Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an

Al-Muqatta’at (Huruf-Huruf Terpisah) dalam Al-Qur’an

Sekitar seperempat dari surah-surah Al-Qur’an didahului oleh simbol-simbol huruf misterius yang disebut muqatta’at (“huruf-huruf terpisah”) atau yang terkadang disebut fawatih (“pembuka”) karena mereka muncul di awal surah-surah tertentu.

Dari 28 huruf alfabet Arab, persis setengahnya—yaitu 14 huruf—muncul dalam posisi tersebut, baik dengan satu huruf saja atau dengan gabungan huruf yang terdiri atas dua, tiga, empat, atau lima huruf. Huruf-huruf tersebut selalu dilafalkan secara terpisah-pisah, menurut nama hurufnya dan bukan menurut bunyinya—jadi: alif lām mim, atau hā mim, dan sebagainya.

Makna simbol-simbol huruf ini telah dibahas oleh para mufasir sejak masa-masa awal. Tidak ada bukti bahwa Nabi pernah berbicara tentang hal ini dalam salah satu hadisnya, dan para Sahabat pun tidak pernah menanyakan kepada beliau penjelasan mengenai huruf-huruf tersebut. Namun, tanpa sedikit pun keraguan, diyakini bahwa seluruh Sahabat—yang jelas-jelas mengikuti teladan Nabi—memandang muqaththa’at sebagai bagian integral dari surah-surah yang diawali oleh huruf-huruf tersebut, dan mereka biasa membacanya demikian: suatu kenyataan yang secara tegas mematahkan anggapan yang dikemukakan oleh beberapa orientalis Barat yang mengatakan bahwa huruf-huruf itu mungkin hanyalah merupakan inisial dari para pencatat yang menuliskan tiap-tiap wahyu yang didiktekan oleh Nabi, atau merupakan inisial dari para Sahabat yang mencatat wahyu tersebut pada saat pengodifikasian final Al-Quran pada masa kekuasaan tiga khalifah pertama.

Sebagian Sahabat dan sebagian dari generasi sesudah Sahabat (tabi’un) serta para mufasir Al-Quran dari masa kemudian meyakini bahwa huruf-huruf itu adalah singkatan dari beberapa kata tertentu atau bahkan merupakan frasa-frasa yang berhubungan dengan Allah dan sifat-sifat-Nya, dan mereka mencoba untuk “merekonstruksi” huruf-huruf itu dengan sangat cerdas: namun, karena kombinasi yang mungkin dihasilkan praktis tidak terbatas, seluruh penafsiran semacam ini bersifat sangat arbitrer dan, karena itu, tidak memiliki manfaat yang nyata. Sebagian ahli lainnya mencoba mengaitkan muqaththa’at ini dengan nilai bilangan dari huruf-huruf dalam abjad Arab dan dengan cara ini “menderivasikan” segala macam ramalan dan isyarat yang bersifat esoteris.

Sedangkan, penafsiran lain yang mungkin lebih masuk akal, yang didasarkan pada dua rangkaian fakta, dikemukakan oleh beberapa ulama Muslim yang paling terkemuka selama berabad-abad:

Pertama, seluruh kata dalam bahasa Arab tanpa terkecuali tersusun dari satu huruf atau dari kombinasi dua, tiga, empat, atau lima huruf, dan tidak pernah lebih dari lima huruf: dan sebagaimana telah disebutkan, itu adalah bentuk-bentuk kombinasi yang digunakan dalam muqaththa’at.

Kedua, seluruh surah yang diawali oleh simbol-simbol huruf itu dibuka, secara langsung maupun tidak langsung, dengan merujuk kepada wahyu—baik dalam makna umum ataupun dalam manifestasi spesifiknya—yakni, Al-Quran. Secara sepintas mungkin terlihat bahwa tiga surah (Surah Al-‘Ankabut [29], Surah Ar-Rum [30], dan Surah Al-Qalam [68]) merupakan pengecualian terhadap aturan ini, tetapi asumsi ini menyesatkan. Pada ayat pembuka Surah Al-‘Ankabut [29], rujukan kepada wahyu jelas tersirat dalam perkataan, “Kami telah meraih iman” (amanna), yakni kepada Allah dan pesan-pesan-Nya. Dalam Surah Ar-Rum [30], wahyu Ilahi dengan jelas ditekankan dalam prediksi tentang kemenangan Bizantium pada ayat 2-4. Pada ayat ke-1 Surah Al-Qalam [68], fenomena wahyu dengan jelas dirujuk dalam sebutan yang menggugah: “pena” (lihat catatan no. 2 pada ayat pertama surah tersebut). Dengan demikian, tidak ada “pengecualian” di dalam surah-surah yang diawali oleh satu atau lebih muqaththa’at: semuanya dibuka dengan mengacu kepada wahyu Ilahi.

Hal ini, di samping kenyataan bahwa muqaththa’at bisa dikatakan mencerminkan seluruh bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab, telah menyebabkan para ulama dan pemikir seperti Al-Mubarrad, Ibn Hazm, Al-Zamakhsyari, Al-Razi, Al-Baidhawi, Ibn Taimiyyah, Ibn Katsir—untuk menyebutkan hanya sebagian kecil dari mereka—berkesimpulan bahwa muqaththa’at dimaksudkan untuk mengilustrasikan betapa wahyu Al-Quran itu amat menakjubkan dan tidak dapat ditiru, wahyu yang—meskipun berasal dari suatu wilayah yang berada di luar jangkauan persepsi manusia (al-ghaib)—dapat dan memang disampaikan kepada manusia melalui suara (yang direpresentasikan oleh huruf-huruf) yang digunakan dalam bahasa manusia sehari-hari.

Namun, bahkan penafsiran yang sangat menarik ini tidak sepenuhnya memuaskan karena pertama, terdapat banyak surah yang dibuka dengan rujukan eksplisit kepada wahyu Ilahi, tetapi tidak diawali oleh simbol-simbol huruf. Kedua—dan ini adalah keberatan yang paling utama—penjelasan di atas pun tidak lain hanyalah berdasarkan dugaan saja: karena itu, pada akhirnya kita harus puas dengan temuan bahwa solusi atas masalah ini masih berada di luar jangkauan pemahaman kita. Ini tampaknya merupakan pandangan empat al-khulafa ‘al-rasyidun, yang disarikan dalam kata-kata Abu Bakr: “Di dalam setiap kitab Ilahi (kitab) terdapat [unsur] misteri—dan misteri Al-Quran [ditunjukkan] di dalam pembukaan [sebagian] surah-surahnya.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top