Tauhid: Pengertian, Pembagian, dan Keutamaannya.

Tauhid, Pengertian, Pembagian, dan Keutamaannya.

Pengertian Tauhid

Tauhid adalah keyakinan seorang hamba bahwa Allah itu Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam rububiyyah, uluhiyyah, asma’ (nama-nama) dan sifat-Nya.

Yakni, hendaknya setiap hamba meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah sajalah Tuhan dan Pemilik atas segala sesuatu. Dia-lah satu-satunya Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Dial-ah yang berhak untuk disembah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan setiap sesembahan selain-Nya adalah batil. Dia memiliki sifat yang penuh dengan kesempurnaan dan suci dari segala aib dan kekurangan, serta bagi-Nya Asma’ Al-Husna (nama-nama yang bagus) dan sifat-sifat yang Mahatinggi.

Allah Swt. berfirman (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

WAHAI, MANUSIA! Sembahlah Pemelihara kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang hidup sebelum kalian agar kalian senantiasa sadar kepada-Nya

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

yang telah menjadikan bumi sebagai tempat istirahat bagi kalian dan langit sebagai atap, dan telah mencurahkan air dari langit sehingga menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki kalian: maka, janganlah kalian menyatakan bahwa ada kekuatan lain yang dapat menandingi Allah, jika kalian mengetahui [bahwa Dia Maha Esa]. (Surah Al-Baqarah [2]: 21-22)


Pembagian Tauhid

Macam-macam tauhid yang didakwahkan oleh semua Nabi dan Rasul Allah dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Tauhid dalam Makrifat (Pengenalan) dan Itsbat (Penetapan)

Tauhid ini dinamakan dengan Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ wa Ash-Shifat, yaitu menauhidkan Allah dalam asma’ (nama-nama)-Nya, sifat-sifat-Nya dan af’al (tindakan)-Nya.

Yakni, hendaknya setiap hamba meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah-lah Tuhan Sang Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta ini, Yang Sempurna dalam Zat-Nya, asma’ dan sifat-Nya serta af’al (tindakan)-Nya, Yang Maha Mengetahui akan segala sesuatu, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, pada-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, bagi-Nya nama-nama yang bagus (Asma’ Al-Husna) serta sifat-sifat yang Mahatinggi.

Firman Allah Ta’ala (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

[akan tetapi,] tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia sajalah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Asy-Syura [42]: 11)


b. Tauhid dalam Qasd (Tujuan) dan Thalab (Permintaan)

Tauhid ini disebut juga dengan Tauhid Uluhiyah dan Ibadah, yaitu mengesakan Allah dalam setiap bentuk ibadah dan tindakan seperti doa, shalat, takut (khauf), harap (raja’) dan semisalnya.

Yakni, hendaknya seorang hamba meyakini dengan sepenuh hati bahwa hanya Allah yang memiliki ke-uluhiyyah-an (ketuhanan) atas semua ciptaan-Nya, dan hanya Dia-lah yang berhak untuk disembah. Maka, tidak boleh memalingkan sesuatu pun dari bentuk-bentuk ibadah seperti doa, shalat, memohon pertolongan, tawakal, takut, pengharapan, pengorbanan, nazar, dan sejenisnya, kecuali kepada Allah semata. Barangsiapa memalingkan dari hal tersebut kepada selain Allah, maka ia telah musyrik dan kafir, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Karenanya, orang yang memohon kepada tuhan yang lain, di samping Allah, [—tuhan] yang dia tidak punya bukti akan keberadaannya—akan mendapati perhitungannya pada Pemeliharanya: [dan,] sungguh, orang-orang yang mengingkari kebenaran seperti itu tidak akan pernah meraih kebahagiaan. (QS. Al-Mu’minun [23]: 117)


Tauhid uluhiyyah dan ibadah inilah yang banyak diingkari dan ditentang oleh makhluk-Nya. Oleh karenanya Allah mengutus para rasul kepada umat manusia, dan menurunkan kepada mereka kitab yang memerintahkan untuk menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya.

Firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

dan [hal ini terlepas dari fakta bahwa bahkan] sebelum masamu [pun] Kami tidak pernah mengutus seorang rasul tanpa mewahyukan kepadanya bahwa tiada tuhan kecuali Aku, [dan bahwa] karena itu, kalian harus menyembah-Ku [saja]! (QS. Al-Anbiya’ [21]: 25)


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguh, di dalam setiap masyarakat, telah Kami bangkitkan seorang rasul [yang diberi amanat untuk menyampaikan pesan ini], “Sembahlah Allah, dan jauhilah kuasa-kuasa jahat!” (QS. An-Nahl [16]: 36)


Hakikat Tauhid

Hendaknya setiap hamba dapat mengetahui serta menyadari bahwa segala sesuatu dan setiap perkara itu datangnya dari Allah Swt. Tidak memandang terhadap suatu kebaikan dan keburukan, kemanfaatan dan kemudharatan, kecuali semata-mata datangnya dari Allah Swt. Dan hendaknya ia menyembah kepada Allah dengan ibadah yang total dan tidak menyekutukan-Nya.

Faedah Tauhid

Seorang yang bertauhid [kepada Allah] dengan benar akan bertawakal kepada Allah saja, tidak akan mengadu dan tidak saling mencaci-maki sesama manusia, selalu ridha dan cinta kepada Allah, dan menerima dengan sepenuhnya atas hukum-hukum-Nya.

Tauhid rububiyyah diakui oleh manusia, karena tauhid ini sudah menjadi fitrah setiap manusia dan merupakan kesimpulan mereka ketika melihat dan mengamati alam semesta. Pengakuan saja tidaklah cukup sebagai bentuk keimanan kepada Allah yang dapat menyelamatkan dari azab-Nya. Iblis pun telah mengakui tauhid ini sebagaimana juga orang-orang musyrik, namun hal tersebut tidak memberi manfaat bagi mereka, karena mereka tidak mengakui tauhid ubudiyyah dengan mengakui bahwa hanya Allah-lah Tuhan yang patut untuk disembah.

Barangsiapa yang hanya mengakui tauhid rububiyyah, belum bisa dikatakan sebagai muwahhid (orang yang mengesakan Allah dalam ibadah) dan belum bisa dikatakan sebagai seorang muslim (orang yang berserah diri kepada Allah). Tidaklah diharamkan atas darah dan harta seseorang sehingga ia mengakui tauhid uluhiyyah, dia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, mengakui bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah, dan komitmen untuk selalu menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya.

Korelasi Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah

Tauhid rububiyyah mengharuskan untuk bertauhid uluhiyyah. Barangsiapa yang menetapkan bahwa hanya Allah-lah Tuhan Sang Pencipta, Penguasa dan Pemberi rezeki, maka wajib baginya untuk mengakui bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah semata. Tidak berdoa, beristighatsah (meminta pertolongan), bertawakal, kecuali hanya kepada Allah Swt. Tidak mempersembahkan segala bentuk ibadah kecuali hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Demikian juga orang yang bertauhid uluhiyyah, dia wajib untuk bertauhid rububiyyah. Setiap orang yang menyembah hanya kepada Allah Swt. semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain, maka ia harus beriktikad bahwa hanya Allah-lah Tuhan Sang Pengatur, Pencipta, dan Pemilik atas dirinya.

Rububiyyah dan uluhiyyah terkadang disebutkan secara bersamaan dan terkadang secara terpisah. Jika keduanya disebutkan secara bersamaan, maka makna keduanya berbeda. Makna Rabb berarti Pemilik yang berhak mengatur (Pemelihara), sedang makna Ilah berarti Zat yang disembah dengan hak, satu-satunya Zat yang berhak untuk disembah tidak ada Tuhan selain-Nya, sebagaimana dalam firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

KATAKANLAH: “Aku berlindung kepada Pemelihara manusia,

مَلِكِ النَّاسِ

“Penguasanya manusia,

إِلَٰهِ النَّاسِ

“Tuhannya manusia,

(QS. An-Nas [114]: 1-3)


Terkadang keduanya disebutkan secara terpisah, maka makna keduanya sama, sebagaimana dalam firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari pemelihara selain Allah, padahal Dia-lah Pemelihara segala sesuatu?” (QS. Al-An’am [6]: 164)


Keutamaan Tauhid

Firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang telah meraih iman dan yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman—mereka itulah yang akan menjadi aman karena merekalah yang telah menemukan jalan yang benar!” (QS. Al-An’am [6]: 82)

Dari Ubadah bin Shamit r.a., Nabi Saw. bersabda (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ، وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dan Isa adalah kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan juga bersaksi bahwa surga itu adalah benar dan neraka itu adalah benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal perbuatannya.”1

Dari Anas bin Malik r.a. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid) berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda,

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jika kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosa-dosamu. Wahai anak Adam, Aku tidak peduli walaupun dosa-dosamu mencapai setinggi langit, jika kamu datang meminta ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni [dosa-dosa]mu. Wahai anak Adam, Aku tidak peduli jika kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan seisi bumi, namun jika kamu tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, maka Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi juga.”2

Kebaikan yang diperoleh Ahli Tauhid

Firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Namun, kepada orang-orang yang telah meraih iman dan berbuat kebajikan, sampaikanlah berita gembira bahwa bagi mereka taman-taman yang dilalui aliran sungai. Setiap kali mereka diberi buah-buahan dari taman itu sebagai rezeki mereka yang telah ditetapkan, mereka akan berkata, “Inilah yang dahulu diberikan kepada kami sebagai rezeki!”—sebab, mereka akan diberi sesuatu yang mengingatkan pada [masa lalu] itu. Di sana mereka akan memiliki pasangan yang suci dan di sana mereka akan hidup kekal. (QS. Al-Baqarah [2]: 25)

Diriwayatkan dari Jabir r.a. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid), dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ‘al-muujibataan’ (doa keharusan)?” Beliau menjawab,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka ia masuk surga, sedangkan orang yang meninggal dunia dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu selain Allah, maka ia akan masuk neraka.”3

Keagungan Kalimat Tauhid

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid), Rasulullah Saw. bersabda,

“Sesungguhnya Nabi Nuh a.s. ketika menjelang wafat berpesan kepada anaknya, ‘Aku berwasiat kepadamu, ‘Aku perintahkan kamu untuk melaksanakan dua perkara, dan juga melarangmu dari dua perkara. Aku perintahkan kamu (untuk mengucapkan) kalimat ‘La ilaaha illallah’ (tidak ada Tuhan selain Allah), sekiranya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan pada satu sisi timbangan, dan kalimat ‘La ilaaha illallah’ diletakkan pada sisi yang lain, maka kalimat ‘La ilaaha illallah’ akan lebih berat timbangannya. Dan sekiranya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi dijadikan satu ikatan maka akan dapat dicerai-beraikan oleh kalimat ‘La ilaaha illallah’. Dan aku perintahkan kepadamu dengan kalimat ‘Subhanallah wa bihamdihi’ (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya), sesungguhnya kalimat tersebut merupakan doa atas segala sesuatu, dan dengan membacanya seorang hamba akan diberi rezeki. Kemudian aku melarangmu dari syirik dan kesombongan.”4

Kesempurnaan Tauhid

Tauhid tidak akan sempurna kecuali hanya dengan menyembah Allah Swt. dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain serta menjauhi Thagut, sebagaimana firman Allah Swt. (yang dijadikan sebagai dalil tauhid),

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguh, di dalam setiap masyarakat, telah Kami bangkitkan seorang rasul [yang diberi amanat untuk menyampaikan pesan ini], “Sembahlah Allah, dan jauhilah kuasa-kuasa jahat!” (QS. An-Nahl [16]: 36)


Thaghut dan Macamnya

Al-Thaghut, pada dasarnya, berarti apa pun yang disembah selain Allah dan, karena itu, segala yang dapat memalingkan manusia dari Allah dan menggiringnya menuju kejahatan. Ia memiliki arti tunggal dan jamak (Al-Razi) dan, karenanya, sebaiknya diterjemahkan menjadi “kuasa-kuasa jahat” {the powers of evil}.

Thaghut itu banyak macamnya, dan pemimpinnya ada lima, yaitu:

  1. Iblis—semoga Allah Swt. melindungi kita dari godaan dan tipu dayanya.
  2. Orang yang disembah, sedangkan ia rela dengan hal tersebut.
  3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
  4. Orang yang mengklaim mengetahui sesuatu dari hal-hal ghaib.
  5. Orang yang berhujjah kepada selain hukum-hukum Allah Swt.

Catatan kaki

  1. Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari, no. (3435) lafazh ini baginya, dan Muslim no. (28).
  2. Hadits shahih, dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, no. (3540), Shahih Sunan At-Tirmidzi no. (2805).
  3. Dikeluarkan oleh Muslim no. (93).
  4. Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ahmad no. (6583), dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari, dalam Al-Adab Al-Mufrad no. (558), Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. (426), lihat As-Silsilah Ash-Shahihah karya Al-Albani no. (134).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top