Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw

Peristiwa Isra’ (Perjalanan Malam Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Yerusalem) dan Mi’raj (Perjalanan Nabi ke langit), pada kenyataannya, merupakan dua tahap dari satu pengalaman mistis. Peristiwa itu hampir dapat dipastikan terjadi setahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah (bdk. Ibn Sa’d I/I. h. 143).

Menurut berbagai hadis sahih—yang dikutip dan dibahas panjang lebar oleh Ibn Katsir dalam penafsirannya terhadap Surah Al-lsra’ [17]: 1, serta oleh Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari VII, hh. 155 dan seterusnya—Rasulullah, yang ditemani oleh Malaikat Jibril, mendapati dirinya tengah diperjalankan pada malam hari menuju Bait Allah yang dibangun Nabi Sulaiman di Yerusalem, tempat dia memimpin shalat berjamaah yang diikuti oleh para nabi yang telah lama wafat; selanjutnya, Nabi Muhammad Saw bertemu lagi dengan sebagian dari nabi tersebut di langit. Dalam pandangan teologis kaum Muslim, peristiwa Mi’raj, khususnya, menjadi penting karena selama berlangsungnya pengalaman inilah shalat lima waktu ditetapkan secara eksplisit—melalui perintah Allah—sebagai bagian integral dari agama Islam.

Karena Nabi sendiri tidak meninggalkan keterangan yang jelas mengenai pengalamannya ini, para pemikir Muslim—termasuk para Sahabat Nabi—memahami hakikat peristiwa tersebut dengan pemahaman yang sangat berbeda-beda. Sebagian besar Sahabat percaya bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa fisik (jasmani)—dengan kata lain, Nabi diperjalankan secara ragawi menuju Yerusalem dan kemudian menuju langit—sedangkan sebagian kecil Sahabat meyakini bahwa pengalaman Nabi itu murni bersifat ruhani. Di antara yang sepaham dengan kelompok yang disebutkan terakhir ini, kita khususnya mendapati nama ‘Aisyah—istri Nabi sekaligus orang yang paling dekat dengan beliau pada tahun-tahun terakhirnya—yang menyatakan dengan tegas bahwa “beliau diperjalankan hanya dengan ruhnya (bi ruhihi), sedangkan raganya tidak meninggalkan tempatnya” (bdk. Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, dan Ibn Katsir dalam penafsiran mereka terhadap Surah Al-Isra’ [17]: 1); Hasan Al-Bashri yang masyhur, yang berasal dari generasi berikutnya, secara tegas menganut pandangan serupa (ibid.). Berlawanan dengan pandangan tersebut, para teolog yang berpendapat bahwa perisriwa Isra’ Mi’raj merupakan pengalaman fisik mendasarkan pendapat mereka pada pendapat serupa yang dipegang sebagian besar Sahabat—tetapi, mereka tidak mampu menyebutkan satu pun hadis yang menerangkan bahwa Nabi sendiri memaparkan peristiwa tersebut seperti pendapat mereka itu. Sebagian ulama memberi penekanan pada kata-kata asra bi ‘abdihi (“Dia memperjalankan hamba-Nya pada malam hari”) yang terdapat dalam Surah Al-Isra’ [17]: 1, dan berpandangan bahwa kata ‘abd (“hamba”) berarti makhluk hidup dalam keseluruhannya, yakni kombinasi antara jiwa dan raga. Namun, penafsiran ini tidak mempertimbangkan bahwa ungkapan asra bi ‘abdihi semata-mata mengacu pada kualitas kemanusiaan Nabi, sejalan dengan banyak pernyataan Al-Quran bahwa Nabi Muhammad Saw, seperti halnya seluruh rasul yang lain, adalah hamba Allah yang tidak abadi dan tidak dianugerahi dengan kualitas-kualitas adikodrati. Hal ini, menurut saya, ditekankan dengan jelas oleh kata-kata penutup Surah Al-Isra’ [17]: 1 tersebut—“sungguh, Dia sajalah yang Maha Mendengar, Maha Melihat”—setelah menyatakan bahwa Nabi diperlihatkan sebagian dari perlambang-perlambang Allah (min ayatina), yakni diperlihatkan sebagian, tetapi tidak seluruhnya, pengetahuan tentang kebenaran tertinggi yang mendasari ciptaan Allah.

Argumen paling meyakinkan yang mendukung penafsiran ruhani terhadap peristiwa Isra’ dan Mi’raj diperoleh dari penggambaran-penggambaran yang sangat alegoris yang terdapat di dalam hadis-hadis yang merujuk pada pengalaman tersebut: penggambaran-penggambaran itu jelas-jelas bersifat simbolis sehingga menghilangkan kemungkinan untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa tersebut secara harfiah, yakni dalam pengertian “fisik”. Contohnya, Rasulullah Saw berbicara tentang pertemuannya—di Yerusalem, dan selanjutnya juga di langit—dengan sejumlah nabi terdahulu, yang tidak diragukan lagi bahwa para nabi itu seluruhnya telah lama wafat. Menurut sebuah hadis (yang dikutip oleh Ibn Katsir yang bersumber dari Anas), Nabi Muhammad Saw mengunjungi Nabi Musa as di dalam kuburnya, dan mendapati bahwa Nabi Musa as sedang melakukan shalat. Di dalam hadis lainnya, yang juga bersumber dari Anas (bdk. Fath-Bari VII, h. 158), Nabi menggambarkan bahwa dalam Isra’ itu beliau berjumpa dengan seorang perempuan tua, dan kemudian Jibril berkata kepada Muhammad Saw, “Perempuan tua itu adalah dunia fana (al-dunya).” Di dalam hadis lainnya lagi, yang bersumber dari Abu Hurairah (ibid.), Nabi “melewati orang-orang yang sedang menabur benih dan memanen; dan setiap kali mereka selesai memanen, [benih itu] tumbuh kembali. Jibril berkata, ‘Ini adalah para pejuang di jalan Allah (al-mujahidin).’ Kemudian, mereka melewati orang-orang yang kepalanya dihancurkan oleh batu; dan setiap kali kepala mereka itu hancur, kepala mereka utuh kembali. [Jibril] berkata, ‘Ini adalah mereka yang kepalanya lalai untuk melakukan shalat.’ … Lalu, mereka melewati orang-orang yang sedang memakan daging mentah busuk dan membuang daging sehat yang sudah dimasak. [Jibril] berkata, ‘Ini adalah para pezina.’”

Dalam hadis yang paling terkenal mengenai peristiwa Mi’raj (yang dikutip oleh Al-Bukhari), Nabi memulai ceritanya dengan kata-kata: “Ketika aku berbaring di tanah di dekat Ka’bah [secara harfiah, ‘di dalam hijr‘], sungguh! telah datang kepadaku malaikat dan dia membelah dadaku serta mengambil hatiku. Lalu, sebuah wadah emas yang penuh dengan iman dibawakan kepadaku, dan hatiku dicuci [di dalamnya] dan kemudian diisi [dengannya]: lalu, hati itu dikembalikan ke tempatnya semula …” Karena “iman” adalah konsep yang abstrak, jelaslah bahwa Nabi menganggap kejadian yang mendahului perisriwa Mi’raj itu—dan, karenanya, peristiwa Mi’raj itu sendiri serta, sebagai konsekuensi dari fakta itu, peristiwa Isra’ menuju Yerusalem—adalah murni pengalaman ruhani.

Namun, meskipun tidak ada alasan yang meyakinkan untuk memercayai bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa “fisik”, di sisi lain tidak ada alasan untuk meragukan realitas objektif peristiwa tersebut. Para teolog Muslim pada masa-masa awal, yang tidak dapat diharapkan bahwa mereka telah memiliki pengetahuan psikologi yang memadai, hanya dapat membayangkan dua alternatif: apakah peristiwa yang bersifat fisik atau mimpi. Karena bagi mereka tampaknya—dan memanglah demikian—peristiwa menakjubkan tersebut akan sangat kehilangan arti pentingnya jika dianggap hanya terjadi dalam alam mimpi, mereka secara naluriah menafsirkan peristiwa itu sebagai kejadian yang bersifat fisik, dan dengan bersemangat mempertahankan penafsiran semacam itu melawan semua pandangan yang berlawanan, seperti pandangan ‘Aisyah, Mu’awiyah, atau Hasan Al-Bashri. Namun, sementara itu, kita telah sampai pada pengetahuan bahwa pengalaman mimpi bukan satu-satunya alternatif di samping alternatif peristiwa fisik. Penelitian psikologi modern, meskipun masih dalam tahap perkembangan dini, telah membuktikan bahwa tidak semua pengalaman ruhani (yaitu suatu pengalaman yang tidak melibatkan satu pun organ jasmani manusia) niscaya merupakan manifestasi subjektif “pikiran” semata—apa pun pengertian dari istilah ini—melainkan, dalam situasi-situasi tertentu, pengalaman tersebut bisa jadi sama nyata atau “faktual”-nya (dalam pengertian objektif kata ini) dibandingkan dengan apa pun yang dapat dialami oleh manusia melalui organ-organ fisiologisnya. Hingga saat ini, sangat sedikit yang kita ketahui mengenai kualitas aktivitas-aktivitas kejiwaan yang luar biasa semacam itu dan, dengan demikian, hampir mustahil mencapai kesimpulan yang pasti mengenai hakikat pengalaman tersebut. Meskipun demikian, pengamatan-pengamatan tertentu yang dilakukan oleh para psikolog modern telah membenarkan kemungkinan—yang telah diklaim oleh para penganut aliran mistik dari berbagai aliran sejak dahulu—mengenai “kebebasan” sementara jiwa manusia dari tubuhnya yang masih hidup. Dalam keadaan “terbebas” seperti itu, jiwa atau nyawa bergerak bebas menembus ruang dan waktu, menyaksikan peristiwa-peristiwa dan fenomena yang, dalam keadaan biasa, termasuk dalam kategori realitas yang jauh berbeda, dan meringkas-padatkan peristiwa dan fenomena tersebut melalui persepsi-persepsi simbolis yang amat sangat dalam, jernih, dan menyeluruh. Namun, ketika pengalaman “visioner” semacam itu (kita terpaksa menyebutnya demikian karena tidak ada istilah yang lebih memadai) dikomunikasikan kepada orang-orang yang tidak pernah mengalami hal serupa, orang yang bersangkutan—dalam hal ini Nabi Muhammad Saw—harus menggunakan ungkapan-ungkapan kiasan: dan inilah yang menjelaskan mengapa gaya ungkapan yang bersifat alegoris digunakan di dalam seluruh hadis yang berhubungan dengan penglihatan mistis dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Pada titik ini, saya hendak mengajak pembaca untuk menyimak pembahasan tentang “Mi’raj spiritual” yang dikemukakan oleh salah seorang pemikir besar Islam, Ibn Al-Qayyim (Zad Al-Ma’ad II, hh. 48 dan seterusnya):

‘Aisyah dan Mu’awiyah berpendapat bahwa peristiwa Isra [Nabi] terjadi hanya dengan jiwa beliau (bi ruhihi), sedangkan raga beliau tidak meninggalkan tempatnya. Diriwayatkan bahwa Hasan Al-Bashri juga menganut pandangan yang sama. Namun, penting untuk mengetahui perbedaan antara ungkapan, ‘Isra hanya terjadi dalam mimpi (manaman)’ dan ungkapan, ‘peristiwa itu [dilakukan] dengan jiwa, tanpa raga beliau’. Perbedaan antara kedua [pandangan] ini sangat besar … Apa yang dilihat oleh orang yang bermimpi hanyalah reproduksi (amtsal) bentuk-bentuk yang telah ada di dalam pikirannya; demikianlah, [misalnya] beliau bermimpi naik ke langit atau diperjalankan ke Makkah atau ke wilayah-wilayah [lain] di muka bumi, sedangkan [kenyataannya] jiwanya tidak naik ke langit ataupun diperjalankan …

Orang-orang yang telah meriwayatkan peristiwa Mi’raj Rasulullah kepada kita dapat dibagi ke dalam dua kelompok—kelompok pertama berpendapat bahwa peristiwa Mi’raj Rasul terjadi dengan jiwa dan raga beliau, dan kelompok kedua berpandangan bahwa peristiwa itu terjadi hanya dengan jiwa (ruh) beliau, sedangkan raga beliau tidak meninggalkan tempatnya. Namun, kelompok yang terakhir ini [pun] tidak bermaksud mengatakan bahwa peristiwa Mi’raj itu terjadi dalam mimpi: mereka hanya mengatakan bahwa hanya jiwa beliau yang sesungguhnya melakukan Isra’ dan Mi’raj, dan bahwa jiwa itu menyaksikan berbagai hal yang [seharusnya hanya bisa] disaksikan setelah mati [lit., mufaraqah, ‘perpisahan’]. Kondisi jiwa pada saat itu sama dengan kondisi [jiwa] setelah kematian … Namun, apa yang dialami oleh Rasulullah dalam Isra’ beliau itu jauh lebih tinggi daripada pengalaman [biasa] yang dialami jiwa setelah kematian dan tentunya jauh berbeda dengan mimpi yang dilihat oleh seseorang pada waktu tidur … Adapun para nabi [yang ditemui Rasulullah di langit] tidak lain adalah jiwa mereka yang telah tinggal di sana sesudah terpisah dari raga mereka, sedangkan jiwa Rasulullah naik ke sana pada masa hidupnya.

Jelaslah bahwa jenis pengalaman ruhani seperti ini bukan hanya tidak lebih rendah, melainkan sebaliknya, jauh lebih tinggi daripada apa yang bisa dilakukan atau direkam oleh organ-organ tubuh; dan, sejalan dengan pernyataan Ibn Al-Qayyim, peristiwa itu juga jelas lebih unggul daripada apa yang kita istilahkan sebagai ”pengalaman-pengalaman mimpi” (dream experiences) karena yang terakhir ini tidak memiliki eksistensi objektif di luar pikiran orang rersebut, sedangkan pengalaman ruhani yang dibicarakan di atas tidak kurang “nyata”-nya (yakni, bersifat objektif) jika dibandingkan dengan segala sesuatu yang dapat dialami “di dalam tubuh”. Dengan berpendapat bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw merupakan pengalaman ruhani dan bukan ragawi, kita tidak menghilangkan nilai keluarbiasaan yang melekat pada pengalaman Nabi ini. Sebaliknya, kenyataan bahwa Nabi mengalami pengalaman semacam itu justru jauh melampaui keajaiban peristiwa kenaikan yang bersifat ragawi mana pun karena hal itu mensyaratkan adanya pribadi dengan kesempurnaan ruhani yang luar biasa—hal yang memang kita harapkan dimiliki oleh seorang rasul yang sejati. Namun, manusia biasa seperti kita ini tidak mungkin bisa memahami sepenuhnya peristiwa ruhani semacam itu. Pikiran kita hanya dapat beroperasi dengan menggunakan unsur-unsur yang disediakan oleh kesadaran kita mengenai ruang dan waktu; dan segala sesuatu yang melampaui rangkaian konsepsi yang khas seperti ini akan selalu menghalangi kita untuk membuat suatu definisi yang jelas mengenai pengalaman ruhani tersebut.

Sebagai kesimpulan, hendaknya diperhatikan bahwa Perjalanan Isra’ Nabi dari Makkah ke Yerusalem, yang terjadi tidak lama sebelum Mi’raj, tampaknya dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa Islam bukanlah merupakan sebuah ajaran baru, melainkan merupakan kelanjutan dari pesan Ilahi yang sama yang telah disampaikan oleh para nabi terdahulu, yang menjadikan Yerusalem sebagai kediaman spiritual mereka. Pandangan ini didukung oleh hadis-hadis (yang dikutip di dalam Fath. Al-Bari VII, h. 158), yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw, selama Isra’-nya, juga melaksanakan shalat di Yatsrib, Sinai, Betlehem, dan sebagainya. Perjumpaan beliau dengan para nabi terdahulu, yang dikisahkan dalam kaitan ini, melambangkan gagasan yang sama. Hadis-hadis masyhur yang meriwayatkan bahwa pada peristiwa Isra’ itu Nabi Muhammad Saw menjadi imam shalat bagi semua nabi lainnya di Bait Allah Yerusalem (Al-Quds) secara kiasan mengungkapkan ajaran bahwa Islam, sebagaimana yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad Saw, merupakan penyelesaian dan penyempurnaan perkembangan keagamaan umat manusia, dan bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan pembawa risalah Allah yang terakhir dan yang terbesar.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *