A’raf [7]: 188.


Surah Al-Ahqaf Ayat 10

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

qul ara`aitum ing kāna min ‘indillāhi wa kafartum bihī wa syahida syāhidum mim banī isrā`īla ‘alā miṡlihī fa āmana wastakbartum, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn

10. Katakanlah: “Sudahkah kalian memikirkan [bagaimana kalian akan mengatasinya] jika ini benar-benar [wahyu] dari Allah, namun kalian mengingkari kebenarannya?—walaupun seorang saksi dari kalangan Bani Israil telah memberikan kesaksian akan [datangnya] seseorang yang seperti dirinya12 dan telah beriman [kepadanya], sementara kalian menyombongkan diri [dan menolak pesannya]? Sungguh, Allah tidak akan memberkati kaum yang zalim [semacam itu] dengan petunjuk-Nya!”


12 Yakni, seorang nabi seperti dirinya. “Saksi” yang disebutkan di sini tampaknya adalah Nabi Musa: bdk. dua pasase Bibel yang membicarakan kedatangan Nabi Muhammad (Kitab Ulangan 18: 15 dan 18): “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.”; dan “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya.” (Dalam hal ini, lihat catatan no. 33 dalam Surah Al-Baqarah [2]: 42.)


Surah Al-Ahqaf Ayat 11

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

wa qālallażīna kafarụ lillażīna āmanụ lau kāna khairam mā sabaqụnā ilaīh, wa iż lam yahtadụ bihī fa sayaqụlụna hāżā ifkung qadīm

11. Namun, demikianlah ucapan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran tentang orang-orang yang telah meraih iman: “Seandainya [pesan] ini memang baik, [orang-orang] ini tidak mungkin mendahului kami untuk menerimanya!”13 Dan karena mereka menolak diberi petunjuk dengan [pesan] itu, mereka akan selalu berkata, “Ini14 [hanyalah] sebuah dusta kuno!”


13 Lit., “kepadanya”. Hampir semua mufasir klasik beranggapan bahwa hal ini merujuk, secara khusus, kepada hinaan yang dilontarkan kaum musyrik Quraisy untuk merendahkan para pengikut awal Nabi Muhammad Saw., yang sebagian besarnya berasal dari golongan miskin dan rendah dalam masyarakat Makkah. Namun, “ucapan” di atas tak diragukan lagi memiliki makna yang berlaku sepanjang masa karena orang-orang miskin dan golongan rendah selalu menjadi kelompok yang paling pertama mengikuti seorang nabi. Lebih jauh, hal itu dapat pula memiliki relevansi dengan zaman kita kini, mengingat bangsa-bangsa yang kuat secara materiel, yang kemajuan teknologinya telah mengaburkan sedemikian banyak kebenaran-kebenaran spiritual, semakin memandang rendah terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada peradaban-peradaban yang di dalamnya agama masih memainkan peran penting, meskipun peran itu sebagian besar bersifat formatistik saja; dengan demikian, tanpa menyadari bahwa justru formalisme dan kemandulan kultural yang menyertainya inilah—bukan kepercayaan agama itu sendiri—yang menjadi penyebab utama terjadinya kelemahan tersebut, mereka menisbahkan kelemahan itu kepada pengaruh agama itu sendiri per se, dengan mengatakan kira-kira demikian, “Andaikan agama itu baik, kami akan menjadi yang pertama-tama mempertahankannya”—dengan demikian, “membenarkan” sikap materialistis dan penolakan mereka untuk dibimbing oleh hal-hal spiritual.

14 Yakni, konsep wahyu Ilahi, sebagaimana terlihat jelas dari ayat berikutnya yang menyebutkan wahyu Nabi Musa.


Surah Al-Ahqaf Ayat 12

وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَىٰ إِمَامًا وَرَحْمَةً ۚ وَهَٰذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَىٰ لِلْمُحْسِنِينَ

wa ming qablihī kitābu mụsā imāmaw wa raḥmah, wa hāżā kitābum muṣaddiqul lisānan ‘arabiyyal liyunżirallażīna ẓalamụ wa busyrā lil-muḥsinīn

12. Namun, sebelum ini, telah ada wahyu Musa, suatu petunjuk dan [pertanda] rahmat [Allah]: dan [Al-Quran] ini adalah sebuah kitab Ilahi yang mempertegas kebenaran [Taurat15] dalam bahasa Arab, untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang berkukuh melakukan perbuatan zalim, dan [untuk membawa] kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat kebajikan:


15 Yakni, secara tersirat, dalam bentuk orisinalnya yang belum mengalami penyelewengan.


Surah Al-Ahqaf Ayat 13

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

innallażīna qālụ rabbunallāhu ṡummastaqāmụ fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn

13. sebab, perhatikanlah, semua orang yang berkata, “Pemelihara kami adalah Allah,” dan kemudian berteguh hati [dalam keimanan mereka]—mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati:


Surah Al-Ahqaf Ayat 14

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

ulā`ika aṣ-ḥābul-jannati khālidīna fīhā, jazā`am bimā kānụ ya’malụn

14. mereka itulah yang akan ditetapkan di surga, hidup kekal di dalamnya sebagai balasan bagi segala yang telah mereka perbuat.


Surah Al-Ahqaf Ayat 15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaihi iḥsānā, ḥamalat-hu ummuhụ kurhaw wa waḍa’at-hu kurhā, wa ḥamluhụ wa fiṣāluhụ ṡalāṡụna syahrā, ḥattā iżā balaga asyuddahụ wa balaga arba’īna sanatang qāla rabbi auzi’nī an asykura ni’matakallatī an’amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a’mala ṣāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī żurriyyatī, innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn

15. DAN [di antara sebaik-baik kebajikan yang] telah Kami perintahkan kepada manusia adalah berbuat baik kepada kedua orangtuanya.16 Dengan menanggung rasa sakit, ibunya telah mengandungnya, dan dengan menanggung rasa sakit, dia telah melahirkannya; dan masa sang ibu mengandungnya serta kebergantungan sepenuhnya kepada sang ibu adalah selama tiga puluh bulan.17 Maka, ketika dia telah mencapai usia dewasa dan mencapai (usia) empat puluh tahun,18 dia [yang saleh] berdoa: “Wahai, Pemeliharaku! Berilah aku ilham agar aku dapat senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat melakukan apa yang benar [sesuai dengan cara] yang Engkau ridhai; dan anugerahilah aku dengan kesalehan pada keturunanku [pula]. Sungguh, kepada-Mu-lah aku bertobat:19 sebab, sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Mu!”


16 Bdk. Surah Al-‘Ankabut [29]: 8 dan Surah Luqman [31]: 14. Dalam ayat ini, perintah tersebut berkaitan dengan disebutkannya “orang-orang yang mengerjakan kebajikan” pada akhir ayat 12 dan pada ayat 13-14.

17 Lihat catatan no. 14 dalam Surah Luqman [31]: 14.

18 Yakni, masa ketika manusia dianggap telah mencapai kematangan intelektual dan spiritual secara penuh. Hendaknya diingat bahwa nomina maskulin (mudzakkar) insan (“manusia” atau “orang”) yang terdapat dalam kalimat pertama ayat ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan.

19 Yakni, secara tersirat, “dari dosa apa pun yang mungkin telah aku lakukan”. Lihat catatan no. 41 terhadap kalimat terakhir dari Surah An-Nur [24]: 31.


Surah Al-Ahqaf Ayat 16

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ ۖ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

ulā`ikallażīna nataqabbalu ‘an-hum aḥsana mā ‘amilụ wa natajāwazu ‘an sayyi`ātihim fī aṣ-ḥābil-jannah, wa’daṣ-ṣidqillażī kānụ yụ’adụn

16. Dari orang-orang [seperti] itulah Kami akan menerima sebaik-baiknya dari apa yang telah mereka kerjakan,20 dan yang perbuatan-perbuatan buruknya akan Kami abaikan: [mereka akan mendapati diri mereka] di antara orang-orang yang ditetapkan di surga, sebagai pemenuhan janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka [di dunia ini].


20 Yakni, “yang akan Kami balas sesuai dengan hal-hal terbaik yang pernah mereka kerjakan”: bdk. Surah Al-‘Ankabut [29]: 7.


Surah Al-Ahqaf Ayat 17

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

wallażī qāla liwālidaihi uffil lakumā ata’idāninī an ukhraja wa qad khalatil-qurụnu ming qablī, wa humā yastagīṡānillāha wailaka āmin inna wa’dallāhi ḥaqq, fa yaqụlu mā hāżā illā asāṭīrul-awwalīn

17. Akan tetapi, [banyak orang] yang berkata kepada kedua orangtuanya [manakala keduanya mencoba mengajarkan kepadanya iman kepada Allah], “Cis kalian berdua! Apakah kalian berdua menjanjikan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan [dari kematian], walaupun [begitu banyak] generasi telah berlalu sebelumku?”21 Dan [sementara] mereka berdua memohon pertolongan Allah [dan berkata], “Celakalah kamu! Karena, perhatikanlah, janji Allah pasti benar terjadi!”—dia hanya menjawab, “Semua ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng zaman dahulu!”


21 Secara tersirat, “tanpa isyarat apa pun bahwa ada orang yang telah atau akan dibangkitkan”. “Dialog” parabolik ini dimaksudkan tidak hanya untuk menggambarkan konflik yang sering—dan mungkin wajar—terjadi antara generasi tua dan, generasi muda, tetapi juga menunjukkan bahwa pewarisan gagasan keagamaan merupakan tugas paling penting, yang diemban orangtua dan, dengan demikian, dalam pengertian yang lebih luas, merupakan unsur dasar dari semua kesinambungan sosial.


Surah Al-Ahqaf Ayat 18

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

ulā`ikallażīna ḥaqqa ‘alaihimul-qaulu fī umaming qad khalat ming qablihim minal-jinni wal-ins, innahum kānụ khāsirīn

18. Orang-orang [seperti] itulah yang pasti akan ditimpa hukuman [malapetaka], bersama umat-umat [yang penuh dosa lainnya] dari kalangan makhluk gaib22 dan manusia yang telah berlalu sebelum zaman mereka. Sungguh, mereka akan merugi:


22 Lihat artikel Istilah dan Konsep Jin dalam Islam.


Surah Al-Ahqaf Ayat 19

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

wa likullin darajātum mimmā ‘amilụ, wa liyuwaffiyahum a’mālahum wa hum lā yuẓlamụn

19. sebab, [dalam kehidupan akhirat mendatang,] semuanya akan memiliki derajatnya masing-masing sesuai dengan [kebaikan atau kejahatan] apa pun yang telah mereka kerjakan: dengan demikian,23 Dia akan memberikan kepada mereka balasan penuh atas perbuatan mereka, dan tidak seorang pun akan dizalimi.


23 Partikel li yang mendahului verba berikutnya jelas merupakan apa yang disebut oleh para ahli tata bahasa Arab sebagai lam al-‘aqibah: yakni, bukan mengindikasikan maksud (“agar”, “supaya”), melainkan sekadar rangkaian sebab-akibat, yang paling baik diterjemahkan menjadi “dan”, “dengan demikian”, atau “karena itu”.


Surah Al-Ahqaf Ayat 20

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

wa yauma yu’raḍullażīna kafarụ ‘alan-nār, aż-habtum ṭayyibātikum fī ḥayātikumud-dun-yā wastamta’tum bihā, fal-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum tastakbirụna fil-arḍi bigairil-ḥaqqi wa bimā kuntum tafsuqụn

20. Dan, pada Hari ketika orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran diperlihatkan kepada api (neraka), [akan dikatakan kepada mereka:] “Kalian telah menghabiskan [bagian] kebaikan kalian dalam kehidupan duniawi kalian, dengan menikmatinya [tanpa sedikit pun memikirkan akhirat]: maka, hari ini kalian akan diberi balasan dengan derita kehinaan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi,24 dengan melanggar segala yang benar, dan karena segala tindakan jahat kalian!”


24 Yakni, karena dengan sombongnya, tanpa pembenaran objektif apa pun, menegaskan bahwa tidak ada kehidupan setelah mati.


Surah Al-Ahqaf Ayat 21

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

ważkur akhā ‘ād, iż anżara qaumahụ bil-aḥqāfi wa qad khalatin-nużuru mim baini yadaihi wa min khalfihī allā ta’budū illallāh, innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin ‘aẓīm

21. DAN, INGATLAH saudara [kaum] ‘Ad,25 betapa dia—mengingat bahwa peringatan-peringatan [lain] telah datang dan pergi sepengetahuannya serta pada masa-masa yang dia tidak ketahui26—telah memberikan peringatan kepada kaumnya [yang hidup] di antara bukit-bukit pasir: “Janganlah menyembah siapa pun kecuali Allah! Sungguh, aku khawatir kalau-kalau penderitaan akan menimpa kalian pada suatu hari yang dahsyat!”


25 Yakni, Nabi Hud a.s. (lihat Surah Al-A’raf {7], catatan no. 48). Penyebutan Hud dan kaum ‘Ad berkaitan dengan kalimat terakhir dari ayat sebelumnya, karena kaum ini “telah melanggar batas-batas keadilan di seluruh negeri mereka” (Surah Al-Fajr [89]: 11).

26 Lit., “di antara dua tangannya dan dari belakangnya”. Ungkapan idiomatik ini (yang telah dijelaskan dalam catatan no. 247 pada Surah Al-Baqarah [2]: 255) jelas mengacu pada banyaknya pesan yang berisi peringatan, baik pada zaman Nabi Hud a.s. sendiri maupun pada masa-masa sebelumnya yang nyaris dilupakan, yang mestinya telah (tetapi ternyata tidak) menjadikan kaum ‘Ad sadar tentang betapa jauhnya mereka telah tersesat. Dalam ayat ini, kita mendapati suatu peringatan yang subtil dan tersirat bahwa, terlepas dari wahyu-wahyu yang telah Dia anugerahkan kepada nabi-nabi-Nya, Allah menawarkan petunjuk-Nya kepada manusia melalui berbagai tanda dan peringatan yang tampak jelas, baik dalam alam semesta maupun dalam kondisi masyarakat manusia yang selalu berubah.


Surah Al-Ahqaf Ayat 22

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

qālū a ji`tanā lita`fikanā ‘an ālihatinā, fa`tinā bimā ta’idunā ing kunta minaṣ-ṣādiqīn

22. Mereka menjawab, “Apakah engkau datang untuk membujuk kami menjauhi tuhan-tuhan kami? Maka, datangkanlah kepada kami [derita] yang engkau ancamkan kepada kami itu, jika engkau adalah orang yang benar!”


Surah Al-Ahqaf Ayat 23

قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ

qāla innamal-‘ilmu ‘indallāhi wa uballigukum mā ursiltu bihī wa lākinnī arākum qauman taj-halụn

23. Berkata dia, “Pengetahuan [tentang kapan penderitaan itu akan menimpa kalian] hanya ada di sisi Allah: aku hanya menyampaikan kepada kalian pesan yang telah diamanatkan kepadaku; akan tetapi, aku melihat bahwa kalian adalah orang-orang yang bodoh [tentang yang benar dan yang salah]!”


Surah Al-Ahqaf Ayat 24

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَٰذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

fa lammā ra`auhu ‘āriḍam mustaqbila audiyatihim qālụ hāżā ‘āriḍum mumṭirunā, bal huwa masta’jaltum bih, rīḥun fīhā ‘ażābun alīm

24. Maka, tatkala mereka melihatnya27 dalam bentuk awan yang padat mendekati lembah-lembah mereka, mereka berseru, “Ini hanyalah awan tebal yang akan mendatangkan hujan [yang menggembirakan] kepada kita!”

[Akan tetapi, Hud berkata,] “Tidak, tetapi justru itulah sesuatu yang kalian minta untuk disegerakan [dengan nada berolok-olok]—angin yang membawa derita yang pedih,


27 Yakni, ketika mereka melihat, tetapi tidak menyadari, datangnya malapetaka yang menimpa mereka.


Surah Al-Ahqaf Ayat 25

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَىٰ إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

tudammiru kulla syai`im bi`amri rabbihā fa`aṣbaḥụ lā yurā illā masākinuhum, każālika najzil-qaumal-mujrimīn

25. yang pasti akan menghancurkan segala sesuatu atas perintah Pemeliharanya!”

Maka, mereka benar-benar dimusnahkan28 sehingga tidak ada yang dapat dilihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka [yang kosong]: demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang tenggelam dalam dosa.


28 Lit., “kemudian mereka menjadi sedemikian sehingga …” dst. lihat Surah Al-Haqqah [69]: 6-8, yang menggambarkan badai pasir yang menghancurkan kaum ‘Ad tanpa meninggalkan jejak mereka sedikit pun.


Surah Al-Ahqaf Ayat 26

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

wa laqad makkannāhum fīmā im makkannākum fīhi wa ja’alnā lahum sam’aw wa abṣāraw wa af`idatan fa mā agnā ‘an-hum sam’uhum wa lā abṣāruhum wa lā af`idatuhum min syai`in iż kānụ yaj-ḥadụna bi`āyātillāhi wa ḥāqa bihim mā kānụ bihī yastahzi`ụn

26. Namun, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka secara aman dengan cara yang tidak pernah Kami gunakan untuk meneguhkan kalian, [wahai orang-orang pada masa terkemudian;]29 dan Kami telah menganugerahkan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati [yang mengetahui banyak hal]:30 akan tetapi, baik pendengaran, penglihatan, maupun hati mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka, mengingat mereka terus menolak pesan-pesan Allah; dan [pada akhirnya] mereka ditimpa oleh31 hal-hal yang biasa mereka cemoohkan itu.


29 Pertama-tama ini memang berkaitan dengan kaum musyrik semasa Nabi , tetapi sebenarnya pernyataan ini berlaku pula bagi generasi-generasi berikutnya.

Kaum ‘Ad merupakan penguasa-penguasa yang tidak tertandingi di wilayah luas yang mereka huni (bdk. Surah Al-Fajr [89]: 8—”yang belum pernah dibangun seperti itu di semua negeri”). Terlebih lagi, kondisi sosial mereka pada masa itu sedemikian sederhana dan bebas dari pelbagai ketidakpastian dan bahaya yang mengepung masyarakat yang berperadaban lebih tinggi, sehingga mereka dapat dipandang lebih “mapan” di muka bumi daripada masyarakat pada masa-masa berikutnya yang lebih kompleks.

30 Yakni, akal dan perasaan, yang keduanya tercakup dalam nomina fu’ad.

31 Lit., “diliputi”.


Surah Al-Ahqaf Ayat 27

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa laqad ahlaknā mā ḥaulakum minal-qurā wa ṣarrafnal-āyāti la’allahum yarji’ụn

27. Demikianlah telah Kami binasakan banyak umat [penuh dosa] yang hidup di sekitar kalian;32 namun, [sebelum membinasakan mereka,] Kami telah menjadikan pesan-pesan [peringatan Kami] memiliki banyak sisi, agar mereka dapat kembali [dari jalan-jalan zalim mereka].


32 Yakni, “dekat dengan kalian, baik dari segi ruang maupun waktu”. Dalam pengertiannya yang lebih luas, frasa ini berarti “seluruh penjuru dunia lainnya”.


Surah Al-Ahqaf Ayat 28

فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً ۖ بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ ۚ وَذَٰلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

falau lā naṣarahumullażīnattakhażụ min dụnillāhi qurbānan ālihah, bal ḍallụ ‘an-hum, wa żālika ifkuhum wa mā kānụ yaftarụn

28. Namun kemudian, apakah [wujud-wujud] yang mereka pilih untuk disembah sebagai tuhan-tuhan di samping Allah, dengan harapan bahwa (wujud-wujud) itu akan mendekatkan mereka [kepada-Nya],33 [pada akhirnya] menolong mereka? Tidak, (wujud-wujud) itu meninggalkan mereka: sebab, [ketuhanan yang diduga-duga] itu hanyalah hasil dari tipuan-diri dan semua rekaan batil mereka.34


33 Klausa ini menyampaikan makna dari ungkapan qurbanan, yang mengacu bukan hanya kepada tuhan-tuhan batil, melainkan juga kepada pendewaan orang-orang suci, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, yang dianggap menjadi perantara antara manusia dan Sang Wujud Tertinggi yang transenden.

34 Lit., “itulah dusta mereka dan semua itulah yang biasa mereka ada-adakan”.


Surah Al-Ahqaf Ayat 29

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

wa iż ṣarafnā ilaika nafaram minal-jinni yastami’ụnal-qur`ān, fa lammā ḥaḍarụhu qālū anṣitụ, fa lammā quḍiya wallau ilā qaumihim munżirīn

29. DAN, LIHATLAH!35 Kami jadikan sekelompok makhluk yang tidak tampak cenderung kepadamu [wahai Muhammad,]36 agar mereka dapat mendengarkan Al-Quran; maka, segera setelah mereka mengetahuinya,37 mereka berkata [satu sama lain], “Dengarkanlah dengan tenang!” Dan ketika pembacaan itu selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai para pemberi peringatan.38


35 Lihat Surah Al-Baqarah [2], catatan no. 21. Hubungan antara pasase ini dan pasase sebelumnya tampaknya terletak pada fakta bahwa sementara “orang-orang yang tenggelam dalam dosa” (dalam hal ini, yang dijadikan contoh adalah kaum ‘Ad) menolak mengindahkan pesan-pesan Tuhan, “makhluk-makhluk tidak tampak” yang dibicarakan dalam lanjutan ayat ini justru langsung memahami kebenaran pesan tersebut dan menerimanya.

36 Istilah nafar berarti sebuah kelompok yang terdiri atas tiga orang lebih hingga sepuluh orang. Peristiwa yang disebutkan dalam pasase ini—yang konon terjadi pada sebuah oase kecil di Nakhlah, dalam perjalanan dari Makkah menuju Tha’if (Al-Thabari)—jelas sama dengan peristiwa yang digambarkan dalam Surah Al-Jin [72]: 1-15; untuk penjelasan tentatif mengenai hal ini, lihat catatan no. 1 dalam surah tersebut.

37 Lit., “segera setelah mereka mendengarkannya”, yakni, pembacaannya oleh Nabi.

38 Yakni, sebagai penyeru akidah qurani. Ungkapan “sebagai para pemberi peringatan” berkaitan dengan ungkapan “pesan-pesan yang mengandung peringatan” yang telah disebutkan sebelumnya.


Surah Al-Ahqaf Ayat 30

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

qālụ yā qaumanā innā sami’nā kitāban unzila mim ba’di mụsā muṣaddiqal limā baina yadaihi yahdī ilal-ḥaqqi wa ilā ṭarīqim mustaqīm

30. Mereka berkata, “Wahai, kaum kami! Perhatikanlah, kami telah mendengarkan sebuah wahyu yang telah diturunkan setelah [wahyu] Musa, yang mempertegas kebenaran apa pun yang masih ada [dari Taurat]:39 ia (wahyu ini) memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.


39 Untuk penjelasan mengenai penerjemahan istilah ma baina yadaihi, lihat Surah Al-‘Imran {3], catatan no. 3.

Sebagaimana ditunjukkan dalam catatan no. 1, Surah Al-Jin [72]: 1, penyebutan Al-Quran sebagai yang diwahyukan “setelah Musa” ini, tanpa menyebutkan nama Nabi Isa, tampaknya menunjukkan bahwa yang berbicara itu adalah para pengikut agama Yahudi; demikianlah alasan saya menyisipkan kata “dari Taurat”.


Surah Al-Ahqaf Ayat 31

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

yā qaumanā ajībụ dā’iyallāhi wa āminụ bihī yagfir lakum min żunụbikum wa yujirkum min ‘ażābin alīm

31. “Wahai, kaum kami! Jawablah seruan Allah dan berimanlah kepada-Nya: Dia akan mengampuni [segala] dosa kalian [yang telah lalu] dan membebaskan kalian dari penderitaan yang pedih [dalam kehidupan mendatang],


Surah Al-Ahqaf Ayat 32

وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

wa mal lā yujib dā’iyallāhi fa laisa bimu’jizin fil-arḍi wa laisa lahụ min dụnihī auliyā`, ulā`ika fī ḍalālim mubīn

32. Akan tetapi, orang yang tidak menjawab seruan Allah, tidak akan pernah dapat menghindar [dari-Nya] di muka bumi, dan tidak pula dia memiliki pelindung terhadap-Nya [dalam kehidupan mendatang]: semua orang yang semacam itu jelas-jelas tenggelam dalam kesalahan.”40


40 Lihat catatan no. 11 dalam Surah Al-Jin [72]: 15.


Surah Al-Ahqaf Ayat 33

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰ ۚ بَلَىٰ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

a wa lam yarau annallāhallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa lam ya’ya bikhalqihinna biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā, balā innahụ ‘alā kulli syai`ing qadīr

33. MAKA, APAKAH mereka [yang mengingkari kehidupan mendatang] tidak menyadari bahwa Allah, yang telah menciptakan lelangit dan bumi, dan yang tidak pernah merasa letih dengan penciptaan mereka,41 [juga] berkuasa menghidupkan yang mati? Ya, sungguh, Dia berkuasa untuk menghendaki segala sesuatu.


41 Tampaknya, hal ini secara tidak langsung berbicara mengenai doktrin Al-Quran bahwa aktivitas kreatif Allah berlangsung terus dan tidak berkesudahan.


Surah Al-Ahqaf Ayat 34

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

wa yauma yu’raḍullażīna kafarụ ‘alan-nār, a laisa hāżā bil-ḥaqq, qālụ balā wa rabbinā, qāla fa żụqul-‘ażāba bimā kuntum takfurụn

34. Maka, pada Hari ketika orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran akan diperlihatkan api (neraka) [dan akan ditanya], “Bukankah ini kebenaran?”—mereka akan menjawab, “Memang benar, demi Pemelihara Kami!”

[Dan] Dia berkata, “Maka, rasakanlah derita ini sebagai akibat pengingkaran kalian terhadap kebenaran!”


Surah Al-Ahqaf Ayat 35

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

faṣbir kamā ṣabara ulul-‘azmi minar-rusuli wa lā tasta’jil lahum, ka`annahum yauma yarauna mā yụ’adụna lam yalbaṡū illā sā’atam min nahār, balāg, fa hal yuhlaku illal-qaumul-fāsiqụn

35. MAKA, tetaplah bersabar dalam menghadapi kesusahan [wahai orang beriman], sebagaimana semua rasul, yang dianugerahi keteguhan hati, bertahan dengan sabar. Dan janganlah meminta disegerakannya penderitaan bagi mereka [yang masih mengingkari kebenaran]: pada Hari ketika mereka melihat apa yang dijanjikan kepada mereka [terpenuhi],42 [akan tampak bagi mereka] seolah-olah mereka telah tinggal [di muka bumi] tidak lebih dari sesaat dari suatu hari [duniawi].43

[Inilah] pesan [Kami]. Lalu, akankah ada yang [benar-benar] dihancurkan kecuali kaum yang fasik?44


42 Yakni, adanya kehidupan setelah mati.

43 Dengan cara majasi ini, Al-Quran menunjukkan betapa ilusifnya konsep “waktu” sebagaimana yang dialami oleh benak manusia—suatu konsep yang tidak memiliki relevansi sehubungan dengan realitas tertinggi yang akan terungkap di akhirat.

44 Bdk. kalimat terakhir Surah Al-An’am [6]: 47 dan catatan no. 37 yang terkait.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top