44. Ad-Dukhan (Asap) – الدخان

Surat Ad-Dukhan dan Artinya (Tafsir) | Arab, Latin, dan Terjemahan

Surat Ad-Dukhan ( الدخان ) merupakan surat ke 44 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 59 ayat yang seluruhnya diturunkan di kota Makkah. Dengan demikian, Surah Ad-Dukhan tergolong Surat Makkiyah.

Surah ini diturunkan pada periode yang sama dengan enam surah Ha-Mim lainnya, yakni pada paruh kedua periode Makkah dan namanya terambil dari kata dukhan yang terdapat dalam ayat 10.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Surah Ad-Dukhan Ayat 1

حم

ḥā mīm

1. Ha. Mim.1


1 Lihat artikel Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an.


Surah Ad-Dukhan Ayat 2

وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ

wal-kitābil-mubīn

2. PERHATIKANLAH kitab Ilahi ini, yang jelas dengan sendirinya dan secara jelas menunjukkan kebenaran!2


2 Lihat catatan no. 2 dalam Surah Yusuf [12]: 1.


Surah Ad-Dukhan Ayat 3

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn

3. Perhatikanlah, Kami telah menurunkannya pada suatu malam yang diberkati:3 sebab, sungguh, Kami selalu memberi peringatan [kepada manusia].4


3 Yakni, malam ketika Al-Quran mulai diwahyukan: lihat Surah Al-Qadr [97].

4 Al-Quran tidak lain hanyalah merupakan kelanjutan dan, sesungguhnya, puncak dari seluruh wahyu Ilahi yang proses pewahyuannya telah berlangsung sejak awal-awal menyingsingnya fajar kesadaran umat manusia. Tujuannya yang paling mendasar adalah menyampaikan peringatan Allah kepada manusia agar tidak membiarkan dirinya larut dalam ambisi dan pengejaran yang bersifat materiel semata-mata dan, dengan demikian, kehilangan pandangannya akan nilai-nilai spiritual.


Surah Ad-Dukhan Ayat 4

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

fīhā yufraqu kullu amrin ḥakīm

4. Pada [malam] itu dijelaskan, dengan hikmah, perbedaan antara segala sesuatu [yang baik dan yang jahat]5


5 Lit., “dibedakan segala sesuatu yang bijak”, yakni, “secara bijaksana” atau “dengan hikmah”: ini merupakan penisbahan secara metonimia dari kata sifat “bijak”—yang pada kenyataannya merujuk pada Allah, Sang Pembuat Perbedaan itu—kepada apa-apa yang telah dibuat berbeda itu (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi). Maknanya adalah bahwa pewahyuan Al-Quran, yang dilambangkan dengan “malam yang diberkati” pada awal pewahyuannya, memberikan kepada manusia suatu standar untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, atau antara segala sesuatu yang mendorong pertumbuhan spiritual melalui kesadaran yang semakin mendalam (ma’rifah) akan wujud Tuhan, di satu sisi, dan segala sesuatu yang mengakibatkan kebutaan spiritual dan kehancuran-diri, di sisi lain.


Surah Ad-Dukhan Ayat 5

أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

amram min ‘indinā, innā kunnā mursilīn

5. atas perintah dari Diri-Kami: sebab, sungguh, Kami selalu menyampaikan [pesan-pesan Kami yang berisi petunjuk]


Surah Ad-Dukhan Ayat 6

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

raḥmatam mir rabbik, innahụ huwas-samī’ul-‘alīm

6. menurut rahmat Pemeliharamu [kepada manusia]. Sungguh, hanya Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,


Surah Ad-Dukhan Ayat 7

رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ

rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, ing kuntum mụqinīn

7. Pemelihara lelangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya—andaikan kalian dapat memahaminya dengan keteguhan batin!6


6 Lit., “andaikan kalian memiliki keteguhan batin”. Menurut Abu Muslim Al-Ishfahani (sebagaimana dikutip Al-Razi), ini berarti, “kalian akan mengetahuinya jika saja kalian sungguh-sungguh menginginkan keteguhan batin dan memohonnya”.


Surah Ad-Dukhan Ayat 8

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

lā ilāha illā huwa yuḥyī wa yumīt, rabbukum wa rabbu ābā`ikumul-awwalīn

8. Tidak ada tuhan kecuali Dia: Dia menganugerahkan hidup dan menimpakan kematian: Dia-lah Pemelihara kalian dan Pemelihara nenek moyang kalian dahulu.


Surah Ad-Dukhan Ayat 9

بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ

bal hum fī syakkiy yal’abụn

9. Tidak, namun mereka [yang tak memiliki keteguhan batin itu] tidak lain hanyalah bermain-main dengan keraguan mereka.7


7 Lit., “bermain-main dalam keraguan”: maksudnya, sikap mereka yang menerima eksistensi Tuhan dengan setengah hati merupakan gabungan dari keraguan dan ironi (Al-Zamakhsyari}—yakni, keraguan berkenaan dengan eksistensi Tuhan dan kesenangan ironis terhadap gagasan adanya wahyu Ilahi.


Surah Ad-Dukhan Ayat 10

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

fartaqib yauma ta`tis-samā`u bidukhānim mubīn

10. MAKA, TUNGGULAH Hari ketika langit akan mendatangkan selubung asap yang akan membuat jelas [datangnya Saat Terakhir],


Surah Ad-Dukhan Ayat 11

يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

yagsyan-nās, hāżā ‘ażābun alīm

11. yang menyelubungi seluruh umat manusia, [dan menyebabkan para pendosa berseru,] “Betapa pedihnya penderitaan ini!


Surah Ad-Dukhan Ayat 12

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ

rabbanaksyif ‘annal-‘ażāba innā mu`minụn

12. Wahai, Pemelihara kami! Bebaskanlah kami dari penderitaan, karena, sungguh, [kini] kami beriman [kepada-Mu]!”


Surah Ad-Dukhan Ayat 13

أَنَّىٰ لَهُمُ الذِّكْرَىٰ وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ

annā lahumuż-żikrā wa qad jā`ahum rasụlum mubīn

13. [Akan tetapi,] bagaimana bisa ingatan ini berguna bagi mereka [pada Saat Terakhir], mengingat bahwa sebelumnya telah datang kepada mereka seorang rasul, yang menguraikan kebenaran dengan jelas,


Surah Ad-Dukhan Ayat 14

ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ

ṡumma tawallau ‘an-hu wa qālụ mu’allamum majnụn

14. kemudian mereka memunggunginya dan berkata, “Dia diajari [oleh orang lain],8 orang gila”?


8 Merujuk kepada tuduhan musuh-musuh Nabi bahwa seseorang telah “mengajarkan” kepadanya gagasan-gagasan yang diungkapkan dalam Al-Quran (lihat Surah An-Nahl [16]: 103 dan catatan no. 129 dan 130 yang terkait), atau setidak-tidaknya telah “membantunya” menggubah Al-Quran (bdk. Surah Al-Furqan [25]: 4 dan catatan no. 5 dan 6).


Surah Ad-Dukhan Ayat 15

إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَائِدُونَ

innā kāsyiful-‘ażābi qalīlan innakum ‘ā`idụn

15. [Namun demikian,] perhatikanlah, Kami akan menunda9 penderitaan ini selama beberapa saat, meskipun kalian pasti akan kembali [kepada jalan jahat kalian: tetapi,]


9 Lit., “menghilangkan”. Tampaknya ini dikatakan pada level—waktu sekarang—yakni, sebelum datangnya Saat Terakhir guna memberi kesempatan kepada para pendosa untuk bertobat.


Surah Ad-Dukhan Ayat 16

يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَىٰ إِنَّا مُنْتَقِمُونَ

yauma nabṭisyul-baṭsyatal-kubrā, innā muntaqimụn

16. pada Hari ketika Kami menghantam [semua pendosa] dengan serangan gencar yang sangat besar, Kami sungguh akan menimpakan hukuman Kami [kepada kalian juga]!


Surah Ad-Dukhan Ayat 17

وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ

wa laqad fatannā qablahum qauma fir’auna wa jā`ahum rasụlung karīm

17. DAN, SESUNGGUHNYA, [jauh] sebelum masa mereka, telah Kami uji kaum Fir’aun [dengan cara yang sama]: sebab, telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia, [yang berkata,]


Surah Ad-Dukhan Ayat 18

أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

an addū ilayya ‘ibādallāh, innī lakum rasụlun amīn

18. “Menyerahlah kepadaku, wahai hamba-hamba Allah!10 Sungguh, aku adalah seorang rasul [yang diutus] kepada kalian, yang patut dipercaya!”


10 Kebanyakan mufasir klasik (seperti, Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi) menunjukkan bahwa frasa ini dapat dipahami dalam dua pengertian: yaitu, pertama, “Menyerahlah kepadaku, wahai hamba-hamba (‘ibad) Allah”, yang mengisyaratkan suatu seruan kepada orang-orang Mesir (karena seluruh umat manusia adalah “hamba-hamba Allah”) agar menerima pesan Ilahi yang disampaikan Nabi Musa a.s. kepada mereka; atau kedua, “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba (‘ibad) Allah”, yakni, Bani Israil, yang masih terbelenggu perbudakan di Mesir. Karena lafal ‘ibada dapat diterapkan sebagai bentuk sapaan sekaligus juga sebagai objek akusatif, kedua penafsiran tersebut dapat dibenarkan.


Surah Ad-Dukhan Ayat 19

وَأَنْ لَا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

wa al lā ta’lụ ‘alallāh, innī ātīkum bisulṭānim mubīn

19. “Dan janganlah kalian meninggikan diri terhadap Allah: sebab, sungguh, aku datang kepada kalian membawa kekuasaan yang nyata [dari-Nya];


Surah Ad-Dukhan Ayat 20

وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ

wa innī ‘użtu birabbī wa rabbikum an tarjumụn

20. dan, perhatikanlah, kepada Pemeliharakulah—dan Pemelihara kalian—aku berlindung dari segala upaya kalian mencercaku.11


11 Lit., “kalau-kalau kalian melempar batu kepadaku (merajamku)”. Perlu dicatat bahwa verba rajama digunakan dalam pengertian fisik “melempar batu” di samping, secara metafora, dalam pengertian “melempar fitnah” atau “mencerca”.


Surah Ad-Dukhan Ayat 21

وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ

wa il lam tu`minụ lī fa’tazilụn

21. Dan jika kalian tidak beriman kepadaku, [setidak-tidaknya] menjauhlah dariku!”


Surah Ad-Dukhan Ayat 22

فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَٰؤُلَاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ

fa da’ā rabbahū anna hā`ulā`i qaumum mujrimụn

22. Namun kemudian, [ketika mereka mengepungnya dengan rasa permusuhan], dia berseru kepada pemeliharanya, “[Sungguh] mereka adalah orang-orang yang tenggelam dalam dosa!”


Surah Ad-Dukhan Ayat 23

فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلًا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ

fa asri bi’ibādī lailan innakum muttaba’ụn

23. Dan [Allah berkata], “Pergilah engkau bersama hamba-hamba-Ku pada malam hari, karena kalian pasti akan dikejar;


Surah Ad-Dukhan Ayat 24

وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا ۖ إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ

watrukil-baḥra rahwā, innahum jundum mugraqụn

24. dan biarkan laut itu diam-tenang (tak berangin)12 [antara engkau dan pengikut Fir’aun]: sebab, sungguh, mereka adalah pasukan yang ditakdirkan akan tenggelam!”


12 {becalmed} Atau: “terbelah”—ungkapan rahwan mempunyai dua makna ini (Al-Jauhari, dengan merujuk secara khusus pada frasa di atas). Lihat juga catatan no. 33 dan 35 dalam Surah Asy-Syu’ara’ [26]: 63-66.


Surah Ad-Dukhan Ayat 25

كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

kam tarakụ min jannātiw wa ‘uyụn

25. [Maka, mereka binasa: dan] berapa banyak taman yang mereka tinggalkan, serta saluran-saluran air,


Surah Ad-Dukhan Ayat 26

وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ

wa zurụ’iw wa maqāming karīm

26. dan kebun-kebun gandum serta kediaman-kediaman yang indah,


Surah Ad-Dukhan Ayat 27

وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ

wa na’mating kānụ fīhā fākihīn

27. dan [segala] kesenangan hidup yang dahulunya mereka nikmati!


Surah Ad-Dukhan Ayat 28

كَذَٰلِكَ ۖ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ

każālik, wa auraṡnāhā qauman ākharīn

28. Demikianlah. Dan [kemudian] Kami jadikan kaum lain sebagai ahli waris [dari segala yang mereka tinggalkan],


Surah Ad-Dukhan Ayat 29

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

fa mā bakat ‘alaihimus-samā`u wal-arḍ, wa mā kānụ munẓarīn

29. dan baik langit maupun bumi tidak menangisi mereka, dan tidak pula mereka diberi penangguhan.13


13 Yakni, secara tersirat, “untuk bertobat atas dosa-dosa mereka”.


Surah Ad-Dukhan Ayat 30

وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِينِ

wa laqad najjainā banī isrā`īla minal-‘ażābil-muhīn

30. Dan, sesungguhnya, telah Kami selamatkan Bani Israil dari penderitaan yang hina


Surah Ad-Dukhan Ayat 31

مِنْ فِرْعَوْنَ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ

min fir’aụn, innahụ kāna ‘āliyam minal-musrifīn

31. [yang ditimpakan kepada mereka] oleh Fir’aun, mengingat bahwa dia adalah yang benar-benar terkemuka di antara orang-orang yang memubazirkan diri sendiri;14


14 Untuk penerjemahan istilah kata musrif ini, lihat Surah Yunus [10], catatan no. 21.


Surah Ad-Dukhan Ayat 32

وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

wa laqadikhtarnāhum ‘alā ‘ilmin ‘alal-‘ālamīn

32. dan, sesungguhnya, Kami sengaja memilih mereka di atas bangsa-bangsa lain,15


15 Yakni, menurut semua mufasir, di atas semua bangsa pada masa mereka, karena pada saat itu Bani Israil adalah satu-satunya kaum yang menyembah Tuhan Yang Esa: inilah alasan mengapa Al-Quran demikian sering menyebut kisah pembebasan mereka dari perbudakan. Penekanan bahwa Allah “sengaja memilih mereka” {yakni, dengan sepengetahuan-Nya, ‘ala ‘ilmin} secara tidak langsung  berbicara mengenai pengetahuan azali-Nya bahwa pada masa-masa berikutnya mereka akan mengalami kemerosotan moral dan, dengan demikian, kehilangan rahmat-Nya (Al-Zamakhsyari dan Al-Razi).


Surah Ad-Dukhan Ayat 33

وَآتَيْنَاهُمْ مِنَ الْآيَاتِ مَا فِيهِ بَلَاءٌ مُبِينٌ

wa ātaināhum minal-āyāti mā fīhi balā`um mubīn

33. dan memberikan kepada mereka tanda-tanda [rahmat Kami] sedemikian rupa sehingga jelas-jelas mengisyaratkan suatu ujian.16


16 Lit., “yang di dalamnya terdapat ujian yang nyata”: ini merujuk kepada rangkaian pengutusan nabi-nabi yang begitu banyak ke tengah-tengah Bani Israil, di samping merujuk kepada kemerdekaan dan kemakmuran yang akan mereka nikmati di Negeri yang Dijanjikan. Semua ini merupakan ujian kesetiaan dan kesungguhan terhadap prinsip-prinsip keruhanian yang mereka anut, yang pada awalnya mengangkat derajat mereka “di atas semua bangsa yang lain” dan, dengan demikian, juga merupakan ujian terhadap kesediaan mereka untuk bertindak sebagai pengemban pesan Allah ke seluruh dunia. Formulasi kalimat di atas mengisyaratkan secara eliptis bahwa mereka tidak lulus ujian ini lantaran mereka segera saja lupa terhadap misi keruhanian yang mereka emban ini—misi yang justru menjadi alasan mengapa mereka dipilih—dan mulai menganggap diri mereka sebagai “umat pilihan” Tuhan hanya karena alasan keturunan, yakni bahwa mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s.: suatu gagasan yang dikutuk oleh Al-Quran dalam banyak ayat. Terlepas dari ini, mayoritas Bani Israil segera saja kehilangan keyakinan yang dahulu mereka anut, yakni keyakinan bahwa hidup di dunia ini hanyalah merupakan tahap pertama dan bukanlah tahap terakhir dari kehidupan manusia, dan—seperti ditunjukkan oleh sejarah biblikal mereka—mereka tenggelam sepenuhnya pada upaya pengejaran kemakmuran dan kekuasaan materiel. (Lihat catatan berikutnya.)


Surah Ad-Dukhan Ayat 34

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَيَقُولُونَ

inna hā`ulā`i layaqụlụn

34. [Sekarang,] perhatikanlah, [bangsa] ini benar-benar berkata,17


17 Meskipun, tampaknya, yang dimaksud di sini dengan “bangsa ini” adalah bangsa Israil, kalimat di atas jelas-jelas bersif at umum, yakni berlaku bagi semua orang yang memiliki pandangan sebagaimana yang diungkapkan pada lanjutan kalimat itu dan, secara khusus, berlaku bagi kaum musyrik yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad Saw. Namun, ada hubungan yang subtil antara pasase ini dan pernyataan sebelumnya mengenai “ujian” yang dihadapi oleh Bani Israil: sebab, sudah merupakan fakta historis bahwa hingga masa kehancuran Bait Allah Kedua yang dilakukan oleh Kaisar Romawi, Titus, yang mengakibatkan penyebaran Bani Israil ke berbagai negeri, aristokrasi kependetaan di kalangan orang Yahudi (yang dikenal dengan golongan Saduki) secara terbuka menolak konsep kebangkitan, pengadilan Ilahi, dan kehidupan di akhirat, dan mendukung suatu pandangan yang serba-materialistis tentang kehidupan.


Surah Ad-Dukhan Ayat 35

إِنْ هِيَ إِلَّا مَوْتَتُنَا الْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ

in hiya illā mautatunal-ụlā wa mā naḥnu bimunsyarīn

35. “Hal [yang akan terjadi pada kami] itu hanyalah kematian kami yang pertama [dan satu-satunya],18 dan kami sama sekali tidak akan dibangkitkan hidup lagi.


18 Yakni, “itulah kematian terakhir, tidak ada apa pun lagi setelah itu”.


Surah Ad-Dukhan Ayat 36

فَأْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

fa`tụ bi`ābā`inā ing kuntum ṣādiqīn

36. Maka, datangkanlah nenek moyang kami [sebagai saksi,] jika yang kalian katakan itu benar!”19


19 Yakni, “hidupkanlah kembali nenek moyang kami dan biarlah mereka memberi kesaksian bahwa akhirat itu ada”. Tuntutan ironis ini senada dengan ucapan orang-orang tak beriman yang disebutkan dalam Surah Az -Zukhruf [43]: 22 dan 23, “Kami mendapati nenek moyang kami bersepakat mengenai apa yang harus dipercayai—dan, sungguh, pada jejak merekalah kami mendapatkan petunjuk,” Jadi, pada akhirnya, fakta bahwa nenek moyang mereka tidak percaya kepada akhirat bagi mereka merupakan argumen final yang membuktikan bahwa akhirat itu tidak ada, sama finalnya dengan fakta bahwa tidak ada seorang pun yang (pernah) hidup (akan datang) kembali (ke dunia) untuk membenarkan adanya kebangkitan itu.


Surah Ad-Dukhan Ayat 37

أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ أَهْلَكْنَاهُمْ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

a hum khairun am qaumu tubba’iw wallażīna ming qablihim, ahlaknāhum innahum kānụ mujrimīn

37. Lalu, apakah mereka lebih baik daripada kaum Tubba’ dan orang-orang sebelum mereka, yang telah Kami hancurkan karena mereka benar-benar tenggelam dalam dosa [yang sama]?20


20 Tubba’ adalah gelar yang dipakai oleh turunan raja-raja Himyar yang kuat, yang menguasai seluruh Arabia Selatan selama berabad-abad, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang Habasyah pada 4 M. Di tempat lain dalam Al-Quran (Surah Qaf [50]: 14), mereka dikatakan mengingkari kebenaran mengenai adanya kebangkitan dan pengadilan Tuhan.


Surah Ad-Dukhan Ayat 38

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā lā’ibīn

38. Karena [demikianlah adanya:] tidaklah Kami ciptakan lelangit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya dengan main-main belaka:21


21 Yakni, tanpa makna atau tujuan (bdk. Surah Al-Anbiya’ [21]: 16}—ini mengisyaratkan bahwa seandainya tidak ada akhirat, kehidupan manusia di muka bumi sama sekali tidak bermakna dan, dengan demikian, bertentangan dengan pernyataan di atas dan dengan kalimat sesudahnya, “tiada satu pun dari semua ini Kami ciptakan tanpa suatu kebenaran [hakiki]”.


Surah Ad-Dukhan Ayat 39

مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

mā khalaqnāhumā illā bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarahum lā ya’lamụn

39. tiada satu pun dari semua ini Kami ciptakan tanpa suatu kebenaran [hakiki]:22 namun, kebanyakan mereka tidak memahaminya.


22 Lihat catatan no. 11 dalam Surah Yunus [10]: 5.


Surah Ad-Dukhan Ayat 40

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ

inna yaumal-faṣli mīqātuhum ajma’īn

40. SUNGGUH, Hari Pembeda [antara yang benar dan yang salah] adalah waktu yang telah ditetapkan bagi mereka semua:23


23 Lihat catatan no. 6 dalam Surah Al-Mursalat [77]: 13.


Surah Ad-Dukhan Ayat 41

يَوْمَ لَا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

yauma lā yugnī maulan ‘am maulan syai`aw wa lā hum yunṣarụn

41. Hari ketika tiada seorang pun kawan dapat memberikan manfaat sedikit pun kepada kawannya, dan tatkala tidak seorang pun akan ditolong,


Surah Ad-Dukhan Ayat 42

إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

illā mar raḥimallāh, innahụ huwal-‘azīzur-raḥīm

42. kecuali orang-orang yang akan Allah limpahi rahmat dan belas kasih-Nya: sebab, sungguh, Dia sajalah Yang Mahaperkasa, Sang Pemberi Rahmat.


Surah Ad-Dukhan Ayat 43

إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ

inna syajarataz-zaqqụm

43. Sungguh, [dalam kehidupan akhirat,] pohon dengan buah yang mematikan24


24 Lihat Surah As-Saffat [37], catatan no. 22.


Surah Ad-Dukhan Ayat 44

طَعَامُ الْأَثِيمِ

ṭa’āmul-aṡīm

44. akan menjadi makanan (bagi) orang yang penuh dosa:25


25 Istilah al-atsim (lit., “pendosa itu”) di sini tampaknya memiliki suatu makna khusus, yakni mengacu pada pengingkaran yang dilakukan secara sadar terhadap adanya kebangkitan dan pengadilan Tuhan: dengan kata lain, pengingkaran terhadap adanya makna dalam eksistensi manusia.


Surah Ad-Dukhan Ayat 45

كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ

kal-muhli yaglī fil-buṭụn

45. bagaikan timah meleleh, ia akan mendidih di dalam perut,


Surah Ad-Dukhan Ayat 46

كَغَلْيِ الْحَمِيمِ

kagalyil-ḥamīm

46. bagaikan mendidihnya keputusasaan yang membara.26


26 Tentang makna kiasan dari istilah hamim ini, lihat Surah Al-An’am [6], catatan no. 62.


Surah Ad-Dukhan Ayat 47

خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَىٰ سَوَاءِ الْجَحِيمِ

khużụhu fa’tilụhu ilā sawā`il-jaḥīm

47. [Dan, kata-kata yang akan diucapkan adalah:] “Tangkaplah dia, [wahai kalian, daya-daya neraka,] dan seretlah dia ke tengah-tengah api yang berkobar:


Surah Ad-Dukhan Ayat 48

ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ

ṡumma ṣubbụ fauqa ra`sihī min ‘ażābil-ḥamīm

48. kemudian tuangkanlah ke atas kepalanya derita keputusasaan yang membara!


Surah Ad-Dukhan Ayat 49

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

żuq, innaka antal-‘azīzul-karīm

49. Rasakanlah—engkau yang [di muka bumi] menganggap dirimu begitu perkasa dan mulia!27


27 Lit., “karena, perhatikanlah, engkau adalah …” dst.—jadi, mengacu kepada dosa keangkuhan yang diakibatkan oleh ketidakpercayaan akan adanya kehidupan sesudah mati dan, dengan demikian, akan adanya tanggung jawab final manusia di hadapan Allah. (Bdk. Surah Al-‘Alaq [96]: 6-7—”Sungguh, manusia menjadi benar-benar melampaui batas manakala dia menganggap dirinya sendiri serbacukup”—dan catatan no. 4 yang terkait.)


Surah Ad-Dukhan Ayat 50

إِنَّ هَٰذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ

inna hāżā mā kuntum bihī tamtarụn

50. Inilah hal yang kalian [para pengingkar kebenaran] biasa pertanyakan dahulu!28


28 Yakni, mengenai adanya kelangsungan kehidupan sesudah mati.


Surah Ad-Dukhan Ayat 51

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ

innal-muttaqīna fī maqāmin amīn

51. [Berkebalikan dengan ini—] sungguh, orang-orang yang sadar akan Allah akan mendapati diri mereka dalam keadaan yang aman,


Surah Ad-Dukhan Ayat 52

فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

fī jannātiw wa ‘uyụn

52. di tengah taman-taman dan mata air,


Surah Ad-Dukhan Ayat 53

يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ

yalbasụna min sundusiw wa istabraqim mutaqābilīn

53. dengan memakai [pakaian] sutra dan kain brokat, saling berhadapan [dengan penuh cinta].29


29 Mengenai alegori tentang kehidupan surgawi ini, lihat catatan no. 41 dalam Surah Al-Kahf [18]: 31.


Surah Ad-Dukhan Ayat 54

كَذَٰلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ

każālik, wa zawwajnāhum biḥụrin ‘īn

54. Demikianlah yang akan terjadi. Dan akan Kami pasangkan mereka dengan pendamping-pendamping nan suci, yang bermata sangat indah.30


30 Mengenai penerjemahan hur ‘in menjadi “pendamping-pendamping nan suci, yang bermata sangat indah”, lihat Surah Al-Waqi’ah [56], catatan no. 8 dan 13. Hendaknya diperhatikan bahwa nomina zauj (lit., “sepasang” atau—menurut konteksnya—”pasangan”) dapat diterapkan kepada kedua jenis kelamin, seperti halnya verba transitif zawaja, “dia memasangkan” {he paired} atau “menjodohkan” [joined}, yakni, seseorang dengan orang lain {maksudnya, mengawinkannya}.


Surah Ad-Dukhan Ayat 55

يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ

yad’ụna fīhā bikulli fākihatin āminīn

55. Dalam [surga] itu, mereka [berhak] meminta segala buah [dari perbuatan masa lalu mereka],31 seraya beristirahat dengan tenteram;


31 Bdk. Surah Az-Zukhruf [43]: 73.


Surah Ad-Dukhan Ayat 56

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

lā yażụqụna fīhal-mauta illal-mautatal-ụlā, wa waqāhum ‘ażābal-jaḥīm

56. dan tidak pula mereka akan merasakan kematian di sana setelah melewati kematian mereka yang dahulu.32

Demikianlah Dia akan memelihara mereka dari segala derita api yang berkobar—


32 Lit., “kecuali [atau ‘di luar’] kematian yang pertama [yakni, kematian yang dahulu]” (bdk. Surah As-Saffat [37]: 58-59).


Surah Ad-Dukhan Ayat 57

فَضْلًا مِنْ رَبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

faḍlam mir rabbik, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm

57. suatu karunia dari Pemeliharamu:33 dan yang demikian itu, itulah kemenangan yang tertinggi!


33 Yakni, dengan menawarkan kepada mereka petunjuk, sehingga mereka dapat mengambil manfaat darinya: jadi, tercapainya kebahagiaan tertinggi merupakan hasil dari interaksi antara Allah dan manusia, dan dari jalinan hubungan manusia dengan Allah.


Surah Ad-Dukhan Ayat 58

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

fa innamā yassarnāhu bilisānika la’allahum yatażakkarụn

58. MAKA, DEMIKIANLAH, [wahai Nabi,] telah Kami jadikan [kitab Ilahi] ini mudah dipahami, dalam bahasa [manusiamu] sendiri, agar manusia dapat merenungkannya.34


34 Lihat catatan no. 81 dalam Surah Maryam [19]: 97.


Surah Ad-Dukhan Ayat 59

فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ

fartaqib innahum murtaqibụn

59. Maka, tunggulah [apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang]: perhatikanlah, mereka itu pun menunggu.35


35 Yakni, baik mereka mengetahuinya atau tidak, kehendak Allah pasti terjadi.


Sesuai versi The Message of the Quran oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss)

Scroll to Top