Al-Mutasyabihat (Simbolisme dan Alegori) dalam Al-Qur’an

Al-Mutasyabihat (Simbolisme dan Alegori) dalam Al-Qur’an

Ketika seseorang mengkaji Al-Quran, hal yang sering dijumpai adalah apa yang digambarkan sebagai “frasa-frasa kunci”—yaitu, pernyataan-pernyataan yang memberi petunjuk yang jelas dan ringkas mengenai gagasan yang mendasari sebuah ayat atau ayat-ayat tertentu: contohnya, pembicaraan yang cukup banyak tentang penciptaan manusia “dari tanah” dan “dari setetes air mani”, yang menunjuk pada rendahnya asal-usul biologis spesies manusia; atau pernyataan dalam Surah Al-Zalzalah [99] bahwa pada Hari Kebangkitan, “siapa pun yang mengerjakan kebaikan, walau seberat atom, niscaya akan melihatnya; dan siapa pun yang mengerjakan kejahatan, walau seberat atom, niscaya akan melihatnya”—yang mengisyaratkan akibat dan tanggung jawab yang tak terelakkan yang akan dipikul oleh manusia pada kehidupan mendatang atas semua perbuatannya yang dilakukan secara sadar di dunia ini; atau pernyataan Allah (dalam Surah Shad [38]: 27), “tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya tanpa makna dan tujuan (bāthilan), sebagaimana sangkaan orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran itu.”

Contoh-contoh frasa kunci Al-Quran semacam itu dapat dikutip hampir secara tidak terbatas serta muncul dalam banyak rumusan yang bervariasi. Namun, ada satu pernyataan mendasar dalam Al-Quran yang hanya disebut satu kali, dan pernyataan ini mungkin dapat dinilai sebagai “induk frasa kunci dari seluruh frasa kunci”: yakni, pernyataan yang terdapat di dalam ayat 7 Surah Al-‘Imran [3] yang menyatakan bahwa Al-Quran “berisi pesan-pesan yang jelas pada dan oleh dirinya sendiri (āyāt muhkamāt) di samping ayat-ayat lain yang bersifat majasi (mutasyābihāt)”. Ayat inilah yang merepresentasikan, dalam pengertian absolut, kunci untuk memahami pesan Al-Quran dan membuatnya dapat dipahami oleh “kaum yang berpikir” (li qaumin yatafakkarun).

Dalam catatan saya mengenai Surah Al-‘Imran di atas, saya telah mencoba menjelaskan makna ungkapan āyāt muhkamāt serta pengertian umum dari apa yang disebut sebagai mutasyābihāt (“alegoris” atau “simbolis”). Tanpa pemahaman yang tepat mengenai apa yang dimaksud oleh istilah yang disebutkan terakhir tersebut, sebagian besar isi Al-Quran mungkin—dan kenyataannya memang sudah sering terjadi—benar-benar disalah-pahami, baik oleh orang yang memercayainya maupun oleh orang yang menolak untuk memercayainya sebagai wahyu Ilahi. Akan tetapi, apresiasi terhadap apa yang dimaksud dengan “alegori” atau “simbolisme” dalam konteks Al-Quran, dengan sendirinya, tidak cukup untuk membuat orang memahami sepenuhnya pandangan-dunia Al-Quran: untuk mencapai hal ini, kita mesti menghubungkan penggunaan istilah-istilah itu oleh Al-Quran dengan suatu konsep yang disinggung hampir sejak permulaan kitab Ilahi ini—yakni, adanya “suatu realitas yang berada di luar jangkauan persepsi atau kemampuan indra manusia (al-ghaib)”. Konsep inilah yang membentuk premis dasar untuk memahami seruan Al-Quran dan bahkan untuk memahami prinsip agama—setiap agama—itu sendiri: sebab, semua pemikiran keagamaan yang sejati muncul dari dan didasarkan pada fakta bahwa hanya ada sebagian kecil realitas yang terjangkau oleh persepsi dan imajinasi manusia, sedangkan bagian yang jauh lebih besar dari realitas itu sama sekali berada di luar kemampuan pemahaman manusia.

Namun, di samping konsep metafisika yang jelas ini, kita memiliki temuan dalam bidang psikologi yang tidak kurang jelasnya: yakni, bahwa pikiran manusia (yang kita maksudkan dengan pikiran manusia di sini adalah pikiran sadar, imajinasi, alam-mimpi, intuisi, ingatan, dan sebagainya) hanya dapat beroperasi berdasarkan persepsi-persepsi yang sebelumnya telah dialami oleh pikiran itu sendiri, baik secara keseluruhan maupun dalam beberapa unsur pembentuknya: dengan demikian, pikiran tidak dapat menggambarkan, atau membentuk suatu ide tentang, sesuatu yang sama sekali berada di luar hal-hal yang pernah dialami sebelumnya. Karena itu, setiap kali kita menemukan suatu gambaran mental atau ide yang tampaknya “baru”, setelah dicermati lebih jauh, kita akan menemukan bahwa meskipun gambaran mental itu, sebagai suatu entitas gabungan, bersifat baru, ia tidak sepenuhnya baru dalam hal unsur-unsur pembentuknya karena unsur-unsur itu semuanya berasal dari pengalaman-pengalaman mental sebelumnya yang terkadang sama sekali terpisah—yang kini digabungkan dalam suatu kombinasi baru atau rangkaian kombinasi-kombinasi baru.

Sekarang, segera setelah kita menyadari bahwa pikiran manusia tidak mampu beroperasi kecuali berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya—yakni, berdasarkan sejumlah apersepsi1 dan kognisi yang sudah terekam dalam pikiran itu—kita dihadapkan dengan sebuah pertanyaan berat, yaitu: Karena ide-ide metafisika agama, lantaran sifat dasarnya, berhubungan dengan hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi atau pengalaman manusia, bagaimana ide-ide itu dapat berhasil disampaikan kepada kita? Bagaimana kita bisa diharapkan mampu menangkap ide-ide yang tidak ada padanannya, bahkan sedikit pun, dalam apersepsi apa pun yang telah kita alami secara empiris?

Jawabannya jelas: yakni, dengan bantuan imaji-imaji pinjaman (loan-images) yang didapat dari pengalaman aktual kita, baik pengalaman fisik maupun mental; atau, sebagaimana ungkapan Al-Zamakhsyari dalam penafsirannya terhadap Surah Ar-Ra’d [13]: 35, “melalui suatu ilustrasi majasi mengenai sesuatu yang berada di luar jangkauan persepsi kita dengan menggunakan sesuatu yang kita ketahui dari pengalaman kita” (tamtsilan li-ma ghaba ‘anna bi-ma nusyahid). Dan, itulah makna terdalam dari istilah dan konsep al-mutasyābihāt sebagaimana yang digunakan oleh Al-Quran.

Dengan demikian, Al-Quran menyampaikan dengan jelas kepada kita bahwa banyak ayat dan ungkapannya harus dipahami dalam pengertian alegoris karena alasan sederhana, yaitu karena ayat-ayat dan ungkapan-ungkapan itu dimaksudkan agar dapat dipahami manusia, mereka tidak dapat disampaikan kepada kita dengan cara lain. Karena itu, seandainya kita memahami setiap ayat, pernyataan, atau ungkapan Al-Quran dalam pengertian harfiah dan lahiriahnya serta mengabaikan kemungkinannya sebagai sebuah alegori, metafora, atau parabel, kita justru akan menyalahi inti semangat Kitab Suci ini sendiri.

Sebagai contoh, perhatikanlah beberapa pembicaraan Al-Quran mengenai Wujud Allah—Wujud yang tidak dapat didefinisikan, yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dan yang sepenuhnya berada di luar jangkauan pemahaman makhluk. Amat jauh dari kemampuan untuk membayangkan Dia, kita hanya dapat mengetahui apa yang tidak mungkin pada-Nya: yakni, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tidak dapat dibandingkan, dan tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori apa pun yang dibuat oleh pemikiran manusia. Karena itu, hanya metafora-metafora paling umum yang dapat menyampaikan kepada kita, kendati dengan sangat tidak memadai, gagasan tentang eksistensi dan aktivitas Allah.

Karena itu, ketika Al-Quran berbicara bahwa Dia berada “di lelangit” atau “bersemayam di atas singgasana kemahakuasaan-Nya (al-‘arsy)”, kita mustahil memahami frasa-frasa tersebut dalam pengertian harfiahnya karena, jika demikian, hal itu akan menunjukkan, meski secara samar, bahwa Allah dibatasi oleh ruang: dan, karena pembatasan semacam itu akan bertentangan dengan konsep Wujud Yang Tak Terbatas, kita segera mengetahui tanpa keraguan sedikit pun bahwa “lelangit”, “singgasana”, serta “bersemayamnya” Allah di atas “singgasana” itu tidak lain adalah sarana bahasa yang dimaksudkan untuk menyampaikan suatu gagasan yang berada di luar seluruh pengalaman manusia, yakni gagasan tentang kemahakuasaan Allah dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas segala sesuatu. Demikian pula, tatkala Dia digambarkan sebagai “Yang Maha Melihat”, “Maha Mendengar”, atau “Maha Mengetahui”, kita mengetahui bahwa penggambaran-penggambaran tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan fenomena penglihatan atau pendengaran fisik, melainkan semata-mata untuk menggambarkan, dalam ungkapan-ungkapan yang dapat dipahami oleh manusia, fakta tentang Kehadiran abadi Allah dalam segala sesuatu yang ada atau yang terjadi. Dan, karena “tiada penglihatan manusia yang dapat menjangkau-Nya” (Surah Al-An’am [6]: 103), manusia tidak diharapkan untuk menyadari keberadaan-Nya selain melalui pengamatan terhadap akibat-akibat dari aktivitas-Nya yang tiada henti yang Dia lakukan di dalam dan terhadap alam semesta yang Dia ciptakan.

Namun, sementara kepercayaan kita terhadap eksistensi Allah tidak—dan memang tidak mungkin—bergantung pada pemahaman kita terhadap “bagaimana”-nya Wujud Allah yang tidak dapat dipahami itu, hal yang sama tidak berlaku untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan wujud manusia sendiri dan, khususnya, untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan gagasan tentang kehidupan mendatang di akhirat: sebab, jiwa manusia tersusun sedemikian rupa sehingga tidak dapat menerima proposisi apa pun yang berkaitan dengan dirinya sendiri tanpa diberikan penjelasan yang gamblang mengenai maksud dari proposisi tersebut.

Al-Quran menceritakan kepada kita bahwa kehidupan manusia di dunia ini tidak lain hanyalah merupakan tahapan pertama—dan sangat singkat—dari kehidupan yang akan terus berlanjut sesudah melewati titik jeda yang disebut “kematian”; dan Al-Quran yang sama pun berkali-kali menekankan prinsip tentang tanggung jawab moral manusia atas semua perbuatan sadarnya serta atas perilakunya, dan tentang kelanjutan tanggung jawab ini, yang berupa konsekuensi-konsekuansi yang tidak dapat dihindari—yang baik atau yang buruk—dalam kehidupan seseorang di akhirat. Namun, bagaimana manusia dapat dibuat memahami hakikat dari konsekuensi-konsekuensi tersebut serta kualitas kehidupan yang menantinya?—sebab, jelas, lantaran kebangkitan manusia akan merupakan hasil dari apa yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai “suatu tindak penciptaan baru” kehidupan yang akan terjadi nanti pastilah berbeda sama sekali dengan segala yang dapat dan benar-benar dialami oleh manusia di dunia ini.

Karena itu, tidaklah cukup jika dikatakan kepada manusia bahwa “Jika kalian berlaku baik di dunia ini, kalian akan meraih kebahagiaan di akhirat”, atau, “Jika kalian berbuat jahat di dunia ini, kalian akan menderita karenanya di akhirat”. Pernyataan-pernyataan seperti ini terlampau umum dan abstrak untuk dapat menyentuh imajinasi manusia dan untuk memengaruhi perilakunya. Yang dibutuhkan adalah daya tarik yang lebih langsung menyentuh akal, yang muncul dalam bentuk semacam “visualisasi” terhadap konsekuensi-konsekuensi dari perbuatan dan pengabaian yang dilakukan oleh seseorang secara sadar: dan, daya tarik semacam itu dapat diciptakan secara efektif melalui metafora, alegori, dan perumpamaan yang, di satu sisi, menekankan bahwa segala sesuatu yang akan dialami oleh manusia setelah kebangkitan sama sekali berbeda dengan apa pun yang pernah atau dapat dia alami di dunia ini; dan di sisi lain, memberikan sarana untuk membandingkan kedua kategori pengalaman tersebut.

Oleh karena itu, ketika menjelaskan gambaran kebahagiaan surga yang tercantum dalam Surah As-Sajdah [32]: 17, Nabi menunjukkan perbedaan hakiki antara kehidupan manusia di dunia ini dan kehidupan manusia di akhirat dalam kata-kata berikut: “Allah berfirman, ‘Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia” (Al-Bukhari, Muslim, Al-Tirmidzi). Di sisi lain, dalam Surah Al-Baqarah [2]: 25, Al-Quran berbicara tentang orang-orang yang diberkati di dalam surga sebagai berikut: “Setiap kali mereka diberi buah-buahan dari taman itu sebagai rezeki mereka yang telah ditetapkan, mereka akan berkata, ‘Inilah yang dahulu diberikan kepada kami sebagai rezeki!’—sebab, mereka akan diberi sesuatu yang mengingatkan pada [masa lalu] itu”. Demikianlah kita menemukan gambaran tentang taman-taman yang dilalui oleh sungai yang mengalir, tempat teduh yang penuh kebahagiaan, pasangan yang kecantikannya tak terperi, serta banyak kesenangan lainnya yang bermacam-macam dan tiada berakhir. Namun, semua kebahagiaan ini bagaimanapun dapat tetap dibandingkan dengan apa yang dapat dianggap sebagai hal-hal yang paling menyenangkan di dunia ini.

Akan tetapi, kemungkinan perbandingan intelektual antara dua tahapan eksistensi manusia ini hingga taraf tertentu dibatasi oleh kenyataan bahwa seluruh pemikiran dan imajinasi kita terkait erat dengan konsep ruang dan waktu yang terbatas: dengan kata lain, kita tidak dapat membayangkan ketakterbatasan dalam ruang maupun waktu—dan, karena itu, kita tidak dapat membayangkan eksistensi yang tidak bergantung pada ruang dan waktu—atau, sebagaimana yang diungkapkan Al-Quran ketika merujuk pada kebahagiaan akhirat, membayangkan “surga yang seluas lelangit dan bumi” (Surah Al-‘Imran [3]: 133)—ungkapan Al-Quran yang bersinonim dengan seluruh alam semesta. Di lain pihak, kita mengetahui bahwa setiap pernyataan Al-Quran ditujukan kepada nalar manusia dan, karena itu, harus dapat dipahami apakah secara harfiah (sebagaimana dalam ayat muhkamat) atau secara alegoris (sebagaimana dalam ayat mutasyabihat); dan karena ketakterbatasan maupun keabadian tidak dapat dipahami oleh kita—lantaran keadaan pikiran manusia sendiri—pembicaraan tentang “keluasan” surga yang tidak terbatas itu tentunya merujuk pada intensitas sensasi yang akan diberikannya kepada orang-orang yang dirahmati.

Dengan analogi yang jelas, prinsip “perbandingan melalui alegori” yang diterapkan Al-Quran dalam setiap pembicaraan tentang surga (yakni, suatu keadaan bahagia yang tak terbayangkan yang akan terjadi di akhirat) harus diterapkan juga pada setiap gambaran Al-Quran tentang penderitaan di akhirat (yakni, neraka) dalam hal ketidaksamaan mutlaknya dengan seluruh pengalaman duniawi serta dalam hal intensitasnya yang tak terukur.

Dalam kedua kasus tersebut, metode deskripsi Al-Quran adalah sama. Seakan-akan dikatakan kepada kita, “Bayangkanlah sensasi-sensasi yang paling menyenangkan—baik yang bersifat jasmani maupun emosi—yang dapat dirasakan oleh manusia: keindahan yang tak terperi, cinta yang bersifat jasmani maupun ruhani, rasa kepuasan, kedamaian dan keharmonisan yang sempurna; dan bayangkanlah sensasi-sensasi ini diperdalam hingga melampaui apa pun yang dapat dibayangkan di dunia ini—dan pada saat yang sama, berbeda sama sekali dengan segala sesuatu yang dapat dibayangkan: demikianlah engkau akan memiliki sedikit gambaran, betapapun samarnya, tentang apa yang dimaksud dengan ‘surga’.” Dan, pada sisi lain: “Bayangkanlah penderitaan yang paling pedih, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani, yang mungkin dialami oleh manusia: terbakar oleh api, kesendirian dan kesunyian yang mencekam, penderitaan akibat frustrasi yang tiada henti, keadaan antara hidup dan mati; dan bayangkanlah penderitaan, kegelapan, dan keputusasaan ini diperdalam hingga melampaui apa pun yang dapat dibayangkan di dunia ini—dan pada saat yang sama, berbeda sama sekali dengan segala sesuatu yang dapat dibayangkan: demikianlah engkau akan mengetahui, betapapun samarnya, apa yang dimaksud dengan ‘neraka’.”

Di samping alegori-alegori yang berhubungan dengan kehidupan manusia setelah mati, di dalam Al-Quran kita menemukan banyak ungkapan simbolis yang mengacu pada bukti aktivitas Allah. Lantaran keterbatasan bahasa manusia—yang pada gilirannya disebabkan oleh keterbatasan bawaan dalam pikiran manusia—aktivitas ini hanya dapat dijelaskan secara garis besar dan tidak pernah dapat digambarkan sepenuhnya. Sebagaimana mustahilnya kita membayangkan atau mendefinisikan Wujud Allah, watak sesungguhnya dari aktivitas penciptaan yang dilakukan-Nya—dan juga rencana penciptaan yang dilakukan-Nya—pasti tetap berada di luar jangkauan pemahaman kita. Namun, karena Al-Quran bertujuan untuk menyampaikan kepada kita ajaran etika yang didasarkan pada konsep bahwa tindakan penciptaan yang dilakukan Allah pasti memiliki tujuan, konsep itu harus “diterjemahkan” ke dalam kategori-kategori pemikiran yang dapat dimengerti oleh manusia. Demikianlah alasan penggunaan ungkapan-ungkapan yang sepintas tampak bernuansa antropomorfistik2, seperti “kemurkaan” (ghadhab) atau “hukuman” Allah; “keridhaan”-Nya terhadap perbuatan baik atau “cinta”-Nya kepada makhluk-Nya; atau “ketakpedulian”-Nya terhadap para pendosa yang tidak peduli terhadap-Nya; atau tindakan-Nya “menanyai” pelaku kejahatan pada Hari Kebangkitan tentang perbuatan jahatnya; dan seterusnya. Semua “penerjemahan” verbal terhadap aktivitas Allah semacam itu ke dalam terminologi manusia tidak dapat terhindarkan selama kita diharapkan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip etika yang diwahyukan kepada kita melalui bahasa manusia; tetapi, tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa “terjemahan-terjemahan” itu dapat membuat kita mampu untuk mendefinisikan Dia Yang Tidak Bisa Didefinisikan.

Dan, sebagaimana dijelaskan Al-Quran dalam ayat 7 Surah Al-‘Imran [3], hanya “orang-orang yang hatinya cenderung menyimpang dari kebenaran mengikuti bagian kitab Ilahi yang diungkapkan secara majasi, dengan mencari-cari [hal-hal yang pasti menimbulkan] kebingungan, dan berusaha [menyimpulkan] makna pamungkasnya [secara sewenang-wenang]; tetapi, tiada seorang pun selain Allah yang mengetahui makna pamungkasnya.”

Catatan kaki

  1. Apersepsi adalah pemahaman atau pengasimilasian sesuatu, misalnya sebuah gagasan baru, berdasarkan sejumlah pengalaman dan persepsi masa lalu—peny.
  2. Antropomorfistik, dari bahasa Yunani anthropos (manusia) + morphe (bentuk); maksudnya, bersifat menisbahkan sifat, perilaku, atau bentuk manusiawi kepada wujud nonmanusiawi. Misalnya, menyatakan bahwa “Tuhan marah”, dan sebagainya, padahal “marah” dan “senang” merupakan sifat/perilaku manusia—peny.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *